Infomina

Media interaktif yang selalu memberikan berita dan informasi terkini dari industri perikanan. Anda juga dapat berbagi mengenai informasi perikanan yang Anda miliki disini.

Cara Budidaya Ikan Bandeng Agar Jadi Usaha Menguntungkan Tapi Ramah Lingkungan
Terkini

Cara Budidaya Ikan Bandeng Agar Jadi Usaha Menguntungkan Tapi Ramah Lingkungan

Begini cara budidaya ikan bandeng yang ramah lingkungan agar jadi usaha menguntungkan buat kamu. Jika kamu adalah penikmat ikan bandeng, dan ingin sekalian usaha budidaya ikan lezat ini, cek disini caranya.Biasa di-presto, dibuat jadi asem-asem, dikasih bumbu kuning, ikan yang biasanya hidup di air payau ini selain lezat ternyata terus bergizi. Di masa pandemi Covid-19 ini, permintaan bandeng terus meningkat.Hal ini menjadikan budidaya ikan bandeng sebagai ladang usaha yang menguntungkan.Mengutip dokumen dari WWF Indonesia berjudul 'Better Management Practices: Seri Panduan Perikanan Skala Kecil, Budidaya Bandeng (Chanos chanos) Pada Tambak Ramah Lingkungan', ternyata budidaya ikan bandeng sudah ada sejak abad ke-12, terutama di Pulau Jawa."Sampai saat ini praktek-praktek budidaya ikan bandeng masih banyak yang menerapkan sistem tradisional dan polikultur dengan komoditas budidaya lainnya, seperti gracilaria dan udang windu," kata dokumen WWF Indonesia tersebut. Panduan praktis ini menarik untuk dibaca karena disebut telah melalui beberapa proses yaitu studi pustaka, pengumpulan data lapangan, internal review tim perikanan WWF Indonesia serta Focus Group Discussion (FGD) dengan sejumlah ahli budidaya ikan bandeng sebagai bagian dari external expert reviewer.Prospek dan tantanganSeperti dijelaskan di dokumen tersebut, "ikan bandeng selain menjadi makanan bernilai gizi, juga telah menjadi komoditas ekspor di Taiwan dan Tiongkok sebagai umpan untuk ikan tuna (Thunnus spp) dan Cakalang (Katsuwonus pelamis).""Namun dalam budidaya ikan bandeng masih terdapat banyak permasalahan, seperti tingkat eutrofikasi yang ditimbulkan oleh penggunaan pupuk yang berlebihan."Jika kamu awam akan istilah eutrofikasi, ini artinya ada nutrien berlebih yang masuk ke air, terutama pada buangan aktivitas pertanian dan buangan limbah rumah tangga."Pertumbuhan yang lambat karena permasalahan perairan (kualitas air) dan pakan alami yang sulit tumbuh, masih terdapat nener yang diperoleh dari alam, penggunaan bahan-bahan kimiawi berbahaya, munculnya penyakit yang menyerang ikan bandeng, hingga penanganan pascapanen.Sebelum kita mengulas lebih jauh tentang budidaya ikan ini, tak lengkap rasanya jika kita tidak mengetahui karakteristik, klasifikasi dan nama latin ikan ini.Nama latin dan karakteristikBandeng memiliki nama latin Chanos Chanos Forskal. Mereka termasuk jenis ikan yang memiliki tingkat adaptasi lebih tinggi dengan perubahan salinitasnya, yakni di antara sekitar 0-60 mil.Ternyata, ikan bandeng juga kuat lho bertahan pada suhu yang tinggi, yakni sampai 40 derajat Celcius.Klasifikasi ikan bandengSecara taksonomi ikan ini dapat diklasifikasikan sebagai berikut:Family: ChanidaeClass: PiscesSub Class: TeleosteiOrdo: CopterygiiGenus: ChanosSpesies: Chanos chanos ForskalCiri-ciri ikan bandengOrang Indonesia mengenal Bandeng dengan beberapa nama. Di berapa daerah ada yang mengenalnya dengan nama Bandang, Muloh, Bolu dan Agam.Jika kamu ingin lebih hafal dengan ciri-ciri fisik ikan ini, berikut yang kamu dapat perhatikan, seperti yang dijelaskan oleh dokumen dari WWF Indonesia:Begini ciri-ciri ikan bandeng1. Ikan bandeng memiliki tubuh yang memanjang dan pipih serta berbentuk torpedo. 2. Mulut ikan bandeng agak runcing, ekor bercabang dan bersisik halus.3. Habitat asli ikan bandeng adalah di laut. Oleh manusia, sering dikembangkan hingga dapat dipelihara pada air payau.4. Ikan bandeng banyak ditemukan hidup di Samudra Hindia serta Samudra Pasifik, hidup secara bergerombol dan banyak ditemukan di perairan sekitar pulau-pulau dengan dasar karang.5. Ikan bandeng pada masa muda hidup di laut selama 2 – 3 minggu, kemudian berpindah ke rawa-rawa bakau, daerah payau.6. Setelah dewasa, bandeng kembali ke laut untuk berkembang biak.7. Ikan bandeng termasuk ikan pemakan segala (omnivora), di habitat aslinya ikan Bandeng mempunyai kebiasaan mengambil makanan dari lapisan atas dasar laut, berupa tumbuhan mikroskopis, yang strukturnya sama dengan klekap di tambak.8. Klekap terdiri atas ganggang kersik (Bacillariopyceae), bakteri, protozoa, cacing dan udang renik, atau biasa disebut “Microbenthic Biological Complex”.Oh ya, mengutip dari sumber lain, disebutkan bahwa ikan Bandeng panjangnya bisa mencapai 1 meter lho. Namun jika dibiakkan di tambak biasanya hanya mencapai maksimal 50 cm.Menyesuaikan karakteristik ikan bandeng tersebut, pemilihan makanan ikan bandeng harus disesuaikan dengan bukaan mulutnya, yang memanfaatkan klekap sebagai pakan alami. Dalam budidaya ikan bandeng juga telah memanfaatkan penggunaan pakan buatan (pellet).Menurut WWF Indonesia, budidaya ikan bandeng jarang mengakibatkan kerusakan lingkungan, tidak seperti budidaya udang vannamei. Meski demikian, ada beberapa aktivitas budidaya bandeng yang merusak seperti penebangan mangrove, atau berbahaya untuk lingkungan jika petaninya menggunakan pupuk secara berlebihan, serta menggunakan pestisida dan bahan kimia berbahaya.Metode pembiakan ikan bandengAda beberapa metode yang dikenal untuk budidaya ikan bandeng, misalnya metode tradisional, progresif, modular, dan penebaran berganda. Meskipun metode tersebut berbeda-beda, cara budidayanya terbilang sama, yakni petani Bandeng harus memperhatikan lokasi budi daya karena sumber daya yang kamu perlukan untuk menopang operasional tambak.Ada beberapa tahapan untuk memulai budidaya ini, diantaranya terkait persiapan tambak, cara penebaran ikan, perawatan dan pemeliharaan, pengendalian hama dan penyakit, tehnik pemberian pakan dan tambahan pakan dan tentunya jangan sampai lupa adalah tehnik mempertahankan kualitas air.Kelayakan lokasi untuk tambak budidaya ikan bandengMenurut WWF Indonesia, posisi lahan tambak sebaiknya:1. terletak di antara pasang surut air laut, berguna bagi pengairan tambak yang mengandalkan mekanisme pasang surut air laut."2. Dekat sumber air, baik dari muara, sungai maupun langsung dari laut. Tidak terletakdi daerah rawan banjir.3. Tanah tidak mudah bocor (porous), sehingga tambak dapat mempertahankanvolume air.4. Tanah yang baik yaitu yang bertekstur lempung (komposisi liat, pasir dan debu berimbang) dan liat berpasir."Pilihlah lokasi yang jauh dari limbah pencemaran, khususnya limbah yang mencemari sumber aliran sungai dan air laut. terdapat tambak yang menggunakan air tawar atau tambak air tawar. Peruntukan tambak tersebut berbeda pada setiap musim, musim hujan digunakan untuk tambak ikan bandeng dan musim kemarau digunakan sebagai petak padi."Sebaiknya tambak atau kolam yang dibuat mendapat akses ke sarana dan prasarana yang memadai sehingga memudahkan aktifitas budidaya maupun penanganan pascapanen dan pemasaran hasil.Aksesibilitas tambak/kolamPetambak juga sebaiknya memiliki akses untuk memperoleh benih (nener) unggul. Akses lokasi budidaya juga sebaiknya mudah dijangkau.Perencanaan dan Jadwal Budidaya Ikan Bandeng Untuk mempermudah, berikut tangkapan layar dari dokumen WWF Indonesia tersebut.Tangkapan layar dari dokumen Better Management Practices: Seri Panduan Perikanan Skala Kecil, Budidaya Bandeng (Chanos chanos) Pada Tambak Ramah Lingkungan Penasaran kolamnya seperti apa jadinya? Kira-kira begini penampakannya.Dokumen WWF Indonesia berjudul 'Better Management Practices: Seri Panduan Perikanan Skala Kecil, Budidaya Bandeng (Chanos chanos) Pada Tambak Ramah Lingkungan' menjelaskan lebih detail beberapa hal penting.Lengkap, padat, berbobot, dokumen pdf oleh WWF Indonesia tersebut membahas: legalitas usaha, peraturan lain terkait budidaya perikanan di pesisir, standar nasional yang berkaitan dengan ikan bandeng, persiapan lahan dan petakan tambak, tehnik pengeringan tanah dasar, pemupukan, pengisian air dan benih bandeng (nener).Selain itu juga dijelaskan tehnik pemeliharaan bandeng untuk gelondongan, pemeliharaan pembesaran, pengelolaan kualitas air, pengendalian hama dan penyakit (jenis-jenis hama), panen dan paska panen. Sebelum kamu buka pdf lengkapnya, begini kira-kira gambarannya jika budidaya ikan bandengmu berhasil. Kapan? Tentunya saat panen. PanenPanen dapat dilakukan berdasarkan pertimbangan pencapaian ukuran ikan yang dipelihara yaitu 300 – 350 gram/ekor. Panen ikan bandeng pada sistem tradisional yaitu sekitar 4 bulan masa pemeliharaan di petak pembesaran. Dengan demikian panen bandeng dapat dilakukan secara bertahap (panen selektif).Tehnik memanen agar ikan tetap dalam keadaan segar juga ada pada link tersebut, bahkan juga dijelaskan tehnik pengiriman bandeng. Selamat coba kamu cari pasarnya, dan jika memang ada yang potensial, silahkan coba terapkan panduan dari WWF Indonesia tersebut.Sumber: Berita Subang ...
Mengenal Biofilm dalam Tambak Udang
Udang

Mengenal Biofilm dalam Tambak Udang

Meski bukan sesuatu yang baru di dalam dunia akuakultur, pembahasan soal biofilm di kalangan para pelaku usaha perikanan budidaya, terutama tambak udang relatif jarang dilakukan. Padahal biofilm mempunyai peran yang cukup serius pada tambak udang. Di satu sisi, biofilm disinyalir jadi pemicu beberapa wabah penyakit seperti EMS (Early Mortality Syndrome) dan WFD (White Fecess Desease), di sisi lain ia juga berperan dalam menjaga kualitas air dan menekan bakteri patogen. Tetapi apa sebetulnya biofilm itu? Menurut Dosen Perikanan dan Ahli Mikrobiologi dari Universitas Brawijaya, Andi Kurniawan, secara sederhana biofilm bisa diartikan sebagai suatu komunitas atau kumpulan mikroorganisme bakteri yang menempel pada pada beragam substrat. Mulai dari dasar tambak hingga peralatan yang biasa digunakan pada budidaya udang.  Menurutnya, hingga 99 persen bakteri hidup dengan membentuk biofilm. Dalam webinar yang diadakan oleh Minapoli beberapa waktu yang lalu, Andi menyebutkan bahwa konsep tentang biofilm penting dipahami agar bisa membuat perlakuan berbasis mikroba yang tepat dalam usaha budidaya udang.  Baca juga: Probiotik Herbal Kreasi Mahasiswa KKN Undip, Panen Ikan Lele Hanya 1 BulanIa menjelaskan bahwa bakteri di suatu perairan membentuk komunitas sebagaimana manusia memiliki rumah dan bermasyarakat. Seperti manusia di dalam rumah, bakteri pun hanya menjadi bagian kecil dari struktur bangunan biofilm. Menurut Andi, persentase bakteri dalam suatu biofilm tidak lebih dari 10 persen saja. Sebagian besarnya adalah EPS (Extracellular Polimeric Substance) pembentuk utama biofilm.  “Sehingga kalau orang ingin mengganggu kita, ingin mempengaruhi kita dengan hanya  mempertimbangkan keberadaan kita tanpa konsep rumah, tidak akan masuk dan tidak akan jalan. Kalau kita hanya ingin memanfaatkan atau menghindari dampak negatif mikroba dengan  melihat mikroba sebagai single cell, tidak hidup di dalam rumah, maka wajar kalau konsepnya salah dan tidak tepat,” jelas Andi. Baca juga: Probiotik dalam AkuakulturManfaat BiofilmSeperti sifat bakteri itu sendiri yang bisa memberi dampak positif dan negatif bagi kegiatan budidaya, biofilm pun memiliki peran ganda yang sama. Ia bisa memberikan manfaat dan sekaligus bisa membahayakan budidaya.  Dalam penelitian yang dilakukan oleh Andi, biofilm bisa berperan dalam mengurangi bahan organik seperti amonium di dalam tambak. Selain itu, biofilm juga bisa mengakumulasi dan immobilisasi (menahan) berbagai bahan pencemar, termasuk ion nutrien. “Ion nutrien kalau jumlahnya sudah sangat banyak bisa menyebabkan eutrofikasi. Biofilm membantu menangkap ini. Sehingga bisa digunakan untuk mengatasi pencemaran nutrien dalam air,” kata Andi. Dalam suatu artikel padas jurnal Aquaculture (2002) yang ditulis oleh Thompson dkk.*, menyebutkan bahwa penurunan konsentrasi amonium sangat erat kaitannya dengan peningkatan mikroalga chlorophyll-a pada biofilm. Ia menyimpulkan bahwa amonia pada wadah budidaya yang mengandung biofilm banyak diserap oleh mikroalga tersebut sebagai sumberdaya untuk memperbanyak diri.  Baca juga: Probiotik, Pencegah Penyakit dan Pendorong Produksi Perikanan BudidayaSelain menjaga kualitas air, biofilm juga bisa berperan dalam menahan pertumbuhan bakteri patogen. Dalam jurnal yang sama,  Thompson dkk. mengutip Karanusagar (1996) yang menyebutkan bahwa biofilm berpotensi untuk mengikat bakteri-bakteri patogen pada budidaya udang seperti Vibrio harveyi. Namun di sisi lain ia juga menyarankan agar biofilm tetap dibersihkan dalam wadah budidaya.  Hal senada disampaikan Andi, menurutnya meski biofilm memiliki manfaat dalam menjaga kualitas air dan menekan patogen, tapi ia tidak menyaran biofilm ditumbuhkan dan dipelihara dalam kolam budidaya bersamaan dengan udang. Ia lebih menyarankan pemanfaatannya dilakukan pada kolam treatment. Sebabnya, kata Andi, treatment untuk mengurangi bakteri patogen pada kolam budidaya akan lebih efektif dilakukan saat persiapan air.Artikel Asli ...
Polikultur Udang Galah dengan Bandeng
Udang

Polikultur Udang Galah dengan Bandeng

Pagi masih berkabut saat kolam polikultur udang galah dan bandeng air tawar seluas 700 m2 di kawasan Gamping Lor – Sleman Yogyakarta itu mulai surut airnya. Tiga orang pekerja hati-hati mengambil si capit panjang kebiruan dan bandeng yang mengkilap keperakan dengan jaring dari caren, ditampungnya ke dalam ember putih besar.Udang galah yang dipanen oleh Soeprijanto Soebardjo – pembudidaya ikan kawakan Yogyakarta hari itu, dimasukkan ke petak berokan panen untuk selanjutnya dilakukan size grading (pemilihan ukuran). Bandeng yang ukurannya lumayan besar dibawa ke kolam panen sedangkan yang masih berukuran kecil dimasukkan ke kolam pembesaran di sebelahnya.Tuji, purchasing representative resto Banyu Mili  - Yogyakarta yang membeli udang galah Soeprijanto menyatakan udang hasil polikultur ini bermutu bagus, warnanya cerah, bersih, dan cukup seragam ukurannya. “Kalau bisa dinaikkan lagi produksinya. Berapapun hasil panenannya saya siap membeli dan mengambil langsung di kolam seperti hari ini. Jogja masih sangat kekurangan udang galah, belum ada 50 % kebutuhan terpenuhi,”paparnya antusias.Baca juga: Ini 6 Rekomendasi Forum Udang Indonesia untuk Tingkatkan Ekspor Udang 250%Tebar dan PanenSebanyak 1.000 ekor benih bandeng (ukuran 12 – 15 gram per ekor) ditebar pada akhir Agustus 2013. Sebelumnya pada awal Juni 2013 kolam itu telah ditebari benur udang galah sebanyak 10.000 ekor. Penebaran sengaja tidak dilakukan bersamaan agar benur berkembang terlebih dahulu, sehingga tidak dimakan oleh bandeng.Udang galah pada kolam polikultur di panen umur 5 bulan setelah tebar. “Bobot panen mencapai 70 kg. Dari grading diketahui ukuran 25 - 40 ekor/kg sebanyak 39 kg, ukuran 41 - 60 ekor/kg sebanyak 15 kg, ukuran 61 – 80 ekor/kg sebanyak 10 kg, serta ukuran 81 - 100 ekor/kg  ada 6 kg,” urai Soepri. Harga udang galah bervariasi menurut ukuran, antara Rp 70 ribu - Rp 90 ribu/kg. Sayangnya angka sintasan (SR = Survival Rate) udang galah ini tergolong rendah, hanya 32 %.Baca juga: Berdayakan Warga Lokal, Strategi Pemda Buol Budidaya Udang VanameMenurut perkiraan Soepri, kemungkinan disebabkan karena kolam polikultur disusupi ikan lele dari kolam lain. Terlebih sewaktu mengalami molting (ganti cangkang), tubuh udang galah lemah dan lunak sehingga menjadi makanan empuk bagi lele. “Terbukti saat panen kami temukan 6 ekor lele, total seberat 8 kg di kolam polikultur,”tandasnya. Untuk itu ia berpesan kepada pembudidaya yang tertarik untuk mencoba polikultur dengan udang galah agar serius menjaga sterilitas kolam dari ikan predator/karnivora.Bersamaan dengan panen udang galah, bandeng juga ditimbang bobotnya. “Tetapi hanya yang ukuran 7 - 8 ekor (± 30%) yang dipanen, yang di bawah itu dibesarkan lagi di kolam lain,” ungkapnya. Total berat bandeng air tawar yang baru berumur 2 bulan itu mencapai 130 kg, dengan size 100 – 150 ekor/kg (ada sebagian 7 - 10 ekor/kg). Soepri menegaskan 70 % bandeng yang belum bisa dipanen saat itu tak sampai sebulan dibesarkan sudah mengejar menjadi ukuran 7 - 8 ekor/kg, yang harganya mencapai Rp 14.000,-/kg.Soepri cukup terkejut dengan hasil polikultur bandeng air tawarnya ini. Meski baru pertama kali mencoba, sintasan bandeng air tawarnya lebih dari 90 %. “Saya juga heran, nyaris tidak terlihat ada yang mati. Dan hitungan hasil panen juga begitu. Saya malah tertantang untuk terus mencoba menebar bandeng air tawar ini,” ujarnya sambil rehat di gubug.Baca juga: Begini Strategi Menggenjot Produksi Udang dengan Tetap BerkelanjutanPakanSoepri menggunakan pakan udang untuk memberi pakan kolam polikultur udang galah – bandeng air tawarnya. “Bandeng otomatis akan ikut makan pakan udang. Selain itu, karena kepadatan kolam sangat rendah, saya perkirakan pakan alami masih bisa menutupi kebutuhan nutrisi bandeng,” tuturnya.Fase 3 bulan pertama setelah udang galah ditebar/sebelum bandeng di tebar, udang galah diberi pakan dengan protein 40 % hingga berumur 1,5 bulan. Selanjutnya pakan diganti dengan protein lebih rendah, 37 % saja. Pakan berprotein 30 % diberikan pada bulan ketiga setelah benih bandeng ditebar, dan terus digunakan hingga panen udang galah pada bulan ke-5.Artikel Asli ...

AQUATICA ASIA & INDOAQUA 2019

The Most Innovative Aquaculture Exhibition & Conference in Asia Pasific.

Selengkapnya
Lowongan Kerja Perikanan di Gold Coin Indonesia
Lowongan Kerja

Lowongan Kerja Perikanan di Gold Coin Indonesia

Dibuka lowongan kerja perikanan di bagian Sales Manager Feed, Sales Canvasser, Technical Sales, dan Feed Formulator di PT Gold Coin Indonesia yang akan ditempatkan di Surabaya, Bali, dan Medan. Perusahaan ini bergerak di bidang pakan akuakulkutr. Berikut merupakan deskripsi lowongan kerja perikanan pada perusahaan tersebut:Pendaftaran: Kirim resume terbaru ke GCI CareerLowongan Kerja PerikananMinapoli membantu calon tenaga kerja untuk menemukan lowongan pekerjaan perikanan yang sesuai dengan kriteria melalui artikel lowongan kerja, khususnya pada bidang perikanan dan kelautan. Melalui artikel ini, anda dapat menemukan kriteria yang perusahaan perikanan butuhkan. Loker pada perusahaan perikanan yang dapat anda temukan adalah seperti perusahaan pakan ikan, tambak udang, teknologi perikanan, kolam ikan, dan lain-lain yang tersebar di seluruh Indonesia. Bebeberapa jenis pekerjaan perikanan yang dapat ditemukan adalah teknisi budidaya, marketing, sales, digital marketing, quality control, research & development, dan lain-lain. ...
Ini 6 Rekomendasi Forum Udang Indonesia untuk Tingkatkan Ekspor Udang 250%
Udang

Ini 6 Rekomendasi Forum Udang Indonesia untuk Tingkatkan Ekspor Udang 250%

Udang merupakan salah satu komoditas ekspor unggulan Indonesia. Oleh karena itu, KKP terus berupaya untuk meningkatkan ekspor udang hingga 250% di tahun 2024. Forum Udang Indonesia melalui telekonferensi persnya memberikan 6 rekomendasi yang dapat dilakukan untuk mencapai target tersebut.Target peningkatan ekspor udang 250%, deprediksi akan meningkatkan nilai ekspor udang dari 1,75 M USD pada tahun 2019 menjadi 4,25 M USD di tahun 2024. Hal tersebut dapat tercapai apabila target pertumbuhan majemuk tahunan sebesar 19,8% terlampaui.Budhi Wibowo sebagai ketua umum Forum Udang Indonesia (FUI), menjelaskan target tersebut dapat dicapai melalui dua cara, yaitu meningkatkan nilai atau value (harga/kg) ekspor udang dan juga jumlah  atau volume produksi ekspor udang.  Kedua cara ini nantinya akan didukung dengan 6 rekomendasi yang diberikan oleh FUI.Upaya peningkatkan ekspor udang sebesar 250% ini dilatar belakangi data peningkatan nilai dan jumlah udang pada tahun 2019 hingga November 2020. Budhi mengutarakan bahwa nilai ekspor diperkirakan akan meningkat sebesar 20%, sedangkan untuk volume produksinya diprediksi akan meningkat hingga 15% di akhir tahun 2020.Selain itu, nilai rata-rata ekspor udang juga ditargetkan akan meningkat dari 8,2 USD / kg menjadi 10,5 USD / kg di tahun 2024. Sedangkan peningkatan volume ekspor udang dari 207.000 ton, diprediksi akan menjadi 405.000 ton di tahun 2024. Berikut ini adalah 6 rekomendasi yang diberikan oleh FUI selama 5 tahun ke depan, yang dijelaskan oleh Sekjen FUI, Coco Kokarkin.Baca juga: Tingkatkan Produktivitas Udang Windu, UI Kenalkan Pupuk Tambak Minametrik1. Penyederhanaan perizinanCoco menjelaskan bahwa hal ini merupakan persoalan utama yang perlu diatasi bersama untuk meningkatkan investasi usaha udang di Indonesia. Pada tahap ini, FUI merekomendasikan lembaga pemerintahan untuk menyediakan hotline call yang dapat dihubungi sewaktu-waktu untuk pelayanan terkait perizinan.Budhi juga menjelaskan bahwa penyederhanaan perizinan dari yang jumlahnya 21 menjadi 2-3 perizinan juga dapat mempermudah investasi untuk masuk. 2. Pengembangan infrastrukturPerbaikan-perbaikan infrastruktur yang perlu dijadikan prioritas di antaranya adalah saluran irigasi, IPAL kolektif/komunal, jalanan produksi, laboratorium, dan juga ketersediaan pasokan listrik untuk kelancaran proses budidaya udang.Selain itu, juga diperlukan ketersediaan induk yang berkualitas untuk menjamin kualitas benur. Perlu juga untuk membangun balai Nauplius yang profesional dan didukung oleh balai produksi fitoplankton. Hal tersebut akan sangat mendukung terciptanya alur produksi udang yang baik dan terbebas dari penyakit.Baca juga: Begini Strategi Menggenjot Produksi Udang dengan Tetap Berkelanjutan3. Revitalisasi tambakLingkungan dan faktor sosial adalah isu yang sangat sensitif dan berkaitan dengan pembangunan tambak. Oleh karena itu perlu dilakukan revitalisasi tambak atau peningkatan teknologi tambak tradisional menjadi semi intensif.Selama 5 tahun ke depan, target peningkatan teknologi ini akan dilakukan dengan pembangunan tambak udang intensif sebanyak 200 ha per tahun. Sedangkan dari tambak dengan sistem tradisional ke semi intensif sebanyak 3.000 ha per tahun.Revitalisasi ini juga diharapkan dapat meningkatkan produktivitas tambak-tambak yang ada di Indonesia. Kegiatan ini perlu didukung dengan sistem irigasi yang baik, penggunaan benur unggul, penanggulangan penyakit, dan peningkatan teknologi. Coco juga memaparkan bahwa revitalisasi ini dapat diwujudkan apabila pemerintah dengan masyarakat membuat pilot project terkait peningkatan produktivitas tambak tradisional. Sekaligus bekerja sama dengan pihak swasta untuk membuat tambak tersebut berwawasan lingkungan.4. SOP Budidaya BerkelanjutanSebagai salah satu sumber pangan, udang yang akan diproduksi perlu dipastikan keamanan dan ketahanannya. Oleh karena itu penting untuk mewajibkan SOP budidaya udang yang berkelanjutan pada masing-masing tingkat teknologi budidaya. SOP ini mencakup peraturan mengenai IPAL dan juga biosecurity. Selain itu sebagai upaya untuk memenuhi permintaan negara pembeli, Coco menyatakan perlu adanya bantuan pemerintah dalam penyediaan fasilitas agar tambak lebih mudah terferifikasi dan disertai sistem traceability dari hulu ke hilir. 5. Meningkatkan produk bernilai tambahSeperti yang telah dijelaskan Budhi sebelumnya bahwa produk ekspor berupa olahan mengalami peningkatan nilai dan volume tertinggi. Oleh karena itu produksi produk olahan perlu kembali digenjot untuk memenuhi permintaan pasar.Dikemabangkannya branding Indonesia Shrimp untuk memperluas pasar diluar USA juga perlu dilakukan. Budhi menjelaskan bahwa negara lain yang dapat dijadikan target ekspor udang Indonesia di antaranya adalah Jepang, Uni Eropa, Timur tengah, bahkan kawasan Amerika Selatan.Walaupun Amerika Selatan merupakan daerah penghasil udang, namun produk Indonesia dapat tetap masuk dan bersaing dalam bentuk olahannya. Daerah Amerika Selatan memiliki biaya yang cukup tinggi untuk membayar SDMnya, sehingga belum banyak produk value added. Baca juga: Garap Celah Baru Pasar Udang6. Menurunkan tingkat resiko budidaya udangCoco menjelaskan bahwa pemerintah dapat memberikan dukungan pendanaan kepada petambak melalui beberapa cara.Pertama, pemerintah dapat mendorong lembaga keuangan untuk menurunkan tingkat resiko budidaya udang  sehingga aset-aset produktif tambak dapat digunakan sebgaia agunan atau jaminan.Melalui cara ini, petambak dapat memperoleh dukungan pendanaan dari lembaga keuangan seperti Bank Indonesia dan OJK. Selain itu, pemerintah dapat memberikan kredit berbunga murah kepada petambak melalui skema KUR, atau melibatkan fintech dalam hal pembiayaan.Sebagai penutup, Budhi menyatakan optimismenya dalam pencapaian target peningkatan ekspor sebesar 250% apabila ada sinergi dari seluruh pemangku kepentingan. Ia juga berharap bahwa rekomendasi ini dapat dijadikan acuan utama untuk rencana tercapainya target ini ke depannya. Ditulis oleh Tim Minapoli ...
Wisata Akuakultur Ada di Maros, Bisa Mancing Sekaligus Wisata Kuliner
Terkini

Wisata Akuakultur Ada di Maros, Bisa Mancing Sekaligus Wisata Kuliner

Tempat wisata baru kembali hadir di Kabupaten Maros. Tepatnya di Lokasi Desa Borimasunggu Kelurahan Borongkalukua, Maros. Konsep wisata yang diterapkan wisata kuliner dan wisata mancing. Abdul Asis salah satu kelompok pembudidaya ikan pemilik tempat wisata tersebut.Memiliki luas area wisata ini kurang lebih 05 hektar dengan berbatasan dengan sungai dan laut disekelilingnya ditumbuhi pohon mangrove yang dikelola bekerjsama dengan badan usaha milik Desa (BUMDES) setempat wisata ini bernama Borongkalukua Fishing sekitar kurang lebih 12 Km dari jalan poros.Di mana di tempat wisata ini ada beberapa buah gazebo yang disiapkan bagi para pengunjung. Sehingga sangat pas untuk mereka yang datang bersama keluarga.Baca juga: Melihat Lebih Dekat Wisata Keramba Apung di Sumberkima Bali UtaraMenariknya lagi, selain wisata kuliner pihaknya juga menyediakan wisata mincing, dimana ikan hasil pancingan itu ditimbang dengan harga Rp.30.000 per kilonya selain bisa dibawa pulang, juga bisa langsung disantap di tempat tersebut.Dari wisata akuakultur ini, salah satu unit pelaksana teknis Kementerian Kelautan dan Perikanan yaitu Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan Maros turut berpartisipasi pada kegiatan pendampingan khusunya di bidang perikanan.Salah satunya adalah kemandirian pakan, yang merupakan salah satu sarana produksi utama dalam usaha perikanan budidaya.Baca juga: KKP-Pemkab Buleleng Resmikan Kampung Bandeng dan AgrowisataIkan bandeng yang dibudidayakan di tempat tersebut menggunakan pakan berbahan baku lokal ini hasil pendampingan peneliti dan penyuluh perikanan sekaligus menjadi tempat percontohan BRPBAP3 bagi pembudidaya di Maros yang dinamakan pakan murah mandiri (PAKRAHMAN).Mengingat harga pakan komersil yang sangat tinggi sehingga program PAKRAHMAN ini akan sangat membantu dalam memenuhi kebutuhan pakan,ketersediaan pakan murah yang berkualitas sehingga usaha budidaya di masyarakat dapat berlangsung secara kontinyu memanfaatkan bahan baku lokal yang banyak untuk pembuatan pakan mandiri.Pendampingan ini juga dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan kelompok pembudidaya mengenai prinsip dan teknis pembuatan pakan murah mandiri dan juga sebagai peluang bisnis pakan.Sumber: Tribun News ...