Infomina - Startup

Minapoli adalah platform jaringan infomasi dan bisnis perikanan terintegrasi. Buat dan bagikan informasi perikanan sekarang dan temukan manfaatnya terkoneksi dengan jaringan Minapoli.

Startup

Aruna Umumkan Pendanaan Seri A 507 Miliar Rupiah
Startup

Aruna Umumkan Pendanaan Seri A 507 Miliar Rupiah

Startup aquatech Aruna mengumumkan telah mengumpulkan pendanaan seri A senilai $35 juta atau setara 507 miliar Rupiah. Putaran ini dipimpin oleh Prosus Ventures dan East Ventures dengan partisipasi SIG serta investor sebelumnya seperti AC Ventures, MDI Ventures, Vertex Ventures, dan beberapa investor lainnya.Pendanaan ini diklaim menjadi seri A terbesar di Indonesia saat ini, khususnya di sektor pertanian dan perikanan. Sebelumnya tahun 2020 lalu Aruna membukukan tambahan untuk pendanaan awal senilai $5,5 juta dari East Ventures, AC Ventures, dan SMDV.Selanjutnya dana segar akan difokuskan Aruna untuk meningkatkan ekspansinya di lingkup nasional dan memperkuat infrastruktur rantai pasoknya. Selain itu mereka ingin membuka pasar baru dengan menambah varian komoditas, serta meningkatkan kapabilitas teknologi dan data analisisnya.Baca juga: Berita eFishery Umumkan Pendanaan Seri B, Dipimpin Go-Ventures dan Northstar“Pendanaan ini akan membantu kami dalam meningkatkan jaringan nelayan dan penambak kami di seluruh Indonesia dalam memenuhi tingginya permintaan global. Aruna bercita-cita untuk menjadi solusi yang nyata dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat pesisir,” ujar Co-Founder & CEO Aruna Farid Naufal Aslam.Bersamaan dengan ini, perusahaan juga menunjuk Budiman Goh sebagai President; dan salah satu co-founder mereka Utari Octavianty sebagai Chief Sustainability Officer.“Aruna akan terus mengombinasikan kapabilitas teknologinya dengan local insights dan juga studi kasus dari pasar global, sembari menjaga ekosistem, memberdayakan masyarakat pesisir dan memenuhi permintaan dari pasar global,” imbuh Utari.Seperti diketahui, Aruna didirikan sejak tahun 2016. Selain Farid dan Utari, ada juga Indraka Fadhlillah sebagai co-founder. Lewat teknologi mereka ingin mentransformasi rantai pasok perikanan untuk memenuhi pasar global. Diharapkan digitalisasi dapat memperpendek proses dan membuat prosesnya lebih ringkas plus terintegrasi.Baca juga: Upaya Aruna Gairahkan Konsumsi Ikan Lewat TeknologiPotensi sektor perikananIndonesia saat ini menjadi produsen ikan kedua terbesar di dunia dengan ukuran pasar mencapai $30 miliar. Industri ini juga menyerap tenaga kerja yang cukup signifikan, terdaftar lebih dari 3 juta nelayan.Berdasarkan data BPS, produksi perikanan di Indonesia memiliki kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun. Sejak 2014 peningkatannya bahkan di atas 20%. Luas kawasan konservasi pun terus meningkat, data terakhir per tahun 2017 ada sekitar 19,14 juta hektar.Tidak hanya dikonsumsi di dalam negeri, produk ikan juga menjadi salah satu komoditas ekspor yang menjanjikan. Sejak tahun 2012, pasar Amerika Serikat, Jepang, dan Tiongkok menjadi tujuan ekspor yang terus digenjot.Baca juga: Layanan Baru Jala Tech, Deteksi Penyakit Udang di BanyuwangiHadirnya Aruna dan startup perikanan lainnya memang menjadi angin segar bagi industri ini. Selain dalam hal produksi dan distribusi, idealnya efisiensi proses bisnis juga bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat di bidang perikanan. Sejauh ini ada beberapa startup perikanan yang terus meningkatkan inovasinya, termasuk eFishery, Jala, hingga Danalaut dengan pendekatan bisnis dan produk yang berbeda-beda.Sumber: Dailysocial.id ...
Menteri Trenggono Ajak Startup Perikanan Cermat Baca Kebutuhan Pasar Dunia
Startup

Menteri Trenggono Ajak Startup Perikanan Cermat Baca Kebutuhan Pasar Dunia

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengajak berbagai startup sektor kelautan dan perikanan untuk cermat membaca kebutuhan pasar dunia. Kepiawaian dalam membaca pasar dapat mendorong startup untuk terus tumbuh dan berinovasi untuk meningkatkan perekonomian sekaligus menyejahterakan masyarakat.  “Startup digital ini bagus, tapi kalau mau lebih hebat lagi supaya meningkat dan menjadi unicorn kedepannya, kita harus melihat market capacity disitu,” ujar Menteri Trenggono pada saat melakukan audiensi dengan Digifish Network yakni jaringan start up kelautan dan perikanan Indonesia di kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jakarta (18/3/2021). Baca juga: Digifish 2020 : Akselerasi Ekosistem Inovasi Digital Sektor PerikananLebih lanjut Menteri Trenggono menjelaskan bahwa pasar produk perikanan global tahun 2019 ada USD 162 miliar. Indonesia akan fokus pada ekspor tiga komoditas unggulan, yakni Udang, Lobster dan Rumput Laut, dengan nilai total pasar mencapai USD 32.050 miliar atau 19,69% dari total seluruh pasar produk perikanan dunia. Data pasar dapat menjadi dasar dalam mengembangkan inovasi teknologi dan membuka ruang baru  usaha-usaha perikanan yang memiliki potensi besar. “(Kita) harus menciptakan ruang baru, karena startup sekarang sudah sulit bertahan, harus terus memiliki ide yang brilian. Saya kasih ruang, yang pertama dilihat adalah market dan tidak menutup kemungkinan untuk kolaborasi sistem antar startup,” imbuh Menteri Trenggono Baca juga: Startup dan Masa Depan PerikananPerkembangan startup sektor kelautan dan perikanan di Indonesia  terus mengalami peningkatan setiap tahunnya, hingga tahun 2020 sudah ada 32 startup. Mereka bergerak dalam berbagai ragam inovasi, yakni Fintech, Nanobubble, Autofeeder, Internet of Things (IoT) Tambak, E-Commerce, Marketplace, Portable Pond, dan Water Quality Equipment. Penggagas Digifish Network Rully Setya mengatakan siap untuk terus melakukan inovasi dan berkolaborasi dengan KKP untuk perkembangan industri kelautan dan perikanan. “Kami mohon dukungan untuk inovasi digitalisasi, distribusi, penggunaan produk, mendorong pelaku usaha dan event untuk meningkatkan industri kelautan dan perikanan ini,” ujar Rully   Menteri Trenggono menyambut baik terobosan-terobosan yang dibawa oleh 12 startup yang hadir dalam audiensi tersebut, dan akan mendukung aktualisasi pengembangan lingkup hasil perikanan. “Kita akan dukung penuh, ini sebenarnya ekonomi baru terutama di situasi pandemi, kita dari KKP selalu welcome untuk kalian semua menjadi partner,” ucap Menteri Trenggono.Artikel asli ...
Layanan Baru Jala Tech, Deteksi Penyakit Udang di Banyuwangi
Startup

Layanan Baru Jala Tech, Deteksi Penyakit Udang di Banyuwangi

Penyakit udang masih menjadi momok bagi budidaya udang. Kerugian yang dialami petambak akibat penyakit ini bisa menggagalkan seluruh upaya yang dilakukan petambak karena seringkali penyakit merenggut seluruh udang sehingga tidak lagi bisa dipanen. Produksi udang nasional juga terganggu dengan adanya penyakit udang ini. Penyakit selalu mengintai petambak yang lengah dalam mengawal budidayanya. Baca Juga : Pandemi, Startup Akuakultur Justru Catat Peningkatan PendapatanAda berbagai jenis penyakit yang dikenal oleh petambak udang seperti myonecrosis atau myo, white spot disease atau bintik putih, berak putih, dan yang saat ini sedang sering terjadi AHPND atau EMS atau sering disebut juga sindrom kematian dini.Kondisi tersebut yang memicu Jala Tech untuk menghasilkan solusi untuk membantu petambak udang, yaitu dengan dibukanya layanan baru berupa Laboratorium Udang. Jala Tech merupakan start-up atau perusahaan rintisan di bidang akuakultur yang menawarkan berbagai solusi teknologi untuk membantu pelaku budidaya udang. Jala Tech berkantor pusat di Yogyakarta. Produk teknologinya telah digunakan oleh hampir 8.000 petambak udang di Indonesia.Acara pembukaan laboratorium udang dilaksanakan Sabtu (19/12/2020) kemarin yang juga bersamaan dengan pembukaan kantor perwakilan Jala Tech di Banyuwangi yang berlokasi di jalan Ikan Mas no.52, lingkungan Kaliasin, Karangrejo, Banyuwangi. Baca juga: Upaya Aruna Gairahkan Konsumsi Ikan Lewat Teknologikantor perwakilan Jala Tech di Banyuwangi yang berlokasi di jalan Ikan Mas no.52, lingkungan Kaliasin, Karangrejo, Banyuwangi (Foto : Istimewa)Laboratorium Udang dibuka langsung oleh Ketua Harian SCI Banyuwangi yaitu Ir. Yanuar Toto Raharjo, perwakilan Dinas Perikanan Banyuwangi, dan perwakilan Jala Tech Raynalfie Budhy Rahardjo.Pembukaan Laboratorium Udang Jala Tech dihadiri oleh Ketua Harian Shrimp Club Indonesia (SCI) yaitu Ir. Hardi Pitoyo, Ketua Harian SCI Banyuwangi Ir. Yanuar Toto Raharjo, Sekretaris Jenderal SCI Banyuwangi Ir. Hari Juli, Ketua FORTEL Banyuwangi Darminto, pakar penyakit udang ibu Sidrotun Naim, Ph.D., perwakilan Dinas Perikanan Banyuwangi, dan pelaku budidaya udang di Banyuwangi.Dengan dibukanya layanan baru Jala Tech ini teriring harapan untuk dapat membantu para pelaku budidaya udang, selain memberikan solusi mempermudah manajemen budidaya yang merupakan layanan utama dari produk teknologi yang dihasilkan Jala Tech sebelumnya, Laboratorium Udang juga dibuka untuk memfasilitasi dan memberikan akses yang lebih mudah bagi petambak dalam identifikasi penyakit udang dengan metode deteksi dini menggunakan Pockit PCR.Baca Juga : Startup Yogyakarta Tawarkan Sentuhan Teknologi di Tambak UdangDi tengah pandemi Covid-19 acara dibatasi hanya untuk 20 orang peserta. Protokol kesehatan seperti pemberian masker, handsanitizer dan pengecekan suhu tubuh juga dilakukan kepada tamu sebelum acara dimulai. Foto bersama tamu dan undangan saat pembukaan Kantor Perwakilan Jala Tech di Banyuwangi, Sabtu (19/12/2020) (Foto : Istimewa)Dalam acara pembukaan juga diperlihatkan peralatan laboratorium terutama alat identifikasi penyakit yaitu PCR kepada peserta, tidak lupa diadakan juga demonstrasi cara identifikasi penyakit udang menggunakan PCR. Acara juga diisi diskusi interaktif mengenai penyakit udang dengan pemateri ibu Sidrotun Naim. Dengan diselenggarakannya pembukaan Laboratorium Udang ini diharapkan dapat menjadi salah satu fasilitas yang mendukung petambak udang di Banyuwangi dan sekitarnya.Sumber: Jatim Times ...
Upaya Aruna Gairahkan Konsumsi Ikan Lewat Teknologi
Startup

Upaya Aruna Gairahkan Konsumsi Ikan Lewat Teknologi

Pada tahun 2019, Indonesia menempati posisi 62 pada Global Food Security Indeks, masih dibawah  Malaysia yang berada di posisi 28. Isu ketahanan pangan ini menjadi menarik, mengingat Indonesia adalah salah satu penghasil ikan terbesar di dunia.Saat ini, masyarakat Indonesia cenderung lebih memilih untuk mengkonsumsi daging daripada ikan. Di masyarakat agraris, daging sapi, ayam, telur dan susu lebih disukai daripada ikan. Padahal, ikan bisa menjadi alternatif sumber protein yang tak kalah baiknya. ikan juga sarat akan asam lemak esensial bernama omega-3 yang tidak bisa diproduksi oleh tubuh manusia.Rendahnya konsumsi ikan di Indonesia bukannya tanpa alasan. Infrastruktur yang kurang memadai menjadi salah satu penyebab utamanya, sehingga sangat sulit untuk mewujudkan jalur distribusi yang ideal agar tidak mengorbankan kualitas ikan. Saat ini, ikan segar berkualitas umumnya memiliki harga yang lebih tinggi karena memerlukan perawatan khusus dalam pengirimannya agar ikan tetap dalam kondisisegar sampai tempat tujuan.Baca juga: Mengukur Kualitas Benur UdangAruna Indonesia, sebuah startup teknologi perikanan yang bermarkas di Jakarta dengan jeli menangkap peluang ini. Startup ini telah membangun sebuah ekosistem perikanan dari hulu ke hilir. Tahun 2020 ini, telah ada lebih dari 15,000 nelayan yang tergabung dengan Aruna dalam 30 komunitas nelayan yang tersebar dari Sabang hingga Merauke dan telah mengekspor beberapa komoditi laut ke 7 negara.Tak hanya nelayan, Aruna juga membuka lapangan kerja tambahan di desa-desa pesisir. Para putra daerah yang kompeten di bidang teknologi direkrut Aruna menjadi local heroes, yaitu tim khusus yang membantu digitalisasi data perikanan para nelayan dari Sabang hingga Merauke. Selain itu, Aruna juga memperkerjakan para istri nelayan untuk bekerja sebagai pengolah hasil tangkapan di desa mereka."Sekalipun Aruna adalah perusahaan teknologi, fokus utama Kami adalah memenuhi kebutuhan manusianya dulu. Bagi kami, teknologi itu bukan untuk menggantikan peran manusia, tapi untuk membantu agar SDM yang ada bisa berpikir dengan lebih strategis. Untuk itulah Kami menciptakan teknologi yang membantu para putra daerah agar dapat menjadi agen perubahan yang lebih efektif dan efisien di daerah masing-masing " ujar Utari Octavianty sebagai General Director dan Co-Founder Aruna dalam keterangan tertulisnya Kamis (24/12). Baca juga: Digifish 2020 : Akselerasi Ekosistem Inovasi Digital Sektor PerikananGayung bersambut, ekspor komoditas perikanan Indonesia pun tercatat bertumbuh selama pandemi.  Utari juga menyampaikan bahwa penjualan Aruna justru meningkat sekitar 20 persen di masa pandemi. Secara global, penjualan ikan di pasar retail juga mengalami lonjakan seperti yang dikutip dari survey oleh Global Aquaculture Alliance.Di situs pencarian Google, konten tentang ikan segar mengalami kenaikan selama tahun 2020 dengan top keywords "jual ikan segar terdekat". Di tahun ini pula Aruna memberanikan diri untuk memperkenalkan penjualan seafood kepada pasar retail. Jika dicari di mesin pencarian, Aruna mulai memperkenalkan produk Seafood By Aruna di situs marketplace seperti Tokopedia, Shopee, Nalayan dan Sayurbox.Sumber: Republika ...
Pandemi, Startup Akuakultur Justru Catat Peningkatan Pendapatan
Startup

Pandemi, Startup Akuakultur Justru Catat Peningkatan Pendapatan

Pada 2020, eFishery yang merupakan startup akuakultur mencatatkan peningkatan pendapatan hingga empat kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Tercatat terjadi peningkatan hingga 287,2 persen secara year-on-year Gross Merchandise Value (GMV) di tahun ini. "Di tahun ini kami secara agresif mengoptimalisasi lini bisnis kami selain eFisheryFeeder, yaitu eFisheryFund untuk akses terhadap pendanaan, eFisheryFeed untuk penyediaan pakan, dan eFisheryFresh untuk pendistribusian produk hasil budidaya," ungkap Co-founder dan CEO eFishery Gibran Huzaifah melalui keterangan tertulisnya, Rabu, 23 Desember 2020. Hal ini, lanjut Gibran, dilakukan karena perusahaan melihat pembudidaya ikan mengalami kesulitan dalam mendapatkan modal usaha, terbatasnya pakan yang tersedia di retailer, dan juga kendala dalam penyaluran hasil budidayanya.eFisheryFund memberikan akses dan menghubungkan pembudidaya ikan secara langsung dengan institusi keuangan. Fitur utama dari eFisheryFund adalah Kabayan (Kasih Bayar Nanti), yaitu program cicilan yang dapat dimanfaatkan oleh para pembudidaya untuk memperoleh produk eFishery seperti eFisheryFeeder dan pakan ikan. Baca juga: Berita eFishery Umumkan Pendanaan Seri B, Dipimpin Go-Ventures dan NorthstarPenyediaan pakan yang didukung oleh eFisheryFeed ini telah bekerja sama dengan berbagai brand pakan, sehingga pembudidaya memiliki lebih banyak pilihan. Lebih dari 3.000 pakan ikan dari berbagai merek telah didistribusikan melalui layanan ini. Selama 2020, eFisheryFund telah menjalin kerja sama dengan berbagai institusi keuangan seperti BRI, Alami Sharia, dan Investree. Hingga saat ini, lebih dari 800 pembudidaya telah didukung oleh eFisheryFund dengan total pinjaman yang disetujui mencapai lebih dari Rp50 miliar. Pembudidaya pun memiliki fleksibilitas dalam pengembalian pinjaman karena eFisheryFund menawarkan tenor hingga enam bulan. Skema ini banyak membantu pembudidaya yang usahanya nyaris tutup akibat pandemi. "Kalau tidak ada program Kabayan, usaha budidaya saya sudah tutup saat pandemi karena kehabisan modal,” ungkap pembudidaya ikan nila asal Pamijahan, Kabupaten Bogor, Baban. Baca juga: Gandeng Baba Rafi, eFishery Kembangkan Digitalisasi Tambak Udang VanamePandemi covid-19 secara signifikan membuat perekonomian Indonesia mengalami pukulan dan mengguncang sektor UMKM, termasuk sektor perikanan budidaya. Di awal pandemi, permintaan ikan mengalami penurunan hingga 20 persen. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, antara lain oleh permintaan pasar yang turun, permintaan dari hotel, restoran, dan kafe yang masih lesu, dan akses untuk berpindah ke pasar online yang belum maksimal. "eFishery berfokus untuk meningkatkan dampak sosial yang dapat membantu menjaga usaha para pembudidaya tetap berjalan. Salah satu langkah yang kami lakukan adalah dengan menarik ikan hasil panen pembudidaya dan mengolahnya menjadi produk beku demi menambah nilai jual dan memperpanjang masa konsumsi. Dengan demikian, hasil panen dapat disimpan lebih lama sehingga mengurangi risiko terbuangnya hasil panen," ujar Gibran. Gibran menambahkan, melalui eFisheryFresh, ikan yang ditarik dari pembudidaya kemudian disalurkan ke berbagai channel dengan jalur business to businessSumber: medcom.id ...
Apps, AI and algae: Meet Hatch Blue’s Fourth Cohort
Startup

Apps, AI and algae: Meet Hatch Blue’s Fourth Cohort

Hatch Blue, the Norway-based aquaculture business accelerator, streamed its latest startup show-and-tell session online on Dec. 3 and unveiled eight “new” growing businesses, all members of its fourth cohort.Wayne Murphy, partner and co-founder of the accelerator, said at the outset that each of the eight companies “demonstrated an incredible grit and determination to succeed” despite the challenges of working remotely during the coronavirus pandemic of 2020. Under normal circumstances, the Hatch team and its global network of sponsors and mentors would work closely with each new-business leader, taking them to sites around the world where aquaculture innovation and technology is advancing and being put into practice at commercial scale – places like Bergen, Norway; Hawaii, USA; and Singapore, to name a few.The object of the 16-week accelerator program is to coach the businesses, which are typically at a very early stage in their respective developments, and prepare them to meet investors; some businesses are further along and want the immersive experience and access to aquaculture expertise. Demo Day requires the cohort members to pitch to a live audience, which has taken place in either in Norway or in Hawaii, where Hatch has an office at NELHA, the National Energy Laboratory of Hawaii, in Kona.Instead, this time the eight companies delivered their pitches online, each with a roughly 5-minute prerecorded pitch film followed by a question-and-answer session of the same duration. Here are the members of the fourth Hatch cohort:Also read: Shrimp Farmers in Ecuador Tap An App To Seal A Better DealThe Plant Based Seafood CompanyGeorg Baunach, managing partner and co-founder of Hatch, said at the beginning of Demo Day that alternative meats are a hot topic, and finding a plant-based protein company was a priority for the accelerator and its investment fund, which earlier this year launched with $8.4 million in capital.Conveniently named, The Plant Based Seafood Company (Gwynn’s Island, Va., USA) was founded this year, but its leadership team has been in the seafood industry for years. Monica van Cleve-Talbert, CEO and co-founder of the all-female and family-owned company, said that its products are already in the marketplace and are winning over lifelong seafood consumers with quality and authentic flavors, which she said are “indistinguishable from its seafood analog.”Using “functional ingredients” to “imitate the sea animal” – vegetables like artichokes, hearts of palm, green cabbage and the Japanese yam or Konjac root – the company makes products like “Bang Bang Shrimp” and sweet ginger scallops. It also has lobster, crab and fish-fillet products in the pipeline.“We know exactly what seafood is supposed to look, smell and taste like,” said van Cleve-Talbert. While there are many alternative meat products on the market today, “none are as convincing as ours,” she added. Its products contain no gluten, dairy, corn or soy.The Plant Based Seafood Company is raising funds for R&D, for increasing its “speed to market” and for branding efforts.Michigan-based Exciplex can detect microtoxins in animal feeds and feed ingredients.ExciPlexDaryl Staveness founded Michigan, USA-based ExciPlex just six months ago to capitalize on a unique opportunity: “turning molecular discoveries into global impacts.”ExciPlex can detect mycotoxins in animal feeds, already a big industry but one that Staveness is ripe for disruption with cutting-edge photochemistry, his expertise. This method of diagnostics, he said, is five times faster than existing products and addresses a key pain point for the industry. Exciplex can define properties in feed ingredients, unique signals that can be tested in a lab or in the field, sending results to users with smartphones.“It’s a proprietary technology unlike anything in the field of diagnostics today,” said Staveness, who said the company would target diagnostics labs first, then grain mills and then eventually would develop an on-farm model, as all links of the animal-feed value chain can suffer massive losses from mycotoxins in their feeds and feed ingredients. “We can ensure that no animal will have to ingest these poisons again,” he added.ExciPlex is seeking a strategic partnership with an animal nutrition company and hopes to build out its team soon.Also read: Surge of Off-flavor Solutions for RAS ContinuesSusewi“We don’t need to go to the oceans for microalgae. We can grow it in the deserts,” said Kieth Coleman, CEO and cofounder of Susewi. The company’s existing 30,000-square-meter farm in Morocco is already the world’s largest, he claimed, but there are also plans to expand to another farm in Oman and a 1-million-square-meter facility in the Sahara Desert.Using only sun, seawater and wind (su-se-wi) as inputs ­– all of which are free – Susewi can grow a wide variety of organisms in its shallow raceway ponds, greenhouses and a harvesting system that Coleman said was inspired by the mining industry.Offering operational scalability, the Suswei system is adding IoT (Internet of things) equipment at every phase to monitor growth and quality and is implementing AI (artificial intelligence) to analyze behavior and to optimize growth characteristics. Its facilities use robotics to operate the farms.“We’ve been told we have the most advanced digital aquaculture platform in the world,” Coleman said, adding that the London-based company seeks series B funds to expand operations. “I can’t think of a more scalable opportunity. It’s highly profitable.”Also read: Optimisation of Feeding Strategies at A Fish Farm Through Mathematical ModellingSea WardenAquaculture has data collection issues and Zach Dinh and Shelby Oliver, cofounders of Sea Warden (Kona, Hawaii, USA) are here to solve them, starting with those belonging to shrimp farmers.Based at NELHA in Hawaii, Dinh and Oliver have developed monitoring tools that offer farmers new methods to treat diseases, reduce or eliminate antibiotic usage, bring ease to operations and increase profits.Identifying a market of 250,000 shrimp farmers around the world, Dinh and Oliver said their services include satellite-observation of shrimp pond fallowing and emptying activities, which are potential indicators of disease outbreaks. The idea is to “turn data into actionable insights,” said Dinh.The company – launched earlier this year – also hopes to improve farmers’ access to financial products. The data it collects would also de-risk investments.With its eye on Vietnam and Indonesia as the initial target markets, Sea Warden hopes to then expand to India, Thailand and Ecuador, all of which are the top shrimp producers in the world. It will also begin a pilot program with the Aquaculture Stewardship Council next year, an effort to expand access to certification and reduce audit costs.Seeking $500,000 in a seed round, the company aims to build its team and secure some strategic partnerships to meet its goal of making “large-scale assessments possible to drive meaningful change.”Also read: Maine Engineer Develops Low-cost Monitoring BuoyANB SensorsThe most important water-quality parameter is pH, according to Kay McGuinness with ANB Sensors, based in Cambridge, UK. Offering pH-monitoring equipment that does not require constant calibration, ANB claims it can offer “timely data like never before.”“In aquaculture, pH is so important. Fish are totally dependent on the water to eat, feed, breathe and reproduce,” said McGuinness. But the pH technology used today, the glass electrode, was developed in the 1950s and has seen “little innovation” since then, she added.Made of glass, typical electrodes are therefore fragile and need to be manually calibrated to maintain accuracy. ANB offers a solid-state sensor with plastic or titanium parts that are better suited for harsh environments. Typical pH sensors’ references points tend to “drift” over time, and while ANB technology can’t stop the drift, it can track it, allowing the device to self-calibrate.It’s also quite versatile: “It can work in various media, from aquaculture to a cow’s stomach,” she added.ANB, which holds two patents, is seeking growth funds and is recruiting a commercial director.C-FEEDWith shrimp and finfish hatchery nutrition needs at a premium in aquaculture worldwide, C-FEED of Trondheim, Norway, is already making major inroads with producers in multiple countries and with multiple species.The company produces live copepods for early-lifestage dietary needs, offering hatchery operators strong survival, growth and quality output at a reduced cost from existing solutions, said CEO Tore Remman. With 15 years of R&D under its belt, C-FEED is hardly a startup.“We’re working with large companies” in northern Europe, Remman said, with a keen focus on cleaner fish. Much of Norway’s world-leading farmed salmon industry deploys lumpsuckers in their net pens to feast on sea lice.“The production of cleaner fish is a huge, growing market for us,” Remman said, adding that it’s working with companies like Mowi and Leroy already. It is selling its product to companies in Thailand and made its first shipment to Singapore recently. Overall, C-FEED’s copepod product – which has a gray liquid appearance and that Remman likened to “mother’s milk” for fish fry – has been involved in 35 feeding trials with 22 species globally, Remman said. “We’ve seen a lot of hatcheries,” he added.C-FEED is in the process of raising €4 million for expansion.Also read: Fish Back On The Menu with Oxair’s Yield Boosting TechnologyBlue Lion LabsInitially focused on shoring up drinking water issues, Blue Lion Labs of Waterloo, Ontario, Canada, has already made a pivot to aquaculture. Founded this January, the company saw in aquaculture the opportunity to “build something novel.”Identifying algae blooms and sea lice outbreaks is a task that salmon farmers would like to perfect in order to better protect their fish and their profits, yet it is one that is prone to human error, said Jason Deglint, CEO and cofounder. Existing solutions tend to only “deal with the problems after they happen,” he said. Blue Lion can offer producers early warning signs to mitigate impacts.Deglint said he originally set out to work on a problem that “affected everyone on the planet” after earning his Ph.D. just a few years ago. He and Katie Thomas, cofounder and COO, are combining their respective expertise in systems design engineering and aquatic ecology in this new effort. With only one other employee on staff, the nimble firm has nevertheless already participated in five other accelerator programs.Hatch BlueEwan McAsh is an oyster farmer who has developed a farm-management software system for growers of all kinds to become more efficient and make data-driven decisions.SmartOystersOyster farmers really just want to be able to sleep at night, said Ewan McAsh, CEO and cofounder of SmartOysters, a farm-management software and application provider based in Australia. And, of course, grow more oysters.McAsh would know, as he was a farmer himself for more than 15 years.“There is a need for farm management software in the broad aquaculture community,” he said. “We can deliver a lot more than database systems, and in a format that farmers understand.”Available to farmers globally, the SmartOysters app uses GPS technology, among other tools: “That’s how farmers visualize their farms,” he added.But few use modern technology, and most rely on memory for maintenance tasks, which McAsh said is “a hard habit to break out on the water.”When he was farming oysters, “All the history, all the best practice was in my head. I became trapped as the farm manager, working the business day to day. Any effort to grow the business became a burden, not an opportunity.”The SmartOysters app allows these busy producers to track their gear and inventory, assign and track production and maintenance tasks and display data in easy-to-read graphs and tables. The data collected can make oysters businesses more efficient, scalable and investable, he added. With all that help, farmers – like the dozens he’s already recruited in Australia, New Zealand, U.K., Ireland and North America – are surely resting easier.Sumber: Aquaculture Alliance ...
Mexico-based Startup Turns Wastewater Into Fish Feed
Startup

Mexico-based Startup Turns Wastewater Into Fish Feed

Wastewater from intensive fish farming can pose a significant threat to nearby marine ecosystems. With global pressure to increase production that ensures food security, one innovative company believes the aquaculture industry must take a long, hard look at reducing its environmental footprint.MicroTERRA is a Mexican start-up that is turning heads in the industry for developing a scaleable water treatment system that could become a win-win solution for the local fish producer.The company was founded in 2018 with the idea of unlocking the untapped resource contained in fish wastewater. MicroTERRA has developed a circular treatment system that pumps polluted water from fish tanks into a series of cylindrical bioreactors where microalgae is used to absorb nutrients, nitrogen and phosphorous present in fish waste.Also read: Solutions to Control Blue-Green Algae in Grow-out PondsThrough the process of photosynthesis, microalgae is separated from the clean, oxygenated water. The microalgae can then be harvested and dried to produce up to 60 percent of the farmer’s own fish feed.“The by-product is the protein and that is the way that we make it profitable, because the wastewater treatment process is quite expensive, especially for inland fish farmers in Mexico who are struggling to pay for the fish feed, which is up to 70 percent of their variable costs,” says Fanny Villiers, chief operating officer of microTERRA.“So our objective is to provide a system that will treat their water and at the same time produce a high value microalgae biomass biomass that can be transformed into a feed ingredient, in order allow the fish farmers to have true and great savings on the fish feed. And with these savings, they can pay for the water treatment systems.”Sustainable alternativeThe company’s founder, Marissa Cuevas, got the idea for such a system after attending an environmental conference where the main topic of conversation was water conservation. Villiers says they were all shocked to learn that the main cause of water pollution in the world comes from runoff water from agriculture and aquaculture operations.After doing some research, Cuevas discovered microalgae-based wastewater treatment as a sustainable method. Microalgae water treatment relies on phototrophic micro-organisms to supply oxygen to aerobic organic pollutants. As a result, this process removes nutrients and pathogens that are present in the water.Latin America is an ideal climate for this system because the region’s warm climate and abundance of sunlight meant there was no need for artificial lighting or temperature to create an ideal environment for the bioreactors. It makes their system as cost-effective as possible.Also read: Improving Immune Performance in Aquaculture Through AlgaeThe company first proposed the harvested microalgae as alternative fertilizer for the agriculture industry, however, Villiers says there was not much interest for it in the market. They then decided to look at microalgae as a feed ingredient.Microalgae is also a well-researched protein alternative for fish feed because it is known to be a cost-effective ingredient that can provide essential nutrients and Omega-3 fatty acids, as well as antioxidants. Fish feed is the largest operational cost in any aquaculture facility, so developing a feed alternative that could reduce those costs is very attractive to farmers.Pilot farmThe company’s pilot project was completed in June 2019. MicroTERRA worked with a local tilapia producer in Irapuato, Mexico, to build a system that can treat 5,000 liters of wastewater every three days and produce a total of 1 ton of dried microalgae every year.“It was a great project for the team because we built it ourselves. We got to learn a lot on the farmer’s necessities, what are his pain points,” Villiers says. “The system was built with low-cost materials that you can buy in any agro shop.” That is critical, she adds, because the challenge with bringing in high-tech systems to Mexico from other countries like Germany, for instance, is that it can be difficult to find a technical person locally to maintain it, “so it’s not that sustainable.”Also read: Six Tips to Make Your Fish Farm More Environmentally SustainablePaola Constantino, chief technical officer, says the microTERRA team is in constant communication with the farmer of their pilot system. Every week, a team member visits the farm to talk with the farmer about the everyday maintenance and operation of their system.Using sensors installed in the bioreactors, water quality and the behaviour of the microalgae are constantly being monitored on a cloud platform that the farmer can access through a mobile app.Going globalWith data gathered from this 5,000-liter system, microTERRA has brought their innovation to the world stage. The company was selected for the 2019 cohort by the Techstars Sustainability Accelerator, a three-month mentoring and business development program backed by The Nature Conservancy and Amazon.Most recently, Constantino also received a grant through the National Geographic Explorer program to support her ongoing research of applied biotechnology to fight climate change.“We’ve been introduced to the national association of livestock feed production and they have a section for aquaculture where they have representatives from the biggest fish producers that are operating in Mexico,” says Villiers. “They’re super interested about the protein because they’re looking for alternatives to fishmeal all the time. So they’re asking for samples.”The company is currently in talks with 10 different fish feed producers in Mexico. Aside from helping the local farmers produce their own fish feed to offset operational costs, microTERRA wants to liaise with fish feed producers that might be interested in buying these raw ingredients from the farmers.Also read: Making Algae Can Get Expensive. Innovations Aim to Bring Costs Down“Our objective is not to compete with other fish feed producers,” says Villiers. “We prefer to focus on the biotechnology… So we want to partner with them, not necessarily to develop a formula, but to make sure that we have a go-to market strategy for us or for the fish farmers in order to sell the protein.”Villiers says it feels validating for the company to be recognized not only by the Mexican aquaculture community, but by key players in the global market. What started out as a passion project to reduce water pollution has become a viable business to elevate aquaculture in Mexico.“The objective is to go to market at the end of next year with a system that will have the capacity to treat 500,000 liters, which is the average volume of wastewater disposed by the fish farmers in the watersheds nearby the farm every day,” says Villiers. “This is where our bioinformatic strategy comes in because we can speed up the microalgae investigation, not only relying on what’s happening in the lab but also with real-time data.”The company is currently evaluating tilapia farms in Mexico to install their second pilot. Villiers says they are looking for a facility where they can scale the capacity of the system at least 20 times.Source: Hatchery International ...
Berita  eFishery Umumkan Pendanaan Seri B, Dipimpin Go-Ventures dan Northstar
Startup

Berita eFishery Umumkan Pendanaan Seri B, Dipimpin Go-Ventures dan Northstar

Hari ini (12/8), startup aquatech eFishery mengumumkan pendanaan seri B dengan nilai yang tidak disebutkan. Putaran pendanaan dipimpin Go-Ventures dan Northstar Group dengan keterlibatan Aqua-spark dan Wavemaker Partners. Bisnis yang dinakhodai Gibran Huzaifah tersebut akan menggunakan dana investasi untuk mengembangkan produk, menguatkan posisi bisnis, dan mengembangkan tim.“Melalui pengenalan teknologi baru kepada pembudidaya ikan dan udang di Indonesia, kami memiliki tujuan meningkatkan hasil panen, menurunkan biaya operasional, dan meningkatkan produktivitas mereka. Kami berharap pengembangan produk dari eFishery dapat mendukung ekosistem akuakultur secara menyeluruh, mulai dari proses budidaya hingga distribusi,” ujar Gibran Huzaifah.Ia menambahkan, “Pendanaan baru ini membantu kami untuk menumbuhkan perusahaan, membuka akses untuk meluncurkan produk kami di seluruh Indonesia, dan mencapai visi kami untuk menjadi perusahaan aquaculture intelligence terkemuka di  Indonesia. Kami sangat antusias menyambut kolaborasi strategis dengan Gojek dan Northstar Group yang kami yakini akan menjadi nilai tambah pada platform kami.”Baca juga: HATCH Accelerator : a Golden Opportunity for Aquaculture InnovatorsProduk eFisherySejauh ini eFishery memiliki empat produk utama. Pertama adalah eFisheryFeeder, yakni perangkat pemberi pakan otomatis. Kedua adalah eFisheryFeed, membantu petani ikan dan udang mendapatkan produk pakan dengan harga kompetitif. Kemudian ada eFisheryFund, merupakan program pinjaman untuk pembudidaya. Dan yang keempat ada eFisheryFresh, platform online grocery untuk bantu petani jual hasil panen mereka.“Kami amat terinspirasi oleh dampak positif yang diberikan oleh eFishery terhadap rantai pasok sektor akuakultur. Kemampuan perusahaan untuk menyajikan perangkat pintar terbaru yang terintegrasi dengan analisis seluler berbasis cloud kepada para pembudidaya telah mentransformasi cara berbisnis yang amat tradisional di Indonesia,” ujar Co-founder Northstar Group Patrick Walujo.Sementara itu VP of Investments Go-Ventures Aditya Kumar mengatakan, “Solusi eFishery, yang secara langsung mendukung pembudidaya lokal, juga mengatasi permasalahan yang lebih luas, termasuk memperkuat rantai pasokan makanan, mengurangi kekurangan pangan global, dan membantu meningkatkan industri perikanan dan ekonomi Indonesia secara keseluruhan. Kami berharap dapat melihat manfaat-manfaat tersebut tumbuh secara eksponensial ketika eFishery berkembang secara domestik saat ini dan secara regional di kemudian hari.”eFishery berdiri tahun 2013 di Bandung, menjadi salah satu startup pionir yang mengembangkan produk berbasis internet of things. Saat ini produk mereka telah menjangkau di hampir seluruh wilayah Indonesia. Sebelumnya mereka mendapatkan pendanaan pra-seri A di tahun 2015, dilanjutkan penutupan seri A di tahun 2018. Perusahaan mengklaim, sejak dua tahun terakhir bisnis sudah capai profitabilitas, setelah mengalami pertumbuhan signifikan selama empat tahun belakang.Baca juga: Startup dan Masa Depan PerikananRencana berikutnyaBeberapa rencana spesifik alokasi dana investasi baru sudah disampaikan. Perusahaan ingin membangun kapabilitas data dan algoritma yang lebih kuat untuk eFisheryFeeder, juga membuat perangkat pakan otomatis itu lebih kompatibel dengan berbagai tipe dan ukuran kolam. Guna mendukung proses bisnis, baru-baru ini eFisheryPoint juga dilunjurkan, untuk memudahkan pembudidaya mendapatkan produk perangkat, menjual hasil panen, dan berpartisipasi dalam kegiatan lainnya. Saat ini sudah ada di 30 titik dan akan dikembangkan hingga 100 lokasi sampai akhir tahun.Saat ini eFishery memiliki sekitar 250 karyawan dan berencana akan ditambah untuk mencapai pertumbuhan bisnis yang ditargetkan. Tahun ini fokusnya pada penguatan tim product & engineer dan selling & customer experience.“Walaupun kami telah memulai beberapa uji coba di Bangladesh, Thailand, dan Vietnam, fokus utama kami untuk tahun 2020 adalah memperkuat posisi di Indonesia dengan meningkatkan produk kami dan menciptakan kolaborasi yang lebih strategis. Setelah kami membangun model yang kuat dan dapat direplikasi di seluruh Indonesia, kami siap untuk mengeksplorasi kemungkinan untuk ekspansi regional,” ujar Gibran.Sumber: dailysocial.idTentang MinapoliMinapoli merupakan marketplace++ akuakultur no. 1 di Indonesia dan juga sebagai platform jaringan informasi dan bisnis perikanan budidaya terintegrasi, sehingga pembudidaya dapat menemukan seluruh kebutuhan budidaya disini. Platform ini hadir untuk berkontribusi dan menjadi salah satu solusi dalam perkembangan industri perikanan budidaya. Bentuk dukungan Minapoli untuk industri akuakultur adalah dengan menghadirkan tiga fitur utama yang dapat digunakan oleh seluruh pelaku budidaya yaitu Pasarmina, Infomina, dan Eventmina.  ...
Startup Yogyakarta Tawarkan Sentuhan Teknologi di Tambak Udang
Startup

Startup Yogyakarta Tawarkan Sentuhan Teknologi di Tambak Udang

Perusahaan rintisan teknologi atau startup MSMB mengembangkan intensifikasi pertanian kolam ikan berteknologi tinggi. Dibandingkan budidaya udang konvensional, misalnya, startup berbasis di Yogyakarta ini menjanjikan kemampuan tebar 4-5 kali lipat dengan produksi 10 kali lipat dengan luasan kolam yang sama.“Kami mulai dari kolam yang dapat di-knockdown berbentuk lingkaran dengan pemasangan mirip Lego sehingga proses pemasangan hanya membutuhkan 1-3 hari tergantung diameter kolam 10-20 meter,” kata Rico Wisnu Wibisono, CEO FisTx, menjelaskan saat dihubungi Kamis 2 Juli 2020. Kolam yang bisa dibongkar pasang adalah satu hal. Tapi bentuknya yang lingkaran adalah hal lain. Menurut Rico, bentuk itu dipilih karena kelebihannya untuk pencampuran oksigen dan sebaran pakan yang lebih baik. Dikombinasikan dengan teknik yang disebut mushroom shrimp toilet, kolam FisTx disebutnya mampu menjaga kualitas air dan karenanya kesehatan udang.Baca juga: Inovasi Sarjana S2 ITB ini Bikin Panen Udang Meningkat“Teknik self cleaning bisa menggantikan fungsi petani atau petugas yang harus turun ke kolam sehingga meminimalkan penularan penyakit dari luar kolam,” kata Rico.  Bak virus corona, virus penyakit udang memang dikenal amat mudah menular, dan mematikan, di kolam-kolam budidaya. Mereka bisa menular menumpang aerosol yang tertiup angin dalam praktik kincir air di kolam, terbawa petaninya yang masuk-pindah kolam, atau bahkan merembes antar kolam.“Penyakit masih menjadi masalah terbesar dalam budidaya udang. Kalau sudah kena penyakit, bisa habis (mati) semua udangnya,” kata pemuda berusia 30 tahun yang besar di keluarga petani udang itu.Bukan hanya rekayasa kolam, FisTx juga mengembangkan Aquagram, alat cek air, yang terhubung dengan aplikasi FisTx . Keduanya terkoneksi melalui mifi dan menampilkan data pemantauan harian kualitas air yang telah diolah di cloud server MSMB pada dasbor yang tersedia.Baca juga: Antarikan.com, Layanan Jual Beli Ikan Daring Buatan Anak SamarindaAplikasi yang memuat data kualitas air dan pertumbuhan udang, perlakukan aplikasi tambak atau kolam, dan kegiatan harian lain yang diinput secara terpisah dipandang sangat berguna bukan hanya untuk si petani. “Tapi juga bisa untuk laporan ke asuransi dan bank sebagai penjamin dan ke pemodal sebagai safety produk perikanan yang dihasilkan,” katanya.Portable pond yang dikembangkan Startup MSMB asal Yogyakarta untuk intensifikasi perikanan dengan teknologi aplikasi FisTx. Teknologi yang ditawarkan menjanjikan peningkatan produksi, selain bangkitan data yang dihasilkannya memudahkan kerja petani serta memberi kenyamanan untuk pemodal atau penjamin. FOTO/FisTxSaat ini, menurut Rico, teknologi sudah mulai diaplikasikan di kolam swasta di Yogyakarta dan kolam instalasi budidaya air laut di Trenggalek, Jawa Timur. Menyusul, dia menambahkan, di Situbondo—juga Jawa Timur--dengan program udang milenial yang sedang dijalankan pemerintah daerah setempat.  Di kolam percobaan di Pantai Samas, Bantul, Yogyakarta, teknologi FisTx diperhitungkan bisa menghasilkan 5-6 kwintal udang/kolam diameter 10 meter atau luas 78 m2. Rico membandingkannya dengan kolam atau tambak konvensional dengan kolam luasan yang sama yang, “bisa 50 kilogram saja sudah bagus.”Selisih produksi itu dianggapnya sangat layak untuk skema investasi awal yang ditawarkan Rico dkk di startup FisTx yang mencapai Rp 3-80 jutaan (harga jual konstruksi kolam). “Sekarang masih dalam proses uji di kolam sebenarnya dan akan kami buktikan dalam tiga bulan ke depan,” kata Rico lagi.Sumber: Tempo.co  ...
Insect-Growing Startup Beta Hatch Raises $3M to Further Innovate and Build Giant New Facility
Startup

Insect-Growing Startup Beta Hatch Raises $3M to Further Innovate and Build Giant New Facility

Beta Hatch, the insect-growing startup looking to revolutionize the animal feed business through its science and technology, has raised $3 million as part of a new funding round.Founded in 2015 by PhD entomologist Virginia Emery, the company has raised $5 million in total equity while also securing $4.6 million in state and federal funding.The latest round was co-led by Cavallo Ventures, the venture capital arm of Wilbur-Ellis, and early-stage venture firm Innova Memphis. Klein Private Equity Investment and Brighton Jones Investment Partners also participated.Currently operating out of a facility in SeaTac, south of Seattle, Beta Hatch will use the cash to continue to innovate on its technology and also move its entire operation to Cashmere, Wash., next year.That flagship facility will be the largest mealworm production facility for animal feed in North America, with the capacity to produce a ton of insect protein per day. It’s scheduled to be operational in early 2021 and will be partially powered by waste heat from a neighboring data center to reduce electrical needs.Beta Hatch develops insect-rearing technology that converts organic waste directly into high-value proteins, oils and nutrients for poultry and aquaculture, enabling insects to cost-effectively meet the global scale of demand for plant and animal nutrients.Mealworms are ideal food for chickens and farm-raised fish, and Beta Hatch raises lots of them. (GeekWire Photo / Kurt Schlosser)Emery said insects have the potential to be the world’s most sustainable protein, and growing them — and Beta Hatch — has been both satisfying and challenging.“We have learned so much about the science of raising insects, but we have also learned just how much more we need to understand to optimize our technology,” Emery told GeekWire. “This is the beginning of a new crop, but given we took millennia to domesticate some of our other food species, we are working at light speed in relative terms.” We have learned so much about the science of raising insects, but we have also learned just how much more we need to understand to optimize our technology.Beta Hatch currently employs 14 people and plans to bring on 10-20 more in new roles once the Cashmere operation is complete.The expanding startup has learned to work efficiently together, Emery said, and she’s been excited to pass off more of the hats she wears as CEO. She recently hired a VP of Business Development and VP of Technology who can help the company continue to scale and excel.And personal challenges over the past year have been part of the experience as well. Emery was pregnant while raising venture capital, and had her first child early this year just before the COVID-19 pandemic hit.“I’ve been forced to become more efficient as a leader and to wrestle with a lot of tough issues around sexism and startups,” she said. “I think with the pandemic shining a light on work-life balance challenges, more people are recognizing a lot of the continued and systemic challenges for women leaders, so I am excited to blaze a path forward for other female entrepreneurs.” Along with the funding news, Beta Hatch has made significant scientific breakthroughs, as the company recently completed the first published assembly of the yellow mealworm genome. It will be published as part of an open source article in the “Journal of Insects as Food and Feed” this summer and serve as a resource for furthering research on the mealworm and other commercially relevant insect species.Source: GreekWire ...
A Golden Opportunity for Aquaculture Start-Ups
Startup

A Golden Opportunity for Aquaculture Start-Ups

A new venture that aims to create companies of scale in the fields of animal health, agri-tech and/or aquaculture (AAA) has been launched today.Called the Food & Agriculture Science Transformer (FAST), the first venture studio in Scotland has been developed by Deep Science Ventures (DSV) and the Roslin Institute.The FAST programme brings together DSV’s market-led approach to creating science companies, and the Roslin Institute’s world-leading expertise and facilities across genomics, veterinary biosciences, biotechnology and agriculture. Each year the partnership will launch several high growth technology start-ups comprising teams from the University of Edinburgh, the wider UK, and the rest of the world.FAST operates virtually but will also be jointly located at the Roslin Innovation Centre (RIC), which is based within the University of Edinburgh’s Easter Bush Campus and DSV London-based headquarters. DSV and Roslin share the vision to deploy innovative science and will select globally relevant commercial and technology opportunities, recruit and train ambitious founders from the Edinburgh ecosystem and the world beyond to create agricultural and biotech companies that can respond to the needs of farmers, the public and the planet’s ecosystems. RIC offers flexible office and laboratory open-plan accommodation with quick, easy and secure subdivision and companies formed can be based at RIC with access to state-of-the-art facilities.DSV was established to create a founder-friendly method for launching high growth science companies with novel IP, and its approach is to develop each company and its team creation over the course of a year. Founders are recruited to investigate neglected areas in which high impact could be made by unifying innovative science from multiple technological domains. As projects demonstrate increasing commercial viability, additional founders and advisors join to generate the data and IP that allows a novel science company to hit the ground running, alongside a minimum £50,000 of equity investment, which can grow to £500,000.DSV’s agriculture portfolio currently includes Beta Bugs, which is headquartered next to the Roslin Institute and develops high performance insect breeds for the rapidly growing market for using insects in sectors such as aquafeed.Edinburgh Innovations, the University of Edinburgh’s commercialisation service, is providing support to the FAST programme with funding provided by the Roslin Foundation and the UK Research and Innovation Biotechnology and Biological Sciences Research Council (UKRI BBSRC), to help realise DSV’s ambitions to develop a new paradigm for applied science in the UK, and directs early stage researchers toward venture-focused discovery at the level of frontier science.“I am very excited by the prospect of this FAST programme, which is a highly unique approach to company formation,” says John Mackenzie, CEO of Roslin Innovation Centre. “Attracting world-wide scientific and entrepreneurial talent and combining them with market-led opportunities to create companies of scale in Animal Health, Agri-tech and/or Aquaculture (AAA), FAST will hopefully find and create the first AAA unicorn company, which will only augment our world leading position at the University of Edinburgh’s Easter Bush Campus.” Edward Perello, associate director for agriculture at DSV, notes the partnership is “creating much-needed room for science founders to build game-changing technologies and business models that work for food security, climate change, and biodiversity loss. Over the coming years, our ambition is to work with the right founders and partners, and create hundreds of high value jobs at the intersection of technology and agriculture. It's fantastic to have Roslin on board as our first partner, and we’re now recruiting our founding teams.”Source: The Fish Site ...
Antarikan.com, Layanan Jual Beli Ikan Daring Buatan Anak Samarinda
Startup

Antarikan.com, Layanan Jual Beli Ikan Daring Buatan Anak Samarinda

Masyarakat Samarinda saat ini semakin dimanjakan kemudahan. Cukup di rumah saja, semua keinginan bisa terpenuhi. Terbaru, ada layanan jual beli ikan secara online, Antarikan.com yang siap memanjakan. (prokal) Masyarakat Samarinda saat ini semakin dimanjakan kemudahan. Cukup di rumah saja, semua keinginan bisa terpenuhi. Terbaru, ada layanan jual beli ikan secara online, Antarikan.com yang siap memanjakan. Imbauan Pemerintah kepada masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar rumah atau #DiRumahSaja menjadi berkah tersendiri bagi sektor jasa. Termasuk layanan jual beli ikan secara online garapan anak Kota Tepian, Antarikan.com. Usaha yang baru berjalan tiga bulan terakhir ini semakin ramai dan diminati masyarakat. Marketing Antarikan.com Siti Marfia mengatakan, layanan ini awalnya hanya dihadirkan untuk membantu keluarga yang merupakan agen ikan. Meningkatkan daya beli masyarakat dengan memasarkan produk secara online. Namun seiring masifnya imbauan untuk #DiRumahSaja dan work from home (WFH) karena Covid-19, membuat pergerakan pasar konvensional semakin terbatas. “Di lain sisi, permintaan kami justru semakin tinggi. Karena baru-baru buka, untuk pemesanan masih fluktuatif. Sehari di angka 70 kg, namun kami punya target mencapai 100 kg per hari,” ujarnya saat ditemui Kaltim Post, Minggu (12/4/2020). Produk yang ditawarkan cukup bervariasi. Terbagi menjadi tiga kategori. Pertama, ikan harian (layang, kembung, biji nangka, dan tongkol). Kedua, ikan premium (kakap, terakulu, bawal, dan lain-lain). Ketiga, berbagai udang, kerang, dan cumi-cumi. “Sejauh ini pembeli kami batasi seputaran Samarinda. Tentunya dengan harga ongkos kirim yang bervariasi juga, mulai dari Rp 10 ribu yang jarak dekat (3-5 Km) hingga maksimal Rp 25 ribu untuk jarak jauh,” jelasnya. Siri mengungkapkan, keunggulan pihaknya dibandingkan model bisnis lainnya yakni memiliki manajemen risiko yang baik. Sebab ikan merupakan barang fast moving lantaran memiliki daya tahan yang rendah. Oleh karena itu, pihaknya bekerja sama dengan supplier dari segi produk, jadi yang menanggung ikan yang tidak laku adalah supplier. “Tugas kami adalah menjaga barang agar tetap fresh dan terjual ke pelanggan. Makanya nama kami bukan Jualikan.com, tapi Antarikan.com. Fokus kami adalah menyampaikan produk agar fresh hingga tangan pelanggan,” tuturnya. Untuk pemesanan, pembeli bisa chat ke admin via WhatsApp atau masuk ke Antarikan.com. Setelah itu pembeli memesan ikan, bisa pre order, atau antar langsung. Setelah itu pesanan diantar dan ikannya dibayar jika pesanan telah sesuai. “Sampai saat ini kami sudah memiliki tiga kurir yang siap beroperasi. Baik menggunakan mobil atau motor. Ini kami persiapkan untuk menangani pesanan dari rumah tangga atau industri,” ungkapnya. Siti mengungkapkan, saat ini kendala utama yang dihadapi adalah jangkauan. Baik secara online, maupun offline. Kalau jangkauan secara offline banyak pelanggan yang merasa pengirimannya terlalu jauh dari kantor. “Kalau jangkauan secara online kami terkendala pada digital awareness, dalam arti masyarakat di Samarinda masih senang menggunakan aplikasi WhatsApp dibandingkan dengan menggunakan aplikasi Antarikan. Sehingga walaupun kami mencoba untuk membuat aplikasi, tapi kami masih redirect ke nomor WhatsApp admin,” terangnya. Dia berharap bisa bekerja sama dengan para pedagang ikan di seluruh Samarinda untuk memaksimalkan jangkauan. Misal ada pembeli dari Samarinda Seberang, produknya tinggal diantar dari pedagang ikan di Samarinda Seberang. “Namun tetap menggunakan jasa kurir kami. Jadi bisa memaksimalkan waktu, efisiensi dan juga meningkatkan nilai daya tambah terutama pada produk hasil laut,” pungkasnya.Sumber: Bontangpost.id  ...
Aditya Bangun Fish Village agar Warga Bisa Beli Ikan Berkualitas dengan Murah
Startup

Aditya Bangun Fish Village agar Warga Bisa Beli Ikan Berkualitas dengan Murah

Bermula dari keresahan masyarakat yang sulit mendapatkan ikan dengan kualitas baik dan harga yang murah, Aditya Pradewo bersama empat rekan lainnya memutuskan untuk membuat startup berbasis penjualan ikan.Kepada Hi!Pontianak, Adit mengungkapkan, keinginannya agar masyarakat khususnya di Kalbar dapat mengonsumsi ikan kualitas yang baik dengan harga murah. Selama ini, kata Adit, masyarakat harus merogoh kantong dalam-dalam untuk mendapatkan ikan dengan kualitas yang baik. Begitu juga sebaliknya, ketika masyarakat hanya mampu membeli ikan dengan harga murah, maka ia mendapatkan ikan dengan kualitas yang kurang berkualitas. Dari permasalahan tersebut, Adit bersama empat rekannya, yakni Edy Tanto, Feryadi, Ghandy dan Irwan Kurnia memutuskan untuk membuat suatu aplikasi penjualan ikan, mereka menjual ikan dengan penyajian kualitas baik dan harga yang murah.Dari upaya tersebut, Adit berharap semua golongan masyarakat dapat makan ikan dengan kualitas baik dan harga yang murah. Sejak awal 2018, sebuah aplikasi bernama Fish Village akhirnya diluncurkan. Adit yang sebelumnya cinta dengan dunia perikanan merasa bangga dapat menjual ikan-ikan dengan kualitas baik. “Kebetulan saya bergerak di bidang perikanan sebagai usaha pribadi dan di situ saya melihat ikan sebenarnya harganya tidak mahal, hanya karena ada layer-layer maka harga ikan menjadi mahal. Sehingga pada saat ke pembeli dia bisa dapat barang bagus tetapi harga tinggi dan harga rendah tapi kualitas jelek, itukan kasihan apalagi ini barang yang bisa kita konsumsi,” kata Adit, Selasa (14/4). Upaya yang dilakukan tersebut adalah ia memotong jalur distribusi. Sehingga pembelian ikan dari nelayan langsung diolah di pabrik dan langsung sampai di tangan pembeli, tanpa ada layer-layer berikutnya. “Kita memutuskan problem solving ini, problem dimana masyarakat kita inginkan untuk dapat makan ikan dengan harga yang sesuai dengan kualitas yang sesuai juga. Sehingga, kita memotong jalur distribusi dari nelayan, ke pabrik dan pembeli, itu yang kita bangun seperti itu,” jelasnya.Ia mengatakan, upaya penjualan ikan dengan kualitas baik dan harga murah tersebut memang tak mendapatkan untung yang terlalu tinggi. Namun masyarakat dapat mengkonsumsi ikan dengan kualitas baik adalah tujuan utamanya.“Karena sebenarnya barang ini tidak mahal, tapi menjadi mahal karena banyak lapisan tengkulak dan agen yang harus dilewati. Sehingga harga yang kami ambil adalah harga tertinggi nelayan dengan kualitas terbaik, akan tetapi walau kami ambil harga tertinggi di nelayan, itu tetap terasa murah di masyarakat. Kita ambil untung sangat tipis, karena yang kita kejar itu quantity dengan menjaga quality,” paparnya.Tak hanya kepada masyarakat, ia juga membantu para nelayan untuk mendistribusikan ikan ke pasar. Adit mengatakan, ikan didapat dari nelayan-nelayan yang berada di Kalbar dan pulau Natuna.“Setelah ikan diambil dari nelayan, kita bawa ke pabrik untuk dipilah sesuai kualitasnya, kemudian yang bagus dibekukan dengan standard export. Sampai nantinya ada pembelian baru diantar langsung ke rumah,” ungkapnya. Aplikasi tersebut tentunya memudahkan masyarakat, khususnya ibu rumah tangga yang tidak perlu repot-repot keluar rumah untuk membeli ikan, setelah membeli ikan dari halaman aplikasi Fish Village, ikan dapat di antar menggunakan jasa pengantaran.“Kita melayani setiap hari, setiap hari dibagi menjadi 3 gelombang pengantaran, ada pagi pukul 06.00-08.00 WIB. Siang pukul 09.00-11.00 WIB. Sore pukul 14.00-16.00 WIB,” ucapnya. Sementara itu, kata Adit, ikan-ikan yang paling banyak dikonsumsi masyarakat Kalbar sendiri, yakni ikan tenggiri, kembung, bawal hitam, kakap merah, udang, cumi, lele, bandeng dan patin. Ia juga mengatakan, aplikasi tersebut direspon baik oleh masyarakat karena telah memudahkan masyarakat mencari ikan dengan kualitas baik dan harga murah.  “Dari hasil survei banyak yang merespons bagus, positif. Namun sampai hari ini kita masih coba untuk terus memperbaiki, karena ini dari putra Kalbar, putra daerah dan kita akui kita kekurangan update teknologi, tapi kita tetap berusaha untuk selalu memperbaiki,” pungkasnya.Sumber: Kumparan ...
Mexican Startup Offers DIY Aquafeed Solution by Upcycling Wastewater
Startup

Mexican Startup Offers DIY Aquafeed Solution by Upcycling Wastewater

The process converts carbon dioxide, nitrogen and phosphorous into protein, and releases oxygenThe search for sustainable fish feed has led innovators to ingredients like soy, peas, wood, rapeseed, insects and even microbes fed natural gas. Now Marissa Cuevas is trying a different feed input: fish output.Cuevas is the founder and CEO of MicroTERRA, a Mexico-based startup developing systems that use microalgae to turn fishpond wastewater into protein for fish feed. The circular system not only cleans and oxygenates dirty pond water for re-use, but could allow a fish farmer to produce up to 60 percent of their own feed, she says.“It’s autonomous production on-site,” Cuevas told the Advocate. “The idea is to provide technology so they can be self-sufficient in their fish feed production.”Cuevas, who has a background as a renewable energy engineer and a master’s degree in sustainability management came up with the upcycling idea after learning about the impacts of wastewater and agricultural runoff, which can deposit high levels of nitrogen and phosphorus in oceans and waterways, leading to toxic algae blooms, fish die-offs and low-oxygen areas known as dead zones.“I thought, there must be a way to take those nutrients out of the water and put them back in the soil, because ultimately nitrogen and phosphorous are key to our nutrition,” she said.Left to right: Paola Constantino, CTO; Arlet Rodriguez, biotech researcher; Mariana Elías, project manager; Marissa Cuevas, CEO; Fernando Cuevas, trainee. Photo courtesy of MicroTERRA.From microalgae to fish feedCuevas ruled out using kelp or seaweed to capture wastewater nutrients, because of the plants’ long growing time. “Then I looked at the smallest plants in the world – microalgae,” she said.She developed a system in 2018 for turning wastewater into fertilizer but found there was not enough of a market for the product. Then while interviewing a farmer for her market research, she noticed tilapia tanks on his property.“As soon as I saw the tilapia tanks, I thought, this is the water we need,” she said. “It was full of nutrients and it was already in the pipeline.”When Cuevas learned that one of the farmer’s biggest problems were the cost and variability of his fish feed, the lightbulb went off.“I went back to our CTO and said, ‘Can we do fish feed?’” Cuevas recalled. “She said, ‘of course we can.’”For Cuevas, the idea “made so much sense,” she said. “By creating a sustainable product out of that wastewater, we’re also replacing fishmeal. The impact on oceans would be even bigger.”A microscopic view of the microalgae consortia MicroTERRA uses to clean water. “These are the heroes of the story, the fastest biomass on earth, and therefore the best microorganism to clean water,” said CEO Marissa Cuevas. Photo courtesy of MicroTERRA.A self-contained systemIn 2019, the company launched its pilot project, a The 5,000-liter system now operating at a fish farm in Irapuato, Mexico, which produces around 4 kg of fish feed per day.In the MicroTERRA system, wastewater flows into bioreactors, where it mixes with microalgae. The tiny organisms absorb carbon dioxide from the water, along with nitrogen and phosphorous, converting the nutrients into protein, and releasing oxygen. The cleaned water is returned to the fish pond, while the protein is mixed with other ingredients to create pellets for fish feed.Technicians can monitor the system remotely with sensors and communicate with the farmer if something needs attention, like adjusting the pH, or opening a valve to circulate water.Cuevas estimates a 100,000-liter system would cost about $250,000.“The idea is that because it’s displacing fish feed, the payback period is approximately five to seven years,” she said.MicroTERRA is focusing on Latin America as a market for the systems, because of the region’s warm climate and abundance of sunlight. With no need for artificial lighting or temperature, “our systems can stay affordable,” said Cuevas.In addition to selling systems to fish farmers, Cuevas is looking at fish feed producers as a potential market. “Latin American has a huge market not just for fish but also for fish feed,” she said. “They’re already searching for sustainable protein, and I think for them our system could be super interesting.”The company’s next project, a 25,000-liter system, which will produce an estimated 20 kg of fish feed per day, is scheduled to be deployed in February and March at a tilapia farm in Apaseo el Grande, Mexico.The MicroTERRA team. Courtesy photo.‘Really intriguing idea’The company was selected for the 2019 cohort by the Techstars Sustainability Accelerator, a prestigious three-month mentoring and business development program backed by The Nature Conservancy. The program seeks to support viable businesses that are addressing top environmental challenges, including protecting land and water, providing food and water sustainably, building healthy cities, and tackling climate change, according to Robert Jones, global lead for aquaculture at TNC. The accelerator had been actively seeking aquaculture companies to apply; MicroTERRA was the first to be accepted.“I think MicroTERRA has a really intriguing idea,” Jones said. The company stands out because it addresses two major challenges facing aquaculture: reducing the environmental impact of effluent, particularly from pond-based systems; and feed sustainability. The concept addresses both challenges in a self-contained system, while also building on the concept of a circular economy and regenerative agriculture, he argued.“We do need innovations like this to help aquaculture become more sustainable,” Jones said. Particularly intriguing is the fact that MicroTERRA’s system would be beneficial to small and medium-sized pond-based aquaculture operations. “I think that’s very compelling.”Scaling upJones worked with MicroTERRA to address technical challenges around commercialization, including building connections with technical experts to help design studies on feed profiles.Cuevas said the program helped MicroTERRA transition from R&D to the next phase, and scale-up. “Techstars was an amazing experience to grow the business behind the idea,” she said.The startup’s next step is a fundraising round, planned for the first quarter of 2020. Cuevas also hopes to form a strategic partnership with a fish feed producer. “Ideally we would focus only on the wastewater treatment and transforming it into a sustainable protein and let the experts in the field create the fish feed,” she said.MicroTERRA has a bright future, Jones said. “The leadership of the company is very strong. This is a high-energy, enthusiastic, very knowledgeable group of female entrepreneurs from Mexico, who really want to see this done for the good of the planet and think they can make money at it,” he said. “I wouldn’t underestimate the ability of this group to be successful.”Source: Aquaculture Alliance ...
Digifish 2019, KKP Dorong Terobosan Sektor Perikanan Lewat Inovasi Teknologi Digital
Startup

Digifish 2019, KKP Dorong Terobosan Sektor Perikanan Lewat Inovasi Teknologi Digital

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong para pelaku usaha perikanan untuk melakukan terobosan-terobosan melalui inovasi teknologi digital. Hal ini disampaikan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo saat membuka perhelatan Digifish 2019 bertajuk “Incubating Ecosystem of Digital Innovation” yang terselenggara atas kerja sama KKP, Minapoli, dan Himpunan Alumni Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB di Kantor KKP, Jakarta, Selasa (3/12).Turut hadir dalam kesempatan ini Direktur Jenderal Budidaya Slamet Soebjakto; Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Rina; Rektor IPB Luki Andrianto; Dekan Fakultas Ilmu Perikanan UNPAD Yudi Nurul Ikhsan; CEO Minapoli Rully Setya Purnama; Ketua Himpunan Alumni Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB; serta para pelaku usaha industri kelautan dan perikanan.Menteri Edhy mengatakan, perkembangan teknologi dan digitalisasi merupakan terobosan global yang tak bisa dihindari. Perkembangan industri 4.0 mendorong dunia usaha, termasuk perikanan, untuk membuat inovasi-inovasi ke arah pemanfaatan teknologi dan ekonomi digital.Inovasi tersebut, lanjutnya, bisa berupa perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software). Dalam bidang hardware, Menteri Edhy mencontohkan inovasi berupa kincir dari paralon yang telah berhasil dikembangkan oleh siswa Politeknik Kelautan dan Perikanan di Sidoarjo.“Kemarin saya jalan dan lihat langsung bagaimana anak-anak kita sudah bisa membuat paralon menjadi kincir untuk memutar air di pertambakan udang. Nah, bagaimana kita memperbanyak inovasi-inovasi seperti ini? Ini salah satu tantangan kami di KKP,” ucapnya.Untuk itu, Menteri Edhy mendorong para pelaku usaha perikanan untuk memanfaatkan peluang ini dengan membuat inovasi-inovasi baru guna mengoptimalkan industri perikanan melalui konferensi, startup showcase, sesi networking, dan pameran inovasi dalam Digifish 2019.“Digifish adalah sebuah terobosan. Saya sangat berharap ini akan menjadi jawaban buat kita untuk melakukan terobosan-terobosan baru sehingga memperkaya kami pemangku kebijakan dalam berinovasi,” ucapnya.Menampik anggapan bahwa digitalisasi akan mematikan lapangan pekerjaan, Menteri Edhy menegaskan bahwa digitalisasi di sektor perikanan akan tetap menyerap luas sumber daya manusia. Sebab, masih banyak luas lahan perikanan yang belum dimanfaatkan secara optimal saat ini.“Luas lahan kita jauh lebih dari cukup untuk menyerap semua orang yang akan berkontribusi di sini. Luas panjang pantai kita itu baru 10 persennya yang sudah termanfaatkan. Itu pun belum optimal. Kalau kita fokus di 10 persen ini saja, penyerapan lapangan pekerjaannya akan lebih tinggi. Kalau masih kurang juga, masih ada 90 persen lahan yang bisa dimanfaatkan,” tuturnya.Sementara itu dari segi pasar, Menteri Edhy menyatakan bahwa para pelaku usaha tak perlu khawatir bahwa produksinya akan berlebih (oversupply). Kebutuhan pasar dalam negeri maupun ekspor masih terbuka lebar. Selain itu, ikan juga mudah untuk disimpan dibandingkan produk agro lainnya seperti beras. Menurutnya, ikan cukup disimpan menggunakan cold storage dan memiliki tingkat ketahanan yang cukup panjang. Hal ini juga akan berdampak positif secara nasional sebagai cadangan pangan.“Kebayang tidak kalau suatu saat kita punya cadangan ikan sampai 10 juta ton? Bagaimana negara lain akan memandang kita? Kita juga tidak akan pernah takut kehilangan protein,” ucapnya.Untuk mendukungnya, Menteri Edhy menekankan bahwa pemerintah akan hadir dan menyiapkan berbagai macam kebutuhan yang diperlukan oleh para pelaku usaha, termasuk dari sisi riset sampai operasional dan pemasaran.“KKP hanya bisa berharap bahwa kita semua ini merupakan terobosan yang bisa menemukan solusi-solusi yang dibutuhkan. Kami siap untuk membangun industri perikanan, baik itu budidaya maupun tangkap dalam kerangka keberlanjutan. Kita siap menjadi mitra, pembina, pelayan, dan pengasuh dalam setiap kesempatan yang ada,” ucapnya di hadapan ratusan peserta yang hadir.Selain itu, Menteri Edhy menyebutkan bahwa KKP sebagai pemangku kebijakan akan menyederhanakan regulasi-regulasi yang menghambat. “Kita akan bereskan. Tidak ada lagi regulasi yang menghambat. Kalau bisa, pengurusan izin bisa diselesaikan dalam satu jam saja.Hal senada disampaikan oleh Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto. “Kami siap untuk memfasilitasi anak-anak muda untuk membangun akuakultur ke depan. Ini adalah waktunya akuakultur untuk berkembang,” ujarnya.Ini merupakan kali kedua DIGIFISH diselenggarakan setelah digelar perdana pada tahun 2018 lalu. CEO Minapoli Rully Setya Purnama menjelaskan bahwa acara tahun ini bertujuan untuk membentuk ekosistem untuk inovasi digital agar dapat digunakan oleh industri. Selain itu, seluruh pihak yang terlibat juga berupaya untuk mencari solusi atas tantangan yang ada di bidang perikanan. “Untuk itu, dalam Digifish 2019 ini kami mempertemukan enam komponen pendukung yaitu pelaku usaha, pengguna atau industri, regulator, perguruan tinggi, akselerator, dan investor,” pungkasnya.Sumber : KKP News ...
DIGIFISH 2019, Membangun Ekosistem Inovasi Digital Kelautan dan Perikanan
Startup

DIGIFISH 2019, Membangun Ekosistem Inovasi Digital Kelautan dan Perikanan

Jakarta – Setelah pada tahun sebelumnya sukses menggelar Digifish 2018, Minapoli kembali menyelenggarakan Digifish 2019, sebuah event inovasi digital di bidang kelautan dan perikanan terdepan di Indonesia. Tahun ini, Minapoli bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (DJPB-KKP) dan Himpunan Alumni Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (HA-FPIK IPB). Digifish 2019 akan mengusung tema “Incubating Ecosystem of Digital Innovation” dan rencananya akan diselenggarakan pada hari Selasa, 3 Desember 2019 bertempat di Ballroom Gedung Mina Bahari 3, Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia.Tujuan dari diadakannya Digifish 2019 adalah untuk menginkubasi lahirnya ekosistem inovasi digital kelautan dan perikanan sehingga inovasi yang muncul mulai dari perguruan tinggi dapat terkonversi hingga dapat digunakan oleh pelaku industri. Melalui ekosistem tersebut dapat mendorong dan menjembatani hadirnya inovasi yang dapat menjadi alternatif solusi atas tantangan yang ada saat ini dan berkembang kedepan di bidang kelautan dan perikanan. Selain itu hal penting lainnya dengan ekosistem tersebut diharapkan dapat tercipta jalinan sinergi yang lebih baik sehingga dapat mendukung akselerasi industri kelautan dan perikanan.“Event ini sudah menjadi agenda tahunan Minapoli. Karena event ini merupakan salah satu bentuk kepedulian, sumbangsih dan komitmen kami dalam mendukung perkembangan industri kelautan dan perikanan khususnya melalui ekosistem inovasi digital” ujar Rully Setya Purnama,  CEO Minapoli, penyelenggara Digifish 2019.Rully yang juga merupakan Ketua Divisi Startup HA-FPIK IPB ini, menyampaikan bahwa Digifish 2019 akan melibatkan lebih banyak lagi komponen stakeholders antara lain perguruan tinggi, startup accelerator dan investor. Hal ini akan melengkapi ekosistem inovasi yang sebelumnya sudah melibatkan startup, pemerintah dan pelaku industri saat Digifish 2018 tahun lalu.Rangkaian event Digifish 2019 akan terdiri dari Conference, Startup Showcase, Innovation Expo dan Networking Session. Total ada 18 pembicara yang akan ikut serta meramaikan event ini dari dalam dan luar negeri mulai dari KKP, Bappenas, Startup Accelerator dari Norwegia, Venture Capital, Startup, Perguruan Tinggi hingga Asosiasi Petambak Muda Indonesia. Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, Bapak Edhy Prabowo dijadwalkan akan menjadi Keynote Speaker pada event ini.Daftar Pembicara Digifish 2019 antara lain:- Slamet Soebjakto, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP- Sri Yanti, Direktur Kelautan dan Perikanan Bappenas- Coco Kokarkin, Sekretaris Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya KKP- Georg Baunach*, HATCH Accelerator- Richard Budhitresno, East Ventures- Cynthia Darmawan, Petambak Muda Indonesia (PMI)- Farid Naufal Aslam, CEO Aruna- Gibran Huzaifah, CEO eFishery- Paundra Noorbaskoro, CEO GrowpalModerator :- Luky Adrianto, Dekan Fakultas Perikanan & Ilmu Kelautan IPB dan Ketua Forum Pimpinan Perguruan Tinggi Perikanan dan Kelautan Indonesia (FP2TPKI)- Anugerah Erlaut, Runner Up Aquaculture Innovation Challenge (AIC) 2019Digifish 2019 ditargetkan akan dihadiri lebih dari 180 peserta, mulai dari para pembudidaya ikan/udang sebagai pengguna inovasi, startup/pelaku inovasi, supplier sarana dan prasaran produksi perikanan, perguruan tinggi, startup, asosiasi perikanan. Jangan sampai Anda ketinggalan mengikuti event inovasi digital kelautan dan perikanan terdepan di tanah air ini. Segera daftarkan melalui link ini. ...
Inovasi Sarjana S2 ITB ini Bikin Panen Udang Meningkat
Startup

Inovasi Sarjana S2 ITB ini Bikin Panen Udang Meningkat

Agar budidaya udang sehat tumbuh, dengan baik, udang memerlukan kualitas air yang baik, yakni memiliki kadar oksigen yang cukup. Beranjak dari kebutuhan tersebut, Dedi Cahyadi, sarjana magister bidang teknik lingkungan ITB, membuat teknologi yang dapat meningkatkan kualitas oksigen dalam air lebih baik. Melalui inovasi teknologi Nanobubble ini, Dedi telah membantu sejumlah petambak dan meningkatkan hasil panen mereka empat kali lipat dibanding hasil panen biasanya.Dedi menuturkan, kualitas oksigen yang baik merupakan salah satu komponen penting untuk mendukung terciptanya ekosistem yang baik untuk pertumbuhan udang. Oleh karena itu Nanobubble hadir untuk membuat kondisi kualitas air semakin baik, oksigen tinggi, dan udang bisa bertumbuh kembang lebih cepat."Otomatis panen besar, dan petani ikut bahagia," kata Dedi saat ditemui di acara Kompetisi Wirausaha Muda Mandiri (WMM) 2019, beberapa waktu lalu. Keberadaan Nanobubble ini berimplikasi pada hasil panen para petani udang. Karena pada prinsipnya Nanobubble ini menginjeksikan (atau memasukkan) gas ke dalam perairan dengan sangat efisien.Dedi menjelaskan, mesin Nanobubble tersebut mampu menghasilkan air yang berkadar oksigen tinggi. Tingginya kadar oksigen di tambak memberi dampak positif terhadap udang, di antaranya adalah nafsu makan udang bertambah, sistem imun udang bertambah bagus, bakteri dan penyakit yang jahat pun tidak dapat hidup pada kondisi oksigen yang baik ini. Tak hanya itu, perkembangan udang pun menjadi lebih cepat dan progresif dan jumlah udang di tambak bisa ditambah jumlahnya sehingga panen lebih besar. Untuk menghasilkan teknologi Nanobubble, Dedi perlu menghabiskan waktu tiga tahun untuk melakukan riset dan satu tahun piloting uji coba operasional.Sejak kuliah di bangku S1 di Universitas Brawijaya Malang, Dedi mendalami teknologi pertanian khususnya di perairan. Ia pun melanjutkan S2 di Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk belajar teknik lingkungan (air dan tanah). Pada kesempatan berikutnya, Dedi melakukan riset bersama untuk masalah pengelolaan air sungai dan danau. Selain meningkatkan kualitas udang, mesin Nanobubble ini dapat diaplikasikan kepada mitra petambak udang secara gratis dengan sistem bagi hasil 20% dari setiap keuntungan. "Ada skema penjualan, skema penyewaan mesin dibayar panen, ada juga skema bagi hasil untuk kasus dan customer khusus," katanya. Bukan tanpa alasan Dedi menjadikan udang sebagai komoditas dalam fokusnya mengembangkan Nanobubble. Menurutnya, seperti makhluk hidup lain yang butuh kebahagiaan, demikian juga dengan udang. "Misi membahagiakan udang ini prinsipnya semua makhluk perlu bahagia untuk bisa membahagiakan yang lainnya. Udang pun sama, dia hidup, makan, buang kotoran di air. Dia butuh kebahagiaan," kata Dedi. Berkat inovasinya, Dedi pun lolos ke babak grand final Wirausaha Muda Mandiri 2019. Pemilik usaha NANOBUBBLE.ID ini pun berhasil meraih penghargaan Best of The Best dalam kompetisi tersebut. "Ada proses belajar, mengenal relasi, proses pengembangan diri dan bisnis, dan tentunya kompetisi yang sehat membuat kami semakin memiliki mental yang baik," ujarnya. Hadiah yang diperoleh dari kompetisi WMM 2019 pun akan menjadi bahan bakar untuk mengakselerasi bisnis Nanobubble dan membuat beberapa percontohan kolam untuk masyarakat pesisir. Sebagai peraih penghargaan Best Of The Best WMM 2019 kategori teknologi, Dedi mendorong generasi milenial untuk mampu tanggap mampu tanggap dan sigap terhadap perubahan zaman (era disrupsi). Mampu mengubah masalah menjadi peluang bisnis sehingga dari situ mampu membuka lapangan pekerjaan. "Untuk yang memulai usaha kuncinya dua, resiliensi (daya tahan) dan Keep learning (selalu belajar, memiliki mentor, mempererat silaturahmi, masuk komunitas bisnis kreatif/produktif)," tuturnya. Saat ini NANOBUBBLE.ID juga sedang bekerja sama dengan beberapa pihak ketiga untuk melakukan pendanaan bersama paket teknologi Nanobubble untuk ke masyarakat miskin pesisir. Dalam pengembangan Nannobuble tersebut, dalam lima tahun ke depan ia berharap dapat melayani 1500-2000 hektar tambak di Indonesia dan menjadi unicorn startup. "Sepuluh tahun ke depan menjadi produsen teknologi perikanan terbesar di Indonesia, PO atau merger dan acquisition dengan perusahaan lain serta menjadi market leader mesin aerasi untuk perikanan, pengolahan limbah cair, dan untuk layanan lainnya," ungkap Dedi. Pemilihan pemenang WMM 2019 dilakukan dengan proses penjurian yang lebih ketat dan dewan juri yang sangat kompeten, seperti Sutradara Dimas Djajadiningrat, Chef Renata Moeloek, aktor dan pemerhati sosial Nicholas Saputra serta Founder Bubu.com Shinta Dhanuwardoyo. Sumber : Detik.com ...
Walmart and IBM Team up to Track Shrimp Using Blockchain
Startup

Walmart and IBM Team up to Track Shrimp Using Blockchain

Retail giant Walmart plans to launch a supply chain tracking system to encourage food safety standards in Southeast Asia. Walmart has announced a pilot to track shrimp imports from India to the USA using blockchain technology.The retail giant plans to track shrimp imports between Andhra Pradesh, a gorgeous coastal region in India’s southeast, and U.S.-based retail warehouses, using blockchain technology developed by IBM. It will feature “end-to-end traceability,” according to a press release issued Friday.“The introduction of blockchain in the shrimp supply chain could help improve the quality of information on the product for compliance purposes and for sharing with consumers, providing added traceability beginning at the farm and extending throughout the transportation process,” the company said.The system will be available only to small-time farmers enrolled in Walmart’s membership-only retail warehouse chain Sam’s Club, whose food-safety program requires compliance with international best aquaculture practices (BAP). Walmart will provide funding for smallholder farmers in Andhra Pradesh to receive BAP training as part of the scheme.“This end-to-end blockchain pilot is the first of its kind in India and has the potential to create long-term economic opportunity for the shrimp farming community in Andhra Pradesh, directly benefiting the farmers through new skills training and development,” said Chowdary Kunam, managing director of Indian seafood processor Sandhya Aqua. The processor is participating in the project alongside US-based supplier Stanley Pearlman Enterprises. Walmart has been dabbling in blockchain for a while, working alongside the IBM Food Trust blockchain project since 2017. Its latest project is slated to run on IBM’s blockchain technology, which the retailer has previously used for a system designed to track lettuce supply chains.Separately, Walmart has attempted to patent a digital currency. The currency, which would be backed by a reserve of dollars, drew comparisons to Facebook’s Libra project when it was revealed earlier this year. In this latest project, let’s hope Walmart implements anti-monkfish-laundering provisions!Source : Decrypt   ...
Omnivore Invests in $1.1 Mn Seed Round of Aquaculture Startup Aquaconnect
Startup

Omnivore Invests in $1.1 Mn Seed Round of Aquaculture Startup Aquaconnect

Chennai-based Aquaconnect has raised a seed round of $1.1 Mn from agritech focussed VC Omnivore, and company’s existing investor HATCH. As a part of this investment, Omnivore’s Chennai office lead Reihem Roy will be joining Aquaconnect’s board to support the company’s growth strategy.Aquaconnect has built a big data and artificial intelligence (AI) enabled mobile application — FarmMOJO — to advise farmers on their pond operations based on constant monitoring of the pond and other data capture by IoT platforms. With this new funding, the company plans to introduce image recognition feature in the FarmMOJO app in order to speed up the data input process for the farmers.Aquaconnect’s cofounder Rajmanohar Somasundaram told Inc42 that these fresh funds will be used in developing an image recognition feature in FarmMOJO app. “This new feature will allow farmers to write down the pond’s stats on a paper and upload them on the app by just taking a picture of that sheet.”Further, the company also plans to invest in setting up 10 Aquaconnect stores around the shrimp farm regions of Tamil Nadu, Gujarat and Andhra Pradesh. These stores will serve both as a marketplace for farm-related products such as seeds, probiotics etc, along with becoming a customer touchpoints for the farmers. “We aim to reach 15K shrimp and fish farmers across India and Indonesia by December 2020. In Indonesia, we are initially targeting Sulawesi and Surabaya regions in Java,” he added. Shanmugha Sundara Raj, Sanjai Kumar and Somasundaram have founded Aquaconnect in 2017. The company had earlier raised pre-seed funding from HATCH accelerator in 2018. FarmMOJO claims to help shrimp farmers in the daily management of their culture growth, which determines the quality of the final product. This includes optimisation of feeding, disease prediction and control, and water management.For instance, it is important to ensure effective feed usage and biomass conversation in shrimp farming. So, at any point, if FarmMOJO observes poor feed conversion ratio (FCR), it recommends actions and relevant products the farmer can use to normalise the pond environment.In the two years since inception, Aquaconnect claims to have brought 3K farmers on board and has generated a revenue of INR 2.4 Cr in FY18. Aquaconnect primarily depends on a subscription model for monetisation, where farmers pay to use its app every month. Farmers can subscribe to a basic plan in FarmMOJO at the INR 500 per pond they manage. The subscription plan allows farmers to record data, access FarmMOJO’s web module and connect to the marketplace.Commenting on the investment, managing partner of Omnivore, Mark Kahn said, “The Government of India is ramping up support for the aquaculture sector, carving out a separate Ministry of Fisheries, animal husbandry, and dairying as well as launching the Pradhan Mantri Matsya Sampada Yojana (PMMSY). We believe Raj (Rajmanohar) and his team are building one of the most promising agritech startups globally.” Shrimp Farming In IndiaShrimps, also commonly known as prawns, contribute around 70% of the total seafood export from India, which is worth about INR 45K Cr. The International Market Analysis Research and Consulting (IMARC) Group has predicted that the Indian shrimp farming market would reach a volume of 1.13 Mn tonnes by 2024, undergoing a CAGR of around 9% between 2019-2024.In 2018, India’s Central Institute of Brackishwater Aquaculture (CIBA), had also launched a shrimp farmers focused mobile application, Vanami Shrimpapp. The app allows farmers to access best pond management practices, carry out input and sampling calculations, predict disease outbreak, on-farm risk assessment along with accessing government guidelines and regulations.Globally, Aquaconnect competes with the likes of San Francisco-based AI company Aquabyte, Australian machine learning platform sense-t, Indonesian AI and IoT enabled company efishery, and Norwegian Seafood Innovation Cluster’s AquaCloud. The global aquaculture market was valued at $169 Bn in 2015 and is expected to grow at 5.3% CAGR to touch $242 Bn by 2022. Besides India, Aquaconnect is also targeting the other large shrimp production markets such as Thailand, Indonesia, Vietnam, and Bangladesh. Source : https://inc42.com ...
How AI is Helping This IIT Alumnus Who Has Pledged to Save The Aquaculture in India
Startup

How AI is Helping This IIT Alumnus Who Has Pledged to Save The Aquaculture in India

The demand for seafood in India is growing faster than ever and consumers are becoming more interested in the nutritional advantages of their food choices. As maintaining ocean health and wild fish stocks is becoming a major concern, it is becoming increasingly important to take care of the aqua community. Indian aquaculture is a $7 billion worth industry and only a handful of technology startups are working on this domain in India. Rajamanohar Somasundaram, an IIT Alumnus, is taking the lead in the aquaculture industry where he is using the power of IT, artificial intelligence and IoT skills to get a profound impact on the industry. Using these technologies he has been able to positively impact the lives of 3,000 aqua farmers in coastal India and is now planning to expand internationally to run pilots in Aceh and Sulawesi by the end of 2020. Analytics India Magazine got in touch with Somasundaram to get an inside view on how he is promoting sustainable fish and shrimp farming using AI. Founded in 2017, Aquaconnect is a full-stack aquaculture technology venture that offers data-driven farm advisory solutions and market place solutions to Shrimp and Fish farmers. They have an AI-powered farm advisor tool FarmMOJO, that is helping farmers to enhance their farm productivity. Analytics India Magazine: Please tell us about your initiative Aqua Connects and how did it come into existence?Rajamanohar Somasundaram: It was a serendipitous meeting with a shrimp farmer, Sanjai that sparked the idea of Aquaconnect. During the conversation with him, I got to learn about the shrimp farming industry and its challenges such as high production cost and diseases outbreaks.  With further research, I learned that Aquaculture in India has evolved as a viable commercial farming practice and has been showing an impressive annual growth rate of 10-15% every year. The industry exports are valued at around 7 billion USD in 2018. India stands top on shrimp production and it contributes 70% of Indian aquaculture export value. Though it is a 7 billion dollar industry, it still lacks the technology adoption and efficiency it is expected to have. Around 2 million rural farmers and coastal communities depend on shrimp & fish aquaculture, where traditional farming practices prevents them in achieving production efficiency and diseases prediction.Having founded 3 technology ventures in past, I sensed an opportunity to use artificial intelligence technology to help solve the fish & shrimp farmer’s problems. My research pointed to the fact that a lack of data-driven farming is one of the biggest challenges yet to be addressed by the industry to achieve sustainability.I started Aquaconnect with Sanjai and Shanmugam with a goal to promote a pioneer Indian full-stack aquaculture technology company that promotes the data-driven farming practice. Our data-driven marketplace helps aqua farmers to connect with the upstream and downstream supply chain in the aqua industry. AIM: How has artificial intelligence helped in achieving your goal of positively impacting aqua farmers in a coastal area?RS: It has impacted us in 3 key areas: Impact on aqua farmers: AI helps farmers in various aqua farming activities such as decision making, production planning, disease prevention and growth management. And AI unleashes the real potential of farm data and encourages farmers to practice data-driven farming. Our AI advisory gives transparency in farming activity and advisory to regulate and control the operational cost.Feed usage optimisation: Often, unregulated feeding results in high production cost and put pressure on limited resources. Feed constitutes about 70% of the production cost and it is necessary to optimize the feed usage to achieve efficiency and control cost. Growth of the animal depends on the right feed usage. Bringing feeding efficiency can help farmers to have better returns from their farms. Artificial intelligence regulates feed usage by analysing the data from the pond level and creates patterns to avoid feed waste and ensures the right quantities. FarmMOJO’s AI helps farmers to reduce 10% feed cost through its feed efficiency model.Further, farm care ML algorithm analyzes the performance of competitive farm care products on the ground (Feed, Probiotics, Minerals) and based on their past performance it provides a personalized recommendation to the farmers.Disease prediction and prevention: Implementing AI technologies in aquaculture make possible for aqua farmers to detect diseases well in advance and take preventive measures to secure the animals. We have built a disease prevention model call “Morby-mass” that involves reducing the occurrences of diseases. During the pilot, FarmMOJO predicted the diseases in over 120 pounds and helped farmers to take corrective actions and also minimize the losses.AIM: What are the AI tools and technologies that you use for your workings?RS: We use FarmMOJO AI technologies, frameworks such as TensorFlow, languages like Python, libraries such as NumPy, sci-kit-learn and algorithms such as linear regression, random forest, kNN, K-Means. AIM: Where are the various data points collected from? What is the kind of data that you work with?RS: We collect farm-level data such as pond size, stocking species and stocked volume. And also pond level data such as feed inputs, water quality parameters, and animal health status at regular intervals. This data helps us create feed efficiency model, growth model and disease prediction models. Collected data will be analysed with our feed efficiency AI models to understand animal performance with respect to various factors. Based on the AI module analysis, FarmMOJO gives a comprehensive report on pond operations and suggests relevant products to be used.AIM: Please elaborate on the problem statement that you are aiming to solve highlighting how AI is used in the process. Please elaborate on the AI use case.RS: The Fish and shrimp farmers have been facing several problems such as high costs in unscientific farming practice, constant monitoring of water quality, feed intake, identifying anomalies and biomass conversion. Poor biomass conversion and disease management are some of the major concerns of the industry that has not been addressed yet. Also, the lack of data and data-analytics driven decision has a negative impact on production efficiency, traceability and disease management.Therefore, a need for the technology that enables AI-driven real-time analysis and promotes sustainable farming to achieve production efficiency, predict diseases and traceability. To address these challenges we have built AI models that analyse the pond level data continuously such as morby-mass model, pond Health Monitoring model, healthcare management model, growth Prediction Model and feed optimization model. They have helped in detection and reporting issues at an early stage.  AIM: Please tell us about FarmMOJO and how it works?RS: FarmMOJO, an AI-based mobile farm advisor, record and monitors the real-time production data gathered from the farms through the mobile application interface. Collected data will be analyzed in real-time and our prediction model uses the deep learning algorithm to provide context-sensitive suggestions and alerts to improve the water quality parameters, feed consumption pattern and health management. FarmMOJO understands the farmer’s needs inherently based on the input given by the farmer as well as the data captured by the IoT/Smart farm management platforms. FarmMOJO alerts the farmers about parameters which are not in optimal levels. For instance, at any point MOJO observes poor Feed Conversion Ratio (FCR), it will suggest the necessary actions and relevant product to be used to normalize the pond environment to boosts FCR. It simplifies the farm operations for the farmer and improves efficiency, predictability, and transparency.With FarmMOJO’s data intelligence and location-aware capabilities, we connect farmers with up-streams (Processors, Certifying bodies) and downstream ( Hatcheries, Feed and healthcare) of the aquaculture supply chain.AIM: How is the reach of aqua connects? What are the various places/clients where it is being used?RS: Currently, Aquaconnect works with 3000 farmers in various states of India ie., Tamil Nadu, Andhra Pradesh & Gujarat.  We have implemented our FarmMOJO application for 1900 pounds in a short period of 9 months. We are piloting our solution in Sulawesi, Indonesia.AIM: What is your roadmap from Aqua connects in the coming future? What are some of the goals you wish to accomplish?RS: We are aiming to further expand into three states — Tamil Nadu, Andhra Pradesh and Gujarat, deploy FarmMOJO in 8000 ponds and increase the operating revenue to 400%. We also aim to increase our strategic partnerships to positively impact aquaculture production. We also plan to establish our presence in Indonesia by the end of the year. With FarmMOJO’s data intelligence, Aquaconnect aims to create a data-driven marketplace for Indian aqua Industry by connecting stakeholders under one umbrella. We are striving to create financial and insurance products for the aquaculture industry so that farmers can access farmer financial products and insurance coverage for farming activities.AIM: What have been some of the challenges in adopting AI into your project? RS: Some of the challenges we faced were farm data collection and integrity of the data, the steeps technology learning curve, cost of technology adoption, availability of large data sets and data integrity is one of the critical aspects for any successful AI project. Due to low technology adoption among Indian farmers, we found the data collection very challenging in the initial days. It costs time, effort and capital for us to bring awareness among farmers and train them on FarmMOJO.Source : Analytics India Magazine ...
Indonesia’s Aquaculture Goes Digital
Startup

Indonesia’s Aquaculture Goes Digital

New technologies are helping Indonesia tap into its huge potential in aquaculture and cement its position as one of the world’s top aquaculture nations.Indonesia’s aquaculture sector has enjoyed strong growth over the past decade and the country’s 6.2 million metric tonnes in 2017 placed it behind only China and India in terms of output.While marine capture fisheries production grew around 34 percent from 2008 to 2017, growth in Indonesia’s aquaculture sector exploded by 264 percent during the same period according to data from the United Nations Food and Agriculture Organisation (FAO).Increase productivityAround 3.3 million people are directly employed in Indonesia’s aquaculture industry, but 80 percent of all fish producers and 70 percent of all shrimp producers are smallholders who use manual methods, highlighting the sector’s massive promise.Aquaculture is expected to provide close to two-thirds of global food fish consumption by 2030, and ensuring that effective technology tools such as data analytics and the Internet of Things (IoT) are in place will help maintain the industry’s sustainability and continued growth.Although Indonesia has about 26 million hectares of coastal land which is suitable for aquaculture expansion, much of it includes ecologically sensitive mangrove and coral reef habitats.  Apart from having high biodiversity value and playing a vital role in climate change resilience, these coastal lands provide critical ecosystem services that are the foundation of economic sectors such as fisheries and tourism. The greatest economic returns are likely to be achieved through the implementation of more productive processes on existing farms as opposed to launching new ones. Smart feeding systemStart-ups such as eFishery, which markets itself as the first ‘fishtech’ start-up in Indonesia, are helping to provide farmers with the right tools they need to get the most out of their fish farms. Founded in 2013, eFishery provides an IoT automatic feeding system which allows farmers to monitor and schedule feeding times.The feeding system’s in-water vibration-based sensor, combined with machine learning, detects and determines the appetite of the fish to avoid overfeeding or underfeeding and releases the optimal amount of feed. Fish feeding accounts for 60 to 90 percent of total production costs in commercial aquaculture and is primarily done using hand-feeding methods. These methods often result in underfeeding or overfeeding – which then leads to malnourishment, feed wastage and negative environmental impact.“eFishery’s Smart Feeder has shortened our harvest cycles and improved our water quality. Our feeds are always in great nutritious condition since they are on top of the water for a much shorter period of time before being eaten,” said Rio Albab, a shrimp farmer from Karawang, West Java. “My pond’s feed conversion ratio has improved significantly (and) the shrimp sizes have evened out because the Smart Feeder distributes the feeds more evenly,” he added.Rio is just one of the over 1,300 fish and shrimp farmers in the country who are using eFishery’s solution across 3,000 ponds. On average, these farmers have reported an increase in profits of over 20 percent.Another start-up, Jala, provides IoT devices that monitor the quality of pond water in shrimp ponds. This data can be accessed online in real-time, and reliable analysis on water parameters is then provided for farmers to effectively manage and treat their ponds – thus minimising the risk of harvest failure.Investors prioritising technologyStart-ups such as Aruna serve as an e-commerce platform for farmers and allows them to sell their produce directly to wholesale buyers, while online fundraising sites and peer-to-peer (P2P) lending platforms such as Growpal and IWAK are also increasingly gaining prominence as viable ways to attract investors.Investors, meanwhile, are increasingly looking at farms which adopt farm data management tools to reduce risk – and if records exist – for investors to assess the risk level of a business more accurately.In a report released last year titled ‘Investment Guideline for Sustainable Aquaculture in Indonesia’, Indonesian non-government organisation (NGO) Yayasan Inisiatif Dagang Hijau advised potential investors to prioritise businesses which adopt water quality sensors to increase their control over water quality and automatic (preferably IT-based) feeding units as a way to reduce overfeeding and to calculate the break-even point.Imaging-based assessments on the size and characteristics of the stock are also other crucial elements investors have been told to prioritise when deciding which companies to invest in.Global fish stock is on the decline thanks to overfishing, and the world’s fisheries haul plunged by two million tonnes from 2015 to 2016 alone. With its strong track record as a major exporter to global markets, the digitalisation of Indonesian aquaculture will have a vital role to play in satisfying the seafood needs of ASEAN and beyond.Source : The Asean Post ...
French Algal Producer Wins Aquaculture Innovation Award
Startup

French Algal Producer Wins Aquaculture Innovation Award

Inalve, a French firm that aims to produce 100,000 tonnes of algae a year for use in sectors including aquaculture feeds and fish health products, has won this year’s Audience Award for Innovation at today’s Aquaculture Innovation Europe event.The prize was collected by CEO, Christophe Vasseur, who pipped a dozen other start-ups to the post, following three sessions of pitches over the two-day event.Inalve, which established a 10-tonne per annum pilot production facility in the south of France this year, plans to produce both a protein-rich algae meal, which he projects can be sold for a price comparable to fishmeal, at around $1,500 per tonne, and “an algae boost, for providing health and providing growth for the animals”, which will be launched at $20,000 per tonne. Vasseur outlined that this “very low environmental footprint” greenhouse-based production system will “change the way we grow microalgae”.Inalve CEO, Christophe Vasseur, is presented with the Innovation Award by Lawrence Brown, animal sciences and aquaculture sector specialist at the UK's Department for International Trade and innovationHe also claimed to have advantages over insect and other plant-based proteins, due to their algal meal having 95 percent digestibility, and noted that “in the last three years we have won more than 10 innovation prizes”, including recognition from livestock feed giants Cargill and Nutreco. Other elements he highlighted were “a very successful proof of concept” and the fact that they had managed to raise €3 million in private investment over three years. Currently building a plant in the south of France, the company aims to launch the first product on the market in 2020.The award was decided by the 120-strong delegates at the London gathering, who were given the chance to award a mark out of ten for seven different aspects of each pitch. These ranged from evaluating the commercial demand for each product, to the originality of the concept, to the quality of the teams each start-up had assembled.Inalve narrowly defeated Stavanger-based Fishency Innovations, which has developed an automated, continuous means counting sea lice called the SmartFunnel. Founder Flavie Gohin told delegates at the event how the device was already able to count lice on over 100 salmon a day, that Norway’s second biggest salmon producer was planning on using the device, and that the company had recently secured NOK 3 million in funding from Link Venture Capital. Meanwhile, Observe Technologies, which uses artificial intelligence to reduce the biggest costs on fish farms, from feeding to health, came in third place. Their system, explained co-founder and CEO Hemang Rishi, is already in use in 300 salmon farm pens in four different countries.Source : The Fish SIte ...
Indonesian Aquaculture Startup Secures Seed Funding in 500 Startups-led Round
Startup

Indonesian Aquaculture Startup Secures Seed Funding in 500 Startups-led Round

Jala Tech, an Indonesian startup looking to empower shrimp farmers through tech and smart data, secured seed funding in a round led by 500 Startups.US-based Conservation International Ventures and Hatch, an early-stage investor focused on aquaculture startups, also participated in the round. Last year, Jala received funding from Hatch’s aquaculture-specific accelerator program, Hatch Blue.Founded in 2017, the startup is an internet-of-things water management software firm that develops its own hardware products, which are used to monitor water quality on shrimp ponds. It allows aquafarmers to access the data online in real time to minimize the risk of harvest failure.Jala plans to use the new investment to become an early adopter in Indonesia and fund the development process of its products, according to a statement. It claims to have 1,100 users across Asia. According to the statement, while the shrimp industry covers US$24 billion in yearly revenue, it is only a part of the US$160 billion of revenue generated by the entire aquaculture industry. To capitalize on that, the company is planning to diversify its product offerings and expand into wastewater treatment. “Everyone knows about the booming middle class, especially here in Indonesia. They are booming faster than our farmers can feed them,” said 500 Startups managing partner Khailee Ng. In April this year, 500 Startups participated in the US$1.18 million seed funding round for Glife, a Singapore-based startup that connects farmers with restaurants. It has also recently invested US$150,000 in Nigerian agritech startup EZ Farming, which allows users to lend to farmers through its platform.Source : Techinasia ...
Startup Perikanan RI Mau Disuntik Dana Softbank
Startup

Startup Perikanan RI Mau Disuntik Dana Softbank

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan bahwa startup perikanan lokal, Aruna sedang dipantau Softbank sebagai target investasi baru mereka. Luhut bercerita saat dirinya makan bersama dengan CEO Softbank Masayoshi Son, dia meminta Son untuk tidak hanya mendanai Grab saja. Namun, dia meminta Softbank juga menengok startup lokal. "Waktu Softbank datang, saya kan sempat tuh sarapan sama Masayoshi Son ketuanya, saya bilang kamu jangan cuma Grab aja dong, yang lokal juga dikasih," kata Luhut di Ritz Carlton Pacific Place, Rabu (14/8/2019). Hingga akhirnya, menurut Luhut, kini pihak Softbank sudah mengirim orang untuk membicarakan investasi dengan Aruna. "Akhirnya bisa dapat kayaknya si Aruna itu, kabarnya sudah dikirim orang dari Softbank ke mereka," jelas Luhut. Bahkan, Luhut juga menceritakan kini Aruna jadi rebutan para investor. Luhut bergurau, bisa saja Aruna jadi unicorn suatu saat nanti. "Sekarang malah jadi rebutan Aruna itu orang mau investasi, tahu-tahu jadi unicorn aja tuh nanti," ungkap Luhut. Aruna sendiri adalah startup yang bergerak dalam dunia perikanan dan kelautan, di dalamnya Aruna menghubungkan hasil nelayan dengan pasar. Startup ini sendiri merupakan pemenang dari kompetisi startup yang pernah dibuat Luhut.Sumber : detik.com ...
How Telemetry Can Improve Fish Health
Startup

How Telemetry Can Improve Fish Health

A telemetric helmet which will allow vets to assess fish health remotely has been launched by Stim this month.Stim – which was formed by a merger of Europharma’s fish health operations, with Fishguard and ACD Pharma in June – has developed the helmet with a view to allowing site technicians to consult qualified vets remotely.Combined with a portable 4G transmitter, it enables technicians to consult experts remotely by providing them with a real time view of whatever they are observing. It has a range of applications but, given Stim’s fish health specialism, it’s no surprise that they see it first and foremost as a means of improving fish health and biosecurity.“It means that farm technicians can show any possible fish health issues directly to trained vets,” Thomas Vian Pettersen, business development manger for Stim, explains to The Fish Site.One application that’s already being trialled is using the helmet, when combined with an ATP measuring device, to monitor biosecurity aboard vessels such as the state-of-the-art harvesting vessel Norwegian Gannet, which slaughters and transports salmon from fish farms in Norway and Scotland to a processing plant in Denmark.“They currently have to go via Bergen to consult a vet in person, which can mean a 5-6 hour detour, but with technicians on board using the system they should be able to avoid such costly delays,” explains Pettersen. The system launched on 19 August and the slaughtering vessel’s owners, Hav Line Group, are one of the first customers, while other early adopters are Russian Aquaculture and Pure Shipping. Pettersen expects many others to follow suit as the 200,000 kroner a month rental – which covers both the equipment hire and access to a STIM technician – can be quickly paid back.Source : The Fish Site ...
CleanTreat by Benchmark Wins Top Aquaculture Innovation Prize at Aqua Nor
Startup

CleanTreat by Benchmark Wins Top Aquaculture Innovation Prize at Aqua Nor

United Kingdom-based Benchmark Animal Health took home the 2019 Innovation Award at this year’s Aqua Nor event for its CleanTreat technology, a water purification system for aquaculture. Well boats, tankers, platforms, and onshore facilities could all potentially utilize the award-winning CleanTreat, which cleanses treatment water after delousing, according to Benchmark Animal Health. The company is showcasing CleanTreat at Aqua Nor, the world’s largest aquaculture technology exhibition, this week in Norway from 20 to 23 August.According to Benchmark’s Head of Nordics Carolina Faune, the recognition comes as an honor and is very reassuring to the business’s mission. “Our goal is to help the industry grow in a sustainable way. As a green technology company, we believe sustainability is both possible and profitable – not only when using the current medicine on the market, but also when using new ones,” Faune said.  “It’s been 10 years since this project was just an idea – so there’s a lot of hard work behind the final product."CleanTreat works to prevent medicines from sea lice bath treatments from entering the sea. The system may also be applied to treatments aimed at many other diseases and parasitic infections, Benchmark said. Since 2017, the system has been tested in Norway, supporting trials of next generation sea lice treatment and purifying more than 300,000 cubic meters of treatment water.“Norway is, along with other regions, a major market for us. CleanTreat has been tested here, and is in use here in Norway as well. CleanTreat is now commercially available, and we expect our first deliveries next year,” Faune said.A total of 30 applications across 11 countries, including Norway, were entered for Aqua Nor’s 2019 Innovation Award competition. Ecotone AS and Mørenot Robotics AS were among the other nominees competing for the award. As the Innovation Award winner, Benchmark was presented with NOK 100,000 (USD 11,124, EUR 10,028) in winnings and a diploma on the opening day of Aqua Nor, 20 August.  A jury of experts judged all entrants in the competition before deciding upon CleanTreat as the 2019 winner. Among this year’s judges were Fisheries and Aquaculture Research Fund Section Manager Kjell Maroni, senior advisor Oddvar Staulen of Innovation Norway, and senior advisor Jan Henrik Sandberg of the Norwegian Fishermen’s Association. In 2017, another Scottish/U.K.-based company took home the Innovation Award, an indication to Aqua Nor that that “Scottish innovation is really making its mark internationally,” it said in a press release announcing CleanTreat’s win. Source : Seafoodsource ...
"Industry Heavyweights" Help Raise €4 Million for Aquaculture Start-ups
Startup

"Industry Heavyweights" Help Raise €4 Million for Aquaculture Start-ups

Hatch, the world’s first accelerator for sustainable aquaculture startups, is half way through raising its first €8 million fund.The fund is entirely dedicated to high-potential aquaculture technology startups and is slated to close in November 2019. So far, according to Hatch, the funds have been raised by a combination of "industry heavyweights, as well as experienced entrepreneurs".Einar Wathne has joined Hatch's advisory boardThe news comes as the accelerator has put together a senior fund advisory board before kicking off its third accelerator cohort at the Natural Energy Lab Hawaii in Kona, Big Island, on 26 August. The advisors were selected based on their experience in venture capital, aquaculture and entrepreneurial ability."We are combining some big names in aquaculture and venture capital in our board of advisors, all of them successful entrepreneurs and investors themselves. Our fund advisory board has been instrumental in helping us raise the fund so far and most of our advisors are also invested themselves“, says Carsten Krome, managing partner at Hatch.Brian Wynn brings extensive shrimp production experience to the boardThe board for the first-ever aquaculture technology venture fund consists of:Brian Wynn - the LA-based founder and former CEO of Rubicon Resources, a vertically integrated sustainable shrimp farming business that he bootstrapped to $230 million in sales and sold to Highliner for $107 million in 2017. "Brian brings an excellent skill set and network of supply chain and warm-water farming (shrimp) to the table," say Hatch.Einar Wathne - the former CEO of EWOS, who was instrumental in its sale to Cargill for $1.5 billion in 2015. He since has led what became Cargill Aqua Nutrition as president and has stepped down in January 2019. He is now the COB of the Seafood Innovation Cluster, an organisation formed by the major salmon farmers and suppliers in Norway to promote industry. "Einar comes with an important skill set in cold-water fish farming and fish farming supply (feed, health products etc) as well as a wealth in leadership and management experience," Hatch explain.Eric ArchambeauEric Archambeau - a founding partner of Astanor Ventures, he is a former Silicon Valley entrepreneur turned venture capitalist now focusing on technology-enabled sustainable agriculture and food investments. Notable investments include Infarm - an indoor farming Berlin based company specialised on micro-herbs and Ynsect, a large-scale insect production company for the pet food and aquaculture markets. Since 2015, he has been serving as global chairman of the Jamie Oliver Food Foundation. Kai Sato - founder of Kaizen Reserve, which serves as an investment advisor to family offices and corporations, helping align their existing assets with synergistic startups. He is also the founding partner of Vintage Capital Investments, which focuses on technology and media investments in sports. Before his transition to venture capital, Kai cofounded, FieldLevel, the social network dedicated to sports recruiting and participated as an entrepreneur in the inaugural Los Angeles Dodgers Accelerator. He works closely with accelerators across multiple industries and is also Hatch's entrepreneur-In-residence, actively mentoring its cohort companies.Source : The Fish Site ...
Aquaculture Technology Provider UMITRON Launches Fish Appetite Index (FAI), The World's First Real-Time Ocean-Based Fish Appetite Detection System
Startup

Aquaculture Technology Provider UMITRON Launches Fish Appetite Index (FAI), The World's First Real-Time Ocean-Based Fish Appetite Detection System

UMITRON PTE. LTD. (Singapore, Co-founder/ Managing Director Masahiko Yamada) launches Fish Appetite Index (FAI), the world's first real-time ocean-based fish appetite detection system. UMITRON FAI uses efficient machine learning and image analysis techniques to extract relevant data from video streams that can then be used to accurately quantify fish appetite. FAI software has already been rolled out to existing customers to optimize their feeding operations. Over the past twenty years the aquaculture industry has been expanding at an exponential rate with annual production tripling during this brief time span. At the same time, however, aquaculture feed prices have also risen dramatically. This presents an ever-growing challenge for farmers since feed costs account for a majority of their operational overhead. Farmers must walk a tight line: underfeeding their fish risks lower growth rates and slower time to market, while overfeeding increases costs and potentially harms the environment. New data analytics technologies such as IoT devices and machine learning offer farmers a solution to improve their feeding operations.The FAI algorithm takes in the same visual information that humans would and then scores fish appetite and presents it in an easy to understand chart. When used in tandem with a smart feeder such as UMITRON CELL, the feed time intervals and amounts can be automatically adjusted with minimal human interference. Farm operators can utilize FAI to fine-tune their feeding schedules, ensuring fish are always satiated. This is easily done via their smartphones with the UMITRON app, where they can check and remotely adjust feed settings based on the FAI feedback.FAI benefits farmers by reducing wasted feed, improving profitability as well as environmental sustainability. FAI in combination with technology such as CELL allows farmers to stay onshore during dangerous weather conditions or holidays while still keeping a close eye on their fish stocks. Furthermore, it reduces the need for every employee to be an expert at feeding and instead frees workers to focus on other tasks that improve fish welfare. Existing UMITRON customers have already begun using FAI alongside CELL. "Today, there are many companies developing machine-learning algorithms for a variety of industries but only testing them under ideal conditions. The UMITRON Fish Appetite Index on the other hand is already being embraced by our existing customers at their ocean-based farm sites where it operates under real world conditions. It might be difficult for some of our potential customers to completely trust artificial intelligence at first, but FAI is an important tool that can be used to increase productivity and reduce waste," said Masahiko Yamada, managing director of UMITRON.  "Our appetite analysis approach is being developed with customer feedback in mind. UMITRON will continue to develop similar value-added software services that can be automatically rolled out to our existing customer base. Also, we are open to developing other practical applications after discussions with potential customers or equipment partners,"  added Takuma Okamoto, CTO of UMITRON.UMITRON is looking for partners interested in using FAI for species such as Atlantic salmon, rainbow trout, European sea bass, and gilthead sea bream. Similarly, UMITRON is looking for feeding system manufacturing partners who wish to utilize data analysis software such as FAI to improve their current products. UMITRON will participate in AquaNor, which will be held in Trondheim, Norway from August 20-23, and The Japan International Seafood & Technology Expo from August 21-23 in Tokyo, Japan. Interested parties should contact UMITRON in advance to set up an informational meeting.About UMITRON UMITRON is a Singapore and Japan based deeptech company whose aim is to solve worldwide food and environmental problems by empowering aquaculture through technology. We build user-friendly data platforms for aquaculture by using IoT, satellite remote sensing, and artificial intelligence (AI). Our technology helps farmers improve farm efficiency, manage environmental risks, and in turn increase business revenues. Our final goal is to utilize computer models in combination with aquaculture to help the world sustainably and efficiently deliver protein in a human-friendly and nature-friendly way. Ultimately, we aim to "install Sustainable Aquaculture on Earth".Source : PR Newswire ...
Pakai Minatransporter, untuk Jaga Kesegaran dan Daya Tahan Ikan
Startup

Pakai Minatransporter, untuk Jaga Kesegaran dan Daya Tahan Ikan

Kegiatan pengabdian masyarakat (Pengmas) yang dilakukan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) di kecamatan Sumur, Pandeglang, Banten, melahirkan inovasi bernama minatransporter.Dikutip dari siaran pers yang diterbitkan Humas & KIP UI, minatransporter pelet hasil formulasi yang dapat menyediakan oksigen cadangan dan suplai nutrisi di dalam tempat penyimpanan ikan.Dengan alat ciptaan dua orang dosen, Retno Lestari dan Mufti Petala Patria, serta dua orang asisten dan 11 mahasiswa yang bekerja sama dengan Yayasan Pandu Cendekia tersebut, bisa memperpanjang masa hidup ikan selama didistribusikan ke pasaran terutama di luar daerah Kabupaten Pandeglang.Penggunaan minatrasnporter diharapkan dapat menjaga tingginya nilai jual ikan, karena kondisi ikan yang dijual masih segar dan sehat, Alat ini sudah diperkenalkan ke nelayan setempat pada 23-25 Juli 2019 lalu. “Kecamatan Sumur merupakan daerah yang memiliki potensi hasil budidaya perikanan yang tinggi. Namun, permasalahan yang terjadi pada nelayan mereka masih melakukan pendistribusian ikan dengan metode konvensional yang bersifat tertutup. Cara tersebut hanya mempertahankan hidup ikan selama 3 jam pendistribusian. Akibatnya, ikan yang akan sampai ke pasaran mengalami penurunan kualitas sehingga mengurangi harga jual,” ujar Ketua Tim Pengmas, Retno Lestari.“Maka dari itu kami rasa perlu pengimplementasian IPTEKS untuk memberikan solusi bagi nelayan agar dapat meningkatkan kualitas ikan melalui perbaikan pendistribusiannya,” imbuhnya, dalam keterangan resmi.Hasil produk minatransporter sebelum diberikan ke nelayan lokal dilakukan uji coba terlebih dahulu. Salah satu percobaan dilakukan terhadap ikan mas dengan rute perjalanan Jakarta menuju Pandeglang.Uji coba minatransporter mendapatkan hasil yang memuaskan karena ikan dapat bertahan lebih dari 12 jam. Artinya, minatransporter diharapkan dapat mempertahankan hidup ikan hingga 4 kali lebih baik dari metode konvensional.Tim Pengmas UI bersama mitra melakukan sosialisasi terkait minatransporter kepada nelayan. Kegiatan tersebut disambut oleh para nelayan dengan antusiasme yang tinggi.Setelah sosialisasi, kegiatan dilanjutkan dengan pengisian kuesioner untuk mengetahui minat nelayan terhadap produk minatransporter. Dengan program minatransporter ini diharapkan mampu membantu masyarakat nelayan Kecamatan Sumur terkait dengan pendistribusian hasil budidaya ikan. Lebih jauh, program ini akan turut serta mendukung dalam pengembangan kawasan bahari (minapolitan) yang ditetapkan oleh pemerintah.Sumber : Good News From Indonesia ...
Dorong Industrialisasi, Aplikasi Aquarium Indonesia Diluncurkan
Startup

Dorong Industrialisasi, Aplikasi Aquarium Indonesia Diluncurkan

Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) meluncurkan Aplikasi Aquarium Indonesia, dalam gelaran Pameran dan Kontes Ikan Hias 2019 yang bertemakan ‘Bangun Industri Ikan Hias di Era 4.0’ di Plaza Kalibata pada Minggu (4/8)."Persoalan mendasar di Indonesia adalah  pendataan yang kurang akurat. Data ikan hias Indonesia belum dapat ditelusuri, tentu ini adalah masalah yang besar dalam perindustrian ikan hias Indonesia. Tentu, peluncuran Aplikasi Aquarium Indonesia harua dijadikan momentum kita bersama untuk memecahkan  persoalan data spesies ikan yang beragam antar kementerian, lembaga, hingga pembudidaya," ungkap Sekretaris BRSDMKP Maman Hermawan pada seremoni peluncuran aplikasi Aquarium Indonesia.Platform ini, lanjut sia, merupakan ide dan semangat baru proses pendataan ikan hias Indonesia dan merupakan platform pertama dengan data termasif di Indonesia.Dia menyampaikan bahwa aplikasi Aquarium Indonesia didesain untuk mendokumentasikan semua spesies biota akuatik ornamen dan tanaman hias Indonesia dalam bentuk repositori spesies, serta mewadahi para pembudidaya, pedagang, eksportir dan konsumen aquaria di tanah air dalam bentuk bursa komersial online. Ketua Sekolah Tinggi Perikanan (STP) Jakarta Mochammad Heri Edy, menyampaikan bahwa penggunaan aplikasi Aquarium Indonesia dapat diunduh di Google Play Android. Selain itu, ciptaan HAKI-Copyrights nya telah didaftarkan pada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI.“Aplikasi teranyar ini diinisiasi, dikonstruksi dan dikembangkan oleh Dosen STP Kadarusman dan himpunan taruna Prodi Teknologi Pengelolaan Sumberdaya Perairan STP Angkatan 53 yang dikoordinatori oleh Achmad Naufal Athallah dan Nurhadiah,” tutur Heri Edy.Dosen STP Kadarusman menjelaskan bahwa repositori spesies pada aplikasi Aluarium Indonesia memuat potensi sumberdaya biota akuatik ornamen, baik yang telah diperdagangkan secara luas maupun yang berpotensi sebagai biotop hias. Biotop dibagi ke dalam grup taksa ikan, krustasea, tortoise, karang-kerang, tanaman air dan biota/produk akuarium lainnya. “Selain itu, citra data repositori menampilkan sebaran dan sifat biota yaitu endemik, natif dan spesies asing; habitat; status perdagangan dan konservasinya. Secara spesifik, aplikasi ini mewadahi semua pihak untuk memberikan kontribusi pengkayaan data spesies dengan proses peng-inputan yang mudah dan cepat,” jelas Kadarusman.Aplikasi ini memiliki fitur bursa komersial, memuat gerai jual beli virtual untuk semua jenis biota dan produk esensial bisnis akuarium. Laman ini mewadahi semua pelaku bisnis akuarium (pembudidaya, pedagang ritel dan eksportir). Penjual dan pembeli dapat melakukan interaksi (negosiasi jual-beli) satu sama lain lewat wadah chatting box, telepon dan Whatsapp.Saat ini perdagangan ikan hias atau Aquaria merupakan industri miliaran dolar yang memperjualbelikan sekitar 40 juta ekor ikan tiap tahun,1.600 spesies, dan melibatkan 125 negara. Indonesia saat ini menguasai sekitar 20% pasar ikan hias dunia. Selama periode 2007-2016, Indonesia telah mengekspor 707 juta ikan hias. Pasar ikan hias Indonesia memperdagangkan 16 spesies dengan nilai ekspor sebesar USD 17.8 juta di mana mayoritas ekspor Indonesia dikirim ke Jepang 24%, Singapura 20% dan USA 12%. Hadir dalam kesempatan ini, Sekda Prov DKI Jakarta Saefullah, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian Pemprov DKI Jakarta Darjamuni, Walikota Jakarta selatan Marullah Matali, Walikota Jakarta Utara, Kepala BKIPM diwakili oleh Kepala Puskari, Sekretariat DJPB, Direktur Produksi dan Usaha Budidaya DJPB, Ketua STP Jakarta, para Pejabata Eselon II dan III Lingkup BRSDM KP, Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia, serta Ketua Dewan Ikan Hias Indonesia (DIHI).Pameran dan Kontes Ikan Hias  diselenggarakan Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, di area parkir Plaza Kalibata, Jakarta Selatan mulai 31 Juli hingga 4 Agustus 2019.Event ini melibatkan sekitar 500 peserta pameran dan kontes ikan hias dari para pelaku usaha ikan hias, perusahaan swasta bidang perikanan, komunitas ikan hias, dan pembudidaya ikan hias binaan Suku Dinas KKP di lima wilayah kota administrasi.  Acara ini dimeriahkan berbagai macam kegiatan seperti pameran ikan hias, pakan ikan, dan aquascape, temu usaha ikan hias dengan tema upaya memperluas pasar ikan hias, lokakarya bangun industri ikan hias di era 4.0, dan penjualan ikan hias di stan-stan pameran.Sumber : Trobos Aqua ...
FishOn Tawarkan Lokasi Ikan, FishMart untuk Transaksi
Startup

FishOn Tawarkan Lokasi Ikan, FishMart untuk Transaksi

Aplikasi digital FishOn hadir dengan menawarkan spot-spot lokasi penangkapan ikan. Dengan dukungan satelit oceanography, aplikasi ini telah diujicoba di Sukabumi, Jawa Barat, sebagai pilot project Program Satu Juta Nelayan Berdaulat.Adapun fishMart sebagai gerai minimarket fishOn yang ada di kampung nelayan yang telah memiliki layanan fishOn. Pembelian dapat dilakukan secara online melalui aplikasi fishOn, sehingga meski ditengah laut, transaksi dapat dilakukan.Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut B Pandjaitan telah meresmikan Gerai FishMartdan Pelepasan Nelayan Melaut, Sabtu (20/7) pekan lalu. Program pertama di Indonesia ini dilengkapi dengan tempat pelelangan online di TPI Palangpang, Sukabumi.Luhut mengatakan, program satu juta nelayan ini dilaksanakan bukan hanya di Sukabumi. Tetapi di seluruh Indonesia, yang diresmikan pertama kali di Sukabumi. Program ini, merupakan salah satu usaha konsisten pemerintah dalam mengurangi kemiskinan. Pemerintah melihat potensi laut sangat kaya, yakni 2,5 triliun USD, sehingga perlu dikelola dengan sangat baik dan maksimal, begitu juga hasil-hasil lautnya.Menurut Menko Luhut, untuk pelelangan online, nantinya para nelayan tidak perlu lagi menggunakan uang sebagai alat transaksi, sekarang mereka bisa memberi tahu hasil panen mereka ke fish market ketika mereka masih berada di laut.“Jadi mereka masih di laut, tapi fish market sudah tau apa yang di dapat, apa hasilnya, sudah ada transaksinya. Nah untuk menunjang ini, kita kerja sama dengan start up pemancar sinyal dari Net1, yang bisa memancarkan dengan jarak sampai 60km ke tengah laut, bisa wifi,” katanya.Aplikasi FishOn dapat diunduh melalui Play Store. Dengan hadirnya FishOn, terdapat 7 aplikasi digital untuk nelayan Indonesia. Aplikasi digital tersebut, masing-masing TrekFish, Nelayan Nusantara, Laut Nusantara, Nelayan Pintar (Nelpin), Wakatobi AIS, E-logbook dan FishOn.Sumber : DARILAUT.ID ...
Mahasiswa IPB Buat Aplikasi Si Cerdik untuk Deteksi Kesegaran Ikan
Startup

Mahasiswa IPB Buat Aplikasi Si Cerdik untuk Deteksi Kesegaran Ikan

Berada di wilayah jauh dari laut, ibu rumah tangga yang menyiapkan makanan berbasis ikan, sangat membutuhkan informasi untuk mengetahui tingkat kesegaran ikan dengan mudah, cepat dan akurat. Harapannya agar bisa mengonsumsi pangan yang sehat dan bergizi. Untuk itu mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University telah membuat aplikasi dengan nama Si Cerdik. Si Cerdik merupakan pengembangan teknologi lebih lanjut dari alat untuk mendeteksi kesegaran ikan dengan metode akustik, yang sebelumnya dikembangkan Prof. Dr. Ir. Indra Jaya, MSc dan tim dimana alat tersebut masih cukup besar sehingga kurang praktis dan relatif lebih rumit mengoperasikannya. Si Cerdik ini dibuat tim dari Program Kreativitas Mahasiswa Cipta Karsa (PKM-KC) yang beranggotakan Aldo Dermawan, Syifa Afnani Santoso dan Dhea Fajriati Anas sebagai ketua tim. Si Cerdik ini diharapkan dapat memudahkan masyarakat dalam mendeteksi tingkat kesegaran ikan hanya dengan handphone android. Proses kerjanya cukup mudah yakni dengan meng-install aplikasi Si Cerdik ini pada ponsel cerdas berbasis android, lalu ikan yang ingin dideteksi kesegarannya difoto matanya. Perangkat lunak (Apps) yang dikembangkan oleh tim PKM-KC IPB University dan dipasang dalam ponsel cerdas tersebut akan mengolah dan menganalisis foto tersebut serta menampilkan hasil analisis foto dalam bentuk informasi tingkat kesegaran ikan yang difoto. “Hanya dengan pelatihan singkat semua orang bisa melakukannya, karena hanya dengan mengambil foto mata ikan kita langsung dapat mengetahui tingkat kesegaran dari ikan tersebut. Sasaran utama untuk aplikasi Si Cerdik ini yaitu ibu-ibu muda, pemilik warung makan, dan masyarakat umum yang kesulitan menentukan tingkat kesegaran dari ikan. Keunggulan dari Si Cerdik ini dapat mendeteksi kesegaran ikan yang mudah dioperasikan, portable, dan informasi dihasilkan saat itu juga (realtime),” kata Aldo.Sumber : Kumparan ...
Pembenihan Kerapu Online dengan SWITCHER
Startup

Pembenihan Kerapu Online dengan SWITCHER

Permasalahan utama dalam sistem budidaya intensif ikan adalah tingginya fluktuasi kondisi kualitas perairan yang berpotensi terhadap terserangnya penyakit.Proses budidaya yang paling kritis dan rentan terhadap terhadap perubahan kualitas air dan penyakit adalah pembenihan, yaitu dari proses telur sampai berkembang menjadi benih berukuran 3-4 cm.Ditambah lagi kondisi ikan yang berbeda-beda terhadap respon perubahan kondisi kualitas air dan penyakit yang menambah masalah pembudidaya.Permasalahan tersebut ditanggapi kolaborasi mahasiswa FPIK (Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan) dan FILKOM (Fakultas Ilmu Komputer) dengan membuat sistem pembenihan yang baru yakni SWITCHER.Ini adalah teknologi pembenihan pada ikan kerapu yang terkontrol secara otomatis berbentuk silinder dan berbasis IoT (Internet of things), sehingga pekerja dan pemilik usaha pembenihan dapat dioantau melalui gawai maupun Personal Computer (PC).Ide pembenihan ikan ini merupakan salah satu usulan Program Kreativitas Mahasiswa yang diusulkan UB tahun 2019.SWITCHER dilengkapi dengan 3 sensor kualitas air yaitu suhu, pH dan salinitas, serta dilengkapi dengan sensor jarak yang dapat memantau ketinggian air di dalam wadah pembenihan.Selain itu, dilengkapi pula teknologi microbubble yang dapat meningkatkan kelarutan oksigen dalam wadah. Semua komponen tersebut saling terintegrasi dan dikontrol oleh sebuah mikrokontroler sesuai dengan nilai optimal bagi pembenihan ikan kerapu SWITCHER sudah diterapkan pada usaha pembenihan skala rumah tangga daerah pasir putih, Mlandingan, Situbondo, dan mampu menghasilkan produksi benih mencapai 47 persen. hasil tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan pembenihan konvensional yang hanya bisa mencapai 10-20 persen.Sumber : Good News From Indonesia ...
WeTech wins Aquaculture Innovation Challenge
Startup

WeTech wins Aquaculture Innovation Challenge

Judges announced that WeTech has won 2019 Aquaculture Innovation Challenge (AIC) – a competition designed to encourage innovation in Indonesia’s shrimp aquaculture sector. WeTech won the award for their development of a solar-powered aeration device, and takes home a cash and in-kind prize worth USD 100,000 (EUR 88,148). The runner up is Seable, which created an automatic shrimp feeder for hatcheries, which won a USD 10,000 (EUR 8,814) which was sponsored by the Global Aquaculture Alliance (GAA). Both the teams will also be given a financial package that will allow them to send members to the Global Outlook for Aquaculture Leadership (GOAL) 2019 in Chennai, India, in October 2019. There, the representatives will pitch their innovations to leaders in the aquaculture industry. The AIC is organized by the Seafood Trade Intelligence Portal (STIP), Solaridad Network, Fresh Studio, and Bogor Agricultural University, with support by the GAA, Hatch Blue, and the Walton Family Foundation. In April, 17 applications were chosen to move forward in the competition, which were then further whittled down to five finalists in early June. WeTech’s solar-powered aeration device was chosen by judges for its mix of both social and environmental benefits. “I’ve improved my business model presentation and my distribution model [during the boot camp].” WeTech's Kamran Mahmudov said. “Before coming here, I didn't know that Indonesian farms are huge. Now I know the market and I know the environment ... [And want to learn] what kind of changes we can make to adapt to the Indonesian market. We know that there’s big room for improvement so I think the accelerator program will help us improve our implementation strategies. We want to come back to Indonesia to do market research.”Seable’s automatic shrimp feeder was chosen by judges as it is a “great way to make the first stage of shrimp farming more profitable.”“All five finalists bring something special to the table. They’re bright and innovative and have solutions to common problems in aquaculture. And after several days in this immersive experience, they’re now armed with the confidence they need to take their businesses to the next level,” said James Wright, editorial manager at the Global Aquaculture Alliance, one of the AIC sponsor organizations.Throughout the competition, coaches helped the finalists improve their pitch to investors, leading to “huge transformations,” according to a release from the AIC. “The progress has been amazing. It’s very impressive these companies have come in a short period of time from a rough idea to commercializing their businesses toward a sharp focus on their business model and the exact needs and next steps that they have to take,” Tom Prins of Aqua-Spark said.Source : Seafood Source ...
HATCH Accelerator : a Golden Opportunity for Aquaculture Innovators
Startup

HATCH Accelerator : a Golden Opportunity for Aquaculture Innovators

HATCH, the world’s first aquaculture accelerator, is offering start-ups the chance to take part in a funded mentoring programme that will take them to Hawaii, Norway and Singapore.This year’s 15-week programme runs from 26 August to 5 December and offers all successful applicants €100,000 per team, as well as access to key players in the global aquaculture network; testing facilities; and personal, technical and business mentoring sessions.The cohort will start in the Hawaiian Ocean Science and Technology Park (HOST), an innovation hub of aquaculture perfectly positioned in the extremely diverse Hawaiian ecosystem which is administered by the National Energy Laboratory of Hawaii (NELHA).Also read: Indonesian Aquaculture Startup Secures Seed Funding in 500 Startups-led RoundHATCH CEO, Carsten Krome, explains: “HOST Park is the perfect playground for innovative minds that are seeking to make a major difference in the field of aquaculture.” He added that “the world class facilities at NELHA offer perfect conditions for fast prototyping and iterating innovative ideas.”From there, the cohort will move to HATCH’s current headquarters in Bergen, Norway, and benefit from the one-of-a-kind ecosystem the “Silicon Valley of the Seas” has to offer. HATCH is connected to all the major players in Bergen and is partnered with local innovation hub VIS, as well as international aquafeed giant Cargill.“The support we have received here in Bergen from day one has been and continues to be invaluable,” explains Georg Baunach, co-founder and development director. He adds that “without this outstanding local ecosystem and the access we have been getting, we would not be able to provide the value that we currently are. Bergen truly earns its title as the most relevant aquaculture innovation hub.”From the fjords of Norway, the programme will then move to Singapore, where the cohort companies will be offered a first-hand insight into Asian aquaculture - by visiting breeding centres, feed mills, hatcheries, and farms - and a chance to connect with the region's largest corporate players and relevant investors in aquaculture.Also read: WeTech wins Aquaculture Innovation ChallengeAs Baunach states: “We decided to take HATCH to Singapore because of its close proximity to most large aquaculture markets, the presence of large aquaculture suppliers, and great access to Asia-focused venture capital. It also offers good testing and R&D facilities and host some excellent universities. What excites us, is that we see a recent development to establish Singapore as the dominant AgTech hub in the region, led both by public and private organisations. Similarly, we believe in order for aquaculture innovation to happen effectively in Asia, it needs a central go-to-place for entrepreneurs, investors and industry and we are eager to establish Singapore as such a go-to place in the long-term.”HATCH is aiming at accelerating 10 to 14 aquaculture technology startups per cohort, applications are now open under www.hatch.blue/apply and will close mid-July.Source : The Fish Site   ...
Lewat Thinkubator, "Proyek Udang Bahagia" dari Startup Nanobubble Raih Rp 825 Juta
Startup

Lewat Thinkubator, "Proyek Udang Bahagia" dari Startup Nanobubble Raih Rp 825 Juta

Jakarta - Live Pitching Thinkubator berlangsung seru di Gedung Transmedia, Jakarta, Jumat (29/3/2019). Keenam startup finalis berlomba menyakinkan para juri di kompetisi startup itu. Akhirnya ada "proyek udang bahagia" yang berhasil meraih pendanaan paling besar senilai Rp 825 juta. "Proyek udang bahagia" merupakan garapan startup Nanobubble. Kedua pendirinya, Hardi Junaedi dan Dedi Cahyadiaat, mampu menyakinkan ketiga juri Thinkubator, yakni Chairul Tanjungyang merupakan Chairman and Founder of CT Corp, Founder & CEO Tokopedia William Tanuwijaya dan Frederica Widyasari Dewi yang merupakan Presiden PT KSEI.  "Skema modal bisnis kami adalah pola investasi. Setiap 1 ribu meter persegi kita mendapatkan Rp 35 juta. Kami menargetkan 35 ribu hektar di Bondowoso," ujar Hardi Junaedi.Baca juga: Pakai Minatransporter, untuk Jaga Kesegaran dan Daya Tahan Ikan Rupanya skema tersebut mampu menyakinkan William Tanuwijaya. Dana Rp 500 juta pun diberikan. "Saya percaya ekspor itu harus didukung dengan kapasitas. Maka saya kasih Rp 500 juta," katanya. Dana yang cukup besar juga diberikan dua juri lain buat "proyek udang bahagia" dari Nanobubble. CT memberikan Rp 100 juta, sementara Frederica mengucurkan Rp 125 juta. Di akhir acara Thinkubator ini, Chairul Tanjung bahkan memberikan kejutan. Dia memberikan sisa dana Rp 100 juta ke Nanobubble. Total, proyek udang bahagia berhasil meraih pendanaan Rp 825 juta. "Agar udangnya bahagia," ungkap CT. Berikut adalah total pendanaan yang didapatkan oleh keenam finalis Thinkubator:  - Piniship Rp 125 juta - Mandor Rp 100 juta - Darah Kita Rp 200 juta - Ngorder.id Rp 75 juta - Nanobubble 825 juta - SIAB Rp 175 juta.Baca juga: FishOn Tawarkan Lokasi Ikan, FishMart untuk Transaksi Untuk diketahui, Thinkubator merupakan program yang ditujukan untuk komunitas dan pelaku startup di Indonesia. Dalam program ini, komunitas startup berkesempatan mendapat bimbingan dan ilmu baru dari para praktisi startup dari berbagai bidang dalam suatu diskusi dan workshop.  Acara ini berasal dari inisiatif yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan beserta jajarannya, serta dukungan kementerian terkait. Grab menyambut baik imbauan ini dan menjadi Official Mobile Platform Partner.  Perhelatan Thinkubator mendapat respons positif dan sebanyak 1.169 startup mendaftar. Jumlah itu lalu disaring jadi 150 startup yang hadir di sesi Conference and Workshop, Kamis (28/3) kemarin. Dari jumlah tersebut 75 startup di antaranya dari luar Jabodetabek, 17 startup berasal dari Indonesia timur. Dan di antara founder dan co-founder, 35 adalah wanita. Sumber : Detik.com Tentang MinapoliMinapoli merupakan marketplace++ akuakultur no. 1 di Indonesia dan juga sebagai platform jaringan informasi dan bisnis perikanan budidaya terintegrasi, sehingga pembudidaya dapat menemukan seluruh kebutuhan budidaya disini. Platform ini hadir untuk berkontribusi dan menjadi salah satu solusi dalam perkembangan industri perikanan budidaya. Bentuk dukungan Minapoli untuk industri akuakultur adalah dengan menghadirkan tiga fitur utama yang dapat digunakan oleh seluruh pelaku budidaya yaitu Pasarmina, Infomina, dan Eventmina.  ...
Peran Startup di Sektor Akuakultur
Startup

Peran Startup di Sektor Akuakultur

Menahan masuknya kemajuan teknologi (Statup di sektor Akuakultur) )hanya akan membuat kemunduran dan gagap teknologi, untuk itu dibutuhkan peran startup yang bisa menjadi jembatan informasi ke pembudidaya di lapangan. Arus kemajuan teknologi nyaris tidak terbendung yang kemudian menuntut kehidupan menjadi lebih praktis dan dinamis. Bahkan, teknologi dapat mempengaruhi hal terkecil dalam kehidupan manusia, yakni soal gaya hidup (life style). Lantas seperti apa kemajuan teknologi menyentuh sektor akuakultur atau budidaya perikanan Indonesia saat ini?Di era digitalisasi saat ini, telah lahir banyak startup di kalangan anak-anak muda kreatif, termasuk di bidang teknologi digital akuakultur. Mereka mampu menghadirkan model bisnis akuakultur yang efisien di tengah-tengah masyarakat pembudidaya.Baca juga: Aditya Bangun Fish Village agar Warga Bisa Beli Ikan Berkualitas dengan MurahBahkan ketika membuka play store di smartphone dan mengetik keyword ‘budidaya ikan dan udang’ dan lain sebagainya, akan banyak bermunculan aplikasi android yang bisa menjadi pilihan dalam membantu budidaya ikan dan udang. Startup sendiri, menurut Aryo Wiryawan, Founder and Chairman JALA, ialah perusahaan rintisan yang mengincar pertumbuhan eksponensial dengan memberikan solusi produk maupun jasa yang sebelumnya tidak bisa disediakan oleh perusahaan atau pihak lain secara konvensional.Tidak jauh berbeda dengan Aryo, Andri Saputra dari Mina Indonesia mengatakan, startup selain sebagai perusahaan rintisan atau yang sedang mengembangkan berbagai bisnis model inovatif untuk memberikan solusi kepada konsumennya, startup juga bisa memberikan solusi menggunakan pendekatan teknologi informasi (TI) yang memang sedang berkembang pesat di Indonesia dan di seluruh dunia.“Dengan adanya beragam startup dan berbagai solusi yang ditawarkan tentu akan membuat sektor perikanan budidaya akan berkembang sangat pesat,” tambah Andri.Bagus Facsi Aginsa ex CEO FisHby mengatakan, pada dasarnya startup adalah suatu entitas yang terdiri dari beberapa orang yang ingin menyelesaikan suatu permasalahan yang ada dengan sebuah inovasi. “Startup yang menyelesaikan permasalahan yang ada di dunia akuakultur atau perikanan budidaya berarti dinamakan startupakuakultur atau perikanan budidaya,” pungkas Bagus.Baca juga: Startup Yogyakarta Tawarkan Sentuhan Teknologi di Tambak UdangTren startup ini tentu akan bisa memperkuat konektivitas rantai bisnis akuakultur dan menjembatani secara efisien para pemangku kepentingan akuakultur dan beberapa startup yang mulai berkembang di sektor akuakultur seperti eFishery, Iwa-Ke, fisHby, fishlog, JALA, InFishta, Growpal, Mina Ceria, Venambak, Nalayan, Minapoli, dan Mina Indonesia. Berdasarkan data Indonesia Digital Landscape 2018, lebih dari 130 juta penduduk Indonesia telah terkoneksi dengan internet. Penetrasi teknologi digital sudah mulai menjadi suatu kebiasaan atau pola hidup masyarakat mulai dari belanja online, transportasi online hingga pembayaran non tunai untuk berbagai transaksi.Hal tersebut, menurut Rully Setya Purnama CEO Minapoli, akan menjadi peluang yang sangat potensial untuk menghadirkan inovasi-inovasi sampai ke pembudidaya. Tentunya peluang tersebut bukan tanpa syarat, kuncinya adalah inovasi harus menjadi solusi dari permasalahan yang ada di pembudidaya dan terlebih dapat memberikan benefit dari sisi finansial/ekonomi.Selain itu, Rully menambahkan, munculnya startup di sektor akuakultur dapat membawa perubahan ataupun bisnis model baru yang akan memberikan dampak positif pada kemajuan perikanan budidaya baik dari sisi ekonomi, sosial maupun lingkungan (sustainability).Baca juga: Antarikan.com, Layanan Jual Beli Ikan Daring Buatan Anak SamarindaHal tersebut sejalan dengan karakter startup itu sendiri, kata Aryo, yaitu inovatif dan lincah dalam mengembangkan solusi untuk permasalahan sektor akuakultur di Indonesia. Inovatif dalam arti mereka bisa menawarkan teknologi baru yang terjangkau oleh para pembudidaya. Lincah, karena startup biasanya didirikan oleh tim kecil yang secara operasional sangat efisien sehingga mampu beradaptasi terhadap berbagai tantangan baik dari sisi teknologi maupun dari sisi bisnis.Dengan demikian, startup dapat menjadi lokomotif dalam penerapan teknologi baru di dunia akuakultur untuk meningkatkan kualitas, efisiensi dan sustainability pada budidaya perikanan. “Startup juga dapat masuk ke berbagai aspek budidaya mulai dari pendanaan, teknologi baru sampai pemasaran,” tutur Aryo.Peran dan Jenis StartupSaat ini, Rully menjelaskan, beberapa inovasi yang dikembangkan para startup perikanan di Indonesia cukup beragam mulai dari akses permodalan, alat kualitas air dan alat pemberi pakan otomatis yang bisa dikontrol dan monitor secara jarak jauh. Peranan startup dalam memajukan perikanan budidaya di era saat ini sangat penting, kata Andri, misalnya saja dulu banyak pembudidaya ikan atau udang yang kesulitan mencari permodalan usaha, namun berkat startup yang bergerak dibidang financial technology (fintech) masalah ini dapat diatas dengan baik, melalui permodalan dari investor yang dilakukan secara bergotong royong (crowd funding).Masyarakat urban/perkotaan yang mempunyai uang namun memiliki kesibukan dapat menginvestasikan uangnya kepada pembudidaya ikan atau udang, hasil keuntungan ini pun dibagi rata antara investor dan pembudidaya ikan dengan sistem sharing profit yang saling menguntungkan. Peranan startup fintech inilah yang menghubungkan antara pembudidaya yang membutuhkan modal dan investor tersebut dan memberikan laporan kegiatan budidaya secara berkala dan transparan menggunakan teknologi. Startup Fintech yang memfasilitasi permodalan ini diantaranya Growpal, InFishta, Crowde, Mina Ceria dan lainnya.Baca juga: Inovasi Sarjana S2 ITB ini Bikin Panen Udang MeningkatStartup yang juga berperan penting dalam sektor perikanan budidaya adalah startup yang bergerak dibidang Internet Of Things (IoT). Startup IoT berperan dalam mempermudah pekerjaan budidaya dengan terintegrasi teknologi. Beberapa contoh startup IoT seperti eFishery yang membantu pembudidaya ikan dan udang untuk memberikan pakan ikan secara otomatis yang selama ini masih dilakukan secara manual oleh pembudidaya.Dengan adanya eFishery, pemberikan pakan ikan pun dapat dilakukan secara otomatis sesuai dengan waktu yang ditentukan dan jumlah pakan ikan atau udang yang diberikan dapat sesuai kebutuhan, sehingga pemberian pakan menjadi lebih efektif dan tidak ada pakan yang terbuang atau tidak dimakan oleh ikan atau udang dan membuat biaya pakan dapat ditekan seminimal mungkin.Startup IoT yang juga tidak kalah menarik dan bermanfaat bagi pembudidaya adalah JALA, startup ini menciptakan sebuah alat yang dapat memantau kualitas air tambak secara otomatis dengan menggunakan sensor, sehingga mampu memantau kualitas air tambak secara otomatis yang membuat pembudidaya ikan atau udang dapat mengetahui suhu, pH, salinitas, DO (Dissolved Oxygen) dan kualitas air lainnya secara realtime. Dari situ, pembudidaya dapat mengambil keputusan secara tepat seperti mengganti air, meningkatkan atau menurunkan pH, salinitas dan hal lainnya yang diperlukan untuk menjaga kualitas air yang sesuai dengan yang diperlukan.“Uniknya semua aktivitas ditambak tersebut dapat dipantau dan dilakukan melalui smartphone, sehingga pembudidaya dapat melakukan pekerjaan di manapun dan kapan pun berada,” ujar Andri.Baca juga: Digifish 2019, KKP Dorong Terobosan Sektor Perikanan Lewat Inovasi Teknologi DigitalKemudian ada startup yang bergerak di bidang Education Technology (EdTech) seperti Mina Indonesia juga sangat berperan dalam membantu pembudidaya ikan di Indonesia melalui pendidikan, pelatihan dan pendampingan usaha budidaya. Pelatihan tentang manajemen bisnis, manajemen kualitas air, pembuatan pakan ikan atau udang, pengendalian hama dan penyakit ikan dan udang, pemasaran dan lainnya menjadi materi pelatihan yang sering diajarkan oleh Mina Indonesia kepada pembudidaya ikan dan udang di seluruh Indonesia. Selain itu bagi yang ingin memulai usaha budidaya ikan dan udang namun memiliki kendala pengetahuan dan keahlian dalam memulai usaha, Mina Indonesia juga siap memberikan pendampingan usaha sejak awal, sehingga usaha yang dijalankan dapat berhasil dan berkembang. Pemasaran hasil budidaya tentu juga menjadi kendala pembudidaya ikan dan udang di Indonesia, untuk itulah startup yang bergerak dibidang pemasaran atau E-Commerce seperti Aruna Indonesia dan Nalayan berperan penting dalam membantu pemasaran baik dalam negeri maupun ekspor, sehingga dapat bermanfaat besar bagi pembudidaya.Sementara itu Minapoli lebih fokus dalam mengembangkan jejaring informasi dan bisnis perikanan melalui platform onlinenya yang menyediakan media untuk pemasaran produk/jasa, publikasi event dan berbagi informasi perikanan.Kendala StartupMenahan masuknya kemajuan teknologi hanya akan membuat kemunduran dan gagap teknologi. Menjadi kendala ketika era digitalisasi tidak bisa dirasakan juga sampai ke pembudidaya langsung. Menurut Bagus, kurang sampainya kemajuan teknologi kepada kalangan terbawah ini yang memang menjadi kesulitan tersendiri. Menurut pengalaman pribadinya, pembudidaya di daerah-daerah memang membutuhkan bimbingan dari para pelaku startup secara intensif.Senada dengan Bagus, Andri menjelaskan, agar penggunaan teknologi dapat berdampak luas bagi pembudidaya tentu edukasi bagi pembudidaya menjadi faktor penting yang terus dilakukan. Dalam melakukan edukasi dilakukan dengan dua cara yakni melalui online dan offline.Baca juga: Dorong Industrialisasi, Aplikasi Aquarium Indonesia DiluncurkanMelalui online, edukasi dilakukan dengan membuat konten yang menjelaskan tentang pemanfaat teknologi dan pentingnya teknologi dalam membantu pembudidaya ikan dan udang baik berupa tulisan, infografis, maupun video yang diupload di website, facebook, youtube dan media online lainnya yang sering diakses oleh pembudidaya. Sedangkan edukasi yang dilakukan secara offline yakni melakukan seminar, pelatihan maupun pendampingan langsung ke pembudidaya langsung di lapangan.“Kita harus menyediakan pendamping di lapangan agar teknologi yang kita bawa ke pembudidaya dapat diterima dengan baik. Pembudidaya akan merasa membutuhkan teknologi baru jika dia sudah merasakan dampak positifnya. Maka temani dan bimbing mereka paling tidak selama 2 – 3 siklus budidaya, setelah teknologi tersebut terbukti bagus, mereka akan inisiatif belajar dengan sendirinya,” pungkas Bagus.Startup merupakan bagian yang sangat penting bagi kemajuan suatu industri, dengan banyaknya startup di sektor perikanan budidaya, akan semakin banyak inovasi yang dilahirkan dan semakin pesat juga perkembangan industri akuakultur Indonesia. (Adit/Resti)Sumber : Info AkuakulturTentang MinapoliMinapoli merupakan marketplace++ akuakultur no. 1 di Indonesia dan juga sebagai platform jaringan informasi dan bisnis perikanan budidaya terintegrasi, sehingga pembudidaya dapat menemukan seluruh kebutuhan budidaya disini. Platform ini hadir untuk berkontribusi dan menjadi salah satu solusi dalam perkembangan industri perikanan budidaya. Bentuk dukungan Minapoli untuk industri akuakultur adalah dengan menghadirkan tiga fitur utama yang dapat digunakan oleh seluruh pelaku budidaya yaitu Pasarmina, Infomina, dan Eventmina.    ...
Startup dan Masa Depan Perikanan
Startup

Startup dan Masa Depan Perikanan

Mari bersinergi dan berkolaborasi, agar potensi perikanan bukan hanya mimpi! Sebagian dari kita mungkin sudah mulai bosan mendengar ataupun membaca informasi tentang potensi produksi perikanan budidaya Indonesia yang sangat besar bahkan hingga 105 juta ton per tahun. Selain itu Organisasi Pangan Dunia (FAO) dalam salah satu artikelnya juga menyatakan bahwa akuakultur adalah salah satu sektor yang memiliki pertumbuhan tercepat di antara sektor penghasil pangan atau agrikultur lainnya. Sehingga istilah “the sleeping giant” memang cukup tepat menggambarkannya. Namun akankah kita membiarkan potensi besar itu terus tertidur? Saat ini ketika berbicara masa depan perikanan, kita boleh mulai tersenyum melihat sejumlah anak muda yang sebagian justru bukan memiliki latar belakang perikanan terjun ke industri ini dalam kurun 5 tahun terakhir ini. Mereka yang dikenal dengan pelaku startup (perusahaan rintisan) ini berinovasi mengembangkan produk dengan sentuhan teknologi terkini dengan misi membawa industri perikanan ke level yang lebih tinggi mulai dari produktivitas hingga efisiensi. Baca juga:  Inovasi Startup Inovasi yang dikembangkan para startup ini cukup bervariasi mulai dari akses permodalan melalui crowd funding (fintech), alat kualitas air dan alat pemberi pakan otomatis yang bisa dikontrol dan monitor secara jarak jauh (Internet of Things/IoT), substitusi tepung ikan (bioteknologi), jasa peningkatan kompetensi Sumber Daya Manusia/SDM (human resource), pemasaran produk (e-commerce), hingga pasca panen (processing & logistic). Pengembangan inovasi yang dilakukan oleh para startup ini juga tidak mudah karena di depan badai sudah menanti. Para pelaku startup memerlukan akses pendanaan salah satunya ke investor, karena ini menjadi “napas” startup sebelum memperoleh pendapatan dari bisnis model yang dijalankan, tak jarang juga para pendiri startup (founder) di awal rela merogoh kocek pribadinya cukup dalam atau dikenal dengan istilah bootstrapping. Baca juga: Peran Startup di Sektor Akuakultur Selain itu akses ke industri juga tidak kalah penting agar inovasi yang dikembangkan dapat selaras dengan kebutuhan industri, mengingat sebagian besar dari pelaku startup yang berasal dari non perikanan dan masih minimnya pengalaman berinteraksi dengan industri. SDM juga salah satu tantangan besar di dunia startup, dibutuhkan SDM yang memiliki mental baja dan punya determinasi tinggi untuk bisa merealisasikan ide menjadi suatu inovasi. Jika salah satu tantangan tadi tidak bisa dilewati bukan tidak mungkin ide-ide tersebut tenggelam sebelum menjadi inovasi. Karena faktanya hanya 5 % dari startup di dunia ini yang berhasil melewati badai tantangan tersebut untuk terus berlayar membuktikan dan mengembangkan inovasi yang ditemukan. Butuh Sinergi Disinilah kita memerlukan sinergi dan kolaborasi antara para stakeholder perikanan. Tanpa itu, ide akan sulit dikonversi menjadi inovasi. Tanpa itu, inovasi yang ada tidak akan menjadi solusi. Tanpa itu, inovasi yang ada bisa saja menjadi basi.  Sinergi tersebut dapat kita mulai dari hal yang paling dasar yaitu di perguruan tinggi. Tempat dimana sumber daya manusia yang akan menjadi cikal bakal pelaku startup mulai diasah dan dibentuk. Proses yang berlangsung di perguruan tinggi perlu disesuaikan agar semakin banyak sumber daya manusia yang terinspirasi dan mau berdedikasi di dunia perikanan. Sudah saatnya juga penelitian ataupun tugas akhir dilakukan lintas jurusan, lintas fakultas bahkan lintas perguruan tinggi. Karena pada kenyataannya suatu usaha startup ataupun bisnis perikanan dalam kondisi nyata memang dilakukan oleh pelaku yang berasal dari multidisiplin ilmu.  Dalam dunia startup komposisi multidisiplin ini juga dikenal dengan The Startup Triangle Team yang terdiri dari hustler (business and marketing), hipster (design and user experience), dan hacker (engineer and developer).Baca juga: Startup Yogyakarta Tawarkan Sentuhan Teknologi di Tambak Udang Sinergi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sebagai pemangku kebijakan juga diperlukan agar regulasi dan program-program yang direncanakan bisa terintegrasi. KKP dapat menginisiasi program inkubasi startup perikanan yang akan membuka lebih banyak lagi kesempatan para lulusan perguruan tinggi untuk mencoba merealisasikan ide-idenya  dan hal ini secara tidak langsung akan membantu KKP dalam memberikan solusi terhadap permasalahan yang ada di sektor perikanan.  Program inkubasi startup dapat dimulai melalui kompetisi inovasi (Fisheries Innovation Challenge) atas permasalahan perikanan yang dihadapi. Hasil dari kompetisi tersebut dapat difasilitasi KKP dengan memberikan modal awal (seed funding), menyediakan fasilitas tempat kerja bersama (coworking space), akses ke mentor khususnya terkait hal teknis, akses ke industri dan tidak menutup kemungkinan akses ke investor melalui jaringan yang dimiliki.  KKP bisa mencoba memulai strategi ini dalam kebijakan program yang dilakukan untuk dampak yang lebih positif dan signifikan. Caranya dengan memberikan bantuan ke masyarakat umum selain yang selama ini sudah dilakukan seperti bantuan benih, pakan, kapal dan sarana prasarana produksi lainnya.   Teknologi Perikanan Peluang inovasi baru yang bisa dikolaborasikan antara KKP dan para pelaku startup masih terbuka lebar. Untuk perikanan budidaya kita ketahui bahwa salah satu kunci suksesnya adalah penentuan lokasi, jika KKP bersama pelaku startup dapat mengembangkan platform online yang dapat memberikan informasi daerah atau titik mana saja di Indonesia yang memenuhi persyaratan baik dari kualitas air, infrastruktur, tata ruang atau zonasi hingga akses transportasi maka aplikasi ini akan memudahkan dan membuka peluang lebih besar investasi di sektor perikanan. Terlebih jika aplikasi tersebut terintegrasi mulai dari perizinan usaha, akses permodalan hingga pemasaran. Berikutnya adalah terkait data supply chain produk perikanan, seringkali kita mendengar di suatu daerah produksi ikan berlebih hingga kurang terserap maksimal sementara di daerah lain ada kekurangan pasokan. Dibutuhkan suatu platform yang dapat memberikan informasi mengenai supply and demand produk perikanan yang bisa dilihat secara online dan up to date, sehingga rantai pasok dan distribusi dapat lebih merata dan seimbang.Baca juga: Indonesian Aquaculture Startup Secures Seed Funding in 500 Startups-led Round Inovasi di sektor hilir juga dapat digarap antara lain terkait dengan logistik produk perikanan. Salah satu tantangan setelah kita berhasil memproduksi ikan, adalah bagaimana memastikan ikan tersebut tiba di end-customer dalam kondisi dan kualitas yang prima, baik yang melalui proses pengolahan (processing) terlebih dahulu ataupun yang tanpa proses. Inovasi logistik ini sangat penting, karena dengan menjaga produk dapat diterima dalam kondisi yang prima, ini membuka peluang lebih besar untuk mempertahankan nilai produk dan meningkatkan konsumsi produk perikanan.   Peran Minapoli Dengan misi membantu terwujudnya sinergi dan kolaborasi yang lebih baik dan erat antar pelaku perikanan antar pelaku perikanan maka di sinilah Minapoli hadir. Minapoli merupakan sebuah platform jaringan informasi dan bisnis perikanan online terintegrasi yang menggunakan teknologi cukup sederhana melalui web-based application.  Platform Minapoli memfasilitasi para pelaku perikanan khususnya akuakultur dalam hal memasarkan dan mempromosikan produk dan jasa, berbagi informasi terkini mulai dari teknologi, regulasi, tokoh inspirasi, lowongan kerja hingga fasilitas untuk mempublikasi event- event perikanan. Platform online tersebut dapat diakses tanpa biaya untuk fitur-fitur dasarnya. Selain melalui platform online, kami juga melakukan aktivitas offline dengan berkolaborasi menyelenggarakan event mulai dari seminar, workshop, hingga exhibition untuk mempertemukan para pelaku industri perikanan.Baca juga: Digifish 2019, KKP Dorong Terobosan Sektor Perikanan Lewat Inovasi Teknologi Digital Pengguna atau user Minapoli akan terkoneksi dengan jaringan perikanan berkualitas yang sudah terjalin selama lebih dari 15 tahun dan terus berkembang dari waktu ke waktu. Dengan terhubung dengan jaringan perikanan yang ada tentunya akan membuka banyak peluang untuk memberikan benefit dan nilai lebih bagi bisnis yang sedang atau akan dilakukan dan tentunya pada akhirnya akan memberikan kontribusi dalam perkembangan dan akselerasi industri perikanan.  Artikel ini dimuat di Majalah Trobos Aqua edisi November 2018Tentang MinapoliMinapoli merupakan marketplace++ akuakultur no. 1 di Indonesia dan juga sebagai platform jaringan informasi dan bisnis perikanan budidaya terintegrasi, sehingga pembudidaya dapat menemukan seluruh kebutuhan budidaya disini. Platform ini hadir untuk berkontribusi dan menjadi salah satu solusi dalam perkembangan industri perikanan budidaya. Bentuk dukungan Minapoli untuk industri akuakultur adalah dengan menghadirkan tiga fitur utama yang dapat digunakan oleh seluruh pelaku budidaya yaitu Pasarmina, Infomina, dan Eventmina.  ...