Infomina - Rumput Laut

Minapoli adalah platform jaringan infomasi dan bisnis perikanan terintegrasi. Buat dan bagikan informasi perikanan sekarang dan temukan manfaatnya terkoneksi dengan jaringan Minapoli.

Rumput Laut

KKP: Rumput Laut Jadi Solusi Masalah Limbah Plastik
Rumput Laut

KKP: Rumput Laut Jadi Solusi Masalah Limbah Plastik

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengajak para pelaku usaha rumput laut menangkap peluang tingginya permintaan komoditas ini. Terlebih rumput laut juga menjadi jawaban terhadap sejumlah persoalan global seperti limbah plastik serta perubahan iklim.Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) KKP Artati Widiarti mengungkapkan, inovasi menjadi kata kunci dalam pengembangan produk turunan rumput laut. Dia menyontohkan rumput laut hadir sebagai bioplastik untuk mengganti kemasan plastik. Bahkan dalam penelitian mutakhir yang dipublikasikan di PLoS ONE Journal, Maret lalu, pemanfaatan rumput laut jenis Asparagopsis taxiformis dalam pakan ternak ruminansia seperti sapi, mampu mengurangi emisi gas metana. "Ketika dunia menempatkan perubahan iklim sebagai isu utama, pelaku usaha bisa mem-branding rumput laut sebagai tanaman yang mampu menyerap CO2," ujar Artati saat membuka webinar tentang rumput laut, di Jakarta, Selasa (27/7).Baca juga: Dukung Ekonomi Biru, KKP Dorong Riset Olahan Rumput Laut NirlimbaDalam seminar daring bertajuk "Mendulang Rupiah dari Produk Inovasi Berbasis Rumput Laut", Artati menegaskan, rumput laut merupakan salah satu sumber daya hayati yang sangat melimpah di perairan Indonesia. Jumlahnya mencapai 8,6 persen dari total biota di laut. Sementara luas wilayah habitat rumput laut di Indonesia mencapai 1,2 juta hektare atau terbesar di dunia."Kemelimpahan sumber daya hayati rumput laut ini tentunya merupakan anugerah bagi Bangsa Indonesia yang dapat didayagunakan sebagai penggerak ekonomi nasional, penyedia lapangan kerja, penghasil devisa serta menjadi sumber pangan dan gizi nasional," ungkap Artati.Baca juga: Budidaya Rumput Laut dengan Kantong BersusunDirektur Pemasaran Ditjen PDSPKP Machmud menjelaskan, saat ini pemanfaatan rumput laut untuk konsumsi manusia menyumbang lebih dari 77 persen dari keseluruhan pangsa pasar global. Kebutuhan diproyeksikan meningkat di masa mendatang karena perubahan kebiasaan makan yang sehat dan meningkatnya populasi penduduk. Selain itu, permintaan pasar rumput laut diprediksi mencapai 23,04 miliar dolar AS pada 2027. "Peningkatan permintaan terjadi karena meningkatnya permintaan rumput laut untuk industri pangan, pakan, obat-obatan dan kosmetik," ucap Machmud.Sumber: Republika.co.id ...
Dukung Ekonomi Biru, KKP Dorong Riset Olahan Rumput Laut Nirlimba
Rumput Laut

Dukung Ekonomi Biru, KKP Dorong Riset Olahan Rumput Laut Nirlimba

Indonesia merupakan salah satu negara eksportir rumput laut terbesar dunia. Komoditas tersebut menjadi salah satu andalan utamanya. Namun demikian, perlu dikembangkan pengolahan rumput laut untuk menghasilkan nilai tambah. Agar keberkelanjutan dan kelestarian lingkungan tetap terjaga, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), melalui Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM), telah melakukan riset pengolahan rumput laut tanpa limbah.Data menyebutkan, pada 2018 Indonesia menjadi pengekspor rumput laut tertinggi dunia sebesar 192,28 ton, yang didominasi jenis Eucheuma cottonii. Indonesia masuk dalam jajaran produsen utama rumput laut dunia, menguasai lebih dari 80 persen supply share, utamanya untuk tujuan ekspor ke Tiongkok.Pada 2019 jumlahnya meningkat lagi menjadi 209,24 ribu ton. Produksi rumput laut di Indonesia bertambah setiap tahunnya.Baca juga: Peran Rumput Laut sebagai Penjaga Bumi dari Perubahan Iklim“Luar biasa sekali! Tapi nanti kita pasti akan ditanya bagaimana dengan added value nya? Ya ini yang harus kita pikirkan dan kita kembangkan supaya pemanfaatannya semaksimal mungkin bisa dinikmati rakyat Indonesia. Ini semua menjadi tantangan bagi kita, para peneliti, para saintis, agar bagaimana semua jenis rumput laut yang tumbuh di Indonesia ini mampu diarahkan untuk menjadi produk-produk yang memberi kemanfaatan untuk kita semua,” ujar Kepala BRSDM Sjarief Widjaja pada Live Webinar Pengolahan Produk bertema Industri Rumput Laut Nir Limbah, Kamis (22/7/2021), yang diselenggarakan oleh Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan (BBRP2BKP) BRSDM.Rumput laut tersebut ada yang diolah menjadi produk kosmetik, farmasi, makanan, bumbu, agar-agar, puding, jelly, dan pangan fungsional lainnya. Upaya pengolahan tersebut, menurut Sjarief, harus dipikirkan agar bisa menghasilkan produk yang memberi kemanfaatan tinggi dan tidak menghasilkan limbah yang akhirnya dapat menjadi masalah baru bagi industri dan lingkungan sekitarnya.Limbah pengolahan rumput laut Gracilaria dan Cottonii dalam negeri menghasilkan limbah cair sebanyak 8.174.150 m3 dan limbah padat 62.506 ton per tahun. Limbah ini harus dimanfaatkan, sehingga sejalan dengan blue economy yang dikembangkan Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, yang menjadi arah pembangunan sektor kelautan dan perikanan. Potensi pemanfaatan limbah cair antara lain daur ulang dan pupuk cair, sedangkan limbah padat dapat menjadi bahan baku keramik, particle board, pupuk, bata ringan, dan sebagainya.Baca juga: ARLI: Bali Bisa Bangkitkan Kembali Rumput LauUntuk itu BBRP2BKP telah melakukan riset terkait pengolahan rumput laut tanpa limbah dan menjalin sejumlah kerja sama. Salah satu kerja sama dilakukan dengan satu sebuah perusahaan di Pandaan, Jawa timur, untuk mengembangkan instalasi pengolahan limbah cair dan padat.“Ini suatu terobosan yang baik, yang mana peluang ini harus terus dikembangkan, sehingga pada akhirnya nanti kita akan mengatakan kepada Indonesia bahwa hasil-hasil riset inovasi dari Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan memberikan sumbangsih secara nyata bagi pembangunan Indonesia. Kita bisa mengurangi ekspor rumput laut bahan mentah, kita bisa langsung mendorong terjadinya proses pengolahan rumput laut ini di Indonesia, memberikan nilai tambah sekaligus bisa menghasilkan produk samping berupa pengolahan limbah padat dan cair dari industri tersebut yang masih bisa dimanfaatkan,” pungkas Sjarief.Sementara itu, Kepala BBRP2BKP, Hedi Indra Januar mengatakan, pemanfaatan rumput laut saat ini sudah sangat berkembang. Namun perlu disosialisasikan pemanfaatan rumput laut tersebut berdasarkan hasil-hasil riset yang sudah teruji secara laboratorium, untuk itu perlu dihilirisasikan sehingga masyarakat bisa merasakan manfaat hasil riset tersebut. Beberapa pemanfaatan rumput laut hasil riset BBRP2BKP di antaranya rumput laut merah jenis Eucheuma cottonii untuk produk pangan seperti olahan refined karaginan untuk produk pangan seperti jelly, pudding, permen jelly; ATC untuk gel pengharum ruangan; agar untuk jelly dan bakto agar untuk media mikrobiologi. Baca juga: Cara Memilih Bibit Rumput Laut Berkualitas BaikRumput laut coklat untuk pangan seperti alginat untuk minuman dan bahan prebiotik; pada produk nonpangan: alginat sebagai bahan pengental untuk batik, dan untuk farmasi seperti fukoidan sebagai obat herbal terstandar (OHT) untuk anti tukak lambung dan imunomodulator. Sedangkan pemanfaatan rumput laut hijau untuk pangan fungsional dari Ulva dan Caulerpa yang berkhasiat sebagai antidiabetes dan antikanker dan imunostimulan"Rumput laut tidak hanya dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai biostimulan tanaman. Limbah proses ekstraksi rumput laut masih dapat digunakan sebagai bahan baku biostimulan. Adanya kandungan makro, mikro nutrien dan zat pemacu tumbuh seperti auksin, sitokinin dan giberelin maka rumput laut dapat digunakan sebagai biostimulan untuk meningkatkan produksi tanaman. Kelebihan rumput laut dan limbahnya sebagai biostimulan adalah ramah lingkungan dan dapat menumbuh kembangkan mikroorganisme penyubur tanah,” tambahnya.Sebagai informasi, webinar ini menghadirkan narasumber para peneliti dari BBRP2BKP, yaitu Subaryono dengan materi Potensi Bahan Baku dan Pengembangannya; Ellya Sinurat dengan materi Pemanfaatan Rumput Laut pada Pangan, Non Pangan, dan Kesehatan; serta Jamal Basmal dengan materi Pemanfaatan Limbah Rumput Laut. Bertindak sebagai moderator adalah peneliti utama BBRP2BKP Bagus Sediadi Bandol Utomo.Artikel asli ...
ARLI: Bali Bisa Bangkitkan Kembali Rumput Laut
Rumput Laut

ARLI: Bali Bisa Bangkitkan Kembali Rumput Laut

Perekonomian Bali yang mengandalkan sektor pariwisata terpuruk setelah setahun lebih masa pandemi. Sektor tersebut tampaknya tak cukup kuat menopang roda perekonomian sehingga berimbas pada kesejahteraan masyarakat lokal.Melihat hal tersebut, Ketua Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI), Safari Azis menghimbau agar Bali dapat membangkitkan kembali sektor akuakultur, terutama pengembangan budi daya rumput laut. "Sebaiknya Bali tetap mengembangkan sektor pariwisata dengan sektor-sektor lainnya secara paralel. Untuk rumput laut sendiri, Bali merupakan wilayah yang sangat berpotensi," ungkap Safari usai pertemuannya dengan Ketua Umum Kadin Bali, Made Ariandi di Denpasar (14/6).Baca juga: I Wayan Suwarbawa, Pelopor Rumput Laut dari NusaSafari juga mengatakan, Bali merupakan daerah yang pertama membudidayakan rumput laut jenis Eucheuma spinosum dan Eucheuma cottonii pada awal tahun 1980-an. Kemudian diikuti oleh Provinsi Sulawesi Selatan dan beberapa provinsi lain di Indonesia. Selain itu, Bali juga pernah menjadi tempat penyelenggaraan pertemuan rumput laut dunia, the 21st International Seaweed Symposium (ISS) pada tahun 2013 yang dihadiri oleh peneliti, pengusaha, pemerhati serta pembuat kebijakan dari 50 negara.Menurut Safari, rumput laut juga pernah menjadi sumber penghasilan masyarakat di beberapa daerah di Bali. Seperti di Pesisir Nusa Dua dan Pulau-Pulau Nusa Penida, Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan. Oleh karena itu, ARLI akan mendorong adanya perluasan wilayah budidaya rumput laut untuk membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat, membantu pemulihan ekonomi Bali, juga untuk meningkatkan ekspor rumput laut.Berdasarkan data statistik Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), produksi rumput laut Provinsi Bali tahun 2019 mencapai 849,66 ton (basah). Kemudian menurun di tahun 2020 menjadi hanya 149 ton (basah) saja.Baca juga: Cara Memilih Bibit Rumput Laut Berkualitas Baik"Selama ini kami mendapat laporan jika memang ada tantangan yang ditemui untuk mengembangkan rumput laut di Bali, diantaranya karena bersinggungan dengan area pariwisata atau hotel," ungkap Safari.Sehingga menurutnya, pengaturan zonasi menjadi sangat penting dilakukan untuk mengakomodir kepentingan kedua sektor usaha tersebut. ARLI berharap agar dibuat tata ruang wilayah antara budidaya rumput laut, lalulintas laut, perhotelan atau resort, serta objek wisata lainnya yang disepakati bersama Pemerintah Daerah Kabupaten, Kota, dan Provinsi bersama kementerian dan lembaga terkait, juga Kadin Bali dan ARLI."Sebenarnya bisa digabung menjadi semacam  eco-wisata, sehingga tak harus bersinggungan satu sama lain. Banyak turis yang tidak hanya mencari keindahan alam, tetapi juga kearifan budaya lokalnya termasuk kegiatan usahanya," usul Safari.Sehingga ke depannya rumput laut bisa menjadi penopang ekonomi masyarakat pesisir dan pulau-pulau di Bali. Setelah menggandeng Kadin Bali, ARLI juga siap bekerjasama dengan pemda setempat untuk menindaklanjutinya.Baca juga: Peran Rumput Laut sebagai Penjaga Bumi dari Perubahan IklimSementara itu, Ketua Umum Kadin Bali, Made Ariandi menyambut baik langkah ARLI untuk membangkitkan kembali budi daya rumput laut di sana. "Kami sudah bersepakat untuk mengembangkan lagi pusat-pusat produksi rumput laut di Bali. Iklimnya kan cocok untuk budi daya dan bagus juga untuk membuka lapangan kerja baru dan menunjang perekonomian lokal," kata Made.Ia juga mengatakan, pihaknya bersama ARLI akan melaksanakan program pelatihan bagi masyarakat untuk memperkaya wawasan dan kemampuan teknis pembudidaya agar produksi rumput laut di Bali bisa meningkat dengan optimal. "Kami akan menggandeng pemerintah daerah terkait, sekaligus melibatkan perbankan untuk pembiayaan produksinya, sementara untuk pemasaran ekspornya sudah dijamin oleh ARLI," pungkasnya.Artikel asli ...
Cara Memilih Bibit Rumput Laut Berkualitas Baik
Rumput Laut

Cara Memilih Bibit Rumput Laut Berkualitas Baik

Pemilian bibit merupakan langkah awal yang harus dilakukan dalam melakukan kegiatan budidaya. Kualitas bibit dapat menentukan apakah budidaya dapat berhasil atau tidak. Mengingat kualitas bibit merupakan hal yang sangat penting, maka dalam melakukan pemilihan bibit khususnya ruput laut, ada beberapa cara pemilihan bibit yang baik diantaranya sebagai berikut :1.    Bibit diperoleh dari hasil reproduksi rumput laut.Di  alam, rumput  laut  jenis  Eucheuma spp  diambil  dari  daerah  pantai terumbu karang (reef). Rumput laut ini banyak melekat pada substrat yang selalu terendam air berupa karang mati, karang hidup, batu gumping dan cangkang moluska. Pada pengambilan rumput laut hasil budidaya, jenis Eucheuma spp dan Gracilaria spp telah dipelihara selama 6-8 minggu dengan berat 500 - 600 gr/individu.Baca juga: Peran Rumput Laut sebagai Penjaga Bumi dari Perubahan Iklim2.    Berasal dari satu jenis rumput laut (monospesies).Perbedaan jenis tanaman rumput laut menyebabkan perbedaan kandungan pada masing-masing jenis tanaman tersebut, seperti pada masing-masing jenis Eucheuma spp mempunyai kandungan klorofil dan karoten yang berbeda   yang   menyebabkan   kandungan   sulfur   E.   muricatum   (E. .symosum), E. cottonii dan E. serra berbeda yakni 6,1% : 9,5% : 9%.3.    Bibit tanaman tampak dari thallusnya yang masih muda, bersih dan segar.Bibit tanaman rumput laut yang masih muda terdiri dari sel dan jaringan muda. Bibit yang bersih, bebas dari lumpur/tanah, organisme penempel dan kotoran lain. Bibit yang segar tampak dari thallusnya yang keras dengan wama yang cerah.4.    Tidak terdapat gejala serangan hama penyakit.Serangan hama penyakit terhadap rumput laut dapat terlihat dari bercakputih dan luka pada thallusnya. Serangan hama penyakit dapat disebabkanoleh ikan herbivora, bulu babi (Echinotrix spp), landak laut (Diadema spp)dan penyu.Dalam pemilihan bibit jenis Eucheuma spp dan Gracilaria spp, ada beberapa ciri-ciri umum yang dapat membantu membedakannya dari jenis tanaman rumput laut lain.Baca juga: Alginat untuk Bahan Baku PakanCiri - ciri umum jenis Eucheuma spp adalah :  a.      Thallus (kerangka tubuh tanaman) bulat silindris atau gepeng)b.      Berwama merah, merah coklat dan hijau kuning,c.      Bercabang berselang tidak teratur, dichotomous atau trikhotomous.d.      Memiliki benjolan-benjolan (blunt nodule) dan duri-duri atau spines.e.      Substansi thallus "gelatmus" dan/atau "kartilagenus" (lunak seperti tulang rawan).f.       Termasuk dalam alga merah.Baca juga: Mengenal Alga Merah Dan Manfaatnya Bagi ManusiaCiri - ciri umum jenis Gracilaria spp adalah :a. Thallus berbentuk silindris atau gepeng dengan percabangan, mulai dari yang sederhana sampai pada yang rumit dan rimbun.b.     Diatas percabangan umummya bentuk thalli agak mengecil.c.      Warna thallus beragam, mulai dari wama hijau coklat, merah, pirang dan merah coklat.d.     Substansi thallus menyerupai gel atau lunak seperti tulang rawan.e.  Termasuk dalam algae merah Sumber: informasiperikanan.blogspot.com ...
Peran Rumput Laut sebagai Penjaga Bumi dari Perubahan Iklim
Rumput Laut

Peran Rumput Laut sebagai Penjaga Bumi dari Perubahan Iklim

Perubahan iklim telah menjadi masalah yang menggelisahkan sejak awal milenium ketiga. Namun jika dibandingkan global warming yang lebih sering didengungkan di dunia maya, isu perubahan iklim lebih sering diabaikan. Dampak perubahan iklim sudah mulai terasa. Mulai dari bencana alam hingga permukaan air yang terus meningkat hingga menenggelamkan pulau sedikit demi sedikit.Permasalahan ini menjadi semakin kompleks dengan pembiaran aktivitas manusia yang merusak alam seperti pembukaan daerah hijau untuk perumahan, penebangan pohon besar-besaran, hingga polusi udara. Salah satu cara untuk menekan masalah polusi udara adalah dengan menanam pohon. Namun jika lahan di daratan sudah semakin terbatas, rumput laut bisa dijadikan alternatif.Baca juga: Budidaya Rumput Laut dengan Kantong BersusunTanaman Penyerap Karbon Dioksida yang Lebih BaikRumput laut merupakan salah satu tanaman yang pertumbuhannya tergolong cepat, yaitu sekitar 45 hari masa tanam. Pertumbuhan 30 kali lebih cepat dari tanaman darat seperti pohon yang membutuhkan waktu puluhan tahun untuk mencapai ukuran optimal. Pertumbuhan yang cepat ini menjadikan penyerapan karbon dioksida jauh lebih cepat.Menurut sebuah penelitian berskala internasional, 48 juta kilometer persegi lautan dan samudera di dunia merupakan lahan yang ideal untuk penumbuhan rumput laut. Pemanfaatan 0,001 persen perairan saja suddah dapat mengimbangi emisi karbon dari seluruh industri akuakultur.Baca juga: Mengenal Alga Merah Dan Manfaatnya Bagi ManusiaMengurangi Tingkat Keasaman Air LautAir laut yang kaya nutrisi dipompa dari kedalaman ke daerah kontinental dangkal di zona fotik, lalu digunakan untuk mengairi tanaman rumput laut. Selain itu, karena rumput laut menghilangkan karbon dioksida dari laut, tumbuhan ini bisa mengurangi keasaman air laut.Sekitar 95 persen produksi rumput laut saat ini berpusat di Asia. Dengan demikian, isu lingkungan di benua Asia saja seharunya bisa teratasi.Kelemahan Rumput Laut sebagai Penyerap PolusiPertumbuhan rumput laut pada kedalaman yang berbeda mengalami peningkatan setiap minggunya. Saat rumput laut tumbuh, ia bisa bertindak sebagai penyerap karbon dioksida dari perairan laut dan menyimpan karbon tersebut. Mekanisme itu memungkinkan lebih banyak karbon dioksida yang bisa diserap dari atmosfer ke laut. Namun, kelebihan ini bukannya tidak memiliki sisi negatif.Ketika rumput laut membusuk, tanaman tersebut akan melepaskan karbon dioksida kembali ke laut dan atmosfer. Jika ada cara untuk mengunci karbon yang tersimpan dalam rumput laut untuk jangka panjang, ini bisa menjadi sistem penyeimbang emisi karbon skala besar. Cara ini dikenal dengan nama penarikan karbon, di mana sejumlah karbon dikeluarkan secara permanen dari peredaran.Baca juga: 8 Jenis-jenis Rumput Laut di IndonesiaMengimbangi emisi karbon hanyalah satu setengah dari tantangan iklim. Menghentikan emisi karbon baru sangat penting untuk mengubah lintasan pemanasan global.Meskipun begitu, budidaya rumput laut berpotensi menjadi bagian besar dalam mengatasi tantangan iklim. Menurut laporan NASA pada 2020, planet Bumi sangat membutuhkan solusi penggantian kerugian karbon skala besar yang efisien, karena karbon dioksida di atmosfer mencapai tingkat tertinggi, yaitu lebih dari 650.000 tahun. Sumber: merdeka.com ...
What is Seaweed?
Rumput Laut

What is Seaweed?

Some seaweeds are microscopic, such as the phytoplankton that live suspended in the water column and provide the base for most marine food chains. Some are enormous, like the giant kelp that grow in abundant “forests” and tower like underwater redwoods from their roots at the bottom of the sea. Most are medium-sized, come in colors of red, green, brown, and black, and randomly wash up on beaches and shorelines just about everywhere.The vernacular “seaweed” is a bona-fide misnomer, because a weed is a plant that spreads so profusely it can harm the habitat where it takes hold. (Consider kudzu, the infamous “mile-a-minute vine” that chokes waterways throughout the U.S. Southeast). Not only are the fixed and free-floating “weeds” of the sea utterly essential to innumerable marine creatures, both as food and as habitat, they also provide many benefits to land-dwellers, notably those of the human variety.Also read: Physiological, Biochemical Responses of Red Alga to High TemperatureSeaweed is chock-full of vitamins, minerals, and fiber, and can be tasty. For at least 1,500 years, the Japanese have enrobed a mixture of raw fish, sticky rice, and other ingredients in a seaweed called nori. The delectable result is a sushi roll.Many seaweeds contain anti-inflammatory and anti-microbial agents. Their known medicinal effects have been legion for thousands of years; the ancient Romans used them to treat wounds, burns, and rashes. Anecdotal evidence also suggests that the ancient Egyptians may have used them as a treatment for breast cancer.Also read: Use Biofilter to Minimize Nitrogen WasteCertain seaweeds do, in fact, possess powerful cancer-fighting agents that researchers hope will eventually prove effective in the treatment of malignant tumors and leukemia in people. While dietary soy was long credited for the low rate of cancer in Japan, this indicator of robust health is now attributed to dietary seaweed.These versatile marine plants and algae have also contributed to economic growth. Among their many uses in manufacturing, they are effective binding agents (emulsifiers) in such commercial goods as toothpaste and fruit jelly, and popular softeners (emollients) in organic cosmetics and skin-care products.Source: oceanservice.noaa.gov ...
I Wayan Suwarbawa, Pelopor Rumput Laut dari Nusa
Rumput Laut

I Wayan Suwarbawa, Pelopor Rumput Laut dari Nusa

Sosok yang sering disebut-sebut sebagai motor budidaya rumput laut di Desa Lembongan – Bali dan sekitarnya ialah I Wayan Suwarbawa. Laki – laki ini tak surut bergelut menekuni budidaya rumput laut sejak ia masih bujangan hingga kini mulai ubanan.  “Rumput laut sudah bertahun-tahun memberikan kita penghidupan masak sih kita harus berpaling. Yang mesti kita lakukan kan bagaimana mensinergikan itu yang perlu. Kalau mengabaikan, itu juga dosa. Di awal-awal mulai, saya berpikiran bagaimana rumput laut itu hanya dijadikan penghasilan sampingan oleh masyarakat. Okelah mereka menjadi pengusaha tetapi dia juga bisa menjadi wirausaha di budidaya rumput laut, sehingga akan tetap survive dalam situasi bagaimanapun,” tegas lelaki kelahiran 11 Maret 1972 ini. Pada 2008, Suwarbawa mendatangkan strain rumput laut yang baru (jenis Cottonii karang jahe) dari  Nusa Dua dan berhasil mengembangkannya hingga menjadi bibit yang dikirim ke Nusa Penida, Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga Papua. Ia juga mengembangkan varietas Sakul (Kappaphycus striatum) dan Alvarezii (Kappaphycus alvarezii) yang kini dominan berkembang di perairan Nusa Lembongan, Nusa Ceningan dan Nusa Penida.  Cinta LingkunganIa yang mengarahkan kecintaannya pada lingkungan, menjadi lebih aware terhadap rumput laut setelah pengalaman di berbagai pekerjaan terkait pelestarian lingkungan. Usai menamatkan pendidikan Arkeologi di Universitas Udayana pada 1996, I Wayan Suwarbawa mulai bekerja sebagai fasilitator lingkungan pada sebuah NGO Lingkungan. Ia lantas tergelitik untuk menekuni bidang pelestarian lingkungan.  “Awalnya jadi fasilitator lingkungan di TNC (The Nature Conservacy), mau tidak mau jadi ikut peduli lingkungan. Waktu itu begini, kenapa orang luar yang datang ke Lembongan malah peduli dengan daerah saya, sedangkan kami yang di Lembongan masih suka buang sampah sembarangan, makan sate penyu, merusak mangrove. Akhirya dari ilmu itu kami menekuni dan ketagihan,” kisah Suwarbawa. Dua tahun berkecimpung dalam kerja-kerja fasilitasi pemberdayaan di beberapa daerah di Bali, ayah dua anak ini kemudian memutuskan pulang kampung guna mengembangkan rumput laut di kampungnya, yakni Desa Lembongan. “Pas awal - awal di rumput laut itu, nangis saya. Karena banyak yang mencemooh. Belum lagi waktu itu mau kawin dan sebagainya. Kata orang tua, jauh - jauh sekolah cuma jadi petani rumput laut apa bedanya dengan yang tidak bersekolah,” ceritanya.  Dia pun melanjutkan, waktu itu dirinya pun menguatkan diri. Karena, baginya berbudidaya rumput laut perlu pengetahuan dan penguasaan teknologinya. “Sehingga, tatkala kita menguasai itu, kita tidak akan mudah menyerah pada alam, tapi kita akan mencoba membuat harmoni alam itu terjadi. Paling tidak, kita bisa beradaptasi terhadap lingkungan,” kenang Suwarbawa.  Tak BergemingDi saat banyak yang beralih usaha ke pariwisata, Suwarbawa tetap bergeming. Setelah mengenalkan  bibit rumput laut semenjak 2008 lalu, pada 2014 ia bersama pembudidaya rumput laut lainnya menemui tantangan. Sekitar 2014, harga rumput laut turun drastis. Dari seharga Rp 8 ribu per kilogram (kg), menjadi hanya Rp 2.500 per kilogram. Hal ini disebabkan karena cuaca yang tidak menentu, hama yang menyerang hingga penyakit ais ais (ice – ice).  Ditambah lagi kran pariwisata masif mulai dibuka di Lembongan. Bersamaan dengan itu, mata pencaharian warga mulai bergeser. “Gejalanya mulai 2014 hingga 2016, orang sudah mulai banyak yang keluar dari rumput laut. Pada 2017, sudah tidak ada petani lagi. Saya sendiri wara – wiri  ke Nusa Tenggara Timur (NTT), Papua kasih training dan gak sempat juga bertahan karena istri ngurus salon dan spa. Begitu balik, lihat rumput laut sudah tidak ada ya sedih juga karena kita kehilangan strain yang unggul,” kenang Suwarbawa. Semarak Budidaya‘Hasil itu jarang mengkhianati usaha’, begitu pepatah mengatakan. Pada Februari 2018, Suwarbawa kembali mencoba ‘bermain - main’ dengan rumput laut jenis Sakul. “ Saat itu nyoba pakai kantong. Hama ikan masih mengganas. Saat itu, pemerintah belum melakukan kajian. Saya coba dengan ngambil bibit di Semaya dapat 20 kantong. Begitu panen, jadi 80 kantong,” katanya.  Percobaan tersebut berlangsung hingga Maret 2018. Di April, pemerintah kabupaten melakukan penelitian dengan menggunakan jaring penutup.  Kala itu (periode April, red), bisa dikatakan sebagai awal kegiatan budidaya rumput laut kembali hidup di Lembongan. Hingga Desember 2018, hasilnya bagus.  Termasuk juga menjawab asumsi masyarakat selama ini bahwa limbah pariwisatalah yang merusak rumput laut. “Ternyata, secara kajian limbah tidak signifikan mempengaruhi. Sebab, rumput laut hasilnya tetap bagus. Syukurnya lagi, awal 2019 ada program GEF-SGP (Global Environmental Facility - Small Grants Programme) Indonesia yang berkolaborasi dengan Yayasan Wisnu dan Yayasan Kalimajari untuk kegiatan pembudidayaan bibit. Kita melanjutkan yang sudah ada dan mendatangkan strain baru dari Sulawesi dan NTT,” imbuh Suwarbawa.  Kemudian, pada April 2019, perlahan-lahan mulai ada masyarakat yang ikut menanam. “Ada lima orang yang turun. Pada Maret 2019, untuk program Kalimajari di Semaya yang perlu bibit, kita support untuk bibit jenis Alvarezi itu. Karena di Semaya itu paceklik, begitu dicoba di sana alvarezi-nya bagus, bisa ngembang. Di Agustus, mereka (warga) sudah beli bibit,” terang Suwarbawa. Berikutnya, di September 2019, tercatat 15 orang ikut menanam dan berlanjut di Oktober. Hingga Desember 2019, ada 150 orang yang turut berbudidaya.  Covid adalah MomentumKetika sebagian besar lini bisnis pariwisata keok gara - gara covid, tidak halnya dengan sektor budidaya rumput laut. Di Nusa Lembongan, selama masa pandemi, aktivitas berbudidaya rumput laut justru makin bergairah.  Para pelaku pariwisata yang tidak lagi bekerja, kini ramai - ramai mematok lahan, mengikat rumpun - rumpun bibit rumput laut dan membentangkan tali - tali tersebut di perairan yang sekian tahun ditinggalkan. “Kalau saya ngelihatnya manusiawi juga. Bukan berarti mereka tidak punya uang. Kadang-kadang stres itu kan disebabkan karena tidak punya uang dan tidak punya kegiatan. Yang punya uang, diambil - ambil terus, gak kerja kan bingung juga. Lama - lama kan habis. Ya pilihannya mereka turun juga,” tukas Suwarbawa.  Ia pun mencatat, kurun waktu April hingga Juli, setidaknya ada 850-an kepala keluarga (KK) yang menanam rumput laut. “Yang gila - gilaan sekitar Juni - Juli hingga sekarang, ada 850-an KK yang turut menanam. Itu yang di Teluk Ceningan saja. Belum di Jungut Batu yang belakangan juga mulai kapling lahan juga untuk menanam. Teman - teman yang ada vila, yang punya usaha dive cruises mulai ikut turun laut juga,” imbuh Suwarbawa.  Dalam masa pandemi ini ia pun punya harapan. “Kepada masyarakat pesisir yang memiliki potensi budidaya rumput laut, berbudidayalah. Karena akan ada peningkatan kualitas hidup. Ada peningkatan kesejahteraan di sana. Bagi pembudidaya, tetaplah telaten, sabar melakukan budidaya dalam situasi apapun,” tuturnya.Meskipun akan ada tantangan harga turun, ada ais ais, dan lainnya. “Namun, dengan kesabaran itulah kita akan menemukan titik harmoni yang paling tinggi. Kalau kita nggak sabar, kita akan meninggalkan budidaya.Kalau kita meninggalkan sesuatu yang sudah terbukti menopang kehidupan kita, kita akan kualat,” pungkas SuwarbawaArtikel asli ...
Mengenal Alga Merah Dan Manfaatnya Bagi Manusia
Rumput Laut

Mengenal Alga Merah Dan Manfaatnya Bagi Manusia

Indonesia merupakan negara kaya akan sumber keanekaragaman hayati laut dan memiliki kekayaan spesies laut tinggi terutama rumput laut. Sekitar 45% spesies rumput laut dunia ada di Indonesia.Rumput laut merupakan sumber menjanjikan untuk berbagai macam pengembangan produk yang bisa dikembangkan menjadi makanan, kosmetika, farmasetika, bioetanol, pakan ternak, pakan ikan, aquakultur, dan penanganan limbah air.Karena kandungan dalam rumput laut merupakan sumber metabolit sekunder sangat potensial dikembangkan menjadi berbagai bahan baku farmasi. Senyawa-senyawa kimia terkandung dalam rumput laut di antaranya polisakarida, lipid, protein, alkaloid, dan senyawa fenolik yang bermanfaat bagi manusia.Baca juga: 8 Jenis-jenis Rumput Laut di IndonesiaNah, Salah satu spesies rumput laut yang harus kalian ketahui akan manfaatnya adalah Rhodophyta atau disebut juga Alga Merah.Rhodophyta (alga merah) merupakan rumput laut yang dibedakan berdasarkan warna pigmennya.Warna merah pada alga ini disebabkan oleh pigmen fikoeritrin dalam jumlah banyak dibandingkan pigmen klorofil, karoten, dan xantofil. Alga merah dengan tingkat keanekaragaman tinggi memiliki berbagai manfaat untuk bahan baku baik bahan baku makanan maupun untuk bahan baku industri.Contohnya sebagai bahan baku makanan seperti pembuatan agar-agar dari jenis Gelidium robustum, Gracililaria sp., Euchema spinosum dan Chondrus sp. Digunakan sebagai bahan baku makanan karena didalam alga merah ini mengandung bahan-bahan organik yaitu seperti kaya akan vitamin A, C, B6, B12, zat besi, fluor serta sebagai sumber protein.Baca juga: Mengenal Rumput Laut LatohSalah satu contoh dari jenis Gracilaria sp. memiliki metabolit bioaktif yang berfungsi sebagai anti bakteri seperti steroid, terpenoid, dan derivate asam eicosanoid. G. verrucosa juga memiliki aktivitas sebagai antioksidan.Senyawa fenol yang ada pada jenis alga ini terbukti memiliki khasiat sebagai anti bakteri, anti inflamasi, antivirus, dan anti karsinogenik. Jenis Rhodomella confervoides juga mengandung senyawa bromo fenol yang memiliki aktivitas sebagai sitotoksik dan anti bakteri.Alga merah dapat digunakan juga dalam bidang industri contohnya yaitu dalam pembuatan kosmetik untuk produk kecantikan. Hal ini karena kandungan gizi dan nutrisi yang terdapat pada alga merah sangat baik untuk menjaga kesehatan kulit serta dapat mencegah terjadinya penuaan dini.Baca juga: Alginat untuk Bahan Baku PakanAda banyak sekali manfaat atau khasiat terdapat pada alga merah yang tidak kita ketahui selama ini terutama alga merah ini menjadi sumber penting yang dapat dikembangkan menjadi sumber bahan obat yang berasal dari alam.Sumber: riauonline.co.id ...
Alginat untuk Bahan Baku Pakan
Rumput Laut

Alginat untuk Bahan Baku Pakan

Senyawa alginat pada rumput laut cokelat yang ditambahkan pada pakan, bisa meningkatkan daya tahan tubuh spesies  budidaya Tidak hanya menjadi komoditas akuakultur, alginat yang berasal dari rumput laut bisa menjadi komoditas yang mendukung kegiatan akuakultur lainnya. Dalam seminar tentang rumput laut yang diadakan oleh Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) beberapa waktu lalu, dosen sekaligus peneliti dari Deparetemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Univeristas Gadjah Mada (UGM), Alim Isnansetyo menjelaskan manfaat alginat sebagai salah satu bahan baku alternatif pakan ikan dan udang. Dalam pemaparan webinar ini, Alim menekankan manfaat senyawa alginat sebagai imunostimulan alami yang bisa ditambahkan pada pakan ikan atau udang. “Ini bisa digunakan untuk pengendalian penyakit. Untul health and environment management,” kata Kepala Laboratorium Kesehatan Ikan di UGM ini.    Dari beberapa penelitian yang dilakukan Alim, alginat memberikan efek yang bagus terhadap performa spesies budidaya. Pada ikan lele misalnya, data kelangsungan hidupnya (SR/survival rate) memperlihatkan tren yang meningkat seiring meningkatnya dosis alginat yang ditambahkan di dalam pakan. Data SR itu didapatkan setelah lele diuji tantang dengan infeksi bakteri Aeromonas hydrophila.  SR terbaik yang dihasilkan pada lele adalah 76,7 %. Hasil ini didapatkan pada dosis alginat tertinggi (8 gram per kilogram pakan) dan setelah diinfeksi Aeremonas dengan kepadatan 108 sel per ekor. Sementara pada perlakukan lele yang diberi pakan tanpa tambahan alginat, SR-nya hanya 23,3 %  saja. Hasil yang positif pun terlihat pada percobaan penggunaan alginat pada pakan ikan nila. Dalam riset ini, Alim mencari tau efek penambahan alginat yang dikombinasikan dengan asam amino terhadap performa ikan nila. Hasilnya, ikan nila yang diberi pakan yang sudah ditambahi alginat dan asam amino memiliki SR 91,7 %. Sedangkan ikan nila dengan pakan biasa hanya menghasilkan SR sebesar 38,3 %.  “Dari sini kita bisa melakukan efisiensi dua senyawa. Baik senyawa alginat, maupun asam amino. Karena bisa mengurangi dosis masing-masing, tapi punya efek kekebalan yang lebih besar.” Jelas Alim. Tidak Mengganggu PencernaanSelain dicoba pada ikan air tawar, penggunaan alginat sebagai tambahan pakan juga dilakukan pada spesies udang vannamei. Seperti pada ikan, alginat pada pakan udang juga memiliki efek yang cukup bagus terhadap kekebalan tubuhnya. Menurut Alim, udang yang diberi pakan dengan campuran alginat bisa memiliki SR hingga 70 % setelah diinfeksi dengan WSSV (White Spot Syndrome Virus). Sementara udang yang tidak diberi pakan yang ditambahi alginat, SR-nya hanya 10 % setelah diserang WSSV. Bahkan untuk meyakinkan efek alginat terhadap udang, pengamatan juga dilakukan secara molekular dengan melihat ekspresi gen-gen yang berhubungan dengan imunitas. Ekspresi gen-gen imunitas tersebut cenderung meningkat pada udang yang diberi pakan yang ditambahi alginat. “Pola ekspresi gennya hampir sama. Mayoritas setelah diinfeksi WSSV bisa naik,” ujar Alim menyimpulkan. Selain itu, alginat juga bisa menekan copy number WSSV di dalam tubuh udang sehingga daya infeksinya menjadi lebih lambat.  Selain kekebalan, pertumbuhan juga menjadi parameter yang diamati oleh Alim untuk mengetahui apakah alginat dapat dicerna dengan baik oleh udang atau tidak. Hasilnya, pertumbuhan udang tetap normal, yang berarti alginat bisa dicerna dengan baik dan tidak memiliki efek negatif terhadap pertumbuhan selama dosisnya tidak berlebihan.Artikel asli ...
Budidaya Rumput Laut dengan Kantong Bersusun
Rumput Laut

Budidaya Rumput Laut dengan Kantong Bersusun

Kegiatan produksi rumput laut atau makroalga yang cukup tinggi di Indonesia dilakukan pada perairan laut yang terlindungi dan pada tambak-tambak di wilayah pesisir. Kegiatan budidaya rumput laut dilakukan dengan berbagai metode budidaya. Metode budidaya yang umum diterapkan di Indonesia antara lain metode lepas dasar, apung, dan rakit apung.  Metode budidaya rumput laut umumnya memanfaatkan luas lahan yang tersedia. Budidaya rumput laut yang hanya memanfaatkan luas lahan yang tersedia dilakukan secara horizontal. Hal ini menyebabkan keterbatasan lahan budidaya, khususnya pada tambak - tambak budidaya rumput laut.  Namun, lahan tambak budidaya yang terbatas dapat dioptimalkan untuk mendapatkan tingkat produksi yang tinggi. Salah satu upaya untuk mengoptimalkan produksi rumput laut adalah menerapkan metode budidaya kantong jaring bersusun. Baca juga: Tingkatkan Ekonomi Pesisir, Roadmap Industri Rumput Laut DirancangSecara prinsip, kantong jaring bersusun merupakan salah satu metode budidaya yang dilakukan secara vertikal dengan memanfaatkan kedalaman perairan dan tambak budidaya. Produksi rumput laut dengan menggunakan metode budidaya kantong jaring bersusun dapat diestimasi berdasarkan ukuran luasan lahan budidaya dan jarak tanam budidaya rumput laut menggunakan kantong jaring.  Lahan budidaya rumput laut dengan luas 300 meter persegi (m2) dan jarak tanam 1 m antar kantong jaring membutuhkan sebanyak 300 unit kantong jaring bersusun. Satu kantong jaring bersusun dengan bobot awal pemeliharaan 100 gram pada masing-masing tingkatan kantong jaring dapat menghasilkan 113 kg rumput laut. Pertumbuhan Lebih CepatProses pembuatan kantong jaring bersusun sangat mudah dilakukan. Kantong jaring bersusun terbuat dari kerangka besi berbentuk bulat dengan diamaeter 30 cm kemudian dikelilingi dengan jaring happa berdiameter 3 mm.  Kantong jaring bersusun memiliki 3 tingkatan kantong dengan ketinggian masing-masing kantong adalah 20 cm. Budidaya rumput laut dengan menggunakan kantong jaring bersusun memiliki beberapa kelebihan; diantaranya pemanfaatan area budidaya menjadi efektif karena memanfaatkan kedalaman perairan atau tambak. Selain itu, kelebihannya adalah terbebas dari hama seperti ikan, perawatan, pengontrolan dan monitoring lebih mudah dilakukan, serta meningkatkan produksi budidaya rumput laut. Baca juga: 8 Jenis-jenis Rumput Laut di IndonesiaRumput laut yang dibudidayakan pada kantong jaring bersusun mengalami pertumbuhan yang lebih cepat pada masing-masing tingkatan kantong. Pertumbuhan optimal terjadi pada tingkatan kantong pertama dan pertumbuhan berkurang pada tingkatan kantong berikutnya, hal ini disebabkan oleh pengaruh fotosintesis rumput laut. Fotosintesis rumput laut dipengaruhi oleh penetrasi cahaya matahari. Penetrasi cahaya matahari optimal pada bagian permukaan perairan dan berkurang berdasarkan kedalaman perairan. Pertumbuhan rumput laut dengan jumlah bobot awal 100 gram pada masing-masing tingkatan kantong mengalami peningkatan pada 4 minggu awal masa pemeliharaan. Selama 4 minggu awal masa pemeliharaan terjadi peningkatan bobot sebesar 30 gram untuk kantong jaring tingkat paling atas, 29 gram untuk kantong jaring tingkat tengah dan 18 gram untuk kantong jaring paling bawah. Rata-rata pertumbuhan rumput laut masa awal pemeliharaan sebesar 25,67 gram. Peningkatan pertumbuhan bobot rumput laut menggunakan metode budidaya kantong jaring bersusun lebih tinggi dibandingkan dengan metode gantung dengan rata-rata pertumbuhan bobot sebesar 15 gram. Hal ini menujukkan penggunaan kantong jaring bersusun dapat meningkatkan pertumbuhan bobot rumput laut yang berdampak pada peningkatan produksi rumput laut. Baca juga: Pertemukan Inovator Produk dan Industri Rumput Laut, Pemerintah Buat Platform Jejaring DigitalBudidaya rumput laut dengan menggunakan kantong jaring bersusun dapat meningkatkan produksi rumput laut dengan memanfaatkan area budidaya yang tersedia. Peningkatan produksi dapat dilakukan dengan mengubah pola tanam horizontal ke vertikal dengan memanfaatkan kantong jaring bersusun.  Pola vertikal efektif untuk mengoptimalkan lahan yang terbatas tetapi harus memperhatikan pertumbuhan rumput laut, karena secara biologi rumput laut membutuhkan pasokan cahaya matahari untuk proses fotosintesis. Selain itu, rumput laut terbebas dari endapan lumpur pada dasar perairan dan kolam. Oleh sebab itu ukuran tinggi kantong jaring sangat mutlak untuk diperhatikan apabila menerapkan metode budidaya rumput laut tersebut. Hal ini pun selaras dengan tujuan pemanfaatan rumput laut untuk keberlanjutan produksi. Apalagi, rumput laut memiliki spektrum pemanfaatan yang cukup luas mulai dari industri makanan, industri farmasi dan industri tekstil.Artikel Asli ...
Physiological, Biochemical Responses of Red Alga to High Temperature
Rumput Laut

Physiological, Biochemical Responses of Red Alga to High Temperature

Carrageenan is the third most important hydrocolloid (moisture-retentive, gel-forming agents) in the world – after starch and gelatin – and occurs as matrix material in the red alga Kappaphycus alvarezii. It is used in a variety of commercial applications as gelling, thickening and stabilizing agents, especially in the food, cosmetic and pharmaceutical industries.K. alvarezii has been introduced to many countries for research, culture development and commercialization by several companies. Its commercial cultivation has been supplying the carrageenan industry over the past four decades as the biggest source of carrageenan, along with other algae such as Chondrus crispus, Hypnea musciformis and Eucheuma denticulatum.It is mainly produced in the Philippines, Indonesia and Malaysia, with Indonesia being the leading producer (110,000 metric tons, or MT, dry weight), followed by the Philippines (60,000 MT dry weight). It is also cultured in Africa and the Americas, and all over its range it is an important means of livelihood and income for coastal communities.Global warming has been an increasing concern and it poses a threat to K. alvarezii cultivation. Temperature rise due to global warming not only causes physical damage, but also affects the eco-physiological, reproductive and metabolic processes of this seaweed. In addition, K. alvarezii has become more prone to “ice-ice disease” (a term developed by farmers in the Philippines to describe the senescent tissue devoid of pigments that caused healthy branches to break off) due to abrupt changes in temperature of the seawater.This article – adapted and summarized from the original publication – investigated the physiological (growth and photosynthesis) and biochemical (carrageenan yield and quality, pigments and other parameters) responses of K. alvarezii to elevated water temperature. The results are expected to provide valuable information for farm management practices and to develop strategies to mitigate the effect of global warming, which is imperative for the sustainability of cultivation of this alga and its downstream carrageenan processing industries in the tropics.Also read: Improving Immune Performance in Aquaculture Through AlgaeStudy setupFresh and visually healthy samples – without showing signs of disease or other health issues – of K. alvarezii were obtained from a farm in Semporna, Sabah, Malaysia in April 2019. On site measurements of the seawater pH, salinity and temperature were recorded. The collected samples were transported back to the laboratory and maintained for acclimation in artificial seawater at 30 ppt salinity in a controlled environment incubator at 28 degrees-C, with continuous aeration and illuminated with white fluorescent lamps for up to seven days until the maximum quantum yield – a photosynthetic parameter – was stable.The acclimated seaweeds were cultured under four different temperatures; 28 ± 1.0 (ambient), 32 ± 1.0, 36 ± 1.0 and 40 ± 1.0 degrees-C. Commercial data loggers were used to monitor the temperature fluctuations. The light intensity, photoperiod, pH and salinity for all temperature treatments were maintained the same as during the acclimation. Each temperature treatment was conducted with five replicates and the seaweeds incubated at 28 and 32 degrees-C were cultured for fourteen days. An initial biomass of 50 ± 10 grams was used for all replicates and temperature treatments. Treatments at 36 and 40 degrees-C ended after ten and two days, respectively when the seaweeds were partly or entirely bleached, shoots became fragile and fragmented.Medium renewal of the artificial seawater was carried out every two to three days for nutrient replenishment and to overcome evaporation. The growth rate and photosynthetic response were measured every two days, whereas the pigment contents, carrageenan yield and quality were measured on day 0 and on the final day of the temperature treatment (day 14 for 28 and 32 degrees-C, day 10 for 36 degrees-C and day 2 for 40 degrees-C).For detailed information on the source and acclimation of K. alvarezii; temperature experiments; determinations of specific growth rates and photosynthetic response; pigment content, carrageenan extraction and gel strength and viscosity; and statistical analyses, refer to the original publication.Also read: Use Biofilter to Minimize Nitrogen WasteResults and discussionTo the best of our knowledge, this study marks the first report on the effect of elevated temperature on the various physiological and biochemical aspects of K. alvarezii from Malaysia. Our results demonstrate that increasing temperature significantly affected the growth rate, photosynthetic performance, carrageenan yield and quality, pigment contents and production of reactive oxygen species (indicative of stress response).In our trial, the growth rate of K. alvarezii decreased with increasing temperature above 28 degrees-C, and the highest growth rate (0.58 percent per day) was recorded at 28 degrees-C. The slowing decrease in specific growth rate, SGR (a measure of the number of divisions per cell per unit time) towards the end of the experiment at 28 and 32 degrees-C suggests that the seaweeds may slowly adapt to the environmental changes with time, although this hypothesis needs verification through long-term studies.Some authors have reported that the highest growth rate of K. alvarezii in Vietnam was recorded at 25 to 28 degrees-C, whereas the seaweed became fragile with decreased daily growth rates at temperatures of more than 33 degrees-C. Other researchers in India observed a higher growth rate when the seawater temperature ranged from 26 to 28 degrees-C. It appears that cultured K. alvarezii performs best at 27 to 30 degrees-C in tropical and subtropical waters.Fig. 1: Specific growth rate (percent per day) of K. alvarezii incubated at different temperatures. Data shown are mean values and standard deviations (n = 5). Different lowercase letters indicate significant differences (p<0.05) between different temperature treatments at each time point.In general, the growth and photosynthetic rates of seaweeds increase with temperature until an optimum temperature is reached and then rapidly decline at temperatures above the optimum. Our results showed that the K. alvarezii strain used in this study can tolerate higher temperatures of up to 32 degrees-C fairly well in terms of growth, photosynthetic activity and other parameters, despite reduced pigment content and carrageenan yield and quality by the end of the experiment.Also read: Is Fresh Algae or Powdered Algae Better for Shrimp Seed?Although some seaweeds can adapt to a certain degree of heat stress, prolonged exposure to prolonged high temperature will lead to disruptive stress in the form of cellular and subcellular damage. These damages, together with reallocation of resources for protection and repair, may lead to slower growth rates. This may have been the case in our study, where the algae specimens could somewhat tolerate increasing temperatures up to 36 degrees-C, but only for ten days at the most before the shoots started to bleach and disintegrate. Even at 32 degrees-C, significant differences in growth were observed compared to the ambient temperature on day 2 (probably acute stress response to higher temperature) and from day 8 onward (suggesting that the seaweeds start to succumb to heat stress following a brief acclimation period from day 2 until day 6).Shifts in environmental factors potentially cause stress in seaweeds, which are often demonstrated in changes to photosynthetic parameters Results from our study concurred with previous reports where photosynthetic parameters are temperature dependent, given that the highest reading was obtained at the optimum temperature (28 degrees-C) and was reduced at higher temperatures. Among the range of temperatures tested in this study, 28 degrees-C appears to be the most favorable temperature for photosynthetic activity of this strain of K. alvarezii. This effect of temperature is attributed to the influence of temperature on various processes including enzymatic reactions of carbon fixation and others.Fig. 2: Various photosynthetic parameters of K. alvarezii incubated at different temperatures. Data shown are mean values and standard deviations (n = 5). Different lowercase letters indicate significant differences between different temperature treatments at each time point.The decline in photosynthesis at elevated temperatures can also be related to pigment damage. We observed a decrease in chlorophyll-a (a specific form of the plant pigment chlorophyll and involved in photosynthesis) content as temperature increased. This may be attributed to the interference in chlorophyll biosynthesis. Moreover, high temperature could lead to swelling and dilation of chloroplasts (plant organelles that carry out photosynthesis) and fracture of the chloroplast membrane. Impaired chlorophyll biosynthesis and chloroplast development causes reduction in photosynthesis and plant productivity. Therefore, external environmental factors such as temperature have adverse effects in these energy transfers and consequently reduce the pigment content.Also read: Clean Energy in Aquaculture: Using Technology to Grow Healthy FishTemperature can affect the yield and quality of carrageenan, as observed in K. alvarezii. Our study showed that seaweeds incubated at 32, 36 and 40 degrees-C produced significantly lower carrageenan yield compared to seaweeds incubated at 28 degrees-C, which corroborate previous studies that reported that incubation of seaweeds beyond conducive temperature lowers their gel strength and gel viscosity. When seaweeds are exposed to elevated temperature, it causes the loss of the water molecules and subsequently decrease in viscosity and gel strength. This was supported by our observations, where the percentage inhibition of gel viscosity was higher for seaweeds incubated at 32 to 40 degrees-C compared to the ambient temperature.Fig. 3: Percentage inhibition of a) carrageenan yield, b) gel strength and c) gel viscosity of K. alvarezii incubated at different temperatures. Data shown are mean values and standard deviations (n = 5). Different lowercase letters indicate significant differences (p<0.05) between different temperature treatments for each biological parameter.PerspectivesTemperature is crucial for accelerated growth and increasing photosynthetic performance. Based on our results, K. alvarezii performs best at 28 degrees-C, with signs of stress observed at 32 and 36 degrees-C, and 100 percent mortality observed at 40 degrees-C within a very short period. However, our study indicated that temperatures of 32 degrees-C and above result in lower pigment content and, consequently, reduced photosynthetic efficiency, poor growth rates, lower yield and quality of carrageenan and finally ice-ice disease occurrence and loss of biomass due to fragmentation. Even small shifts in temperature can have adverse effects on the health of K. alvarezii and have an impact on the cultivation of this commercially important alga.The effect of warming on K. alvarezii, in the long term remains unknown, but our study provides a basis for future work on long term acclimation to elevated temperatures. It can support future research to identify heat-tolerant strains for sustainable cultivation and assist with planning and management of the global seaweed aquaculture industry.Source: Global Aquaculture Alliance ...
Dosen IPB University Ciptakan Inovasi Garam Sehat dari Rumput Laut
Rumput Laut

Dosen IPB University Ciptakan Inovasi Garam Sehat dari Rumput Laut

Makanan tanpa garam akan terasa hambar, namun pangan dengan banyak garam pun akan membahayakan kesehatan. Dosen IPB University dari Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), Prof Nurjanah miliki solusi bagaimana mengonsumsi garam namun menyehatkan.Prof Nurjanah menciptakan inovasi produk garam yang berasal dari rumput laut. Menurutnya, ide garam dari rumput laut ini berawal dari adanya masalah tentang hipertensi sebagai penyakit yang paling banyak diderita oleh pasien dari berbagai kalangan masyarakat dengan kasus yang terus meningkat setiap tahunnya. Konsumsi garam berlebih dipandang sebagai faktor utama munculnya hipertensi. Peningkatan kasus hipertensi disebabkan oleh berbagai faktor salah satunya akibat dari bergesernya gaya hidup dan pola konsumsi masyarakat yang lebih memilih makanan cepat saji yang tinggi kadar lemak jenuh, garam, gula, dan rendah serat makanan serta mengandung bahan tambahan pangan berupa pengawet, pewarna, pemanis, perisa, pengental, perenyah, penyedap dan lain-lain.Baca juga: Hilirisasi Inovasi Teknologi Ikan HiasPada umumnya bahan tersebut mengandung natrium (Na) termasuk garam yang sehari-hari dikonsumsi yang mengandung NaCl lebih dari 94 persen. Padahal  Indonesia kaya akan rumput laut.Rumput laut ini sudah banyak diteliti dan dikembangkan sebagai  penghasil polisakarida yang dimanfaatkan dalam berbagai industri baik pangan maupun non pangan. Peran utama dari polisakarida tersebut adalah sebagai pengemulsi, penstabil, pengental dan pembentuk gel. Contoh polisakarida yang berasal dari rumput di antaranya adalah karagenan, agar, alginat, furcelaran dan laminaran.  Potensi garam umum maupun rumput laut Indonesia sangat luar biasa besar, karena wilayah Indonesia 70 persen terdiri dari laut. Ada 555 jenis rumput laut (makroalga) dan yang sudah dimanfaatkan tidak lebih 10 spesies.Baca juga: Mengenal Rumput Laut LatohPeluang untuk memanfaatkan rumput laut sebagai pangan fungsional sangat menjanjikan baik untuk mengatasi masalah kesehatan (hipertensi, stunting, penyakit degeneratif, obesitas) serta meningkatkan imunitas tubuh dan yang tidak kalah pentingnya adalah terciptanya lapangan pekerjaan dari Sabang sampai ke Mereuke yang memiliki pantai dengan berbagai jenis rumput laut yang belum dimanfaatkan sampai saat ini.“Terciptanya inovasi garam rumput laut ini karena adanya trend konsumen Indonesia yang beralih memilih healthy lifestyle kian meningkat sehingga menjadikan garam rumput laut ini alternatif untuk mengurangi konsumsi mineral Na. Terutama bagi pasien hipertensi dengan memanfaatkan mineral lain yang terdapat dalam rumput laut yaitu Mg, Zn, Se, Fe, dan Cu yang dibutuhkan tubuh sebagai prekursor untuk antioksidan endogen (SOD, katalase, dan glutation) termasuk K dan lain sebagainya. Selain itu, garam rumput laut kaya akan senyawa aktif yang sudah diteliti memiliki sifat antioksidan, " jelasnya.Sedangkan hasil penelitian dari beberapa jenis rumput laut menurutnya juga memiliki zat aktif yang berfungsi sebagai antimikroba, antiinflamasi, antitumor, antikanker, antihipertensi yang sangat menguntungkan.  Oleh karena itu, harapannya garam rumput laut yang dihasilkan, selain memberi citarasa asin dan aroma nori, masih memiliki serat yang dapat meningkatkan imunitas tubuh.“Garam rumput laut ini termasuk kategori garam diet sehingga berbeda dengan garam konsumsi, dari segi manfaat dan kandungan. Selain itu dapat juga digunakan sebagai pangan fungsional, karena komposisinya. Beda garam diet ini terutama pada kadar NaCl yang rendah yaitu kurang dari 60 persen dan dengan rasio Na:K mendekati atau 0,3-1,” imbuhnya.Diakuinya harga dari garam rumput laut memang agak lebih mahal dibandingkan garam rendah natrium lainnya. Hal ini disebabkan karena garam rumput laut diproduksi dengan skala laboratorium. Jika bisa diterapkan dengan teknologi yang lebih efisien dengan skala industri, harganya mestinya bisa lebih murah.Baca juga: Peluang Usaha Ini Menjanjikan, Kemasan Makanan dari Rumput LautInovasi garam rumput laut ini masih dalam tahap pengembangan untuk pengujian biologis secara in vivo sehingga pemasaran secara skala besar belum dilakukan. Bagi industri yang ingin mengembangkan garam yang kaya manfaat ini, dari segi legalisasi mungkin harus dipenuhi terlebih dahulu semua persyaratannya seperti pengurusan BPOM dan Halal. Selain itu, adanya perjanjian kontrak antara perusahaan dan inventor.“Dari inovasi ini saya berharap dapat menghasilkan garam rumput laut tropika dalam skala industri yang memenuhi standar kesehatan dan berbadan hukum yang sekaligus berfungsi sebagai pangan fungsional yang dapat meningkatkan imunitas tubuh. Selain itu, akan adanya optimalisasi teknik produksi garam rumput laut rendah sodium, mereduksi aroma khas ikan dengan berbagai teknik pra-perlakuan dan aplikasi aroma asap. Selanjutnya akan adanya pengembangan teknik pengemasan dan penyimpanan produk garam rumput laut, dan diaplikasikan pada berbagai produk pangan,” terangnya. SUmber: IPB UniversityTentang MinapoliMinapoli merupakan marketplace++ akuakultur no. 1 di Indonesia dan juga sebagai platform jaringan informasi dan bisnis akuakultur terintegrasi. Dengan memanfaatkan teknologi, pembudidaya dapat menemukan produk akuakultur dengan mudah dan menghemat waktu di Minapoli. Platform ini menyediakan produk-produk akuakultur dengan penawaran harga terbaik dari supplier yang terpercaya. Selain itu, bentuk dukungan Minapoli untuk industri akuakultur adalah dengan menghadirkan tiga fitur utama yang dapat digunakan oleh seluruh pembudidaya yaitu Pasarmina, Infomina, dan Eventmina. ...
Improving Immune Performance in Aquaculture Through Algae
Rumput Laut

Improving Immune Performance in Aquaculture Through Algae

Macroalgae (seaweeds) play a key role in shaping the marine underwater world, from the seashore down to depths where there is enough light for them to grow. Seaweeds are widely used in the food industry as gelifying, thickening and stabilising agents due to their specific physico-chemical properties.Reinforcing the intestinal barrier function of animalsRecent scientific work has revealed the potential of in-feed marine macroalgae polysaccharides as reliable agents for modulating the immune function and reinforcing the intestinal barrier function of animals. These are seen as innovative strategies that can lead to greater resilience in animals before stress events such as transport, sorting and vaccinations; they can also help during disease risk periods and when facing environmental challenges.Red algal extract enhances the gut barrier function, while green algal extract modulates innate and adaptive immune responses. Photo: OlmixUnique structural featuresSeaweeds are divided into 3 groups:1. brown,2. red and3. green algae.Despite their phylogenetic differences, seaweeds share the specificity of their parietal polysaccharides, whose structural complexity and unique composition make them very reactive and explain their bioactivities in relation to animals, plants and humans.The complexity and reactivity of seaweed polysaccharides derive from the nature of sugar units, which are diverse and sometimes rare, such as uronic acids, xylose and rhamnose. The variety of glycosidic bonds leading to their branched structure and the presence of sulfate groups determines the bioactivities of these molecules (Figure 1).Figure 1 – A seaweed sulfated polysaccharide structure is responsible for a high level of biological activities. Photo: OlmixFurthermore, their polyanionic structure and solubility increase their reactivity and facilitate their recognition by host cells.Also read: Helping Seaweed Farming Achieve Its Full PotentialThe main types of seaweed polysaccharides are:• agar and carrageenans (red seaweeds),• ulvans (green seaweeds) and• fucans (brown seaweeds),Each of which have specific molecular traits which determine their biological properties and reactivity. This is why it is important to identify which types of polysaccharides are responsible for a given bioactivity, with the aim of extracting and using them for achieving targeted health effects.Olmix Group marine bioactive ingredient extraction know-how has led to the development of an in-feed product, Algimun, which is based on a combination of 2 bioactive macroalgal extracts: MSP®Barrier, a red algal extract, which enhances the gut barrier function; and MSP®Immunity, a green algal extract, that modulates innate and adaptive immune responses. Algimun bioactive molecules proved resistant to aquaculture feed processing in general, and in particular to extrusion.Immunomodulating and propertiesA research project in collaboration with INRA (France) led to the demonstration of the effect of MSP®Immunity on immune mediator transcription in a IPEC-1 model (epithelial cell line). This included identifying the metabolic pathways involved.Green algal extractGreen algal extract could positively influence the gene transcription of a wide range of immune mediators involved in defence mechanisms within innate and the adaptive immune responses, including the recruitment and activation of antigen-presenting cells, the differentiation and proliferation of lymphocyte populations, while inducing immune tolerance thanks to its anti-inflammatory properties. In-vivo scientific studies further confirmed the immunomodulating properties of MSP®Immunity, namely by improving the phagocytic activity of macrophages and neutrophils in rainbow trout and also by regulating the gene expression of immune mediators with anti-inflammatory activities in carp macrophages.Red algal extractOlmix Group conducted a set of experiments in collaboration with Intestinal Biotech Development in order to assess the effect of the MSP®Barrier on the intestinal barrier function using epithelial cell lines. Results showed that this red algal extract upregulates the gene expression of transmembrane and scaffolding proteins, which are essential for optimal functioning of tight junction complexes. Besides that, the red algal extract upregulates the expression of mucin-¬targeted genes that play a crucial role in establishing the mucus layer and the preventing pathogen colonisation. Red algal extract also plays an important role in maintaining gut mucosa integrity by making the tight junctions stronger and the mucus layer more functional. These findings were corroborated in an in-vivo scientific study.MSP®Barrier reduced the paracellular passage of FITC-dextran (gut permeability marker) to the blood in an animal stress model known to cause inflammation of the gut mucosa, leading to a higher degree of gut permeability. MSP®Barrier supplementation to stressed animals significantly reinforced the barrier function of the gut mucosa which is currently at the front line of the innate immune defence.Also read: Stimulating Immune for GrouperThe effect of macroalgal extractsScientific and commercial trials have shown that Algimun inclusion in feed ensures regular growth performance while modulating the immune response and reinforcing the gut barrier function, resulting in enhanced resistance to pathogenic challenges in several species such as red tilapia, rainbow trout, olive flounder and shrimp.Red tilapia fed with 0.3% of Algimun had a higher survival rate (+25%, p<0.05, figure 2) 14 days after a streptococcus agalactiae challenge due to a better immune response demonstrated by a significant increase in the blood respiratory burst when compared to the control challenge group (p><0.05) and by significantly higher counts of intestinal goblet cells when compared to the control group (p><0.05).>Figure 2 - Survival rate of red tilapia 14 days after Streptococcus agalactiae challenge.In a rainbow trout commercial farm (Brazil, 2019), the inclusion of 0.3% of Algimun in the feed led to a significantly improved skin-mucus immune response when compared to the control group. The skin mucus complement system activity (hemolysis activity) in trout fed Algimun at week 4 and week 11 was improved by 13% (p<0.05) and 28% (p><0.10), ¬respectively.>What’s more, the hemolytic activity was higher at week 11 compared to week 4 (p<0.001). these results indicate that the product reinforces the skin-mucus innate immune response over time, both in short and long="term" use, while maintaining regular performance.>These trials confirm that the product can be used as a natural marine in-feed strategy to improve the natural defences and thus improve the resistance of animals to several stressors in aquaculture production systems.Source: allaboutfeed.net ...
8 Jenis-jenis Rumput Laut di Indonesia
Rumput Laut

8 Jenis-jenis Rumput Laut di Indonesia

Kekayaan sumber daya laut Indonesia, keragaman hayati dan jenis jenis sumber daya alam di dalamnya begitu melimpah ruah. Rumput laut merupakan salah satu biota laut yang beragam spesiesnya di Indonesia. Kekayaan spesies dari rumput laut ini tidak hanya berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem namun dapat diambil manfaatnya. Manfaat dari rumput laut ini sangatlah beragam, diantaranya yaitu, sebagai bahan baku industri masakan, industri kosmetik, industri konstruksi, farmasi, kesehatan dan kedokteran. Untuk itu telah banyak masyarakat terutama masyarakat pesisir yang telah membudidayakan berbagai jenis rumput laut. Pengelompokan tumbuhan rumput laut termasuk ke dalam makroalga, yang tidak memiliki akar, daun dan batang sejati (Thallophyta). Terdapat thallus yang menggantikan fungsi akar pada tumbuhan, yaitu sebagai penyerap hara dan nutrisi dari sekitar. Proses fotosintesis pada tumbuhan juga terjadi pada rumput laut karena telah memiliki klorofil dan terjadi di bagian thallus (autotrof).Jenis yang DibudidayakanTerdapat beragam jenis rumput laut yang telah dibudidayakan, namun terdapat beberapa jenis rumput laut unggulan yang telah dibudidayakan dan berpotensi di Indonesia. Berikut diantaranya jenis jenis rumput laut, yaitu.1.Gelidium sp.Rumput laut jenis ini merupakan salah satu spesies dari Rhodophyta (rumput laut merah). Warna merah pada rumput laut ini disebabkan oleh pigmen fikoeritrin. Gelidium sp. memiliki panjang kurang lebih 20 cm dan lebar 1,5 mm. Thallusnya berwarna merah, coklat, hijau-coklat atau pirang.Organ reproduksinya berukuran makroskopis. Rumput laut jenis ini memiliki warna yang bervariasi, hal ini terkait fungsi cahaya matahari bagi tumbuhan rumput laut di mana ada besar kecilnya intensitas cahaya berpengaruh terhadap warna. Di Indonesia sendiri memiliki 8 spesies dari jenis rumput laut ini.Sumber: Biodiversidadvirtual.comAdapun sentra budidaya rumput laut Gelidium sp. terdapat di pesisir Kepulauan Seribu, Kepulauan Riau, Lombok, Sulawesi, Maluku dan Papua. Berbagai jenis Gelidium sp. di Indonesia dan negara lain dimanfaatkan sebagai bahan baku pabrik agar-agar dalam negeri dan sebagai  komoditas  ekspor.  Kandungan agar-agarnya  berkisar  antara  12-48%, tergantung jenisnya.2. Gracilaria VerruccosaRumput laut jenis ini merupakan salah satu spesies dari Rhodophyta (rumput laut merah). Sama seperti jenis rumput lainnya, G. verrucosa memiliki bentukan yang menyerupai akar, batang, daun, atau buah  yang disebut thallus. Ciri-ciri umum G. verrucosa pada bentuk thallusnya  yang menipis dan silindris dengan bentukan percabangan yang tidak teratur.Pada  pangkal percabangan thallusnya menyempit. Umumnya ujung thallus G. verrucosa meruncing dengan permukaan yang halus namun terkesan berbintil. Diameter thallus G. verrucosa berkisar antara 0.5 – 4.0 mm. Jenis rumput laut ini pada habitat aslinya mendiami wilayah 300-1000 m dari garis pantai. G. verrucosa termasuk rumput laut yang bersifat euryhalin yaitu kemampuan untuk dapat hidup pada perairan bersalinitas 15-30 ppt. Pertumbuhan G. verrucosa diketahui lebih baik di tempat dangkal yang memiliki intensitas cahaya tinggi dari pada di tempat dalam.Sumber: Alchetron.comSuhu yang optimum untuk pertumbuhan adalah 20-28o C dan pH optimum antara 6-9. Selain itu, substrat tempat melekatnya G. verrucosa berupa batu, pasir dan lumpur. Gambaran umum rumput laut adalah macrobenthic (besar dan melekat), organisme autotrof, membutuhkan cahaya untuk keberlangsungan hidupnya sehingga rumput laut tidak dapat hidup pada kedalaman laut yang tidak ada cahaya.Wilayah penyebaran G. verrucosa di Indonesia meliputi di wilayah Sulawesi selatan (Jeneponto, Takalar, Sinjai, Bulukumba, Wajo, Paloppo, Bone, Maros), Sulawesi tenggara dan Sumbawa barat. Daerah budidaya Gracilaria terdapat di Sulawesi selatan, Lombok barat, Sumbawa, Pantai utara Jawa, Serang, Lamongan dan Sidoarjo. G. verrucosa juga ditemukan hidup di teluk atau laguna yang keruh dangkal dekat dengan aliran air tawar yang mengandung banyak nutrien. Biasanya melekat di batu pasir, lumpur dan jenis jenis terumbu karang. (baca juga artikel terkait cara melestarikan terumbu karang dan cara transplantasi terumbu karang)Baca juga: Mengenal Rumput Laut Latoh3. Eucheuma spinosumRumput laut jenis ini merupakan salah satu spesies dari Rhodophyta (rumput laut merah). Thallus berbentuk silindris, percabangan thallus berujung runcing dan ditumbuhi tonjolan, berupa duri lunak. Permukaan tubuhnya licin, berwarna coklat tua, hijau coklat, hijau kuning atau merah ungu.Variasi warna ini terkait dengan kemampuan adaptasi karomatik dari jenis rumput laut ini yang tergantung dari intensitas cahaya matahari yang diterima. Tinggi E. spinosum dapat mencapai 30 cm dan percabangan thallus pertama dan kedua tumbuh membentuk rumpun yang rimbun dengan ciri khusus mengarah ke arah datangnya sinar matahari, ada yang memanjang dan ada yang melengkung.Sumber: Repository.unpas.co.idEucheuma spinosum tumbuh pada perairan yang jernih, dasar perairannya berpasir atau berlumpur dan hidupnya menempel pada berbagai jenis jenis terumbu karang. Persyaratan hidup lainnya yaitu terdapat arus. Umumnya di sekitar rumput laut akan banyak terdapat jenis jenis plankton. Untuk di Indonesia sendiri masih baru dibudidayakan dalam skala besar di daerah Madura – Sumenep dan Bali. Adapun rumput laut E. spinosum adalah salah satu komoditas ekspor yang potensial untuk dikembangkan. Rumput laut E. spinosum diambil karaginannya yang memiliki nilai ekonomi tinggi.4. Eucheuma CottoniiRumput laut jenis ini merupakan salah satu spesies dari Rhodophyta (rumput laut merah). E. cottonii dapat dibedakan dari thallusny di mana thallusnya bercabang-cabang berbentuk silindris atau pipih, percabangannya tidak teratur dan kasar (sehingga merupakan lingkaran) karena ditumbuhi oleh nodulla atau spine untuk melindungi gametan.Ujungnya runcing atau tumpul berwarna coklat ungu atau hijau kuning. Spina Eucheuma cottonii tidak teratur menutupi thallus dan cabang-cabangnya. Permukaan licin, cartilaginous, warna hijau, hijau kuning, abau-abu atau merah. Penampakan thallus bervariasi dari bentuk sederhana sampai kompleks.Sumber: news.unair.co.idHabitat dari E. cottonii ini adalah pada daerah pasang surut, rataan terumbu karang, menempel pada substrat yang keras. Pertumbuhan rumput laut sangat dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang berpengaruh antara lain jenis, galur, bagian thalus dan umur. Sedangkan faktor eksternal yang berpengaruh antara lain keadaan fisik dan kimiawi perairan. Sentra wilayah budidaya rumput laut jenis ini terdapat di Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur, Bali, Jawa Timur, Sulawesi Tenggara dan Nusa Tenggara Barat. E. cottonii diambil kandungan kimiawinya yaitu karagenan dan dimanfaatkan dalam industri kosmetika, makanan, dan obat-obatan.5. Acantophora spiciferaRumput laut jenis Acanthopora sp. merupakan salah satu contoh Rhodophyta (rumput laut merah). Thallus silindris, percabangan bebas, tegak, terdapat duri-duri pendek sekitar thallus yang merupakan karakteristik jenis ini. Tubuh berwarna coklat tua atau coklat kekuning – kuningan. Rumpun lebat dengan percabangan kesegala arah.Tumbuh pada substrat batu atau substrat keras lainnya seperti beberapa jenis terumbu karang dan dapat bersifat epifit. A. spicifera menghasilkan alanine dan aspartic acid.Sumber: inaturalist.comJenis rumput laut ini masih sedikit dibudidayakan di Indonesia dan biasanya dimanfaatkan sebagai makanan ringan dan makanan olahan.6. Chondrococcus hornemanniiRumput laut jenis C. hornemannii merupakan salah satu spesies dari Rhodophyta (rumput laut merah). Thallus pipih, permukaan halus, membentuk rumpun kecil tetapi sangat rimbun saling bertumpukan. Percabangan berselang-seling teratur, merapat, tubuh berwarna merah-ungu atau pirang.Sumber: tonysharks.comTumbuh umumnya di daerah ujung luar bagian terumbu karang yang senantiasa terendam air, melekat pada substrat batu dan terumbu karang dengan holdfast yang berbentuk cakram kecil. Rumput laut merah jenis C. hornemannii menghasilkan produk kimia asparagin dan karagenan serta dimanfaatkan sebagai bahan dasar agar agar dan kosmetik.Baca juga: Produk Rumput Laut Indonesia Unjuk Gigi di Simposium Internasional di Jeju7. Hpnea sp.Rumput laut jenis Hypnea sp.merupakan salah satu contoh Rhodophyta (rumput laut merah). Cir khas dari rumput laut jenis ini adalah mempunyai thallus yang lurus, bercabang lemah, berwarna coklat atau kehijau-hijauan tergantung intensitas cahaya matahari dan kedalaman tempat tumbuh.Sumber: commons.wikimedia.orgSepanjang thallus terdapat rambut-rambut yang halus. Sama seperti rumput laut merah jenis lain Hypnea sp. dimanfaatkan dan diambil karagenannya sebagai bahan baku berbagai industri. Perkembangbiakan tumbuhan rumput laut jenis ini dalam budidayanya biasanya diperbanyak dengan vegetatif buatan yaitu menggunakan stek thallus.8. Ulva lactucaRumput laut jenis Ulva sp.atau selada laut (sea lettuce) adalah rumput laut yang tergolong dalam  divisi Chlorophyta (rumput laut hijau). Termasuk dalam  divisi  Chlorophyta  karena  sel-sel mengandung banyak mengandung klorofil a sehingga memberikan warna hijau pada rumput laut ini.Sumber: inaturalist.comHabitatnya adalah di air laut dan morfologinya berupa thallus tipis dan gepeng seperti pedang yang terdiri atas 2 lapis sel. Tidak ada diferensiasi jaringan dan seluruh sel memiliki bentuk yang kurang lebih identik, kecuali pada sel-sel basal yang mengalami elongasi membentuk rhizoid penempel. Masing-masing sel pada spesies ini terdiri atas sebuah nukleus, dengan kloroplas berbentuk cangkir dan sebuah pirenoid.Ulva lactuca memiliki panjang sampai 100 cm dan berwarna hijau apel terang, dan memiliki bentuk strap-shaped blades (pedang melipat) dengan tepi yang halus tapi bergelombang. Bagian tengah dari  setiap  helaian  seringkali  berwarna  pucat  dan  semakin  ke  arah  tepi  warnanya semakin gelap. Pada daerah tropis, tumbuhan ini biasanya terdapat di air yang dangkal (zona intertidal bagian atas sampai kedalaman 10 meter).Sumber: bulelengkab.go.idTentang MinapoliMinapoli merupakan marketplace++ akuakultur no. 1 di Indonesia dan juga sebagai platform jaringan informasi dan bisnis perikanan budidaya terintegrasi, sehingga pembudidaya dapat menemukan seluruh kebutuhan budidaya disini. Platform ini hadir untuk berkontribusi dan menjadi salah satu solusi dalam perkembangan industri perikanan budidaya. Bentuk dukungan Minapoli untuk industri akuakultur adalah dengan menghadirkan tiga fitur utama yang dapat digunakan oleh seluruh pelaku budidaya yaitu Pasarmina, Infomina, dan Eventmina.  ...
Use Biofilter to Minimize Nitrogen Waste
Rumput Laut

Use Biofilter to Minimize Nitrogen Waste

The potential of seaweed applications as biofilter in closed aquaculture systems, especially in the recirculation system.The aquaculture industry has been developing rapidly all over the world, resulting in the consequences of waste water sources that are causing significant impacts on the environment. In particular,  Nitrogen and phosphorus are the two main waste components in aquaculture, studies show that only 25-30% of nitrogen, 15-20% of phosphorus is absorbed and most is excreted. environment (FAO, 1992). Recognizing this urgent problem, many environmental policies in aquaculture have been applied worldwide to treat waste water.Therefore, reusing water is one of the solutions to protect the environment, and besides, farmers can take advantage of waste to create value-added products. By applying the nutrient uptake ability of seaweed species can help solve oxygen problems as well as the accumulation of toxic components in culture systems (Van Rijn, 1996). Seaweed Ulva prolifera (OF Muller, 1778) is one of the types of seaweed have economic value high, it is reported that Ulva prolifera source of vitamin abundant and particularly vitamin B12 higher than other types of Other seaweeds (Watanabe, 1999). In addition, this seaweed has the ability to absorb and assimilate nutrients in water strongly (Cohen Risa, 2006). Therefore, Ulva prolifera is highly appreciated in exploiting the potential of waste minimization in aquaculture and especially in closed circulating systems. In this study, seaweed was used as a biofilter in combination with a closed farming system to minimize nitrogen in aquaculture, the subject being Japanese orangefish.To accomplish this goal, two continuous experiments were performed. Experiment 1: Two closed scale farming systems have been designed and installed to evaluate the application effectiveness of seaweed. Each system includes aquarium (800L), settling tank (900L) and seaweed culture (200L), the total volume of each system is 1900L. The fingerlings are naturally sourced, caught and raised directly at Usa Biological Research Institute using synthetic feed. In this experiment, each culture tank was stocked at a density of 22con / m3 with an average weight of 122g / head.Accordingly, the wastewater from the fish tank is sucked directly from the bottom of the tank and flows through the settling tank to remove solid waste before being pumped to the seaweed tank with a 22L / min pump. Wastewater from the culture tank through the seaweed tank will be circulated back to the aquarium, the cycle is designed about 16 times / day to ensure the amount of waste is removed completely. The results showed that the addition of seaweed as a biofilter in the culture system effectively reduced the amount of ammonia released from the fish. However, the optimal application of seaweed in closed farming systems as well as combined economic efficiency has not been studied specifically. In the second experiment, different seaweed densities were tested to find the optimal density when applying this seaweed in the culture system. Thereby, six seaweed densities were tested including 12g / L, 6g / L, 2g / L, 1g / L, 0.5g / L and the control treatment of 0g / L. Water samples were taken every 3 hours after the start of the experiment.Results measured nitrite or nitrate levels reached in aquarium shows, nitrite and nitrate are absorbed rapidly after the addition of seaweed. Absorption efficiency depends on the density of seaweed cultured. After 6 hours of experiment, more than 80% of nitrite was absorbed at seaweed density from 6 g-12 g / L after 3 hours of experiment, much higher than the lower densities and controls.  Preliminary research results show that the ability of Ulva prolifera to absorb nitrogen emissions such as ammonia, nitrite and nitrate directly helps ensure safe water quality in closed orange orange farming system. copy. In addition, factors such as oxygen and pH content also improved steadily. In addition, the research results also show the potential of seaweed application as a biofilter in closed aquaculture systems, especially in the circulatory system.Source: Tepbac ...
KKP Dorong Eskpansi Pasar Ekspor Rumput Laut di Tengah Pandemi
Rumput Laut

KKP Dorong Eskpansi Pasar Ekspor Rumput Laut di Tengah Pandemi

Setelah sukses memasok 80% kebutuhan domestik, kali ini rumput laut jenis Gracilaria sp berhasil menembus pasar ekspor Jepang. Melalui CV. Simpul Agro Globalindo, sebanyak 51 ton rumput laut Gracilaria dilepas dari Makassar, Sulawesi Selatan ke Jepang pada Sabtu, 2 Mei 2020.Nilai ekspor komoditas tersebut mencapai USD36.594. Direktur Utama, CV. Simpul Agro Globalindo, Mursalim mengatakan Jepang sebagai pasar potensial di luar Tiongkok. Terlebih permintaan ekspor ke Jepang mencapai 400 ton dalam setahun.“Dimasa pandemi ini baru kita penuhi sekitar 76,5 ton. Rumput laut tersebut disuplai dari Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah,” kata Mursalim saat dikonfirmasi, Senin (11/5).Dikatakan Mursalim, pihaknya bermitra kurang lebih dengan 400 pembudidaya. Mereka tersebar di Sulawesi Tengah sekitar 100 pebudidaya dan 300 pembudidaya dari Sulawesi Selatan.“Kita terus beri motivasi dan fasilitasi agar produksinya terus berjalan”, sambungnya.Sementara Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto memaparkan, kontribusi rumput laut mencapai lebih dari 60% dari total produksi perikanan budidaya nasional. Dengan terus menggenjot ekspor dan membuka peluang pasar baru diharapkan akan mendongkrak devisa yang saat ini terganggu akibat dampak ekonomi Covid-19. Karenanya, meski di masa pandemik, dia berharap ekspor rumput laut terus berjalan.“Rumput laut ini kontribusinya sangat besar terhadap nilai produksi perikanan budidaya nasional,” jelas Slamet.Saat ini, pemerintah serius untuk menggarap industrialisasi rumput laut nasional. Slamet memastikan, sebagai langkah awal, Ditjen Perikanan Budidaya telah menetapkan peta jalan untuk bangun industrialisasi rumput laut. termasuk bagaimana percepatan produksi di hulu.“Ini yang akan terus kita dorong agar produktivitas di hulu lebih optimal,” tegasnya.Pendapat senada diungkapkan Kadis Kelautan dan Perikanan Sulawesi Selatan, Sulkaf S Latief. Menurutnya, rumput laut menjadi komoditas yang paling banyak berkontribusi pada nilai ekspor komoditas perikanan.Adapun Sulawesi Selatan, menyumbang 30% produksi rumput laut nasional. “Saya kira kita harus fokus untuk membangun mata rantai bisnisnya yang efektif dan efisien serta akan tetap berupaya menjaga sinergitas dengan sejumlah pihak guna menggenjot ekspor rumput laut di Sulawesi Selatan,” kata Sulkaf.Sumber: KKP News ...
Jejaring Virtual untuk Inovasi Rumput Laut Tropis
Rumput Laut

Jejaring Virtual untuk Inovasi Rumput Laut Tropis

Indonesia telah memiliki jaringan berbasis web antara pusat riset untuk rumput laut tropis melalui Tropical Seaweed Innovation Network (TSIN).TSIN adalah platform bagi para peneliti, pakar, dan juga industri rumput laut untuk bekerja bersama, membangun sinergi dan kolaborasi dalam penelitian dan pengembangan rumput laut, produk rumput laut, dan membawa inovasi ke dalam komunitas bisnis.Platform ini didanai oleh Program SMART-Fish fase 1 (2014-2019) sebagai bagian dari Seco(Swiss) yang dilaksanakan bersama oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Unido untuk meningkatkan daya saing industri rumput laut Indonesia. Dalam rantai nilai rumput laut, program ini mencakup 23 kabupaten di 8 provinsi di seluruh Indonesia.Kepala Perwakilan Seco untuk Indonesia, Remy Duiven dan Perwakilan Unido untuk Indonesia dan Timor Leste, Esam Alqararah menyaksikan peluncuran TSIN yang dilakukan pada gelar Hari Ikan Nasional di Jakarta beberapa waktu lalu.Asosiasi Industri Rumput Laut Indonesia (Astruli) menyiarkan, inovasi, pengembangan produk, dan pengetahuan yang baik tentang tren pasar rumput laut adalah bekal untuk bisa kompetitif di pasar global. Persyaratan pembeli dan konsumen yang cepat berubah untuk produk rumput laut telah menimbulkan ancaman serta peluang bagi industri rumput laut Indonesia.Upaya publik dalam penelitian dan pengembangan rumput laut dan inovasi di Indonesia tersebar di berbagai lembaga penelitian dan universitas, dengan staf yang berkualitas, tetapi biasanya tidak sepenuhnya didedikasikan untuk rumput laut.Meskipun ada kolaborasi antar lembaga, akan bermanfaat untuk meningkatkan interaksi antara lembaga-lembaga ini untuk menggabungkan keahlian dan peralatan di bawah strategi yang lebih global. Secara paralel, tampak bahwa interaksi penelitian publik dengan industri terbatas dan sebagian besar terfokus pada penyebaran / transfer. Keterlibatan mitra industri sebelumnya dalam strategi penelitian akan bermanfaat untuk mengembangkan riset dan inovasi yang digerakkan oleh pasar.TSIN dikelila oleh KKP sebagai koordinator dan memiliki 27 anggota pusat penelitian di berbagai kementerian dan universitas, lebih dari 150 ahli. Situs web TSIN berisi profil umum pusat-pusat R&D, layanan, pakar, dan keahlian mereka, produk yang dikembangkan, dan area fokus pekerjaan mereka.  Artikel Asli : Trobos Aqua ...
Ekspor Rumput Laut Spinosium 53,5 Ton ke Vietnam
Rumput Laut

Ekspor Rumput Laut Spinosium 53,5 Ton ke Vietnam

Di tengah pandemi Covid-19, sebanyak 53,5 ton rumput laut jenis spinosum senilai hampir Rp 700 juta tersebut dikirim ke Vietnam.Ekspor dilepas oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo di desa Laban, kecamatan Tirtayasa, kabupaten Serang, Banten, Sabtu (25/4). Begitu dilepas, dua truk kontainer pembawa rumput laut langsung bergerak menuju Pelabuhan Merak.“Alhamdulillah, di tengah pandemi Covid-19 kita tetap semangat berproduksi, bahkan hari ini melepas ekspor 53,5 ton rumput laut spinosum ke Vietnam,” ujar Menteri Edhy didampingi Dirjen Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto, Kepala BKIPM Rina, dan Wakil Bupati Serang, Pandji Tirtayasa.Menteri Edhy menjelaskan, permintaan ekspor rumput laut spinosum ke Vietnam sangat tinggi yakni 3.000 ton per bulan. Namun yang baru terpenuhi baru 300 ton per bulan, dan yang diekspor hari ini merupakan termin pertama pengiriman.Melihat peluang pasar yang begitu besar, Menteri Edhy mengajak pemda bersama pelaku usaha menguatkan sinergi untuk meningkatkan jumlah produksi. “Dengan sinergi, kita bisa mempercepat, memperbanyak produksi sehingga kebutuhan ekspor 3.000 ton per bulan bisa dipenuhi,” urainya.Rumput laut spinosum yang diekspor hari ini adalah produksi petambak kabupaten Serang dan kepulauan Seribu. Spinosum sendiri merupakan jenis rumput laut yang jarang di Indonesia.Wakil Bupati Serang Pandji Tirtayasa mengaku akan berupaya meningkatkan produksi rumput laut spinosum dengan memberi kemudahan kepada masyarakat agar mau terjun ke sektor tersebut. Saat ini masyarakat pesisir memang lebih banyak memproduksi rumput laut jenis cotoni.“Kita akan dorong masyarakat menanam spinosum, kalau perlu kami bantu permodalannya,” ujar Pandji.Kabupaten Serang sendiri punya potensi lahan 10 ribu hektare untuk pengembangan budidaya rumput laut. Sejauh ini baru 4.000 hektare di antaranya yang berproduksi.Jaja, penanggung jawab CV Delton - eksportir rumput laut spinosum, mengaku Vietnam sangat terbuka dengan rumput laut Indonesia karena kualitasnya lebih baik dibanding dengan produk negara lain. Selain sebagai eksportir, pihaknya turut mendampingi langsung para pembudidaya di Serang maupun Kepualauan Seribu.“Di Serang saja ada 400 KK yang kami dampingi. Di Pulau Seribu lebih banyak lagi, ribuan,” aku Jaja. Sementara itu, berdasarkan catatan SKIPM Merak, terdapat lima kali ekspor produk perikanan sejak 16 Maret termasuk rumput laut spinosum. Komoditas lainnya meliputi frozen shrimp dan bubuk karagenan (carrageenan powder) dengan total volume 4,8 juta ton senilai lebih dari Rp 452 miliar.Artikel Asli : Trobos Aqua ...
Apricot Algae Stimulates Immunity Against Phosphorescent Disease in Shrimp
Rumput Laut

Apricot Algae Stimulates Immunity Against Phosphorescent Disease in Shrimp

Recent research has shown that apricot algae extract has the ability to stimulate immunity and increase survival rate in black tiger shrimp to help shrimp against disease caused by Vibrio harveyi.Black tiger shrimp ( Penaeus monodon ) is a species of high economic value and is raised in many countries around the world. According to a report of the General Department of Fisheries, as of September 24, 2019, brackish shrimp farming area reached 705,209 ha, of which tiger shrimp farming area is 606,661 ha. The harvested output is 504,413 tons, of which, the production of black tiger shrimp is 181,585 tons. However, in recent years, due to climate change, the process of saline intrusion has led to many black tiger shrimp farming, poor quality seed, and frequent epidemics. Some common diseases in black tiger shrimp such as WSSV, yellowhead disease YHV, disease caused by micro-spores of EHP, acute hepatopancreatic necrosis caused by Vibrio parahaemolyticus , phosphorescent disease caused by V. harveyi. Illuminating disease is found in larvae, postlarvae of black tiger shrimp and damages economic and shrimp farming of many countries in the world.When recognizing the signs of disease, most farmers use chemicals and antibiotics to treat the disease, unreasonable dosages lead to some strains of resistant bacteria that reduce the effectiveness of use, residues in the environment and Food affects consumers' health.Supplementing herbal extracts is one of the measures researched by many scientists due to its high biosecurity, both ability to prevent and treat diseases and less impact on the environment and consumers' health.Currently, the demand for seaweed is very large, they serve as a source of food, fodder, fertilizer and medicinal source (SánchezMachado et al., 2004). In particular, brown seaweed has been identified as a rich source of bioactive materials with many biological activities such as antioxidant, antibacterial, antifungal, anti-coagulant, anti-UV-B radiation, capable of making heals wounds and regenerates cell structure, enhances immunity (Liu et al., 2012). Specifically, fucoidan is a substance extracted from brown seaweed, containing polysaccharides sulfate, can help boost immunity for black tiger shrimp, whiteleg shrimp against white spot disease virus (WSSV), or stem redness caused by micro bacterium V. alginolyticus.Apricot algae is a species of seaweed, which grows into large dust, brownish yellow or olive brown, is a species of brown algae. In traditional medicine, apricot algae is considered a valuable medicine, widely applied in the fields of medicine, industry and fisheries. Research Tran Trung Giang, 2015 said that the mixture of polysaccharide extracted from brown algae S. microcystum has the ability to stimulate growth, enhance immunity of white shrimp when supplemented with a ratio of 1.0% to feed. . Simultaneously, polysaccharide extracted from brown algae S. microcystum was evaluated as a strong antioxidant (Huynh Truong Giang et al., 2013).The trial was conducted to assess the effect of a mixture of apricot algae extract ( Sargassum microcystum ) added to the feed for black tiger shrimp ( Penaeus monodon ). Shrimp were fed with a diet supplemented with S. microcystum extract of various algae extracts at different levels (0%, 0.5%, 1%, 2% from apricot extract), fed continuously. in 30 days.A challenge test for Vibrio harveyi was conducted in a 60 L plastic bucket with 30 shrimp / treatment.ResultThe total number of white blood cells (THC), the number of granulated white blood cells (LGC), the number of seedless white blood cells (HC) and the enzyme PO activity increased significantly in the 1% supplement group. from apricot algae, the highest survival rate (80%) was recorded in the dietary supplement group with a concentration of 1% of algae extract after infection with V. harveyi. At the same time, the feeding of 1% of S. microcystum extract from apricot algae can increase the immune response and resistance to V. harveyi in black tiger shrimp. Illness disease caused by V. harveyi is a common disease common in both black tiger shrimp and black tiger shrimp. When infected shrimp will stop eating and grow slowly, affecting the productivity of the crop. Therefore, adding apricot extract to shrimp feed to limit disease is essential. New research has introduced a new method by adding only 1% of apricot algae extract to shrimp feeds to stimulate immunity against pathogens.Source : tepbac ...
Benefits When Farming Integrated Shrimp Seaweed
Rumput Laut

Benefits When Farming Integrated Shrimp Seaweed

A recent report just published in the Journal of Applied Phycology shows the benefits of the vannamei farming model integrated with blue seaweed in the minimum water exchange aquaculture system.Application of seaweed  ( Ulva prolifera )  in aquacultureThe aquaculture industry has been developing rapidly all over the world, resulting in the consequences of waste water sources that are causing significant impacts on the environment. Recognizing this problem, many new aquaculture methods are being widely used to recycle water while minimizing the amount of waste water discharged into the environment and thereby solving the problem of nitrogen accumulation in the environment. country. One of the solutions that can be assessed as having potential in aquaculture is a model of aquaculture combined with seaweed or algae. Seaweed Ulva prolifera known for rapid growth, and reproduction of it effectively removes nitrogen quickly. Seaweed Ulva prolifera   reported that the powerful can develop in an environment rich in nutrients and able to absorb nutrients efficiently accumulate in the water. In the study Le Ngoc Hanh and Toshiro Masumoto (2018), published in the 12th issue of the Mekong Journal of Fisheries in 2018, seaweed can be used as a biofilter in combination with the farming system. closed to minimize nitrogen in aquaculture. The results showed that the addition of seaweed as a biofilter in the culture system effectively reduced the amount of ammonia released from the fish. The research results also show that the optimal density when applying this seaweed in the culture system is 6 g / L or more, which brings high efficiency and significant difference compared to lower densities.From the results of this study, it was shown that Ulva prolifera can be applied effectively in the circulatory system as a biofilter , and the optimal density to be applied to nutrient uptake. of seaweed is 6 g / L.Farming integrated white shrimp with seaweedIntegrating seaweed culture in shrimp farming systems is considered a potential aquaculture practice because seaweeds can convert dissolved inorganic nitrogen into biomass and biomass can be easily harvested.Hong-xing Ge et al. 2019 conducted the study of the effect of integrating green seaweed ( Ulva prolifera ) with Pacific white shrimp (Litopenaeus vannamei) at a stocking density of 500 shrimp / m3 at other water exchange levels. to assess water quality and shrimp growth performance.Four daily water exchanges were 5% (T1), 10% (T2), 15% (T3) and 20% (T4) with U. prolifera seaweed stocking density of 800 mg / L. Results: There was no significant difference in total ammonia nitrogen (TAN) concentration between T2 and T3 (P> 0.05) from the beginning to the end of the experiment. And during the experiment the nitrite and nitrate concentrations in all groups were constant and always low. On day 35, there was no significant difference in survival rate of shrimp between groups T2, T3 and T4. There was no significant difference in feed conversion ratio (FCR) in T2 groups, compared to T1, T3 or T4.This study has demonstrated that Pacific white shrimp culture (500 shrimp / m3) incorporates U. prolifera seaweed (800 mg / L) in culture systems with a 10% water exchange rate that can control quality. water and enhance the growth of shrimp. From the two studies above, the potential of using U. prolifera seaweed to control water quality in aquaculture through the ability to convert nitrogen and ammonia in water. Therefore the integrated shrimp / fish farming model with seaweed culture is a sustainable and potential farming model in the future.Source : tepbac ...
How Eating Seaweed can Supercharge Your Health and Save Our Oceans
Rumput Laut

How Eating Seaweed can Supercharge Your Health and Save Our Oceans

For centuries the world over, seaweed has been considered a healthy and accessible food for people living near the ocean.The Indigenous people of south-central Chile – the Mapuche – have been using bull kelp (locally known as cochayuyo) as a food source for around 14,000 years.In Japan, wakame (seaweed salad) and sushi are traditional staples. Meanwhile, in Korea, seaweed is considered a cornerstone of local cuisine. It’s often consumed as a snack after being salted and roasted in thin layers, added to soups and sprinkled over bibimbap.This year, it was recognised as an ‘on-trend’ food, with more people recognising the health and sustainability benefits of the versatile sea vegetable. The list of ancient cultures that recognise seaweed as a valued food source continues, ranging from New Zealand to Ireland, Greenland to Indigenous Australia and beyond.And yet, seaweed is only just coming of age in western popular culture. Earlier this year, it was noted as an ‘on-trend’ food, with more people recognising the health and sustainability benefits of the versatile sea vegetable. Why is seaweed a health food?The reason that seaweed confers so many health benefits to the person consuming it is simple: it grows in or near salty waters and as such, contains the many vitamins and minerals found in the sea and sea vegetables.Seaweed in all its forms – no matter if it’s kelp, dulse, wakame, algae or nori – is a supercharged food that’s rich in protein, carbohydrates and polyunsaturated fats.The sea vegetable is abundant in iodine, which is beneficial in preventing the development of hypothyroidism (an underactive thyroid gland). Seaweed contains omega-3 fatty acids, essential amino acids, antioxidants, iron and vitamins A, B, C and E.As it’s also high in dietary fibre, seaweed is good for gut health and the regulation of blood sugar levels.The sea vegetable is abundant in iodine, which is beneficial in preventing the development of hypothyroidism (an underactive thyroid gland). However, people with an overactive thyroid gland must be careful with the amount of iodine they consume in foods like seaweed and should be aware of the possibility of medicinal interactions.Seaweed: a sustainable food source?Damon Gameau, the filmmaker behind the environmental documentary 2040, is a seaweed fan. He tells SBS that one of the biggest surprises that emerged when making the film was the importance of seaweed to the future survival of the planet.“We know that a lot of the fish populations are on the verge of collapse,” says Gameau. “We are in a bit of a fish crisis in terms of how much overfishing has gone on. So if we grow more seaweed in the ocean, it will help fish to lay their eggs in the ecosystem [and regenerate fish populations in the ocean].“Seaweeds also pulls out enormous amounts of carbon from the atmosphere, which is what we want to happen to reduce greenhouse gas emissions.”However, Gameau explains, the harsh truth is that some seaweeds in various locations throughout the world are dying off. For example, nearly all the kelp growing off the east coast of Tasmania has been wiped out due to the rising temperatures of the world’s oceans.“The waters have become too warm due to global warming and they need cold water [to survive].”On a positive note, he adds, seaweed is one of the fastest-growing organisms on the planet. Gameau, therefore, supports regenerative practices to encourage seaweed growth.Earlier this year, the team behind 2040 joined together with The Climate Foundation, The Intrepid Foundation and the University of Tasmania to build Australia’s first seaweed platform, in Storm Bay near Hobart.Gameau explains that the seaweed platform will be home to floating kelp forests, which will provide food, fuel and fertiliser while drawing down carbon dioxide from the atmosphere.“Seaweed can grow up to half a metre a day, making it a turbocharged carbon sequester with lots of cascading benefits,” Gameau says on the 2040 Facebook page about the new initiative. “It is one of the most exciting climate solutions we have.”Gameau now encourages more people to eat seaweed to increase demand for seaweed as a sustainable food source and, consequently, grow the global seaweed industry. “I think if people start eating seaweed there will be more of a demand for people [and farmers] to grow more of it.”Foods that feature seaweed, which are currently available from some supermarkets and most health food stores include kelp or dulse flakes, nori seaweed for sushi rolls, kelp sea seasoning, roasted seaweed snacks, seaweed salads and kelp noodles.“Seaweed is quite an acquired taste and its not yet reached that point in society where it’s an accepted food everywhere,” he says. “But a lot of kelp products are now available in alternative health food shops: it’s a right of passage for these foods to be sold there first before they hit the mainstream. “So I believe that over the next three-to-five years, seaweed will start to be used in a lot more products, which is a good thing because we want to see the [regenerative] seaweed industry kick started.”Source : SBS ...
Mengenal Rumput Laut Latoh
Rumput Laut

Mengenal Rumput Laut Latoh

PendahuluanRumput Laut Latoh Sumber : GreenersLatoh merupakan salah satu jenis rumput laut yang hidup melekat di dasar perairan yang mempunyai nama ilmiah Caulerpa sp. Rumput laut jenis Caulerpa sp. Adalah golongan alga hijau, thallus (cabang) berbentuk lembaran, batangan dan bulatan, berstruktur lembut sampai keras dan siphonous. Seluruh bagian rumput laut Caulerpa sp. Terdiri atas assimilator dan ramuli yang membentuk bulatan – bulatan seperti buah anggur, sehingga sering disebut anggur laut. Juga ada jenis lain yang bentuk dan performanya berbeda.Caulerpa sp. Atau lebih dikenal dengan sebutan Latoh oleh masyarakat pesisir Jawa khususnya Jepara, Lawi – Lawi (Sulawesi), Bulung Boni (Bali) sebenarnya sudah lama dikenal oleh kalangan masyarakat pesisir dan dimanfaatkan secara langsung maupun tidak langsung sebagai sumber bahan pangan sehari – hari. Latoh ini menyerupai telur ikan dan berwarna hijau dimana masyarakat biasa memanfaatkannya sebagai pelengkap menu sehari – hari yang bisa dikonsumsi begitu saja dalam keadaan mentah atau disajikan dengan ikan dan nasi.Latoh tidak hanya diminati di Indonesia saja, namun di beberapa negara seperti Jepang, Cina , Korea, Malaysia, Filipina, dan Thailand, bahkan di Amerika dan Eropa juga ikut mengkonsumsi Latoh. Di Amerika dan Eropa, Latoh dikenal sebagai green caviar atau kaviar hijau dan di beberapa negara Asia selain dikonsumsi masyarakat, juga digunakan sebagai obat pada beberapa jenis penyakit.Jenis Latoh yang dikembangkan di BBPBAP Jepara ada tiga, yaitu Mrica atau Anggur (Caulerpa lentilfera), Blarak (Caulerpa racemosa) dan Telon (Caulerpa sertulariodes). Ketiga jenis ini sangat disukai oleh masyarakat terutama jenis blarak sebagai bahan makanan yang dikonsumsi dalam keadaan segar. Pada awalnya Latoh didapat oleh masyarakat langsung dari laut, akan tetapi BBPBAP Jepara sudah melukakan budidayanya di tambak. Bahkan budidaya tanaman Latoh ini lebih mudah dan menjanjikan dibandingkan budidaya tanaman rumput laut dengan jenis lain.Kandungan dan ManfaatDi Indonesia , Latoh dimanfaatkan sebagai bahan makanan dengan cara dimakan mentah sebagai lalapan, urap atau sebagai sayur. Bahan makanan ini mempunyai kandungan gizi yang cukup tinggi sebagai sumber protein nabati, mineral maupun vitamin yang berbeda dengan tumbuhan darat.Latoh merupakan salah satu jenis alga hijau yang belum banyak dimanfaatkan dan termasuk dalam Feather Seaweed. Feather Seaweed dilaporkan sebagai makroalga yang dapat dimakan, mempunyai zat bioaktif seperti anti bakteri, anti jamur, anti tumor, dan bisa digunakan untuk terapi tekanan darah tinggi dan gondok. Zat bioaktif adalah zat yang termasuk metabolit sekunder yang bersifat aktif secara biologi dan dapat digunakan untuk industri pangan dan farmasi (BBRP2B 2010).Hasil uji proksimat Laboratorium BBPBAP Jepara (2017) latoh hasil budidaya di tambak mempunyai kandungan kadar Air 4,27 %, Abu 10,43 %, Lemak 3,16 %, Protein 25,61 %, Serat 30,67 % dan BETN 25,86 %. BETN (bahan ekstrasi tanpa nitrogen)Hasil uji proksimat Laboratorium BBPBAP Jepara (2017) Budidaya LatohLatoh merupakan makro alga yang secara umum pemeliharaan tidak rumit, walaupun latoh pada umumnya hidup pada perairan laut dangkal, namun dapat juga dibudidayakan di tambak baik secara monokultur maupun secara polikultur dengan komoditas bandeng, udang, kepiting atau rajungan. Budidaya latoh di tambak dapat dilakukan pada berbagai kondisi dengan syarat dasar tambak sebaiknya lumpur berpasir sebagai substrat untuk tempat hidup, tumbuh dan berkembangnya, dengan persyaratan parameter kualitas air pada Tabel 1.Tabel 1. Persyaratan parameter air media budidaya Latoh No Parameter Kisaran Optimal 1. Suhu 25 - 33˚C 2. Salinitas 20 – 30 ppt 3. Kedalaman Air 50 – 120 cm 4. Pertukaran Air Maksimal 7 hari sekali  Budidaya latoh (Caulerpa sp.) selain mudah juga sangat menguntungkan, dengan pertumbuhan yang lebih dari 10 kali lipat dalam jangka waktu kurang dari setahun sudah kembali modal dan masih mendapatkan keuntungan. Analisis usaha secara sederhana pada Tabel 2.Tabel 2. Kelayakan usaha No Komponen Jumlah Satuan Harga Satuan Nominal (Rp) A. Biaya Operasional :         1. Sewa tambak per 6 bln 1 Hektar 5.000.000 5.000.000 2. Sewa pompa 1 Unit 1.500.000 1.500.000 3. Persiapan tambak, dll 1 Paket 3.000.000 3.000.000 4. Bibit awal 250 Kg 20.000 5.000.000 5. Pupuk organik 500 Kg 5.000 2.500.000 6. Tenaga (1 orang) 6 OB 1.500.000 9.000.000 7. Peralatan lapang, dll 1 Paket 2.500.000 2.500.000 8. Biaya tak terduga 1 Paket 1.500.000 1.500.000   Sub Jumlah       30.000.000 B. Pendapatan :         1. Produksi per Ha/6 bulan 12.000 Kg 12.000 144.000.000 C. Keuntungan (B-A)   Rp   114.000.000 * Catatan : Efektif dalam satu tahun untuk produksi Latoh antara 5 - 7Sumber : Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau Jepara ...
Where in The World Can Aquaculture Best Deliver for Nature and People?
Rumput Laut

Where in The World Can Aquaculture Best Deliver for Nature and People?

The first ever global spatial guidance for potential sustainable shellfish and seaweed farming has been published, authored by scientists from The Nature Conservancy and the US National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA).Contrary to certain viewpoints, a growing body of evidence indicates that commercial shellfish and seaweed aquaculture – when done well – can actually have a positive effect on the surrounding environment, by removing nutrients from polluted water bodies and providing habitat for commercially important fish and invertebrates, while also providing food and jobs.The Nature Conservancy (TNC) and partners have just published a new analysis in the scientific journal PLOS One that identifies the highest-opportunity regions around the world for the development of commercial shellfish and seaweed aquaculture to aid in ocean ecosystem recovery, while providing economic and social benefit.The study is the first of its kind in examining the global potential for this concept – which we like to refer to as “restorative aquaculture”. The collaboration is between scientists at TNC, NOAA’s National Ocean Service National Centers for Coastal Ocean Science (NCCOS) and the University of Adelaide, Australia. It brings together global-scale spatial datasets representing key environmental, socioeconomic and human health considerations.The potential benefits of restorative aquaculture are being explored by researchers from the US and AustraliaThe study focuses on where governments, international development organisations and investors should prioritise new efforts to drive changes in public policy, capacity-building and business planning to realise the full ecological and socio-economic potential of restorative shellfish and seaweed aquaculture.We found that the top 10 highest-opportunity regions for shellfish aquaculture development are centred in Europe, Oceania and North America, while the highest for seaweed aquaculture centred in Europe, Asia, Oceania and South America.Europe’s North Sea marine ecoregion was consistently identified as the highest-opportunity marine ecoregion for restorative shellfish and seaweed aquaculture development. The region’s coastal waters suffer some of the world’s most substantial nutrient pollution, wide scale loss of shellfish reefs and significant fishing pressures. This analysis shows that commercial seaweed and shellfish farming could help to address some of the pressing ecological challenges in this and other high-opportunity marine ecoregions.Some identified high-opportunity marine ecoregions, such as the East China Sea, are already home to robust shellfish and seaweed aquaculture industries. In such cases, the evidence suggests that reform or modifications in aquaculture practices could improve or optimise the ecological benefits generated by these existing farms.Other high-opportunity regions, such as the Southern California Bight, currently have limited or virtually no existing bivalve and seaweed aquaculture operations and could benefit environmentally and economically from their development. And others, like north-eastern New Zealand, have an active shellfish aquaculture industry, but do not have an established seaweed aquaculture industry, which could help provide additional ecological function.In regions where funds to support traditional coastal-ecosystem restoration efforts are limited – particularly within low- or lower-middle-income nations – the development of shellfish and seaweed aquaculture sectors could also present a significant opportunity to aid coastal-ecosystem recovery efforts and economic development.The ultimate findings of the study reveal that there are marine ecoregions within all inhabited continents that have significant potential for shellfish and seaweed aquaculture to provide benefits to both ecosystems and people. The opportunity for restorative aquaculture is truly global, in other words – a prospect that will excite and energise individuals and organisations across this fast-moving sector.Source : The Fish Site   ...
FAO Backs Regulatory Overhaul for Global Seaweed Growers
Rumput Laut

FAO Backs Regulatory Overhaul for Global Seaweed Growers

The call was made after a presentation from Scottish Association for Marine Science(SAMS) scientist Professor Elizabeth Cottier-Cook and five other international experts at the event. The seaweed industry was valued at around US$12 billion in 2017, and supports millions of families worldwide. Seaweed production grew globally from 13.5 million tonnes in 1995 to 30 million tonnes in 2016; as a food, seaweed is a source of nutrients, vitamins and omega-3 fatty acids, but it is also used globally in the food processing industry, as a thickening agent. Prof Cottier-Cook, who leads the Global Challenges Research Fund (GCRF) GlobalSeaweedSTAR research project, told delegates at the meeting how this rapidly expanding industry faces a number of key challenges including disease and pest outbreaks, which can lead to whole farms being shut down.  She said governments from around the world had to consider how best to safeguard the industry. Following the presentation, key messages from the expert panel included; a call for the seaweed industry to be scaled up, both at the country and local farm level, alongside initiatives to address the lack of specific policies and guidelines for seaweed biosecurity. Prof Cottier-Cook said: “I am very grateful for the opportunity to appear in front of the UN FAO sub-committee on aquaculture and to highlight the importance of the seaweed industry globally. “It was also extremely pleasing to have had such an enthusiastic response from the member state representatives and an acknowledgement from the sub-committee that they were interested in receiving more information on seaweed aquaculture in future sessions." Work already undertaken by the GlobalSeaweedSTAR project, a four-year UK Research and Innovation (UKRI) funded programme to improve the sustainability of the global seaweed industry was presented at the side event and the team hopes to work with the FAO to develop a biosecurity action plan for this industry. Prof Cottier-Cook, who has previously authored an international policy brief in association with the United Nations University on safeguarding the sustainable development of the seaweed industry, said: “Although, seaweeds have been grown for many years in Asia, production of seaweed has grown exponentially over the past 30 years and is now increasingly being grown in countries with no tradition of consuming seaweed for food. “The recommendation by member states at the Trondheim meeting that ‘aquatic plants’, which include seaweed, should be included in the development of their Progressive Management Plan for Aquaculture Biosecurity is a huge step forward for the industry, which currently suffers from pest and disease outbreaks and the risks associated with introducing non-native species."Source : The Fish Site ...
Hasil Rumput Laut Halbar Diekspor ke Negara Chili
Rumput Laut

Hasil Rumput Laut Halbar Diekspor ke Negara Chili

Dinas Kelautan dan Perikanan (DPK) Halmahera Barat (Halbar) mulai mengembangkan budidaya rumput laut. Budidaya rumput laut sebelumnya hanya dikembangkan di Desa Bobanehena Kecamatan Jailolo, namun tahun ini budidaya rumput laut mulai dikembangkan di Desa Payo, desa Kedi Kecamatan Loloda, Desa Tuguis Kecamatan Tabaru dan Desa Taruba Kecamatan Sahu. "Pengembangan rumput laut yang dilakukan saat ini, karena sudah ada investor dari Jakarta yang siap membeli rumput laut, sehingga pengembangan rumput laut sangat penting untuk dilakukan," ungkap Kepala DKP Agustinus Mahole kepada wartawan, kemarin. Menurut Agustinus, target kedepan panen rumput laut harus 50 ton per bulan. Karena hasil rumput laut dari Halbar bukan saja dikirim ke Jakarta, tapi juga dikirim ke luar negeri yakni di negara Chili. "Tahun ini kita panen rumput laut di Bobanehena sebanyak 40 ton dan sudah diekspor ke Negara Chili," jelasnyaSumber : SINDO News ...
Helping Seaweed Farming Achieve Its Full Potential
Rumput Laut

Helping Seaweed Farming Achieve Its Full Potential

We should think of seaweed as anything but the unwelcome marine “plants” their name would suggest. These oft-overlooked species within the aquaculture world have tremendously diverse commercial applications; the potential to improve human wellbeing for coastal communities in emerging economies; and can be farmed in harmony with marine ecosystems.European and North American readers may be most familiar with the recent excitement around new developments in kelp aquaculture in places like Norway and Maine, where pilot and small-scale commercial projects are underway. But seaweeds already represent a booming sector, with the global industry worth more than US$6 billion per year and red seaweed production in Indonesia alone growing almost 900 per cent over the last decade. At The Nature Conservancy (TNC), we think it’s time this vibrant subsector received a little more attention. The bulk of the world’s tropical red seaweed production occurs in South-East Asia. The largest producer of red seaweeds is Indonesia, where TNC has been developing on-the-ground seaweed-aquaculture improvement projects for the last three years. Processed red seaweed products enter a global marketplace where they are primarily used as thickening agents (in the form of carrageenan or agar), which are common in industrial food products and cosmetics. Interest is also emerging in novel applications of tropical seaweeds to address other key societal needs – such as sustainable animal feeds, biofuels, pharmaceuticals, and nutraceuticals.In these countries, tropical seaweed aquaculture is an important industry globally, particularly for women, rural populations and indigenous people. Over 1 million coastal Indonesians engage in seaweed aquaculture, many of whom live in remote communities with few other economic opportunities. World Bank analysis shows that expanding seaweed farming in these and other tropical areas has potential to further boost local incomes, food security and environmental health. However, this is not an industry without challenges. Disease reduces yields; lack of consistent product quality constrains price; and poor environmental practices have resulted in habitat degradation and marine plastic pollution. These challenges must be addressed to help the industry achieve the true “triple bottom line” of delivering economic, environmental and social progress.For this reason, TNC is releasing a new three-part guide: Coastal Conservation and Sustainable Livelihoods through Seaweed Aquaculture in Indonesia. Over the last three years, TNC has been working in communities in Indonesia’s southernmost province, Nusa Tenggara Timur, to help improve and advocate for seaweed aquaculture as an alternative livelihood to combat overfishing. This collaboration is focusing on areas including improving seaweed production and drying practices for greater economic yield; providing training for value-added products and financial management; and reducing habitat impacts to climate and wildlife-critical coral reef, mangrove and seagrass ecosystems. Through our aquaculture work, we determined the need for a guide not only for seaweed farmers, but seaweed purchasers and ourselves as a global environmental nonprofit – to be clear and transparent about the goals we’re working to advance, and to provide a replicable structure that can be adapted for different seaweed farming communities across the world.Our guide provides information and recommendations for three primary audiences:1. Seaweed buyers, with suggested actions to increase the sustainability of their supply chains.2. Conservation organisations, with information on how they can effectively work with seaweed farming communities to maximise potential for environmental and social gains.3. Seaweed farmers, with information on how they can improve their production practices for maximum environmental and financial benefits. Including a guide for buyers as a key component is a strategy that is rooted in the belief that, particularly for countries that often have less stringent regulatory controls in place for environmental protection, working with businesses can represent a successful path towards conservation gains while also supporting coastal livelihoods. And that increasing the sustainability of supply chains is beneficial to buyers not only for obtaining sustainable eco-labels for market differentiation, but because poor practices – whether environmental, social, or economic – can undermine long-term business viability. The seaweed supply chain in IndonesiaFor seaweed buyers, the new guide provides an overview of both the global and Indonesian carrageenan markets, including: export and price trends; sustainable and organic seaweed certification programmes; how companies can develop and implement internal purchasing and traceability standards; different commodity traceability models; the traceability challenges and current supply chain of seaweed in Indonesia; and recommendations for how to increase traceability of seaweed from farmer to purchaser. For conservation organisations working in seaweed aquaculture, we outline why TNC sees this industry as a gateway to wider conservation gains and social empowerment. We discuss opportunities and challenges of seaweed farming and how our Indonesian team is using a community development strategy called SIGAP (“Aksi Inspiratif Warga untuk Perubahan” or “Communities Inspiring Action for Change”) to overcome these challenges and invest in the opportunities. The third part of the guide is an illustrated “how-to” for seaweed farmers, which will be used in concert with the on-the-ground training sessions that TNC and other partners have been providing to local communities. As our work continues, we hope that the new guide will evolve, serving as a living document to incorporate emerging information and approaches to increasing the sustainability of tropical seaweed along the supply chain that also have potential to be replicated globally. We are also developing a guide for seaweed farming in Belize that builds upon the structure established for our initial Indonesia guide. What remains constant throughout this thinking, though, is that reliable sources of seaweed farmed in responsible ways are not only of economic and ecological benefits to coastal communities and environments, but also to seaweed buyers across multiple global sectors, from packaged foods to cosmetics, who are interested in securing more sustainable and traceable sources of seaweed for their own industries.Source : The Fish Site ...
Tingkatkan Ekonomi Pesisir, Roadmap Industri Rumput Laut Dirancang
Rumput Laut

Tingkatkan Ekonomi Pesisir, Roadmap Industri Rumput Laut Dirancang

JAKARTA - Pengembangan industri rumput laut terus digenjot agar menjadi andal serta berdaya saing dan berkelanjutan. Pasalnya, industri ini diyakini dapat menjadi penghela tumbuhnya ekonomi masyarakat pesisir, wilayah perbatasan dan daerah tertinggal. Untuk itu, Pemerintah telah merancang Peta Panduan (Roadmap) Pengembangan Industri Rumput Laut Nasional Tahun 2018-2021. Roadmap ini telah ditetapkan dalam Peraturan Presiden Nomor 33 Tahun 2019. “Rumput laut menjadi salah satu perhatian dan prioritas kita terutama untuk mengembangkan wilayah pesisir. Jadi kita butuh panduan untuk seluruh pemangku kepentingan terkait,” ujar Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Perekonomian, Musdhalifah Machmud di Jakarta, Rabu (10/7/2019). Dengan luas wilayah laut yang hampir dua pertiga dari wilayah keseluruhan, Indonesia perlu memfokuskan pengelolaan potensi perairannya untuk mendukung ketahanan pangan nasional dan kontribusi terhadap pasar dunia. Rumput laut sebagai salah satu komoditas strategis perikanan memiliki 782 jenis yang tumbuh di perairan laut Indonesia. Bahkan di beberapa daerah, ada 38 jenis alga yang sudah biasa dimanfaatkan sebagai bahan pangan segar dan olahan, obat tradisional, serta kosmetik tradisional seperti bedak dan lotion penyegar. Selain itu, ada 5 (lima) kelompok jenis rumput laut komersial (Saccharina Japonica, Undaria, Porphyra, Eucheuma, dan Gracilaria) yang menyumbang sekitar 98% dari produksi budidaya rumput laut dunia. Dari 5 kelompok jenis tersebut, jenis Eucheuma dan Gracilaria hidup di perairan tropis dan telah dikembangkan melalui budidaya komersial di Indonesia. Pengembangan industri rumput laut juga menghasilkan sekitar 500 jenis produk turunan yang dapat dikelompokan menjadi Pangan, Pakan, Pupuk, Produk Farmasi, dan Produk Kosmetik (5P). “Ini tentu akan meningkatkan nilai tambah yang diterima oleh pelaku usaha rumput laut baik industri maupun masyarakat,” terang Musdhalifah. Data menyebutkan sekitar 32% dari total penduduk miskin Indonesia berada di pesisir. Maka, budidaya rumput laut diharapkan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat dan menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi di wilayah pesisir, pulau-pulau kecil, pinggiran, dan perbatasan. Apalagi, budidaya rumput laut tergolong usaha potensial yang sebagian besar dilakukan oleh masyarakat karena teknologinya sederhana, masa produksi relatif singkat (45 hari), dan memiliki pangsa pasar cukup besar. Musdhalifah berharap, roadmap ini bisa menjadi pedoman bagi kementerian/lembaga, pemerintah daerah, asosiasi, serta akademisi dalam mengembangkan industri rumput laut nasional. “Saya berharap kita semua bisa bersinergi dalam mengembangkan industri rumput laut nasional melalui rencana aksi yang telah disusun. Kita sudah punya target, tinggal komitmen dan konsistensi kita untuk tidak menjadikan roadmap ini sekedar dokumen,” pungkasnya.Sumber : Sindo News ...
Development Hydrocolloids Product of Indonesia Seaweed For European Market
Rumput Laut

Development Hydrocolloids Product of Indonesia Seaweed For European Market

Indonesia Seaweed, a brand of ASTRULI – Indonesian Seaweed Industry Association, has prepared development hydrocollois products in the European market to boost carrageenan and agar-agar production capacities. In addition, the development will be strengthened by the support from Indonesian Ministry of Industry, following its coaching and promotion that has been prepared by Centre for the Promotion of Imports (CBI) to enter the European market.Produced with natural and sustainable process, seaweed extracts play a critical role as stabilizing and texturizing agent in wide variety of foods and beverages application like jams, confectioneries, dairies, yogurts, nutritional supplements, pharmacies, pet foods as well as technical grade.The continuous growth in seaweed extracts demand is largely driven by consumers’ increasing demand for natural and healthy foods and beverages. The seaweed extracts expansion which is facilitated by Indonesian Ministry of Industry will continue to strengthen the products with superior qualities.“We expect, the company will be fully committed to follow each stages of the program. This program will enhance the ability of small and medium enterprises to enter global chain of natural ingredients market of European countries and gain positive responses. This program will also increase the added value of Indonesian seaweed processing industries, if possible up to other specified derivatives products other than carrageenan.” Said Tonny T. H. Sinambela, Director of Access to Industrial Resources and International Promotion, Indonesian Ministry of Industry.The strategic development will demonstrate the commitment of Indonesia Seaweed to be the fast-growing industries and one of the most important global hydrocolloids suppliers.Source : Indonesian Seaweed ...
Produk Rumput Laut Indonesia Unjuk Gigi di Simposium Internasional di Jeju
Rumput Laut

Produk Rumput Laut Indonesia Unjuk Gigi di Simposium Internasional di Jeju

Asosiasi Industri Rumput Laut Indonesia (Astruli) mulai membuka pasar untuk produk rumput laut secara berkelanjutan seperti agar, carrageenan, dan hydrocolloid. Astruli, mewakili 20 anggotanya, akan berpartisipasi dalam Simposium Rumput Laut Internasional (ISS) ke-23 di Jeju, Korea Selatan pada 28 April hingga 3 Mei 2019. Astruli akan memaparkan perkembangan terbaru industri hydrocolloid di Indonesia, mengenalkan merek Indonesia Seaweed, serta menawarkan produk rumput laut berkualitas terbaik yang diproduksi secara berkelanjutan. Merek tersebut mewakili perusahaan yang memiliki sistem traceability dan memenuhi standar kualitas halal, Kosher, ISO 9001, GMP, HACCP, FSSC 22000, Organik dan BRC. Mc Donny W Nagasan, Ketua Astruli, mengatakan, "Partisipasi Astruli dalam ISS 2019 untuk menciptakan kesadaran di antara para pemegang saham industri rumput laut bahwa dukungan merek Indonesia Seaweed terhadap produk yang dihasilkan akan menambah nilai serta menciptakan nilai baru bagi pembeli." "Kami menawarkan produk-produk inovatif dan berkualitas tinggi, memperbarui sertifikasi keamanan pangan dan terus meningkatkan manajemen pabrik yang bagus serta praktik penanaman untuk bisnis kelautan yang lebih berkelanjutan seperti hydrocolloid," imbuhnya.Dalam upaya menumbuhkan pasar ekspor, asosiasi ini didukung oleh program Unido, yang disebut Smart-Fish. Sudari Prawiro, koordinator program Smart-Fish Indonesia, menjelaskan, "Smart-Fish berkomitmen penuh mendukung Astruli untuk membawa merek Indonesia Seaweed di acara internasional dan ISS 2019 yang merupakan platform terbaik sebagai langkah awal." Dia menambahkan, "Komitmen dari Astruli dan anggotanya sangat penting untuk membuat Indonesia Seaweed aktif dan hidup, serta untuk memberikan janjinya kepada pembeli sehingga produk Indonesia Seaweed mampu bersaing di pasar global."  Simposium bertema "Dari Tradisi Menuju Inovasi!" ini akan dihadiri 1.000 peserta dari 62 negara serta 30 stand pameran. Topik pembahasan simposium ini mencakup keanekaragaman hayati, genetika, perubahan iklim dan ekologi kelautan, budi daya rumput laut, dan aplikasi industri rumput laut.Sumber : Warta Ekonomi ...
Peluang Usaha Ini Menjanjikan, Kemasan Makanan dari Rumput Laut
Rumput Laut

Peluang Usaha Ini Menjanjikan, Kemasan Makanan dari Rumput Laut

Startup ini menawarkan alternatif plastik untuk produk kemasan. Bukan sembarang plastik karena menggunakan bahan dasar rumput laut yang bisa dimakan. Peluang bisnis yang menjanjikan.CEO Evoware, David Christian, merintis usaha kemasan plastik ramah lingkungan berbahan dasar rumput laut yang bisa dimakan sejak April 2016. Ide awal David membangun Evoware karena keprihatinannya melihat kondisi sampah plastik yang kian banyak di Jakarta.Ada dua produk yang dihasilkan yakni Seaweed-Based Packaging dan Ello Jello atau gelas plastik sekali pakai yang bisa dimakan karena berbahan dasar rumput laut."Seaweed-Based Packaging bisa dipakai untuk menyajikan kopi, mi instan dan makanan lainnya," ujar David, beberapa waktu lalu.Bahan dasar rumput laut didapatkannya langsung dari petani rumput laut di Makassar, Sulawesi Selatan. Lantaran mendapatkan rumput laut langsung dari petani, tanpa peran tengkulak, David mengaku jika ia bisa mendapatkan harga spesial.Kreasi kemasan rumput laut mendapat hasil positif. Hingga saat ini, ada 500 perusahaan dari 51 negara yang memakai produk Evoware. Tapi sayangnya, sekitar 80 persen dari pengguna produk start up tersebut justru berasal dari luar negeri.David mengakui, masih belum banyak perusahaan lokal yang peduli terhadap kelestarian lingkungan. Tidak seperti perusahan di luar negeri yang memang peduli dengan lingkungan hidup, terutama sampah plastik. [DF] Sumber : Trubus.id   ...
Pertemukan Inovator Produk dan Industri Rumput Laut, Pemerintah Buat Platform Jejaring Digital
Rumput Laut

Pertemukan Inovator Produk dan Industri Rumput Laut, Pemerintah Buat Platform Jejaring Digital

Kemenko Bidang Kemaritiman koordinasikan pembentukan Tropical Seaweed Innovation Network (TSIN), sebuah platform digital berbentuk website yang membentuk jaringan kerjasama, sinergi dan inovasi antara inovator produk rumput laut yang berada di lembaga penelitian dan pengembangan baik swasta dan pemerintah, beserta pakar rumput laut dari hulu ke hilir, dengan pelaku usaha pada industri rumput laut.  Salah satu faktor yang menghambat daya saing produk-produk rumput laut Indonesia (utamanya karaginan dan agar) di pasar global adalah kurangnya inovasi di semua rantai nilai (value chain) rumput laut, meskipun Indonesia merupakan produsen terbesar di dunia untuk jenis-jenis rumput laut tropis. Inisiasi TSIN dilakukan dengan mempertemukan berbagai pemangku kepentingan yang berlatar belakang Kementerian/Lembaga, peneliti, pemerintah daerah, pengusaha, akademisi dan asosiasi dari seluruh Indonesia di Jakarta, Jumat (1-2-2019). Pertemuan dibuka secara langsung oleh Deputi Bidang Sumber Daya Alam dan Jasa Kemenko Bidang Kemaritiman Agung Kuswandono. “Dengan membentuk TSIN, kita ingin meningkatkan jaringan kerjasama, sinergi dan inovasi antara Lembaga-lembaga penelitian dan pengembangan (R&D) serta para peneliti atau ahli dalam bidang rumput laut dari hulu ke hilir sehingga dapat memberikan sumbangan terhadap kemajuan, hilirisasi dan daya saing produk-produk rumput laut Indonesia di pasar global,”ujar Deputi Agung dalam sambutannya. Menurutnya, saat ini telah banyak hasil inovasi dan penelitian-penelitian rumput laut dari hulu ke hilir yang telah dilakukan oleh berbagai lembaga riset dibawah Kementerian teknis (KKP, Kemenperin, Kemenristekdikti, dll). “Tapi hasil-hasil penelitian itu susah diakses atau diadopsi oleh pihak industri atau pelaku usaha lainnya,”tambah Deputi Agung. Oleh karena itu, sambungnya, sebuah jejaring penghubung perlu dibuat. Dan langkah awalnya adalah pembentukan platform digital berbasis web melalui dukungan Sustainable Market Access through Responsible Trading of Fish in Indonesia (SMART-Fish Programme) dari United Nation Industrial Development Organization (Unido) yang telah memetakan data awal 27 lembaga dan sekitar 150 pakar rumput laut. “Kami telah merekomendasikan TSIN ini nantinya akan dikelola oleh Kemenristekdikti sesuai Tusinya,” pungkas Deputi Agung. Pada kesempatan yang sama, Associate Expert UNIDO, badan PBB untuk pengembangan industri bagi pengentasan kemiskinan, globalisasi inklusif dan kelestarian lingkungan Nima Barahmalian, menyatakan dukungannya agar pemerintah Indonesia segera membentuk platform TSIN. “Kami sangat mendukung dan berharap kalangan industri serta peneliti di bidang rumput laut dapat berkontribusi lebih besar pada industri pengolahan rumput laut sehingga rumput laut dapat memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi,”ujarnya dengan mimik serius. Senada, Direktur Sistem Inovasi Kemristekdikti Ophirtus Sumule yang hadir sebagai pembicara mengaku sepakat dengan rekomendasi untuk pembentukan TSIN. “Kami ingin ada sebuah kanal khusus yang dapat mempertemukan hasil-hasil inovasi dengan kebutuhan pasar,”kata dia. Platform itu sendiri direncanakan akan diluncurkan pada Bulan April 2019. Pentingnya peningkatan nilai produksi rumput laut didasarkan pada fakta bahwa nilai ekspor rumput laut Indonesia masih kalah bila dibanding dengan ekspor Korea Selatan meskipun secara volume, Indonesia merupakan pengekspor rumput laut terbanyak pertama di dunia. Data Trademap tahun 2017 menunjukkan bahwa Indonesia mengekspor 160.278 ton rumput laut kering, Korea Selatan hanya 28 ribu. Tapi nilai ekspor Korea pada tahun tersebut adalah USD 284 ribu, sementara Indonesia nilai ekspornya hanya USD 159 ribu. Salah satu faktornya adalah, sebagian besar rumput laut yang diekspor oleh Indonesia masih dalam bentuk rumput laut kering yang belum diolah. Dalam kesempatan tersebut, Direktur pemasaran Ditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP Machmud mengatakan bahwa sebetulnya Indonesia memiliki 8 jenis rumput laut yang memiliki nilai ekonomi tinggi di dunia. “Dengan dibangunnya jejaring TSIN kami berharap ada penguatan kerja sama dan integrasi hulu-hilir dan suplai bahan baku terutama rumput laut,” bebernya. Dan yang tidak kalah pentingnya, menurut Machmud, adalah penguatan jejaring informasi hasil riset, produksi dan pasar rumput laut di dalam dan luar negeri.  Sumber : Kemenkomaritim  ...
KKP Fokus Garap Potensi Rumput Laut Di Pulau Terpencil dan Daerah Terluar
Rumput Laut

KKP Fokus Garap Potensi Rumput Laut Di Pulau Terpencil dan Daerah Terluar

KKPNews, Makasar – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) saat ini tengah fokus menggarap potensi di kawasan-kawasan terluar dan perbatasan. Sejak tahun 2016, KKP merintis pembangunan sentra kelautan dan perikanan terpadu (SKPT), dimana salah satu fokus pengembangannya yakni budidaya rumput laut, seperti di Kabupaten Sumba Timur dan Rote Ndao Nusa Tenggara Timur. KKP juga terus mendorong pengembangan sentra-sentra rumput laut di Papua (Kabupaten Fak Fak, Kaimana, Sorong, Biak Numfor dan Kepulauan Yapen), NTB, Maluku, Sulawesi dan daerah-daerah lain yang potensial sebagai sentra pengembangan rumput laut.“Untuk di timur, pengembangan rumput laut telah dimulai di Kabupaten Fak Fak Papua Barat dimana kedepan seluruhnya akan menggunakan bibit rumput laut cottonii strain Maumere dari hasil kultur jaringan. Bahkan dalam waktu dekat ini Bu Menteri (Susi Pudjiastuti) direncanakan akan melakukan panen raya rumput laut di Fak Fak,” ungkap Dirjen Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto beberapa waktu lalu di Makasar.Selain itu, untuk memastikan bahwa rumput laut Indonesia diproduksi dengan ramah lingkungan, dan terjamin keamananya, KKP tengah gencar dalam melakukan sertifikasi Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) yang didalamnya meliputi aspek traceability, foodsafety, dansustainability.Untuk menjamin sektor hulu terhindar dari tumpang tindih kepentingan dan menjamin iklim usaha yang kondusif, Slamet meminta agar pemerintah daerah propinsi untuk segera menyelesaikan Peraturan Daerah terkait Rencana Zonasi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau Kecil (RZWP3K). Regulasi ini sangat penting, untuk menjamin eksistensi dan keberlanjutan usaha budidaya rumput laut.Sedangkan dari aspek sistem produksi di hilir, KKP telah berupaya untuk mendorong rumput laut Indonesia mampu berdaya saing dengan menciptakan efesiensi produksi dan jaminan mutu. Oleh karenanya, untuk memutus rantai distribusi pasar yang panjang, pemerintah telah mendorong pembangunan industri pengolahan di sentra-sentra produksi baik yang dibangun oleh pemerintah maupun swasta.Terkait mutu, lanjutnya, KKP mendorong unit pengolahan rumput laut agar memenuhi SNI dan persyaratan ekspor seperti penerapan Cara Pengolahan Ikan yang Baik (Good Manufacturing Practices) dan memenuhi persyaratan Prosedur Operasi Sanitasi Standar (Standar Sanitation Operating Procedure).Faktor distribusi produk rumput laut juga menjadi konsen KKP dengan menggandeng instansi lain.”Baru-baru ini KKP bersama dengan Kementerian Perhubungan telah membahas mengenai optimalisasi tol laut di sektor perikanan, dan sepakat untuk memanfaatkan jalur Pelni, ASDP atau jalur alternatif lainnya yang sedang dirintis untuk mengangkut seluruh  komoditas perikanan termasuk rumput laut,” tutup Slamet.Menanggapi pernyataan Slamet, Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) mengapresiasi langkah KKP untuk serius mengembangkan komoditas rumput laut, hal ini disampaikan Ketua ARLI, Safari Azis. Ia meminta agar KKP dapat memastikan rantai produksi dari hulu hingga hilir kondusif bagi dunia usaha.“Di Kabupaten Bone, ARLI telah berhasil memfasilitasi anggotanya untuk memanfaatkan rumput laut di kabupaten hasil kerjasama dengan KKP dan pemerintah daerah dan telah berhasil melakukan ekspor perdana pada bulan februari berupa alkali treated gracillaria (ATG) ke China. Kondisi kondusif seperti ini kami harapkan dapat terjadi didaerah lainnya,” ungkap Azis.Azis juga menambahkan bahwa di era perdagangan bebas ini telah berlaku sistem rantai pasok dan rantai nilai global, termasuk rumput laut Indonesia, oleh karenanya industri hulu hingga hilir memiliki nilai masing-masing. Untuk itu Azis mengingatkan bahwa semangat meningkatkan nilai tambah di sektor hilir harus berdampak juga bagi pembudidaya yang ada di sektor hulu.Untuk itu Azis berharap, pengembangan sektor hulu benar-benar menjadi perhatian pemerintah untuk menjamin pengembangan di sektor hilir. Diantara langkah pengembangan sektor hulu yaitu melalui ekstensifikasi dan intensifikasi budidaya rumput laut dan hal ini sudah selaras dengan langkah-langkah yang dilakukan KKP. Selanjutnya tinggal memastikan bahwa proses produksi di sektor hulu benar-benar ramah lingkungan untuk menjamin keberkelanjutan budidaya. (HUMAS DJPB / MD)Sumber : http://news.kkp.go.id/index.php/kkp-fokus-garap-potensi-rumput-laut-di-pulau-terpencil-dan-daerah-terluar/ ...
KKP Pacu Pengembangan Daya Saing Rumput Laut Nasional
Rumput Laut

KKP Pacu Pengembangan Daya Saing Rumput Laut Nasional

Kinerja positif subsektor perikanan budidaya selama lima tahun terakhir (2013-2017) memacu Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk terus memperkuat pengembangan berbagai komoditas budidaya mulai dari hulu hingga hilir, termasuk tata niaga dan pemasaran. Salah satu komoditas perikanan budidaya yang menjadi fokus KKP untuk terus dikembangkan adalah rumput laut. Langkah ini diambil guna memastikan rumput laut Indonesia mampu menghadapi berbagai tantangan yang berkembang di masa yang akan datang.Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, saat menghadiri sekaligus membuka acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) di Makassar, Kamis (18/3).Kinerja positif tersebut dapat dilihat dari volume produksi rumput laut nasional yang tumbuh rata-rata sebesar 11,8% per tahun, di mana angka sementara tahun 2017, produksi rumput laut nasional tercatat sebesar 10,8 juta ton. Nilai ekspor rumput laut juga mengalami pertumbuhan sebesar 3,09% per tahun. Neraca perdagangan rumput laut Indonesia juga tercatat positif, dengan indeks spesialisasi produk (ISP) lebih tinggi dibanding negara-negara eksportir lainnya. Kondisi ini menandakan bahwa produk rumput laut memiliki daya saing kompetitif yang tinggi atau Indonesia merupakan negara net eksportir rumput laut.Namun demikian, Slamet mengingatkan bahwa pengembangan rumput laut masih dihadapkan dengan berbagai tantangan seperti minimnya diversifikasi produk, persyaratan pasar global, persaingan antar produsen, zonasi dan infrastruktur, serta minimnya investasi berbasis rumput laut.”Harus kita akui, walaupun Indonesia saat ini menjadi negara net eksportir nomor 1 dunia khusus untuk jenis Eucheuma cottoni dan Gracilaria, namun faktanya lebih dari 80 % ekspor rumput laut kita masih didominasi oleh bahan baku kering (raw material), artinya nilai tambah ekonomi yang dirasakan masih minim,” jelasnya.Melihat fakta di atas, Slamet menegaskan kembali komitmen  KKP untuk terus mendorong dibangunnya industrialisasi rumput laut nasional, sehingga nilai tambah ekonomi lebih tinggi.Di hulu, KKP telah melakukan upaya untuk menggenjot produksi yang berkualitas. Upaya tersebut antara lain pengembangan kawasan budidaya rumput laut berbasis klaster, pengembangan kebun bibit rumput laut hasil kultur jaringan, dan pengembangan sistem kebun bibit rumput laut yang memenuhi estetika dan kaidah ramah lingkungan, serta telah digunakan secara luas oleh pembudidaya.”Bibit rumput laut hasil kultur jaringan memiliki performa yang baik, termasuk lebih adaptif dan pertumbuhan yang lebih cepat. Ada enam UPT di Ditjen Perikanan Budidaya yang saat ini didorong menjadi sentra pengembangan kultur jaringan,” lanjutnya.Keenam UPT DJPB tersebut yaitu Balai Besar Perikanan Budidaya Laut Lampung, Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon dan Lombok, Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau Jepara, serta Balai Perikanan Budidaya Air Payau Situbondo dan Takalar.Sumber : http://news.kkp.go.id/index.php/kkp-pacu-pengembangan-daya-saing-rumput-laut-nasional/ ...