Infomina - Udang

Minapoli adalah platform jaringan infomasi dan bisnis perikanan terintegrasi. Buat dan bagikan informasi perikanan sekarang dan temukan manfaatnya terkoneksi dengan jaringan Minapoli.

Udang

Aplikasi Probiotik (Bacillus dan Pseudomonas)  dalam Budidaya Udang Vanname (Litopenaeus vannamei)
Udang

Aplikasi Probiotik (Bacillus dan Pseudomonas) dalam Budidaya Udang Vanname (Litopenaeus vannamei)

Budidaya udang vaname (Litopenaeus vannamei) di Indonesia semakin meningkat dengan peningkatan permintaan ekspor udang.  Peningkatan ini memicu semakin meningkatnya budidaya udang vaname secara intensif guna memenuhi permintaan tersebut. Namun dengan peningkatan sistem budidaya udang menimbulkan dampak negatif terhadap penurunan kualitas lingkungan maupun kegagalan panen akibat adanya serangan penyakit pada udang budidaya.  Hal ini dikarenakan pada kegiatan budidaya udang sistem intensif maupun super intensif dengan menggunakan kepadatan tinggi dan pemberian pakan mengakibatkan peningkatan sisa pakan dan feses udang, sehingga berdampak terhadap penurunan kualitas air, seperti peningkatan bahan organik, amoniak dan organisme patogen. Penurunan kualitas lingkungan ini mengakibatkan udang menjadi stress dan mudah terserang penyakit.  Penyakit yang sering menyerang udang salah satunya adalah Vibriosis yang disebabkan oleh bakteri dari genus Vibrio.  Udang vaname yang terserang penyakit ini dapat mengakibatkan kematian hingga 100 %.Baca juga: Probiotik dalam AkuakulturPemberian probiotik merupakan salah satu cara untuk menanggulangi permasalahan menurunnya kualitas air maupun meningkatnya bakteri patogen di saluran pencernaan dan  media pemeliharaan udang. Dari beberapa penelitian sebelumnya, aplikasi probiotik  ke dalam media pemeliharaan udang dapat memperbaiki kualitas air melalui proses biodegradasi, menjaga keseimbangan mikroba dan mengendalikan jumlah bakteri patogen yang membahayakan bagi udang yang dipelihara. Bacillus dan Pseudomonas merupakan baberapa jenis bakteri yang dapat dikembangkan sebagai bakteri probiotik. Jumlah bakteri probiotik yang diberikan juga menjadi faktor pembatas dalam memberikan pengaruh yang menguntungkan bagi inang.  Jumlah bakteri probiotik dalam jumlah yang tinggi belum tentu memberikan hasil yang lebih baik.Hasil penelitian aplikasi probiotik Bacillus dan Pseudomonas dengan kepadatan berbeda (106 hingga 108 sel/ml) ke dalam media pemeliharaan udang vaname dua kali per minggu yang dipelihara dalam akuarium selama 28 hari pemeliharaan memberikan hasil bahwa total Vibrio terukur pada saluran pencernaan udang lebih rendah dibandingkan perlakuan kontrol (tanpa penambahan probiotik).  Baca juga: Probiotik, Pencegah Penyakit dan Pendorong Produksi Perikanan BudidayaTotal Vibrio saluran pencernaan udang dengan pemberian probiotik Bacillus dan Pseudomonas yaitu 1,47 x 104 – 1,82 x 104 CFU/ml, sementara pada kontrol 5,81 x 104 CFU/ml.  Total Vibrio pada media pemeliharaan dengan penambahan probiotik juga menunjukkan nilai lebih rendah dibandingkan kontrol yaitu 1,50 x 103 – 1,52 x 104 CFU/ml, pada kontrol 2,12 x 104 CFU/ml.  Total Vibrio terendah pada media pemeliharaan terdapat pada perlakuan dengan penambahan probiotik Bacillus dan Pseudomonas dengan kepadatan 108 sel/ml yaitu 1,50 x 103 CFU/ml.  Total bakteri tertinggi pada saluran pencernaan dan media pemeliharaan tertinggi didapat pada perlakuan dengan penambahan probiotik Bacillus dan Pseudomonas dengan kepadatan 108 sel/ml yaitu 2,37 x 109 dan 2,93 x 109 CFU/ml masing-masing.  Kondisi ini memperlihatkan bahwa bakteri probiotik mampu berkembang dan menekan pertumbuhan Vibrio baik di saluran pencernaan maupun di media pemeliharaan udang.  Kelulushidupan udang vaname tertinggi selama pemeliharaan 28 hari diperoleh pada perlakuan dengan penambahan probiotik Bacillus dan Pseudomonas dengan kepadatan 108 sel/ml sebesar 89,58%.  Baca juga: Probiotik, Imunostimulan, dan Manajemen Kualitas AirDapat disimpulkan bahwa pemberian probiotik Bacillus dan Pseudomonas dengan kepadatan 108 sel/ml memberikan hasil terbaik terhadap penurunan total Vibrio dan tingkat kelulushidupan udang vaname.Sumber: FPIK Universitas Airlangga ...
Microbial Community of Probiotic-Treated Shrimp Survivors Put to AHPND Challenge Test
Udang

Microbial Community of Probiotic-Treated Shrimp Survivors Put to AHPND Challenge Test

One of the most important diseases impacting shrimp-producing countries is Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND). The disease is caused by bacteria of the genus Vibrio-harboring pV-AHPND plasmids [small, extrachromosomal DNA molecules within a cell, physically separated from chromosomal DNA, and which can replicate independently] that encode genes for toxins. AHPND causes high mortality through a severe peeling of the hepatopancreatic cells, leading to the shrimp’s death. This mortality leads to considerable economic losses in the shrimp farming industry.There is a trend towards reducing antibiotic use in aquaculture, and the use of probiotics – microorganisms providing beneficial effects to their hosts, either by preventing colonization of pathogenic bacteria through antagonism or promoting animal health through the stimulation of the immune system – is a significant, promising alternative to antibiotics and a way to treat and prevent cultured animal diseases. But there is still a need to identify beneficial groups of microorganisms among the normal resident microbiota and the mechanisms underlying the interactions with probiotics in the gastrointestinal tract, to efficiently use them to help improve the health of farmed shrimp.Read more: Can Probiotics Make Shrimp Farming More Environmentally FriendlyThe choice of probiotics can be controversial in some cases, particularly in aquaculture where certain probiotic genera are phylogenetically closely related to pathogens. For example, in Ecuadorian shrimp hatcheries, beneficial strains belonging to the bacteria species Vibrio alginolyticus and AHPND-causing strains of the species Vibrio parahaemolyticus belong to the same phylogenetic clade [a group of organisms composed of a common ancestor and all its lineal descendants], the Harveyi clade, and have been isolated from both healthy and non-healthy larvae cultures. In particular, a strain previously known as V. alginolyticus ILI strain [current genomic tools and available genomes allowed us to classify them as Vibrio diabolicus] has been isolated from healthy shrimp larvicultures and shown to be an efficient probiotic agent. This article – adapted and summarized from the original publication [Restrepo et al. (2021). Microbial community characterization of shrimp survivors to AHPND challenge test treated with an effective shrimp probiotic (Vibrio diabolicus). Microbiome 9, 88 (2021) – reports on a study to evaluate the effect of the ILI strain and its potential to limit the detrimental effects of AHNPD using metabarcoding [the barcoding of DNA / RNA in a manner that allows for the simultaneous identification of many taxa within the same sample] on the gastrointestinal microbiota of shrimp after being challenged with AHPND-causing V. parahaemolyticus.Read more: Using a Probiotic is More Effective Alone Study SetupWe used the ILI probiotic strain provided by the Microbiology Laboratory at the Centro Nacional de Acuicultura e Investigaciones Marinas (CENAIM), previously identified as V. alginolyticus and characterized as an efficient probiotic. This strain was originally isolated from water of a healthy shrimp larvae hatchery and has been part of the CENAIM culture collection for more than 26 years.After feeding the Pacific white shrimp (Litopenaeus vannamei) with the corresponding probiotic treatments, survival of the animals to a challenge with V. parahaemolyticusBA94C2 strain was evaluated.A completely randomized design was applied, with four treatments and six replicates per treatment. Experimental units (40-liter tanks) were stocked with 40 shrimp (2.5 ± 0.3 grams). During the assay, shrimp were monitored for mortality every two hours. Differences of cumulative mortalities at 50 hours post-infection among infected treatments were analyzed, and shrimp survival recorded at the end of the experiment. Water exchange at 50 percent daily was done before and after the challenge, including during the period of probiotic feeding, but not the 50-hour challenge period. Shrimp were exposed to a 12-hour photoperiod per day. For detailed information on the preparation of the probiotic inoculum, the immersion challenge test of shrimp supplemented with probiotics, and the several tests conducted, refer to the original publication.Read more: Using Bacillus to Inhibit Pathogenic Vibrio harveyi Bacteria in Farmed ShrimpResults and DiscussionWe evaluated the changes of the microbial community structure caused by AHPND on shrimp stomachs and hepatopancreas, with and without the presence of probiotics. Shrimp were either not challenged (healthy controls; C0) or challenged with AHPND-causing V. parahaemolyticus BA94C2 strain (AHPND-infected controls; C1) and compared with the same setup but with the daily supplementation of a probiotic (via feeding in a commercial feed without other probiotic medication) for a one-month period prior to the challenge. We used as probiotic the ILI strain (C2) and another probiotic (Bacillus sp. strain P64) for comparison (C3). The results from the challenge test showed the highest survival values for treatments C0 and C2 followed by C3. The experimental shrimp with the highest mortality were those of the AHPND-infected shrimp treatment (C1).To date, there is very limited information on the effect of AHPND in the shrimp microbiome [characteristic microbial community occupying a reasonably well-defined habitat which has distinct physicochemical properties], and existing studies have focused on intestinal microbiota. Even though the contribution of intestinal microbiota on the impact of AHPND disease is not clear, we highlight the fact that the diversity on the intestine is higher than on the hepatopancreas but similar to the one found in sediment.Read more: Probiotic Capacity of Pseudovibrio Denitrificans Isoates from a Marine SpongeIt is known that the immune-related organs – such as hemocytes, hepatopancreas and gills – are important in the response to AHPND disease. Also, the colonization of the stomach appeared to be the initial step of the infection for Vibrio-causing AHPND. Additionally, AHPND mainly affects the hepatopancreas and stomachs of infected shrimp; nevertheless, characterizing the microbiota from the shrimp’s stomach has not been the main focus to understand the changes in microbiota responses. Therefore, we examined microbiome alterations in response to pathogenic bacteria producing AHPND, in the stomach and hepatopancreas of shrimp.We identified a significant loss of diversity in the microbiota of the hepatopancreas and stomach associated with AHPND. Our results contrast with some minimal effects observed in the intestinal microbiota of shrimp after White Spot Syndrome Virus (WSSV) infection and AHPND. Thus, we consider that the abundance and composition of the microbiota are influenced as a function of the organ in which it is located.When looking at the effect of the probiotics in the community structure, we observed that the microbiota was closer to the healthy state than the infected configuration of the microbiome, with ILI being the most similar to the microbiota of healthy animals, maintaining a phylum-level diversity including Proteobacteria, Firmicutes and Tenericutes, which are also the main components of the intestinal microbiome in other species like crabs and black tiger shrimp. Read more: Transcriptomic Analysis of Pacific White Shrimp in Response to AHPNDIn our study, we showed that in AHPND infected shrimp, Proteobacteria (primarily order Gammaproteobacteria) was the most dominant phylum and increased in abundance when compared to healthy shrimp and the ILI probiotic treatment.Interestingly, we identified members from the Tenericutes phylum, particularly those assigned to the genus Mycoplasmatales, as members of the healthy microbiome. Four amplicon sequence variants, ASVs [which refer to single DNA sequences recovered from a high-throughput marker gene analysis] from Mycoplasmatales belonged to the genus Mycoplasma, being the most abundant taxonomic group of the healthy stomach’s microbiome.Various studies on the role of Mycoplasma spp. in other organisms have suggested that it would be harmless commensals [microorganisms living continuously on, or in certain parts of, the body, without causing disease] or endosymbionts [any organism that lives within the body or cells of another organism most often, though not always, in a mutualistic relationship] with the host; however, its specific role within the shrimp microbiome is unknown. Specific strains of Mycoplasma have been associated with healthy shrimp, potentially suggesting that it has a function in host health and recovery from disease states. We were able to observe that the use of bacterial probiotics such as ILI can modulate the host microbiota and could contribute as a stimulant for several species that have probiotic potential by inhibiting gastrointestinal colonization of pathogens, as we found in this study.Read more: Prevention of Disease Caused by EHP Spores on ShrimpThe fact that ILI can acquire the causative plasmid for AHPND shows the high capacity of Vibrio species for Horizontal Gene Transfer, HGT [the movement of genetic material between unicellular and/or multicellular organisms other than by the (“vertical”) transmission of DNA from parent to offspring (reproduction)], which may be used to occupy different niches. The acquisition may vary in the aquatic environment and it may be influenced by the genetic background. The maintenance of these features in non-pathogenic bacteria could be evidence that secreted toxins are evolutionarily ancient features that may play a larger role in environmental fitness.The ILI plasmid has not been described in any previous report, but it could provide important functions in the probiotic capacities that this strain exhibits. It is intriguing that no other reported pathogenic Vibrio strain contains a plasmid with similar gene content. The majority of large plasmids that are associated with Vibrio species have been characterized to be highly virulent against different hosts. Interestingly, we did not find any potential virulence factors encoded in the ILI plasmid; thus, the role of the plasmid in the bacteria is not yet clear. Further studies on the role of the plasmid in the ILI strain could clarify its function and potentially shed light on whether it contributes to the ILI’s probiotic capabilities.Read more: Study of Co-Infection of WSSV and Vibrio ParahaemolyticusAltogether, our data indicate that virulence is multifactorial in the Harveyi clade, and that the sources of virulence could be associated to specific hosts since many of the associated genes can be involved on the survival of the bacteria in different environments.PerspectivesThe use of probiotics in aquaculture is a practical alternative to promote animal health and prevent disease. We characterized the microbiome alterations generated by a successful probiotic that could control pathogenic populations in shrimp’s gastrointestinal tract and stimulate survival in aquaculture.The V. diabolicus ILI strain is a bacterial strain isolated from the environment in a larval shrimp culture that has shown antimicrobial activity against many pathogenic strains of different Vibrio species. Supplementation of ILI to L. vannamei not only decreased the abundance of Proteobacteria amplicon sequence variants (ASVs) but also maintained a healthy-like microbial community in the shrimp gastrointestinal tract after being challenged with AHPND-causing bacteria.Our findings suggest that the ILI strain can likely be used as a probiotic to reduce the population of pathogens for AHPND in the shrimp and to enhance survival and resistance against this important disease in shrimp aquaculture, without the risk of becoming a pathogenic organism.Source: Global Aquaculture Alliance ...
Mengenal Molting Pada Budidaya Udang
Udang

Mengenal Molting Pada Budidaya Udang

Molting merupakan proses pergantian kulit yang biasa dilakukan oleh udang budidaya, seperti udang vaname dan windu. Udang akan mengalami molting seiring dengan pertumbuhannya. Hal ini karena pada dasarnya udang hidup di dalam cangkang, seiring dengan pertumbuhannya, maka ukuran tubuhnya juga akan menjadi bertambah. Demi menyesuaikan hal tersebut, cangkang lama akan terlepas dengan sendirinya dan kemudian digantikan dengan cangkang baru setelah proses molting selesai.Biasanya, udang melakukan molting setiap tiga sampai delapan minggu. Prosesnya juga tidak memakan waktu yang lama. Mereka dapat menumbuhkan cangkang baru hingga mengeras dalam hitungan jam.Baca juga: Tahap Molting pada UdangMasalah Saat MoltingSatu hal yang harus diingat adalah udang akan mati apabila proses molting gagal. Hal yang mendasari gagalnya proses molting adalah kondisi air yang tidak tepat. Kondisi air yang dimaksud adalah kandungan mineral pada air yang tidak seimbang, baik terlalu rendah maupun terlalu tinggi.Hal tersebut tentu membuat kadar kalsium pada air tidak stabil, yang mana kalsium tersebut sangat dibutuhkan oleh udang dalam melakukan pembentukan cangkang baru. Untuk itu, perlu untuk dilakukan pengecekan kadar mineral dalam air secara rutin demi memastikan kestabilan mineral pada saat proses molting berlangsung.Mempercepat Proses MoltingUntuk mempercepat proses molting, anda dapat melakukan pergantian air sebanyak 20% dari jumlah total air yang ada. Hal ini diketahui dapat mendorong udang melakukan molting dengan cepat.Baca juga: Tips Mempercepat Pertumbuhan UdangPerlakuan Untuk Cangkang LamaCangkang lama yang sudah terlepas dari udang akan terlihat berwarna putih dan menumpuk pada dasar kolam tambak. Sebaiknya, cangkang tersebut dibiarkan saja tetap berada di dasar. Hal ini karena cangkang lama tetap mengandung banyak mineral yang nantinya akan larut ke dalam air.Sumber: Indah Sari Windu (ISW) ...
Nursery Pond, Seberapa Perlu?
Udang

Nursery Pond, Seberapa Perlu?

Pemeliharaan dalam nursery ini dilakukan agar benur lebih siap hidup pada petakan tambak pembesaran (grow out ponds), dan melakukan pencegahan/pendendalian penyakit seperti Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND).Nursery pond (NP), merupakan terminal awal bagi kehidupan benur/PL (post larvae) selepas dari hatchery sebelum dibesarkan di petakan tambak pembesaran (grow out pond, GP). Grobest Group Technical Director - Olivier Decamp menyatakan tambak budidaya biasa akan menyulitkan untuk mengontrol kondisi benur/PL dan memberikan perlakuan air yang sesuai dengan kebutuhan PL pasca ditebarkan.Dia pun membeberkan fakta bahwa kematian masal dapat terjadi hingga 100 % pada 10 hari awal penebaran, dan kejadian serupa banyak terjadi hingga 30 - 35 hari DOC (days of culture, hari pemeliharaan). “Tanda-tanda pertama AHPND sering ditemukan pada benih PL sampai dengan umur 1 bulan jika kondisi benihnya buruk,” ujarnya.Baca juga: Tekan Biaya Produksi dengan 10 Langkah Tambak Sistem Nursery (Part 1)Olivier pun menjelaskan, nursery pond (NP) ini juga masuk dalam risalah yang dikeluarkan oleh FAO mengenai strategi pencegahan dan penanganan AHPND. Kolam nursery dapat berwujud kolam, petakan, maupun tanki. PL dipelihara selama beberapa hari sampai dengan 45 hari. Sehingga petambak hanya akan memelihara udang di tambak pembesaran selama maksimal 60 hari sebelum kondisi air dan dasar kolam memburuk. Atau jika akan memelihara lebh lama mereka melakukan panen parsial.Kolam NP merupakan fasilitas dengan biosekuriti tinggi untuk menumbuhkan PL dengan kepadatan tinggi dari PL 10-12, selama 1 - 4 pekan setelah keluar dari hatchery. Petakan yang jauh lebih kecil daripada tambak grow out lebih memungkinkan untuk meminimalkan risiko masuknya patogen,  lebih mudah mengontrol pemberian pakan dan pengendalian akumulasi bahan organik yang menjadi pemicu pertumbuhan vibrio.Sehingga produktivitas dan kualitas keseluruhan udang dapat ditingkatkan, seperti variabel keseragaman ukuran. Terpenting, kolam NP akan menekan risiko paparan udang tahap awal sehingga mengurangi rumitnya kontrol pada pemeliharaan tahap pembesaran. Dia memaparkan parameter kulitas di nursery dan di kolam jelas ada perbedaan. Maka harus dipersiapkan aklimatisasi pada PL sebelum dimasukkan ke dalam grow out pond (GP). Maka perlu nursery setup yang berfungsi seakan sebagai kolam transfer bersistem indoor atau outdoor dengan shading.Baca juga: Lebih Siap Tebar dengan Nursery  “Namun kita tidak menyarankan petambak berinvestasi besar untuk membuat kolam dengan nursery sistem di farm area. Yang penting implementasikan desain yang memudahkan pengeluaran bahan organik secara efektif, dan dilaksanakan protokol aerasi,” Olivier berpesan pada seminar online Trends of Shrimp Nursery Technology in South East Asia (10/6). Dia memberikan gambaran, pada beberapa petambak yang menghasilkan performans tinggi, memelihara benur dalam nursery selama setidaknya 20 hari. “Tipikal problem dalam nursery adalah akumulasi sisa pakan, dan bahan organik sprt amonia. Maka pemberian palatable food dengan good digestibility bagi benur adalah sangat penting. Feed stability, palatability, dan digestibility itu parameter pakan yang baik untuk benur dalam nursery. Bisa berbahan baku marine protein atau plant protein,” dia menerangkan pada acara yang digelar oleh Forum Udang Indonesia (FUI) itu.Manajemen Nursery PondDirektur PT CJ Feed and Care Indonesia - Haris Muhtadi menyatakan nursery pond sebenarnya bukan hal baru pada perudangan nasional. Tambak udang monodon pada masa keemasannya dulu sudah menerapkan nursery pond, walaupun tujuannya bukan untuk mencegah penyakit namun untuk memendekkan periode budidaya. “Nursery pond diaplikasikan karena adanya asumsi hipotetik, dianggap bisa memecahkan masalah penyakit salahsatunya AHPND. Artinya mencegah penyakit yang menyerang umur awal, agar udang PL yang sudah lolos dari kolam nursery dan pindah ke kolam grow out atau tambak pembesaran , sudah lolos dari ancaman AHPND itu,” tutur dia.Sumber: TROBOS Aqua ...
Manajemen Air di Hatchery Udang agar Patogen Tak Mudah Masuk
Udang

Manajemen Air di Hatchery Udang agar Patogen Tak Mudah Masuk

Manajemen kualitas air memiliki peranan yang sangat krusial dalam unit usaha hatchery udang. Jika aspek ini kurang diperhatikan, bukan tidak mungkin bisa jadi salah satu pintu masuk patogen yang bisa merugikan. Saat isu penyakit udang sedang tinggi-tingginya, manajemen kualitas air di hatchery perlu ditingkatkan lagi agar tetap menghasilkan benur udang yang berkualitas dan bebas dari patogen saat dijual ke petambak.Saran ini disampaikan oleh Technical Support Manager INVE Aquaculture in Asia, Alfredo Medina, dalam acara BincangMina bersama INVE  Aquauclture Indonesia. Dalam webinar yang diselenggarakan Minapoli dan INVE Aquaculture ini, Alfredo menjelaskan bahwa manajemen kualitas air di hatchery mencakup pada semua fase produksi. Berikut dua fase diantaranya.Manajemen Air untuk PemijahanManajemen kualitas air pada fase pemijahan dititikberatkan pada bagian persiapan. Hal ini tentu setelah memastikan induk yang digunakan sudah berstatus SPF (specific pathogen free), didapat dari sumber induk yang berkualitas, dan dalam kondisi sehat setelah dilakukan pengecekan secara berkala.Baca juga: Prospek Cerah Industri Hatchery UdangMenurut Alfredo, pada saat persiapan bak untuk pemijahan, semua benda yang ada di dalam bak, seperti selang dan batu aerasi, harus diangkat dan dibersihkan. Tujuannya agar proses sterilisasi bisa menyeluruh di semua titik permukaan bak.Setelah memastikan tidak ada benda yang tertinggal, bak pemijahan disemprot dengan air untuk menghilangkan semua sisa-sisa proses produksi sebelumnya. Kemudian dilanjutkan dengan menyikat bak menggunakan sabun dengan dosis 1 persen. “Kemudian diamkan selama 30 menit,” tambah Alfredo.Langkah selanjutnya adalah membilas bak yang sudah dibersihkan tadi dengan menggunakan air tawar dan dilanjutkan dengan proses pengeringan. Baru setelah itu, bak diisi dengan air laut yang difilter dengan saringan yang sangat rapat dengan diameter 0,5 – 0,2 mikron. Dengan ukuran filter sebesar itu, Alfredo yakin tidak ada bakteri yang masuk bersamaan dengan air yang dimasukkan ke dalam bak.Selama proses pemijahan, air media disarankan menggunakan sistem resirkulasi dan didukung dengan sistem UV dan penggunaan arang aktif untuk menjaga media pemijahan tetap steril. Alfredo menambahkan bahwa pada proses ini bisa juga ditambah dengan pemberian probiotik sebanyak 5 – 10 ppm.Baca juga: Mengukur Kualitas Benur Udang Manajemen Air untuk Pakan AlamiSelain sumber air, pakan alami yang diberikan pada induk dan benur juga bisa jadi titik masuk patogen. Pakan alami untuk benur berupa alga dan artemia sama-sama bisa berpotensi membawa patogen seperti Vibrio sp. Sehingga proses produksi dan pemberian pakan alami tersebut perlu dipastikan bebas dari bakteri.Alga yang akan diberikan sebagai pakan starter difilter dengan saringan 0,45 mikron dan dimasukkan ke dalam autoclave pada 2 atm dengan suhu 121O C. Proses autoclave ini berlangsung selama 10 – 20 menit jika volume alga hanya sedikit, atau sekitar 3 liter. Sementara untuk volume yang lebih besar, proses autoclave bisa berlangsung selama satu jam.Sementara untuk manajemen air, dapat difilter dengan saringan 0,5 mikron dan disinfeksi dengan menggunakan klorin 5 – 10 ppm. Kemudian air bersirkulasi dengan menggunakan UV dan arang aktif selama proses resirkulasi itu.Sementara pada persiapan wadah untuk penetasan artemia, proses dimulai dengan melepaskan pipa atau selang yang menempel di wadah penetasan. Selanjutnya wadah tersebut disemprot dengan air untuk membersihkan sisa-sisa siste dari penetasan sebelumnya. Setelah itu, wadah disikat dengan menggunakan sabun atau deterjen dan dibilas untuk memastikan wadah sudah bersih.Baca juga: Kecukupan Pakan pada BenurDalam pengisian air untuk penetasan artemia, Alfredo menyarankan menggunakan air laut dengan suhu 29o C. Air tersebut difilter dengan saringan berukuran 1 mikron. Setelah itu, air yang akan digunakan didisinfeksi lebih dulu dengan klorin 10 ppm selama satu jam hingga satu malam. Baru setelah itu dinetralisir dengan menggunakan sodium tiosulfat 1 ppm.Sementara pH air saat penetasan dijaga pada kisaran yang lebih basa, atau sekitar 8,5 – 8,8 dengan penambahan sodium bikarbonat 0,8 – 1 gram/liter. Barulah proses penetasan artemia bisa dimulai dengan dibantu aerasi yang kuat.  ...
Relationship Between Vannamei Size and Consumption of Bioflocs
Udang

Relationship Between Vannamei Size and Consumption of Bioflocs

The consumption of probiotics (bioflocs) was positively related to the size of vannamei shrimp. However, the level of bioflocs consumption is not the same for all growth stages of white shrimp.Biofloc biotechnology (BFT) is considered as one of the most promising methods for the sustainable development of the intensive shrimp farming industry as this system not only helps to maintain the water quality at a good standard but also The source of microbial biomass provided as supplementary feed allows the production of shrimp culture at high densities with minimal or no need for constant water changes, minimizing environmental impact and improving biosecurity. learning in farming by limiting the entry and spread of diseases. Based on the adjustment of the carbon/nitrogen ratio, the heterotrophic bacteria present in the bioflocs are able to assimilate inorganic nitrogen from an additional source of organic carbon. The microorganisms present in the system are an important source of fats and proteins; however, laboratory observations have shown that bioflocs consumption is not the same for all stages of shrimp, moreover there is variation depending on the time of rearing. Therefore, the researchers hypothesized that there is a strong relationship between the consumption of probiotics (bioflocs) and the size of farmed shrimp, and understanding how much biomass there is. microorganisms can be absorbed into the muscle, tissue, meat of shrimp is absolutely necessary.Read more: Intestinal Bacteriome of Pacific White Shrimp in Biofloc, Clear Water System In this study, both experimental flowmeters biological microorganisms (bioflocs) of white shrimp ( L. vannamei ) with respectively 0,01 g size, stocking density 2,000 / m 3 in Central period (40 days) and 0,80g, stocking density of 400 individuals / m 3 in growout period (60 days). Molasses was added to adjust the C:N ratio to maintain 6:1.The results of the analysis indicate that there is a positive relationship between the size of vannamei shrimp and the consumption of microorganisms (bioflocs). Bioflocs contribute 22 – 43% C and 0 – 43% N in the nutritional composition of shrimp meat at the nursery stage (0.01g), while at the grow-out stage (0.80g), the contribution of bioflocs varied from 63 to 100% C and 35 to 86% N. In this study, it was hard to believe that nitrifying bacterial activity was maintained at a good level throughout the duration of both of experiment. In addition, the difference in abundance of algae also indicates that there is a preference for microbial consumption because of larger shrimp size. Therefore, the results of this study confirm the hypothesis that the consumption of probiotics (bioflocs) as an additional natural food source depends on the size of the shrimp.Bioflocs technology can be used to reduce concentrations of ammonium, a toxic nitrogen compound, by stimulating the growth of heterotrophic bacterial communities. When ammonium concentrations reach dangerously high levels, the addition of a carbon source, such as molasses, allows the growth of heterotrophic bacteria that incorporate ammonium into their biomass as proteins. However, the rate of bioflocs formation is not only related to the additional carbon source (molasses) but also to the type of aeration used. Read more: Ten Easy Steps Towards Biofloc Production of Shrimp or TilapiaBesides serving as an additional feed source, bioflocs also have effects on other aspects related to shrimp health such as disease resistance. In the system, there is always the existence of different communities of microorganisms such as cyanobacteria and flagellates, the natural competition of these species can affect shrimp growth and survival, rather Changes in water quality parameters, nutrients affect yield as well as the predominance of beneficial microbial groups.Several studies have demonstrated that the consumption of microorganisms and their biofilms (bacteria and protozoa) contained in bioflocs is an important source of proteins and lipids that contribute to a decrease in feed conversion rates. feed (FCR) significantly improves production costs. During the rearing of vannamei shrimp (L. vannamei) at different stages, it can be observed that larger shrimp spend more time selecting preferred microorganisms (food) than. On the other hand, shrimp with small size sometimes cannot interact much with microorganisms (bioflocs) leading to difficulty in consumption as well as poor growth. Overall, the results from the above study have contributed important information for better management of natural and artificial feeds as well as for the intensive production of vannamei shrimp using bioflocs technology.Source: Tepbac.com ...
Alur IPAL Tambak Udang
Udang

Alur IPAL Tambak Udang

Mulai dari komponen dan alur sirkulasi air dan pengolahan limbah tambak udang perlu didesain secara rinci supaya hasil optimalDalam sebuah forum diskusi secara daring yang digelar baru-baru ini oleh US Soybean Export Council (USSEC) dan Forum Udang Indonesia (FUI) dibahas topik teknis terkait bagaimana cara mengolah limbah atau Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) tambak udang. Tema yang diangkat dalam forum tersebut “Designing effective waste water treatment for shrimp farming in Indonesia (Merancang pengolahan air limbah yang efektif untuk budidaya udang di Indonesia)”.Tampil menjadi pembicara Dr John Hargreaves, Aquaculture Consultant&Editor-in Chief, World Aquaculture Magazine dengan materi “Waste Water Treatment Technology for Shrimp Farming (Teknologi Pengolahan Air Limbah untuk Budidaya Udang)”. Hadir juga narasumber Itang Hidayat dari Aquaculture Technology and Develepment PT STP-Japfa Aquaculture dengan judul “Kinetika Proses Pengelolaan Limbah Cair dan Padat Tambak Udang.Komponen IPALDalam melaksanakan sistem resirkulasi air tambak, Hargreaves menjelaskan, komponen yang dibutuhkan adalah pra treatment (perlakuan) air, wadah untuk udang, suplai oksigen, treatment limbah dan sirkulasi air. Lalu komponen yang dibutuhkan dalam penampungan lumpur padat adalah berupa kerucut pengumpulan pusat, kolam sedimentasi, filter drum, filter roti, fraksionator busa.Baca juga: Pentingnya IPAL untuk Tambak UdangKemudian untuk pengolahan lumpur padat dibutuhkan produksi biogas, dehidrasi, dan ketersedian lahan. Sementara, untuk pengendalian amonia dibutuhkan air hijau, bioflok, biofilter dengan substrat. Dan untuk kontrol nitrat dibutuhkan zona anoksik dalam, area pengendapan padatan reaktor denitrifikasi. Itang Hidayat ikut menjelaskan tentang karakteristik limbah cair dan padat dari tambak udang. Karakteristik limbah cair tambak udang tidak terlalu tinggi dalam konsentrasi polutannya, namun melibatkan volume air yang besar. Konsentrasi polutannya tergantung pada usia budidaya, kepadatan tebar, sistem budidaya, dan konstruksi.Menurut Itang, konsentrasi COD dan TSS < 100 ppm untuk efluen (air buangan kolam) saat panen, namun dapat berada pada 400 - 1.000 ppm COD dan TSS pada buangan lumpur reguler/sifon. Retensi nutrien dari pakan di kolam udang hanya sebesar N 22 % P 10 % dalam biomassa udang. “Itu, berarti 78 % N dan 90 % P terbuang dari kolam sehingga polutan utama dari limbah tambak udang adalah pencemaran nutrien terhadap lingkungan,” ia mengingatkan.Itang menilai, lumpur yang tidak dipisah dari air limbah akan menghambat efisiensi penurunan konsentrasi polutan air limbah, karena limbah padatan meluruh secara lambat ke badan air. Akibatnya efisiensi removal TSS, turbiditas, N, P, S, COD dari air limbah yang diolah akan buruk.Baca juga: Probiotik, Imunostimulan, dan Manajemen Kualitas AirPembentukan gas H2S oleh bakteri pereduksi sulfat di sedimen lebih masif dengan memanfaatkan sumber ion sulfat dari air laut. Lumpur juga menjadi habitat biofilm bakteri VP AHPND. Di alam VP membentuk lapisan biofilm di sedimen, saat terjadi upwelling, koloni Vp terdispersi dalam air laut dan melakukan penempelan kembali di substrat lain, seperti pada plankton, pasir filter air, udang, ikan, kerang atau rumput laut.Biofilm Vp juga menempel pada plankton, zooplankton, detritus, dan bioflok. Koloni bakteri Vp berupa biofilm memiliki resistensi yang tinggi terhadap antibiotika, probiotik, dan disinfektan. Sebanyak 70 % toksin PirA & PirB VpAHPND terdeteksi di lumpur dan 30 % di air.Resirkulasi AirPada forum tersebut Hargreaves juga menjelaskan pentingnya sirkulasi air tambak. Sirkulasi air tambak udang diperlukan karena penyerapan oksigen ke lapisan terbawah tambak terbatas. Lalu, sirkulasi air dengan sendirinya dapat bermanfaat dan menghilangkan atau dapat mengurangi kebutuhan air untuk pertukaran air.Baca juga: Pengelolaan Air di TambakTerdapat manfaat potensial dari pencampuran oksigen yang dihasilkan alga dari kolom air ke dasar kolam. Kemudian sirkulasi air juga dapat mengatasi keterbatasan produktivitas alga. Sasaran kecepatan arus resirkulasi berkisar antara 5 - 10 cm/detik.Menurut Hargreaves, terdapat sejumlah alasan yang saat ini digunakan dalam mengembangkan desain tambak bersirkulasi. Di antaranya, perlu mempertimbangkan limbah udang dan laju produksi metabolisme untuk desain proses unit RAS (penangkapan limbah padat, biofiltrasi, aerasi, dan lainnya). Dimana produksi FOD: 1 - 1,2 kg O2/kg pakan; respirasi udang: 250 - 300g O2/kg pakan dan ekskresi TAN: 30g TAN/kg pakan. Kebutuhan oksigen pakan, disebutkan pemateri, adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi karbon organik (FOD-c) dan nitrogen (FOD-n) dalam pakan yang tidak diubah menjadi udang yang dipanen. Jumlahnya, tergantung FCR, tetapi biasanya sekitar 1 - 1,2 kg O2/kg pakan. Lalu, peningkatan kualitas air juga bisa dilakukan dengan proses biologi dan fisik tambak. Proses biologi berupa aktivitas alga dan bakteri, nitrifikasi/denitritikasi. Proses fisik berupa adsorpsi ke sedimen mineral. “Kemudian tambak bersirkulasi juga bisa memisahkan area pembesaran udang dari fungsi pengolahan limbah. Pindahkan air limbah dari kolam untuk pembesaran dengan kepadatan tinggi ke kolam treatment sehingga lebih banyak oksigen yang digunakan oleh udang,” urainya. Urutan treatment, pemateri menyarankan, mulai dari zona sedimentasi, terus anaerobik, dilanjutkan ke zona fakultatif, zona oksidasi, dan terakhir zona pengkondisian.Sumber: TROBOS Aqua ...
Ensuring the Water Environment of Shrimp Ponds in the Hot Season
Udang

Ensuring the Water Environment of Shrimp Ponds in the Hot Season

The hot weather is easy to change the environmental factors in the pond suddenly, causing shock, disease or premature death of the cultured shrimp.The Environment is Easy to Change When it's HotMr. Nguyen Van Tuan, a whiteleg shrimp farmer in Ninh Phu commune, Ninh Hoa town (Khanh Hoa) said that his family has 3 shrimp ponds with an area of nearly 3,000 m2. In the first crop, he collected with an output of nearly 7 tons, after deducting expenses he made a profit of more than 100 million VND. At this time, he has been raising crop 2 for nearly 2 months.However, recently, the weather in the area has continuously occurred with hot waves. This is very easy to cause sudden changes in environmental factors in the pond, causing shock, disease or premature death of farmed shrimp.Therefore, in order for shrimp to grow and develop well, he has always been on duty to maintain the water level in the pond from 1.2 m or more. At the same time, the water fans, he runs continuously to avoid the temperature difference between the water layers.Read more: Intestinal Bacteriome of Pacific White Shrimp in Biofloc clear Water System Mr. Tuan also said that, in addition to measures to combat heat for the above shrimp pond environment, he also adjusted the appropriate amount of food, added vitamins and minerals to increase the resistance of farmed shrimp.And Mr. Le Minh Chinh, a whiteleg shrimp farmer in 3 stages applying Semi biofloc technology also in Ninh Phu commune, said that in order to proactively avoid the influence of hot weather, the hatching process was regular. Use sunshade nets. When the nursery shrimp were about to be put into the pond level 2, he started to pull the net out slowly so that the temperature between the level 2 pond and the level 1 pond was the same as the temperature before bringing the shrimp down.In addition, when bringing shrimp to the pond, it is necessary to cause algae to create a layer to reduce the temperature, helping the shrimp to avoid heat shock. Especially in the hot season, farmers need to stock shrimp at a moderate density, the ponds must maintain a water level of 1.2m or more.“Last time, thanks to focusing on the above solutions, despite the hot weather, my family's shrimp farming in the second crop still grew and developed well. With a farming area of 1.5 hectares, each pond is about 1,500m2 and currently has an average yield of about 2 tons/pond. It is expected that in about a month I will start harvesting, promising a good harvest," Chinh shared.Read more: Prevenetion of Desease Caused by EHP Spores on ShrimpIn hot weather, shrimp ponds must maintain the water level above 1.2m. Photo: KS.RecommendationThrough research, recently, the Directorate of Fisheries has issued an official dispatch on strengthening aquaculture management in hot weather in 2021. Besides, the Aquaculture Research Institute III also There have been severe weather warnings in aquaculture.Accordingly, in recent times, the South Central provinces, especially from Da Nang to Khanh Hoa, have had extremely hot weather. The results of the local field survey show that, in the concentrated aquaculture areas of some key provinces in the South Central region, the water temperature rises by 33oC or more in the aquaculture ponds, as well as in the aquaculture ponds. in the lagoons/bays from 13 to 15 hours of the day. This is detrimental to the health of farmed fish.Faced with the above situation, in order to proactively avoid the influence of hot weather and ensure the province's aquaculture production plan, Khanh Hoa Fisheries Sub-Department has suggested localities to guide farmers in a number of measures. measures to strengthen management of farmed objects.According to Mr. Vo Khac En, Deputy Director of Khanh Hoa Fisheries Sub-Department, for brackish water cultured shrimp, farmers need to use nets to cover the surface to limit the radiation of sunlight and reduce the temperature. water in the pond, avoiding shock to the cultured shrimp. In particular, always maintain the water level in the pond above 1.2m.Read more: Paddle Wheel More Cost Effective than Pump In addition, every day farmers need to carefully siphon the pond bottom and actively store clean water to supply to the pond when necessary, such as high pH, thick algae growth, high water temperature. However, the water supply into the pond must be gradual, about 20-30% of the water in the pond, supplied in cool weather, the water supply needs to go through the pond to settle and treat.In addition, it is necessary to strengthen the fan to limit the stratification of the water in the pond and provide enough oxygen for the shrimp, especially at night. Regularly monitor and inspect farmed shrimp, add vitamin C, minerals, and probiotics in the feed to enhance the resistance of farmed shrimp, reduce 50% of the amount of feed when it is hot and sunny. When you see that farmed shrimp have abnormal phenomenon, shrimp stop eating, shrimp color is pale, etc., they can be harvested early to avoid economic losses.According to Mr. Vo Khac En, in order to prevent the heat of the sun for aquaculture by cages and rafts on bay lagoons, farmers need to limit new stocking, as well as collect cages and rafts without aquaculture in order to create ventilation for farmers. water surface during prolonged hot weather. For places with a lot of organic matter, it is necessary to place the cage about 1.5-2.0 m from the bottom. Arrange the distance between the cages to ensure ventilation and convenience in the process of caring, managing and cleaning the cages. Make sure the distance between the rafts is at least 50m.Regularly clean the cage nets clean and ventilated to increase the flow rate, to improve water quality, and to increase the oxygen content in the water. Reduce 50-70% of daily feed intake or stop feeding during intense heat. Regularly diving, checking and monitoring the health of farmed aquatic products along with collecting leftovers, peeled shells and dead aquatic bodies. When detecting abnormal changes in the water environment in the farming area or dead aquatic products, it is necessary to notify the authorities as soon as possible to take measures to prevent and deal with them promptly.Source: Tepbac.com ...
Pentingnya IPAL untuk Tambak Udang
Udang

Pentingnya IPAL untuk Tambak Udang

Pentingnya IPAL untuk Tambak UdangPenting bagi pembudidaya udang vaname untuk mengerti pentingnya Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) untuk tambak udang. IPAL adalah sebuah fasilitas untuk mengolah air limbah secara fisik, biologis dan kimiawi sebelum air tersebut kembali ke lingkungan. Sebelum terbuang ke sawah, sungai dan lainnya, alangkah lebih baik jika air tersebut memang sudah tidak berbahaya lagi untuk lingkungan. Lalu apa pentingnya IPAL untuk tambak udang? Mari kita simak penjelasan berikut.Perkembangan budidaya udang vaname di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun. Tentu saja masyarakat berperan pro aktif dalam perkembangan ini. Begitu juga pemerintah dari segi regulasi dan panduannya. Seperti rancangan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB), anjuran dari Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. Baca juga: Budidaya Udang Berbasis Lingkungan Menjadi Tumpuan Ekspor PerikananCBIB adalah suatu cara dimana para pembudidaya dapat memproduksi hasil perikanan dengan mempertimbangkan kaidah-kaidah selain peningkatan produksi yang ramah lingkungan, juga aspek mutu, gizi,kesehatan dan keamanan pangan.IPAL itu pentingDari poin-poin di atas, kata kunci ramah lingkungan menjadi latar belakang adanya anjuran pembangunan IPAL di setiap tambak udang yang ada. Selain itu, masa depan berkelanjutan dari tambak itu pun menjadi alasan adanya IPAL baik untuk tambak yang sedang beroperasi maupun yang sedang persiapan.Ternyata air limbah dari tambak udang vaname banyak mengandung virus dan mikroorganisme patogen. Asalnya tidak lain dari feses udang dan sisa-sisa pakan yang tidak terkonsumsi oleh udang. Jika saja kita membiarkan limbah tersebut terbuang di sungai atau lahan pertanian lainnya, maka sudah tentu akan merugikan lingkungan secara jangka panjang. Lagipula, jika lingkungan dan ekosistem di sekitar tambak udang sudah rusak, maka untuk siklus-siklus berikutnya akan sulit terhindar dari berbagai penyakit.Baca juga: Petani Tambak di Bireuen Dilatih Manajemen Kualitas AirFungsi dari IPAL adalah memproses limbah tersebut secara tiga tahap, yakni fisik, biologi dan kimia. Pada tahap fisik, berfungsi untuk mengurangi padatan tersuspensi pada limbah. Lalu tahap biologis untuk mengurai limbah organik pada air. Yang terakhir adalah  proses kimia untuk membunuh mikroorganisme yang berpotensi membawa penyakit bagi udang.Artikel asli ...
In Short, Cut or Not Cut the Broodstock Eyes?
Udang

In Short, Cut or Not Cut the Broodstock Eyes?

Artificial reproduction of vannamei in most hatcheries worldwide is through the removal of one eye stalk. Although this facilitates production and increases egg production in industrial shrimp hatcheries, it is not a boon.Furthermore, it has long been recognized that eye stalk removal can also cause physiological imbalance and affect the immune health of broodstock. Removal of the eye stalk can also reduce the chances of survival of juvenile shrimp during disease outbreaks. This study and many earlier studies confirm that eye stalk removal not only affects the broodstock, but also negatively affects the juveniles. In light of these concerns, it was found that reproductive performance in broodstock was not affected in the absence of eye stalk removal, through interventions including pre-maturation conditioning, increasing stocking density and change in sex ratio (Zacarias et al., 2019). Read more: Innovation Award 2020 Finalist: Simao Zacaria's Shrimp Eyestalk Ablation Research Tests have demonstrated that rapid maturation and re-maturity of female white shrimps without stalk removal can be achieved while maintaining egg production similar to those of peduncated females. eye.Method of cutting shrimp eyes in traditional seed productionAfter one week of acclimatization, one of the shrimp's eyes was removed from the females in one tank (AF), while in the second tank the females remained intact without pedicle (NAF). One week after ablation, mature females from each treatment were collected and placed in tanks with males for mating. The egg hatching success rate in the two groups was 73% for AF and 65% for NAF, respectively. At the end of the larval stage, the final survival of postlarvae was 58.8 ± 5.0% for the AF group and 58.8 ± 5.6% for the NAF group.Salinity stress testing was performed to assess the robustness of each batch of postlarvae. In this study, postlarvae from the NAF and AF treatments showed similar survival after the salinity stress test. Postlarvae in the NAF and AF groups had a survival rate of 96.5 ± 1.84 and 99.75 ± 0.25%, respectively.Read more: A New Means to Measure BroodstockSurvival of shrimp postlarvae infected with VpAHPNDThe experiment was conducted with 4 treatments:AF + VpAHPND (2*108 CFU/ml).NAF + VpAHPND.AF – Control without adding VpAHPND.NAF - Control with no addition of VpAHPND.The survival rate of control shrimp (i.e., not infected) from cut and uncut shrimp after 96 hours post-experiment was not significantly different, survival rate was 100%. However, in the trial with VpAHPND, the survival of postlarvae from pedunculectomy broodstock (70.4%) was significantly higher than that of postlarvae (38.8%) from pedunculectomy brood. at 96 hours. This supports the hypothesis proposed by Zacarias et al. (2019), eye stalk removal can negatively affect the quality of postlarvae shrimp, namely their physiological status.The removal of the eye stalk can negatively affect the quality of postlarvae shrimp.Experimenting with the virus that causes white spot virusThe challenge is performed with 4 treatments:AF + WSSV.NAF + WSSV.AF – DC not exposed to WSSV.NAF – DC not exposed to WSSV. No significant difference was observed in the survival of uninfected shrimp from both groups at 168 h (98% for NAF and AF). However, the groups infected with the white spot virus WSSV had a significantly lower survival rate than the control group.Read more: EMS, EHP Cases 'have Dobled or Tripled' at Southeast Asian Shrimp Hatcheries in 2019There was no statistical difference between the two infected groups at the end of the trial at 168 h. However, there was a significant difference between the two treatments observed at 65 to 75 h post infection, the survival rate of broodstock without peduncle was significantly higher than that of shrimp. parents cut the stalk of the eye. The higher survival rates of postlarvae from broodstock without peduncles, although not statistically significant, suggest that there may be some slight disadvantage of peduncle removal on the viability of juveniles. against the white spot virus WSSV, but current testing is insufficient to prove this.Stalk removal has been reported to affect the immune system of broodstock. It can therefore be hypothesized that the improvement in survival in postlarvae and juveniles from non-resected broodstock for AHPND and WSSV observed in this study is evidence. about the enhanced “vigority” in the herd. The mechanisms leading to this improvement are likely to be diverse and most likely involve the enhancement of the immune status of postlarvae and juveniles from unresected broodstock. Broodstock without eye stalks increased the survival rate of infected juveniles (under experimental conditions).The results presented here are under laboratory conditions. However, if the potential of juveniles from uncut broodstock to better survive VpAHPND and WSSV outbreaks is confirmed on a commercial scale, the economic impact on farmers will certainly be very significant.Indeed, if growers stock their tanks or nursery ponds with postlarvae from broodstock that do not cut the eye stalk, the survival of the stock will be significantly improved compared to postlarvae from the broodstock. when exposed to VpAHPND in the early days of stocking.Similarly, higher survival rates of juveniles from uncut broodstock stocked in growout ponds can be observed within the first days of WSSV exposure. Therefore, the higher survival rates observed in postlarvae and juveniles from uncut broodstock could reduce losses and bring economic benefits to farmers.Suong Pham @suong-phamSource: tepbac.com ...
Cara Mengatasi Air Tambak Yang Keruh Agar Budidaya Udang Vaname Berhasil
Udang

Cara Mengatasi Air Tambak Yang Keruh Agar Budidaya Udang Vaname Berhasil

Udang vaname (Litopenaeus vannamei) merupakan salah satu komoditas unggulan di Indonesia dan telah banyak dibudidayakan di berbagai daerah. Sebagian besar pembudidayaan udang vaname di Indonesia masih dikelola secara tradisional (intensif) yang tergantung pada kondisi alam. Kondisi alam seperti iklim dan faktor lingkungan dapat mempengaruhi tingkat keberhasilan budidaya udang vaname.Oleh karena itu, sangat penting bagi petambak untuk menyadari akan adanya perubahan kualitas tambak, seperti kualitas air tambak.Baca juga: Pengelolan Air di TambakKualitas Air Tambak Pada Budidaya Udang VanameAir merupakan elemen yang sangat penting bagi fauna air, termasuk udang. Air mendukung proses kehidupan udang, seperti bernapas, makan, dan pertumbuhan. Kualitas air tambak sangat penting untuk diperhatikan karena dapat memengaruhi tingkat keberhasilan budidaya udang vaname. Bagaimana kualitas air dapat memengaruhi keberhasilan budidaya udang vaname?. Udang dapat mudah terserang penyakit ketika air tambak berada dalam kondisi yang tidak ideal, seperti kekurangan oksigen. Selain itu, udang dapat mengalami keracunan amonia dan hidrogen sulfida ketika temperatur dan derajat keasaman air yang tinggi. Oleh karena itu, menjaga kondisi tambak agar tetap pada kondisi ideal dapat membuat udang sehat dan tumbuh dengan baik. Baca juga: Mencegah Penyakit Udang Berdasarkan Warna Air TambakAir Tambak yang Keruh: Apa yang Terjadi?Komposisi dari air tambak dapat memiliki kualitas bervariasi yang dipengaruhi oleh faktor cuaca dan musim, serta kondisi lingkungan kolam. Komposisi air tambak terdiri dari dua kelompok senyawa, yakni senyawa terlarut dan senyawa suspensi. Pada kelompok suspensi terdapat berbagai partikel dengan jumlah yang beragam dan dapat menyebabkan air menjadi keruh. Partikel-partikel yang dimaksud antara lain garam, tanah liat, plankton, dan humus. Keberadaan partikel-partikel tersebut dapat menyebabkan perubahan warna pada air tambak dari coklat hingga kehijauan. Tingkat kekeruhan air dapat dilakukan dengan melakukan uji total suspended solids (TSS). Air yang keruh dapat menghambat sinar matahari masuk ke dalam air. Ketika sinar matahari tidak dapat menembus air dengan maksimal, maka proses fotosintesis yang dilakukan oleh alga berkurang dan menyebabkan jumlah oksigen terlarut relatif rendah. Padahal, oksigen sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan udang. Baca juga: Probiotik, Imunostimulan, dan Manajemen Kualitas AirCara Mengatasi Air Tambak Yang KeruhAir tambak yang keruh dapat diatasi dengan berbagai cara tergantung pada komponen pengotornya. Apabila komponen pengotornya berupa mineral (warna air tambak coklat), maka dapat diatasi dengan pengendapan partikel, penyaringan air, penambahan materi organik, atau penambahan aluminium sulfat atau magnesium sulfat. Apabila pengotornya merupakan plankton (warna air tambak kehijauan), maka dapat dilakukan penyaringan, pengapuran, dan tidak memberikan pupuk berlebih. Pengendapan partikel biasanya dilakukan dengan melewatkan aliran air ke kolam dengan ukuran yang lebih besar dari ukuran saluran air sehingga mengurangi laju air dan terjadi proses pengendapan mineral. Penyaringan air dapat dilakukan dengan memasang alat/mesin penyaring. KesimpulanKualitas air pada tambak udang vaname sangat penting untuk diperhatikan karena dapat berpengaruh terhadap produktivitas dan keberhasilan dari budidaya udang. Cara paling mudah untuk mengetahui bahwa terjadi perubahan komposisi air tambak yakni dengan mengamati adanya perubahan warna air tambak, baik kekeruhan menjadi coklat ataupun kehijauan. Kekeruhan pada tambak udang vaname dapat mengurangi produktivitas dari budidaya udang, baik karena penyakit, stress, cedera, bahkan kematian masal apabila tidak segera ditangani. Pembudidaya udang vaname perlu memahami korelasi terkait parameter kualitas air terhadap kondisi udang, sehingga dapat mengantisipasi berbagai hal yang dapat terjadi di tambak akibat dari perubahan lingkungan dan iklim yang tidak menentu, khususnya untuk kolam tambak terbuka. Sumber:  nanobubble.id ...
Probiotik, Imunostimulan, dan Manajemen Kualitas Air
Udang

Probiotik, Imunostimulan, dan Manajemen Kualitas Air

Saat ini permasalahan yang kerap kali timbul pada budidaya udang adalah adanya serangan penyakit dan menurunnya kualitas air. Hal ini terjadi terutama pada tambak yang sifatnya masih tradisional dan belum menggunakan aplikasi teknologi salah satunya di Desa Pangkah Wetan dan Pangkah Kulon Kecamatan Ujung Pangkah, Gresik. Selain itu masih rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai cara penanggulanan penyakit maupun kualitas air yang buruk juga menjadi permasalahan. Adanya permasalahan-permasalahan tersebut menyebabkan rendahnya tingkat kelangsungan hidup udang yang mengakibatkan turunnya hasil panen. Oleh karena itu perlu adanya teknologi yang sederhana, praktis, dan murah yang dapat digunakan oleh para petambak untuk meningkatkan hasil produksi udangnya.Imunostimulan dan probiotik menjadi salah satu bioteknologi yang dapat di aplikasikan oleh para pembudidaya udang dibandingkan antibiotik. Baca juga: Probiotik, Pencegah Penyakit dan Pendorong Produksi Perikanan BudidayaHal ini dikarenakan penggunaan antibiotik berpotensi menyebabkan masalah baru yaitu memicu pertumbuhan bakteri resisten, pencemaran lingkungan, dan dampak yang lebih jauh lagi adalah ikan yang mengandung antibiotik melebihi standar, tidak laku untuk diekspor karena beberapa negara Eropa menerapkan standar antibitoik yang aman.Probiotik merupakan mikroorganisme yang memiliki kemampuan untuk memodifikasi komposisi bakteri dalam saluran pencernaan hewan akuatik, air, dan sedimen serta dapat digunakan untuk suplemen pakan yang dapat meningkatkan kesehatan inang dan berperan sebagai agen biokontrol.Probiotik berfungsi untuk memperbaiki kualitas air dan meningkatkan respons imun dan nutrisi. Penggunaan probiotik dalam sistem budidaya ikan atau udang telah dikenal masyarakat secara luas sebagai alternatif dalam menanggulangi penyakit yang disebabkan virus maupun bakteri patogen.Saat ini sudah banyak probiotik komersil yang dijual dipasaran baik yang berasal dari bakteri spesies tunggal maupun campuran. Namun, adanya penggunaan probiotik yang cukup banyak akan meningkatkan biaya produksi dalam kegiatan budidaya. Baca juga: Aplikasi Probiotik Tepat, Pakan HematOleh karena itu guna menekan biaya yang harus dikeluarkan, maka perlu perbanyakan probiotik dengan cara dikultur. Para petambak di Kecamatan Ujung Pangkah, tepatnya di Desa Pangkahwetan dan Pangkahkulon diberi penyuluhan dan pelatihan untuk memperbanyak probiotik secara mandiri.Selain probiotik, terdapat imunostimulan yang berperan dalam mengaktifkan sistem kekebalan hewan akuatik khususnya udang, dan meningkatkan ketahanan tubuh terhadap penyakit. Imunostimulan adalah bahan kimia yang mengaktifkan sel darah putih sehingga hewan lebih resisten terhadap infeksi yang diakibatkan oleh virus, bakteri, jamur, dan parasit. Salah satunya adalah imunostimulan protein membran imunogenik Zoothamnium penaei yang sudah diteliti oleh Mahasri (2007) dimana berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa penggunaan imunostimulan tersebut dapat meningkatkan kelangsungan hidup udang windu dari 10% hingga mencapai 96%.Selain pemberian probiotik maupun imunostimulan, dalam budidaya udang juga diperlukan manajemen kualitas air baik itu parameter fisika, kimia, maupun biologi. Hal ini menjadi penting mengingat perlu adanya upaya perbaikan apabila kondisinya tidak optimal. Dalam kegiatan pengabdian masyarakat kali ini, para petambak dilatih untuk mengukur beberapa parameter kualitas air meliputi suhu, warna air, kecerahan, pH. Hasil pengamatan kualitas air salah satu tambak di Kecamatan Ujung Pangkah inididapatkan hasil warna air yang berwarna kecoklatan, pH 7, suhu 32oC, dan kecerahan 50 cm.Baca juga: Probiotik Herbal Kreasi Mahasiswa KKN Undip, Panen Ikan Lele Hanya 1 BulanDari hasil tersebut nilai kecerahan masih berada di luar nilai optimal untuk budidaya udang vannamei yang seharusnya berada pada kisaran 25-40cm. Hal ini mengindikasikan bahwa tambak tersebut masih tergolong memiliki kandungan plankton yang sedikit, padahal plankton sangat diperlukan sebagai pakan alami untuk udang. Langkah untuk meningkatkan kandungan plankton di perairan yaitu melalui pemupukan, karena dalam pupuk terdiri dari berbagai nutrien yang mendukung pertumbuhan plankton.Apabila melihat potensi tambak udang di Kecamatan Ujung Pangkah, dari yang awalnya tambak tradisional bisa berpotensi menjadi tambak semi intensif maupun intensif. Namun memang perlu memperhatikan berbagai aspek agar bisa dikembangkan. Aplikasi probiotik, imunostimulan, dan manajemen kualitas air secara berkala menjadi langkah awal yang dapat diterapkan sehingga dapat meningkatkan hasil panen udang yang berkualitas, sebelum nantinya melangkah menuju penggunaan teknologi yang lebih canggih lagi. Meningkatnya hasil panen udang tentunya harapannya dapat meningkatkan kesejahteraan para petambak di Kecamatan Ujung Pangkah.Penulis: Nina Nurmalia Dewi, S.Pi., M.SiDewi, N. N., Kismiyati, Rozi, Mahasri, G., dan Satyantini, W. H. 2018. Aplikasi Probiotik, Imunostimulan, Dan Manajemen Kualitas Air Dalam Upaya Peningkatan Produksi Budidaya Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) Di Kecamatan Ujung Pangkah, Kabupaten Gresik. Journal of Aquaculture and Fish Health, 8(3) : 178-183.http://dx.doi.org/10.20473/jafh.v8i3.15127Sumber: news.unair.ac.id ...
Lebih Optimal dengan Pakan Fungsional
Udang

Lebih Optimal dengan Pakan Fungsional

Level protein tak lagi jadi penentu kualitas pakan, yang terpenting bagaimana kebutuhan nutrisi spesifik bagi udang bisa diberikan dengan tepatSelain penggunaan imbuhan pakan (feed additive), optimalisasi pakan udang saat ini sudah sampai pada tahap pembuatan pakan fungsional. Menurut Peneliti di Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya sekaligus Dosen Pascasarjana Politeknik Ahli Usaha Perikanan (AUP) Kementerian Kelautan dan Perikanan, Romi Novriadi, pakan fungsional merupakan pakan yang diformulasi dengan menggunakan penambahan bahan aktif tertentu untuk tujuan tertentu. Umumnya tujuan itu adalah untuk meningkatkan status kesehatan, laju pertumbuhan, dan efisiensi pakan.Jika dilihat dari tujuannya, pembuatan pakan fungsional mirip dengan penambahan imbuhan pakan. Namun jika dilihat dari komposisi pakannya, pakan fungsional sudah diatur dengan penambahan bahan baku atau zat aktif tertentu sejak awal formulasi. Penambahan bahan baku tersebut disesuaikan langsung dengan kebutuhan udang di tambak yang memiliki kondisi lingkungan berbeda-beda.Oleh sebab itu, kata Romi, sebelum menggunakan pakan fungsional petambak sebaiknya memahami proses dan tujuan produksi. Lalu bagaimana menentukan pakan dan metode pemberian pakan yang tepat.Baca juga: Meningkatkan Performa Pakan Udang Melalui Penambahan Pellet Blinder yang TepatPengurangan Tepung IkanSelain untuk meningkatkan daya tahan dan pertumbuhan udang, penggunaan pakan fungsional erat kaitannya dengan isu pengurangan bahan baku protein pada pakan berupa tepung ikan. Ketersediaannya yang terbatas dan harganya yang tinggi membuat penggunaan tepung ikan sebagai bahan baku pakan sedang dalam fase pengurangan bahkan penghapusan agar pakan lebih efisien dan sustainable (berkelanjutan). Alternatifnya diganti oleh bahan baku yang lebih berkelanjutan.Pengurangan bahan baku tepung ikan sebagai sumber protein pada pakan sangat bisa dilakukan. Sebab kata Romi, saat ini protein level pada pakan tidak lagi jadi penentu. Yang terpenting bagaimana mikro nutrien atau nutrisi khusus yang dibutuhkan udang bisa diberikan dengan baik.  Terutama asam amino dan bahan aktif lainnya yang dibutuhkan oleh udang.  Dalam presentasinya di acara Aquabinar ke-10 yang diadakan oleh TROBOS Aqua, ia menyampaikan hasil riset soal pakan fungsional yang telah ia lakukan. Riset itu bertujuan mencari dampak dari pengurangan hingga penghapusan tepung ikan sebagai bahan baku sumber protein. Sebagai gantinya, pada pakan tersebut ditambahkan bahan alternatif berbasis nabati, yakni Corn Protein Concentrates (CPC).Baca juga: Feed Additive, Seberapa Perlu?Secara garis besar, hasil riset itu menunjukkan bahwa pengurangan tepung ikan dan penambahan CPC tidak mengubah secara signifikan profil asam amino pada pakan. Terutama pada asam amino penting seperti lysine dan methionine. “Artinya meski kita ganti tepung ikan dengan CPC, tapi asam aminonya masih comparable (masih bisa dibandingkan),” ujar Romi.Selain terlihat pada profil asam amino, efek positif penambahan CPC pada formulasi pakan juga terlihat pada spesies budidaya. Bahkan penghapusan total tepung ikan yang diganti dengan CPC, memberikan jumlah panen paling besar di ahir percobaan. Biaya pembuatan pakannya pun bisa hemat hingga 0,5 USD per kg pakan.Menurut Romi, banyak bahan baku alternatif selain CPC yang dapat digunakan sebagai sumber protein berbasis nabati. Antara lain DDGS (bungkil kedelai), tepung bungkil kedelai, tepung jagung, dan bahan-bahan baku lokal yang bisa dimanfaatkan.Bahan Aktif PhytogenicsRomi menambahkan, sedikitnya ada empat jenis bahan baku yang bisa digunakan sebagai tambahan dalam pembuatan pakan fungsional. Bahan-bahan tersebut antara lain bahan aktif yang terkandung dalam tanaman atau phytogenic. Penggunaan bahan aktif dari tanaman sangat potensial untuk dikembangkan, sebab kata Romi Indonesia dilimpahi dengan sumber daya tanaman yang sangat besar. Selain itu ada juga bahan aktif dari sisa suatu produk (by product) dan nukleotida sintesis, yeast product dan turunannya, serta probiotik.Sumber: TROBOS Aqua ...
Budidaya Udang Berkelanjutan dengan Pengendalian Lingkungan
Udang

Budidaya Udang Berkelanjutan dengan Pengendalian Lingkungan

Daya dukung merupakan kemampuan lahan perairan untuk menampung limbah dari aktivitas budidaya tanpa mengakibatkan kerusakan lingkungan sehingga lahan perairan dapat tetap berfungsi sebagai resistensi dan resiliensi.Tambak udang tradisional dengan padat tebar sangat rendah (20-60 ekor/m2) dan mengandalkan pakan alami yang tersedia di alam sangat jarang bahkan hampir tidak pernah mengalami permasalahan kualitas air dan lingkungan. Namun harus tetap memperhatikan kondisi lingkungan perairan untuk sumber air tambak.Tambak udang intensifKetika budidaya mulai dengan sistem kepadatan udang dengan jumlah tinggi (>100 ekor/m2), nilai daya dukung perairan tambak menjadi sangat terbatas. Keterbatasan oksigen akibat masukkan beban perairan yang berasal dari pakan dan limbah organisme membuat kondisi lingkungan melebihi daya dukung perairan secara alami. Oleh karena itu, diperlukan masukkan teknologi yang tepat untuk dapat menjaga parameter lingkungan perairan tambak agar tetap stabil sehingga lingkungan perairan tambak tetap dapat mendukung pertumbuhan udang dengan baik.Secara umum, kualitas air yang menjadikannya parameter wajib diperhatikan oleh petambak saat budidaya yang dilakukan dengan sistem semi-intensif, intensif, dan super-intensif dengan kata lain karena faktor padat tebar yang tinggi.Cek pertumbuhan udang dan nafsu makan melalui ancoProduktivitas tinggi dengan penerapan padat tebar tinggi maka tujuan investasi untuk mendapatkan keuntungan yang besar dapat mudah tercapai. Namun, orientasi produktivitas tersebut akan menimbulkan masalah apabila prinsip-prinsip budidaya perikanan secara berkelanjutan tidak diterapkan dengan baik. Beberapa prinsipnya yaitu melakukan pencegahan intrusi hama dan penyakit melalui biosekuriti serta bertanggung jawab mengolah limbah yang dihasilkan.Baca juga:  Lebih Siap Tebar dengan NurseryPengolahan limbah dalam satu sisi memang mengorbankan lahan, tenaga, dan finansial, namun bila dilaksananakan dengan benar maka akan mengurangi resiko terkena beberapa infeksi penyakit pada udang yang akhirnya bisa menekan resiko kerugian pada pemilik tambak dan menjadikan bisnis budidaya udang berkelanjutan.Pengolahan limbah budidaya udang sangat diperlukan untuk mejamin keberlanjutan ekosistem disekitarnya terutama untuk budidaya skala intensif dan superintensif. Pengolahan limbah harus dimulai sejak perencanaan konstruksi dan diterapkan secara kontinu.Karakteristik limbah dari budidaya udang yaitu berukuran mikro, dinamis, berdampak luas penyebarannya, serta efek jangka panjang. Selain itu, kualitas limbah sangat bergantung terhadap beberapa faktor yaitu: volume limbah, kandungan bahan pencemar, dan frekuensi pembuangan limbah.Permasalahan utama dalam air limbah tambak adalah tingginya partikel bahan organik, serta tingginya kandungan unsur N (nitrogen) dan P (phosfat) yang dapat meningkatkan kesuburan perairan. Baca juga: Peluang Bisnis Budidaya Udang Windu OrganikMeningkatnya limbah padat dalam sistem budidaya yang dapat mengakibatkan penurunan oksigen terlarut dan meningkatkan kadar ammonia akibat adanya proses dekomposisi bahan organik yang bersifat toksik. Oleh karena itu, air limbah tambak harus dikelola secara baik dengan menerapkan instalasi pengolahan air limbah (IPAL).Teknologi pengelolaan air limbah sudah banyak diterapkan di Indonesia seperti sistem resirkulasi, ozonisasi, ultraviolet, kontruksi lahan basah, dan sistem biologis (lumpur aktif). Pengolahan air limbah tersebut harus sesuai dengan standar baku mutu effluent limbah budidaya menurut kementerian lingkungan hidup. Beberapa parameter utamanya yaitu TSS (total suspended solid), TOM (total organic matter), total N, phosfat, dan BOD5 (biochemical oxygen demand).Saat ini, telah dikembangkan penerapan teknologi super intensif IPAL. Upaya yang dilakukan dalam penerapan IPAL dengan membuat kolam perlakuan air limbah yang terdiri dari kolam pengendapan, oksigenasi, biokonversi, dan penampungan. Kolam pengendapan sebagai tempat penampungan air limbah pertama kali untuk menurunkan kadar TSS dan bau busuk dari H2S. Kemudian kolam oksigenasi untuk menaikkan oksigen terlarut dan menurunkan kadar BOD. Selanjutnya limbah masuk ke kolam biokonversi untuk mengubah nutrien yang dapat sebabkan eutrofikasi menjadi bermanfaat buat organisme lain. Perlakuan terakhir air limbah masuk ke kolam penampungan untuk selanjutnya dibuang ke laut. Sumber: harvestariake.co.id ...
Update on EHP at The NACA Consultation on Strategies for Hepatopancreatic Microsporidosis
Udang

Update on EHP at The NACA Consultation on Strategies for Hepatopancreatic Microsporidosis

Hepatopancreatic microsporidiosis caused by the microsporidian Enterocytozoon hepatopenaei (EHP) does not have any specific distinctive gross signs of infection.  Infection is linked to unusually retardation in growth. Therefore, in the absence of other gross signs of disease, infection must be confirmed by microscopic or molecular methods (Flegel, 2015).A recent publication gives the biology, pathology, diagnostics and control, summarising current knowledge of EHP infection and transmission dynamics and currently recommended, practical control measures that are being applied to limit its negative impact on shrimp cultivation Chaijarasphong et al.(2020). Authors indicated that the microsporidian was formally characterised in 2009. The earliest detection was in early 1989 in the black tiger shrimp Penaeus monodon. Since mid-2010, infection with EHP became increasingly common in the Pacific white leg shrimp Penaeus vannamei. There are major gaps in knowledge which requires urgent attention to improve control measures.A grahical abstract for Chaijarasphong et al.(2020). A graphical abstract for Chaijarasphong et al.(2020). Over 2 days (9-10 February), the Network of Aquaculture Centres in Asia Pacific (NACA) conducted an online consultation on strategies for hepatopancreatic microsporidosis caused by EHP. The agenda included the status of EHP in the region, recent innovations and currently recommended strategies of control. Presentations on disease monitoring, surveillance and reporting on EHP in Asia as well as recent and current research studies were included.Read more: Prevention of Desease Caused by EHP Spores on ShrimpDr Diva J. Aldama‐Cano, National Center for Genetic Engineering and Biotechnology (BIOTEC) underlined the magnitude of infection to this day. A cohort study in 2018, dealing with complex etiology for the early mortality syndrome (EMS) of 196 ponds gave unexpected results of high prevalence (60%) of EHP. In a project on sampling of 509 ponds across 3 provinces (Chumphon, Rayong and Surat Thani) in Thailand, Dr Andy Shinn showed that EHP prevalence has been 84.3% over the period from August 2019 to December 2020. In 2019, surveying 135 farms and 451 ponds, 48.6% were infected and that infectivity was related to pond bottom conditions; in ponds equipped with shrimp toilets, the fully PE lined ponds were 61% positive for EHP as compared to 75% EHP positive for earthen ponds. Shinn cautioned, “We looked at 135 farms which is only a small portion of 21,500 farms in Thailand.”“Thailand’s 2020 passive surveillance of shrimp farms, conducted quarterly, despite the pandemic, showed a rise in positive EHP cases in P. vannamei farms to 44% for October-December 2020 as compared to 33.7% in the same period in 2019. The equivalent was 52% for P. monodon farms (2020) and 11% (2019),” said Dr Jumroensri Thawonsuwan, Animal Health Research and Development Division (AAHRDD), Department of Fisheries (DOF), Thailand.   However, she clarified that these data which came from walk-in samples of shrimp in a bad condition cannot be taken as the level of prevalence.Control and preventionAddressing farmer concerns on transmission routes, Cano discussed some concerns on the oral route of transmission. She quoted a recent study by  Munkongwongsiri et al.(2020) indicating that spores are highly sensitive to heat inactivation and that after heating at 75°C for 1 min, the EHP spore extrusion rate and infectivity were abolished. Therefore, commercial feeds heated to reach a core temperature ≥75 °C should be regarded as posing no risk for EHP transmission. “Even though the product can be PCR positive, this does not equal to infectivity.”Working on alternative routes of transmission, Cano noted the presence of active EHP spores in the water column. Untreated water contaminated with EHP can be a source of infection of naïve post larvae (PL12). One study showed that bivalve mussel Mytilopsis is a potential carrier of EHP. Among the known disinfection methods, potassium permanganate (K2MnO4) for 15 min is most effective followed by chlorine, compared to formalin and ethanol. High temperatures of 75°C or -20°C can inactive the EHP spores. An increase to pH11 will trigger extrusion of the polar tube before it gets into contact with the cell and interrupt the infection process.In a surveillance of EHP in farms, Shinn encourages farmers to do random checks on general health and during the early stages, to sample different parts of the pond as infection may be patchy. Sample sizes recommended are 3 lots of 100PL within 30 days and 3 lots of 10 shrimp within 60 days. Online he showed how to dissect out the hepatopancreas and gut. Shinn said that where the HP meets the gut is where spores can be found. Spores are clearly seen with phloxin B staining. He added that treatments in infected ponds needs to be double prong and continuous.Read more: Transcriptomic Analysis of Pacific White Shrimp in Response to AHPNDSome critical steps to prevent EHP spores at the hatchery level included an effective disinfection which requires tanks to be soaked and associated pipework flushed with 2.5% sodium hydroxide for 3 hours and followed by a complete dry out for 7 days, said Jumroensri. An increase of pH to >9 results in 90% of spores unable to infect host cells. Farmers are encouraged to buy post larvae from DOF’s whitelist hatcheries. DOF has a cleaning up project, using real time PCR diagnostics on PL10 in the hatchery and nursery segment. The number of hatcheries in the whitelist rose to 366 in 2020 from 171 in 2019.On prevention at the grow-out level, disinfection of pond bottom was recommended with calcium oxide to reach pH > 9 and in water and sediment with >15 ppm K2MnO4 or >40ppm chlorine. On control steps, Shinn reiterated that vertical control is more effective than horizontal action. Other approaches reported by Shinn was using hot steamers on pond liners and propane burners to scorch the pond sediment.  In a report on outbreaks in the Philippines, Dr Sonia S. Somga, Bureau of Fisheries and Aquatic Resources (BFAR) said that there are no distinct clinical signs in EHP infected shrimp except with slow growth. Mortalities occurred with co-infection with white spot syndrome virus (WSSV) but none was reported when the co-infection was with infectious hypodermal and haematopoietic necrosis virus (IHHNV). On hatchery management practices in the Philippines, Somga reported steps such as disinfection with 90-98% HCL and for for tubes, valves and pipes with chlorine. BFAR issues health certificates for transboundary movement of post larvae. BFAR conducts screening for broodstock at 1% but not more than 10 broodstock. Some farm management methods in the Philippines include the application of probiotics in feeds at 2g/kg feed. Disinfection of infected ponds is recommended at 30-40 ppm chlorine. There are unknowns on EHP which Cano says include questions on life stages in other hosts, alternate modes of transmission in shrimp and are there more ways for spore inactivation? Can there be therapeutic treatments?Size variation presented by Andy ShinFeatured image. Andy Shinn says that by adding a drop of phloxin B, and leaving for 5-10 minutes, spores are clearly seenSize variation presented by Andy Shinn  Featured image. Andy Shinn says that by adding a drop of phloxin B, and leaving for 5-10 minutes, spores are clearly seen. Shinn has calculated that losses of USD 387.9 to USD 555.8 million in 2019 because EHP infections lowered harvest size to 13g from 18g and raise by 23.2% production costs (FCR was 1.47 in infected ponds, versus 1,39 in uninfected ponds).  In 2019 shrimp production for Thailand was 304,000 tonnes. “Size variation, slow growth and FCR is often the first sign of a problem,” said Shinn. Sumber: Aquaculture Asia Pacific ...
Saponin, Cegah Predator Udang dan Bandeng di Tambak
Udang

Saponin, Cegah Predator Udang dan Bandeng di Tambak

Budidaya udang dan bandeng di tambak tradisional pada tahap awal, saat 1-2 bulan merupakan masa yang rentan terhadap gangguan. Keberadaan ikan pemangsa atau predator di tambak dalam jumlah yang cukup besar dapat menjadi salah satu faktor gagalnya panen dalam usaha budidaya tambak tradisional.Penyebabnya, karena kondisi hewan yang dibudidayakan masih muda atau masih berupa bibit benur/nener yang kondisinya lemah, sehingga mudah dimangsa oleh hewan-hewan pemangsa yang lebih besar. Umumnya beberapa ikan pemangsa yang masuk ke tambak tumbuh lebih cepat dibandingkan bibit ikan yang dibudidayakan (bandeng).Selain ikan predator, ikan-ikan pesaing atau kompetitor seperti lundu/keting, sepat, nila liar, dan lainnya bisa menyebabkan menurunnya tingkat produksi ikan budidaya. Sebenarnya ada cara ampuh untuk lindungi ikan dan udang dari gangguan ikan predator ini yaitu saponin.Baca juga: Peluang Bisnis Budidaya Udang Windu OrganikMenurut Michael Pitoy, Managing Director PT Surya Multi Satwa, zat Saponin yang terkandung dalam biji tanaman teh Camellia Oleifeira mengandung saponin 12 persen. Zat itu mampu membunuh ikan predator di kolam budidaya ikan dan tambak udang.Sebagaimana diketahui, keberadaan  ikan-ikan liar yang tidak diharapkan dalam kolam pendederan (nursery pond) dan kolam pembesaran merupakan salah satu faktor yang membahayakan dalam budidaya ikan/udang. “Zat saponin juga bermanfaat untuk merangsang proses ganti kulit (molting) pada udang secara serentak,” papar Michael.Molting atau yang dikenal sebagai pergantian kulit udang adalah salah satu proses yang dilakukan agar volume tubuh udang dapat bertambah besar. Proses ini akan mengganti karapas tubuh udang seutuhnya, sehingga daging di dalamnya akan lebih mudah untuk tumbuh.Baca juga: Tahap Molting Pada UdangTerakhir, zat saponin juga membantu pertumbuhan plankton, karena ampas yang jatuh ke dasar kolan akan jadi pupuk organik. “Selain untuk perikanan tambak, zat saponin juga dapat berfungsi sebagai pestisida pada lahan pertanian yaitu untuk mengendalikan hama keong/siput yang mengganggu tanaman padi di lahan sawah,” lanjut Michael.Cara Penggunaan SaponinRendam dalam air selama 6-12 jam agar Saponin larut dalam airTaburkan secara merata rendaman larutan dan ampasnya ke kolam. Hidupkan kincir air agar makin merata Sumber: tabloidsinartani.com ...
Assessing The Effect of Four Macroalgae Inclusions in Diets of Pacific White Shrimp
Udang

Assessing The Effect of Four Macroalgae Inclusions in Diets of Pacific White Shrimp

Study shows beneficial impact on shrimp growth, immune response, intestinal microbiotaVarious macroalgae or seaweed species have been used as human food in many countries, to replace animal ingredients in terrestrial animal feeds, as a source of pigments, to enhance antioxidant and anti-inflammatory activities, to improve gut function and for various other uses. Seaweeds are now also gaining increasing attention due to their abundant bioactive compounds that have shown benefits to some of the main aquacultured species like rainbow trout, sea bass, black tiger and Pacific white shrimp, among others, as dietary supplements that can improve aquafeed pellet quality, feed efficiency and animal product quality.Several species of macroalgae have already been tested as potential ingredients in shrimp diets. However, we believe there are other macroalgae that may have potential as shrimp aquafeed ingredients, including economically important ones that should be tested simultaneously and compared regarding not just their nutritional performance, but also other potentially beneficial effects on cultured shrimp.Study setupSamples of the macroalgae were supplied by the National Algae Project Technology Research Center of China and were dried and finely ground. Diet D1 was the control diet and had no macroalgae additions. Diets D2 through D5 diets were supplemented with added Porphyra haitanensis (PH), Undaria pinnatifida (UP), Saccharina japonica (SJ) and Gracilaria lemaneiformis (GL), respectively.The feeding trial was conducted at Sanya, Hainan Province, China. Before the trial, L. vannamei juveniles were acclimated to a control diet for two weeks, and then 600 shrimp (individual weights 0.65 ± 0.01 grams) were not fed for 24 hours, weighed, and randomly distributed in 15 fiberglass tanks, and reared for 56 days and fed the control and experimental diets.For detailed information on experimental setup; animal husbandry; diet preparation; sample collections; composition analyses of macroalgae, diets and shrimp samples; immune responses; WSSV challenge test and results; and statistical analyses, refer to the original publication.Also read: Unlocking New Potential for Microalgae in AquafeedResults and discussionOur results showed that shrimp fed the Gracilaria lemaneiformis (GL) diet had the highest growth performance and were significantly larger than shrimp fed the control and the SJ diets, indicating that this seaweed is the most suitable one feed ingredient compared to the other three macroalgae we tested. Our data also suggested that there is a species-specific response to macroalgae and that even low-level inclusions of these seaweeds in shrimp diets had a general beneficial effect on our experimental animals.Regarding the effect of the macroalgae on apparent digestibility coefficients (ADC) of the experimental diets – which reflects the levels of the digested and absorbed ingredient – our results showed that shrimp fed the PH, UP and GL diets had higher ADC of dry matter compared to shrimp fed the SJ diet.This relatively lower ADC of dry matter of SJ could be explained by its content of more indigestible polysaccharides and ash compounds, which are difficult to be digested by L. vannamei, as has been previously shown by other researchers. For protein ADC, the highest value was determined in shrimp fed the GL and UP diets, and the lowest ADC for protein in shrimp fed the control and SJ diets. The high protein ADC of the GL and UP diets is probably related to their well-balanced amino acid profiles.In the White Spot Syndrome Virus (WSSV) challenge trial we carried out, shrimp were injected with the virus after the end of the initial 56-day trial, and shrimp started dying on the fourth day. Shrimp mortalities in challenged animals receiving the D2, D3 and D5 diets were significantly lower than in animals in control and the SJ diets during this challenge (P < 0.05).The effect of macroalgae on intestinal microbiota of the experimental shrimp showed increased microbial diversity in shrimp intestines compared with the control group. The highest diversity [assessed using a common ecological diversity index, the Shannon Index] was observed in the GL diet group, followed by the UP, PH, SJ, and the control diet groups. Various studies have reported that diet and stress response can easily alter intestinal microbiota community composition, disturb intestinal homeostasis [steady condition] and influence anti-inflammation response.Our results indicated that some unknown immunostimulant(s) in the macroalgae could act as a prebiotic [nutrients that stimulate growth of healthy bacteria in the gut] to support microbial homeostasis in the shrimp intestine. Also, our tests showed that dietary macroalgae additions resulted in modifying the intestinal microbiota of L. vannamei, increasing the relative abundance of beneficial bacteria such as Bacteroidetes, Firmicutes and Bacillaceae, and decreasing detrimental bacteria such as Gammaproteobacteria and Vibrionaceae.Also read:  Why Need to Add Minerals to Fish and Shrimp Feed?Data from our study indicate that the dietary macroalgae tested, especially GL, can regulate intestinal community composition and can improve intestinal homeostasis. Intestinal microbes and their products are known to play crucial roles in the modulation of intestinal immune responses and are closely associated with the development of the animal’s immune system.We observed that the resulting intestinal microbiota community compositions of L. vannamei juvenile shrimp with different species of macroalgae added to their feed were significantly different, as were their regulation of intestinal immune responses. Our data, including the results of a WSSV injection challenge test, suggest that dietary GL, PH, or UP could make a positive difference on shrimp health by inhibiting the WSSV-causing bacterium, by improving nutrition and by enhancing the shrimp immune responses. However, we believe the mechanism(s) by which dietary macroalgae can regulate the intestinal microbiota composition and maintain the intestinal homeostasis in L. vannamei merit further research.In addition, the dietary macroalgae additions in our study enhanced hepatopancreas immunity through various antioxidant mechanisms and reduced damage to this organ in our experimental L. vannamei juveniles. Overall, our results indicate that an optimal inclusion of various macroalgae species could contribute to attenuate hepatic oxidative damage by improving the hepatopancreas antioxidant ability and immunity, as well as regulating the intestinal microbiota in L. vannamei. And our data suggest that G. lemaneiformis (GL) is the most suitable macroalgae for inclusion in L. vannamei diets, followed by U. pinnatifida and P. haitanensis.PerspectivesOur results showed that dietary macroalgae, especially Gracilaria lemaneiformis (GL), Porphyra haitanensis(PH), or Undaria pinnatifida (UP), attenuated the oxidative damage to and also improved intestinal immunity in L. vannamei juveniles.In addition, dietary inclusion of macroalgae modified the intestinal microbiota of L. vannamei by enhancing the relative abundance of members of bacterial phyla like Bacteroidetes and Firmicutes, and the family Bacillaceae, while decreasing the abundance of the class Gammaproteobacteria and the family Vibrionaceae.Our data suggest that the dietary inclusion of various macroalgae species could serve as functional ingredients or have a prebiotic-like role for preventing intestinal oxidative damage in L. vannamei shrimp, whether under normal culture or while facing WSSV challenge conditions.By: JIN NIU, PH.D.PROFESSORSun Yat-Sen University, Guangzhou, ChinaEditor’s note: This article has nine co-authors, but only the corresponding author, Dr. Jin Niu, is listedSource: Global Aquaculture Alliance ...
In Short, Synbiotics Are Probiotics and Prebiotics?
Udang

In Short, Synbiotics Are Probiotics and Prebiotics?

Probiotics and prebiotics are considered to be useful and promising alternatives to reduce disease outbreaks in vannamei shrimp. More effective is their combination called Synbiotics.Probiotics, Prebiotics và SynbioticsProbiotics are beneficial microorganisms that will penetrate and regulate the composition of the intestinal microflora, maintain intestinal health, increase immunity and promote nutrient absorption of shrimp.Prebiotics are organic substances that are not digestible but can selectively promote the metabolism and proliferation of beneficial bacteria in the body, thereby improving the health of the host.Synbiotics, a combination of probiotics and prebiotics, has been used in aquafeeds since 2005 and has been shown to have better growth promoting effects in aquatic animals. Probiotics help to compete with harmful bacteria for living space, and also produce lysozymes during growth, thereby eliminating harmful bacteria. On the other hand, prebiotics can modulate the adhesion of probiotics, resist the adhesion of opportunistic pathogens, thereby improving the intestinal microbial community of shrimp.Also read: Research Backs Value of Probiotics in Shrimp PondsResearch on the Synbiotics DietThe combined diet of galactose (0.4%) and Lactobacillus plantarum (10 8 CFU/kg) increased the weight of white shrimp by 30.2% while the addition of galactose only increased the weight to 11.7. % and the addition of L.plantarum did not improve shrimp weight.Synbiotics used in this study included: Bacillus subtilis , yeast, β-glucan, mannan oligosaccharide.Some probiotics will be inactivated by high temperature and pressure during pelletizing. Therefore, this study compares three complementary methods with the respective treatments: - Direct addition to the diet before pelleting (DAP)- Spray after pelletizing (SDA)- Spray on feed before daily feeding (SDE) - The control group (CON).- shrimp intestinesAlso read: Can Probiotics Make Shrimp Farming More Environmentally Friendly?Study on Synbiotics diet on white shrimp. Photo: TepbacThe effectiveness of the Synbiotics dietIn the study, compared with the control group intake of synbiotics a combination of probiotics and prebiotics. The gut microbiota plays an important role in the regulation of host health, nutrient absorption and immunity. The symbiotic metabolism of the gut microbiota produces a large number of compounds that can be utilized by the host such as essential amino acids and vitamins. For example, Bacillus Subtilis can synthesize vitamins in the process of metabolism, promoting the absorption of calcium and phosphorus. In addition, enzymes secreted by B.subtilis can break down carbohydrates, lipids and proteins.Studies have shown that supplementation with mannan oligosaccharides and probiotic preparations ( B.subtilis)) significantly enhanced the intestinal villi length of white shrimp. In this trial, white stool syndrome was observed in the control group at the end of the experiment, while the three groups supplemented with synbiotics showed less white stool syndrome with a smaller, late duration. more and to a lesser extent. In general, shrimp with white feces syndrome can be observed pathological changes in the intestine and hepatopancreas such as necrosis of the hepatopancreatic ducts that were observed in this study. When synbiotics were added, the morphology of the intestine and hepatopancreas was significantly improved. The above results indicated that synbiotics supplementation improved the gastrointestinal tract, the morphology of the hepatopancreas and intestines, inhibited the reproduction of harmful bacteria and reduced the occurrence of intestinal diseases.The hepatopancreas is the main site of digestion and absorption of shrimp. Digestive enzymes in the stomach and intestines are mainly produced by B cells, secreted and transported to the respective digestive organs through the lumen. In white shrimp, the activity of digestive enzymes in the hepatopancreas was improved by the addition of probiotics in the diet. In this trial, synbiotics also increased the activity of protease and amylase enzymes, which is an important rationale for improved growth and nutrient utilization. Improved digestive enzyme activity may be the result of promoting enzyme secretion and beneficial microorganisms.Also read: Using a Probiotic Mixture is More Effective AloneShrimp's hepatopancreas is susceptible to disease, synbiotics can improve hepatopancreas function. Photo: Tepbac.SOD (enzyme superoxide dismutase), CAT (enzyme catalase), MDA (organic compound malondialdehyde) are indicators to assess the oxidative stress status of aquatic organisms. In this study, serum SOD and CAT activities were enhanced and serum MDA levels decreased when synbiotics were supplemented, which was due to the positive effects of both probiotics and prebiotics. Serum ACP (acid Phosphatase), ALP (Alkaline phosphatase) and LYS (Lytic enzyme) activities are important parameters in shrimp nonspecific immunity. When adding Synbiotics, the activities of ACP, ALP and LYS in the synbiotics supplemented group were significantly higher than in the control group. Ingredients in probiotics, such as peptidoglycan, lipoteichoic acid, glucan, and mannose oligosaccharides, can activate the immune system or stimulate the host immune system to produce cytokines. In other studies on white shrimp, including the present results, the addition of probiotics or prebiotics to the feed also reduced mortality after the trial with Vibrio . Components such as β-glucan and mannan oligosaccharides from probiotics can form complexes with recognition proteins and subsequently activate the expression of immune-related genes and improve immunity.Also read: Probiotics in AquacultureIn addition, Bacillus subtilis can produce polymyxins, nystatins and short peptides during growth, which inhibit pathogenic bacteria or endogenous opportunistic infections.The addition of synbiotics significantly improved the growth performance, nutrient utilization and biological immunity of white shrimp. Furthermore, the daily pre-feeding of synbiotics resulted in more positive results in most parameters than the direct addition of synbiotics to the diet before pelleting. The reason is that the high temperature (95-100 o C) has inactivated most of the biological products in the pelletizing process. The amount of Bacillus subtilis and yeast cells in the diet directly supplemented with synbiotics was only 5.3*10 4 and 4.7*10 3 CFU/kg, accounting for 0.2% and 0.02% of the diet, respectively. sprayed with synbiotics before feeding (2.5*10 7 -2.8*10 8 ).Therefore, the improvement in growth performance and immune function mainly came from prebiotics rather than probiotics in the synbiotics direct-supplemented group and from both prebiotics and probiotics in the pre-feeding synbiotics spray group. Therefore, a diet that sprayed synbiotics on the feed prior to daily feeding produced better performance than a regimen that added synbiotics directly to the diet prior to pelleting. Source: Tepbac.com ...
Peluang Bisnis Budidaya Udang Windu Organik
Udang

Peluang Bisnis Budidaya Udang Windu Organik

Seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan, permintaan akan produk-produk bahan makanan organik seperti bandeng, rumput laut dan juga udang windu organic pun juga ikut meningkat. Produk udang windu organik ini diperoleh dari sistem budidaya yang menggunakan metode bebas bahan kimia atau pun bahan tambahan lain yang bisa berakibat pada terkontaminasinya produk oleh senyawa kimia yang berbahaya.Udang Windu – Udang windu ini sering kali dikenal sebagai black tiger atau tiger prawn. Orang inggris banyak yang menyebutnya sebagai tiger karena karakteristik dan corak tubuhnya yang terdapat garis loreng-loreng seperti harimau. Udang ini memiliki kulit yang tebal dan juga keras, berwarna hijau kebiruan dengan garis melintang yang lebih gelap, ada juga yang berwarna kemerah-merahan dengan garis melintang coklat kemerahan. Windu ini merupakan jenis udang yang memiliki nilai ekonomi cukup tinggi. Meskipun sempat ambruk akibat serangan hama penyakit, namun kini udang windu perlahan bangkit dan sekarang ini telah mulai berkembang dengan sangat baik di berbagai wilayah di Indonesia.Baca juga: 15 Jenis Pakan Ikan Bandeng Alami, Utama, Organik dan AlternatifUdang Windu OrganikSeiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan, permintaan akan produk-produk bahan makanan organik seperti bandeng, rumput laut dan juga udang windu organic pun juga ikut meningkat. Produk udang windu organik ini diperoleh dari sistem budidaya yang menggunakan metode bebas bahan kimia atau pun bahan tambahan lain yang bisa berakibat pada terkontaminasinya produk oleh senyawa kimia yang berbahaya.Oleh sebab itu, produk udang windu organik mendapat tempat yang tinggi dalam daftar permintaan konsumen. Dalam sistem organik, tidak memakai pakan tambahan selain dari pakan alami. Jikalau diberikan pakan tambahan, maka pakan harus menimpa pakan organik. Produk pakan organik ini bersertifikat dan masih diproduksi oleh Belanda saja dan belum tersebar secara meluas. Oleh sebab itulah, produk udang windu organik masih sangat terbatas. Namun, keterbatasan jumlah ini juga diikuti oleh harga pasarannya yang sangat tinggi.Budidaya Udang Windu Organik Secara PolikuturSistem polikultur merupakan salah satu cara budidaya yang kini banyak dipilih karena membawa banyak keuntungan. Oleh karenanya, sangat wajar jika sekarang ini banyak petambak yang ingin dapat mengaplikasikan pola budidaya organik secara polikultur. Bayangkan saja, jika dengan sistem monokultur petambak hanya bisa memanen satu produk perikanan saja dalam satu musim. Akan tetapi, dengan sistem polikultur ini hasil panen yang didapat dalam satu lahan akan bertambah.Dengan sistem polikultur, apabila anda memiliki lahan yang luas dan mengembangkannya secara serius tentu saja menjadi peluang usaha yang sangat besar. Dengan pemanfaatan lahan berluasan sama, anda bisa menambah penghasilan dari memanen produk lain. Hal ini tentu saja sangat membantu peningkatan penghasilan petambak konsumen akan produk organik lainnya juga dapat dipenuhi secara nyata. Ada bisa melakukan budidaya udang windu secara polikultur dengan mencapurnya bersama dengan ikan bandeng, dan juga rumput laut dari jenis gracilaria. Baca juga: Efisiensi Pakan dengan Fermentasi dan Penggunaan Pupuk Organik CairKetiga produk ini akan menjadi pilihanyang tepat karena ketiganya mempunyai sifat yang relatif sama, yaitu bersifat euryhalin atau tahan pada salinitas, pH, dan juga suhu yang cukup jauh.Nah, itulah sedikit ulasan tentang peluang bisnis udang windu organik yang bisa kami bagikan pada artikel kali ini. sekian, semoga bermanfaat dan bisa menambah wawasan anda. Sumber: Infishta ...
Pemanfaatan Bio-slurry sebagai Pupuk Tambak Udang dan Pupuk Kolam Ikan Bandeng
Udang

Pemanfaatan Bio-slurry sebagai Pupuk Tambak Udang dan Pupuk Kolam Ikan Bandeng

Tampak seorang pria baruh baya sedang sibuk bekerja di lahan tambak udang dan ikan bandeng, beliau bernama H. Zainuddin, pengguna Biogas Rumah (BIRU) yang tinggal di Kelurahan Langa, Kecamatan Matirosompe, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, bersama dengan istrinya, Hj. Arfina, beserta lima orang anaknya. Usaha tambak mulai dirambah sejak tahun 1985 dan sampai dengan saat ini luas lahan tambak secara keseluruhan telah mencapai 7 hektar.Selain kesehariannya diisi dengan kegiatan mengurusi lahan tambak udang dan ikan bandeng, beliau juga memelihara ternak sapi sebanyak 25 ekor yang baru dimulai pada tahun 2012 lalu.Sejak memiliki ternak sapi, beliau sudah berkeinginan untuk mempunyai biogas karena melihat teman yang tinggal di kampung lain telah berhasil memanfaatkan ampas biogas (bio-slurry) sebagai pupuk organik. Namun, beliau sempat mengurungkan niatnya untuk memiliki biogas karena pada saat itu ada pihak yang menawarkan pembangunan biogas dengan biaya terhitung mahal.Baca juga: 8 Langkah Persiapan Tambak Udang yang Baik dan BenarInstalasi biogas milik H. ZainuddinAkhirnya pada tahun 2015, Program BIRU bekerja sama dengan Dinas ESDM Provinsi Sulawesi Selatan mengadakan sosialisasi di Kelurahan Langan tempat beliau tinggal. Beliau kembali bersemangat untuk meneruskan keinginannya membangun biogas.Kemudian di tahun 2016 reaktor biogas miliknya yang berukuran 12 m3 mulai dibangun dan beliau saat itu menambah biaya pembangunan secara swadaya. Hal ini dikarenakan program kerja sama dengan Dinas ESDM Provinsi Sulawesi Selatan mewajibkan pengguna biogas untuk ikut berkontribusi dalam pembangunan biogas baik dalam bentuk dana tunai atau material (bahan-bahan konstruksi biogas). Saat ini beliau juga telah membangun tempat penampungan bio-slurry untuk melengkapi instalasi biogas yang telah ada.Pada awal usaha tambak mulai dijalankan, beliau menggunakan pupuk kimia untuk lahan tambaknya (jenis Urea dan NPK). Penggunaan pupuk kimia ini tampak memberikan peningkatan produksi setiap tahunnya terutama pada tahun 1990-an. Namun, seiring dengan berjalannya waktu produksi hasil tambak mulai memperlihatkan penurunan terutama saat masuk pada tahun 2010-an.Baca juga: Pertimbangan dalam Menggunakan Automatic Feeder di Tambak UdangSetelah diamati ternyata penyebabnya adalah lahan tambak mulai tidak subur. Tidak hanya lahan tambak milik H. Zainuddin yang mengalami kondisi tersebut, masyarakat pemilik tambak di sekitar area tempat beliau tinggal juga mengalami hal serupa. Produksi kian menurun dan beliau mencoba menambahkan volume pupuk kimia berharap agar dapat memperbaiki hasil produksi, namun hal tersebut akhirnya membuat lahan tambak menjadi semakin kritis.Beliau tidak menyerah dan berbagai cara akhirnya dicoba agar lahan tambak kembali subut. Sampai pada akhirnya beliau yakin bahwa untuk mengembalikan kondisi lahan tambak adalah menggunakan bahan-bahan organik.Tahun 2017, beliau kemudian menggunakan bio-slurry sebagai pupuk kolam untuk lahan tambak udang dan ikan bandeng. Hasilnya ternyata menurut beliau sangat memuaskan. Sebelum menggunakan bio-slurry, kegiatan panen udang biasanya dilakukan pada saat umur udang mencapai 3 sampai 4 bulan dengan kondisi udang tidak kelihatan cukup bagus atau daging udang tidak terlalu berisi apabila dipegang. Tetapi, setelah menggunakan bio-slurry, beliau dapat memanen udang hanya saat udang berumur 2 sampai 3 bulan dengan kualitas udang yang lebih bagus dan sehat atau lebih berisi.Baca juga: Optimalkan Produksi Udang, Berdayakan Petambak TradisionalInstalasi biogas milik H. ZainuddinDemikian juga dengan ikan bandeng, beliau dapat memanennya lebih awal dan berat ikan bandeng juga tampak lebih meningkat. Pemanfaatan bio-slurry akhirnya membuat produktivitas hasil tambak meningkat dan berkelanjutan.Seperti yang diketahui bio-slurry basah maupun kering baik digunakan sebagai sumber pupuk kolam ikan atau budidaya ternak air lainnya. Dosis penggunaan bio-slurry yang tepat untuk pupuk kolam akan membuat bibit ikan lebih tahan terhadap stres sehingga meminimalkan tingkat kematian bibit. Selain itu, dapat mengurangi serangan penyakit terhadap ikan. Sumber: biru.or.id ...
4 Keunggulan Budi Daya Tambak Udang dengan Sistem Klaster
Udang

4 Keunggulan Budi Daya Tambak Udang dengan Sistem Klaster

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) saat ini tengah gencar membangun budi daya tambak udang berkelanjutan dengan menerapkan sistem klaster.Pada prinsipnya, klaster budi daya udang adalah pengelolaan usaha budi daya dalam satu kawasan dengan manajemen teknis dan usaha yang dikelola secara bersama dengan tujuan untuk meminimalisir kegagalan dan meningkatkan produktifitas dengan mengedepankan kelestarian lingkungan.Baca juga: Monitoring Kesehatan dan Pengelolaan Hama Penyakit UdangMelansir dari akun instagram Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, berikut keuntungan yang didapat dari budi daya tambak udang sistem klaster:Menekan hama dan penyakitMelalui sistem klaster kasus wabah hama dan penyakit udang akan mampu ditekan, karena pengelolaan yang terkontrol mulai dari penerapan biosekuriti yang ketat, pengelolaan kualitas air dan pengelolaan limbah budidaya.Dengan sistem klaster produktivitas budi daya udang menjadi terukur, karena klaster memungkinkan pengelolaan yang lebih efektif dan terkontrol dari seluruh tahapan sistem produksi budidaya.Baca juga: Teknik Budidaya Abalon Ramah LingkunganKeberlanjutan usaha terjaminAspek ketelusuran (traceability) dan keberlanjutan (sustainability) lebig terjamin, karena pengelolaan bersifat integratif dan dilakukan secara kolektif. Selain itu, manajemen kolektif dalam klaster akan menjamin keberlanjutan sistem usaha budi daya.Membangun kawasan unggulanMelalui sistem klasterisasi secara otomatis akan memicu pertumbuhan kawasan ekonomi lokal berbasis komoditas unggulan budi daya. Sumber: perikanan.sariagri.id ...
Lebih Siap Tebar dengan Nursery
Udang

Lebih Siap Tebar dengan Nursery

Melalui pendederan benur atau nursery, siklus budidaya di tambak menjadi lebih pendek dan lebih banyakUpaya memutus siklus penyakit yang kerap menghantui budidaya udang terus dilakukan dengan berbagai cara. Langkah pengembangan tidak berhenti pada kualitas benur, nutrisi, dan media saja, tetapi juga mencakup sistem budidaya. Belakangan ini berkembang teknologi baru sebelum benur masuk ke dalam fase pembesaran (grow out) di tambak. Teknologi ini dikenal dengan istilah nursery atau pendederan.Selama ini, proses pendederan benur hingga pembesaran udang dilakukan sekaligus di tambak. Petambak langsung menanam benur PL 10 atau lebih (Post Larvae) di tambak hingga waktu panen. Sistem seperti ini diduga para pelaku udang menjadi penyebab udang mudah terserang penyakit di 30 hari pertama budidaya.Periode tersebut menjadi waktu paling kritis bagi udang. Benur yang sebelumnya berada di hatchery (pembenihan) dengan perlakuan terbaik, tiba-tiba harus keluar tambak dengan lingkungan yang lebih terbuka di mana sumber penyakit lebih mudah datang dari mana saja. Hal tersebut diakui oleh pakar perbenihan udang, Bong Tiro. Menurutnya, seringkali penyakit-penyakit itu muncul pada DOC (Day of Culture) atau masa pemeliharaan umur 30 hari. “Whiste spot, white desease, apa lagi myo,” rinci Bong.Baca juga: Tekan Biaya Produksi dengan 10 langkah Sistem Tambak Nursery (Part 1)Tingginya risiko buidaya pada masa awal tersebut membuat beberapa petambak dan stakeholder perudangan melakukan modifikasi sistem budidaya untuk hasil yang lebih baik. Modifikasi yang dilakukan adalah penambahan segmen baru antara hatchery dan tambak, yakni nursery. Segmen ini tidak lain adalah pendederan. Mempersiapkan benur udang sebelum masuk ke tahap pembesaran. Adalah Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Tengah, Hasanuddin Atjo, salah satu stakeholder perudangan yang tengah fokus mengembangkan teknologi nursery ini. Ia sudah memasuki siklus ketiga dalam percobaannya. Atjo mengkalim ada hasil positif dari teknologi yang ia kembangkan tersebut. “Sistem ini bisa meningkatkan produktivitas sampe tiga kali,” jelas Atjo melalui sambungan telpon kepada Trobos Aqua.Keunggulan Menurut Atjo, sistem nursery ini setidaknya memiliki tiga keunggulan dibanding sistem pembesaran langsung di tambak yang selama ini populer dilakukan. Pertama, melalui nursery, petambak dapat menentukan kualitas benur lebih dini saat pendederan. Jika benur bagus, budidaya dapat terus dilanjutkan hingga pembesaran.Sementara jika benur kurang bagus atau banyak terjadi kematian, budidaya dapat dihentikan cukup pada masa pendederan. Hal ini tentunya mengurangi risiko persiapan yang dilakukan di tambak. Karena nursery sendiri menggunakan volume media budidaya yang lebih kecil. “Ukurannya 250 ton,” ujar Atjo.Keuntungan lainnya yang dirasakan oleh Atjo adalah pertumbuhan udang yang baik. Hal ini karena pakan udang menjadi lebih terkontrol dibandingkan di tambak. “Lima gram per ton,” ucap Atjo. Semenetara jika dibandingkan dengan tambak, pada masa pendederan ini, teknik pemberian pakan dilakukan secarablind feeding. Pakan yang digunakan pun merupakan pakan khusus untuk pendederan udang dengan nutrisi yang lebih lengkap dari pakan yang biasa digunakan di tambak.Berdasarkan biayanya, penerapan nursery memang sedikit membutuhkan biaya lebih jika dibandingkan dengan sistem budidaya biasa yang telah umum dilakukan. Akan tetapi menurut Atjo, dengan penggunaan nursery, siklus budidaya di tambak jelas akan lebih singkat. “Di grow out-nya bisa diperpendek. Sehingga produktivitas per tahun bisa lebih besar,” ucap Atjo. Lama budidaya di tambak bisa menjadi hanya 2 bulan saja.Baca juga: 6 Ciri Benur Udang Vaname Berkualitas yang Wajib Diketahui PetambakTeknis BudidayaKonsep nursery pada udang juga didukung oleh Bong Tiro. Ia bersama tim juga tengah melakukan kerjasama dengan petambak untuk mengembangkan sistem ini. Sebelumnya, Bong telah mengembangkan benur berukuran besar untuk digunkaan oleh pembudidaya. Tujuannya sama, yakni untuk memotong siklus budidadaya menjadi lebih pendek dan mengurangi risiko serangan penyakit pada 30 hari pertama masa budidaya. Artikel asli ...
Modern Shrimp Farming Models are Highly Effective
Udang

Modern Shrimp Farming Models are Highly Effective

Up to now, Phuoc Long district has an aquaculture area of 22,477 ha, of which shrimp farming area accounts for the majority with 21,677 ha. It is worth mentioning that in the past time, farmers in the district have formed many highly effective combined farming models, including the black tiger shrimp - crab - fish model, the black tiger shrimp - rice - shrimp model. greener. These are two farming models in the form of ecological, sustainable, suitable for the farming level and investment capital of the majority of farmers.Model of shrimp - crab - fish combination farmingIn 2020, Phuoc Long district will release tiger shrimp combined with crabs and fish with a total area of 18,300 hectares. Prawn crop production drop 03 cases / year, the stocking density of 1-2 units / m 2 , the productivity achieved from 140-150 kg / ha / crop, interest from 10-30 million / ha / crop.Crabs drop 01 cases / year from January to June, the stocking density of 1-2 units / 20 m 2 Yield 100-120 kg / ha / year, interest from 10-20 million / ha / year.Stocking 01 cases / year from June to December, stocking density from 0.5 to 1 fish / m 2 , yield 800-1000 kg / ha / year, profit from 7-10 million / ha / year.Model of shrimp-crab-fish combination. Photo: Thanh Hai.In 2019 alone, over 90% of households were successful. This is also a low-investment production model, suitable for the farming conditions of the majority of farmers with little production capital. The objects of polyculture support each other in the growth and development process, obtain many products on the same area, are easy to consume and limit the risk of diseases. A typical example in this model production is Mr. Ngo Minh Ky (hamlet 1 B, Phong Thanh Tay A commune, Phuoc Long district) who is one of the first households to raise tiger shrimp and crab in combination with crab and fish in Phuoc Long district. With an area of 02 hectares, each year he collects over 130 million VND, minus expenses, he makes a profit of over 90ty million VND. Not only Mr. Ky, there are also many households in Phuoc Long district that are getting better thanks to the combined farming model of shrimp - crab - fish.However, in order for the shrimp-crab-fish combination farming model to develop and achieve high efficiency, farmers must focus on the following factors: That is, the farming project must ensure the technical requirements of a satisfactory nursery pond. bridge. The appropriate stocking density for 1 hectare/crop is 20,000 shrimp, 1,000 crabs, and 10,000 fish. For shrimp stocked periodically every 50-60 days, crabs and tilapia once a year. In addition, in order to contribute to increasing efficiency and towards sustainability, farmers should plant grass with high economic value or aquatic plants with high economic value that can live on shrimp farming land, accounting for about 30% of the total area. farming area, to provide shelter for shrimp and crabs and to help improve the pond bottom. Do not use pesticides or banned drugs in aquaculture.Model of black tiger shrimp - rice - giant freshwater shrimp combined with cropsIn 2020, Phuoc Long district has planted rice seeds on shrimp land for 12,500 hectares, and planted giant freshwater prawns with rice for 7,100 hectares. Mainly produced in communes and towns such as Vinh Phu Tay, Phuoc Long town, Phuoc Long commune and a part of Phong Thanh Tay A.The advantage of this model is that crop production should limit pathogens arising in the pond. In the rice crop, rice will absorb organic matter in the pond, waste products of shrimp and fish, and help improve it pond. Harvest a variety of products on the same production area.The production season is from January to August, stocking 2 crops of black tiger shrimp, and in August, when the salinity decreases, we conduct saltwater washing to sow rice, combined with stocking giant freshwater prawns and planting color on the shrimp ponds. Stocking density of black tiger shrimp is 1 - 2 shrimp /m 2 , giant freshwater shrimp is 1 - 2 shrimp/m 2 . Paddy rice: 7kg/1,000m 2 .     The yield of black tiger shrimp is from 210 - 280 kg/ha/year, profit is from 15 - 30 million VND/ha/year. The average rice yield is from 4 to 4.5 tons/ha, the profit is from 12-16 million VND/ha/crop. The productivity of giant freshwater shrimp is from 100 - 150 kg/ha/year, profit is from 8 - 15 million VND/ha/year.Harvest crayfish. Photo: Thanh Hai.According to statistics, in the district, there are about 20 hectares of growing crops on the shore, mainly in Phuoc Long town, Phuoc Long commune, Vinh Phu Tay commune. Plants with high economic efficiency: Bitter melon, corn, pumpkin, watermelon, cucumber,.... Typical households such as: Doan Van Keo, Tran Van Khach, .... After deducting the cost of production per household net profit of nearly 15 million / 1,000 m 2 during 3-4 months.In order to promote the advantages of the model, according to the general direction of Phuoc Long district in the coming years, it is necessary to re-evaluate the stability and effectiveness of the model, thereby recommending replication. In order for the sustainable development model to be highly effective, it must focus on the following aspects:When entering the stocking season, it is necessary to follow the recommendations of the professional industry, conduct improvement, nurseries before stocking, use microorganisms to stabilize the environment, and harvest completely to ensure the production season. crop rotation with rice.Should choose salt-tolerant, disease-resistant rice varieties with short growth time, high yield and product consumption. For giant freshwater shrimp, stocking should be arranged around July of the calendar year, if the stocking of giant freshwater shrimp is late around August - September, the farming time is short when harvesting the small size of giant freshwater shrimp, selling at low prices.For crops, it is necessary to know the market, choose the right vegetables and know the care techniques for each type of crop, so as to ensure the desired income.Currently, these two models are developing strongly and having certain success. Farmers have made the most of the farming area and combined farming objects with economic value, increasing production efficiency, while minimizing the risk of monoculture of black tiger shrimp and adapting to changing conditions. The climate is changing as complicated as it is today. Source: Tepbac.com ...
Shrimp Farming by Semi-Biofloc Technology
Udang

Shrimp Farming by Semi-Biofloc Technology

Through 3 times of implementation, the model of vannamei farming from the project "Super intensive farming of whiteleg shrimp in 3 stages with semi-biofloc technology" of Mr. Ngo Van Thang's household, Cai Nuoc hamlet, Phu Tan commune, Phu Tan district, both yield and price success.In September 2019, Mr. Ngo Van Thang is one of two shrimp farming households under the super-intensive model from the project “Super-intensive 3-stage white shrimp farming under the semi-biofloc technology process in Phu Tan commune, district. Phu Tan ”.Over 4 months, from preparation to farming and harvesting the first crop on an area of 3 hectares (1 pond, 2 ponds, 2 settling ponds, 1 pond), Mr. Thang collected 15.5 tons of shrimp type 30 / kg, profit earned over 1.2 billion.Also read: Control Ammonium and Nitrite When Nursing White Shrimp In BioflocsHate that the model is not only economical but also suitable for his care and management conditions, so far, Mr. Thang has maintained the model, followed the technical process, continued to harvest. 2 more crops and were successful beyond expectations.Mr. Thang said: “Through 3 seasons, I realized that the semi-biofloc technology was applied to 3 farming stages, helping shrimp to develop quickly, with good resistance, so at the harvest stage, the shrimp always reach the top. child ”.During the farming process, Mr. Thang complies with the technical process: designing pond infrastructure, from sedimentation ponds, climbing ponds, ponds and waste storage ponds. Treat the pond environment using probiotics, maintain floc throughout the culture period; Strictly control feed in each stage, especially the shrimp duck stage, to ensure the density of floc (the cells of beneficial bacteria stick to form suspended mass in the water environment), food to ensure increase resistance and achieve the highest head rate for shrimp before moving to stage 2 (pond).Accordingly, in addition to technical factors, effective farming procedures, infrastructure, design area of ponds, settling, climbing and discharging is strictly. The above factors have supported Thang's model to be unexpectedly successful.Thang's model of shrimp farming was maintained and succeeded in all 3 crops. The 4th crop of shrimp is reaching size 48 / kg.Mr. Ngo Van Thang said: “Thanks to a good system of pond construction, together with raising in a Deo pond only 30 days, the 2nd stage only 30 days and the 3rd stage only 30 days, so the pond environment Always clean when properly applied according to the project's technical process, from which shrimp grow quickly, reach the head ”.With the second crop, Mr. Thang harvests shrimp sized 50 heads / kg, with an output of 9 tons, minus interest expense of over 700 million dong. And this crop, nearly 90 days of farming, the shrimp reached the size of 32 heads / kg, the total revenue was 10.2 tons, except for Mr. Thang's profit, nearly 800 million dong profit.Also read: Data Sharing for Disease Management In Shrimp Farming: More to GainEngineer Ngo Van Luong, Head of the Agricultural Extension Station of Phu Tan district, said: “It is the good control of shrimp density in the pond, good control of feed during feeding along with the use of probiotics. period, water change and water supply is correct and sufficient, so not only well manage the pond environment, shrimp grow quickly, but also adapt, resilient to changes as well as the effects of weather ”.The fourth crop is also showing a high success rate, with a size of 56 heads, moving from a Deo pond to a pond for only 9 days, shrimp has reached the size of 48 shrimp / kg. With the current high price of shrimp, he promises that this crop will be more profitable than the previous crops.According to Engineer Ngo Van Luong, since the first successful implementation of Mr. Thang's model, farmers in this type of shrimp farming in hamlets, communes and districts have come to visit, learn techniques to apply pressure. for pond use. Through research, about 70% of farmers apply this process successfully.Source: Tepbac.com ...
Data Sharing for Disease Management In Shrimp Farming: More to Gain
Udang

Data Sharing for Disease Management In Shrimp Farming: More to Gain

Sharing data on disease outbreaks could add real value to the industry if all segments of the supply chain work together and if regulators use systems that provide real-time data to support swift action.By Pau Badia Grimalt and Anton ImminkDiseases and poor health management in shrimp farming are still key obstacles to sustainable growth of the shrimp industry and have a huge economic impact. Shinn et al. (2018) estimated economic losses in Thailand due to episodes of acute hepatopancreatic necrosis disease (AHPND) throughout 2009 to 2016 at around USD7.38 billion. Data collection is not performed regularly by farmers or regulators and disease reporting is not obligatory in many countries. Diseases differ in how they infect and spread but early knowledge of the risks through data sharing amongst producers and regulators can help in ensuring early prevention measures and in reducing the impacts. Relevant data sharing for health management purposes has helped to reduce the negative impact of disease in salmon farming, for example with sea lice, and in livestock commodities such as the swine or cattle industry, for example with foot and mouth disease (FMD).The global shrimp industry has been impacted by a succession of diseases such as white spot syndrome virus (WSSV), Taura syndrome virus (TSV), AHPND and more recently by the microsporidian parasite Enterocytozoon hepatopenaei (EHP). In Thailand, shrimp is the most important aquaculture species in terms of volume and revenue. In 2010, shrimp production in Thailand fell from 600,000 tonnes to 189,000 tonnes due to disease outbreaks. In 2020, the production was 275,000 tonnes.Also read: Environment, Bacterial Community Dynamics and White Feces Disease Outbreaks in Shrimp PondsRecording diseaseMost shrimp farmers do not collect data in a systematic and digital way and therefore it is difficult to move towards an evidence-based approach to improve their businesses. In addition, in Thailand there is no mandatory reporting or record keeping of farmed shrimp disease outbreaks by farmers, although the Department of Fisheries reports to the OIE- World Organisation for Animal Health, notifiable diseases such as WSSV or AHPND.Nevertheless, numerous technology companies currently offer aquaculture farmers and other industry stakeholders a range of mobile applications, sensors, and other internet of things (IoT) devices to monitor farm performance and to conduct data analysis. Uptake of these technologies in the shrimp industry appears to be slow. Engaging shrimp farmers to use these technologies appears to be more challenging than in other commodity sectors such as salmon, poultry or swine.Disease control in shrimp farming (like most farming sectors) is complex, as the routes and mechanisms of infection are multifarious. Environment, culture conditions and management practices, all play a role in disease control. To understand disease outbreaks, it is important to be aware of the dynamics within the culture systems, such as the potential source of each infection, their routes of infection, how they might spread or propagate, the conditions required or associated with infection events, and the relative susceptibility or resilience of groups within the population (age, developmental state, strain, etc.). The subsequent development of control strategies can then be based on this baseline information. Shrimp culture systems are not standardised, further adding to the complexities of developing management and control strategies. If the routes of infection can be identified and control measures implemented quickly, then it is possible to reduce the probability of a disease event occurring or, depending on the mechanism involved and pathogenicity, reduce the severity of the event.Understanding disease management through data sharing with the MyShrimp app in Thailand.Also read: Shrimp Aquaculture and Competitive Exclusion Of PathogensCoping with diseaseFarmers and the industry have adopted different strategies to cope with pathogens and reduce disease outbreaks. Biosecurity measures and prevention such as key control points at the hatchery are still among the most effective ways to minimise the probability of infection or reduce the spread and magnitude of an infection. Crab fences are common in shrimp farms and are one of the main effective barriers to avoid WSSV infections. Crabs are carriers and act as entry points of this virus into the ponds.Training on farm biosecurity measures and disease data sharing.Once a pond is infected, in most situations, there is little a farmer can do to eradicate the infection, but through quick interventions, it may be possible to manage the infection during the remaining culture period. In many cases of a WSSV outbreak within a pond, there is no other option open to farmers but to harvest early, if there are interested buyers, or to cull the pond if some of the shrimp are still below market size. This, however, has economic implications as larger shrimp are both more valuable and subject to less price variation than smaller ones. If the shrimp are too small to be sold, farmers typically destroy the whole stock and disinfect the pond. Some farmers may choose to live with the disease where subsequent crops may have lower production such as the case of EHP infections.Also read: Extensive Shrimp Farming Technique Improved in Two PhasesData sharingData sharing can help in different ways, but each disease or health management issue needs to be identified and understood to know where, how and when it needs to be solved. The kind of data, when and where to be shared, to and from whom, and why sharing it are some of the key questions and approaches that need to be considered when sharing disease monitoring data. Increased and early knowledge of a disease outbreak provides time to react and introduce or expand biosecurity measures. It can also mean lower intervention costs as opposed to addressing more advanced infections or even worse, when there are no options left other than harvest or destroy.A good recent example of health management and data sharing is the sharing of COVID-19 information across countries and regions, including daily reports on the number of new infections, deaths, control measures and recoveries. Identification and understanding of the disease spread routes is very important to control and reduce risks of disease outbreaks. Therefore, sharing data is beneficial to farmers if those routes are controlled. Both in terrestrial and aquatic systems, the mechanisms and routes of transmission of diseases are similar. They are associated with the movement of live animals, water or inert objects where the disease can live, and these constitute the main routes that need to be controlled.Even though there is no structured or digitalised data sharing on shrimp farming and disease outbreaks, regular informal data sharing is happening among farmers. Personal or group communications in online chat groups and in farmers’ organisations such as clubs and cooperatives play an important role in information dissemination. Seminars, monthly meetings and sharing experiences are common practices among farmers within a cluster, where they learn from each other through the sharing of past experiences and from new knowledge. Examples of farming practices, news on regulation updates, new technology, updates on requirements from processing plants, difficulties in each step of the supply chain, etc. are shared yearly in shrimp fairs or seminars.There are of course, negative outcomes to reporting on diseases or losses. Shrimp farming has been hit before by international news focussing on the environmental issues of shrimp farming and decontextualising some of the information related to disease. Processing plants and shrimp buyers may take advantage when they know that a pond needs to be harvested due to diseases by offering prices lower than the market price. A farmer who is known to have disease on their farm may face inconvenience or alienation. But shrimp farming is not alone; similar issues also happen in the farming of other commodities such as swine and cattle. “There is the social responsibility to share for the good of the industry and working towards more sustainable practices.”Also read: Shrimp Farming Techniques in Floating TanksAlerts are neededShrimp health management programmes need to be upgraded in their objectives, scope and approach to reduce the impact of diseases. Recent alerts from international experts about the diseases DIV1 (decapod iridescent virus 1) and HPTV (hepatopancreatic translucence virus) reported from hatcheries present an immediate and urgent concern to the industry, on top of the already numerous existing diseases. Globally, hatchery sources present significant concerns because diseased post larvae movement results in the vertical transmission and spreading of diseases to grow-out ponds. Farmers need to be reminded to source from reputable hatcheries, perform effective sanitation of ponds and test post larvae before stocking to ensure that their farms remain disease-free.It is strongly recommended that regulators for aquatic animal health follow recommendations such as strengthening hatchery biosecurity, with a focus on the control and monitoring of imported broodstock and post larvae as advised by the OIE. They should support more informed policy development and more responsive disease management strategies by increasing post larvae and grow-out testing and publishing real-time disease outbreak and control data. All tiers of the supply chain have data that help in disease management. There are tools available for reporting this data in real-time that could help to control diseases. All farmers should be socially responsible to share data for the good of the industry and working towards more sustainable practices.Balancing the benefitsIt is challenging for individuals to adopt approaches that may ‘point the finger’ in the short term. However, if the majority of farmers were to use data more effectively and if regulators required it and acted on it in real time, there is a tangible opportunity to overcome the on-going and repeated disease cycles that adversely impact the Asian shrimp industry. Acting fast and sharing data will help prevent a repeat of the chronic economic impacts associated with established diseases such as AHPND, WSSV and EHP amongst others – and ultimately lead to a more resilient and robust shrimp industry.Real-time data about disease issues and farm management could also benefit the whole industry through increased transparency and greater market value of products. Who knows, in the near future it may turn out to be an alternative to certification. We leave you here to ponder: should the industry miss this opportunity to improve governance and aim for a more sustainable industry with less risks from disease outbreaks?Pau Badia Grimalt is a biologist from Barcelona with an international master’s degree in Thailand in aquaculture and fisheries. Since 2018, he is pursuing a PhD degree in aquaculture from the University of Stirling (UK). Pau is also the manager of ThaiTIP, a multi-stakeholder innovation platform between European and Thai aquaculture stakeholders.Anton Immink is the CEO of ThinkAqua – a new NGO promoting innovation in aquaculture to help the industry move to greater sustainability. He was formerly Global Aquaculture Director at Sustainable Fisheries Partnership. Email: anton.immink@thinkaqua.orgPau and Anton are colleagues on the IDH and Walmart Foundation supported SHRImp project (Shrimp Health Resources Improvement project) that aims to improve health management in shrimp farming in Thailand through data sharing. The work referenced here is part of that project and has involved a wide team of partners all contributing to greater and improved learning. Source: Aquaculture Asia Pacific ...
Control Ammonium and Nitrite When Nursing White Shrimp In Bioflocs
Udang

Control Ammonium and Nitrite When Nursing White Shrimp In Bioflocs

Strategy for control of ammonium and nitrite in vannamei culture system using bioflocs.In biofloc culture systems, nitrogen compounds, especially ammonia and nitrite, must be controlled by microbiological pathways, mainly through heterotrophic and chemotrophic activity. This study evaluated different strategies for water preparation (heterotrophic, chemotrophic and mature biofloc) for the nursery of vannamei shrimp in the biofloc system and yielded considerable efficacy.Also read: Biofloc Systems, Tilapia by Product may Support Cheaper Shrimp ProductionResearch and application of bioflocs technology in white leg shrimp nurseryA 35-day study was performed with postlarvae (0.08 g) stocked in twelve 300L tanks with a stocking density of 2000 kernels / m 3 . The experiment evaluated postlarvae culture in three different biofloc systems: heterotrophic biofloc, chemotrophic and mature biofloc.i) Heterotrophic treatment, in which water receives sugar as a carbon source.ii) Chemical treatment in which ammonium and nitrite salts have been added to the water.iii) Maturation treatment, which is produced by the addition of a significant amount of maturation biofloc-containing water from another established biofloc system. Also read: Effects Of Carbohydrate Sources on A Biofloc Shrimp NurseryResultWater quality parametersThe heterotrophic treatments had lower DO concentrations than the mature and chemotrophic biofloc treatments. The heterotrophic system had higher ammonia and nitrite content than the other treatments. Total suspended solids (TSS) were higher in the heterotrophic treatment than in the adult treatment. Total volatile suspended solids (VSS), fixed total suspended solids (FSS) and suspended solids (SS) concentrations were higher in the heterotrophic treatment than in both the chemotrophic and maturation treatments. .In both the control of biofloc growth and chemotherapy, nitrification can keep toxic nitrogen compounds (ammonia and nitrite) low without the addition of carbohydrates. In contrast, the heterotrophic system showed peaks of ammonia and nitrite during the culture cycle, and the levels of these compounds were higher than those of the rest of the treatments.Microbiological communityAt the beginning of the experiment, the number of heterotrophic bacteria survived was higher in the heterotrophic system than in the maturation and chemotherapy treatments. Similarly, bacteria of the Vibrionaceae family were more likely to be in heterotrophic systems than in mature and chemotrophic treatments at the same time. The Vibrionaceae family at the beginning of the experiment was lower than the heterotrophic and mature treatment. The combination of low Vibrionaceae count and good water quality resulted in an improvement in growth efficiency in this treatment. Also read: Evaluating Compensatory Growth in Pacific White Shrimp in a Biofloc SystemGrowthAverage body weight and growth rates were higher in the chemically treated shrimp than in adults. However, there was no difference (p ≥ 0.05) between heterotrophic treatment and other treatments. The final biomass and yield were higher in both the nutrient and heterotrophic treatments than in the mature treatment. There was no significant difference (p ≥ 0.05) in survival rate and feed conversion ratio among the treatments.This study demonstrated that different water preparation strategies have a significant impact on biofloc composition, water quality and shrimp performance. During the test, both the vegetative and maturation systems were able to control nitrogen compound levels within acceptable limits for Litopenaeus vannamei , mainly due to the presence of autotrophic nitrifying bacteria from the beginning of the experiment in these systems. Although the metabolic and maturing systems are able to prevent the accumulation of nitrogen compounds are similar, the performance of the shrimp is different in the two systems. Specifically, the growth rate of shrimp in the chemotherapy treatment was 41% higher than that in the mature systemNitrite accumulation at the midpoint of the experiment in the heterotrophic system indicates that nitrification is taking place in the tanks. Bacteria that convert ammonia to nitrite have a faster growth rate than bacteria that convert nitrite to nitrate, especially in salt water (Madigan et al., 2016). Nitrifying bacteria and consequently nitrification are affected by environmental factors, such as temperature, pH, substrate concentration, inhibitory factors and dissolved oxygen (Cervantes, 2009).The performance assessment of shrimp showed that the chemotherapy system was a good approach for the management of shrimp nurseries with biofloc. The chemo-treatment was outstanding for its ability to keep water quality at a stable level and contain a lower amount of bacteria from the Vibrionaceae family at the beginning of the cycle. Source: Tepbac.com ...
Probolinggo Mulai Kembangkan Budidaya Udang Vannamei dengan Teknik Bumi Kraksaan
Udang

Probolinggo Mulai Kembangkan Budidaya Udang Vannamei dengan Teknik Bumi Kraksaan

Warga di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur mulai mengembangkan budidaya udang vannamei dengan meggunakan media kolam terpal bundar dengan ras media air laut buatan (Bumi Kraksaan).Melalui inisiasi yang dilakukan oleh Ketua DPRD Kabupaten Probolinggo Andi Suryanto Wibowo ini, maka inovasi dari Dinas Perikanan setempat itu diterapkan oleh kelompok pembudidaya yang ada di Desa Klaseman, Kecamatan Gending.“Alhamdulillah budidaya udang vannamei dengan teknik Bumi Kraksaan itu sudah diadopsi oleh masyarakat Desa Klaseman dengan memanfaatkan 12 kolam terpal,” kata Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Perikanan Probolinggo Wahid Noor Azis di kabupaten setempat, Kamis, (11/2/2021).Baca juga: 5 Langkah Supaya Induk Udang Vaname Berhasil MemijahMenurutnya, penebaran benih udang per kolamnya mencapai 5.800 ekor dan total untuk 12 kolam benih yang ditebar sebanyak 69.600 ekor dan masa pemeliharaan sudah masuk hari ke-50 dengan berat udang 5 gram per ekor pada 10 Februari 2021.“Artinya bisa dikatakan ukuran 200 yang berarti 200 ekor per kilogram, sehingga harapannya nanti panen pada ukuran 60-70,” tuturnya.Ia mengatakan, pada size 100-200 itu biasanya dipanen parsial atau panen separuh dengan diambil yang besar-besar untuk memenuhi kebutuhan para pemancing sebagai umpan hidup.Baca juga: Terapkan Budidaya Udang BersihUntuk ukuran 100-200 sebagai umpan hidup bagi pemancing itu harganya lebih mahal antara Rp65 ribu hingga Rp70 ribu per kilogram karena untuk konsumsi pada ukuran 60-70 ekor harganya hanya Rp30 ribu hingga Rp35 ribu perkilogram.“Harapannya outputnya lebih kepada perdagangan untuk umpan hidup bagi pemancing karena kalau di kolam terpal lebih mudah untuk menjaringnya jika dibandingkan dengan tambak,” katanya.Wahid mengatakan, budidaya udang vannamei dengan teknik Bumi Kraksaan itu membuktikan bahwa udang vannamei itu tidak hanya dibudidayakan para petambak yang ada di pantai dan memperkenalkan budidaya udang kepada petambak di luar pembudidaya yang ada di pantai.Baca juga: Tahap Molting Pada Udang“Inovasi budidaya udang Bumi Kraksaan itu dilakukan dengan menggunakan air laut buatan yakni air sumur ditambah dengan garam grosok hingga setara air laut 15 ppm karena standar hidup udang vannamei adalah 15-25 ppm,” ujarnya.Pada masa pandemi COVID-19, lanjut dia, inovasi Bumi Kraksaan itu bisa diadopsi oleh masyarakat untuk meningkatkan penghasilan karena budidaya udang vannamei itu keuntungannya lebih besar dari pada yang lain dan dapat dilakukan oleh pembudidaya yang jauh dari pantai karena menggunakan air laut buatan.“Harapannya inovasi Bumi Kraksaan itu dapat terus berkembang, sehingga masyarakat lebih paham cara budidaya udang vannamei  yang dibudidayakan diluar tambak dan keuntungannya lebih menjanjikan,” pungkasnya. Sumber: Masyarakat Akuakultur Indonesia ...
Warna Air Tambak Yang Bagus Untuk Udang Vaname
Udang

Warna Air Tambak Yang Bagus Untuk Udang Vaname

Warna air budidaya udang yang bagus warna apa saja ?Simak penjelasan kami kali ini. Karakter warna air di budidaya udang sangat beragam ataupun banyak. Sekarang ini kami akan mencoba menjelaskan mayoritas warna air sesuai dengan pengamatan di lapangan. Mungkin ada warna hijau muda, hijau kemudian ada hijau kecoklatan. Adapula warna air coklat muda atau coklat keruh, ataupun ada warna air coklat tua.Yang pertama adalah warna air hijau muda. Biasanya warna air hijau muda itu didominasi oleh plankton yang tumbuh pada kolam budidaya tahap persiapan. Plankton tersebut masuk ke golongan Chlorophyceae.Jenis Chlorophyceae itu sangat banyak sekali antara lain, ada Chlorella, Oocystis ada juga Scenedesmus. Kemudian ada beberapa plankton kurang lebih 7-10% itu ada Cyanophyceae ataupun rotifer, ataupun protozoa.Cara membentuk warna air hijau muda hingga hijau sedikit tua itu sangat mudah. Selama syaratnya yaitu adalah perlu pemberian mikro mineral improvium 1. Yaitu, memiliki kandungan ziolid,silika dan humic acid. Baca juga: Pengelolan Air di TambakDengan cara pemberian improvium 1 sesuai dosis yang baik maka tahap persiapan dalam budidaya udang itu akan membentuk warna hijau muda hingga hijau yang kita inginkan. Namun apabila pemberian improvium 1 dilakukan secara berkala atau terus menerus ataupun dengan dosis yang berlebihan, maka air kolam budidaya saat persiapan cepat membentuk warna hijau menjadi lebih pekat. Sehingga dalam penggunaan improvium 1 perlu dicermati dengan baik. Jika dalam persiapan tambak warna air sudah timbul hijau artinya adalah fitoplankton sudah tumbuh atau plankton-plankton sudah tumbuh subur di perairan. Namun, apabila plankton tersebut terlalu banyak atau menimbulkan terjadinya blooming plankton atau blooming alga perlu diwaspadai. Karena dapat menimbulkan masalah bagi benur ataupun udang itu sendiri.Kenapa wajib plankton atau fitoplankton hadir di tambak udang ? Itu sebabnya fitoplankton memberikan suatu dampak yang baik bagi keberhasilan budidaya udang. Kemudian fitoplankton juga berperan sebagai sumber makanan bagi udang.Fitoplankton juga berperan sebagai penyeimbangan ekosistem budidaya di kolam. Namun, ada beberapa pembudidaya saat tahap persiapan warna air masih bening dan belum terbentuk plankton. Bagaimana cara supaya bisa membentuk plankton pada saat persiapan supaya air itu tidak menjadi bening lagi ?Itu perlu adanya pemberian improvium 1. Fungsi pemberian improvium 1 adalah untuk menyuburkan perairan pada tahap persiapan. Sesuai dengan aturan dosis pada improvium 1 atau mikro mineral, warna air bening atau air itu belum ada mikroorganisme dari plankton. Itu disebabkan belum adanya nutrisi dari air tersebut, sehingga plankton tidak bisa tumbuh atau tidak bisa subur di perairan tersebut. Sehingga perlu ada bantuan mikromineral untuk menyuburkan tambak atau perairan budidaya udang di kolam tersebut.Baca juga: Mencegah Penyakit Udang Berdasarkan Warna Air TambakKedua adalah air berwarna hijau kecoklatan. Air yang berwarna hijau kecoklatan indikasinya yaitu plankton yang hidup di tambak memiliki banyak golongan. Yaitu dari golongan atau kelas Chlorophyceae, Bacillariphyceae, kemudian Phaeophyceae, dan rata-rata atau presentasinya hampir semuanya sama. Air hijau kecoklatan merupakan air yang stabil dalam berbudidaya udang apabila salah satu golongan plankton tersebut mati atau tersuksesi maka populasi dari plankton lainnya masih cukup untuk mempertahankan transparansi air. Kurang lebih berkisar antara 30 hingga 45 cm, transparansi atau kecerahan air di budidaya udang itu yang bagus adalah 20 hingga 45 cm. Apabila pada kondisi air pada kondisi air tambak berwarna hijau kecoklatan itu rata-rata antara 20 hingga 40 cm atau 30 hingga 45 cm. Apabila plankton terjadi kematian massal yang disebabkan banyak faktor anggap saja salah satunya adalah hujan dengan intensitas yang deras dan lama. Maka, terjadi kematian pada plankton sangat tinggi, sehingga transparansi air menjadi bening. Maka kandungan amoniak akan menjadi meningkat dan menyebabkan nafsu makan udang menurun, serta tubuh udang menjadi kotor terutama bagian abdomennya. Untuk menjaga warna air menjadi hijau kecoklatan dapat menggunakan mikro mineral seperti improvium 2 dan improvium 3. Improvium 2 sendiri berfungsi untuk dapat menyehatkan plankton khususnya zooplankton dan sekaligus mempercepat moulting pada kulit udang. Kemudian improvium 3 berfungsi untuk memelihara fitoplankton dan supaya mencegah terjadinya blooming alga atau kres plankton.Beli Mineral Udang Improvium Udang (IU) 3 Disini!Yang ketiga adalah air berwarna coklat muda. Pada dasarnya air yang berwarna coklat muda didominasi plankton kelas bacilariophyceae. Biasanya tumbuh hampir 100% rata-rata 90% populasi plankton yang berasal dari kelas tersebut. Anggap saja mungkin yang saya tahu, seperti Skeletonema, Costatum, Coscinodiscus, Navicula kemudian juga ada Pleurosigma, Triceratium dan sisanya sebagian kecil itu dari golongan fitoplankton yaitu chlorophyceae, rotifer, dan crustacean. Dengan warna air coklat muda mengindikasikan bahwa density plankton dalam air tambak tersebut masih rendah. Yaitu dibawah 10 pangkat 6 sel/ml. Dengan kecerahan estimasinya adalah kurang lebih 50 hingga 80 cm. Kemudian ph pada pagi hari normal yaitu 7,9-8,0 dan siang bisa naik menjadi 8,2 hingga 8,5. Ciri-ciri warna air coklat muda yaitu cenderung lebih mudah drop atau planktonnya mudah mati, kemudian timbul buih-buih atau busa. Dengan adanya buih atau busa dengan transparansi 50 hingga 80 cm harus hati-hati. Biasanya plankton tersebut banyak yang mati pada permukaan air dan akhirnya air tambak menjadi bening tidak ada sama sekali plankton yang hidup. Menurut kami, plankton lebih mudah drop atau mati itu karena banyak faktor. Salah satu faktor adalah intensitas curah hujan yang terlalu tinggi. Kemudian plankton drop menimbulkan buih-buih pada permukaan air dan akhirnya kolam atau tambak budidaya udang menjadi bening. Dengan bening ini bisa menyebabkan komoditas udang yang dipelihara di dalam kolam tersebut akan dapat menurunkan nafsu makan pada udang. Sehingga udang menjadi tidak aktif, lemas dan akhirnya menjadi mati warna air coklat muda. Supaya warna air tersebut ada sebagian warna hijaunya, itu perlu adanya peningkatan fitoplankton dengan cara pemberian improvium 3 yaitu mikro mineral yang berfungsi untuk memelihara fitoplankton. Supaya tidak terjadi kres plankton antara fito dan zoo.Baca juga: Vertical Coloumn Photobioreactor untuk Kultur Fitoplankton dengan AkrilikYang kempat adalah warna air coklat tua. Warna air coklat tua biasanya didominasi oleh golongan Bacillariophyceae atau diatom. Dengan intensitas transparansi air berkisar antara 20 hingga 40 cm. dengan populasi plankton diatas 10 pangkat 6 sel/ml. Jenis plankton yang hidup hampir sama dengan warna coklat muda, kurang lebih spesiesnya adalah dari jenis Skeletonema, Costatum, Coscinodiscus, kemudian Amphora, Synedra, Navicula dan sebagainya. Kemudian untuk fitoplankton itu sangat kecil paling setidaknya hanya 5% saja di kolam tersebut. Biasanya fitoplankton yang ditumbuhi dari jenis Chlophyceae, Cyanophyceae. Kemudian untuk membentuk warna air coklat tua, perlu menggunakan improvium 4 atau mikro mineral improvium 4, karena disitu ada unsur P2O5, Fosfat dan Silikat. Dengan itu warna air akan menjadi coklat tua.Warna air yang mana yang cocok untuk budidaya udang ?Pada musim kemarau biasanya warna air yang bagus adalah hijau kecoklatan. Karena apa ? Karena disitu sudah seimbang antara plankton yang dari tumbuhan dan plankton yang dari hewan, fito dan zooplankton stabil. Namun pada musim penghujan untuk menjadikan warna air hijau kecoklatan sangatlah susah. Apabila terjadi itupun waktunya hanya sebentar. Biasanya cenderung warna air menjadi coklat muda atau coklat tua. Menurut saya kondisi-kondisi tersebut itulah yang perlu kita jaga. Yaitu pada musim kemarau kita perlu jaga hingga akhirnya timbul warna hijau kecoklatan. Tujuannya apa ? Tujuannya supaya udang bisa mengkonsumsi pakan alami dari plankton tersebut. Kemudian pada musim penghujan jenis Chlophyceae atau fitoplankton sangat minim atau sedikit sekali. Sehingga ada baiknya perlu kita tingkatkan fito atau alga hijau bisa ada di kolam pada musim penghujan. Pada dasarnya udang selain diberi pelet atau pakan dari luar, udang juga memakan pakan alami yang berasal dari plankton atau alga itu sendiri. Menurut saya dalam hal ini budidaya udang baik di musim kemarau ataupun musim penghujan warna air itu sangat berpengaruh. Itu tadi penjelasan dari saya terkait beberapa macam warna air dalam kegiatan budidaya udang.Sumber: udangsegar.id ...
RAS Shrimp Producer May have Found It's Field of Dreams
Udang

RAS Shrimp Producer May have Found It's Field of Dreams

After a devastating fire at its Texas facility, NaturalShrimp rebounds, rebuilds, expands and now seeks a public listingTexas-based NaturalShrimp has closed on a land-based aquaculture facility in Iowa that will allow it to significantly ramp up production. Courtesy photo.To say the least, NaturalShrimp has gone through eventful times since the last time the Advocate came calling. At the beginning of 2020, the brash aquaculture company had a near-death experience.Toward the end of the year, though, the Dallas-based company had acquired assets in Webster City, Iowa, that would make it the largest RAS (recirculating aquaculture system) shrimp company, in terms of square footage, in the United States. The site was formerly a barramundi (Asian sea bass, Lates calcarifer) facility operating as VeroBlue Farms.And by late December, NaturalShrimp inked a deal with Ecoponex Systems to bring RAS shrimp production to Puerto Rico, with the project potentially supplying as much as 17 percent of an estimated local shrimp demand of 3.5 million pounds a year. Further growth for the company could come when NaturalShrimp lists on NASDAQ, expected in early 2021.“We’re going to be able to raise a lot of capital that will allow us a massive expansion. Our expansion will be worldwide,” Gerald Easterling, president and CEO, told the Advocate.Also read: Resistance to Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease of Egg Yolk AntibodiesFrom the ashesThe outlook was far cloudier on March 18, 2020 when NaturalShrimp’s production facility in La Coste, Texas, suffered a devastating fire. “There was a point in time when I looked at it and said, ‘We are out of business,’” Easterling recalled.However, GHS Investments, NaturalShrimp’s financing partner, stuck with them and provided funds that, along with insurance proceeds, enabled the rebuilding of the La Coste plant, with stocking and full production of shrimp beginning in 2021. The rebuilt plant, according to Easterling, is state-of-the-art, with an all gravity-flow system utilizing vertically configured 10-foot tall tanks. That height results in more production per square foot than other facilities, which typically have shorter tanks.One reason for the company’s resilience is its patented RAS technology, which sends a low-wattage electric current through the water, strong enough to remove contaminants but low enough as to not impact the shrimp. In what Easterling explained was an electrocoagulation process, the current can cause charged particles to collect at an electrode or it may force them to settle at the bottom of the tank. Some electrode materials can create chlorine gas from the salt in the water, with the gas then reacting with contaminants and thus allowing their easy removal.Of all potential contaminants in culture water, ammonia is exceptionally challenging to control because it arises from the shrimp, from their feed and from other organic sources. If ammonia levels are too high, it can kill shrimp, leaving producers little time to react and prevent a catastrophic loss.“People have a lot of ways they’re trying to deal with ammonia,” Easterling noted. “The uniqueness of our technology is we not only treat the ammonia, we take it out.”Also read: Transcriptomic Analysis of Pacific White Shrimp in Response to AHPNDNaturalShrimp uses a gravity-flow system with vertically configured 10-foot tall tanks, which the company says results in more production per square foot. Courtesy photo.Rolling it outNaturalShrimp’s technology could be a critical component in Ecoponex’s REEF (renewable energy efficient farm) technology. By going vertical with hydroponic and aquaculture modules stacked atop one another and closing environmental loops to reduce waste and improve productivity, Ecoponex forecasts its approach will increase yield 50-fold while cutting water use by 95 percent and energy 30 percent over conventional farming. An RAS aquaculture system is part of the concept.The joint venture in Puerto Rico between Ecoponex and NaturalShrimp is progressing, in part, because the island has no local shrimp supply. Thus, when it’s built, the facility will be a source for fresh shrimp for a local population of over three million as well as nearly four million visitors a year.“I believe that the project will be a precedent-setting model for the entire Caribbean. There are more than 30 islands with over 44 million people and virtually all of their food, including shrimp, is imported,” said Ecoponex CEO Benjamin Brant when the deal was announced.Also read: Shrimp Aquaculture and Competitive Exclusion Of PathogensLooking forward, Easterling noted several other locations are currently being eyed for similar projects. There are also NaturalShrimp’s own expansion plans. The company aims to supply fresh shrimp, which means markets must be within an eight-hour drive of production sites. The production facilities in Texas and Iowa will allow the company to serve markets throughout the middle of the United States. New packaging concepts could expand that reach by extending the shelf life of fresh shrimp.Challenges remain, though. For instance, established suppliers already dominate the shrimp market. When asked about the daunting presence of these competitors, Easterling replied that NaturalShrimp won’t seek to prevail on price but will instead focus on providing a high-end product that is locally grown – a pitch that may or may not ultimately succeed.Another challenge is that the company’s plans for future growth require execution and for market conditions to align with expectations. However, as 2020 showed, things may change significantly and quickly. Easterling is undeterred.“We’re excited about where we are today,” he said. “The technology has advanced to the point where we can really roll this thing out the way we want to.” Source: Global Aquaculture Alliance ...
Technology of Intercropping Tiger Shrimp - Crab - Mullet in Mangrove Forests
Udang

Technology of Intercropping Tiger Shrimp - Crab - Mullet in Mangrove Forests

Among the models that can be developed in mangrove forests, the model of intercropping with many objects such as shrimp, crab, and fish is a suitable model and brings economic and ecological efficiency.In order to help aquaculturists have more knowledge of the following mangrove farming techniques, I would like to introduce the techniques of raising giant tiger shrimp, crab and mullet in the mangrove forest.Also read: Aquamimicry: A revolutionary concept for shrimp farming1. Select and prepare farming areasThe farming area is located in an area with mangrove plantations.Use a form of flute barrier farming to crank the farming area (using a net and bamboo poles to carefully fence the farming area).Best farming area is 10,000 - 20,000 m 2 .In the culture area, there are ditch systems 1 - 1.2 m deep for shelter of shrimp, crabs and fish. Water changes are based entirely on the tide.- Check and repair the bamboo poles or renew them if they are too old.- For farming areas that can retain water, kill all trash fish and shrimp using saponins or cool seeds.- For completely open farming areas, all shrimps, crabs and fish of the old crop will be captured by manual methods.- Conduct liming with volume 7 kg / 100m 2 for farming.-Check the environmental factors if appropriate, conduct stocking2. Selection and stockingHealthy fish are of all sizes, no scratches (flakes), fast activity, bright colors, no deformities, defects. Size:Density of polyculture: (main object is tiger shrimp)+ Tiger shrimp: 2 / m 2 , size 3 - 5 cm / unit+ Mullet: 1 fish / 10 m 2 , size 4-6 cm / fish+ Crab: 1/10 m 2 , size 3 - 5cm / piece- Method of stocking:+ Should stock in the early morning or cool afternoon, should not stock when it rains or northeast monsoon.+ Before releasing the seed bags in the pond (when transporting sealed) 10-15 minutes to balance the temperature, then open the bag to add water slowly and then release the fingerlings to the pond. For stocking crabs, add a little water to cover the sand in the crab tray, leave for about 5-10 minutes, then tilt the tray and spread the crabs over the pond. Do not focus on stocking one point, to limit crabs eating each other when molting.Also read: Evaluating Plant Protein Sources Replacing Fishmeal In Juvenile White Shrimp Diets3. Care management3.1. Food and feeding method- Food+ Mullet: Use industrial floating pellets for fish (food with protein 28-30%).+ Crab, tiger shrimp: Use industrial food with protein> 30%.+ In addition, farmers can take advantage of additional sources of trash fish and agricultural by-products to process food for the cultured species.- The amount of daily feed 2 - 4% of the total weight of the herd. Only give food to partially supplement the demand for shrimp, crab, and fish, and the farmers will take advantage of natural food sources in the mangrove forest.- How to feed:+ Food for shrimp and crab is spread evenly in the pond, 1-2 times / day.+ For mullet fish, it is necessary to arrange a frame so that the fish can eat together, more in the morning than in the evening. When feeding fish, it is necessary to create reflexes for the fish by creating noises for the fish to concentrate. Feeding 1-2 times / day.* Feeding according to the principle of 3 viewing, 4 concentration3 view: see the weather weather, see the water color, see the health status of the fish.4: quantitative, qualitative, timing and location.Some points to note when feeding:- Food must ensure quality and quantity.- Feeding 1-2 times a day and fixed feeding place and time.- Increase the amount of food when we see the amount of food taken into the fish quickly eaten or to reduce the amount of food when we see the excess of the previous day.- Feed the fish a lot on a good weather day and feed the fish less on a bad weather day or before rain.Also read: Ice Water Treatment Impacts on Peeling Time, Meat Quality of Pacific White Shrimp3.2. Farming area management- Regularly check the net system, bamboo poles for timely repair to avoid loss of shrimp, crab and fish.- Water change depends on the tide.- Periodic liming liming 10-15 days with the amount of 1-2 kg / 100m 2- Every 10 -15 days check the weight of farmed crabs and fish to adjust the amount of food accordingly.- Ensure the water level in the ditches is 1 - 1.2m deep.- Do not cut down or take other actions that affect the mangrove forest.4. Harvest- After 3-4 months of farming, shrimp can be harvested with the size of 45 heads / kg, crabs reach the size of 4 / kg, then harvest and trim.- The mullet after 5 - 6 months of culture reaching the commercial size of 3 fish / kg, we proceed to harvest.- Collect shrimps, crabs and fish in the form of pruning shrimps, crabs, and big fish and continue rearing shrimp, crabs, and small fish.- Can carry out harvesting, pruning and adding more seeds to have products all year round.- Collect all cultured species before the rainy season.Harvesting fish should be paid attention to avoid bleeding in the skin:           + Immediately put fish in cold ice after harvesting          + Unsold fish should be kept in the feet (cage) and submerged in water. Source: Tepbac.com ...
Campuran Ekstrak Lengkuas Merah pada Pakan Untuk Atasi White Feces Disease
Udang

Campuran Ekstrak Lengkuas Merah pada Pakan Untuk Atasi White Feces Disease

Udang menjadi komoditas utama pada ekspor perikanan Indonesia. Dalam proses budidayanya, tak jarang para petambak mengalami masalah, seperti munculnya berbagai penyakit. Sampai saat ini, penyakit masih menjadi kendala utama yang dapat menimbulkan kematian secara massal dan mendadak.Kematian besar-besaran tentu menyebabkan kerugian yang tak terbendung, untuk pencegahan dan pengobatan menjadi kunci keberhasilan dalam menjalankan budidaya udang. Salah satu penyakit yang sampai saat ini menjadi momok bagi petambak adalah White Feces Disease atau penyakit kotoran putih pada udang.Sumber: aquaculturealliance.org Baca juga: Layanan Baru Jala Tech, Deteksi Penyakit Udang di BanyuwangiPenyakit ini diketahui disebabkan oleh bakteri Vibrio sp yang dapat ditandai dengan menurunnya nafsu makan udang, sus terlihat mengalami perubahan warna menjadi putih bahkan kosong, kemudian adanya kotoran berwarna putih yang mengambang di permukaan air.Munculnya penyakit WFD ini seringnya diakibatkan karena perlakuan budidaya yang kurang baik, seperti benih yang tidak sehat serta kualitas air yang tidak terjaga. Segala upaya sudah dilakukan demi mengatasi penyakit ini, dan salah satunya yang paling sering dilakukan adalah mengurangi kepadatan produksi. Hal ini dinilai baik karena mampu menurunkan kandungan bahan organik pada tambak, sehingga kemungkinan vibrio akan tumbuh juga menjadi kecil. Penggunaan probiotik juga bisa dijadikan opsi untuk mengurangi partumbuhan vibrio pada tambak. Namun, kedua cara tersebut tidak sepenuhnya berhasil.Baca juga: Monitoring Kesehatan dan Pengelolaan Hama Penyakit UdangSalah satu penelitian yang dilakukan oleh Juliana Marbun, dkk mengungkapkan bahwa ada satu bahan alami yang dapat digunakan untuk mengobati WFD pada udang. Bahan alami yang dimaksud adalah lengkuas merah. Ekstrak rimpang lengkuas dilaporkan dapat menghentikan laju pertumbuhan bakteri vibrio.Pada penelitian tersebut, ekstrak lengkuas merah tersebut dicampur pada pakan yang selanjutnya dibagi menjadi 5 perlakuan. Perlakuan A 0 g/kg pakan pada udang sehat, Perlakuan B 0 g/kg pakan pada udang sakit, Perlakuan C 7,5 g/kg pakan, Perlakuan D 10 g/kg pakan, Perlakuan E 12,5 g/kg pakan. Baca juga: Mencegah Penyakit Udang Berdasarkan Warna Air TambakHasilSemua perlakuan memberikan nilai survival rate atau keberlangsungan hidup yang berbeda-beda. Pemberian ekstrak rimpang lengkuas merah memberikan pengaruh terhadap tingkat Survival Rate (SR). Jika dibandingkan dengan perlakuan kontrol sakit, SR setiap perlakuan terlihat lebih tinggi, dan pada perlakuan E dengan campuran ekstrak rimpang lengkuas merah 12,5 gram memiliki nilai SR yang setara dengan perlakuaan kontrol sehat.Perlakuan B memiliki nilai SR paling rendah karena udang sakit dipelihara tanpa diberikan tindakan penanganan, sehingga udang menjadi lemah yang berujung pada kematian. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian ekstrak dengan dosis 12,5 gram menjadi lebih optimal dalam menangani udang yang sakit akibat WFD. Artikel asli ...
Extensive Shrimp Farming Technique Improved in Two Phases
Udang

Extensive Shrimp Farming Technique Improved in Two Phases

Applying the improved extensive 02-stage shrimp farming process into production is one of the step-by-step solutions to improve survival rate, increase productivity, and increase the efficiency of extensive tiger shrimp farming model, especially respond to the current climate change situation. To help shrimp farmers to be successful, please introduce improved extensive shrimp farming techniques in 02 stages:I. ANIMAL SYSTEM DESIGN- Square feeding: Area 5,000 - 10,000m 2 .+ Canal area: About 30 - 35% of farming area.+ The farming square is large (width width), so additional ditches should be designed.+ Depth of water level: Above the wetland> 0.5 m, below the canal 1.2 - 1.5 m.+ Sewer or bubble pipe: 1-2 culverts or balloon pipes with timely water supply and drainage.- Sedimentation pond: Occupying 10 - 15% of the farming square area (can make use of garden ditches or water supply canals as a settling area), in order to deposit alluvium, contain water to treat pathogens before feeding into the farming square water source.- Nursery pond: Used to rear shrimp seed, help shrimp gradually adapt to a square environment, easy to care for, manage in a small period, control the amount of seed before moving to a farming square. Depending on production conditions, density, nursing time, nursery pond design, appropriate oxygen supply system (nursery ponds can be made of earthen ponds or nursery tanks).+ Earth pond: Area 500 - 1,000 m 2 , depth: 1.0 - 1.2 m+ Nursing tanks, canvas ponds: Area 50 - 100 m 2 , depth: 1.0 - 1.2 m.Nursery ponds can be made of earthen ponds or nursery tanks, lined with canvasAlso read: Shrimp Farming Techniques in Floating TanksII. PHASE I (nursery)1. Stitch preparation:1.1. Soil pond:- The nursery pond is reinforced carefully, the slugs are removed from the pond bottom and compacted to be flat, the corners of the pond are elected, drained 2-3 times before draining the water to apply lime.- Apply lime CaCO 3 at a dose of 500 -1,000 kg / ha (depending on soil pH), and dry the pond bottom for 7-10 days.- Get water into the pond from settling pond through filter bag, reaching a depth of 1.0 - 1.2 m to remove fish and other harmful organisms to shrimp. Run the fan continuously for 3-4 days, 4 hours a day to let the eggs of organisms in the water fully hatch, then proceed to kill bacteria (disinfectants are not in the list of banned use of the Ministry of Agriculture and Rural Development. ). 2 days later proceed to cause watercolors.- Next, culturing microorganisms and adjusting environmental factors accordingly, we prepare to stocking (pH 7.5 - 8.5, alkalinity 100 - 160 mg / l, transparency 30 - 40 cm) , salinity 10 - 25 ‰)Also read: Aquamimicry: A revolutionary concept for shrimp farming1.2. Nursery tanks, canvas ponds:shrimp farming, shrimp farming techniques, shrimp farming 2 stages, model of shrimp farming, extensive shrimp farmingThe seedlings are reared using Biofloc technology.- Water is supplied from the pond to the nursery tank through a filter bag, then treated before nursing.- How to create Biofloc: Use a mixture of 0.5kg feed 0 + 3kg molasses + 2 liters of water + 01 microbiological pack (227 grams / pack), incubate for 10 - 12 hours without aeration, use continuously 3 day in the morning. During this time, continuously aerate to create Biofloc, then check the medium accordingly before stocking.- To create and maintain Biofloc in the nursery stage, it is necessary to provide more carbon sources to the pond to stimulate the growth of heterotrophic bacteria, nitrogen will be absorbed through the protein synthesis of microorganisms. There are many sources of materials that can be used to feed carbohydrates into the Biofloc system, including molasses or other sources. A quick and easy source of organic carbon that breaks down is best (molasses). At the same time, combining with microbiological sources (heterotrophic bacteria in the Biofloc system) aims to create Biofloc for sustainable development.2. Select seed and stock- Choosing breeds: You should choose to buy seed shrimps with clear origin from certified quality assurance facilities.- Stocking: Breeding density: Soil pond: 30 - 80 animals / m 2 ; lined ponds, nursery tanks: 1,000-2,000 animals / m 2 .Also read: Shrimp Aquaculture and Competitive Exclusion Of Pathogens3. Care and management3.1. Feeding:Lined canvas ponds, nursery tanks:- The amount of feed is calculated for 100,000 shrimp PL15:+ First day: 300g+ From day 2 - 10: Every day increase 50g+ From day 11-20: Every day increase 150g+ From day 21 - 30: Every day increase 300g.Pond: Feeding dose 1 - 1.5 kg / 100,000 seed, increasing from 5 to 10% of feed per day.- Size of feed for shrimp according to each stage according to the manufacturer's instructions.- Feed shrimp 04 times / day:+ 1st time: 05h00 - 06h00, 30% of total food amount of the day.+ 2nd time: 9h00 - 10h00, 20% of total food amount of the day.+ 3rd time: 15h00 - 16h00, 20% of the total amount of food in the day.+ 4th time: 20h00 - 21h00, 30% of the total food amount of the day.(Note: depending on environmental conditions, weather, shrimp health so we can balance the amount of food accordingly).- For forms of nursing on tanks, canvas, daily siphon and change about 10-20% of the water.- After about 20-30 days of age, transfer the shrimp to a square stage 2 culture.Also read: Evaluating Plant Protein Sources Replacing Fishmeal In Juvenile White Shrimp Diets3.2. Management of environmental factors- The pH factor: Test 2 times / day.- Alkalinity, NH 3 , H 2 S: Check once every 7 days.- In the nursery process, it is necessary to add lime, potassium minerals, ... to stabilize the environmental factors.- Periodically 7-10 days to use probiotics to clean the pond environment.3.3. Management of shrimp health- Observe every day farmed shrimp, especially the shrimp appendages such as beard, cow's feet, swimming legs ...; color; crust; operation of shrimp ... to detect abnormal symptoms and provide timely treatment.- Every day add a number of products such as: Vitamin C, synthetic minerals, intestinal enzymes, liver supplements, increase resistance ... to the diet to help shrimp have resistance and grow well.III. PHASE 2 (Growing commercial products):After 20-30 days of nursing time, shifting shrimp to square (phase 2), farming density: Improved extensive shrimp farming: 06 shrimp / m 2 ; extensive shrimp farming, shrimp - forest, shrimp - rice 03 heads / m 2 .During the culture process, always maintain a suitable water color and transparency (transparency 30 - 40 cm, water is light green or light brown) to create a natural food source in the shrimp square during the culture period.For improved extensive shrimp farming, depending on the development stage of shrimp, industrial feeds with appropriate protein and feed sizes are used throughout the culture process. When shrimps are 1 - 1.5 months old, supplement feed for shrimp, use industrial feed at dosage of 3-5% of the weight of shrimp herds; Add minerals, vitamins, digestive enzymes to feed, help shrimp gain weight quickly, increase resistance and develop well, limit disease outbreaks on shrimp.Regularly check the operating status, health of the shrimp, check the environmental factors of the farm such as: pH, temperature, transparency, alkalinity, ...; regularly check embankments, water supply and drainage culverts for timely treatment measures; periodically 10 - 15 days using probiotics to clean the water environment in the farming square.After 4 - 5 months of culture time, shrimp reaching the size of about 30-40 shrimp / kg, then harvest (can be harvested or collected entirely). Source: Tepbac.co.id ...
Shrimp Farming Techniques in Floating Tanks
Udang

Shrimp Farming Techniques in Floating Tanks

Designing the aquariumShrimp farming in floating tanks has many benefits such as: vertical walls should limit dirt and algae around the tank walls, thereby reducing tank cleaning, intestinal diseases caused by shrimp eating this dirt; The structure of the tank is floating, so there is no reverse osmosis from the outside to the inside, limiting disease infection from the outside environment. Waste is collected in the center, very convenient for siphoning, good water environmental management. Another advantage of the lake round the average area of 500 m 2 should use the staging fan less, just 2 unit ventilators 1 lake thereby saving fuel costs and also labor-saving system operation farming .Also read: Environment, Bacterial Community Dynamics and White Feces Disease Outbreaks in Shrimp PondsThe tank is specially designed with a round shape, built from a steel frame covered with HDPE canvas with a funnel-shaped bottom, vertical wall, an area of 500 m 2 . Some technical requirements during the installation of the aquarium include:• The nursery tank needs to be placed on a high soil position so that the bottom of the nursery tank floats higher than the pond water so that the water can be transferred to a large pond with the pre-installed plumbing system by turning the drain valve. no loss of nursery shrimp, the transfer of shrimp also becomes much lighter;• The circular nursery tank must have a steep slope of about 5% for easy waste collection;• The system of floating nursery tanks should have a water tank of equal volume. To be able to replace the water supply 100% when needed, the water tank must always be treated with a clean bacteria and ensure the standards to supply water for the nursery tanks;• The floating nursery tank is used for the nursery stage preparing to raise the meat, the farmer should use the orchid net to shield the temperature to reduce the amplitude of temperature fluctuations, partly reducing direct rainfall during heavy rain. Low cost, can be removed gradually so that shrimp accustomed to the temperature without cover, so shrimp are not subject to heat shock, ensuring survival rate;• Shrimp should be nursed in a small area of about 100 m 3 of water to easily manage and control the environment, measure the necessary parameters without being dependent on external conditions or extreme weather, sudden changes, proactively take the time to sow phase 2 when the best preparation for the growout pond.Also read: Effective Preservation and Use of Shrimp FeedShrimp farming processAccording to the scientists, shrimp farming by Biofloc technology has outstanding advantages: Free ammonia (the form of toxic gas for farmed aquatic products) is converted to protein in heterotrophic microbial biomass. , gather into Biofloc suspended in water and they will become food for farmed shrimp. From there, improving the level of biosafety, reducing the risk of disease infection due to no or less water exchange in intensive shrimp ponds - semi-intensive. Moreover, farming with Biofloc technology reduces the cost of food, drugs, and antibiotics to improve product quality as well as contribute to protecting the surrounding environment, aiming to make shrimp farming more and more sustainable.Shrimp farming in floating tanks is conducted through two stages:Hatching stage (stage 1): Nursing density: 1,000 - 3,000 shrimp / m 2; Shrimp nursery size: PL10 - 12; Nursing time: 20-25 days when the seedlings reach 1,000-2,000 / kg; Survival rate: 90 - 95%. The purpose of shrimp rearing from PL12 to PL40: Shrimp are healthy, have high resistance, have good resistance to environmental changes and diseases, especially AHPND / EMS. Fast growth, uniform shrimp, high survival rate. Shorten the grow-out time, reduce initial farming costs, limit risks during farming, increase crops per year and increase yields. During the shrimp nursery process, farmers must strictly follow the process of treating input water through settling ponds, treatment ponds, ready ponds, finally to the culture pond. Choose quality, disease-free seed, and nurseries in tanks for 20-30 days to reach uniform sizes before releasing them into ponds.Also read: Why Need to Add Minerals to Fish and Shrimp Feed?Some note:• When using a tank that is too small (less than 50 m 3 ) it can cause temperature fluctuations to occur rapidly. Therefore, it is necessary to use a large size tank with a carefully shielded roof, along with the even aeration of the pond wall.• Environmental shock when going to phase 2: Farmers should turn the water 1 - 2 days before, open the roof so that the shrimp get used to the outside environment. San shrimp at cool weather, early morning or evening• Ensuring good quality aeration, electricity, food, environmental testkit must be fully prepared. The care also needs someone with good technical and expertise, available 24/24 to ensure no breakdown and too long.The commercial shrimp farming stage (phase 2): Breeding density: 100 - 300 shrimp / m 2 ; Seed size: 1,000 - 2,000 shrimp / kg; Culture time: 65 - 80 days; Harvest shrimp size: 30 - 60 shrimp / kg; Productivity: 34 - 40 tons / ha; Survival rate: 90 - 95%. During the farming process, solid waste from ponds must be carefully settled and filtered and collected regularly. After 100 days of age, shrimp with an average weight of 30 shrimp / kg received commercial shrimp. The advantage of this model is that the survival rate of shrimp is very high at 90 - 100%. Due to the continuous use of fan reversing water, the installation of a circulating system, the amount of water used can be saved, and minerals are limited. Source: Tepbac.com ...
Mengenal Biofilm dalam Tambak Udang
Udang

Mengenal Biofilm dalam Tambak Udang

Meski bukan sesuatu yang baru di dalam dunia akuakultur, pembahasan soal biofilm di kalangan para pelaku usaha perikanan budidaya, terutama tambak udang relatif jarang dilakukan. Padahal biofilm mempunyai peran yang cukup serius pada tambak udang. Di satu sisi, biofilm disinyalir jadi pemicu beberapa wabah penyakit seperti EMS (Early Mortality Syndrome) dan WFD (White Fecess Desease), di sisi lain ia juga berperan dalam menjaga kualitas air dan menekan bakteri patogen. Tetapi apa sebetulnya biofilm itu? Menurut Dosen Perikanan dan Ahli Mikrobiologi dari Universitas Brawijaya, Andi Kurniawan, secara sederhana biofilm bisa diartikan sebagai suatu komunitas atau kumpulan mikroorganisme bakteri yang menempel pada pada beragam substrat. Mulai dari dasar tambak hingga peralatan yang biasa digunakan pada budidaya udang.  Menurutnya, hingga 99 persen bakteri hidup dengan membentuk biofilm. Dalam webinar yang diadakan oleh Minapoli beberapa waktu yang lalu, Andi menyebutkan bahwa konsep tentang biofilm penting dipahami agar bisa membuat perlakuan berbasis mikroba yang tepat dalam usaha budidaya udang.  Baca juga: Probiotik Herbal Kreasi Mahasiswa KKN Undip, Panen Ikan Lele Hanya 1 BulanIa menjelaskan bahwa bakteri di suatu perairan membentuk komunitas sebagaimana manusia memiliki rumah dan bermasyarakat. Seperti manusia di dalam rumah, bakteri pun hanya menjadi bagian kecil dari struktur bangunan biofilm. Menurut Andi, persentase bakteri dalam suatu biofilm tidak lebih dari 10 persen saja. Sebagian besarnya adalah EPS (Extracellular Polimeric Substance) pembentuk utama biofilm.  “Sehingga kalau orang ingin mengganggu kita, ingin mempengaruhi kita dengan hanya  mempertimbangkan keberadaan kita tanpa konsep rumah, tidak akan masuk dan tidak akan jalan. Kalau kita hanya ingin memanfaatkan atau menghindari dampak negatif mikroba dengan  melihat mikroba sebagai single cell, tidak hidup di dalam rumah, maka wajar kalau konsepnya salah dan tidak tepat,” jelas Andi. Baca juga: Probiotik dalam AkuakulturManfaat BiofilmSeperti sifat bakteri itu sendiri yang bisa memberi dampak positif dan negatif bagi kegiatan budidaya, biofilm pun memiliki peran ganda yang sama. Ia bisa memberikan manfaat dan sekaligus bisa membahayakan budidaya.  Dalam penelitian yang dilakukan oleh Andi, biofilm bisa berperan dalam mengurangi bahan organik seperti amonium di dalam tambak. Selain itu, biofilm juga bisa mengakumulasi dan immobilisasi (menahan) berbagai bahan pencemar, termasuk ion nutrien. “Ion nutrien kalau jumlahnya sudah sangat banyak bisa menyebabkan eutrofikasi. Biofilm membantu menangkap ini. Sehingga bisa digunakan untuk mengatasi pencemaran nutrien dalam air,” kata Andi. Dalam suatu artikel padas jurnal Aquaculture (2002) yang ditulis oleh Thompson dkk.*, menyebutkan bahwa penurunan konsentrasi amonium sangat erat kaitannya dengan peningkatan mikroalga chlorophyll-a pada biofilm. Ia menyimpulkan bahwa amonia pada wadah budidaya yang mengandung biofilm banyak diserap oleh mikroalga tersebut sebagai sumberdaya untuk memperbanyak diri.  Baca juga: Probiotik, Pencegah Penyakit dan Pendorong Produksi Perikanan BudidayaSelain menjaga kualitas air, biofilm juga bisa berperan dalam menahan pertumbuhan bakteri patogen. Dalam jurnal yang sama,  Thompson dkk. mengutip Karanusagar (1996) yang menyebutkan bahwa biofilm berpotensi untuk mengikat bakteri-bakteri patogen pada budidaya udang seperti Vibrio harveyi. Namun di sisi lain ia juga menyarankan agar biofilm tetap dibersihkan dalam wadah budidaya.  Hal senada disampaikan Andi, menurutnya meski biofilm memiliki manfaat dalam menjaga kualitas air dan menekan patogen, tapi ia tidak menyaran biofilm ditumbuhkan dan dipelihara dalam kolam budidaya bersamaan dengan udang. Ia lebih menyarankan pemanfaatannya dilakukan pada kolam treatment. Sebabnya, kata Andi, treatment untuk mengurangi bakteri patogen pada kolam budidaya akan lebih efektif dilakukan saat persiapan air.Artikel Asli ...
Polikultur Udang Galah dengan Bandeng
Udang

Polikultur Udang Galah dengan Bandeng

Pagi masih berkabut saat kolam polikultur udang galah dan bandeng air tawar seluas 700 m2 di kawasan Gamping Lor – Sleman Yogyakarta itu mulai surut airnya. Tiga orang pekerja hati-hati mengambil si capit panjang kebiruan dan bandeng yang mengkilap keperakan dengan jaring dari caren, ditampungnya ke dalam ember putih besar.Udang galah yang dipanen oleh Soeprijanto Soebardjo – pembudidaya ikan kawakan Yogyakarta hari itu, dimasukkan ke petak berokan panen untuk selanjutnya dilakukan size grading (pemilihan ukuran). Bandeng yang ukurannya lumayan besar dibawa ke kolam panen sedangkan yang masih berukuran kecil dimasukkan ke kolam pembesaran di sebelahnya.Tuji, purchasing representative resto Banyu Mili  - Yogyakarta yang membeli udang galah Soeprijanto menyatakan udang hasil polikultur ini bermutu bagus, warnanya cerah, bersih, dan cukup seragam ukurannya. “Kalau bisa dinaikkan lagi produksinya. Berapapun hasil panenannya saya siap membeli dan mengambil langsung di kolam seperti hari ini. Jogja masih sangat kekurangan udang galah, belum ada 50 % kebutuhan terpenuhi,”paparnya antusias.Baca juga: Ini 6 Rekomendasi Forum Udang Indonesia untuk Tingkatkan Ekspor Udang 250%Tebar dan PanenSebanyak 1.000 ekor benih bandeng (ukuran 12 – 15 gram per ekor) ditebar pada akhir Agustus 2013. Sebelumnya pada awal Juni 2013 kolam itu telah ditebari benur udang galah sebanyak 10.000 ekor. Penebaran sengaja tidak dilakukan bersamaan agar benur berkembang terlebih dahulu, sehingga tidak dimakan oleh bandeng.Udang galah pada kolam polikultur di panen umur 5 bulan setelah tebar. “Bobot panen mencapai 70 kg. Dari grading diketahui ukuran 25 - 40 ekor/kg sebanyak 39 kg, ukuran 41 - 60 ekor/kg sebanyak 15 kg, ukuran 61 – 80 ekor/kg sebanyak 10 kg, serta ukuran 81 - 100 ekor/kg  ada 6 kg,” urai Soepri. Harga udang galah bervariasi menurut ukuran, antara Rp 70 ribu - Rp 90 ribu/kg. Sayangnya angka sintasan (SR = Survival Rate) udang galah ini tergolong rendah, hanya 32 %.Baca juga: Berdayakan Warga Lokal, Strategi Pemda Buol Budidaya Udang VanameMenurut perkiraan Soepri, kemungkinan disebabkan karena kolam polikultur disusupi ikan lele dari kolam lain. Terlebih sewaktu mengalami molting (ganti cangkang), tubuh udang galah lemah dan lunak sehingga menjadi makanan empuk bagi lele. “Terbukti saat panen kami temukan 6 ekor lele, total seberat 8 kg di kolam polikultur,”tandasnya. Untuk itu ia berpesan kepada pembudidaya yang tertarik untuk mencoba polikultur dengan udang galah agar serius menjaga sterilitas kolam dari ikan predator/karnivora.Bersamaan dengan panen udang galah, bandeng juga ditimbang bobotnya. “Tetapi hanya yang ukuran 7 - 8 ekor (± 30%) yang dipanen, yang di bawah itu dibesarkan lagi di kolam lain,” ungkapnya. Total berat bandeng air tawar yang baru berumur 2 bulan itu mencapai 130 kg, dengan size 100 – 150 ekor/kg (ada sebagian 7 - 10 ekor/kg). Soepri menegaskan 70 % bandeng yang belum bisa dipanen saat itu tak sampai sebulan dibesarkan sudah mengejar menjadi ukuran 7 - 8 ekor/kg, yang harganya mencapai Rp 14.000,-/kg.Soepri cukup terkejut dengan hasil polikultur bandeng air tawarnya ini. Meski baru pertama kali mencoba, sintasan bandeng air tawarnya lebih dari 90 %. “Saya juga heran, nyaris tidak terlihat ada yang mati. Dan hitungan hasil panen juga begitu. Saya malah tertantang untuk terus mencoba menebar bandeng air tawar ini,” ujarnya sambil rehat di gubug.Baca juga: Begini Strategi Menggenjot Produksi Udang dengan Tetap BerkelanjutanPakanSoepri menggunakan pakan udang untuk memberi pakan kolam polikultur udang galah – bandeng air tawarnya. “Bandeng otomatis akan ikut makan pakan udang. Selain itu, karena kepadatan kolam sangat rendah, saya perkirakan pakan alami masih bisa menutupi kebutuhan nutrisi bandeng,” tuturnya.Fase 3 bulan pertama setelah udang galah ditebar/sebelum bandeng di tebar, udang galah diberi pakan dengan protein 40 % hingga berumur 1,5 bulan. Selanjutnya pakan diganti dengan protein lebih rendah, 37 % saja. Pakan berprotein 30 % diberikan pada bulan ketiga setelah benih bandeng ditebar, dan terus digunakan hingga panen udang galah pada bulan ke-5.Artikel Asli ...
Ini 6 Rekomendasi Forum Udang Indonesia untuk Tingkatkan Ekspor Udang 250%
Udang

Ini 6 Rekomendasi Forum Udang Indonesia untuk Tingkatkan Ekspor Udang 250%

Udang merupakan salah satu komoditas ekspor unggulan Indonesia. Oleh karena itu, KKP terus berupaya untuk meningkatkan ekspor udang hingga 250% di tahun 2024. Forum Udang Indonesia melalui telekonferensi persnya memberikan 6 rekomendasi yang dapat dilakukan untuk mencapai target tersebut.Target peningkatan ekspor udang 250%, deprediksi akan meningkatkan nilai ekspor udang dari 1,75 M USD pada tahun 2019 menjadi 4,25 M USD di tahun 2024. Hal tersebut dapat tercapai apabila target pertumbuhan majemuk tahunan sebesar 19,8% terlampaui.Budhi Wibowo sebagai ketua umum Forum Udang Indonesia (FUI), menjelaskan target tersebut dapat dicapai melalui dua cara, yaitu meningkatkan nilai atau value (harga/kg) ekspor udang dan juga jumlah  atau volume produksi ekspor udang.  Kedua cara ini nantinya akan didukung dengan 6 rekomendasi yang diberikan oleh FUI.Upaya peningkatkan ekspor udang sebesar 250% ini dilatar belakangi data peningkatan nilai dan jumlah udang pada tahun 2019 hingga November 2020. Budhi mengutarakan bahwa nilai ekspor diperkirakan akan meningkat sebesar 20%, sedangkan untuk volume produksinya diprediksi akan meningkat hingga 15% di akhir tahun 2020.Selain itu, nilai rata-rata ekspor udang juga ditargetkan akan meningkat dari 8,2 USD / kg menjadi 10,5 USD / kg di tahun 2024. Sedangkan peningkatan volume ekspor udang dari 207.000 ton, diprediksi akan menjadi 405.000 ton di tahun 2024. Berikut ini adalah 6 rekomendasi yang diberikan oleh FUI selama 5 tahun ke depan, yang dijelaskan oleh Sekjen FUI, Coco Kokarkin.Baca juga: Tingkatkan Produktivitas Udang Windu, UI Kenalkan Pupuk Tambak Minametrik1. Penyederhanaan perizinanCoco menjelaskan bahwa hal ini merupakan persoalan utama yang perlu diatasi bersama untuk meningkatkan investasi usaha udang di Indonesia. Pada tahap ini, FUI merekomendasikan lembaga pemerintahan untuk menyediakan hotline call yang dapat dihubungi sewaktu-waktu untuk pelayanan terkait perizinan.Budhi juga menjelaskan bahwa penyederhanaan perizinan dari yang jumlahnya 21 menjadi 2-3 perizinan juga dapat mempermudah investasi untuk masuk. 2. Pengembangan infrastrukturPerbaikan-perbaikan infrastruktur yang perlu dijadikan prioritas di antaranya adalah saluran irigasi, IPAL kolektif/komunal, jalanan produksi, laboratorium, dan juga ketersediaan pasokan listrik untuk kelancaran proses budidaya udang.Selain itu, juga diperlukan ketersediaan induk yang berkualitas untuk menjamin kualitas benur. Perlu juga untuk membangun balai Nauplius yang profesional dan didukung oleh balai produksi fitoplankton. Hal tersebut akan sangat mendukung terciptanya alur produksi udang yang baik dan terbebas dari penyakit.Baca juga: Begini Strategi Menggenjot Produksi Udang dengan Tetap Berkelanjutan3. Revitalisasi tambakLingkungan dan faktor sosial adalah isu yang sangat sensitif dan berkaitan dengan pembangunan tambak. Oleh karena itu perlu dilakukan revitalisasi tambak atau peningkatan teknologi tambak tradisional menjadi semi intensif.Selama 5 tahun ke depan, target peningkatan teknologi ini akan dilakukan dengan pembangunan tambak udang intensif sebanyak 200 ha per tahun. Sedangkan dari tambak dengan sistem tradisional ke semi intensif sebanyak 3.000 ha per tahun.Revitalisasi ini juga diharapkan dapat meningkatkan produktivitas tambak-tambak yang ada di Indonesia. Kegiatan ini perlu didukung dengan sistem irigasi yang baik, penggunaan benur unggul, penanggulangan penyakit, dan peningkatan teknologi. Coco juga memaparkan bahwa revitalisasi ini dapat diwujudkan apabila pemerintah dengan masyarakat membuat pilot project terkait peningkatan produktivitas tambak tradisional. Sekaligus bekerja sama dengan pihak swasta untuk membuat tambak tersebut berwawasan lingkungan.4. SOP Budidaya BerkelanjutanSebagai salah satu sumber pangan, udang yang akan diproduksi perlu dipastikan keamanan dan ketahanannya. Oleh karena itu penting untuk mewajibkan SOP budidaya udang yang berkelanjutan pada masing-masing tingkat teknologi budidaya. SOP ini mencakup peraturan mengenai IPAL dan juga biosecurity. Selain itu sebagai upaya untuk memenuhi permintaan negara pembeli, Coco menyatakan perlu adanya bantuan pemerintah dalam penyediaan fasilitas agar tambak lebih mudah terferifikasi dan disertai sistem traceability dari hulu ke hilir. 5. Meningkatkan produk bernilai tambahSeperti yang telah dijelaskan Budhi sebelumnya bahwa produk ekspor berupa olahan mengalami peningkatan nilai dan volume tertinggi. Oleh karena itu produksi produk olahan perlu kembali digenjot untuk memenuhi permintaan pasar.Dikemabangkannya branding Indonesia Shrimp untuk memperluas pasar diluar USA juga perlu dilakukan. Budhi menjelaskan bahwa negara lain yang dapat dijadikan target ekspor udang Indonesia di antaranya adalah Jepang, Uni Eropa, Timur tengah, bahkan kawasan Amerika Selatan.Walaupun Amerika Selatan merupakan daerah penghasil udang, namun produk Indonesia dapat tetap masuk dan bersaing dalam bentuk olahannya. Daerah Amerika Selatan memiliki biaya yang cukup tinggi untuk membayar SDMnya, sehingga belum banyak produk value added. Baca juga: Garap Celah Baru Pasar Udang6. Menurunkan tingkat resiko budidaya udangCoco menjelaskan bahwa pemerintah dapat memberikan dukungan pendanaan kepada petambak melalui beberapa cara.Pertama, pemerintah dapat mendorong lembaga keuangan untuk menurunkan tingkat resiko budidaya udang  sehingga aset-aset produktif tambak dapat digunakan sebgaia agunan atau jaminan.Melalui cara ini, petambak dapat memperoleh dukungan pendanaan dari lembaga keuangan seperti Bank Indonesia dan OJK. Selain itu, pemerintah dapat memberikan kredit berbunga murah kepada petambak melalui skema KUR, atau melibatkan fintech dalam hal pembiayaan.Sebagai penutup, Budhi menyatakan optimismenya dalam pencapaian target peningkatan ekspor sebesar 250% apabila ada sinergi dari seluruh pemangku kepentingan. Ia juga berharap bahwa rekomendasi ini dapat dijadikan acuan utama untuk rencana tercapainya target ini ke depannya. Ditulis oleh Tim Minapoli ...
Berdayakan Warga Lokal, Strategi Pemda Buol Budidaya Udang Vaname
Udang

Berdayakan Warga Lokal, Strategi Pemda Buol Budidaya Udang Vaname

“Pemda melalui Dinas Perikanan telah membuat satu tambak percontohan udang vaname di Desa Lakea, Kecamatan Lakea,” ungkap Bupati Buol Amirudin Rauf di Buol, beberapa waktu lalu.Ia mengatakan, budidaya udang vaname Buol dengan konsep pemberdayaan warga lokal. Bertujuan membantu perekonomian masyarakat di tengah pandemi Covid 19. Apalagi, saat ini komoditas udang bernilai ekonomi tiggi. Harganya mencapai USD250 miliar atau sekitar Rp3,6 miliar setiap tahun.Baca juga: Begini Strategi Menggenjot Produksi Udang dengan Tetap BerkelanjutanIndonesia sendiri urutan urutan ketiga sebagai negara pengekspor udang di pasar dunia setelah Thailand dan India. Jenis udang yang diekspor oleh Indonesia di antaranya adalah udang windu dan udang vaname.“Kami juga akan fokus mensinergikan program pemerintah pusat di daerah,” sebutnya.Caranya, dengan menjadikan Udang Vaname sebagai primadona ekonomi baik untuk peningkatan kesejahteraan dampak pada pembukaan lapangan kerja secara luas.Baca juga: Tingkatkan Produktivitas Udang Windu, UI Kenalkan Pupuk Tambak MinametrikSejak Tahun 2019, Kabupaten Buol sudah mulai menggalakan budidaya Udang Vaname, dengan membuat beberapa tambak percontohan.Tahun 2020, kami sedang membuat tambak perkontohan dengan skema skema, tepatnya di Kelurahan Kampung Bugis dengan anggaran miliaran rupiah.“Dengan memanfaatkan lahan kurang lebih 5 hektar. Kita akan jadikan budidaya udang vaname ini sebagai program strategis ekonomi daerah,” urainya.4 Juta Benih Disiapkan, Buol Budidaya Udang VanamePemda Buol menyiapkan segala sesuatunya untuk budidaya udang vaname.Salah satunya benur atau benih udang.“Dalam waktu dekat Pemkab Buol akan membeli 4 juta benur yang nantinya akan diberikan kepada masyarakat,” tutur Bupati Buol Amirudin Rauf.Kemudian, Pemda Buol juga akan mengadakan 300 ribu benur untuk diberikan kepada masyarakat yang tergabung dalam kelompok pembudidaya udang vaname.Baca juga: Prof Dr Etty Riani Berhasil Pijahkan Udang Windu AfkirKarena itu, Bupati meminta agar bantuan yang akan diberikan kepada masyarakat, betul-betul diberikan kepada yang membutuhkan. Lebih lanjut, ia juga menyampaikan agar ketika benur dan nener lobster yang akan diberikan ke masyarakat, untuk disimpan dulu beberapa hari di tambak percontohan itu.“Simpan dulu di sini beberapa hari, agar bisa beradaptasi. Masyarakat yang akan mendapatkan bantuan juga diberikan pelatihan dulu bagaimana cara mengembang biakan. Jangan sampai mati benih itu. Begitupun kalau mau dimasukkan ke tambak atau empang, jangan langsung dimasukkan saja,” sebutnya.Bupati menginginkan agar semua kelompok calon penerima bantuan untuk diberikan arahan terkait bantuan kegiatan agar tidak salah dalam pelaksananya. Ia meminta untuk mengatur agenda, kumpulkan semua kelompok penerima berikan arahan yang baik dan benar agar tidak salah.“Saya akan hadir memberikan arahan sekaligus mengecek kelompok penerima. Apakah benar-benar memang masyarakat yang berhak menerima,” ucapnya.Buol Jadi Pusat Pengembangan Industri Udang Vaname Nasional. Kabupaten Buol menjadi satu dari lima kabupaten di Indonesia yang dipilih menjadi pusat pengembangan industri udang vaname nasional. Program ini merupakan kerjasama lintas departemen yakni menko maritim, pengelola kelautan, pengelola PUPR, Bappenas, dan kantor Staf Kepresidenan.Tahun ini untuk kelautan membangun tambak contoh di kampung bugis dengan luas areal kurang lebih 5 ha. Tahun depan kementerian PUPR membuat dan menyusun SID (perencanaan) untuk 1000 ha.Baca juga: Tahap Molting Pada Udang“Yang paling penting dari pencanangan Udang Vaname sebagai program strategis ekonomi daerah adalah: sistem pengelolaanya berbasis komunitas / kelompok. Jadi, kita akan dapat mengelolah lahan yang luas, namun kolektif komunitas akan sangat berpengaruh, dalam peningkatan produksi dan pembukaan lapangan pekerjaan semua” urainya.Ia mengatakan, masyarakat yang ingin terjun dalam budidaya udang Vaname ini, cukup siap dengan lahan maksimal 0,5 Hektar. Dan membentuk kelompok yang terdiri dari beberapa orang. Pemda melalui pemerintah pusat siap mendanai segala biaya produksi, baik tekhnologi maupun pakan sampai dengan panen perdana.“Tahun depan kami sedang mengupayakan pengadaan Eskavator Rawa, untuk suksesnya program ini,” jelasnya.Sebagai program strategis ekonomian daerah, tentu efek domino dari program ini adalah pertumbuhan ekonomi rakyat dan pembukaan lapangan kerja yang luas. Contoh kasus di Kelurahan Buol Dusun Bhuoyong, Panen perdana menghasilkan 2.5 ton.Hasil produksi ini dapat menghasilkan laba bersih ratusan juta rupiah. Dengan hasil ini dapat meningkatkan perekonomian rakyat.Selain pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat, proyeksi lapangan udang Vaname dapat membuka pekerjaan yang luas, otomatis mengurangi angka pengangguran.“Jika di asumsikan 1 hektar menyerap 2 tenaga kerja bahkan lebih. Maka proyeksi Tahun 2021 yang di rencanakan mencapai 1000 hSumber: Gema Sulawesi ...
Environment, Bacterial Community Dynamics and White Feces Disease Outbreaks in Shrimp Ponds
Udang

Environment, Bacterial Community Dynamics and White Feces Disease Outbreaks in Shrimp Ponds

Various bacterial diseases have been causing severe economic losses to the shrimp farming industries in Asia and Latin American for several years. These bacterial diseases include white feces disease (WFD), which together with acute hepatopancreatic necrosis disease (AHPND), reportedly are considered the most infectious and lethal ones. WFD has been occurring in Asian shrimp aquaculture since 2009 and seriously impacted shrimp survival in ponds, and its events are characterized by the presence of white fecal strings which float in the rearing water. They usually occur after approximately 50 days of culture, resulting in retarded shrimp growth, unprofitable harvests and even mass mortality.Changes in the affected shrimp hepatopancreas and midgut associated with WFD indicate a pathological process in the animal’s gut. The microsporidian Enterocytozoon hepatopenaei (EHP), bodies resembling protozoan gregarines and certain culturable Vibrio species have been reported as potential causative agents of WFD. And deteriorated water quality with oxygen concentrations below 3.0 mg per liter and alkalinity below 80 ppm have been reported as involved in causing peak mortality rates during WFD outbreaks. However, the origin of WFD in shrimp ponds remains inconclusive.Also read: Pacific White Shrimp Responses to Low Salinity Temperature FluctuationsThe composition of intestinal bacteria has a strong influence on shrimp health. WFD can be initiated in healthy shrimp by transplantation of intestinal microbiota of diseased shrimp. Bacterial community composition in shrimp intestines may dynamically change following shrimp development and diets. And the water column and the underlying sediment (shrimp habitat), may affect intestinal bacteria with those of wild shrimp differing from those of domesticated/cultured shrimp. Yet, there is little information about the interaction between rearing water parameters, intestinal bacteria, fecal string bacteria and bacterial community composition in pond waters before, during and after disease outbreaks.Therefore, we believe more extensive information of bacterial community dynamics including pathogenic bacteria in pond water and in association with the shrimp at disease and non-disease stages is needed to understand and prevent WFD and to treat diseased shrimp. We further propose that sudden changes of water quality will first affect bacterial communities in pond water (water bacteria/pond water) and subsequently shrimp physiology and their intestinal bacteria.This article – adapted and summarized from the original publication [Alfiansah, Y.R.et al. 2020. Structure and co-occurrence patterns of bacterial communities associated with white feces disease outbreaks in Pacific white-leg shrimp Penaeus vannamei aquaculture. Sci. Rep. 10, 11980 (2020)] – reports on a study to understand environmental conditions and bacterial community dynamics contributing to white feces disease (WFD) events, where we analyzed water quality and compared bacterial communities in water as well as in intestines and feces of healthy and diseased Pacific white shrimp (Litopenaeus vannamei) respectively.Study setupThe shrimp ponds evaluated are located in Rembang Regency, Central Java, Indonesia. Water samples were collected from one pond with healthy L. vannamei (P1, which served as control) and three shrimp ponds (P2, P3, and P4) that experienced a WFD event at between 50 to 70 days of their culture cycle. All ponds were lined with high density polyethylene (HDPE) plastic and chlorinated two weeks before shrimp stocking. Initial population densities were 40 (P2) and 90 specific pathogen free, 15-day old postlarvae per cubic meter (P1, P3, and P4), with all postlarvae from the same commercial, local hatchery.For bacterial community analysis, 10 fresh, white fecal strings were collected from feeding trays of each pond with infected shrimp. Ten healthy shrimp from P1 were collected using the feeding tray and put on ice in the cold storage immediately. These animals were then dissected in the laboratory to collect their full intestines. All samples were immediately preserved and stored at minus-20 degrees-C until DNA extraction and various analyses.For detailed information on the experimental design, sample collection and sampling sites; bacterial culture and identification; molecular analysis of bacterial communities; detection and quantification of virulence genes; and data analyses, refer to the original publication.Also read: Electrochemical Detection of WSSV With Disposable ElectrodeResults and discussionTo better understand WFD outbreaks in L. vannamei aquaculture, we measured water quality and analyzed bacterial community dynamics in shrimp culture ponds. Based on the visual estimation of white fecal string numbers in the ponds, we divided the WFD event into two phases: start of disease (early symptoms), represented by P3 and P4, with lower numbers of white FS; and early outbreak represented by P2, with greater numbers of white fecal strings. Because bacterial communities of fresh shrimp feces and that of the full intestines of healthy L. vannamei have been shown to be comparable, we only dissected the intestines of healthy shrimp and analyzed them together with the fresh fecal strings collected from diseased shrimp.Our results showed that WFD occurred when pH changed from 7.71 to 7.84, and the bacterial species Alteromonas, Pseudoalteromonas and Vibrio dominated the aquatic bacterial communities. The disease severity further correlated with increased proportions of Alteromonas, Photobacterium, Pseudoalteromonas and Vibrio in shrimp feces. These opportunistic pathogenic bacteria constituted up to 60 percent and 80 percent of the sequences in samples from the early and advances stages of the disease outbreak, respectively, and exhibited a high degree of co-occurrence.Microbial activities – including organic matter degradation, respiration and nitrification process and accumulation of dissolved carbon dioxide – will result in a decrease of pH and alkalinity, as was observed in ponds with diseased shrimp. In contrast, external intervention by regular addition of limestone and reactive silicate may buffer pH and alkalinity levels, which we observed in the pond with healthy shrimp.Also read: Why Need to Add Minerals to Fish and Shrimp Feed?Our study also indicates that a pulse disturbance, such as a sudden decrease of pH (below 8) and dissolved oxygen (below 6 mg per liter), and an increase of inorganic nutrients as observed in P2-P4, may affect shrimp and bacterial communities in shrimp pond water. The pulse disturbance caused stress in the shrimp, which may in turn have induced changes in the intestinal bacterial communities, resulting in opportunistic pathogenic bacteria – such as Alteromonas, Marinomonas, Photobacterium, Pseudoalteromonas and Vibrio – becoming dominant in the bacterial communities in white fecal strings.We observed a gradual shift from presumably beneficial bacteria-dominated to potential pathogen-dominated fecal string bacteria, which coincided with the progression of the disease from the ponds with early symptoms to the pond at early outbreak. This suggests that changes in intestinal bacterial communities may be closely associated with the severity of the shrimp disease. This hypothesis is supported by previous studies, which reported that changes in shrimp intestinal bacteria occurred in parallel with changes in disease severity, reflecting the transition from a healthy to a diseased state.Among the potential pathogenic taxa, which dominated fecal string bacteria communities in our study, Photobacterium, Pseudoalteromonas and Vibrio corresponded to those previously observed to be associated with the WFD events. However, some genera such as Aeromonas, Candidatus Bacilloplasma, Phascolarctobacterium and Staphylococcus, which were reported to be present in previous studies, were absent in our samples during the WFD event. It is important to consider, though, that geographical location, shrimp farm management, and different methodological approaches may influence the detection of bacterial taxa.Also read: Effective Preservation and Use of Shrimp FeedBased on results of our analyzes, we propose that lower pH altered growth rates of heterotrophic bacteria, resulting in a dominance of opportunistic, potentially pathogenic bacteria such as Alteromonas, Pseudoalteromonas and Vibrio in pond water. Since shrimp feces easily disintegrate in the pond water (up to 27 percent within 12 hours) due to water movement and mechanical aeration, we suggest that fecal string bacteria enriched pond water, thereby contributing to the dominance of free-living or particle-associated Alteromonas, as we observed in P2.Disintegration of feces will facilitate bacterial dispersion, as well as protein and inorganic nutrient enrichment from feces. The enrichment of the pond water by opportunistic pathogenic bacteria further seemed to correlate with disease severity and the number of infected shrimp. This is reflected in the significantly higher concentrations of certain genes in pond water samples from the early outbreak phase compared to the ponds with early symptoms.Furthermore, if greater numbers of pathogenic bacteria are released in the pond water and incorporated into particulate matter, it will accelerate the spread of the disease among shrimp, since healthy shrimp may consume pathogen-laden particles and become intoxicated. Thus, in this scenario, fecal string bacteria not only contribute to bacterial abundance, structure and function of the rearing water, but also enforce a detrimental feed-back on shrimp health.In our results, the detection of Vibrio OTUs [operational definition used to classify groups of closely related individuals] in both healthy and infected shrimp and in inversely correlated co-occurrence suggests the presence of different Vibrio strains with contrasting interactions. While some Vibrio OTUs might represent opportunistic pathogens, others may even be beneficial in low proportions. Alternatively, the co-occurrence with other bacteria such as Acinetobacter may prevent the activation of virulence factor genes, despite the presence of potentially pathogenic Vibrio in the intestines of healthy shrimp.Also read: Resistance to Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease of Egg Yolk AntibodiesConsidering differences of intestinal bacteria communities of healthy shrimp and pond water at non-disease event from those of WFD samples, as well as co-occurrence patterns in healthy and diseased shrimp samples, we highlight that the dysbiosis [a microbial imbalance or maladaptation on or inside the body] in intestinal bacteria and a shift from halophilic bacteria-dominated to pathogenic bacteria-dominated in pond waters contribute to the origin of the studied WFD outbreak.We emphasize that immediate re-adjustment of water quality parameters – specifically adjusting pH to above 8 – will allow pond water to return to its pre-disturbance composition and terminate the outbreak, followed by recovery from WFD, as indicated by the lack of symptoms and detectable virulence genes in pond water, and no shrimp mortality. This implies a resilience of bacterial communities in shrimp pond water after short disturbances, as can also be observed in other environments. However, we point out that prolonged exposure to water deterioration and elevated pathogen proportions may increase disease severity and lead to mass mortality of cultured shrimp as previously observed.Our findings on the application of commercial probiotics to cure WFD in shrimp revealed that probiotic bacteria such as Lactobacillus were absent in pond water, intestinal bacteria and fecal string bacteria, suggesting that such an application was not effective. Lactobacillus was no longer detectable after they were diluted in the shrimp pond water. Instead of spreading the probiotics into the pond water, we propose to add them to the feed pellets, which will be eaten by the shrimp. This way, colonization of probiotic bacteria in the shrimp intestine may occur more effectively.PerspectivesResults of our research showed that environmental stressors – specifically a decrease in pH and dissolved oxygen – induced a substantial bacterial community shift in pond water and affected shrimp physiology, which in turn resulted in changes of the intestinal bacterial community and subsequently the emergence of WFD. Moreover, we observed several opportunistic bacterial taxa – such as Arcobacter, Alteromonas, Marinomonas, Photobacterium and Pseudoalteromonas – which may contribute to or even cause WFD.To prevent shrimp losses, shrimp farming management should focus on maintaining the quality of pond sediment and water (i.e. pH, dissolved oxygen, turbidity, inorganic nutrients and suspended particulate matter), as well as promoting a stable composition of the intestinal bacterial community, where beneficial bacteria – even in low proportions – are able to inhibit the pathogenicity of Vibrio.In conclusion, pond water pH was a reliable indicator of the risk of WFD outbreaks; and dissolved oxygen and compositions of water and intestinal bacteria may also serve as indicators for better prevention of WFD events.Source: Aquaculture Alliance ...
Why Need to Add Minerals to Fish and Shrimp Feed?
Udang

Why Need to Add Minerals to Fish and Shrimp Feed?

Aquatic species are species capable of absorbing minerals from the water environment or through food. Fish and shrimp in the pond can also thanks to the exchange of osmotic pressure that partly satisfy their mineral deficiency. However, the mineral requirement of shrimp and fish is very high. If only thanks to the above natural minerals, it is definitely not enough under intensive farming conditions. Hence, it is essential to have mineral intervention from the outside.Pathway of mineral absorption of fish and shrimpThe water environment in which the fish and shrimp are living has a high osmotic pressure (hypertonic). Therefore, thanks to the salt exchange process with the outside environment, they will absorb some of the available elements in the water environment. Osmotic pressure regulation mechanism will help shrimp and fish adapt well to changing environment. However, this ability will decrease naturally as the crayfish grow to maturity. This may mean that the larger fish and fish, the higher their mineral requirements will be. And the more fresh water you live in, the more minerals you need from outside.Minerals are also absorbed by fish and gills through the gills, skin and fins. However, this absorption depends on many factors including water quality parameters, weather and their health. Only direct absorption when mixed with food is most effective when fish easily absorb directly with a large amount of necessary minerals.Also read: Evaluating Plant Protein Sources Replacing Fishmeal In Juvenile White Shrimp DietsThe importance of mineralsElements such as Calcium, Phosphorus, Magnesium are important components in the body structure of fish and shrimp. Minerals are also involved in many physiological processes, catalysts for physical and chemical reactions in the body. Many components of the immune system must be composed of minerals in order to become sure, to become a strong barrier to disease.For shrimp, they need to molt, so that they can grow up and develop. And molting is exactly the most sensitive time of shrimp, this stage also needs minerals the most for the process of forming a new shell and recovering health. When lacking minerals, shrimps are easy to bend the body, causing muscle deformity. Many studies have demonstrated that magnesium absorption decreases when calcium and phosphorus are absorbed too much. The balance of minerals to ensure that there are no missing elements is a difficult problem in shrimp farming today.Fish is more active than shrimp, so the requirement for minerals will be higher, giving the fish enough energy for their activities. Lack of minerals, fish are susceptible to body curvature, back scoliosis, reducing product value when being placed on the market. The elements in minerals are also catalysts for the reproduction process, ensuring the survival rate for the eggs and later fry.When water quality parameters are fluctuated, it is time for fish and shrimp to need a lot of minerals. However, the mineral absorption of fish and shrimp depends on many factors, including their health, life stage and methods of mineral supplementation of farmers.Also read: Shrimp Aquaculture and Competitive Exclusion Of PathogensMinerals are added directly to shrimp and fish through the digestive tractWhen farming intensive fish and shrimp, if only relying on minerals in the environment, it is definitely not enough. So it is very necessary to add minerals. There are very few mineral supplements on the market that are directly mixed with the feed, although this form will help fish and shrimp use more minerals. MCP diges are digestive minerals that can do this trick . Shrimp and fish will be directly absorbed daily through digestion. With a variety of trace mineral elements and macronutrients, ensuring the balance of minerals in the body, especially Calcium, Phosphorus and Magnesium. Adding a characteristic odor, attracting shrimp and fish to find food pellets, increases their mineral absorption. Also read: Effective Preservation and Use of Shrimp FeedWith the addition of 3 to 5 ml of MCP diges per kg of feed on all scales , the molting process of shrimp is easier and more efficient. Shrimp grow quickly and avoid some diseases due to lack of minerals such as curvature of the body, turbidity in high temperature. In addition, the farmed fish will also become active, swimming quickly, without having a crooked back or curved body. The timely replenishment will limit the mineral deficiency, helping shrimp and fish achieve the desired values.Source: Tepbac.com ...
Effective Preservation and Use of Shrimp Feed
Udang

Effective Preservation and Use of Shrimp Feed

Shrimp feed quality is an important factor in the success of the brackish water shrimp crop. Good food preservation and management not only helps ensure the quality of feed, thereby helping shrimp gain weight quickly, with less disease, but also reduce production costs and create products that ensure food quality, hygiene and safety products.Proper food preservationFor pellets and supplementary feeds, shrimp farmers must choose the products of manufacturers that have declared quality in accordance with the regulations, in the list of aquatic feed permitted for circulation in Vietnam. has been widely and effectively used. In case of using new feed, quantitative ingredients and banned substances in the food must be checked if in doubt.When receiving feed from agents, farmers need to choose batches of pellets that must have their original packaging intact, not wet, and the expiry date must be at least 30 days. Food packaging labels must comply with the quality announcement, take samples to check banned substances when in doubt. If all the above contents are satisfactory and the results of sampling for banned substances such as Chloramphenicol, Nitrofurans, Aflatoxin, Desamethazone when in doubt, if the result is negative, then enter the food into the warehouse.Also read: Resistance to Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease of Egg Yolk AntibodiesFeed storage at shrimp farming facilities must be clean, cool, dry, prevent pests and not leak. The pellets must be stowed neatly, on a pallet of at least 10 cm high. The pellets are classified according to a separate code. Supplementary foods must be stacked separately on the pallet.All products in stock must have a clear label and origin. Foods must be arranged 10 cm from the wall and left aisle to facilitate food import and export. The import and export of food must follow the principle of "first in - first out". Food that is not used up in one time must be tightly closed or tied and kept in the right place.Feeding the shrimp technicallyThe feed used in intensive and semi-intensive shrimp farming is mainly industrial feed of high quality (with a guaranteed crude protein content of 40-45%) that has been checked for quality by functional agencies. Feed conversion ratio is from 1.2 to 1.4 under good management and feeding conditions. The number of times to feed shrimp is 3-5 times / day depending on the size of the shrimp.The number of feedings increased as the shrimp got bigger, and the feed rate for shrimp was calculated as a percentage of the body weight. Small shrimp have a higher feed ratio than large shrimp because shrimp need more food to grow fast. The calculation of the daily feed quantity has been specifically calculated in the feeding instructions given to shrimp farmers by feed manufacturers, but mainly based on their health status and actual feed requirements. shrimp by checking the feeding screen. When feeding shrimp, it is necessary to spread the food evenly over the pond.Also read: Shrimp Aquaculture and Competitive Exclusion Of PathogensIf stocking shrimp of P15 size, in the first day of week 1 feed 1.5-2 kg pellets for 100,000 P15 - P20. Then each day increased to 100 - 200 g. The second week, after each day increased to 200 - 400 g. The third week, after each day increased to 400 - 600 g. Fourth week, after each day increased to 600 - 800 g. 4 times a day at the times: 6 - 7 am, 10-11 noon, 17-18 pm and 23-24 pm.Shrimps raised from 1 month or more need to use hooves to check the shrimp's diet to adjust feed in time. Each pond should be placed 4 or more pots based on the area of the pond. Choosing the location to check shrimp feed must be reasonable to have accurate inspection results. The pond should be placed 1 meter away from the pond edge and only add food to the pond after it has finished spreading food into the pond, place it in a clean place in the pond.Source: Tepbac.com ...
Resistance to Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease of Egg Yolk Antibodies
Udang

Resistance to Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease of Egg Yolk Antibodies

Application of egg yolk antibodies IgYB to enhance immunity, against AHPND acute hepatopancreatic necrosis disease in white shrimp.Currently, there are many solutions to help strengthen the immune system of shrimp towards biosecurity, not only with simple practices but also with high efficiency. Recent research by the author Tran Thi Tuyet Hoa and colleagues (Department of Fisheries, Can Tho University) showed that supplementary food IgYB improves survival and enhances the immunity in vannamei when challenged. with V. parahaemolyticus . Immunoglobulins (Ig) are antibodies of a glycoprotein nature. Immunoglobulins Y (IgY) are produced from the egg yolks of a hen and differ in protein nature compared to mammalian Ig. To produce specific antibodies, a specific antigen ( Vibrio parahaemolyticus, Vibrio harveyi, Vibrio anguillarum ) is injected into the hens' breast muscle. After the production, the specific antibody will switch to the egg yolk to produce IgY antibodies.In recent years, egg yolk antibody (IgY) has attracted considerable attention because it has many advantages: it helps the subject object to be resistant to pathogens, is environmentally friendly, stable, Safe, economical and contains high concentrations, with no side effects or harmful residues. Therefore, IgY is successfully used in medical immunology and is applicable for passive immunization in both animals and humans.Also read: Shrimp Aquaculture and Competitive Exclusion Of PathogensCurrently, the increase in farming area along with intensive farming leads to widespread epidemic diseases, seriously threatening productivity and  sustainable development of shrimp farming. In which, V. parahaemolyticus is a causative agent of acute hepatopancreatic necrosis  disease (AHPND) causing mortality up to 100% after 20-30 days after stocking. Therefore, the application of egg yolks to resist acute hepatopancreatic necrosis disease of white shrimp is necessary.The study evaluated the immune parameters and survival rate of shrimp. The experiment includes 4 treatments: negative control; positive control; the IgYA 0.5% treatment and the IgYB 0.5% treatment over a 5 week period. The bacteria were then challenged with V. parahaemolyticus by immersion method with a concentration of 1.6 x 10 7 CFU / mL.IgYA and IgYB egg yolk antibodies are sprayed over the food pellets at the rate of 0.5%, continue to cover the food pellets with squid oil and stored at 4 ° C.Also read: Transcriptomic Analysis of Pacific White Shrimp in Response to AHPNDThe results of the above experiment showed that adding IgY to the feed has the ability to help shrimp increase resistance to bacteria causing acute hepatopancreatic necrosis disease V. parahaemolyticus , in which shrimp in the treatment treatment supplemented with 0.5 IgYB. % had the lowest mortality during the time of the challenge.Meanwhile, total blood cells in treatments susceptible to V. parahaemolyticus , NT4 (supplemented with 0.5% IgYB) had the highest values of THC, granulocyte and prophenoloxidase activity, respectively. 1.89x10 4 tb / mm 3 , 1.53x10 4 tb / mm 3 , 0.173x10 4 statistically significant differences (p <0.05) with the remaining treatments.Also read: Electrochemical Detection of WSSV With Disposable ElectrodeThe addition of IgY helps to stimulate the immune system specific to the pathogen, so when bacteria enter the shrimp body, it will increase the immune response and the participant (prophenoloxidase, serum lysozyme, ...). In this experiment, the results of analysis of the immune parameters of vannamei shrimp after challenge showed that supplementing with 0.5% IgYB helped increase the immune response of shrimp, through an increase in numbers. amount of blood cells, granulocytes, granulocytes and PO activity thereby increasing disease resistance to V. Parahaemolyticus .Vannamei shrimp fed with egg yolk antibodies 0.5% IgYB to help vannamei strengthen immunity, increase survival rate when susceptible to V.  parahaemolyticus .The study of applying Vibrio-resistant egg yolks to white shrimp has opened up a great potential in the way of using biological agents to limit the harmful effects of this dangerous bacteria.Source: Tepbac.comReport on  Effects of diets with egg yolk antibodies on the immune response and disease resistance of white leg shrimp (penaeus vannamei) by  Tran Thi Tuyet Hoa, Le Quoc Viet, Tran Thi My Duyen, Tran Nguyen Duy Khoa, Tran Ngoc Hai and Ahn Hyeong Chul. ...
Begini Strategi Menggenjot Produksi Udang dengan Tetap Berkelanjutan
Udang

Begini Strategi Menggenjot Produksi Udang dengan Tetap Berkelanjutan

Perikanan budi daya menjadi target utama Pemerintah Indonesia selama lima tahun mendatang yang dimulai dari 2019. Agar bisa mendongkrak banyak produksi dari sub sektor tersebut, berbagai langkah dan terobosan terus dilakukan Pemerintah.Salah satu yang menjadi fokus, adalah komoditas udang yang ditargetkan bisa mencapai peningkatan nilai ekspor udang hingga 2,5 kali lipat pada 2024 mendatang. Selain penyederhanaan perizinan, upaya lain yang dilakukan adalah dengan mengembangkan laboratorium bertaraf internasional.Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (BKIPM KKP) Rina mengatakan, Indonesia adalah salah satu negara eksportir terbesar di dunia. Selain ke Amerika Serikat, ekspor udang Indonesia dikirim juga ke Jepang, Uni Eropa, ASEAN, Tiongkok, dan negara lainnya.“Potensi tersebut masih bisa ditingkatkan, mengingat kebutuhan pangan dunia cenderung mengalami kenaikan dalam hal konsumsi,” ungkap dia belum lama ini di Jakarta.Baca juga: Tingkatkan Produktivitas Udang Windu, UI Kenalkan Pupuk Tambak Minametrik Meeting online BKIPM KKP yang membahas mengenai komoditas utama ekspor perikanan yaitu udang. Foto : BKIPM KKP Agar pertumbuhan volume dan nilai ekspor Indonesia bisa terus terjaga dengan baik, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus berupaya untuk memproduksi udang dengan kualitas yang ditetapkan sesuai pasar internasional dan domestik.Salah satu caranya, adalah dengan mencegah masuknya penyakit ikan yang hingga sekarang masih menjadi ancaman utama kegagalan produksi budi daya udang di Tanah Air. Tanpa ada pencegahan, pembudi daya udang akan terus mendapatkan ancaman dari penyakit ikan.Selain penyakit white spot syndrome virus (WSSV), organisasi kesehatan hewan dunia (OIE) juga merilis penyakit ikan pada udang yang harus diwaspadai oleh negara-negara di dunia, adalah infectious hypodermal hematopoietic necrosis virus (IHHNV).“Penyakit-penyakit tersebut memiliki efek yang bersifat global,” jelas dia.Rina mengungkapkan, penyakit ikan pada udang selama ini sudah menjadi tantangan secara global, karena produksi komoditas tersebut terus meningkat dan diikuti oleh perdagangan produk perikanan antar negara. Akibatnya, banyak negara mengalami kerugian karena kegagalan produksi.Adapun, penyakit yang muncul tersebut adalah endemic fish disease, exotic fish disease (penyakit introduksi), dan transboundary fish disease (penyakit yang timbul akibat peningkatan perdagangan yang masif).Baca juga: Waspadai Kematian Dini Udang Ilustrasi. Seekor udang yang terkena penyakit bintik putih (white spot syndromeI/WSS). Foto : KKP/Mongabay Indonesia Penyakit UdangBagi Indonesia, ancaman penyakit-penyakit tersebut tak hanya akan menghancurkan usaha budi daya udang di seluruh Nusantara, namun juga mengancam kelestarian sumber daya hayati ikan, terutama plasma nutfah yang asli.Untuk mencegah hal tersebut, Rina mengatakan bahwa Indonesia sedang membangun laboratorium bertaraf internasional yang diharapkan bisa menjadi sarana utama untuk melaksanakan riset berkaitan dengan penyakit ikan pada udang.Diketahui, komoditas udang telah lama menjadi andalan bagi Indonesia, karena bisa menggenjot nilai ekspor perikanan Indonesia. Hingga Agustus 2020 saja, nilai ekspor perikanan Indonesia sudah mencapai USD3,28 miliar dan 40 persen di antaranya berasal dari ekspor udang.Dengan fakta tersebut, Pemerintah Indonesia terus berupaya untuk menjaga stabilitas produksi udang dengan tetap mempertahankan kualitasnya. Di antara upaya itu, adalah dengan mengembangkan program klaster daya saing yang dilakukan di Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat.Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) KKP Artati Widiarti mengatakan bahwa kegiatan klaster daya saing menjadi program akselerasi untuk mendorong penyerapan pasar dan produksi udang bisa berjalan sama baiknya.“Program ini akan mengintegrasikan usaha sektor kelautan dan perikanan dari hulu ke hilir yang difasilitasi program pengembangan usaha,” tutur dia.Artati menerangkan, program tersebut bertujuan agar daya saing sumber daya manusia (SDM), produk, dan perusahaan bisa terangkat sekaligus. Di saat yang sama, perusahaan juga mampu mengangkat daya saing daerah dan nasional.Baca juga: Terapkan Budidaya Udang Bersih KKP melaksanakan klaster daya saing di tambak udang yang ada di Kecamatan Paloh, Sambas, Kalbar. Dengan mentebar benih udang vaname sebanyak 1 juta sampai 2 juta benur per siklus. Foto : KKP Sebagai percontohan, Pemerintah melaksanakan klaster daya saing di tambak udang yang ada di Kecamatan Paloh, Sambas, Kalbar. Di sana, ditebar benih udang vaname sebanyak 1 juta sampai 2 juta benur per siklus.“Untuk mewujudkan keberhasilan program Klaster Daya Saing dengan komoditas utama udang, maka kita harus bersinergi dan think big, hasilnya akan optimal,” sebut dia.Selain di Sambas, Kabupaten Buol yang terletak di Provinsi Sulawesi Tengah juga menjadi lokasi percontohan untuk tambak udang dengan pola produksi semi intensif. Penerapan pola tersebut, mengubah pola tradisional yang sudah lama diterapkan di Buol dan sekitarnya.Klaster IndustriAsisten Deputi Pengembangan Perikanan Budi daya Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi M Rahmat Mulianda menjelaskan, pemilihan Buol sebagai lokasi percontohan, tidak bisa dilepaskan dari rencana Pemerintah yang ingin menggenjot produksi udang secara nasional.“Kabupaten Buol menjadi salah satu lokasi percontohan pengembangan klaster industri udang, dengan mengubah dari model tradisional menjadi model teknologi yang lebih maju, semi intensif,” jelas dia.Dengan mengubah menjadi semi intensif, Pemerintah meyakini kalau pelaksanaan produksi udang bisa berjalan bersamaan dengan pemetaan kawasan budi daya udang yang berkelanjutan. Untuk mendukung produksi percontohan, tambak dilakukan revitalisasi terlebih dahulu.Penetapan Buol sebagai lokasi percontohan sendiri, dilakukan Pemerintah karena daerah tersebut sebelumnya masih melaksanakan produksi budi daya udang dengan model tradisional. Penggunaan model tersebut sangat bergantung kepada pasang surut air laut di sekitar tambak.Baca juga : 8 Langkah Persiapan Tambak Udang yang Baik dan Benar Lokasi percontohan tambak udang dengan pola produksi semi intensif yang mengubah pola tradisional Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah. Foto : KKP Menurut Rahmat, kebiasaan yang sudah lama berlangsung tersebut menjadi tantangan besar bagi Pemerintah Indonesia. Hal itu, karena masyarakat akan diperkenalkan dengan model baru yang sudah mendapat sentuhan teknologi dan bisa memenuhi skala ekonomi.“Di sisi lain, Kabupaten Buol ini ada kesesuaian dengan peruntukkan dalam RTRW (rencana tata ruang wilayah) dan RZWP3K (rencana zonasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil),” tegas dia.Rahmat menambahkan, pelaksanaan budi daya udang dengan model semi intensif memang menjadi harapan baru untuk produksi udang di masa mendatang. Terlebih, karena komoditas tersebut adalah komoditas andalan ekspor.Untuk itu, yang dilakukan Pemerintah Indonesia saat ini adalah bagaimana mempertahankan posisi tersebut dengan cara tetap melaksanakan produksi udang dengan kuantitas yang banyak dan kualitas yang memenuhi standar pasar internasional.“Juga, melaksanakan produksi udang yang berkelanjutan dengan menggunakan teknologi lebih maju,” ucap dia.Bagi Rahmat, pengembangan budi daya udang dengan menggunakan banyak metode, tidak lain adalah untuk menggenjot produksi komoditas tersebut sebanyak mungkin. Ditambah, potensi lahan masih banyak yang bisa digunakan secara benar.Diketahui, selain Buol, lokasi lain yang juga ditetapkan menjadi lokasi percontohan klaster industri budi daya udang nasional, adalah Aceh Timur (Aceh), Sukamara (Kalimantan Tengah), Lampung Selatan (Lampung), dan Sulawesi Selatan. Rencananya, lokasi-lokasi tersebut akan diresmikan pada Desember mendatang.Sumber: Mongabay.co.id ...
Tingkatkan Produktivitas Udang Windu, UI Kenalkan Pupuk Tambak Minametrik
Udang

Tingkatkan Produktivitas Udang Windu, UI Kenalkan Pupuk Tambak Minametrik

Empat dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) meramu Minametrik, sebuah pupuk tambak. Minametrik merupakan pupuk, suplemen, dan obat untuk pencegahan penyakit pada ikan dan udang. Keempat dosen tersebut, yakni Mufti Petala Patria, Abinawanto, Retno Lestari, dan Wisnu Wardhana. Mereka memperkenalkan Minametrik kepada para petambak udang windu yang ada di Desa Pantai Bahagia, Muara Gembong, Kabupaten Bekasi. Tidak hanya menyuplai Minametrik, keempat dosen bersama dengan tujuh mahasiswa FMIPA UI juga memberikan pelatihan dan pendampingan usaha 'semi intensif' kepada 30 petambak yang berlangsung dari Juni hingga September 2020.Program pendampingan usaha ini merupakan bagian dari kegiatan pengabdian masyarakat (Pengmas) yang berkolaborasi dengan Yayasan Pandu Cendekia. Ketua Tim Pengmas FMIPA UI, Mufti P. Patria mengatakan, pelaksanaan pendampingan usaha bagi petambak berangkat dari permasalahan rendahnya produktivitas panen udang windu. "Maka melalui program tersebut, kami berharap dapat memberikan solusi atas permasalahan rendahnya produksi dalam negeri akan udang windu. Seluruh rangkaian program mencakup pemberian Minametrik, dan pengaplikasian teknik budidaya udang dengan sistem semi intensif, yang diharapkan mampu meningkatkan hasil panen udang," ujar Mufti mengutip siaran pers UI, Jumat, 13 November 2020. Dosen Biologi di FMIPA UI menambahkan, udang windu atau penaeus monodon merupakan komoditas perikanan yang memiliki nilai jual yang tinggi, baik di dalam negeri maupun di pasar luar negeri. Udang windu memiliki harga jual tinggi jika dibandingkan dengan udang vaname yang berasal dari Amerika Selatan. "Namun sayangnya, kuantitas produksi udang windu dalam negeri masih rendah. Salah satu penyebab rendahnya produksi udang windu dalam negeri adalah permasalahan di pemeliharaan di tambak," ungkapnya.Dosen UI lainnya, Retno Lestari menjelaskan, merespons permasalahan yang ada di tengah masyarakat tersebut, tim mengembangkan Minametrik dan membimbing penambak agar dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil budidaya udang. Minametrik dapat digunakan saat pembibitan, maupun pembesaran udang. "Selain itu, kami juga memberikan pendampingan usaha dengan sistem semi-intensif," kata Retno. Sementara itu, Sekretaris Desa Muara Bahagia Ahmad Qurtubi memaparkan kegiatan pengabdian dan pemberdayaan masyarakat UI sangat bermanfaat bagi masyarakat desa. Dulu, kata dia, petani selalu bermasalah setiap kali membudidayakan udang. Namun saat ini, penambak semakin terampil, dan sudah tampak hasil budidaya udang di desa kami lancar, berkat ilmu serta Minametrik. "Kami optimistis kegiatan usaha budidaya udang windu ke depannya dapat menjadi generator utama perekonomian masyarakat pesisir seperti Desa Muara Bahagia," ujar Qurtubi. Kegiatan pengmas yang dijalankan Mufti dan tim terselenggara berkat dukungan hibah dana dari Direktorat Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat UI (DPPM UI). Program ini diharapkan dapat menjadi stimulus perekonomian masyarakat menengah ke bawah di sekitar lokasi sehingga dapat menanggulangi dampak ekonomi yang ditimbulkan akibat pandemi covid-19.Sumber: medcom.id ...
Aquamimicry: A revolutionary concept for shrimp farming
Udang

Aquamimicry: A revolutionary concept for shrimp farming

The prevalence of numerous diseases that affect the shrimp and prawn aquaculture industry has promoted the development of various health management strategies. Some include greater biosecurity and sourcing of specific pathogen free animals, and in more extreme cases, using chemicals and antibiotics.However, because of the nature of open pond aquaculture, where most farmed shrimp is produced globally, it is often not possible to farm animals in a bubble by completely eliminating the presence of all pathogens.In fact, in traditional pond systems, the continual build-up of sediments and subsequent deterioration of water quality are known to encourage the growth of many pathogens including pathogenic Vibrios. Promoting microalgae growth can help maintain water quality, but this can sometimes be hard to manage, and these systems are prone to pH and dissolved oxygen fluctuations that can stress the animals.Biofloc technology was introduced to tackle some of these issues. This is accomplished by the addition of extra carbon to the water, leading to the conversion of potentially harmful organic matter and sludge into consumable biomass. Such a process can eliminate or significantly reduce the need for water exchanges, and is thus more environmentally friendly while also offering greater biosecurity.Biofloc technology has been met with success around the world; however, the operating costs can be significantly higher to maintain bioflocs in constant suspension. A potentially more balanced approach between using both microalgae and biofloc in aquaculture is known as Aquamimicry. In this article, I present a simple description of the protocol and implications for its use to assist farmers considering this concept, which I believe will become a widespread standard practice in the industry.Also read: Shrimp Aquaculture and Competitive Exclusion Of PathogensAquamimicry simulates natural conditionsAquamimicry is a concept that strives to simulate natural estuarine conditions by creating zooplankton blooms (mainly copepods) as supplemental nutrition to the cultured shrimp and beneficial bacteria to maintain water quality. This is done by fermenting a carbon source, such as rice or wheat bran, with probiotics (like Bacillus sp.) and releasing their nutrients. This method is in some ways similar to biofloc technology, but there are some key differences.Firstly, the amount of added carbon is reduced and not strictly reliant on ratios to nitrogen input. Secondly, rather than encouraging and suspending high amounts of bioflocs, sediments are removed in more intensive systems to be reused by other animals.Ideally, the water mimics the appearance and composition of natural estuarine water that includes microalgae and zooplankton. When such a balance is met, pH and dissolved oxygen fluctuations are minimized, and there is no need for antibiotics or chemicals because the rice bran provides nutrition for the zooplankton and bacteria (as a prebiotic) to create “synbiotics,” which are dietary supplements or ingredients that synergistically combine pre- and probiotics.The success of this approach includes decreasing the feed conversion ratio, minimizing water exchanges and eliminating disease.General layout of a farm in Thailand where the Aquamimicry concept has been adopted for intensively culturing shrimp. (A) grow-out pond with eight long-arm paddlewheels (3-hp at 85 rpm) arranged to promote water circulation around the pond for solids to concentrate in the center; (B) sump (13-m diameter and 2-m deep) is lined; (C) sedimentation pond (4-m deep in the center) containing milkfish or catfish, and with water overflowing to (E), biofilter pond containing tilapia. Plastic lining is arranged to slow the water velocity and increase the water retention time. When the water returns to the growout pond, there very low levels of nitrogenous waste.The initial idea towards the development of this protocol occurred in Thailand during the disease outbreaks in the 1990s. At that time, it was noticed that in some extensive shrimp ponds the shrimp were growing well and disease-free, despite being in close proximity to infected ponds. No formulated aquafeeds were used, as the farmers had limited resources. Instead, only rice bran was used and it was thought to be a potential reason for the better performance in extensive ponds. Over time, and after extensive trial and errors, a protocol slowly developed.Also read: How India Became The World’s Top Shrimp ProducerWhen this concept was first introduced outside Thailand, many farmers decided to first try this concept in their worst performing ponds. This was sometimes seen as a last chance attempt before switching to fish farming or getting out of the aquaculture industry altogether. However, within the first batch, pond production costs were reduced by half, and the practice significantly expanded to more ponds. Currently, some form of this concept is being adopted in various countries including Vietnam, China, India, Ecuador, Korea and Egypt. As with any farm, there are some variations to the protocol depending on available resources and the farmer’s experience.The success of this approach includes decreasing the feed conversion ratio, minimizing water exchanges and eliminating disease. A variety of factors are believed to contribute, such as a better overall nutrition of the animal, reducing stress associated with fluctuating water quality, and minimizing environmental conditions favorable to pathogens.Pond preparationUsing a filter bag (200-300 μm), the pond is filled up to a depth of 80-100 cm, probiotics (Bacillus sp.) added, and the pond is chain-dragged for seven days. If lined ponds are used, heavy ropes should be used instead to prevent tearing the liner. Gentle dragging is done to enhance soil mixing with the probiotics and to minimize the development of biofilms that could potentially be toxic to the shrimp.To eliminate any small fish or eggs, teaseed cake (at 20 ppm) is applied along with fermented rice bran or wheat bran (without the husk) at 50-100 ppm. More additions result in more copepod blooms, which should happen within two weeks. In the meantime, full aeration is necessary for proper mixing, to reduce teaseed cake levels, and to mix the nutrients and probiotics in the pond.Also read: Transcriptomic Analysis of Pacific White Shrimp in Response to AHPNDCarbon source preparation and useA complex carbon source, such as rice or wheat bran (without husk), is mixed with water (1:5-10 ratio) and probiotics under aeration for 24 hours. If the bran is finely powdered, the entire mixture is added slowly to the pond. If crumbled, the upper “milk” or “juice” is added to the pond and the bran solids are fed to fish in the biofilter pond. The pH of the incubation water should be between 6-7 and adjusted if necessary.Once the shrimp are stocked, which can be at densities of 30-100 animals/square meter, the amount of fermented bran to be added is dependent on both the system and the turbidity level. As a general guideline, 1 ppm is recommended for extensive systems, while for intensive systems, 2-4 ppm is used. The ideal turbidity (using a Secchi disk) should be around 30-40 cm. If higher, less bran should be added and vice versa.Draining effluent from a central drain in the growout pond to a sedimentation pond two hours after feeding the shrimp.During the growout period, additional probiotics should be added each month to help maintain water quality and to promote the formation of biocolloids (flocs composed of detritus, zooplankton, bacteria, etc.). Following 15 days after pond stocking with shrimp, slowly dragging chains or ropes on the pond bottom (but not over the central drain) is encouraged to minimize the formation of biofilms.For extensive systems, there is generally no need for further water quality management or action.  For intensive systems, however, there is a need to remove excessive sediments (e.g., through a central drain) to a sedimentation pond two hours after each feeding. Regardless of the system type, the pH is reportedly stable throughout.Sedimentation and biofilter pondsThe sedimentation pond should be deeper (up to 4-m in the center and 2-m on the edges) than the growout pond to allow sediment accumulation. In it, bottom-dwelling fish species – such as catfish or milkfish, depending on the water salinity – should be stocked at low densities. Their feeding on and stirring up the detritus help clean the pond system, and the fish can provide food for farm workers.The sediments from the growout pond encourages the production of worms and other benthic invertebrates that the fish can consume. Meanwhile, if ropes or lines are present, these are frequently and strongly colonized by horse mussels. Not only do these help by further filtering the pond water and removing suspended solids, but can later be crushed and fed to the shrimp during production.Also read: Evaluating Plant Protein Sources Replacing Fishmeal In Juvenile White Shrimp DietsAfter the sedimentation pond, the water overflows to another pond to increase the retention time and act as a biofilter. Fish like tilapia can be added at low densities. From here, water overflows back to the growout pond with little nitrogenous waste. Every three years, the sedimentation should be cleaned.Currently the ratio of these ponds is 1:1 (treatment to growout ponds), which obviously requires relatively large areas of land in relation to production. However, trials are currently underway to substantially reduce this ratio by adjusting water flows, carbon inputs and different combinations of live organisms in the treatment ponds.After harvestAfter harvesting, the pond bottoms reportedly have no smell, black soil or accumulated sediments, and the pond is therefore often ready to be prepared for the next production cycle by the addition of fermented bran and probiotics, as mentioned earlier. Farmers have stated that the shrimp have a deeper red color when cooked, which could be from the consumption of additional pigments from the natural food produced in the pond.Although there is no information available yet, the omega-3 fatty acid content of the shrimp would likely be enhanced and would provide additional health benefits. This is of particular relevance, as the aquaculture industry is increasingly relying on land-produced aquafeed ingredients that can lead to lower levels of omega-3 fatty acids in the final products.Also read: Effect of Streptomyces Probiotics on Gut Microbiota of Pacific White ShrimpPerspectivesTwo major drawbacks to the Aquamimicry approach include the potential difficulty of applying this concept to indoor conditions, as well as the use of relatively large treatment ponds. Within indoor raceway systems in Korea, the adoption of this concept reportedly gave better results when compared to a biofloc-based system. However, it became necessary to discharge excessive sediments, which were not reused again.To deal with the issue of large treatment ponds, currently there are efforts being made to reduce this ratio with the growout ponds, but on more extensive systems no treatment ponds are necessary. As with any new aquaculture technology, farmers interested in this new protocol should first perform trial runs to determine whether this can be successfully applied to their particular circumstances.Because reportedly better-quality shrimp can be produced at lower cost and in a more sustainable manner, the concept of Aquamimicry is rapidly spreading throughout the world. Some interpretation of the concept will undoubtedly become a new standard in shrimp farming and benefit future generations in the industry.Source: Aquaculture Alliance ...
Prof Dr Etty Riani Berhasil Pijahkan Udang Windu Afkir
Udang

Prof Dr Etty Riani Berhasil Pijahkan Udang Windu Afkir

Dalam upayanya membantu Indonesia untuk mencapai ketahanan dan keamanan pangan serta kelestarian lingkungan di bidang perikanan, Prof Dr Etty Riani, dosen IPB University dari Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (MSP-FPIK) melakukan penelitian teknologi pemanfaatan induk udang windu afkir. Hasil risetnya menemukan bahwa melalui permainan hormonal dan nutrisi, induk udang windu afkir yang dapat dikatakan sudah menjadi “limbah” (karena kualitasnya buruk), dapat kembali melakukan pemijahan hingga lima kali dengan kualitas yang baik. Inovasi yang telah dipatenkan tersebut akan menghasilkan anakan dan larva serta menahan ekploitasi induk udang windu yang merupakan udang Indonesia asli, sehingga kelestariannya di alam juga terjaga.Baca juga: Terapkan Budidaya Udang Bersih“Pada teknologi ini, si induk udang yang harusnya diafkir (hanya dimanfaatkan untuk konsumsi) dapat dimanfaatkan kembali sampai tiga kali pemijahan lagi. Sehingga yang tadinya dua kali pemijahan bisa menjadi lima kali. Nah ini salah satu inovasi yang dimanfaatkan untuk udang windu dari alam, sehingga kelestarian udang windu pada khususnya dan kelestarian lingkungan (ekosistem) secara umum tidak terlalu terganggu,” jelasnya.Ia menyayangkan inovasi tersebut yang kurang dimanfaatkan oleh pemerintah, karena budidaya udang windu yang mulai ditinggalkan. Petambak udang banyak yang beralih pada udang vaname yang terus menerus diimpor sehingga ketergantungan untuk budidayanya menjadi sangat tinggi.  “Belum lagi masalah lingkungan lainnya. Apabila udang vaname sampai lepas ke alam dan selanjutnya beranak pinak di ekosistem laut kita, maka bukan tidak mungkin udang windu yang serba pemilih dalam hal habitat dan makanan ini akan kalah bersaing dengan udang vaname. Kemungkinan udang windu akan mengalami nasib yang sama dengan keong gonad, yang pelan namun pasti habitatnya tergeser oleh keong mas (sebenarnya bukan keong mas tapi keong murbai, namun masyarakat terlanjur menyebutnya keong mas). Sehingga perlu adanya manajemen pemasaran yang baik agar produk lokal dapat bersaing dengan komoditi impor. Apalagi banyak komoditi lokal yang memiliki kelebihan tersendiri,” jelasnya.Selain itu, ia juga menyayangkan sikap pemerintah yang kadang kurang sejalan dengan para peneliti akibat perbedaan kepentingan. Sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi para peneliti untuk menyumbangkan ilmunya. Sudah lama juga pemerintah bersikap memunggungi lautan, hingga periode saat ini pun, harapan sektor perikanan sebagai prime mover atau penggerak perekonomian bangsa masih belum tercapai.Baca juga: Ini Dia Cara Membedakan Induk Udang Windu Jantan dan Betina“Satu hal yang juga perlu pemikiran bersama diantaranya adalah kebijakan perikanan masih belum menjadi mainstream pemerintah kita. Masih belum sejalan dengan keinginan Presiden Jokowi pada saat menjadi Presiden periode pertama saat pidato pertama di depan MPR,” ungkapnya.Yang menjadi catatan penting lainnya adalah permasalahan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang tak kunjung habisnya. Perusahaan-perusahaan besar masih ada yang menjadikan wilayah perairan sebagai tempat pembuangan limbah. Pencemaran plastik dan logam berat, misalnya di Teluk Jakarta, juga telah mencapai titik yang sangat mengkhawatirkan sehingga membuat hasil tangkapan laut menjadi pangan yang apabila dikonsumsi dalam jumlah banyak dan dengan frekuensi yang sering, justru malah berpotensi membahayakan orang yang mengkonsumsinya. Konsumsi seafood  yang tercemar telah diketahui dapat berpotensi untuk meningkatkan risiko munculnya berbagai penyakit degeneratif bahkan juga memicu munculnya penyakit kanker. Sehingga hasil lautan yang seharusnya menjadi penopang kesehatan karena kandungan gizinya yang sangat baik, malah dapat menjadi masalah untuk kesehatan dan keamanan konsumen karena lingkungan yang tidak terjaga.Baca juga: 5 Langkah Supaya Induk Udang Vaname Berhasil MemijahIa berharap, agar semua kegiatan perikanan, baik budidaya maupun penangkapan yang dilakukan dapat selalu menjaga kelestarian lingkungan perairan. Pada kegiatan budidaya jangan menggunakan antibiotik, namun gunakan prebiotik. Jangan sampai menimbulkan tekanan apalagi sampai mengganggu ekosistem fragile diwilayah pesisir dan sebagainya.Pada kegiatan penangkapan hendaknya dilakukan secara selektif, memperhatikan waktu pemijahan dan waktu anak-anak ikan tumbuh dan berkembang dengan baik. Dan tentunya jangan melakukan penangkapan dengan menggunakan racun apalagi mengebom sehingga sektor perikanan sebagai primeover ekonomi nasional dapat tercapai.  Terlebih lagi biota laut pada umumnya memiliki kualitas gizi dan nutrisi yang relatif lebih baik sebagai sumber pangan maupun kosmetik dan obat, sehingga selain sebagai prime mover ekonomi nasional, juga akan mencerdaskan dan menyehatkan bangsa,” imbuhnya.Sumber: IPB University ...
Shrimp Aquaculture and Competitive Exclusion Of Pathogens
Udang

Shrimp Aquaculture and Competitive Exclusion Of Pathogens

Probiotics – live microorganisms that offer health benefits to hosts when provided in suitable amounts – are becoming increasingly popular antibiotic alternatives to promote growth and prevent disease in shrimp aquaculture. While there is limited knowledge on their precise mechanisms of action, evidence is strong that they are able to provide probiotic effects through the competitive exclusion of pathogenic bacteria, enhancement of the shrimp immune response and antiviral effects, and nutrient and enzymatic contribution to shrimp digestion.Approximately 20 genera of bacteria have been shown to have a probiotic effect in shrimp, although most of the research has focused on Bacillus and lactic acid bacteria (LAB), such as Lactobacillus, due largely to their prevalence and successful application as probiotics in mammals and poultry. Probiotics can be administered orally with the feed (including bioencapsulation with live food vectors such as artemia), directly into the water as purified cultures or spores, or within a fermented growth media.Probiotic species are often isolated from the intestines of shrimp and the surrounding water or sediment of their environment. But they have also been isolated from fruit waste filtrates, curd, fermented soybeans and pickles, and the intestines of other species. For example, in the case of the latter, shrimp probiotic Lactobacillus species have been isolated from the digestive tracts of chickens and fish. Commercial probiotic treatments, which largely contain LAB and Bacillus spp., have also been tested for their probiotic effects in shrimp.Also read: Using a Probiotic Mixture is More Effective AloneConsidering the rise of antimicrobial resistance (which is predicted to result in 10 million deaths by 2050 if the current trend continues; Meade et al. 2020), the potential insights gained from such investigations extend far beyond the field of probiotics in shrimp aquaculture, because these probiotic species produce antimicrobial substances that have not yet been identified, making them ideal candidates for bioprospecting for novel antimicrobial therapeutics.This article – adapted and summarized from the original publication (Knipe, H. et al. 2020. Probiotics and competitive exclusion of pathogens in shrimp aquaculture. Reviews in Aquaculture, Vol 12(3):1-29) – discusses our current understanding of the mechanisms of competitive exclusion and their application to improve the selection and application of probiotics, future directions for the selection and application of probiotics in the development of effective microbial management strategies in shrimp aquaculture.Competitive exclusion of pathogenic bacteriaCompetitive exclusion is where co‐occurring bacterial species in the same ecological niche compete for limited resources (nutrients and space) through two competitive strategies: exploitation and interference competition. Exploitation competition is indirect, typified by rapid resource consumption (restricting supply to competitors and investing in growth), whereas interference competition takes place when one organism directly harms another, for example, through the production of antimicrobial compounds.Exploitation competition includes mechanisms that increase the rate at which nutrients are captured and utilized, in relation to the competitors. Nutrient capture can be improved by the secretion of extracellular molecules that break down complex macromolecules, consequently making nutrients more readily accessible. These extracellular excretion molecules include enzymes and compounds that access insoluble iron.Also read: Research Backs Value of Probiotics in Shrimp PondsThese mechanisms can be considered co‐operative traits, as the “public goods” produced are accessible to all and may benefit a population. Not all members of that population necessarily invest resources in the production of the compounds, and the bacteria producing materials for enabling nutrient capture are vulnerable to inter‐ and intra‐specific competition from others, who save resources and invest them in growth.The efficiency and speed with which microorganisms utilize nutrients can provide another competitive advantage. Optimal allocation of resources can maximize growth rates. For example, switching between metabolic strategies depending on substrate availability, such as from the higher energy‐yielding respiration process to fermentation, even when glucose is available in excess, to maximize growth rates. This phenomenon, termed “overflow metabolism,” has been observed in a number of fast‐growing bacterial and fungal species.Exploitation competition for space can be achieved through rapid colonization of uninhabited niches, or through competing with populations that are already established. The production of compounds and receptors that bind to specific surface features can provide a competitive advantage for the colonization of unoccupied niches, as well as prevent displacement by invaders. Furthermore, attachment, while decreasing mobility, is critical for biofilm formation (surface‐attached microbial communities).The expansion of adhesive cells in biofilms can also aid the removal of non‐adhesive cells from the population. Cell aggregation of the same genotype can also provide another competitive advantage by sharing resources and increasing tolerance to antimicrobials. However, there is strong competition within these biofilms, in which nutrients become limited regionally. On the other hand, to compete with biofilm formation, many species produce molecules that can actively stimulate dispersal of other species (without killing them). Alternatively, some species can disrupt biofilm formation.Also read: Probiotic Capacity of Pseudovibrio Denitrificans Isolates From a Marine SpongeInterference competition typically involves the production of antimicrobials, and there is substantial experimental evidence to support the hypothesis that antibiotics are primarily used as weapons. It is plausible that some species have evolved to use certain antimicrobials solely as weapons, whereas others have multiple functions.Even though most probiotics in shrimp aquaculture are screened and selected for further testing based on their ability to antagonize bacterial shrimp pathogens in vitro, it is clear from reported research that information is limited about the mechanisms through which this growth inhibition takes place. Additionally, the investment of energy into interference mechanisms (the production of extracellular antimicrobials) by shrimp probiotics implies that they may be useful targets for bioprospecting for novel antimicrobial therapeutics.Considerations for the selection of shrimp probioticsMost probiotics used in shrimp aquaculture appear to be competitive life strategists, because they are frequently selected based on their ability to produce extracellular antimicrobials. Because of the typical practices in shrimp aquaculture, in which ponds are disturbed by chemical treatments, weather events and disease, these probiotics may not always be the most effective choice. Instead, certain environmental conditions and disruptions are likely to favor the proliferation of ruderal (species that prosper in situations of high intensity disturbance and low intensity stress) life strategists.To compensate for this, frequent treatment may be necessary to establish the probiotic (competitive life strategist) within the microbial community at the required abundance and achieve the desired effects. This may in turn affect the microbial community structure of the system and further favor ruderal life strategists that invest in exploitation mechanisms. Improper use of probiotic treatments may potentially lead to conditions which favor pathogenic invasion, for example by using species that compete with indigenous beneficial species or alter the overall structure or function of the community.Therefore, elucidating the mechanisms underlying growth efficiency and competitive strategies employed by potentially probiotic and pathogenic species, as well as understanding their optimal environmental conditions, are needed to develop the most effective microbial management strategies to both prevent and treat disease. For example, tailoring treatments so that they contain species, or strains, that can competitively exclude specific pathogens using multiple mechanisms will increase the likelihood of successful pathogen exclusion, particularly if the pathogen becomes resistant to a mechanism, or there is a new (or opportunistic) pathogenic invasion.Also read: Probiotics in AquaculturePatin et al. (2016) designed a workflow that aims to determine whether interference or exploitation competition is employed by using a series of simple inhibition assays. Applying this workflow provides a simple and cost‐effective way to assess the competitive strategy likely employed by probiotic species in vivo, although future studies should consider the extent to which in vitro models (mechanisms of antagonism) are accurate representations of their interactions with pathogens, and other competitors, in vivo. Making this distinction is of importance when considering the type (i.e. desired characteristics) of probiotic to apply to specific conditions; for example, to improve disease resistance before a pathogenic invasion, or in response to an environmental disturbance, such as disease.Theoretically, competitive life strategists would be more suited to prophylactic treatment, as they are selected for in undisturbed environments, while ruderal life strategists would be best applied to reduce the severity of disease, as they are selected for in disturbed environments. This also highlights the importance of applying ecological theory to develop effective probiotics for disease prevention in shrimp aquaculture.Potential probiotic identification based on the use of limited methods, such as cell‐free extracts or diffusion assays exclusively, is selective of interference‐based competition strategies due to the antimicrobial (and diffusible) properties of the extracellular metabolites. The culture conditions of potential probiotics may not stimulate inhibitory compound production or increase the activity of the compound.The limitations of culture‐based probiotic selection methods, combined with the current focus on the ability of probiotic species to inhibit the growth of Vibrio species, may overlook the capability of many putative probiotic species for shrimp aquaculture. While pathogenic Vibrio species are undoubtably an important target for potential probiotics to antagonize, screening based on in vitro growth inhibition of a limited number of specific pathogens (i.e. Vibrio) may be inadvertently polarizing the type (i.e. competitive strategy) of shrimp probiotics available.Therefore, closer attention to characterizing the underlying mechanisms by which probiotics inhibit the growth of these pathogens in vitro, combined with our increasing understanding of their effects in vivo, will enable us to better evaluate and develop our screening and selection methods. Probiotic treatment is able to alter the microbial community structure in the shrimp gut and confer resistance to pathogens such as V. parahaemolyticus.Also read: Can Probiotics Make Shrimp Farming More Environmentally Friendly?Probiotics targeted specifically at Vibrio spp. may increase the risk of disease in the event of an invasion by another species that the probiotic cannot inhibit, doing so by lowering the probability that other members of that community provide antagonistic traits. Stimulation of the shrimp immune response by such probiotics should, theoretically, mitigate some of these effects. However, it remains to be tested that a probiotic with such effects is able to enhance resistance to multiple pathogens.The current trend is to identify novel probiotics, and we suggest that emphasis should be placed on the development of complementary, culture‐independent, methods of potential probiotic identification and characterization. With the increasing affordability of sequencing approaches, whole genome sequencing of probiotic species would benefit our understanding of the potential mechanisms of probiotic effects and allow us to make more informed decisions about the suitability of such species.Furthermore, metagenomic [the study of genetic material recovered directly from environmental samples], transcriptomic [quantitative science that encompasses the assignment of a list of strings (“reads”) to the object (“transcripts” in the genome)], and metatranscriptomic [the science that studies gene expression of microbes within natural environments] studies, complemented by proteomics, would allow for more thorough investigation, assessment and development of probiotic treatments in shrimp aquaculture.Conclusions and future perspectivesProbiotics in shrimp aquaculture are often screened and selected for in vivo testing based on their ability to competitively exclude pathogens in vitro. Few studies have attempted to identify the underlying mechanisms involved in bacterial growth inhibition; however, they collectively illustrate the importance of understanding the underlying probiont (aggregation of organic molecules, surrounded by a membrane, that abiotically coalesces into resemblances of living matter) – pathogen interactions, determining strain specific characteristics and not extrapolating from related strains or even species. Considering this is particularly important when evaluating the safety and suitability of a probiotic species for use in animals intended for human consumption, and consideration should be given to investigating the potential impact of probiotic treatment on the virulence of pathogens.The application of complementary sequencing approaches such as whole‐genome sequencing of probiotic species will aid this assessment. The antagonism assays employed to screen for probiotics in shrimp aquaculture use a limited number of pathogens (i.e. Vibrio) and preferentially select for interference‐based mechanisms, which may overlook the probiotic potential of many species and possibly increase the risk of pathogen invasion. To address this, future work should focus on expanding probiotic screening methods (including the development of culture‐independent approaches) to include more species that use exploitation‐based mechanisms and pathogens with distinct mechanisms of pathogenesis.Also read: Effect of Streptomyces Probiotics on Gut Microbiota of Pacific White ShrimpTailoring treatments so that they contain species, or strains, that can competitively exclude specific pathogens using multiple mechanisms will increase the probability of successful pathogen exclusion; particularly if the pathogen becomes resistant, or there is a new (or opportunistic) pathogenic invasion. The impact of probiotic treatment on the shrimp gut microbiota and disease resistance should also be thoroughly considered to avoid reducing the abundance of other ecologically important species. Special consideration should be given to identifying and testing probiotics that could prevent the beginning of disease with limited effects on the microbial community structure and function.Additionally, the efficiency of treatment may be improved by considering the competitive life strategy of the probiotic species. Future studies should examine this by validating the competitive strategies used in vivo¸ and designing pathogen challenge trials that compare the effects of probiotic administration, prior to and at the onset of disease or other such environmental instabilities, on the shrimp gut microbiome and disease resistance.Source: Global Aquaculture Alliance ...
How India Became The World’s Top Shrimp Producer
Udang

How India Became The World’s Top Shrimp Producer

Modern shrimp farming commenced in India in the late 1980s, driven by a growing global appetite for shrimp, government policies to promote seafood exports and several corporate entities providing capital to build hatcheries, farms and processing plants. It was based predominantly on the black tiger shrimp (Penaeus monodon) and to a lesser degree the Indian white shrimp (Fenneropenaeus indicus).The growth of the sector was severely impacted a few years later when the White Spot Syndrome Virus (WSSV) arrived on India’s shores and the Supreme Court of India, heeding the pleas of environmental activists, restricted shrimp farming in coastal waters. It took an act of the Indian Parliament to restart shrimp aquaculture and the phase of growth that followed was marked by the development of independent hatcheries and farms of less than five hectares owned or leased by numerous small farmers. The species of interest continued to be the black tiger shrimp but there was also a significant production of the freshwater prawn (Macrobrachium rosenbergii).While volumes continued to rise through the mid-2000s, a stagnation was reached in the latter half of the decade due to disease problems, slowed animal growth and size variability. For broodstock, the sector relied on wild-caught black tiger shrimp, which meant that exclusion of pathogens was extremely challenging and breeding for performance was simply impossible. Taking note of the experience of other major Asian producers, India decided to introduce Specific Pathogen Free (SPF) Pacific white shrimp (Litopenaeus vannamei) in 2008. The country introduced the species cautiously by allowing a few selected entities to conduct an experimental import and perform trials, on which rules for further imports were framed and implemented.To date, L. vannamei broodstock can only be imported from approved sources and quarantined in a government-run facility upon entry into the country. Development of broodstock multiplication centers is being allowed now and the government has expressed its interest to allow entities that can complete the lifecycle of L. vannamei within India in a fully contained and highly biosecure facility and produce broodstock locally.Also read: Transcriptomic Analysis of Pacific White Shrimp in Response to AHPNDThe industry still depends significantly on imports of L. vannamei broodstock. Photo by Ravi Kumar Yellanki, Vaisakhi Biomarine Hatchery.2010-2019: A decade of growthIndia’s shrimp farming growth after the introduction of SPF L. vannamei has been phenomenal (Fig. 1). Farms previously culturing the black tiger shrimp experienced a boost in productivity due to higher stocking densities, lower incidence of diseases and animal growth rates that were comparable to those of black tiger shrimp up to 20 grams or even beyond. Farmers switched to SPF L. vannamei swiftly and today more than 90 percent of Indian shrimp production is for this species.Fig. 1: Evolution of farmed shrimp production in India, 2010-2020 (est.), with significant events noted.India was spared of the Early Mortality Syndrome (EMS) disease – also known as Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease, or AHPND – that devastated many Asian producers and Mexico; Indian producers conversely saw significant gains in production from 2013 to 2016. Investments were made in new hatcheries, feed mills and processing plants to support the expansion of farming areas.India’s shrimp farming area is around 160,000 hectares. The highest farmed shrimp production in a year was 805,000 MT in 2019. Photo by Anil Ghanekar, Ecosecure Systems.The southeastern coastal state of Andhra Pradesh has been the anchor of aquaculture in India. Its land and water resources and entrepreneurial farmers have made it No. 1 in farmed freshwater fish and marine shrimp production over the last three decades. While black tiger shrimp have been produced in low-salinity waters in some of the districts of Andhra Pradesh, vast expansion of shrimp production occurred in these districts in the last decade by way of constructing new ponds or using ponds previously used for fish farming. Shrimp farming also expanded in other states, notably in the states of Odisha and West Bengal that are north of Andhra Pradesh on the east coast, and in the northwestern state of Gujarat.Also read: Marketplace to Industry, Governments: Solve Shrimp DiseasesThere are 38 feed mills in India that can manufacture shrimp feeds, with an established production capacity of 3.5 million MT. In 2019, the volume of shrimp feed sales was estimated at 1.3 million MT. Photo by Growel Feeds.COVID-19 effect on shrimp productionIndia went into a lockdown in late March 2020 to contain the coronavirus pandemic. Many farmers panicked and harvested their shrimp while shrimp processing plants – facing cancellation and postponement of purchase orders, possible shutdown of the factories and migrant workers returning to their homes – had challenges in receiving the harvested shrimp.As a result, shrimp prices crashed. Cancellation of international flights meant that SPF broodstock could not be brought in throughout April. While many of the challenges were eventually resolved, one issue that is having a lingering effect is the shortage of workers. Many working in the sector predict that India’s shrimp production would decline by about 20 percent, to 620,000 metric tons (MT) in 2020.The Indian shrimp farming industry has an established production capacity of 120 billion postlarvae (PLs) per year, from an estimated 550 to 600 hatcheries. India produced 7 billion PLs in 2019. Photo by Manoj Sharma, Mayank Aquaculture.Challenges to India’s shrimp sectorOn the supply side, diseases continue to be the primary challenge to the productivity and profitability of shrimp farming in India. While WSSV is frequently detected, many farmers feel that it can be managed, and they do not feel as threatened by it as in the past. On the contrary, the occurrence of new diseases such as White Feces Disease and Running Mortality Syndrome are dreaded more because their causative agents have not yet been identified. The presence of the microsporidian parasite Enterocytozoon hepatopenaei (EHP), which results in the slow growth and size variation of shrimp, is also not definitively established.Also read: Evaluating Compensatory Growth in Pacific White Shrimp in a Biofloc SystemOne of the responses of the shrimp farming community to these new diseases is to deploy nurseries where shrimp postlarvae (PLs) can be stocked at high densities and reared to about 0.5 to 1 gram each in size and then transferred to grow-out ponds. However, this method also carries the risk of pathogens infecting the shrimp in the nurseries and spreading to the farms. Thus, biosecure facilities and practices are required for the nurseries to fulfill their purpose of deployment.Shrimp nurseries are used as an intermediate grow-out stage between the hatchery and the farms, rearing the PLs to 0.5 to 1 gram each. Photo by Anil Ghanekar, Ecosecure Systems.On the demand side, marketplace diversification is high on the list of requirements. Nearly half of India’s shrimp goes to the United States and about one-quarter went to China in 2019. To reduce the overdependence on these two markets, India needs to increase its market share in other markets, particularly the European Union and Japan, each of which accounted for nearly one-third of India’s exports in the P. monodon days.Through extensive campaigning and stringent monitoring, the presence of antibiotic residues has been reduced significantly in India’s shrimp supply, boosting its appeal to global markets. India’s domestic market for shrimp consumption remains small at less than 50,000 MT per year; stimulation of this market could lead to a significant increase in consumption. The rising urban middle class, the large population of young people, the convenience of cooking shrimp and the perceived health benefits of seafood are being leveraged to create a high value domestic market for shrimp in India.India exported 652,253 MT of shrimp in 2019, with a value of U.S. $4.89 billion. Exports have grown 430 percent in volume during the last decade. Major markets include the USA (46.7 percent), China (23.8 percent), the European Union (12.1 percent), and Japan (6.4 percent). Photo by Manoj Sharma, Mayank Aquaculture.Future prospects for Indian shrimp farmersIndia remains a competitive supplier of value-added shrimp to the world due to its low cost of labor and the scale of economy it has managed to achieve by becoming one of the largest global producers of farmed shrimp. The established capacity of hatcheries, feed mills and processing plants will support future expansion.Also read: A Diet-Based Breakthrough in The Battle Against Early Mortality Syndrome in ShrimpCompared to the major suppliers of shrimp in Asia, India has largely remained as a low-density producer, with a standard of about 40 shrimp per square meter widely adhered to. The country, therefore, can produce large shrimp. Indian farmers are highly interested in the production of bigger shrimp, especially that of black tigers, for improved profitability. However, growing to bigger sizes with good survival has become a Herculean task, needing the attention of broodstock producers as well as farm managers. In the northern states like Gujarat – where climatic factors restrict shrimp culture to a mostly one crop a year – farming of black tiger shrimp is seen as a viable option.The production of large P. monodon is considered a significant opportunity, particularly in northern states like Gujarat. Photo by Darryl Jory.The government has recently approved the import of SPF black tiger shrimp into India and postlarval SPF black tiger shrimp are already available in the market. India’s future in shrimp production will depend on its ability to maintain its competitiveness in value addition, market expansion and application of production technologies that can keep diseases under control and help strengthen the industry.Source: Global Aquaculture Alliance ...
Tahap Molting Pada Udang
Udang

Tahap Molting Pada Udang

Seperti krustasae lainnya, udang memiliki eksoskeleton atau lapisan keras yang melindungi tubuhnya. Namun karena sifatnya yang keras dan kaku, pada saat tertentu eksoskeleton akan membatasi pertumbuhan tubuh udang. Molting atau yang dikenal sebagai pergantian kulit udang adalah salah satu proses yang dilakukan agar volume tubuh udang dapat bertambah besar. Proses ini akan mengganti karapas tubuh udang seutuhnya sehingga daging di dalamnya akan lebih mudah untuk tumbuh.Tahap Pertumbuhan UdangEksoskeleton yang dimiliki udang juga disebut sebagai cangkang atau kutikula. Bagian ini, mayoritasnya terbentuk dari kandungan kitin, garam kalsium, protein, dan juga lemak. Kutikula ini merupakan bagian tubuh udang yang keras dan berguna untuk melindungi tubuh udang, namun disaat bersamaan juga akan membatasi pertumbuhan tubuh udang itu sendiri.Ketika semakin bertumbuh, maka pada saat tertentu daging udang akan memenuhi eksoskeleton bahkan melebihinya sehingga dibutuhkan proses moulting untuk menumbuhkan eksoskeleton yang lebih besar. Pada dasarnya pertumbuhan udang tidak terjadi secara terus menerus seperti ikan. Bila digambarkan menjadi grafik, pertumbuhan udang memiliki bentuk grafik seperti anak tangga yang berurutan, sedangkan pertumbuhan ikan umumnya berbentuk sigmoid. Pertumbuhan udang secara bertahap terjadi agar dapat menyesuaikan pertumbuhan eksoskeletonnya.Tahap pertumbuhan udangMolting terjadi akibat dampak dari proses hormonal dalam tubuh udang. Seperti pada kasus yang sering ditemukan, bahwa proses molting biasanya terjadi di antara populasi udang yang akan breeding atau memijah. Perlu Anda ketahui, bahwa siklus molting dapat terganggu karena stress yang secara signifikan terjadi pada udang, seperti contohnya ketika kolam pemeliharaan terlalu sering dikuras. Proses molting yang terganggu, juga dapat menghambat proses bertelur udang. Fase kritis udang ketika molting adalah saat kutikula yang baru tumbuh pada tubuh udang, berinteraksi dengan lingkungan eksternalnya.Terdapat  3 tahap yang terjadi setelah proses molting, diantaranya adalah:1. Post-molt: pada fase ini, udang sedang dalam masa pemulihan dari proses molting sebelumnya. Pada fase ini pula udang akan menyerap banyak air (poin A) agar mampu menumbuhkan dan memperkuat kutikula baru yang akan menyesuaikan ukuran tubuhnya yang baru pula. Cangkang yang baru kemudian akan mengeras dalam waktu beberap jam (Tahap B)2. Inter-molt: Pada fase statis ini, kutikula dari udang dalam keadaan fungsional. Pertumbuhan bobot udang akan terus terjadi, dan pada tahap ini aktivitas makan udang tidak terganggu bahkan cenderung stabil hingga maksimal.3. Pre-molt: Pada fase sebelum molting ini, udang mempersiapkan tubuhnya untuk proses molting selanjutnya. Pada tahap ini napsu makan udang akan sangat turun, dan disaat bersamaan lapisan kutikula mulai tumbuh dan menjadi terlihat secara kasat mata (Gambar 2)Siklus molting pada udangTahap post-molt pada udang: Periode rentan penyakit dan disfungsiProses molting pada dasarnya akan mengganggu keseimbangan tubuh udang secara signifikan. Fase yang paling rentan adalah ketika cangkang baru mulai terbentuk pada post-molting.Sedangkan, pembatas secara fisik yang terbentuk dari kutikula belum sepenuhnya berfungsi, pada saat ini udang butuh memobilisasi cadangan dalam tubuhnya untuk memperkeras dan memberikan mineral pada kutikulanya yang belum kuat.Beberapa penyakit dapat menyerang udang pada saat seperti ini, contohnya seperti penyakit White Spot Syndorme Virus (WSSV) yang biasanya muncul pada tahap A dan B dari fase post-molt. Selain rentan terkena penyakit, udang juga rentan menghadapi osmotic shock yang disebabkan oleh penyerapan air yang cukup banyak pada tubuh udang. Proses ini akan sangat mempengaruhi keadaan sel dalam tubuh udang, khususnya pada fungsi sel yang terganggu akibat perubahaan kandungan air. Pada konteks ini, penggunaan osmoregulator adalah sumber pertama yang dapat mengatur keseimbangan sel dalam tubuh udang. Cara untuk mendorong proses molting pada udangAgar proses molting terjadi sesuai waktunya, beberapa hal yang disarankan untuk Anda lakukan adalah:1. Mengecek fase molting udang secara teratur ketika melakukan sampling2. Lakukan pencacatan tahap molting yang terjadi pada udang. Hal ini akan membantu Anda dalam mengantisipasi proses molting selanjutnya3. Pastikan jumlah pakan udang yang Anda berikan sesuai dengan tahap molting udang4. Memastikan udang mengkonsumsi cukup kandungan kalsium dan fosfor untuk membantu pembentukan cangkang baru5. Penggunaan osmoregulator dapat membantu mengurangi dampak osmotic shock pada udang, terutama di tambak yang memiliki tingkat salinitas rendah ataupun tinggi, maupun tambak dengan pergantian air yang terbatas.Ditranslasi oleh Tim MinapoliArtikel Asli ...
Terapkan Budidaya Udang Bersih
Udang

Terapkan Budidaya Udang Bersih

Semua aspek budidaya tambak udang harus diperhatikan kebersihannya mulai dari benur, kolam, kualitas air, dan lainnya untuk meminimalisir penyakit  Beberapa bulan belakangan, petambak udang di sebagian daerah di Lampung direpotkan dengan serangan penyakit yang menyerang udang di masa-masa awal budidaya. Para petambak di sana menyebut wabah ini sebagai Fenomena Kematian Dini (FKD). Meski serangan penyakit ini dikaitkan dengan bakteri Vibrio parahaemolyticus penyebab AHPND, tetapi belum dipastikan apakah FKD yang dialami petambak Lampung ini sama dengan Early Mortality Syndrome (EMS) atau tidak. Namun demikian, petambak tetap harus waspada apapun jenis penyakitnya.  Ahli penyakit udang dari Charoen Pokphand Foods (CPF) Thailand, Prakan Chiarahkhongman memberikan sedikitnya tiga tips dalam menghadapi EMS dan penyakit udang lainnya, berdasarkan pengalaman dan pengamatannya di negara-negara yang pernah terserang EMS. Ia rangkum ketiga tips itu dalam slogan 3C yang merupakan kependekan dari Clean Seed (benur yang bersih), Clean Water (air yang bersih), dan Clean Pond (kolam yang bersih). “Kami telah merilis program 3C di Thailand. Atau bisa disebut juga dengan pendekatan yang holistik,” ujarnya saat menjadi pembicara dalam webinar yang diselenggarakan oleh BIOMIN beberapa waktu lalu. Baca juga: Cara Penanganan Tepat Pasca Produksi Udang WinduBenur yang BersihBenur bersih merupakan poin penting pertama dari 3C yang disampaikan Prakan. Menurutnya, untuk menangkal EMS dan penyakit lainnya, petambak harus memastikan benur yang ia gunakan benar-benar terbebas dari penyakit sejak dari hatchery. “Bahkan bersih sejak dari indukan,” katanya menambahkan. Sehingga untuk memudahkan proses mendapatkan benur bersih, secara praktis ia menyarankan untuk membeli benur dari hatchery yang kredibel.   Langkan ini ternyata juga sudah diterapkan oleh Manajer Produksi tambak udang Merry Group, Ery Brahmantiyo di tambak yang ia kelola. Meski pihak hatchery tempat ia membeli benur sudah melakukan tes PCR untuk memastikan PL bebas penyakit, tetapi secara proaktif ia juga melakukan tes PCR sendiri pada benur yang akan dibelinya. Tujuannya tak lain agar ia haqul yakin benurnya bebas dari penyakit.   “Meski pihak hatchery sudah melakukan PCR dan mengeluarkan sertiifikat bebas Vibrio, namun jika ditemukan Vibrio pada benur yang akan kami beli, maka pembelian benur dibatalkan,” ungkapnya kepada TROBOS Aqua. Baca juga: Manajemen Pakan Pada Pemeliharaan Larva Udang VanameMenyoal kebersihan benur untuk menangkal FKD, Ery juga menyarankan agar ada keterlibatan pemerintah sebagai pembuat kebijakan. Menurutnya, pemerintah harus lebih ketat dalam memberikan izin masuk induk udang vannamei. Selain itu, pemerintah juga harus melakukan pemeriksaan secara ketat terhadap benur hatchery, terutama hatchery skala kecil. “Hanya benur yang sudah lolos pemeriksaan karantina yang boleh ditebar di tambak,” tegasnya.   Selain soal benur yang bebas penyakit, Prakan juga menyarankan untuk menggunakan PL (Post Larvae) yang lebih besar saat akan memulai pembesaran di tambak. Menurutnya, ukuran benur yang lebih besar saat ditebar di tambak memiliki ketahanan tubuh yang lebih kuat terhadap penyakit dibanding benur yang  lebih kecil seperti yang banyak dilakukan petambak saat ini. Paling tidak benur PL dibesarkan selama kurang lebih satu bulan untuk mendapatkan bobot sekita 1 - 2 gram.  Benur yang lebih besar, lanjut Prakan, bisa dihasilkan dengan terlebih dulu melakukan pendederan atau nursery. Proses perantara ini bisa dilakukan pada wadah khusus pendederan dengan ukuran yang jauh lebih kecil dari tambak atau pada wadah jaring yang diletakkan di tambak itu sendiri. Media yang lebih kecil pada proses nursery akan memudahkan dalam pengontrolan proses budidaya. “Ini merupakan suatu teknik yang bagus yang bisa diterapkan di tambak anda,” ujarnya merekomendasikan. Artikel Asli ...
Waspadai Kematian Dini Udang
Udang

Waspadai Kematian Dini Udang

Petambak udang perlu mengingkatkan kewaspadaan pada musim pancaroba ini, serangan bakteri kian mengganasSudah sejak tahun lalu, area pertambakan di beberapa daerah di provinsi Lampung alami fenomena gejala kematian dini. Fenomena kematian udang yang menyerang pada masa-masa awal budidaya ini merupakan wabah yang terbilang baru dan berbeda dari penyakit udang yang sudah biasa menyerang sebelumnya. Belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah mengenai jenis penyakit apa yang sampai saat ini masih ramai di perbincangkan para petambak di Lampung. Namun para mereka menamai wabah ini dengan Fenomena Kematian Dini (FKD).   Manajer Produksi tambak udang milik Merry Group, Ery Brahmantiyo mengatakan bahwa FKD mulai muncul di tambak mereka pertama kali pada tahun lalu. Terutama pada tambak yang berlokasi di Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan. Namun menurutnya, wabah ini sudah lebih dulu muncul di Labuhan Maringgai, Kabupaten Lampung Timur.   "Informasinya sebelum menyebar ke Lampung Timur, tambak di pantai timur Sumatera Utara sudah duluan mengalami gejala kematian dini. Dari informasi itu diduga FKD menyebar melalui perairan pantai timur Sumatera, dari timur terus ke selatan“ ujar Ery saat diwawancarai TROBOS Aqua di Bandar Lampung baru-baru ini.   Baca juga: Budidaya di Musim Kemarau, Masalah dan SolusinyaIa tidak mengetahui persis berapa banyak daerah yang terdampak FKD. Namun ia menaksir penyebarannya memang sudah cukup luas mulai dari pantai timur Lampung hingga teluk lampung di Kabupaten Lampung Selatan. “Kalau melihat garis pantai sebenarnya sudah cukup luas, tapi tidak berarti tambak di garis pantai tersebut positif FKD semuanya,” katanya hati-hati.  Lebih GanasMenurut Ery, FKD sudah menyerang udang di tambaknya pada DOC 20 hari. Hasil pengamatan pada udang yang terkena FKD, ia menemukan salah satu bakteri bergenus Vibrio dengan kepadatan yang cukup tinggi. "Mencapai sepuluh pangkat empat atau sudah di atas normal," ungkapnya.   Akibat wabah ini, Ery harus melokalisir kolam yang terdampak secara signifikan dengan kematian yang tinggi dan langsung mematikan udang-udang yang tersisa. Namun pada tambak yang tingkat kematiannya rendah, ia masih bisa memanennya.  Untuk menahan FKD lebih menyebar lagi di tambaknya, ia pun terpaksa menyetop produksi selama satu siklus atau sekitar lima bulan. Ery menilai penyakit FKD ini cukup ganas. Bahkan menurutnya lebih ganas dari pada serangan WSSV (White Spot Syndrome Virus)  dan Myo. Keganasan itu, lanjut Ery, antara lain dipengaruhi oleh kecepatan serangannya yang luar biasa.  Baca juga: Budidaya Vaname Intensif di Bak Beton (VITON)Selain soal kecepatannya, serangan salah satu bakteri jenis Vibrio ini membuat efek buruk yang ganda pada udang. Udang yang terkena bakteri tersebut akan mengalami pengecilan hepatopankreas dan membuat warnanya jadi pucat. Sementara pada udang yang sehat, hepatopankreasnya cenderung berwarna cokelat.   Selain melalui serangan langsung pada bagian tubuh udang, bakteri tersebut juga memberikan efek yang mematikan bagi udang ketika bakteri tersebut alami kematian dan menjadi racun di dalam kolam. “Jadi udang banyak yang mati buka karena gagal molting, melainkan karena keracunan. Bahkan dari hasil riset disebutkan racun yang dikeluarkan Vibrio yang mati tersebut lebih berbahaya daripada pestisida.” ungkapnya.Ery mengungkapkan pada saat munculnya FKD pertama kali di tambak Ketapang, cuaca saat itu sedang pancaroba. Menurutnya suhu air menjadi sangat fluktuatif. “Karena bisa saja ketika panas terik tiba-tiba turun hujan. Akibatnya selain terjadi kegoncangan suhu juga salinitas air kolam turun. Untuk mengatasinya kita aplikasi mineral bisa membantu. Lingkungan yang MendukungHal senada mengenai adanya peran cuaca dalam merebaknya wabah penyakit pada udang yang disebabkan oleh bakteri, seperti oleh kelompok bakteri Vibrio, juga disampaikan oleh Head of Shrimp Technical Team Departement PT Suri Tani Pemuka (STP), Narendra Santika Hartana. Dalam suatu acara seminar udang yang diadakan STP di Pangkal Pinang beberapa waktu yang lalu, ia menyampaikan bahwa di kuartal ketiga tahun lalu atau menjelang ahir 2019, suhu permukaan air laut cenderung panas akibat musim kemarau yang relatif lebih panjang.  Suhu yang agak panas itu membuat bakteri-bakteri yang bersifat oportunistik seperti kebanyakan dari jenis Vibrio berkembang dengan optimal. “Sementara kita tahu bakteri Vibrio parahaemolyticus, Vibrio harveyi, dan Vibrio lainnya, itu kondisi idealnya ada di 31 derajat celcius,” jelas dokter hewan yang biasa dipanggil Rendra ini.  Selain karena masalah kemarau yang lebih panjang, kenaikan suhu permukaan air juga terjadi sebagai efek pemasanan global. Rendra mengutip sebuah pernyataan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang menyebutkan bahwa sejak tahun 2013, suhu permukaan air laut akan naik sebesar 0,5 derajat Celcius. Sehingga jika suhu permukaan air di tahun 2013 normalnya di kisaran 27 – 29 derajat Celcius, maka di tahun 2020 sudah bisa menyentuh 30 derajat Celcius. “Ini semakin mendekati suhu idealnya untuk hidup bakteri,” simpulnya. Baca juga: Tips Mempercepat Pertumbuhan UdangTak hanya suhu, berkembangnya bakteri yang pesat di suatu perairan bisa dipicu juga oleh bahan terlarut oranik total atau TOM (Total Organic Matter) yang cukup tinggi. Sepanjang tahun 2019, Rendra melakukan sebuah surveillance (pengamatan) kualitas air laut di beberapa daerah pertambakan di provinsi Lampung. Hasil dari pengamatan itu terlihat bahwa di sepanjang tahun lalu ia menemukan nilai TOM hampir di semua daerah, yang meliputi Padang Cermin, Kalianda, Pesisir Barat, dan Pantai Timur memiliki nilai di atas 60. Sementara menurutnya, ambang batas TOM yang optimal untuk budidaya tidak melebihi nilai 60. Rendra mengungkapkan bahwa TOM tersebut juga bisa menjadi makanan bakteri. Jika nilainya tinggi, maka potensi bakteri untuk berkembang lebih banyak juga tinggi.  Artikel AsliTentang MinapoliMinapoli merupakan marketplace++ akuakultur no. 1 di Indonesia dan juga sebagai platform jaringan informasi dan bisnis akuakultur terintegrasi. Dengan memanfaatkan teknologi, pembudidaya dapat menemukan produk akuakultur dengan mudah dan menghemat waktu di Minapoli. Platform ini menyediakan produk-produk akuakultur dengan penawaran harga terbaik dari supplier yang terpercaya. Selain itu, bentuk dukungan Minapoli untuk industri akuakultur adalah dengan menghadirkan tiga fitur utama yang dapat digunakan oleh seluruh pembudidaya yaitu Pasarmina, Infomina, dan Eventmina. ...
Innovation Award 2020 finalist: Simao Zacarias’ Shrimp Eyestalk Ablation Research
Udang

Innovation Award 2020 finalist: Simao Zacarias’ Shrimp Eyestalk Ablation Research

The work of postdoctoral researcher Simao Zacarias on eyestalk ablation in shrimp hatcheries has been selected as one of three finalists for the Global Aquaculture Alliance’s annual Global Aquaculture Innovation Award.Zacarias’ work focuses on a key animal welfare issue: the standard shrimp hatchery practice of unilateral eyestalk ablation to achieve higher egg production. Ablation has not only caught the attention of animal welfare advocates who are concerned about animal cruelty, but Zacarias notes that ablation of broodstock produces offspring that are more vulnerable to disease.That’s crucial, given that perhaps the biggest challenge confronting the shrimp industry the past two decades has been disease. Based on evidence from his research in shrimp hatcheries in Honduras and Thailand, the University of Stirling researcher proved in laboratory testing that postlarvae and juveniles from non-ablated Pacific white shrimp broodstock showed higher survival rates when they were challenged with Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND, also known as Early Mortality Syndrome, or EMS) and White Spot Virus Disease (WSSV).Also read: Transcriptomic Analysis of Pacific White Shrimp in Response to AHPNDMoreover, Zacarias believes that by providing high quality, nutritious feed to broodstock in their pre-maturation stage, shrimp farmers can achieve a similar egg production rate without resorting to eyestalk ablation.“A dry and fresh feed composed of squid and polychaete stimulates broodstock to mature faster, leading to improved results in the breeding tanks,” he said. “Altering broodstock’s exposure to light, coupled with the high-quality feed, can enhance those results.”Another means to achieving the same egg production rate is managing the sex ratio in breeding tanks and increasing the ratio of male-to-female shrimp from 1:1 to 1:2.“We proved in my research that if you manage the sex ratio you’ll have similar productivity to that achieved with eyestalk ablation,” he noted. While this requires hatcheries to double the number of female shrimp in their breeding tanks, it would not necessarily double their costs, because eyestalk ablated females have a high mortality rate.Also read: A Diet-Based Breakthrough in The Battle Against Early Mortality Syndrome in Shrimp“If you don’t ablate you have a lower mortality rate of broodstock. We’re hoping to do an analysis in Thailand by the end of the year that will deliver the full economic impact of using non-ablated animals,” he said. “But from anecdotal information shared by hatchery managers I’ve learned that over time, with the next generation of non-ablated broodstock, you don’t need to increase that breeding ratio to achieve the same results. The shrimp will reproduce naturally when given a high-quality supplemental feed.”Zacarias’ work is driven by the demand for better animal welfare practices in shrimp hatcheries.“This innovation can be expected to become a key health strategy in shrimp farming going forward,” said Simao Zacarias.“Retailers and buyers want the hatcheries to stop using eyestalk ablation,” he argued. “We have to use practices that improve welfare and reduce mortality. Firstly, ablating affects the well-being of the broodstock and leads to a higher mortality rate, which is bad for hatcheries. And secondly, the offspring of non-ablated broodstock are more robust animals with a higher survival rate when they are challenged by bacterial disease or White Spot Syndrome Virus. So even if not ablating results in increased production costs for hatcheries, the value of your end product potentially increases.”If farmers knew they’d have more robust offspring from non-ablated broodstock, they would demand it, he argued: “It would reduce the need for chemicals and antibiotics to treat disease, and I’ll be showing at the GOAL conference that this has been proven under laboratory conditions.”Also read: Marketplace to Industry, Governments: Solve Shrimp DiseasesZacarias noted that not all shrimp genetic lines respond identically when ablation is stopped; some shrimp genetic lines will respond faster than others. Zacarias said hatchery managers might need to evaluate the variety of shrimp in their tanks, even within the same species.Based on his research to date, his message to shrimp hatcheries and farmers is this: Stop eyestalk ablation and you give farmers an advantage by producing more robust postlarvae and juveniles that represent a more valuable and marketable product for the adopting hatchery, better survival and better finances.“Consumers in Europe and America are demanding a product produced with high welfare, so if you cease eyestalk ablation you have access to a greater market share,” he said. “This innovation can be expected to become a key health strategy in shrimp farming going forward.”Source: Global Aquaculture Alliance  ...
Transcriptomic Analysis of Pacific White Shrimp in Response to AHPND
Udang

Transcriptomic Analysis of Pacific White Shrimp in Response to AHPND

One of the primary bacterial infections affecting shrimp farming is Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND), formerly called Early Mortality Syndrome (EMS), which causes 90 to 100 percent mortality in affected shrimp ponds. The first and foremost shrimp organ infected by AHPND is the hepatopancreas, a crucial digestive gland involved in controlling systemic metabolism, digestion and storage of nutrients, and whose multiple physiological and immunological functions are affected during infection.The causative agents of AHPND are bacteria of the genus Vibrio, with V. parahaemolyticus being the primary infection vector. This bacterium contains a plasmid (a small, extrachromosomal DNA molecule within a cell that is physically separated from chromosomal DNA and can replicate independently) involved in the production of lethal toxins that damage and destroy the shrimp hepatopancreas.Although several molecular tools and histopathological tests have been developed and are currently available to detect AHPND, the physiological and biochemical alterations caused by AHPND in the organism are far from understood.The differentially expressed microRNA [miRNAs are small RNA (nucleic acid molecule essential in various biological roles including regulation and expression of genes) molecules that act as key regulators of development, cell proliferation, differentiation and the cell cycle of Pacific white shrimp (Litopenaeus vannamei) in non-infected vs. infected shrimp with V. parahaemolyticus suggests that miRNAs modulate several immune processes during AHPND.There has been considerable research to understand the biology and control of AHPND, but to date, there has not been a published transcriptional profile (a measurement of the expression of thousands of genes at once, to create a global picture of cellular function) of L. vannamei hepatopancreas with AHPND emulating the natural course of infection.This article – adapted and summarized from the original publication – investigated the transcriptional mRNA response of the L. vannamei hepatopancreas during AHPND infection, to gain a better understanding of AHPND shrimp pathogenesis and to find new genomic (interdisciplinary biology field that focuses on the structure, function, evolution, mapping, and editing of genomes) approaches to address this aquaculture problem.Study setupHealthy L. vannamei (12.26 ± 0.022 grams) were maintained in 1000-liter tanks filled with filtered (1 μm) and aerated seawater, salinity of 35 PSU, at 25 degrees-C. Shrimp were acclimatized and fed to satiation daily for one week, with a commercial feed. V. parahaemolyticus was isolated and characterized from dying shrimp obtained from farms in Guasave, Sinaloa, Mexico.Before bacterial challenge, the experimental shrimp were examined under the microscope to determinate molt stage. Animals in the intermolt stage were placed in 20-liter plastic tanks at 28 degrees-C and 35 ppt salinity under continuous aeration and left to acclimatize for three days. A total of 18 tanks (9 control and nine experimental) were set up with 10 shrimp per tank. Experimental infection was carried out using a bacterial concentration of 660 CFU (colony forming units)/mL per tank, and were exposed to the bacteria for at least 72 hours.After bacterial exposure, hepatopancreas samples were collected at 0 hours (before infection), 3, 6, 12, 24 and 48 hours post-infection (hpi) for control and treated groups; samples were properly preserved and frozen for tests and analyses.For detailed information on the experimental design and animals used; biological materials; histopathology and the various other tests carried out, refer to the original publication.Results and discussionIn this study, we identified a significant number of differentially expressed transcripts, DETs, [transcription is the process of copying a segment of DNA (molecule carrying genetic instruction is cells) into RNA (molecule essential in various biological roles in coding, decoding, regulation and expression of genes)] and started to understand the molecular pathways that take place during AHPND.We infected juvenile L. vannamei with AHPND positive V. parahaemolyticus by immersion. Following histopathological results at 12, 24, 48 and 72 hpi, a sequential progression of hepatopancreas lesions was observed in AHPND infected tissue. Our histopathological results agree with previous reports, with necrosis (unprogrammed cell death), epithelial cells sloughing, atrophy and massive hemocyte (cells involved in the immune system of invertebrates) infiltration signs were more evident from 48 hpi onwards.In our differential expression analysis, a total of 915 transcripts were detected between the infected and non-infected control groups. The number of up-regulated genes [process by which a cell increases the quantity of a cellular component, such as RNA or protein, in response to an external stimulus] was considerable more (473) than the down-regulated genes [opposite process to up-regulation] (442), probably due to biological changes and inhibition of certain cellular functions caused by V. parahaemolyticus infection.The L. vannamei innate immune system contains cellular and other components that work individually and synergistically to protect the organism integrity during infection. Activation of the shrimp immune response depends on diverse mechanisms that include the antioxidant system, hemolymph (fluid analogous to blood in arthropods – invertebrates with an external skeleton), wound repair and some proteins.All living organisms produce the reactive oxygen species (ROS) during normal aerobic metabolism. Stress conditions like pH, temperature, hypoxia and microbial infections can shortage oxygen and increase ROS, resulting in oxidative stress within the cells. Increased levels of ROS causes macromolecules damage which in turn affect membranes and enzymes structure and nucleic acids integrity. The endogenous cellular defense mechanisms to stabilize increased levels of ROS include antioxidant molecules and enzymes. Our results showed 442 up-regulated transcripts which were grouped in different categories including oxidation-reduction processes, biological process (BP) and oxidoreductase activity for molecular function (MF).Hemocyanin is an abundant protein present in the hemolymph of arthropods and mollusks and has the primarily function to transport and store molecular oxygen, along with other multiple physiological functions like protein storage, osmoregulation, molt cycle and others. Our results show that multiple isoforms (very similar proteins from a single gene or gene family) of L. vannamei hemocyanin (LvHCY) are present in both up and down-regulated transcript sets; also, that there is significant expression increase of LvHCY after 24 hpi compared to the control. And other authors have reported the toxin-neutralizing activity of hemocyanin against V. parahaemolyticus infection.Among the first immune responses shrimp have to either fight against pathogens or to prevent loss of hemolymph during tissue damage is clotting. Our results indicate that the expression of a L. vannamei hemolymph protein (LvCLO) increases significantly at 3 hpi. And other studies with black tiger shrimp (Penaeus monodon) showed up-regulation of coagulation-related genes during stomach infection caused by V. parahaemolyticus. These findings show activation of the coagulation system is a fundamental step during bacterial infection.Thrombospondins (THBSs) are a family of extracellular calcium-binding proteins, which in vertebrates are involved in several physiological processes. However, very little is known about the function of THBSs in invertebrates. In penaeid shrimp, it has been suggested that THBSs are part of the defense response against microbial infection, and our results suggest that they may be involved in the defense mechanism during AHPND.One of the main enzymes involved in the production of glucose is the phosphoenolpyruvate carboxykinase (PEPCK), which under low oxygen conditions, helps keep glucose stable within the cells. Vibrio infections can decrease oxygen uptake during pathogenesis and induce hypoxia (oxygen deprivation). Cellular oxygen deprivation alters metabolic pathways resulting in a hypoxia response.To prevent further damage due to low oxygen levels, cells protect themselves with a group of proteins called oxygen-regulated proteins. Our data shows that the hypoxia gene for L. vannamei, LvHYO, was up-regulated at six and 24 hours in the infected shrimp group. Over-expression of hypoxia genes in bacterial pathogenesis has been related to an increase in bacterial load during early AHPND stages and causing hepatopancreatic septicemia (blood poisoning by bacteria), probably due to the high levels of AHPND toxins in the cells.Several studies have looked at the pathogen-host response in shrimp using either different shrimp species or pathogens. However, very few studies have investigated the shrimp immunological response at the transcriptome (all the RNA molecules in one cell or a population of cells) level. In addition to identifying genes involved in the host immune response, we also looked for genes that participate in metabolic pathways. Bacterial infections tend to modify their host metabolism via homeostasis disruption.Based upon our analysis, we identified a new set of several differentially expressed metabolic genes, none of which have previously been reported as being differentially expressed during pathogen infection. Determining the function of these genes during the metabolic response will provide a deeper understanding of how the metabolic and immune system interact and work towards specific pathogens.PerspectivesWe built a novel transcriptome of L. vannamei hepatopancreas infected with V. parahaemolyticus (AHPND) at 24 hours and found a total of 915 differentially expressed transcripts, from which 442 were up and 473 were down-regulated.Our results also suggest a close interaction between the hepatopancreas metabolism and immune system, indicating that both systems respond collectively against a V. parahaemolyticus infection.Further studies are needed on how the metabolic and immunologic regulation works in shrimp during AHPND, because this knowledge can be the basis for designing therapeutic strategies.Source: Global Aquaculture Alliance ...
Evaluating Plant Protein Sources Replacing Fishmeal In Juvenile White Shrimp Diets
Udang

Evaluating Plant Protein Sources Replacing Fishmeal In Juvenile White Shrimp Diets

The Pacific white shrimp (Litopenaeus vannamei) is an important aquacultured species and the most important cultured shrimp species in the world, mostly because its rapid growth, disease tolerance, high stocking-density tolerance, relatively low dietary protein requirement, and broad base of supporting research. However, as the body of knowledge about its dietary requirements grows, there is a need and an opportunity to optimize diets by minimizing dietary fishmeal inclusion.When replacing fishmeal with a more economic protein source, it is important to consider not just the price point, but to consider also other aspects such as nutritional value, digestibility, palatability and the presence of anti-nutritional factors.One of the most successful plant-based protein crops in animal feed is soybean meal. This is due to its high content of protein (47 percent) and lipid (2.2 percent) along with its low price compared to fishmeal ($400 to 500 per ton). Likewise, sesame seed meal also presents many of the same advantages found with soybean meal but with a much higher lipid content. Sesame seed meal typically contains around 42 percent protein making it comparable to soybean meal; however, it contains roughly five times the lipid content at 11.2 percent.In recent years, there has been interest in the use of fermentation to increase the digestibility of plant-based proteins in many important aquaculture species. The fermentation process helps to break down more complex protein matter in the plant matter to make it more readily available for digestion. For example, fermented soybean meal has approximately 56 percent crude protein, whereas unfermented soybean meal has 47 percent. Another important benefit in fermented products is the enrichment by the bacteria itself.Many companies have been focusing on producing fermented plant protein products by a wide variety of microbes and processes such as batch, continuous, fed-batch, anaerobic, aerobic, surface, submerged and solid-state fermentation. Therefore, it is important to investigate the effects of fermented plant-based protein sources as possible fishmeal replacers in Pacific white shrimp diets.This article – adapted and summarized from the original [Bae, J., Hamidoghli, A., Djaballah, M.S. et al. Effects of three different dietary plant protein sources as fishmeal replacers in juvenile whiteleg shrimp, Litopenaeus vannamei. Fish Aquatic Sci 23, 2 (2020)] – reports on a seven-week experiment conducted to evaluate soybean meal, fermented soybean meal and sesame meal as fishmeal replacers in juvenile Pacific white shrimp.Also read: Effect of Streptomyces Probiotics on Gut Microbiota of Pacific White ShrimpStudy setupJuvenile L. vannamei were transported from the Pal-ttak Shrimp Farm in Go-seong, Rep. Korea and stocked in 250-liter rectangular tanks at Feed & Foods Nutrition Research Center (FFNRC, Pukyong National University, Busan, Rep. Korea).Twenty juvenile shrimp (0.7 ± 0.03 grams mean ± SD) were randomly stocked into each of 21, 45-liter tanks as a triplicate groups. Filtered seawater with 1.3 liters per min flow was supplied to each tank in a semi-recirculating system, and water temperature was maintained at 28 ± 1.0 degrees-C for the whole experimental period. Shrimp were fed four times a day at 7 percent wet body weight during the seven weeks of experiment. The amount of total feed was adjusted according to any mortalities, and shrimp feces were removed by siphoning every day.Commercial fishmeal, soybean meal, poultry byproduct, blood meal, meat and bone meal, squid liver powder and wheat gluten meal were used as protein sources in the experimental feed formulations. Fish oil was used as the lipid source. Seven isonitrogenous diets were formulated to replace 20 and 40 percent of fishmeal by soybean meal (SB20 and SB40), soytide (ST20 and ST40), and sesame meal (SM20 and SM40) included CON. Soytide is a commercial product of fermented soybean meal with Bacillus subtilis at 37 degrees-C. Every ingredient was well-powdered and mixed using electric mixer. Fish oil was added according to feed formulation. The mixture was passed through a pellet machine with a 0.2 cm die. The prepared experimental diets were dried in the drying room for 48 hours then stored at minus-20 degrees-C.After seven weeks of the feeding trial, every shrimp was counted and weighted in each aquarium and taken and measured to calculate growth performance including weight gain, specific growth rate, feed efficiency, protein efficiency ratio and survival percentage, according to Mohanty (1999).For detailed information on the experimental design and diets; animals and feeding conditions; sample collection and analyses; and statistical analyses, refer to the original publication.Also read: Marketplace to Industry, Governments: Solve Shrimp DiseasesResults and discussionThe diets prepared for this experiment were readily accepted by the shrimp and almost no uneaten feed was observed in the tanks 1 hour post feeding. Also, the survival percentage of each tank at the end of experiment was normal considering the initial weight of shrimp and the experimental period. Based on weight gain, specific growth rate, feed efficiency and protein efficiency ratio, 20 and 40 percent replacement of fishmeal with soybean meal, sesame meal, or fermented soybean meal did not show significant differences compared to the control group.However, shrimp growth performance with the 20 percent fishmeal replacement (ST20) with fermented soybean meal was significantly higher than the sesame meal fed group (SM20 and SM40).Soybean meal is appropriate to replace fishmeal in aquafeeds due to high protein level, balanced amino acid content and acceptable price, but some anti-nutritional factors can decrease the nutritional value of this ingredient and reduce the digestibility. Fermentation of plant ingredients can reduce the anti-nutritional factors and enhance the digestibility. The significant differences observed in the present study with growth performance of shrimp fed the fermented soybean meal is probably due to the partial elimination of anti-nutritional factors and increased digestibility of ingredients.Other authors similarly compared fermented and non-fermented plant proteins such as soybean meal, groundnut oil cake, rapeseed meal, and sunflower oil cake in the diet of L. vannamei. Their results indicated higher apparent digestibility coefficient of fermented soybean meal along with higher amino acid digestibility.These results agree with the findings of our study, that fermented soybean meal increased the growth performance of L. vannamei compared to sesame meal, although we did not observe major differences between fermented and non-fermented soybean meal groups. Another explanation for the higher growth performance of fermented soybean meal could be attributed to the probiotic B. subtilis compounds available in this ingredient.In a similar study, fermented soybean meal with B. subtilis increased the apparent digestibility coefficient of crude protein in L. vannamei. Probiotics can benefit shrimp by exclusion of pathogenic bacteria and production of some digestive enzyme that can facilitate the digestion process. Although further studies regarding the effects of probiotic-fermented plant proteins on growth performance of shrimp are required.Shrimp are among the species that lack adaptive immunity (also known as acquired immune system, part of the of the immune system and composed of specialized, systemic cells and processes that eliminates pathogens by preventing their growth) and therefore their health condition depends largely on non-specific immune responses.Superoxidase dismutase (SOD) and lysozyme are enzymes that neutralize radical oxygen species [chemically active] and breakdown cell walls of pathogenic organisms, respectively. Our results for SOD activity showed higher values for shrimp fed the fermented soybean meal (ST20 and ST40) compared to 40 percent replacement by both soybean meal (SB40) and sesame meal (SM40). These results corresponded with serum lysozyme activity where 20 percent of fermented soybean meal (ST20) was significantly higher than 40 percent of soybean meal (SB40) and sesame meal (SM40). And these results agree with previous findings that reported enhanced non-specific immune responses of fish fed fermented plant protein sources.Also read: Study Replaces Dietary Fish Oil With Microalgal OilPerspectivesThe results of our study demonstrated that soybean meal, fermented soybean meal and sesame meal could replace 40 percent of fishmeal in L. vannamei diets, based on growth performance and lysozyme activity. But based on superoxide dismutase activity, soybean meal and sesame meal could replace up to 20 percent of fishmeal and fermented soybean meal could replace up to 40 percent of fishmeal in Pacific white shrimp juveniles.Source: Global Aquaculture Alliance ...
Marketplace to Industry, Governments: Solve Shrimp Diseases
Udang

Marketplace to Industry, Governments: Solve Shrimp Diseases

The international seafood marketplace issued a heartfelt plea to the shrimp supply chain last month. Its message: Shrimp disease management control is crucial and without a coordinated plan, new diseases will continue to wreak havoc on the supply chain as they have done for the past couple of decades.The message was issued in a letter to aquaculture directors in the governments of China, Indonesia, Vietnam, Thailand and Indonesia by the Sustainable Fisheries Partnership (SFP); it was signed by 19 members of the Asia Farmed Shrimp Supply Chain Round Table, among them Waitrose & Partners, Sainsbury’s, Fishin’ Company, UK Seafood Industry Alliance, Tesco and SeaFresh Group.The companies expressed a collective concern about new diseases like DIV1 and HPTV (hepatopancreatic translucence virus) and about the potential movement of diseased post-larvae from hatcheries to grow-out ponds, resulting in widespread transmission of these and other diseases.Also read: Super Shrimp Could Increase Yield and Prevent DiseaseAnton Immink, aquaculture director at SFP, said the roundtable is currently supporting four aquaculture improvement projects in Asia regarding coordinated disease management approaches – three in Thailand and one in Indonesia. Each project costs between $100,000 and $150,000 per year and engages the majority of producers in a province and the respective governance agents. The overarching goal is to initiate additional projects and to proactively engage the governments in those countries to improve the way they manage disease risks.“One of the challenges we constantly face is that governments and industries don’t have any emergency response plans in place for an outbreak of disease on shrimp farms,” he said. “While they’ve signed up to the international guidelines issued by the Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) and the World Organization for Animal Health (OIE), they’re not strong when it comes to following or enforcing the guidance because of economic pressures of wanting to grow. So we’re calling on them for a general strengthening of good practice and we want to work with them to develop a plan on who will take what action if an outbreak occurs.”“There are lessons we can learn from COVID-19 on this issue: When a disease becomes a pandemic, it completely disrupts the supply chain. We sent this letter as a prod, to say disease remains an issue, and the onus is on everyone to do the right thing.” he said. “Farmers need to cooperate and certification plays a role, but there needs to be a whole surveillance system for disease testing, tracking and tracing, and governments are typically the entities that run those systems.”Also read: Prevention of Disease Caused by EHP Spores on ShrimpIt makes perfect economic sense to have a plan in place, he added. In 2015 Andy Shinn, senior scientist at the Fish Vet Group, examined production costs for shrimp in Thailand and the losses of shrimp at that time from Early Mortality Syndrome (also known as Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease, or AHPND). Shinn estimated that the Asian shrimp industry has lost at least U.S. $20 billion over the last decade as a result of disease.“The shrimp farming industry is worth tens of billions of dollars every year, yet these governments spend close to zero on disease management, which is the biggest threat to consistent supply and economic returns,” Immink said.Justin Baugh, director of sustainability at the Fishin’ Company, one of the letter’s signatories, said a potential disease outbreak would cause such substantial disruptions to the supply chain that it would take years to recover the output of an affected region: “Diversifying supply lines takes time and adds substantial cost to the goods,” he said.Sustainable Fisheries Partnership is supporting four aquaculture improvement projects in Asia regarding coordinated disease management approaches. Photo by Pau Badia, courtesy of SFP.“The best strategy is prevention. As aquaculture becomes more vital to providing sustainable and healthy protein to the world population, effective disease management must be a priority. Funding these projects in a meaningful and sustainable way is essential. The planning should begin with government agencies to formulate disease management plans that address systemic issues or concerns. Concurrently, our industry needs to be vigilant in advocating for these changes.”Baugh suggested that funding for these efforts be borne by the industry with the aid of foundations that share their vision for a coordinated disease management plan.“Governments in Asia have the ability, funds, education and skills to create and regulate disease-management plans,” he said. “It’s essential for the industry to support the entire supply chain by encouraging governments to recognize and address these needs.”Also read: Harnessing Big Data to Fight Shrimp Diseases and Allay Investor FearsThe best strategy is prevention. As aquaculture becomes more vital to providing sustainable and healthy protein to the world population, effective disease management must be a priority.George Chamberlain, recently retired managing director of Hendrix Genetics-owned Kona Bay and president of the Global Aquaculture Alliance (GAA), said there are no quick and easy solutions to disease control, and that steps need to be taken at each level of the production chain and at the government level. Chamberlain will moderate a panel discussion on emerging shrimp diseases at GAA’s upcoming GOAL 2020 conference.(Editor’s note: See “Session No. 3, Health Check: Updates on Shrimp Disease Management and Finfish Welfare” on Day 1, Tuesday, Oct. 6.)“In the last five years, perhaps 70 percent of the hatcheries and farms in China have switched to specific pathogen tolerant (SPT) broodstock to avoid mortality and slow growth due to [a range of diseases]. Given the multi-pathogen resistance of these stocks, I suspect Chinese hatcheries have begun to use pond-raised broodstock during this COVID-19 crisis with the expectation that the broodstock wouldn’t become infected during grow-out in ponds because they are SPT,” said Chamberlain. “While it’s true that they are SPT for the above pathogens, they are not for DIV1, glass postlarvae disease, EHP and other pathogens.”Immink stressed that for the diseases causing concern right now it’s imperative that governments maintain strict international border controls on the movement of broodstock from external countries inward.“As farmers and hatcheries need to import more broodstock and larvae to keep their farms going, they are urging governments to acquiesce for short-term returns instead of long-term stability,” he noted. “It may be a hard political decision, but we need them to tell shrimp producers that they cannot import shrimp from a specific country unless there are more controls in place.”Source: Global Aquaculture Alliance ...
Saat Pandemi, Produksi Udang Tetap Tinggi dengan Penerapan Teknologi
Udang

Saat Pandemi, Produksi Udang Tetap Tinggi dengan Penerapan Teknologi

Pemenuhan kebutuhan gizi seimbang tubuh di masa pandemi dengan banyak mengonsumsi protein sangat digencarkan diberbagai kesempatan, baik dari pemerintahan, tenaga kesehatan hingga masyarakat umum. Oleh karena itu, masyarakat dihimbau untuk mengonsumsi pangan dengan sumber protein tinggi yang salah satunya yaitu udang.Industri hulu sampai dengan hilir dalam budidaya udang sudah cukup berkembang, permintaan pasar ekspor yang tinggi, bernilai ekonomis tinggi dan menjadi usaha yang menguntungkan, serta menyerap tenaga kerja yang besar. Sehingga perlu adanya inovasi teknologi untuk tetap mampu meningkatkan produksi dari udang budidaya agar mampu memenuhi target pemenuhan pasar global maupun domestik.Dalam budidaya udang, poin penting yang perlu diperhatikan yaitu pada penanganan lingkungan air kolam serta udang itu sendiri seperti kualitas benur dan pakan. Penanganan lingkungan kolam bertujuan untuk menjaga kondisi air tetap pada parameter yang terbaik.Baca juga: Cara Penanganan Tepat Pasca Produksi Udang WinduParameter penting yang perlu diperhatikan yaitu oksigen terlarut (DO), salinitas, pH, temperatur serta kecerahan air. Dengan tuntutan target produksi yang tinggi tentu petambak wajib menggunakan teknologi dalam budidaya untuk menjaga parameter produksi tetap dalam kondisi normal. Target produksi tinggi sudah diterapkan diberbagai wilayah termasuk para petambak di Purworejo, Jawa Tengah.Budidaya Intensif hingga superintensif menuntut penanganan ekstra. Seperti yang kita ketahui, DO harus lebih besar dari 4 ppm sehingga peru adanya teknologi untuk menjaga DO bahkan yang perlu meningkatkannya. Untuk mensiasati hal tersebut, terdapat beberapa petak di tambak Purworejo yang sudah menggunakan teknologi Nanobubble.Dengan menggunakan Nanobubble, mampu meningkatkan kandungan oksigen terlarut hingga 2 kali lipat serta menahan pertumbuhan bakteri atau virus yang dapat menimbulkan penyakit pada udang. Sehingga pembudidaya dapat lebih tenang dalam berbudidaya dan hasil panen yang didapat pun tinggi.Baca juga: Begini Teknik Ablasi Udang WinduPenggunaan Nanobubble sangat diperlukan oleh petambak dengan kepadatan tebar tinggi (intensif hingga superintensif) atau kepadatan diatas 100 ekor per meter persegi yang kondisi kolamnya memerlukan tambahan oksigen terlarut tinggi serta diinginkan tetap terjaga. Disisi lain, untuk memaksimalkan produksi, juga diperlukan teknologi yang dapat menunjang produktivitas udang dari segi nutrisi dan kesehatannya sehingga potensi genetiknya dapat dimaksimalkan.Penerapan teknologi yang dilakukan petambak di Purworejo tersebut menggunakan suplemen yang dicampurkan pada pakan udang. Terdapat beberapa produk diantaranya vitamin, suplemen sumber mineral, hormon organik serta probiotik. Supplemen tersebut rutin diberikan pada saat pemberian pakan. Dengan tambahan teknologi tersebut, maka dapat mampu meningkatkan kekebalan tubuh udang agar terhindar dari berbagai penyakit serta meningkatkan efisiensi pakan sehingga mampu menghemat pakan selama budidaya. Sehingga dengan teknologi yang digunakan pada kolam tambak serta pada pakan maka sudah seharusnya petambak mendapatkan keuntungan yang tinggi.Terdapat 2 petak yang dipanen saat penulis hadir dilokasi tersebut. Masing masing kolam kepadatan 100.000 dan 200.000 ekor pada luasan kolam 1000 meter persegi. Kolam dengan kepadatan tinggi tersebut ternyata mampu mendapatkan hasil yang bisa dibilang luar biasa. Hasil total dari panen yang dilakukan tidak kurang dari 4 Ton. Pemanenan dilakukan secara bertahap/parsial. Parsial dilakukan 2 kali pada saat size 100 dan 70. Kemudian pada saat panen total didapatkan size 57 dan dapat disimpulkan SR (kemampuan bertahap hidup) tercapai hingga 90%.Baca juga: Budidaya Vaname Intensif di Bak Beton (VITON)Kondisi lingkungan yang tetap baik sampai dengan panen serta kondisi udang yang sehat (digambarkan dari SR hingga 90%) maka petambak akan mendapatkan keuntungan yang baik pula. Hasil produktivitas yang baik ini, diharapkan akan mampu menjadikan terobosan dalam budidaya secara intensif dan dapat diterapkan dalam budidaya udang di berbagai wilayah Indonesia untuk memenuhi kebutuhan pasar global maupun domestik.Ditulis oleh:Rifqi Dhiemas AjiKonsultan Teknis PT. Natural NusantaraArtikel AsliTentang MinapoliMinapoli merupakan marketplace++ akuakultur no. 1 di Indonesia dan juga sebagai platform jaringan informasi dan bisnis akuakultur terintegrasi. Dengan memanfaatkan teknologi, pembudidaya dapat menemukan produk akuakultur dengan mudah dan menghemat waktu di Minapoli. Platform ini menyediakan produk-produk akuakultur dengan penawaran harga terbaik dari supplier yang terpercaya. Selain itu, bentuk dukungan Minapoli untuk industri akuakultur adalah dengan menghadirkan tiga fitur utama yang dapat digunakan oleh seluruh pembudidaya yaitu Pasarmina, Infomina, dan Eventmina. ...
Cara Penanganan Tepat Pasca Produksi Udang Windu
Udang

Cara Penanganan Tepat Pasca Produksi Udang Windu

Ketika hasil panen udang windu anda sudah baik, seperti biomassanya yang tinggi, tingkat kematian yang rendah, serta udang dalam keadaan yang sehat tentu anda masih perlu memikirkan kegiatan pasca produksi agar udang windu anda dapat sampai ke tangan konsumen dalam keadaan baik dan segar. Kegiatan pasca produksi udang windu ini sebetulnya merupakan proses yang sederhana, namun teknik-teknik ini akan sangat membantu anda untuk menjaga kualitas udang windu anda tetap baik.Pada dasarnya, kegiatan pasca produksi untuk udang windu terdiri dari kegiatan panen hingga penanganan pasca panen. Ketiganya perlu dilakukan secara berurut dan hati-hati agar seluruh udang hasil panen tidak banyak mengalami kematian. Akan sangat disayangkan jika kualitas udang windu anda menurun atau banyak mati karena melewatkan proses-proses tersebut. Berikut ini adalah tata cara panen dan pasca panen udang windu yang baik dan benar.Baca juga: Begini Teknik Ablasi Udang WinduProses Panen Udang WinduKegiatan pasca produksi udang windu yang pertama adalah cara panen yang baik dan benar. Berikut adalah 5 langkah panen udang windu1. Panen udang windu dilakukan pada malam hariKegiatan panen udang windu sebaiknya dilakukan pada malam hari karena udang akan terdistraksi untuk mencari makan. Udang yang sedang terdistraksi akan lebih mudah untuk dikumpulkan kemudian ditangkap. Selain itu udang windu juga cenderung akan lebih mudah stres bila terpapar sinar matahari secara langsung.2. Penangkapan udang menggunakan bubu dan jala lemparKegiatan panen udang windu selanjutnya adalah menggunakan alat tangkap yang sesuai seperti bubu dan jala lempar. Untuk bubu dapat anda gunakan agar udang terperangkap di dalamnya yang biasanya menggunakan umpan pakan agar udang dapat masuk ke dalam bubu. Sedangkan jika anda menggunakan jala lempar untuk proses panen, dapat memperoleh cakupan udang yang lebih banyak dan luas.3. Letakkan udang pada wadah yang dialiri air Tampunglah udang windu yang sudah ditangkap pada wadah yang dialiri air secara terus menerus. Pilihan lainnya jika anda tidak memiliki cukup wadah atau saluran pengairan, anda juga dapat menampung udang windu anda di dalam hapa yang diletakkan dalam kolam. Hal ini dilakukan agar udang windu anda mendapatkan oksigen yang cukup dan tetap dalam keadaan segar.4. Panen secara hati-hati dan teraturPada saat panen udang windu, anda perlu menghindari panen udang secara terburu-buru dan kasar. Hal ini dapat menyebabkan udang windu yang sedang anda panen menjadi terluka atau rusak. Udang windu yang rusak dapat menurunkan kualitas udang windu anda karena tubuhnya yang mungkin sudah tidak lagi utuh atau bahkan membusuk selama perjalanan.5. Usahakan hasil panen udang windu terhindar dari cahaya matahari langsungSeperti yang telah disebutkan pada poin pertama, bahwa paparan matahari secara langsung dapat membuat udang windu lebih mudah stress atau bahkan mati. Oleh karena itu usahakanlah menghindari paparan cahaya matahari secara langsung selama proses panen udang windu. Baca juga: Ini Dia Cara Membedakan Induk Udang Windu Jantan dan BetinaPenanganan Pasca Panen Udang Windu1. Penyemprotan udang windu hasil panen- Proses pasca panen yang pertama adalah penyemprotan udang untuk menghilangkan kotoran yang menempel pada tubuhnya. Kegiatan ini dilakukan untuk mengurangi adanya bakteri pembusuk yang mungkin menempel dan mempersiapkan udang windu anda dalam keadaan baik dan bersih- Pastikan anda menggunakan air yang bersih selama penyemprotan udang- Disarankan menggunakan pompa portable untuk memudahkan proses penyemprotan. Selain itu pastikan aliran air yang dihasilkan kuat sehingga dapat membersihkan kotoran yang menempel pada tubuh udang - Usahakan agar air limbah setelah penyemprotan tidak mengenai udang lainnya yang sudah bersih sehingga anda tidak perlu bekerja dua kali2. Sortasi (pemilihan) udang windu yang berkualitas- Kegiatan sortasi udang perlu anda lakukan untuk mendapatkan ukuran udang yang seragam saat dijual kepada konsumen- Kelompokkan juga udang anda berdasarkan ukuran (besar, sedang, kecil), jenis, dan yang mutunya baik atau tidak- Udang windu yang rusak (cacat) atau terlalu kecil untuk ukuran panen dapat dipisahkan sendiri untuk dimanfaatkan kembali sebagai terasi, kerupuk udang, atau tepung udang3. Pengemasan udang hasil panen (menjaga kualitas udang)Langkah terakhir dalam proses penanganan pasca panen udang windu adalah proses pengemasan udang. Proses ini perlu dilakukan dalam keadaan hat-hati supaya udang tetap dalam keadaan utuh. Langkah-langkah yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut- Masukkan udang ke dalam wadah yang kedap air (palka) dan diberikan hancuran es batu dengan perbandingan air dan es 1:1 atau 1:2- Proses ini harus dilakukan secara hati-hati agar tidak terjadi kerusakan fisik pada udang andaItulah proses pasca produksi pada udang windu yang dapat anda lakukan pada usaha akuakultur anda. Sumber: Lembar Informasi Pertanian dari Balai Informasi Pertanian RiauTentang MinapoliMinapoli merupakan marketplace++ akuakultur no. 1 di Indonesia dan juga sebagai platform jaringan informasi dan bisnis perikanan budidaya terintegrasi, sehingga pembudidaya dapat menemukan seluruh kebutuhan budidaya disini. Platform ini hadir untuk berkontribusi dan menjadi salah satu solusi dalam perkembangan industri perikanan budidaya. Bentuk dukungan Minapoli untuk industri akuakultur adalah dengan menghadirkan tiga fitur utama yang dapat digunakan oleh seluruh pelaku budidaya yaitu Pasarmina, Infomina, dan Eventmina.  ...
Ini Dia Cara Membedakan Induk Udang Windu Jantan dan Betina
Udang

Ini Dia Cara Membedakan Induk Udang Windu Jantan dan Betina

Jika anda akan memulai pembenihan udang windu, maka perlu mengetahui perbedaan ciri-ciri antara jantan dan betinanya. Pengetahuan ini diperlukan, supaya anda dapat memastikan induk udang yang kita kawinkan adalah jantan dan betina, serta tidak tertukar perbandingannyaJika anda akan sedang memulai pembenihan udang windu, maka anda perlu mengetahui perbedaan ciri-ciri antara induk udang jantan dan betinanya. Pengetahuan ini diperlukan, supaya anda dapat memastikan induk udang yang akan anda kawinkan adalah jantan dan betina. Selain itu, dengan membedakan antara udang jantan dan betina, anda dapat memeriksa kematangan gonad induk udang, serta tidak tertukar perbandingan antara jumlah jantan dan betinanya. Baca juga: Cara Penanganan Tepat Pasca Produksi Udang WinduPerbedaan udang jantan dan betinaPerbedaan udang jantan dan betina dapat diketahui dari alat kelaminnya. Alat kelamin udang jantan disebut dengan ptasma yang terletak di kaki renang pertama, sedangkan lubangnya (gonophore) terletak di antara pangkal kaki jalan ketiga. Pada udang betina alat kelaminnya disebut thelycum, yang letaknya di antara kaki jalan ke empat dan kelima (Pratiwi, 2008). Menurut Lestari (2009), sistem reproduksi betina menggunakan sepasang ovarium, oviduk, lubang genital dan thelycum, sedangkan sistem reproduksi jantan menggunakan testes, vasa deferensia, petasma dan apendiks maskulina. Alat kelamin udang dapat dilihat pada Gambar 1. Pada udang jantan dewasa, gonad akan menjadi testis yang berfungsi sebagai penghasil mani (sperma). Pada udang betina, gonad akan menjadi indung telur (ovarium), yang berfungsi menghasikan telur. Ovarium yang telah matang akan menghasilkan telur dalam jumlah yang banyak. Telur-telur akan merekat pada ovarium dan terangkai seperti buah anggur yang meluas sampai ekor. Sperma yang dihasilkan oleh udang jantan, pada saat kawin akan dikeluarkan dalam kantung seperti lendir yang disebut dengan kantung sperma (spermatophore). Spermatophore dilekatkan pada thelycum udang betina dan disimpan terus disana hingga saat peneluran dengan bantuan petasma. Apabila udang betina bertelur, spermatophore akan pecah, dan selsel sperma akan membuahi telur di luar badan induknya. Gambar 1. Alat kelamin udang Windu jantan (Petasma) dan alat kelamin udang Windu betina (Thelycum) (Paula, 1988. http://www.india_ocean.org.).Baca juga: Genjot Produksi Benih dan Stok Induk UdangKriteria Induk UdangKriteria induk udang windu yang baik serta produktif Menurut Murtidjo (2003), adalah sebagai berikut:1. Berat induk udang betina minimal 100 g, sedangkan induk udang jantan minimal 80 gram2. Tubuh induk udang tidak cacat luka, terutama organ reproduksi dan bagian punggung3. Bentuk punggung induk udang relatif datar dan berkulit kerasTingkat Kematangan Gonad Induk UdangTingkat kematangan gonad pada induk udang betina dapat dirangsang supaya udang cepat melakukan pemijahan. Menurut Murtidjo (2003), bahwa ada beberapa cara yang dapat dilakukan, antara lain:1. Pemijatan tangkai bola mata dan bola mata2. Pembakaran tangkai mata dengan menggunakan solder atau dengan benda perak nitrat3. Pengikatan tangkai mata4. Pemotongan atau pengguntingan tangkai mata.Baca juga: Begini Teknik Ablasi Udang WinduCara yang paling praktis dan efektif, serta menunjukkan hasil yang baik adalah dengan melakukan pemotongan tangkai mata (ablasi). Ablasi pada udang windu berpedoman pada perkembangan alat kelamin kepiting yang dihambat oleh hormon yang dikeluarkan oleh kelenjar pada tangkai mata. Apabila tangkai mata kepiting dihilangkan, hormon yang menghambat perkembangan alat kelamintidak diproduksi, sehingga kepiting sanggup mematangkan telur dan memijahDibuat Oleh Tim MinapoliSumber:Pratiwi, Rianta. 2018. Aspek Biologi dan Ablasi Mata Pada Udang Windu penaeus monodon Suku Penaeidae (Deapoda: Malcostraca). Oseana. 43(2): 34-47Murtidjo, B. A. 2003. Benih Udang Windu Skala Kecil. Kansius. Jakarta, 25 halLestari, A. 2009. Manajemen resiko dalam usaha pembenihan udang Vannamei (Litopenaeus vannamei), Studi kasus di PT. Suri Tani Pemuka, Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Departemen Agribisnis, Fakulatas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. [Skripsi], 89 hal.Paula, D. 1998. National institute of oceanography images. Bioinformatic centre India. Goa. http://www.india_ocean.org. Tanggal akses 28 April 2018, 5 pp. ...
5 Langkah Supaya Induk Udang Vaname Berhasil Memijah
Udang

5 Langkah Supaya Induk Udang Vaname Berhasil Memijah

Apakah anda baru akan memulai bisnis di pembenihan udang vaname? Tahukah anda, bahwa dalam menghasilkan benih udang vaname yang berkualitas, anda membutuhkan pengetahuan dasar untuk pengelolaan induk udang yang baik. Pengelolaan ini dibutuhkan agar induk udang tidak mengalami stres sehingga mampu menghasilkan jumlah telur yang banyak disertai persentase penetasan telur yang tinggi. Dengan tercapainya kualitas benur yang baik, maka juga akan berpengaruh pada hasil penjualan budidaya anda nantinya. Berikut ini adalah 5 langkah pemeliharaan induk udang vaname yang perlu diperhatikan di antaranya seperti manajemen kualitas air, manajemen pemberian pakan yang sesuai, proses ablasi untuk pematangan gonad, teknik pemijahan dan juga proses penetasan telur. Baca juga: Pengelolan Air di TambakManajemen kualitas airKualitas air menjadi faktor pembatas pertama dalam kelulus hidupan induk udang vaname yang perlu anda perhatikan. Oleh karena itu perlu dilakukan manajemen kualitas air secara berkala selama pemeliharaan induk udang anda. Hal tersebut juga dilakukan untuk menghindari perubahan drastis pada air di kolam induk anda, yang dapat menyebabkan udang anda stres hingga mungkin mati. Sebagai contoh, pengelolaan kualitas air induk udang vaname di PT Eesaputlii Prakarsa Utama, Barru, Sulawesi Selatan  menggunakan sistem flowthrough atau pergantian air secara terus menerus setiap harinya. Manajemen kualitas air pada induk udang vaname dilakukan dengan mengganti 250% air setiap harinya di bak induk, hal ini bertujuan agar air yang masuk adalah air baru yang kualitasnya baik. Berikut ini adalah parameter yang dapat anda gunakan sebagai tolok ukur kualitas air yang baik untuk induk udang vaname.Tabel 1. Kualitas air pemeliharaan induk udang vaname (Litopenaeus vannamei) No Parameter Kualitas Air Nilai 1 Suhu (°C) 27-28 2 pH 7,9-8,1 3 DO (ppm) 4,5-5,8 4 Salinitas (ppt) 34       Manajemen pemberian pakanTidak hanya pada ikan, udang juga memerlukan manajemen pemberian pakan yang sesuai dengan kebutuhannya. Pada pemeliharaan induk udang vaname dibutuhkan pakan yang mengandung protein tinggi, seperti yang terkandung pada pakan segar (hidup). Hal ini perlu diperhatikan selama pemeliharaan induk udang anda untuk proses pematangan gonad, meningkatkan kualitas pemijahan, dan peningkatan kualitas benur udang yang akan dihasilkan. Sebagai contoh manajemen pemberian pakan induk udang yang dilakukan di PT Eesaputlii Prakarsa Utama, Barru, Sulawesi Selatan adalah sebagai berikutTabel 2. Manajemen pemberian pakan pada induk udang vaname No Jenis Pakan Frekuensi pakan Dosis Waktu Pemberian 1 Cacing laut 3x 30-40% 11.00, 20.00, 23.00 2 Cumi-cumi 2x 30-40% 08.00,18.00  Baca juga: Begini Teknik Ablasi Udang WinduAblasi pada induk udangProses ablasi udang adalah salah satu proses pemeliharaan induk udang yang membutuhkan kehati-hatian dan pengalaman. Pada dasarnya proses ini merupakan proses pemotongan tangkai mata udang yang diperuntukan untuk mempercepat pematangan gonad (kelenjar seksual). Pemotongan ini diperlukan jika anda mengharapkan induk udang anda cepat memijah (kawin), karena udang yang matang gonad berarti sudah siap untuk dipijahkan.Secara sederhana, dengan dihilangkannya organ X penghasil hormon penghambat perkembangan gonad atau Gonad Inhibiting Hormon (GIH) yang terletak pada tangkai mata, akan mengakibatkan kerja organ Y sebagai penghasil hormone yang meransang perkembangan ovarium Gonad Stimulating Hormone (GSH) tidak terhambat. GSH yang tidak dihambat ini akan menstimulasi perkembangan gonad secara terus menerus.Induk udang yang matang gonad dicirikan dengan perkembangan ovari yang berwarna hijau agak gelap yang terletak dibagian karapas sampai ke pangkal ekor (telson) dan punggungnya yang berwarna merah kekuningan. Tingginya jumlah udang yang matang gonad akan ikut meningkatkan persentase perkawinan udang. Tingkat keberhasilan ablasi dapat dilihat ketika 70% dari total induk yang diablasi berhasil kawin.Teknik pemijahan dan penetasan telur Proses ini merupakan  bagian terpenting dari pengelolaan induk udang vaname. Pemijahan atau perkawinan induk udang dapat anda lakukan dengan menggabungkan udang jantan dan udang betina yang matang gonad di satu wadah yang sama, dengan perbandingan jantan dan betina 1:2 atau 2:3 tergantung jumlah induk dan kebutuhan. Pengecekan telur udang vaname dilakukan pada malam hari. Induk udang yang telah melepaskan telurnya dikembalikan pada bak pemeliharaan induk agar tidak mengganggu telur-telur yang ada didalam bak peneluran.Ditulis oleh Tim MinapoliSumber:Atikah ID , Hartinah, dan Wahidah. 2018. Teknik Pengelolaan Induk Udang Vaname (i) di PT Eesaputlii Prakarsa Utama, Barru, Sulawesi Selatan. Sinergitas Multidisiplin Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Vol. 1 ...
Begini Teknik Ablasi Udang Windu
Udang

Begini Teknik Ablasi Udang Windu

Udang windu atau dalam nama latinnya adalah Penaeus monodon merupakan udang laut yang termasuk ke dalam jenis udang berukuran besar. Udang windu kini semakin populer untuk dibudidayakan karena memiliki nilai ekonomi dan gizi yang tinggi. Udang windu yang dapat dijual nantinya berasal dari benih udang yang berkualitas.Salah satu upaya peningkatan produksi benih udang windu dalam proses pembenihan udang yang dapat anda lakukan adalah dengan melakukan proses ablasi udang. Solusi ini muncul karena secara alami, kematangan gonad udang windu sangatlah lama. Proses ini penting untuk anda kuasai dalam proses pembenihan udang windu.Apa itu ablasi?Ablasi adalah usaha untuk mempercepat kematangan gonad udang dengan cara merusak sistem saraf khususnya mata udang. Hal tersebut dikarenakan selain digunakan untuk melihat, saraf pada mata udang sangat berpengaruh dalam proses perkembangbiakan, khususnya percepat kematangan gonad.Pada dasarnya di dalam tangkai mata udang yang terdapat organ X sebagai penghasil hormon perkembangan dan pematangan gonad (Gonade Inhibiting Hormone/ GIH), serta penghambat pergantian kulit (Moulting Inhibiting Hormone/ MIH). Jika organ X sudah tidak ada karena dipotong, maka organ Y yang terletak di kepala dapat menghasilkan hormon perangsang pembentukan gonad (Gonad Stimulating Hormone/GSH), sehingga proses pematangan gonad dapat berlangsung lebih cepat.  Gambar 1. Sistem hormon pada udang Windu (Setiawan, 2004). Keterangan: Garis -------------- = Berpengaruh tidak langsung Garis _________ = Berpengaruh langsungTeknik ablasiAblasi perlu dilakukan dengan teknik atau cara  yang baik dan benar agar udang tidak stres kemudian mati. Beberapa teknik untuk melakukan proses ablasi udang menurut Amin & Iromo (2014); Suyanto & Takarina. (2009) adalah sebagai berikut :1. Pincing, yaitu menjepit salah satu tangkai mata udang tanpa pemanasan dan tidak sampai putus2. Ligation, yaitu menjepit salah satu tangkai mata udang dengan pemanasan dan tidak sampai putus3. Cauttery, yaitu memencet tangkai mata udang sampai putus4. Cutting, yaitu memotong tangkai mata udang dengan gunting (Gambar 2). Tahapan ablasi Adapun tahapan-tahapan dalam melakukan proses ablasi udang menurut Suyanto & Takarina (2009) adalah sebagai berikut:1. Siapkan alat berupa gunting yang steril2. Induk udang yang akan diablasi, ditangkap dengan seser dan dipilih induk yang memiliki kulit keras3. Induk direndam dengan malachite green 25 ppm sekitar 2-3 menit, kemudian dimasukan ke dalam larutan antibiotik yaitu oxytetracycline sebanyak 25 ppm4. Induk dilengkungkan badannya dengan cara meletakkan ibu jari di atas karapas dan jari kelingking harus menekan ekor udang5. Potong salah satu tangkai mata udang dengan gunting yang steril sampai putus6. Induk yang dipotong masukan dalam bak perkawinan dan dicampur dengan induk jantan untuk melakukan perkawinan7. Perbandingan jantan dan betina 1:2 atau 2:3 tergantung jumlah induk dan kebutuhan.  Gambar 2. Salah satu tahapan proses ablasi mata, yaitu memotong tangkai mata dengan menggunakan guntingPustaka:Amin, M.H, Iromo, H. 2014. Optimalisasi reproduksi indk untuk menjaga keseimbangan populasi udang windu di perairan Tarakan, Kalimantan Utara. Jurnal Harpodon Borneo 7(2): 102-108Pratiwi, Rianta. 2018. Aspek Biologi dan Ablasi Mata Pada Udang Windu penaeus monodon Suku Penaeidae (Deapoda: Malcostraca). Oseana. 43(2): 34-47Setiawan, A. 2004. Modul pemijahan induk udang. Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan. Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan MenengaDepartemen Pendidikan Nasional. Hal. 32Suyanto R, Takarina E,P. 2009. Panduan Budidaya Udang Windu. Penebar Swadaya. Hal 56 ...
Manajemen Pakan Pada Pemeliharaan Larva Udang Vaname
Udang

Manajemen Pakan Pada Pemeliharaan Larva Udang Vaname

Jenis pakan yang diberikan pada larva udang Vaname selama proses pemeliharaan terdiri dari dua jenis yaitu pakan alami (fitoplankton dan zooplankton) dan pakan buatan (komersial). Jenis pakan alami yang digunakan adalah Chaetoceros ceratos dan Artemia salina. Pakan buatan diberikan pada larva untuk mencegah terjadinya kekurangan pakan selama pemeliharaan larva. Masing-masing makanan tersebut diberikan dengan jumlah dan frekuensi tertentu sesuai dengan stadia larva.Larva udang Vaname pada stadia nauplius (mulai saat tebar sampai 3 hari) belum diberi pakan, karena pada stadia ini larva udang Vaname masih mempunyai persediaan makanan yaitu kantong kuning telur sebagai pensuplai makanan. Setelah nauplius berkembang menjadi zoea, larva mulai membutuhkan makanan, terutama makanan yang melayang-layang dalam air.Baca juga: Kecukupan Pakan pada BenurManajemen Pakan AlamiMakanan utama larva udang Vaname dalam daur hidupnya adalah plankton, baik plankton nabati (fitoplankton) maupun plankton hewani (zooplankton). Namun di dalam air laut, banyak sekali dijumpai beraneka macam jenis plankton dengan beraneka ragam pula bentuk dan ukurannya. Tentu saja tidak semua jenis plankton tersebut dapat dijadikan pakan bagi larva udang, tetapi harus di sesuaikan dengan kondisi larva itu sendiri. Oleh karena itu, dalam memelihara larva udang perlu di pilih jenis plankton yang baik dan sesuai dengan kebutuhan larva.Frekuensi pemberian algae dilakukan tiga kali dalam satu hari yaitu pada pukul 09.00, 15.00, dan 21.00 WIB. Jenis algae yang digunakan antara lain yaitu Skeletonema costatum, Tetraselmis chuii, Chaetoceros calcitrans, Chaetocerros muelleri dan Thalasiosira sp. Frekuensi pemberian algae dapat berubah sewaktu-waktu tergantung dari ketersediaan algae yang terdapat dalam media pemeliharaan. Dosis pemberian algae diberikan tergantung dari jumlah kepadatan algae yang tersisa dalam bak pemeliharaan, dimana pada tiap stadia terdapat standar pemberian pakan algae. Algae diberikan dengan cara mentransfernya menggunakan pompa yang telah dihubungkan dengan bak pemeliharaan larva. Setelah pemberian algae dilakukan, instalasi pipa dan selang yang digunakan untuk mentransfer algae disterilisasi menggunakan larutan formalin sebanyak 1000 ppm.Cek Artemia yang Anda Butuhkan Disini!Artemia mulai diberikan pada saat larva memasuki stadia Mysis 2. Jenis artemia yang digunakan yaitu Artemia salina. Naupli artemia yang baru menetas diberi aerasi lalu diberikan untuk larva. Hal ini dilakukan agar naupli dalam penampungan sementara tetap dalam kondisi hidup. Sebelum diberikan, naupli artemia diberi larutan formalin sebanyak 5 ppm dengan cara menuangkan larutan formalin ke dalam ember 10 liter kemudian naupli artemia dicelupkan ke dalam ember kemudian ditampung di ember yang bervolume 50 liter dan diberi 2 titik aerasi.Pemberian formalin tersebut bertujuan untuk mensterilisasi naupli artemia agar tidak terkontaminasi oleh bakteri yang terdapat pada cyste artemia. Selanjutnya naupli artemia diberikan menggunakan gayung dengan cara ditebarkan secara merata. Pemberian naupli artemia didasarkan pada standar jumlah pemberian naupli artemia yaitu sebanyak 3500 gram per satu juta ekor. Frekuensi pemberian pakan artemia yang terlalu sering akan mengakibatkan tingginya biaya yang dikeluarkan selama proses produksi. Selain itu, waktu yang digunakan kurang efisien.Kultur Fitoplankton dan ZooplanktonPlankton jenis fito (algae) yang digunakan adalah Cheatocerros sp, Tetraselmis sp, dan Thalasiosira sp. Pakan alami akan diberikan pada stadia akhir nauplius sampai stadia akhir mysis. Frekuensi pemberian algae dilakukan tiga kali dalam satu hari yaitu pada pukul 09.00, 15.00, dan 21.00 WIB. Sebelum diberikan terlebih dahulu algae harus dikultur secara murni (indoor), semi massal (intermediate) serta massal (outdoor).Zooplankton yang diberikan pada larva udang Vaname yang dibudidayakan adalah jenis Artemia salina. Pemberian artemia diberikan setelah mencapai stadia MPL (Mysis Post Larva) sampai  PL (Post Larva). Frekuensi pemberian Artemia sebanyak 3 kali dalam sehari yaitu pukul 09.00; 15.00; 22.00. Artemia sebelum diberikan ke bak pemeliharaan larva, terlebih dahulu harus dilakukan kultur. Kultur artemia didahului dengan melakukan kegiatan dekapsulasi. Dekapsulasi adalah proses pengikisan cangkang telur (cyste) artemia agar lebih cepat menetas saat dilakukan kultur.Baca juga: Manfaat Spirulina untuk Pakan UdangManajemen Pakan BuatanPakan buatan merupakan pakan yang sengaja dibuat oleh manusia yang kandungan nutrisinya disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi larva. Dalam proses pemeliharaan larva udang Vaname, pemberian pakan buatan sangat berpengaruh dalam menunjang pertumbuhan larva.Untuk menunjang hal tersebut, perlu dilakukan sistem pemberian pakan buatan yang tepat waktu, tepat jenis, tepat cara dan tepat guna. Pakan buatan sudah diberikan pada stadia zoea sampai dengan post larva. Hal yang perlu diperhatikan dalam memilih pakan buatan adalah nutrisi, ukuran, dan kualitas fisik yang baik.Pakan buatan yang diberikan kepada larva udang harus memiliki kandungan nutrisi yang baik sesuai dengan kebutuhan larva untuk pertumbuhan. Kandungan nutrisi dilihat dari kandungan gizi di dalam pakan seperti kandungan protein, lemak, karbohidrat, vitamin, kadar air, dan mineral. Kandungan protein pakan buatan yang baik yaitu minimum 40% sedangkan kandungan lemak maksimal 10%. Ukuran pakan yang diberikan disesuikan dengan stadia larva udang. Udang pada stadia Zoea diberikan pakan dengan ukuran 50 – 100 µm, pakan mysis ukuran 100 – 200 µm dan pakan post larva berukuran 200 – 300 µm (SNI 7311 : 2009).Pemberian pakan harus dilakukan secara tepat. Karena apabila dalam pemberiannya terjadi kelebihan maupun kekurangan akan berdampak buruk bagi larva yang dipelihara. Kelebihan pakan akan menyebabkan banyaknya endapan yang terdapat pada dasar bak akibat dari sisa pakan yang tidak termakan oleh larva, sehingga hal tersebut akan menimbulkan penurunan kualitas air pada media pemeliharaan.Menurunnya kualitas air tersebut dipicu oleh endapan sisa pakan dalam dasar bak yang dalam jangka waktu tertentu akan berubah menjadi senyawa beracun seperti : amonia, nitrat, nitrit, dan H2S. Apabila hal tersebut terjadi, akan mengakibatkan menurunnya daya tahan tubuh larva sehingga larva akan lebih mudah terserang berbagai macam penyakit. Karena dengan kondisi yang seperti itu bibit penyakit dapat berkembangbiak secara cepat.Kekurangan pakan akan menyebabkan berkurangnya nutrisi yang diserap oleh larva, sehingga akan menghambat proses pertumbuhan pada larva. Selain itu, apabila terjadi kekurangan pakan akan menimbulkan sifat kanibalisme pada larva yang berakibat larva akan saling memakan sesama jenisnya.Baca juga: Penggunaan Tambahan Pakan Non-Nutritif untuk Optimalisasi Pakan Dan Keberhasilan Budidaya Udang VanameOleh karena itu, kegiatan pengelolaan pakan harus dilakukan secara tepat (waktu, jenis, cara, dan fungsi) agar tidak menimbulkan kelebihan dan kekurangan pakan dan pakan yang diberikan sesuai dengan larva. Sehingga apabila hal tersebut dapat terlaksana dengan baik dapat menghasilkan output yang berupa sintasan dengan presentase yang tinggi.Pemberian pakan buatan dilakukan empat jam sekali selama 24 jam atau enam kali per hari yaitu pada pukul 02.00, 06.00, 10.00, 14.00, 18.00, dan 22.00. Meningkatnya umur larva akan berpengaruh pada dosis pemberian pakan yang semakin meningkat sejalan dengan tingkat pertumbuhan larva.  Pakan buatan yang biasa diberikan untuk larva udang Vaname adalah pakan dalam bentuk bubuk, cair dan flake (lempeng tipis) dengan ukuran partikel sesuai dengan stadianya. Tahapan pemberian pakan buatan 1. Mencatat jumlah pakan yang diperlukan sesuai dengan nomor bak\2. Menimbang pakan dan diberi nomor bak yang akan diberi pakan3. Menuangkan pakan ke dalam saringan pakan dengan ukuran saringan mesh 100, kemudian dihancurkan serta dilarutkan di dalam air laut/tawar sebanyak 10 liter yang sudah disiapkan di dalam ember agar ukuran partikel pakan sesuai dengan bukaan mulut larva4. Menyebarkan pakan secara merata ke dalam bak pemeliharaan larva dengan menggunakan gayung5. Mencuci ember dan gayung hingga bersih dan mengembalikan peralatan di tempat masing-masing.Pakan diberikan menggunakan gayung dengan cara menebarkannya secara merata ke seluruh permukaan air media. Hal tersebut dilakukan agar pakan dapat menyebar secara merata sehingga dalam perolehan pakan untuk larva dapat dilakukan dengan mudah. Penyimpanan pakan dilakukan dalam gudang pakan dengan suhu ruangan 22°C.Dalam melakukan penyimpanan pakan sebaiknya ditempatkan pada kondisi tempat yang kering dan terhindar dari pancaran sinar matahari secara langsung. Hal ini bertujuan agar pakan tidak mengalami pembusukan akibat keadaan pakan yang lembab atau basah dan nutrisi yang terkandung dalam pakan tidak berkurang akibat terkena sinar matahari.Ditulis Oleh : Deni Aulia, S.Tr.Pi, S.PPenyusun Rencana Ketenagaan, Pusat Pendidikan Kelautan dan PerikananKetua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Taruna Mandiri 47Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Wiratama 47Artikel AsliTentang MinapoliMinapoli merupakan marketplace++ akuakultur no. 1 di Indonesia dan juga sebagai platform jaringan informasi dan bisnis perikanan budidaya terintegrasi, sehingga pembudidaya dapat menemukan seluruh kebutuhan budidaya disini. Platform ini hadir untuk berkontribusi dan menjadi salah satu solusi dalam perkembangan industri perikanan budidaya. Bentuk dukungan Minapoli untuk industri akuakultur adalah dengan menghadirkan tiga fitur utama yang dapat digunakan oleh seluruh pelaku budidaya yaitu Pasarmina, Infomina, dan Eventmina.  ...
Budidaya Vaname Intensif di Bak Beton (VITON)
Udang

Budidaya Vaname Intensif di Bak Beton (VITON)

Salah satu strategi untuk realisasi target peningkatan produksi udang vaname nasional hingga 250% di tahun 2024 adalah dengan melakukan peningkatan jumlah lahan produksi yang dilengkapi dengan perbaikan  sistem manajemen produksi. Pemeliharaan udang Vannamei secara intensif yang dilakukan di bak beton (VITON) dapat dijadikan salah satu alternatif strategi selain metoda konvensional yang umum digunakan saat ini.Berdasarkan data Food and Agricultural Organization (FAO), produksi budidaya udang vaname secara umum dapat dikategorikan menjadi 3 (tiga) sistem: (1) Sistem tradisional atau ekstensif (2) Sistem semi-intensif; dan (3) sistem intensif. Faktor yang secara signifikan membedakan masing-masing sistem pemeliharaan adalah jenis tambak/kolam yang digunakan, input pakan, padat tebar, pengelolaan air, modal usaha, dan jenis teknologi yang diaplikasikan.Sistem tradisional memiliki karakteristik padat tebar yang lebih rendah dibandingkan dengan semi-intensif dan intensif, dan juga minim input suplemen pakan dan sangat mengandalkan ketersediaan pakan alami untuk mendukung pertumbuhan udang. Sistem semi-intensif memiliki padat tebar yang lebih tinggi dibandingkan sistem ekstensif dengan kombinasi pakan alami dan buatan untuk mendukung carrying capacity media pemeliharaan. Namun produktivitas yang dihasilkan masih terhitung cukup rendah.Untuk sistem intensif sendiri, selain padat tebar yang lebih tinggi dibandingkan dengan kedua sistem lainnya, beberapa teknologi mulai dari teknologi pakan, manajemen kualitas air hingga kepada pengguaan teknologi 4.0 untuk manajemen data sudah mulai diaplikasikan. Tujuan utama adalah meningkatkan produktivitas dan efisiensi produksi. Pada tulisan ini, penulis coba mengurai beberapa input teknologi yang dapat digunakan sebagai pendukung optimalisasi produksi udang vaname yang dilakukan secara intensif di bak beton (VITON) yang dikembangkan di Batam, dimulai dari teknologi pendederan (nursery), manajemen pemeliharaan yang meliputi penggunaan nozzle venture dan disc diffuser untuk peningkatan kualitas air dan aplikasi 4.0.Baca juga: Genjot Produksi Benih dan Stok Induk UdangTeknologi NurserySistem nursery merupakan bagian yang tidak terpisahkan untuk mendukung optimalisasi VITON. Tujuan utama dari sistem ini adalah untuk meningkatkan kondisi kesehatan, fisiologis dan laju pertumbuhan udang yang akan digunakan untuk proses perbesaran. Aplikasi sistem nursery juga menjadikan petambak lebih mudah untuk melakukan screening awal dengan hanya menggunakan benih udang yang bebas penyakit dan memiliki performa pertumbuhan yang lebih baik.Manfaat lain dari penggunaan teknologi nursery ini adalah menjadikan benih yang digunakan mendapatkan kebutuhan nutrisi spesifik yang diinginkan serta dapat meningkatkan efisiensi pemeliharaan. Rekayasa nutrisi akan lebih mudah dilakukan di sistem nursery dan menjadi faktor pembeda dengan metode konvensional lainnya sehingga durasi pemeliharaan di bak perbesaran nantinya akan menjadi lebih singkat dengan tingkat kelulushidupan yang lebih baik.Untuk pada tebar di bak nursery bisa dilakukan dengan kepadatan 6000 – 9000 PLs/m3 dengan berat awal 0.01 – 0.03 g. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemanfaatan teknologi nursery ini adalah tinjauan manajemen produksi dan carrying capacity lingkungan bak pemeliharaan selama masa pemeliharaan hingga akhirnya mendapatkan ukuran benih udang yang diinginkan.Proses pemindahan dengan minimalisasi proses handling dan aklimatisasi yang baik juga menjadi faktor penting untuk diperhatikan agar potensi stress yang berujung pada mortality benih udang ketika dimasukkan kedalam bak pembesaran dapat berkurang secara signifikan.Baca juga: Percontohan Klaster Budidaya Udang Berkelanjutan DibangunManajemen PemeliharaanPersiapan bak, pergerakan air, manajemen pakan dan air serta proses oksigenasi merupakan bagian penting dalam sistem VITON. Persiapan bak dimulai dari proses sterilisasi  bak dan air yang akan digunakan. Inokulasi alga Nannochloropsis sp yang dipadukan dengan Thalassiosira sp yang merupakan jenis diatom dengan kandungan protein cukup tinggi selama masa persiapan juga menjadikan udang tumbuh lebih baik.Konsentrasi 104 sel/mL dari kedua campuran alga tersebut menjadi indikator yang baik sebelum udang ditebar di bak perbesaran VITON. Untuk efisiensi pakan, sistem bioflok juga dapat diintegrasikan guna mendukung optimalisasi produksi dalam sistem VITON. Untuk hasil yang optimal, proses fermentasi dapat dilakukan secara rutin dimulai dari 2 minggu sebelum penebaran udang dilakukan.Komponen fermentasi yang dapat digunakan terdiri atas bekatul, bakteri probiotik, molase dan enzim yang difermentasi secara anaerob dan aerob selama 48 jam. Proses penebaran hasil fermentasi dapat dikombinasikan dengan penebaran alga selama fase persiapan bak.Selama masa pemeliharaan, tentu level oksigen terlarut diharapkan selalu berada dalam kondisi optimal. Untuk sistem oksigenasi yang baik, penggunaan Venturi nozzle merupakan cara yang cukup efektif untuk melakukan suplai oksigen kedalam bak VITON.Kombinasi dengan Disc diffusers akan menghasilkan sistem oksigenasi yang lebih efisien karna memiliki pori yang lebih kecil dibandingkan oksigen difuser konvensional. Untuk mendukung sirkulasi air dan optimalisasi kedua sistem ini, penggunaan airlift atau kincir mini sangat direkomendasikan sebagai tambahan dalam sistem VITON.Berdasarkan pengamatan, kombinasi Venturi nozzle, Disc diffusers dan kincir mini mampu meningkatkan konsentrasi oksigen dalam media pemeliharaan sebesar 15-20% dan produktivitas udang sebesar 50 – 60% dibandingkan dengan sistem aerasi konvesional yang umum digunakan.Sistem VITON akan berjalan baik bila manajemen kualitas air dan pakan dilakukan secara rutin dan kondisi lingkungan tidak melebihi carrying capacity yang dapat ditolerir oleh vaname. Penggantian air menjadi rutinitas penting yang harus dilakukan bila konsentrasi unsur toksik seperti Ammonia (NH3-N), Nitrit (NO2-N) dan Sulfida (S2-) meningkat melebihi batas toleransi maksimum.Pergantian air juga dilakukan kalau terjadi blooming alga yang dapat dengan cepat mereduksi konsentrasi oksigen terlarut dan mempengaruhi beberapa parameter kualitas air lainnya. Bila dipadukan dengan teknologi bioflok, perubahan warna air dapat menjadi indikator penting keberhasilan sistem yang dikembangkan.Akhirnya, penerapan teknologi 4.0 melalui manajemen data dengan mengintegrasikan seluruh data produksi kedalam satu sistem akan semakin memudahkan sistem pemeliharaan dengan metoda VITON. Ketertelusuran dan akurasi data menjadi sangat penting untuk melakukan penentuan arah produksi. Beberapa sistem manajemen data saat ini sudah banyak tersedia, seperti: JALA, AquaEasy, IQuatics dan lainnya untuk memudahkan kita melakukan analisis tentang sistem budidaya yang kita lakukan dan beberapa apps juga memberikan prediksi pertumbuhan dan waktu yang tepat untuk melakukan panen. Semua teknologi ini ketika digunakan dengan baik dan konsisten akan memberikan hasil yang optimal.Baca juga: Budidaya di Musim Kemarau, Masalah dan SolusinyaHambatanSeperti halnya masalah yang timbul ketika melakukan sistem pemeliharaan dengan kepadatan tinggi, keterlambatan dalam melakukan identifikasi perubahan kualitas air dan melakukan pergantian air ketika loading kotoran, sisa pakan, bahan organik dan partikel terlarut yang bersifat toksik semakin meningkat, menjadi faktor penghambat utama dalam sistem produksi VITON.Kegagalan dalam menjalankan minimalisasi handling ketika transfer udang dari bak nursery ke bak perbesaran juga menjadi salah satu faktor penghambat sekunder kegagalan produksi akibat kesalahan dalam menentukan biomass yang berujung pada kesalahan penentuan jumlah pakan yang tepat (Over feeding) sehingga mempercepat degradasi kualitas lingkungan.Analisa Ekonomi Sederhana VITONTabel 1. Investasi VITON ukran 8 x 8 m dan kedalaman 120 cm Investasi Total (IDR) 1 Konstruksi beton, instalasi air dan sistem aerasi           30.000.000 2 Root blower (1 unit)           15.000.000 3 Pompa 2 inchi (1 unit)             3.000.000 4 Kincir Minipadd (1 unit)             3.750.000 5 Nozzle Venturi (4 unit)                600.000 6 Disc Diffuser (5 unit)                500.000 7 PLN + Genset emergency             5.000.000   Total           57.850.000  Tabel 2. Data analisis usaha budidaya dengan sistem VITON kepadatan 600 PL/m2 per 1 bak beton ukuran 8 x 8 m kedalaman 120 cm Modal kerja  Total (IDR) 1 Benur F1 (600*64 = 38,400) @70 (Batam)             2.688.000 2 Pakan FCR 1.5 @15,000/Kg           13.500.000 Target produksi SR 80% size 50 = 600 Kg 3 Fermentasi + enzim             5.000.000 4 Pekerja 3 bulan (1 kolam)             2.500.000 5 Listrik + BBM             1.500.000 Total           25.188.000 Panen 600 Kg * IDR 70,000/Kg           42.000.000 Pendapatan bersih/bak/siklus           16.812.000  Ditulis oleh Dr. Romi Novriadi, M.ScSumber: Info AkuakulturTentang MinapoliMinapoli merupakan marketplace++ akuakultur no. 1 di Indonesia dan juga sebagai platform jaringan informasi dan bisnis perikanan budidaya terintegrasi, sehingga pembudidaya dapat menemukan seluruh kebutuhan budidaya disini. Platform ini hadir untuk berkontribusi dan menjadi salah satu solusi dalam perkembangan industri perikanan budidaya. Bentuk dukungan Minapoli untuk industri akuakultur adalah dengan menghadirkan tiga fitur utama yang dapat digunakan oleh seluruh pelaku budidaya yaitu Pasarmina, Infomina, dan Eventmina.  ...
Penggunaan Tambahan Pakan Non-Nutritif untuk Optimalisasi Pakan Dan Keberhasilan Budidaya Udang Vaname
Udang

Penggunaan Tambahan Pakan Non-Nutritif untuk Optimalisasi Pakan Dan Keberhasilan Budidaya Udang Vaname

Salah satu penentu keberhasilan budidaya adalah pengelolaan pakan. Agar sukses budidaya dan efisien dalam penggunaan pakan, perlu adanya penambahan komponen non-nutrisi ke dalam pakan. Fungsinya untuk meningkatkan efisiensi pakan dan daya tahan udang terhadap serangan penyakit serta mengurangi pencemaran lingkungan. Beberapa komponen tersebut di antaranya adalah probiotik, prebiotik, sinbiotik, fitobiotic (fitogenik), minyak atsiri, asam organik, imunostimulan dan enzim.Meskipun 50 – 60% dari biaya produksi digunakan untuk pakan, Primavera mengungkapkan, udang vaname hanya mengonsumsi sekitar 17% yang digunakan untuk pertumbuhan atau dipanen dalam bentuk biomassa udang. Oleh karena itu, tidak semua nutrisi yang terkandung dalam pakan buatan dapat diserap oleh udang sehingga sebagian besar akan terbuang ke lingkungan berupa kotoran udang (feces), dan pakan yang tidak termakan.Banyaknya limbah yang terbuang akan berdampak pada kualitas air dalam media budidaya. Seperti perkembangan plankton yang sangat cepat yang dapat menyebabkan goncangan kualitas air sehingga dapat menimbulkan stres pada udang. Oleh karena itu, perlu diupayakan agar nutrisi pakan dapat dimanfaatkan atau terserap secara optimal. Dengan demikian maka nilai konversi (FCR) akan lebih baik.Baca juga: Efisiensi Pakan dengan Fermentasi dan Penggunaan Pupuk Organik CairPentingnya Efisiensi PakanEfisiensi pakan adalah tingkat kecernaan nutrisi pakan yang dapat terserap oleh usus udang. Dengan kata lain, nutrisi pakan yang dapat diubah menjadi menjadi bagian tubuh udang yang disebut nilai konversi pakan atau Feed Convertion Ratio (FCR). Pemberian pakan yang tepat akan memberikan hasil pertumbuhan udang yang bagus (optimal).Kurang dalam pemberian pakan menyebabkan lambatnya pertumbuhan udang dan tidak rata. Sementara itu, pakan yang berlebih akan menimbulkan masalah pencemaran lingkungan (air dan dasar tambak). Oleh karena itu, pemberian pakan yang tepat sangat diperlukan agar pertumbuhan udang baik, konversi pakan rendah dan mencegah timbulnya masalah pencemaran air tambak.Aspek Lingkungan dalam Manajemen PakanManajemen pakan yang salah akan berakibat pada kerusakan media budidaya. Pemberian pakan yang berlebih dengan harapan untuk memacu pertumbuhan dapat memberikan hasil tidak seperti yang diharapkan. Suhu air yang tinggi pada kisaran 30 – 32 oC akan memicu tingkat nafsu makan yang berlebihan sehingga bisa mengecoh para teknisi.Berapapun jumlah pakan yang diberikan dianco akan habis. Pembudidaya akan meningkatkan jumlah konsumsi pakan meskipun sebenarnya pakan yang diberikan sudah melebihi kebutuhan. Pakan yang tidak termakan serta kotoran udang akan meningkatkan kandungan bahan organik dalam petakan tambak.Peningkatan bahan organik akan diikuti peningkatan kebutuhan oksigen di dalam tambak. Bila oksigen tidak mencukupi, proses perombakan bahan organik menjadi tidak sempurna sehingga akan mengakibatkan penumpukan amonia, nitrit dan gas asam sulfida (H2S). Di samping itu, peningkatan Nitrogen berakibat perkembangan plankton yang sangat cepat sehingga terjadi overbloom plankton. Goncangan pH pagi dan sore akan lebar dan rawan terjadi kematian massal plankton (crash).Baca juga: Monitoring Kesehatan dan Pengelolaan Hama Penyakit UdangTerjadinya Serangan Penyakit Pada UdangPeningkatan bahan organik yang berasal dari sisa pakan, kotoran udang dan plankton mati akan memicu perkembangan bakteri di dalam petakan tambak. Tidak hanya bakteri yang menguntungkan (pengurai non-pathogen), yang merugikan (pathogen maupun penghasil senyawa beracun) akan berkembang. Perkembangan bakteri vibrio yang tinggi menyebabkan peningkatan kasus penyakit infeksi pada udang seiring dengan meningkatnya kandungan bahan organik dalam petakan tambak.Peningkatan bahan organik, amonia, nitrit, gas H2S, serta berkembangnya vibrio menurunkan kualitas air dalam budidaya. Penurunan kualitas air dalam media budidaya dapat menyebabkan udang menjadi stress, nafsu makan menurun, udang menjadi lemah dan mudah terserang penyakit. Selanjutnya, bila tidak segera tertangani dengan baik maka dapat berakibat kematian.Pada umumnya, menyembuhkan penyakit pada udang adalah sangat sulit dan selalu ada kematian. Oleh karena itu, mencegah adalah lebih baik daripada mengobati.Strategi Pengelolaan PakanStrategi pengelolaan pakan menjadi sangat penting dalam meningkatkan efisiensi pakan, kestabilan kualitas air maupun pengendalian penyakit. Dalam pengelolaan pakan tersebut, digunakan beberapa tambahan pakan non-nutritif yang terdiri dari probiotik, prebiotik, sinbiotik, fitobiotik, minyak atsiri, asam organik, imunostimulan, dan enzim. Pembahasan mengenai kedelapan jenis tambahan pakan ini akan dibagi menjadi dua bagian.1. ProbiotikDalam akuakultur, probiotik merujuk pada mikroorganisme non-pathogen yang sengaja ditambahkan atau diberikan melalui oral dan lingkungan. Penggunaan probiotik bersifat menguntungkan bagi hewan target (inang). Istilah lain yng sering diberikan adalah bakteri menguntungkan atau benefical bacterial. Disamping dapat memacu pertumbuhan, probiotik juga dapat meningkatkan sistem pertahanan yang bersifat alami (innate immunity) bagi udang.Perobiotik yang diberikan melui pakan (oral) dapat membantu sistem pencernaan karena menghasilkan enzim sehingga akan meningkatkan kecernaan pakan dan mengurangi nutrisi yang terbuang sehingga dapat meningkatkan efisiensi pakan dan mengurangi pencemaran. Disamping itu, probiotik dapat menyeimbangkan mikroba usus dan menekan perkembangan bakteri merugikan dalam system pencernaan. Sementara itu, probiotik yang diaplikasikan ke lingkungan akan mengurai limbah dari kotoran udang, sisa pakan dan plankton mati, menekan perkembangan bakteri merugikan seperti vibrio melalui kompetisi nutrisi, maupun habitat. Dengan aerasi yang cukup, bakteri nitrifikasi akan mengoksidasi amonia menjadi nitrite dan selanjutnya menjadi nitrat yang cukup aman bagi kehidupan udang. Bakteri yang umumnya mengurai bahan organik menjadi mineral (anorganik) akan menyediakan nutrisi bagi perkembangan fitoplankton sehingga akan menciptakan kondisi ekosistem yang seimbang dan terjadi proses siklus yang saling ketergantungan.Beli probiotik di Pasarmina!Tabel-1. Total Vibrio dan Enterococcus dalam pencernaan udang setelah pemberian pakan yang dicampur probiotik dan minyak esensial (Vieira et al., 2016)2. PrebiotikPrebiotik, merupakan makanan probiotik, yaitu bahan makanan yang tidak dapat dicerna seperti inulin dan frukto-oligosaccharida namun sangat penting untuk memacu pertumbuhan bakteri yang bermanfaat dalam usus (probiotik), khususnya Bifidobacterium dan Lactobacillus untuk keseimbangan mikroflora dalam usus. Mannan-oligosaccharida, adalah salah satu produk yang ada di pasaran. Prebiotik di alam terkandung dalam ketela rambat, bawang putih, kulit pisang, bekatul, dan sebaginya. Beberapa jenis prebiotik selain yang sudah disebukan diatas antara lain Fruktooligosakarida (FOS), Mananoligosakarida (MOS), Galaktooligosakarida (GOS), Arabinoxylan-oligosakarida.Prebiotik ternyata juga dapat meningkatkan sintasan maupun pertumbuhan bagi udang serta meningkatkan ketahanan tubuh udang. Menurut Ringø, inulin dapat meningkatkan jumlah bakteri gram positif seperti Streotococcus, Carnobacterium dan Bacillus. Sementara itu, Li menggunakan isomaltooligosakarida pada udang vaname dengan dosis 2 g per kg pakan selama 28 hari untuk populasi mikroba dan meningkatkan daya tahan terhadap penyakit bercak putih. Sedangkan Gainza dan Romeo menggunakan Mannan Oligosakarida (MOS) pada udang vaname dengan hasil yang cukup signifikan. Hasil uji coba disajikan dalam grafik dan tabel berikut. (Noerhidajat) Tabel 2 Peningkatan produktivitas udang dengan penggunaan prebiotik (Gainza and Romeo, 2020)3. Synbiotik (Pro- dan prebiotik)Sinbiotik merupakan perpaduan antara probiotik dan prebiotik. Belum banyak riset tentang peran sinbiotik (Pre- dan Probiotik) dalam pengendalian penyakit pada udang, baik  yang disebabkan oleh vibriosis maupun virus. Namun demikian, sistem ini telah dibuat dalam budidaya udang di tambak yang disebut Sistem Sinbiotik. Menurut Lisal, aplikasi probiotik masih memiliki kelemahan, yaitu kemampuan bertahan, kolonisasi, dan kompetisi nutrien dari bakteri probiotik untuk masuk ke dalam satu lingkungan ekosistem yang sudah mengandung berbagai jenis bakteri lainnya. Dengan demikian, dibutuhkan pendekatan yang dapat mengatasi keterbatasan tersebut, salah satunya adalah melalui pemberian prebiotik.Keterangan:MOS-Manna oligosaccharide,FOS- fructooligosaccharide,PHB- plyhydroxybutyrate acidIr. Suprapto, Penulis adalah anggota Shrimp Club BanyuwangiSumber: Info AkuakulturTentang MinapoliMinapoli merupakan marketplace++ akuakultur no. 1 di Indonesia dan juga sebagai platform jaringan informasi dan bisnis perikanan budidaya terintegrasi, sehingga pembudidaya dapat menemukan seluruh kebutuhan budidaya disini. Platform ini hadir untuk berkontribusi dan menjadi salah satu solusi dalam perkembangan industri perikanan budidaya. Bentuk dukungan Minapoli untuk industri akuakultur adalah dengan menghadirkan tiga fitur utama yang dapat digunakan oleh seluruh pelaku budidaya yaitu Pasarmina, Infomina, dan Eventmina.  ...
Budidaya Udang Galah: Membedakan Induk Udang Berkualitas
Udang

Budidaya Udang Galah: Membedakan Induk Udang Berkualitas

Dalam kegiatan budidaya, induk merupakan sarana produksi utama. Karena dari induk-induk tersebut akan diperoleh keturunannya, sebagai sarana produksi utama dalam kegiatan pembesaran. Setiap pembudidaya, khususnya yang bergerak dalam pembenihan sebaiknya memiliki induk sendiri. Dengan demikian, pembudidaya bisa memproduksi kapan saja dan dapat menentukan skala produksinya sesuai dengan kebutuhan tanpa harus menunggu.Sebelum Anda terjun dalam usaha budidaya udang galah, ada baiknya Anda mengetahui seluk beluk tentang induk udang galah yang akan Anda gunakan. Nah, sebagai acuannya, berikut JITUNEWS uraikan langkah-langkah memilih induk udang galah, dimulai dari membedakan kelamin induk yang berkualitas. Selamat menyimak.Baca juga: 6 Ciri Benur Udang Vaname Berkualitas yang Wajib Diketahui Petambak1. Membedakan induk jantan dan betina yang berkualitas- Ciri induk jantan adalah bentuk tubuh bagian perut lebih ramping dan ukuran pleuronnya lebih pendek, alat kelamin terletak di pasangan kaki jalan pada baris kelima dan berbentuk tonjolan kecil, bentuk dan ukuran kaki jalan yang kedua sangat mencolok, besar dan panjang menyeruapi galah.- Sedangkan ciri induk betina adalah bentuk tubuh bagian perut melebar dan pleuronnya agak memanjang, alat kelamin terletak pada baris pasangan kaki jalan yang ketiga, pasangan kaki jalan pada baris kedua lebih kecil dan tampak mencolok.Dapat membedakan antara induk jantan dan betina saja tidaklah cukup, karena tidak semua udang galah cocok dijadikan induk. Induk yang digunakan untuk memproduksi benih udang galah harus memenuhi berbagai persyaratan, berikut ini adalah beberapa syarat induk yang berkualitas- Warna kulit kehijauan- Organ tubuh lengkap, tidak cacat, dan tidak tampak kelainan bentuk.- Sehat dan bebas penyakit- Bergerak aktif- Berumur minimum 8 bulan, bobot tubuh induk jantan minimum 50 g dan betina 35 g- Berasal dari hasil perbanyakan induk yang telah melalui tahapan seleksi. Jenis indukan itu bisa diperoleh dari instansi yang melakukan program pengindukan udang galah, seperti BBPBAT Sukabumi dan BPPI Sukamandi.Baca juga: Tips Mempercepat Pertumbuhan Udang2. Teliti saat membeli indukMembeli induk udang galah harus dilakukan secara teliti dan tidak boleh sembarangan. Hal ini dilakukan dengan harapan untuk memperoleh induk berkualitas dan menghasilkan benih yang berkualitas pula. Jika sembarangan membeli induk, maka dipastikan Anda akan mengalami kerugian.Salah satu sumber induk udang galah yang bisa dipercaya adalah balai-balai penelitian perikanan. Sumber lainnya adalah balai-balai benih ikan (BBI) dan instnsi terkait lainnya. Karena asal-usul induk lebih jelas dan cara penyediannya sudah terprogram, indukan yang berasal dari BBI lebih terjamin kualitasnya. Permasalahannya adalah ketersediaan induk di tempat-tempat itu sangat terbatas karena selain untuk kebutuhan sendiri, BBI harus menyediakan untuk kebutuhan pembudidaya yang jumlahnya tidak sedikit.Yang perlu diperhatikan apabila Anda membeli benih dari pembudidaya adalah belilah induk atau calon induk dari sumber induk yang berbeda. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya perkawinan sekerabat (inbreeding). Bila nantinya kedua jenis induk dari satu keturunan tersebut dipijah, akan terjadi perkawinan sekerabat. Inbreeding dapat berakibat menurunnya kualitas benih yang dihasilkan, yang dicirikan dengan pertumbuhannya yang semakin lambat, tidak tahan pada perubahan lingkungan, dan mudah terserang penyakit.Cara lain untuk menghindari inbreeding adalah adalah membeli beberapa pasang indukan dari daerah lain dan mengawinkan salah satunya dengan indukan yang dimiliki. Indukan betina dari daerah atau pembudidaya lain dikawinkan dengan indukan jantan yang dimiliki sendiri, atau sebaliknya. Kemudian induk-induk tersebut harus ditandai agar mudah mengontrolnyaBaca juga: Budidaya di Musim Kemarau, Masalah dan SolusinyaSumber: Jitu NewsTentang MinapoliMinapoli merupakan marketplace++ akuakultur no. 1 di Indonesia dan juga sebagai platform jaringan informasi dan bisnis perikanan budidaya terintegrasi, sehingga pembudidaya dapat menemukan seluruh kebutuhan budidaya disini. Platform ini hadir untuk berkontribusi dan menjadi salah satu solusi dalam perkembangan industri perikanan budidaya. Bentuk dukungan Minapoli untuk industri akuakultur adalah dengan menghadirkan tiga fitur utama yang dapat digunakan oleh seluruh pelaku budidaya yaitu Pasarmina, Infomina, dan Eventmina.  ...
6 Ciri Benur Udang Vaname Berkualitas yang Wajib Diketahui Petambak
Udang

6 Ciri Benur Udang Vaname Berkualitas yang Wajib Diketahui Petambak

Selain kondisi lingkungan yang optimal, kesuksesan usaha tambak udang juga ditentukan oleh kualitas benur yang digunakan. Benur berkualitas tentu memiliki tingkat kesuksesan yang lebih besar saat dibudidaya.Maka dari itu, sebelum memulai menebarkan benur ke dalam tambak, sebaiknya anda mengamati benur yang akan digunakan dan melakukan sortasi untuk memastikan bahwa hanya benur yang baik saja yang akan dibudidayakan.Baca juga: Tips Mempercepat Pertumbuhan UdangPada ulasan kali ini, kami sajikan untuk anda beberapa ciri benur udang vaname berkualitas.1. Ukuran yang SeragamBenur udang yang berkualitas dapat dilihat secara kasat mata. Ciri pertama dari benur berkualitas adalah memiliki ukuran yang seragam antara satu dan lainnya. Ukuran benur yang tidak seragam menandakan pertumbuhan benur tidak normal. Jika tetap dibudidayakan, maka panen tidak dapat dilakukan secara serentak, sehingga keuntungan yang didapat tidak maksimal.2. Bentuk Tubuh Benur yang sehat dan berkualitas dapat dilihat dari bentuk tubuhnya. Biasanya, benur yang baik memiliki bentuk tubuh yang lurus saat berenang. Sedangkan untuk benur yang tidak sehat, bentuk tubuhnya akan cenderung bengkok. Sedangkan untuk matanya, benur berkualitas akan memiliki mata yang mengkilap dan tidak memiliki bercak pada kulitnya.Beli benur udang berkualitas disini!3. Antena UtuhBenur berkualitas memiliki antena yang lengkap utuh, tidak patah serta dapat membuka dan menutup. Jika terlihat antena benur selalu terbuka, maka dapat dipastikan benur dalam keadaan tidak sehat.4. Usus yang Terisi PenuhJika dilihat ususnya, benur berkualitas pasti memiliki usus yang terisi penuh. Sedangkan benur dalam kondisi stres atau tidak sehat, maka ususnya terlihat kosong.5. Ekor yang MembukaBentuk ekor dari benur berkualitas dan siap untuk ditebar ke tambak adalah yang sudah membuka. Jika belum, sebaiknya tunda penebaran benur, dan tunggu hingga ekor membuka.6. Aktif BerenangBenur udang vaname yang sehat akan terlihat aktif berenang serta sangat peka terhadap rangsangan dari luar. Pola berenang berkualitas ialah menetang arus dan jika air diputar, maka benur akan menempel di dasar tambak.Sumber: Indah Sari WinduTentang MinapoliMinapoli merupakan marketplace++ akuakultur no. 1 di Indonesia dan juga sebagai platform jaringan informasi dan bisnis perikanan budidaya terintegrasi, sehingga pembudidaya dapat menemukan seluruh kebutuhan budidaya disini. Platform ini hadir untuk berkontribusi dan menjadi salah satu solusi dalam perkembangan industri perikanan budidaya. Bentuk dukungan Minapoli untuk industri akuakultur adalah dengan menghadirkan tiga fitur utama yang dapat digunakan oleh seluruh pelaku budidaya yaitu Pasarmina, Infomina, dan Eventmina. Eventmina.  ...
8 Langkah Persiapan Tambak Udang yang Baik dan Benar
Udang

8 Langkah Persiapan Tambak Udang yang Baik dan Benar

Sebelum memutuskan untuk menggunakan kembali tambak yang telah lama tidak dipakai, sebaiknya anda memahami beberapa langkah di bawah ini, agar tambak yang dihasilkan memiliki kondisi yang optimal bagi komoditi tambak nantinya. Berikut beberapa langkah yang dimaksud.Sumber: fishconsult.orgLangkah-langkah Mempersiapkan Tambak Udang1. Mengetahui lahan yang cocok untuk dijadikan tambak2. Keringkan tambak hingga benar-benar kering atau sampai tidak ada air yang tersisa pada tambak.3. Biarkan tambak dalam keadaan kering selama 1 minggu agar bibit penyakit, bakteri pathogen, dan mikroorganisme merugikan lainnya menghilang.4. Lakukan pembalikan tanah dengan cara dibajak agar mikroorganisme bermanfaat yang ada di dalam tanah dapat berkembang biak dan hidup dengan baik.5. Pantau pH tanah menggunakan pH meter. Jika ph terlalu asam, sebaiknya dilakukan pengapuran hingga ph menjadi normal dan sesuai dengan kebutuhan tambak. Untuk diketahui, pH ideal untuk tambak adalah 6-7,5.6.Lakukan pemupukan secara organik menggunakan pupuk kandang di dalam tambak dengan takaran 150-200 kg per hektar. Pemupukan dilakukan dengan tujuan untuk menumbuhkan probiotik alami pada tambak.7. Isi air ke dalam tambak hingga ketinggian 1 meter dan biarkan selama 5 sampai 7 hari.8. Setelah semua langkah selesai dilakukan, maka tambak siap untuk dilakukan penebaran bibit udang.Baca juga: Usaha Budidaya Ikan Mas di Kolam Terpal Agar Cepat PanenLahan yang Bagus Untuk TambakCiri utama dari lahan yang pas untuk dijadikan tambak adalah lahan yang bersih dan bebas dari limbah dan zat berbahaya lainnya. Sementara itu, lokasi yang tepat adalah yang berada di daerah dekat pantai, karena pantai menyediakan kebutuhan-kebutuhan yang menunjang kehidupan udang dan keberhasilan tambak itu sendiri. Pantai yang dipilih juga harus bertanah liat atau liat berpasir agar mampu menahan air dan tidak mudah retak atau pecah. Akan lebih baik lagi jika pantai tersebut memiliki hutan mangrove sehingga dapat melindungi tambak dari erosi laut.Sumber: Indah Sari Windu (ISW) Tentang MinapoliMinapoli merupakan marketplace++ akuakultur no. 1 di Indonesia dan juga sebagai platform jaringan informasi dan bisnis perikanan budidaya terintegrasi, sehingga pembudidaya dapat menemukan seluruh kebutuhan budidaya disini. Platform ini hadir untuk berkontribusi dan menjadi salah satu solusi dalam perkembangan industri perikanan budidaya. Bentuk dukungan Minapoli untuk industri akuakultur adalah dengan menghadirkan tiga fitur utama yang dapat digunakan oleh seluruh pelaku budidaya yaitu Pasarmina, Infomina, dan Eventmina.  ...
Menteri Edhy: Budidaya Udang di Garut Bisa Jadi Sumber Ekonomi Nasional
Udang

Menteri Edhy: Budidaya Udang di Garut Bisa Jadi Sumber Ekonomi Nasional

Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo menilai sepanjang pesisir selatan Jawa Barat, utamanya Garut bagian selatan, punya potensi tambak yang bisa dioptimalkan untuk pengembangan usaha budidaya udang berkelanjutan.Pernyataan tersebut ia sampaikan saat melakukan kunjungan kerja ke PT. Dewi Laut Aquaculture sebuah perusahaan tambak udang nasional, Jumat (19/6). Dalam kunjungan itu, Menteri Edhy yang didampingi Wakil Bupati Garut, Anggota DPR RI Haerudin, sejumlah pejabat KKP dan pejabat daerah setempat.“Pesisir Selatan Garut khususnya punya potensi lahan tambak yang cukup besar dan bisa dioptimalkan untuk budidaya udang. Ini tentunya bisa jadi sumber ekonomi bagi masyarakat, daerah dan juga nasional,” tutur Edhy.Baca juga: KKP Rancang Kawasan Tambak Udang Berkelanjutan di Perhutanan SosialMenteri Edhy menilai dari sisi prospek bisnis, budidaya udang jauh lebih menggiurkan dibanding usaha di sektor lain. Menurutnya, udang saat ini masih menjadi primadona ekspor dan sangat diandalkan untuk meraup devisa. Disamping itu, usaha budidaya udang juga memicu multiplier effect bagi penyerapan tenaga kerja dari masyarakat.Menteri Edhy juga menegaskan bahwa KKP selalu siap memfasilitasi kebutuhan pelaku usaha guna memastikan bisnis udang nasional berjalan dengan baik. Ia juga mengapresiasi inovasi tekonologi budidaya udang yang dilakukan PT. Dewi Laut yang berhasil menggenjot produktivitas dengan optimal.Budidaya udang di pesisir selatan GarutMenteri Edhy menambahkan dari hitungan target ekspor nilai sebesar 250% di tahun 2024, atau sebesar 1,29 juta ton, maka dalam lima tahun ke depan Indonesia harus mampu mengoptimalkan lahan tambak minimal 100.000 ha.Dorong Budidaya Udang BerkelanjutanDirektur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, dalam keterangannya mengatakan bahwa ke depan Pesisir Selatan Jawa akan menjadi sasaran pengembangan budidaya tambak khususnya udang. Menurut Slamet, pengembangan tersebut dengan memanfaatkan potensi lahan eksisting saat ini yakni melalui intensifikasi.“Saya rasa di Pesisir Selatan Jawa, termasuk Garut hingga saat ini mulai bermunculan aktivitas budidaya udang. Ini tentu sangat menggembirakan dari sisi ekonomi. Cuman disini saya tekankan bahwa pengembangan tersebut dengan memanfaatkan lahan eksisting bukan alih fungsi”, ungkap Slamet memastikan.Untuk mengendalikan hal tersebut, Slamet mengungkapkan bahwa KKP sudah menetapkan pedoman bagi pelaku usaha bagaimana mendorong pengelolaan budidaya secara berkelanjutan dan mendorong daerah untuk memberikan perlindungan kawasan melalui kebijakan penataan ruang.“Secara legalitas, perizinan juga harus mengacu RTRW dan didalamnya sudah harus masuk pertimbangan mengenai kelestarian lingkungan dan lain lain. Intinya, budidaya udang ini dilakukan secara terukur, dan bertanggungjawab baik secara sosial maupun aspek lingkungannya. Kita tidak ingin mengulang kesalahan sama saat ambruknya udang windu akibat pengelolaan yang tidak terukur”, beber Slamet.Untuk mempercepat pengembangan kawasan di daerah-daerah potensial, Slamet menyampaikan untuk tahap awal tahun ini KKP akan bangun percontohan budidaya udang berkelanjutan di lima daerah potensial antara lain di Aceh Timur, Sukamara, Lampung Selatan, Cilacap, Sukabumi dan Buol.“Percontohan ini sebagai tahap awal, targetnya bisa diadopsi masyarakat dan secara langsung mampu menarik investor masuk”, imbuhnya.Sementara itu General Manajer PT. Dewi Laut Aquaculture, Bobby Indra Gunawan, mengungkapkan bahwa perusahaan yang berdiri sejak tahun 2015 menilai Pesisir Selatan Garut masih steril dari sumber cemaran. Oleh karenanya sangat layak untuk budidaya udang. Disamping itu, dalam pengelolaan proses produksi budidaya, pihaknya selalu menerapkam good management practices, terutama bagaimana menjamin agar lingkungkan tetap terjaga dengan baik.Baca juga: 4 Jenis Udang Unggulan Indonesia“Saat ini kami memiliki total luas lahan 10 ha, dengan luas lahan kolam budidaya kurang lebih seluas 4 Ha, sedangkan sisanya yakni kolam treatment dan IPAL. Saat ini produktvitas pada kisaran 40-45 ton/Ha dengan produksi per tahun mencapai 400 ton. Saya optimis, prospek udang ini sangat bagus ke depan”, ungkap Bobby.“Selama masa pandemi COVID-19 pemerintah dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan benar benar hadir, kondisi demikian kami rasakan ketika kami harus order sarana produksi seperti kapur dari Jawa Timur kemarin sempat mengalami kendala, namun dengan surat permohonan yang telah dikirimkan oleh KKP kepada gugus tugas percepatan penanganan COVID-19 dapat memberikan kelancaran bagi proses produksi kami. Selain itu, kami juga berharap agar Pemerintah selalu memberikan kemudahan perijinan”, papar Boby.Sebagai informasi, total panen udang vaname di PT Dewi Laut Aquaculture sebanyak 165 ton dengan masa pemeliharaan selama 105 hari, dengan ukuran 30 ekor per kilogram.Dalam kesempatan sama, Wakil Bupati Garut, Helmi Budiman, menyatakan kesiapannya untuk mendorong potensi budidaya udang di selatan Garut. Helmi berharap KKP terus memberikan dukungan dan fasilitasinya bagi perekonomian masyarakat khususnya di Pesisir Selatan.Sumber: KKP News ...
Evaluating Extruded Feeds for Juvenile Pacific White Shrimp
Udang

Evaluating Extruded Feeds for Juvenile Pacific White Shrimp

The process used to produce aquaculture feeds has a direct impact on the physicochemical properties of the feeds, which can affect the durability and stability of the pellets and also the water quality. In addition, processing conditions during manufacture can also alter the nutritional quality of ingredients and thus influence feed digestibility and bioavailability.Maintaining the nutritional quality of ingredients during processing is key in aquaculture feed manufacturing. The deterioration of nutritional quality and the misuse of nutrients are challenges in most traditional cooking methods used. Pelleting has historically been the most commonly used technique in the production of manufactured aquaculture feeds, but extrusion technology has some unique, favorable characteristics when compared to other cooking processes, since it is capable of transforming some nutrients (proteins, starches) so that its properties improve, increasing nutrient availability.Additionally, the extrusion process denatures undesirable enzymes and deactivates some anti-nutritional factors, enhancing the bioavailability of ingredients. Precision in the bioavailability of a feed is relevant for the correct formulation and production of diets.However, the success of extruded feeds depends on the machinery used and is also linked to knowledge and “expertise” in the process. Several years ago, industry consultant Charles Botting [Extrusion technology in aquaculture feed processing. 1991. American Soybean Association] illustrated the relevance of extruded feeds, stating, “Companies and clients often question the need to produce or consume extruded feeds, especially when they are achieving good results with pellets, but there is a great possibility to improve even more the quality and cost-efficiency of the product with extruded feed; a good extruded feed is always better than a good pelletized feed.”This article, adapted from the original publication [Aquaculture (Ecuador) – Issue 134, April 2020], reports on the results of research to assess the effects of extruded feeds on their digestibility and production in Pacific white shrimp (Litopenaeus vannamei) juveniles.Baca Juga: Effect of Freeze-Thaw Cycles on Quality of Pacific White ShrimpDigestibility of proteins, amino acids and carbohydratesIn the first study, the apparent digestibility of protein (DAP), amino acids (DAAA) and carbohydrates (DAC) was determined in L. vannamei juveniles (6 to 10 grams) sourced from a local commercial farm with a salinity of 7.0 ± 0.4 ppt. The shrimp were acclimated to the salinity of the experimental unit and fed extruded and pelletized diets with the same base formula (35 percent crude protein, 7.5 percent crude fat), which included chromium oxide as an inert marker.This experiment was carried out in a recirculation system using 60-liter tanks, and the water was recirculated at a daily rate of 400 percent. Ten shrimp were stocked per tank and maintained for five days before feces collection started. The animals were fed once in the morning and once in the afternoon, with a 3 percent daily increase in the feeding rate.Extruded and pelletized diets were randomly assigned to each experimental tank in quadruplicate. At the beginning of each collection day, feces and uneaten food were removed from the tanks to minimize any undesirable effects that might be due to leaching. Fresh feces were collected after each feeding by siphoning, washed prevent any effects due to salinity, and stored refrigerated until being lyophilized for subsequent analyses.Our analyses showed a statistically significant difference (p <0.05) in protein digestibility levels: the percentage of protein digested in the extruded feed was higher than in the pelletized feed. In other words, shrimp utilized better the protein of the extruded diet (Table 1)Molina, extruded feed, Table 1FeedDAP (%)                                        DAC (%)   Extruded83.84 ± 0.67ᵃ93.88 ± 1.94ᵃPelleted82.63 ± 0.93ᵇ90.71 ± 0.61ᵇTable 1. Apparent digestibility of protein (DAP) and carbohydrates (DAC) in foods produced by pelletizing and extrusion. *Means ± SD that do not share a letter were significantly different (p <0.05).  Proteins are essential components of the cell and therefore constitute the bulk of shrimp muscle tissue. Shrimp development is based on the release of essential amino acids to fulfill structural, regulatory and homeostatic functions. Research has shown that the heat treatment involved in the wet extrusion process used to make shrimp feed can be enough to inactivate most of the trypsin inhibitors [the enzyme trypsin is involved in the breakdown of many different proteins, primarily during digestion] in soybean meal. This is important, because trypsin is the protease in charge of breaking peptide bonds and releasing short-chain peptides and amino acids.Amino acid digestibility in our results shows a significant difference in arginine, isoleucine, lysine, methionine, threonine, glycine and proline. In these cases, the digestibility percentage was higher for the extruded feed. And for the results for protein digestibility, the extruded product showed better bioavailability.In addition, the percentage of amino acid digestibility in the extruded diet for lysine and methionine – two essential amino acids whose bioavailability in shrimp feed is of utmost importance for their metabolism and tissue formation based on complex proteins – is remarkable. This affects the formation of shrimp tissue and therefore the growth rate. A higher growth rate in turn allows greater efficiency and profitability, shortening the production cycle.The most suitable energy sources for shrimp feeds are those ingredients with high carbohydrate content. But the starches from the vast majority of tubers, cereals and legumes that are used in animal diets are not easily accessible for the very important alpha-amylase enzyme, unless the grains are physically treated previously.Wet cooking with temperatures higher than 70 degrees-C for several minutes is the main method that facilitates the availability of starch for water penetration and consequently allows the action of alpha-amylase. When starches are processed by extrusion, their structure changes radically, allowing more contact points for the enzyme to break down the starch into small molecules, releasing glucose. Therefore, cooked or gelatinized starches have higher digestibility compared to undercooked or raw starches.Our results show that the content of digested carbohydrates in the extruded feed is significantly higher than in the pelleted feed (Table 1). The reason is that the extrusion cooking process of ingredients with high carbohydrate content increases their bioavailability, and therefore their assimilation.Molina, extruded feed, Table 2FeedFinal weight  Weekly growth (g/week)                               Biomass (g/tank)              FCR       Survival (%)Extruded11.51a0.99a103.17a1.7a90aPelleted10.38b0.85b93.44b1.52a90aTable 2. Yield of shrimp fed experimental – extruded and pelleted – diets with similar formulas.Performance under controlled conditionsIn the second study, L. vannamei shrimp (3.86 ± 0.06 grams) were stocked at a density of 15 shrimp per square meter in tanks and reared for 54 days. The animals were fed two experimental diets, each with four replicate tanks per dietary treatment. The shrimp were slightly overfed three times a day so that feed availability was not limiting.The results showed statistical differences (p <0.05) in weekly growth, weight and final biomass between the dietary treatments, while there were no differences for survival and feed conversion between treatments. The shrimp in tanks fed the extruded feed had 9 percent higher final biomass and 10 percent higher final weight, indicating that the extrusion process positively influences shrimp performance.Previous studies with extruded feeds and shrimp have produced better results than pelleted feeds. Several authors have reported advantages using extruded feeds for production of L. vannamei; for example, some researchers have demonstrated that extruded feeds produced better growth than pelleted feeds (8.35 grams vs. 7.11 grams) in a controlled experimental system. Similar results have been reported for other cultured crustaceans; for example, postlarvae of giant river prawn (Macrobranchium rosembergii) fed an extruded feed had better specific growth rate and protein efficiency rate compared to a pelleted diet, and nutrient loss and feed conversion were lower with the extruded feed treatment. Baca juga: Effect of Streptomyces Probiotics on Gut Microbiota of Pacific White ShrimpField performanceWe assessed the effect of extruded feed on shrimp growth, survival, feed conversion, cost of production and economic performance, by evaluating data from 271 production cycles between January and October 2019 in shrimp farms located in the Gulf of Guayaquil.For this analysis, we selected shrimp ponds that had received nutritionally complete, 35 percent protein feeds and were fed manually, and these ponds were grouped based on whether they had received extruded or pelletized feeds during the production cycles. Initial shrimp weights in these ponds were 0.4 to 0.6 grams, and stocking densities were 13 to 15 postlarvae per square meter. Production cycles lasted for 104 to 119 days depending on the harvest weight targeted.Results of our data analyses show that manual feeding reduced feed conversion by 17 percent in ponds receiving extruded when compared to ponds receiving pelleted feeds (Fig. 1). Fig. 1: Averaged feed conversion and growth rates reported by type of feed – extruded and pelleted.The weekly increase in weight was 11 percent higher in ponds receiving extruded feeds, and this was reflected in larger harvest weights produced in a significantly fewer time – around 15 days (Fig. 2). Fig. 2: Average final weights and days of culture reported by type of feed – extruded and pelleted.The survival rate was 7 percent higher in ponds receiving extruded feeds compared to ponds fed pelleted feeds (Fig. 3). It is likely that shortening the production cycle had an effect on this parameter, as the former had less exposure time to environmental changes and pathogens. Fig. 3: Survival rates reported by type of feed – extruded and pelleted.Regarding economic performance – even feeding just once or twice per day –ponds receiving extruded feeds had a cost of production 90 percent lower per pound, and a 13 percent higher profitability than ponds fed with pelleted feeds (Fig. 4).  Fig. 4: Average cost and profit reported by type of feed – extruded and pelleted. ConclusionsOur results demonstrate the beneficial effects on digestibility of proteins, amino acids and carbohydrates for shrimp feeds produced by extrusion compared to pelleted feeds. Increasing the bioavailability of these nutrients through extrusion manufacturing shows a positive effect in commercial ponds, with shorter crop cycles, a higher production yield using less feed per pound of shrimp produced, and a reduction in production costs.Source: Aquaculture Allience ...
Tips Mempercepat Pertumbuhan Udang
Udang

Tips Mempercepat Pertumbuhan Udang

Udang ukuran 20 ekor per kg yang biasanya dicapai dalam waktu sekitar 120 hari, bisa dicapai dengan hanya 100 hari sajaBeberapa waktu terahir, harga udang cenderung alami tren penurunan harga. Terutama pada udang-udang berukuran kecil antara 50 ekor per kg hingga 100 ekor per kg (size 100 – 50). Penurunan harga juga diperparah oleh kondisi pasar yang tidak menentu akibat pandemi yang berlangsung sejak awal tahun ini di banyak negara.Namun dalam tren penurunan harga udang-udang kecil tersebut, udang premium ukuran besar 20 – 30 ekor per kg cenderung stabil dengan harga yang relatiuf lebih tinggi. Sehingga sebagian petambak berupaya memproduksi udang besar untuk mengisi segmen premium. Upaya untuk menghasilkan udang besar bukanlah  sesuatu yang mudah, apalagi jika cukup memakan waktu dan biaya yang tinggi. Risiko penyakit juga menjadi lebih besar akibat lamanya budidaya tersebut. Namun hal ini tidak menjadi halangan bagi Manajer Produksi PT Dua Putra Perkasa asal Bengkulu, Teguh Setyono, yang memiliki program fast growth (pertumbuhan cepat) untuk udangnya. Visi Teguh bersama timnya adalah mnenghasilkan udang kepala besar (size 20 – 30) secepat mungkin.Umumnya, udang kepala dua biasa dicapai dalam kurun waktu 120 hari budidaya atau lebih. Akan tetapi dengan program fast growth tersebut, Teguh menarget lama budidaya bisa dipercepat hingga hanya 100 hari saja. “Dengan fast growth, size dua bisa 100 hari saja,” ujar Teguh dalam presentasinya di acara seminar petambak yang digelar PT Suri Tani Pemuka (STP) di Bangka beberapa waktu lalu. Menurut Teguh, ada dua prinsip utama yang perlu diperhatikan dalam menjalankan program pertumbuhan cepat. Yaitu menumbuhkan pakan alami untuk mendukung fast growth, dan menjaga keseimbangan antara plankton dan bakteri selama masa budidaya. Penumbuhan pakan alami pada masa awal budidaya memang lazim dilakukan oleh banyak petambak dan teknisi. Hanya saja, dalam program pertumbuhan cepat ini, pakan alami tersebut dibuat untuk menunjang program blind feeding berjalan sesuai target. Yaitu menghasilkan udang berbobot 2 gram pada DOC (Day of Culture) atau masa budidaya 20 hari. Program PakanTeknisi tambak PT Dua Putra Perkasa, Taufik Noer menerangkan lebih detail bahwa, hal penting yang berpengaruh terhadap kesuksesan program pertumbuhan cepat adalah manajamen pakan. Menurutnya, untuk  mempercepat pertumbuhan udang, mau tidak mau pakan yang disediakan harus banyak. Baik pakan yang difermentasi atau pun tidak. Tetapi ia menggarisbawahi  bahwa banyaknya pakan yang dimaksud berbeda over feeding (kelebihan pakan), melainkan tepat guna dan tepat sasaran. “Menurut saya over feeding itu bukan soal banyak seidkitnya pakan yang diberikan, melainkan banyaknya pakan yang terbuang. Kalau banyak yang diberikan tapi tidak banyak terbuang itu bukan over feeding. Begitupun jika sedikit tapi banyak yang terbuang itu over feeding,” jelasnya. Untuk mengoptimalkan pemberian pakan yang banyak ini, sambung Taufik, mau tidak mau proses pemberian pakan harus menggunakan mesin pemberi pakan otomatis (automatic feeder). Ia tidak memberikan jaminan program pertumbuhan cepat bisa tercapai jika pemberian pakan hanya mengandalkan tenaga kerja manusia. Sebabnya, pakan yang banyak perlu diberikan dengan interval waktu yang banyak juga. “Automatic feeder kan bisa memberikan pakan ratusan kali. Kami mengaturnya kurang lebih 24 jam,”  imbuh Taufik.Lebih rinci ia menjelaskan bagaimana teknis untuk menghasilkan udang ukuran besar dalam waktu yang relatif lebih singkat. Pada masa-masa awal budidaya, Taufik sama dengan kebanyak petambak lainnya menggunakan program blind feeding selama krang lebih 20 hari. Namun pada masa ini, ia tidak hanya mengandalkan pakan pabrik saja. Tetapi juga mengandalkan pakan alami yang sudah ditumbuhkan terlebih dulu sebelum udang ditebar. Sehingga ia menekankan, pakan lami harus tumbuh dengan matang sebelum benur udang dilepas ke tambak.Artikel Asli: Trobos AquaBaca juga tips budidaya udang:Meningkatkan Performa Pakan Udang Melalui Penambahan Pellet Binder yang TepatPentingnya Biosekuriti Tambak UdangManfaat Spirulina untuk Pakan Udang ...
Geliat Budidaya Udang, Optimisme Pergerakan Ekonomi Pasca Pandemi
Udang

Geliat Budidaya Udang, Optimisme Pergerakan Ekonomi Pasca Pandemi

Di hari kedua kunjungan kerja ke Sulawesi, Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo bertolak ke Kabupaten Pasangkayu guna meninjau langsung pengembangan Kawasan budidaya udang berkelanjutan, sekaligus melakukan panen udang di lahan milik PT. Manakara Sakti Abadi yang terletak di Desa Sarjo Kab Pasangkayu.Turut serta pada kegiatan tersebut antara lain Bupati Pasangkayu, Eselon I Lingkup KKP, dan jajaran Forkopinda.“Saya sangat bahagia melihat keberhasilan budidaya udang intensif ini. Tentu ini jadi harapan besar bagi pergerakan ekonomi kita ditengah pandemi Covid-19. Tadi dikatakan bahwa melalui konsep klaster ini produktivitasnya bisa sampai 45 ton per ha. Jika ini bisa dilakukan diberbagai daerah, maka target 250% sangat mudah dicapai. Kalau berkaitan dengan teknologi, saya percaya kita sudah mumpuni. Tinggal komitmen kerjasama yang perlu kita dorong,” jelasnya.Edhy berharap konsep pengelolaan bisnis budidaya udang yang dikelola pihak perusahaan bisa diadopsi di berbagai daerah. Menurutnya, udang masih jadi andalan meraup devisa ekspor.“Harapan saya keberhasilan di sini bisa diikuti oleh daerah lain juga. Sehingga secara nasional produksi udang kita naik signifikan. Ini saya rasa pasar sudah mulai stabil, tadi saya denger size 50 harganya 78.000 per kg dan ini saya prediksi akan naik lagi”, kata Edhy.Direktur Utama PT. Manakara Sakti Abadi, Rudy Hartanto, mengungkapkan bahwa teknologi yang diterapkan mengadopsi konsep klaster budidaya udang berkelanjutan. Menurutnya, dalam pengelolaannya mengusung konsep budidaya yang ramah lingkungan dengan full kontrol secara ketat. Tidak heran menurut Rudy, selama ini pihaknya sukses panen dengan produktivitas yang signifikan yakni rata-rata 45 ton per ha.“Bisnis budidaya udang ini sangat menjanjikan. Jika panen berhasil selama 2-3 tahun modal termasuk investasi sudah bisa kembali. Catatannya yakni pegang SOP untuk menerapkan best management practices”, ungkap Rudy.Salah satu SOP yang harus dijalankan adalah pengelolaan kualitas air serta penerapan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang baik.Rudy menambahkan, “sebagai gambaran tambak kami dilengkapi dengan IPAL yang efektif berupa kolam sistem berkelok sepanjang 1,5 km dengan biofilter berupa ikan dan rumput akar wangi, disamping itu terdapat kolam pengendapan untuk treatment air yang diisi ikan bandeng sebagai filter biologis, zero antibiotik, penggunaan plastik HDPE, penggunaan automatic feeder untuk menekan FCR dan penerapan sistem biosecurity yang ketat”.“Kami sangat concern untuk menerapkan mengelolaan air baik air masuk maupun air keluar, karena kami ingin agar usaha kami dapat berkelanjutan, sehingga SOP harus benar-benar kami patuhi. Saya kira itu menjadi salah satu kunci keberhasilan di PT Manakara Sakti Abadi. Kami bisa panen rata-rata 15 ton per minggu,” imbuh Rudy.“Ke depan kita merencanakan mengembangkan seperti sistem klaster perumahan dan bisa ditawarkan untuk menarik investasi. Kaitannya dengan pemberdayaan masyarakat sekitar, kami merekrut sekitar 90% teknisi adalah masyarakat sekitar,” tutup Rudy.Sementara itu, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto membeberkan terkait konsep pengembangan budidaya udang berkelanjutan yang akan jadi model nasional. Menurut Slamet, model klaster budidaya udang berkelanjutan sangat pas karena menyesuaikan dengan daya dukung lahan yang ada. Ia menyebut potensi lahan non produktif harus dioptimalkan melalui intensifikasi. Oleh karenanya, model ini dinilai sangat cocok dan terbukti berhasil setelah diadopsi banyak pelaku usaha dan investor.“Usaha budidaya udang ini harus terus berjalan. Kita tidak ingin masuk pada kesalahan pengelolaan seperti jaman udang windu. Kita terlena dan pengelolaannya dilakukan secara tidak terukur, cenderung merusak lingkungan dan eksosistem yang ada. Saat ini kita lakukan transformasi teknologi yang lebih ramah lingkungan. Salah satu yang penting adalah IPAL untuk pengelolaan limbah budidaya agar sesuai baku mutu,” jelas Slamet.Sumber: KKP NewsBaca juga berita tentang udang lainnya:Effect of Streptomyces Probiotics on Gut Microbiota of Pacific White ShrimpIs Fresh Algae or Powdered Algae Better for Shrimp Seed?Ice Water Treatment Impacts on Peeling Time, Meat Quality of Pacific White Shrimp ...
Effect of Streptomyces Probiotics on Gut Microbiota of Pacific White Shrimp
Udang

Effect of Streptomyces Probiotics on Gut Microbiota of Pacific White Shrimp

In an aquaculture system, shrimp and microorganisms share the same aquatic medium; thus, the intestinal microbial community interacts directly with planktonic microbiota. Therefore, characterization of the intestinal microbiota (IM) of aquatic organisms is a priority to understand host-microorganism interactions and the corresponding relationship with the surrounding microbiota.Numerous strategies have been developed to improve the colonization of the gastrointestinal tract of aquatic animals with beneficial bacteria and avoid proliferation of pathogenic bacteria. One of these approaches has been diets with pre‐, pro‐ and symbiotic supplementation, which can also improve animal growth and feed efficiency. Probiotics have shown to be a promising and environmentally friendly alternative for disease prevention, especially in the culture of high-value crustaceans like shrimp.Several studies have indicated that probiotics can contribute to enzymatic digestion, inhibit pathogenic microorganisms, promote growth factors and increase the immune response of aquatic organisms. Consequently, new beneficial microorganisms that could be used as probiotics in aquaculture are constantly explored. Marine actinomycetes are among those promising candidates by virtue of their ability to produce a wide variety of antibiotics and extracellular enzymes.This article – adapted and summarized from the original (J.M. Mazón-Suástegui et al. 2019. Effect of Streptomyces probiotics on the gut microbiota of Litopenaeus vannamei challenged with Vibrio parahaemolyticus. Microbiology Open Vol. 9, Issue 2) – reports on a study to determine the effect of Streptomyces strains on the intestinal bacterial community in juveniles of the Pacific white shrimp, as part of a previous study revealing the probiotic effect of Streptomyces strains alone or combined with Bacillus and Lactobacillus.This study was financed by Sectoral Fund for Research and Education of México: Projects CONACyT Basic Science 258282 and Proinnova CONACyT 241777, under the academic responsibility of JMM‐S. We thank the following CIBNOR staff: Patricia Hinojosa, Delfino Barajas and Pablo Ormart, and Diana Fischer for their editorial services.Study setupFour experimental groups of shrimp with three replicates each were used in the experiment, treated with probiotic agents as follows: (a) RL8 (Streptomyces sp. RL8); (b) Lac‐Strep (Lactobacillus graminis + Streptomyces sp. RL8 and Streptomyces sp. N7; 1:1:1 proportion); (c) Bac‐Strep (B. tequilensis YC5‐2, B. endophyticus C2‐2, B. endophyticus YC3‐B, Streptomyces sp. RL8, and Streptomyces sp. N7; 1:1:1:1:1 proportion); and (d) control group (no probiotics added).The experimental shrimp were fed with a commercial, 35 percent protein, pelletized feed (Purina®, Ciudad Obregón, Sonora, Mexico) in which the probiotic suspensions were incorporated by spraying. The Lactobacillus and Bacillus strains were incorporated at a final concentration of 1 × 106 colony‐forming units (CFU) per gram of feed, whereas Streptomyces strains were added at a ratio of 1 × 108 CFU per gram of feed, which is the mean of the dose range used for most of the probiotics.Treated shrimp were fed ad libitum three times a day over the course of 30 days with the probiotic‐sprayed commercial diets, and the control group was fed with the commercial diet sprayed with sterile seawater. The bacterial load in the feed was confirmed by plate count; particulate matter was removed daily by siphoning during the probiotic feeding period followed by the addition of discarded water (25 percent). No water exchange was performed during the challenge, and dead animals were regularly removed from tanks throughout the daylight hours.For detailed information on the experimental design; test organisms; DNA extraction and sequencing; and statistical analyses, refer to the original publication.ResultsIn general, microbiota diversity in most of the experimental groups was higher after than before the challenge with V. parahaemolyticus. Fig. 1 shows the Principal Component Analysis (PCA, a tool for making predictive models and often used to visualize genetic distance and relatedness between populations) of the beta diversity (an ecological term for the ratio between regional and local species diversity) associated with microbiota variance for groups treated with probiotics and control groups, before and after V. parahaemolyticus challenge.Fig. 1: Principal components analysis (PCA) plot of beta diversity associated with the gut microbiota of L. vannamei treated during 30 days with Streptomyces alone [RL8] and combined with Bacillus [Bac‐Strep] and Lactobacillus [Lac‐Strep]; before [ˍBCH] and after [ˍACH] challenge with Vibrio parahaemolyticus. Adapted from the original.Results of our study showed that, after the challenge, the microbiota composition of shrimp treated with RL8 and Bac‐Strep was different from the rest of the experimental groups, based on PCA. These treatments were grouped on the left side of the chart along the first principal component axis (PC1). In contrast, the intestinal microbiota (IM) of shrimp from the rest of the groups showed a wider dispersion, indicating differences in beta diversity.The composition and abundance of the bacterial community of the different experimental groups is shown in Fig. 2. A total of 14 phyla were identified in the intestine of L. vannamei: Proteobacteria, Actinobacteria, Bacteroidetes, Verrucomicrobia, Firmicutes, Planctomycetes, Fibrobacteres, Cyanobacteria, TM7, Chlamydiae, TM6, Chlorobi, Fusobacteria, and GNO2. Except for Bac‐Strep_ACH, Proteobacteria was the most abundant bacterial phylum in all experimental groups before and after challenge, with an average relative abundance of 45.34 ± 6.0 percent and 58.62 ± 2.74 percent, respectively. This phylum was followed by Actinobacteria and Bacteroidetes with relative abundances of 30.40 ± 3.11 percent and 21.21 ± 3.70 percent and, 22.15 ± 5.66 percent and 18.44 ± 0.73 percent before and after challenge, respectively.Fig. 2: Relative abundance (percentage of each phylum with respect to all valid sequences for each treatment) of different bacterial phyla associated with the gut microbiota of L. vannamei treated during 30 days with Streptomyces alone [RL8] and combined with Bacillus [Bac‐Strep] and Lactobacillus [Lac‐Strep]; (a) before [ˍBCH] and (b) after [ˍACH] challenge with V. parahaemolyticus.The three bacterial classes with the highest relative abundance were Alphaproteobacteria with 42.5 ± 5.82 percent; Actinobacteria with 29.16 ± 3.30 percent; and Flavobacteriia with 21.45 ± 5.65 percent before challenge (BCH), and 35.23 ± 3.74 percent, 25.81 ± 6.35 percent, and 18.37 ± 0.92 percent after challenge (ACH), respectively (Fig. 3).Fig. 3: Relative abundance (percentage of each class compared with the total) at class level associated with the gut microbiota of Litopenaeus vannamei treated during 30 days with Streptomyces alone [RL8] and combined with Bacillus [Bac‐Strep] and Lactobacillus [Lac‐Strep]; (a) before [ˍBCH] and (b) after [ˍACH] challenge with V. parahaemolyticus.An animal’s intestine is a vital organ for food storage, nutrient digestion and absorption in addition to playing an important role in immunity. Several intestinal functions are achieved through bacterial metabolism, which may also benefit the host by improving the immune response, nutrient absorption and homeostasis maintenance. Consequently, modulation of the IM – through optimization of diet formulation or supplementation with pre- and probiotics – is important to improve the general physiological development and increase the productivity and economic revenues during shrimp farming.Results of this study showed that the groups RL8_ACH and Bac‐Strep_ACH had higher bacterial diversity, which has been associated with a greater host resistance to pathogen colonization than the other experimental groups. Even though a significant change in microbiota composition of L. vannamei has also been achieved with other probiotics, this is the first study showing such effect with Streptomyces strains, either alone or combined. Results for the Control_ACH group challenged with V. parahaemolyticus suggested less bacterial diversity and species richness due to the presence of the pathogen and, thus, a greater susceptibility to invasion by this agent.Proteobacteria was the dominant phylum in the intestine of L. vannamei treated with probiotics before and after V. parahaemolyticus challenge, followed by Actinobacteria and Bacteroidetes. This phylum has been regarded as the most abundant in L. vannamei in multiple studies with relative abundances from 68 percent to 97 percent. Similar results were also reported at different salinities and food types. Other studies have detected the phyla Firmicutes, Bacteroidetes and Actinobacteria as the most dominant after Proteobacteria. Nonetheless, the relative abundance of these bacteria in the intestine of L. vannamei changes according to environment conditions and diet composition.Actinobacteria was the second most abundant phylum in shrimp intestine. Some members of this phylum are known to be excellent secondary metabolite producers that can protect the host from an infection. Adding Streptomyces strains to feed resulted in a greater survival of L. vannamei after V. parahaemolyticus challenge. Our results confirm the great potential of Streptomyces strains as probiotic agents in aquaculture.Microbial colonization and survival in the intestines of targeted organisms are usually claimed as crucial prerequisites for potential probiotics. However, these conditions do not seem to be strictly required for shellfish organisms which can benefit from their continuous interaction with beneficial microorganisms thriving in the water and sediment. This appears to be the case for Streptomyces sp. RL8, which is indigenous to the sea sediment, grows at a wide range of pH and salt concentrations, and produces resistant spores along with several extracellular enzymes and antimicrobial metabolites. Consequently, the modulatory effect on shrimp microbiome found here is not surprising, the same as several other probiotic effects already described for this strain.PerspectivesResults of our study revealed that Proteobacteria, Actinobacteria and Bacteroidetes were the predominant phyla in the intestine of L. vannamei shrimp. It also showed the modulating effect of Streptomyces sp. RL8 on L. vannamei microbiota, as well as its stimulatory effect on several antimicrobial producers that protected shrimp from V. parahaemolyticus infection. These results contribute to a better understanding of the composition and dynamics of L. vannamei intestinal microbiota and to the development of novel probiotics for the culture of this shrimp species.  Source: Global Aquaculture Alliance ...
Evaluating Lupin Seed Meal in Feeds for Pacific White Shrimp
Udang

Evaluating Lupin Seed Meal in Feeds for Pacific White Shrimp

More than half of the aquaculture species produced are fed formulated feeds, and several studies have focused on additional terrestrial proteins as ingredient sources – mainly legumes like field peas, lupin and fava beans – that are regionally and organically produced. Legumes provide nitrogen for themselves and subsequent plants and thus reduce the overall fertilization needs during crop rotation.Several different cultivars of lupin have been tested with different aquaculture species and with generally promising results. Lupin digestibility has been shown to exceed that of soy in Atlantic salmon. Extruded lupin seed meal has been found to offer good digestibility coefficients, especially for protein and energy, in trout and turbot, and can greatly substitute fishmeal in European seabass diets. At least 40 percent of fishmeal protein in diets of the black tiger shrimp (Penaeus monodon) can be replaced by lupin kernel meal (used on a protein‐equivalent basis), without adverse impacts on growth. And a study showed that the Andean lupin (Lupinus mutabilis) can replace at least half of the fishmeal protein – equivalent to a third of the total protein – in the diet of Pacific white shrimp (Litopenaeus vannamei) without negatively influencing growth and feed conversion. However, information about the effects of metabolic and immune parameters is missing so far.This article – adapted and summarized from the original publication [M. Weiss et al. 2020. Lupin kernel meal as fishmeal replacement in formulated feeds for the Whiteleg Shrimp (Litopenaeus vannamei). Aquaculture Nutrition 2020;00:1–11.] – reports on a study to evaluate narrowleaf lupin (Lupinus angustifolius) seed meal as a sustainable diet component for Pacific white shrimp in controlled feeding experiments conducted in a recirculating aquaculture system.This study is part of the project “TRansition paths to sUstainable legume‐based systems in Europe” (TRUE), and it has received funding from the European Union’s Horizon 2020 research and innovation programme under grant agreement no. 727973. The authors thank the staff from the “Centre for Aquaculture Research” (ZAF) for conducting water quality analyses and daily routine activities.Study setupThe study was conducted in a recirculating aquaculture system (RAS) system at the Center for Aquaculture Research, Alfred Wegener Institute in Bremerhaven, Germany. The setup included 18 separate tanks with a water treatment system including a mechanical filter, a protein skimmer, a biofilter and ozone treatment. During the trial, physical water parameters were measured every day (91.93 ± 4.95 percent for dissolved oxygen; 7.53 ± 0.11 for pH; 26.11 ± 0.69 degrees-C for temperature and 15.96 ± 0.53 grams per L for salinity). Twice a week, the concentrations of nitrogen compounds were determined, with mean concentrations of 0.27 ± 0.245 mg/L for ammonium, 2.25 ± 3.692 mg/L for nitrate and 122.71 ± 96.16 mg/L for nitrite.L. vannamei postlarvae (PL13, mean weight ~ 3 mg ± 0.5 mg, mean ± standard deviation) were obtained from a commercial shrimp hatchery in Florida (USA) and grown for seven weeks. Tanks were each stocked with 25 individuals at a mean biomass per unit of 90.22 ± 0.86 grams. Controlled feeding was maintained for eight weeks and treatments were done in quadruplicate. Weight and length gains were recorded at the beginning, and after four and eight weeks. At the end of the experiment, haemolymph samples were collected for further analyses, after determining the molting stage of each animal and excluding freshly molted animals due to known impacts of molting on various metabolic and immune parameters.Four experimental, isonitrogenous and isocaloric, diets were formulated to meet the requirements of L. vannamei during the study, considering energy content, protein and amino acid profile, lipid and fatty acid composition, vitamins and minerals. As necessary, single amino acids (methionine and lysine) were added to balance the amino acid profile. The diets included a control with fishmeal as main protein source; diets L10 and L20 with 10 and 20 percent, respectively, lupin kernel meal replacing fishmeal; and L30 with 30 percent lupin kernel meal in complete replacement of fishmeal. A commercial shrimp diet (Beeskow, Germany; protein 390 grams per kg, lipid 90 grams per kg, ash 90 grams per kg, fiber 15 grams per kg) without lupin meal was tested in duplicate for comparison.For detailed information on the experimental system and diets; phenoloxidase activity; total and differential haemocyte counts; and statistical analyses, refer to the original publication. Results and discussionAll animals accepted the feeds and showed acceptable growth. The average survival rate of shrimp across all lupin meal supplemented diets was 68.3 ± 7.3 percent. For the animals receiving the control diet, it was 63.0 ± 5.0 percent, and survival rates were not statistically different between treatments. After eight weeks, the body weight of the animals differed significantly depending on the diet (Table 1). The animals fed the control feed, the L10 feed and the commercial diet were the heaviest. Shrimp fed the L20 diet were significantly lighter than control and L10 diet but did not differ from the commercial diet. Shrimp fed the L30 diets had significantly lower body weights than all other treatments. These findings are also reflected in the specific growth rate, which is above 1.5 for all diets but drops below 1.0 in shrimp fed the L30 diet. The reduced growth trend in the L30 treatment was already evident after four weeks.Weiss, Lupin meal, Table 1 Diet Average biomass, start (g) Average biomass, end (g) Weight gain (g) Specific growth rate (% BW/day)* Com 3.60 ± 0.00 9.50 ± 0.55 5.898 1.731 Control 3.62 ± 0.05 10.37 ± 0.55 6.747 1.878 L10 3.61 ± 0.05 9.66 ± 0.58 6.044 1.756 L20 3.61 ± 0.02 8.53 ± 0.55 4.924 1.537 L30 3.60 ± 0.03 6.24 ± 0.61 2.644 0.984 Table 1. Growth results of the feeding experiments for initial weight, weight gain and specific growth rate of L. vannamei. Replicate numbers were 24, 63, 73, 73 and 59 for Com, control, L10, L20 and L30, respectively. *Percent body weight per day.The haemolymph phenoloxidase (PO) activity [an important component of the shrimp immune defense] was highest in animals fed the L10 diet and significantly lower when fed the commercial diet (Fig. 1a). Activity in the control and the L20 and L30 diets was intermediate, without significant differences compared with the commercial (Com) or the L10 diet.The glucose level was significantly higher in L10 fed animals (28.36 ± 6.44 mg/dl) than in L30 fed animals (19.71 ± 2.73 mg/dl) (Fig. 1b). Glucose levels of shrimp fed the commercial feed (27.0 ± 4.15 mg/dl), the control feed (22.89 ± 2.26 mg/dl) and L20 (24.73 ± 5.0 mg/dl) were intermediate and did not differ significantly from L10 or L30.The mean total haemocyte count (THC) values were 277.6 ± 118.7 ×105 cells ml/L. Total haemocytes were higher when shrimp were fed low levels of lupin (L10) than the THC values of shrimp fed the commercial and the control feed. THC values gradually decline with higher lupin inclusion levels. No significant differences between the dietary treatments occurred. However, we observed a tendency that semi-granular cells are promoted in animals fed the L10 diet but are reduced with further increasing lupin content in the feed (Fig. 1c).Fig. 1: Results of haemolymph analyses. Com: commercial feed; Control: control feed; L10: 10 percent of the feed is lupin meal; L20: 20 percent of the feed is lupin meal; L30: 30 percent of the feed is lupin meal. Significant differences are indicated by different letters. Replicate numbers are indicated in the bars for a), for b) and c) is Com = 6 individuals (ind.), Control, L10, L20 and L30 = 12 ind., each ind. measured in 3 technical replicates. (a) Phenoloxidase activity in shrimp haemolymph given as mean ± SE. Data were transformed to reach normality. (b) Glucose and acylglyceride levels measured in shrimp haemolymph given as mean ± SD. (c) Differential haemocyte count.Sustainable and viable alternative proteins remain high priorities for future aquaculture development. The results of our study clearly indicate the applicability of lupin seed meal as a replacement for fishmeal in diets for L. vannamei culture. Inclusion is, as with many terrestrial alternative sources, recommendable but only within clear limitations. The growth of L. vannamei indicates that increasing inclusion rates of lupin meal exceeding 100 g/kg (replacing 40 percent of fishmeal) in the feed cause a progressive decline in shrimp performance.New ingredients for aquafeeds, especially plant‐derived products, can have impacts on the metabolism of the animal that might not be expressed on the growth level but in metabolic parameters. The metabolic data from our study show that while inclusion of 10 percent lupin meal has no negative influence, increasing supplementation with lupin meal (20 and 30 percent) progressively deteriorates the physiological status of L. vannamei shrimp towards lower metabolite content in the total haemolymph.In general, total protein levels in the haemolymph of shrimps fed the different diets are in the range reported for animals maintained under similar conditions. Our results show low but stable haemolymph protein levels for all diets, indicating a limited but sufficient protein supply not affected by the rate of lupin meal inclusion in the diets tested.Our results also provide evidence that the inclusion of lupin meal in the feed has a modulating effect on the shrimp’s immune system with positive enhancement of the haemocytes and the phenoloxidase (PO) system when the lupin is included in moderate levels (10 percent; Fig. 1a,c). Most of the designed diets resulted in slightly higher PO activity, but the L10 diet‐treated animals showed a significant increase in PO activity compared with the commercial diet. Higher values of PO activity were also found by various other authors in L. vannamei when other immune‐stimulating and probiotic ingredients were included in the feed.PerspectivesOur results demonstrate the successful inclusion of dehulled lupin seed meal in feeds for L. vannamei without adverse effects on survival, growth performance or metabolic parameters for inclusion rates of up to 100 grams per kg of feed. High inclusion rates (300 grams per kg lupin seed meal) resulted in reduced growth performance and nutritional status. An immune‐stimulating effect on the shrimp was detected for an inclusion level of 100 grams per kg lupin meal, based on an increase in phenoloxidase activity. These results prove that dehulled lupin seed meal is a suitable, regional alternative protein source for aquaculture feeds that can supply good quality protein to L. vannamei shrimp and can replace significant amounts of diet fishmeal. For future diet developments, higher substitution rates might be achieved by supplementing a mix of lupin meal and other regional plants, such as fava bean. This might provide a more balanced nutritional supply and make use of the immuno‐stimulating effect of moderate lupin inclusion rates. Additionally, further research is required to assess methods for lupin pretreatment to enhance digestibility.Source: Global Alliance Aquaculture ...
Evaluating Compensatory Growth in Pacific White Shrimp in a Biofloc System
Udang

Evaluating Compensatory Growth in Pacific White Shrimp in a Biofloc System

Results in shrimp growth for different compensatory degrees when compared to the control treatment (B). (A) over-compensation; (C) full compensation; (D) partial compensation; (E) no compensation.One of the potential management measures to improve shrimp production is the application of biofloc technology (BFT), which brings several production advantages compared to the traditional systems in ponds. BFT systems improve water quality, because there is no water renewal to consequently reduce or eliminate effluents.Additionally, these systems make it possible to increase stocking density, improve biosafety and remove nitrogen compounds through absorption by the microorganism community. This community also acts as a food supplement for the shrimp, providing a constant feed supply 24 hours a day and also enabling a reduction in the protein levels in any manufactured feeds used.Compensatory growth is defined as a physiological process where the organism goes through a rapid phase of growth after a restricted period of development. It varies according to the species, life stage, environmental conditions, severity and duration of restriction as well as how the organism responds once improved or ideal culture conditions are restored. Compensatory growth has been explored with several aquaculture species (including shrimp) under different conditions, including feed restriction, hypoxia, high densities and temperatures, and exposure to toxic compounds. It can occur at varying degrees (Fig. 1), according to the classification below from Ali et al. (2003):1) Full compensation, where organisms that have suffered some deprivation reach the same weight as animals that remained under adequate conditions.2) Partial compensation, where animals that have undergone restriction present rapid growth rate and may have better feed conversion ratios during the recovery period, but do not reach the same weight of animals kept in adequate, control conditions.3) Over-compensation, where animals that have experienced the restriction reach a larger weight than the control animals.4) No compensation, when animals that have suffered some stress do not grow anymore when the optimal conditions are re-established.Fig. 1: Theoretical patterns of compensatory growth for shrimp in a BFT system. Adapted from Ali (2003).The production of Pacific white shrimp (Litopenaeus vannamei) in BFT systems has been growing in Brazil, mainly in the South and Southeast regions. In these regions, production is often limited due to low temperatures during the autumn and winter seasons. Thus, the evaluation of compensatory growth after re-establishment of optimal temperatures for the species would allow the production of two or more annual harvests despite the low growth rates experienced during the autumn and winter.In addition to exploring compensatory growth from temperature changes, an evaluation of the effects of this process involving feed management is relevant, because manufactured feed is the main production cost – as much as 60 percent – in intensive shrimp farming. Therefore, the use of feed restriction as a trigger for subsequent compensatory growth could be a strategy for reducing feed requirements and costs.We carried out a study to evaluate the occurrence of compensatory growth in L. vannamei shrimp at different temperatures and under feed restriction at 28 degrees-C. It was conducted at the Marine Station of Aquaculture (EMA), of the Institute of Oceanography, Federal University of Rio Grande in Southern Brazil.Fig. 2: View of a greenhouse where L. vannamei are reared in a BFT system at Marine Station of Aquaculture (EMA), where the animals and biofloc inoculum for this study were obtained.Study setupL. vannamei juveniles (initial weight 1.78 grams ±0.38) were initially stocked at a density of 300 shrimp per cubic meter. All of the experimental units were filled with 10 percent of their total volume with biofloc-rich water from a grow-out raceway. Two treatments were used – temperature and feed restriction – in the 65-day trial, which was divided into two phases: (1) a restriction period and a recovery period.To evaluate the compensatory growth at different temperatures (Experiment 1), three treatments (in triplicate) were used, where the animals were exposed to three temperatures (20, 24 and 28 degrees-C) during the first phase and, subsequently, all the experimental units were placed at 28 degrees-C for 30 days (second phase – recovery).Regarding food restriction (Experiment 2), two treatments (in triplicate) were used: (1) control, where the animals received 100 percent of the recommended feed during the entire experimental period; and (2) restriction, where the animals received only 40 percent of the amount of feed offered to the control group in the first 35 days of the experiment (first phase) and, then were fed at 100 percent like the control group (second phase – recovery). All experimental units were maintained at 28 degrees-C during Experiment 2.In both experiments, the animals were fed with a 38 percent protein commercial shrimp diet (Guabi®) twice a day using feeding trays.Fig. 3: View of a feed tray used to apply and control feed consumption during the study.During the study, water temperature, dissolved oxygen, salinity, and pH were monitored twice a day. Total ammonia, nitrite and alkalinity were monitored three times a week, while nitrate, phosphate and total solids were monitored once a week. The alkalinity and pH were corrected according to Furtado et al. (2011) using hydrated lime to maintain concentrations higher than 150 mg/L and 7.2, respectively.Results and discussionWater quality parameters – including dissolved oxygen concentrations, salinity, pH, ammonia, nitrite nitrate, alkalinity, total suspend solids and phosphate – were maintained within acceptable levels for L. vannamei throughout the study. For Experiment 1, at the end of the first and second phases, animals in the 20 and 24 degree-C treatments presented a significantly lower final weight than shrimp in for the 28 degree-C treatment (Fig. 4), indicating that partial growth compensation had occurred but not full compensation. The survival rates between treatments did not present significant differences, and animals in the 20 and 24 degree-C treatments also reached high weekly growth rates during the recovery period (Fig. 5).Fig. 4: Initial and final weights of shrimp from the first and second phases of the 20, 24 and 28 degree-C treatments.Fig. 5: Weekly growth rates (grams per week) of the shrimp during the first and second phases of the 20, 24 and 28 degree-C treatments.For Experiment 2, at the end of phase 1 (food restriction), animals in the treatment that received 40 percent of the feed had a significantly lower final weight and the survival rate was not affected by the feed restriction. At the end of the second phase (recovery), the final weights did not present significant differences, indicating that full compensation had occurred once the optimal conditions were re-established.Fig. 6: Initial and final weights of shrimp from the first and second phases of the control group (red) and the treatment that had feed restrictions (blue).ConclusionsIn regions with subtropical or temperate climate where shrimp production is limited by low temperatures during autumn and winter – such as southeast and southern Brazil – it is possible to maintain L. vannamei at low temperatures for a long time with low growth rates and subsequent partial growth recovery. In this case, survival is not affected and the shrimpthat have been subjected to feed restrictions subsequently exhibit rapid growth rates. Regarding feed restriction, it is possible to reduce the amount of feed offered during a growing period to reduce feed costs and to improve water quality. In this case, the shrimp may show complete compensatory growth. This process is facilitated in BFT systems where shrimp have natural, supplementary feeding available 24 hours a day, thus reducing the negative impact of feed restrictions.Source : Global Aquaculture Alliance ...
A Diet-Based Breakthrough in The Battle Against Early Mortality Syndrome in Shrimp
Udang

A Diet-Based Breakthrough in The Battle Against Early Mortality Syndrome in Shrimp

In a new study, US and Vietnamese researchers found that farm-raised Pacific white shrimp (Litopenaeus vannamei) fed a diet formulated with Veramaris Natural Marine Algal Oil and Menon Renewable Product’s MrFeed had significantly higher survival rates for early mortality syndrome (EMS) / acute hepatopancreatic necrosis syndrome (AHPNS) compared to shrimp fed diets containing fishmeal and fish oil.Shrimp fed the Veramaris/Menon feed formulation had roughly 60 percent survival. The Com- and Com+ groups were fed identical diets with the Com+ receiving bacterial challengeEMS/AHPNS, caused by the bacterium Vibrio parahaemolyticus, has had a significant impact on shrimp production globally, with mortality rates as high as 100 percent in the first 30 days.The technical article, published in last week’s edition of the Global Aquaculture Alliance’s Advocate, examined the benefits of total fish oil and fishmeal replacement in the shrimp diet and found that it was not only technically feasible, but endowed shrimp with enhanced immunity. The Veramaris algal oil, rich in both EPA and DHA omega-3, constituted a complete fish oil replacement. Fishmeal was replaced with Menon’s sustainable and functional Oleo-Protein, produced by converting plant-based products into highly digestible nutrients and high nucleotides and small chain peptides that appear to serve as a universal immune stimulant.Future studies would be needed to assess if this diet enhances the immune system against viruses, including Decapod iridescent virus 1, or DIV1, currently impacting Chinese shrimp farms.Pacific white shrimp is the most widely cultivated shrimp in the world, which along with tiger prawn (Penaeus monodon) account for roughly 80 percent of farm-raised shrimp globally.In the 40-day trial conducted at the ShrimpVet Laboratory in Vietnam, the research team compared the Veramaris/Menon diet to six other experimental and commercial feeds to assess the animal’s ability to withstand an EMS/AHPNS infection.The researchers found that 60 percent of the shrimp fed the Veramaris/Menon diet survived. These results were significantly higher than all other experimental and commercial diets tested, which ranged between 9 and 22 percent survival. “The study demonstrates that shrimp, and likely many other species, can be fed diets without fishmeal and fish oil, thereby enabling aquaculture expansion to continue unabated, despite fluctuations in forage fish resources,” said the study’s lead author Ewen McLean, principal at Aqua Cognoscenti. “A higher survival rate results in better yield and improved feed conversion ratios since less feed is wasted.”In a related study published in the online edition of the journal Aquaculture, the research team substituted fishmeal with blends of soybean meal, soy protein concentrates and poultry by-product meals to examine growth rates of Pacific white shrimp.Those results showed that fishmeal replacements do not affect the animal’s growth performance and that complete replacement of fishmeal in Pacific white shrimp is possible. No antibiotics were used before or during either study.Fish farming, or aquaculture, now provides more than half of the world’s seafood. Aquaculture-raised seafood, one of the fastest growing food sectors in the world today, is expected to fill in the supply-demand gap for high-quality, easily-digested protein as the world population expands.Currently, many forage fish are ground up to feed the burgeoning aquaculture sector. Aquaculture consumes 70 percent of total fishmeal and 73 percent of total fish oil production. Crustaceans alone, including shrimp, consume roughly 31 percent of global fishmeal production.As shrimp aquaculture continues to expand globally there is an urgent need to prevent emerging disease and resistant pathogens which stem from the overuse of antibiotics in shrimp farming. The chemicals and antibiotics used to prevent disease in shrimp farms can pollute groundwater and coastal estuaries, which provide the nursery grounds for many marine organisms.Feeding forage fish to aquaculture-raised animals presents a sustainability issue because of its reliance as a major building block of the food chain for seafood. A recent study estimated the global economic benefit of forage fish to be $18.7 billion per year, over three times their direct catch value. Overfishing and disappearance of this building block would result in a collapse of higher trophic species that depend on forage fish, which would have a ripple effect on many commercial fisheries, including salmon, cod and tuna as well as many ocean tourism-based economies.These fish also sustain seabirds and marine mammals such as whales, seals, and dolphins. If the fish at the center of the ocean food chain disappear, so will the life that depends on them. “This study evaluated the nutritional value of shrimp feeds without fishmeal and fish oil, and using new innovative ingredients and found them very effective,” said fish nutritionist Rick Barrows of Aquatic Feed Technologies LLC and co-author of the study. “The next question is the cost of improved feeds. Since each farming operation is different, costs will reflect each operation.”Source: The Fish Site ...
Study Replaces Dietary Fish Oil With Microalgal Oil
Udang

Study Replaces Dietary Fish Oil With Microalgal Oil

Informed consumers and environmental lobbyists have thrown down a gauntlet to the aquafeed industry. This challenge, familiar to all, concerns the reduction, or preferably, elimination of fishmeal (FM) and fish oil (FO) from aquaculture feeds. The principal motivation behind this challenge is a desire to ensure the future viability of world fish stocks and, by extension, the ecosystems from which they are harvested. Many fisheries have reached sustainable yield or are overfished; some are in recovery, others have collapsed and a few have become extinct. With the global population burgeoning by about 1 percent or 75 million people per year, all sources of food-grade protein are precious and must be defended vigorously.It has been suggested that most fish used for reduction to FM/FO is suitable for human consumption and should, therefore, be diverted to that purpose; if not immediately, certainly in the near future. The substitution of FM/FO from aquafeeds thus represents a moral/ethical imperative. Aquaculturists have studied the feed and feeding habits of cultured animals for centuries but the possibility of substituting marine resources from manufactured feeds has a more recent history (e.g., Grassl, E.F. 1957. Pelleted dry rations for trout propagation in Michigan hatcheries. Trans. Am. Fish. Soc., 86, 307-322).There are now many examples of the complete elimination of the FM component of fish feeds, even for carnivorous species. Similar observations have been made also with cultured shrimp [Reid, B., McLean, E., Craig, S.R. 2004. Performance characteristics of shrimp (Litopenaeus vannamei) fed a certified organic feed versus an investigational organic aquafeed. In: Proceedings of the 5th International Conference on Recirculating Aquaculture, Roanoke, VA, USA, July 22 to 25, pp. 539-542]. More difficult however, has been the replacement of dietary FO.Many farmed species are able to synthesize some fatty acids but others, such as the omega-3 long chain polyunsaturated fatty acid (omega-3 LC-PUFA) docosahexaenoic acid (DHA; 22:6 omega-3), must be derived from the diet. omega-3 LC-PUFAs are intimately involved in numerous biological functions in aquacultured organisms and humans (Fig. 1). Half a century ago researchers from Aalborg North Hospital, Denmark, reported that a diet rich in omega-3 LC-PUFA substantially reduced serum cholesterol, triglycerides, β-lipoprotein and pre-β-lipoprotein in Inuit. Lowered levels of these different lipid types were associated with a reduction in heart disease and diabetes mellitus, an effect that stimulated interest in examining the health benefits of dietary fish oil.Fig. 1: The advantages of increased dietary intake of omega-3 LC-PUFA are extensive. DHA-EPA, generally regarded as a single nutritional element, impact control processes that regulate normal growth, development and metabolism. Bioactive metabolites of omega-3 LC-PUFA influence especially health status, including cardiovascular wellbeing, immunity and processes of inflammation. At the cellular level, they modulate cell and organelle membrane structure and function, cell electrophysiology and regulate nuclear receptors and transcription factors.More than 8,000 clinical trials later it is now well-established that eicosapentaenoic acid (EPA; 20:5 omega-3) and DHA are conditionally essential in man and positively modify a range of physiological functions (Fig. 1) to the extent that nutritional guidelines advise regular consumption of seafood – rich sources of both EPA and DHA.If the health benefits of seafood are to be maintained, substitution of FO in aquafeeds must preserve the levels of conditionally essential omega-3 LC-PUFA in the flesh of the final product (https://abdn.pure.elsevier.com/en/publications/the-potential-impact-of-compositional-changes-in-farmed-fish-on-i ). As well, replacement of FO in aquafeed must not have negative effects on the health or growth performance of the farmed animal.Our study examined the functionality of microalgal oil rich in DHA and EPA (Veramaris® Vera Oil®), and the benefits of MrFeed® Pro50®, a sustainable and functional ingredient able to replace FM. The oil product was derived from the heterotrophic protist Schizochytrium limacinum (Family Thraustochytriaceae). Specifically, the trial compared the response of Pacific white shrimp, Litopenaeus vannamei, fed algal oil-based diets against experimental and commercial feeds and assessed their ability to withstand challenge with the bacterium Vibrio parahaemolyticus, causative agent of early mortality syndrome/acute hepatopancreatic necrosis syndrome (EMS/AHPNS) which has been responsible for significant losses in shrimp production on a global basis.Study setupPCR-evaluated SPF shrimp of ~3 grams were randomly placed into 120-liter plastic tanks filled with 100-liter 20 ppt brackish water and serviced by an airlift-based biofilter (28.14 ±0.75 degrees-C, pH 7.87 ± 0.05, and DO2 6.82 ± 0.01 mg per liter, and a 12:12-hour light/dark cycle). The 40-day trial comprised a one-day adaptation period, a 28-day feeding period, one-day EMS/AHPND immersion challenge, and a 10-day post-challenge mortality study. A stocking density of 20 shrimp per tank was used (200 shrimp per cubic meter) and the experiment comprised eight groups with four replicates.The bacterial isolate used was collected from EMS/AHPND infected Penaeus vannamei from a shrimp farm in Loc An, Vung Tau Province, Vietnam. Tryptic Soy Broth + 2 percent sodium chloride (TSB+) was inoculated with a consistently virulent strain of V. parahaemolyticus, incubated for 24 hours, and added directly into tanks to achieve a density of 7.5×105 CFU/mL, which was expected to kill 90 percent positive control shrimp within 10 days of challenge. Positive controls and treatment tanks were subjected to an immersion challenge while non-inoculated, negative controls were treated with sterile TSB+, meaning that the shrimp were not challenged with the bacteria.Shrimp were fed their respective diet to satiation 4 times daily (5-10 percent body weight) for the duration of the trial. Feed amount was adjusted based on tank biomass and shrimp feeding behavior. Feed consumption, general behavior and survival throughout the trial was recorded daily at 08.30, 11.00, 14.30 and 20.00 h. Shrimp were fed one of 6 experimental or a positive and negative commercial diet (Grobest Feed #2; Table 1). Complete formulæ are available on request.McLean, microalgal oil, Table 1 Ingredient Diet 1 Diet 2 Diet 3 Diet 4 Diet 5 Diet 6 Fishmeal 25 0 0 0 0 0 Poultry meal 0 23 0 11 11 13 Soybean meal, non-GMO 25 24 22 22 20 26.1 ME-Pro lot 260/3418 0 0 22 0 0 0 Menon MrFeed® Pro50® 0 0 0 17 17 18 Lysine 0.6 0.7 1.2 1.5 1.5 0.58 Methionine 0.25 0.15 0.4 0.4 0.65 0 Threonine 0 0.2 0.4 0.4 0.65 0 Whole cleaned wheat 33 35.3 32.45 39.55 29.8 27.19 Vitamin premix-Open Blue 1.25 1.25 1.25 1.25 1.25 1.25 Mineral premix-Open Blue 1 1 1 1 1 1 Stay C (L-Ascorbat-2-Mono) 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 0.5 Canola oil 2.1 0.64 4.41 0 0 0 Results and discussion Table 1. Ingredient formulation (kg/MT) and proximate composition of diets used to feed L. vannamei.Surviving shrimp doubled their weight over the trial period. Negative control groups fed the commercial diet returned a 97.1 ± 3.42 percent survival over the trial duration. Infection using V. parahaemolyticus inoculum, however, resulted in mortalities across all challenged groups (Fig. 2). The lowest survival rates were experienced by shrimp fed diet 3 > diet 2 > diet 1 > diet 4 > Grob+ > diet 5 > diet 6 (Fig. 2). Shrimp survival for those fed with the Veramaris®/Menon® diet 6 was significantly (P < 0.01) greater than all other challenged groups. All other experimental groups and the positive commercial feed returned similar mortality rates (P > 0.05; Fig. 2).Fig. 2: Percent survival of different groups of Pacific white shrimp fed various diets and immersion challenged by V. parahaemolyticus, the cause of EMS/AHPNS. Com -/+ = negative/positive commercial control. Different superscripts signify significant differences (P < 0.05) between treatments.FO and FM are finite resources. Their supply can fluctuate due to natural events such as El Niño, which, in turn, may be impacted by global climate change. Moreover, there is increasing competition for FO by sectors such as the pharmaceutical, cosmetic and animal feed industries and pressure is being brought to bear to use forage fish for human food. Traditional users of FO include makers of paint, lubricants and coatings, and the tanning, rubber, edible oil, soap and synthetic wax industries. It is unlikely, therefore, that FO supplies will be able to match current needs when paired with a rapidly growing aquaculture sector. Even in the unlikely event that other consumers reduce FO use, its cost will inevitably increase.A reduction/elimination of FO from aquafeeds is thus fundamental to support projected growth trajectories while also providing the business with a greener bearing. The observations here determine that 100 percent of FO can be successfully replaced in aquafeeds by oil derived from the thraustochytrid S. limacinum. This protist is characterized by high lipid content and is particularly rich in DHA. Additionally, the Veramaris®/Menon® MrFeed®-containing diet – diet 6 – returned statistically significant higher levels of survival than the positive control commercial feed or experimental diet.These results support the benefits associated with MrFeed® Pro50® inclusion, reflected as a higher shrimp survival rate related to enhanced immune capability. As reported by Zendejas Hernández (Challenges in shrimp nutrition and sustainability. Aquaculture America, Honolulu, Hawaii, USA. Feb. 9 to 12, 2020. 727.), the high nucleotides and small-chain peptide content of MrFeed® Pro50® improves shrimp nutritional status and immune responsiveness.Other studies that have added microalgae to crustacean diets report an immunostimulatory effect. For example, addition of the single cell green algae Chlorella, replacing 6 to 8 percent of the FM component of the feed, increased haemocyte count and prophenol oxidase (PO) activity in postlarvae of the giant freshwater prawn. PO is a major innate defense mechanism akin to the complement cascade of mammals.Like our findings with the V. parahaemolyticus challenge and Veramaris®/Menon®, Chlorella­-based diets appeared to enhance resistance to Aeromonas hydrophila infection. Incorporation of the halophytic (salt-tolerant) microalga Dunaliella salina at 2 percent of the diet of black tiger shrimp enhanced antioxidant status and elevated survival rate from white spot syndrome virus. Future studies with Veramaris®/Menon®-based diets and shrimp will investigate immune system dynamics to enhance our current understanding of the benefits of this FO/FM replacer for shrimp and fish.Another issue that has become more prominent in general relates to food safety. It is now clear that some forage fish used in FM/FO reduction may be contaminated with persistent organic toxins such as dioxins and furans, heavy metals and other pollutants that may bioaccumulate in farmed animals. These toxicants have the potential for negative impacts on a variety of physiological control processes in cultured organisms and end users. While new technologies reduce and remove some of these contaminants during FO manufacture, additional expense is incurred.PerspectivesDue to its controlled production environment S. limacinum avoids all problems associated with environmental contaminants and thereby represents an untainted ingredient. The mass cultivation technology for Schizochytrium is already well developed and it is anticipated that large quantities of Vermaris® will be produced imminently as a FO replacer for aquafeeds. The present study categorically demonstrates that shrimp, and likely many other species, can be cultivated without FM and FO, thereby enabling aquaculture expansion to continue unabated, despite fluctuations in FM/FO resources.Source: Global Aquaculture Alliance ...
Ice Water Treatment Impacts on Peeling Time, Meat Quality of Pacific White Shrimp
Udang

Ice Water Treatment Impacts on Peeling Time, Meat Quality of Pacific White Shrimp

Soaking for eight hours supports optimal shell peelingThis study showed that the optimum shell peeling time for freshly harvested Pacific white shrimp maintained in ice water for up to 24 hours was after 8 hours. Photo by Darryl Jory.Shell removal, or shelling, is a crucial step during shrimp processing. However, in China shrimp are still shelled manually, even though some mechanical shrimp peelers exist. But these have distinct disadvantages, as the shrimp are delicate and are easily crushed in these machines. Moreover, both the efficiency and the output of processed shrimp are low when utilizing mechanical shrimp peelers. Various alternative methods are available for peeling shrimp, including low-temperature shelling, ice-salt shelling, blanching shelling, high-pressure shelling and flash-freeze shelling.Currently, placing shrimps on ice and/or in brine (typically NaCl or NaCl with phosphates) solution for several days is the most common practices to facilitate the separation of the edible meat from the shell in the shrimp industry. Various studies have reported that shrimp processed on ice can be peeled more easily than those freshly caught. Other studies reported that pre-treating the shrimp with low-temperature brine and ice salt made shell peeling easier. However, salt can easily penetrate into the shrimp and affect its quality.Ice water pretreatment (soaking) before shelling involves keeping freshly caught shrimp in ice water overnight, followed by shell removal. The quality of the shrimp and the shelling times are closely related to how long the shrimp are soaked in ice water. Extended soaking time eases the removal of the shrimp shells, but the overall quality of the shrimp is reduced.This article – adapted and summarized from the original (Xu, N. et. al. 2019. Effect of ice water pretreatment on the quality of Pacific white shrimp, Litopenaeus vannamei. Food Science & Nutrition Volume 7(2): 645-655.) – reports on a study to evaluate the quality changes and shelling issues of Pacific white shrimp (Litopenaeus vannamei) freshly harvested from farms and stored in ice water for up to 24 hours.This study was funded by the National Science and Technology Support Plan (No. 2015BAD17B01), National Natural Science Foundation of China (No. 31471685), and an extension project (No. 2014‐5) from Shanghai Agriculture Committee.Study setupPacific white shrimp harvested from local ponds were purchased from an aquatic products market in Shanghai, China. The animals were sent to the laboratory (College of Food Science and Technology, Shanghai Ocean University, Shanghai, China) within half an hour, while still alive. At the lab, dead and moribund shrimp were discarded, and the live animals were divided into seven groups, each weighing around 550 grams. The first group was used as a control group, and the shells were peeled and measured. Ice water was added to the remaining six groups.Shrimp groups were processed by manually shelling every 4 hours for the next 24 hours to determine shelling times and quality changes. Five people with experience in shelling shrimp manually peeled each 550-gram group of shrimp, and the weight of meat and the time required for the shells to be removed were recorded. Meat samples were stored at minus-80 ± 1 degrees-C for various lab analyses.For detailed information on the experimental design; shrimp collection and preparation; shrimp shelling times; sensory evaluations; ATP‐related compounds and K values; shrimp color and texture measurements; and other tests and data processing, refer to the original publication.Results and discussionThe time that was required to remove the shrimp shells reflected the degree of difficulty of the shelling process. Thus, a shorter peeling time signified less difficulty in removing the shell from the meat. Our results show that the peeling time per 550-gram group of shrimp declined as the soaking time was extended (Fig. 1). The fresh L. vannamei sample proved challenging to peel and required 5.92 minutes.After 4 hours of immersion in ice water, the shelling time decreased significantly to 2.21 minutes. The shelling time ultimately dropped to 1.57 minutes after 24 hours of treatment. The results indicated that a decrease in temperature during the processing of L. vannamei reduced the shelling time substantially. However, no significant differences in the shelling time were evident after treatment for 4 hours.Fig. 1: Changes in the shelling time of L. vannamei shrimp treated with ice water for up to 24 hours.The shrimp yield reflects the output rate of shrimps after shelling. The control group was represented by 0 hours, and the shrimp yield was 46.87 percent. Meat yield increased considerably with time, reaching 50.53 percent after 20 hours of treatment. However, no significant difference was apparent in the sample group after an 8-hour treatment (Fig. 2). This indicated that the internal tissue cells of the shrimp body absorbed the external moisture during the process of ice water treatment, resulting in an increase in the total weight of the shrimp. The optimal treatment time was determined to be 8 hours and was calculated by combining the shell peeling time and shrimp meat yield.Fig. 2: Shrimp yield changes for L. vannamei shrimp vs. soaking times in slurry ice.Regarding comparative sensory quality, our results showed that L. vannamei shrimp kept in slurry ice maintained adequate quality, but texture, smell and color indexes decreased with increasing soaking times. Unpeeled shrimp with a pretreatment time of 0 hours had the best quality, but its shelling was exceptionally difficult and scored the lowest on shelling time. A soaking time of between 4 and 8 hours resulted in easier peeling process, with 8 hours considered the optimal pretreatment time.Hardness is a most critical textural attribute in meat or seafood. Our results showed that, with increasing ice water immersion time, the hardness of L. vannamei shrimp showed an upward trend. There was a significant difference in the hardness of the shrimp samples following immersion in ice water for 0, 4 and 24 hours, respectively (Fig. 3). Shrimp samples continued to display signs of stiffness after 24 hours, possibly due to the effect of the frigid water temperature on enzyme activity and protein degradation.Fig. 3: Changes in hardness and springiness of fresh L. vannamei shrimp during the ice water storage period.Elasticity is another critical evaluation index to determine the quality of texture. Elasticity is the ratio of height or volume of a denatured sample to its pre-deformation height after removal of the deforming forces. The flexibility of the samples continued to decline throughout the treatment period. Samples exhibited the ideal elasticity of 0.72 mm at 0 hours, followed by the 4-hour sample with an elasticity of 0.62 mm. It was evident that the elasticity value fluctuations remained within a specific range after 4 hours. Our hardness and elasticity measurements were consistent with those reported by several other similar studies.Perspectives This study assessed changes in shelling time, shrimp yield, sensory indexes and several physical and chemical indicators (texture, chromatic aberration, TBA value, K value, and microstructure) for L. vannamei shrimp. Our results showed that the optimum process condition was an ice water treatment (soaking) for 8 hours, which can significantly simplify shell removal while maintaining product quality. But soaking time can limit meat yield and must be considered in the processing of shrimp.Source: Global Alliance Aquaculture ...
4 Jenis Udang Unggulan Indonesia
Udang

4 Jenis Udang Unggulan Indonesia

Udang merupakan komoditas ekspor andalan bagi Indonesia, memberikan kontribusi devisa yang cukup besar. Komoditas udang yang diekspor yakni udang beku, udang segar dan udang olahan. Saat ini Indonesia termasuk sebagai negara produsen udang tertinggi di dunia. Komoditas udang Indonesia bersaing adalah India, Vietnam, Ekuador, Tiongkok, Thailand, dan Argentina. Pangsa pasar utama ekspor udang menyasar Jepang, Amerika Serikat, dan negara-negara di kawasan Eropa.Menurut data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor udang Indonesia mencapai 136,3 ribu ton dengan nilai US$1,13 miliar sepanjang Januari hingga Agustus 2016. Volume ekspor udang naik 6,84%, sedangkan nilai ekspor udang naik 3,75%.Berikut ini jenis udang komoditas ekspor terunggul dari Indonesia :Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei)Pembudidayan udang vannamei sedang berkembang pesat di Indonesia akhir-akhir ini. Udang Vannamei memiliki berbagai keunggulan dibandingkan udang lain, semisal lebih tahan serangan penyakit, pertumbuhan lebih cepat, masa pemeliharaan lebih singkat, tergolong tinggi daya tahan hidup selama pemeliharaan, pemberian pakan yang relatif lebih mudah.Udang vannamei bisa dikembangkan dengan teknik pola tambak udang tradisional, semi-intensif, maupun supra intensif. Udang Vannamei sangat diminati oleh pasar Amerika Serikat. Vananmei dapat dijual dalam ukuran kecil sampai sedang (ukuran 15-25 gram per ekor). Harga udang vannamei dapat mencapai 80 ribu rupiah per kilogram.Udang Windu (Penaeus monodon)Udang Windu merupakan udang asli Indonesia. Udang windu dikenal juga sebagai tiger shrimp. Udang windu digemari sebagai bahan makanan karena badannya yang tergolong besar dan rasanya manis gurih. Pasar ekspor udang windu dari Indonesia ke Jepang dan kawasan Eropa.Harga jual udang windu lebih tinggi dibandingkan udang vaname. Namun, udang windu lebih sulit dalam proses pemeliharaan. Hingga saat ini udang windu masih memiliki kerentanan yang tinggi dibandingkan dengan udang vannamei. Udang windu masih mudah terserang penyakit atau virus yang bisa menimbulkan kematian.Udang Galah (Macrobrachium rosenbergii)Udang galah dikenal juga sebagai Fresh Water shrimp. Udang galah disukai oleh pasar Asia karena memiliki kandungan asam lemak jenuh tidak terlalu tinggi dampak dari hidup di air tawar. Udang galah (Macrobrachium rosenbergii) memiliki ukuran paling besar dibandingkan jenis udang air tawar lainnya.Udang galah mempunyai nilai ekonomis tinggi, karena harga jualnya lebih tinggi dibanding hasil budidaya air tawar lainnya. Namun, udang galah saat ini masih dianggap sulit untuk dibudidayakan, lantaran sifat aslinya suka memangsa sesama atau kanibalismenya tinggi..Udang Jerbung (Penaeus merguiensis)Udang Jerbung merupakan udang asli Indonesia yang dikenal juga sebagai udang putih. Udang Jerbung dapat ditemukan di hampir semua kawasan perairan Indonesia dan popular di luar negeri. Udang Jerbung menjadi komoditas alternatif untuk dibudidayakan selain udang vaname, galah, dan windu. Keberhasilan Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara, Jawa Tengah mengembangkan produksi benih udang jerbung secara massal menjadi modal pengembangan komoditas udang di masa mendatang. Udang Jerbung dikembangkan dengan mengadopsi teknologi produksi udang windu dan menggunakan program pemuliaan buatan (breeding). Teknologi ini berhasil meningkatkan kelangsungan hidup hingga 40 persen. Dengan adanya udang jerbung Pemerintah Indonesia ingin mengurangi ketergantungan terhadap udang vaname. Hal ini karena benih udang vaname hingga saat ini masih harus impor.Sumber : ISW , Mongabay ...
Prospek Cerah Industri Hatchery Udang
Udang

Prospek Cerah Industri Hatchery Udang

Keberhasilan budidaya udang tidak dapat dilepaskan dari mata rantai industri perudangan, salah satunya adalah daya dukung industri perbenihan udang. Oleh karena itu, untuk menghasilkan industri budidaya udang yang sehat dan maju, diperlukan dukungan pasokan benih dari hatchery yang handaldan berkelanjutan.Bisnis udang dalam negeri, terutama udang jenis vaname, semakin menggeliat. Tak mengherankan, komoditas tambak ini merupakan salah satu produk dengan pangsa pasar tidak hanya domestik, akan tetapi luar negeri. Dengan demikian, bisnis untuk meraup devisa asing dalam bentuk dollar AS semakin terbuka lebar.Wajar saja, pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Perikanan dan Kelautan (KKP), membidik peningkatan produksi yang signifikan komoditas ini. Pasalnya, udang merupakan salah satu komoditas andalan penghasil devisa yang dapat diandalkan. Tidak tanggung-tanggung, KKP mematok target peningkatan produksi hingga 250% di tahun 2024. Cukup menantang!Baca juga: Genjot Produksi Benih dan Stok Induk UdangDengan semakin berkembangnya bisnis budidaya udang, hal ini memicu efek domino terhadap industri-industri ikutan lainnya yang menjadi pendukung. Salah satu industri yang menjadi pendukung budidaya udang adalah industri yang memasok benih (benur) untuk budidaya (tahap pembesaran). Dengan target budidaya udang semakin meningkat, permintaan terhadap benih pun naik secara signifikan. Tentu saja, ini menjadi peluang bisnis bagi para pelaku industri mengingat keberadaan bisnis-bisnis hatchery masih dikatakan kurang.Menurut Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Lampung, Supono, Keberadaan hatcherytergantung dari kondisi tambak udang yang beroperasi serta produksi yang dihasilkan. Kasus merebaknya penyakit mempengaruhi tambak yang beroperasi yang berimbas pula pada permintaan benur.  Hatcheryyang mampu bertahan adalah yang mampu menghasilkan benih yang berkualitas dengan harga yang bersaing.“Peluang hatchery ke depannya sangat menjanjikan karena permintaan benur meningkat sejalan dengan pembukaan lahan baru dan peningkatan target produksi udang oleh pemerintah.  Teknologi pembenihan yang sudah dikuasai serta kemudahan memperoleh induk yang berkualitas specific free pathogen (SPF) menjadi kekuatan yang dimiliki untuk menangkap peluang dari peningkatan permintaan benur oleh petambak,” tambah Supono.Lanjutnya, Induk udang vaname yang berkualitas saat ini masih impor, misalnya dari Kona Bay. Hatcheryyang sudah besar, dilengkapi dengan uji kualitas benur terutama yang berkaitan dengan penyakit seperti: WSSV, IMNV, TSV, dll, sehingga benur yang dihasilkan bebas dari penyakit tersebut (specific pathogen free/SPF).  Namun untuk hatchery skala kecil/rumah tangga, jaminan bebas penyakit tidak ada sehingga petambak harus waspada dalam menentukan hatchery ketika membeli benur.Peran Penting Hatchery dalam Industri Budidaya UdangMenurut pengakuan Sudiarnoto Soegito, Divisi Akuakultur PT. Golden Westindo Artajaya, keberhasilan Budidaya khususnya Udang tidak dapat dilepaskan dari lima aspek sebagai berikut, yaitu pemilihan lokasi usaha budidaya, kualitas pakan, kualitas benih atau benur dari hatchery (SPF/SPR), manajemen budidaya (program pemberian pakan, kualitas air, dan sebagainya).Menurutnya, kelima aspek tersebut tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain karena memiliki keterkaitan yang sangat erat. Sudiarnoto menambahkan, “di samping keempat aspek tersebut di atas, ada satu hal lagi yang menentukan keberhasilan budidaya udang, yaitu dan selanjutnya adalah kepasrahan kepada Tuhan Pemilik Alam Semesta, yaitu doa. Salah satu saja diabaikan maka hasilnya akan kurang maksimal atau mungkin mengakibatkan usaha budidaya gagal total,” tuturnya.Disinilah peran hatchery sangat penting untuk mendukung budidaya dengan menghasilkan benur yang berkualitas tinggi sesuai dengan standar mutu yang ditetapkan. Sehingga keberadaannya sangat diperlukan sepanjang proses budidaya itu masih berlangsung. Hal ini karena saat ini, tidak mungkin usaha budidaya mengandalkan tangkapan alam.Baca juga: 6 Ciri Benur Udang Vaname Berkualitas yang Wajib Diketahui PetambakDi pihak lain, Agus Saiful Huda, Petambak di Jawa Timur, berpendapat serupa terkait peran industri hatchery dalam budidaya udang secara keseluruhan. Menurutnya, keberhasilan petambak sangat tergantung dan atau dipengaruhi oleh industri perudangan dari hulu ke hilir, salah satunya adalah industri hatchery. Hal ini mengingat pakan dan teknologi budidaya di Indonesia sudah bagus.Benur bagi petambak adalah raw material/bahan baku utama disamping media air. Hatchery adalah salah satu mata rantai yang terpenting dalam bisnis akuakultur, disamping grow out (petambak), pakan & nutrisi, equipment & teknologi dan processing (cold storage).Ia melanjutkan, merujuk pada teori the Weakest Link (Wallodi Weibull,1887) yang mengungkapkan, kekuatan suatu rantai terletak pada mata rantai yang paling lemah. Ibaratnya, bendungan yang paling kokoh pun akan hancur bila ada satu titik pada bangunan itu yang bocor. Demikian juga halnya dengan bisnis akuakultur, bila hatchery tidak menghasilkann kualitas benur yang baik, bisnis akuakultur akan hancur. Oleh karena itu, saling menguatkan antara rangkaian bisnis akuakultur adalah suatu keharusan.Induk, Salah Satu Kunci Keberhasilan Industri HatcheryMasih menurut Sudiarnoto, industri hatchery memiliki peluang yang sangat besar, sepanjang budidaya terus berkembang. Namun peluang itu tidak lepas dari tantangan, misalnya tingkat persaingan semakin ketat karena itu diperlukan produktivitas tinggi dan efisiensi dari pengelolaan hatchery dengan tetap mengacu pada standar mutu benih/benur yang dihasilkan dengan menerapkan CPIB (Cara Pembenihan Ikan/Udang yang Baik).Sayangnya, harga Induk yang tersedia tidaklah murah mengingat harus Impor dengan menggunakan dollar AS. Sementara itu, induk udang sangat tergantung pakan segar dan hidup, misalnya saja cumi dan cacing laut atau Polychaeta untuk menjamin produktivitas tetap terjaga dan kualitas nauplinya bagus. Semua pakan ini mengandalkan tangkapan alam, jika pengelolaan pakan di hatchery tidak baik, maka pakan hidup ini bisa menjadi sumber kontaminasi dan merusak kaidah biosecuriti. Meskipun demikian, para teknisi sudah sangat paham bagaimana mengatasinya.Jarak Tempuh, Tantangan Industri HatcheryTantangan berikutnya, terkait dengan industri hatchery adalah terkait dengan lokasi dan aksesibilitas. Menurut Soediarnoto, lokasi hatchery terpusat pada lokasi-lokasi tertentu saja. Sehingga, hal ini terkadang industri ini mengalami kesulitan dalam aspek distribusi dan transportasi benih menuju lokasi-lokasi budidaya. Alternatif lain, jalur distribusi dapat dilakukan melalui udara, akan tetapi, biaya menjadi membengkak.Faktor berikutnya, karena terkosentrasi di area tertentu, sehingga jika terjadi outbreak penyakit, perairan tersebut mudah terkontaminasi. Sehingga dapat melumpuhkan industri ini di daerah berdekatan secara menyeluruh.Baca juga: Geliat Budidaya Udang, Optimisme Pergerakan Ekonomi Pasca Pandemi“Fakta lain di lapangan, tantangan hatchery adalah sering mengalami bad debt bahkan bahkan dead debtsehingga sangat mengganggu cash flow kelancaran operasional,” imbuh Soediarnoto.Senada dengan Soediarnoto, Elmas Handy Prabowo, Direktur PT Delta Agro, berpendapat serupa. Menurutnya, sangat banyak kebutuhan petambak secara nasional yang tidak mungkin dipenuhi oleh hanya beberapa hatchery besar.\“Mendapatkan benur berkualitas secara kontinu menjadi tantangan terbesar dalam dunia hatchery serta wilayah kepulauan yang membuat biaya pengiriman cargo antar pulau terlalu tinggi. Jadi yang terpenting menurutnya adalah adalah konsistensi kualitas benur, yang saat ini masih naik turun,” tambah Handy.Benur Bersertifikat, Wajib!Untuk menjamin keberhasilan budidaya, benur memegang peranan yang sangat penting dalam mencegah terjangkitnya tambak dari serangan penyakit. Salah satunya adalah jaminan bahwa benur tersebut bebas dari patogen sehingga tidak mengandung penyakit bawaan.Untuk itu, disinilah pentingnya benur memiliki sertifikat mengenai riwayat biologisnya. Terkait dengan aspek sertifikasi, Sudiarnoto menekankan pentingnya benur bersertifikat. Menurutnya, benur yang bagus harus jelas historisnya sehingga bisa disertifikasi. Peran pemerintah sangat penting dalam hal ini sebagai pengatur kebijakan. Salah satu historisnya adalah dari mana sumber induknya. Banyak hatchery yang tidak mempunyai induk membeli naupli dari hatchery lain yang mempunya induk dan jual Naupli. Menurutnya, hal tersebut tidak masalah selama jelas terjamin asal sumber induknya.Kondisi Industri Hatchery dalam NegeriSudiarnoto melanjutkan, sejauh Ini Induk yang baik bersumber dari AS (Hawai atau Florida). Sayangnya, induk vaname Nusantara belum bisa berperan di dalam negeri. Benur Free Pathogen (SPF dan SPR) dengan standar pemerikasaan/SOP dan peralatan yang baik tentu bisa diandalkan hasilnya. Karena itu benur harus di periksa di laboratiorium yang sudah terakreditasi pemerintah sehingga sertifikat hasilnya dapat diandalkan.Namun harus diyakini bahwa benur yang sudah bersertifikat SPF/SPR terpercaya bukanlah satu-satunya yang menjamin keberhasilan budidaya. “Kesalahan besar para teknisi adalah menganggap kualitas benur adalah segalanya semacam ‘key to success’ budidaya udang. Padahal, itu hanya part of the success saja,” ungkapnya.Agus, menambahkan terkait dengan kondisi industri hatchery dalam negeri. Menurutnya, tantangan hatchery sekarang adalah terkait dengan ketergantungan yang kuat dengan pasokan broodstock impor.“Titik yang paling lemah manakala kita tergantung dengan broodstock impor adalah bila terjadi faktor-faktor geopolitik global dan atau isu-isu yang berhubungan dengan penyakit,” ujarnya.Selanjutnya, kedua penggunaann “live feed”. Penggunaan pakan hidup yang umum untuk indukan udang adalah cacing laut jenis polychaeta sebagai komponen diet maturasi induk. Meskipun demikian, komponen ini perlu diwaspadai. Pasalanya, berdasarkan penelitian Vijayan et al (2005), bertajuk Polychaete worms:- a vector for white spot syndrome virus (WSSV), cacing Polychaeta sebagai vektor WSSV.Baca juga: Bahan Additive Dukung Kesuksesan Budidaya Udang VanameMaka hal penting yang harus dilakukan adalah penyaringan (screening) cacing polychaeta untuk WSSV sebelum digunakan untuk pakan induk. Berikutnya, adalah ketergantungan industri hatchery dalam negeri terhadap kualitas dan kuantitas algae. Ketergantungan algae terutama pada stadia zoea yang hingga saat ini belum tergantikan dengan pakan buatan. Selanjutnya, adalah berbagai masalah seperti zoea syndrom, Vibriosis, luminiscent bacteria. Dengan demikian, konsep biosekuriti menjadi hal yang sangat mutlak dalam industri hatchery.Masih menurut Agus, dengan dipatoknya target KKP untuk menggenjot kenaikan produksi budidaya sebesar 250%, peluang bagi hatchery semakin terbuka lebar. Industri ini dituntut untuk lebih dapat meningkatkan kapasitas produksi dengan kualitas yang prima. Pasalnya, para petambak berharap bahwa hatchery dapat menghasilkan benur dengan tingkat kelulushidupan (survival rate) yang tinggi, mempunyai  pertumbuhan yang cepat, sehat, dan bebas dari penyakit, baik virus maupun bakteri dan parasit.Sehingga, ada potensi yang besar untuk  pengembangan dan perbaikan genetic udang putih lokal seperti Penaeus merquensis, Penaeus indicus dan Peenaeus monodon untuk mengurangi ketergantungan impor broodstock.Menurutnya, udang vaname diintroduksi di Indonesia sejak tahun 2001. Sehingga, hingga saat ini, hampir dua dasawarsa udang tersebut dibudidayakan di Indonesia. Dengan rentang waktu yang cukup lama tersebut, ia berpendapat, sudah tentu para pelaku/pengusaha hatchery sudah memahami seluk beluk broodstock sehingga pengusaha hatchery. Dengan demikian, mereka sudah mempunyai standar yang tinggi untuk broodstock. “Hanya saja, persoalan yang mengiringinya adalah sistem dan manajemen di hatchery untuk diselesaikan, di antaranya adalah ketergantungan pada pakan hidup, algae dan biosekuriti,” Agus.Artikel Asli: Info AkuakulturTentang MinapoliMinapoli merupakan marketplace++ akuakultur no. 1 di Indonesia dan juga sebagai platform jaringan informasi dan bisnis perikanan budidaya terintegrasi, sehingga pembudidaya dapat menemukan seluruh kebutuhan budidaya disini. Platform ini hadir untuk berkontribusi dan menjadi salah satu solusi dalam perkembangan industri perikanan budidaya. Bentuk dukungan Minapoli untuk industri akuakultur adalah dengan menghadirkan tiga fitur utama yang dapat digunakan oleh seluruh pelaku budidaya yaitu Pasarmina, Infomina, dan Eventmina.  ...
Can Shrimp Diseases be Beaten by Bacterial Interference?
Udang

Can Shrimp Diseases be Beaten by Bacterial Interference?

New Mexico-based Pebble Labs is using bacteria to express RNAi in the plants and animals that live alongside that bacteria, effectively turning on their own natural defenses against diseases, viruses, fungi and even some pests. Courtesy photo.The global shrimp-farming sector is one of aquaculture’s great success stories, despite its ongoing battles with viral aquatic diseases that can render once-thriving ponds empty and wasted.One of the most devasting shrimp diseases worldwide over the past few decades has been White Spot Syndrome Virus (WSSV), a dsDNA viral infection that plagues penaeid shrimp like the widely produced Pacific white shrimp (Penaeus vannamei) and can kill off entire populations in a very short period of time. The contagious disease is caused by a collection of related viruses that all create similar symptoms. Many of the losses – some $1 billion a year – have piled up on smallholder farmers throughout Asia and Central and South America.Solutions to WSSV are scarce – once a pond is infected, farmers have little choice but to conduct an emergency harvest before the virus runs its course. A biotechnology company based in New Mexico is working to address this problem, starting not with virus control but rather by harnessing natural bacteria within the shrimp itself to block the transmission of the disease – a process known as RNA interference, or RNAi.“We’re using a technology where we have the ability to modify and provide RNAi, which is the messenger that interacts with DNA, directly to plants and animals,” explained David Morgan, president of Pebble Labs, which is applying much of the same science that researchers are using to address human diseases. “We use it to affect the development of pathogens in particular in species, and we get the RNAi into the plant or animal by way of bacteria.”It’s a little like using probiotics to improve bacterial flora. But rather than eating yogurt to regulate gut health, Pebble Labs is using bacteria to express RNAi in the plants and animals that live alongside that bacteria, effectively turning on their own natural defenses against diseases, viruses, fungi and even some pests.“Using this platform technique, which we call Directed Biotics, we’re using naturally occurring bacteria which are already present in the shrimp population,” Morgan said. “We modify those bacteria, they deploy the RNAi into the shrimp and that RNAi will effectively knock out some of the more serious diseases that are affecting shrimp.”WSSV infection and molt stageCharacteristically, WSSV causes small white spots to appear on the shrimp’s body, indicative of calcium salts that are building up under the shell. Over time, these deposits can damage the shrimp’s gills and other internal organs, eventually leading to death. As shrimp farming has expanded in tropical parts of Southeast Asia in recent years, WSSV cases have grown right alongside it, thriving as it does in warm climates.Pebble Lab’s MermaidBio line is designed to address prevention of WSSV and other diseases without the use of antibiotics. It promises a natural solution that fights common diseases while protecting the “purity, quality and safety of seafood products and their ecosystem,” increasing production and creating a more sustainable seafood supply chain. Right now, different application techniques are being tested, but the expectation is that the RNAi solution can be incorporated into fish feed, minimizing the work that farmers will need to do to introduce the product into their facilities.And, yes, the company believes that its Directed Biotics platform could one day replace antibiotics in fish farming entirely. The potential applications for this type of technology are broad, and Pebble Labs is working on new solutions for agriculture as well, but the company’s initial aquaculture focus is on preventing WSSV as well as Early Mortality Syndrome (EMS) in shrimp.Like white spot syndrome, EMS is effectively 100 percent lethal once contracted and has had a presence in Vietnam, Malaysia and Thailand since at least 2009. In testing, Pebble Labs says its RNAi technique has been able to depress the infection rate of EMS by about 60 percent, compared to existing treatments that have never been able to crack 10 percent containment. It’s not complete control but represents a substantial improvement that Morgan hopes will have a material impact on the shrimp market.“So, here are two very large challenges in shrimp production that we have a technology solution for,” he said, “and that is attracting quite a bit of attention. So much so that we’re in the last stages of concluding an agreement with one of the largest animal health companies in the world involved to be a commercial partner in their aquaculture program.” Pebble Labs is already getting out of the lab and into ponds this year, testing out its platform on a wide variety of environmental production regimes. Once that’s done, the company expects to get a product on the market in 2021.Source: Global Aquaculture Alliance ...
Supplementing Rotifers to Reduce Stress for White Shrimp
Udang

Supplementing Rotifers to Reduce Stress for White Shrimp

Supplementation of rotifers Ampithoe sp. in the diet helps to reduce stress for farmed shrimp.The dense stocking density puts shrimp under serious environmental stress, increasing susceptibility to diseases, directly reducing crop efficiency. Ammonia nitrogen (ammonia-N), a cause of stress in shrimp farming, is mainly created by decomposing organic waste such as feed residues and shrimp feces in the water, too much ammonia-N content in the water. Accumulation in the organism affects growth, reduces survival and causes great economic losses to the aquaculture industry. Effective methods to increase ammonia-N tolerance of shrimp will have great implications for aquaculture.To enhance the stress tolerance of aquatic animal farmers can improve by increasing nutrition. Natural foods with high nutrient content and palatability have been used as nutritional supplements to enhance the stress tolerance of shrimp.Ampithoe sp. is rotifers rich in crude protein (51.2% dry weight), unsaturated fatty acids (41.9% of total fatty acids) and essential amino acids (22.2% of total amino acids). This is an excellent organism to reduce the accumulation of ammonia-N and urea-N in the blood and enhance the ammonia-N tolerance of whiteleg shrimp (Shan et al., 2018). However, the supplement mechanism Ampithoe sp. Helping to improve shrimp's stress tolerance is still unclear.In the current study, the mechanism of increasing ammonia-N tolerance in vannamei was supplemented with Ampithoe sp. Freezing (FDPA) has been studied from the perspective of oxidative stress, metabolic network stress causing metabolic disorders.Research on application of Ampithoe sp. to the diet of white shrimpIn the current study, shrimp were divided into three groups and fed a supplemental diet containing 33% FDPA for 0 days (S0 group), 21 days (S21 group) or 42 days (S42 group). Subsequently, three groups of shrimp were exposed to ammonia-N (1.61 mg / L) for 96 hours, and changes in oxidative stress, endothelial network stress (ER) and hepatic lipid metabolism. Pancreas has been studied.ResultAfter 21 days of exposure to ammonia, S0 group without FDPA supplementation had the highest mortality rate of 46.7%, while the S21 group had the lowest mortality rate of 30.0% and the feeding group had 42 days of mortality. 33.3%. The activity levels of superoxide effutase (SOD) and catalase (CAT) in the hepatopancreas of shrimp increased in the FDPA diet groups compared to the S0 group. The level of malondialdehyd oxidation (MDA) and mRNA expression of the binding protein were significantly reduced in the S21 and S42 groups compared to the S0 group.Moreover, lipid synthesis (FAS), acetyl-CoA carboxylase (ACC) and malonyl-CoA (MCoA) were reduced; Carnitine palmitoyltransferase (CPT) activity has increased; and decreased free fatty acid (FFA) and triglyceride (TG) concentrations in the hepatopancreas of shrimp fed the FDPA diet compared to shrimp fed the control diet.Ammonia-N stress causes oxidative stress in L. vannamei , which causes endoplasmic reticulum stress in the hepatopancreas and leads to increased lipid synthesis and reduced lipid breakdown. Results from the study indicated that adding 33% of FDPA to whiteleg shrimp feed within 21 days could enhance antioxidant capacity and reduce ER stress due to ammonia-N exposure, thus ensuring metabolism, provide normal energy for the body and enhance the ammonia-N tolerance of whiteleg shrimp. This study provides useful information to enhance the aquatic tolerance of aquatic animals by supplementing nutrition.Source : tepbac ...
Pemerintah Bentuk Pokja Peningkatan Ekspor Udang
Udang

Pemerintah Bentuk Pokja Peningkatan Ekspor Udang

Pemerintah sedang menggenjot peningkatan produksi dan ekspor udang nasional untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja. Langkah strategis dibangun, salah satunya akan membentuk kelompok kerja beranggotakan lintas sektor.Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sebelumnya menyebut target ekspor udang nasional naik 250 persen dalam kurun waktu empat tahun, dari 2020 hingga 2024. Bila volume ekspor udang olahan pada 2018 145,226 ton, maka di 2024 menjadi 363,067 ton. Sedangkan produksi udang untuk bahan baku ekspor dari 197,433 ton pada 2018, menjadi 578,579 ton pada 2024.Direktur Jenderal (Dirjen) Perikanan Budidaya KKP, Slamet Soebjakto, menjelaskan alasan pemerintah menggenjot produksi udang karena potensi lahan yang tersedia sangat besar. Dari 2,96 juta hektare, yang termanfaatkan baru 0,6 juta hektare.“Ditambah lagi, kita sudah menguasai teknologi budidaya udang ini,” terang Slamet dalam rapat koordinasi (rakor) lintas kementerian dan lembaga di Kantor Staf Presiden (KSP), Jakarta, Senin (9/3/2020).Di samping itu, udang memiliki nilai ekonomi tinggi, begitu juga dengan peluang pasar ekspornya. Pertumbuhan ekonomi dan lapangan pekerjaan akan tercipta dari sektor budidaya udang ini.Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) Nilanto Perbowo, di tempat yang sama mengungkapkan, upaya peningkatan jumlah produksi udang harus dibarengi dengan penyerapan pasar. Dengan begitu, angka target ekspor udang hingga 2024 akan tercapai.“Berhasil memproduksi tidak sama dengan berhasil menjual. Harus jeli memilih dan memuaskan pasar,” terang Nilanto.Hal lain yang menjadi perhatian KKP, lanjut Nilanto, adalah kapasitas terpasang Unit Pengolahan Ikan (UPI) untuk udang di Indonesia, sejauh ini dominan berada di wilayah Indonesia barat. Sehingga perlu langkah bersama untuk meningkatkan efisiensi logistik sekaligus mempertahankan mutu produk untuk memenuhi syarat pasar.Nilanto menambahkan, pihaknya tengah membuka dan menyiapkan pasar untuk udang Indonesia. Amerika, Jepang, China dan Uni Eropa, merupakan pasar potensial.Plt Deputi I Kepala Staf Kepresidenan, Laksda TNI (Purn) Leonardi, mengatakan peningkatan produksi dan ekspor udang merupakan tindak lanjut dari Inpres No. 7 tahun 2016 tentang Percepatan Pembangunan Industri Perikanan Nasional.“Target khusus dari Presiden yaitu peningkatan produksi, mengawal logistik dan pemasarannya. Ada potensi pasar yang kita punya. Jadi ini sangat prospektif, dari hulu sampai hilir bisa kita selesaikan,” ujar Leonardi.KSP membentuk enam kelompok kerja (pokja) untuk mendorong peningkatan ekspor udang nasional ini. Pembentukan pokja agar tiap kementerian dan lembaga dapat fokus menyelesaikan peran masing-masing, dan memudahkan dalam monev sehingga hasil yang dicapai maksimal.Rincian pokja disampaikan langsung oleh Tenaga Ahli Utama Deputi I KSP, Alan Koropitan dalam rakor lintas lembaga dan kementerian tersebut.“Paling tidak ada beberapa yang perlu kita pertegas, mulai dari kerangka kelembagaan, regulasi, SDM, infrastruktur, yang semuanya menunjang untuk peningkatan produktivitas udang ini,” ujar Alan.Enam pokja tersebut meliputi: 1. Pokja Perencanaan Pembangunan dan Monev 2. Pokja Pembangunan Kawasan Tambak 3. Pokja Input Produksi 4. Pokja Teknis Operasional 5. Pokja Investasi dan Pemasaran 6. Pokja Pelatihan, Riset dan PenyuluhanSementara itu, Deputi IV Bidang Koordinasi SDM, IPTEK dan Budaya Maritim Kemenko Maritim dan Investasi, Safri Burhanuddin, mengaku pihaknya siap bekerja keras dalam merealisasikan target tersebut. “Kalau kendala lintas kementerian atau lembaga, koordinasikan ke Kemenko Maritim dan Investasi biar kami bisa bantu,” tegasnya.Rapat koordinasi di KSP siang tadi diikuti perwakilan sejumlah kementerian, di antaranya Kemenko Maritim dan Investasi, Kemenko Polhukam, Kemenko Perekonomian, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Bappenas, Kementerian Keuangan, Kementerian Koperasi dan UMKM, Kementerian PUPR, Kementerian Perhubungan, Kementerian Perindustrian, perbankan, dan sejumlah asosiasi pembudidaya.  Sumber : KKP News ...
Using a Probiotic Mixture is More Effective Alone
Udang

Using a Probiotic Mixture is More Effective Alone

The article introduces the synergistic effect when adding a probiotics mixture that is more effective in improving the growth performance of vannamei compared to individual probiotics.Using probiotics to boost immunity in white shrimp2019 is a challenging year for shrimp farming, due to the impact of climate change, erratic weather, shrimp have to face long-lasting epidemics and increasingly complicated situations. Typically, WSSV (white spot syndrome virus), AHPND (acute hepatic necrosis disease) and micro-spore disease (EHP) many diseases have no definite cure, therefore, prevention is very important.In addition, the abuse of antibiotics in aquaculture is an urgent issue that is concerned by authorities as well as consumers. Because, not only is it harmful to the farming environment and the quality of the adopted children, it also directly affects the health of consumers. Therefore new alternative strategies are needed to promote the development of aquatic animals and to control pathogens. Probiotics are a promising alternative to improve disease resistance and stimulate the growth of farmed shrimpResearch and apply probiotic mixture to the growth of vannameiAdditional research of Lactobacillus pentosus pent6us BD6, Lac mixture. fermentum LW2, Saccharomyces cerevisiae P13 and Bacillus subtilis E20 and individually supplement each microorganism within 56 days and monitor the growth. All treatments were then challenged with V. alginolyticus and monitored for mortality for 14 days.- Treatment 1: Control without additional probiotics- Treatment 2: L actobacillus pentosus BD6, Lac mixture . fermentum LW2, Saccharomyces cerevisiae P13 and Bacillus subtilis E20 with a concentration of 107   cfu / kg feed- Treatment 3: Treatment 2: Lactobacillus pentosus BD6, Lac mixture . fermentum LW2, Saccharomyces cerevisiae P13 and Bacillus subtilis E20 with a concentration of 108   cfu / kg feed- Treatment 4: Treatment 2: Lactobacillus pentosus BD6, Lac mixture . fermentum LW2, Saccharomyces cerevisiae P13 and Bacillus subtilis E20 with a concentration of 109   cfu / kg feed- Treatment 5: Lactobacillus pentosus BD6 with a concentration of 109   cfu / kg of feed- Treatment 6: Bacillus subtilis E20 with a concentration of 109   cfu / kg of feed- Treatment 7: Lac. fermentum LW2 with a concentration of 109   cfu / kg feed - Treatment 8: Saccharomyces cerevisiae P13 with concentration of 109   cfu / kg of feedResultAfter 56 days, the growth rate of treatment 2 with the addition of microorganisms at 10 8  cfu / kg feed and treatments 5 (BD6) and 6 (E20) at 109 CFU/ kg feed improved significantly. The growth rate and health status of shrimp were not significantly reduced, while the remaining treatments did not significantly affect shrimp growth.There was no significant difference in carcass composition in the control group and other treatments. After 56 days from feeding, shrimp fed feed containing probiotic mixtures with concentrations of 10 7 ~ 10 9  cfu / kg feed and 10 9  cfu / kg feed of single probiotics (except S. cerevisiae P13) survived higher after injecting V. alginolyticus than the control group.Better disease resistance of shrimp in groups fed with probiotics mix may be due to increased phenoloxidase activity, respiratory and lysozyme activity and increased ability of macrophages when exposed to bacteria. V. alginolyticus Results from the study found that supplementing with a microbiological mixture was more effective at improving the growth performance of shrimp compared to individual probiotics. Therefore, it is necessary to study the production of probiotics containing Lactobacillus pentosus BD6, Lac. fermentum LW2, Saccharomyces cerevisiae P13 and Bacillus subtilis E20 and recommended to use at a concentration of 108 CFU/kg of feed to stimulate growth, enhance resistance against pathogens.Source: Tepbac ...
Genjot Produksi Benih dan Stok Induk Udang
Udang

Genjot Produksi Benih dan Stok Induk Udang

Populasi induk udang di balai unit pelaksana teknis (UPT) perbenihan milik pemerintah harus ditingkatkan jumlahnya untuk mencukupi kebutuhan pembudidaya.Hal ini disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo saat mengunjungi Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara di Kecamatan/Kabupaten Jepara, Jawa Tengah pada Kamis (30/1).“Dari semua permasalahan pembudidayaan yang saya tangkap, utamanya itu kurangnya benih dan indukan,” ujarnya kepada wartawan di Jepara.Menteri Edhy memang tengah fokus mengembangkan budidaya perikanan, khususnya udang. Industri perudangan telah terbukti menopang perekonomian nasional dan menciptakan lapangan kerja baru. Namun karena persentasi penggarapannya masih terbilang kecil, yakni 10% dari potensi yang dimiliki, maka harus terus ditingkatkanSelain jenis udang vaname (Litopenaeus vanameii) dan windu (Penaeus monodon) yang sudah umum dibudidayakan, Edhy juga menaruh harap pada komoditas udang jerbung (Penaeus merguiensis) dan udang putih (Penaeus indicus).Dua udang ini, dia menjelaskan, merupakan asli Indonesia, namun produktivitasnya masih dominan dari hasil tangkapan di alam. Sehingga mengarahkan udang jerbung dan udang putih ke sektor budidaya diyakini dapat meningkatkan produktivitas udang nasional.Pembenihan udang jerbung dan udang putih sedang dimasifkan di BBPBAP Jepara. Dalam setahun, balai ini mampu memproduksi 20 juta benih udang, di mana 12 juta di antaranya merupakan hasil dari indukan yang bukan dari tangkapan di alam. BBPBAP Jepara sendiri saat ini punya 30 ribu indukan udang jerbung.Menurut Menteri Edhy, jumlah tersebut masih harus ditingkatkan agar bisa memenuhi kebutuhan pembudidaya di Indonesia. Bahkan ia berencana memberikan benih secara gratis ke masyarakat bila stok benih sudah melimpah.“Kalau semua nelayan petambak kita diberi gratis, saya pikir mereka tinggal menjalankan saja. Dan saya yakin pertumbuhan (produktivitas) nasional meningkat,” terangnya.Edhy meyakini, untuk meningkatkan produksi benih secara besar-besaran dalam tempo singkat hanya butuh perbanyakan induk dan fasilits. “Agar hasilnya bisa sampai ke tambak pembudidaya,” tambah Menteri Edhy.Langkah lain untuk meningkatkan produktivitas udang adalah dengan memanfaatkan tambak-tambak idle. Di samping itu, merangkul kepala daerah untuk memetakan wilayah tambak di area kerja masing-masing. KKP menargetkan tahun ini produktivitas udang nasional naik menjadi 1,2 juta ton dari yang sebelumnya 1,05 ton.Dalam kunjungannya ke BBPBAP, Menteri Edhy juga berialog dengan pembudidaya dari Jepara dan sekitarnya. Menteri Edhy sekaligus menyerahkan bantuan, di  benih nila, udang vaname, udang putih dan pakan mandiri ke 11 Pokdakan dengan nilai lebih dari Rp 150 jutaPlt Bupati Jepara Ian Kristiadi menyebut wilayahnya sangat cocok menjadi tempat berbudidaya perikanan karena memiliki garis pantai sepanjang 82 km. Selama ini, banyak masyarakat Jepara yang terjun ke budidaya rajungan. Ia berharap, dengan adanya kunjungan Menteri Edhy dan hasil pembenihan di BBPBAP Jepara, masyarakat tak ragu terjun ke sektor budidaya udang. Ia juga berharap adanya pelatihan dan bantuan permodalan bagi para pembudidaya.Artikel Asli: Trobos Aqua ...
Research Backs Value of Probiotics in Shrimp Ponds
Udang

Research Backs Value of Probiotics in Shrimp Ponds

The value of using certain strains of probiotics in vannamei shrimp production has been confirmed by a new study in Iran.The study investigated the effects of two probiotics, Bacillus cereus and Pediococcus acidilactici, on the water quality, growth performance, the survival ratio, economic benefits, immunohematology and bacterial flora in the intestine of white leg shrimp, Litopenaeus vannamei after 110 days.You can be B. cereusThe study was undertaken in nine 1.2 hectare earthen ponds, three of which were used as controls, three of which were treated with P. acidilactici probiotic (106 CFU/mL) and three of which with B. cereus probiotic (106 CFU/mL).The results showed that adding B. cereus and P. acidilactici to the water pond positively decreased nitrate, ammonia and biochemical oxygen demand when compared with the control group (p < .05).However, the researchers noted that there were marked differences in the impact made by the two different strains of probiotics.In terms of growth, treating shrimp with B. cereus caused significantly higher weight gain (16.72 g) and survival ratio (94.50%) in comparison with control group (p < .05). As a result the researchers calculated that using B. cereus increased shrimp production by 27.30 percent and net income by 92.94 percent compared to the control ponds. As far as the impact on the immune systems of the shrimp the total hemocyte count (9.00), total protein (8.92 g/dl) and lysozyme activity (21.55 U/ml) in treated white leg shrimp with B. cereus were “significantly higher” than those untreated (p < .05).Meanwhile, P. acidilactici had a less marked the effect, although they calculated that it could still increase production by a not-insignificant 18.42 percent and net income by 49.29 percent.The researchers concluded that adding B. cereus (106 CFU/ml) to earthen ponds is advisable in shrimp farms.Further information An abstract of this research, which was published under the title "The effects of water additive Bacillus cereus and Pediococcus acidilactici on water quality, growth performances, economic benefits, immunohematology and bacterial flora of white leg shrimp (Penaeus vannamei Boone, 1931) reared in earthen ponds", in Aquaculture Research, is available here.Source: The Fish Site ...
Flower Power: The Plant That's Shown Boost Shrimp Immunity
Udang

Flower Power: The Plant That's Shown Boost Shrimp Immunity

Including low levels of lupin seed meal in the diets of shrimp can stimulate their immune systems.Trials undertaken by researchers from Germany’s Alfred Wegener Institute investigated the impact of supplementing the fishmeal content of conventional vannamei shrimp diets with formulations that included four different levels of meal from lupin (Lupinus angustifolius) seeds.The trials took place in a recirculating aquaculture system (RAS) for eight weeks in which juvenile shrimp were provided formulated diets containing various levels of lupin meal (0, 100, 200 and 300 g kg−1) supplementing the fishmeal component, and a commercial feed as general reference.Their results showed that survival rates did not differ significantly between groups, although diets containing more than 300 g of lupin meal per kg of feed led to “significantly impaired” growth levels as well as led to reduced and nutritional status, as expressed by a reduction in hemolymph glucose and acyl glyceride content.On a more positive note, the researchers observed that “phenoloxidase activity was highest in shrimp fed 100 g kg−1 lupin meal diet, indicating improved immune status.”As a result, the authors conclude: “The results demonstrate that dehulled lupin seed meal is a suitable, regional alternative protein source for aquaculture feeds that can supply good quality protein to white leg shrimp and can replace significant amounts of diet fishmeal.”They also suggest that “higher substitution rates might be achieved by supplementing a mix of lupin meal and other regional plants, such as fava bean. This might provide a more balanced nutritional supply and make use of the immuno‐stimulating effect of moderate lupin inclusion rates.”They go on to say that further research to assess methods for lupin pretreatment to enhance digestibility would also be worthwhile. The full article, published in the latest issue of Aquaculture Nutrition under the title, "Lupin kernel meal as a fishmeal replacement in formulated feeds for the Whiteleg Shrimp (Litopenaeus vannamei)", can be accessed here.Source: The Fish Site ...
Effect of Freeze-Thaw Cycles on Quality of Pacific White Shrimp
Udang

Effect of Freeze-Thaw Cycles on Quality of Pacific White Shrimp

Repeated cycles accelerate changes of protein, microstructure, water distribution, qualityResults of this study showed that repeated freeze-thaw cycles accelerate the changes of protein, microstructure, water distribution and quality deterioration in Pacific white shrimp, especially after three cycles, with a threshold of six cycles.Shrimp is easily spoiled by protein degradation and bacterial and other activities and its shelf-life is also limited by melanosis (unpleasant, harmless black spots on the bodies of harvested, raw shrimp due to a naturally occurring enzyme) or red stain due to the appearance of black or red spots during frozen storage, a common method for the preservation of aquatic products.Thawing is necessary for frozen food in order to facilitate the subsequent food processing and, it is inevitable that temperature changes or repeated freezing-thawing (F-T) cycles will occur in retail stores, restaurants or households. Unsold shrimp are usually frozen by retailers and then sold as iced shrimp, which can also involve repeated F-T cycles and this largely influences the integral structure and physicochemical quality of the shrimp.Protein oxidation and denaturation are probably accelerated by lipid oxidation caused by F-T cycles and may decrease the edible quality through poor taste and discoloration. F-T cycles can destroy the texture of meat and transfer or redistribute its moisture, which decreases the water capacity and the sensory quality of the meat. As water is the main component of meat products, especially in aquatic products, the quality and stability of the aquatic product will be influenced by the physical state of water to a large extent.This article – adapted and summarized from the original (Lan et al. 2019. Effect of the number of freeze-thaw cycles number on the quality of Pacific white shrimp: An emphasis on moisture migration and microstructure by LF-NMR and SEM. Aquaculture and Fisheries) – presents the results of a study with Pacific white shrimp (Litopenaeus vannamei) to investigate the maximum number of F-T cycles during storage by physicochemical indexes, and determine the relationship between the changes of water migration, muscle microstructure, protein degradation and quality in shrimp influenced by the number of F-T cycles.The study was financially supported by China Agricultural Research System (CARS-47-G26), Shanghai to promote agriculture by applying scientific and technological advances projects (2016No.1-1); Ability promotion project of Shanghai Municipal Science and Technology Commission Engineering Center (16DZ2280300); Key Laboratory of Refrigeration and Conditioning Aquatic Products Processing, Ministry of Agriculture; and Rural Affairs. The project was supported by Key Laboratory of Refrigeration and Conditioning Aquatic Products Processing, Ministry of Agriculture and Rural Affairs (Grant No. KLRCAPP2018-11).Study setupSamples of fresh Pacific white shrimp weighing 1.6  kg (average weight of 12.0 ± 1.0  grams) were obtained from a local market in Pudong (Shanghai, China) and euthanized with ice water in the laboratory within 30 minutes.  Subsequently, to simulate the temperature fluctuations or repeated freeze-thaw cycles during commercial sale process and circulation, they were stored at minus-20  degrees-C for 12 hours and then thawed with crushed ice at 4  degrees-C for 12  hours. This sequence represented one  F-T cycle and the thawed shrimp samples were subjected to a total of eight  F-T cycles, and then analyzed by various techniques.For detailed information on the experimental design; sample preparation; low-field nuclear magnetic resonance (LF-NMR) & magnetic resonance imaging (MRI); scanning electron microscopy (SEM) analysis; sodium dodecyl sulfate-polyacrylamide gel electrophoresis (SDS-PAGE) for protein extraction; physicochemical analyses including microbiological analysis and sensory analysis; and statistical analyses refer to the original publication.Results and discussionResults showed that, as the F-T cycles progressed, immobilized water shifted to free water and the content of water in muscle tissue decreased. During repeated F-T cycles, the different size, and location of ice crystals formed during each freeze-thaw cycle damaged the protein network and the reduction of water content was closely related to the damage of cell membranes and myofibrillar (muscle) protein caused by the repeated formation of ice crystals, especially after three cycles.The damaged myofibrillar network made immobilized water difficult to retain. Repeated F-T cycles could also cause the water to be continuously transferred from intracellular to extracellular regions and increase the content of free water and drip (gravimetric) loss. The brightness of the pseudo-color diagram (Fig. 1) decreased from high to low with the increase of F-T cycles. The changes were most evident after four  F-T cycles, indicating that the water loss and quality deterioration became more serious.Fig. 1: Pseudocolor of 1H-MRI in Pacific white shrimp with different freeze-thaw cycles.The recrystallization of water causing mechanical damage of muscle tissue and protein oxidative denaturation was the primary cause of water migration and loss. The results indicated that F-T cycles induce water migration and loss, especially after three F-T cycles, as compared to the fresh shrimp. And repeated F-T cycles more seriously damaged to the microstructure, texture properties, and muscle protein especially after four  F-T cycles (Fig. 2).Fig. 2: Scanning electron microscopy micrographs (magnification: 5,000×) of the shrimp samples with different freeze-thaw cycles. The sample under 0  F-T cycle represented fresh shrimp.Frozen storage leads to protein oxidative denaturation. For the test of sodium dodecyl sulfate-polyacrylamide gel electrophoresis (SDS-PAGE), the decrease may be caused by the proteolysis (the breakdown of proteins into smaller polypeptides or amino acids), denaturation or oxidation of protein during F-T cycles. At the same time, the release of some enzymes may facilitate the protein fragmentation, especially at the fourth F-T cycle, caused by the disruption of muscle cells during repeated F-T cycles. The results of SDS-PAGE indicated that protein fragmentation was accompanied by the aggregation of protein during repeated F-T cycles and the protein oxidative degradation was accelerated by increasing F-T cycles, especially after four  F-T cycles (Fig. 3).Fig. 3: SDS-PAGE patterns of muscle proteins in shrimp treated with different freeze-thaw cycles. 0, 2, 4, 6, 8  at the top of the picture represent the number of F-T cycles. The sample under 0  F-T cycle represented fresh shrimp.Results showed that repeated F-T cycles could cause a clear a linear decrease in the hardness of shrimp samples and the softening of shrimp muscle during storage, which produced detrimental side effects in the textural properties of shrimp. This decrease in texture properties caused by the repeated formation of ice crystals was associated with the loss in the integrity of muscle fibers and the weakening structure of muscle, which implied lower resistance to shear force.Compared to fresh shrimp samples, repeated F-T cycles were more likely to accelerate the destruction in muscle fiber integrity, the increase of drip loss and the deterioration of texture properties, especially in the first and second cycles.The melanosis of shrimp is related to the role of polyphenol oxidase (PPO), an enzyme involved in the black spot formation in crustaceans during postmortem storage. The increase in the number of F-T cycles aggravated the release of PPO and the increase in PPO activity, especially after the second F-T cycle (Fig. 4).Fig. 4: Changes of PPO activity of Pacific white shrimp with different freeze-thaw cycles.Regarding changes in total volatile basic nitrogen (TVB-N; an important index of freshness) value, microbiological analysis, and sensory evaluation, the TVB-N value of 20  mg  N/100 grams protein in shrimp generally represented the threshold of freshness and below 30  mg  N/100 grams protein was considered acceptable. TVB-N values were unacceptable following the sixth F-T cycle. These results revealed that F-T cycles could cause the oxidative degradation of protein, especially after four cycles. For seafood products, the threshold of freshness about TVC value is 5 lg CFU/g and a TVC value above 6 lg CFU/gram represents an unacceptable quality.With the blackening, reddening, and putrification of samples during repeated F-T cycles, sensory characteristics such as color and odor deteriorated, which was reflected in the decrease in sensory scores. After three F-T cycles, the sensory scores of samples decreased significantly and were lower than 15 (acceptable threshold) after the sixth F-T cycle, which was consistent with the change in color difference and texture. Based on these indicators, the quality of shrimps treated with different F-T cycles started to deteriorate visibly at the third F-T cycle and became unacceptable at the sixth F-T cycle.PerspectivesResults showed that multiple F-T cycles cause mechanical damage of muscle tissue and protein oxidative denaturation, especially after three  F-T cycles, which prolonged relaxation time significantly. Immobilized water and brightness of the pseudo-color diagram decreased. Protein aggregation was measured from scanning electron microscope (SEM) and the result of SDS-PAGE demonstrated the protein degradation was accelerated by multiple F-T cycles, especially after four  F-T cycles, and caused a sharp decrease in texture properties.In addition, the reformation of ice crystals caused by repeated F-T cycles resulted in the deterioration of texture properties and color, which was closely related to the damage of muscle microstructure and PPO activity. Consistent with TVC, TVB-N value and sensory score results, the deterioration of color and texture properties became noticeable after three  F-T cycles and unacceptable after six F-T cycles. The changes in sensory quality, TPA, TVB-N, TVC, protein degradation and nutritive value were not obvious in the first three F-T cycles, were noticeable after three F-T cycles, and were unacceptable after six F-T cycles. Source: Global Alliance Aquaculture ...
Investasi Udang Cara Milenial
Udang

Investasi Udang Cara Milenial

Kehadiran beragam perusahaan rintisan di bidang investasi untuk tambak udang, bisa jadi pilihan bagi masyarakat yang ingin berinvestasi. Salah satu elemen penting untuk menumbuhkan industri budidaya udang nasional adalah permodalan. Budidaya udang tergolong usaha yang padat modal, sehingga tidak semua orang punya kemampuan finansial yang kuat untuk berinvestasi. Cukup berbeda dengan jenis usaha budidaya ikan lainnya, seperti lele yang bisa dimulai dengan modal kecil.“Masalahnya di Indonesia, ada orang punya uang tapi tidak punya lahan, tidak punya teknologi. Ada yang punya teknologi,` biasanya universitas, tapi tidak punya anggaran dan lahan. Ada yang punya lahan tapi tidak punya uang dan kemampuan teknis,” Direktur Perbenihan, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Coco Kokarkin menggambarkan salah satu permasalahan di industri perudangan, yang disampaikannya di acara Digifish 2019 beberapa waktu lalu di Jakarta.Ungkapan tersebut disampaikan Coco sebagai gambaran kondisi yang pernah dan masih terjadi. Keadaan itu ternyata berhasil memunculkan para inovator yang menawarkan solusi, melalui lahirnya beragam perusahaan rintisan (start up) teknologi finansial (tekfin) yang bergerak dalam jasa investasi tambak udang. “Ini (start up) yang akan menggabungkan (masalah tadi),” ujar Coco.  Di sisi lain, sebelum kehadiran revolusi 4.0 yang membuat banyak hal jadi berbasis internet dan digital, bisnis tambak udang memang jarang diketahui secara luas oleh masyarakat umum. Berlokasi di pesisir-pesisir yang sudah pasti jauh dari kota, bisnis tambak udang biasanya hanya digarap pemodal besar, atau oleh masyarakat lokal dengan teknologi tradisonal.  Tapi dalam beberapa tahun terakhir, telah bermunculan perusahaan rintisan yang menawarkan jasa investasi di tambak udang. Kehadiran start up di era milenial ini menjawab permasalahan yang disampaikan Direktur Perbenihan KKP tadi. Dan sekaligus membuat tambak udang menjadi lebih populer bagi masyarakat. Bahkan menjadi alternatif untuk berinvestasi. Model bisnis yang ditawarkan oleh start up itu beragam, ada Peer to Peer (P2P) lending yang mempertemukan investor (pemilik dana) dan petambak yang memerlukan dana. Ada juga yang berbasis jasa budidaya. Model P2P pun berbeda-beda, baik dari manajemen operasional, sistem kerjasama, hingga skema pembagian keuntungannya. Industri MendukungPerusahaan rintisan yang bergerak di P2P lending ini salah satunya adalah Growpal. Start up yang sudah berdiri dari 2016 ini memfokuskan diri pada pendanaan usaha di sektor perikanan. Mulai dari budidaya ikan air tawar, udang, hingga trading produk hasil perikanan. Chief Executive Officer (CEO) dan Co-Founder Growpal, Paundra Noorbaskoro menceritakan bahwa pihaknya menawarkan dua proyek utama kepada para investor yang ingin menyimpan uangnya di Growpal. Proyek perdagangan dan budidaya. Persentasenya saat ini masih besar proyek perdagangan. “Dalam targetnya sendiri, Growpal ingin supply base 50 %. Supply base itu budidaya,” ujarnya. Dari target 50 % budidaya itu, komoditas udang mencapai 25 - 30 %-nya. P2P lending lainnya yang bergerak di perudangan adalah Crowde. Berdasarkan portfolio bisnisnya, Crowde sebetulnya tidak hanya bermain di komoditas udang dan ikan, tetapi juga pertanian, peternakan, dan perdagangan. Menurut Aqua Project Crowde, Muhammad Hafidz, proyek pendanaan bidang perikanan mencapai 15 - 20 % dari total proyek yang ada. Pertanian masih terbesar dengan persentase 40 %. Peternakan dan perdagangan masing-masing sebesar 20 %. Udang vannamei memang sangat “seksi” untuk dijadikan pilihan investasi oleh para start up tersebut. Meski secara teknis budidaya udang memiliki risiko yang sangat tinggi, potensi keuntungan yang didapat cukup menjanjikan. Selain itu, ekosistem industri udang juga sudah cukup matang jika dibandingkan dengan komoditas perikanan lainnya. “Sejauh ini, ekosistem yang sudah ada pendukungnya itu udang,” ungkap Hafidz.Ekosistem pendukung yang dimaksud Hafidz antara lain pasokan sarana dan prasarana seperti benur dan pakan, pendampingan dan konsultasi dari perusahaan pakan, penyedia IoT (internet of thing) untuk manajemen budidaya, hingga asuransi. Semua pendukung tersebut sudah ada pada udang, sehingga memudahkan manajemen produksinya. “Jadi walaupun udang high risk, tapi ekosistemnya sudah siap,” tegasnya.Senada dengan Hafidz, Paundra juga mengamini bahwa ekosistem di industri udang sudah cukup matang. Terutama kepastian pasarnya, baik pasar ekspor maupun pasar domestik. “Karena pada prinsipnya kepastian pasar adalah faktor penting. Secara business feasibility, kenapa kita ngambil udang karena pasar terjamin,” ujar Paundra kepada TROBOS Aqua. Selain itu, alasan lain Growpal mengambil bisnis udang tentu karena marjin yang dihasilkan cukup tinggi. Hal yang sedikit berbeda disampaikan oleh perusahaan rintisan yang juga berbasis investasi udang, Mina Ceria. Menurut Chief Marketing Officer Mina Ceria, Rizky Maulana, awal mula perusahaannya menerima investasi dalam bentuk crowdfunding (urun dana) justru karena sebelumnya sudah memiliki bisnis tambak udang. Pada 2015, Mina Ceria sudah mulai merintis usaha tambak udang di Subang - Jawa Barat. Pemilihan komoditas udang, kata Rizky, karena sudah cukup familiar. Di awal-awal usahanya, banyak relasi dekat yang menitipkan uangnya untuk diinvestasikan. “Kami buka tambak, mereka nitip (uang), kami kelola. Hasilnya cukup baik. Bagi hasilnya cukup menarik bagi mereka,”katanya singkat.  Para investor yang menitipkan uang tersebut ketagihan untuk kembali menitipkan dananya. Bahkan seiring tambaknya yang berkembang, orang-orang yang ingin menitipkan uang pun semakin banyak. “Maka dari situlah kami berpikir ini ada peluang dengan skema kerjasama investasi itu. Dan kami mendirikan Mina Ceria,” ungkap Rizky. Namun berbeda dengan Growpal dan Crowde, bisnis utama Mina Ceria bukanlah P2P lending yang menghubungkan investor dengan pembudidaya. Rizky menegaskan bahwa core business dari Mina Ceria adalah jasa budidaya udang. Pihaknya menerima investasi dari berbagai pihak untuk dijadikan modal operasional tambak yang dikelolanya. Mina Ceria bertanggung jawab langsung dalam pengelolaan tambak-tambaknya yang didanai itu.Petambak MitraKetiga perusahaan rintisan di atas memiliki perbedaan dalam detail kerjasama yang dilakukan, terutama dalam teknis produksi dan pembagian keuntungan. Paundra mengatakan bahwa setiap petambak memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendanaan dari Growpal selama memenuhi syarat yang ditetapkan. Namun untuk meminimalisir dana investasi jatuh ke tangan yang tidak tepat, petambak yang ingin mengajukan pendanaan minimal sudah melakukan budidaya selama dua siklus. Proposal pendanaan dari petambak tidak selalu disetujui oleh Growpal. Perusahaan yang berpusat di Surabaya-Jawa Timur itu melakukan penilaian yang cukup prosedural. Mulai dari kondisi finansial, kondisi fisik tambak, lingkungan dan sosial di sekitar, akses pasar di sekitar tambak, hingga metode pembayaran dengan pembeli. “Kita lakukan scoring on procedure. Gak ketat sebetulnya. Yang penting terisi semua,” imbuh Paundra. Parameter penilaian tersebut penting untuk mengurangi risiko dan tantangan di lapangan. Parameter lingkungan tambak misalnya. Paundra mengatakan bahwa jika petambak mitra sudah menggunakan SOP (Standar Operasional Prosedur) yang ketat, sementara tambak tetangga lebih “santai”, maka potensi penyebaran penyakit tetap besar. Sehingga akan lebih bagus jika lingkungan tambak di sekitar juga bagus. Persyaratan adminsitrasi yang serupa juga diterapkan oleh tim Crowde kepada calon petambak mitranya. Penilaian utama dari mereka adalah kelayakan petambak untuk menjalankan proyek budidaya udangnya. Dan yang terpenting, tegas Hafidz, mau mengikuti aturan yang diberlakukan oleh Crowde selama proyek pendanaan berlangsung.  Meski sama-sama sebagai P2P lending, kedua perusahaan rintisan ini memiliki beberapa perbedaan dalam menjalankan kegiatan bisnisnya. Salah satunya dalam penerapan SOP budidaya. Hafidz mengaku, pihaknya memiliki SOP khusus yang telah dibuat oleh internal Crowde untuk diterapkan oleh para pembudidaya mitranya. SOP itu juga dikolaborasikan dengan SOP dari perusahaan pakan yang menjadi mitranya. Sebaliknya, Paundra justru memberikan kelonggaran kepada para petambak untuk menerapkan SOP yang sudah biasa digunakan petambak. Tapi harus sudah disepakati dulu bersama timnya. Bukan tanpa alasan, tujuan dari kebijakan ini, kata Paundra, agar petambak bertanggung jawab secara penuh terhadap proses budidaya yang dilakukan. “Mereka sudah teruji ya track record-nya. Kita juga gak mau jadi sok pintar lah ya,” ungkapnya. Namun ia juga tetap memiliki tim teknis yang bisa memberikan masukan soal budidaya kepada para petambak mitra.  Besaran pengajuan yang dilakukan oleh calon petambak mitra bervariasi. Di Crowde, kata Hafidz, maksimal dana yang diajukan dalam pengajuan pertama itu sebesar Rp 200 juta. Modal sebesar itu biasanya untuk biaya operasional 1 - 2 kolam berukuran dua ribuan meter persegi. “Tergantung juga sama padat tebarnya,” tambah Hafidz. Mitra Crowde sendiri saat ini banyak tersebar di daerah Jawa Tengah (Jateng), baik di pantai utara maupun selatan. Artikel Asli: Trobos Aqua ...
Using Bacillus to Inhibit Pathogenic Vibrio Harveyi Bacteria in Farmed Shrimp
Udang

Using Bacillus to Inhibit Pathogenic Vibrio Harveyi Bacteria in Farmed Shrimp

Study on the effect of lyophilized Bacillus in the form of freeze-dried V. harveyi against pathogenic V. harveyi.Shrimp farming in Southeast Asia is developing very fast, including Vietnam. The highest production belongs to white leg shrimp, so investment in farming systems is expanding and becoming more active. However, along with the rapid development is the great threat of an increasingly serious disease caused by bacteria and viruses. Therefore a large amount of antibiotics has been used and residues.However, shrimp farming is now developing in a safe and environmentally friendly manner. New techniques that contribute to productivity improvement without endangering shrimp farmers, as well as users, are being increasingly applied. One of them is the management of the microbial community in aquaculture systems, through probiotics as an effective disease prevention tool. Supplementing to Bacillus probiotic diets has been shown to enhance immune responses, help with rapid growth, while also improving the quality of culture water and balancing the intestinal microflora in both tiger shrimp and whiteleg shrimp.In order to have a high effect on aquaculture systems, probiotics must survive in unbalanced living conditions such as salinity, variable pH, osmotic pressure, low dissolved oxygen ... Micro-capsule technology has shown that it is possible to protect packaged microorganisms. This study will determine the benefits of Bacillus strain for the post-larval stage in Litopenaeus vannamei and resistance to V. harveyi of shrimp.Methods and materialsThe study was conducted in Thailand. The first is to collect postlarval at a hatchery, then carry out rearing for 15 days until reaching PL30 size. Tested by scientific methods to prove that the shrimp seed does not carry the pathogen is V.harveyi.Bacillus strains ( Bacillus thuringiensis, B. megaterium, B. licheniformis, B. polymyxa  and B. subtilis ) were isolated from tiger shrimp intestine through culture. Convert to dry and wrapped Bacillus microorganisms so that the right amount is needed for the study and ensure that only one pure Bacillus in each sample is prepared, maintaining the viability of the bacteria enough time for testing. experience.Stock PL30 shrimp with a density of 52 shrimp / m 2   with aeration in each tank (9 tanks in total). Care management carefully, monitoring shrimp health daily to have appropriate treatment when abnormalities occur. The experiment consists of three contents: (a) a normal feeding regime for control samples (without probiotics), (b) a diet containing freeze-dried Bacillus (FB), (c) ) Add to Bacillus microbiota culture media (MB). In the case of MB the shrimp are normally fed and each tank is a different species of Bacillus. Add 3 times daily to ensure the final concentration is 10 7 CFU / ml. Preparation of V. harveyi pathogen , determining LD50 lethal concentration according to a previous study, LD50 = 1x10 7 CFU / ml (Reed and Muench 1983).Then check the infection, signs of disease occurrence, survival, the mortality of experimental shrimp. Sampling from shrimp then culturing, isolating bacteria on TCBS medium, then determining their biochemical shape and characteristics, sequencing their genes. Also, take samples of water and feces and isolate bacteria on the inoculum. Bacterial DNA extraction, running PCR to amplify the gene segments needed for research. Finally, statistical analysis is needed to determine the effectiveness of treatment.ResultAfter 30 days of feeding, there was an increase in the weight of FB and MB compared to the control group. The survival rate of the control group was 86.7% but in the two groups FB and MB up to 96% and 95.3%. Cumulative mortality in the control group was 63.06%, in the remaining 2 groups were 43.24% and 45.05%, respectively. Some manifestations on shrimp are anorexia, lethargy on the water. The inside of the intestine is empty and contains lots of mucus, inflammation, and hemorrhage, shrimp liver, and pancreas are gray and swollen.Bacillus ratio in shrimp samples was very high in FB and MB groups, but both dropped sharply after V. harveyi infection and remained stable after that. Bacillus is dominant in the FB and MB groups, of which MB is higher than FB. After the experiment, the ratio of V. harveyi in shrimp in FB and MB groups was much lower than the control group. Bacillus numbers were inversely proportional to the number of V. harveyi counted in groups. The monitoring of water quality indicators indicates that conditions are acceptable for shrimp growth.DiscussBacillus feeds and feeds into the surface of the intestinal mucosa, competing for nutrients and fouling with pathogenic bacteria. Bacillus has been studied for its ability to produce extracellular enzymes that enhance digestibility and absorption of nutrients, improving feed efficiency. In addition, Bacillus also has the ability to synthesize vitamins, coenzymes, amino acids, etc. They act as an additional source of nutrition in the intestinal tract of shrimp. Although there was no difference in the results of the lyophilized and microfiltration method in this study. However, the use of microfiltration is somewhat more advantageous in improving the growth performance and survival rate of shrimp.Bacillus has the ability to produce inhibitors such as antibiotics alone or in combination. Previous research has demonstrated that Bacillus has an inhibitory effect on V. parahaemolyticus and V. cholerea that causes disease in the digestive tract of black tiger shrimp.   Bacillus 's V. harveyi protection has been shown to be effective in black tiger shrimp, giant freshwater shrimp, and other species. Observed that shrimp survived to have a higher phagocytic index, immune activity, antibacterial activity, the number of blood cells also increased significantly.Micro-coated microorganisms have superior protection against lyophilized form against V. harveyi causes diseases in white leg shrimp. Although the mechanism of action is not known, the beneficial effects are evident in helping to balance the microflora in the intestinal tract of shrimp, reducing mortality from vibrio sp. cause. It also helps reduce damage to the liver and pancreas.Quorum Sensing is a means that V. harveyi uses to produce their virulence, hemolysin. However, Bacillus strains have the ability to cut off the signal to produce this virulence of bacteria. And so a protective film formed by Bacillus prevented V.harveyi 's production of virulence. Microfilm containing Alginate is an immunostimulant to shrimp.  Some Bacillus species have been shown to prevent the accumulation of nitrogen-containing wastes (NH3 , NO2 ...) through nitrification or aerobic denitrification processes, thereby improving quality. country. This study also showed that lyophilized Bacillus and microcapsules were equally effective in terms of promoting growth and improving water quality against V. harveyi. However, the stability and survival of Bacillus microflora needs further research.Source: tepbac.com ...
Bahan Additive Dukung Kesuksesan Budidaya Udang Vaname
Udang

Bahan Additive Dukung Kesuksesan Budidaya Udang Vaname

Bahan aditif (additive) merupakan salah satu bahan terpenting untuk mendukung kesuksesan pembudidayaan udang vaname. Bahan aditif adalah bahan tambahan yang digunakan dengan tujuan tertentu. Dalam pembudidayaan udang vaname, bahan aditif biasa digunakan pada proses persiapan air media budidaya sebelum penebaran benur udang, pengelolaan air media budidaya, serta pengelolaan pakan udang vaname. Pemberian bahan aditif ini ditujukan untuk mempercepat pertumbuhan udang dan memperbaiki kondisi kualitas air yang digunakan sebagai media budidaya udang.Persiapan Air Media BudidayaPersiapan air media dilakukan selama 1 – 2 minggu yang dimulai dengan pengisian air ke dalam kolam. Persiapan air media budidaya bertujuan agar pada saat benur ditebar, benur dapat hidup dan tumbuh dengan baik. Hal yang pertama harus dipersiapkan tentunya adalah kolam budidaya. Kolam budidaya biasanya dibuat dengan kedalaman lebih dari 150 cm dan terdapat saluran masuk air (inlet).Tahap awal dalam kegiatan persiapan air media budidaya adalah sterilisasi media budidaya. Air yang digunakan untuk budidaya udang vaname merupakan air laut yang disterilisasi. Air harus steril serta terdapat plankton sebagai sumber pakan alami bagi udang sebelum dilakukan penebaran benur. Air yang masuk ke dalam kolam harus di saring menggunakan saringan yang dipasang pada inlet hingga ketinggian permukaan 120 – 150 cm bergantung pada sistem budidaya udang yang dilakukan. Dalam proses sterilisasi, digunakan kaporit 60% dengan dosis 20 – 30 mg/liter. Dosis ini dapat disesuaikan dengan kondisi air laut yang tersedia. Bahkan, pada kondisi yang sangat baik, sterilisasi air dapat dilakukan hanya dengan mengunakan dosis 5 mg/liter.Penggunaan dosis ini dapat dilakukan apabila budidaya udang dilakukan pada perairan yang sangat bersih (perairan berkarang), jauh dari pencemaran limbah industri serta sumber pencemar dari limbah rumah tangga (sungai), sehingga kemungkinan keberadaan inang pembawa penyakit serta partikel tersuspensi pada air sangat kecil.Persiapan Pakan Udang VanamePembentukan pakan alami dilakukan setelah air media selesai disterilisasi. Menumbuhkan pakan alami pada air media mutlak harus dilakukan, selain sebagai sumber pakan, juga digunakan sebagai green shalter untuk mengurangi intensitas cahaya yang masuk ke dalam kolam, sehingga fluktuasi suhu yang terlalu tinggi dapat dihindari.Tinginya fluktuasi suhu akan mengakibatkan udang yang baru ditebar mengalami stres bahkan bisa mengakibatkan kematian. Pembentukan pakan alami dilakukan dengan penebaran bahan aditif. Bahan aditif dapat diaplikasikan pada siang hari pukul 09.00 – 11.00 saat cuaca cerah. Pengaplikasian bahan aditif dilakukan dengan melarutkan bahan aditif dengan air dan ditebar merata di seluruh area kolam. Bahan aditif yang digunakan berupa Fitoplankton stabiler, Suplemen Mineral, Water Colour, dan Probiotik. Fitoplankton stabiler merupakan bahan aditif yang mengandung nutrisi, berfungsi untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan menstabilkan fitoplankton yang menguntungkan di dalam kolam, mengendalikan warna air, membantu menstabilkan temperatur dan pH dalam ekosistem tambak. Dalam persiapan media, fitoplankton stabiler diaplikasikan sebanyak 3 kali penebaran dengan dosis 1 mg/liter.Fitoplankton stabiler difungsikan untuk menstabilkan kondisi plankton dalam air serta mampu mendukung pertumbuhan plankton dengan baik. Ketersediaan plankton dalam air ini dapat digunakan sebagai pakan alami maupun sebagai green shealter bagi udang yang dibudidayakan. Aplikasi probiotik sangat baik untuk dilakukan karena probiotik ini akan menguraikan bahan organik penyebab tingginya gas beracun dalam air yang berbahaya bagi udang.Nitrifikator merupakan pemicu Nitrifikasi di dalam kolam udang. Kegunaan Nitrifikator adalah untuk menyediakan ruangan dan lingkungan yang sesuai untuk pertumbuhan bakteri Nitrifikasi terutama Nitrosomonas sp dan Nitrobacter spp, meningkatkan efisiensi penggunaan limbah nitrogen seperti Amonia dan Nitrit di dalam kolam, meningkatkan produktifitas dengan menambah daya dukung kolam, serta menciptakan lingkungan yang sehat dan kesetimbangan dalam ekosistem kolam. Komposisi Nitrifikator yang digunakan dapat dilihat pada Tabel.Tabel. Komposisi Nitrifikator Bahan Aktif Konsentrasi Magnesium Klorida (MgCl2 : 46%) 60 % Kalsium Klorida (CaCl2 : 74%) 8 % Sodium Bicarbonat (NaHCO3 :99,9%) 10 % Mangan Klorida (MnCl2 : 98%) 5 % Zink Sulfat (ZnSO4 : 35%) 1,2 % Kalsium Silikat (Ca2SiO4 : 99%) Sampai 100 % Suplemen Mineral berfungsi untuk meningkatkan alkalinitas, meningkatkan ketersediaan mineral–mineral penting dalam kolam, meningkatkan kesetimbangan asam-basa dan osmoregulasi bagi udang, serta mendukung aktivitas enzim dan hormon pada udang. Dalam persiapan media suplemen mineral diaplikasikan sebanyak 2 kali dengan dosis 1 – 2 mg/liter.Penggunaan suplemen mineral akan menyediakan mineral – mineral yang dibutuhkan oleh udang pada saat molthing yaitu untuk memperkeras carapas, selain itu suplemen mineral ini berfungsi untuk menstabilkan bahkan meningkatkan alkalinitas sehingga mampu menyangka perubahan kualitas air pada media budidaya khususnya pH air. Penggunaan nitrifikator bertujuan untuk mendorong terjadinya proses nitrifikasi oleh bakteri pengurai sehingga limbah organik hasil metabolisme udang maupun sumber limbah lainnya dapat diuraikan menjadi senyawa yang tidak beracun. Pengaplikasian suplemen mineral dilakukan sejak udang umur DOC 5 hari, probiotik sejak udang umur DOC 7 hari, nitrifikator sejak udang umur DOC 10 hari sedangkan fitoplankton stabiler ditebar sesuai dengan kondisi air dalam kolam.Probiotik merupakan bahan aditif yang berfungsi untuk meningkatkan kondisi lingkungan. Probiotik ini mengandung minimal 5 x 109 CFU/g bakteri aerobik dan bakteri anaerobik fakultatif. Probiotik diaplikasikan hanya 1 kali dalam persiapan air dengan dosis 0.1 mg/liter.Water Colour merupakan bahan yang digunakan untuk memberikan warna pada air. Pemberian warna pada air ini dilakukan untuk mengurangi intensitas cahaya yang masuk pada kolam dan sebagai upaya perlindungan benur pada saat baru ditebar. Water colour ini dapat dijadikan sebagai alternatif pelindung benur apabila fitoplankton tidak tumbuh atau kepadatan plankton rendah. Dalam persiapan media, water colour diaplikasikan sebanyak 2 kali dengan dosis 0.02 mg/liter.Air media siap untuk dilakukakan penebaran benur apabila telah ditumbuhi dengan fitoplankton. Secara visual air media akan tampak berwarna kehijauan (green algae) dengan kecerahan 30 – 40 cm. Namun apabila sampai pada 1 – 2 minggu telah dilakukan persiapan air dan kecerahan tidak mencapai 30 – 40 cm, maka dilakukan penebaran water colour susulan 1 hari sebelum penebaran benur.Penebaran benur yang tinggi pada pembesaran udang Vaname sistem intensif sangat memungkinkan menurunnya kualitas air dengan cepat karena limbah budidaya yang dihasilkan sangat banyak, sehingga perlu dilakukan aplikasi bahan aditif selama proses budidaya. Aplikasi bahan aditif diharapkan akan mampu memperbaiki kondisi air sesuai dengan yang diharapkan udang. Bahan aditif yang diaplikasikan untuk memperbaiki kualitas air akan bereaksi baik secara langsung maupun secara tidak langsung.Penggunaan MolasePerbaikan kualitas air dengan pengaplikasian bahan aditif juga dilakukan dengan pengaplikasian Molase. Molase merupakan salah satu sumber C-organik yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan C/N ratio sebagai sumber energi bagi bakteri menguntungkan (probiotik) di dalam air kolam. Molase ini tidak langsung berpengaruh pada air, namun dimanfaatkan oleh bakteri pengurai sebagai suber nutrien dan energi untuk melakukan proses dekomposisi.Aplikasi molase ini dilakukan dengan tetesan, hal ini dilakukan karena dengan tetesan maka bakteri yang mengkonsumsi molase akan berkembang biak secara perlahan – lahan sehingga penurunan oksigen terlarut tidak terjadi secara drastis, karena pengaplikasian molase ini akan mengekibatkan bakteri pengurai berkembang dengan pesat, bakteri ini akan mendekomposisi bahan organik sehingga membutuhkan oksigen dalam jumlah tinggi.Jumlah molase yang ditebar setiap hari berubah sesuai dengan jumlah pakan perhari yang diberikan pada udang. Penghitungan jumlah molase dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:1.       Menentukan kandungan protein pakan misalnya 38 % sehingga N pakan yaitu 6,08 (38% x 16, yang mana 16 adalah ketetapan.2.       Menentukan kandungan C-organik dalam pakan misalnya 50%, sehingga perbandingan C/N (50/6,08) yaitu 8,22/1.3.       Menentukan C/N ratio yang dikendaki, misalnya 10/1, maka seharusnya C-organik 10 x 6,08 yaitu 60,8%, untuk itu C-organik harus ditambahkan.4.       Jumlah C-organik yang harus ditambahkan yaitu C-organik yang dikehendaki – C-organik dalam pakan (60,8% – 50%) yaitu 10,8%.5.       Jika kandungan C-organik molase adalah 45% maka jumlah molase untuk menciptakan C/N ratio 10/1 yaitu 0,24 (10,8%/45%) dari jumlah pakan per hari.6.       Jadi, jika pakan per hari yang diberikan 150 kg maka jumlah molase yang diaplikasikan yaitu 36 kg (150 x 0,24).Pengaplikasian molase ini juga akan mengakibatkan menurunnya pH air, sehingga perlu dilakukan pengapuran untuk meningkatkan pH air. Pengapuran dilakukan apabila pH air media rendah (asam) yaitu < 7,0. Pengapuran dilakukan dengan menggunakan Dolomite dengan dosis 5 – 15 mg/liter. Dolomite digunakan karena kapur jenis ini dapat langsung bereaksi dalam air serta tidak meninggalkan limbah. Pengapuran dilakukan pada pagi hari atau malam hari. Kapur dilarutkan kedalam air menggunakan ember, setelah itu kapur ditebar merata diseluruh areal kolam. Komposisi kimia kapur yang digunakan yaitu MgO ≥ 20%, CaO ± 30%, serta lolos Mesh 100 sebanyak 95%. Cara pengaplikasian bahan aditif dalam pengelolaan kualitas air dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:1.       Menyiapkan ember dan timbangan duduk2.       Menimbang bahan aditif sesuai dengan dosis.3.       Memasukkan bahan aditif pada ember yang telah disiapkan4.       Melarutkan bahan aditif dengan air kolam sampai homogeny5.       Menebar larutan bahan aditif secara merata diseluruh areal kolam, penebaran molase dimasukkan ke dalam drigen yang telah disiapkan di kolam. Molase diteteskan dengan kran yang terdapat pada drigen.Pengelolaan Pakan Udang VanamePengelolaan pakan dalam budidaya udang vaname harus dilakukan dengan baik karena pakan merupakan unsur terpenting yang menunjang pertumbuhan dan kelangsungan hidup udang. Secara biologi, pakan yang dikonsumsi udang langsung diproses dalam tubuhnya. Unsur – unsur nutrisi atau gizinya akan diserap dan dimanfaatkan untuk membangun jaringan dan daging, sehingga pertumbuhannya lebih cepat.Kecepatan laju pertumbuhan udang sangat dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas pakan yang diberikan serta kondisi lingkungan hidupnya. Apabila pakan yang diberikan berkualitas baik, jumlahnya mencukupi, dan kondisi lingkungan yang mendukung, maka dapat dipastikan laju pertumbuhan udang akan lebih cepat sesuai yang diharapkan.Pakan yang akan diberikan kepada udang dapat dicampur dengan bahan aditif berupa vitamin C dan dicampur dengan perekat komersial atau putih telur. Vitamin C merupakan salah satu jenis vitamin yang mudah rusak bila terkena panas dan mudah larut dalam air. Selain meningkatkan ketahanan tubuh terhadap penyakit, mencegah kelainan bentuk tubuh, mencegah stress lingkungan, mempercepat penyembuhan luka dan meningkatkan laju pertumbuhan pada udang. Takaran vitamin C adalah 1 gram untuk 1 kg pakan dan perekat 4 gram setiap 1 kg pakan. Kedua bahan tersebut dilarutkan dalam air 100 ml kemudian dicampur dengan pakan dan diaduk hingga merata.Aplikasi feed additive berupa vitamin C atau vitamin lainnya dimulai sejak bulan pertama dan diberikan secara periodik, hingga menjelang pemanenan hasil. Dosis yang dapat digunakan berkisar antara 3-4 gram per kg pakan dan diberikan setiap 3-4 hari sekali, serta frekuensi pemberian 1-2 kali per hari. Jenis feed additive yang lain (multi vitamin) yang berupa cairan atau emulsi dapat diaplikasikan langsung dicampurkan dengan pakan buatan dengan dosis sesuai aturan   Artikel Asli: Info Akuakultur ...
Harnessing Big Data to Fight Shrimp Diseases and Allay Investor Fears
Udang

Harnessing Big Data to Fight Shrimp Diseases and Allay Investor Fears

Diseases cost shrimp farmers around the world billions of dollars every year, while scaring off potential investors and posing risks to farmers' livelihoods.In Southeast Asia, more than 90 percent of shrimp farms have at least one dormant disease living in the water, such as white spot disease, white feces disease, and hepatopancreatic microsporidiosis (HPM), according to the Sustainable Trade Initiative (IDH), a Dutch organization seeks to accelerate sustainable investments.But reducing disease could help shrimp farmers attract investors. A new partnership between IDH and Indonesian aquaculture data services provider JALA seeks to make shrimp farming more investor-friendly, environmentally sustainable, and profitable for farmers. By leveraging big data, the project aims to pinpoint the causes of disease outbreaks, reduce their frequency, and improve the survival rates of farmed shrimp."Farmers need to adapt the way of farming due to various challenges that continuously update every month or week," JALA CEO Liris Maduningtyas told SeafoodSource. "Technologies help them in a way that they can improve to mitigate most of the farming risks."Two-thousand farmers use JALA’s in-water monitoring device to collect data about farming conditions, such as salinity, temperature, and acidity in 5,000 ponds across Southeast Asia. JALA analyzes the data to predict shrimp growth and optimize harvest timing, providing farm management tools and decision support to farmers.The technology is simple, easy to use, cheap, and has easily portable sensors — all of which matters for shrimp farmers using it on their operations in Indonesia.Shrimp farmers currently don't know whether water quality correlates with certain diseases, but Maduningtyas believes that trends will become more visible as more farmers use JALA and provide more data. JALA and IDH has partnered with aquatic epidemiologists at the University of Prince Edward Island to analyze data to study how disease spreads through shrimp populations and prevent outbreaks."The first question we need to answer is: What type of data correlates with a certain type of disease? Then, the next question is how to project this," Maduningtyas said.Outbreaks cut into income, cause inputs to be wasted, increase water pollution, and lead to excessive antibiotic use. Greater survival means less wasted feed and more efficient use of natural resources, allowing shrimp farming to become more profitable. Knowing how disease spreads will allow shrimp farmers to better prevent it.“Individual farmers have information limited to their own farm, and it is almost impossible to tell if events in one cycle will happen in future cycles,” the University of Prince Edward Island's Krishna Thakur said. “Epidemiology investigations applied to many farms and through multiple productions, cycles can help identify practices or conditions that are related to disease occurrence, providing all participants with information for decisions that improve overall survival and productivity.”Reducing disease risk will also make shrimp farming more appealing to investors, according to IDH Aquaculture Program Officer Lisa van Wageningen."Disease occurrence threatens farmers' long-term business. As a result, investors are reluctant to make long-term sustainable investments,” van Wageningen told SeafoodSource, adding that diseases have cascading ramifications. “Diseases do not only have negative economic consequences for farmers. Diseases have negative environmental consequences, too, as they result in the waste of inputs and can potentially cause irresponsible practices such as the excessive use of antimicrobials.”Perceptions that aquaculture is a risky sector have prevented investors from taking full advantage of its potential, van Wageningen said. IDH’s work to improve health management is intended to make the sector less risky, and more investable and insurable. Other aquaculture sectors beyond shrimp would also benefit from better disease management since it’s a key issue, van Wageningen added.To help investors grow more familiar with the sector, IDH has published investment guidelines for shrimp culture in Indonesia that describe how to mitigate risks. The organization is currently writing an investment framework that goes beyond Indonesia and shrimp and will apply to the sector more broadly.“The beauty of adopting a data-driven approach to controlling diseases is not only that risks for outbreaks can be reduced, but also, that risks can be quantified and a track record can be established, hence making investors more comfortable in investing in those farms,” IDH Aquaculture Program Director Flavio Corsin said in a statement. “Better management, less diseases, and easier access to investment: Three birds with one stone.”IDH sees major investment opportunities, since aquaculture is one of the world's fastest-growing food production systems. The growth of the middle class in Asia and Africa portends a shift toward more protein-rich diets, but because of a lack of available land for livestock and a need to lower greenhouse gas emissions, alternatives to land-based animal protein will be needed. "The growth in available protein will have to come from efficient systems such as farmed fish,” van Wageningen said. “The aquaculture sector has a lower carbon footprint compared to other livestock sectors, and requires less water, energy, feed, and fuel."Source: Seafood Source ...
Feed Additive, Seberapa Perlu?
Udang

Feed Additive, Seberapa Perlu?

Demi keberlanjutan usaha budidaya udang, kebutuhan hidup hewan bongkok berkarapas ini perlu dipenuhi. Jika tidak, laju pertumbuhan menjadi lambat bahkan bisa berakibat pada kematian.Dalam dunia usaha budidaya, setidaknya ada dua faktor kebutuhan utama yang harus dipenuhi sesuai karakteristik udang, yaitu pakan dan lingkungan. Pakan berguna untuk memasok nutrisi bagi udang agar terus tumbuh dan membesar. Jika kebutuhan nutrisi terpenuhi, metabolisme tubuh berjalan dengan baik, daya imunitas terjaga, dan udang pun tumbuh dengan sehat.Apakah pakan saja cukup menjamin keberlangsungan hidup udang? Ternyata tidak. Terdapat faktor lingkungan yang juga berperan besar dalam meningkatkan kualitas hidup udang. Kualitas lingkungan yang buruk bisa berdampak langsung pada kesehatan ikan, memacu stres dan menimbulkan keracunan. Dampak lainnya, nafsu makan udang menurun dan mengakibatkan menurunnya daya imunitas. Wabah penyakit pun mudah muncul.Sebaik apapun kualitas pakan yang diberikan, jika lingkungan budidaya buruk bisa menyebabkan kegagalan dalam budidaya. Oleh sebab itu, muncul upaya untuk memberikan bahan tambahan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas kesehatan udang. Harapannya, hasil panen bertambah, baik dari sisi jumlah dan kualitas, serta waktu panen menjadi lebih singkat. Bahan tambahan yang diberikan ini berupa feed additive dan feed supplement.Feed Additive dan Feed Supplement, Samakah?“Feed additive pada ikan atau udang sama, hanya beda bahasa saja. Additive itu bahan tambahan makanan untuk ikan atau udang. Dan feed supplement itu zat lain yang ditambahkan untuk menambah nilai gizi atau obat,” tutur Arief Setyo, Aquabusiness Representative CV Vrisda Murakabi.Pendapat senada juga diungkapkan oleh Manager Regional Sumatra PT Matahari Sakti, Rudy Kusharyanto. Menurutnya, feed additive dan feed supplement sebenarnya sama karena sama-sama penunjang dari bahan baku utama. “Yang dimaksud dengan feed additive pada pakan ikan atau udang bisa diistilahkan juga dengan bahan pembantu. Maksudnya, membantu apabila ada konten nutrisi pakan yang belum bisa terpenuhi dari bahan baku utamanya,” terang Rudy.Hari Juliyanto, Sekjen Shrimp Club Indonesia (SCI) Banyuwangi, juga memberikan jawaban yang senada. Menurutnya, feed additive adalah Asupan nutrisi tambahan yang dicampurkan pada pakan. Sementara suplemen makanan bisa sebagai feed additive, sebagai tambahan nutrisi yang dirasa perlu ditambahkan.Sementara dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 1/Permen-KP/2019 Tentang Obat Ikan Pasal 5 ayat (3) dijelaskan bahwa obat ikan dengan sediaan premiks sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf c, dihasilkan dari bahan organik dan anorganik yang dicampurkan dalam pakan Ikan sebagai:imbuhan pakan (feed additive) merupakan suatu zat yang secara alami tidak terdapat dalam pakan, yang tujuan pemakaiannya terutama sebagai pemacu pertumbuhan Ikan dan kesehatan Ikan antara lain xantophyl, antioksidan, dan antijamur; dan/atau.pelengkap pakan (feed supplement) merupakan suatu zat yang secara alami sudah terkandung dalam pakan tetapi jumlahnya perlu ditingkatkan dengan menambahkannya dalam pakan, antara lain asam amino, vitamin, dan mineral.Ragam Jenis dan Teknologi Imbuhan PakanSaat ini, jenis imbuhan pakan sangat beragam. Jika sebelumnya ada produk probiotik dan prebiotik untuk meningkatkan pertumbuhan dan imunitas dan enzim untuk meningkatkan efisiensi pakan, sekarang sudah mulai banyak dijumpai functional protein atau sumber protein khusus untuk meningkatkan imunitas dan pertumbuhan, mycotoxin binder untuk ikan dan udang, serta organic mineral.Beberapa jenis imbuhan pakan yang sering dipakai untuk pakan ikan dan udang saat ini didasarkan pada tujuannya. Untuk mendukung daya cerna dan absorbsi nutrisi, salah satu imbuhan pakan yang digunakan adalah enzim. Untuk kesehatan ikan dan udang, produk imbuhan pakan yang digunakan berupa immunostimulan, antibakterial, dan ragam vitamin.Selain itu, imbuhan pakan lainnya adalah untuk kebutuhan hormonal seperti hormon reproduksi, antioksidan untuk kebutuhan pencegahan bahaya oksidasi, serta pemberi bau untuk kebutuhan palatabilitas dan flavoring. Imbuhan pakan lainnya bisa berupa support mineral dan asam amino.Ragam jenis imbuhan pakan yang ada tak lepas dari beragam jenis teknologi yang digunakan, sesuai jenis imbuhan pakan tersebut. Teknologi sintesis dan coated, misalnya, digunakan untuk memproduksi vitamin. Sementara ekstraksi digunakan untuk membuat zat anti-bakterial dan immunostimulan.Teknologi fermentasi yang sudah semakin berkembang bisa menghasilkan produk bahan imbuhan pakan seperti probiotik, prebiotik, dan enzim yang semakin efisien dan lebih baik. Teknologi fermentasi atau ekstraksi yeast/ragi juga sangat dikenal di dunia imbuhan pakan untuk menghasilkan produk seperti prebiotik, functional protein, single cell protein, dan mycotoxin binder. Salah satu teknologi yang banyak digunakan produsen bahan imbuhan pakan untuk memproduksi mineral organic adalah chelating technology.Terbukti Bermanfaat“Berdasarkan hasil studi, banyak yang mengklaim bahwa dengan penambahan feed additive akan memberikan dampak yang positif terhadap keberhasilan budidaya. Di lapangan, tingkat keberhasilan dengan penambahan feed additive tergantung besarnya manfaat, efektivitas penambahan, serta kebutuhan di lapangan,” ujar Rudy.Menurut pendapat Erik Sutikno, Perekayasa Madya Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara, dalam Info Akuakultur edisi lalu, penambahan katalisator enzimatik pada pakan ikan bandeng mampu memberikan pertumbuhan lebih cepat. Pertumbuhan ikan bandeng tidak membutuhkan protein tinggi jika diberikan katalisator pada pakan tersebut. Pakan formulasi dengan kandungan protein 14—16% ditambah katalisator enzimatik yang sesuai  sudah cukup untuk menumbuhkan ikan bandeng secara efisien.Enzim pencernaan ikan bandeng didominasi oleh karbohidrase, yang terbukti dari ukuran usus yang sangat panjang. Jumlah enzim paling banyak di bagian depan dan semakin mendekati anus jumlah enzim yang dihasilkan semakin sedikit. Ketidakcukupan enzim akan mengakibatkan pakan buatan tidak dapat dicerna. Penggunaan pakan dengan kandungan protein tinggi membuat pencernaan ikan tidak mampu merubahnya menjadi energi sehingga akan menghasilkan sampah yang banyak.Produksi enzim dalam pencernakan ikan akan maksimum pada saat ikan dalam kondisi lapar puncak. Penambahan katalisator enzim melalui pakan merupakan cara untuk menambah kekurangan produksi enzim internal pencernaan.Pakan saat masuk ke lambung, pakan akan hancur melalui proses fisika dan kimia asam lambung dan menjadi bentuk penyusun semula (powder), dan proses pemecahan mulai terjadi melalui proses enzimatik hingga terbentuk produk molekuler yang siap menembus dinding usus ikan melalui peristiwa osmosis. Selanjutnya, produk molekuler didistribusikan ke seluruh organ target untuk memenuhi kebutuhan sel sehingga pertumbuhan ikan akan terbentuk secara cepat dan meninggalkan sedikit fesesKadar FormulasiPenggunaan bahan imbuhan pakan sangat tergantung dari tujuan dari penggunaan bahan imbuhan itu sendiri atau masalah apa yang akan diselesaikan dengan imbuhan pakan tersebut. Jadi, pembuatannya sangat spesifik terhadap tujuan yang akan dicapai. Misalnya untuk meningkatkan efisiensi pakan bisa menggunakan enzim, sedangkan untuk meningkatkan kesehatan saluran cerna biasanya menggunakan probiotik dan prebiotik.  Besaran penggunaan bahan imbuhan sangat tergantung dari spesifikasi masing-masing bahan imbuhan pakan tersebut.Adapun persentase penggunaan imbuhan pakan dalam formulasi cukup bervariasi, tidak ada angka pasti yang ideal karena variasi ini mempertimbangkan kebutuhan akibat faktor lingkungan, target pertumbuhan, kesehatan, bahkan kebutuhan yang berbeda untuk tiap spesies ikan. Bahan imbuhan pakan memang memberikan kontribusi yang sangat besar pada industri pakan, seperti pemakaian prebiotik dan functional protein/sumber protein khusus untuk meningkatkan imunitas. Pemanfaatannya sudah banyak dilakukan untuk menghadapi masalah tantangan lingkungan yang semakin berfluktuasi. Di samping meningkatkan performa kualitas pakan dari faktor non-nutrisi, pemberian imbuhan pakan juga digunakan sebagai faktor pembeda dengan pakan lain, misalnya agar pakan tidak mudah mengotori atau merusak kualitas air. Artikel Asli : Info Akuakultur ...
Manfaat Spirulina untuk Pakan Udang
Udang

Manfaat Spirulina untuk Pakan Udang

Spirulina merupakan alga hijau biru yang dapat ditemukan pada perairan tawar maupun asin. Mikroalga ini telah lama digunakan sebagai sumber bahan makanan dan merupakan salah satu sumber makanan alami paling potensial baik untuk hewan dan manusia.Sebagai bahan pangan fungsional dan pemanfaatannya ke dalam makanan manusia (level food grade) memerlukan standar yang tinggi dalam proses pembuatannya. Sehingga menyulitkan bagi usaha rumah tangga untuk dapat memenuhi kriteria tersebut. Kriteria produk dengan standar yang tidak tinggi (level feed grade) dapat memberikan peluang pasar yang besar bagi usaha rumah tangga.Perekayasa Madya, Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara Lisa Ruliaty mengatakan, Unit Pembenihan Udang di BBPBAP Jepara selama 3 (tiga) tahun terakhir telah memanfaatkan fungsi Spirulina sebagai bahan pengkaya pada pakan segar bagi induk udang windu maupun sebagai pakan tambahan dalam pemeliharaan benih windu dan vaname.Ia melanjutkan, hasil tersebut memberikan pengaruh yang baik bagi peningkatan fekunditas induk udang windu dan peningkatan sintasan benih.  Di tingkat pembudidaya ikan, khususnya pembibitan ikan hias pemanfaatan tepung Spirulina telah banyak digunakan yang dapat meningkatkan kecerahan warna bagi ikan hias.Namun sayangnya, kata Lisa, produk tepung Spirulina yang dipergunakan di tingkat pembudidaya ikan kebanyakannya merupakan produk import dari India dan Cina. Teknologi produksi tepung Spirulina secara sederhana perlu lebih dikembangkan di tingkat pembudidaya ikan sehingga dapat secara mandiri menyediakan kebutuhan pakan tambahan bagi mereka.“Produksi tepung Spirulina secara sederhana merupakan rangkaian kegiatan mulai dari kultur, pemanenan hingga pengeringan dengan lemari pengering sederhana. Kegiatan ini dapat dilakukan pada skala rumah tangga dengan menggunakan media kultur air tawar maupun air payau,” ujar Lisa.Terapkan Prosedur Operasional Standar (POS)Untuk mendapatkan sel Spirulina sebagai bahan baku tepung, terlebih dulu dilakukan kultur di bak beton, bak fiber, kolam terpal, ember maupun galon air dengan volume media menyesuaikan dengan sarana yang ada.Lisa menjelaskan, proses kultur meliputi persiapan alat dan bahan, pemupukan dan inokulasi bibit hingga perawatan kultur. Mempersiapkan salinitas kultur Spirulina pada salinitas 12 – 15 ppt dengan penambahan NaCl sebanyak 0,8 g/l bila kultur dilakukan pada media air tawar dan penambahan air tawar bila kultur dilakukan pada media air laut.Air media kemudian disterilisasi dengan pemberian chlorine sebesar 30 ppm.  Setelah 24 jam, media dinetralisasi dengan natrium thiosulfate sebanyak 10 – 15 ppm. Air media yang telah netral baru dapat dipergunakan sebagai media kultur Spirulina.Pupuk yang digunakan adalah pupuk kimia untuk menumbuh kembangkan sel yaitu, Urea (80 ppm), SP-36 (40 ppm), ZA (20 ppm),  EDTA (5 ppm) ,FeCL3(1  ppm) dan Vit.B12(0,001 ppm).   Pupuk dilarutkan dengan air dan setelah larut di masukkan ke dalam media kultur.Pemberian bibit untuk kultur Spirulina dengan kepadatan awal >10.000 sinusoid/ml. atau 10% – 20% dari volume media kultur dilakukan setelah pemupukan. Intensitas cahaya matahari yang masuk berkisar 3.000 lux (12 jam terang:12 jam gelap). Pengadukan terhadap kultur dilakukan dengan pemberian aerasi.Hasil pengamatan terhadap produk pasta dan tepung Spirulina yang dikultur pada media volume 10 m3 dapat dilihat pada Tabel 1. Dari delapan kali kultur skala massal pada volume 10 m3  memberikan hasil produk pasta yang bervariasi, hal ini dikarenakan kepadatan sel yang berbeda pada saat panen.Rerata berat produk pasta yang dihasilkan adalah sebesar 4.603 g ± 1.903 g yang akan menghasilkan produk tepung sebanyak 567 g ± 248 g.  Bila di konversi, maka setiap 1 liter kultur Spirulina akan menghasilkan tepung Spirulina sebanyak 0,06 g.Hasil analisa proximat terhadap produk tepung Spirulina yang dihasilkan dengan lemari pengering sederhana menunjukkan kandungan protein yang  tinggi yaitu 63,44 % berat kering serta kandungan asam lemak esensial Eicosapentaenoic acid(EPA) sebesar 0,0013 %b/b dan Docosahexaenoic acid (DHA) sebesar 0,0002 %b/b.“Kandungan protein yang tinggi pada produk tepung memberikan banyak keuntungan bagi pengguna di dalam pemanfaatannya. Hasil analisa proximat secara lengkap dapat dilihat pada Tabel 2,” ujar Lisa.Pemanenan dan pengeringanDalam tahap pemanenan, Lisa mengatakan, pemanenan dilakukan ketika sel Spirulina berada pada fase pertumbuhan, peralatan panen yang digunakan berupa plankton net dan saringan dengan meshsize 30 mikron yang di jahit menyerupai kantong.Pada wadah bak beton atau bak fiber, saringan tersebut diikat pada lubang pembuangan fiber yang sudah dilengkapi kran, kemudian kran di buka sampai Spirulina yang ada di bak habis. Atau dapat juga dengan menggunakan pompa celup untuk mempercepat proses pemanenan sel.Pemanenan dengan cara menyaring menggunakan saringan dari kain satin lebih mudah dilakukan karena bentuk sel Spirulina yang berbentuk filamen atau benang dengan sel berpilin yang berbentuk seperti spiral dengan ukuran sel yang lebih besar dibandingkan dengan jenis fitoplankton yang lainnya.Biomassa yang didapatkan kemudian di bilas dengan air tawar sebanyak 2-3 kali untuk mereduksi komponen media kultur. Biomassa yang terkumpul selanjutnya dapat disebut dengan pasta atau jel. Pasta dapat disimpan pada freezer selama seminggu atau langsung dilakukan proses pengeringan untuk produksi tepung Spirulina selanjutnya.Untuk proses pengeringan, pasta ditimbang terlebih dahulu dan kemudian ditipiskan di atas loyang yang dilapisi plastik mika untuk proses pengeringan. Ketebalan biomassa Spirulina diatur pada ketebalan maksimal 0,5 cm atau diatur sebanyak 100 g pada tiap plastik.Biomassa Spirulina yang telah ditipiskan kemudian ditempatkan pada lemari pengering sederhana untuk proses pengeringan. Lemari pengering sederhana yang dipergunakan dapat dibuat sendiri dari lemari triplek yang dilapisi dengan styrofoam.Lemari pengering sederhana tersebut telah dilengkapi dengan lampu bohlam 40 watt sebanyak 8 buah dan exhause fan untuk pengeluaran udara panas dari lemari tersebut. Suhu ruangan pada lemari pengering di atur pada suhu  600C. Lemari pengering juga telah dilengkapi dengan alat timer otomatis yang dapat mengatur suhu lemari pengering pada suhu 60 oC selama proses pengeringan berjalan. Biomassa Spirulina akan kering  dalam waktu <24 jam dengan menggunakan lemari pengering tersebut.Spirulina yang telah kering berupa lempengan kemudian diambil dan selanjutnya dilakukan penimbangan. Proses penepungan dari Spirulina yang telah kering dilakukan dengan peralatan sederhana yaitu dengan menghaluskannya menggunakan mesin blender dan selanjutnya dilakukan penyaringan untuk mendapatkan butiran tepung yang lebih halus.“Tepung Spirulina halus tersebut kemudian disimpan menggunakan aluminium foil dan di vacum siller supaya kedap udara sehingga dapat tahan lama dan tidak berjamur,” jelas Lisa.Tabel 1. Hasil analisa Proximat Produk Tepung Spirulina No. Komposisi % berat kering 1. Air 5,76 2. Abu 7,57 3. Lemak 1,65 4. Protein 63,44 5. Serat 2,16 6. BETN 19,42 Aplikasi TeknologiTeknologi ini telah diaplikasikan pada pelaku pembibitan ikan hias dan ikan lele di Kab. Bandung dan Kab. Purworejo dengan melakukan modifikasi pengeringan pasta Spirulina.  Pengeringan dilakukan secara langsung dibawah sinar matahari dalam ruangan tertutup beratap transparan.Produk pasta dipergunakan dalam media kultur pembibitan ikan, sedangkan tepung yang dihasilkan dipergunakan sebagai campuran di dalam pakan pembibitan ikan hias maupun pembesarannya. Menurut Lisa, teknologi yang diterapkan memiliki keunggulan seperti kultur Spirulina dapat dilakukan dengan menggunakan wadah bak beton, bak fiber, kolam terpal, ember maupun galon dengan volume media kultur menyesuaikan dengan sarana yang ada. Teknologi ini sederhana, ungkap Lisa, mudah untuk dilakukan baik oleh pembudidaya ikan maupun masyarakat luas dan dapat dikelola di skala rumah tangga, tidak membutuhkan modal yang besar, dan prospektif untuk dikembangkan karena memiliki peluang pasar yang besar di level feed grade. Artikel Asli : Info Akuakultur ...
Udang Jerbung, Efisien Dibudidaya Berpotensi Ekspor
Udang

Udang Jerbung, Efisien Dibudidaya Berpotensi Ekspor

Selain udang windu, Indonesia juga memiliki komoditas udang asli yang saat ini sudah bisa dibudidaya masyarakat. Nah, komoditas udang asli tersebut tak lain adalah udang jerbung (udang merguensis). Udang yang sekilas berwarna putih mirip udang vaname tersebut saat ini sudah bisa dibudidaya masyarakat dan berpotensi mengisi pasar ekspor.Udang asli Indonesia ini di pasar lebih dikenal dengan sebutan banana shrimp. Udang jerbung yang sebelumnya hanya bisa diperoleh dari alam bebas, selain diminati pasar lokal, juga mulai dilirik konsumen mancanegara, seperti Jepang.Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengatakan, setelah dilakukan seleksi breeding (pemuliaan buatan) oleh Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara, maka udang jerbung ini sudah bisa dibudidaya masyarakat. “Apa yang dilakukan BBPBAP Jepara ini patut diapresiasi. Sebab, mampu menyediakan stok benih udang jerbung bermutu bagi masyarakat (pembudidaya),” papar Slamet Soebjakto, di Jakarta, pekan lalu.Slamet juga mengatakan, udang asli Indonesia ini juga punya potensi pasar yang luas. Bahkan, bisa saja nantinya untuk mengisi pasar ekspor,--yang selama ini masih mengandalkan udang vaname.Udang asli Indonesia ini juga dikenal masyarakat memiliki cita rasa yang lezat. Tak heran, konsumen mancanegara menyukai udang jerbung sebagai menu masakan favorit mereka. Apabila dimasak, warna udang jerbung cenderung lebih merah, sehingga menarik untuk disajikan sebagai hidangan istimewa.Menurut Slamet, udang jerbung atau udang merguensis merupakan komoditas yang tepat untuk dikembangkan di Indonesia. Selain punya pasar luas, ketersediaan induk udang jerbung juga tersedia di seluruh wilayah perairan Indonesia. “Karena indukannya tersedia cukup banyak dan sudah dilakukan seleksi breeding, akan lebih mudah dilakukan pengembangan di masyarakat,” ujarnya.Udang asli Indonesia ini tampaknya bisa menjadi pilihan budidaya yang menguntungkan masyarakat. Dibandingkan dengan budidaya udang lainnya, secara teknis, komoditas udang jerbung mempunyai potensi ekonomi yang lebih menguntungkan. Mengingat, biaya produksi usaha budidaya udang jerbung lebih efisien. “Udang jerbung juga tahan terhadap penyakit, sehingga sangat menguntungkan apabila dibudidaya,” kata Slamet.Kini, budidaya udang jerbung sudah mulai memasyarakat. Udang lokal asli Indonesia ini juga sudah dibudidaya dengan baik oleh Pokdakan Windu Rejo di Kecamatan Sidayu, Gresik, Jawa Timur. Udang jerbung juga dibudidaya sejumlah Pokdakan sebagai percontohan di Pemalang, Brebes, Demak, Jawa Tengah (Jateng).Agar budidaya udang jerbung bisa berjalan dengan baik, sejumlah pembudidaya tersebut mendapat pembinaan langsung dari BBPBAP Jepara bekerjasama dengan penyuluh dan dinas perikanan setempat. “Keberhasilan teman-teman BBPBAP Jepara patut diberikan apresiasi karena dapat mengangkat kekayaan alam asli Indonesia serta menumbuhkan diversifikasi usaha budidaya, khususnya komoditas udang," papar Slamet.Setelah berhasil dibudidaya di sejumlah daerah, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) saat ini mulai mendorong pengembangan budidaya udang jerbung ke sejumlah daerah yang memiliki kawasan tambak luas. KKP melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya juga memberikan bantuan dan pendampingan kepada pembudidaya.Seleksi breeding yang dilakukan BBPBAP Jepara sudah berjalan cukup bagus. Seiring waktu berjalan, BBPBAP Jepara berhasil mencetak stok benih sampai saat ini sebanyak 15.000 ekor. Ditargetkan benih udang asli Indonesia hingga akhir tahun 2019 mencapai 30.000 ekor.Dalam kesempatan terpisah, salah satu Perekayasa Madya BBPBAP Jepara, Abidin Nur mengatakan, masalah indukan dan benih udang jerbung yang dikembangkan saat ini sudah siap dikembangkan di masyarakat. Sebab, indukannya (G-3) yang diperoleh melalui seleksi secara massal, ketika umur 7-8 bulan sudah bisa dikawinkan.“Apalagi, cara mendapatkan indukan juga tak sulit. Hampir di sejumlah perairan di tanah air mudah ditemukan udang jerbung. Karena itu, BBPBAP Jepara siap menyediakan stok benih udang jerbung bermutu bagi pembudidaya,” papar Abidin.Abidin juga mengatakan, induk unggul udang jerbung yang dihasilkan juga berstatus Specific Pathogen Free (SPF). Artinya, pertumbuhannya cepat dan lebih tahan terhadap perubahan lingkungan. Keberhasilan seleksi breeding tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan induk hasil tangkapan di alam, serta mengurangi risiko penyakit. Nah, saat ini KKP sedang melakukan uji multi lokasi untuk melihat performance yang dihasilkan untuk selanjutnya dapat ditingkatkan kualitas benih, penyiapan induk hingga ke sistem pembudidayaan yang paling tepat.Sumber : Tabloid Sinar Tani ...
Budidaya Udang Berbasis Lingkungan Menjadi Tumpuan Ekspor Perikanan
Udang

Budidaya Udang Berbasis Lingkungan Menjadi Tumpuan Ekspor Perikanan

Udang (vaname) masih menjadi salah satu komoditas unggulan ekspor Indonesia.  Pada tahun 2018, komoditas udang menyumbang devisa sebesar USD 1,27 miliar atau 36,96 persen dari total nilai ekspor perikanan. Sedangkan  dari volumenya, udang hanya menyumbang 18,35 persen dari keseluruhan volume ekspor komoditas perikanan.Guna meningkatkan target ekspor udang sebanyak 250% hingga tahun 2024 mendatang, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus melakukan percepatan budidaya udang di masyarakat. “Untuk mendukung program tersebut, Menteri Kelautan dan Perikanan telah meminta kepada saya untuk meningkatkan produksi udang dari tambak mulai dari yang tradisional dengan melakukan transfer teknologi kepada pembudidaya,” kata Dirjen Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, dalam sambutannya pada acara pelatihan bisnis budidaya udang vaname skala ekspor berbasis teknologi, di Jakarta, pekan lalu.Selain menggunakan teknologi, lanjut Slamet, KKP mendorong pembudidaya udang menerapkan SOP yang benar. “Seperti, sumber induk, sistem pembenihan, pengelolaan lingkungan hingga penanganan penyakit merupakan hal esensial yang harus diperhatikan dan diterapkan oleh pembudidaya,” ujar  Slamet.Slamet optimistis, dengan mengaplikasi peta jalan yang telah ditetapkan Ditjen Perikanan Budidaya, target peningkatan ekspor udang hingga 250% sampai 2024, kurun lima waktu ke depan bisa tercapai. “Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah investor, teknologi serta kecakapan pembudidaya dalam melakukan bisnis budidaya udang telah menunjukkan peningkatan yang menggembirakan,” ujarnya.Slamet mengakui,  keberhasilan program budidaya udang yang berkelanjutan ini tidak dapat dipisahkan dari peran serta berbagai pihak. Karena itu,  sinergitas lintas sektor terutama dari sisi makro seperti dukungan dan kebijakan pemerintah daerah serta ketersediaan listrik dan BBM sangat penting dalam pengembangan budidaya udang. “Sedangkan dari sisi mikro seperti kualitas benih dan pakan, penyiapan wadah budidaya, optimalisasi sarana produksi, hingga SDM yang mumpuni menjadi faktor yang menentukan keberhasilan dan keberlanjutan usaha,” kata Slamet.Guna mendorong budidaya udang di masyarakat, KKP selama ini telah melakukan terobosan dengan sejumlah program seperti  Pengelolaan Irigasi Tambak Partisipatif (PITAP), bantuan alat berat, bantuan benih, Asuransi Perikanan bagi Pembudidaya Ikan Kecil, dan penataan kawasan Budidaya Udang Berbasis Klasterisasi.Slamet mengatakan, KKP juga bekerjasama dengan Pemda Kabupaten Mamuju Utara (kini Kabupaten Pasangkayu) membangun tambak udang semi intensif berbasis klaster sebanyak 2 klaster seluas 8 hektar (ha) di Desa Sarjo, Kecamatan Sarjo. Hasilnya, produktivitas meningkat dari 50-200 kg/ha menjadi 5.000-10.000 kg/ha. SSelain itu ada pengembangan klaster kawasan budidaya udang  berkelanjutan di empat  Kabupaten wilayah utara,  yakni Kabupaten Buol (Sulawesi Tengah), Gorontalo Utara (Gorontalo), Bone Bolango (Gorontalo), dan Bolaang Mongondow (Sulawesi Utara) yang telah dituangkan dalam nota kesepahaman sebagai bentuk komitmen bersama.  “Sebagai diversifikasi komoditas, KKP juga telah mendorong pengembangan udang asli Indonesia seperti udang Jerbung (Penaeus merguensis) dan udang putih (Penaeus indicus) yang akan dimasyarakatkan lebih luas pada tahun mendatang,” ujarnya. Budidaya komoditas baru ini telah dilakukan uji multilokasi dengan hasil yang memuaskan dan dengan tingkat penyakit yang dapat dikendalikan hingga saat ini.  “Tentunya komoditas ini akan dimasyarakatkan dengan menganut sistem budidaya yang berbasis lingkungan serta berkelanjutan," ujar Slamet.Sumber : Tabloid Sinar tani ...
A Pioneering Perspective on Shrimp Genetics
Udang

A Pioneering Perspective on Shrimp Genetics

What inspired you to become involved in shrimp genetics?I’m a medical doctor by training, but I’ve always preferred research over the clinical practice. I was trained in immunogenetics in Boston, where I worked on projects that included designing new methods for histocompatibility testing in bone marrow transplantation. When I got back to Colombia, I joined CorpoGen, a biotechnology company that was pioneering molecular biology research in Colombia. Getting into the world of shrimp was an accident – inspired by the appearance of white spot syndrome virus (WSSV) on the Pacific coast of Colombia in 1999. At the time CENIACUA (The Center for Aquaculture Research in Colombia) asked Corpogen to implement the PCR diagnostic test for the pathogen and to help in the prevention and control of this virus. I was involved from the beginning and found a new, exciting field with an excellent team of young researchers. I was hired as scientific director of CENIACUA in 2000 and since then I have been researching shrimp diseases and genetics.What impact did becoming part of Benchmark have on your shrimp breeding programs?Becoming part of a big company that, from the beginning, believed in the potential of our shrimp was exciting. As CENIACUA we were mainly focused on achieving the breeding goals but did not have the resources to commercialize the product. As part of Benchmark we are focused on producing the best animals for the market conditions, using state-of-the-art technology and facilities, and on selling them to our customers, all within the scope of sustainability.Being part of the Benchmark also means we can count on the support and collaboration of other parts of the group, such as Morten Rye and his team at Akvaforsk Genetics; Oscar Hennig, Bruno Decock and the team in Asia, who are doing an incredible job of showing the potential of our animals under trials and commercial conditions; and working with INVE to create a synergy between genetics and nutrition that will help both companies. Learning from the experience of other breeding programs has enriched ours enormously too.I’m also proud to be working with one of the best teams you can find – we’ve been working together for many years and have people with experience in all fields of shrimp breeding. We are a multi-disciplinary team with experience in plant breeding, veterinary and human medicine, biology and genetics, which is important when dealing with shrimp – they always like to have the last word and the last laugh.What facilities do you have at your disposal?Our main laboratory is located on the Atlantic coast of Colombia, near Cartagena, and is isolated from all the country's other aquaculture facilities. The climate is optimal for the growth of P. vannamei, and we have plenty of space to expand and produce the number of broodstock required by the market. We also have access to a laboratory on the Pacific coast of Colombia where we can work with a white spot-resistant strain without compromising the biosecurity of the breeding nucleus. Meanwhile, our challenge test facilities are located in Bogotá, more than a 1000 km from the breeding nucleus, allowing us to safely work with pathogens that are exotic to Colombia.What areas are you currently focusing your research on?We are currently introducing genomic selection for resistance to white spot syndrome virus (WSSV) and acute hepatopancreatic necrosis disease (AHPND) in our populations. Our priority is to produce clean, safe, specific pathogen-free (SPF) animals with high growth potential, but these must also be resistant to pathogens and environmental conditions.What achievements are you most proud of in the shrimp field to date?We’re very proud of having been able to keep the breeding program going during very hard times. In terms of academic achievements, we described the effect of hyperthermia in WSSV infection, we showed that apoptosis is part of the antiviral shrimp response, we identified the negative correlation between growth and WSSV resistance in P. vannamei and we have been able to produce robust shrimp with high growth potential.Is the commercial shrimp sector increasingly interested in the power of genetics?Yes, although selective shrimp breeding is relatively recent compared to in species such as salmon, the market for broodstock has been steadily growing. The most reliable data on the export of genetically improved P. vannamei broodstock comes from Hawaii, home to some of the main breeding programs in the US. It shows that from 2003 to 2015, the numbers of broodstock increased from nearly 100,000 in 2003 to 800,000 in 2015. In 2017 the export value was nearly US$30 million. There are also several breeding programs in Asia that are growing year by yearWhat are the key traits sought by shrimp producers – both in your region and globally?The main trait targeted by shrimp producers in all regions is growth – we all need an animal that grows fast. In Latin America, the widespread use of large earthen ponds means that robustness is also a priority. In recent years, after several outbreaks of disease, Asia has also been looking for animals with high survival, making it a very interesting market for our SPF/SPR animals. The key lesson here is that one size does not fit all – not all broodstock are optimal for all conditions. In Punta Canoa, we are developing different lines – for example, early growth, low salinity, and WSSV-resistant – that can be distributed to different environments and culture conditions.Can you explain the difference between SPR, SPF, SPT and APE shrimp?Let’s start by classifying the four terms into two different groups: a) SPF and APE and b) SPR and SPT.The first group is based on the sanitary status of the breeders. Specific pathogen-free (SPF) animals are those that have been tested and determined to be free of designated pathogens. Under the guidelines established by USMFSP, SPF shrimp stocks must come from a population that has tested negative for specific pathogens for at least 24 months and must be raised in highly biosecure facilities, following biosecure management measures, with a suitable surveillance program in place that uses both molecular and histopathological tools. The key term here is “specific” – SPF does not mean they are free from all pathogens, so the relevant pathogens should always be listed. On the other hand, APE (all pathogens exposed) is a term used to describe animals that have been raised in ponds or tanks where they have been exposed to one or more pathogens – either via challenge tests or under culture conditions. The term is misleading because the animals will never be exposed to all pathogens, but is the term used at the moment. Those animals can be carriers of the pathogens and are a risk for transboundary movements.The second group of terms, specific pathogen resistant (SPR) and specific pathogen tolerant (SPT), refers to the way the shrimp deals with the pathogens. Resistance is defined as the ability to limit parasite burden, in other words, to fight the enemy. Tolerance, on the other hand, is the ability to limit the damage caused by a given parasite burden – in other words, to live with the enemy. They are two different types of defense against pathogens present in plants, invertebrates, and vertebrates, and both mechanisms can even be negatively correlated. In shrimp literature, there is a misconception that resistance is a qualitative trait and animals are either resistant or susceptible, while tolerance is a quantitative trait with different degrees of tolerance that can be affected by the environment. In reality, both traits are qualitative, and both can be affected by the environment. It is very difficult therefore to say if a given line is resistant or tolerant and the market is using the term SPR/SPT. As for SPFs, if a line is marketed as SPR or SPT it should list the pathogen(s), they are resistant or tolerant against.What are the main challenges the shrimp sector needs to overcome and which of these would you most like to have a role in solving? The main challenge for us is to produce a fast-growing shrimp that is not only resistant to pathogens but is also resilient under commercial culture conditions. Growth in shrimp has a very good heritability and is very easy to select for. However, the negative correlation of these traits with resistance to some pathogens, such as WSSV, and with environmental conditions, such as low oxygen levels, makes our work more interesting and challenging. It’s a question of how to increase growth rates without increasing mortality levels.Source: The Fish Site ...
Tackling White Spot And IHHNV
Udang

Tackling White Spot And IHHNV

The new test uses Australia’s national science agency’s ‘Shrimp MultiPath’ technology, commercialized by Brisbane start-up company Genics, which spun-out of CSIRO to tackle the global challenge of food security and quality. It comes as the domestic prawn farming industry recovers from losses from pathogens over the last three years.Dr. Melony Sellars, Genics CEO and former CSIRO scientist, said the technology comes at an opportune time for the domestic prawn farming industry after losses from pathogens over the last three years © CSIROThe technology can detect 13 commercially significant prawn diseases, including white spot syndrome, which wiped out many prawn populations in 2016, and infectious hypodermal and hematopoietic necrosis virus (IHHNV).According to CSIRO, trials to manage IHHNV using Shrimp MultiPath technology increased production by 3.7 tonnes per hectare, or $67,000 farm gate value. Consequently, a 50-hectare Australian prawn farm could see their revenues increase by more than $3 million per season.Prawn farms are located across northern New South Wales and Queensland, with around 750 hectares of prawn ponds. An increase of 3.7 tonnes per hectare could boost the yield of farmed prawns by around 50 percent.CSIRO chief executive Dr. Larry Marshall congratulated Genics on translating breakthrough research into marketplace benefit. “It’s great to see CSIRO science being accelerated out of the lab and into a start-up that could tackle our global food security challenge, a very clear public benefit,” Dr Marshall said.The new test can detect 13 significant pathogens including white spot and IHHNV © CSIROGenics CEO and former CSIRO scientist Dr. Melony Sellars said the technology comes at an opportune time for the domestic prawn farming industry, after losses from pathogens over the last three years.“Our tests quickly help prawn farmers make informed management decisions, and for consumers this means more, high quality, locally grown Australian prawns.”Australia consumes all of its domestically produced prawns, and foreign imports are required to meet the shortfall in consumer demand.Dr. Sellars said the tests will allow farmers to better manage their prawn stocks as they grow, helping them to minimize stock losses and significantly boost their production levels, which could reduce Australia’s reliance on imported prawns.Three years ago the southeast Queensland prawn industry – responsible for around 40 percent of Australia’s farmed prawns – was shut down by the foreign incursion of white spot syndrome virus, a pathogen that is harmless to humans but lethal to prawns.“Shrimp MultiPath tests against the white spot, as well as other international pathogens that we don’t currently have in Australia,” Dr. Sellars said. “This technology can also be used as a detection system by biosecurity agencies to prevent the spread of any potential future incursions that could harm our industry.”Source: The Fish Site ...
How to Tackle Major Shrimp Diseases
Udang

How to Tackle Major Shrimp Diseases

Andy Shinn, director of Fish Vet Group Asia, and a world renowned expert on aquatic parasites, believes that the shrimp sector can do more to limit the impact of those disease challenges that form the sector’s largest constraint.What are the current major shrimp diseases?The top three disease challenges in shrimp are WSSV (white spot syndrome virus), AHPND (acute hepatopancreatic necrosis disease) and EHP (Enterocytozoon hepatopenaei).These are all exacerbated by man - the Asian shrimp industry has a mindset that must change. This includes taking responsibility for the health and welfare of the stocks in their care.It is vital that fish farm operatives who are responsible for farmed fish are trained in their health and welfare. This will help to ensure that fish are free from disease and suffering whilst at the same time promote good productivity and comply with legislation.In a cultural context, this can be complicated and, while it perhaps unfair to overgeneralise, the following factors may contribute to increased rates of certain diseases:Farm management: the vast majority (ca. 80%) of Asian shrimp farms are of a small size which means that farm budgets are limited. In many states there is no mandatory disease testing of shrimp leaving hatcheries or being added to ponds.Water management: there is a vast range of farm systems in operation from open, extensive through to intensive, closed systems – for those sharing common water sources (e.g. rivers and lakes), the challenges of maintaining biosecurity are greater as good site health is in part also dictated by the level of biosecurity practiced by a farm’s neighbours.Biosecurity: the scale of culture systems are such that the implementation of biosecurity measures are either physically difficult or expensive.Health surveillance: the general rate of health surveillance of stocked populations is low - many governments offer a free diagnostic service which somewhat arguably shifts some of the responsibilities of health management; in many states there are low, or in some states there are no stock movement records. There is also no compulsory destruction of diseased stocks which means the probability for pathogens to persist and to spread is higher. Andy Shinn, director of Fish Vet Group Asia, is a world renowned expert on aquatic parasites How is the industry working to tackle these challenges?There are a number of preventative management initiatives that have helped to reduce the challenge of disease such as:1.       Lining of ponds with polyethylene liners2.       Installation of shrimp toilets to collect and remove faecal waste uneaten feed, moults etc3.       Better pond bottom management through the use of toilets and by observing the distribution of sludge following the draining of ponds and then redeploying aerators to ensure proper pond bottom cleaning4.       Cleaning and maintenance of liners5.       Water treatment6.       Installation of crab and bird predator nets7.       Stocking with shrimp that have been genetically selected to be more resistant to disease.There is, however, much to do, such as:1.       Greater awareness of the routes of shrimp diseases2.       Disease testing prior to stocking and throughout the production cycles3.       Increased biosecurity4.       Use of functional feeds that include ingredients that help promote general gut and shrimp health5.       Breeding of specific pathogen resistant shrimp lines6.       Closed system farms that are less susceptible to contamination and good on site water management.Unfortunately farm production economics all too frequently overrides health and biosecurity management.We recently took part in a study, looking at the probability of a disease outbreak, the intensity of production and the investment in biosecurity measures. Perhaps not surprisingly, in systems with a low intensity of production, with no or low biosecurity, there are high probabilities of disease outbreaks, but these losses are generally low when outbreaks occur.By comparison, for systems with high intensity production and with high levels of investment in biosecurity, there are low probabilities of disease outbreaks, however, the losses can be extremely high when disease events do occur.Do you think it's possible to eradicate any of the major shrimp diseases?I think eradication is unrealistic. Some of the bacterial and viral agents are so ubiquitous in their infection, that their eradication is unlikely. The potential for viruses to mutate and for bacteria to acquire transposable disease elements which may change their current pathogenecities are also a concern.In most cases the best we can do is develop programmes of better management and control to minimise the magnitude and frequency of disease episodes and loss.We stand on the edge of a great sea of possibilities, with the right tools we can glide across it or without them remain on the shore wondering what opportunities may have been missedWhat diseases are on the horizon?Predicting the unpredictable is difficult, but we can learn from past experiences where certain threats may arise. We need to be prepared and to have in place the tools for surveillance and for the early detection of new threats.As global aquaculture operations continue to intensify, greater environmental pressures placed on viral and bacterial communities may consequentially lead to the emergence of new isolates with increased virulence.With that said, we are aware of some more immediate threats such as SHIV (shrimp hemocyte iridescent) which is causing losses in China. Again we need to be vigilant and to ensure our programmes of surveillance include the necessary tests to detect this pathogen in any given population.How do you see disease management evolving?I see more sophisticated whiteleg shrimp farms and management in the future. There will always be challenges in any biological system, but the implementation of new technologies and better management can help to reduce risks and create more sustainable systems.There are a number of disciplines that I see as important in moving this forward:1.       Data and the continued development of farm analytics which increases farm efficiency.2.       Genetic technologies to breed stronger shrimp that are more robust and have a higher level resistance to disease.3.       Diagnostic methods with increased sensitivity, specifically detection of pathogens at lower levels which would thereby detect the initial stages of infection and simultaneous diagnosis of multiple diseases.4.       In-pond sensing – the use of eDNA approaches to monitor the health of cultured populations and in the early detection of potentially pathogenic agents. 5.       Improved welfare standards in commercial production - such as ending eyestalk ablation to stimulate maturation, and introducing more humane methods of slaughter.Source : The Fish Site ...
Optimalkan Produksi Udang, Berdayakan Petambak Tradisional
Udang

Optimalkan Produksi Udang, Berdayakan Petambak Tradisional

Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo perwakilan masyarakat perudangan didampingi Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto, di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jumat (8/11). Diantara  pelaku perudangan yang hadir adalah Iwan Sutanto – Ketua Umum Shrimp Club Indonesia (SCI), Rizki Dharmawa - Ketua Petambak Muda Indonesia (PMI), dan Budhi Wibowo - Ketua Asosiasiasi Pengusaha Pengolah dan Pemasar Hasil Perikanan Indonesia (AP5I).Iwan Sutanto mengungkapkan, budidaya udang di Indonesia kerap menghadapi kendala penyakit. Akibatnya banyak pembudidaya yang gagal panen.Namun, Indonesia cukup beruntung tidak terkena wabah early mortality syndrome (EMS) di saat negara lain seperti Tiongkok terjangkit wabah penyakit tersebut. Bahkan akibat wabah penyakit tersebut, produksi udang China berkurang hingga 1 juta ton per tahun. Guna mencegah penyakit serupa masuk ke Indonesia, pelaku usaha budidaya berharap agar KKP mengeluarkan aturan-aturan terkait pencegahan penyakit dan melanjutkan task force yang tengah dilakukan bersama dengan stakeholder perudangan nasional.Harapan ini disampaikannya kepada KKP karena selama ini Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) dinilai telah banyak membantu persoalan yang dihadapi para pelaku usaha budidaya. Termasuk salah satunya saat produk udang Indonesia ditahan Amerika Serikat (AS) akibat tuduhan subsidi. Selain itu menurutnya, budidaya udang Indonesia harus didorong karena udang merupakan salah satu komoditas perikanan budidaya andalan utama Indonesia. “Bicara ekspor, ya pasti mengarah ke udang karena 60% dari ekspor udang Indonesia adalah udang hasil budidaya. Bahkan nilainya di atas tuna," jelas dia. Ia pun menyebut, dari angka 60% tersebut, separuhnya diproduksi oleh anggota SCI. “Budidaya udang ini memang tempatnya mencari uang dan devisa. Di usaha ini pula kita bisa ciptakan banyak entrepreneur baru,” lanjutnya. Akan tetapi Iwan menyebut, selama ini pihaknya mengalami sedikit kesulitan dalam perizinan budidaya udang akibat kurangnya harmonisasi kebijakan pusat dan daerah. Akibatnya, di tahun 2019 ini 7 perusahaan tambak udang intensif di Kabupaten Pesisir Selatan Lampung terpaksa berhenti beroperasi.Senada dengan Iwan, Ketua AP5I Budhi Wibowo membenarkan bahwa udang merupakan komoditas dengan potensi perdagangan ekspor yang sangat besar. Menurutnya, ekspor udang Indonesia kurang lebih USD 1,8 miliar per tahun dengan jumlah lebih dari 200.000 ton. AP5I sendiri menurutnya mengolah udang dari pembudidaya udang sebesar kurang lebih 350.000 ton. Padahal menurutnya, AP5I memiliki kapasitas mesin pengolah sebesar 550.000 ton. “Jadi kami masih kekurangan bahan baku kurang lebih 200.000 ton. Nah, ini yang menyebabkan kami sulit bersaing di pasar internasional karena kapasitas dan utilitas kami hanya 60%,” paparnya. “Kami dengar, perikanan budidaya merupakan salah satu fokus pembangunan KKP saat ini. Semoga kedepannya produksi budidaya udang dapat meningkat,” harapnya.Menjawab harapan pelaku usaha budidaya tersebut, Menteri Edhy menegaskan bahwa sektor budidaya memang akan menjadi prioritas. Oleh karena itu, akan dilakukan optimalisasi salah satunya dengan penyediaan teknologi yang mumpuni dan berkelanjutan. Menteri Edhy juga meminta pelaku usaha tambak intensif untuk memberikan pembinaan terhadap pembudidaya tradisional. “Masa iya budidaya intensif bisa 50 ton setahun, sedangkan tambak tradisional hanya 1 ton per tahun? Saya mohon masukan bapak-bapak bagaimana menaikkan ini minimal per tahun/ha jadi 5 ton saja tambak tradisional,” ucapnya. Menanggapi Menteri Edhy, PMI Rizky Darmawan menyatakan siap membantu meningkatkan teknologi budidaya pada tambak tradisional. Namun menurutnya, sebenarnya tidak ada masalah pada kualitas udang hasil produksi petambak tradisional. Terkait harga yang kurang bisa bersaing di pasar internasional, PMI memandang perlu peningkatan strategi promosi. PMI siap membantu karena hampir semua anggota PMI tamatan luar negeri dan mempunyai jaringan dan informasi yang luas di luar negeri. “Intinya konteks kita sekarang saat bicara pembudidaya kecil adalah pembinaan.  Ini yang akan menjadi fokus kita ke depan,” tutup Menteri EdhyArtikel Asli : Trobos Aqua ...
Study of Co-Infection of WSSV and Vibrio Parahaemolyticus
Udang

Study of Co-Infection of WSSV and Vibrio Parahaemolyticus

Results show a risk factor for AHPND in Pacific white shrimpResults of this study demonstrated that shrimp initially exposed to WSSV allow VpAHPND to cause faster and higher mortality than in shrimp infected with VpAHPND alone. Photo by Fernando Huerta.Acute hepatopancreatic necrosis disease (AHPND), caused by specific strains of the bacterium Vibrio parahaemolyticus (VpAHPND), has been reported in shrimp cultured in Southeast Asia and the Americas since 2009. The clinical signs of the disease include atrophied hepatopancreas (HP), an empty gastrointestinal tract, a milky appearance of the stomach and lethargy. This bacterial disease has caused up to 100 percent mortality in populations of farmed Pacific white shrimp (Penaeus vannamei) and black tiger shrimp (P. monodon), and collective economic losses due to AHPND and other shrimp diseases are estimated at $23.6 billion globally with a further loss of $7 billion in feed sales.In some cases, VpAHPND has been reported in co-infection with the spore-forming microsporidian Enterocytozoon hepatopenaei (EHP). Although EHP does not appear to cause mortality, EHP-infected animals would be more vulnerable to AHPND, which may cause substantial mortality in shrimp ponds. And EHP-infected shrimp have an increased susceptibility to VpAHPND, suggesting that shrimp weakened by EHP would succumb to secondary pathogens, such as VpAHPND.For several years, white spot syndrome virus (WSSV) has spread worldwide throughout much of Asia, the Americas, Europe, Africa, Middle East and Australia. In some cases, WSSV has been detected in healthy animals without clinical symptoms or mortalities, indicating that infection by WSSV does not necessarily result in high mortality, and secondary infection by opportunistic pathogens, such as Vibrio spp., would expedite the onset of the disease.In 2017, P. vannamei mortality rates of up to 60 percent were reported in the Philippines. The shrimp exhibited clinical signs of AHPND but were confirmed by PCR to be positive for both VpAHPND and WSSV. From this case, we hypothesized that WSSV infection without clinical symptoms would allow VpAHPND to cause faster and higher mortality of pond cultured shrimp than those infected with VpAHPND alone.This article – adapted and summarized from the original – reports on a study designed to support this hypothesis by simulating the co-infection with WSSV and VpAHPND in juvenile shrimp P. vannamei under laboratory conditions. As a result, we demonstrated that shrimp initially exposed to WSSV were easily infected by VpAHPND, but hardly recovered from the disease according to histopathology examination. In addition, using qPCR assay and immunohistochemistry [IHC; the most common application of immunostaining, involving the process of selectively identifying antigens (proteins) in cells of a tissue section using the binding of antibodies specifically to antigens in biological tissues] examination, we determined that WSSV infection could be accelerated by the secondary VpAHPND infection. This work was supported by the National Research Foundation of Korea (NRF) grant funded by the Korea government (MSIT) (grant number NRF-2018R1C1B5086350).Study setupPostlarval P. vannamei were sourced from a local shrimp farm (Jeju Province, South Korea) and transported to the Institute of Marine Sciences of Jeju National University in South Korea. Shrimp were reared to an average weight of 0.5 ± 0.05 grams in 96-liter maintenance tanks with aerated artificial seawater at 25 to 28 degrees-C and 30 ppt salinity. For the co-infection experiment, juvenile shrimp (average 0.5 grams, N=80) were randomly selected from the maintenance tanks and distributed into experimental tanks. Before the co-infection experiment, representative shrimp were randomly selected and confirmed to be negative for both WSSV and VpAHPND by PCR.For WSSV stocks, moribund P. vannamei with white spots on their cuticles were collected from an anonymous shrimp farm in Chungcheong Province located on the western coast of Korea. For VpAHPND bacterial stocks, the strain 13–028/A3 was previously isolated from the stomach of moribund P. vannamei from a farm in Vietnam and displaying whitish hepatopancreases (HP).For detailed information on the experimental designs for WSSV and VpAHPND co-infection; qPCR assays; IHC examination of the gill tissues; histopathology examination of the HP tissues; and statistical analyses, please refer to the original publication.Results and discussionWe studied co-infection with WSSV and VpAHPND in juvenile P. vannamei shrimp under laboratory condition, and the mortality rates were compared with single infection groups.Our results showed that co-infection accelerated shrimp mortality compared with single infection (Fig. 1). We observed 0 percent mortality Group 1 (WSSV only), and cumulative mortality was 50 percent at day 4 post-infection (p.i.) in Group 2 (VpAHPND only). However, the mortality rate increased significantly in Group 3 (WSSV+VpAHPND) compared with the other groups (p < .05). In Group 3, the shrimp began to show mortality at day 2 p.i., and cumulative mortality reached 75 percent at day 3 p.i. During the 10-day experimental period, no mortality was observed in the negative control (Group 4, not challenged).Fig. 1: Cumulative mortality of P. vannamei after challenge with WSSV and VpAHPND (Group 1: WSSV only; Group 2: VpAHPND only; Group 3: WSSV + VpAHPND; Group 4: not challenged). The mortality rate was significantly increased in the co-infection group (Group 3) compared with the single infection groups (Groups 1 and 2). Different letters indicate significant differences in survival at the termination day (day 10) (P < .05).Our results also showed that co-infection increased the level of WSSV infection, which was confirmed via qPCR and IHC, and the levels of WSSV infection were markedly different between Group 1 (WSSV only) and Group 3 (WSSV + VpAHPND) on the termination day (Day 10). Based on qPCR analysis, WSSV was detected in shrimp in Group 3 (WSSV+VpAHPND) but WSSV was negative in shrimp exposed to WSSV only (Group 1). Also, by IHC examination, brown coloration against pink cytoplasm and purple nuclei, indicative WSSV-positive reactions were observed in the shrimp of Group 3 (WSSV+VpAHPND) (Fig. 2D) similar to the WSSV-positive sample previously prepared in the preliminary study (Fig. 2B). However, these WSSV-positive reactions were not seen in the shrimp exposed to WSSV alone (Group 1; Fig. 2A) and the negative control (Group 4, not challenged; Fig. 2C).Co-infection decreased the recovery of VpAHPND infection. All experimental shrimp showed typical clinical symptoms of AHPND, including pale HP and empty gut, within three to four days after infection in Group 2 (VpAHPND only) and Group 3 (WSSV+VpAHPND), and VpAHPND infection was confirmed by qPCR and histopathology examination. From the qPCR analysis, VpAHPND was detected in dead shrimp collected from both Group 2 (VpAHPND only) and Group 3 (WSSV+VpAHPND) on Day 3 and 4.By histopathology examination, representative shrimp from both Group 2 (VpAHPND only) and Group 3 (WSSV + VpAHPND) showed a typical terminal phase, characterized by massive bacterial infection and sloughing of hepatopancreatic tubule epithelial cells at the level of G3-4 (grade 4 is the most severe) on Day 3.Fig. 2: Immunohistochemistry (IHC) examination from shrimp infected with white spot syndrome virus (WSSV). (A) Negative control (Group 4): no WSSV-infected cells in gills of P. vannamei. (B) Positive control: WSSV-positive cells in gills of P. vannamei infected with WSSV tissue by the feeding method. (C) WSSV control (Group 1): no WSSV-infected cells in gills of P. vannamei infected with WSSV by the immersion method. (D) WSSV and VpAHPNDco-infection (Group 3): WSSV-positive cells in gills of P. vannamei pre-infected with the WSSV and post-challenged with the secondary pathogen, VpAHPND. Hematoxylin counterstain. Scale bar: 40 μm.However, on the termination day (day 10), a remarkable difference in the histopathology of the HP of surviving shrimp was seen between group 2 (VpAHPND only) and Group 3 (WSSV+VpAHPND). Histopathology signs of the group 2 (VpAHPND only) survivors had an HP of normal appearance, and normal functions of B and R cells (Fig. 3B), the same as the negative control (Group 4, Fig. 3A). To the contrary, Group 3 (WSSV+VpAHPND) survivors showed typical AHPND histopathology signs in the HP, with massive bacterial infection and sloughing of hepatopancreatic tubule epithelial cells of G4 severity (Fig. 3C).Fig. 3: Histopathology examination using Davidson’s AFA-fixed tissue sections from shrimp infected with VpAHPND, on the termination day (Day 10). (A) Negative control (Group 4): normal appearance of the hepatopancreas. (B) AHPND control (Group 2): normal appearance of the hepatopancreas with normal function of B and R cells. (C) WSSV and VpAHPND co-infection (Group 3): the typical acute phase with progressive necrosis and massive sloughing of hepatopancreatic tubule epithelial cells. Mayer-Bennett’s hematoxylin/eosin-phloxine (H&E) staining. Scale bar: 180 μm.Infections with multiple pathogens (co-infection) are common in practical shrimp cultures. Several cases of shrimp vibriosis with WSSV infection have been reported with various penaeid species in different countries. There has been no prior detailed analysis on the roles of these pathogens in shrimp co-infected with WSSV and Vibrio. In shrimp farms, the WSSV infection without symptoms or mortality probably causes shrimp weakening and might trigger the VpAHPND infection.We also observed declines in antioxidant and antiperoxidative enzymes in shrimp infected with VpAHPND, similar to WSSV in our ongoing study, and we suspect that VpAHPND infection may also have compromised the animals, increasing their susceptibility to other pathogens in ponds.Intramuscular (IM) routes have been widely used for experimental infection of shrimp with WSSV. However, IM injection has not been considered as an infection route of VpAHPND. In addition, per os feeding can produce both WSSV and VpAHPND infection, but this is not a practical method for the dual-infection experiments because experimental shrimp were supposed to be infected twice within short intervals. Therefore, for the current bioassay, we selected the immersion (waterborne) method to co-infect shrimp with WSSV and VpAHPND. The synergistic effects influenced by the same infection routes have already been confirmed between WSSV and Vibrio spp.PerspectivesTo the best of our knowledge, our study is the first to examine the co-infection of WSSV and VpAHPND under laboratory conditions. In ponds, shrimp that were infected with WSSV (or other pathogens) did not always show clinical signs or mortalities. In those cases, even WSSV-positive shrimp without any clinical symptoms may cause higher and faster mortality than their disease-free counterparts, and the shrimp would hardly recover from the disease following a secondary infection, such as VpAHPND. Also, the secondary infection would provoke WSSV infection or virus replication, as confirmed in the present study. Therefore, shrimp farmers should pay attention to the management of multiple infections (WSSV or other pathogens) in their ponds to prevent further losses in shrimp production.Source : Global Aquaculture Alliance ...
EMS, EHP Cases ‘have Doubled or Tripled’ at Southeast Asian Shrimp Hatcheries in 2019
Udang

EMS, EHP Cases ‘have Doubled or Tripled’ at Southeast Asian Shrimp Hatcheries in 2019

Southeast Asia's shrimp industry is suffering from the growing threat of Enterocytozoon hepatopenaei (EHP) as well as the long-running issue of early mortality syndrome (EMS), alongside a number of other diseases this year, according to Loc Tran of Vietnam’s ShrimpVet Laboratory.Although EMS and EHP were found in 8% and 4% of post-larvae (PL) samples back in the first quarter of 2018, those figures “have already doubled or even tripled this year", Tran said. At least 10% of PLs sampled by ShrimpVet this year have either EMS or EHP, meaning there has been an accumulation of both in the hatchery system."And in the grow-out ponds, we find at least 50% of the sample has got either EMS, or EHP, or both, meaning that we have a really established pathogen," Tran told listeners at the Global Outlook for Aquaculture Leadership conference (GOAL) held in Chennai recently.In addition, ShrimpVet has found that early exposure to EHP also makes shrimp more susceptive to white feces disease (WFD), which Tran said was now the biggest problem in Asian shrimp aquaculture, especially in India, Thailand, Malaysia, and Indonesia."Vibriosis is the primary agent of white feces, there's no doubt about that, however, pre-infection of EHP will increase the severity of white feces, making the animal more susceptible to this vibrio," Tran told listeners in Chennai.In the field, vibriosis alone is treatable -- but ShrimpVet Laboratory has demonstrated that a combination of EHP and vibriosis is not.Fermented soybean and corn protein concentrate has been proven as an effective countermeasure to vibrio, by depriving them of the nutrients needed in shrimp guts, thereby flushing them from the system, Tran said.He added that advances in waste management, probiotic use, and prophylaxis had reduced the presence of EMS in Vietnam this year, although the disease is still a serious issue in other parts of Southeast Asia and Latin America.In order to best prevent bacterial diseases like EMS and WFD, Tran suggested reducing feed by 50% for three to five days upon first encountering the disease, before flushing out bottom waste and replacing with fresh water; "this is why it's very important to have a freshwater reservoir on the farm".Reducing algal density and doubling probiotic and fermented feed use is also recommended by shrimp health expert Tran.Tran advised that farmers should also take steps throughout their supply chain to reduce the risk of EHP exposure. For instance, checking all inputs before feeding PL broodstock can have a significant impact — bloodworms are one of the biggest potential sources of EHP into the system, although freezing them will reduce the maternity rate of shrimp broodstock by 30%, he said.Using plastic pond linings can also reduce the risk of EHP, although surface water during monsoon season can still introduce the pathogen into the farm. But the most effective method, Tran said, is to constantly check the average daily gain (ADG) of one’s shrimp, employing a PCR (polymerase chain reaction) test for samples showing reduced growth."I would say the most important thing you can do is check for ADG very carefully. We know that new genetic lines can reach 0.3-0.4 grams per day easily, so if we have some abnormal stunted growth like 0.2 or 0.15 grams, we must consider sending a sample for checking. And if it’s EHP positive, we would consider an early harvest."Shrimp hemocyte iridescent virus (SHIV) remains a growing threat in the region, he noted; the disease has so far been confirmed in China and Thailand, although Tran was unwilling to comment on other countries where the disease had been encountered. Nevertheless, transporting livestock and bloodworm feed carries a high risk of moving the new pathogen across Southeast Asia, while mortalities in SHIV infected ponds usually happen in association with bad water quality and environmental conditions, he said.However, challenge studies conducted by ShrimpVet Laboratory using SHIV infected tissues did not cause significant mortality, Tran noted, although he was unsure if they had caught the right toxin strain. “In the past few years, our laboratory has demonstrated that we could provide an entire shrimp supply chain with a doable antibiotics-free situation,” Tran said, emphasizing the potential of fermented feed, functional feeds, and probiotics to serve as viable alternatives. “We can make shrimp farming much more science-based, controllable, more predictable and more cost-effective. We can’t stop the shrimp price from changing, but we can fix our farm to make it more sustainable.”Source : Undercurrent News ...
Integrated Farming of Mullet Improves Vannamei Growth
Udang

Integrated Farming of Mullet Improves Vannamei Growth

A recent study showed that polyculture can improve the growth of Pacific white shrimp in the Biofloc system.Currently, vannamei shrimp ( Litopenaeus vannamei ) are the subject of gradually replacing black tiger shrimp in intensive farming areas. However, in recent years, due to the impacts of climate change, environmental pollution has led to an increasingly difficult farming situation. At the same time requires strict treatment of waste water discharged into the environment to ensure not negatively affecting the ecosystem, so people tend to shift gradually to biofloc technology, a sustainable development model that both improves productivity and minimize water change, ensure the environment.Also read: Benefits When Farming Integrated Shrimp SeaweedBiofloc technology is currently the leading technology contributing to the production of vannamei shrimp in Vietnam and around the world. However, shrimp / fish farming in the biofloc system may face some obstacles, especially the high concentration of solids produced. Excessive accumulation of suspended solids in water can reduce shrimp growth and therefore these solid wastes need to be removed from the system. The removed solids are waste products rich in nitrogen and phosphorus ... if not utilized it will cause waste as well as environmental pollution.To solve these problems, a recent study by Manh N. Hoang et al. (2018) shows that Pacific white shrimp polyculture and mullet (Mugil cephalus ) are integrated in a system. biofloc is a sustainable farming model and brings higher productivity.The biofloc system integrates mullet and vannamei farmingThis study aimed to evaluate the effectiveness of the different stocking densities of the mullet (Mugil cephalus ) integrated with Pacific white shrimp (Litopenaeus vannamei), cultured for 75 days in the biofloc system. Shrimp were reared at a density of 300 fish / tank and mullet were reared in 4 different densities: 0, 10, 20 and 30% biomass. The initial weight is 0.5 and 1.5 g respectively for shrimp and fish. Shrimp were fed four times a day using commercial pellet feed.ResultThe results showed that at the density of 10% biomass for the best shrimp growth performance corresponding to 0.14g / day and FCR of 1.06, and the total biomass obtained after the experiment was higher than the treatments. wake up.The conversion rate of nutrients in integrated shrimp and mullet farming retains 30.41 - 40.32% of total nitrogen feed intake and 25.26 - 33.54% of total phosphorus intake, a significant difference. told between treatments. At the end of the experiment, the mean values ​​of water quality parameters were not significantly different (p> 0.05) between treatments, except for TSS, TAN, NO 2 -N. Also read: Evaluating Compensatory Growth in Pacific White Shrimp in a Biofloc SystemThe results indicate that mullet can be farmed with vannamei with a stocking density of 10% of shrimp biomass to improve water quality, overall productivity and nutrient utilization efficiency. The addition of mullet to the biofloc system in shrimp ponds helps reduce nitrogen and phosphorus concentrations in the outlet water, thereby contributing to reducing costs during the culture process. The model of shrimp and mullet farming in Vietnam has been applied and developed in various forms such as: raising mullet to make use of shrimp water, raising mullet in settling / filtering ponds or combining farming. However, the integration of fish-shrimp farming in biofloc systems is not much, so the results from the study provide basic information to apply in practice to ensure biosecurity and reduce production costs in farming process.Source : Tepbac ...
Ekspor Udang Ditargetkan Naik 250%
Udang

Ekspor Udang Ditargetkan Naik 250%

Pemerintah mematok target ekspor udang sebesar 250% pada 5 tahun ke depan.Sebagaimana dinyatakan oleh Direktur Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) Slamet Soebjakto di sela  acara "Shrimp Farmer Day" yang digelar di arena Aquatica Asia dan Indoaqua Conference & Expo 2019 pada kamis (7/11).“Udang sebagai komoditas perikanan yang mempunyai nilai ekspor tertinggi secara nominal. Jika secara volume adalah tuna yang terbesar, namun nilai nominal ekspor tuna kalah dengan udang. Maka dari itu. Kami akan buat road map lima tahun kedepan untuk pencapaian target tersebut. Setelah acara ini secepatnya kita akan kumpulkan seluruh stakeholder untuk kelanjutannya. MenKP justru ingin lebih karena melihat potensi yang kita miliki,” urai dia.Slamet mengaku terinspirasi oleh India yang mampu menggenjot tinggi produksi udangnya dengan dukungan kebijakan pemerintah dan peran serta masyarakat sehingga bisa dibentuk road map .“Kelanjutannya jika sudah dibuat road map maka kita minta SCI dan kawan-kawan mendorong bersama jadi Perpres. Dengan dibuatnya road map industri udang akan ada dukungan antar instansi kementerian lain. Kita akan mintakan juga penganggarannya,” dia menerangkan. Slamet juga berharap terjalin kerjasama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk pengembangan udang, dalam bentuk revitalisasi irigasi untuk 5 tahun mendatang. Kolaborasi antar kementerian dan stakeholder menjadi prioritas, karena perudangan sudah masuk sebagai salah satu visi presiden.Artikel Asli : Trobos Aqua ...
Ambisi Genjot Udang 250%, Investasi Tambak Harus Dipermudah
Udang

Ambisi Genjot Udang 250%, Investasi Tambak Harus Dipermudah

Target pemerintah untuk menggenjot volume ekspor udang hingga 250 % dapat dicapai jika investasi tambak udang dipermudah.Hal itu terungkap pada pengukuhan Pengurus Forum Komunikasi Praktisi Akuakultur (FKPA) masa bakti 2019-2024 di Bandar Lampung, Kamis (6/11) oleh Kepala Balai Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Lampung Rusnanto.  “Kita, investor tambak udang mendukung penuh program pemerintah pusat yang menargetkan kenaikan ekspor udang hingga dua setengah kali lipat dari sekarang,” ujar Ketua Shrimp Club Lampung (SCL) Ali Kukuh yang memberi sambutan pada acara tersebut.Target tersebut, lanjut Ali, bisa tercapai jika pemerintah mempermudah investasi tambak udang. Investor tidak minta keringanan atau pun pembebasan pajak seperti pada investasi sektor lainnya. Yang diharapkan petambak hanya penyederhanaan perizinan,  karena banyak pemerintah daerah yang menerbitkan berbagai peraturan memberatkan investor.Dicontohkan, adanya Perbup Lampung Selatan soal kewajiban mengurus IMB tambak. Tidak saja bagi tambak yang akan dibangun, tetapi juga tambak yang sudah beroperasi sejak tahun 1990-an pun harus mengurus dan membayar biaya IMB-nya.Ali menegaskan, proses perizinan yang begitu rumit dan berbelit-belit menjadi kendala utama dalam pengembangan tambak baru. “Jadi program KKP tersebut akan terealisasi jika ada harmonisasi dan penyederhanaan peraturan dari pusat hingga ke daerah. Jangan sebaliknya, pemerintah pusat mempermudah perizinan, di daerah malah mempersulit. Ini tentu tidak sejalan,” tambahnya mengingatkan.Fasilitasi LahanSenada dengan Ali Kukuh, Ketua Ikatan Petambak Pantai Barat Sumatera (IPPBS) Agusri Syarief menyatakan, untuk mencapai target tersebut terdapat empat komponen yang harus tersedia, yakni modal, SDM, teknologi dan lahan. Untuk modal, teknologi dan SDM, petambak mampu menyediakannya. Bahkan banyak investor tambak yang tidak menggunakan kredit perbankan dalam membangun tambak baru karena perbankan menilai usaha tambak berisiko tinggi.Namun untuk lahan, Agus berharap, pemerintah memfasilitasi melalui penyederhanaan peraturan dan perizinan sehingga investor tidak mengalami kesulitan untuk membuka tambak baru. Termasuk kepastian rencana umum tata ruang (RUTR) agar pengusaha bisa menyusun rencana pegembangan usaha yang detail.Kesulitan soal perijinan dan ketidakjelasan tata ruang yang diungkapkan Ali Kukuh dan Agusri itu seakan ironi dengan fakta prestasi produksi udang dan kontribusi nilai ekspor udang di Lampung. Kepala Balai Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Lampung Rusnanto menyatakan, potensi lahan untuk tambak udang di Lampung mencapai 64 ribu ha, baru 10% yang sudah dimanfaatkan. Namun kenyataannya, Lampung sudah menempati daftar 10 provinsi produsen udang terbesar nasional.“Dengan hanya memanfaatkan 10% potensi lahan, nilai ekspor udang dari Lampung mencapai Rp 2 triliun per tahun dan merupakan komoditas ekspor terbesar dengan kontribusi sebesar 70% dari total ekspor provinsi Lampung,” urai Rusnanto saat menyampaikan sambutan.Hingga September 2019, Lampung sudah mengekspor udang sebanyak Rp 1,5 triliun. Ia berharap hingga akhir tahun total nilai ekspor udang Lampung melampaui Rp 2 triliun, atau minimal sama dengan tahun lalu.Fasilitasi LahanSenada dengan Ali Kukuh, Ketua Ikatan Petambak Pantai Barat Sumatera (IPPBS) Agusri Syarief menyatakan, sebagai pelaku usaha udang pihaknya mendukung sepenuhnya program KKP yang disampaikan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto pada Seminar Udang di IPB Bogor, baru-baru ini.Agus berharap, pemerintah memfasilitasi melalui penyederhanaan peraturan dan perizinan sehingga investor tidak mengalami kesulitan untuk membuka tambak baru. Termasuk kepastian rencana umum tata ruang (RUTR) agar pengusaha bisa menyusun rencana pegembangan usaha yang detail. Ia mengakui, belakangan ini usaha tambak udang banyak menghadapi kendala, seiring banyaknya serangan penyakit dan jatuhnya harga jual udang. Tetapi Agus yakin, dengan sinergi antara pelaku usaha (investor), praktisi (anggota FKPA) dan pemerintah, ke depan penyakit bisa dikendalikan.Artikel Asli : Trobos Aqua ...
Berharap Produksi Udang Naik 250%
Udang

Berharap Produksi Udang Naik 250%

Produksi udang diharapkan naik hingga 250% atau 2,5 kali lipat sampai tahun 2024, sebagaimana instruksi presiden untuk menggenjot ekspor perikanan untuk menambah devisa ekspor Indonesia.Dikatakan oleh Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto di sela-sela acara Aquaculture Festival 2019 yang diadakan Himpunan Mahasiswa Akuakultur (Himakua) IPB di Baranangsiang, Bogor (20/10), udang merupakan komoditas unggulan yang bisa menggenjot rencana strategis selama lima tahun ke depan. Target itu, lanjut Slamet, akan dihasilkan dari semua jenis komoditas udang yang di budidayakan. Baik udang vaname, windu, bahkan merguiensis.Produksi udang vaname diharapkan bisa menggenjot dari sisi volume produksi, sementara udang windu diharapkan bisa menggenjot nilainya karena harganya yang premium. Terutama untuk udang windu organik. "Sementara margeuinsis itu dia antara vaname dan windu. Sifatnya tengah-tengah. Jadi nanti pengembangannya semi intensif," katanya.Dalam acara yg sama, Sekretaris Jenderal Shrimp Club Indonesia I Nengah Sarjana membenarkan bahwa, untuk saat ini industri udang merupakan sektor yang paling siap sebagai penyumbang devisa.Tetapi menurutnya, penyakit masih menjadi kendala dalam meningkatkan produksi. Ia mengatakan bahwa persentase penambahan lahan produksi belum diimbangi dengan persentase hasil produksi yang sama. "Lahan tambak bertambah 10 persen tiap tahunnya, tapi tidak serta merta menambah produksi 10 persen juga," ungkapnya. Sehingga ia bersama para petambak lain terus berusaha mencari teknologi dan terobosan terbaru dalam menghadapi tantangan penyakit ini. Artikel Asli : Trobos Aqua ...
Lysozyme Stimulates Growth and Immunity in Vannamei Shrimp
Udang

Lysozyme Stimulates Growth and Immunity in Vannamei Shrimp

Shrimp do not have a specific immune system, the shrimp's immune system is mainly based on the natural immune system including physical barrier (tin shell), humoral immunity, and cellular immunity in it. White blood cells play a very important role in fighting germs.Lysozyme, also known as muramidase or N-acetylmuramide glycanhydrolase, is an antibacterial enzyme produced by animals and helps form part of the innate immune system. Lysozyme is present in saliva, tears, milk ... In industry, the supply of lysozyme is mainly from egg whites. Lysozyme is an antibacterial, specialized in attacking bacterial cell walls and weakening them. In addition lysozyme also works on some gram (-) bacteria and some viruses.Lysozyme has antibacterial activity through the conversion of insoluble polysaccarids into gram (+) bacterial cells into soluble mucopeptides, thereby breaking down the cell walls and destroying bacteria. Several lysozyme studies in animals show that supplementing with lysozyme helps improve feed efficiency, growth and immune stimulation. However, research on lysozyme in aquatic animals is limited, so Javahery et al., 2019 study will add lysozyme to whiteleg shrimp feed to improve digestion, stimulate growth and increase. immune.The feeding method is considered a practical method, easy to implement on a large scale, not shocking for shrimp and can add lysozyme at any stage of shrimp development in shrimp immune enhancement therapy.   Study on adding lysozyme to whiteleg shrimp feedThe experiment consisted of four treatments with lysozyme supplementation at the following concentrations: 0 (control), 0.5, 1 and 2 g / kg over 4 months. Results indicated that adding lysozyme to feed improved growth, decreased FCR, and increased feed utilization compared to control (P ˂ 0.05).In addition, the addition of lysozyme has effects on the shrimp immune system including increased antioxidant capacity, superoxide effutase, glutathione peroxidase, lysozyme, alkaline phosphatase, and phenoloxidase compared to the control group. Moreover, the digestive enzymes (lipase, protease and amylase) in shrimp supplemented with lysozyme were significantly higher (P ˂ 0.05) than in the control treatment, stimulating shrimp to catch more prey from which stimulated like growth.The results from the study provide more practical information, suggest the addition of lysozyme to shrimp feed to improve immune response as well as modulate the activity of digestive enzymes to stimulate shrimp growth. In addition, to raise shrimp effectively, people need to closely manage the water environment, leftovers, periodically treat ponds, monitor shrimp daily, supplement digestive enzymes, vitamin C to ensure shrimp good growth and development.Source : tepbac ...
Supporting The Treatment of White Feces Disease in Shrimps with Homegrown Plants
Udang

Supporting The Treatment of White Feces Disease in Shrimps with Homegrown Plants

White feces syndrome (WFS) is a common disease in brackish shrimp culture. Pathogens that attack the pancreas lead to problems with digestion and food absorption, so improving the health status of the hepatopancreas is the key to managing white fecal disease. Based on research and fieldwork, a team from India introduced five herbs that can prevent and treat white feces in shrimp: lemon, garlic, ginger, jaggery, tofu ten. All of the above herbs have the ability to protect the liver, promote growth, prevent oxidation and interfere with the metabolism of bacteria and parasites in shrimp ponds.Lime (Citrus limon) Lime ( Citrus limon )Citrus limon contains vitamin C and potassium, lemon juice is resistant to bacteria, prevent oxidation and infection.Combining lemon juice with food can promote the digestion and absorption of nutrients from shrimp and shrimp. The chemical compounds in the composition of lemon prevent the breakdown of toxins in the intestine of shrimp to prevent absorption of toxins and transport to the hepatopancreas. The acetic acid in lemons can destroy pathogen cell membranes, causing cell damage thereby inhibiting the growth of pathogens. In addition, the flavonoids and tannins in lemons inhibit the growth of Enterocytozoon hepatopanaei (EHP).Method of use: 50 ml of lemon juice mixed with 1 kg of feed. Let dry for 30 minutes in low light before feeding.Garlic ( Allium sativum )Garlic (Allium sativum)Garlic is not only rich in vitamins B1, B2, B3, B6, folate, vitamin C, calcium, iron, magnesium, manganese, phosphor, potassium, sodium, zinc ... but also against many viruses, bacteria, fungi and parasites. Thanks to active ingredients like alliin, ahoin, allicin and allistain. Old garlic extract also has antibacterial and liver protective effects in shrimp. Method of use: 20g of crushed garlic is mixed with 50 ml of food binder, then mixed with 1 kg of feed. Let dry for 30 minutes in low light before feeding.Ginger ( Zingiber officinale ) Ginger (Zingiber officinale)Ginger is a familiar herb frequently used to aid digestion, reduce nausea, prevent the flu and the common cold. Ginger has been shown to be effective in controlling bacterial, viral, fungal and parasitic diseases in aquaculture thanks to its antibacterial, anti-oxidant, growth-promoting and immune-stimulating effects. with pets.The phenolic compounds in ginger help reduce gastrointestinal (GI) stimulation caused by WFS, stimulate bile production, inhibit stomach contractions when food and fluids move through the intestinal tract in shrimp. At the same time, ginger also affects the digestive enzymes of shrimp and increases the activity of the digestive system. This suggests that ginger can help prevent and control the impact of WFS in the shrimp digestive system.Method of use: 20g of crushed ginger is mixed with 50 ml of food binder, then mixed with 1 kg of feed. Let dry for 30 minutes in low light before feeding.Sugar from Jaggery ( Borassus flabellifer ) JaggeryJaggery is made from the water harvested by jaggery pickers using a knife to cut the tops of the jaggery. The traditional process of making jaggery will not be affected by chemical agents, thus can retain all natural mineral salts. Nutrition components of palm sugar include fat protein, carbohydrates, vitamin C, minerals (phosphor, iron, nicotinic acid, vitamin B1, riboflavin ...). Jaggery activates digestive enzymes and gastric functions, thereby speeding up the digestion, smoothing the process, and ultimately reducing stress on the digestive system.Jaggery also works to clean the hepatopancreas by removing harmful toxins from the shrimp body. In addition, jaggery also contains antioxidants and minerals like zinc and selenium, which help prevent free radicals, enhance resistance to shrimp against WFS infection. Method of use: Mix 1 kg of jaggery powder into 1 liter of water, bring to a boil until dissolved. Leave to cool, use 30 ml of the mixture of jaggery and 1 kg of feed. Let dry for 15 minutes in low light before feeding.Tofu ( Vigna mungo ) Tofu ( Vigna mungo )Tofu or four-season mung beans, edible bean sprouts ( Vigna mungo ) are plants of the Beans family grown in South Asia. In Vietnam, ten beans grow on upland areas like Lao Cai and are also grown in many places. Like other legumes, ten beans are rich in fiber that can help improve digestion. The compounds in tofu include flavonoids, alkaloids, glycosides, phenolics, saponins, tannins and vitexin that help with antioxidants, support liver and neurodegenerative problems.With abundant biological activity, amino acids and other minerals, tofu has a stimulating effect on growth, acts as an antioxidant, protects the liver and controls WFS in farmed shrimp. Method of use: Grind 50 g of ten beans with 30 ml of food binder, then mix with 1 kg of feed. Let dry for 30 minutes before feeding.Source : tepbac ...
Budidaya di Musim Kemarau, Masalah dan Solusinya
Udang

Budidaya di Musim Kemarau, Masalah dan Solusinya

Sumber Gambar : Channel8.idKualitas air tambak terkait erat dengan kondisi kesehatan udang, kualitas air tambak yang baik akan mendukung pertumbuhan dan perkembangan udang vaname secara optimal. Oleh karena itu, kualitas air tambak perlu diperiksa dengan seksama karena hal ini berhubungan dengan faktor stress udang akibat perubahan parameter kualitas air di tambak. Udang yang stres, daya tahan tubuhnya akan menurun sehingga mudah terserang penyakit. Perubahan parameter – parameter kualitas air akan mempengaruhi proses metabolisme tubuh udang seperti keaktifan mencari pakan, proses pencernaan dan pertumbuhan udang. Pemeliharaan kualitas air adalah faktor yang sangat penting untuk mencapai angka kehidupan yang tinggi. Masalah pemeliharaan kualitas air tambak sering kali timbul seiring berjalannya waktu pemeliharaan. Terkadang masalah – masalah tersebut timbul karena pengontrolan dan penanganan kualitas air yang kurang baik. Dalam praktiknya sering kali petambak tidak menyadari perubahan kualitas air karena minimnya pengetahuan petambak tentang pengelolaan kualitas air yang benar. Hal ini menyebabkan terganggunya siklus hidup udang yang dibudidayakan.Baca juga: Mencegah Penyakit Udang Berdasarkan Warna Air Tambak Kestabilan lingkungan di dalam tambak merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh petambak untuk memperoleh kesuksesan dalam membudidayakan udang vaname. Pemeliharaan kualitas air dapat dijadikan sebagai salah satu indikasi kuat tentang kestabilan lingkungan di dalam tambak. Menjaga kualitas air tambak secara langsung akan berdampak terhadap tingkat kelangsungan hidup organisme yang berada di dalamnya. Untuk dapat tumbuh dengan optimal udang vaname memerlukan kondisi lingkungan yang stabil. Kondisi tersebut dapat diperoleh dengan menjaga kualitas air tambak yang digunakan sebagai media tumbuh udang. Kualitas air yang terjaga akan membuat nyaman udang vaname yang dipelihara di dalam tambak, sehingga akan berdampak terhadap laju pertumbuhan yang positif. Udang vaname akan tumbuh dengan baik apabila kualitas air yang ada di dalam kolam sebagai media budidaya udang sesuai dengan persyaratan kualitas air udang vaname. Perubahan Parameter Kualitas Air Musim kemarau akan mengakibatkan perubahan parameter kualitas air seperti peningkatan suhu dalam air, peningkatan salinitas, peningkatan amonia, semakin padatnya plankton serta kurangnya intensitas cahaya yang masuk kedalam air kolam. Perubahan parameter kualitas air ini akan berpengaruh pada kondisi udang yang dibudidayakan. Untuk itu, perlu dilakukan upaya – upaya pencegahan dan penanganan dalam melakukan usaha budidaya udang Vaname di musim kemarau. Suhu optimal untuk pertumbuhan udang berkisar antara 28,5 – 31,5 oC. Jika suhu lebih dari angka optimal maka metabolisme dalam tubuh udang akan berlangsung cepat, imbasnya kebutuhan oksigen terlarut akan meningkat. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan penambahan jumlah kincir untuk meningkatkan suplai oksigen terlarut di dalam air kolam namun harus disesuaikan dengan kondisi sarana serta biaya yang ada, sebab penambahan jumlah kincir tentunya juga akan menambah biaya produksi. Kualitas air yang baik harus mampu menyuplai oksigen yang dibutuhkan oleh udang, plankton dan mikroorganisme. Salinitas merupakan salah satu aspek kualitas air yang memegang peranan penting karena mempengaruhi pertumbuhan udang. Udang akan tumbuh dengan baik pada kisaran salinitas 15 – 25 ppt. Pada kondisi musim kemarau, kondisi air tambak akan menjadi hipersalin atau berkadar garam tinggi. Pada salinitas tinggi, pertumbuhan udang menjadi lambat karena proses osmoregulasi terganggu. Osmoregulasi merupakan proses pengaturan dan penyeimbang tekanan osmosis antara di dalam dan diluar tubuh udang.Baca juga: Pengelolan Air di Tambak Apabila salinitas meningkat maka pertumbuhan udang akan melambat karena energi lebih banyak terserap untuk proses osmoregulasi dibandingkan dengan untuk pertumbuhan. Selain itu salinitas air yang terlalu tinggi menyebabkan udang mengalami kesulitan berganti kulit karena kulit cenderung keras sulit dilepaskan, bahkan ada kalanya terdapat lumutan pada karapas serta mudah terserang white spot. Upaya yang dilakukan untuk menurunkan salinitas air yaitu dengan melakukan penambahan air tawar yang berasal dari sumur bor tau sumber air tawar lainnya. Peningkatan amonia juga akan terjadi pada musim kemarau. Amonia merupakan hasil ekskresi atau pengeluaran kotoran udang yang berbentuk gas. Amonia juga berasal dari pakan yang tidak termakan oleh udang sehingga larut dalam air. Amonia akan mengalami proses nitrifikasi dan denitrifikasi sesuai dengan siklus nitrogen dalam air. Proses ini akan berjalan lancar apabila tersedia bakteri nitrifikasi dan denitrifikasi dalam jumlah yang cukup yaitu bakteri Nitrobacter dan Nitrosomonas. Nitrobacter berperan mengubah amonia menjadi nitrit, sementara Nitrosomonas mengubah nitrit menjadi nitrat. Amonia dan nitrit merupakan senyawa beracun sehingga harus diubah menjadi senyawa yang tidak berbahaya yaitu nitrat. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan jumlah bakteri dalam air tambak yaitu dengan melakukan aplikasi probiotik yang mengandung bakteri Nitrobacter dan Nitrosomonas. Penggunaan Probiotik Probiotik adalah mikroorganisme yang dikembangkan dan diaplikasikan melalui pakan maupun lingkungan yang bertujuan untuk memperkuat daya tahun tubuh udang serta memperbaiki kualitas air tambak. Probiotik bersifat non patogenik dan dikembangkan secara massal pada media kultur sesuai tujuannya. Jenis mikroba ini berkembang dan menghasilkan endo dan ekto-enzyme yang berfungsi merombak senyawa beracun dan bahan organik. Aplikasi probiotik yang benar akan membantu menstabilkan kualitas air tambak. Usaha budidaya udang pola intensif, memiliki unsur hara yang sangat tinggi yang dimanfaatkan oleh plankton untuk tumbuh. Sumber utama unsur hara adalah dari sisa pakan, karena selama masa pemeliharaan, pakan yang dimasukkan dalam jumlah yang besar. Sisa pakan dan kotoran udang memberikan pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan plankton dan mikroorganisme.Baca juga: Can Probiotics Make Shrimp Farming More Environmentally Friendly? Namun, terlalu banyak kandungan bahan organik akan mengakibatkan pertumbuhan plankton dan bakteria (baik yang menguntungkan maupun yang merugikan) terlalu pesat sehingga harus diwaspadai dengan melakukan pengukuran dan pengamatan kualitas air. Kualitas air yang baik biasanya mengandung bahan organik dari sisa pakan, kotoran udang dan plankton mati dalam jumlah terbatas. Plankton seperti fitoplankton yang menguntungkan sangat dibutuhkan dalam usaha budidaya udang. Plankton berfungsi sebagai pakan alami, penahan terhadap intensitas cahaya matahari serta sebagai bioindikator kestabilan lingkungan air media budidaya udang. Pada musim kemarau, salinitas air dalam kolam relatif lebih tinggi yang mengakibatkan pertumbuhan plankton terhambat sehingga populasi plankton tidak stabil. Plankton warna hijau lebih mudah dipelihara kestabilannya dibandingkan plankton warna coklat sehingga disarankan untuk menumbuhkan plankton yang berwarna hijau. Pada beberapa kondisi, plankton hijau akan berubah menjadi berwarna coklat karena umur plankton yang semakin tua.  Pada salinitas 25 permil plankton yang hidup di kolam cenderung lebih sedikit jenisnya dan berwarna coklat. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kestabilan plankton yaitu dengan melakukan penambahan air yang berasal dari tandon air. Pada musim kemarau diupayakan untuk tidak melakukan pembuangan air tambak melalui pergantian air, sebaiknya hanya dilakukan penambahan air untuk mengganti air yang hilang akibat penguapan.Beli probiotik sekarang! Penambahan air sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari dengan jumlah berkisar antara 5 – 20% disesuaikan dengan kondisi volume air dalam kolam yang hilang. Sebaiknya penambahan air dilakukan satu jam setelah pemberian pakan untuk menghindari tingkat stres yang tinggi pada udang. Penambahan air dapat dilakukan dengan menggunakan pompa submersible atau dengan sistem gravitasi. Air yang digunakan dalam penambahan air merupakan air dari tandon yang telah disterilkan. Peran Tandon Pada budidaya udang, tandon berfungsi untuk memperbaiki kualitas air sebelum dimasukkan ke dalam kolam budidaya. Tandon dapat digunakan untuk mengendapkan suspensi terlarut, disamping itu juga dapat dilakukan perlakuan air untuk mengurangi pathogen yang merugikan. Kebutuhan tandon bervariasi tergantung dari lokasi dan sumber air yang digunakan. Pada daerah dimana potensi pencemaran tinggi dan wilayahnya banyak dikelilingi oleh petambak, kebutuhan tandon lebih banyak dan disarankan untuk menggunakan 30% dari petakanya untuk tandon sementara daerah yang potensi pencemarannya rendah cukup menggunakan 20%. Tandon memiliki peranan penting khususnya pada usaha budidaya udang di musim kemarau. Tandon dapat dijadikan sebagai wadah penyimpanan air sementara atau air cadangan yang akan digunakan untuk penambahan air selama masa budidaya. Budidaya udang pada musim kemarau sangat rentan karena udang sangat mudah mengalami stres akibat senyawa beracun yang ada di dalam kolam. Selama proses budidaya udang pada musim kemarau diupayakan untuk tidak melakukan penyiponan karena selama penyiponan maka akan mengakibatkan berkurangnya volume air dalam kolam.Baca juga: Pentingnya Biosekuriti Tambak Udang Selain itu karena volume air dalam kolam relatif berkurang maka kemungkinan akan teraduknya bahan organik dalam kolam akibat kegiatan penyiponan sangat tinggi, untuk itu sebaiknya dihindari. Pembuangan bahan organik dapat dilakukan jika kontruksi kolam memiliki central drain yaitu dengan membuka central drain dengan waktu yang tidak terlalu lama. Pembuangan bahan organik juga dapat dilakukan dengan membuang plankton mati yang muncul ke permukaan air tambak dengan menggunakan serok. Penambahan air dapat dilakukan setelah pembuangan bahan organik baik melalui central drain maupun menggunakan serok. Pengaturan pola tanam juga dapat dilakukan sebagai salah satu solusi dalam melakukan budidaya udang pada musim kemarau. Petambak tentunya sudah mengetahui kapan terjadinya musim kemarau berbekal pada pengalaman pada siklus budidaya sebelumnya. Pengalaman ini dapat dijadikan sebagai salah satu pedoman dalam menentukan pola tanam. Pembudidaya dapat mengatur penebaran benih udang maksimal dua bulan sebelum terjadinya musim kemarau, hal ini bertujuan agar pada saat terjadi musim kemarau udang telah berumur paling tidak 60 hari. Udang dalam umur tersebut sudah memiliki toleransi yang cukup tinggi terhadap perubahan parameter kualitas air. Berbeda dengan udang yang masih berumur kecil, mudah mengalami stres akibat guncangan parameter kualitas air. Artikel Asli : Info AkuakulturTentang MinapoliMinapoli merupakan marketplace++ akuakultur no. 1 di Indonesia dan juga sebagai platform jaringan informasi dan bisnis perikanan budidaya terintegrasi, sehingga pembudidaya dapat menemukan seluruh kebutuhan budidaya disini. Platform ini hadir untuk berkontribusi dan menjadi salah satu solusi dalam perkembangan industri perikanan budidaya. Bentuk dukungan Minapoli untuk industri akuakultur adalah dengan menghadirkan tiga fitur utama yang dapat digunakan oleh seluruh pelaku budidaya yaitu Pasarmina, Infomina, dan Eventmina.  ...
Can Probiotics Make Shrimp Farming More Environmentally Friendly?
Udang

Can Probiotics Make Shrimp Farming More Environmentally Friendly?

An article in the journal Aquaculture has linked probiotic use in juvenile Vannamei shrimp production to reduced emissions of environmental pollutants like nitrogen and phosphorous effluents and carbon dioxide. The article also suggests that probiotic use is linked to reduced water and energy consumption during larval production.The researchers concluded that probiotics could improve the economic and environmental viability of larval production. Even though probiotics can come with high up-front costs, using them can offset other expenses for antibiotics or water purifiers. Probiotic use can also reduce chemical contamination of both the larvae and the surrounding environment.BackgroundAlthough shrimp aquaculture has reduced the environmental pressure on fisheries and has enhanced economic and food security for the developing world, it is energy intensive and often comes with a high environmental price tag. Shrimp production can disrupt the ecological balance of the surrounding environment, and waste materials from production can cause algal blooms and create hypoxic conditions in the water. Intensive production of shrimp is also associated with increased greenhouse gas emissions.In order to counteract this environmental burden, some shrimp farmers have turned to probiotics. Using probiotics can improve the digestion and immune responses of shrimp, while inhibiting the growth of pathogens and improving water quality. Their use has also allowed shrimp producers to maintain their economic yields while reducing the environmental impacts of shrimp aquaculture.Based on the success of probiotics in other areas of shrimp aquaculture, the researchers wanted to test if probiotic supplementation had a positive impact on larval production.The studyThe researchers analysed the technical and production data from the hatchery stage of 15 whiteleg shrimp (Penaeus vannamei) farms in Mexico. They examined the water temperatures, amount of probiotic (if any) used during production, larval weights, feed, production density and number of batches farmed per year. After gathering this data, the researchers did a comparative analysis and created a model that illustrated the relationship between probiotic use and larval production.Based on the available data, the researchers found that when probiotics were administered, farming operations did not need to exchange production water as often. Instead, the probiotics contributed to an oxygen-rich environment for the larvae. Since water exchanges occurred less often when probiotics were used, the researchers concluded that probiotic use could lower overall energy costs for shrimp farmers.The researchers also noted a significant reduction in nitrogen and phosphorous in shrimp effluents, and a drastic reduction in CO2 emissions in farms that used probiotics during the larval stage. For CO2 in particular, the researchers observed a 55 percent drop in emissions when probiotics were deployed. Shrimp farms that used probiotics also had lower concentrations of dissolved nutrients in waste products and lower concentrations of pollutants overall when compared to farms that did not add these beneficial bacteria.Key take-awaysThe authors of the study emphasise that this research is a preliminary evaluation – they would need to do a life cycle analysis (LCA) to see the global impact of probiotic use and draw concrete conclusions. Due to the exploratory nature of the study, the authors didn't specify the type or dosage of probiotic used on the farms. The authors also note that production data from more farms in different regions would improve the predictive power of their models. However, based on the results and analysis from this case study, the authors conclude that probiotic supplementation can become a core element of sustainable production of shrimp larvae and make a significant contribution to sustainable development initiatives.Sumber : The Fish Site ...
Evaluating Tilapia Processing Silage in Pacific White Shrimp Diets
Udang

Evaluating Tilapia Processing Silage in Pacific White Shrimp Diets

The replacement or reduction of fishmeal in aquafeeds using alternative ingredients is of great interest to the aquaculture industry, but there are some issues including deficiency of some essential amino acids, the presence of anti-nutritional factors, palatability and digestibility. Many cases of successful replacement have been reported in Pacific white shrimp (Litopenaeus vannamei), including by plant protein sources, also supported by relevant mineral supplementation.Fish silage – which can be produced using fisheries and aquaculture processing waste – is an alternative protein source to fishmeal and can be produced through simple and inexpensive techniques. The potential use of fish silage as a substitute for protein ingredients in aquafeeds could also help with environmental and sanitary issues related to the inadequate disposition of fish residues. And it could also help reduce the cost of feeds and consequently production costs since feeds represent around 60 percent of production costs for many cultured species.Various authors have shown positive results using tilapia silage incorporated into diets for other species. This article – adapted and summarized from the original publication – evaluated the inclusion of tilapia processing waste silage (TPWS) in diets for L. vannamei juveniles reared under clear-water and biofloc conditions.Study setupThe study was carried out at the Universidade Federal Rural do Semi-Árido (UFERSA, RN) in Brazil. Two individual systems were set-up according to Emerenciano et al. (2007): a biofloc system (BS) and a clear-water system (CWS). The trial was initiated stocking L. vannamei juveniles (1.43 ± 0.33 grams) brought in at PL20 from a commercial hatchery and grown in the lab in forty (20 + 20) 40-liter rectangular plastic bins (27 × 37 × 54 cm) in a density of 63 shrimp per square meter (12 juveniles per bin).The animals were stocked following a factorial, completely randomized experimental design (water type and percent tilapia waste silage inclusion as the main factors) and reared for 45 days. Four replicate tanks were randomly assigned to each treatment. The treatments were based on the percentage of TPWS inclusion (0 or control, 1.5 percent, 3.0 percent, 4.5 percent and 6.0 percent inclusion) in BS or CWS system, totalizing 10 treatments.The TPWS used in this study was produced in the Laboratory of Seafood Technology and Quality Control (LAPESC/UFERSA) using filet residues of Nile tilapia (Oreochromis niloticus) processing including head, bones, skin, fins and viscera. Five experimental diets were formulated to be isocaloric and isoproteic and to attend the nutritional requirements of the species. The TPWS inclusion ranged from zero to 6 percent of the diet. The overall low level of inclusion was due to the high level of crude lipid presented in the silage (37.4 percent).For detailed information on the experimental design and culture conditions; fish silage production; diet formulation and feeding; and statistical analyses, refer to the original publication.Results and discussionRegarding its proximate analysis, TPWS contained 83.8 percent dry matter, 33.7 percent crude protein, 37.4 percent crude lipid, and 21.5 percent ash based on dry matter. And for shrimp growth performance, no interactions between system and diet were observed. Survival was not affected by system or diet and averaged over 85 percent in all treatments.Feed conversion rates (FCR) had significantly lower values (1.35) in the BFT treatment compared to the CWS treatment (1.65). Following the same trend, mean final weight and SGR were statistically influenced by the system but not by the diet, with the BS treatment having higher values (7.17  grams and 2.01 percent daily) compared to the CWS treatment (6.35  grams and 1.82 percent daily). Diet (% inclusion tilapia silage) SGR (%/day) Mean final weight (g) Survival (%) FCR 0 1.86 ± 0.20ns 6.51 ± 0.76ns 85.29 ± 17.18ns 1.59 ± 0.37ns 1.5 1.90 ± 0.14ns 6.62 ± 0.60ns 90.15 ± 6.27ns 1.56 ± 0.10ns 3 1.93 ± 0.18ns 6.79 ± 0.80ns 92.93 ± 9.74ns 1.38 ± 0.29ns 4.5 1.83 ± 0.23ns 6.43 ± 0.94ns 94.32 ± 4.30ns 1.61 ± 0.15ns 6 2.07 ± 0.11ns 7.46 ± 0.56ns 88.88 ± 13.94ns 1.35 ± 0.23ns System: Clear water 1.82 ± 0.20b 6.35 ± 0.54b 87.50 ± 12.12ns 1.65 ± 0.23b System: Biofloc 2.01 ± 0.12a 7.17 ± 0.79a 94.23 ± 6.25ns 1.35 ± 0.18a Table 1. Growth performance of L. vannamei fed experimental diets with increasing percentages of tilapia processing waste silage (TPWS) in clear-water and biofloc systems for 45 days. No interactions were observed (P > 0.05). Values are means (± standard error) of treatments (diets or system); Different letters in columns denote significant differences between experimental systems with α = 0.05 level by Tukey's HSD multiple range test; NS: not statistically different (P > 0.05); SGR: specific growth rate; FCR: feed conversion ratio.Under the experimental conditions of our study – both biofloc (BS) and clear-water (CWS) systems – the tilapia processing waste silage (TPWS) could be included at the highest level (6.0 percent) without losses in growth performance and survival. On the other hand, in BS conditions, shrimp had better performance compared to CWS, probably due to the continuous availability of natural food. This natural productivity is normally present as bacteria, microalgae, protozoa, nematodes, copepods and rotifers, all rich sources of lipids, vitamins and essential amino acids, as well as highly diverse “native protein.”The concept of “native protein” is related to protein sources without any previous treatment, mainly live feeds. Is important to note that bacterial protein sources play an important role in the equilibrium and re-ingestion of particulate organic matter, and shrimp faeces are a form of constant food supply through coprophagia. The colonization of the shrimp gut by bacteria has been shown to have positive effects, including improvements of the activity of shrimp digestive enzymes and also the increase of the availability of extracellular enzymes acting as “natural probiotics.”We found no literature references related to the use of TPWS in L. vannamei diets under biofloc condition. Although low levels of silage were included in the diets due to the high lipid content in the fish silage, our highest inclusion level of 6 percent still could represent a significant cost reduction in shrimp formulations. In a study with L. vannamei juveniles using clear water, some authors evaluated feeds containing (i) fish waste silage, (ii) fish waste silage with soybean meal and (iii) fish waste meal as a protein source. These authors reported that shrimp fed with diets containing fish waste silage combined with soybean meal gained 0.7 grams per week higher than those fed with fish waste silage or fish waste meal (0.3 grams per week).It is important to note that these reported values are lower than observed in our study (e.g. with biofloc conditions, at 0.9  grams per week). Additionally, in our study the FCR values were 1.3 and 1.6 for BS and CWS, respectively, lower than the FCR values of 2.8 and 2.5 observed by other authors using soy protein-based diets and low protein content diets, respectively, both in biofloc conditions for L. vannamei.In contrast with our work, other authors evaluated shrimp silage in juvenile tilapia (O. niloticus) diets and concluded that it is possible to include 2.75 percent of shrimp silage, reducing the diets costs by 3.3 percent without losses in fish performance. Similarly, other researchers tested shrimp head silage (approximately 40 percent protein) as a substitute for fishmeal in tilapia diets at 0, 33.3 percent, 66.6 percent and 100 percent dietary levels. Their results indicate that shrimp silage could replace 100 percent of the fishmeal, with economic advantages and without sacrificing feed quality.Perspectives Our results under the experimental conditions tested showed that the inclusion of tilapia processing waste silage (TPWS) in L. vannamei diets was possible up to 6 percent without compromising shrimp performance and survival. In addition, shrimp raised in BS had better growth performance as compared to CWS.Source : Global Aquaculture Alliance ...
Increasing Immunity to Acute Hepatopancreatic Necrosis in Shrimp by Castor Extract
Udang

Increasing Immunity to Acute Hepatopancreatic Necrosis in Shrimp by Castor Extract

To evaluate the positive effect of castor extract on the resistance to AHPND (Acute hepatopancreatic necrosis disease) in white shrimp, the research team Tran Thi Tuyet Hoa, Vo Tan Huy, Hong Mong Huyen, Can Tho University The poem states that adding 1.0% castor oil extract to shrimp feed gives the highest survival rate when infected with the bacteria that cause hepatopancreatic necrosis.Pancreatic necrosis liver disease acute ( Acute hepatopancreatic necrosis disease - AHPND) is V. parahaemolyticus bacterial disease caused. V. parahaemolyticus is a gram-negative bacterium, common in brackish / saltwater environments. AHPND was determined to have a mortality rate of up to 100% within 20-30 days after stocking. Diseased shrimp show signs of lethargy, anorexia, hepatopancreas atrophy, chewy and pale color, hollow or broken gut. In addition, accompanied by other signs such as soft shell, dark and speckled on the breast shell, histological analysis showed that the disease mainly affects the hepatopancreas of shrimp (Lightner et al ., 2013). .Improper use of antibiotics and chemicals in disease treatment has led to many negative effects that cause difficulties in aquaculture development. To overcome this situation, the herb used in the study of antibiotic substitution has brought little benefit (Johnson and Banerji, 2007). From research on screening herbs against vibrio bacteria in laboratory conditions. The results showed that Castor is resistant to V. parahaemolyticus with the largest sterile ring diameter (17 mm to 18 mm), from which castor was selected for this study.Castor also called papaya purple, with the scientific name Ricinus communis L . The tree can be 3-4 m tall or more, trunk is cylindrical, smooth, green or burgundy. Rampadarath et al . (2014) suggested that castor leaf extract has high antibacterial activity, can inhibit gram-negative and gram-positive bacteria (Bacillus algicola , Listeria innocua , Viridibacillus arenosi , Escherichia coli). The study of Immanuel et al . (2004) used castor extract to feed Penaeus indicus (PL30) shrimp continuously for 30 days. The results showed that the survival rate of shrimps in the supplementary treatment with castor extract (58.88%) was higher than the control treatments (24.44%).This study was conducted to determine the appropriate concentration of shrimp feed supplement to enhance immunity, resist pathogens from there, increase survival rate when infected with V. parahaemolyticus.The study was conducted with four treatments of high extracting added to feed for whiteleg shrimp at level 0; 0.5; 1.0 and 1.5% within 30 days. Growth rate, hematological index, phenoloxidase activity (PO), superoxide dismutase activity (SOD) and resistance to V. parahaemolyticus of vannamei were determined on day 30 of the extract extract.Then 15 shrimp were randomly taken from each treatment in experiment 1 to be challenged with V. parahaemolyticus , and a positive control without supplementation with extract and V. parahaemolyticus . The experiment followed up for 14 days.ResultAdding castor extract to whiteleg shrimp feed with a supplement of 0.5% and 1.0% extract for 30 days: helps boost immune parameters (THC, GC, HC and PO activity ) and increase the survival rate of vannamei when infected with V. parahaemolyticus.Specifically, for the additional treatment of 1.0% of the castor extract, the lowest cumulative mortality after 14 days of follow-up was 26.7%, followed by treatments 0.5 and 1.5%, respectively. with 51.1 and 57.8% respectively; the highest cumulative mortality was the positive control (66.7%).The ratio of Vibrio bacteria density / total bacterial density in shrimp hepatopancreas in the supplemented treatment was 1.0% lower and lowest with 27.2%, compared to the remaining treatments, followed by the treatment. additional 1.5% (35.9%); 0.5% (41.7%) and 0% (91.1%). Results from the study showed that supplementing with 1.0% castor oil extract increased immunity and survival of whiteleg shrimp when infected with V. Parahaemolyticus.Source : tepbac.com ...
Intestinal Bacteriome of Pacific White Shrimp in Biofloc, Clear Water Systems
Udang

Intestinal Bacteriome of Pacific White Shrimp in Biofloc, Clear Water Systems

Results of this study provide new evidence of the influence of both abiotic and biotic factors on the gut bacteriome of aquatic species of commercial interest, like Pacific white shrimp. Photo by Darryl Jory.Among the infectious diseases of penaeid shrimp, the white spot syndrome (WSS) and the acute hepatopancreatic necrosis disease (AHPND, previously referred as “early mortality syndrome” or EMS) are currently the most serious threats to shrimp farmers. WSS is caused by the white spot syndrome virus (WSSV), whereas the AHPND is an emerging bacteriosis caused by virulent strains of Vibrio parahaemolyticus and V. harveyi. The adoption of on-farm biosecurity practices is necessary to limit the pathogen entrance into the culture systems.Among on-shrimp farm biosecurity practices, the biofloc super-intensive technology (BFT) is a promising alternative culture system. It is widely believed that BFT culture improves the crustacean immunity leading to high survival rates even under bacterial and viral infections. Although the mechanisms underlying shrimp robustness are not yet understood, a continuous immunostimulation condition is rather expected considering the abundance of microbial-associated molecular patterns (MAMPs) present in BFT systems which can activate innate immune responses.Since the aquatic environment can influence the microbiota composition and abundance, studies focusing the BFT contribution on the establishment of shrimp intestinal microbiota are highly required. In addition, it is now well established that commensal microbiota is essential for the correct functionality of the host physiology. Surprisingly, the characterization of the microbial communities present in the digestive tract of cultured shrimp species has been only recently uncovered.To our knowledge, only one report regarding the description of the intestinal bacterial communities of a penaeid species – the Pacific blue shrimp (Litopenaeus stylirostris) – reared in a BFT system is available in the literature. In addition, nothing is known about the bacteriome (a specialized organ with specialized cells that provide shelter and nutrients to the bacteria while protecting the host animal) plasticity in shrimp infected by the WSSV, one of the most important pathogens in shrimp farming.This article – adapted and summarized from the original publication – was designed to characterize the abundance and composition of the intestinal bacterial communities of the most important penaeid species, the Pacific white shrimp (L. vannamei) reared in BFT and a clear seawater system. Likewise, the plasticity of the midgut bacteriome from shrimp challenged by WSSV was investigated. Our results bring new evidence of the influence of the biofloc culture and the viral challenge on the shrimp bacteriome, providing new insights into future studies regarding the role of microbiota on the intestinal immunity of cultured penaeid.Study setupL. vannamei postlarvae (five days old, PL5) from a commercial shrimp hatchery (Aquatec LTDA Canguaratema, Rio Grande do Norte, Brazil) were used in this study at the Laboratory of Marine Shrimp (Federal University of Santa Catarina, Florianópolis, Brazil). The biofloc culture was initially established in a 50-cubic-meter matrix tank and the experimental design is shown in Fig. 1.Shrimp PLs were randomly stocked into eight, 9-cubic-meter indoor tanks, with four BFT tanks and four clear seawater system tanks, at an initial stocking density of 300 and 20 PL5 per cubic meter, respectively. The tanks were continuously aerated (dissolved oxygen > 5 mg/L) and kept under controlled temperature (29 ± 1 degrees-C) and salinity (34 to 35 ppt).Fig. 1: Shrimp PL5 were cultured for four months in two culture systems, Biofloc Technology (BFT; 4 tanks) and clear seawater system (CWS; 4 tanks), at an initial stocking density of 300 and 20 animals per cubic meter, respectively. Cultured, white spot syndrome virus (WSSV)-free juvenile shrimp (5 to 8 grams) from each treatment (n = 80) were then individually challenged with WSSV via oral route (5 × 106 genome viral copies). At 48 hours post-challenge (hpc), the midguts from unchallenged (BFT and CWS) and WSSV-challenged (BFT.W and CWS.W) shrimp (n = 40/treatment) were collected and processed for 16S RNA gene sequencing.Post-larvae were fed four times a day with a commercial diet (Guabi Potimar), and tank water was exchanged at 80 percent daily. After four months, when the shrimp had become 5- to 8-gram juveniles, around 30 percent of the animals from each tank/group were randomly selected to confirm that the shrimp were free of WSSV by using the nested-PCR assay, and then 120 animals from each culture system were transferred to the Laboratory of Immunology Applied to Aquaculture (Federal University of Santa Catarina, Florianópolis, Brazil) for various tests and analyses.For a detailed description of the experimental design; WSSV per os (oral) challenge and midgut collection; genomic DNA (gDNA) extraction; 16S rRNA gene library preparation and high throughput sequencing; and sequence data analysis, refer to the original publication.Results and discussionOur study explored the bacterial communities’ dynamics (abundance and phylogenetic composition) in the shrimp midgut in response to two important abiotic and biotic factors related to shrimp farming (culture system and viral infection) by assessing 16S rRNA gene sequencing [this technique is used in reconstructing phylogenies – evolutionary histories – due to the slow rates of evolution of this region of the gene]. We generated two bacterial 16S rRNA gene libraries from the midguts of shrimp cultured in a BioFloc Technology (library “BFT”) and in a clear seawater system (library “CWS”). Likewise, two other libraries were generated from the midguts of shrimp challenged with the WSSV using a per os method (libraries “BFT.W” and “CWS.W”).Analysis of Venn diagrams [which show all possible logical relations between a finite collection of different sets] revealed significant differences in the frequency distribution of bacterial operational taxonomic units (OTU;  operational definition used to classify groups of closely related individuals) according to the culture system (BFT and CWS) and viral challenge (Fig. 2). The midguts of animals reared in BFT exhibited a larger number of OTUs when compared with those from CWS. Five-hundred and seventy-one OTUs were exclusively found in shrimp reared in bioflocs (361 in BFT, 111 in BFT.W and 99 in both groups), whereas 298 OTUs were exclusive from shrimp reared in clear seawater (162 in CWS, 121 in CWS.W and 15 in both conditions).Fig. 2: Venn diagram showing unique and shared operational taxonomic units (OTUs) of midgut bacteria of Litopenaeus vannamei reared in biofloc (BFT) and clear seawater (CWS) and challenged by the WSSV (BFT.W and CWS.W), by using a per os method.The higher number of exclusive OTUs from the BFT samples could reflect the diversity microbioma of the biofloc environment. The viral challenge led to the appearance of exclusive OTUs in each rearing condition: 111 OTUs for BFT.W and 121 for CWS.W. Furthermore, exclusive OTUs (n = 174) were shared only by the challenged animals of both rearing conditions. These findings suggest that this bacterial community displacement in the midgut is related to the virus presence. Finally, 60 OTUs were shared among all samples, which represented 4.61 percent of the total OTUs. This bacteria subset present in all groups could represent relevant microorganisms to the fundamental structure and function of the shrimp intestinal microbiota. Additional studies on microbiota shrimp-virus interaction related to the BFT rearing system deserve to be investigated in the future.Regarding the influence of rearing conditions on the bacterial communities of shrimp midgut, it is widely believed that the commensal microbiota composition in adult arthropods [invertebrate animals with an exoskeleton (external skeleton), like insects and crustaceans] appears to be intimately related to the initial exposure to microorganisms during their early life. We therefore cultured our shrimp in BFT and CWS for four months (PL5 to 5 to 8 grams) before the lab testing. In our analysis, the resulting high-quality 16S rRNA gene sequences were classified into 33 prokaryotic phyla that belong to the domain Bacteria. The most representative phyla identified in the L. vannamei midgut were Proteobacteria, Bacteroidetes, Actinobacteria and Firmicutes. However, the frequency distribution of the intestinal bacterial communities differed according to the rearing system (Fig. 3).Fig. 3: Relative abundance of the most prevalent bacterial phyla and families identified in the midgut of L. vannamei (highlighted in red in the not-to-scale image) reared in biofloc (BFT) and clear seawater (CWS), and at 48 hours after an oral challenge with white spot syndrome virus (BFT.W and CWS.W).The genus Vibrio is composed of fast-growing aquatic bacteria able to colonize the digestive tract of different animals, including penaeids. Many Vibrio species are opportunistic pathogens in shrimp under stressful conditions, such as poor nutrition, low water quality, and immune depression. In cultured shrimp, this bacterial group has been repeatedly implicated in gastro-intestinal diseases, leading to high shrimp mortalities. Microorganisms present in BFT water could act against pathogenic bacteria by competition for substrate and nutrients, producing inhibitory compounds, and interfering in the bacterial quorum-sensing [a system of stimuli and response correlated to population density, used by many bacteria to coordinate gene expression according to the density of their local population] communication.Interestingly, two Proteobacteria families, Rhodobacteraceae and Enterobacteriaceae, were more abundant in the midgut of shrimp reared in BFT than in CWS, representing around 15 percent in BFT and less than 4 percent in CWS. The role of this bacterial family in the shrimp intestinal microbiota is not well understood, but it is believed that the BFT system can favor the presence of this bacteria family due to its high concentration of suspended solid that can be used as growth sites by Rhodobacteraceae. Family members can establish an antagonistic activity limiting the survival of pathogenic Vibrio. Therefore, we could hypothesize that the higher abundance of Rhodobacteraceae in the midgut of L. vannamei reared in BFT could be associated with a lower abundance of Vibrionaceae.Our findings indicate that the bacteriome of shrimp reared in BFT was more diversified and richer when compared to that from animals reared in clear seawater, where the predominant bacterial community was Vibrionaceae. The water from BFT is especially rich in organic matter and suspended particles, which can favor bacteria that use organic matter and nitrogen compounds for growth. In addition, the BFT rearing system apparently causes important modifications in shrimp midgut microbiota compared to CWS, which corroborates the fact that the microbiota from the digestive tract of the aquatic animals is directly influenced by the environment. In addition, the idea of considering the BFT as a “natural probiotic system” has important consequences to the intestinal microbiota. The BFT could act internally and/or externally to the shrimp body, an effect promoted by large groups of microorganisms, but mainly bacteria.Regarding the beneficial effects of the BFT system, bioflocs can act as immunostimulants and enhancing the shrimp innate immune system, even altering the expression of genes related to the shrimp immune response, which could be attributed to the ability of the BFT to induce changes in shrimp microbiota. Overall, our results show that the shrimp gut microbiota is altered by the rearing environment.Regarding the shrimp intestinal microbiota plasticity in response to a viral challenge, the most impacting results of our study were to characterize the bacterial communities shift in the shrimp midgut challenged by WSSV. To the best of our knowledge, there is only one study on the shift of gut microbiota in response to the WSSV infection, evaluated in the Chinese mitten crab. Ours is the first study investigating the effect of a viral pathogen on the intestinal microbiota of a penaeid species reared in a BFT system.PerspectivesBy using a high-throughput sequencing technology, we have characterized the intestinal bacteriome of the most important cultivated shrimp species, L. vannamei, and assessed the influence of the BFT rearing and of the WSSV challenge on the composition and abundance of the bacterial communities.The bacterial composition from the midgut of shrimp reared in bioflocs was richer and more diverse than that from clear seawater. The predominant bacterial group belonged to the phylum Proteobacteria (Rhodobacteraceae, Enterobacteriaceae and Vibrionaceae), followed by the phyla Bacteroidetes (Flavobacteriaceae), Actinobacteria and Firmicutes. Vibrionaceae was more abundant in the CWS group than in BFT-reared shrimp (68.23 percent and 11.35 percent from total bacterial communities, respectively).The bacterial composition of L. vannamei midgut was affected by the WSSV challenge. Vibrionaceae was the most affected bacterial family and its abundance doubled in the midgut of BFT-reared shrimp after viral challenge, while in CWS-reared shrimp decreased drastically. In addition, the WSSV challenge apparently led to a more homogeneous distribution of bacterial population composition, as Rhodobacteraceae, Enterobactereceae and Vibrionaceae, in the midgut of shrimp reared in both culture systems, BFT and CWS. The changes in the gut bacteria diversity associated to the WSSV challenge could indicate a displacement in the intestinal microbial communities leading to the dysbiosis (a microbial imbalance or maladaptation on or inside the body, like an impaired microbiota) condition.Knowing the intestinal bacterial populations of shrimp reared in BFT and during WSSV infection is a relevant step to understanding the role of intestinal bacteriome microbiota on crustacean immune defenses against viral diseases. Although the molecular mechanisms involved in the control and regulation of the shrimp gut microbiota is still largely unknown, the environmental conditions and the presence of infectious agents proved to be decisive factors influencing both the diversity and abundance of the bacterial communities. With these 16S rRNA sequencing data in hand, and given that penaeid shrimp is an excellent model for functional genomic studies, we can now investigate shrimp in host-microbiota interactions, and also the role of the commensal microbiota in the regulation of the shrimp gut immunity.Source : Global Aquaculture Alliance ...
Risk and Reward: Rabobank’s Projections for The Shrimp Sector.
Udang

Risk and Reward: Rabobank’s Projections for The Shrimp Sector.

Speaking at Alltech’s Aqua InDepth conference, which took place in Eindhoven this week, Nikolik presented an investor’s view of the long-term viability of the sector and how to stay ahead of the curve in a rapidly changing industry. During his presentation, Aqua in Debt, Nikolik explored the shrimp value chain and how shrimp producers can take advantages of emerging opportunities.Technology can only take production so farAccording to Rabobank's analysis, shrimp aquaculture is defined by two competing forces – disease and technology. Shrimp producers, usually based in developing countries, will gain a competitive advantage and grow by adopting a novel technology, only to have their advancement curtailed by diseases like early mortality syndrome (EMS) and white spot syndrome. According to Nikolik, technological innovations have spurred consistent growth for farm-raised shrimp despite the low price it fetches on the white spot syndrome. According to Nikolik, technological innovations have spurred consistent growth for farm-raised shrimp despite the low price it fetches on the market.Nikolik is Rabobank's senior analyst for wildcatch and aquacultureThough this cycle has allowed the sector to remain stable, problems remain. After a decline in production between 2013 and 2014 due to EMS, the supply of shrimp has recovered. The recovery has largely been attributed to shrimp farmers switching to smart farming or bioflocs. However, farmers who couldn’t afford the new tech have had a hard time staying in business. As a result, the increases in production and growth weren’t evenly spread – the current production model may not be stable.In addition to this instability, shrimp is now approaching an oversupply on the global market. In Nikolik’s view, a price correction might be coming.Shifting trade patternsShrimp aquaculture is experiencing massive trade flow shifts. Starting in the early 2010s, the primary trading route for the commodity was between Thailand and the United States. Flows moving within Asia represented a distant second. For Rabobank, shrimp imports were centred on the “Big 3” trading blocs: the US, Europe and Japan. In 2019, however, China has emerged as the largest importer and Japan is a distant fourth in terms of total imports.Currently, the largest trade flow in farm-raised shrimp is from Ecuador to China, while US imports from Thailand have fallen, and India has emerged as a major player. By Rabobank’s metrics, 2019 is an underperforming year for shrimp; the price has remained stubbornly low, even though demand has increased. This difficulty is acutely felt by shrimp farmers. In Nikolik’s view, investors should think about hedging their bets if they operate in this market.The changing trade patterns can be attributed to disease pressures and shrimp farmers adopting different business models to insulate themselves from market shocks. This is why, Nikolik explained, Ecuador has emerged as a major producer. When comparing Ecuador’s new success to Thailand’s recent decline, Nikolik noted that shrimp farmers in Asia have to overcome significant challenges to compete in global markets.In Asia, companies like CP Foods are vertically integrated: they have a market presence in feed, genetics, juveniles and processing. However, the majority of Asian shrimp farmers are smallholders. This means that if any issues emerge on-farm, the onus is on the producer to resolve them and remain a viable business. Farmers are often the weakest part of the value chain.Changing the business modelLooking to the future, Nikolik felt that the current business model for shrimp production is going to change. Since innovation plays such a strong role in the sector, he predicted that farmers are going to become more knowledgeable about the species they farm and will transition to new production systems like super-intensification and RAS to remain competitive. He also predicted that in order to better manage disease pressures, farmers will start to isolate the farm from the surrounding environment (similar to chicken production).From the species perspective, Nikolik suggested that producers embrace genetic advancements for shrimp and that new strains will be able to thrive in the new production systems. Genetic advancement will also allow shrimp farmers to embrace extensive production. Nikolik concluded his talk by reiterating that aquaculture can be a net benefit for the planet. Even though the sector can be risky, it can produce clean and nutritious food for the world and be profitable in the long-term.Source : The Fish Site ...
Lebih Bergizi dengan Fermentasi
Udang

Lebih Bergizi dengan Fermentasi

Meskipun harga pakan khusus udang relatif mahal, tetapi untung budidaya udang memang nyata gurihnya. Apalagi, ada aplikasi pakan fermentasi yang bisa membuat pakan lebih bergizi. “Biasanya, kandungan protein pakan yang telah difermentasi akan naik. Misal, bekatul dianalisis total sugar-nya sebagai gambaran jumlah karbohidrat yang ada. Semula, kadar total sugar 13,27% dan protein 0,31%. Setelah fermentasi, TS turun menjadi 8,32% dan protein naik menjadi 2,13%,” terang Agnes Heratri, Direktur CV Pradipta Paramita.Menurut Agnes, pakan fermentasi adalah pakan yang sebelum diberikan ke udang atau ikan sudah difermentasikan terlebih dahulu. Dengan begitu, bahan-bahan di dalam pakan akan dibantu pemecahannya oleh enzim yang dihasilkan oleh mikroba atau probiotik, yang digunakan saat fermentasi.Baca juga: Efisiensi Pakan dengan Fermentasi dan Penggunaan Pupuk Organik CairSebagai contoh, biji jagung terbagi menjadi bagian yang mudah dipecah dan sulit dipecah. Bagian yang sulit dipecah disebabkan—misalnya—mengandung banyak lignin, selulosa, hemiselulosa, atau bahan lain penyusun serat kasar. Dalam sistem pencernaan, bahan-bahan yang sulit dipecah tersebut akan dibuang melalui feses, meskipun masih terdapat nutrisi yang bisa digunakan. Disebabkan waktu pencernaan terbatas, bahan yang susah dicerna akan dibuang.TDN naik, FCR turunFermentasi membantu pemecahan bahan-bahan yang terdapat dalam pakan secara enzimatis. Bahan penyusun material pakan yang tidak atau sulit terurai dalam saluran pencernaan menjadi lebih banyak yang terurai. Dengan begitu, bahan pakan yang dicerna tubuh menjadi lebih banyak dan efisiensi penyerapan pakan juga naik. Semakin banyak nutrisi yang bisa diserap tubuh menyebabkan TDN (total digestible nutrient) naik.“Naiknya TDN jelas akan meningkatkan hasil produksi. Jika sebelumnya banyak nutrisi yang terbuang, kini nutrisi diserap dan terkonversi menjadi daging. Feed Convertion Ratio (FCR) pun menurun. Pasalnya, jumlah pakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu kilogram produk menjadi lebih sedikit,” urai Agnes.Pendapat senada juga diungkapkan Sales Excecutive PT. Indonesia Evergreenfeed area Jateng Selatan, Andi Prasetya. Menurutnya, fermentasi mengadopsi sistem lambung yang anaerob. “Seperti lambung kita, tidak punya jendela. Pakan diperam atau dibuat tape dengan bantuan bakteri yang bisa menghasilkan enzim protease, lipase, dan amilase,” tuturnya.Dalam proses fermentasi, pakan sudah ‘dicerna’ di luar sehingga kerja lambung udang menjadi lebih ringan untuk memproses protein dan unsur lain yang terkandung dalam pakan.Baca juga: Fermented Protein Could Be The Path to Sustainable Aquaculture Lambung selamat dari asupan bahan nabati yang ada dalam pakan, sedangkan nutrien yang sudah jadi—seperti asam amino essensial, glukosa, dan asam lemak langsung—bisa diserap udang.“Pakan yang difermentasi tidak menjadi racun, rusak, atau mengembang meskipun sudah 3 hari tidak dikonsumsi dan masih berada di badan air. Pakan lebih ulet dan tidak mudah hancur. Efek proses fermentasi membuat tekstur pakan menjadi tidak cepat hancur di dalam air,” lanjut Andi.Udang Lebih SehatGarry Chrisnata, Direktur PT. Universal Sinergi Dinamika mengungkapkan bahwa pemberian pakan fermentasi memperbaiki dan meningkatkan sistem imun atau kekebalan tubuh udang terhadap virus penyebab penyakit. “Dengan penggunaan pakan fermentasi angka kematian bisa diturunkan antara 30—50%,” ujarnya.Sementara itu, Ibnu Sahidir, Perekayasa di Balai Perikanan Besar Air Payau (BPBAP) Ujung Batee Aceh, mengatakan bahwa peningkatan kandungan vitamin hasil metabolisme mikroba dalam pakan fermentasi juga berfungsi sebagai probiotik di usus. Persentase protein pakan akan meningkat serta biovailabilitas mineral juga ikut meningkat meningkat. Pakan fermentasi memperbaiki kesehatan usus dan kekebalan tubuh udang, sedangkan limbah padat yang dihasilkan menjadi lebih sedikit.“Beberapa spesies probiotik yang biasa digunakan untuk fermentasi mampu menghasilkan zat  autoimun dan mampu menghasilkan nutrisi tambahan. Beli probiotik disini!Sebagai contoh, Bacillus mampu memberikan dampak meningkatkan kekebalan tuhuh dengan meningkatnya sistem imun dan menghasilkan vit B12. Sementara Lactobacillus mampu menghambat serangan infeksi E. Coli dan Salmonella sehingga udang lebih tahan terhadap infeksi saluran pencernaan,” ungkap Agnes.Protein pakan mengandung unsur (N) yang akan terurai oleh bakteri nitrosomonas menjadi amoniak. Selanjutnya, bakteri nitrobacter merubah nitrogen menjadi nitrit, sedangkan azotobacter merubah nitrit menjadi nitrat. Nitrat yang dihasilkan akan menyuburkan plankton.Macetnya proses nitrifikasi menghasilkan nitrit yang beracun. Seiring dengan naiknya pH dan suhu, keseimbangan bergeser sehingga ammonium berubah menjadi amoniak yang beracun bagi udang.Bakteri anaerob merombak unsur N dalam pakan yang sudah difermentasi langsung ke asam amino esensial. Inilah jalan pintas reaksi nitrifikasi tanpa melalui proses menghasilkan nitrit. Dengan begitu, usus udang dapat diusahakan aman dari kerusakan, yang kebanyakan menimbulkan kasus white feses disease (WFD). Hal ini disebabkan total nutrisi bisa dimanfaatkan oleh udang.“Disebabkan jumlah pakan yang terserap tubuh lebih tinggi, sisa nutrisi yang terbuang dalam feses menjadi lebih sedikit. Dengan begitu, beban cemaran organik TOM (Total Organik Matter) menjadi lebih kecil. Beban cemaran air lebih sedikit, ekosistem kolam makin sehat dan kualitas air semakin bagus,” tambah Andi.Baik—Buruk Aplikasi FermentasiBukannya tanpa risiko, aplikasi pakan fermentasi juga memiliki beberapa kelemahan. Selain dari bertambahnya anggaran untuk pembelian probiotik, beberapa metode fermentasi dirasakan kurang praktis sehingga aplikasinya terasa merepotkan.Tak hanya itu, Ibnu Sahidir juga mengungkapkan bahwa energi pakan menurun akibat dimanfaatkan oleh mikroba. Selain itu, pakan rentan terkontaminasi mikroba patogen saat proses fermentasi sehingga menghasilkan racun. “Water stability pakan menurun dan zat terlarut mudah mengalami pelarutan atau leaching ke air,” ungkapnya.Dalam fermentasi pakan, petambak perlu memahami bahwa probiotik akan aktif dan hidup untuk memecah bahan pada media yang basah. Oleh sebab itu, sebelum ‘memeram’ pakan, tambahkan air terlebih dulu. Baca juga: Kombinasi Tepung Bayam dan Taoge Substitusi Tepung KedelaiSelanjutnya, taburkan tepung probiotik dan aduk hingga rata. Jika probiotik yang digunakan dalam bentuk cair, encerkan terlebih dulu probiotik dengan air yang bersih agar dengan  mudah tercampur merata. Air juga memberikan kelembapan pada pakan yang akan difermentasi. Selanjutnya, pakan yang sudah dicampur dengan probiotik dan lembap di-inkubasi dalam waktu 1—2 hari.Mengapa 1—2 hari?“Bila lebih, hasilnya akan berbeda,” terang Agnes.Menurutnya, bentuk fisik pakan yang terfermentasi berhubungan dengan kadar air dan waktu fermentasi. Pakan yang terlalu basah dan difermentasi dalam waktu lebih lama akan membentuk jaringan hifa atau miselium jamur sehingga akan membentuk gumpalan. Sementara bentuk pakan yang tidak terlalu basah dan difermentasi pada umur fermentasi 1—2 hari hampir sama dengan pakan nonfermentasi, tetapi lebih basah dan beraroma lebih harum.Larutan Fermentasi AlternatifHal yang perlu dipahami dalam proses fermentasi pakan bahwa berbeda probiotik menyebabkan bahan pakan yang dipecahkan juga bisa berbeda. Otomatis, hasil akhirnya pun berbeda. Oleh sebab itu, penggunaan mikroba atau probiotik harus tepat agar hasil fermentasi maksimal sesuai dengan harapan.Sedikit berbeda dengan aplikasi fermentasi pakan sebelumnya, pemberian larutan fermentasi justru tidak mengharuskan pemeraman pakan. Pemberian pakan ke udang atau ikan justru dilakukan segera setelah pakan dicampur larutan fermentasi.Hasil penelitian yang dilakukan Romi Novriadi, Staff Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan, menunjukkan tingkat perbaikan kualitas pakan, diukur dari laju pertumbuhan, rasio konversi pakan, tingkat kelulushidupan, tingkat konsumsi pakan, dan Thermal Growth Coefficient (TGC). Penelitian ini ini dilakukan dengan cara pelapisan pakan dengan larutan BF, campuran fermentasi hasil akitivitas Lactobacillus spp dan Bacillus spp. Proses coating dilakukan dengan melarutkan serbuk BF dan molase ke dalam air tawar. Baca juga: Using a Probiotic Mixture is More Effective AloneCampuran ini diaerasi selama 8—12 jam. Selanjutnya, larutan BF dicampur dalam pakan dan diaduk rata dengan mixer selama 15 menit. Pakan yang telah tercampur rata kemudian dikeringanginkan dan segera diberikan kepada udang.Hasil percobaan menunjukkan penggunaan larutan fermentasi (BF) memberikan pengaruh signifikan terhadap berat akhir udang, rasio konversi pakan (FCR), tingkat kelulushidupan, dan populasi bakteri Vibrio spp dalam saluran pencernaan.Secara statistik, penggunaan larutan BF dengan konsentrasi 1% memberikan hasil pertambahan berat yang lebih besar dibandingkan perlakuan BF dengan dosis 0,5 % atau tanpa pemberian larutan BF. Rasio konversi pakan dengan suplementasi BF 1 % juga lebih rendah dibandingkan 0,5 % BF dan pakan control. Komposisi bakteri Vibrio spp pada perlakuan 1 dan 2 % BF juga memberikan jumlah total Vibrio spp yang lebih kecil dibandingkan 0,5 % BF dan kontrol. Sementara pada akhir masa percobaan, tingkat kelulushidupan udang dengan perlakuan 1% dan 2% BF lebih baik dibandingkan 0,5 % dan kontrol.Menurut Romi, enzim pencernaan pada udang—termasuk vaname—umumnya disintesis di F-cells (fibrillar cells) dan terakumulasi di B-cells (blister-like cells). Hepatopankreas sebagai organ sekretori utama mengeluarkan enzim pencernaan yang meliputi protease, enzim lipolitik, kitinase, selulase, laminarinase, α/β-glukosidase, dan α-amilase sehingga berbagai bahan penyusun pakan—termasuk selulosa—dari dinding sel tumbuhan, laminarin dari alga cokelat, dan non-starch polysaccharides lainnya dapat lebih mudah dicerna. “Penambahan larutan fermentasi Lactobacillus spp dan Bacillus spp dengan menggunakan molase sebagai substrat memperkuat reaksi enzim ini, sekaligus mempercepat proses degradasi makro-nutrien menjadi partikel yang lebih mudah diserap. Nutrien yang lebih mudah diserap dan kondisi kesehatan pencernaan yang lebih baik menjadikan udang yang diberi pakan perlakuan memiliki karakter pertumbuhan dan tingkat kelulushidupan yang lebih baik,” terang Romi. Artikel Asli : Info AkuakulturTentang MinapoliMinapoli merupakan marketplace++ akuakultur no. 1 di Indonesia dan juga sebagai platform jaringan informasi dan bisnis perikanan budidaya terintegrasi, sehingga pembudidaya dapat menemukan seluruh kebutuhan budidaya disini. Platform ini hadir untuk berkontribusi dan menjadi salah satu solusi dalam perkembangan industri perikanan budidaya. Bentuk dukungan Minapoli untuk industri akuakultur adalah dengan menghadirkan tiga fitur utama yang dapat digunakan oleh seluruh pelaku budidaya yaitu Pasarmina, Infomina, dan Eventmina.  ...
Udang Jerbung, Harapan Ekspor Terbaru dari Pembudidaya
Udang

Udang Jerbung, Harapan Ekspor Terbaru dari Pembudidaya

Udang jerbung atau udang merguensis merupakan komoditas yang tepat untuk dikembangkan di Indonesia. Hal itu dikarenakan, ketersediaan induk ada di seluruh wilayah perairan Indonesia, sehingga memudahkan dilakukan pengembangan. "Selain merupakan jenis udang lokal asli Indonesia. Secara teknis, komoditas ini mempunyai potensi ekonomi yang lebih menguntungkan. Karena, biaya produksi usaha lebih efisien, udang jerbung juga tahan terhadap penyakit," kata Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, pada saat melakukan kunjungan kerja di lokasi budidaya udang merguensis milik Pokdakan Windu Rejo di Kecamatan Sidayu Gresik, Senin (30/9).Menurut Slamet, budidaya udang Jerbung sudah mulai memasyarakat.Oleh karenanya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus mendorong pengembangan budidaya udang merguensis ini di berbagai daerah di Indonesia."Salah satu upayanya yakni dengan memberikan bantuan dan pendampingan kepada pembudidaya. Ke depannya, udang jerbung ini nantinya bisa menjadi pilihan budidaya masyarakat," jelas Slamet.Seperti diketahui, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) melalui Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara telah berhasil menginisiasi program pemuliaan buatan (seleksi breeding) untuk penyediaan stok benih udang jerbung bermutu bagi pembudidaya.Program ini menghasilkan induk unggul jerbung dengan status Specific Pathogen Free (SPF), pertumbuhan cepat dan lebih tahan terhadap perubahan lingkungan. Keberhasilan seleksi breeding tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan induk hasil tangkapan di alam, serta mengurangi resiko penyakit.“Saat ini KKP sedang melakukan uji multi lokasi untuk melihat performance yang dihasilkan untuk selanjutnya dapat kita tingkatkan kualitas benih, penyiapan induk hingga ke sistem pembudidayaan yang paling tepat," kata Slamet.Selain di Gresik, lokasi percontohan budidaya udang jerbung telah dilakukan di Pemalang, Brebes, Demak. Sejumlah pembudidaya tersebut mendapat pembinaan langsung dari BBPBAP Jepara bekerjasama dengan penyuluh dan dinas perikanan setempat.“Keberhasilan teman-teman BBPBAP Jepara patut diberikan apresiasi karena dapat mengangkat kekayaan alam asli Indonesia serta menumbuhkan diversifikasi usaha khususnya untuk komoditas udang," ujarnya.Udang merguensis atau di pasar ekspor dikenal dengan sebutan banana shrimp ini banyak disukai konsumen khususnya Jepang. Selain citarasa yang lezat, konsumen Jepang juga menyukai warna udang Jerbung yang cenderung lebih merah apabila dimasak.Budidaya EkstensifMenurut Slamet, ketergantungan udang jerbung terhadap pakan alami sangat tinggi. Sehingga, udang ini cocok untuk sistem budidaya ekstensif. Sistem budidaya ini dapat mendorong pemanfaatan lahan idle tradisional plus sampai dengan semi intensif maupun sebagai ekstensifikasi lahan yang sudah berjalan."Ke depan, perbanyakan benih akan dibentuk pola melalui naupli center per komoditas. Pembudidaya akan kita fokuskan ke pembesaran, sedangkan pengusaha besar yang akan mengindukan dengan induk yang unggul agar lebih terkontrol, " kata Slamet.Kepala BBPBAP Jepara, Sugeng Rahardjo mengatakan, hingga kini kapasitas produksi hatchery BBPBAP Jepara sebanyak 20 juta ekor benur per tahun. Dari jumlah tersebut, sebanyak 12 juta diantaranya merupakan hasil dari induk yang bukan berasal dari tangkapan di alam.“Proses domestikasi terus kami lakukan untuk dapat menjamin ketersediaan induk. Dengan proses biosekuriti yang terkontrol baik, kami dapat menghasilkan calon induk yang memiliki daya tahan tinggi serta menghasilkan benih bermutu,” jelasnya.Sugeng juga mengatakan, BBPBAP Jepara saat ini telah berhasil mendapatkan induk Marguensis G3 melalui seleksi masal. Marguensis G3 ini memiliki tingkat keseragaman tinggi dengan mating rate 20-30 %. "Karena itu, pada tahun 2020 kami akan fokus pada upaya breeding program melalui seleksi familiy. Tentunya dengan SOP yang lebih ketat. Kita optimis melalui upaya ini performanya semakin baik," pungkasnya. Sumber : Tabloid Sinar Tani ...
Percontohan Klaster Budidaya Udang Berkelanjutan Dibangun
Udang

Percontohan Klaster Budidaya Udang Berkelanjutan Dibangun

Sumber : areahewan.comSeluas 10 ha tambak akan dibangun untuk percontohan model kawasan budidaya udang berkelanjutan di Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah. Percontohan tersebut sebagai stimulan pemanfaatan potensi tambak melalui usaha budidaya udang berkelanjutan dan berkualitas guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat.Demikian disampaikan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto dalam keterangannya seusai melakukan sosialisasi klaster tambak udang berkelanjutan di Buol baru-baru ini, sebagaimana disampaikan oleh siaran pers Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan.Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Bupati Buol, Syamsuddin Koloi, beserta jajarannya dan perwakilan masyarakat pembudidaya ikan. Lebih lanjut dalam keteranganya, Slamet mengatakan bahwa pengembangan klaster kawasan budidaya ini sangat sejalan dengan komitmen KKP untuk mendorong pengembangan perikanan budidaya secara berkelanjutan baik dari aspek lingkungannya, ekonomi dan sosialnya. Di samping itu menurutnya, sistem klaster akan merubah pengelolaan usaha budidaya tambak dari parsial menjadi klasterisasi."Kami sangat mengapresiasi komitmen Pemda di 4 (Kabupaten) khususnya Kabupaten Buol dalam upaya pengembangan klaster budidaya perikanan berkelanjutan. Setelah semua komitmen dan persyaratan non teknis terpenuhi, dalam waktu dekat kita akan mulai ke arah teknis. Nanti kami turunkan tim teknis dari BLUPB Karawang ke lapangan untuk mulai mendesain kawasan percontohan", ungkap Slamet.Dalam pemanfaatan lahan, Slamet menjelaskan ada 2 (dua) peruntukan lahan yakni untuk penyangga dan utama. Untuk penyangga dikelola secara mandiri terdiri dari 30% polikultur dan 20% bandeng. Sedangkan yang utama dikelola melalui kemitraan yakni 50% untuk budidaya udang."Peran KKP dalam hal ini Ditjen Perikanan Budidaya yakni memberikan dukungan rehabilitasi infrastruktur tambak, pendampingan teknis, dan fasilitasi pemenuhan kebutuhan benih bermutu", pungkasnya.Sebagaimana diketahui, pengembangan klaster kawasan budidaya berkelanjutan merupakan bentuk komitmen bersama yang akan dituangkan dalan nota kesepahaman antara 4 (empat) Kabupaten wilayah utara, Ditjen Perikanan Budidaya, Bappenas, dan Universitas Gorontalo. Empat Kabupaten tersebut yakni Kabupaten Buol (Sulawesi Tengah), Gorontalo Utara (Gorontalo), Bone Bolango (Gorontalo), dan Bolang Mogondow (Sulawesi Utara). Sementara itu, Wakil Bupati Buol, Syamsuddin Koloi, menegaskan bahwa pihak Pemda Buol akan mensupport penuh program ini. Menurutnya seluruh sumber daya yang ada akan difokuskan untuk kesuksesan program ini. Kamu berharap program ini akan memicu pertumbuhan ekonomi daerah dan kesejahteraan masyarakat. "Mulai saat ini saya minta seluruh SKPD terkait untuk menyuppor program ini. Mulai dari ketersediaan infrastruktur jalan, listrik, air dan penunjang lainnya", tegas Syamsuddin.Sumber : Neraca ...
Promising Results in Shrimp Fed Plant-Based Replacements for Fishmeal
Udang

Promising Results in Shrimp Fed Plant-Based Replacements for Fishmeal

Feeding trails with Pacific white shrimp demonstrated that replacing fishmeal with soy and corn protein concentrate did not adversely impact growth or performance.Source : Aquacultureallience.orgIn a recent feed trial published in Aquaculture Nutrition, researchers demonstrated that plant-based protein concentrates could be used to replace fishmeal for Pacific white shrimp (Litopenaeus vannamei) raised in low salinity and high density conditions. The study investigated whether replacing fishmeal with soy and corn protein concentrate had any effect on growth performance. The study also explored whether indoor clear-water systems or outdoor green-water systems produced better growth results with the trial diet.The researchers created a basal diet that contained 200g/kg fishmeal, and systematically reduced the fishmeal concentration and replaced it with a soy and corn protein concentrate (mixed at a 1:1 ratio). The experimental diet was compared to a control that contained reduced fishmeal that was supplemented with the key amino acids methionine and lysine.In Trial 1, the researchers fed the two diets to shrimp raised in an indoor clear-water system that had a high stocking density. Initial results showed a slight decrease in growth performance when compared to a control group – but this was only in groups fed the highest concentration of plant-based protein.In Trial 2, however, the researchers fed the diets to shrimp raised in an outdoor green-water system that had the same stocking density as Trial 1. The researchers did not report any significant differences in growth performance across the tested diets. This result demonstrates that plant-based protein concentrates can be used to replace fishmeal for shrimp raised in facilities with high stocking densities and green-water ponds.Source : The FIsh Site ...
Biotechnology Applications Without Antibiotics, Chemicals in Shrimp Culture
Udang

Biotechnology Applications Without Antibiotics, Chemicals in Shrimp Culture

The overuse of chemicals and antibiotics in intensive shrimp farming has now disrupted ecological balance and adversely affected the environment, poor product quality and the retention of banned chemicals and antibiotics. barriers in exporting Vietnam shrimp to the world market. The application of biotechnology in commercial shrimp farming is now considered an indispensable support solution for the stable and sustainable development of industrial shrimp farming.I. Use of probiotics (Probiotics)Currently on the market there are many types of probiotics with many different brands. However, the most commonly used probiotics, low cost, high efficiency and easy to apply for shrimp farmers are EM (Efective Microorganism).1.  The role of EM preparationsIn animal husbandry and aquaculture:- EM works well for all species of pets, all species of aquatic animals.- Increase the resistance and resistance of livestock to adverse external conditions; Improve the ability to digest and absorb pet food; Increases reproductive stimulation of pets; Increasing production and quality of livestock; inhibition of harmful microorganisms; Limiting environmental pollution.Also read: Probiotics in AquacultureIn environmental protection:When spraying EM into garbage, sewers, barns, ponds, ... will eliminate odors quickly; reduce the number of flies, mosquitoes, insects in the environment; deodorizing organic waste and speeding up humus; prevent the process of causing rot and mold in preserving agricultural products; High efficiency, environmentally safe and cheap price.2.  How to produce EM2 from original EM-  Procedure: (with a 50L container)Sterile the containers; Add 46 liters of fresh, clean water; Add 1kg molasses, stir well; Add 2kg of rice bran or cornstarch, stir; Add 10 g of table salt, stir; Add 1 liter of original EM, stirring; Cover anaerobic incubator for 7 days.For larger volumes (100L, 200L, 500L, etc.), the increase in raw materials is proportional to the increase in volume.-  Usage:+ Water treatment: 50 liters of EM2 / 1,000 m 3 of water; Handling pond: 10 liters EM2 / 1,000 m 2 pond; Use periodically in ponds: 50 liters EM2 / 1,000 m 3 of water, during the first month of farming every 5-7 days, the 2nd month use 3-5 days / time, the 3rd month onwards 2-3 days / times; Use to treat odors: Use EM2 aerosol directly on the surface where the odors are born.3.  How to produce EM5 from original EM-  Raw materials:1 liter of original EM; 1 liter of molasses; 1 liter of vinegar; 2 liters of wine.- Procedure:Use a covered lid, clean and disinfect; Order of input materials: 2 liters of wine → 1 liter of vinegar → 1 liter of molasses → 1 liter of original EM → stirring → tightly closed; Anaerobic incubation for 3 days. Dosage used: 3.5 liters EM5 / 1,000 m 2 .-  Usage:Treatment of pond bottoms: 5 liters EM5 / 1,000 m 2 ; Water treatment: 4 liters EM5 / 1,000 m 3 , every 7 days, when large shrimp increase the number of uses.Also read: Probiotic Capacity of Pseudovibrio Denitrificans Isolates From a Marine Sponge4.  How to produce EM garlic from EM5-  Raw materials:1 liter EM5; 1 kg pureed garlic; 8 liters of clean water-  Procedure:Use a covered lid, clean and disinfect; Order of ingredients: 8 liters of water → 1 kg of pureed garlic → 1 liter of EM5 → stirring → tightly closed; Anaerobic incubation for 24 hours.-  Usage:Prevention: 1 liter EM garlic + 10 kg of food, compost after 1 hour, feed periodically; Treatment: Use a double dose, feed continuously for 7-10 days, then return to the preventive dose.5. How to produce EM bananas from EM2- Material:1 liter EM2; 1 kg of molded bananas, pureed.-  Procedure:Use a covered lid, clean and disinfect; Order for the ingredients: 1 kg of pureed peeled bananas → 1 liter of EM2 → stirring → tightly closed; Anaerobic incubation for 24 hours.-  Usage:1 liter of EM bananas + 10 kg of feed, compost after 1 hour, continuous feeding.Also read: Can Probiotics Make Shrimp Farming More Environmentally Friendly?6.  Principles of using probiotics- Do not use probiotics concurrently with antibiotics and bactericidal chemicals.- Use the right dose, not as much as possible.- Powdered probiotics should use dissolved pond water and strong aeration 2-4 hours before use to increase bacterial biomass.- Water-based probiotics should be incubated anaerobic to increase biomass before use.- The best microbiological treatment time is about 8-10 am, during the warm sunshine, clear sky and high dissolved oxygen content.- Periodically treat microorganisms to maintain appropriate bacterial density in order to control biological environment of water and pond bottom, stabilize environmental factors, prevent pathogenic bacteria, toxic algae and pathogens latent in the pond.* Environmental factors affecting the efficiency of using CPVS:- O xy dissolved: aerobes ( Bacillus ) and strictly aerobic bacteria (VK nitrate) to ensure adequate dissolved oxygen efficiently.- Alkalinity, salinity: High alkaline water (80 - 150mg / l CaCO 3 ) → Stable pH, low alkaline water (50mg / l CaCO 3 ) → Fluctuating pH → reduced efficiency of microbiology short. Salinity is too high → causes death or inhibits the growth of microorganisms.- Weather: Greatly affecting the growth of algae and water color → affecting the efficiency of using microorganisms. Use best microorganisms in the morning, when it's clear.- Nutrition: It is necessary to add C to nitrate bacteria to effectively reduce N-NH 3 → NO 3 .* Time and frequency of use:- Should use microorganisms right from the beginning of the crop → high efficiency.- From mid to end of crop → low efficiency.- At the beginning of the crop 7-10 days to use once, from mid to late crop 3-4 days to use once.* Dosage used:- Use as directed by the manufacturer.- Excessive use → ecological imbalance, reduced DO, irritated animals, stress.- Use too little → do not work well.Also read: Effect of Streptomyces Probiotics on Gut Microbiota of Pacific White Shrimp* Culture of bacterial biomass:- Some probiotics need to be cultured to increase the number of bacteria, anaerobic cultures are needed to avoid contamination.- Some probiotics with high bacterial density do not need to increase biomass and can be used directly in ponds. However, it should be mixed with water and strong aeration for several hours before splashing into the pond.* Other factors:- Too many protozoa will eat bacteria → the density of microorganisms will decrease.- Simultaneous use of biocides, antibiotics, water changes, ... will reduce the effectiveness of microorganisms.7. The prevention and treatment of some diseases for shrimp by microbial products•  Shrimp floating head due to toxic gases:- Dissolve 2-3 liters of original EM into 20 liters of water taken from the pond and then throw it into the pond at the first floating shrimp.- Open fans running at full capacity.•  Shrimps with tail and stubble:- Use 2 liters of EM garlic + 10 kg of food.- Mix well and incubate for 4 hours.- Feed the shrimp at the rate of 1kg / 100,000 postlarvae / day.- Or use 50 liters of EM2 / 1,000 m 2 / day, use 3 times in a row with intervals of 2 days / time.•  Crumbled shrimp:- Use 4 liters EM5 / 1,000 m 2 , use continuously for 5 days in the morning.- When algae dies a lot → low pH → use lime to raise pH.•  Shrimp with white spot disease:- Use 5 liters EM5 / 1,000 m 2 / day for 5 days in a row used in the morning.- When shedding many stop using EM5 and uses 50 liters of EM2 / 1,000 m 2 /2 days, used continuously until the WSD descending (Thailand used effectively for over 10 years).II. Biofloc technologyCurrently many businesses are adopting Biofloc technology and have very good results. Approaching Biofloc technology to improve the biomass of microorganisms as feed for shrimps by adding C so that bacteria can more fully utilize the source of waste N converted into biomass in Biofloc, improving environmental management efficiency rearing ponds, reducing diseases, reducing food intake.Biofloc components include: A mixture of heterotrophic microorganisms (floc-producing bacteria and filamentous bacteria), debris, colloids, biopolymers, cations, dead cells, crystal salts, etc. Biofloc also has microalgae (filamentous algae, silica algae), fungi, protozoa, zooplankton (rotifers), nematodes, etc.Also read: Research Backs Value of Probiotics in Shrimp PondsInducing Biofloc in shrimp ponds (2 . 000 m 2 ):After supplying water from the settling pond up to the requirements, conduct Biofloc:- Use 3 kg of food number 0.- 1 liter of original EM or 0.5 kg of Ta-pondpro or other probiotics on the market.- 3 kg of Stomi or N8 minerals, or minerals on the market.- 6 liters of molasses.Incubate after 24 hours into the pond. Every 2 days, repeat the process, after 7-10 days, Biofloc will come up and when using imhoff measuring cup to reach 3-5 mm, you will conduct stocking.During the culture process, 0.6 liters of molasses / kg of feed were used to maintain the Biofloc density in the pond. When Biofloc content is too thick, reduce molasses to 0.2 liter / kg of feed.Shrimp farming using Biofloc technology requires a large amount of energy to operate the aeration system. If the power outages within 1 hour can cause the situation of settling the entire amount of Biofloc in the pond. Ponds with this technology must be lined or made of cement. Biofloc technology requires higher technical training for technicians. Applying biotechnology without using antibiotics and chemicals in commercial shrimp farming can manage water quality throughout the crop, minimize environmental pollution, control disease outbreaks, minimize risks, increase efficiency. use feed, reduce production costs, improve product quality, This is a solution for sustainable development of commercial shrimp farming on the sand.Source : www.khuyennongvn.gov.vn ...
Potential Feed Containing Melanin Protects Vannamei From WSSV Virus
Udang

Potential Feed Containing Melanin Protects Vannamei From WSSV Virus

A recent study by Nguyen Dinh Thang et al. 2019, for the first time, found that food supplemented with melanin helps protect whiteleg shrimp from the white spot syndrome virus (WSSV). The report is published in International Aquatic Research.Whiteleg shrimp ( Litopenaeus vannamei ) is a major species in South Africa and Asia, especially Brazil, Ecuador, Mexico, China, Thailand, Indonesia and Vietnam. However, viral diseases are a serious problem for shrimp industry in these countries. White spot syndrome virus (WSSV) has been considered as one of the most dangerous pathogens that infect shrimp, causing mortality as high as 100% within 7-10 virus infections.Shrimp immunity is highly dependent on the innate immune system including cellular barrier and humoural these barriers play an important role in protecting shrimp from pathogen attack. In addition, melanization is also an important immune mechanism in shrimp. Melanin is a naturally occurring polymer with very low toxicity (Garcia Borron et al. 2014). Melanin has many important roles in the human body including absorption of UV radiation, antioxidants and heavy metal absorption. Melanization and melanin secretion help shrimp protect themselves by packaging pathogens and excreting them into the environment. However, no studies have examined the role of melanin as a supplement in protecting shrimp from pathogen attacks. Therefore, in this study, it was the first time to create feed containing melanin and apply them to vannamei ( Litopenaeus vannamei ) farmed to investigate its ability to protect shrimp against WSSV.Feed containing melanin protects vannamei from WSSV virusPrepare the foodNatural Melanin is extracted from Squid (Loligo formosana). Commercial granular feed with a diameter of 2 mm is used as the main feed to produce feed containing melanin with different formulations. Formula 1 (F1): Melanin is coated on the surface of commercial feed particles using cod oil as a binding agent. At first, melanin powder (size <150m) was distributed into cod oil and evenly distributed on commercial feed particles at different ratios (w / w) 1/500, 1/200 and 1 / 50. Formula 2 (F2):  Melanin is mixed with commercial flour and starch solution (3%) used as a binder. First, commercial feed particles are ground into a powder. After that, commercial food flour and melanin powder are mixed at different ratios of 1/500, 1/200 and 1/50 (w / w) and evenly distributed in 3% starch solution. Next, the mixture is extruded to form particles with a diameter of 2 mm. Formula 3 (F3): Commercial feed particles are dipped directly into the ink liquid at 1/1 (w / v).Although F1, F2 and F3 feeds were originally created with different levels of melanin / feed , including 1/500, 1/200 and 1/50, the preliminary results of the researchers show. that the 1/200 ratio is the best fit and therefore researchers used the feed at this ratio for subsequent experiments.A) The dose of WSSV causes 75% of shrimp to die. Mortality was challenged with different doses of WSSV; B) Morphology of negative control (NC) and WSSV-infected shrimp (PC) on day 1 (D1), day 4 (D4), day 7 (D7), day 10 (D10) and day 14 (D14) ; C) Expression of the VP28 gene in PC and NC shrimp after viral infection. The blue and red circles indicate necrotic heads and red tails occurring on WSSV-infected shrimp.Shrimp were raised and fed with F1, F2 or F3 feed, then challenged with WSSV for 3 days. Dead shrimp are collected and counted.The results demonstrate that feed preparation formula containing melanin affects the protective ability of melanin supplementation in cultured shrimp . Compound feed F2 has a significantly higher protection rate than feed coated with melanin (F1 and F3). Mixing F2 form can obtain melanin inside feed particles, while formulas coated with F1 and F3 cannot keep melanin in water; Therefore, the amount of melanin consumed when raising F2 shrimp is much higher than that of F1 or F3 cultured shrimp. This result can lead to differences in the protection capacity of feed types. The results of this study showed that the protection rate depends on the amount of melanin that shrimp have consumed; therefore, providing F2 and F3 feed mixtures for shrimp does not appear to have a synergistic effect on the rate of protection.The amount of melanin consumed by shrimp depends on the type of feed. WSSV-infected shrimp were fed with NC1, F1 and F2 feed, respectively. The red circles indicate different amounts of melanin in the shrimp gut. D) Melanin is released from food into the environment.The results of this study indicated that protection rates for shrimp fed F2 feed were about 60, 65%. This result is very impressive, but reasonable; Melanin supplementation can only partially help shrimp catch and pack the invasive virus through the digestive system, but it cannot help eliminate the virus that causes shrimp disease by other means of penetration. Therefore, the simultaneous use of other substances that can stimulate the activity of the immune system may be necessary. Moreover, this study used natural melanin extracted from ink bags, which is considered a waste from seafood processing plants. Therefore, using this waste source to produce melanin will bring great benefits because of its low cost. The results showed that F2 had a 64% protection rate on Saturday and 62% on day 10 after the virus challenge. The protective ability of feed depends on the amount of melanin consumed by shrimp. Moreover, Gen VP28, VP28 (28 kDa) is an important structural protein of WSSV that can be used as a marker to determine the presence of WSSV in water or / and shrimp samples, which have provided presence of WSSV, was significantly reduced in F2 shrimp.Source : tepbac.com ...
French Study Finds Yeast Derivatives a Potential Solution to Shrimp Disease
Udang

French Study Finds Yeast Derivatives a Potential Solution to Shrimp Disease

A team of French researchers has found a multi-strain yeast solution to be an effective counter-measure to the shrimp disease commonly known as white feces syndrome (WFS).Run by Lallemand Animal Nutrition in partnership with Loc Tran from the ShrimpVet Laboratory in Vietnam, the study tested the impact of its yeast derivatives on juvenile shrimp affected by WFS."We have already shown very interesting benefits to shrimp defenses when using our innovative multi-strain yeast fraction solution," said Eric Leclercq, R&D manager for Lallemand. "With Dr. Tran, we wanted to explore the mode of action of this natural solution in the context of WFS."Use of the yeast derivative was found to preserve or improve shrimp performance, reduce tissue damage in the gastrointestinal tract, and mitigate the reshaping of gut microbiota by WFS."In particular, the relative abundance of Vibrio sp. is decreased, which seems to reduce the severity and impact of the disease," said Lallemand in a release. "The shift in intestinal microbiota documented here suggests a role of the commensal microbiota in the pathogenesis of the WFS," added Leclercq. "The study hints towards the potential of reinforcing the intestinal microbiota equilibrium against Vibrio sp.-induced disruption that could mediate WFS.”Source : Undercurrent News ...
Prevention of Disease Caused by EHP Spores on Shrimp
Udang

Prevention of Disease Caused by EHP Spores on Shrimp

 EHP according to the General Department of Fisheries, the situation of EHP bacterial spores infection in brackish water shrimp is on the rise. This is a disease that does not cause mass death but has a huge economic impact on shrimp farming because when the shrimp get sick, it will grow slowly, even not large even though it still consumes a lot of food (farmed shrimp). 90-100 days of age can still reach the size of 4-5 grams / individual (200-250 heads / kg).Shrimp infected with EHP showed no typical signs such as white spot disease or acute hepatopancreatic necrosis but mostly slow growth, soft shell and pale hepatopancreas. There is currently no specific solution for this disease. Therefore, to prevent the spread of disease caused by EHP, shrimp farmers are recommended to apply some general preventive measures as follows:Seed : Need to choose good seed tested without carrying common pathogens in shrimp. Select shrimp seed from reputable companies and production farms.Moderate stocking density: For black tiger shrimp 15-25 shrimp / m 2 , for Pacific white shrimp 60-70 shrimp / m 2 .Settling ponds : In intensive and semi-intensive culture, it is required to have settling ponds with an area equal to at least 30% of the pond area in order to be able to actively supply fresh water to the pond at any time. For settling ponds, it also needs to be renovated and must be disinfected thoroughly before supplying water into ponds.Pond improvement : It is necessary to follow the pond renovation procedure to eliminate pathogens that existed from the previous crop.For lined lined ponds, it must be scrubbed, sun dried, treated with lime to remove germs, wash, chlorine treated at least 30 ppm, and disinfect water thoroughly before coloring.For soil ponds, plowing and drying should be done at least 2-3 weeks. Treat with lime, then wash ponds, treat with chlorine at least 30 ppm, disinfect thoroughly before watering and coloring. Ponds need to be treated and tested for vibrio density in water and in soil thoroughly before coloring.Biosecurity: Absolutely comply with biosecurity in ponds to avoid the spread of pathogens between ponds on the same farm. Items used for shrimp care or inspection should be sited separately to help prevent spread between one pond and another. Farms with ponds contaminated with EHP should pay special attention to spreading by water or by caregivers.Health management: Regularly checking food sieves to avoid overfeeding affecting water quality and facilitating the supply of nutrients to groups of pathogens. Regularly check the color of hepatopancreas, appearance (color, hard condition of shrimp shells), distribution of size, etc. Managing water quality: Regularly monitoring the basic elements in the pond such as pH, temperature, alkalinity, dissolved oxygen to timely adjust, avoiding shrimp shock caused by the environment will create conditions for pathogens work and cause disease outbreaks.Source : tepbac.com ...
Dr Loc’s Key Steps to Antibiotic-Free Shrimp Production
Udang

Dr Loc’s Key Steps to Antibiotic-Free Shrimp Production

And, given that he is putting this theory into practice on his own shrimp nursery and grow-out farm in Vietnam it is hard to argue with his logic. He recently shared a few key pointers with The Fish Site for antibiotic-free shrimp production.What are most important means to negate the need to use antibiotics in shrimp production?The key place to start is the need to apply biosecurity in your production unit, and that can be done by better water treatment, biosecurity measures, diagnostics and being sure that the facility is pathogen free.Bearing in mind that we have to deal with the ubiquity of vibrios and other types of bacteria, the second step is to keep the environment clean – through better pond management and also water treatment and removing sludge and effluent during culture. It’s also crucial to use probiotics to take care of the waste – organic waste and also other kinds of effluents like ammonia, nitrite and hydrogen sulphide. By keeping the environment clean you will have clean stock and clean water, and the animal will be very healthy.We also need to keep the aquatic animal’s gut microbiota healthy by applying active probiotics for microbiome moderation. By doing that, vibrios cannot produce enough toxins to cause damage to the animals.In the feed itself we can apply feed additives, prophylactics and quorum-quenching products to minimise the impact of bacterial infection. Particular ingredients include acidifiers, monoglycerides and phytogenics, which provide a good substrate to replace the use of antibiotics because they can suppress the growth of harmful bacteria and promote a healthy microbiome in the animal gut.All of these methods are only effective, however, if farmers are well educated and well informed about new developments in farming technology so that they’re able to see the broader picture. They also must have a very clear farming protocol from day one.Loc has found that antibiotic-free production has made his results much more consistentHow has applying these techniques affected your own production?The ShrimpVet lab was founded about six years ago and our main activities were initially in R&D and diagnostics. However, we soon began to realise that in order to better assist farmers we had to apply those concepts into shrimp production. This is why we founded a hatchery – it gave us the chance to start applying these concepts of biosecurity, probiotic maturation in the water, probiotics in feed and better management of the environment. This allowed us, eventually, to produce very high-quality shrimp post-larvae and we can now apply the same concept to our grow-out farm too – we now have a pretty decent sized farm, all our ponds now plastic-lined and we apply probiotic activation from the nursery phase, as well as all the disease-control concept lines mentioned earlier.How has this worked out for you?Everything has become very consistent – the survival rate at our hatchery is always about 50 percent, we don’t have any issues with luminescent disease or EMS [early mortality syndrome] or other bacterial diseases in the hatchery. At the grow-out farm level we don’t encounter either EMS or white faeces when we apply a clear farming protocol with proactive disease-control measures.How many cycles have you gone without using antibiotics?We’ve operated the hatchery for three years – we stock with new nauplii every day in each production unit and each production cycle will last for about three weeks, so we have done at least 30 cycles already. After several cycles we began to master the skill.On the grow-out farm we have completed several cycles too now and have advocated similar practices in other farms in Vietnam and across Asia. We’ve also persuaded farmers in Latin America to follow suit – in late 2017, for example, there was a big issue with mortalities in hatcheries in Salinas in Ecuador. We did our diagnostics so we knew what was going on; we advised the hatchery operator to follow the protocol and now we don’t hear much about the problems in the hatchery. We’ve also educated farmers across India and in many other countries in Asia to follow these procedures.Would you like to see your methods become the standard operating procedure (SOP) for the shrimp sector globally? It might be too much to come up with an SOP for farming because the shrimp business is very dynamic and we keep facing new challenges every day. But I would say that sharing ideas is important so we can all deal with the situation as it evolves and can plan for any emerging threats.Source : The Fish Site ...
Monitoring Kesehatan dan Pengelolaan Hama Penyakit Udang
Udang

Monitoring Kesehatan dan Pengelolaan Hama Penyakit Udang

Udang yang sehat mampu tumbuh sesuai target pertumbuhan serta dapat dipanen pada umur budidaya yang telah ditetapkan. Ingin udang sehat ? Lakukan langkah-langkah berikut.Kesehatan udang ditentukan oleh pengelolaan lingkungan yang baik. Hal ini disebabkan media budidaya yang baik mampu menunjang pertumbuhan udang yang dibudidayakan. Monitoring kesehatan yang dilakukan secara kontinyu serta upaya mencegah timbulnya hama dan penyakit dalam usaha budidaya merupakan kunci menciptakan serta mempertahankan kesehatan udang. Selama lingkungan masih mampu mentoleransi beban polusi internal sebagai hasil degradasi input produksi (pupuk,obat, pakan dan feses udang), udang akan tetap dalam kondisi sehat.Pada umumnya, serangan penyakit mulai terjadi pada bulan kedua pemeliharaan. Kunci manajemen kesehatan udang adalah pencegahan. Terapi udang dengan menggunakan obat-obatan merupakan langkah pencegahan dini agar virulensi penyakit dapat dihambat bahkan rantai penyebaran dan serangan penyakit dapat dimusnahkan. Kemampuan mengendalikan faktor penyebab stres dan antisipasi yang tepat terhadap potensi serta gejala sakit tersebut menentukan kualitas dan kuantitas udang hingga masa panen.Monitoring kesehatan udangPengamatan kesehatan udang sangat perlu dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatannya setiap hari. Pengamatan dilakukan dengan mengontrol udang di anco, yang bisa dianggap mewakili kondisi keseluruhan udang di dalam kolam. Pengamatan dilakukan secara visual, baik terhadap udang maupun anco. Hal ini disebabkan anco merupakan miniatur dari lingkungan kolam. Selama pengecekan diharapkan tidak terdapat udang yang mati di dalam anco. Banyaknya feses udang di anco menunjukkan bahwa udang melakukan metabolisme dengan baik. Selain itu, pakan yang diberikan di anco termakan oleh udang dengan indikator bahwa jumlah pakan yang terdapat di anco berkurang atau habis pada saat pengecekan.Pengamatan terhadap kondisi organ-organ tubuh udang juga perlu dilakukan secara berkala, seperti kelengkapan antena, ekor, kaki renang, rostrum, dan warna tubuh. Sekecil apapun perubahan tubuh seperti adanya kaki yang patah, ekor gripis, antena patah, penyimpangan warna, atau warna yang tidak lazim dengan adanya titik-titik warna lain; segera lakukan antisipasi.Udang yang sehat dicirikan dengan gerakan aktif mengelilingi petakan tambak dan meloncat bila anco diangkat serta memberikan respon positif terhadap arus, cahaya, bayangan dan sentuhan pada malam hari. Setelah berumur lebih dari 50 hari udang sering meloncat keluar petakan; tubuh berwarna putih cerah atau mengkilap dan titik-titik hitam yang jelas; tubuh bersih dan tidak ada kotoran atau lumut yang menempel; tubuh tidak lembek dan keropos; anggota tubuh tidak ada yang cacat; ujung ekor, kaki renang, kaki jalan tidak geripis dan tidak bengkok; ekor membuka dan lebar seperti kipas; insang jernih, bersih, dan terdapat gerakan seperti aliran air; dan kondisi isi usus terlihat penuh di bawah sinar, tidak terputus-putus.Hasil dari pengamatan udang dapat dijadikan sebagai salah satu acuan untuk memberikan perlakuan pada udang maupun media budidaya. Jika pakan di anco tidak habis, tidak terdapat feses udang, serta isi usus udang terlihat putus-putus atau tidak penuh; lakukan evaluasi jumlah pakan berupa pengurangan jumlah pakan. Jika terdapat udang yang mati, anggota tubuh udang tidak lengkap, dan gerakan udang lambat; lakukan pengamatan dasar kolam. Dasar kolam yang kotor karena tumpukan bahan organik sisa metabolisme atau dari sumber lain dapat dibersihkan dengan cara disifon atau dibuang melalui central drain. Jika karapas udang lembek, lakukan perlakuan pada air, misalnya melakukan pergantian air, pengapuran, atau penambahan bahan aditif lainnya.Pengelolaan hama dan penyakit udangPengelolaan hama dan penyakit dilakukan dengan tindakan pencegahan dan pengendalian. Tindakan pencegahan dilakukan agar hama dan penyakit tidak timbul dalam kegiatan usaha budidaya. Sementara tindakan pengendalian merupakan serangkaian usaha untuk menghilangkan hama dan penyakit ikan yang muncul dalam kegiatan usaha. Kehadiran hama dan penyakit ikan akan mengganggu bahkan dapat mengakibatkan kerugian yang besar serta mengancam keberlanjutan usaha budidaya udang.Pengendalian hama harus dilakukan sejak awal sampai akhir kegiatan budidaya, mulai dari tahap persiapan wadah sampai pemanenan. Pengendalian dilakukan dengan cara mencegah dan memeriksa udang secara berkala.Hama adalah segala hewan (organisme) yang ada di dalam tambak selain yang dibudidayakan dan dianggap merugikan, biasanya mengakibatkan hilangnya hewan budidaya karena proses makan-memakan (predasi), terjadi persaingan (kompetisi) dalam pemanfaatan ruang dan makanan, atau menimbulkan kerugian di bidang fasilitas. Dalam budidaya udang, hama di tambak digolongkan menjadi empat, yaitu pemangsa (predator), penyaing (kompetitor), perusak sarana, dan pencuri. Hama predator akan memangsa udang yang dibudidayakan sehingga mengakibatkan turunnya populasi udang. Sementara hama penyaing akan menyaingi udang dalam hal ruang gerak, perolehan oksigen, serta konsumsi pakan yang diberikan.Teknik pencegahan dan pemberantasan hama dimulai sejak persiapan pemeliharaan sampai panen. Beberapa cara yang dapat dilakukan yaitu melakukan persiapan pemeliharaan dengan baik; pemberantasan manual dengan melakukan patroli keliling; penyaringan air yang masuk (filter); penggunaan tandon pengendapan dan tandon perlakuan sebelum digunakan; pemasangan penghalau burung dengan tali senar yang melintang di atas permukaan air tambak atau dengan suara kincir angin atau alat lain yang dapat menimbulkan bunyi; pemasangan pagar keliling areal tambak untuk untuk membatasi pergerakan manusia dan pengaruh hewan lain dari luar lingkungan budidaya; serta penggunaan obat-obatan organik, misalnya saponin 15 mg/liter untuk membunuh hama ikan dalam tambak.Penyakit yang timbul pada udang vaname dapat disebabkan oleh virus, bakteri, parasit, dan protozoa. Umumnya, penyakit tersebut memiliki virulensi yang berbeda tergantung dari lingkungan dan ketahanan udang itu sendiri. Penyakit pada udang ada yang bersifat patogenik dan non-patogenik. Penyakit yang bersifat patogenik umumnya memiliki sifat patogen dengan tingkat kematian tinggi. Contoh penyakit patogenik antara lain Taura Syndrome Virus (TSV), White Spot Syndrome Virus (WSSV), IHHNV (Infection Hypodermal and Hematopoietic Necrosis Virus), IMNV (Infectious Myo Necrosis Virus), NHPB (Necrotizing Hepato Pancreatitis Bacteria), dan vibriosis. Sementara penyakit non-patogenik antara lain penyakit keropos pada udang, penyakit udang kram, usus dan hepatopankres abnormal, serta udang berenang abnormal.Selama proses budidaya, pengelolaan air perlu dilakukan dengan baik sehingga udang dapat hidup dengan baik dan tidak mengalami stres. Stres menyebabkan pembentukan antibodi pada udang terganggu. Jika pembentukan antibodi udang berlangsung dengan baik dan air media budidaya tetap dalam kondisi optimal sesuai kebutuhan udang, penyakit tidak akan timbul. Timbulnya penyakit disebabkan adanya interaksi antara inang, patogen dan lingkungan budidaya. Jika udang dalam kondisi lemah, terdapat patogen yang ganas, serta kondisi lingkungan budidaya buruk; udang akan bisa mengalami kematian.Rekomendasi untuk meminimalkan infeksi hama dan penyakit pada budidaya udang yaitu menggunakan benih udang yang berkualitas, baik SPF atau SPR; mendeteksi serta memonitor kesehatan udang secara rutin dan teratur; menjaga kualitas air tetap stabil sehingga udang tidak mengalami stres; mengaplikasikan probiotik dan immunostimulan untuk meningkatkan imunitas udang terhadap serangan penyakit; serta menerapkan biosecurity.Biosecurity adalah pengelolaan kawasan budidaya yang dilakukan sebagai upaya proteksi pada setiap tahapan budidaya untuk mencegah dan mengurangi penyakit masuk ke dalam kawasan budidaya serta mencegah penyebarannya ke tempat lain. Dengan begitu, biota yang dipelihara dapat tumbuh dengan optimal. Manfaat biosecurity adalah memperkecil kerugian dalam operasional budidaya karena terinfeksi penyakit, mengetahui secara dini adanya wabah penyakit, sehingga kegiatan selanjutnya dapat lebih cepat diantisipasi dan menekan kerugian yang lebih besar, apabila terjadi kasus wabah penyakit.Prinsip penerapan biosecurity di pertambakan udang adalah mencegah masuknya penyakit atau jasad patogen ke dalam wilayah budidaya udang, baik secara langsung maupun tidak langsung. Adapun cara masuk patogen bisa lewat manusia, hewan, dan peralatan yang digunakan selama proses budidaya.Untuk meminimalkan masuknya patogen tersebut perlu dibuat beberapa sarana penunjang, misalnya alat pengusir burung (bird screening device) yang mampu menghasilkan bunyi–bunyian tertentu. Contoh lain adalah pagar penghambat kepiting masuk ke tambak (crab screening device),yang dibuat dari bahan plastik setinggi 40—50 cm, dibuat berjarak 1 meter dari pematang dan mengelilingi tambak. Tempat cuci kaki dan tangan juga perlu disediakan di pintu masuk untuk meminimalkan patogen yang mungkin terbawa manusia yang akan masuk ke wilayah tambak. Air tempat cuci kaki disterilkan dengan chlorine cair atau kaporit dengan dosis 20—50 mg/l serta menyaring air masuk menggunakan saringan 3 lapis.Tindakan biosecurity pada air media dilakukan dengan menyaring air yang masuk dengan saringan multiple screening ukuran 200—250 mikron, dengan tujuan mencegah masuknya karier penyakit dan predator. Pengelolaan air tambak dimulai ketika memasukkan air untuk pertama kalinya dalam infrastruktur budidaya, yaitu treatment pond (tandon), kanal sub-inlet, kanal distribusi, dan culture pond (tambak budidaya). Kualitas air yang akan digunakan untuk budidaya harus diperhatikan; baik secara fisik, kimia, maupun mikrobiologi. Setelah masuk ke dalam fasilitas budidaya, air disterilisasi dengan crustacide, yaitu bahan kimia untuk membunuh larva crustacea yang lolos dari multiple screening. Selanjutnya, air didiamkan selama 72 jam (aging) untuk mencegah free living virus menemukan sel inang baru. Air siap digunakan setelah selesai aging dan tetap harus melalui multiple screening.Sumbe : Info Akuakultur ...
Tantangan Mengembalikan Daya Dukung (Carrying Capacity) Lahan Tambak
Udang

Tantangan Mengembalikan Daya Dukung (Carrying Capacity) Lahan Tambak

Potensi Lahan Tambak yang ada saat ini yaitu 2.963.717 ha, sedangkan pemanfaatannya baru berkisar 657.346 ha. Komoditas prioritas dalam pengembangan budidaya tambak yang ada saat ini terdiri dari udang windu dan vaname. Industri hulu hingga hilir sudah cukup berkembang, permintaan pasar ekspor yang tinggi, bernilai ekonomis tinggi dan menjadi usaha yg mnguntungkan, serta menyerap tenaga kerja yang besar. Bahkan proyeksi produksi udang (KKP 2018) Pada tahun 2018, target produksi perikanan budidaya sebesar 24,08 juta ton yang terdiri dari rumput laut 16,17 juta ton dan ikan (7,91 juta ton). Target Produksi udang nasional 2018 sebesar 800 ribu ton terdiri dari udang vaname, udang windu dan udang lainnya.Dengan konsistennya serta adanya petambak udang baru tentunya akan mampu memenuhi target target pemenuhan pasar global maupun domestik. Petambak tersebut berasal dari berbagai daerah di Indonesia serta terbagi menjadi beberapa kategori yaitu petambak dengan teknologi intensif sebanyak 2%, semi intensif 6% dan masih tradisional atau ekstensif 92%. Dari beragamnya pembudidaya serta tersebarnya lahan di Indonesia maupun di Dunia,  para pembudidaya udang sebaiknya terus meningkatkan kewaspadaan terhadap serangan berbagai penyait yang timbul, salah satunya perlu sangat waspada dengan aspek dukungan lahan tambak.Daya dukung perairan meliputi beberapa hal, bukan hanya kualitas air untuk kebutuhan udang, namun juga jumlah dan kualitas air yang dibutuhkan untuk menunjang berbagai kehidupan mahluk hidup lainnya di perairan, bahkan juga masyarakat yang bersentuhan langsung dengan air sisa pembuangan tambak. Sehingga yang dimaksud daya dukung merupakan kemampuan perairan untuk menunjang berbagai aktivitas mahluk hidup didalamnya dalam jangka waktu yang lama dan tidak merusak lingkungan. Dalam hal ini adalah mempertahankan daya dukung lahan tambak sehingga kualitas perairan udang yang ditambak kan oleh masyarakat tetap terjaga. Karena jika sudah terdapat penyakit baru atau pencemaran maka akan mudah dengan cepat menyebar di seluruh perairan.Sebagai gambaran kejadian kematian massal di air tawar yang terjadi karena daya dukung lahan tidak mencukupi yaitu pada 2018 lalu terjadi beberapa kali. Khususnya di Danau Toba yang terjadi sangat ekstrim, karena menyebabkan angka kematian mencapai 180 ton ikan dengan estimasi kerugian berkisar Rp. 2,7 M. Kematian massal ini biasa disebut up-welling, yaitu tidak mampu terdegradasinya zat zat berbahaya di perairan akibat melebihi daya dukung lahan (over carrying capacity), sehingga zat tersebut akan naik ke permukaan dan akan mencemari air. Biasanya hal ini terjadi pada pergantian musim. Zat berbahaya tersebut berasal dari limbah budidaya yang tidak mampu terdegradasi secara alami, seperti terlalu banyaknya kotoran ikan karena populasi yang sangat padat dan sisa pakan ikan yang tidak dimanfaatkan oleh ikan sehingga mencemari perairan.Tentunya hal semacam ini tidak diharapkan oleh para petambak udang dimanapun. Sehingga dalam budidaya perudangan perlu dilakukan proses pengistirahatan kolam setelah pemanenan dan apabila dikelola secara semi intensif atau intensif maka perlu penanganan tambahan pada perairan nya. Penanganan limbah kotoran udang yang tidak mampu terdegradasi secara alami serta sisa pakan udang yang tidak dimakan oleh udang perlu didegradasi oleh tambahan teknologi yang ada. Teknologi yang dimanfaatkan sejauh ini yaitu dengan tambahan probiotik dan pupuk yang dapat mengikat logam logam berat berbahaya dalam kolam tambak. Jika tidak dilakukan maka akan timbul berbagai macam penyakit akibat lahan tidak mampu mendukung kehidupan udang, udang akan lemah dan penyakit mudah masuk. Belum lagi jika terserang oleh penyakit penyakit udang global lainnya, yang dapat mematikan udang dalam waktu singkat. Umumnya serangan serangan seperti ini ditemukan pada tambak yang mempunyai kepadatan tebar tinggi.Probiotik yang digunakan harus betul betul berisi bakteri yang Tangguh, sehingga dapat mendegradasi limbah hasil budidaya maupun pakan sisa. Sudah banyak produk yang beredar dipasaran, baik probiotik untuk lahan maupun untuk pakan nya.Probiotik dapat berfungsi sebagai kompetitor bakteri jahat sehingga akan melawan dan membunuh bakteri bakteri jahat penyebab penyakit, baik bakteri di perairan maupun di dalam tubuh udang dengan cara dicampurkan dalam pakan. Selain itu, juga ada pupuk organik yang diberikan di fase persiapan kolam sehingga  akan mengikat logam berat sisa budidaya dan membantu menjaga kualitas air sehingga plankton sebagai pakan alami dapat tumbuh.Kecendrungan adanya lahan yang dipaksa terus berproduksi tanpa diselangi dengan jarak antara dalam setiap musimnya (lahan tidak sempat istirahat) serta pengolahan lahan tambak yang jelek, khususnya pada saat persiapan lahan seperti pengeringan, pengangkutan lumpur hitam, pengapuran dan pembajakan tidak dilakukan. Jika hal tersebut dilakukan secara terus menerus pada setiap musim budidaya maka  sama dengan kita membiarkan anak cucu atau generasi setelah kita hanya menikmati sisa-sisa dari sumber daya alam tambak, bahkan untuk menikmati udangnya tidak semudah yang kita temui saat saat ini.Sumber : Info Akuakultur ...
Inovasi Dukung Budidaya Udang Masa Kini
Udang

Inovasi Dukung Budidaya Udang Masa Kini

“Pikiran hebat mendiskusikan ide, pikiran rata-rata mendiskusikan kejadian, sementara pikiran kecil, mendiskusikan orang”- Eleanor Roosevelt. Sama seperti awal mula tercetusnya pasar udang yang lahir dari generasi muda berbakat, bermula dari sebuah ide ketika Jason CEO dari Pasar Udang terjun dalam dunia pertambakan udang di tahun 2015. “Saat itu adalah kali pertama saya mengenal dunia pertambakan udang. Dari situ saya melihat bahwa dunia pertambakan sangatlah konvensional dan inefisien. Melihat apa yang teknologi telah disrupt di banyak industri seperti gojek di layanan transportasi, traveloka di layanan hotel, saya rasa sudah saatnya untuk industri pertambakan udang mengalami hal-hal ini. Pertama kali saya datang ke tambak, saya lihat bahwa setiap business process dari pertambakan sangatlah inefisien dan tidak traceable, mulai dari pembelian produk, pencatatan, pemberian pakan, hingga penjualan udang itu sendiri. Melihat semua proses yang kurang efisien, terbentuklah Pasar Udang,” ungkap Jason. Pasar udang sendiri merupakan aplikasi yang dapat diunduh secara gratis melalui playstore untuk android dan disusul dalam waktu dekat untuk pengguna Ios. Tim dibalik pasar udang terdiri dari Jason sebagai CEO, Rizky Darmawan (Co-Founder), Arrival Dwi Sentosa (Co-Founder) . Jason dan Arrival Dwi Santosa kebetulan pernah sama-sama menempuh pendidikan Computer Science and Technology di Beijing Institute of Technology, bahkan Dwi juga telah mengikuti dan menjuarai beberapa kompetisi IT di tingkat nasional hingga internasional. Sementara Co-Founder terakhir Rizky Darmawan, beliau adalah petambak, buyer udang, serta Ketua Petambak Muda Indonesia dan Ketua SCI Sumbawa. Melihat kenyataan bisnis budidaya udang yang arusnya masih naik turun, Jason pun turut menuturkan pandangannya, “Perkembangan bisnis udang kurang maksimal. Lembaga-lembaga keuangan di Indonesia belum bisa dan kurang berani memberi bantuan modal kepada petani pengusaha udang. Oleh karena itu pelaku budidaya masih harus mengandalkan dana sendiri untuk memulai usaha. Hal inilah yang menyebabkan perkembangan produksi udang di Indonesia tertinggal bila dibandingkan dengan negara-negara lain seperti India dan Equador. Dengan adanya perkembangan teknologi dan pendataan yang lebih baik, diharapkan kedepannya usaha tambak udang bisa lebih menarik untuk perbankan maupun investor.” Untuk memperkenalkan pada masyarakat, Pasar Udang sudah melakukan soft lunching di Banyuwangi bertepatan dengan simposium nasional budidaya udang vaname 2019 di bulan February, “ini adalah first appearance kami di dunia pertambakkan, lalu kami launch core product kami dan menjadi speaker di acara PMI Bali Bound di bulan Agustus 2019, banyak juga yang sedang menantikan diluncurkannya product kami untuk versi web dan IOS. Beberapa petambak sudah mencoba untuk mengimplementasikan di tambaknya masing-masing. Kami sedang menunggu feedback dari petambak.” ungkap Jason. Aplikasi Pasar Udang terdiri dari tiga fitur, yaitu Pasar Udang Marketplace, Pasar Udang Farm book dan Pasar Udang Hub. Fitur pertama yakni PasarUdang Marketplace bertujuan untuk menghubungkan petambak dengan supplier product seperti pabrik pakan, obat-obatan, probiotik, HDPE dan kebutuhan tambak lainnya. Fitur kedua ada Pasar Udang Farm book bertujuan untuk membantu petambak dalam mengelola pengoperasian tambak mereka sehari-harinya dan melihat aktifitas-aktifitas tambak mereka secara realtime. Fitur ketiga, Pasar Udang Hub bertujuan untuk menghubungkan petambak dengan buyer-buyer udang di seluruh Indonesia. Dalam beralih dari petambak konvensional ke era digital, tentu tidak mudah dalam mengedukasi mengenai teknologi di dunia pertambakan memang bukanlah hal yang mudah,  namun Jason sangat optimis lambat laun masyarakat akan mulai menerima dan merasakan manfaatnya. “Tantangan terbesarnya adalah mindset dari petambak-petambak sendiri , ibarat seperti tokopedia di awal-awal tahunnya. Untuk mengenalkan teknologi ke petambak sangatlah tidak mudah karena belum merasakan dampaknya dan awareness mengenai teknologi di dunia pertambakan masih sangat minim,” tukasnya. Jason juga berharap dengan adanya app PasarUdang dapat membantu petambak mengelola operasi pertambakan mereka agar lebih efektif dan efisien dan dapat membantu petambak untuk upscale tambak-tambak mereka.Sumber : Info Akuakultur ...
Pengelolan Air di Tambak
Udang

Pengelolan Air di Tambak

Kegiatan budidaya udang selalu menyisakan limbah, seperti sisa pakan, kotoran udang, serta kulit udang yang molting, agar budidaya optimal diperlukan teknik pengelolaan air tambak yang benar. Pengelolaan air media pemeliharaan selama proses produksi meliputi pergantian dan penambahan air, pengukuran kualitas air, penyiponan dan aplikasi probiotik. Sumber air untuk pergantian air harus berasal dari air tandon yang telah siap pakai dan steril atau dari sumur bor, setiap air masuk ke dalam petakan selalu menggunakan saringan air dengan ukuran sekitar 200 mikron. Air dalam tandon disterilisasi dengan kaporit 20 – 30 mg/liter.Pada pemeliharaan sistem tertutup, pergantian air hanya mengganti air yang hilang karena penguapan dan bocoran (penambahan air), namun ada juga tambak yang melakukan pergantian air sekitar 10 – 20 %. Penambahan volume air pada umur 30 – 60 hari bertujuan untuk menambah volume air akibat rembesan dan evaporasi (penguapan) sedangkan pada umur lebih dari 60 hari bertujuan untuk pengenceran kelimpahan plankton yang berlebihan (terlalu pekat), kelimpahan populasi bakteri yang merugikan, memperbaiki kondisi parameter khususnya bahan organik yang terlalu pekat dan memperkecil gas – gas beracun.Baca juga: Mencegah Penyakit Udang Berdasarkan Warna Air TambakMonitoring kualitas air sebaiknya dilakukan minimal dua kali sehari, yaitu pada pagi dan sore hari. Hasil monitoring tersebut dijadikan sebagai dasar dalam menentukan tindakan pengelolaan kualitas air misalnya, pada kondisi air pekat (salinitas tinggi dan kelimpahan plankton sangat tinggi) sebaiknya dilakukan pengenceran dengan memperbanyak pergantian air. Salinitas yang terlalu tinggi (melebihi batas normal) dapat menyebabkan pertumbuhan udang terhambat karena proses osmoregulasi terganggu.  Apabila demikian, udang lebih banyak mengeluarkan energi untuk proses osmoregulasi dibandingkan untuk pertumbuhan. Osmoregulasi adalah proses pengaturan dan penyeimbangan tekanan osmosis antara dalam dan luar tubuh udang.Saat kelimpahan plankton rendah (kecerahan tinggi) tindakan pemupukan, inokulasi plankton dan pergantian air sebaiknya diperjarang. Udang yang dibudidayakan dengan sistem tertutup, setelah berumur 60 hari banyak ditemukan endapan di dasar petakan. Bahan organik ini berasal dari plankton yang mati, sisa pakan, feses, obat – obatan dan lainnya. Untuk itu, perlu dikeluarkan dengan cara disipon menggunakan pompa air. Pada tambak dengan umur lebih dari 30 hari sudah mulai terlihat banyak plankton yang mengendap dan mati. Pada awalnya terlihat banyak yang mengapung dan mengumpul dipojok petakan karena tiupan angin dan gerakan arus air. Kandungan berbagai organisme ini mengandung berbagai kadar yang dapat menimbulkan gas beracun.Kotoran ini apabila tidak segera diangkat akan mengendap dan mengalami perombakan (dekomposisi) yang menghasilkan gas beracun seperti H2S, NH3 sehingga cepat menurunkan kualitas air. Pengangkatan dengan menggunakan serok datar dengan diameter 30 cm dapat membantu mempercepat memindahkan plankton yang mati.Baca juga: Budidaya Udang Berbasis Lingkungan Menjadi Tumpuan Ekspor PerikananVitamin C merupakan salah satu jenis vitamin yang mudah rusak bila terkena panas dan mudah larut dalam air. Selain meningkatkan ketahanan tubuh terhadap penyakit, mencegah kelainan bentuk tubuh, mencegah stress lingkungan, mempercepat penyembuhan luka dan meningkatkan laju pertumbuhan pada udang. Pemberiannya dapat dicampurkan pada pakan dengan dosis 5 – 7 gram/kg pakan.Akumulasi limbah organik yang terlalu tinggi berupa sisa pakan, kotoran udang, serta kulit udang yang molting, akan berakibat fatal karena menyebabkan timbulnya masalah kesehatan ikan sampai membahayakan kelangsungan hidup udang. Untuk mengurangi akumulasi limbah organik dapat dilakukan dengan cara memasukkan beberapa jenis probiotik. Jenis bakteri yang biasanya diberikan yaitu Bacillus, Nitrobacter dan Nitrosomonas untuk menguraikan bahan organik di dasar tambak. Selain itu dapat juga Lactobacillus untuk membantu proses pencernaan dalam tubuh udang.Pengelolaan air budidaya udang vaname juga dilakukan dengan aplikasi probiotik. Tujuan pemberian probiotik adalah untuk membantu proses dekomposisi dengan mengurai bahan organik yang ada di tambak. Jen