Infomina

Media interaktif yang selalu memberikan berita dan informasi terkini dari industri perikanan. Anda juga dapat berbagi mengenai informasi perikanan yang Anda miliki disini.

promoted info

Startup dan Masa Depan Perikanan

232 hari yang lalu

  • verified icon501
Pentingnya Biosekuriti Tambak Udang

210 hari yang lalu

  • verified icon465
Resep Pepes Kakap Bumbu Bali

107 hari yang lalu

  • verified icon210
Budidaya di Musim Kemarau, Masalah dan Solusinya
Udang

Budidaya di Musim Kemarau, Masalah dan Solusinya

Sumber Gambar : Channel8.idKualitas air tambak terkait erat dengan kondisi kesehatan udang, kualitas air tambak yang baik akan mendukung pertumbuhan dan perkembangan udang vaname secara optimal. Oleh karena itu, kualitas air tambak perlu diperiksa dengan seksama karena hal ini berhubungan dengan faktor stress udang akibat perubahan parameter kualitas air di tambak. Udang yang stres, daya tahan tubuhnya akan menurun sehingga mudah terserang penyakit. Perubahan parameter – parameter kualitas air akan mempengaruhi proses metabolisme tubuh udang seperti keaktifan mencari pakan, proses pencernaan dan pertumbuhan udang. Pemeliharaan kualitas air adalah faktor yang sangat penting untuk mencapai angka kehidupan yang tinggi. Masalah pemeliharaan kualitas air tambak sering kali timbul seiring berjalannya waktu pemeliharaan. Terkadang masalah – masalah tersebut timbul karena pengontrolan dan penanganan kualitas air yang kurang baik. Dalam praktiknya sering kali petambak tidak menyadari perubahan kualitas air karena minimnya pengetahuan petambak tentang pengelolaan kualitas air yang benar. Hal ini menyebabkan terganggunya siklus hidup udang yang dibudidayakan. Kestabilan lingkungan di dalam tambak merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh petambak untuk memperoleh kesuksesan dalam membudidayakan udang vaname. Pemeliharaan kualitas air dapat dijadikan sebagai salah satu indikasi kuat tentang kestabilan lingkungan di dalam tambak. Menjaga kualitas air tambak secara langsung akan berdampak terhadap tingkat kelangsungan hidup organisme yang berada di dalamnya. Untuk dapat tumbuh dengan optimal udang vaname memerlukan kondisi lingkungan yang stabil. Kondisi tersebut dapat diperoleh dengan menjaga kualitas air tambak yang digunakan sebagai media tumbuh udang. Kualitas air yang terjaga akan membuat nyaman udang vaname yang dipelihara di dalam tambak, sehingga akan berdampak terhadap laju pertumbuhan yang positif. Udang vaname akan tumbuh dengan baik apabila kualitas air yang ada di dalam kolam sebagai media budidaya udang sesuai dengan persyaratan kualitas air udang vaname. Perubahan Parameter Kualitas Air Musim kemarau akan mengakibatkan perubahan parameter kualitas air seperti peningkatan suhu dalam air, peningkatan salinitas, peningkatan amonia, semakin padatnya plankton serta kurangnya intensitas cahaya yang masuk kedalam air kolam. Perubahan parameter kualitas air ini akan berpengaruh pada kondisi udang yang dibudidayakan. Untuk itu, perlu dilakukan upaya – upaya pencegahan dan penanganan dalam melakukan usaha budidaya udang Vaname di musim kemarau. Suhu optimal untuk pertumbuhan udang berkisar antara 28,5 – 31,5 oC. Jika suhu lebih dari angka optimal maka metabolisme dalam tubuh udang akan berlangsung cepat, imbasnya kebutuhan oksigen terlarut akan meningkat. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan penambahan jumlah kincir untuk meningkatkan suplai oksigen terlarut di dalam air kolam namun harus disesuaikan dengan kondisi sarana serta biaya yang ada, sebab penambahan jumlah kincir tentunya juga akan menambah biaya produksi. Kualitas air yang baik harus mampu menyuplai oksigen yang dibutuhkan oleh udang, plankton dan mikroorganisme. Salinitas merupakan salah satu aspek kualitas air yang memegang peranan penting karena mempengaruhi pertumbuhan udang. Udang akan tumbuh dengan baik pada kisaran salinitas 15 – 25 ppt. Pada kondisi musim kemarau, kondisi air tambak akan menjadi hipersalin atau berkadar garam tinggi. Pada salinitas tinggi, pertumbuhan udang menjadi lambat karena proses osmoregulasi terganggu. Osmoregulasi merupakan proses pengaturan dan penyeimbang tekanan osmosis antara di dalam dan diluar tubuh udang. Apabila salinitas meningkat maka pertumbuhan udang akan melambat karena energi lebih banyak terserap untuk proses osmoregulasi dibandingkan dengan untuk pertumbuhan. Selain itu salinitas air yang terlalu tinggi menyebabkan udang mengalami kesulitan berganti kulit karena kulit cenderung keras sulit dilepaskan, bahkan ada kalanya terdapat lumutan pada karapas serta mudah terserang white spot. Upaya yang dilakukan untuk menurunkan salinitas air yaitu dengan melakukan penambahan air tawar yang berasal dari sumur bor tau sumber air tawar lainnya. Peningkatan amonia juga akan terjadi pada musim kemarau. Amonia merupakan hasil ekskresi atau pengeluaran kotoran udang yang berbentuk gas. Amonia juga berasal dari pakan yang tidak termakan oleh udang sehingga larut dalam air. Amonia akan mengalami proses nitrifikasi dan denitrifikasi sesuai dengan siklus nitrogen dalam air. Proses ini akan berjalan lancar apabila tersedia bakteri nitrifikasi dan denitrifikasi dalam jumlah yang cukup yaitu bakteri Nitrobacter dan Nitrosomonas. Nitrobacter berperan mengubah amonia menjadi nitrit, sementara Nitrosomonas mengubah nitrit menjadi nitrat. Amonia dan nitrit merupakan senyawa beracun sehingga harus diubah menjadi senyawa yang tidak berbahaya yaitu nitrat. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan jumlah bakteri dalam air tambak yaitu dengan melakukan aplikasi probiotik yang mengandung bakteri Nitrobacter dan Nitrosomonas. Penggunaan Probiotik Probiotik adalah mikroorganisme yang dikembangkan dan diaplikasikan melalui pakan maupun lingkungan yang bertujuan untuk memperkuat daya tahun tubuh udang serta memperbaiki kualitas air tambak. Probiotik bersifat non patogenik dan dikembangkan secara massal pada media kultur sesuai tujuannya. Jenis mikroba ini berkembang dan menghasilkan endo dan ekto-enzyme yang berfungsi merombak senyawa beracun dan bahan organik. Aplikasi probiotik yang benar akan membantu menstabilkan kualitas air tambak. Usaha budidaya udang pola intensif, memiliki unsur hara yang sangat tinggi yang dimanfaatkan oleh plankton untuk tumbuh. Sumber utama unsur hara adalah dari sisa pakan, karena selama masa pemeliharaan, pakan yang dimasukkan dalam jumlah yang besar. Sisa pakan dan kotoran udang memberikan pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan plankton dan mikroorganisme. Namun, terlalu banyak kandungan bahan organik akan mengakibatkan pertumbuhan plankton dan bakteria (baik yang menguntungkan maupun yang merugikan) terlalu pesat sehingga harus diwaspadai dengan melakukan pengukuran dan pengamatan kualitas air. Kualitas air yang baik biasanya mengandung bahan organik dari sisa pakan, kotoran udang dan plankton mati dalam jumlah terbatas. Plankton seperti fitoplankton yang menguntungkan sangat dibutuhkan dalam usaha budidaya udang. Plankton berfungsi sebagai pakan alami, penahan terhadap intensitas cahaya matahari serta sebagai bioindikator kestabilan lingkungan air media budidaya udang. Pada musim kemarau, salinitas air dalam kolam relatif lebih tinggi yang mengakibatkan pertumbuhan plankton terhambat sehingga populasi plankton tidak stabil. Plankton warna hijau lebih mudah dipelihara kestabilannya dibandingkan plankton warna coklat sehingga disarankan untuk menumbuhkan plankton yang berwarna hijau. Pada beberapa kondisi, plankton hijau akan berubah menjadi berwarna coklat karena umur plankton yang semakin tua.  Pada salinitas 25 permil plankton yang hidup di kolam cenderung lebih sedikit jenisnya dan berwarna coklat. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kestabilan plankton yaitu dengan melakukan penambahan air yang berasal dari tandon air. Pada musim kemarau diupayakan untuk tidak melakukan pembuangan air tambak melalui pergantian air, sebaiknya hanya dilakukan penambahan air untuk mengganti air yang hilang akibat penguapan. Penambahan air sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari dengan jumlah berkisar antara 5 – 20% disesuaikan dengan kondisi volume air dalam kolam yang hilang. Sebaiknya penambahan air dilakukan satu jam setelah pemberian pakan untuk menghindari tingkat stres yang tinggi pada udang. Penambahan air dapat dilakukan dengan menggunakan pompa submersible atau dengan sistem gravitasi. Air yang digunakan dalam penambahan air merupakan air dari tandon yang telah disterilkan. Peran Tandon Pada budidaya udang, tandon berfungsi untuk memperbaiki kualitas air sebelum dimasukkan ke dalam kolam budidaya. Tandon dapat digunakan untuk mengendapkan suspensi terlarut, disamping itu juga dapat dilakukan perlakuan air untuk mengurangi pathogen yang merugikan. Kebutuhan tandon bervariasi tergantung dari lokasi dan sumber air yang digunakan. Pada daerah dimana potensi pencemaran tinggi dan wilayahnya banyak dikelilingi oleh petambak, kebutuhan tandon lebih banyak dan disarankan untuk menggunakan 30% dari petakanya untuk tandon sementara daerah yang potensi pencemarannya rendah cukup menggunakan 20%. Tandon memiliki peranan penting khususnya pada usaha budidaya udang di musim kemarau. Tandon dapat dijadikan sebagai wadah penyimpanan air sementara atau air cadangan yang akan digunakan untuk penambahan air selama masa budidaya. Budidaya udang pada musim kemarau sangat rentan karena udang sangat mudah mengalami stres akibat senyawa beracun yang ada di dalam kolam. Selama proses budidaya udang pada musim kemarau diupayakan untuk tidak melakukan penyiponan karena selama penyiponan maka akan mengakibatkan berkurangnya volume air dalam kolam. Selain itu karena volume air dalam kolam relatif berkurang maka kemungkinan akan teraduknya bahan organik dalam kolam akibat kegiatan penyiponan sangat tinggi, untuk itu sebaiknya dihindari. Pembuangan bahan organik dapat dilakukan jika kontruksi kolam memiliki central drain yaitu dengan membuka central drain dengan waktu yang tidak terlalu lama. Pembuangan bahan organik juga dapat dilakukan dengan membuang plankton mati yang muncul ke permukaan air tambak dengan menggunakan serok. Penambahan air dapat dilakukan setelah pembuangan bahan organik baik melalui central drain maupun menggunakan serok. Pengaturan pola tanam juga dapat dilakukan sebagai salah satu solusi dalam melakukan budidaya udang pada musim kemarau. Petambak tentunya sudah mengetahui kapan terjadinya musim kemarau berbekal pada pengalaman pada siklus budidaya sebelumnya. Pengalaman ini dapat dijadikan sebagai salah satu pedoman dalam menentukan pola tanam. Pembudidaya dapat mengatur penebaran benih udang maksimal dua bulan sebelum terjadinya musim kemarau, hal ini bertujuan agar pada saat terjadi musim kemarau udang telah berumur paling tidak 60 hari. Udang dalam umur tersebut sudah memiliki toleransi yang cukup tinggi terhadap perubahan parameter kualitas air. Berbeda dengan udang yang masih berumur kecil, mudah mengalami stres akibat guncangan parameter kualitas air. Artikel Asli : Info Akuakultur ...
Pemkab Seruyan Berhasil Budidayakan Ikan Pipih
Terkini

Pemkab Seruyan Berhasil Budidayakan Ikan Pipih

Pemerintah Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, berhasil mengembangkan budidaya ikan pipih (belida) yang dihasilkan dari indukan yang menetas secara alami dan saat ini sudah menghasilkan puluhan benih berusia satu sampai dua bulan. Pengembangan budidaya ikan pipih secara khusus dilakukan Dinas Perikanan Seruyan di Balai Benih Ikan (BBI) Telaga Pulang, Kecamatan Danau Sembuluh. "Keberhasilan ini termasuk yang pertama di Indonesia untuk pembudidayaan ikan pipih oleh pemerintah daerah," kata Kepala Dinas Perikanan Seruyan Abu Hasan Asari di Kuala Pembuang, Senin. Menurut dia, pada BBI Telaga Pulang disediakan kolam khusus untuk indukan ikan pipih. Dari puluhan indukan itu, telah menetas secara alami mulai dari telur hingga sekarang menjadi benih. Saat ini ada sekitar 70 ekor benih ikan pipih yang dihasilkan dari indukan tersebut. Usianya sudah sekitar satu bulan dengan panjang benih mencapai sembilan centimeter. Keberhasilan pembudidayaan itu, ditunjang dengan kondisi perairan dan keadaan suhu, serta kondisi sekitar BBI Telaga Pulang yang tidak jauh berbeda dari populasi aslinya di perairan umum di Sungai Seruyan. "Terjadi seperti alami, yang kami lakukan hanya menjaga dan merawat, serta memberi makan induknya, karena memang kondisi di BBI Telaga Pulang tidak jauh berbeda dengan populasi aslinya," jelasnya. Selama ini ikan pipih merupakan salah satu ikan yang cukup sulit dibudidayakan. Beberapa daerah di Indonesia, nyatanya banyak yang gagal dalam pengembangannya. Ia mengaku pihaknya juga pernah mengalami kegagalan saat membudidayakan ikan tersebut yang sangat sensitif, baik dari suhu air dan faktor lainnya. Namun Dinas Perikanan Seruyan terus berupaya secara maksimal, agar proses pembudidayaan secara alami dapat terus dilakukan dan terbukti saat ini sudah mulai membuahkan hasil.Sumber : Antara News ...
Can Probiotics Make Shrimp Farming More Environmentally Friendly?
Udang

Can Probiotics Make Shrimp Farming More Environmentally Friendly?

An article in the journal Aquaculture has linked probiotic use in juvenile Vannamei shrimp production to reduced emissions of environmental pollutants like nitrogen and phosphorous effluents and carbon dioxide. The article also suggests that probiotic use is linked to reduced water and energy consumption during larval production.The researchers concluded that probiotics could improve the economic and environmental viability of larval production. Even though probiotics can come with high up-front costs, using them can offset other expenses for antibiotics or water purifiers. Probiotic use can also reduce chemical contamination of both the larvae and the surrounding environment.BackgroundAlthough shrimp aquaculture has reduced the environmental pressure on fisheries and has enhanced economic and food security for the developing world, it is energy intensive and often comes with a high environmental price tag. Shrimp production can disrupt the ecological balance of the surrounding environment, and waste materials from production can cause algal blooms and create hypoxic conditions in the water. Intensive production of shrimp is also associated with increased greenhouse gas emissions.In order to counteract this environmental burden, some shrimp farmers have turned to probiotics. Using probiotics can improve the digestion and immune responses of shrimp, while inhibiting the growth of pathogens and improving water quality. Their use has also allowed shrimp producers to maintain their economic yields while reducing the environmental impacts of shrimp aquaculture.Based on the success of probiotics in other areas of shrimp aquaculture, the researchers wanted to test if probiotic supplementation had a positive impact on larval production.The studyThe researchers analysed the technical and production data from the hatchery stage of 15 whiteleg shrimp (Penaeus vannamei) farms in Mexico. They examined the water temperatures, amount of probiotic (if any) used during production, larval weights, feed, production density and number of batches farmed per year. After gathering this data, the researchers did a comparative analysis and created a model that illustrated the relationship between probiotic use and larval production.Based on the available data, the researchers found that when probiotics were administered, farming operations did not need to exchange production water as often. Instead, the probiotics contributed to an oxygen-rich environment for the larvae. Since water exchanges occurred less often when probiotics were used, the researchers concluded that probiotic use could lower overall energy costs for shrimp farmers.The researchers also noted a significant reduction in nitrogen and phosphorous in shrimp effluents, and a drastic reduction in CO2 emissions in farms that used probiotics during the larval stage. For CO2 in particular, the researchers observed a 55 percent drop in emissions when probiotics were deployed. Shrimp farms that used probiotics also had lower concentrations of dissolved nutrients in waste products and lower concentrations of pollutants overall when compared to farms that did not add these beneficial bacteria.Key take-awaysThe authors of the study emphasise that this research is a preliminary evaluation – they would need to do a life cycle analysis (LCA) to see the global impact of probiotic use and draw concrete conclusions. Due to the exploratory nature of the study, the authors didn't specify the type or dosage of probiotic used on the farms. The authors also note that production data from more farms in different regions would improve the predictive power of their models. However, based on the results and analysis from this case study, the authors conclude that probiotic supplementation can become a core element of sustainable production of shrimp larvae and make a significant contribution to sustainable development initiatives.Sumber : The Fish Site ...

AQUATICA ASIA & INDOAQUA 2019

The Most Innovative Aquaculture Exhibition & Conference in Asia Pasific.

Selengkapnya
Makan Ikan Sekali dalam Sepekan Tekan Risiko Asma pada Anak
Fish2Eat

Makan Ikan Sekali dalam Sepekan Tekan Risiko Asma pada Anak

Orang tua tampaknya harus mulai memperhatikan konsumsi ikan untuk si buah hati. Studi teranyar menemukan, konsumsi ikan secara teratur pada bayi atau anak di bawah usia dua tahun dapat menekan risiko asma, eksim, dan demam. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nutrition ini secara spesifik menemukan konsumsi ikan teratur selama dua tahun pertama kehidupan dapat menekan risiko penyakit sebanyak 28-40 persen. Konsumsi ikan dilakukan setidaknya sekali dalam sepekan. Mengutip situs Study Finds, para peneliti membandingkan dua kelompok anak. Kelompok pertama mengkonsumsi ikan sekali dalam sepekan selama dua tahun pertama kehidupan. Sementara kelompok lainnya mengkonsumsi ikan lebih sedikit dari di atas.Dalam studi ini, para peneliti dari Universitas Sains dan Teknologi Norwegia (NTNU) menganalisis berbagai data yang tercatat terkait kasus alergi seperti asma, eksim, dan demam pada anak. Sebanyak lebih dari 4 ribu data keluarga diikutsertakan dalam penelitian ini. Peneliti mengklaim, manfaat yang didapat dari konsumsi ikan pada anak selama dua tahun pertama kehidupan lebih efektif dibandingkan meningkatkan asupan ikan saat masa kehamilan pada calon ibu. Sebelumnya, sejumlah penelitian telah menemukan manfaat konsumsi ikan untuk menekan risiko asma. Hanya saja, manfaat hanya didapat dari ikan dengan kandungan omega-3 yang tinggi. Mengutip Science Daily, penelitian yang dilakukan oleh James Cook University, Australia, menemukan bahwa ikan dengan kandungan tinggi omega-3 secara signifikan menekan gejala asma hingga 62 persen. Penelitian merekomendasikan untuk melengkapi asupan dengan sumber makanan yang mengandung omega-3 seperti tuna, salmon, dan sarden. Sementara itu, penelitian lainnya menemukan, anak-anak yang mengikuti diet Mediterania, termasuk dua porsi ikan dengan omega-3 selama sepekan, memiliki paru-paru yang lebih sehat. Manfaat itu didapat dari kandungan omega-3 yang diketahui memiliki sifat anti-inflamasi.Sumber : CNN Indonesia ...
KKP Gandeng Norwegia Bangun Marikultur Berkelanjutan di Indonesia
Terkini

KKP Gandeng Norwegia Bangun Marikultur Berkelanjutan di Indonesia

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Ditjen Perikanan Budidaya terus mengoptimalkan potensi marikultur (budidaya laut) Indonesia. Tercatat dari total potensi lahan marikultur yaitu 12,1 juta hektar, baru sekitar 325.825 hektar yang dimanfaatkan, sehingga ini menjadi potensi besar untuk terus dioptimalkan. “Sektor akuakultur pada tahun 2018 menyumbang 57,14% dari total GDP (Gross Domestic Product) nasional perikanan, ini membuktikan bahwa sektor ini dapat dijadikan tumpuan bagi pembangunan ekonomi nasional”, tutur Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, saat memberikan sambutan Indonesia Sustainable Aquaculture Seminar di Jakarta yang merupakan kerjasama antara KKP dan Pemerintah Norwegia, Senin (21/10).Kata Slamet, potensi marikultur ini harus dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk kemakmuran rakyat. “Untuk itu, KKP berupaya untuk menyelaraskan rantai bisnis dari hilir ke hulu dan juga memperkuat daya saing produk akuakultur”, ujarnya. KKP juga berkolaborasi dengan pemerintahan Norwegia dalam pengembangan marikultur berkelanjutan di Indonesia. “Saat ini melalui proyek Sustainable Marine Aquaculture Development in Indonesia (SMADI), kita berupaya meningkatkan produksi ikan laut melalui integrasi produksi dan industri marikultur yang berkelanjutan”, tutur Slamet. “Kerjasama mendapatkan pendanaan dari Pemerintah Norwegia senilai 4 juta NOK, atau sekitar 6 Milyar Rupiah, dengan durasi kegiatan 2 tahun. Kerjasama dilakukan untuk mengoptimalkan potensi lahan  marikultur di Indonesia melalui pendampingan dan pelatihan, peningkatan kapasitas SDM serta sharing knowledge (berbagi pengetahuan), yang dilaksanakan pada 4 komponen, yaitu pertama, perencanaan spasial dan daya dukung lingkungan. Kedua, kontrol penyakit dan parasit ikan, kemudian ketiga seleksi breeding atau pengembangan genetik kakap putih serta terakhir penyusunan standar prosedur budidaya laut berkelanjutan”, jelas Slamet.Lanjutnya, dipilihnya Norwegia dalam bekerja sama karena negara itu mempunyai industri marikultur yang lebih maju. Hal ini terbukti dengan keberhasilannya menghasilkan ikan salmon kualitas tinggi sehingga dapat di ekspor ke berbagai negara. “Kita terus optimalkan sumberdaya perikanan laut, sektor ini sangat penting untuk meningkatkan ketahanan pangan dan memerangi kelaparan sebagaimana diartikulasikan dalam Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030 oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa”, tambahnya.Ia menyampaikan sudah saatnya menyatukan pemikiran bagaimana menyediakan pangan yang sehat, murah dan kontinyu melalui sektor akuakultur yang berkelanjutan terutama pemanfaatan marikultur yang masing sangat terbuka luas.“Selain kerjasama ini, KKP mendorong digitalisasi. Digitalisasi sektor ini telah menjadi kebutuhan akhir-akhir ini, mengingat teknologi dan inovasi tidak pernah berhenti untuk berkembang begitu pula akuakultur”, tuturnya.Baru-baru ini, salah satu perusahaan Norwegia, yaitu Stener AS, telah menandatangani kerjasama dengan perusahaan lokal, yaitu PT El Rose Brothers, dalam pengembangan RAS (Recirculated Aquaculture System) untuk budidaya ikan kakap di D.I.Yogyakarta.“Banyak lagi komoditas marikultur yang dapat terus dioptimalkan produksinya seperti kakap putih, bawal bintang dan rumput laut yang selama ini memang sudah berkembang cukup bagus di masyarakat. Pengembangkan kekerangan juga akan digenjot, mengingat kekerangan adalah komoditas yang mudah dikembangkan, tanpa perlu pakan buatan serta mampu menjadi filter bagi perairan”, ucap Slamet.KKP terbuka dengan investor Norwegia untuk mengeksplorasi peluang investasi dalam pengembangan pusat perikanan dan kelautan terpadu di wilayah perbatasan terluar di seluruh Indonesia. “Pengembangan sektor akuakultur harus melalui pendekatan regional dan sistem manajemen berdasarkan prinsip-prinsip integrasi, efisiensi, dan percepatan dengan melibatkan para pemangku kepentingan, antar-lembaga, pusat dan lokal serta negara lain”, tutup Slamet. Pada kesempatan yang sama, Duta Besar Norwegia, Vegard Kaale menyebutkan bahwa akuakultur sangat penting dalam mendukung tercapainya Sustainable Development Goals (SDGs) yang ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).“Peran akuakultur tertuang dalam SDGs 14 yaitu life below water (kehidupan di laut) yang merupakan salah satu solusi untuk memecahkan masalah ketahanan pangan yang tertuang pada SDGs 2 yaitu zero hunger (angka kelaparan nol)”, sebut Vegard.Selain itu, kata Vegard, akuakultur juga berperan dalam membantu mitigasi perubahan iklim karena dapat memproduksi pangan dengan emisi yang lebih rendah dibandingkan daging merah, sehingga mendukung tercapainya SGDs 13 yaitu climate action.“Keberhasilan sektor akuakultur di Norwegia tidak terlepas dari penerapan regulasi dan kebijakan berbasis daya dukung lingkungan, kemudian koordinasi dengan sektor lain seperti sektor minyak dan gas untuk mencegah konflik antar sektor”, kata Vegard.Lanjut Vegard, dalam pembangunan akuakultur, pemerintahan Norwegia juga menerapkan protokol penanganan penyakit yang optimal dan menciptakan inovasi-inovasi teknologi akuakultur agar lebih optimal dan efisien serta produk yang dihasilkan adalah produk berkualitas sesuai standar pasar internasional. Untuk diketahui, sejak tahun 2015, KKP telah bekerjasama dengan beberapa perusahaan Norwegia dalam pengembangan akuakultur, diantaranya Pharmaq untuk uji coba vaksin streptococcus pada ikan nila dan bawal. Kemudian, Aquaoptima dalam pengembangan teknologi RAS dan pengembangan Keramba Jaring Apung (KJA), serta kerjasama seminar.Sumber : Humas DJPB  ...
Lowongan Kerja Perikanan di Aruna
Lowongan Kerja

Lowongan Kerja Perikanan di Aruna

Lowongan Kerja Perikanan di Aruna untuk Posisi Local Heroes - Tanjung JumlaiLocation            : Penajam Paser Utara, IndonesiaDepartment     : OperationsJob Industry    : MaritimeJob Type           : Full TimeExperience       : Fresh Graduates / Less Than 1 Year ExperienceJob Function   : Other Job Description1.       Mencari dan melakukan pendekatan ke nelayan/supplier untuk bisa bekerja sama dengan perusahaan2.       Berkoordinasi dengan nelayan, helper, dan picker untuk mendapatkan supply produk yang memenuhi spesifikasi kualitas, volume, dan kontinuitas3.       Melakukan pemetaan dan organisasi supply chain di lokasi Mini Plant4.       Melakukan transaksi dengan nelayan5.       Bertanggung jawab atas seluruh rangkaian proses produksi di MP6.       Mengembangkan komunitas nelayan Aruna di lokasi MP7.       Bertanggung jawab atas seluruh kegiatan yang berhubungan dengan semua partner kunci di area MP8.       Mengimplementasikan teknologi system/platform IT di lapangan9.       Melaporkan seluruh kegiatan di lapangan secara terstruktur kepada Manager AreaRequirements1.       Memiliki pengetahuan dasar tentang perikanan2.       Mampu mengoperasikan teknologi sederhana3.       Memiliki jiwa enterpreneur/bisnis4.       Bersedia ditempatkan di seluruh daerah pesisir Indonesia5.       Memiliki keinginan belajar yang tinggi6.       Mudah beradaptasi dengan lingkungan baru7.       Terbiasa berkomunikasi dengan masyarakat sekitar8.       Memiliki pengalaman bekerja di lapangan 9.       Memiliki SIM (minimal C) menjadi nilai tambahSumber : Aruna ...