Infomina - Terkini

Minapoli adalah platform jaringan infomasi dan bisnis perikanan terintegrasi. Buat dan bagikan informasi perikanan sekarang dan temukan manfaatnya terkoneksi dengan jaringan Minapoli.

Terkini

Optimalisasi Perikanan Budidaya Melalui Pendekatan Ekosistem
Terkini

Optimalisasi Perikanan Budidaya Melalui Pendekatan Ekosistem

Pengelolaan Akuakultur dengan Pendekatan Ekosistem (ADPE) atau Ecosystem Approach to Aquaculture (EAA), merupakan salah satu opsi pengelolaan perikanan yang mendukung pembangunan perikanan berkelanjutan dengan mengintegrasikan manfaat ekologi, ekonomi, dan sosial.“ADPE didasarkan pada tiga prinsip dasar yaitu keberlanjutan ekosistem, kesejahteraan berkeadilan dan tata kelola atau sinergitas. Pendekatan ini merupakan fase penting untuk menjaga kelestarian sumber daya alam, habitat, dan ekosistemnya, sehingga tercipta pembangunan subsektor perikanan budidaya yang berkelanjutan serta mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pengelolaan perikanan budidaya yang tidak memperhatikan keseimbangan lingkungan akan berakibat pada penurunan daya dukung lingkungan tersebut yang pada akhirnya akan mengancam eksistensi sumber daya alam,” tegas Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM), Sjarief Widjaja.Hal tersebut disampaikan Sjarief pada WEBINAR SERIES #7 bertema ‘Optimalisasi Perikanan Budidaya Melalui Pendekatan Ekosistem’, yang diselenggarakan oleh Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan (BBRSEKP), pada Rabu, 28 Juli 2021. Kegiatan ini terlaksana dalam rangka mengembangkan inovasi kebijakan pembangunan sektor kelautan dan perikanan.Baca juga: Silvofishery, Alternatif Pelestarian Hutan Mangrove“Intervensi manusia di alam harus dapat memberi nilai tambah dengan menghasilkan produk perikanan yang berkualitas dan ramah lingkungan. Integrasi yang selaras dan harmonis antara sumber daya alam, habitat, dan ekosistem, dapat berikan kemanfaatan tanpa harus korbankan kelestariannya,” tutur Sjarief.Pihaknya pun berharap, webinar ini dapat menghasilkan suatu rumusan dalam mendukung program prioritas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dalam hal revitalisasi tambak idle, pengembangan tambak baru dengan kualitas prima serta pembangunan kampung budidaya yang memberikan banyak manfaat bagi masyarakat lokal dan mampu meningkatkan perekonomian nasional.Dalam pelaksanaannya, KKP telah bekerjasama dengan WWF (World Wild Fund for Nature) Indonesia, dalam merancang pedoman tentang pengelolaan perikanan budidaya berbasis ekosistem. Pedoman ini menjadi acuan bagi pelaku usaha bagaimana melakukan pengelolaan usaha budidaya perikanan dengan mempertimbangkan aspek ekologi, sosial dan ekonomi. Cut Desyana, Program Manager for Sustainable Fisheries WWF, sebagai salah satu pembicara dalam webinar ini, menuturkan bahwa penerapan ADPE memiliki beragam manfaat, diantaranya yakni: peningkatan program ketahanan pangan, memperkuat eksistensi kawasan akuakultur dan jaminan kesempatan kerja/usaha; peningkatkan daya saing produk akuakultur, dan merangsang investasi; menggerakkan perekonomian lokal/nasional berbasis akuakultur; menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan dalam rangka mengintegrasikan program program pembangunan yang berkelanjutan di suatu wilayah; dan berpotensi menurunkan biaya sertifikasi produk akuakultur.Baca juga: Ayo Lestarikan Ekosistem Mangrove pada Tahun 2021 yang Akan Datang“ADPE juga dapat dijadikan sebagai alat penilaian dalam perencanaan dan pengelolaan perikanan di pemerintahan pusat dan daerah, pemantauan performa pengelolaan perikanan, dan sinergi dengan inisiatif global. Di samping itu, penerapan ADPE bisa dilakukan pada semua sistem budidaya dan dapat mensinergikan berbagai program lainnya, seperti sistem Intensif, Semi-intensif, Tradisional, Supra-intensif, budidaya ikan sistem minapadi, budidaya ikan teknologi bioflok, alat berat eskavator, pembangunan irigasi tambak partisipatif (PITAP), kebun bibit rumput laut, kampung ikan, bantuan KJA budidaya laut dan model budidaya pakan alami maggot,” terangnya.BRSDM melalui BBRSEKP juga telah melakukan kajian tentang pelaksanaan program pengembangan budidaya perikanan berbasis ekosistem. Kajian ini diperlukan untuk mengetahui hambatan-hambatan dalam pelaksanaan prinsip-prinsip ADPE. Rizki Aprilian Wijaya, Peneliti BBRSEKP, yang turut menjadi pembicara, memaparkan bahwa implementasi ADPE di Indonesia, dimulai dengan Pilot Project Implementasi pada beberapa daerah yang dinilai potensial, di antaranya Kabupaten Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan, pada 2018. Pemilihan Pinrang sebagai pilot project tersebut didasarkan atas beberapa pertimbangan, antara lain Pinrang memiliki potensi pengembangan budidaya perikanan yang cukup besar (air payau, laut dan air tawar), disamping itu di Kabupaten Pinrang terdapat berbagai ragam jenis kegiatan budidaya perikanan yang sudah dikembangkan dan secara nyata telah memberikan nilai tambah dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat, serta tingkat kepedulian pemerintah daerah dan masyarakat dalam mengelola lingkungan yang dinilai cukup tinggi.Baca juga: Percontohan Klaster Budidaya Udang BerkelanjutanSaat ini paradigma pembudidaya udang masih menitikberatkan pada faktor ekonomi dibandingkan lingkungan. Implementasi pendekatan EAA dapat dilakukan sepanjang manfaat ekonomi yang diterima lebih besar dibandingkan dengan kondisi usaha eksisting.Sementara itu, Denny D. Indradjaja, Sekretaris Jenderal Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI), berfokus pada penerapan sistem Indonesia Good Aquaculture Practices (Indo GAP). Indo GAP merupakan sistem yang dikembangkan KKP sejak 2018, untuk menjamin produk perikanan budidaya memenuhi aspek keamanan pangan, kesehatan dan kesejahteraan ikan, sosial ekonomi serta tanggung jawab lingkungan. Pasalnya, saat ini baru terdapat sekitar 5 persen pembudidaya yang mengantongi sertifikasi Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) atau Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB). Disamping itu, penggunaan KJA ramah lingkungan juga harus segera digunakan untuk para pembudidaya ikan di danau/waduk dengan skema bantuan untuk para pembudidaya skala UKM, serta perlu adanya peningkatan pengembangan pengolahan limbah berbasis komunal untuk para petambak UKM tradisional dan semi intensif, serta penyetaraan dan pengakuan Sertifikasi IndoGap oleh ‘buyers’.Sumber: BRSDMKP ...
Cara Menaikkan dan Menurunkan pH Air Secara Alami
Terkini

Cara Menaikkan dan Menurunkan pH Air Secara Alami

Salah satu kendala dalam budidaya perikanan di kolam yaitu permasalahan menentukan parameter air (pH). Skala pH terdiri dari 0 hingga 14, dan pH yang dianggap netral dan yang paling baik berkisar pada nilai 6,5–8.Hampir semua ikan hidup pada pH air yang netral, untuk itu guna meminimalisir kerugian usaha budidaya atau pertambakan, perlu memperhatikan betul kadar pH air yang dilakukan secara rutin. Alat yang perlu disiapkan dalam mengukur pH air yaitu pH meter digital.Pada dasarnya, nilai pH yang baik untuk tambak dan kolam adalah 6,5-8. Jika di bawah dari nilai tersebut, maka air bersifat asam.Jika nilai pH di atas nilai tersebut, maka air kolam bersifat basa. Kedua kondisi tersebut bukanlah kondisi yang optimal bagi pertumbuhan ikan dan udang.Baca juga: Analisa Kualitas Air Budidaya Ikan: Parameter KimiaLantas bagaimana cara menurunkan dan menaikkan nilai pH air, berikut dilansir dari akun Instagram Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).Menaikkan pHUntuk pH di bawah 6,5 atau bersifat asam dapat diatasi dengan cara alami yaitu dengan memberikan saringan yang terdiri dari pecahan koral dan pecahan kulit kerang dicampur dengan potongan batu kapur pada saluran aerasi kolam.Selain itu, juga dapat menggunakan batu kapur pada dasar kolam. Gunakan batu kapur yang masih berbentuk bongkahan, hal ini karena bongkahan batu kapur tidak mudah menyusut dan dapat digunakan dalam jangka waktu yang lama.Selain batu kapur, bisa juga menggunakan batu karang pantai. penggunaannya juga serupa dengan penggunaan batu kapur, hanya cukup merendamnya di dasar kolam. Semakin banyak batu yang digunakan, maka proses kenaikan pH akan semakin cepat.Baca juga: Pengelolaan Kualitas Air Kolam PatinMenurunkan pHJika air kolam dalam kondisi basa atau nilai pH tinggi, maka dapat menggunakan daun ketapang untuk menurunkannya. Caranya adalah dengan merendam daun ketapang di dasar air selama beberapa hari.Sebelum merendam daun ketapang, terlebih dahulu rebus daun ketapang guna menghilangkan zat tanin yang terkandung, karena zat tanin dapat menimbulkan warna kuning pada air.Sumber: Sariagri.id ...
Ciri Bioflok Berhasil dan Gagal Serta Contohnya
Terkini

Ciri Bioflok Berhasil dan Gagal Serta Contohnya

Konsumsi ikan pada saat ini juga mulai dicanangkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan terdahulu, Susi Pudjiastuti dengan semboyan “Ayo makan ikan”. Semboyan tersebut masyarakat mulai sadar akan pentingnya mengkonsumsi ikan. Dengan tingginya minat mengkonsumsi maka harus diiringi dengan tingginya produksi ikan. Di dunia perikanan sudah bermunculan inovasi dalam arti budidaya ikan. Kemajuan teknologi menuntut para peternak dengan mengubah pola budidaya ikan menjadi lebih ramah lingkungan dan ekonomis. Salah satunya adalah pembuatan bioflok. Pembuatan bioflok tidak serta merta dibuat tanpa persiapan. Peternak yang handal akan menyiapkan metode terbaik sebagai upaya untuk meningkatan kualitas bioflok yang dibuatnya.            BioflokBioflok adalah  sistem yang digunakan oleh peternak sebagai metode memanfaatkan organisme sebagai pakan ternak khususnya ikan. Bioflok secara harfiah merupakan bahan organik yang dimanfaatkan sebagai upaya pembuatan pakan dalam bentuk gumpalan.Baca juga: Sistem Bioflok, Teknologi Budidaya Baru untuk Ikan Nila  Secara arti bioflok berasal dari bahasa asing yang berarti “kehidupan” dan “gumpalan”. Sehingga dapat diartikan sebagai gumpalan pakan yang diperoleh dari bahan hidup seperti bahan organik atau organisme. Ciri BioflokSejatinya setiap peternak handal akan mengelola peternakan ikan secara baik dan benar. Namun tak melulu bioflok berhasil diterapkan. Oleh sebab itu terdapat dua karakteristik bagaimana bioflok yang berhasil dan yang gagal. Berikut penjelasannya; Bioflok BerhasilBerikut beberapa ciri bioflok yang baik : Ketebalan Bioflok Berkisar antara 10 Sampai dengan 12 cmDalam pembuatan bioflok memerlukan peran serta aktivitas organisme. Salah satu bakteri yang dipelukan adalah Bacillus coagulans yang berperan dalam pembentukan asam laktat. Bacillus coagulan merupakan bakteri asam laktat yang dapat menghasilkan eksopolisakarida dalam pembentukan flok. Baca juga: Manfaat Berlipat dari Budidaya Nila Sistem BioflokSelain itu terdapat beberapa bakteri yang berperan sebagai pensintesis nutrisi seperti Bacillus licheniformis yang berperan dalam siklus nitrogen. Sintesis ini berfungsi agar kandungan N bahan organik dapat terurai. Bioflok standarnya memiliki ketebalan berkisar antara 10 sampai dengan 12 cm. Ketebalan yang pas akan berpengaruh terhadap konsumsi ikan terhadap bioflok. Kandungan C/N rasio yang sudah seimbang akan membentuk inti dalam pembentukan flok. Kondisi Air pada pH NetralKondisi pH pada kolam dengan bioflok yang berhasil apabila diukur dengan ph meter maka kondisi pH berada pada kisaran 7 atau netral. Adanya perubahan keasaman hanya berubah berkisar 0,02 – 0,2. Derajat keasaman air pada kolam stabil pada rentang angka tersebut. Apabila terjadi perubahan atau kenaikan pH hanya terjadi pada pagi hari dan sore hari. Kondisi pH yang netral karena perombakan pada bahan organik melalui aktivitas mikroba berjalan semestinya, sehingga tidak akan terjadi penumpukan yang menyebabkan turun atau naiknya pH air.Baca juga: Tips Membuat Bioflok untuk Budidaya Nila Bioflok Tidak BerbusaPenyebab air kolam berbusa salah satu kemungkinannya disebabkan fenomena ledakan alga atau disebut algae blooming. Proses pemupukan yang berlebihan atau overdosis dalam penggunaan katalis plankton merupakan penyebab terjadinya kondisi tersebut. Kolam berbusa menyebabkan kondisi air menjadi pekat, hal ini dapat dihindari dengan pengurangan air sebanyak 30% dan kalsium peroksida (CaO2) untuk menangani permasalahan tersebut. Air Berwarna Coklat Muda atau KremKunci keberhasilan bioflok adalah kondisi air yang baik. Kondisi air secara fisik seperti warna merupakan indikator keberhasilan bioflok. Warna air pada kolam bioflok memiliki ciri berwarna coklat muda atau krem. Warna air disebabkan oleh terlarutnya sisa pakan maupun bahan organik dari kotoran ikan yang terkandung pada air kolam. Perubahan warna menjadi coklat merupakan suatu hal wajar karena menggunakan bakteri dalam pemanfaatan bioflok sebagai suplemen pakan.Baca juga: Probiotik Herbal Kreasi Mahasiswa KKN Undip, Panen Ikan Lele Hanya 1 Bulan Tidak BerbauKondisi kolam dengan sistem bioflok yang berhasil adalah dengan tidak adanya bau pada air. Bau pada kolam bioflok dapat disebabkan karena menumpuknya kotoran di dasar kolam. Penumpukan kotoran maupun sisa-sisa pakan dapat menyebabkan perombakan bahan organik secara berlebihan sehingga terjadi penumpukan amonia yang sangat tinggi. Tindakan yang harus dilakukan untuk mengatasi permasalahan agar tidak berbau dengan mengganti air sebanyak 30%, menambah aerasi, probiotik dan molase (tetes), diikuti dengan pengapuran pada malam hari. Lakukan penyifonan dan berikan garam secukupnya. Bioflok GagalBerikut beberapa ciri bioflok yang gagal : Bioflok Tidak terbentukSalah satu ciri utama bioflok gagal adalah bioflok tidak terbentuk. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh bahan organik masih belum cukup, penyusun inti flok kurang, C/N rasio tidak sesuai (terlalu rendah), dan gangguan cuaca (hujan) sehingga konsentrasi air terlalu tinggi dan bioflok tidak dapat mengendap. Bioflok Terlalu PekatBioflok yang terbentuk namun terlalu padat dapat dikatakan bahwa bioflok yang dibuat juga tidak berhasil. Dengan kata lain, bioflok yang terlalu pekat atau kental dapat mempengaruhi kondisi air pada kolam lele. Kondisi tersebut perlu dihindari karena adanya bioflok terlalu pekat dapat mempengaruhi ikan karena minimnya kandungan oksigen terlarut dalam kolam. Hal ini dapat menghambat pertumbuhan ikan apabila suplai oksigen tidak tercukupi. Baca juga: Probiotik, Immunostimulan, dan Manajemen Kualitas AirKondisi pH pada Air Terlalu MasamBahan bioflok yang merupakan susunan dari bahan organik memberikan dampak terhadap perubahan pH air pada kolam. Kandungan bahan organik terlarut akan menurunkan pH air sehingga meningkatkan keasaman air pada kolam bioflok. Kondisi pH air yang masam berdampak terhadap kandungan oksigen terlarut pada air. Apabila kandungan oksigen rendah maka aktivitas pernapasan akan menurun dan menyebabkan bakteri anaerob mudah berkembang dan memunculkan parasit air. Warna Air Terdapat Warna Putih KeruhWarna air yang terlalu keruh dan berwarna putih mengindikasikan kandungan kapur dan mineral yang terlalu tinggi. Kandungan ini pada beberapa budidaya perikanan sangat tidak dianjurkan karena akan menaikan pH dan menjadikan kondisi air menjadi basa. Kondisi ini dapat menyebabkan pertumbuhan ikan terhambat karena tingkat kesadahan air menjadi terlalu tinggi. Selain itu dampak lain dari tingginya kesadahan air adalah menyebabkan aerasi kolam menjadi buruk. Baca juga: Probiotik, Pencehgah Penyakit dan Pendorong Produksi Perikanan BudidayaAdanya EndapanBioflok tentu akan dikatakan berhasil apabila lapisan bioflok terbentuk di permukaan kolam. Apabila bioflok tidak berhasil terbentuk, maka akan terjadi pengendapan pada dasar kolam. Pengendapan biasanya berupa bahan organik yang berasal dari sisa kotoran ikan yang tidak terurai dan sisa pakan yang tidak termakan oleh ikan Pengendapan bahan organik pada dasar kolam akan menyebabkan tingginya kadar organik terlarut dalam air. Kondisi tersebut dapat menyebabkan ikan mengalami kematian massal karena keracunan senyawa berbahaya. Nah, itulah tadi ulasan lengkap yang bisa kami bagikan pada segenap pembaca sekalian yang berkaitan dengan ciri-ciri bioflok yang dinilai berhasil dan gagal serta contohnya. Semoga memberikan bahasan bacaan yang bisa mencerdaskan. Terima Kasih.Sumber: dosenpertanian.com ...
Kiat ”Murah” Aplikasi Probiotik
Terkini

Kiat ”Murah” Aplikasi Probiotik

Hasil panen yang besar menjadi harapan bagi petani ikan. Sedangkan penyakit dan ketidakrataan pertumbuhan ikan selalu menjadi masalah utama. Manipulasi mikroflora merupakan pilihan untuk aplikasi di lapangan demi mengeruk keuntungan maksimal.Probiotik sudah sejak lama dikenalkan pada dunia perikanan Indonesia, terutama sejak dilarangnya penggunaan antibiotik pada produk perikanan oleh pasar Amerika dan Eropa, sebagai salah satu pengimpor produk perikanan terbesar. Pada saat itu nilai ekspor produk perikanan Indonesia turun pada tingkat yang sangat rendah, karena hampir semua produk perikanan kita di kembalikan dengan alasan diatas. Dan penderita kerugian terbesar adalah petani ikanUntuk mengatasi masalah tersebut probiotik mulai disosialisasikan sebagai solusi mengatasi masalah dan masih menjadi pilihan utama sampai saat ini. Bahkan probiotik masih menjadi obyek penelitian para ilmuwan untuk memaksimalkan penggunannya dan menemukan jenis baru yang mungkin dapat dimanfaatkan oleh industri perikanan Indonesia.Baca juga: Probiotik, Imunostimulan, dan Manajemen Kualitas AirPetani ikan di Indonesia sebenarnya sudah mengenal dan menggunakan bakteri ini, tetapi petani belum paham tentang bagaimana cara kerja probiotik, sehingga pengunaannya belum efektif.Probiotik didefinisikan sebagai makhluk hidup yang bisa menguntungkan bagi inangnya dan identik disebut bakteri baik. Di bidang perikanan biasa digunakan sebagai pengontrol kualitas air, padahal probiotik bisa dimanfaatkan untuk keperluan lain. Jenis Lactobacillus dan Bacillus paling banyak digunakan oleh produsen probiotik komersial karena di klaim bahwa kedua jenis baktei ini merupakan “bakteri baik” yang dapat menekan pertumbuhan “bakteri jahat” dan bermanfaat bagi pencernaan inangnya.Beberapa cara kerja bakteri ini akan dijelaskan agar petani dapat memaksimalkan penggunaan probiotik untuk meningkatakan hasil panen mereka.Probiotik Bagi Pertumbuhan IkanMemperoleh ikan yang tumbuh dengan cepat  adalah keinginan setiap petani ikan. Probiotik dapat membantu ikan untuk memacu pertumbuhannya karena probiotik memproduksi enzim yang dapat membantu tubuh inang untuk memecah makanan sehingga dapat diserap dengan baik. Paling baik cara penggunaanya langsung dicampur kedalam pakan. Karena akan termakan oleh ikan dan dapat masuk kedalam pencernaan ikan. Saat berada dalam usus bakteri ini sebenarnya hidup tetapi harus diberikan secara berkala agar keberadaanya tidak hilang tergeser oleh jenis lain yang tidak bermanfaat bagi ikan. Beberapa percobaan menunjukkan bahwa probitik sebaiknya diberikan sebanyak dua kali dalam satu minggu.Baca juga: Aplikasi Probiotik Tepat, Pakan HematProbiotik Bagi Penyakit IkanPenyakit adalah momok bagi setiap petani ikan dimanapun, karena mampu mengakibatkan kematian massal pada ikan yang dipelihara. Salah satu penyakit yang banyak timbul adalah penyakit akibat bakteri. Penyakit ini dapat diatasi dengan aplikasi probiotik. Dalam tubuh ikan mekanisme kerja probiotik untuk pencegahan penyakit adalah dengan menghasilkan suatu zat yang disebut zat antibakteri yang dapat menekan dapat pertumbuhan bakteri lain yang ada di alam sehingga jumlahnya tidak membahayakan bagi ikan. Pemberian probiotik pada pakan, air atau keduanya dapat dilakukan, karena bakteri pembawa penyakit ada dalam pencernaan ikan itu sendiri atau ada dalam lingkungan tempat ikan hidup. Beberap ilmuwan bahkan meneliti kemungkinan probiotik mampu mengatasi penyakit-penyakit yang disebabkan oleh virus.Baca juga: Probiotik, Pencegah Penyakit dan Pendorong Produksi Perikanan BudidayaProbiotik untuk Kualitas AirCara ini yang paling populer dikomunitas petani ikan, karena disebut dalam kemasan probiotik komesial yang banyak berada di pasaran. Klaim dari produsen probiotik komersial yang mengatakan bahwa  probiotik dapat bekerja menyingkirkan ”bakteri jahat” tidak sepenuhnya salah. Tetapi ada hal lebih penting dari cara kerja probiotik di dalam air yaitu mengelola kualitas air sehingga ikan dapat tumbuh sehat didalamnya. Probiotik dalam air dapat berfungsi sebagai penurun kadar zat-zat yang membahayakan pada ikan, seperti nitrat dan nitrit. Beberapa probiotik bahkan mulai diteliti untuk dapat difungsikan sebagai penstabil kadar oksigen terlarut dalam air.Manfaat probiotik bukan hanya pada tingkat pembesaran ikan, bahkan penggunaan probiotik secara terus menerus mulai dari ukuran larva telah diteliti mampu menghasilkan produksi ikan yang lebih baik dari segi pertumbuhan dan ketahanan terhadap penyakit, bahkan kelangsungan hidup ikan (Survival Rate) pun semakin tinggi.Banyak sekali manfaat yang diperoleh dari penggunaan probiotik, asal kita tepat mengaplikasikannya. Jika dihitung secara ekonomi maka tidaklah rugi kita menggunakan probiotik pada kolam kita. Karena biaya yang dikeluarkan untuk membeli produk ini akan terganti dengan hasil panen yang akan kita dapat nantinya. Dan ikan peliharaan kita tentunya akan terhindar dari masalah-masalah penyakit yang biasa kita hadapi.Sumber: BRDSDM KKP ...
Transportasi Ikan Hidup
Terkini

Transportasi Ikan Hidup

Transportasi Ikan hidup dapat diartikan sebagai suatu tindakan memindahkan ikan dalam keadaan hidup dengan memberikan perlakuan tertentu untuk menjaga kelangsungan hidup ikan sampai ke tempat tujuan. Pada usaha budidaya yang semakin berkembang tempat pembenihan dan pembesaran seringkali dipisahkan dengan jarak yang agak jauh. Pemindahan benih ke tempat pembesaran memerlukan penanganan khusus agar benih selamat. Keberhasilan transportasi benih ikan sangat erat kaitannya dengan kondisi fisik dan kimia air. Ada dua sistem transportasi yang digunakan untuk hasil perikanan hidup di lapangan. Sistem transportasi tersebut terdiri dari transportasi sistem basah dan transportasi sistem kering. Baca juga: Persiapan Mapan, Tekan KematianTransportasi Ikan Sistem Basah Pada transportasi sistem basah, ikan diangkut di dalam wadah tertutup atau terbuka yang berisi air laut atau air tawar tergantung jenis dan asal ikan.  Pada pengangkutan dengan wadah tertutup, ikan diangkut di dalam wadah tertutup dan suplai oksigen diberikan secara terbatas yang telah diperhitungkan sesuai dengan kebutuhan selama pengangkutan. Pada pengangkutan dalam wadah terbuka, ikan diangkut dengan wadah terbuka dengan suplai oksigen secara terus menerus dan aerasi selama perjalanan.  Transportasi basah biasanya digunakan untuk transportasi hasil perikanan hidup selama penangkapan di tambak, kolam dan pelabuhan ke tempat pengumpul atau dari satu pengumpul ke pengumpul lainnya.Transportasi ikan sistem basah terdiri dari dua sistem yaitu sistem terbuka dan sistem tertutup. Sistem terbuka lazim digunakan adalah diangkut dalam keadaan terbuka. Sistem ini mudah diterapkan.  Berat ikan yang aman diangkut dengan sistem terbuka tergantung efesiensi sistem aerasi, lama pengangkutan, suhu air, ukuran, dan jenis ikan. Baca juga: Tips Pemeliharaan Induk Lele yang BenarPengangkutan dengan sistem ini umumnya dilakukan untuk jarak tempuh pendek dan waktu yang singkat pengangkutan ikan hidup dengan sistem tertutup merupakan pengemasan ikan hidup yang dilakukan dengan tempat atau wadah tertutup, udara dari luar tidak dapat masuk ke dalam media tersebut. Pengemasan dengan cara memerlukan suplai oksigen yang cukup.  Dalam wadah tertutup, oksigen sangat terbatas. Karena itu, perlu diperhatikan faktor faktor penting yang mempengaruhi keberhasilan pengangkutan yaitu kualitas ikan, oksigen, suhu, pH, CO2, amoniak, serta kepadatan dan aktivitas ikan. Transportasi ikan sistem kering Transportasi ikan hidup tanpa media air (sistem kering) merupakan sistem pengangkutan ikan hidup dengan media pengangkutan bukan air. Pada transportasi ikan hidup tanpa media air, ikan dibuat dalam kondisi tenang atau aktivitas respirasi dan metabolismenya rendah.  Baca juga: Gunakan Kincir, Profit Nila pun MengaliTransportasi sistem kering ini biasanya menggunakan teknik pembiusan pada ikan atau ikan dipingsankan terlebih dahulu sebelum dikemas dalam media tanpa air. Pada transportasi ikan hidup sistem kering perlu dilakukan proses penenangan terlebih dahulu. Kondisi ikan yang tenang akan mengurangi stress, mengurangi kecepatan metabolisme dan konsumsi oksigen.  Pada kondisi ini tingkat kematian selama transportasi akan rendah sehingga memungkinkan jarak transportasi dapat lebih jauh dan kapasitas angkut dapat ditingkatkan lagi.  Metode penanganan ikan hidup dapat dilakukan dengan cara menurunkan suhu air atau dapat juga menggunakan zat anestesi.  Perlu diperhatikan bahwa ikan yang akan dipingsankan ini nantinya akan dikonsumsi, sehingga pemilihan metode imotilisasi harus memperhatikan aspek kesehatan.Sumber:agrikompleks.my.id ...
Si Ikan Nila, Inovasi Kelurahan Bakalankrajan Kota Malang di Ajang Sinovik 2021
Terkini

Si Ikan Nila, Inovasi Kelurahan Bakalankrajan Kota Malang di Ajang Sinovik 2021

Usai lolos menjadi Top 99 Inovasi Nasional dalam gelaran Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (Sinovik) 2021 yang dilaksanakan oleh Kemenpan RB, Wali Kota Malang Sutiaji kembali memaparkan dan mengikuti penilaian secara virtual terkait inovasi Si Ikan Nila dalam rangka menuju top 45 Inovasi Nasional, pada Kamis (8/7/2021) di NCC Kota MalangInovasi Si Ikan Nila merupakan sentra intensif budi daya ikan nila menggunakan sistem bioflok. Inovasi Kelurahan Bakalankrajan tersebut menjadi inovasi pelayanan publik sebagai perwujudan percepatan reformasi birokrasi dan pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan.Dalam paparannya Sutiaji menjelaskan bahwa Si Ikan Nila menjadi salah satu inovasi unggulan di Kota Malang karena memiliki beberapa keunikan. Salah satunya adalah inovasi budi daya ikan nila merah pada lahan tidak produktif atau sempit di kawasan perkotaan menggunakan teknologi bioflok, berbasis kewilayahan dan keswadayaan dengan sistem kemitraan. Baca juga: Sistem Bioflok, Teknologi Budidaya Baru untuk Ikan Nila"Dengan 85 pembudidaya yang mayoritas adalah generasi milenial maka produksinya tembus sampai 26,4 ton pertahunnya dengan omzet 660,9 juta rupiah pertahunnya; ini adalah potensi yang luar biasa bagus sehingga patut kita apresiasi" ujar Sutiaji.Lebih lanjut, Sutiaji juga mengatakan bahwa Kelurahan Bakalankrajan mampu menjadi pioner bioflok secara kewilayahan dengan berbasis pemberdayaan masyarakat dan keswadayaan wilayah. Inovasi ini juga bukan hanya sekedar budidaya biasa namun lebih jauh telah mampu terintegrasi dari hulu sampai dengan hilir di wilayah Keluraham Bakalankrajan. "Mulai dari pembenihan, pembesaran, edukasi teknis kolam, pengolahan pasca panen, pariwisata sampai dengan pemasaran menjadi satu kesatuan usaha yang dilaksanakan bersama-sama" tuturnya lagi.Baca juga: Inovasi Dukung Budidaya Udang Masa KinHasil panennya pun, imbuh pria berkacamata tersebut, telah dijual dan dimanfaatkan oleh beberapa pelaku usaha di bidang kuliner sehingga terjadi peningkatan pendapatan masyarakat pekerja sektor informal yang mencapai 1,8 juta rupiah persiklus perkolam. Tentu, ini mampu menurunkan tingkat pengangguran dimana muaranya terdapat 85 pembudidaya dan 121 orang pelaku usaha pendukung budidaya (pasca panen dan UMKM Olahan)."Fenomena menarik lainnya adalah konsumsi ikan meningkat serta gizi masyarakat membaik; tingkat angka stunting juga menurun di wilayah kelurahan Bakalankrajan; inovasi ini patut kita support demi kemaslahatan masyarakat," pungkas Sutiaji.Sumber: kumparan.com ...
Salon Ikan Cupang, Peluang Cuan di Tengah Pandemi
Terkini

Salon Ikan Cupang, Peluang Cuan di Tengah Pandemi

Maros - Komunitas Cupang Maros (KCM) di Maros, Sulawesi Selatan membuat salon khusus ikan cupang. Cupang itu dirias untuk diikutkan dalam kontes.Jika biasanya salon kecantikan hanya dibuat untuk manusia, di Maros, Sulawesi Selatan, Komunitas Cupang Maros (KCM) membuat salon khusus ikan cupang. Biaya untuk satu ekor cupang berkisar Rp 20 ribu sampai Rp 25 ribu.Satu orang calon peserta kontes biasa membawa 5 sampai 10 ekor ikan terbaik mereka untuk dirias.Di salon itu, ikan cupang yang akan dirias terlebih dahulu dibius menggunakan air es, agar ikan tidak terlalu banyak bergerak saat dikerjakan.Baca juga: Lima Manfaat Air Rendaman Daun Ketapang bagi Ikan CupangSetelah terbius, satu persatu sirip ikan dirapikan menggunakan silet agar ukurannya proporsional dan tentunya lebih cantik dari sebelumnya.Meski terdengar mudah, pengerjaan merias ikan cupang ini membutuhkan keahlian khusus dan ketelitian. Pasalnya, kesalahan kecil saja, bisa berakibat fatal dan membuat sirip ikan menjadi rusak atau bahkan ikannya mati.Salon ikan cupang yang berlokasi di Desa Allaere, Kecamatan Tanralili, Maros itu pun ramai dikunjungi setiap akan ada gelaran kontes.Sumber: Detik.com ...
A Holistic View to Understand the Concept of “Correct Nutrition” in Aquaculture
Terkini

A Holistic View to Understand the Concept of “Correct Nutrition” in Aquaculture

Along with the development of the aquaculture industry, the concept of "precision nutrition" has appeared and is receiving more and more attention. Understanding the nutritional requirements of livestock, the factors that influence these requirements, and then implementing the correct management strategies is essential to building a sustainable and thriving farming model. strong. Some researchers have defined precise nutrition as meaning that the nutritional composition of the feed must meet the requirements for optimal production performance.To obtain a comprehensive view of all the factors that contribute to correct nutritional regulation, a multidisciplinary approach is required. In fact, correct nutrition must include a comprehensive survey of the animal's genetic background, living habits, metabolic characteristics, aquatic environment and other factors.Precise nutrition regulation covers every level, from genes, cells and tissues to the whole organism. Through interactions with genes, nutrients activate or inhibit signaling pathways/networks in cells, regulate gene expression and protein synthesis, and then affect composition, content and site of nutrient accumulation of carbohydrates, lipids, proteins and trace elements. Read more: Nutrition for Aquatic Aanimals and Related ProblemsIn this review, we propose that “correct nutrition” should be understood and implemented simultaneously from different aspects such as “correct feeding”, “correct metabolism”, “exact output”. correct” and “accurate support”. White leg shrimp cathc prey. Photo: TepbacPrecise feedingPrecise feeding is an important technique to reduce feed conversion ratio (FCR) so that farmers can gain more profit. Specifically, there is always one or more nutrients in excess or deficiency, leading to waste of feed ingredients, increased costs and environmental pollution.To improve nutrient utilization, minimize waste and achieve a clean culture environment, correct feeding requires a good understanding of each individual's genetic background, nutritional needs and habitat. species.Exact conversionIn the digestive system, the food after entering the fish body must be broken down into carbohydrates, proteins, lipids and vitamins before they can be absorbed by the intestines and metabolized in the organs that provide energy for the fish. fish live and grow.For example, in fish, the brain-liver-gut plays an important role in regulating feeding behavior and metabolism. What's more, the mechanisms of action of nutrients are amazingly complex. One cannot develop strategies for managing an organism without understanding the organism's metabolism. Therefore, a correct understanding of the animal's metabolism and metabolism will be of great help in improving nutritional quality. Read more: Marine Ingredients are Stable in Volume, Strategic in Aquaculture NutritionExact outputAlong with the modernization of society, consumers' demand for quality seafood products is increasing. Therefore, identifying methods to provide consumers with high-quality, nutritious seafood products has always been a major challenge facing the aquaculture industry. Exact supportPrecision support is defined as the use and development of useful new supporting infrastructures, technologies and methods such as improved construction of pollutant waste removal systems or development of more effective statistics. In addition, the accumulation of various nutritional elements can be achieved through manual intervention methods. For example, when feeding grass carp with lentils for a long time, the stiffness and brittleness of the fish muscle is significantly improved. It is noteworthy that the site of accumulation of adipose tissue plays a significant role in fish quality. The type and content of fat in the muscle determines the quality of the product. Fat content varies between different fish species. For example, marine fish such as halibut have less fat in their muscles, while salmon contains a lot of fat in their muscles. In fact, the storage and distribution of fat in fish is a complex process regulated internally by genes and externally by the environment. In the future, further in-depth research is needed so that more excellent aquaculture management software platforms can be developed by integrating computer science and biostatistics with production engineering. In general, precision nutrition is not just a literal concept, it is also a technology and theory that ensures the sustainable development of the aquaculture industry.Source: Tepbac.com ...
Freshwater Shrimp Farming Expanding in Rajshahi
Terkini

Freshwater Shrimp Farming Expanding in Rajshahi

Commercial shrimp farming is gaining popularity with the breakthrough of introducing larvae and post-larvae production in RajshahiThe state-owned breeding hatchery in Rajshahi has raised huge hopes for commercializing freshwater shrimp farming in the region by providing farmers with healthy hatchlings. Last year, the state-owned hatchery successfully produced over 300,000 post-larvae and distributed them to farmers in several areas across the Rajshahi division.“We’re producing post-larvae and larvae in the hatchery and supplying those among the farmers for the second consecutive time this year,” said Dr Jinnat Ara Rokeya Chowdhury, manager of Fish Seed Multiplication Farm.She said brine water was collected from the coastal belt in Cox’s Bazar in February last while 100 brood shrimps were collected in two phases from the Kocha River in Pirojpur district in April last. Subsequently, those were disinfected and nursed in brine water. During the entire nursing period, bio-security is being maintained strictly as it’s very important for post-larvae production from the larval stage.Read more: Pacific White Shrimp Response to Low Salinity Temperature FluctuationsVice-Chancellor-in-Charge of Rajshahi University (RU) Prof Ananda Kumar Saha visited the hatchery to see the larvae and post-larvae producing activities on Monday afternoon, reports BSS. He said the prospect of freshwater shrimp farming in a mixed culture method with some major carp fishes commercially is very bright in the region.“We’re seeing a glittering prospect of shrimp farming with some major carps like Rui, katla and silver carp in the region,” said Prof Shaha, a senior-most teacher in the Department of Zoology of RU. He clarified that both water and soil quality in the region including major parts of the Barind tract is suitable for shrimp farming and that it will surely bring diversity in the fish farming process.There are enormous prospects of boosting farmers’ income, employment generation, poverty reduction and protein security through cherished expansion of shrimp farming in the region, Dr Saha added.Dr Jinnat Ara Rokeya Chowdhury told Dhaka Tribune that fluctuation of temperature, bio-security, water hardness and disruption of power supply are the major challenges to a substantial reduction of mortality rate.Read more: Effects of Carbohydrate Source on a Biofloc Shrimp NurseryContinuously, post larva will be produced here though bringing parents from the saline rivers every breeding season. Farmers can purchase healthy and quality hatchlings from here at a reasonable price. As a whole, the hatchery will contribute a lot towards fulfilling the farmers’ demand.  She expected that an adequate number of healthy post-larvae could be supplied to the farmers through facing the existing challenges within the next couple of years.Shahidul Islam, a shrimp farmer of Kornoher village under Paba upazila, said he collects post-larvae from the hatchery and many farmers collect juvenile shrimp from him. Within six months, each of those weights becomes 120 to 125 grams. In local markets, shrimp is now being sold at Tk700-750 per kilogram, he revealed.Another farmer Shafiul Alam said commercial shrimp farming is gaining popularity with the breakthrough of introducing larvae and post-larvae production in Rajshahi.Earlier, the Department of Fisheries (DoF) had constructed the modern shrimp breeding hatchery at the compound of 3.29-hectare Fish Seed Multiplication Farm in the 2016-17 fiscal year at a cost of around Tk74.96 lakh. The aim of the construction of the modern shrimp breeding hatchery was to make farming more popular by removing the existing spawn scarcity.Divisional Deputy Director Tofaz Uddin said the DoF is intended to expand shrimp farming in freshwater bodies by providing updated technologies to grassroots farmers. Demands of hatchlings and fingerlings will be met through the successful implementation of various need-based programmes. In addition to farmers’ motivation, the department has set up projection ponds among the farmers.The farmers should cultivate shrimp using modern farming methods as it is very profitable, he added.Source: Dhaka Tribune ...
The Artemia Paradox
Terkini

The Artemia Paradox

One of the most animated discussions in the global aquaculture community undoubtedly remains the industry’s dependence on brine shrimp Artemia for larval rearing. Paradoxically enough, one can state that the very thing that has made large-scale aquaculture possible, if not well managed, might also be one of the greatest impediments for further growth of our industry in the future.In a series of articles, we gathered the thoughts of some of the leading Artemia experts and pioneers looking at the success and adequacy of past, present and future Artemia feeding strategies in fish and shrimp hatcheries worldwide.Historic Importance of ArtemiaHistorically, the major difference between some species in aquaculture and terrestrial animal farming has always been the fact that the larvae of shrimp and most marine species have to be offered a live food, whereas chicken and cattle accept inert diets throughout their lifecycle. And because culturing of the zooplankton (the natural food of fish and shrimp larvae) was either commercially unfeasible or technically hard to realize, the efforts of early aquaculture pioneers were hampered by inadequate larval food supplies.“The beginning of a solution to this problem came from the discovery by Seale (1933) in the USA and Rollefsen (1939) in Norway, that new-born fish larvae could be fed with the 0.4 mm nauplius larva of brine shrimp Artemia. A small crustacean species that thrives in salty, desert like conditions where few micro algae and bacteria survive. This discovery was particularly interesting because of the unique reproductive system of this fascinating crustacean species.Read more: Artemia Decapsulation: Transitioning from TraditionFor the species to survive in its typically harsh environment, Artemia have developed the ability to produce ‘winter eggs’. These ‘eggs’ are in fact cysts containing embryos that enter a period of dormancy. This is an intriguing biological event when an organism is in a deep sleep, stops metabolizing and only wakes up when conditions are favourable. This means that these incapsulated inactive embryos can be stored for a long time and only have to be incubated under the right conditions to produce free-swimming nauplii that are very well accepted as a food source for fish and shrimp larvae. All of a sudden aquaculture had theoretical access to a source of live feed that could be produced on demand.” Patrick Sorgeloos – Founder and former Director of the Artemia Reference Center, Ghent UniversityDevelopment of the Artemia MarketThe first true commercial supply of Artemia cysts came from salt ponds in the San Francisco Bay area (California, USA) and later from the Great Salt Lake (Utah, USA). The latter one remains an example of a sustainably managed and harvested natural resource of quality cysts up to this day.Very soon however, the increasing demand exceeded the yearly harvest of approximately 30 to 50 metric tons. From the late sixties on, there was an aggravating cyst shortage, and the hatching quality of the available cysts became less and less reliable. It was only after the FAO’s Technical Conference on Aquaculture in 1976 in Kyoto that the situation started to change for the better.Read more: INVE Aquaculture Uncovers Artemia in a Brand New Knowledge HubMandated by the FAO to do so and based on his earlier work at the University of Ghent, at that time Belgian biologist and researcher Patrick Sorgeloos led a number of initiatives from 1978 on to turn the limited global Artemia supply into a future proof resource for professional aquaculture. This work later resulted in the foundation of Artemia Reference Center and of INVE Aquaculture. The work done by Patrick Sorgeloos and his team focused on finding solutions for the major impediments for the further development of Artemia use in aquaculture: The need to explore new natural sources of Artemia in Europe, Asia, North and South America, and Australia and the introduction of brine shrimp in other suitable habitats such as North-East Brazil, Vietnam and China.Improvement of the cyst quality by developing new harvesting techniques such as harvesting at the water surface instead of at the lake shores where dirt particles build up between the cysts and the repeated hydration-dehydration cycles affect the hatching quality and energetic content of the embryos. Improvement in terms of yield reliability by developing standard Artemia hatching protocols that establish the optimal conditions for the nauplii to hatch successfully and simultaneously. Classification and fingerprinting of the differences in size, hatching performance, growth rate, nutritional value etc. of Artemia cysts coming from different strains, locations and even harvests.From ‘Raw’ Artemia to Artemia ProductsFor a long time Artemia cysts were simply harvested from the shoreline and distributed as a ‘raw’ product. But due to seasonal and regional variations, differences between sub-species, contamination of the product with sand and other external substances, the efficient and safe use of Artemia as a live feed required a more structured and responsible approach.Read more: Unlocking New Potential for Microalgae in Aquafeed“Decades of intensive research and development have led to the sophisticated live feed resource aquaculture knows today: a carefully processed product, namely the dry cysts that produce live nauplii within 24 hours after incubation. Thanks to superior processing and fingerprinting techniques, cysts can be packed and labelled according to their specific characteristics such as size, hatching capacity and nutritional value, regardless of their strain or origin.Advanced and patented technologies make it possible to break the embryos’ dormancy on demand for optimal hatching efficiency, to easily separate the empty cyst shells from the nauplii after hatching and to secure the Artemia’s biosecurity and energetic content with innovative processes and enrichment (Selco) products. This means that in an ideal situation every hatchery can procure the exact Artemia that is most suited for its specific application needs, without having to dread any kind of unpredictable outcome.”  Alessandro MorettiCurrent Situation and BottlenecksToday we are at a point where the world’s most interesting Artemia resources have been identified and are exploited to their full capacity while maintaining a sustainable harvesting rate. All together these sources provide a global supply of more than 3,000 metric tons per year. This is a major industry bottleneck on its own. Because, unlike global aquaculture which is expected to keep on growing exponentially, the Artemia supply will remain more or less stable at its current capacity.“For aquaculture to keep on growing using the available Artemia supply, the industry will have to take on the challenge of using Artemia as efficiently as possible. This requires adequate knowledge and application strategies. We will elaborate further on this in some of our upcoming articles.” Geert Rombaut – Product Manager – Artemia, INVE Aquaculture.Patented technologies in Aquaculture: blessing or curse?The considerable ongoing investment in the research and development (R&D) of new technologies continues to open up exciting possibilities to improve the management and productivity of hatcheries and farms worldwide. However, to protect this investment in R&D, often the companies’ investing in these new innovations will patent the technology. How should we look at this as an industry? The discussion arose once more recently, when Benchmark Holdings (representing its subsidiary INVE Aquaculture) won a case before the IP&IT court in Bangkok to protect its patents relating to its Artemia hatching technologies.The company successfully prosecuted infringement of its patented technology in Thailand. In this case, the patents specifically applied to technology that allows INVE to break the naturally long and unpredictable dormancy of certain Artemia cysts. The patented treatment elevates these cysts’ normal hatching percentage of approximately 20-40% to 80+% and therefore has brought enormous benefits to INVE Aquaculture’s customers and the market.“We have been pioneering in aquaculture for more than 35 years. Needless to say, that since then countless hours of scientific work and considerable financial resources have been dedicated to the benefit of our industry and of our customers – aquaculture farms and hatcheries worldwide. We have an obligation to ourselves, to our shareholders and to our customers to protect this investment in the future of aquaculture. It is the only way that we can guarantee the effectiveness of our innovations in the field, and the only way that we can keep the development of new breakthroughs viable.” Philippe Léger – CEO of INVE AquacultureSource: Inve Aquaculture ...
Daun Pare Dapat Digunakan sebagai Antibakteri Budidaya Ikan Air Tawar
Terkini

Daun Pare Dapat Digunakan sebagai Antibakteri Budidaya Ikan Air Tawar

Aeromonas hydrophila merupakan salah satu bakteri yang paling sering menyerang ikan air tawar. Pada budidaya ikan air tawar, ikan yang terinfeksi Aeromonas hydrophila membuat kualitas hasil budidaya menurun.Jika dibiarkan, hal tersebut menimbulkan berbagai penyakit. Seperti, Motile Aeromonas Septicaemia (MAS); Motile Aeromonad Infection (MAI); Hemorrhagic Septicemia; Red pest; hingga Red-sore.Masalah itu semakin diperparah lantaran Aeromonas hydrophila kebal terhadap antibiotik. Namun, hal itu dapat ditangani dengan penggunaan fitofarmaka (obat herbal yang sudah teruji klinis, Red).  Dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan UNAIR, Ir. Rahayu Kusdarwati M.Kes. temukan tanaman yang berpotensi sebagai fitofarmaka. Ialah tanaman pare (Momordica charantia L.), tanaman tersebut memang dikenal sebagai tanaman herbal karena memiliki banyak khasiat.“Tanaman pare memiliki banyak khasiat dan dapat digunakan sebagai fitofarmaka. Selain itu, ternyata ekstrak daun pare memiliki sifat antibakteri,” terangnya. Baca juga: Tumbuh Optimal dengan HerbalEkstrak Daun Pare diuji menggunakan metode maserasi dengan ethanol 96%. Lalu dilakukan pengujian senyawa fitokimia secara kualitatif. Penelitian itu dilakukan untuk menguji aktivitas antibakteri ekstrak daun pare terhadap Aeromonas hydrophila.  Setelah dilakukan penelitian dengan eksperimen, ternyata  hasil menunjukkan bahwa ekstrak daun pare mengandung senyawa 32% alkaloid, 22% flavonoid, 1,37 mg/100gr tannin, 1,6% terpenoid dan 5,2% saponin.“Aktivitas antibakteri dari senyawa yang terkandung dalam ekstrak daun pare dapat digunakan sebagai acuan dalam pengembangan pengobatan penyakit yang disebabkan oleh Aeromonas hydrophila,” ungkap dia. Berdasarkan data pengujian terlihat aktivitas antibakteri dari ekstrak daun pare terhadap Aeromonas hydrophila. “Setelah diteliti, ekstrak daun pare menghasilkan zona hambat dengan diameter 12,3 mm per 5 mg/ml terhadap Aeromonas hydrophila,” jelas dia.  Baca juga: Riset BRDSM: Tanaman Herbal Jadi Solusi Obat Aman untuk Budidaya IkanHasil penelitian juga menunjukkan adanya aktivitas antibakteri yang masuk dalam kategori intermediet. “Kategori intermediet mengindikasikan bahwa pengobatan dapat menjadi lebih efektif jika dosis yang digunakan lebih tinggi,” papar Rahayu. Meskipun ekstrak daun pare terbukti berpotensi sebagai fitofarmaka, Rahayu mengatakan bahwa penggunaan antibakteri dalam pengobatan harus memenuhi prinsip penggunaan obat pada umumnya. Yaitu diagnosis; obat; dosesi; persediaan obat; serta ketepatan waktu.“Penggunaan antibakteri terhadap bakteri yang kepekaannya tidak sensitif dapat menyebabkan ketidaksembuhan dari infeksi bakteri serta risiko terbentuknya resistensi terhadap antibakteri,” pungkasnya. (*)Penulis: Erika Eight NovantyEditor: Nuri HermawanReference : D A Masithoh, R Kusdarwati dan D Handijatno. Antibacterial activity of bitter gourd (Momordi cacharantia L.) leaf extract against Aeromonas hydrophila. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, Volume 236, conference 1Sumber: news.unair.ac.id ...
Auburn University Researcher Developing Management Practices for Problem Algal Blooms in Aquaculture
Terkini

Auburn University Researcher Developing Management Practices for Problem Algal Blooms in Aquaculture

Aquaculture is the fastest-growing sector of animal agriculture; however, sustainable expansion and intensification of aquaculture is severely hampered by issues related to aquatic animal health.A researcher in Auburn University’s School of Fisheries, Aquaculture and Aquatic Sciences is focused on developing programs to help the aquaculture industry better manage problematic algae growth in ponds and other water sources.Alan Wilson, professor and assistant director for instruction in his school, is partnering with the Aquatic Animal Research Unit of the U.S. Department of Agriculture-Agricultural Research Service, or USDA-ARS, to conduct research involving catfish growers in west Alabama.“We are currently focused on projects involving 21 ponds across five catfish farms,” Wilson said. “We are monitoring algal growth and gathering environmental data to help those growers establish best management practices for water quality.”Read more: Solutins to Control Blue-Green Algae in Grow-out PondsWilson says algal blooms can be a normal occurrence in ponds with elevated nutrients, but there is an urgent need to manage water quality in aquaculture ponds that favors beneficial algal communities versus those that can be harmful to the fish.“A ‘green pond’ can be a good thing in the healthy context,” Wilson said. “Algae are important, as they produce oxygen. But blooms can also become too abundant with harmful types of algae, creating conditions that kill the fish. This is what our control focus is on.“We are developing new detection, prevention and control measures for harmful algae to reduce fish/shellfish mortality, safeguard animal performance and ensure product quality.”Harmful algal blooms are occurring with increased regularity and severity in freshwater, estuarine and marine systems around the world, according to Wilson. These harmful algal blooms have brought about large-scale catastrophic losses of valuable catfish and shrimp, particularly in the summer months immediately prior to harvest.In Alabama alone, since 2015, mortality levels attributed to harmful algal blooms have surged to nearly 1 million pounds of catfish annually, according to Wilson’s USDA-ARS collaborator Benjamin Beck.Read more: Application of Micro Bubbles Technology in Catfish RearingMoreover, harmful algal blooms are thought to exert profound chronic effects, such as causing the fish to have less-than-normal feeding rates, thereby increasing the time to harvest, along with stress and immunosuppression that can potentially predispose fish to parasitic and bacterial disease.Wilson conducts his research through his lab at Auburn, which includes a team of four graduate students, five undergraduate students, one high school student and one technician, in collaboration with scientists located at federal and state agencies, nonprofit environmental groups and universities around the world.“We are starting our second year of this five-year project,” Wilson said. “We collect monthly water samples from each pond that allow us to monitor changes in water conditions with the objective of developing management tools to assist those aquaculture growers in managing their ponds more effectively and efficiently.”While Wilson’s current USDA-ARS-funded project focuses largely on catfish growers, his lab is broadly interested in understanding the ecology of freshwater lakes, ponds and reservoirs.“We study the abiotic and biotic mechanisms mediating the promotion or control of freshwater harmful algal blooms and taste-and-odor events in aquaculture ponds, recreational reservoirs and drinking water reservoirs,” Wilson said.Wilson routinely helps homeowners understand factors associated with harmful algal blooms in their private ponds. He also conducts water quality analyses to determine the threat that algal toxins pose to a variety of aquatic food webs, livestock and zoo animals.(Written by Mitch Emmons)Source: Auburn University ...
Solutions to Overcome The Mass Death of Caged Fish
Terkini

Solutions to Overcome The Mass Death of Caged Fish

According to the report of the Commanding Committee for Disaster Prevention and Search and Rescue (Fire Prevention and Rescue) of Thanh Thuy district, in the past few days, the low water level of the Da River combined with the change in flow has caused the phenomenon of fish cages hanging. Causing death of farmed fish, mainly in Thach Dong and Bao Yen communes. In addition, the fish cages raised in some other communes in the district also appeared scattered deaths.Currently, the whole district of Thanh Thuy has 450 fish cages raised by 11 households. The main types of fish that are raised are carp, carp, fried, persimmon, carp, etc. Before the Lunar New Year, in some fish cages in Doan Ha, Bao Yen, Xuan Loc, Thach Dong communes, the situation appeared. In the past ten days alone, 26 fish cages of 4 households died in mass, of which 21 cages died over 70%, the output was estimated at nearly 35 tons of fish, loss damage over 1.7 billion VND. The water of the Da River dropped sharply because the Hoa Binh Hydropower Plant closed down to blow down, causing dozens of fish cages to lie on the sand, dead fish due to insufficient oxygen and lack of living space.Mr. Tran Quoc Toan in Bao Yen commune, Thanh Thuy district said: In the past few days, Hoa Binh Hydropower Plant has closed the bottom discharge door without notice, closed again at night, the water receded. It was too fast for us to react. Many cages have completely floated to the surface of the sand, some of which are about to be harvested. My family alone had nearly ten tons of fish died, the damage amounted to hundreds of millions of dong. Also read: Automatic Submersible Fish Cage Systems Counter Weather, Surface ProblemsIn recent years, cage fish farming on the Da River has been frequently affected by the discharge and closure of Hoa Binh Hydropower Plant. If this situation continues, it is not good that we have to give up cage fish farming in the river because we cannot sustain it. Ms. Nguyen Thi Lan Huong, Deputy Head of the Agriculture and Rural Development Department said: Besides the closure of the Hoa Binh Hydropower Plant, causing the water level to decrease, it is also the cause of the impact of the recent storm No. Due to the large volume of water discharged from the channels into the river, in some farming areas, fishes are deprived of oxygen and living space, leading to mass death.Mr. Nguyen Van Giap's family in zone 2, Bao Yen commune collects dead fish to destroy and avoid polluting the environment.Immediately after receiving the report from the People's Committees of the communes, the leaders of Thanh Thuy district directly inspected and asked the Department of Agriculture and Rural Development to coordinate with the Fisheries Sub-Department to find out the cause of fish death and guide measures to remedy, handle and destroy dead fish to ensure environmental sanitation.Also read: Top Copper Maker Wieland Sees End to Escapes, Will Improve Fish Health With Brass Mesh CagesMs. Nguyen Thi Lan Huong added: In the short term, the district has instructed cage fish farmers to implement measures to clean cages and fish rafts daily to create a circulation flow, helping to wash away accumulated waste of fish. Fish, minimizing toxic gas during farming. At the same time, it is recommended that people temporarily stop stocking new fish, only release new ones when the water environment on the river is guaranteed, use aerators, water pumps to increase dissolved oxygen content.In addition, the district also suggested to the Provincial People's Committee to request the Ministry of Agriculture and Rural Development and relevant ministries and branches to direct Hoa Binh Hydropower Plant when closing and opening the discharge gates, to proactively notify for localities in the Da River basin to promptly notify cage farmers to move fish, pump additional water, enhance aeration as well as harvest commercial fish that have reached weight to limit to the lowest level. damage occurs. Source: Tepbac.com ...
Model of Cobia Farming in HDPE Round Cage
Terkini

Model of Cobia Farming in HDPE Round Cage

The project "Building a model of marine culture of cobia (people call it cobia) using Norwegian-style HDPE round cages" being implemented in Van Ninh district has shown economic efficiency and needs to be replicated.First effectIn the sea area (Van Thanh commune) surrounded by many islands, with clear blue water and suitable depth, aquaculture activities are very active. Mr. Nguyen Xuan Hoa - a long-time aquarist in Ba Le beach area harvested the first batch of cobia raised in HDPE round cages, part of the project "Building a model of marine cobia with Norwegian-style HDPE round cages." ".Different from the traditional fish rafts made of wood, bamboo and square, the new cage is round in shape and made of HDPE. In the cage diameter of 10m, 500m cage volume 3 , in mid-May 08/2020, he Hoa farmed cobia 1,000. By June 2021, he had harvested 903 fish, with an average weight of 5kg/head. The survival rate of fish is 15% higher than that of traditional cages. Also read: Cobia Farming TechniquesWith the selling price of 130,000 VND/kg, after deducting expenses, he made a profit of more than 100 million VND. It is known that normally 1kg of cobia in farmed rafts is sold for 150,000 VND/kg, but now due to the difficult situation of seafood consumption, it is only 130,000 VND/kg.Mr. Hoa said: “The model I am applying solves many problems faced by aquaculture farmers, such as high survival rate, good resistance to storms. In fact, at the end of 2020, a strong storm of grade 6, level 7, 8 passed through this area, but the HDPE round cage did not have any problems. In my experience, this type of cage can withstand a level 12 storm. After this season, I will invest in another round cage and gradually convert all marine farming activities to round cages in the future.”Replication step by stepAccording to Mr. Huynh Kim Khanh - Director of Khanh Hoa Agricultural Extension Center, storm No. 12 in 2017 caused very heavy damage to Khanh Hoa's marine farming activities. In the face of increasingly complicated weather conditions, wind and storms occur more often, the unit researched, asked questions and was supported by the National Center for Agricultural Extension to implement the project "Building a model of marine aquaculture in Vietnam". cobia in a Norwegian-style HDPE round cage” in the province. The project will be deployed from 2020 to 2022 with a total of 6 models. After the positive results of the model implemented by Mr. Hoa, in 2021, the center will continue to support 2 HDPE round cages for 2 households to participate in the implementation, and at the same time conduct an evaluation of implementation effectiveness as a basis. , gradually replicated for marine fish farming households in the vicinity who have needs to learn and follow.Mr. Tran Ngoc Sy, who is raising 70 wooden cages in Van Phong Bay, said: “After learning about Mr. Hoa's farming model, I decided to convert to wooden cages, but the obstacle is the initial investment cost. The head is quite high, 1 HDPE cage has a market price of 180 million dong; It is difficult for fishermen to invest without the State's policies and loans."Also read: Top Copper Maker Wieland Sees End to Escapes, Will Improve Fish Health With Brass Mesh CagesMr. Phuong Minh Nam - Head of Fisheries Extension Department (Provincial Agricultural Extension Center), project manager, said that, in addition to economic calculations, HDPE round cages have an advantage over traditional cages that are independent, helping the farming area to grow. more ventilation, creating a better farming environment than the cages made from dozens of cages together.In addition, HDPE plastic is rated as environmentally friendly and has higher durability than traditional cages. In particular, thanks to better resistance to waves and waves, HDPE cages can be raised in open seas, far from the shore to help the farmed fish grow and develop better, thereby improving the survival rate. Households participating in the project's model plan to continue to expand the farming scale. Aquaculture farmers around and near the project also have the need to invest and deploy marine fish farming with HDPE cages to gradually convert the traditional method of raising wooden cages to reduce risks and disasters when storms occur. out.Also read: Automatic Submersible Fish Cage Systems Counter Weather, Surface ProblemsMr. Pham Ngoc Luyen - Deputy Head of Economic Division of Van Ninh district: Currently, the whole district has 39,000 cages of more than 1,200 households engaged in marine aquaculture. Most of the cage systems are wooden rafts with main species being cobia, pompano, grouper, lobster… The HDPE round cage model the Provincial Agricultural Extension Center is testing in Van Ninh has the ability to withstand better wind and storm, protecting the property of fishermen. In particular, through the model, staff of the Agricultural Extension Center of the province and district have supported, together with the fishermen, timely exchanged and handled technical issues and farming processes, so it was highly effective. With economic benefits and sustainability, the District Economic Division encourages people to replicate the model of marine aquaculture using HDPE round cages.The project "Building a model of marine cobia with Norwegian-style HDPE round cages" in the province is supported by the National Agricultural Extension Center and the Provincial Agricultural Extension Center with a total budget of more than 4.7 billion VND. in the 3 years 2020 - 2022. In which, the agricultural extension fund supports 3 billion VND, the rest is provided by the aquaculturists participating in the reciprocal project. The money is mainly used for equipping cages, breeding animals and food. Source: tepbac.com ...
Effective Treatment of Aquatic Wastewater
Terkini

Effective Treatment of Aquatic Wastewater

Spirulina sp. LEB18 when raised in aquatic wastewater environment is supplemented with 25% Zarrouk environmental nutrients for effective wastewater treatment and effective heavy metal absorption.With a dense system of rivers and canals, it can be said that fisheries have been considered as one of the strengths of the Vietnamese economy, accounting for a large proportion in the industrial structure. Demand for aquatic products at home and abroad increases while natural resources are gradually depleted, that's why the aquaculture industry was born to make up for that shortfall as well as meet domestic and foreign demand. . Along with the rapid development of the aquaculture industry in recent years are inevitable negative things. One of them is the problem of wastewater treatment of ponds or aquaculture facilities. Wastewater includes wastewater in the process of farming (wastewater from shrimp and fish farming, ...) and wastewater during processing, containing high levels of BOD, COD, Nitrogen and pathogenic microorganisms from feces. dead fish carcasses, residual chemicals, food mixed in the water environment. Therefore, the solution to treat wastewater safely, effectively and cost-effectively is receiving a lot of attention.Also read: Mexico-based Startup Turns Wastewater Into Fish FeedSpirulina platensis is a green filamentous, photoautotrophic microalgae, belonging to the family Cyanobacteria. Metabolism in microalgae is highly dependent on the composition of the medium and the culture conditions. With chemical properties such as high protein content (~70%), lipid (3 - 9%), carbohydrates (15 - 30%), carotene (superior to carrots) and vitamins (including B1, B2 and B12) allows them to be widely used in human and animal pharmaceutical, cosmetic and food technology.Spirulina platensis is a nutritional supplement for all ages who are in need such as the elderly, athletes, pregnant women, children. Enhance resistance, antioxidant, anti-inflammatory, nutritional balance, hormone regulation, skin care, beauty, stress relief, support recovery for chronic patients, after injury, after surgery, chemistry long-term treatment, radiation therapy, antibiotics Suitable for the diet of people with obesity, diabetes, high blood pressure, etc. However, there are still quite a few studies done to evaluate wastewater quality based on the synthesis of molecules. biology of microalgae. Faced with this problem, the research conducted aims to combine the cultivation of Spirulina biomass in parallel with wastewater treatment in aquaculture, while promoting the increase of macronutrients. Spirulina   Spirulina sp. LEB18Spirulina Spirulina sp. LEB18 was grown in a 1L photobioreactor (Photobioreactor) to determine the best conditions through growth indicators. The experiment was repeated twice including 1 control treatment: 100% Zarrouk medium and 4 treatments: 100% wastewater and the addition of 75, 50, 25, 0% Zarrouk medium, respectively, within 7 days. , temperature 30 o C, 12 h am/dark, using aeration, the amount of water evaporated from the culture medium was added daily. The results showed that the highest growth parameters in the 1L photobioreactor system were continued to be used in the pilot-scale bioreactor of 5L for 10 days.Also read: ‘Water-forecasting’ and Fish Farms Fed on WasteAquaculture wastewater is collected before and after culture to check chemical composition, growth index, biomass composition, mineral composition, trace elements, determination of chlorophyll a. , b and total carotenoids and fatty acids.The obtained results showed that all growth indices of Spirulina sp. LEB18 when reared in aquatic wastewater with 25% Zarrouk environmental nutrients added to it showed higher efficiency than the control treatment (100% Zarrouk medium). Besides, the ability to reduce a large amount of phosphate (99.97%); COD (89.34%) and nitrate (81.10%) due to the common mechanism of microalgae using NO 3 through nitrate and nitrite reducing enzymes during cell proliferation. It is also one of the effective solutions when currently in the industrial scale, nitrogen is often added to the culture medium of spirulina S. platensis from nitrate salts (NO 3 ), however, these sources are often expensive. high. At the same time, they also have the ability to well absorb toxic heavy metals such as lead (Pb), mercury (Hg), cadmium (Cd) and arsenic (As) from aquaculture wastewater. Metal removal occurs due to the presence of carboxylate groups, which are mainly responsible for metal absorption on the surface of microalgae cells. Mineral composition has also been improved such as aluminum (Al), iron (Fe), calcium (Ca) and magnesium (Mg).  Also read: Intestinal Bacteriome of Pacific White Shrimp in Biofloc, Clear Water SystemsTherefore, the addition of 25% Zarrouk in aquaculture wastewater allows to obtain high yields in the rearing of biomass, carbohydrates, lipids and carotene with low production cost, which is an eco-friendly natural raw material. The field is highly feasible, which is significant in both science and practice.Source: Tepbac.com ...
Kapital Boost dan Minapoli, Siapkan Rp10 M untuk Perkuat Sektor Akuakultur
Terkini

Kapital Boost dan Minapoli, Siapkan Rp10 M untuk Perkuat Sektor Akuakultur

Sektor akuakultur di Indonesia masih banyak yang belum terjamah oleh akses keuangan yang memadai. Mayoritas para pelaku usaha sulit mendapatkan akses pendanaan dari lembaga keuangan. Beberapa masalah para pelaku usaha industri akuakultur diantaranya adalah sulitnya para pengusaha mendapatkan akses permodalan dari lembaga keuangan seperti bank, karena pengetahuan dan kemampuan lembaga keuangan dalam melakukan mitigasi resiko usaha akuakultur.Untuk itu, digitalisasi dan kerja sama dengan ekosistem usaha akuakultur diperlukan agar para pelaku usaha memiliki akses pembiayaan, menghasilkan panen ikan yang sehat dan“mampu meningkatkan produktivitas dan efisiensi, serta optimalisasi rantai distribusi. Karena itu sektor akuakultur menjadi salah satu sektor yang memiliki potensi besar di Indonesia. Namun, sayangnya selama ini masih kurang perhatian dan cenderung sulit mendapatkan akses permodalan.Baca juga: Tujuh Komoditas Unggulan AkuakulturFintech P2P (Peer-to-Peer) pembiayaan syariah untuk UKM Kapital Boost dan Minapoli melihat adanya kesamaan visi, network dan expertise yang saling melengkapi satu sama lain untuk memberikan dukungan demi memajukan sektor akuakultur ini. Hal ini tentunya dapat menjadi peluang untuk berdampak lebih dan melahirkan semangat untuk membidik yang membutuhkan.Minapoli adalah marketplace akuakultur pertama di Indonesia yang menyediakan akses terhadap sarana produksi dan informasi yang lebih cepat, mudah dan terintegrasi. Ada lebih dari 1200 sarana produksi yang telah dipasarkan dengan bekerjasama lebih dari 90 supplier lokal dan global. Selain itu, saat ini ada lebih dari 5000 pembudidaya ikan dan udang yang tergabung dalam ekosistem Minapoli dan terus berkembang. Kerjasama ini tentunya fokus membantu para pengusaha di sektor akuakultur agar dapat mengakses layanan keuangan dan kemudahan dalam bertransaksi.CEO Minapoli Rully Setya Purnama mengatakan, kerja sama ini menjadi langkah pertama dalam memberikan akses pembiayaan kepada para pelaku usaha akuakultur yang terkoneksi dalam jaringan Minapoli.Baca juga: Pelajari Investasi dan Permodalan dalam Akuakultur“Kami percaya dengan dukungan lembaga keuangan seperti Kapital Boost, industri akuakultur akan terus berkembang dan menjadi sektor yang terdepan sebagai sumber pangan dan protein dunia,” kata dia dalam keterangan tertulisnya, Selasa (15/6)Kapital Boost Indonesia menghubungkan antara pendana dengan UKM yang membutuhkan pembiayaan. Para pengusaha akuakultur di dalam ekosistem Minapoli yang mengajukan pembiayaan syariah melalui Kapital Boost akan melewati proses analisa dan verifikasi oleh Tim Kapital Boost dengan mengandalkan sistem credit scoring yang solid sebelum ditawarkan kepada para pendana di dalam ekosistem Kapital Boost. Selain itu, para pendana yang ikut berpartisipasi akan mendapatkan imbal hasil kompetitif mulai dari 15% p.a. Dengan kolaborasi ini, tentunya akan banyak sekali masyarakat yang turut bergandeng tangan dan bahu-membahu membantu UKM di Indonesia berkembang lebih jauh lagi.Baca juga: Melirik Laba Budidaya Betutu“Saat ini, Kapital Boost Indonesia berusaha menjangkau sektor-sektor industri potensial yang belum terjamah oleh bank. Kami hadir untuk membantu pelaku usaha dalam mengembangkan bisnisnya. Tentu hal ini perlu dilakukan bersama agar UKM Indonesia bangkit, berkembang, dan naik kelas,”  kata Direktur PT Kapital Boost Indonesia Fachri Kardiman.Kapital Boost dan Minapoli telah menandatangani MOU kerjasama yang diwakili oleh CEO Minapoli, Rully Setya Purnama dan Direktur Kapital Boost, Fachri Kardiman, hal sebagai bentuk komitmen bahwa inovasi dan kolaborasi dapat memberikan dampak kepada para pelaku UKM Indonesia dengan lebih inklusif dan mitigasi risiko yang terukur, demi membangun industri akuakultur di Indonesia maju ke kancah internasional. Harapannya, di 2021 ini dapat memberikan akses permodalan minimal Rp10 miliar kepada seluruh pelaku UKM di sektor akuakultur di Indonesia. Sumber: shariahfinance.id ...
Riset BRDSM: Tanaman Herbal Jadi Solusi Obat Aman untuk Budidaya Ikan
Terkini

Riset BRDSM: Tanaman Herbal Jadi Solusi Obat Aman untuk Budidaya Ikan

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) melakukan penelitian terhadap manfaat tanaman herbal sebagai obat untuk menjaga kesehatan ikan. Kepala BRSDM Sjarief Widjaja menyampaikan, upaya riset tersebut salah satunya dilakukan dalam rangka mendukung tindak lanjut arahan Presiden RI Joko Widodo kepada Menteri KP Sakti Wahyu Trenggono untuk meningkatkan budidaya ikan. “Selain itu, upaya tersebut juga dalam rangka mendukung program terobosan KKP, salah satunya menggerakkan perikanan budidaya untuk meningkatkan ekonomi masyarakat,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Senin (24/5/2021). Sjarief mengatakan, budidaya ikan tersebut juga didukung riset kelautan dan perikanan dalam upaya menjaga keberlangsungan sumber daya laut dan perikanan darat. Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar dan Penyuluhan Perikanan (BRPBATPP) Bogor, salah satu unit pelaksana teknis BRSDM, bertugas untuk melakukan upaya tersebut. Perkembangan pesat yang terjadi pada kegiatan budidaya meningkatkan minat studi tentang sistem imun dan pertahanan terhadap penyakit. Baca juga: Teknik Pengobatan IkanPada budidaya ikan secara intensif, ikan yang dipelihara berada pada kondisi stres karena tingkat kepadatan tinggi sehingga melemahkan sistem imun. Hal ini meningkatkan kemungkinan patogen menyerang dan mengakibatkan timbulnya penyakit. Penyakit akibat infeksi ini berkontribusi pada kerugian ekonomis dan merupakan kendala pada proses budidaya secara intensif dewasa ini. Salah satu bahan alami yang cukup menjanjikan sebagai pengendali penyakit ikan adalah bahan alami yang berasal dari tanaman obat (bahan herbal). Bahan ini mempunyai kandungan zat aktif yang mampu berfungsi setara dengan zat antibiotik yang saat ini penggunaanya sangat dibatasi. Dengan memanfaatkan kandungan zat aktif alami (antibiotik alami) pada bahan herbal diharapkan mampu untuk menggantikan fungsi antibiotik sintetis, tapi tidak meninggalkan residu yang berimplikasi pada penurunan keberlanjutan kegiatan budidaya ikan secara umum. Adapun, suhu bumi yang memanas akibat pemanasan global secara langsung berpengaruh terhadap lautan sebagai salah satu penyedia pangan berupa protein dari ikan hasil tangkapan. Kondisi tersebut secara signifikan menurunkan hasil tangkapan dunia dalam dasawarsa terakhir. Di sisi lain, peningkatan jumlah penduduk di semua negara juga berpengaruh pada kenaikan permintaan pangan. Kedua hal kontradiktif tersebut memicu naiknya kegiatan budidaya ikan untuk memenuhi kebutuhan pangan tersebut. Baca juga: Mengenal Jamu Ikan Buatan Guru Besar Unmul, Obat Berizin KKP Pertama dari 100 Persen Bahan AlamiDengan begitu, perlu dilakukan berbagai upaya untuk menjaga keberlangsungan kegiatan budidaya dan memastikannya mampu berjalan berimbang dengan kondisi alam. Alternatif teknik pengelolaan kesehatan ikan.Sementara itu, Peneliti BRPBATPP Nunak Nafiqoh menyampaikan, terdapat beberapa alternatif teknik pengelolaan kesehatan ikan dalam mendukung budidaya ikan. Pencegahan atau imunoprofilaksis dengan meningkatkan kekebalan tubuh melalui vaksin dan imunostimulan, yaitu vitamin, mineral, dan asam amino. Selain itu, pencegahan melalui probiotik, yaitu bakteri hidup yang menguntungkan diaplikasikan ke media budidaya atau dicampur pakan. Adapun jika ikan sudah sakit maka dapat diterapi dengan obat kimia dan obat herbal. Nunak menjelaskan, obat herbal memiliki keunggulan aman digunakan karena tidak menimbulkan residu dan resistensi bakteri. Untuk penyiapan obat herbal, tanaman bisa diambil bagian yang akan digunakan, kemudian dikeringkan dan digiling sampai menjadi serbuk. Ekstraksi bahan aktif herbal diawali dari 10 gram (gr) bahan herbal dalam 100 mililiter (ml) pelarut, lalu dilakukan inkubasi 48 jam dalam agitasi konstan, kemudian disaring, dan dikeringkan pada suhu ruang/rotavap. “Langkah-langkah aplikasi herbal terdiri dari uji sensitivitas, uji minimum inhibitory concentration, uji lethal concentration 50, dan uji in vivo,” tuturnya. BRSDM Buka Pendaftaran Peserta Didik Baru Salah satu produk hasil riset yang telah dilakukan BRPBATPP adalah Medis Herb MH-1 Obat Ikan. Komposisinya terdiri dari kipait, sirih, pepaya, kunyit, mengkudu, dan jambu biji. Aturan pakai 2-3 hari sekali dengan merendam satu kemasan dalam 300 liter air untuk benih dan dalam 200 liter air untuk pembesaran. Baca juga: KKP Dorong Pelayanan Pendaftaran Pakan dan Obat Ikan“Indikasinya meredakan gejala infeksi seperti tukak pada kulit serta pendarahan pada sirip dan insang. Cara kerja obat bekerja sebagai disinfektan dan antiseptik,” jelasnya. Beberapa tanaman yang dapat dijadikan obat herbal untuk ikan, antara lain kunyit (C. domestica), ketapang (T. catappa), kipahit (T. diversifolia), babandotan (A. conyziodes), kirinyuh (E. inulaefolium), dan meniran (P. niruni). Lalu temulawak (C. xanthorzia), talas (C. esculenta), sirih (P. betle), kunyit putih (C. zeodaria), kimanila (C. alata), jawer kotok (P. scutellaroides), kecombrang (E. elatior), jambu monyet (A. occidentale), cebreng (G. sepium), petai (P. speciose), bawang putih (A. sativum), dan petai cina (L. leucocephola). Sumber: Kompas.com ...
Kelompok Tani Remen Tandur Manfaatkan Bakteri Nitrosomonas untuk Budidaya Ikan dan Tanaman
Terkini

Kelompok Tani Remen Tandur Manfaatkan Bakteri Nitrosomonas untuk Budidaya Ikan dan Tanaman

Tak semua jenis bakteri itu jahat dan dapat dikategorikan negatif/bahaya untuk manusia. Nah, ditangan Kelompok Tani Remen Tandur, Bakteri Nitrosomonas ternyata dapat bermanfaat untuk budidaya ikan dan produk pertanian. Hasilnya, ikan menjadi lebih tahan terhadap serangan bakteri yang dapat mematikan ikan.“Jika disemprotkan pada tanaman, baik itu tanaman kembang, buah, dan produk pertanian maka hasilnya lebih baik, lebih subur,” kata Founder Kelompok Tani Remen Tandur, Irwan Gosong kepada TIMES Indonesia, Senin (7/6/2021).Irwan pun telah membuktikan kehebatan dari Bakteri Nitrosomonas yang dikembangkannya bersama teman-temannya tersebut. Bakteri Nitrosomonas itu dicampurkan pada air yang digunakan pada kolam ikan miliknya di Dusun Ngireng-Ngireng, Sidomulyo, Bambanglipuro, Bantul, Yogyakarta. Kolam ikan yang diberi Bakteri Nitrosomonas yaitu kolam ikan lele, nila, patin bahkan kolam ikan koi.Bakteri Nitrosomonas juga digunakan untuk menyemprotkan pada tanaman buah dan sayuran seperti jeruk kalifornia, anggur, pisang, stroberry, tanaman mind, kangkung, dan lain sebagainya.“Air kolam juga kami alirkan ke lahan persawahan yang ditanami jagung dan padi. Hasilnya, jagung dan padi lebih subur, hijau dan cepat buah,” terang pria yang akrab disapa Gosong ini.Baca juga: Probiotik dalam AkuakulturIrwan menerangkan, kehebatan Bakteri Nitrosomonas fungsinya adalah untuk mengubah kandungan senyawa amoniak yang beracun bagi kehidupan perairan menjadi senyawa nitrit yang aman. Sedangkan nitrit yang berfungsi sebagai nutri tumbuhan. Selain itu, bakteri ini juga berfungsi untuk mengikat bakter lain agar tidak berkembang biak dan merusak ikan dan tanaman.“Bakteri Nitrosomonas juga mentralkan ph air menjadi oksigen lebih banyak,” jelas Irwan.Namun demikian, Irwan mengingatkan penggunaan Bakteri Nitrosomonas untuk kolam ikan, tanaman pertanian dan bunga tidak boleh sembarangan dan asal-asalan. Jika Bakteri Nitrosomonas digunakan secara serampangan maka tidak menutup kemungkinan akan merusak ikan, tanaman dan bunga.Baca juga: Probiotik, Pencegah Penyakit dan Pendorong Produksi Perikanan Budidaya“Kami sudah meneliti penggunaan Bakteri Nitrosomonas lebih dari satu tahun. Kami ingin terus mengembangkan pemanfaat Bakteri Nitrosomonas dalam skala besar,” papar Irwan.Karena itu, Irwan mengajak kepada masyarakat yang ingin menggunakan Bakteri Nitrosomonas dapat bergabung ke Kelompok Tani Remen Tandur yang digagasnya. Ia pun berencana membuat jaringan pemasaran terhadap hasil pertanian dan ikan yang diproduksi oleh kelompoknya.“Dengan Bakteri Nitrosomonas, kami yakin Indonesia tidak akan kekurangan pangan. Sebab, setiap rumah, setiap warga terutama yang tinggal di perkotaan dapat melakukan budidaya ikan dan sayuran sendiri. Hasilnya tidak hanya dikonsumsi sendiri tapi dapat dijual,” jelas Founder Kelompok Tani Remen Tandur, Irwan Gosong yang menceritakan kehabatan penggunaan Bakteri Nitrosomonas untuk budidaya ikan dan tanaman. Sumber: timesindonesia.co.id ...
Pentingnya Perawatan Berkala Keramba Jaring Apung
Terkini

Pentingnya Perawatan Berkala Keramba Jaring Apung

Perlu dilakukan pengecekan terhadap Keramba Jaring Apung secara berkala agar tetap dalam kondisi prima, walau pada umumnya penyedia KJA mengklaim produk yang mereka buat bakal tetap kuat hingga puluhan tahun. Kerusakan yang umum terjadi pada Keramba Jaring Apung adalah putusnya tali jangkar. Kerusakan tali jangkar biasanya terjadi setelah pemasangan selama 2 tahun atau lebih. Kerusakan lain biasanya terjadi pada baut pengikat rangkaian KJA, sehingga perlu dilakukan pengecekan berkala. Apabila terjadi baut mengalami kelonggaran, segera diperbaiki dengan cepat.Baca juga: Tahap Pembesaran untuk Ikan Kerapu Macan di KJABaca juga: Melihat Lebih Dekat Wisata Keramba Apung di Sumberkima Bali UtaraMasa penggunaan jaring rerata 3 hingga 4 tahun, tergantung bagaimana perawatannya. Apabila terlambat mengganti jaring, maka teritip banyak yang menempel sehingga susah untuk dicuci atau dilepaskan.  Pemberian pakan jangan sampai meninggalkan sisa, karena sisa pakan di KJA jadi incaran ikan di luar budidaya seperti ikan buntal yang berbahaya dan merobek jaring.Kerusakan pada jaring biasanya terjadi sobekan. Apabila ada bagian jaring yang sobek, segera lakukan perbaikan dengan cara menjahit.Artikel asli ...
”BIMA” Siap Bangkitkan Perikanan Kab. Limapuluh Kota
Terkini

”BIMA” Siap Bangkitkan Perikanan Kab. Limapuluh Kota

Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, telah menetapkan tiga program terobosan utama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), yakni Peningkatan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sumber daya alam perikanan tangkap untuk peningkatan kesejahteraan nelayan, Pengembangan perikanan budidaya untuk peningkatan ekspor yang didukung riset KP, dan Pembangunan kampung-kampung perikanan budidaya tawar, payau dan laut berbasis kearifan lokal.Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) melalui Balai Riset Pemuliaan Ikan (BRPI), pun terus mengembangkan produk hasil riset dan inovasi yang bersifat potensial guna meningkatkan hilirisasi riset untuk kesejahteraan masyarakat dan mewujudkan program terobosan Menteri Trenggono.Untuk itu, pada 27 Mei 2021, BRPI melaksanakan penebaran ikan gurami hibrida unggul hasil pemuliaan kepada Kelompok Pembudidaya Ikan 'Anakocia', di Kecamatan Suliki, Kabupaten Limapuluh Kota. Ikan gurami hibrida unggul milik BRPI adalah gurami BIMA, yang merupakan hasil persilangan ikan gurami betina Majalengka dan gurami jantan Jambi.Baca juga: 5 Cara Memilih Indukan Ikan Gurame yang BaikKegiatan penebaran ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan Wakil Bupati Limapuluh Kota, Sumatera Barat, Rizki Kurniawan Nakasri, beserta jajarannya ke BRPI, pada 19 Maret 2021. Disampaikan bahwa, Kabupaten Limapuluh Kota memiliki potensi besar untuk pengembangan perikanan air tawar karena memiliki letak geografis yang strategis dan dilengkapi dengan kekayaan sumber daya genetik ikan pada 15 aliran sungai besar. Salah satu potensi sumber daya ikan asli Kabupaten Limapuluh Kota adalah gurami Sago dan ikan dewa. Untuk itu, Wakil Bupati Limapuluh Kota meminta pendampingan teknologi dalam pengembangan sektor perikanan di wilayahnya.Kepala BRPI, Joni Hariyadi, menuturkan bahwa BRPI siap dan mendukung pengembangan perikanan di Kabupaten Limaluluh Kota. Ke depanya, selain gurami BIMA, BRPI juga melaksanakan kegiatan teknologi adaptif lokasi (TAL) di Kabupaten Limapuluh Kota, dengan komoditas berupa padi dan udang galah. "Kegiatan TAL ini diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi lokal berbasis komoditas lokal. Ikan Gurami BIMA sendiri merupakan ikan milik bangsa untuk yang diciptakan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat pembudidaya ikan," terang Joni. Baca juga: Tips Seleksi Benih Ikan GuramePada 28 Mei 2021, Kepala BRPI beserta Kepala Dinas Perikanan dan Penyuluh Perikanan Kabupaten Limapuluh Kota, juga melaksanakan sosialisasi kepada pembudidaya perikanan di tujuh kecamatan yang merupakan sentra produksi ikan gurami.Ikan gurami (Osphronemus goramy Lacepede,1801) merupakan ikan asli Indonesia yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Ikan gurami dikenal masyarakat sebagai ikan yang lambat tumbuh sehingga diperlukan upaya pemuliaan untuk menghasilkan strain baru ikan gurami yang unggul pada karakter pertumbuhan.Upaya peningkatan performa pertumbuhan ikan Gurami di Balai Riset Pemuliaan Ikan (BRPI) Sukamandi dilakukan melalui program riset peningkatan mutu genetik, “Pembentukan Varietas Unggul Ikan Gurami Tumbuh Cepat” yang dimulai pada tahun 2014. Baca juga: Cara Pemijahan Ikan GurameKegiatan penelitian ini diawali dengan melakukan koleksi ikan gurami dari beberapa populasi yang berbeda yaitu: Majalengka, Tasikmalaya, Jambi dan Kalimantan. Pada tahun 2015 dilakukan karakterisasi genotipik yang menunjukkan bahwa populasi Majalengka dan Jambi memiliki hubungan kekerabatan paling jauh, sehingga potensial untuk digunakan dalam upaya pemuliaan melalui program hibridisasi. Evaluasi performa pertumbuhan pada tahun 2016-2017 menunjukkan bahwa persilangan antara induk betina ikan gurami Majalengka dengan induk jantan ikan gurami Jambi terbukti memiliki nilai heterosis yang tinggi, yaitu sebesar 32,68% pada umur 14 bulan. Hal tersebut menunjukkan bahwa ikan gurami hibrida hasil persilangan antara induk betina ikan gurami Majalengka dengan induk jantan ikan gurami Jambi prospektif sebagai varietas ikan gurami unggul tumbuh cepat. Hasil uji multilokasi pada tahun 2018, menunjukkan bahwa ikan gurami hibrida tumbuh cepat memiliki pertumbuhan 26,97 persen lebih cepat daripada ikan gurami lokal di Tulungagung, sedangkan hasil uji multilokasi di Sukamandi menunjukkan bahwa ikan gurami hibrida tumbuh cepat memiliki pertumbuhan 17,18 persen lebih cepat daripada ikan gurami Galunggung Super. Hasil pengujian performa ketahanan terhadap infeksi bakteri Aeromonas hydrophila dan bakteri Mycobacterium fortuitum menunjukkan bahwa benih ikan gurami hibrida atau BIMA tumbuh cepat memiliki ketahanan yang lebih tinggi daripada benih ikan gurami Galunggung Super hasil rilis Balai Pengembangan Budidaya Ikan Gurami dan Nilem (BPBIGN) Singaparna.Hasil uji toleransi lingkungan juga menunjukkan bahwa benih ikan gurami hibrida tumbuh cepat memiliki ketahanan toleransi yang lebih tinggi daripada benih ikan gurami Galunggung Super terhadap paparan cekaman suhu, salinitas serta pH. Hasil-hasil pengujian tersebut menunjukkan bahwa ikan gurami hibrida tumbuh cepat selain memiliki pertumbuhan yang lebih cepat juga memiliki ketahanan terhadap cekaman lingkungan serta ketahanan terhadap penyakit yang lebih baik. Sumber: KKP ...
Inovasi Test Kit UTILITAS KKP, Terbukti Pacu Produktivitas Perikanan Budidaya
Terkini

Inovasi Test Kit UTILITAS KKP, Terbukti Pacu Produktivitas Perikanan Budidaya

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya memdorong bentuk-bentuk inovasi teknologi. Inovasi teknologi merupakan suatu keharusan di zaman yang serba canggih saat ini dengan tujuan untuk meningkatkan produksi perikanan budidaya yang berkelanjutan dan berdaya saing. Salah satunya, Inovasi teknologi yang telah dibangun Loka Pemeriksaan Penyakit Ikan dan Lingkungan (LP2IL) Serang, yaitu Inovasi test kit kualitas air guna menjaga produktivitas perikanan budidaya sehingga hasilnya bisa lebih maksimal. ”Ini merupakan capaian yang sangat luar biasa. Saya sangat mengapresiasi dengan inovasi teknologi yang dihasilkan LP2IL Serang yakni test kit UTILITAS (Uji Cepat di Lapangan Parameter Nitrit dan Fosfat),” kata Slamet Soebjakto, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (11/5/2021).Menurutnya, melalui inovasi teknologi tersebut akan memudahkan pembudidaya dalam melakukan pemantauan kondisi perairan lingkungan budidaya secara rutin dan berkala sehingga diperoleh data yang komprehensif tentang kondisi perairan. Sehingga mendorong perikanan budidaya untuk meningkatkan produktivitasnya.Baca juga: KKP Ciptakan Inovasi Kincir Air Tambak Hemat Energi Berbahan Baku Lokal & Ramah Lingkungan “Dengan inovasi teknologi ini otomatis akan menarik minat lebih banyak pelaku usaha untuk bergelut dalam bidang usaha pengembangan perikanan budidaya,” ujarnya.Selain itu, melalui inovasi teknologi ini akan merubah paradigma dari yang sebelumnya hanya berkutat dalam peningkatan produksi, saat ini telah bertransformasi menuju pengelolaan sumber daya perikanan berkelanjutan. “Dengan penemuan teknologi ini pembudidaya dapat terus melakukan pengembangan usaha perikanan budidaya guna peningkatan produksi ikan secara berkelanjutan dengan manajemen pengelolaan lingkungan budidaya,” sambungnya.Hal ini sejalan dengan kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mewujudkan sumber daya kelautan dan perikanan yang berkelanjutan melalui program terobosan 2021-2024 antara lain pengembangan perikanan budidaya yang didukung oleh riset kelautan dan perikanan.Untuk itu, KKP berupaya memaksimalkan keberadaan Unit Pelaksana Teknis (UPT) DJPB di daerah agar menghasilkan inovasi-inovasi teknologi yang bernilai ekonomi, serta bisa diaplikasi dan ditiru oleh masyarakat. “Sekali lagi saya mengapresiasi atas inovasi tekhnologi test kit UTILITAS atau uji cepat di lapangan parameter nitrit dan fosfat ini,” sambungnya.Baca juga: KKP Kenalkan Platform Pelatihan Daring Di Asia Tenggara Karena, lanjut Slamet, parameter fosfat merupakan satu faktor penting pada lingkungan budidaya perikanan karena fosfat merupakan faktor pembatas yang mempengaruhi kehidupan organisme akuatik terutama dalam kaitannya dengan tingkat kesuburan perairan dan produktivitas perairan. Sedangkan nitrit salah satu senyawa hasil oksidasi nitrogen oleh bakteri yang bersifat toksik bagi hewan akuatik walaupun dalam jumlah yang sedikit.Dimana, masih menurut Slamet, pengkayaan zat hara di lingkungan perairan memiliki dampak positif, namun pada tingkat tertentu juga dapat menimbulkan dampak negatif. Dampak positifnya adalah adanya peningkatan total produksi ikan (biomassa) karena kelimpahan fitoplankton yang tinggi. Adapun dampak negatif yang ditimbulkan diantaranya penurunan kandungan oksigen terlarut di perairan, dan terkadang memperbesar potensi muncul dan berkembangnya jenis fitoplankton berbahaya. “Keunggulan dari test kit UTILITAS dibandingkan dengan pengujian laboratorium yakni memberikan hasil uji yang valid dan akurat. Disamping itu juga, test kit UTILITAS, pengujiannya bisa lebih cepat yang dapat menggambarkan kondisi saat dilakukan pengukuran (real time), sementara pengujian di laboratorium membutuhkan waktu yang lama,” bebernya.Adapun test kit UTILITAS ini dapat digunakan untuk analisis Fosfat dan Nitrit di lapangan oleh stakeholder bidang perikanan budidaya secara cepat, akurat, dengan hasil data yang valid, dapat dipertanggungjawabkan dan tentunya dengan biaya yang lebih murah. “Inovasi Test kit UTILITAS sangat pas dengan kondisi pandemi Covid-19 saat ini, karena pembudidaya yang telah memiliki Kit ini tidak perlu lagi ke laboratorium perikanan untuk mengujikan sampelnya, cukup dengan melakukan pengujian secara mandiri menggunakan Kit UTILITAS,” tandasnya.Kepala Loka Pemeriksaan Penyakit Ikan dan Lingkungan (LP2IL) Serang, Yayan Sofyan menambahkan inovasi test kit UTILITAS merupakan suatu bentuk pelayanan cepat di lapangan kepada stakeholder tanpa harus repot-repot ke laboratorium perikanan untuk mengujikan sampel air budidaya parameter nitrit dan fosfat. “Melalui inovasi test kit UTILITAS diharapkan nantinya dapat memberikan dampak positif terhadap peningkatan produksi budidaya baik itu untuk komoditas perikanan budidaya air tawar, laut, maupun payau yaitu tambak udang baik skala ekstentif maupun sampai dengan skala intensif, karena pelaku usaha perikanan budidaya telah mengetahui secara cepat dan akurat kandungan nitrit dan fosfat menggunakan test kit UTILITAS, jika nitrit dan fosfat terlampau melebihi standar pada perairan budidaya, stakeholder dapat mengambil langkah preventif untuk melakukan pengendalian kualitas perairan budidaya guna keberlangsungan hidup komoditas yang dibudidayakan,” paparnya.Selain itu, test kit UTILITAS sangat membantu dalam pelaksanaan kegiatan Monitoring Kesehatan Ikan dan Lingkungan, Surveilan, Emergency Respon ataupun kegiatan laboratorium keliling. Di sela-sela proses pengambilan sampel, Tim Monitoring LP2IL Serang selalu membawa test Kit UTILITAS di Lapangan guna diberikan langsung kepada pembudidaya.Baca juga: KKP Dorong Pemanfaatan UPT Sebagai Inkubator dan AkseleratorPembudidaya udang vaname Pokdakan Usaha Maju Bersama Kab. Serang, Ahmad, yang telah memanfaatkan inovasi test kit UTILITAS ini sangat terbantu untuk mengukur kandungan nitrit dan fosfat di tambak udang, sehingga kualitas perairan budidaya dapat terkontrol. “Alhamdulillah dengan menggunakan test kit UTILITAS ini memberikan dampak peningkatan produksi udang karena pengendalian lingkungan yang lebih baik. Makanya kami sangat berterimakasih kepada KKP yang telah menyalurkan bantuan hasil inovasinya kepada kami,” katanya.Harapannya bantuan test kit UTILITAS ini lebih sering digulirkan kepada pembudidaya udang karena minimnya pengetahuan dalam pengendalian lingkungan yang menjadi faktor penting dalam meningkatnya produksi budidaya udang. “Ke depannya agar test kit UTILITAS lebih sering didistribusikan kepada kami selaku pembudidaya udang karena sebelum ada kit ini, kami membawa sampel air untuk diujikan di Posikandu sehingga memakan waktu yang lama untuk mengetahui hasil pengukuran sampel air,” harapnya.Seperti diketahui, selama Tahun 2020 telah didistribusikan sebanyak sekitar 800 paket test kit UTILITAS kepada stakeholder perikanan budidaya meliputi pembudidaya, UPT DJPB, penyuluh, dinas perikanan kab/kota/provinsi, akademisi serta pihak lain yang masih bergerak di bidang perikanan dan setelah diterima, paket test kit tersebut bisa secara langsung diterapkan pada proses kegiatan budidaya oleh stakeholder. Artikel asli ...
Silvofishery, Alternatif Pelestarian Hutan Mangrove
Terkini

Silvofishery, Alternatif Pelestarian Hutan Mangrove

Hutan mangrove merupakan hutan yang sering kita lihat di muara sungai, daerah pasang surut, serta tepi laut. Tanaman mangrove ini unik, karena merupakan perpaduan karakter tumbuhan yang hidup di darat dan laut.Secara umum, mangrove berperan sangat penting sebagai peredam angin dan gelombang laut, serta pelindung abrasi di pantai.Mangrove mempunyai sistem perakaran yang menonjol ke permukaan tanah [pasir] atau biasa disebut sebagai akar napas. Sistem ini merupakan suatu cara adaptasi terhadap keadaan tanah yang miskin oksigen.Baca juga: Ayo Lestarikan Ekosistem Mangrove Pada Tahun 2021 Yang Akan Datang  Satwa juga memanfaatkan hutan mangrove sebagai habitat hidupnya. Foto: Ridzki R Sigit/Mongabay IndonesiaArti penting mangrove bagi wilayah pesisir adalah kemampuannya menjaga keberlangsungan populasi ikan, kerang, udang dan lainnya. Bukan itu saja, mengrove merupakan tempat menyenangkan untuk perkembangbiakan dan pembesaran beberapa spesies hewan khususnya udang dan nener.Selain itu, hutan mangrove merupakan habitatnya bekantan [Nasalis lavartus], burung bluwok/wilwo [Mycteria cinerea], juga bangau tongtong [Leptoptilus javanicus].Ekosistem mangrove secara fisik maupun biologi berperan menjaga ekosistem lain di sekitarnya, seperti padang lamun dan terumbu karang dengan menghasilkan zat-zat nutrien [organik dan anorganik] yang mampu menyuburkan perairan laut.Baca juga: Pemberian Pakan Ikan Belanak saat Monokultur ataupun PolikulturEkosistem mangrove juga berperan sangat penting dalam siklus karbon, nitrogen, dan sulfur. Abdul Latief menunjukkan bibit mangrove di pelataran Rumah Berdikari di Desa Pabean Udik, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Mangrove dengan sejumlah manfaat telah dirasakan Abdul Latief bersama kelompoknya Jaka Kencana. Foto: Donny Iqbal/Mongabay Indonesia SilvofisherySilvofishery merupakan salah satu program alternatif untuk menjaga pelestarian hutan mangrove. Tepatnya, sebuah program budidaya di kawasan pertambakan tradisional yang bermuara untuk kepentingan pelestarian lingkungan hutan bakau.Silvofishery adalah penghijauan sekaligus budidaya bandeng, udang windu, dan kerang hijau yang dilakukan di kawasan mangrove, tanpa harus mengkonversi, terlebih mengancam fungsi ekologi mangrove.Yudha Miasto, dalam tesisnya di Institut Pertanian Bogor [IPB] tahun 2010 bertajuk “Kajian Potensi dalam Pengembangan Silvofishery di Kabupaten Tulang Bawang, Provinsi Lampung” menjelaskan, silvofishery atau sering disebut wanamina adalah bentuk kegiatan terintegrasi [terpadu] antara budidaya air payau dengan pengembangan mangrove, pada lokasi yang sama.Konsep ini dikembangkan sebagai bentuk budidaya perikanan tradisional berkelanjutan, dengan input yang rendah.Menurut Yudha, pendekatan antara konservasi dan pemanfaatan kawasan mangrove memungkinkan untuk mempertahankan keberadaan mangrove yang secara ekologi memiliki produktivitas relatif tinggi. Tentu saja dengan keuntungan ekonomi dari kegiatan budidaya perikanan.Wilayah pesisir timur Provinsi Lampung, khususnya Kabupaten Tulang Bawang, merupakan aset pembangunan kawasan pesisir yang sangat diandalkan sebagai pendapatan asli daerah.“Kawasan ini telah sejak lama dimanfaatkan untuk sektor perikanan budidaya, khususnya tambak udang. Kegiatan tersebut secara langsung maupun tidak, dapat menyebabkan perubahan sistem ekologi kawasan setempat,” jelasnya.Baca: Polikultur Udang Galah dengan BandengHutan mangrove Register 15 ini dikelola kelompok masyarakat Desa Purworejo, Lampung Timur, Lampung. Foto: Eni Muslihah/Mongabay IndonesiaBerkaitan hal tersebut, lanjut Yudha, untuk tetap mengoptimalkan pemanfaatan pesisir sebagai areal budidaya udang tanpa mengesampingkan penurunan kualitas lingkungan, diperlukan suatu upaya produktif. Salah satu caranya adalah dengan mengkombinasikan areal budidaya dengan penanaman mangrove.Berdasarkan hasil penelitian Yudha di Desa Sungai Burung, Kabupaten Tulang Bawang, pesisir timur Lampung, disimpulkan bahwa pengelolaan ekosistem mangrove di wilayah ini melalui kombinasi pemanfaatan lahan pesisir dengan silvofishery, memiliki fungsi cukup besar baik dari segi manfaat maupun ekonomi. Penelitian ini dilakukan melalui tinjauan karakteristik fisika kimia perairan, produktifitas serasah mangrove, dekomposisi dan kandungan unsur hara serasah, serta pakan alami dan valuasi ekonomi.Mangrove yang snagat penting bagi kehidupan satwa dan manusia harus dikelola dengan baik. Mangrove ini dimanfaatkan untuk pertambakan dan pembibitan udang windu. Foto: Christian Heru Cahyo Saputro Dalam pertambakan tradisional, jika luas tambak lima hektar, tidak semua area tersebut digunakan untuk budidaya. Tetapi, hanya pinggiran saja, sedangkan tengahnya kosong.Lahan kosong inilah yang ditanami pohon bakau [mangrove]. Dengan demikian, dalam konsep budidaya silvofishery dua tujuan dapat dicapai sekaligus, yakni budidaya dan kelestarian lingkungan.Dengan begitu, pola budidaya tambak diharapkan menjadi ramah terhadap lingkungan juga sebagai penyangga kawasan konservasi yang terintegrasi.Program ini, berpotensi dapat dikembangkan lebih luas, bila bermitra dengan petambak-petambak tradisional. Sementara pemerintah dan pihak lainnya melalui kegiatan pengelolaan lingkungan bisa melakukan penghijauan hutan mangrove di sepanjang pantai.Aktivitas ini merupakan perwujudan menjaga hutan mangrove sebagai benteng abrasi, sekaligus mengambil peran dalam konservasi yang tujuannya untuk kebaikan kita semua. Sumber: Mongabay.com ...
Analisa Kualitas Air Budidaya Ikan: Parameter Kimia
Terkini

Analisa Kualitas Air Budidaya Ikan: Parameter Kimia

Air sangat penting bagi makhluk hidup terutama ikan yang berhabitat di dalam air. Ikan membutuhkan habitat yang sesuai agar dapat hidup sehat dan tumbuh secara optimal. Oleh karena itu air yang adalah sumber kehidupan bagi ikan, memiliki persyaratan tertentu, sehingga dalam suatu usaha budidaya perikanan, kualitas air harus di-monitoring oleh pembudidaya ikan. Untuk itu, pengelolaan dan monitoring kualitas air dilakukan untuk menjamin kualitas air yang diinginkan sesuai peruntukannya agar tetap dalam kondisi alamiahnya. Namun, tahukah Anda parameter kimia apa saja yang perlu di-monitoring pada air budidaya ikan? Parameter-parameter kimia tersebut akan dijabarkan pada artikel ini.Masalah yang kerap ditemui dalam budidaya ikan adalah pencemaran habitat atau lingkungan yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, baik secara eksternal maupun internal. Pencemaran ini dapat berupa pencemaran fisika, kimia maupun biologis yang saling berhubungan. Untuk itu, parameter fisika, kimia dan biologis dalam budidaya ikan sangat penting untuk dikelola dan di-monitoring.Baca juga: Kolaborasi Riset Air TawarStandard parameter kimia kualitas air budidaya ikan berdasarkan PP No. 82 Tahun 2001 (Kelas II) ditampilkan pada Tabel 1 di bawah ini.Setiap parameter kimia penting dikelola dan di-monitoring karena berpengaruh terhadap laju pertumbuhan ikan yang dibudidaya. Adapun pengaruh parameter kimia terhadap laju pertumbuhan budidaya akan dijelaskan di bawah ini.1. pHNilai pH yang sangat rendah dalam budidaya ikan dapat menyebabkan kelarutan logam-logam dalam air semakin besar dan bersifat toksik bagi organisme air, sebaliknya nilai pH yang tinggi dapat meningkatkan konsentrasi amoniak dalam air yang juga bersifat toksik bagi organisme air. Oleh karena itu, pH dalam budidaya ikan harus dikelola dan di-monitoring. Perubahan pH yg ekstrim dapat menyebabkan ikan menjadi stress sehingga tidak tumbuh optimal.  Adapun cara menaikkan pH secara alami adalah sebagai berikut:Memberikan aerasi pada kolam dengan melewatkannya pada pecahan koral dan pecahan kulit kerang dicampur dengan potongan batu kapur. Menggunakan pelepah daun pisang yang dipotong kecil-kecil.Sedangkan cara menurunkan pH secara alami adalah dengan memakai daun ketapang. Daun ketapang direndam dalam air dalam beberapa hari dijamin air menjadi bertambah asam. Tapi daun ketapang dapat menyebabkan air menjadi kuning karena zat tanin dalam daun ketapang. Caranya sebelum pakai rebus dulu daun ketapang untuk menghilangkan zat tanin tersebut.2. AlkalinitasAlkalinitas air adalah gambaran kapasitas air untuk menetralkan asam atau kuantitas anion di dalam air yang dapat menetralkan kation hidrogen. Alkalinitas juga diartikan sebagai kapasitas penyangga terhadap penurunan pH perairan. Secara khusus, alkalinitas sering disebut sebagai besaran yang menunjukkan kapasitas penyanggahan ion bikarbonat (HCO3-), dan sampai dengan tahap tertentu, juga menunjukkan penyanggahan terhadap ion karbonat  (CO3²-) dan hidroksida (OH-) dalam air. Makin tinggi alkalinitas, makin tinggi kemampuan air untuk menyangga sehingga fluktuasi pH perairan makin rendah. Selain itu juga, alkalininitas ternyata melalui kalsiumnya juga penting dalam mempertahankan kepekaan membran sel dalam jaringan syaraf dan otot ikan. Alkalinitas biasanya dinyatakan dalam kalsium karbonat (CaCO3) dengan satuan ppm (mg/L).Baca juga: Mencegah Penyakit Udang Berdasarkan Warna Air Tambak3. Disolved oxygen (DO) atau oksigen terlarutDisolved oxygen (DO) yang tidak seimbang akan menyebabkan stress pada ikan karena otak tidak mendapat suplai oksigen yang cukup, serta dapat mengakibatkan kematian karena kekurangan oksigen (anoxia) yang menyebabkan jaringan tubuh ikan tidak dapat mengikat oksigen yang terlarut dalam darah. Dengan tetap mengelola dan me-monitoring suplay oksigen maka hal ini tidak akan menyebabkan stress pada ikan sehingga metabolism ikan akan baik dan berpengaruh terhadap laju pertumbuhan dan reproduksi yang baik.4. Total Dissolve Solid (TDS)Salah satu faktor yang mempengaruhi nilai Total Dissolve Solid (TDS) adalah pengaruh antropogenik berupah limbah domestik, yaitu limbah cair hasil buangan dari rumah tangga. Misalnya, air deterjan sisa cucian, air sabun dan tinja. Sesuai dengan standard PP No. 82 tahun 2001 seperti yang telah ditampilkan dalam Tabel 1, kisaran TDS untuk kegiatan budidaya ikan yaitu 1000 mg/L, yang artinya semakin kecil konsentrasi yang berada di perairan tersebut semakin baik juga untuk pemeliharaan ikan.5. Fosfat, Amoniak, Nitrat dan NitritFosfat, amoniak, nitrat dan nitrit yang terlarut dalam perairan atupun air budidaya berasal dari aktivitas budidaya ikan berasal dari sisa pakan pellet yang terbuang. Pakan Pellet yang diberikan kepada ikan tidak semua dapat ditangkap oleh ikan, sebagian hanyut terbawa arus dan turbulensi air yang disebabkan oleh pergerakan ikan saat berebut menangkap makanan. Hancuran pellet biasanya terikut pada saat pemberian pakan, dan hancuran yang berukuran kecil tersebut tidak ditangkap oleh ikan. Proporsi pakan yang dapat ditangkap dan ditelan oleh ikan, hanya sebagian yang diasimilasi, sedangkan yang lainnya dibuang sebagai feses. Selanjutnya dari total proporsi yang diasimilasi, hanya sebagian kecil yang digunakan sebagai sumber energi dan pertumbuhan, karena sebagian dibuang melalui proses ekskresi. Nilai fosfat dan amoniak yang tinggi dapat menyebabkan stress pada ikan yang dapat menurunkan laju pertumbuhan dan reproduksi, bahkan dapat menyebabkan kematian pada ikan yang dibudidaya.Diketahui bahwa kadar nitrat yang lebih dari 0.2 mg/L dapat menyebabkan terjadinya eutrofikasi perairan, dan selanjutnya dapat menyebabkan blooming sekaligus merupakan faktor pemicu bagi pesatnya pertumbuhan tumbuhan air seperti eceng gondok pada perairan. Nitrat (NO3) adalah bentuk utama nitrogen di perairan alami dan merupakan sumber nutrisi utama bagi pertumbuhan fitoplankton dan tumbuhan air lainnya. Kadar nitrat yang lebih dari 5 mg/L menggambarkan telah terjadinya pencemaran. Hal ini dapat terjadi baik itu pada perairan budidaya maupun pada kolam budidaya, sehingga penting untuk selalu me-monitoring kadar nitrat dalam air budidaya.Baca juga: Lima Manfaat Air Rendaman Daun Ketapang Bagi Ikan Cupang6. Kebutuhan Oksigen Biologis (KOB) atau Biochemical Oxygen Demand (BOD)Analisa Kebutuhan Oksigen Biologis (KOB) atau Biochemical Oxygen Demand (BOD) di laboratorium dilakukan dengan penentuan waktu inkubasi 5 hari, dapat mengurangi kemungkinan hasil oksidasi amoniak (NH3) yang cukup tinggi. Sebagaimana diketahui bahwa amoniak sebagai hasil sampingan ini dapat dioksidasi menjadi nitrit dan nitrat, sehingga dapat mempengaruhi hasil penentuan KOB/ BOD. Selama 5 hari masa inkubasi, diperkirakan 70% – 80% bahan organik telah mengalami oksidasi. Nilai KOB/ BOD yang tinggi menunjukkan bahwa jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk mengoksidasi bahan organik dalam air tersebut tinggi, hal ini berarti dalam air sudah terjadi defisit oksigen. Banyaknya mikroorganisme yang tumbuh dalam air disebabkan banyaknya makanan yang tersedia (bahan organik), oleh karena itu secara tidak langsung KOB/ BOD selalu dikaitkan dengan kadar bahan organik dalam air.Menjaga kualitas perairan ataupun air kolam budidaya ikan dalam memenuhi standard kualitas yang ditetapkan, maka perlu dilakukan monitoring oleh pembudidaya atau petani ikan. Monitoring parameter kimia dapat dilakukan dengan berbagai cara. Adapun alat-alat yang digunakan dalam pengukuran parameter kimia ditampilkan pada Tabel 2 di bawah ini.Selain itu juga, Alat-alat monitoring budidaya ikan juga ada yang tersedia dalam satu set monitoring kualitas air budidaya ikan sehingga  memudahkan pembudidaya atau petani ikan dalam memonitoring kualitas air budidaya secara lengkap dan tepat.Untuk itu, telah diketahui bahwa setiap parameter kimia mempunyai peran dan berhubungan satu sama lainnya, sehingga perairan maupun air kolam budidaya ikan diharapkan memenuhi standard kualitasnya agar laju pertumbuhan dan reproduksi meningkat, sehingga pembudidaya atau petani ikan mendapatkan hasil panen yang baik. Dengan demikian para pembudidaya atau petani ikan diharapkan dapat mengelola dan memantau (monitoring) parameter kimia kualitas perairan atau air kolam budidaya dengan tepat secara berkala. Sumber: saka.co.id ...
Mengenal Fitoplankton, Produsen Oksigen Terbesar di Bumi
Terkini

Mengenal Fitoplankton, Produsen Oksigen Terbesar di Bumi

Selama ini, kebanyakan orang mengetahui bahwa tumbuhan (pohon) menghasilkan oksigen yang diperlukan hewan dan manusia untuk bernapas. Oksigen merupakan salah satu hasil dari fotosintesis, yakni proses yang dilakukan tumbuhan untuk mengubah sinar matahari menjadi makanan atau energi bagi tumbuhan. Akan tetapi, tidak banyak yang mengetahui ternyata penghasil oksigen terbesar di Bumi bukan pohon, melainkan mikro-organisme kecil lautan yang bernama fitoplankton. Fitoplankton mampu menghasilkan sekitar 50-85 persen oksigen di Bumi per tahun, sedangkan tumbuhan (pohon) hanya menghasilkan sekitar 20 persen saja. Apa itu fitoplankton? Mengutip unggahan Instagram Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Minggu (2/5/2021), fitoplankton adalah organisme jenis plankton yang sering disebut sebagai mikroalga. Fitoplankton berperan sebagai indikator kontaminasi dan kualitas air, sekaligus sebagai produsen dalam rantai makanan karena mampu meyediakan makanan sendiri. Fitoplankton memperoleh energi melalui proses fotosintesis, menyerap karbondioksida di atmosfer, dan mengubahnya menjadi oksigen. Baca juga: Vertical Coloumn Photobioreactor untuk Kultur Fitoplankton dengan AkrilikOleh karena itu, fitoplankton harus berada pada bagian permukaan lautan, danau, atau kumpulan air yang lain untuk mendapatkan cahaya matahari. Peran penting fitoplankton=Peneliti plankton laut dari Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Arief Rachman mengatakan, alasan fitoplankton mampu menghasilkan oksigen lebih banyak dibanding pohon adalah luas lautan. Dia menyebutkan, perbandingan luas lautan dengan daratan adalah 70:30. Artinya, 70 persen luas Bumi adalah lautan. "Sementara, fitoplankton itu ada di seluruh permukaan lautan, mulai dari tropis hingga kutub," kata Arief saat dihubungi Kompas.com, Senin (3/5/2021).Dari hasil kajian LIPI, fitoplankton tidak hanya bermanfaat menghasilkan oksigen, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengikat karbondioksida dari atmosfer. Untuk diketahui, karbondioksida merupakan salah satu komponen gas rumah kaca yang dapat membuat suhu atmosfer di bumi menjadi lebih panas. Riset mutakhir menunjukkan, kemampuan fitoplankton mengikat karbondioksida dari atmosfer kurang lebih setara dengan kemampuan seluruh tumbuhan yang ada di daratan.Baca juga: Marine Aquagriculture, Terobosan Polikultur Berbasis Air LautKemampuan tersebut membuat fitoplankton berfungsi penting sebagai pengendali iklim global, tanpanya atmosfer dan iklim di bumi akan menjadi lebih panas. Dampak buruk kerusakan fitoplankton Arief mengatakan, jika terjadi gangguan pada ekosistem perairan, terkadang fitoplankton dapat tumbuh dengan sangat cepat (alga bloom). Namun, pertumbuhan cepat tersebut menyimpan potensi dampak negatif. Mengapa demikian? "Itu (pertumbuhan fitoplankton) kan dia menghasilkan biomassa yang banyak. Kemudian, yang namanya makhluk hidup kan suatu saat mereka akan mati semua. Ketika daur hidupnya suda selesai, biomassanya itu akan membusuk di perairan," kata Arief. "Ketika terjadi seperti itu, oksigen yang diproduksi fitoplankton ketika mereka lagi banyak-banyaknya sekarang digunakan bakteria untuk merombak biomassanya. Sehingga perairan itu menjadi kekurangan oksigen atau hipoksia," lanjut Arief. Dia menyebutkan, jika kondisi hipoksia itu sangat parah maka akan disebut anoksia atau kehabisan oksigen. "Kita sering menyebutnya sebagai dead zone. Jadi area-area di perairan yang oksigennya itu sangat rendah. Organisme yang hidup di sana, baik di dasar maupun di kolom air akan banyak yang mati mendadak," jelas Arief. Tidak hanya itu, perburukan kualitas perairan tempat fitoplankton berada juga dapat memicu munculnya jenis-jenis fitoplankton yang berbahaya.Baca juga: Cara Tepat Tetaskan Telur Artemia"Fitoplankton itu kan jenisnya banyak sekali, ratusan jenis dalam satu lokasi. Ketika perairannya memburuk, otomatis kan (jenis) fitoplankton yang tadinya bermanfaat bagi ekosistem, yang bisa dimakan ikan dan larva udang, lama-lama akan berganti menjadi jenis-jenis yang berpotensi berbahaya atau beracun," kata Arief. Menjaga keseimbangan fitoplankton Arief mengatakan, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya perburukan kualitas perairan tempat fitoplankton tinggal. "Cara yang paling dasar, walaupun kedengarannya sederhana tapi kalau dilakukan sangat sulit, itu adalah mengurangi jumlah pencemaran nutrien yang masuk ke perairan. Misalnya seperti nitrogen dan fosfat," kata Arief. Dia menyebutkan, kedua senyawa tersebut biasa diproduksi oleh aktivitas pertanian dan perkotaan dalam bentuk limbah-limbah yang tidak diolah dan dibuang langsung ke perairan. "Ketika semuanya (limbah) masuk ke perairan, itu akan menyebabkan fitoplankton tumbuh dengan cepat. Istilahnya cepet-cepetan nih, siapa yang tumbuh lebih cepat dari sekian ratus jenis fitoplankton yang ada di perairan. Baca juga: Wisata Akuakultur Ada di Maros, Bisa Mancing Sekaligus Wisata KulinerNah kalau yang menang itu adalah yang istilahnya 'merugikan' akan menyebabkan efek berantai," kata Arief. Arief juga menyebutkan, aktivitas perikanan berlebihan juga dapat mengakibatkan perburukan ekosistem perairan yang ditempati fitoplankton. "Kemungkinan begitu. Karena kan fitoplankton ini produsen primer, dia ada di rantai paling bawah makanan. Kemudian, jika ikan-ikan yang ditangkap adalah yang biasa mengonsumsi fitoplankton itu, otomatis fitoplankton akan tumbuh terlalu cepat dan tidak ada yang mengontrol," ujar Arief. Jika dibanding perikanan tangkap, menurut Arief, perikanan berbasis budidaya seperti tambak, berdampak lebih besar terhadap fitoplankton. "Sisa pakan kemudian air bekas limbah. Sisa pakan yang menumpuk itu bisa memperkaya perairan dengan nutrien juga," kata Arief. Arief menambahkan, aktivitas pertambangan di pesisir juga dapat mempengaruhi fitoplankton, misalnya penambangan batu bara dan timah. "Pada dasarnya kontribusi fitoplankton besar sekali, cuma jarang ada yang benar-benar memahami. Biasanya orang awam hanya tahu soal pohon saja. Kalau fitoplankton ya kita menjaga jangan sampai jenis-jenis yang merugikan atau berbahay berkembang," kata Arief.  Sumber: kompas.com ...
Pulihkan Ekonomi Lewat Budidaya Perikanan Darat
Terkini

Pulihkan Ekonomi Lewat Budidaya Perikanan Darat

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menggencarkan budidaya perikanan darat sebagai usaha memulihkan perekonomian daerah, utamanya di Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo dan Lamongan (Gerbangkertasusila).“Gerbangkertasusila menyumbang perekonomian Jawa Timur hingga lebih dari 50 %. Di sini, kita juga harus mendukung industri perikanan daratnya. Perikanan tangkap hanya bisa memproses apa yang bisa ditangkap. Sisanya harus dilakukan budidaya darat,” ungkap Emil Dardak di acara Kontes dan Lelang Bandeng Virtual 2021 di Lapangan Kantor Bupati Gresik, kemarin.Mantan Bupati Trenggalek itu menjelaskan, salah satu cara menjaga kelangsungan budidaya perikanan darat adalah menerapkan superintensive farming.Baca juga: KKP Dorong Balai Perikanan Budidaya Jadi Tumpuan Peningkatan Ekspor dan Pertumbuhan Ekonomi MasyarakatTeknik itu, menurutnya, dapat menciptakan produk-produk turunan dari komoditi budidaya tersebut. Sehingga yang dipromosikan bukan hanya olahan bandeng saja. Melainkan makanan olahan lain yang cocok untuk dikonsumsi dengan ikan.“Superintensive farming perlu diterapkan agar hasil ternak selalu bisa diolah. Mungkin selanjutnya bisa diadakan kontes lain sehubungan dengan hasil panen,” imbaunya.Masih menurut Emil, superintensive farming bukan hanya membantu pemulihan ekonomi melalui terjualnya produk-produk turunan saja, tetapi juga menambah nilai jual produk utama itu sendiri.Pemprov Jatim selalu mengapresiasi kiat-kiat tiap daerah untuk pemulihan ekonomi Jawa Timur dan akan didukung oleh pemerintah baik pusat maupun daerah. Pemprov Jatim sendiri akan menjembatani setiap program yang bersinergi antara Pemkab/Kota dengan Kementerian.Baca juga: Menteri Trenggono Ajak Pembudidaya Milenial Kreatif Kembangkan Pakan Mandiri“80 ribu ton bandeng ini berpotensi mendukung pemulihan ekonomi. Dengan membuat bazar-bazar di kecamatan yang sesuai dengan Prokes. Orang bukan hanya membeli bandeng tapi juga barang-barang lain yang dijual di sana,” ungkapnya.Masih menurut Emil, terdapat beberapa tantangan yang perlu diperhatikan dalam budidaya perikanan darat. Di antaranya soal kemandirian pakan dan banjir.“Tantangan kemandirian pakan membuat kita memutar otak, mencari cara bagaimana kita bisa punya cara untuk mengolah pakan ternak itu sendiri,” jelasnya.Terkait persoalan tersebut, pihaknya berharap ada penanganan yang serius dari semua pihak. Utamanya persoalan banjir yang dinilai sangat berpengaruh terhadap pertambakan perikanan darat.“Saya senang antara Bupati dan Wali Kota Gresik ada pembicaraan soal banjir Kali Lamong. Mitigasi banjir akan menolong karena tambak-tambak akan kesusahan bila terkena imbas curah hujan yang tinggi dan luapan air sungai,” pungkasnya.Baca juga: Perluas Akses Pembiayaan Usaha, KKP Genjot Legalitas Kepemilikan Lahan Budidaya IkanUntuk itu, Emil mengimbau, agar tantangan tersebut dapat dipecahkan bersama untuk mendukung budidaya demi pulihnya ekonomi. Dia pun mengajak semua pihak untuk bangkit dari berbagai persoalan dari imbas pandemi Covid-19 demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat.“Ekonomi kita di kuartal pertama -0,44, sedang di Indonesia -0,74. Kalau kita bisa mempertahankan momentum kasus Covid-19 yang tidak melonjak, kira-kira kita bisa naik ke angka positif di kuartal kedua,” pungkasnya.Sementara terkait acara Lelang Bandeng Virtual yang digelar Pemkab Gresik, Emil pun memberikan apresiasi. Usaha tersebut merupakan bentuk sumbangsih terhadap pemulihan ekonomi Jawa Timur sambil tetap menaati Prokes Covid-19.“Yang mana gimmick ini juga turut menaikkan citra perikanan darat dan menjaga kelangsungan budidayanya. Bagaimana Gresik menampilkan bandeng sebagai kebanggaan melalui acara ini betul-betul dikemas dengan baik di tengah pandemi. Ini patut dicontoh. Ada cara meningkatkan nilai tambah dari bandeng,” pujinya. Sumber: nusadaily.com ...
Petani Milenial Kembangkan Sektor Perikanan Budidaya
Terkini

Petani Milenial Kembangkan Sektor Perikanan Budidaya

Program petani milenial yang belum lama ini diluncurkan Pemprov Jabar, mulai menggarap pula sektor perikanan budidaya. Polanya, mereka melakukan budidaya ikan merujuk kepada pemenuhan kebutuhan riil yang sebelumnya sudah ditetapkan offtaker."Karena kita tak mau mendengar cerita ada produk tak terjual," kata Gubernur Jabar, Ridwan Kamil saat meresmikan program Pembudidaya Ikan Milenial di UPTD Pengawasan Sumber Daya Perikanan & Kelautan Wilayah Selatan Jalan Raya Cipanas Kabupaten Cianjur, Selasa (27/4).Menurut dia, langkah itu bisa direalisasikan dengan cara mengunci proses penjualan. Jumlah permintaan pasar yang sudah dikalkulasi jumlahnya menjadi tanggung jawab petani ikan milenial tersebut guna memenuhinya."Jadi pasar butuhnya berapa baru ditanam, bukan tanam dulu kemudian cari pasar," kata mantan Walikota Bandung itu.Baca juga: DKP Jabar Bina 60 Petani Milenial Budidaya Ikan dan Udang Untuk itu, pihaknya sudah menginstruksikan BUMD Agro Jabar untuk menjadi koordinator forum pembeli (offtaker) di samping berperan pula sebagai pembeli produk dari petani milenial. Dengan peran itu, RK menginginkan optimalisasi baik pasar maupun pasokan.Sebagai suplier, tegas RK, terang saja skills petani dari kaum muda itu bakal dipoles terlebih dahulu sehingga mampu menghasilkan produk berkualitas. Dalam gelombang pertama itu, petani ikan milenial yang mendapatkan pendampingan dinas kelautan dan perikanan sebanyak 55 orang."Akses permodalan kita jamin, termasuk yang tak lolos BI checking tetap mendapatkannya. Mereka tak akan ditinggalkan. Tinggal polanya saja, libatkan BUMD pangan karena program ini untuk mengubah orang apalagi di zaman pandemi seperti ini," katanya.Dalam program awal itu, puluhan petani milenial tersebut diarahkan untuk menggarap komoditas yang dinilai tengah laku di antaranya lele, nila, dan udang vaname. "Ini ekonomi tahan banting selama pandemi, sepanjang tak gampang menyerah," katanya.Baca juga: Tambak Milenial Gandeng Kaum Muda dalam Pembangunan Industri Udang NasionalDi tempat yang sama, Kepala DPK Jabar, Hermansyah menyatakan bahwa sektor yang menjadi tanggung jawabnya belum mampu menarik atensi banyak orang terutama kaum muda untuk terjun di dalamnya."Angkanya 3 persen, dan belum menjadi magnet utama. Karenanya melalui program ini, kami berharap bisa ambil bagian dalam permasalahan tenaga kerja dan menaikan konsumsi ikan masyarakat," katanya.Dia pun menjelaskan gambaran antusiasme itu dengan merujuk jumlah peminat petani milenial yang ingin mengembangkan sektor perikanan. Total peminat 8.000 orang, tapi mereka hanya meloloskan sebanyak 55 peserta. Dari jumlah tersebut, sebagian mempunyai lahan sendiri yang sebelumnya sudah berjalan. Sumber: Suara Merdeka ...
Beradaptasi terhadap Perubahan Iklim, Petambak Rumput Laut Glacilaria di Bone Budidaya Ikan Nila
Terkini

Beradaptasi terhadap Perubahan Iklim, Petambak Rumput Laut Glacilaria di Bone Budidaya Ikan Nila

Abu Bakar tampak sumringah. Kepala Desa Latonro, Kecamatan Cenrana, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan ini lalu menunjukkan tiga jarinya yang dirapatkan sebagai tanda ukuran. “Ikannya sudah seperti ini, pertumbuhannya bagus-bagus,” katanya.Ikan yang dimaksud adalah ikan nila (Oreochromis niloticus) yang mulai dibudidayakan sejak awal Februari 2021 lalu, di sebuah lahan percontohan milik Abu Bakar. Warga desa memang sedang berupaya melakukan budidaya ikan nila di lahan tambak rumput laut Glacilaria sp. yang mereka miliki. Unik karena ikan nila sendiri merupakan spesies ikan tawar yang coba dibudidayakan di lahan tambak berair asin atau payau.Dalam sebuah diskusi di Desa Latonro, Rabu (14/4/2021) lalu, Abu Bakar bercerita bahwa budidaya ikan nila ini sebenarnya merupakan bentuk adaptasi mereka terhadap kondisi iklim yang terjadi. Ketika musim hujan maka kondisi air tambak menjadi tawar, sehingga tidak cocok untuk perkembangan Glacilaria.“Kalau musim hujan tiba, otomatis tambak tak bisa difungsikan, rumput laut tidak bisa berkembang dan malah mati semua. Biasanya ini terjadi dari bulan April hingga Agustus,” katanya.Kondisi ini, dimana curah hujan lebih tinggi, mulai terjadi sejak 5-6 tahun terakhir. Bukan hanya hujan di Desa Latonro yang jadi masalah, namun juga hujan di daerah danau Tempe, hulu sungai Walanae.“Kalau curah hujan di danau Tempe tinggi maka air sungai menjadi lebih tawar sehingga tidak bisa digunakan untuk tambak, air tawar akan lebih mendominasi dibanding air asin,” katanya.Budidaya rumput laut glaciliaria di Desa Latonro menghadapi berbagai tantang, termasuk perubahan iklim, yang membuat produktivitas menurun. Foto: Wahyu Chandra/Mongabay Indonesia. Ilham, salah seorang petambak, bercerita bahwa kondisi iklim ini menjadi ironi tersendiri bagi warga, karena air tawar sendiri dibutuhkan untuk kebutuhan hidup sehari-hari, dimana mereka biasanya mengambil air dari sungai menggunakan pipa-pipa. Biasanya kebutuhan air ini untuk kebutuhan MCK. Namun di sisi lain kondisi air sungai yang tawar justru tak bagus bagi tambak.“Kalau musim kemarau memang bagus untuk tambak namun menjadi masalah tersendiri juga untuk pemenuhan air tawar. Dalam kondisi ini kami biasanya mengambil air dari desa sebelah. Tapi kalau harus memilih, kami lebih memilih krisis air tawar ini dibanding air asin. Tidak masalah harus mengambil air dari jauh,” ujar Ilham.Menurut Abu Bakar, upaya untuk mengatasi krisis air asin di musim hujan sudah pernah dilakukan. Mereka pernah membuat saluran pipa untuk mengalirkan air asin dari laut ke tambak, namun kurang berhasil karena pipa-pipa mudah rusak terkena serangan tiram. Pendekatan lain dengan cara membuat sumur bor di tambak, mengambil air asin dari bawah, namun airnya justru tawar.“Kami juga pernah menaburi berkarung-karung garam ke dalam tambak agar airnya lebih asin, namun cara ini juga kurang begitu berhasil,” katanya.Menurutnya, pendekatan lain yang cukup efektif adalah dengan menggunakan pompa air, namun cara ini lebih mahal. Tak semua petambak mampu membeli pompa air. Solusi berupa pemberian bantuan melalui kelompok tidak bisa dilakukan karena masih lemahnya kelembagaan di desa tersebut.“Sebenarnya bisa saja Pemdes memberi bantuan ke setiap petambak pompa air, namun tak ada jaminan bantuan ini digunakan secara efektif. Tak ada jaminan mesin untuk pompa air ini benar-benar digunakan untuk tambak, bisa jadi malah digunakan untuk perahu. Ini masalah mental petambak kita juga sebenarnya,” katanya.Di dalam tambak rumput laut warga bisa budidaya ikan bandeng, mujair dan kepiting, meskipun kemudian dihadapkan pada masalah penggunaan pestisida yang bisa berdampak pada perkembangan ikan dan kesehatan manusia yang mengonsumsi ikan tersebut. Foto: Wahyu Chandra/Mongabay Indonesia. Terkait kondisi ini, Idham Malik, Aquaculture Specialits WWF Indonesia, menyarankan perlunya penguatan kelembagaan petambak dengan membentuk kelompok tani/nelayan yang berakar dari bawah, bukan bentukan pemerintah atau penyuluh.“Kalau dibentuk sendiri oleh masyarakat maka akan ada rasa memiliki dan tanggung jawab untuk membangun kelompok, tidak lagi sekedar menunggu arahan pemerintah ataupun dari penyuluhnya, masyarakat bisa lebih terlibat,” katanya.Terkait budidaya ikan nila, Idham menilai upaya tersebut merupakan solusi yang ditawarkan WWF Indonesia agar petambak bisa memperoleh penghasilan tambahan ketika tambak tak digunakan untuk budidaya Glacilaria.“Ikan nila ini cukup potensial untuk dikembangkan, apalagi pasarnya masih terbuka luas, cara budidaya juga sederhana. Setidaknya mereka bisa mengisi kekosongan tambak ketika musim hujan. Namun untuk mendorong budidaya ikan nila ini sebagai alternatif ekonomi ini mereka perlu diyakinkan dan dibantu, bisa dengan penyediaan bibit ataupun dengan pendampingan teknis budidaya, ” katanya.Penggunaan PestisidaIsu lain terkait budidaya rumput laut di Desa Latonro adalah penggunaan pestisida untuk membasmi hama berupa keong dan nasse. Serangan hama ini cukup intens di beberapa tambak sehingga petambak kemudian menggunakan pestisida. Umumnya mereka menggunakan pestisida saponin.Menurut Idham, penggunaan pestisida saponin ini sebenarnya tak cocok digunakan di tambak rumput laut yang juga melakukan budidaya ikan di dalamnya. Selain membasmi hama, racun ini juga bisa meracuni ikan dan bahkan bisa membunuh ikan-ikan yang ada di dalamnya. Dampak lainnya pada isu kesehatan, dimana ikan-ikan bandeng dan mujair yang dibudidayakan akan dikonsumsi manusia.Menurut Abu Bakar, penggunaan pestisida ini memang menjadi masalah tersendiri karena memiliki dampak jangka panjang, terkait keberlanjutan budidaya kepiting dan udang di desa tersebut.“Dulu di daerah ini banyak ditemukan bibit-bibit kepiting dan udang, sangat melimpah, namun perlahan habis karena tercemari pestisida buangan dari tambak,” katanya. Desa Latonro sendiri dikenal sebagai salah satu sentra kepiting bakau di Kabupaten Bone. Biasanya warga mencari bibit kepiting sekitar sungai, di sela-sela pohon nipah yang membentang sepanjang daerah aliran sungai.“Kalau dulu memang kepiting sangat melimpah karena bibitnya banyak ditemukan sekitar sini, namun memang perlahan mulai berkurang beberapa tahun terakhir. Apalagi dulu juga sempat ada yang datang menggunakan stroom untuk menangkap ikan dan kepiting, yang justru menghancurkan ekosistem kepiting dan udang-udang yang ada di sini,” tambah Abu Bakar.Idham sendiri menawarkan penggunaan pupuk dan pestisida organik untuk mengatasi kondisi ini. Penggunaan pupuk dan pestisida organik yang diproduksi sendiri sekaligus mengatasi kondisi kelangkaan pupuk yang terjadi selama ini.“Kami sudah pernah lakukan di beberapa daerah di Sulsel untuk budidaya udang dan cukup berhasil. Ini bisa sekaligus mengatasi kelangkaan pupuk yang terjadi saat ini, sekaligus ini bagus untuk perbaikan tambak,” katanya.Mata pencaharian utama wargaKehadiran budidaya rumput laut di Desa Latonro telah memberi dampak positif bagi perekonomian warga Desa Latonro. Sebuah studi yang dilakukan oleh WWF Indonesia menunjukkan bahwa manfaat budidaya rumput laut ini tidak hanya bagi petambak semata, namun juga menciptakan jenis pekerjaan baru, yaitu buruh panen dan pengering, pengusaha pengepul, penjual pupuk, dan jasa transportasi.Petambak dengan luas tambak 2-3 hektar memang masih tergolong dalam kategori subsisten, yaitu hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, namun kondisi ini bisa tertutupi melalui budidaya bandeng, mujair dan kepiting.Meski menghadapi beragam persoalan, petambak tetap berupaya bertahan, karena rumput laut Glacilaria dianggap masih memiliki prospek lebih baik di masa yang akan datang.“Kami berupaya bertahan sepanjang masih menjanjikan, apalagi budidaya rumput laut ini sebenarnya mudah, namun memang masalah ada di harga dan produktivitas yang terus menurun. Kami berharap ada solusi yang lebih baik di masa yang datang,” ungkap Ilham. Sumber: Mongabay.com ...
5 Cara Budidaya Ikan Bandeng di Kolam Terpal
Terkini

5 Cara Budidaya Ikan Bandeng di Kolam Terpal

Ada banyak sekali jenis ikan yang bisa anda temui di pasar tradisional hingga swalayan berbeda jika anda melihat Cara Budidaya Kutu Air dengan Susu, mulai dari jenis ikan air tawar hingga ikan air laut. Ikan sendiri merupakan salah satu jenis bahan makanan yang sangat baik tidak hanya bagi anak- anak saja bahkan untuk orang dewasa juga.Hal ini karena berbeda dengan jenis bahan makanan seperti daging sapi ataupun ayam, ikan memiliki kandungan lemak yang sedikit dengan kadar protein yang tinggi. Akan sangat baik jika anda mengkonsumsi banyak ikan dibanding dengan daging sapi ataupun ayam setiap harinya.Selain itu harganya yang lebih ekonomis membuat ikan jadi pilihan utama dalam aneka menu masakan sehari- hari. Di pasaran sendiri harga ikan per kilonya bisa lebih murah jika dibanding dengan daging ayam ataupun sapi. Tidak hanya itu saja, berbeda jenis ikan yang anda dapatkan berbeda juga cita rasanya.Baca juga: Penebaran Benih BandengIkan juga sangat mudah untuk diolah, anda hanya tinggal membersihkan sisik dan isi perutnya saja sebelummengolahnya menjadi berbagai menu masakan lezat. Kebanyakan orang lebih suka mengolah ikan jadi beraneka ragam sayur pedas ataupun hanya sekedar digoreng begitu saja dengan bumbu garam dan bawang.Ada 3 jenis ikan yang bisa anda jumpai di pasar berdasarkan habitatnya, mulai dari ikan air tawar seperti mujair, nila dan ikan mas, lalu ada pula ikan air payau seperti ikan bandeng dan beraneka ragam ikan laut seperti ikan kakap, salmon dan tuna. Salah satu jenis ikan yang saat ini banyak menjadi kegemaran masyarakat Indonesia tidak hanya sebagai bahan konsumsi saja yaitu ikan bandeng. Berbeda dengan jenis ikan lainnya, ikan bandeng merupakan jenis ikan yang banyak dijadikan sebagai ladang bisnis dengan keuntungan besar.Secara ilmiah, ikan bandeng memiliki nama Chanos chanos dan merupakan salah satu jenis ikan terpopuler di wilayah Asia Tenggara. Ikan bandeng sendiri banyak dijumpai di wilayah Samudera Hindia dan Samudera Pasifik dan hidupnya cenderung berkelompok di sekitar pesisir ataupun pulau berterumbu koral. Secara alamiah berbeda jika anda melihat Cara Budidaya Gurame di Empang, ikan bandeng yang baru menetas akan hidup di laut selama 2 hingga 3 minggu dan berpindah ke rawa berair payau ataupun danau berair asin. Bandeng baru akan kembali ke laut jika sudah dewasa dan siap bertelur.Baca juga: Cara Budidaya Ikan Bandeng Agar Jadi Usaha Menguntungkan Tapi Ramah LingkunganCara Budidaya Ikan Bandeng di Kolam TerpalKebanyakan ikan bandeng sendiri saat ini lebih banyak dimanfaatkan oleh industri pangan menjadi berbagai olahan praktis dan cepat saji. Seperti bandeng presto, bandeng presto ini memiliki rasa yang gurih dan lezat. Keistimewaannya, anda tidak perlu khawatir akan duri yang dapat melukai saat makan, karena melalui proses presto maka mulai dari daging hingga duri dapat dimakan dengan mudah. Selain itu bandeng merupakan salah satu jenis ikan yang mudah untuk dibudidayakan. Bagi anda yang tertarik dengan bisnis budidaya bandeng, berikut kami sampaikan cara budidaya ikan bandeng di kolam terpal. Persiapan Budidaya Ikan BandengMembudidayakan ikan bandeng di kolam terpal merupakan salah satu cara budidaya yang sangat praktis berbeda dengan Cara Budidaya Lobster Hias di Akuarium, selain itu ada banyak sekali keuntungannya. Dan sebelum anda melakukan cara mudah ini, berikut penjelasan serta rincian mengenai apa saja yang harus anda siapkan :- Untuk menghindari agar ikan bandeng anda memiliki kualitas baik dan tidak berbau lumpur yaitu anda harus memilih terpal yang bersih dengan kondisi baik.- Jangan sampai terpal terkena geosim ataupun ditumbuhi bakteri penghasil geosim nantinya, ini akan membuat bandeng jadi memiliki rasa tanah.- Sediakan saponin yang nantinya akan ditebar ke dalam media budidaya, ini berfungsi untuk memberantas hama.- Walaupun ikan bandeng merupakan salah satu jenis ikan yang mudah beradaptasi di air dengan kondisi apapun, akan lebih baik jika anda menyediakan air bersih yang berkualitas dan terhindar dari lumpur dan limbah. Baca juga: Tahapan Budidaya Ikan di Kolam TerpalMedia Budidaya Ikan BandengLangkah selanjutnya dalam cara budidaya ikan bandeng di kolam terpal yaitu membuat media budidaya. Untuk membuat media budidaya kali ini tentunya anda harus melakukan langkah berikut :- Pertama, pilihlah lokasi kolam yang akan anda buat. Pastikan lokasi merupakan lokasi yang jauh dari pemukiman ataupun daerah industri.- Pastikan juga lokasi bersih, babas dari limbah dan jauh dari jangkauan hewan liar.- Buatlah kolam tambak di lokasi dengan pH sekitar 7 hingga 8, ini sangat penting untuk menghasilkan bandeng yang berkualitas nantinya.- Pastikan air pada suhu kolam mencapai 26 hingga 320c, jangan sampai suhu air dalam kolam terpal mengalami penurunan ini sangat berbahaya untuk kelangsungan hidup bandeng nantinya.- Selain media budidaya, buat juga kolam pembesaran berbentuk persegi yang dapat menampung benih kurang lebih sebanyak 100 ekor.Benih Ikan BandengSetelah membuat media budidaya dalam cara budidaya ikan bandeng, anda harus menyediakan benih atau biasa disebut nener.untuk benih tentunya harus memiliki kualitas yang baik dan layak budidaya berbeda dengan Cara Budidaya Ikan Nila Keramba Apung, berikut penjelasannya :- Untuk benih bandeng, anda bisa mendapatkannya dengan mudah di balai perikanan ataupun toko benih.- Pastikan anda memilih benih dengan ukuran yang sama serta sehat dan tidak ccat, ini sangat penting agar bandeng dapat tumbuh dengan baik.- Setelah anda mendapatkan benih, saatnya anda melakukan penebaran di kolam media budidaya.- Sebelumbya anda bisa mengisinya dengan air bersih setinggi 60 cm. setelah itu tebarkan benih perlahan agar tidak stress.- Lakukan pengamatan setelah anda menebar benih bandeng, pastikan benih yang anda tabur tidak terlalu banyak untuk ditampung kolam.Perawatan Ikan BandengSelain melakukan budidaya, anda juga harus melakukan perawatan dengan baik dan tepat. Ini tentunya dimaksudkan agar hasil panen anda berkualitas nantinya, dalam cara budidaya ikan bandeng kolam terpal berikut kami sampaikan rinciannya :- Agar bandeng anda cepat besar, anda bisa memberikan pakan tambahan berupa prebiotik saat ikan berumur 27 hari setelah ditebar.- Adapun jumlah prebiotik yang baik yaitu sebanyak 2 : 1.- Selain prebiotik, untuk memberi pakan alami anda bisa memberi pupuk kandang yang berasal dari kotoran kambing ataupun domba.Baca juga: Usaha Budidaya Ikan Mas di Kolam Terpal Agar Cepat PanenPanen Ikan BandengAdapun cara memanen ikan bandeng yang tepat dalam cara budidaya ikan bandeng di kolam terpal. Caranya sangat mudah, anda hanya perlu menyiapkan tempat panen dan jaring saja berbeda dengan Cara Budidaya Ulat Hongkong, berikut lebih jelasnya :- Untuk ikan bandeng yang siap untuk dipanen yaitu ikan bandeng dengan berat sekitar 100 hingga 600 gr setiap ekornya.- Untuk memanen, panenlah menggunakan jaring ikan dengan hati- hati dan masukkan ke dalam wadah berisi air sedikit. Ini bertujuan agar ikan bandeng selalu segar dan awet saat dijual nantinya.- Jangan lupa juga untuk menyortir ikan dan mengelompokkannya dengan berat yang sama.Itulah berbagai langkah penting yang harus anda lakukan ketika melakukan cara budidaya ikan bandeng di kolam terpal. Semoga informasi di atas dapat bermanfaat untuk anda dan selamat mencoba. Sumber: ilmubudidaya.com? : devour.asia ...
Kombinasi Pakan Bandeng dan Enzim
Terkini

Kombinasi Pakan Bandeng dan Enzim

Dulu pembudidaya ikan bandeng umumnya menggunakan pakan alami untuk pertumbuhan. Mereka hanya menebar benih dan membiarkan ikan besar sendiri selama 6 bahkan 1 tahun lamanya.Namun kini sebagian periode pemeliharaan ikan bandeng diberikan pakan pelet dengan kandungan protein 25 % untuk mempercepat pertumbuhan, setidaknya selama 2-3 bulan.Sebagaimana diungkapkan Nutrisionis Pakan Ikan dari Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara Fairus Mai Soni, penggunaan pakan buatan dapat mempercepat pertumbuhan ikan bandeng. “Namun harga pakan yang relatif tinggi mengakibatkan keuntungan petambak menjadi sedikit,” sebutnya.Baca juga: Aplikasi Probiotik Tepat, Pakan HematDia sebutkan, ikan bandeng merupakan salah satu ikan yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, Sulawesi, dan Aceh. Budidaya ikan bandeng banyak dilakukan di tambak tambak tradisional disekitar pantai utara Jawa. Aneka macam pengolahan ikan bandeng mempunyai andil dalam meningkatkan permintaan pasar. Diantaranya seperti, bandeng presto, bandeng asap, otak-otak bandeng, hingga cheese stick tulang bandeng.“Pasar yang cukup terbuka ini sepertinya belum memberikan keuntungan yang seimbang bagi petambak. Keuntungan yang diperolah petambak sangat minim tidak seimbang dengan yang diupayakan,” jelasnya.Baca juga: Ini Strategi Pemenuhan Produksi Pakan Ikan Rendah ProteinMenurut Fairus, sudah saatnya pelaku pembudidaya tidak terperangkap dalam pemikiran bahwa untuk menumbuhkan bandeng harus menggunakan pakan berprotein tinggi. Selama ini, kata Fairus keterbatasan sistem pencernaanlah yang membuat alasan bahwa untuk memacu pertumbuhan  harus menggunakan protein tinggi.Imbasnya, lanjut Faisrus, pembudidaya harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli pakan berprotein tinggi tersebut. Sementara biaya produksi  terbesar ada di biaya pakan bahkan beberapa jenis ikan lebih dari menggunakan protein sebesar 60%.Atas keadaan itu, Fairus melakukan riset sejak 3 tahun lalu tentang budidaya ikan bandeng di tambak rakyat dengan menggunakan pakan rendah protein sebagai alternatif peningkatan pendapatan petambak. ”Pemeliharaan ikan bandeng dengan teknologi sederhana telah dikembangkan di tambak rakyat di Desa Ujung Watu, Kecamatan Donorejo, Kabupaten Jepara,” terangnya.Dia paparkan, yang dimaksud rendah protein, adalah pakan yang diberikan seharusnya 20%, namun hanya diberikan pakan dengan kandungan protein 15%. Sehingga, dengan penurunan protein sebesar 5 %, akan ada efisiensi biaya sebesar Rp 1.250.  “Secara teori harga per 1 % protein sekitar Rp 250, oleh itu kalau protein bisa diturunkan sampai 10 % sudah berapa banyak efisiensi biaya  untuk beli pakan,” jelasnya.Namun, menurut Fairus, dengan menurunkan kadar protein, sebagai penggantinya adalah karbohidrat yang lebih murah. Hanya, karbohidrat yang ditambahkan tidak dapat dicerna oleh ikan kalau tidak ada enzim yang bekerja pada sistem pencernakan ikan. “ ntuk itulah saya berikan enzim produk kami sebagai pekerja untuk membantu karbohidrat tersebut,” jelasnya.Lanjutnya, penggunaan pakan formulasi dengan rendah protein di tambahkan enzim merupakan salah satu terobosan teknologi dibidang nutrisi. Hal ini karena, peran enzim akan membantu mengubah karbohidrat menjadi sumber energi perbanyakan sel tubuh ikan, sehingga pertumbuhan ikan tetap akan tumbuh cepat. “Karbohidrat inilah yang akan dikerjakan oleh enzim untuk dirubah menjadi energi yang selanjutnya menjadi sel otot dan daging ikan,” tuturnya.Baca juga: Menteri Trenggono Ajak Pembudidaya Milenial Kreatif Kembangkan Pakan MandiriKeuntungan Lebih BesarDiterangkan Fairus, dengan menggunakan penerapan teknologi yang berbasis ilmu pengetahuan dasar, budidaya ikan bandeng dapat menjadi suatu usaha yang memberikan keuntungan finansial tinggi. Beberapa petani memilih budidaya ikan bandeng karena alasan, bahwa kepastian keberhasilan cukup tinggi dan jarang terserang penyakit walaupun keuntungannya relatif kecil.Hasil pemeliharaan ikan bandeng dengan menggunakan pakan formula rendah protein yang diperkaya dengan enzim, ternyata mampu memberikan hasil yang signifikan (lihat tabel). Akhir dari pemeliharaan selama 5 bulan semenjak penebaran gelondongan (bibit ikan bandeng berukuran 7-8 cm), panen ikan pada tambak kontrol diperoleh hasil 1.710-1.770 kg dengan ukuran 300-310 gram/ekor dengan FCR (Konversi pakan) 1.93-1.87.Hasil panen ikan menggunakan pakan diperkaya dengan enzim diperoleh hasil 2.590-2.700 kg dengan FCR 1.27-1.22. Dari hasil panen tersebut, kata Fairus, mampu memberikan selisih keuntungan sebesar 196 – 225% dibandingkan dengan pemeliharaan dengan pemberian pakan protein lebih tinggi. “Telah dibuktikan selama dua kali pemeliharaan, perolehan keuntungan cukup tinggi dari keuntungan Rp 7 - 8 juta/ha/musim meningkat menjadi Rp 21 - 26 juta,” terangnya. Artikel asli ...
Penebaran Benih Bandeng
Terkini

Penebaran Benih Bandeng

Pada umumnya, benih ikan yang akan ditebar masih sangat peka terhadap perubahan lingkungan media. Oleh karena itu, untuk mendapatkan hasil yang baik, penebaran benih juga menjadi kunci awal keberhasilan budi daya. Dengan demikian, penebaran nener bandeng perlu dilakukan dengan hati-hati. Dengan kata lain, dalam melakukan penebaran benih bandeng harus tepat waktu, tepat cara, tepat kualitas, dan tepat jumlah (padat tebar).Baca juga: Usaha Budidaya Ikan Bandeng Semi Intensif Agar Produksi MeningkatPenebaran Benih BandengJumlah nener yang ditebar bertujuan untuk menentukan padat penebaran yang dikehendaki. Nener yang ditebar sebaiknya sudah dihitung terlebih dahulu di hatchery atau di lokasi tempat nener dibeli. Dengan demikian, pada saat penebaran di tambak tidak perlu dilakukan perhitungan lagi, melainkan secara global dari jumlah kantong yang ditebar.Saat ini, sudah ada nener khusus dari hatchery yang sudah diadaptasi. Oleh karena itu, pembeli harus mengetahui kadar salinitas air di tambak sehingga nener di hatchery bisa diadaptasikan sesuai salinitas tambak untuk mendapatkan media yang sama antara air di tambak dengan air untuk transportasi. Adaptasi di hatchery lebih mudah dilakukan mengingat sarana yang ada di hatchery biasanya lebih lengkap.Terkait dengan aklimatisasi benih, saat ini sudah banyak yang melakukan usaha khusus aklimatisasi nener atau benur, terutama di daerah Jawa Timur dan di Jawa Barat. Hal itu karena petani dewasa ini sudah banyak yang tahu cara melakukan penebaran nener secara praktis, mudah, dan dengan tingkat vitalitas tinggi. Baca juga: Cara Budidaya Ikan Bandeng Agar Jadi Usaha Menguntungkan Tapi Ramah LingkunganNener hatchery biasanya mempunyai media atau air dengan salinitas tertentu yang dijaga kestabilannya, sedangkan tambak memiliki salinitas beragam.Bahkan, saat ini budi daya bandeng dapat dilakukan di kolam air tawar dengan salinitas 0 ppt. Oleh karena itu, jika penebaran tidak dilakukan secara hati-hati, usaha budi daya bandeng yang sedang dijalankan akan gagal atau tidak memberikan hasil optimal.Penebaran benih sebaiknya dilakukan pada pagi hari (pukul 07.00—09.00) atau sore hari(pukul 16.00—17.00). Hal ini dimaksudkan Agar nener tidak terlalu stres dengan perubahan suhu perairan. Berikut adalah cara yang biasa dilakukan dalam menebar nener bandeng.Baca juga: Polikultur Udang Galah dengan Bandenga) Letakkan dan apung-apungkan wadah pengangkutan nener (kantong plastik) pada permukaan air tambak sebagai prosesadaptasi suhu air yang ada pada wadah pengangkutan nener dan air tambak kurang lebih 15—30 menit.b) Buka kantong plastik, kemudian masukkan air tambak ke dalamnya sedikit demi sedikit. Hal itu juga bertujuan untuk menyesuaikan nener dengan kualitas air lainnya, seperti suhu, salinitas, dan pH. Dengan demikian, diharapkan perubahan kualitas air tidak terlalu berfluktuasi sehingga nener mudah beradaptasi, tidak terlalu stres, dan mampu bertahan hidup.c) Nener dari dalam kantong dikeluarkan atau dilepas ke tambak secara perlahan dan tetap dilakukan secara hati-hati.d) Padat penebaran nener untuk budi daya bandeng organik dianjurkan sebanyak 5.000—7.000 ekor/ha. Padat penebaran bisa bervariasi tergantung kondisi tambak, baik tingkat kesuburan maupun kondisi perairan tambak.Sumber: Pertanianku.com ...
Jabar Luncurkan Program Budi Daya Ikan Milenial, Seperti Apa?
Terkini

Jabar Luncurkan Program Budi Daya Ikan Milenial, Seperti Apa?

Pemerintah Provinsi Jawa Barat meresmikan program Pembudidaya Ikan Milenial (PIM) di Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Wilayah Selatan Ciherang, Kabupaten Cianjur, Selasa (27/4/2021). Program ini ditandai dengan menebar benih ikan di 60 kolam bioflok peserta Petani Milenial oleh Gubernur Jabar, Ridwan Kamil.PIM merupakan bagian program Petani Milenial di bidang perikanan. Ada 167 milenial pendaftar PIM lalu diseleksi berjenjang mulai dari administrasi, kurasi, wawancara, BI checking, sampai seleksi akhir, hingga yang lolos 55 milenial.Emil, sapaan Ridwan Kamil menyebutkan, program Petani Milenial terdiri berbagai bidang dimulai dari pertanian, peternakan, hingga perikanan. "Jadi petani milenial itu terus beranak cabang, dari yang kemarin pertanian sekarang perikanan. Kemudian akan terus nanti ke peternakan, dan kehutanan. Semua butuh waktu untuk mendefinisikan kesuksesan," ujarnya.Baca juga: Tambak Udang Milenial, Solusi Buat Anak Muda yang tidak Mau Berlumpur-Lumpur ke KolamOleh karena itu, Petani Milenial dibagi beberapa tahap. Pada tahap pertama, Pemprov Jabar akan memaksimalkan lahan aset untuk dipergunakan petani milenial. Emil meminta PT Agro Jabar mempercepat dan memperluas cakupan lahan yang cocok bagi berbagai komoditas pangan. Tahap kedua, Petani Milenial akan memanfaatkan lahan-lahan milik pribadi atau swasta. Pada tahap pertama pun sebetulnya ada peserta yang memanfaatkan lahan miliknya sendiri atau disebut petani milenial mandiri, tapi porsinya tidak terlalu besar. "Nah, oleh karena itu tahap satu semua lahan Pemda Provinsi Jabar kita maksimalkan. Sementara untuk tahap dua akan ada gabungan dengan lahan-lahan milik pribadi atau swasta," ujarnya.Emil menilai sektor perikanan memiliki prospek bisnis menguntungkan. "Kelebihan sektor perikanan ini faktor pengali. Apabila mengurus dua hingga tiga bioflok, tiga kali seratus ribu saja, bisa lumayan. Nah itu kalau sukses," ujarnya. Baca juga: DKP Jabar Bina 60 Petani Milenial Budidaya Ikan dan UdangSedangkan, untuk biaya permodalan sudah lancar diberikan oleh BJB kepada para petani milenial dengan sistem Kredit Usaha Rakyat (KUR). "Tadi juga permodalan sudah lancar diberikan oleh BJB. Kepada yang belum kita ubah nanti polanya kredit dari bank ke Agro Jabar, dan nanti mereka yang membina. Jadi semua pasti kebagian," ucap Emil.Disesuaikan dengan Kebutuhan PasarEmil menjelaskan salah satu kelebihan program Petani Milenial yaitu dengan sistem pembelian di awal oleh offtaker. Nantinya para petani menanam, berternak, dan menambak menyesuaikan dengan kebutuhan pasar. “Kita tidak mau mendengar ada cerita produk tidak terjual, makanya dikunci pembeliannya di awal bukan di akhir. Pasar butuh berapa jenis apa, baru kita tanam, kita ternak, kita tambak. Bukan lagi polanya kita beternak dulu, baru cari pembeli,” ujarnya.“Nah itulah tugas dari Agro Jabar. Selain dirinya membeli, mereka juga menjadi koordinator dari pembeli-pembeli pangan di Jabar,” kata Emil menambahkan. Kategori peserta PIM ada dua yaitu Peserta PIM Intensif dan Peserta PIM Mandiri, dibedakan berdasarkan lokasi budi daya. Untuk PIM Intensif, budi daya bertempat di aset milik Pemprov Jabar. Seperti yang sudah terpakai saat ini, lahan milik Dinas Kelautan dan Perikanan dikelola 33 orang tersebar di beberapa tempat. Yakni di PSDKP WS Ciherang–Cianjur untuk komoditas iklan nila dikelola 10 orang. Satpel Wanayasa CDKP WU-Purwakarta ikan nila oleh lima orang. Satpel Cijengkol CDKP WU-Subang beternak lele oleh 13 orang, dan di UPTD PAPLWS Cibalong Pameungpeuk Garut untuk komoditas udang dikelola lima petani milenial. Sedangkan untuk PIM mandiri budi daya bertempat di lahan pribadi masing-masing peserta sebanyak 22 orang, dengan pilihan komoditas ikan nila 13 orang dan lele sembilan orang.Baca juga: Sekali Panen Ikan Raup Cuan Belasan Juta, Mau Coba Jadi Petani Milenial? Luncurkan AgrowisataDi tempat terpisah, Ridwan Kamil meluncurkan kawasan agrowisata Cianjur di Desa Cipendawa di Kecamatan Pacet. Cipendawa merupakan salah satu desa yang terbilang masih asri dengan hamparan sawah dan alam pegunungan yang hijau dengan udara sejuk. Kuliner tersohor dari desa ini adalah kue cincin, makaroni, dan lapis legit. Sementara seni budaya yang masih kuat di desa ini adalah gamelan Sunda. Nama Cipendawa diambil dari Sungai Cipandawa yang melewati desa ini. ‘Ci’ berarti air, ‘pan’ berarti untuk, ‘dawa’ berarti obat. Cipandawa dapat dimaknai sebagai sungai untuk obat yang berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit.Dengan berbagai potensi yang ada, Cipendawa diproyeksikan menjadi salah satu desa agrowisata di Cianjur yang menjadi andalan Jawa Barat dalam mengembangkan dunia pariwisata dalam kerangka pemulihan ekonomi pascapandemi Covid-19.   Baca juga: Investasi Udang Cara MilenialGubernur memberikan rumus pengembangan agrowisata kepada Pemkab Cianjur. Menurutnya, agrowisata dapat menyejahterakan masyarakat asal pengelolanya berani menerapkan teori-teori baru dalam promosi. Di zaman serbacanggih, kata dia, promosi pariwisata dapat memanfaatkan jasa influencer dengan pengikut banyak."Cukup dengan memposting dan Insya Allah desa wisata ini akan dicari banyak orang,” kata Emil.Adapun teori baru yang dimaksud Gubernur dalam kaitannya memaksimalkan teknologi digital, pertama, perkuat spot swafoto (selfie). Dengan latar belakang fotografi kekinian, Cipendawa memenuhi syarat untuk menjadi desa agrowisata.  “Kalau orang turis datang ke sini yang dicari pasti pemandangan. Jika desa ini belum ada titik selfie, segera dibikin dengan berbagai bentuk. Misalnya sarang burung atau ikon love bisa juga berbentuk perahu,” katanya. Sumber: Liputan6.com ...
Menanggulangi Penyakit Infeksi Pada Ikan Laut
Terkini

Menanggulangi Penyakit Infeksi Pada Ikan Laut

Pemeliharaan ikan dalam jumlah besar dengan kepadatan tinggi merupakan lingkungan yang kondusif bagi pengembangan dan penyebaran penyakit. Adapun beberapa macam penyakit yang dapat menyerang budidaya ikan laut diantaranya adalah parasit, jamur, bakteri dan virus. Dari jenis penyakit tersebut, yang paling sering menginfeksi adalah parasit dan bakteri. Meskipun demikian serangan virus pada ikan laut juga sangat menakutkan bagi para pembudidaya karena dapat menyebabkan persentase kematian yang besar.Tanda-tanda awal ikan terserang penyakit bisa dengan mengamati tingkah lakunya: biasanya nafsu makan menurun, produksi lendir berlebih, warna tubuh berubah, ikan menyendiri atau terpisah dari kelompoknya, menggosokkan tubuhnya pada jaring atau pada dinding bak, berenang tidak normal sepeti mengambang di permukaan, gerak renang tidak terkontrol, atau diam di dasar.Baca juga: Pastikan Benih Ikan Kerapu Macan Anda Berkualitas Disini!Lebih lanjut akan terlihat gejala klinis seperti kemerahan di pangkal sirip, bagian bawah operculum, dan bagian tubuh lainnya serta adanya luka. Jenis penyakit parasitik yang paling sering dijumpai adalah dari kelompok trematoda insang yaitu (Diplectanum spp., Haliotrema spp. dan Pseudorhabdosynochus spp.); trematoda kulit (Benedenia sp. dan Neobenedenia sp.) dan Protozoa (Cryptocaryon irritans, Amyloodinium ocellatum. dan Trichodina spp.).Untuk penyakit bakterial, jenis yang paling umum menginfeksi adalah kelompok bakteri Gram negatif dari jenis Vibrio so. Seperti yang dipaparkan oleh Koordinator Kesehatan Ikan dan Lingkungan Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung, Ir. Julinasari Dewi, di BBPBL Lampung. Vibriovulnificus, V. alginolyticus dan V. fluvialis merupakan kelompok bakteri Vibrio yang paling sering menginfeksi ikan budidaya, sedangkan untuk penyakit virus,VNN (Viral Nervous Necrotic) dan Iridovirus yang mendominasi.Serangan penyakit infeksi menyerang pada semua stadia, mulai larva hingga induk, kecuali penyakit parasitik yang menginfeksi pada stadia pendederan hingga stadia induk. Serangan parasit trematoda insang dan kulit terutama menginfeksi ikan-ikan yang dipelihara di laut terbuka, sedangkan serangan penyakit bakterial maupun viral dapat terjadi pada semua media.Penyebab PenyakitSalah satu pemicu terjadinya serangan penyakit infeksi adalah menurunnya beberapa parameter kualitas perairan, misalnya akibat tingginya kandungan bahan organik akibat buangan limbah dari daratan. Infeksi bakteri umumnya merupakan infeksi sekunder setelah ikan terserang parasit.Pemicu lain yang menyebabkan serangan infeksi adalah terlukanya ikan ketika dipelihara di dalam keramba jaring apung (KJA) menggunakan net bersimpul. Net bersimpul yang kasar dapat menyebabkan terlukanya sisik ikan yang memudahkan terjadinya infeksi oleh bakteri. Oleh karenanya, sangat disarankan menggunakan net klasifikasi tanpa simpul (knotless) seperti yang diproduksi di dalam negeri oleh PT. Gani Arta Dwitunggal dengan merk Aquatec. Penggunaan net klasifikasi tanpa simpul (knotless) dapat menghindari terlukanya ikan ketika bergesekan dengan net, yang berujung pada berkurangnya infeksi bakteri dan peningkatan SR (Survival Rate) ikan yang dipelihara.Foto : Net Klasifikasi Tanpa Simpul (knotless) produksi PT. Gani Arta DwitunggalBeberapa jenis parasit juga menyebabkan luka pada bagian tubuh yang terserang. Luka tersebut akan mudah diinfeksi oleh bakteri yang memang berada di media perneliharaan.Infeksi yang disebabkan virus dapat ditularkan secara vertikal dari induk yang telah terinfeksi ataupun secara horizontal dari ikan lain yang terinfeksi.Salah satu penyebab terbesar dari infeksi adalah pemakaian KJA berbahan kayu. KJA tradisional berbahan kayu memiliki rongga di mana bakteri dan virus dapat tinggal, sehingga menjadi resiko yang senantiasa membayangi kegiatan budidaya ikan dalam KJA. Net yang kotor juga dapat menyebabkan tertinggalnya bakteri dan virus, yang dapat menyerang ikan pada siklus berikutnya. Oleh karenanya, Julinasari menyarankan kepada pembudidaya laut untuk meninggalkan KJA kayu dan mulai beralih pada KJA HDPE.Foto : Budidaya Keramba Jaring Apung (KJA) HDPE Dengan Menggunakan Net Tanpa SimpulPencegahan dan PengobatanPencegahan dapat dilakukan dengan menerapkan pengelolaan kesehatan ikan secara terpadu, antara lain menggunakan benih bebas penyakit, bagi para pembudidaya sebaiknya membeli benih yang telah diuji di laboratorium dibuktikan dengan laporan Hasil Uji atau sertifikat.Perendaman dengan air tawar atau desinfektan minimal setiap 10 hari sekali juga merupakan upaya pencegahan, atau dengan menggunakan vaksin, memberikan imunostimulan misal vitamin C.Disarankan mendesinfeksi sarana budidaya sebelum dan selama pemeliharaan, membersihkan net secara teratur, serta memanajemen pemeliharaan yang baik seperti pada pakan, padat tebar, kebersihan, biosekuriti, dan lainnya.Penyakit parasitik dapat berupa trematoda insang dan kulit, trematoda insang, trematoda kulit, Cryptocaryasis, Oodiniasis dan Trichodiniasis. Untuk obat-obatan dan bahan kimia yang dipakai sebaiknya menggunakan yang telah terdaftar di Kementerian Kelautan dan Perikanan.Baca juga: Cara Mudah Seleksi Induk Ikan Kerapu MacanAdapun pengobatan Trematoda insang dan trematoda kulit, dapat dilakukan dengan cara perendaman dengan air tawar selama 10 menit atau tergantung jenis ikan dan ukurannya, selama perendaman diamati. Bila ikan terlihat megap-megap segera pindahkan ke air laut.Pengobatan Trematoda insang, bisa juga merendamnya dengan larutan formaldehyde, dosis dan waktu perendaman disesuaikan dengan aturan pakai pada produk. Pengobatan Trematoda kulit, caranya merendam dengan formaldehyde dengan dosis 150 ppm selama 10-30 menit atau sesuai dengan aturan produk. Cryptocaryasis (disebabkan Cryptocaryon irritans), Oodiniasis (disebabkan Amyloodinium ocellatum) dan Trichodiniasis (disebabkan oleh Trichodina spp), juga bisa ditanggulangi dengan perendaman menggunakan formaldehyde dengan dosis 150 ppm selama 10-30 menit atau sesuai dengan aturan produk. Penggunaan formaldehyde, walau dampaknya tidak terlalu berpengaruh karena dosisnya yang sangat kecil, perlu diperhatikan dahulu dampaknya terhadap pemasaran karena tidak semua konsumen bisa menerima ikan hasil treatment formaldehyde.Penyakit bakterial, pengobatannya dengan pemberian antibiotik melalui pakan atau perendarman. Lama pemberian, dosis lewat pakan atau konsentrasi perendamannya disesuaikan dengan aturan produk obat. Sedangkan untuk penyakit viral yang belum ada pengendalian spesifik, dapat dengan menggunakan antibiotik untuk mengurangi efek infeksi sekunder oleh bakteri.Baca juga: Pembenihan Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer, Bloch)Julinasari menyarankan kepada pembudidaya ikan laut agar dalam memelihara ikan dengan sistem resirkulasi pada stadia larva dan benih, memelihara ikan dengan KJA HDPE pada stadia pembesaran, memakai net klasifikasi tanpa simpul (knotless) untuk mencegah luka pada sisik, menghindari stress baik fisik, kimia dan biologi.Kepadatan pemeliharaan disarankan tidak terlalu tinggi, manajemen pengelolaan pakan dilakukan dengan baik dari segi penyimpanan serta frekuensi pemberian pakan lebih sering. Manajemen kesehatan ikan yang dapat dilakukan pembudidaya adalah dengan memonitoring status kesehatan ikan dan kualitas air secara berkala. "Segera isolasi ikan yang tampak sakit untuk menghindari penularan dan membawa sampel ikan sakit ke laboratorium terdekat serta melakukan penggantian jaring begitu terlihat kotor. Selanjutnya mendesinfeksi bak dan peralatan, serta tidak membuang ikan sakit di area budidaya, sebaiknya ikan sakit dikubur atau dibakar. Dengan ditanganinya penyakit infeksi pada ikan laut, tentunya pembudidaya akan meraup untung untuk memperluas usaha." pungkas Julinasari. Artikel asli ...
Tujuh Komoditas Unggulan Akuakultur
Terkini

Tujuh Komoditas Unggulan Akuakultur

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendapat mandat dari Presiden Joko Widodo untuk mengoptimalkan sektor perikanan budidaya atau akuakultur. Karena itu, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono akan fokus pada pengembangan produk ekspor komoditas unggulan Indonesia yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Antara lain udang, lobster dan rumput laut.  Hal tersebut disampaikan oleh Trenggono saat memberi sambutan pada kegiatan Temu Stakeholder Akuakultur yang diselenggarakan oleh Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) secara daring di Kantor KKP, Jakarta (2/3). Komoditas udang dipilih menjadi prioritas berdasarkan data ekspor tahun 2020 yang mencapai 239.227 ton atau senilai USD 2,04 miliar. Untuk peningkatan produksi dan ekspor komoditas ini, KKP akan memfasilitasi pengembangan shrimp estate. Yakni sistem budidaya dengan skala intensif, dengan target produksi berkisar 40 ton per hektar per tahun. Baca juga: Budidaya Rumput Laut dengan Kantong BersusunSementara komoditas lobster pada tahun 2020 mampu ekspor hingga 2.022 ton dengan nilai USD75.25 juta. Menurut Trenggono, lobster akan dikembangkan melalui korporasi budidaya yang dampaknya diharapkan dapat menyentuh masyarakat. Salah satu strateginya yaitu melalui pembuatan model kawasan budidaya lobster. Adapun komoditas rumput laut dipilih menjadi komoditas unggulan karena Indonesia menjadi produsen nomor dua terbesar setelah Tiongkok. Volume ekspor rumput laut pada tahun 2020 mencapai 195.574 ton dengan nilai mencapai USD 279,58 juta.  “Akuakultur adalah jawaban untuk membangun sektor perikanan Indonesia yang memiliki aspek pembangunan yang terdiri dari teknologi yang menjadi motor, lingkungan, sosial ekonomi dan pasar yang menjadi pertimbangan komoditas unggulan. Dimana keterlibatan stakeholder perikanan budidaya berperan penting dalam mencapai kesejahteraan pelaku usaha budidaya,” imbuh Trengggono. Baca juga: Prof Rokhmin Dahuri: Ikan Hias Sumbang Devisa Rp 500 MiliarSelain ketiga komoditas tersebut, Ketua Umum MAI Rokhmin Dahuri juga memberikan tambahan empat komoditas lainnya yang memiliki nilai tinggi untuk peningkatan produtivitas perikanan budidaya. “Kebijakan Pak Menteri mengenai perikanan budidaya pada penilaian kami itu sangat konkret dan kami akan mendukung, namun ada saran dari kami untuk menambahkan kerapu, kepiting, kakap dan nila, karena demand internasional untuk ekspor sangat tinggi. Kami sangat berharap Pak Menteri dapat memberi arahan kepada kami, sehingga mimpi Bapak Presiden, cita-cita Pak Menteri, dan kami semua untuk perikanan budidaya ini menjadi kenyataan,” jelas Rokhmin. Artikel Asli ...
De Heus Sebagai Salah Satu Mitra yang Berkontribusi Pada Program Fish Tech Indonesia
Terkini

De Heus Sebagai Salah Satu Mitra yang Berkontribusi Pada Program Fish Tech Indonesia

Indonesia sebagai negara yang memiliki perekonomian terbesar di Asia Tenggara dan berkembang pesat dengan populasi melebih 260 juta jiwa, memiliki potensi sangat besar untuk menjadi pemain terdepan makanan laut secara global. Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia berambisi untuk meningkatkan produksi akuakultur yang berkelanjutan dan menurunkan harga untuk membuat ikan terjangkau bagi sebagian besar penduduk di Indonesia.Negara Belanda secara internasional dikenal karena posisinya yang terdepan dan inovatif dalam rantai agro-pangan, mengembangkan proses produksi yang produktif dan berkelanjutan serta memberikan nilai lebih. Kebijakan dan prosedur yang diterapkan di Belanda mengenai efisiensi, kualitas makanan, keamana dan kebersihan produk merupakan standar internasional tertinggi. Sektor akuakultur Belanda (sektor swasta lembaga pendidikan dan lembaga pemerintah) memiliki ambisi untuk berkontribusi pada sektor akuakultur yang lebih kompetitif dan bertanggung jawab di Indonesia.Di saat yang sama, sektor akuakultur Indonesia menawarkan banyak peluang bisnis bagi perusahaan Belanda.Sejak 2019, kemitraan perusahaan Belanda yang aktif di sektor akuakultur bernama Fish Tech Indonesia, yang dipimpin oleh Larive International, telah berinvestasi di Indonesia dengan membangun sistem produksi dan cara budidaya terbaik yang berkelanjutan serta inovatif secara lokal. Fish Tech Indonesia bermitra dengan dan menerima pendanaan bersama dari Kedutaan Besar Kerajaan Belanda di Jakarta.Beli produk De Heus disini!Di Majalengka (Jawa Barat) telah dibangun kolam budidaya sistem resirkulasi akuakultur (RAS) untuk budidaya ikan lele dengan kapasitas produksi tahunan 50 ton di lokasi CV SUMMARINDO. Selain itu, telah dibangun kolam budidaya sistem resirkulasi akuakultur (RAS) untuk budidaya ikan patin dengan kapasitas produksi tahunan sebesar 30 Ton di lokasi PT Mitra Cahaya Mina di Tulungagung (Jawa Timur).Kolam tersebut akan bertindak sebagai kolam percontohan dimana para pembudidaya ikan dari kedua wilayah akan diberikan pelatihan mendalam untuk penebaran, pakan, biosekuriti dan pengelolaan kolam. Hal ini akan memungkinkan mereka untuk meningkatkan hasil dan menerapkan metode budidaya berkelanjutan yang lebih baik (seperti penggunaan air yang lebih sedikit dan pengurangan penggunaan antibiotik). Selain itu, mitra Belanda memiliki tujuan untuk meningkatkan akses ke pasar dengan menjalin kemitraan dengan pengecer dan grosir lokal.Matthias Brienen, Direktur Larive International: “Memperkuat sektor budidaya perikanan Indonesia membutuhkan peningkatan produktivitas domestik dengan cara yang bertanggung jawab secara lingkungan dan sosial. Hal ini dapat diwujudkan dengan memperkenalkan teknologi yang dikembangkan di Belanda (seperti sistem resirkulasi semi-tertutup dan sistem resirkulasi tertutup) yang telah terbukti di pasar negara berkembang lainnya, dikombinasikan dengan saran teknis " Baca juga: Grup Royal De Heus Memasuki Pasar Indonesia Melalui Akuisisi PT. Universal Agri BisnisindoLambert Grijns, Duta Besar Kerajaan Belanda di Indonesia: “Kedutaan Besar Belanda di Indonesia mendorong perusahaan-perusahaan Belanda untuk memperkuat rantai nilai di Indonesia, terutama di wilayah yang berdampak positif langsung pada ketahanan pangan dan dengan bekerja sama dengan pemangku kepentingan lokal. Kami senang bahwa melalui kemitraan publik swasta ini kami dapat berkontribusi pada sektor yang lebih berkelanjutan yang mempekerjakan> 1,6 juta penduduk ”Kay De Vreese, Presiden Direktur De Heus Indonesia: “Melihat populasi yang terus bertambah dan daya beli yang meningkat, kami mengharapkan pertumbuhan konsumsi ikan air tawar di Indonesia. Pengenalan sistem budidaya inovatif untuk pembenihan, pembibitan, dan budidaya pembesaran yang dikombinasikan dengan pakan ikan berkualitas tinggi, akan memungkinkan pelanggan kami mempraktikkan metode produksi yang lebih berkelanjutan dan efisien, menghasilkan kinerja teknis yang lebih baik dan pendapatan yang lebih tinggi ” Artikel asli ...
Sistem Ini Dinilai Bisa Cegah Wabah Penyakit di Tambak Udang
Terkini

Sistem Ini Dinilai Bisa Cegah Wabah Penyakit di Tambak Udang

Udang menjadi panganan yang banyak dicari masyarakat Indonesia. Tak heran, budidaya udang menjadi salah satu peluang bisnis yang dijalani banyak orang.Namun, serangan wabah penyakit termasuk Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND) dan Early Mortality Syndrome (EMS) masih membayangi para petambak udang.Adalah eFishery melalui salah satu unit bisnisnya, eFisheryFarm menawarkan satu sistem yang bisa membantu petambak udang menghadapi masalah wabah penyakit. Disease Prevention System (DPS) namanya.Baca juga: Warna Air Tambak Yang Bagus Untuk Udang VanameIni layanan yang memberikan protokol pencegahan wabah penyakit pada tambak udang dan memberikan solusi pengaturan kualitas air yang efektif dan ramah lingkungan dengan berbasis teknologi.“Pemerintah menargetkan Indonesia menjadi pengekspor udang terbesar nomor satu di dunia dan memastikan ekspor udang naik hingga 250 persen pada 2024 mendatang," ujar CEO dan Co-founder eFishery Gibran Huzaifah.Dia mengatakan, untuk mencapai target tersebut, kapasitas produksi perlu ditingkatkan. Salah satunya dengan mengatasi satu hambatan terbesar dalam budidaya udang, yaitu wabah penyakit.Baca juga: Campuran Ekstrak Lengkuas Merah pada Pakan Untuk Atasi White Feces Disease”EMS yang menyebabkan kematian pada benih udang dapat disebabkan oleh bakteri dari marga Vibrio, sehingga dikenal dengan istilah Vibriosis. Keluarga bakteri Vibrio sendiri dapat ditemukan di hatchery seperti pada post larva benur, air bak benur dan induk, serta pakan alami. Sedangkan pada tambak, bakteri tersebut dapat ditemukan pada air tambak yang tercemar dan pada sedimen (lumpur).Menurut Gibran, DPS yang dihadirkan oleh eFishery bisa menjadi cara mencegah terjadinya berbagai wabah penyakit.Salah satu komponen dalam DPS adalah disinfektan ramah lingkungan yang telah terbukti dengan cepat membunuh bakteri dan menghilangkan berbagai patogen yang dapat menyebabkan penyakit pada udang seperti yellow head virus, white spot syndrome virus (WSSV), dan Vibrio parahaemolyticus penyebab AHPND.Baca juga: Berdayakan Warga Lokal, Strategi Pemda Buol Budidaya Udang VanameGibran menambahkan, sebagai bagian dari layanan DPS, teknisi eFishery akan melakukan pengecekan atau assessment tahap awal dengan output berupa biosecurity scoring untuk menentukan tingkat kerentanan tambak terhadap serangan penyakit.Kemudian tim eFishery juga akan melakukan pengecekan dan analisis kualitas air tambak secara rutin serta memberikan laporan dan rekomendasi penanganan air.Selain itu, teknisi juga akan memberikan rekomendasi pemberian dosis disinfektan serta protokol dan konsultasi secara gratis apabila tambak terserang wabah, sehingga para petambak dapat berbudidaya dengan aman tanpa khawatir tambaknya terserang penyakit. Sumber: liputan6.com ...
Sekali Panen Ikan Raup Cuan Belasan Juta, Mau Coba Jadi Petani Milenial?
Terkini

Sekali Panen Ikan Raup Cuan Belasan Juta, Mau Coba Jadi Petani Milenial?

Budidaya ikan masih terbilang primadona di saat pandemi Covid-19. Bahkan, dalam sekali panen para petani ikan Nila bisa meraih omset hingga Rp17,69 juta.Melihat kondisi tersebut, Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanla) Provinsi Jawa Barat menyiapkan Pembudidaya Ikan Milenial (PIM). Setiap petani milenial yang dibina diarahkan untuk membudidayakan ikan lele, nila, dan udang.Diskanla Jawa Barat telah menyeleksi 82 PIM yang sesuai dengan persyaratan yakni berusia 19-39, lulusan SMK perikanan atau mengenal inovasi teknologi bidang perikanan, serta memiliki pengalaman sebagai pembudidaya ikan atau generasi keturunan pembudidaya ikan.  Baca juga: Ukuran Pelet Tepat, Produksi Benih Nila MaksimalHanya 44 PIM yang sudah memiliki lahan sendiri, sedangkan 38 lainnya tidak memiliki lahan (petani intensif) sehingga akan ditempatkan di sejumlah aset Diskanla Jawa Barat."Komoditas yang akan dibudidayakan yaitu ikan lele, nila, dan udang,"kata Kepala Diskanla Hermansyah kepada wartawan di Bandung, Rabu (14/4/2021).Dari jumlah tersebut, terdapat, Hermansyah memastikan pihaknya sudah menentukan komoditas yang akan dibudidayakan yakni Hermansyah menjelaskan bagi yang memiliki lahan sendiri, akan memeroleh suntikan dana Rp50 juta/orang yang bersumber dari KUR bank bjb. Bagi pembudidaya ikan lele, modal kerja tersebut akan digunakan untuk pembuatan tiga kolam bioflok berdiameter 4 meter serta pengadaan 20 ribu benih, sedangkan bagi pembudidaya nila akan digunakan untuk membuat lima kolam bioflok berdiamater 4 meter serta 10 ribu benih.Sementara untuk kelompok petani intensif, pihaknya telah menyiapkan lahan di empat lokasi seperti di Cijengkol, Kabupaten Subang (budidaya lele), dan Ciherang, Kabupaten Cianjur (nila). Baca juga: DKP Jabar Bina 60 Petani Milenial Budidaya Ikan dan Udang"Mereka akan diberikan masing-masing empat sampai enam bioflok," ujarnya. Dia menilai metode kolam bioflok dipilih karena bisa meminimalisasi pakan yang harus disediakan. Jika berhasil, masing-masing PIM diproyeksikan mendapat penghasilan Rp5,62 juta/bulan untuk budidaya lele. Menurutnya, budidaya lele akan panen setiap dua bulan sekali."Dalam setiap panen, dari jumlah benih itu setiap petani akan memeroleh laba Rp11,258 juta," katanyaSedangkan untuk budidaya udang, Diskanla Jabar menyiapkan lahan di Cibalong, Kabupaten Garut bagi enam PIM. Di atas lahan milik Diskanla Jawa Barat itu, kelompok tani tersebut akan memanfaatkan tambak seluas 1.300 m2 yang akan diisi 270 ribu benih udang.Baca juga: Tambak Udang Milenial, Solusi Buat Anak Muda yang tidak Mau Berlumpur-Lumpur ke KolamJika berhasil, masing-masing pembudidaya udang milenial ini diproyeksikan meraup untung Rp7,1 juta/bulan. Agar target itu tercapai, Diskanla Jawa Barat mendampingi PIM sejak awal, mulai dari pembekalan terkait analisa kelayakan dan penyusunan rencana kerja, pengenalan teknologi, hingga teknik pengemasan dan pemasaran. Selain itu, pihaknya juga melakukan pengawasan dan evaluasi langsung ke setiap PIM.Hermansyah menambahkan saat ini masing-masing PIM sudah memulai aktivitasnya. Bahkan budidaya ikan lele, diprediksi sudah bisa dipanen pada Juni, sedangkan untuk Nila dan Udang pada Agustus mendatang. Baca juga: Investasi Udang Cara Milenial"PIM intensif (di lahan Diskanla) angkatan I ini akan berakhir dalam waktu setahun. Selanjutnya akan direkrut PIM intensif angkatan II, III, dan seterusnya," katanya.Hermansyah berharap setiap angkatan PIM bisa berkembang dan mandiri usai menjalani program tersebut. "Kalau berhasil, mereka pasti memiliki keinginan untuk mengembangkan usaha mereka di tempat lain,"pungkasnya. Sumber: wartaekonomi.co.id ...
Persiapan Induk Ikan Gabus yang Perlu Dilakukan
Terkini

Persiapan Induk Ikan Gabus yang Perlu Dilakukan

Ikan gabus (Channa striata) merupakan salah satu jenis ikan perairan rawa yang bernilai ekonomis tinggi. Pemanfaatan ikan gabus berbagai ukuran dari kecil sampai besar menyebabkan kebutuhan ikan gabus semakin meningkat. Untuk memenuhi permintaan ikan gabus yang semakin meningkat, maka intensitas penangkapan ikan ini di alam juga semakin meningkat. Semakin intensifnya penangkapan ikan gabus memberikan dampak terhadap menurunnya populasi ikan gabus di alam. Dengan adanya keunggulan aspek biologi dan aspek ekonomi, maka ikan gabus patut untuk dikembangbiakan untuk menghasilkan benih yang siap untuk di tebar ke perairan sebagai upaya konservasi sumberdaya ikan dan meningkatkan populasi di alam. Selain itu, benih ikan gabus hasil pengembangbiakan dapat digunakan untuk usaha budidaya secara terkontrol. Baca juga: Cara Membedakan Jenis Kelamin Ikan GabusPersiapan MediaMedia untuk memelihara induk ikan gabus dapat menggunakan empang yang terbuat dari anyaman bilah bambu, yang dipasang di lahan rawa. Dalam empang diberi tanaman encek gondok supaya ikan gabus nyaman dan terlindung dari sinar matahari langsung. Media untuk memijahkan ikan gabus dapat berupa waring, yang dibuat kerangka dari kayu, dengan penutup bagian atasnya di pasang di lahan rawa. Satu waring untuk emijahkan satu pasang ikan gabus (1 ekor ikan jantan, 1 ekor ikan betina) Untuk pendederan larva sampai menjadi benih dapat menggunakan waring, dengan ukuran 4x6, diberi tanaman enceng gondok di luar waring. Waring dipasang dalam kolam/lebung dengan kondisi tingkat kesuburan tinggi (banyak plankton). Baca juga: Begini Cara Pemilihan dan Pemeliharaan Indukan GabusPersiapan IndukInduk ikan gabus yang digunakan dapat berasal dari hasil tangkapan dari alam. Induk yang berasal dari alam, terlebih dahulu perlu dijinakan dalam media pemeliharaan induk lebih kurang dua bulan.Dalam masa penjinakan, ikan gabus diberi makan berupa anak ikan hidup. Pakan dalam kondisi hidup lebih disukai induk ikan gabus hasil tangkapan dari alam. Pemberian pakan anak ikan sebanayk 2-3 ekor anak ikan per induk ikan gabus yang dipelihara. Baca juga: 7 Langkah Pemijahan Buatan Ikan GabusPematangan Gonad IndukPematangan gonad ikan gabus juga dapat dilakukan dengan pemberian pakan berupa ikan rucah baik ikan air tawar maupun ikan air laut dengan feeding rate 1.5-2.%/biomassa/hari atau dengan penyuntikan hormon HCG (Human Chorionic Gonadotropin) dengan dosis 300 IU/kg Sumber: Petunjuk Teknis Pembenihan Ikan Gabus (Channa striata)ditulis oleh M. Muslim ...
Artemia Decapsulation: Transitioning from Tradition
Terkini

Artemia Decapsulation: Transitioning from Tradition

Artemia is the most widely used live larval feed in fish and shrimp hatcheries. As prey they have a suitable size, are highly nutritious and stimulate the feeding response of marine fish and shrimp. Besides, Artemia nauplii can be enriched with nutrients to improve their nutritional profile. Before hatching, Artemia are, however, enclosed in a rigid shell (chorion). On the one hand, this means that Artemia cysts can be stored indefinitely and hatched into live nauplii on demand. On the other hand, the chorion of the cyst is non-digestible and must be removed from live nauplii before offering the live prey to larval aquaculture species. Removal is a challenge even to the modern aquaculture sector and current practices can compromise human welfare and raise environmental concerns.Also read: INVE Aquaculture Uncovers Artemia in A Brand New Knowledge HubAcommonly used approach to decapsulate Artemia cysts is a chemical process using hypochlorite. This method frees the embryos to allow them to develop and hatch into free swimming nauplii. However, this process carries many risks, not only for the Artemia but also for the operators and the environment. The chemical oxidation process catalysed by hypochlorite and the heat produced in this exothermic reaction can damage the embryos, requiring a well-managed, closely timed and complex decapsulation protocol to avoid significant losses or minimise reduced hatchability of Artemia embryos. The complexity of decapsulation calls for highly skilled and trained operators, making it a costly process. Moreover, these workers are at risk of exposing themselves to hazardous chemicals and inhaling the toxic gases and fumes produced in the reaction. The waste products, such as adsorbable organic halogen compounds (AOX), are harmful to the environment and difficult to degrade; some are toxic to humans and other organisms through which they can accumulate in the food chain. These concerns regarding the disposal of the by-products make it unsustainable and costly to carry decapsulation at a large-scale.Also read: Green Algae - Substitute Partial Pellet Feed for TilapiaA more sustainable methodIt is therefore essential to switch to more efficient and sustainable methods to produce live Artemia nauplii and promote further growth of the aquaculture industry. Answering to these needs INVE (Benchmark Advanced Nutrition) developed the SEP-Art technology. This technology separates nauplii from their cysts using magnetism. SEP-Art cysts are coated with a nontoxic layer of magnetic material that does not affect the overall hatching characteristics of the cysts. The SEP-Art separation tool uses magnets that solely attract the cysts and empty shells, freeing the Artemia nauplii during the process. Once the cysts attach to the magnets, they can be removed easily from the Artemia nauplii suspension.Also read: The Grain Gain: Could Barley Protein Revolutionise The Aquafeed Sector?This allows the harvest of more and better quality Artemia nauplii in less time. As opposed to the traditional methods, SEP-Art does not compromise the vitality of the nauplii as it does not employ physical force or a chemical reaction. Furthermore, it maximises the recovery of the hatching output and speeds up the harvest and collection of the nauplii, making it more efficient. Compared to decapsulation, SEP-Art tools are intuitive and easy to use, and, hence, accessible to untrained workers. The process does not produce chemical waste, making it more sustainable to the environment even at large scale. Overall, a more efficient approach that enables farmers to increase the quality and survival of the harvested nauplii and support the healthy growth of fish and crustaceans. Source: Aquaculture Acia Pacific ...
DKP Jabar Bina 60 Petani Milenial Budidaya Ikan dan Udang
Terkini

DKP Jabar Bina 60 Petani Milenial Budidaya Ikan dan Udang

Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Jawa Barat bersiap mengawali program "Petani Milenial Juara" yang diluncurkan Gubernur Ridwan Kamil di Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat dengan membina 60 petani milenial. Sebanyak 60 orang yang lolos budidaya ikan akan mendapatkan sejumlah peluang usaha yang difasilitasi Pemda Provinsi Jabar mulai dari penyediaan lahan, bantuan modal dari Bank BJB serta kepastian pemasaran dari offtaker yang siap membeli hasil panen petani milenial. Kepala DKP Jabar Hermansyah mengatakan, ke-60 petani ikan milenial tersebut berasal dari ratusan pendaftar budi daya ikan milenial dengan berbagai latar belakang pendidikan dan pengalaman dalam budi daya ikan. Baca juga: Investasi Udang Cara Milenial"Kami menyaring mereka mulai dari minat, pendidikan dan juga pengalaman mereka dalam bidang budi daya ikan. Selain itu juga mereka harus menjalani pengecekan dari BI checking. Soalnya ada kaitannya dengan peminjaman modal dari BJB jangan sampai menambah risiko beban finansial calon petani milenial yang bersangkutan," ujar Herman, Jumat (26/3). Herman menjelaskan, dari 60 petani milenial yang terpilih terdiri dari dua kelompok. Pertama, mereka yang mandiri atau yang sudah memiliki lahan sendiri. Yang kedua, kelompok intensif yang tidak memiliki lahan. Masing-masing kelompok mandiri sebanyak 24 orang dan sisanya 36 orang merupakan petani intensif budaya ikan milenial. Dari 60 petani budi daya ikan tersebut masing-masing berbeda komoditas budi dayayaitu lele, nila dan udang sesuai dengan permintaan offtaker.Untuk kelompok petani intensif, kata Herman, DKP telah menyiapkan lahan di empat lokasi yang dekat dengan kantor cabang DKP di kabupaten/kota. Baca juga: Sandiaga Uno: Milenial Harus Punya Banyak Ide KreatifUntuk nila ditempatkan di Ciherang (Cianjur) dan Wanayasa (Purwakarta). Sementara lele di Cijengkol (Subang), serta udang di Cibalong (Garut). "Mereka ditempatkan di lahan milik kami yang tidak terpakai. Mereka akan diberikan masing-masing empat sampai enam bioflok (kolam yang menggunakan terpal) dengan diameter 4 meter," kata Herman. Namun untuk petani udang, perlakuannya berbeda dengan petani nila dan lele dan mereka tidak diberikan fasilitas kolam biofolk, melainkan lahan tambak udang di Cibalong. "Dari 36 petani intensif, lima orang di antaranya petani udang," kata Herman. Menurut Herman, para petani milenial tersebut akan dibina dan diberikan kesempatan mengembangkan usahanya dengan durasi satu tahun.Diharapkan mereka bisa berkembang dan mandiri usai menjalani program tersebut. Baca juga: Tambak Udang Milenial, Solusi Buat Anak Muda yang tidak Mau Berlumpur-Lumpur ke Kolam"Kalau berhasil, mereka pasti memiliki keinginan untuk mengembangkan usaha mereka di tempat lain, tidak terus-terusan di sini. Kalau terus di sini berarti mereka tidak berkembang, " kata dia. Herman menambahkan, untuk petani mandiri tambahan aset yang mereka peroleh dari pinjaman Bank BJB akan menjadi hal milik mereka, sedangkan untuk petani intensif aset yang mereka bangun akan dikembalikan pada DKP selalu pihak yang meminjamkan lahan. "Kami berharap mereka berhasil karena dalam satu tahun mereka dapat menghasilkan hingga empat kali siklus atau panen seperti lele dalam dua sampai tiga bulan bisa dipanen, nila dan udang tiga kali siklus panen atau tiga siklus," katanya.  Hingga saat ini milenial yang meminati tanaman pangan ada 1.010 orang. Sementara hortikultura 951 orang. Saat ini ada dalam posisi evaluasi akhir atau wawancara sampai tanggal 10 April 2021 nanti. Sumber: Republika ...
Tips Cari Modal Buat Bisnis Budidaya Ikan
Terkini

Tips Cari Modal Buat Bisnis Budidaya Ikan

Perusahaan rintisan akuakultur eFishery menjalin kerja sama dengan patforrm layanan keuangan pinjam meminjam berbasis teknologi informasi PT Kawan Cicil Teknologi Utama atau KawanCicil. Adapun kerja sama ini terkait akses modal bagi pembudidaya ikan yang terdaftar sebagai nasabah eFisheryFund.eFisheryFund merupakan platform digital dengan fasilitas pembiayaan yang ditawarkan oleh eFishery bekerja sama dengan layanan finansial yang dirancang khusus untuk para pebudidaya. KawanCicil akan memberi pinjaman modal usaha hingga Rp 100 miliar kepada pebudidaya yang terdaftar dalam ekosistem eFishery."Salah satu tantangan pelaku UMKM adalah modal usaha, terutama bagi mereka yang kesulitan dalam mendapatkan fasilitas permodalan dengan mudah. Padahal di luar sana, banyak orang-orang yang peduli dan bersedia meminjamkan dana untuk membantu para UMKM. Baca juga: Pelajari Investasi dan Permodalan dalam AkuakulturDisini KawanCicil berkomiten untuk mendukung perusahaan startup seperti eFishery, yang peduli dengan pertumbuhan pengusaha mikro pada sektor aquaculture, untuk memberikan kemudahan dalam mengakses fasilitas permodalan tersebut dengan mempertemukan pemberi pinjaman yang terverifikasi dengan peminjam, dalam hal ini pembudidaya ikan," kata Chief Operation Officer KawanCicil, Joyce Andries.CEO & Co-Founder eFishery, Gibran Huzaifah mengatakan, selama ini pebudidaya mengalami kesulitan dalam mengakses permodalan. Maka itu, banyak pembudidaya yang mendapat pinjaman dengan bunga selangit."Pembudidaya ikan sangat sulit untuk mendapatkan pemodalan. Selain unbanked, pola bisnisnya dianggap memberikan resiko yang tidak pasti (uncertain risk). Itulah kenapa, banyak pebudidaya yang terpaksa harus mencari pemodalan dari jalur tradisional, yang bunganya bisa mencapai hingga 50% per tahun," ungkapnya.Baca juga: Investasi Udang Cara Milenial"Dengan pendekatan yang tepat, bisnis budidaya ikan bisa sangat menguntungkan. Melalui data dan teknologi yang kami miliki, eFisheryFund menghubungkan pembudidaya dengan institusi keuangan dan membuka akses bagi para pembudidaya ikan untuk mendapatkan modal. Kerjasama dengan KawanCicil ini diharapkan mampu memberikan dukungan bagi para pembudidaya untuk meningkatkan usaha budidayanya dan melipatgandakan dampak yang kami berikan kepada pembudidaya. Dengan begitu, industri perikanan bisa lebih produktif melalui inklusi finansial yang sesungguhnya," paparnya.Pembudidaya yang ingin mendapatkan fasilitas permodalan dapat melakukan pengajuan pinjaman melalui platform digital eFisheryFund. Baca juga: Sistem Resirkulasi Air, Investasi Keberhasilan Budidaya AndaPembudidaya dapat melengkapi dokumen yang dibutuhkan untuk kemudian dilakukan penilaian oleh tim eFishery untuk menentukan apakah mereka memenuhi syarat dan kriteria untuk memperoleh permodalan. Hasil penilaian ini nantinya diteruskan kepada KawanCicil untuk kembali dianalisis sesuai dengan sistem penilaian kredit yang berlaku. Sumber: finance.detik.com ...
Mahasiswa ITS Gagas Desain Alat Budidaya Ikan Lepas Pantai Otomatis
Terkini

Mahasiswa ITS Gagas Desain Alat Budidaya Ikan Lepas Pantai Otomatis

Tiga mahasiswa Departemen Teknik Kelautan, Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menggagas desain alat budidaya ikan tuna lepas pantai otomatis bertenaga surya. Alat ini diharapkan mampu meningkatkan potensi budidaya ikan lepas pantai di Indonesia. Tim beranggotakan Muhammad Akbar Hardian, Dinda Febriani Analiyah, dan Brigitta Violna El Tito. Salah satu anggota tim, Dinda Febriani mengatakan, Indonesia memiliki potensi laut yang besar dan perlu lebih dimaksimalkan.  "Salah satu potensi besar yang perlu dimaksimalkan adalah budidaya ikan tuna lepas pantai," ungkap Dinda mengutip siaran pers ITS, Kamis, 25 Maret 2021. Mahasiswi kelahiran 2001 ini menyatakan, saat ini budidaya ikan lepas pantai di Indonesia masih dilakukan secara manual. Diperlukan sekitar 15 sampai 20 orang per hari untuk mengurus tempat budidaya ikan tersebut. Tentu ada risiko pekerjaan yang dihadapi seperti tingginya angka kecelakaan kerja.  "Karenanya, budidaya ikan lepas pantai di Indonesia belum efisien," ujarnya. Baca juga: Mahasiswa FTUI Rancang Greenhouse Hidroponik dan AkuakulturBerangkat dari permasalahan tersebut, tim ini berinovasi mendesain sebuah alat budidaya ikan lepas pantai bernama ASTOR atau Automatic Offshore Aquaculture with Solar Energy. Alat ini didesain untuk meningkatkan produksi budidaya ikan tuna lepas pantai.   "Ikan tuna merupakan potensi besar yang dimiliki Indonesia dengan kontribusi penghasilan sebesar USD 480 juta per tahunnya," terang Dinda. ASTOR didesain untuk beroperasi secara otomatis yang dilengkapi dengan sistem monitor (monitoring system), sistem pemberiaan pakan (feeding system), ruang penyimpanan pakan (food storage), sistem sel surya (solar system), ruang penyimpanan (operational storage), dan sistem keamanan (security system) menggunakan kamera CCTV. Ia menjelaskan, pemberian pakan dalam sistem tersebut dilakukan melalui feeding system yang terhubung langsung dengan monitoring system. Seluruh sistem dapat bekerja dengan energi listrik yang dihasilkan oleh sel surya. Pemberian pakan oleh sistem dilakukan dua kali sehari. Sistem pemberi pakan akan menerima perintah dari sensor yang ada di dalam sistem monitor untuk mengeluarkan pakan. Baca: Probiotik Herbal Kreasi Mahasiswa KKN Undip, Panen Ikan Lele Hanya 1 Bulan Sensor pada monitor terbagi menjadi dua bagian, yaitu underwater sensor dan camera underwater. Kedua sensor tersebut menempel pada dinding keramba kolam yang terbuat dari pipa HDPE. Sensor pada sistem monitoring tersebut telah diatur untuk mengetahui waktu yang pas dalam memberi pakan ikan. Sensor tersebut dapat mengetahui ikan sedang lapar melalui tingkah laku ikan. Biasanya, ketika lapar ikan akan naik ke permukaan dan berada di bawah permukaan ketika sudah merasa kenyang. "Selain itu, sensor pada sistem monitor juga dapat mengetahui kualitas air dengan mengukur level pH air tersebut," ujarnya. Menurut Dinda, ASTOR bisa memudahkan para nelayan untuk mengontrol serta memberi makan ikan secara otomatis tanpa harus pergi ke lepas pantai karena dapat dikontrol melalui darat. Hal tersebut dapat mengefisiensi budidaya ikan lepas pantai dan meminimalisasi risiko kerja. ASTOR juga dapat meningkatkan produksi ikan tuna di Indonesia. Ikan tuna saat ini sudah masuk kategori penangkapan berlebih, sehingga dapat menyebabkan kepunahan. Peningkatan produksi ikan tuna diperlukan agar tetap menjaga keberadaan dan menutupi kebutuhan ikan tuna di Indonesia.  "Oleh karena itu, budidaya ikan tuna menggunakan ASTOR adalah cara yang tepat dalam mengatasi hal tersebut karena dapat membantu peningkatan produksi ikan melalui budidaya berkelanjutan (sustainable production)," tuturnya. Baca juga: Maksimalkan Budidaya Ikan, Mahasiswa Kembangkan Aplikasi Sahabatambak Berkat inovasinya, tim ini masuk sebagai finalis lomba Paper and Poster Competition Indonesia Ocean Expo (IOE) 2021 yang diselenggarakan Institut Teknologi Bandung (ITB), beberapa waktu lalu. "Walaupun paper kami tidak menjuarai kompetisi tersebut, tetapi paper kami mendapat predikat sebagai paper dengan poster terbaik," ucap dia.  Tim berharap dengan inovasi desainnya tersebut akan membantu Indonesia dalam memanfaatkan potensi laut di Indonesia lebih baik lagi, terlebih untuk budidaya berkelanjutan ikan tuna. Ia juga berharap desain alat yang dibuat dapat segera direalisasikan. Sumber: medcom.id ...
Budidaya Gabus dengan Pakan Pelet
Terkini

Budidaya Gabus dengan Pakan Pelet

Bagi pembudidaya ikan air tawar Ikan gabus merupakan ikan yang sangat ditakuti. Pasalnya dialam ikan gabus merupakan ikan predator tidak hanya memangsa benih ikan tetapi juga ikan dewasa dan serangga air lainnya. Tapi di sisi lain ikan gabus punya nilai ekonomis cukup tinggi. Ikan ini umumnya banyak ditangkap di danau, rawa, sungai, dan saluran-saluran air hingga ke sawah-sawah.Menurut Kepala Seksi Pengujian dan Dukungan Teknis di Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Mandiangin, Kalimantan Selatan, Firdausi, permintaan pasarakan konsumsi ikan gabus cukup tinggi dan kontinu, serta harganya meningkat drastis pada saat musim tertentu.Khusus di Kalimantan, menurut Firdausi, ikan gabus sangat disukai masyarakat karena rasa dagingnnya yang gurih. “Selain itu, tingginya kandungan albumin dalam daging ikan gabus bermanfaat untuk mempercepat proses penyembuhan luka pasien pasca operasi membuat ikan gabus semakin dicari,” sebutnya. Baca juga: Begini Cara Pemilihan dan Pemeliharaan Indukan GabusBudidaya GabusMelihat prospek pasar gabus yang tinggi, upaya untuk mengembangkan ikan gabus terus dilakukan. Menurut Firdausi, budidaya ikan gabus sekarang mudah dilakukan. Hal ini karena sekarang pembasan gabus sudah bisa menggunakan pakan pelet (komersial) dan setelah beradaptasi dengan pakan buatan, sifat kanibalnya berkurang. “Hal itu merupakan hasil dari tim BPBAT Mandiangin yangn mampu mengubah kebiasaan makan ikan gabus dari pakan berupa daging (karnivor) ke pakan komersial (pakan pelet),” ungkapnya.Hanya yang harus diperhatikan dalam budidaya ikan gabus, dijelaskan Firdausi, tempat pemeliharaan (kolam, jaring, dan lainnya) permukaannya ditutup atau dipagar keliling agar ikan gabus tidak bisa loncat. Sedangkan, untuk pengolahan kolam sama dengan budidaya ikan lainnya. Baca juga: Pemijahan Ikan Gabus (Channa striata)Benih gabus yang ditebar disarankan yang sudah beradaptasi dengan pakan buatan, ukurannya seragam dengan panjang diusahakan lebih dari 2 inci, serta sudah divaksin untuk bakteri aeromonas. Lebih lanjut Firdausi memaparkan, pakan komersil yang digunakan berupa pakan apung dengan kandungan protein lebih dari 31 % dan usahakan lebih tinggi kandungan proteinnya pada awal pemeliharaan. Untuk pemberian pakan 2 - 3 kali/hari. “Kepadatan optimal 50 - 75 ekor/m2 kalau ditambah lagi kepadatan dapat memperlambat pertumbuhan. Juga diperhatikan kualitas air yang baik walaupun ikan gabus tahan terhadap kualitas air yang jelek,” jelasnya.Baca juga: Ikan Gabus Mengandung Albumin, Ini Manfaatnya untuk Ibu HamilMasih terbatasnya pasokan benih gabus menjadi kendala pengembangan budiadaya. Kendala lainnya yaitu penyakit yang sering menyerang gabus dan pembudidaya masih belum banyak yang mengetahui teknologi budidaya ikan gabus.Maka itu, kata Firdausi, untuk permintaan benih, BPBAT Mandiangin akan memperbanyak bak pemijahan, kolam pendederan, serta menumbuhkan Unit Pembenihan Rakyat untuk ikan gabus. Soal penyakit, benih harus divaksin dulu sebelum didistribusikan ke pembudidaya. Lalu terkait sosialisasi, BPBAT Mandiangin berusaha menyebarkan teknologi budidaya ikan gabus ini melalui pendampingan/ pengawalan ke pembudidaya, melalui apresiasi,dan magang. Artikel asli ...
Begini Cara Pemilihan dan Pemeliharaan Indukan Gabus
Terkini

Begini Cara Pemilihan dan Pemeliharaan Indukan Gabus

Sebagai ikan yang sering dikonsumsi, budidaya ikan gabus semakin menarik perhatian pembudidaya. Ikan ini banyak diolah jadi masakan tradisonal yang masih dikonsumsi hingga kini. Salah satu tantangan dalam budidaya adalah cara pemilihan dan pemeliharaan indukan gabus.Secara umum, ikan gabus jantan dan betina cukup mudah dibedakan. Gabus betina cenderung lebih besar daripada gabus jantan. Ikan betina ditandai dengan bentuk kelapa yang membulat dan warna tubuh lebih terang. Sementara, ikan jantan memiliki kepala yang lebih lonjong dan warna tubuhnya lebih gelap.Agar bisa digunakan sebagai indukan, Anda harus memilih ikan gabus yang sudah mencapai matang gonad. Induk gabus yang sudah matang gonad berukuran 150—185 milimeter.Baca juga: Cara Membedakan Jenis Kelamin Ikan GabusCiri induk jantan yang sudah matang bisa dilihat dari adanya titik pada lubang kelamin. Warnanya agak kemerahan. Apabila ditekan, akan keluar cairan bening. Bobot ikan ini minimal 1 kilogram.Sementara, ikan betina yang sudah matang gonad ditandai dengan perut yang membesar atau buncit dan lembek. Ciri lainnya adalah lubang di area kelamin berwarna kemerahan. Apabila diurut, bagian perutnya akan mengeluarkan telur.Kematangan gonad sangat dipengaruhi oleh faktor umur. Ikan jantan akan matang gonad terlebih dahulu daripada ikan betina. Ikan gabus jantan umumnya akan matang pada umur satu tahun. Sementara, ikan betina akan mengalami matang gonad pada umur 4 tahun.Baca Juga: 7 Langkah Pemijahan Buatan Ikan GabusSelain umur, kematangan gonad juga dipengaruhi oleh pakan. Pakan jadi komponen yang penting dalam kematangan gonad ini, khususnya pada ovarium betina. Selain itu, pakan juga akan memengaruhi fekunditas dan kualitas telur.Pertumbuhan dan pematangan gonad terjadi bila terdapat kelebihan energi yang diperoleh dari makanan untuk pemeliharaan tubuh.Pemeliharaan induk ikan gabus yang diperoleh dari hasil tangkapan alam dapat dilakukan di kolam tanah, beton, atau fiber. Sebaiknya, Anda menggunakan kolam berukuran 8 meter × 6 meter × 1 meter.Baca juga: Budidaya Ikan Gabus di Kolam TerpalKolam yang akan digunakan dikeringkan terlebih dahulu selama tiga hingga empat hari. Air dimasukkan ke kolam sebanyak 30—50 cm. Kondisi lingkungan ini disesuaikan dengan habitat asli ikan gabus. Bisa dilakukan dengan memberi tambahan eceng gondok di atas permukaan air.Jika kolam sudah tersedia, masukkan 7 ekor induk jantan dan 7 ekor induk betina. Indukan gabus diberi pakan anak ikan atau yang biasa disebut sebagai nila atau nilem. Indukan juga bisa diberi udang air tawar kecil. Mereka juga dilatih pakan pelet apung yang memiliki kadar protein 28—32 persen. Banyaknya pakan pelet apung sebesar 3 persen dari bobot ikan. Sumber: Pertanianku.com ...
15 Jenis Pakan Ikan Bandeng Alami, Utama, Organik dan Alternatif
Terkini

15 Jenis Pakan Ikan Bandeng Alami, Utama, Organik dan Alternatif

Ikan bandeng merupakan ikan yang cukup dicari masyarakat luas. Pasar pencari ikan bandeng masih terbilang cukup tinggi. Hal ini dikarenakan masih banyaknya permintaan ikan bandeng untuk kebutuhan sehari-hari. Hal ini membuat pasar pakan ikan bandeng pun juga ikut meningkat sedemikian rupa.Ikan bandeng biasa diolah menjadi beberapa jenis makanan, seperti bandeng presto, otak-otak ikan bandeng, dll. Dalam pembudidayaan ikan bandeng, biasanya hanya diberikan makan selama 6 bulan sampai dengan 1 tahun. Biasanya hanya dengan menabur benih dan membiarkan ikan tersebut tumbuh. Kini ada beberapa jenis pakan ikan bandeng yang dibuat untuk pertumbuhan, antara lain :Pakan Utama Ikan BandengMakan adalah kebutuhan paling penting bagi makhluk hidup, tak terkecuali bagi ikan bandeng. Berikut ini rincian pakan ikan utama untuk bandeng:1.SerpihSerpih atau serpihan adalah salah satu makanan ikan terpopuler bagi ikan yang ada di akuarium. Bentuknya seperti keripik dan sangat mudah diberikan untuk ikan yang ada di dalam akuarium maupun kolam.Di toko ikan ada banyak sekali pakan serpih, harganya pun tidak terlalu mahal, biasanya satu bungkus dihargai empat puluh ribu. Disarankan untuk memilih merek yang terbaik anda bisa menanyakannya kepada penjual di toko ikan.2. ButiranMakanan ikan bandeng yang bisa kalian berikan berikutnya adalah pakan berbentuk butiran. Sama seperti serpih, butiran juga merupakan makanan populer untuk ikan, bahkan kalian bisa mencampurkan butiran dan serpihan kepada ikan bandeng yang kalian budidaya.Merek pakan berbentuk butiran yang bisa kalian pilih bernama takari, merek ini sudah sangat terkenal dan juga memiliki harga yang terjangkau. Satu makanan ikan takari bisa kalian beli seharga enam belas ribu lima ratus di toko ikan, sangat murah dan terjangkau untuk kalian yang baru memulai budidaya ikan.3. TabletSelanjutnya ada makanan ikan yang berbentuk tablet, pakan yang satu ini dibuat untuk ikan yang berada di akuarium. Makanan berbentuk tablet memiliki berat yang membuatnya tidak bisa mengapung, sehingga cocok untuk ikan yang berada di dasar.Biasanya makanan berbentuk butiran atau serpihan akan mengapung sehingga ikan di lapisan atas biasanya akan makan mendahului mereka. Jadi pakan berbentuk tablet cocok untuk ikan yang suka berada di dasar kolam atau akuarium.Pakan ikan tablet bisa kalian dapatkan di toko ikan, harganya cukup terjangkau. Satu botol tablet bisa dibeli dengan harga enam puluh ribu. Selain itu makanan ini bisa bertahan sampai dua minggu, cocok untuk orang yang terpaksa harus meninggalkan ikannya saat harus keluar kota.Baca juga: Kecukupan Pakan pada Benur4. StikPakan ikan berbentuk stik sangat cocok untuk ikan yang berukuran besar seperti ikan bandeng. Hanya saja makanan ikan berbentuk stik memiliki harga yang cukup mahal, tapi bisa kalian beli dengan ukuran lima kilogram.Salah satu makanan berbentuk stik yang bisa kalian beli bernama pond stick growth. Harganya cukup mahal karena produk impor, lima kilogram makanan ini bisa kalian beli di toko ikan dengan harga tujuh ratus lima puluh ribu.Bagi kalian yang sudah memiliki ikan bandeng yang banyak dan mempunyai kolam tembok bisa menggunakan pakan ini karena isinya yang banyak.5. Pakan Beku KeringContoh makanan yang dikeringkan untuk ikan biasanya adalah artemia, cacing darah dan kutu air, lalu dibekukan dan menjadi kering. Kelebihan makanan beku kering adalah tidak akan basi dalam waktu yang sangat lama sehingga cocok untuk kalian yang menyimpan banyak makanan untuk budidaya ikan.Untuk ikan yang masih kecil, kalian harus meremukkan pakan beku kering terlebih dahulu agar mempermudah ikan yang masih kecil untuk memakkannya. Makanan berbentuk kering ini sangat gampang ditemukan di toko ikan dengan harga yang murah.Salah satunya cacing darah beku bisa kalian beli dengan harga lima belas ribu, sangat murah dan bisa tahan lama sehingga mempermudah proses makan budidaya ikan bandeng milik kalian.Pakan Alternatif Ikan BandengJika kalian kesulitan menemui toko ikan di tempat tinggal anda tidak perlu khawatir. Karena makanan ikan bandeng bisa kalian dapatkan tanpa harus membeli di toko ikan. Berikut ini jenis pakan alternatif untuk ikan bandeng:6. Keong SawahJika tempat budidaya ikan bandeng kalian di sekitar sawah akan mempermudah untuk mencari makanan ikan bandeng, karena bisa kalian beri mereka dengan keong atau bekicot yang bisa dicari di sekitar persawahan. Bahkan kalian juga bisa meminta untuk dicarikan oleh para petani, karena keong sawah atau bekicot merupakan hama bagi mereka.7. Cacing TanahMakanan alternatif untuk ikan bandeng berikutnya adalah cacing tanah. Banyak juga para pengusaha budidaya ikan yang sekaligus merawat cacing tanah, karena selain mudah dirawat, para ikan bandeng juga menyukainya. Cacing jenis ini biasanya bisa kalian temukan di tanah dan memakan sampah maupun kotoran.Baca juga: Budidaya Cacing Sutera Dorong Produksi Benih Ikan Nasional8. AzolaAzola adalah tanaman paku air yang hidup di perairan. Bagi kalian yang akan mempunyai budidaya ikan bandeng di sekitar persawahan, selain keong, kalian juga bisa memberi makan ikan kalian dengan azola.9. Kutu AirSeperti sudah dijelaskan diatas, kutu air, cacing tanah dan artemia bisa diberikan kepada ikan bandeng dengan dibekukan. Namun tanpa dibekukan, ketiganya bisa lansung kalian beri kepada ikan milik kalian.Kutu air dikategorikan menjadi dua jenis, yaitu dahpnia dan monia. Namun yang paling banyak digunakan para pelaku budidaya ikan adalah daphnia. Hal ini dikarenakan spesies ini banyak dijumpai di air tawar yang merupakan tempat hidup ikan bandeng.10. ArtemiaArtemia adalah udang yang berukuran kecil atau benih yang hidup di pesisir pantai, jadi bagi kalian yang berniat membuat budidaya ikan bandeng di sekitar pantai kalian bisa memberinya makan artemia. Selain itu pakan ini juga mengandung lemak dan protein yang banyak dibutuhkan untuk pertumbuhan ikan bandeng.Pakan Organik Ikan BandengDengan menggunakan pakan organik akan membuat ikan bandeng anda lebih sehat dibanding memberinya makanan ikan olahan. Berikut ini pakan organik ikan bandeng:Baca juga: Efisiensi Pakan dengan Fermentasi dan Penggunaan Pupuk Organik Cair11. PlanktonSaat memulai budidaya ikan bandeng di kolam tembok, kalian diharuskan untuk membersihkan kolam sebelum menyebar benih ikan, hal itu dilakukan agar di kolam itu tumbuh plankton. Hewan kecil ini memiliki kadar protein yang tinggi sehingga sangat bagus untuk pertumbuhan ikan bandeng.12. Daun TalasBerikutnya daun talas, tumbuhan ini merupakan penghasil umbi-umbian bernama talas. Siapa sangka kalau daunnya bisa digunakan untuk makanan ikan. Cara memberikannya adalah dengan memotongnya kecil-kecil terlebih dahulu barulah bisa kalian sebar untuk makanan ikan bandeng.13. LumutTumbuhan ini juga bisa digunakan sebagai makanan ikan bandeng anda, cara mendapatkannya pun mudah. Kalian bisa mencarinya di sekitar sungai, bahkan membuatnya sendiri di kolam ataupun halaman anda. Caranya kalian bisa membeli bibit lumut di toko tanaman, dan menanamnya di tanah halaman kalian atau di sekitar kolam tembok.14. Ampas KelapaAmpas kelapa bisa kalian dapat dari proses pembuatan santan, jadi untuk mendapatkannya kalian bisa ke penjual kelapa parut. Cara pemberiannya bisa lansung disebar di sekitar kolam tembok atau terpal dan bisa juga dicampur dengan tepung ikan.15. WolffiaWollffia merupakan tanaman terkecil di bumi, sehingga sangat cocok untuk diberikan kepada ikan yang masih benih atau masih kecil. Untuk mendapatkannya kalian bisa menanamnya sendiri dengan membeli bibitnya atau membelinya di toko tanaman dan toko online. Harganya pun murah, dengan tiga puluh ribu kalian bisa mendapatkan banyak wolffia. Sumber: hewan.id ...
Pemijahan Ikan Gabus (Channa striata)
Terkini

Pemijahan Ikan Gabus (Channa striata)

Ikan Gabus merupakan jenis ikan karnivora yang memiliki ukuran cukup besar, habitat ikan gabus di air tawar. Ikan gabus adalah ikan air tawar asli Indonesia, pada mulanya ikan gabus merupakan ikan liar yang hidup di rawa-rawa, waduk, danau dan sungai-sungai berarus tenang. Tapi akhir-akhir ini melui proses domestikasi yang dilakukan oleh manusia ikan gabus sudah dapat dibudidayakan di bak-bak maupun kolam baik pembenihan maupun pembesarannya. Ikan gabus merupakan ikan air tawar dari keluarga Channedae, bentuknya mirip dengan ular. Berkat bentuknya yang mirip ular tersebut membuat ikan gabus sering disebut sebagai Snakeheads.Untuk jenisnya, di Indonesia ditemukan terdapat 3 jenis ikan gabus. Di antaranya yaitu Great Snackhead yaitu ikan gabus yang panjangnya mencapai 1 meter. Jenis lainnya yaitu Forest Snackhead yang ukuran panjangnya dapat mencapai 40 cm. Untuk jenis lainnya yaitu Channa Gacua, yaitu ikan gabus terkecil. Jenis ikan gabus terkecil itulah yang banyak dibudidayakan, dijualbelikan dan dikonsumsi.Sampai saat ini peluang usaha budidaya ikan gabus masih terbuka cukup lebar. Bagaimana tidak, permintaan pasar akan ikan gabus masih cukup tinggi namun tidak disertai dengan pasokan yang cukup. Hal tersebut mengakibatkan harga ikan gabus yang semakin naik karena kurangnya pembudidaya ikan gabus.Baca juga: Cara Membedakan Jenis Kelamin Ikan Gabus1. Cara Membedakan Induk Jantan dan Betina Ikan GabusUntuk Menentukan Mana Jantan Dan Betina Dari Ikan Gabus ini Silakan Langsung Cek tampilan fisik Ikan gabus.Ciri Khas Ikan Gabus Jantan :Ikan Gabus Yang berkelamin jantan Selalu ditandai dengan Adanya bentuk kepala oval dengan Memiliki warna tubuh yang sedikit gelap, Selain itu Ikan Jantan Juga Punya lubang di Bagian genital memerah dan mengeluarkan cairan benih Kalau Di Urut.Ciri Khas Ikan Gabus Betina :Ciri Khas Ikan betina biasanya Berkepala agak bulat dengan Tambahan Kontras warna tubuh yang cukup terang, Selain itu Ikan Betina Juga memiliki perut agak besar dan cenderungTeksturnya agak lembek jika kita sentuh, Yang Paling Penting jika Anda urut Perutnya akan mengeluarkan telur. Baca juga: 7 Langkah Pemijahan Buatan Ikan Gabus2. Pemijahan ikan gabusIkan Gabus yang akan di pijahkan memiliki umur > 1 tahun. Dengan berat Indukan sebesar 1-1,5 kg, Berat ikan gabus menentukan jumlah telur yang akan dikeluarkan.Pemijahan secara alami- pemijahan dilakukan dalam bak beton atau fibreglass. \Caranya, siapkan sebuah bakbeton ukuran panjang 5 m, lebar 3 m dan tinggi 1 m- keringkan selama 3 – 4 hari; masukan air setinggi 50 cm dan biarkan mengalir selama pemijahan;- sebagai perangsang pemijahan, masukan eceng gondok (tanaman air) hinggamenutupi sebagian permukaan bak;- masukan masukan 30 ekor induk betina; masukan pula 30 ekor induk jantan; biarkanmemijah;- ambil telur dengan saringan halus; telur siap untuk ditetaskan.- Lebar kolam disesuaikan dengan jumlah ikan gabus yang akan dimasukkan dengantinggi permukaan air 50 cmBaca juga: Budidaya Ikan Gabus di Kolam Terpal3. Proses Penetasan Telur Budidaya Ikan GabusAgar lebih mudah dalam pengontrolan kondisi telur maka sebaiknya Proses penetasan dilakukan di akuarium. Nah Cara Mudahnya Silakan Siapkan akuarium dengan ukuran 65x45x45 cm dan biarkan kondisi kering selama kurang lebih 2 hari, Lalu Isi dengan air sampai ketinggian 40 cm. Jangan Lupa pasang 2 poin aerasi akuarium, pemanas sampai air mencapai suhu 28 °C.4. Proses Pemeliharaan Larva Ikan Gabus Proses kolam penetasan dan pemeliharaan larva atau telur ikan gabus bisa anda lakukan ketika larva telah berumur 2 hari dan hingga berumur 15 hari. Siapkan aquarium / kolam dengan kepadatan yang sama dengan kepadatan 5 ekor ikan gabus per liternya. Untuk larva kelebihannya bisa anda pelihara di aquarium yang lain.  Ketika sudah memasuki umur 2 hari, larva bisa anda beri pakan menggunakan naupli artemia, cacing sutera dan kutu air.Proses Pengalihan Pakan ke PeletSetelah berumur 2 minggu, benih gabus diberi pakan pelet apung khusus benih secara bertahap hingga umur 1 bulan. Saat itu sekaligus sebagai ‘seleksi’ alam karena 20–30% benih tak mampu menyesuaikan dan mati. Pada umur sebulan, benih telah berukuran 5-7 cm.Pembiasaan memakan pelet bagi benih gabus ini dipercepat dengan mencampur benih nila ukuran 0,8 – 1 cm sebanyak 10 – 15% dari total benih gabus. Nila akan makan dengan cepat dan meningkatkan suasana persaingan makan sehingga ikan gabus mengikutinya. Artikel asli ...
INVE Aquaculture Uncovers Artemia in A Brand New Knowledge Hub
Terkini

INVE Aquaculture Uncovers Artemia in A Brand New Knowledge Hub

INVE Aquaculture, part of Benchmark, today launched a new web-based service dedicated to the sharing of information and expertise about the most widely used live feed in the aquaculture sector, Artemia. Now live at https://artemia.inveaquaculture.com this hub is ideal for hatchery  managers, researchers and newcomers wanting to understand everything from the fundamentals of Artemia culture to advances in Artemia technology and how to effectively benefit from its use in aquaculture.“We are thrilled to announce the launch of this new knowledge hub” said Kristel De Schutter, INVE’s Marketing Manager, “It provides information on best practices related to hatching, commercial applications, latest scientific findings and advanced solutions and has been created to support hatchery owners and managers, but also as a single location for others who are generally interested in this unique resource”Also read: RAS Disinfection StrategiesShaping aquaculture togetherOver the past 37 years, INVE has promoted a strong collaboration with its partners and grown ever closer to customers and stakeholders in aquaculture nutrition to turn innovation into practical solutions. INVE supports clients through all stages of their production through expert advice on advanced aquaculture practices, technology supported by high-level research and product/protocol demonstrations. The new Artemia knowledge hub is testament to the company’s collaborative strategy by contributing to a better understanding of Artemia’s potential as a live feed and by sharing insights into technologies and tools that help to maximize efficiency and Return on Investment (ROI).“Our approach has always been to work closely with researchers and users of our products and solutions.”, says Geert Rombaut, INVE’s Artemia Specialist “This platform is a natural extension of our way of working, helping to fill the gap between knowledge and practical application. We have an incredible history in Artemia and we’re constantly looking for new ways to share our insights, know-how and experience. We’re looking forward to building on this platform to support the market going forward.”“For now, the website is available in English but we will be launching new, native-language versions in due course. The hub will be constantly updated with new findings, news, tips and tricks on Artemia.”Also read: Keeping Watch on The Water SourceDriving Sustainability in AquacultureINVE Aquaculture, part of the Benchmark Advanced Nutrition business, has been enabling growth in aquaculture for over 37 years: the healthy growth of fish and shrimp, the growth of our clients’ local businesses and the growth of global aquaculture. Benchmark brings together biology and technology, to develop innovative products which improve yield, quality and animal health and welfare for our customers. And does it by improving the genetics, health and nutrition of their stocks – from broodstock and hatchery through to nursery and grow out.Benchmark has a broad portfolio of products that includes salmon eggs, live feed (Artemia), diets and probiotics and sea lice treatments. Together the group offers the most complete genetics, nutrition, health and environmental solutions in the market.Find out more at www.inveaquaculture.com or www.benchmarkplc.com  ...
Grup Royal De Heus Memasuki Pasar Indonesia Melalui Akuisisi PT. Universal Agri Bisnisindo
Terkini

Grup Royal De Heus Memasuki Pasar Indonesia Melalui Akuisisi PT. Universal Agri Bisnisindo

Pada tanggal 11 Oktober 2018, grup Royal De Heus (“De Heus”) menandatangani perjanjian jual beli saham untuk mengakuisisi 100% saham Universal Agri Bisnisindo, sebuah perusahaan pakan ternak swasta Indonesia yang dipegang oleh konsorsium beberapa pemegang saham swasta. Akuisisi ini menandakan masuknya De Heus ke pangsa pasar pakan hewan di Indonesia dan sejalan dengan strategi De Heus untuk lebih memperkuat posisinya di bidang pakan ternak di Asia. Kami berharap dapat menutup akuisisi selama kuartal ke empat di tahun 2018.Dengan jumlah penduduk 260 juta jiwa, Indonesia merupakan pasar konsumsi protein terbesar di Asia Tenggara dan permintaan protein hewani di Indonesia akan terus meningkat karena adanya peningkatan pendapatan, pertumbuhan populasi dan perubahan preferensi pola makan. Sebagai hasilnya, ukuran pasar pakan ternak diperkirakan akan terus berkembang dari 19 juta ton menjadi 22 juta ton di tahun 2022.Temukan pakan De Heus disini!300.000 ton pakan unggas, ikan dan udang“Dengan total volume penjualan tahunan 300.000 ton pakan unggas, ikan dan udang, Universal memberikan De Heus platfrom yang ideal untuk membangun dan memperluas aktivitas kami di Indonesia,” ucap Koen De Heus, CEO Royal De Heus. Beliau lebih lanjut menambahkan: “De Heus adalah perusahaan milik keluarga dengan visi jangka panjang untuk industri pakan ternak. Empat generasi keluarga kami telah menunjukkan kepemimpinan, komitmen dan keterlibatan mereka dengan klien dan mitra kami. Saya yakin bahwa pengetahuan, pengalaman dan eksistensi internasional dapat membantu kami untuk memperkuat dan menumbuhkan aktivitas pakan Universal di Indonesia dengan mengoptimalkan kinerja teknis pelanggannya dan para peternak dan pembudidaya mandiri. Kami menyambut karyawan Universal ke dalam keluarga De Heus”. Octo Rachnalim, salah satu pemegang saham utama Universal mengatakan: “Pertama-tama, kami ingin mengucapkan terima kasih yang tulus kepada karyawan dan pelanggan kami yang setia dan berkomitmen kepada Universal yang telah kami bangun bersama sejak tahun 2000. Kedua, kami ingin menginformasikan kepada mereka bahwa kami yakin De Heus akan semakin memperkuat dan mengembangkan Universal.”Beli Pakan Safir untuk lele disini!Royal De Heus di AsiaDi tahun 2009, De Heus memasuki pasar Asia Tenggara melalui akuisisi perusahaan pakan ternak di Vietnam. Sembilan tahun kemudian, De Heus Vietnam telah menjadi pemain 3 teratas, dengan delapan pabrik yang menyebar secara strategis di negara tersebut.“Keberhasilan De Heus di Vietnam - di mana sejak tahun lalu kantor pusat regional kami berada - telah meningkatkan kepercayaan diri kami untuk mengembangkan aktivitas kami di wilayah tersebut. Selain Vietnam, saat ini kami juga berhasil mengoperasikan dua pabrik pakan di Myanmar, membangun pabrik pakan di Kamboja dan melalui akuisisi ini, kami dapat memasuki pasar pakan ternak Indonesia yang menjanjikan,” kata Gabor Fluit, Regional Director De Heus Asia. De Heus akan menunjuk Kay De Vreese - yang memiliki pengalaman lebih dari 15 tahun pengalaman dalam posisi manajemen kunci di industri di Eropa dan Asia - sebagai Presiden Direktur Universal. Beliau akan didukung oleh Ton Hovers, seorang profesional berpengalaman di industri pakan ternak Indonesia, yang akan menjadi anggota Dewan Direksi Universal dan yang akan fokus pada pengembangan dan pertumbuhan bisnis Aqua lebih lanjut. Artikel Asli ...
Cara Membedakan Jenis Kelamin Ikan Gabus
Terkini

Cara Membedakan Jenis Kelamin Ikan Gabus

Ikan gabus merupakan salah satu jenis ikan yang banyak dibudidayakan di Indonesia demi memenuhi kebutuhan pasar yang cukup tinggi. Pada proses budidaya ikan gabus, salah satu hal yang perlu untuk dipahami adalah proses pemilihan ikan gabus jantan dan betina. Untuk itu, anda perlu memahami cara untuk membedakan jenis kelamin ikan gabus antara yang jantan dan betina.Sumber: kangjamal.com Membedakan jenis kelamin ikan gabus penting dilakukan agar proses pemijahan dapat berjalan dengan baik dan maksimal. Kondisi munculnya telur dapat terjadi karena campuran indukan jantan dan betina. Jika keliru, dan mencampurkan indukan dengan jenis kelamin yang sama, maka telur tidak akan tercipta.Berikut ini kami ulaskan untuk anda beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membedakan ikan gabus jantan dan betina.Baca juga: 5 Cara Membedakan Gurame Jantan dan Betina1. Bentuk KepalaBentuk kepala ikan gabus, menjadi satu bagian yang dapat dilihat perbedaannya antara yang jantan dan betina. Bentuk ikan gabus jantan cenderung oval sedangkan yang betina lebih bulat. Kondisi kepala keduanya memang sulit dibedakan secara sekilas, namun anda tidak perlu panik karena masih banyak perbedaan lainnya yang bisa diamati lebih lanjut.2. Warna TubuhWarna tubuh ikan gabus jantan dan betina juga memiliki perbedaan. Untuk gabus betina, warna tubuhnya akan lebih terang, sedangkan gabus jantan warna tubuhnya cenderung lebih gelap. Untuk dapat membedakannya, anda memerlukan pencahayaan yang sama dan merata pada keduanya.Baca juga: Cara Membedakan Ikan Mas Jantan dan Betina3. Ada atau Tidaknya TelurPerbedaan selanjutnya ialah terletak dari ada atau tidaknya telur pada ikan gabus tersebut. Jelas, bahwa ikan gabus betina akan mengeluarkan telur saat bagian perutnya diurut, sementara gabus jantan menunjukkan kondisi yang sebaliknya.4. Perut IkanKondisi perut ikan antara gabus jantan dan betina merupakan salah satu hal yang dapat menunjukkan perbedaan. Gabus betina memiliki perut yang lebih besar, karena juga berfungsi sebagai tempat menampung telur dan sedikit lebih lembek. Sementara gabus jantan memiliki perut yang lebih ramping dan agak keras.Artikel asli ...
Apa Itu Prodi Akuakultur dan Prospek Kerjanya? Begini Kata Dosen Undip
Terkini

Apa Itu Prodi Akuakultur dan Prospek Kerjanya? Begini Kata Dosen Undip

Bagi calon mahasiswa yang akan mengikuti Ujian Tertulis Berbasis Komputer (UTBK) serta Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) masih memiliki waktu untuk mempertimbangkan program studi (prodi) apa yang akan dipilih.Proses pendaftaran UTBK SBMPTN akan dimulai 15 Maret hingga 1 April 2021  mendatang. Selain mengetahui daya tampung prodi dan peminatnya, ilmu yang dipelajari hingga peluang kerja setelah lulus juga perlu diketahui. Di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Fakultas Perikanan dan Ilmu kelautan (FPIK) memiliki sejumlah prodi di jenjang S1. Mulai dari Akuakultur, Manajemen Sumber Daya Perairan, Perikanan Tangkap, Ilmu Kelautan, Oseanografi dan Teknologi Hasil Perikanan. Baca juga: Mahasiswa IPB Buat Aplikasi Si Cerdik untuk Deteksi Kesegaran IkanIlmu yang dipelajari di prodi Akuakultur Ilmu yang dipelajari dalam prodi Akuakultur lebih luas dari studi Perikanan. Selain mempelajari potensi perikanan laut maupun tawar dan payau, mahasiswa Akuakultur juga dibekali pengetahuan tentang aktivitas banyak hal. Antara lain: 1. Pemeliharaan 2. Penangkaran 3. Pengembangbiakan biota perairan laut maupun air tawar. Seperti ikan, udang, tiram, rumput laut, dan sebagainya. Ketua Departemen Akuakultur yang juga Ketua Program Studi (Prodi) S1 Akuakultur FPIK Undip Sarjito menerangkan, meski merupakan bagian dari perikanan, Akuakultur adalah perikanan masa depan. Baca juga: Mahasiswa FTUI Rancang Greenhouse Hidroponik dan Akuakultur“Saat ini dunia Akuakultur mengalami perkembangan yang sangat signifikan termasuk pula industrinya,” terang Sarjito seperti dikutip dari laman undip.ac.id, Jumat (12/3/2021). Saat ini masih ada persepsi Akuakultur itu hanya mempelajari budidaya udang, kerapu, bandeng, rumput laut dan lainnya. Padahal banyak hal yang dipelajari di prodi ini, antara lain: 1. Produksi benih 2. Pakan 3. Ukuran konsumsi4. Sarana dan prasarana Beda Akuakultur dan Perikanan Untuk membedakan Akuakultur dan Perikanan, bisa dilihat dari indikasi penekanannya dalam menghasilkan produk. Perikanan lebih cenderung memanfaatkan dari alam (wild). Sedangkan Akuakultur menekankan pada budidayanya. “Hasil akhirnya bisa sama, tapi prosesnya berbeda,” imbuh Sarjito. Baca juga: Apa Itu Kedokteran Okupasi dan Prospek Kerjanya? Ini Kata Alumni UGM Prodi Akuakultur Undip lahir berdasarkan SK Dirjen DIKTI No. 473/DIKTI/Kep/1995 dengan nama Program Studi Budidaya Perairan. Untuk menghadapi tantangan global dan perkembangan yang ada, nomenklatur Prodi Budidaya Perairan diubah menjadi Prodi Akuakultur. Menurut Sarjito, selain ketat dalam menjaga kualitas, Prodi Akuakultur juga membekali mahasiswanya dengan pengetahuan yang relevan dengan tuntutan zaman. Para mahasiswa juga dibekali pengetahuan kewirausahaan. Khususnya yang terkait dengan potensi budaya perairan. Prospek kerja Akuakultur Lulusan Prodi Akuakultur juga diakui kesetaraan dalam KKNI (Equivalent Level to Indonesian National Qualification Framework) dengan Level 6 Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). “Kurikulum kami memang prioritasnya mempersiapkan pengusaha dan pengembang akuakultur. Selain karier sebagai peneliti dan konsultan, manajer, pendidik dan instruktur akuakultur,” ungkap Sarjito. Baca juga: Usung Hand Sanitizer dari Kulit Udang, 3 Mahasiswa FPK Unair Sabet Juara II NasionalPerlu diketahui, KKNI adalah penjenjangan kualifikasi sumber daya manusia Indonesia yang menyandingkan, menyetarakan, dan mengintegrasikan sektor pendidikan dengan sektor pelatihan dan pengalaman kerja dalam suatu skema pengakuan kemampuan kerja yang disesuaikan dengan struktur di berbagai sektor pekerjaan. Sumber: Kompas.com ...
Mahasiswa FTUI Rancang Greenhouse Hidroponik dan Akuakultur
Terkini

Mahasiswa FTUI Rancang Greenhouse Hidroponik dan Akuakultur

Empat mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) merancang Automated Integrated Aquaponic (AIA) Greenhouse System. AIA Greenhouse System merupakan sistem akuaponik yang mengombinasikan sistem budidaya tanaman (hidroponik) dan sistem budidaya ikan (akuakultur) dalam satu sistem terintegrasi ramah lingkungan. Rancangan yang tertuang dalam makalah berjudul “Automated Independent Aquaponic (AIA) Greenhouse System” tersebut dipresentasikan di kompetisi Project Management Challange 2020. Berkat rancangan itu, Tim FTUI yang terdiri dari Anisya Nurpratina (Teknik Lingkungan angkatan 2017), M. Ramly Novriansyah (Teknik Sipil ’17), Satria Adipradana Parlambang (Teknik Sipil ’17), dan Rizal Firdaus (Teknik Sipil ’17), meraih Juara Dua pada kompetisi tahunan Project Management Institute, Indonesian Chapter, pada 5-7 Februari 2021.  Kompetisi yang diadakan secara virtual tersebut diikuti oleh 31 tim dari 14 universitas di Indonesia, Malaysia, dan China. Sistem ini menerapkan NFT (Nutrient Film System), yang membuat mineral yang dihasilkan ikan disirkulasikan kembali untuk diserap oleh tanaman. Baca juga: Budidaya Ikan Aquaponik: Ini Cara Pilih Benih Ikan yang SehatSistem tersebut bertujuan untuk meningkatkan sistem pertanian berkelanjutan yang meminimalkan emisi terhadap lingkungan sekaligus meningkatkan efisiensi produksi. Pada area produksi terbatas, diharapkan nantinya akan dapat menghasilkan produk segar dalam jumlah besar.“Kami menggunakan panel surya untuk menyuplai 50 persen kebutuhan listrik. Kami juga menggunakan sistem rainwater harvesting untuk menjaga pasokan air tetap ramah lingkungan,” ujar Ramly, ketua tim Tirta Arkara FTUI dalam siaran pers yang diterima Republika, Rabu (10/3).Berdasarkan simulasi tim, untuk setiap 100 m2 area produksi, AIA Greenhouse System dapat menghasilkan 754 kg sayuran per bulan dan 160-200 kg ikan per 10 bulan. Panel tenaga surya yang digunakan dapat menghasilkan daya 225 hingga 240 kWh per hari. "Dengan biaya diperkirakan sekitar 1.1 miliar rupiah, greenhouse sebagai area produksi dapat dibangun dalam jangka waktu 102 hari,” terang Ramly.Baca juga: Ndaru Farm, Teknik Beternak Ikan dan Berkebun Dengan Aquaponik yang Banyak DiburuMenurut Ramly, sistem ini tidak hanya mengatasi masalah keterbatasan lahan agrikultur, melainkan juga mengatasi masalah yang timbul dari sistem agrikultur konvensional, yaitu efek rumah kaca yang berdampak pada perubahan iklim. Badan Pusat Statistik pada tahun 2018 menyatakan bahwa luas areal persawahan di Indonesia mengalami penurunan menjadi 7,1 juta hektar dibandingkan dengan 7,75 juta hektar pada tahun 2013. "Peningkatan jumlah penduduk yang tidak diimbangi dengan pemerataan lahan pertanian yang tersedia dapat mengarah pada masalah ketahanan pangan nasional. Pada 2019, Indonesia berada pada urutan 62 dari 119 negara di dunia dalam indeks ketahanan pangan yang disusun oleh The Global Food Security Index," jelasnya.Baca juga: Budidaya Udang dan Ikan di Perkotaan dengan Teknologi IoTDekan FTUI, Dr. Ir. Hendri D. S. Budiono, M.Eng. mengatakan, sistem rancangan para mahasiswa ini merupakan kontribusi nyata dari FTUI sebagai alternatif solusi yang dihadapi masyarakat Indonesia. "Harapan kami, AIA Greenhouse System dapat membantu menyelesaikan permasalahan keterbatasan lahan pertanian yang saat ini terjadi di kota-kota besar dan daerah padat penduduk di Indonesia, seperti di Pulau Jawa," pungkasnya. Sumber: Republika ...
Outlook Perikanan 2021, KKP Fokus Tingkatkan Ekspor Komoditas Unggulan Udang
Terkini

Outlook Perikanan 2021, KKP Fokus Tingkatkan Ekspor Komoditas Unggulan Udang

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebjakto mengatakan subsektor perikanan budidaya mendapat perhatian dari Presiden Joko Widodo untuk meningkatkan seluruh potensi yang dimiliki.Menurutnya, akuakultur Indonesia memiliki sejumlah komoditas unggulan di pasar ekspor."Produk ekspor yang menjadi fokus KKP di antaranya udang, lobster, dan rumput laut," kata Slamet dalam Outlook Perikanan 2021, Kamis (18/3/2021).Dia menyatakan, udang dipilih menjadi komoditas prioritas karena memiliki volume ekspor yang cukup tinggi.Baca juga: Dua Teroboson Menteri Trengggono Kembangkan Perikanan BudidayaData menunjukkan ekspor udang Indonesia sebesar 239 ribu ton dengan nilai transaksi 2,04 miliar dolar AS."Kontribusi udang Indonesia tercatat 7,15 persen dari total ekspor dunia. Saat ini Indonesia merupakan produsen udang terbesar di dunia setelah China," tuturnya.Slamet menjelaskan bahwa saat ini akuakultur menjadi kekuatan pembangunan kelautan dan perikanan di Indonesia. Pemerintah juga sedang mendorong pengembangan kampung budidaya yang berbasis pada kearifan lokal.Baca juga: Menteri Trenggono Ajak Startup Perikanan Cermat Baca Kebutuhan Pasar Dunia"Kita ketahui sebagai negara maritim sumber daya ikan kita sangat pesat tetapi bila dieksploitasi secara terus menerus tanpa mempertimbangkan keberlanjutan maka untuk mengembalikan diperlukan upaya yang tidak kecil dan waktu yang tidak sebentar," tukasnya.Sebelumnya, Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono menargetkan volume ekspor udang bisa naik 3 kali lipat atau lebih dari 250 persen hingga tahun 2024. Menurutnya, sasaran ekspor komoditas ini diutamakan ke Amerika Serikat (AS) hingga China."KKP akan memfasilitasi pengembangan shrimp estate yakni sistem budidaya dengan skala intensif,dengan target produksi berkisar 40 ton per hektare dalam setahun," kata Menteri Trenggono. Sumber: Tribun News ...
Big Breakthrough For Small Tanks
Terkini

Big Breakthrough For Small Tanks

A Japanese study’s highest survival rate of 55 per cent bodes well for the larviculture of sea bream (Pagrus major) in small tanks.“Survival rate of sea bream larvae in the large tanks of the private hatcheries are quite high (>90 per cent), but it has been thought that small tanks are not preferable for larviculture experiments,” Dr. Yoshitaka Sakakura told Hatchery International.“We believe that our results are pretty good considering the small-scale in our study… Of course, hatcheries skim the water surface and ensure the swim bladder inflation. But our point is we can expect swim bladder inflation without skimming in the small rectangular tanks.”Also read: Why Hatchery Protocols Are Key To Ensure Fish Achieve Their Grow-Out PotentialSakakura is with the Graduate School of Fisheries and Environmental Sciences in Nagasaki University. Sakakura and his research team published their study in Aquaculture Reports last August.Sakakura and his team examined the effects of tank shapes and aerations, which were assumed to influence the larval survival, growth and swim bladder inflation. They recommended rectangular tank with one air stone. Cylindrical tanks were also used in the study.“We actually conducted this study aiming at the laboratory-scale larviculture experiment with replications,” Sakakura said. “Rectangular tanks are advantageous when you consider the limited space in a laboratory.”Also read: How Do Salmon Know Where They Were Hatched?Both shapes of tanks were filled with 50 litres of seawater. An air stone with 100ml/min aerations at the bottom was placed in the bottom centre of cylindrical and rectangular tanks. The other group was composed of rectangular tanks, where two air stones with 50ml/min aeration rate were set at the half bottom centre.Five hundred eggs were distributed into each experimental tank. Rotifers were fed to larvae and their distribution in tanks were measured. Survival rate at 14dph were higher in the cylindrical-rectangular group, which had an average of almost 55 per cent. Survival rate of the other group was less than 30 per cent. Growth rate in all tanks didn’t significantly vary. Low-flow regions were observed along the side walls of the tanks and bottom areas in the cylindrical-rectangular tank shape group. This was caused by a single-pair vortex system and formed at the centre, between air stones.“These low-flow areas were coincided with higher rotifer distribution areas at the tank bottom indicating that measuring rotifer density can estimate the flow in a tank,” the authors said. Source: Hatchery International ...
Turning Waste Into Energy
Terkini

Turning Waste Into Energy

There is increasing pressure on all industries to deal with any unwelcome byproducts of production effectively, and the aquaculture industry is no different. As the industry expands to  meet the global demand for fish protein, there will be heightened interest to manage wastewater in environmentally responsible ways that can also be profitable.“Whether in the United States or Europe or anywhere else, eventually you’re going to need the social license to operate, and having a well-thought-out solution for dealing with sludge that will be produced, whether from a hatchery or a farm, is smart and required,” says George Nardi, vice-president of aquaculture services at Innovasea Systems Inc.The wastewater from aquaculture operations can be converted into energy and return value to the companies that produce the waste. Some are exploring ways to recycle their waste and have it benefit production.In northern Norway, salmon farming company Cermaq has been testing a commercial-scale anaerobic digestion plant that creates biogas that they use for running boilers, a system developed by the Institute of Marine and Environmental Engineering at the University of Maryland. Sludge waste from smolt production is used to make the biogas. It is estimated that about 500,000 kWh per year will be extracted from the waste from nine million smolts. The gas is used to heat water at the facility, so the fish grow larger.Also read: Use Biofilter to Minimize Nitrogen Waste“We are collaborating with the group at the University of Maryland to look at how we might develop that solution further,” says Nardi.Dealing with waste should include viewing it as a potential revenue source and not something that is a cost because it contains value, including nitrogen, phosphorus and organic matter.“If it is in a location that allows for land application as a fertilizer, particularly if from freshwater or near freshwater – it becomes a win-win,” says Nardi.At larger-scale operations and in colder climates, there needs to be a more creative approach, such as those that grow vegetables, taking the nutrients from the fish producing side of the operation and applying them to the growing of plants and vegetables.Also read: Researchers Make Fish Feed From Food WasteThe technology that can be applied often comes from the water treatment sector and other agricultural industries with a more in-depth history in the production of waste. Examples are the swine and dairy industries that use aerobic and anaerobic digestion to reduce volume by as much as 80 per cent. That process creates biogas that can be used for energy – methane.Nardi says Innovasea is looking at the various solutions it could work with and suggest to clients. “There will be options based on scale of operation, location of operation and salt versus freshwater,” he says. Source: Hatchery International ...
Menjaga Populasi Teripang dengan Cara Budidaya
Terkini

Menjaga Populasi Teripang dengan Cara Budidaya

Eksploitasi terhadap Teripang (Holothuroidea) terus berlangsung dengan cepat dari tahun ke tahun. Permintaan terhadap komoditas unggulan tersebut selalu meningkat dari waktu ke waktu dan harganya terus naik menyesuaikan dengan kondisi terkini di pasar dunia.Untuk memenuhi permintaan pasar dunia yang terus naik, Teripang harus diambil langsung dari alam di perairan Indonesia. Walau mendatangkan devisa bagi Indonesia, namun jika cara tersebut terus dipertahankan, maka Teripang akan terancam punah di alam.Direktur Jenderal Perikanan Budi daya Kementerian Kelautan dan Perikanan Slamet Soebjakto mengatakan, ada dua fakta yang kini sedang terjadi di Indonesia dan juga dunia. Fakta tersebut, adalah Teripang mendatangkan uang yang banyak bagi negara produsen dan konsumen.“Namun, di sisi lain populasi Teripang pada umumnya dalam kondisi yang semakin menurun. Kenapa? Karena terus dilakukan eksploitasi dan dilakukan penangkapan untuk keperluan industri obat-obatan dan lainnya,” ungkap dia belum lama ini di Jakarta.baca : Budidaya Teripang dengan Kurung Tancap Indukan teripang pasir (Holothuria scabra) yang diambil dari alam untuk penelitian oleh Balai Bio Industri Laut (BBIL) LIPI di Lombok Barat, NTB. Foto : BBIL LIPI/Mongabay Indonesia Dengan kondisi yang seperti itu, seluruh pemangku kepentingan harus bisa sama-sama peduli untuk bisa mengatasi persoalan tersebut. Hal itu, karena penyelamatan Teripang akan memberi dampak yang baik untuk perekonomian dan sekaligus sumber daya Teripang yang ada di alam.Dia mengakui, permintaan yang tinggi terhadap Teripang memicu kegiatan ekspor yang terus meningkat setiap tahunnya. Contohnya saja, sepanjang periode 2012 hingga 2019, kegiatan ekspor Teripang diketahui meningkat, namun ternyata komoditas tersebut diambil langsung dari alam.Bagi Slamet, cara agar ketergantungan terhadap sumber daya di alam bisa berkurang, adalah dengan melaksanakan budi daya Teripang untuk kebutuhan ekspor. Produksi Teripang dari budi daya diharapkan di masa mendatang akan menjadi sumber utama untuk ekspor komoditas tersebut.“Tantangan para pembudi daya itu adalah bagaimana memperbanyak benih untuk proses budi daya. Jadi, kita harapkan ke depan, ekspor Teripang berasal dari pembudidayaan,” jelas dia.Untuk kebutuhan tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus mengupayakan melaksanakan pembenihan yang dilakukan Balai Besar Perikanan Budi daya Laut (BBPBL) Lampung. Sejauh ini, upaya tersebut sudah berhasil dan itu akan membuka peluang budi daya Teripang, khususnya Teripang pasir.“Ini menjadi prospek yang bagus untuk dikembangkan ke depan,” sebut dia.Dengan keberhasilan tersebut, KKP semakin yakin untuk terus mendorong para pelaku usaha segera melaksanakan budi daya untuk Teripang, agar kebutuhan untuk ekspor bisa tetap dipenuhi dan di saat yang sama juga sumber daya di alam bisa tetap terlindungi dengan baik.Bagi Slamet, Teripang akan menjadi komoditas andalan sampai kapan pun. Hal itu, karena sampai sekarang Indonesia masih memegang tahta sebagai negara eksportir terbesar di dunia untuk komoditas tersebut.baca juga : Riset Budidaya Teripang Pasir guna Cegah KepunahanTeripang adalah komoditas andalan bagi Indonesia selama beberapa dekade terakhir ini. Foto : DJPB KKP HabitatFakta tersebut harus terus dipertahankan, karena bisa mendukung kegiatan perekonomian di Indonesia. Terlbih, karena sebagai negara tropis, Indonesia memiliki perairan yang cocok untuk menjadi habitat pertumbuhan Teripang.“Sebagai negara tropis, Indonesia mempunyai perairan yang begitu luas dengan habitatnya yang sangat memenuhi persyaratan untuk tumbuh dan berproduksi, sehingga produksi Teripang di alam cukup banyak,” jelas dia.Khusus untuk keberhasilan pembenihan Teripang di Lampung, Slamet menyebut bahwa BBPBL saat ini sudah berhasil memproduksi massal pembenihan dan menemukan teknologi untuk pembesaran Teripang. Selain itu, BBPBL juga melakukan tabur benih kembali di perairan yang aman dari predator dan terlindungi angin, arus, serta gelombang.Keberhasilan tersebut, menjadi jawaban atas pertanyaan dan keresahan yang selama ini muncul di benak para pelaku usaha ataupun pemerhati lingkungan. Mereka semua merasa resah, karena kegiatan ekspor akan terus berlangsung dan itu berarti ancaman kepunahan terus mendekati Teripang di alam.“Ini harapan ke depan, ke arah industri Teripang, karena dari teknologinya sudah dikuasai, baik sisi produksi benih maupun pembesaran,” kata dia.Menurut Slamet, industri Teripang bukan saja hanya ada di sektor hilir yang berkaitan dengan proses produksi. Namun juga, bagaimana menyediakan bibit yang unggul dan memperbanyak produksi Teripang melaului kegiatan perikanan budi daya.Oleh karena itu, dia berharap ke depan akan banyak pusat pembenihan (hatchery) Teripang yang bisa dilakukan dengan menggunakan model pusat Larva. Selain itu, dia melihat perlu diterapkan segmentasi usaha dengan cara memberdayakan banyak orang untuk ikut terlibat, sehingga bisa meningkatkan pendapatan.perlu dibaca : Pembesaran Kepiting Bakau (Scylla Serrate) Skala Kecil Teripang dalam habitatnya di perairan dangkal berupa ekosistem padang lamun dengan substrat pasir berlumpur. Foto : BBIL LIPI/Mongabay Indonesia Perekayasa inovasi teknologi budi daya Teripang dari BBPBL Lampung Dwi Handoko Putro mengatakan bahwa proses untuk bisa menghasilkan pembenihan Teripang harus dilalui dalam waktu yang tidak sebentar. Namun, melalui proses tersebut akhirnya dihasilkan penelitian yang menjadi kunci keberhasilan.Dwi menjelaskan, untuk menghasilkan pembenihan Teripang pihaknya menggunakan metode thermal shock atau biasa disebut kejut suhu pada saat bulan purnama berlangsung. Teknik pembenihan tersebut berhasil berhasil dilakukan, dan selanjutnya bagaimana agar produksi massal bisa dilakukan.“Tapi itu perlu upaya untuk dapat mencukupi kebutuhan di skala usaha pembesaran,” tambah dia.Menurut dia, dukungan pembenihan akan memberikan dampak yang baik untuk kegiatan budi daya Teripang. Terlebih, karena budi daya Teripang bisa dilaksanakan dengan sederhana, karena tidak memerlukan pakan buatan atau pengobatan yang rumit.Dalam melaksanakan kegiatan budi daya Teripang, pembudi daya bisa menggunakan laut sebagai medianya dengan menggunakan model peternakan laut (sea ranching). Metode tersebut juga akan menjadi penyeimbang ekosistem laut, karena Teripang bisa menjadi indikator pencemaran lingkungan.baca juga : Persiapan Pembenihan Kepiting Bakau Teripang seusai dibersihkan kotorannya untuk kemudian dijual ke pengepul di Desa Mojoasem, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik. Foto : Falahi Mubarok/ Mongabay Indonesia ManfaatGuru Besar Ekotoksikologi Institut Pertanian Bogor Etty Riani menambahkan, Teripang memiliki manfaat yang banyak karena selain menjadi komoditas ekspor, juga bisa menjadi bahan baku obat dan kosmetik. Potensi dari Teripang juga bisa dikembangkan sebagai anti inflamasi dan antitoksik.“Juga sebagai anti bakteri, anti jamur, mencegah kanker, aprodiasiak, anti menopause, anti aging, anti osteoporosis, dan untuk anti diabet,” papar dia.Diketahui, Teripang adalah salah satu biota laut habitatnya ada di perairan Indonesia namun tidak banyak dikenal masyarakat Indonesia. Keberadaannya masih terbatas diketahui masyarakat, walaupun Teripang bernilai ekonomi tinggi dan menjadi sumber pangan yang penuh dengan gizi.Menurut Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian (IPK) LIPI Agus Haryono, ada 1.700 jenis Teripang yang tersebar di seluruh wilayah perairan dunia. Dari jumlah tersebut, pemanfaatan hewan laut tersebut masih sangat terbatas dan jumlahnya diperkirakan antara 40-66 jenis saja.Dari semua Teripang, dia menyebutkan bahwa yang bernilai ekonomi tinggi adalah Teripang putih atau pasir (Holothuria scabra), Teripang koro (Microthele nobelis), Teripang pandan (Theenota ananas), Teripang dongnga (Stichopu ssp).Khusus di Indonesia, Teripang yang bernilai ekonomi tinggi dan sudah dimanfaatkan adalah Teripang pasir, Teripang perut hitam (Holothuri atra), Teripang susuan (Holothuri nobilis), Teripang perut merah (Holothuri edulis), dan Teripang nanas (Thelenota ananas).Dari 1.700 Teripang yang ada di dunia, tercatat ada 400 spesies di Indonesia dan 56 di antaranya sudah diperdagangkan. Sebagai negara produsen, Indonesia sudah lama memperdagangkan Teripang ke negara tujuan ekspor utama seperti Tiongkok, Hong Kong, dan Singapura. Ivul Fakila (39), saat membantu suaminya membersihakan teripang dari kotorannya untuk dijual ke pengepul di Desa Mojoasem, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik. Foto: Falahi Mubarok/ Mongabay Indonesia Tiongkok sendiri tercatat menjadi negara pertama dan terbesar yang mengonsumsi Teripang untuk kebutuhan pangan dan juga lainnya. Negeri Tirai Bambu tersebut diperkirakan sudah mengonsumsi dan memperdagangkan Teripang sejak 1.000 tahun lalu.Selain KKP, upaya penelitian juga sudah dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sejak 2011 melalui Balai Bio Industri Laut (BBIL) di Nusa Tenggara Barat. Penelitian tersebut dilakukan untuk menemukan metode dan teknologi yang tepat dalam melaksanakan budi daya Teripang.LIPI melaksanakan riset tersebut, karena Teripang sedang menghadapi ancaman kepunahan akibat eksploitasi berlebih setiap tahun. Jika terus dibiarkan, Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) akan memasukkannya sebagai satwa yang terancam (endangered), karena perdagangannya yang sangat aktif dan mengancam kepunahan di alam. Sumber: Mongabay ...
3 Langkah Jitu Kelola Limbah Budidaya Ikan ala Dosen UGM
Terkini

3 Langkah Jitu Kelola Limbah Budidaya Ikan ala Dosen UGM

Bagi petani ikan perlu memikirkan cara untuk meningkatkan produksinya. Selain pemberian pakan, kualitas air yang bagus juga mempengaruhi budidaya ikan. Tak hanya soal kualitas pakan dan ikan, limbah yang dihasilkan dari budidaya ikan juga perlu diperhitungkan agar tidak mengganggu lingkungan sekitar. Penanganan limbah dalam budidaya ikan ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi para petani. Dosen Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada ( UGM) Yogyakarta Susilo Budi Priyono menerangkan, limbah budidaya ikan yang utama berasal dari pakan ikan. Limbah budidaya ikan paling banyak berasal dari pakan. Misalnya dari penggunaan bahan-bahan kimia seperti garam, kapur, obat-obatan, vaksin juga akan menimbulkan limbah pada budidaya ikan. “Belum lagi jika ikan terkena penyakit, limbahnya juga bisa berupa penyakit. Pakan yang kita berikan mengandung protein, unsur hara yang ada di dalamnya adalah nitrogen. Pakan yang diberikan tidak semuanya dimakan ikan,” urai Susilo Budi seperti dikutip dari laman Kagama.co, Senin (8/3/2021). Baca juga: Bios 44 Berguna untuk Budidaya Perikanan, dengan Memanfaatkan Limbah Cair PabrikMenurut Susilo, jumlah pakan yang tidak dikonsumsi ikan, diperkirakan jumlahnya sekitar 15 hingga 20 persen. Sisanya dicerna ikan dan menjadi daging ikan. "Namun, sayangnya yang menjadi daging hanya 30 persen. Nah, selebihnya menjadi limbah sebanyak 70 persen. Entah dalam bentuk feses, urine, atau keluar melalui insang,” ungkap Susilo. Salah satu penyebab limbah dalam budidaya ikan disebut sebagai sindrom Nitrogen (N). Sindrom Nitrogen ini juga kerap menjadi masalah karena bahan organik yang berasal dari sisa pakan dan kotoran ikan nantinya akan mengalami perombakan. Kemudian larut menjadi amoniak (NH3) atau amonium (NH4+) dan ini akan menjadi racun. Penanganan limbah budidaya ikan ada beberapa cara. Antara lain: 1. Sistem pergantian air Cara ini merupakan yang paling sederhana yakni dibuang dengan sistem pergantian air. Tapi menggunakan cara ini perlu berhati-hati, karena berpotensi besar menyebabkan pencemaran lingkungan.“Minimal agar tidak mencemari lingkungan, maka harus dilakukan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Dengan harapan standar baku mutu air buangan bisa dipenuhi. Jadi, setelah diolah, bisa berada di bawah ambang batas maksimal mutu air,” ungkap Susilo. Baca juga: Budidaya Clownfish Sistem Resirkulasi Skala Rumah Tangga2. Melakukan rekayasaRekayasa yang dilakukan dengan cara meminimalkan jumlah limbah dengan memberikan bahan-bahan probiotik. Atau menerapkan sistem produksi lain yang dikombinasikan dengan konstruksi bak menjadi sistem boster. “Bagaimana kita meningkatkan efisiensi penyerapan pakan di dalam alat pencernaan ikan itu dengan menggunakan probiotik. Bisa juga diterapkan melalui media air, hal ini bisa menekan jumlah limbah air di dalam sistem budidaya ikan,” imbuh Susilo.3. Konstruksi kolam Selain dengan cara melakukan rekayasa juga bisa dikombinasikan dengan konstruksi kolam atau bak. Misalnya dengan sistem boster. Setelah limbah keluar, limbah akan diberi treatment probiotik, pemupukan dan lain sebagainya. Baca juga: Ikut KKN, Mahasiswa UMY Lakukan Hal Ini pada Kelompok Tani Cokelat Baca juga: Cara Membuat Kolam Terpal bagi Pemula, Cocok untuk Budidaya Ikan4. Penanganan dan treatment Setelah air yang mengandung limbah menjadi baik, maka kemudian diputar dan digunakan lagi airnya. Cara ini sering disebut dengan sistem resirkulasi. Limbah yang beracun tidak dibuang, tetapi dilakukan treatment terlebih dahulu. setelah terbukti bagus bagi ikan, maka kemudian bisa dimanfaatkan kembali. Treatment yang paling umum, lanjut Susilo, dilakukan dengan cara disaring melalui filter mekanis. Kemudian diendapkan dan dilakukan biofiltrasi, lalu diairasi. Serta diberikan disinfeksi bagi limbah yang diduga mengandung penyakit. "Jika airnya sudah bagus, maka siap diputar dan bisa dimanfaatkan kembali,” ungkap dosen yang bergabung dalam komunitas Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) ini. Manfaatkan limbah Limbah budidaya ikan juga bisa dimanfaatkan. Seperti unsur N yang beracun bisa dimanfaatkan oleh bakteri menjadi flok (budidaya sistem bioflok). Bagaimana amonium dan amoniak bisa bersih dari racun dimanfaatkan oleh bakteri. Kemudian membentuk gumpalan. "Untuk mendorong pertumbuhan bioflok, airnya sengaja tidak dibuang. Tetapi diolah dengan airasi yang kuat dan mixing, tidak boleh ada endapan,” imbuhnya.Selain itu, limbah bisa dimanfaatkan oleh tanaman melalui budidaya terintegrasi dan terpadu dengan akuaponik. Yakni dengan memanfaatkan limbah sebagai nutrisi bagi tanaman. “Ada lagi cara lain dengan memadukan tanaman atau organisme akuatik yang memiliki tropic level berbeda,” tandas Susilo. Sumber: Kompas ...
Budidaya Teripang dengan Kurung Tancap
Terkini

Budidaya Teripang dengan Kurung Tancap

Teripang menjadi salah satu primadona andalan marikultur bernilai ekonomis tinggi. Tak heran, banyak orang terjun ke bisnis jual-beli teripang. Namun, akibat penangkapan teripang liar di alam, kini populasinya semakin menurun. Meskipun penangkapan di alam masih memungkinkan, pasokan teripang sudah semakin berkurang. Seperti diutarakan oleh M. Yusuf, seorang PNS dari Sibolga, Sumatera Utara, yang pernah menggeluti bisnis teripang.“Dulu, di daerah kami, teripang itu dibuang begitu saja oleh nelayan karena dipandang tidak bernilai. Banyak teripang dibiarkan begitu saja di bibir pantai. Namun, setelah tahu nilai ekonominya, orang berbondong-bondong melakukan perburuan teripang. Sekarang, karena banyaknya penangkapan, nelayan harus mencarinya ke laut lepas, sekitar 160 mil dari pantai,” papar Yusuf yang berprofesi sebagai pegawai pengadilan.Tak heran, dengan harga yang fantastis, teripang semakin banyak diburu. Betapa tidak, harga beberapa jenis teripang, seperti pengakuan M. Yusuf, bisa menembus angka di atas 1 juta. Bahkan, untuk beberapa jenis teripang tertentu, harganya mencapai 2—3 juta per kilogram kering. Saat ini, teknik budidaya yang lazim dipraktikkan masyarakat adalah kegiatan penangkaran teripang.Baca juga: Riset Budidaya Teripang Pasir guna Cegah KepunahanPemilihan benih teripangBenih teripang dapat ditemukan di daerah pantai yang ditumbuhi lamun. Alternatif lainnya, benih dapat dibeli dari balai benih yang sudah memproduksi benih teripang. Jika benih didapat dari alam, upayakan kegiatan pengumpulan benih dilakukan pada waktu pagi atau sore hari.Benih yang akan ditebar sebaiknya berukuran seragam, baik jenis maupun ukurannya. Kriteria benih teripang yang baik dapat dilihat dari beberapa hal, antara lain dari penampakan tubuhnya yang padat berisi dan tidak cacat. Di samping itu, benih yang baik tidak mengeluarkan cairan berwarna kekuningan.Jika benih didatangkan dari lokasi lain, hindari pengangkutan benih dalam waktu panjang, misalnya lebih dari satu jam dalam keadaan ditumpuk. Pengangkutan benih sebaiknya dilakukan pada pagi atau malam hari atau pada saat suhu tidak panas menggunakan wadah berisi substrat pasir, terutama pada sistem pengangkutan terbuka.Benih juga dapat dihasilkan dari pemeliharaan induk teripang yang dipelihara dalam kurung tancap. Induk adalah teripang yang sudah dewasa dengan ukuran tubuh berkisar antara 20—25 cm, yang dianggap sudah dapat bereproduksi. Jika diperoleh dari tangkapan alam, sebaiknya benih teripang berukuran 5—7 cm. Pasalnya, teripang yang sudah mencapai ukuran tersebut sudah dapat beradaptasi dalam lingkungan baru dan memiliki daya tahan yang cukup.Jika teripang didapat dari lokasi yang cukup jauh dari tempat penangkaran, sebaiknya lakukan transportasi benih secara cermat. Caranya, masukkan benih teripang ke dalam plastik berukuran 2 liter yang telah diberi substrat pasir dan air. Selanjutnya, masukkan benih teripang ke dalam wadah tersebut. Kepadatan benih di dalam wadah maksimal 3 hingga 4 ekor setiap plastiknya.Baca juga: Lokasi Perawatan Jadi Penentu, Begini Cara Budidaya LelePemilihan lokasi dan konstruksiLokasi budidaya menentukan keberhasilan pembesaran teripang. Pilih lokasi terbaik dengan beberapa pertimbangan, di antaranya: (1) dasar perairan laut berupa pasir, pasir berlumpur, berkarang, yang ditumbuhi tanaman rumput lindung; (2) perairan bersih dan tidak tercemar bahan-bahan kimia; (3) terlindung dari angin kencang dan gelombang besar; (4) kedalaman perairan berkisar 50—150 cm pada saat surut terendah; (5) perairan memiliki sirkulasi air yang bagus; (6) kadar garam perairan atau tingkat salinitas dalam rentang 24—33 ppt, kecerahan 50—150 cm, dan suhu 25—30 °C.Pada sistem pen culture, area budidaya dipagari menyerupai kurungan agar teripang tidak dapat meloloskan diri. Tinggi pagar dibuat lebih tinggi dari permukaan air laut saat pasang tertinggi. Biasanya, luas kurungan pagar berkisar 400—800 meter persegi.Jika pagar terbuat dari kayu, sebaiknya gunakan jenis kayu yang tahan air seperti kayu ulin. Balok kayu kerangka ditancapkan di empat penjuru sedalam 0,5—1 meter. Selanjutnya, balok kayu pagar ditancapkan 10—20 cm dari permukaan dasar perairan dan dibuat rapat agar teripang tidak dapat meloloskan diri, baik dari celah pagar maupun dari dasar lumpur.Jika dinding kurungan menggunakan waring, upayakan agar sisi waring bagian bawah dipasangi papan kayu untuk mencegah teripang meloloskan diri. Papan kayu ini juga dibenamkan sedalam 30 cm untuk mencageh teripang meloloskan diri melalui dasar lumpur. Jika tidak menggunakan papan, bagian bawah waring ditekuk ke arah dalam sepanjang 15 cm. Ukuran mata jaring sekitar 0,2 cm atau lebih kecil dari ukuran tubuh teripang.Baca juga: Pembesaran Kepiting Bakau (Scylla Serrate) Skala KecilPembesaran teripangPadat tebar benih disesuaikan dengan kondisi perairan. Pada perairan yang subur, padat tebar benih berukuran 30—40 g/ekor disarankan 15—20 ekor/m persegi. Jika benih berukuran 40—50 g/ekor, sebaiknya padat tebar 10—15 ekor/m persegi. Proses penebaran benih dilakukan pada waktu pagi atau sore hari ketika suhu tidak terlalu tinggi.Teripang yang dibudidayakan di habitat aslinya mengandalkan pakan alami berupa plankton dan detritus yang tersedia di dalam perairan. Agar plankton tumbuh subur, selama pemeliharaan diberikan kotoran ayam yang dicampur dedak halus dan air sebanyak 0,1 kg/m persegi. Campuran kotoran ayam dengan dedak halus berfungsi sebagai pupuk untuk menyuburkan pertumbuhan plankton diatom, pakan alami bagi teripang.Proses pencampuran dilakukan di dalam plastik. Sebelum ditebarkan, campuran dikepal-kepal supaya tidak mudah hancur. Dengan demikian, pupuk penyubur plankton ini tidak mudah hanyut ketika ditebarkan. Selanjutnya, kepalan-kepalan pupuk tersebut ditebarkan ke dalam air pada saat air surut.Cara lain, pupuk dimasukkan ke dalam karung plastik. Selanjutnya, karung dibenamkan ke dalam air laut di dalam kurungan tancap. Dalam kurun waktu sepuluh hari, perairan sudah subur dan plankton akan tumbuh di lingkungan tersebut.Baca juga: Usaha Budidaya Ikan Mas di Kolam Terpal Agar Cepat PanenProses pemanenan teripangLama waktu pemeliharaan hingga teripang hingga mencapai ukuran siap panen berkisar 4—5 bulan. Biasanya, ukuran teripang sudah mencapai 300—500 gram per ekor. Pemanenan dilakukan pada waktu air mencapai surut terendah. Proses ini perlu dilakukan beberapa kali, mengingat teripang biasa membenamkan diri di pasir atau lumpur ketika terjadi air surut. Ketika air pasang kembali, teripang akan keluar dari tempat persembunyiannya. Pada saat itu dapat diketahui jumlah teripang yang belum dipanen.Agar tahan lebih lama ketika dipasarkan, terdapat penanganan yang harus dilakukan. Caranya, tusuk teripang yang masih segar dengan lidi pada bagian anus untuk membersihkan isi perutnya. Kemudian, perut dibelah sepanjang 5—10 cm dan isinya dikeluarkan. Proses pembersihan dilanjutkan dengan pembilasan menggunakan air bersih. Selanjutnya, teripang direbus selama 30 menit hingga matang.Kulit teripang dibersihkan dengan cara direndam menggunakan bahan alami, yaitu parutan pepaya muda selama 1 jam. Alternatif lain, parutan pepaya diganti dengan NaOH, KOH, atau CaCO3. Langkah berikutnya adalah proses pengasapan untuk mengurangi kandungan air. Proses pengeringan lanjutan dilakukan dengan oven atau penjemuran di bawah terik matahari. Teripang yang berkualitas baik memiliki bobot 40% dari bobot basah. Sumber: News KKP ...
Tantangan Menjaga Kualitas dan Kuantitas Kadar Oksigen Terlarut di Keramba Jaring Apung
Terkini

Tantangan Menjaga Kualitas dan Kuantitas Kadar Oksigen Terlarut di Keramba Jaring Apung

Keramba jaring apung (KJA) adalah bentuk budidaya perikanan yang sangat umum dijumpai di Indonesia. Tersebar mulai dari Sumatera, Jawa, Lombok, Kalimantan hingga Sulawesi. Luas atau banyaknya keramba juga beragam, namun biasanya ikan yang dibudidayakan di keramba jaring apung selama 4-18 bulan. Yang perlu diperhatikan, tidak semua ikan cocok untuk dibudidayakan pada keramba jaring apung (KJA). Kegagalan dalam proses produksi banyak terjadi, disebabkan karena beberapa faktor, seperti pemilihan lokasi yang buruk, tidak mampu menjaga kualitas atau parameter air, hingga tidak terpenuhinya kondisi biologis yang tepat pada keramba.Berikut beberapa kriteria yang harus dipertimbangkan sebelum Anda memutuskan untuk mengaplikasikan keramba jaring apung (KJA) untuk perikanan : - Luas permukaan setidaknya satu setengah acre atau lebih besar (tidak sebaiknya tidak termasuk area untuk tumbuhnya ganggang). (Catatan : 1 acre sama dengan 0,4 hektar).  - Lebih baik jika kedalamannya 6 kaki. Saat ini keramba jaring apung rata-rata memiliki kedalaman 3 kaki. (Catatan: Satu kaki sama dengan 0,3 meter).  - Keramba harus memiliki kualitas air yang baik, sehingga posisi keramba disarankan berada pada daerah yang dilalui oleh angin.  - Keramba tidak harus memiliki daerah aliran sungai (DAS) yang mudah tererosi  - Keramba tidak memiliki masalah dengan gulma, permukaan yang berlumpur, populasi ikan yang berlebih, deplesi oksigen.  - Keramba harus memiliki akses untuk semua keadaan cuaca. Silahkan Baca: Keramba Jaring Apung Terintegrasi                            Foto: print. kompas.comDari poin di atas, yang sering menjadi masalah terhadap keberlangsungan budidaya perikanan dengan keramba jaring apung adalah tidak terpenuhinya oksigen. Kualitas dan kuantitas oksigen di keramba jaring apung tak terlepas dari masalah kualitas air. Ketersediaan dan konsentrasi oksigen terlarut (dissolved oxygen/DO) sangat penting untuk pertumbuhan ikan.Titik kritis oksigen terlarut sebenarnya bervariasi tergantung spesies ikan dan interaksi antara ikan dengan parameter kualitas air lainnya, seperti karbon dioksida, ammonia dan nitrit. Umumnya, spesies air hangat seperti ikan lele dan nila membutuhkan konsentrasi oksigen terlarut di angka 4 mg/l atau lebih tinggi untuk menjaga kesehatan dan konversi pakan.Ikan air hangat yang sehat sebenarnya dapat mentolerir kadar DO 1 mg/l tapi dalam jangka waktu yang singkat. Jika terpapar dengan kadar DO seminim itu dalam waktu lama, tentu berdampak pada kematian ikan. Bila ikan terlalu lama terpapar pada kadar DO sebesar 1,5 mg/l maka akan menyebabkan kerusakan jaringan, menghentikan pertumbuhan, dan dapat meningkatkan resiko penyakit sekunder. Sebab dengan konsentrasi seperti itu, kemampuan ikan melawan infeksi jauh menurun.  Selain itu,  banyak parasit, penyakit dan bahan kimia yang beresiko untuk merusak filamen insang dan kemudian mengganggu transportasi oksigen.  Baca juga: Budidaya Sehat dengan KJA SmartFaktor Fisik, Biologi dan Kimia Konsentrasi oksigen terlarut dalam pada badan air bervariasi dari waktu ke waktu dan dipengaruhi oleh faktor fisik, biologi, dan kimia. Pengendalian secara fisik yang mempengaruhi oksigen terlarut adalah suhu, tekanan atmosfer, dan salinitas (kadar garam). Bila terjadi peningkatan salinitas, dan tekanan atmosfer berkurang, kelarutan oksigen akan berkurang. Ya, suhu merupakan pengendali fisik penting dari oksigen terlarut. Sebagai contoh, bila suhu air meningkat 10°F, maka  jumlah oksigen yang akan larut dalam air menurun sekitar 10 persen. Selain itu, transfer fisik oksigen antara atmosfer dan air terjadi di seluruh permukaan air ketika konsentrasi oksigen terlarut berada di atas atau di bawah saturasi. Laju perpindahan ini diatur oleh turbulensi di permukaan air.Di sisi lain, faktor biologis yang mempengaruhi oksigen terlarut adalah fotosintesis tanaman (baik phytoplankton dan macrophytic), tanaman dan respirasi hewan (ikan, invertebrata, bakteri). Sebagian besar oksigen di tambak diproduksi melalui proses fotosintesis tanaman. Alga planktonik (fitoplankton) biasanya menghasilkan sebagian besar oksigen ini. Sementara itu, kepadatan tinggi tumbuhan air (yang berakar) biasanya mengurangi pertumbuhan fitoplankton dan sirkulasi air. Yang pada akhirnya dapat menyebabkan masalah oksigen terlarut di kolam produksi sangkar.Dilain sisi, ikan juga harus bersaing dengan semua organisme hidup lainnya untuk mendapatkan oksigen terlarut yang tersedia kolam. Kondisi ini amat akut pada malam hari mengingat tanaman air juga mengonsumsi oksigen melalui proses respirasi. Dalam kebanyakan tambak, pada malam hari, respirasi fitoplankton membutuhkan banyak oksigen. Jumlah tanaman dan biomassa ikan juga biasanya berada pada level terbesar ketika cuaca hangat tiba, yang diiringi dengan intensitas cahaya tinggi. Untuk semua alasan ini, jika tiba malam hari pada musim panas, dengan suhu air dan respirasi tinggi, sementara turbulensi angin rendah, membawa masalah terhadap ketersediaan oksigen.Dalam keramba jaring apung, oksigen terlarut yang rendah besar kemungkinan terjadi karena ikan dipasok dalam jumlah besar. Alasan ikan mati selain karena munculnya wabah juga karena situasi dalam tambak, dan baik langsung maupun tidak langsung erat kaitannya dengan oksigen terlarut rendah.Baca lainnya: Melihat Lebih Dekat Wisata Keramba Apung di Sumberkima Bali UtaraMusim Peralihan dan Kematian Plankton Musim peralihan dan kematian plankton juga membuat oksigen terlarut dapat jatuh ke bawah titik kritis. Musim peralihan yang terjadi selama musim hujan, angin kencang, menuju ke musim panas, menyebabkan oksigen di lapisan atas air bercampur dengan oksigen di lapisan dasar tambak. Pencampuran dua lapisan ini mengurangi total oksigen terlarut dalam keramba, dan biasanya sangat mungkin terjadi di daerah aliran sungai besar.Adapun kematian plankton dapat terjadi sebagai konsekuensi alami dari dinamika populasi alga karena adanya perubahan musiman suhu, pH, intensitas cahaya, nutrisi, penyakit, parasit, racun, atau faktor-faktor lain yang tidak dipahami dengan jelas. Selain itu, kematian plankton juga  dapat terjadi sebagai konsekuensi dari malam oksigen terlarut rendah. Dalam hal ini, kepadatan dan biomassa plankton yang menjadi begitu besar sehingga konsentrasi oksigen terlarut kritis akibat tuntutan respirasi malam hari. Plankton mati karena kekurangan oksigen bersama dengan ikan.Oleh karena itu sangat diperlukan teknik manajemen oksigen. Manajemen oksigen terlarut meliputi manipulasi biologi dan mekanik. Manipulasi biologis dapat mencakup pemupukan (pengapuran) kolam dan mengontrol keberadaan tanaman untuk menjaga fitoplankton tetap sehat. Adapun manipulasi mekanik dilakukan melalui aerasi untuk membantu menjaga konsentrasi oksigen terlarut tetap optimum. Artikel Asli ...
Dissolved and Suspended Solids in Aquaculture Systems
Terkini

Dissolved and Suspended Solids in Aquaculture Systems

Aquaculture ponds contain a variety of dissolved and suspended solids. Matter is divided into solids, liquids and gases. In aquaculture, water is the main liquid of concern, because it is the solvent in which the solutes (solids and gases) are dissolved or solids are suspended. Gases in water are measured by different procedures than are solids, and they must be treated separately.Solids, like other types of matter, are made of particles. The most elementary particles are protons, neutrons, electrons, and smaller entities that make up atoms. But, for practical purposes, the term particle is more broadly defined as a small fragment of something (matter), e.g., a piece of organic matter or a speck of soil. Of course, the term also extends to atoms, ions, ion complexes, and molecules dissolved in water as well as to mineral soil particles, living bacteria and plankton, and non-living fragments of organic matter suspended in water. Particles are suspended in water because they settle slowly as a result of low density and small particle size. Turbulence in water also helps maintain them in suspension.Soluble particles obviously are smaller than suspended particles and consist primarily of atoms, ions, complexed ions and molecules. There is no exact particle size that separates a dissolved particle from a suspended particle. In water quality analysis, particles less than 2 micrometers (mm) or 0.000001 meters in maximum dimension are considered to be dissolved. A water sample is passed through a filter with 2-mm apertures, and the particles passing the filter are dissolved solids while those retained on the filter are suspended solids.Also read: The role of the Bacillus Spp group of Bacteria in The Environmental Management of Aquaculture PondsClassification and determinationThe solids in water are classified by a rather elaborate methodology. The total solids (TS) are determined by evaporating a known volume of unfiltered water in a tared (weighed) dish, determining the weight of the residue and expressing it as weight/volume (usually as milligrams per liter). The total solids include dissolved and suspended solids. The dish and residue from TS analysis can be ignited in a muffle furnace and weighed. The weight loss is called the total volatile solids (TVS) and includes dissolved and particulate organic matter, while the residue is inorganic matter called the total fixed solids (TFS).The total dissolved solids (TDS) concentration is determined by passing a known volume of water through a 2-μm filter, evaporating the filtrate in a tared dish, determining the weight of the residue, and reporting it in milligrams per liter. The dish and its dry contents can be ignited in a muffle furnace and weighed. The weight loss is the total dissolved volatile solids (TDVS) and the residue is inorganic dissolved solids or total dissolved fixed solids (TDFS). The total suspended solids (TSS) in a sample can be determined as TS minus TDS, and total suspended volatile solids (TSVS) can be determined as TVS minus TDVS.Solids analysis is a simple but tedious procedure, and the several types of solids make the topic confusing. The method for separating solids is illustrated in Fig. 1 for greater clarity.Fig. 1: Illustration of a complete solids analysis of a water sample. Abbreviations: TS = total solids; TDS = total dissolved solids; TVS = total volatile solids; TFS = total fixed solids; TDVS = total dissolved volatile solids; TDFS = total dissolved fixed solids; TSS = total suspended solids; TSVS = total suspended volatile solids.In some water quality endeavors, it is only necessary to know the TSS concentration. This can be achieved by passing a known volume of water through a tared, 2-mm glass fiber filter, drying the filter and determining the weight gain. The weight gain is the TSS (or particulate matter) concentration. If desired, the filter and residue may be ignited in a muffle furnace and the weight loss is the TSVS concentration (or particulate organic matter concentration).The TDS concentration in a water sample usually results primarily from the dissolved ions and mainly from the major cations (Ca2+, Mg2+, K+ and Na+) and the major anions (SO42-, Cl– and HCO3–/CO32-). Salinity is usually a good indicator of the TDS concentration, and conductivity in water increases with increasing concentration of salinity and TDS.Also read: ‘Water-forecasting’ and Fish Farms Fed on WasteThe suspended particles in water tend to be slowly settling in accordance with the Stoke’s law equation. The major factors affecting the settling rate are particle diameter, particle density, and water temperature. Water temperature affects the specific gravity and the viscosity of water. Both of these variables decrease with rising water temperature to cause particles to settle faster.Planktonic algae range in size from very tiny (0.2 to 2 μm) to fairly large (200 to 20,000 μm). The tiny picoplankton will mostly pass a 2-μm filter and be considered soluble particles. The other planktonic algae are larger and clearly are suspended. Planktonic algae have low densities (1.02 to 1.05 grams per cubic cm). But they are denser than water (1.00 grams per cubic cm) and are subject to settling – especially in water with low turbulence.How decomposition of organic matter impacts aquaculture pondsParticle settling and sedimentationA spherical particle will settle faster than particles of other shapes and most planktonic algae are not perfectly spherical. Many are elongated and irregular in shape, some have projections, other form multicellular filaments or colonies, some blue-green algae possess gas vacuoles that increase buoyancy and there are algae with flagella allowing mobility to avoid sinking. Nevertheless, many planktonic organisms ultimately depend upon turbulence to maintain them within the upper layer of water where there is adequate light for photosynthesis.Other types of suspended solids also tend to settle, but the amount of suspended particles in water is highly dependent upon turbulence. Much feed-based pond aquaculture is done in aerated ponds and aerator-induced water currents both erode soil particles from pond bottoms and help maintain particles in solution. In many aerated, earthen-lined aquaculture ponds, the concentrations of organic and inorganic suspended solids are about equal.Also read: Algae Detection System Aims to Help Aquaculture BloomPonds retain water under relatively quiescent conditions for relatively long periods, and as a consequence, tend to act as settling basins. A recent study of soil cores from about 150 aquaculture ponds of several production intensities in several countries suggested that sediment accumulates in pond bottoms at an average rate of about 1 cm every year. However, the annual rate may be 5 to 10 cm in new ponds and it gradually declines as ponds age and the tendency for erosion declines.Sedimentation also may occur when waters from aquaculture ponds are discharged into outside water bodies. There is another type of solids measurement for obtaining a quick estimate of the potential of the suspended particles in water to settle. A sample of water is placed in a 1-liter cone that has milliliter calibrations in the narrow, pointed bottom (Fig. 2). This cone is called an Imhoff cone. Water is held in it for 1 hour, and the volume of solids that settle in the pointed bottom is read from the calibrations. This amount of solids (measured in milliliters per liter) is called the settleable solids concentration.Fig. 2: Rack of Imhoff cones (left); close-up showing calibrations for measuring volume of settled particles (right). Source: Global Aquaculture Alliance ...
Keramba Jaring Apung Terintegrasi
Terkini

Keramba Jaring Apung Terintegrasi

Sarana Budidaya Terintegrasi merupakan sarana budidaya yang terdiri dari Keramba Jaring Apung (KJA), Dermaga Apung, dan Rumah Apung yang saling bersatu membentuk suatu sistem yang terintegrasi. Dengan adanya sistem terintegrasi, pembudidaya dapat melakukan pemeliharaan dan pengecekan terhadap ikan dengan lebih seksama, sehingga dapat menghasilkan ikan yang berkualitas sekaligus menaikan Survival Rate (SR) ikan yang dibudidaya. Selain itu, sistem terintegrasi mempermudah pembudidaya dalam memanen dan menjual ikan.KJA pada Sarana Budidaya Terintegrasi menerapkan suatu metode pemeliharaan net yang inovatif sehingga net yang digunakan untuk memelihara ikan tidak perlu diganti selama masa pemeliharaan ikan. Dengan menggunakan hanya setengah dari kapasitas net, maka setengah net yang tidak dipakai akan berada dalam keadaan terjemur sehingga bersih dari lumut. Sistem ini juga memungkinkan dilakukannya proses pendederan di laut dan memungkinkan dijalankannya proses pemeliharaan ikan dengan operator yang minim.Baca juga: Budidaya Sehat dengan KJA SmartDermaga Apung pada Sarana Budidaya Terintegrasi memiliki alat apung berbentuk silindris memanjang yang dihubungkan antara satu dengan lainnya menggunakan baut Stainless Steel grade 316 sehingga membentuk suatu struktur yang kokoh dan tahan ombak. Cocok untuk dipakai di laut lepas (offshore). Memiliki umur pakai minimum 20 tahun dan dapat mencapai 50 tahun dengan perawatan teratur. Di atas dermaga apung dipasang platform berjalan dari WPC setebal 30mm (tanpa rongga) dengan pattern anti-slip yang aman untuk pembudidaya. Rumah Apung pada Sarana Budidaya Terintegrasi terbuat dari bahan WPC (Wood Polyethylene Compound) dan memiliki sumber listrik dari Solar Cell.Sarana Budidaya Terintegrasi terbuat dari komponen-komponen yang ramah lingkungan. Sarana Budidaya Terintegrasi memiliki sistem Completely Knock Down, sehingga dapat dipasang dan dibongkar dengan mudah, dan memungkinkan untuk diekspansi di masa yang akan datang. Cocok untuk pembenihan, pendederan, pembesaran, bahkan sarana minawisata.Spesifikasi Alat Apung KJA- Berbahan Prime Grade High Density Polyethylene (HDPE) dengan anti-UV- Berbentuk silindris dengan diameter luar (OD) 355mm dan tebal dinding alat apung >11mm- Tiap ujung alat apung memiliki 2 lapisan kedap air yang dipasang dengan metode yang telah dipatenkan- Berwarna biru cerah untuk meminimalisir penyerapan panas cahaya matahari dan agar mudah dilihat dari kejauhan- Memiliki track untuk berjalan dengan pattern anti-slip pada bagian atas untuk keamanan pemakai kerambaBaca juga: Aquatec Ekspor 160 Petak Keramba Apung ke MaladewaSpesifikasi Track Pada Alat Apung dan Penghubung Alat Apung- Berbahan Prime Grade High Density Polyethylene (HDPE) dengan anti-UV- Berwarna kuning cerah untuk meminimalisir penyerapan panas cahaya matahari dan agar mudah dilihat dari kejauhan- Memiliki pattern anti-slip dengan ketinggian pattern 1,5mmSpesifikasi Penghubung Alat Apung- Berbahan Prime Grade Polyethylene (PE) dengan anti-UV- Bersifat monoblok dengan campuran khusus yang lentur dalam menghadapi ombak di laut- Dapat menghubungkan 4 buah alat apung untuk ekspansi yang nyaris tanpa batas- Memiliki 4 buah lubang dengan diameter 30mm untuk tempat mengikat tali jangkarBaca juga: Melihat Lebih Dekat Wisata Keramba Apung di Sumberkima Bali UtaraSpesifikasi Kaitan Net- Berbahan Prime Grade High Density Polyethylene (HDPE) dengan anti-UV- Dapat dipasang, dibongkar, atau dipindah pada keramba sesuai kebutuhan- Spesifikasi Jangkar Artikel asli ...
Teknik Pengobatan Ikan
Terkini

Teknik Pengobatan Ikan

Pengobatan merupakan alternatif terakhir setelah usaha pencegahan gagal dilakukan.Teknik ini relatif mudah dan hasilnya lebih cepat terlihat. Tetapi apabila dilakukan dengan prosedur yang keliru, berdampak negatif terhadap keanekaragaman hayati, kesehatan manusia serta resistensi bakteri.   Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum melakukan pengobatan, antara lain : - Ketepatan diagnosa penyebab penyakit Jenis dan dosis efektif obat/antibiotik - Kemudahan memperoleh obat dan harga Waktu luruh obat yang pendek - Kemungkinan keberhasilan pengobatan - Teknik aplikasi yang hendak diterapkan Cara Pengobatan Melalui Perendaman Perendaman dapat dilakukan secara langsung di kolam, akuarium atau secara tidak langsung dengan menggunakan wadah lain. Perendaman dapat dibagi 3 cara yaitu : 1. Pencelupan (dips) Pengobatan dilakukan pada dosis obat yang tinggi selama beberapa detik. 2. Perendaman Jangka Pendek (short bath) Pengobatan dilakukan pada dosis obat relatif tinggi selama beberapa menit 3. Perendaman Jangka Panjang (long bath) Umumnya dilakukan di dalam akuarium, wadah lain atau kolam selama beberapa jam atau hari Dosis obat dinyatakandalam satuan ppm; 1 ppm = 1 mg/L atau 1 gr obat/m3 air untuk obat serbuk/padat, sedangkan untuk obat bentuk cair 1 ppm = 1 ml obat/m3 air. Baca juga: KKP Bersama FAO Berhasil Kembangkan Pakan Ikan Berbahan Baku Bungkil Kelapa Sawit di Sumatera SelatanMelalui Pakan Pengobatan melalui pakan lebih sedikit menimbulkan stres pada ikan. Tetapi hanya efektif pada tahap awal infeksi, dimana ikan masih memiliki nafsu makan. Dosis obat dinyatakan dalam mg/kg pakan (bila ikan berukuran kecil) atau mg obat/kg bobot tubuh ikan (bila ikan berukuran besar). Pengobatan dilakukan melalui proses penempelan pada ikan, dengan cara sebagai berikut : - Pakan ikan yang hendak diberikan terlebih dahulu dibasahi permukaannya dengan menggunakan alat semprot. - Obat/antibiotik dilekatkan ke permukaan pakan hingga merata. - Obat/antibiotik yang telah menempel pada pakan ikan, dilapis dengan zat pelapis seperti minyak sayur atau putih telur, bertujuan untuk mengurangi proses cucian oleh air pada saat diberikan kepada ikan. - Setelah dilapis, pakan diangin-anginkan atau dijemur beberapa saat sebelum digunakan. - Pemberian pakan yang mengandung obat/antibiotik sebaiknya diberikan selama beberapa hari. Aplikasi langsung ke tubuh ikan Penyuntikan Terutama untuk ikan berukuran besar, keuntungannya adalah penggunaan obat sangat efisien dan dosis tepat. Dosis dinyatakan dalam satuan mg obat/kg bobot tubuh ikan. Ada dua cara penyuntikan yang biasa dilakukan, yaitu dimasukkan ke rongga perut (intra peritoneal) dan dimasukkan ke otot (intra maskular). Penyuntikan secara IP dilakukan diantara kedua sirip perut atau sedikit di depan anus dengan sudut kemiringan jarum suntik kira-kira 30°.  Penyuntikan secara IM dilakukan di bagian punggung, pada ikan yang bersisik ke 3-5 dari kepala, dengan sudut kemiringan kira-kira 30°-40°. Baca juga: Mengenal Jamu Ikan Buatan Guru Besar Unmul, Obat Berizin KKP Pertama dari 100 Persen Bahan AlamiOles Teknik pengobatan ini umumnya hanya dapat dilakukan terhadap ikan sakit yang memiliki gejala klinis sangat nyata (luka atau borok). Jumlahnya relatif sedikit dan ukuran ikan cukup besar. - Penghitungan Obat Melalui Perendaman 1. Ukuran bak : 3m x 2m x 1m = 6m3, diisi air setinggi 7,5 cm. Total volume air = 6m3 x 0,75m = 4,5m3 2. Diobati dengan Oxytetracyline dosis 10 ppm 3. Jumlah antibiotik (OTC) yang dibutuhkan : 10 gr x 4,5 = 45 gr, apabila obat dalam bentuk cair, maka jumlahnya 45 ml - Penghitungan Obat Melalui Pakan 1. Jumlah ikan yang akan diobati, contoh 1.000 ekor dengan bobot rata-rata 200gr/ekor = 1.000 x 200 gr = 200.000 gr = 200 kg 2. Pakan diberikan 3% bobot/hari = 3% x 200 kg = 6 kg/hari 3. Diobati dengan Oxytetracycline dosis 50 mg/kg pakan selama 5 hari 4. Jumlah antibiotik (OTC) yang dibutuhkan : 50 mg x 6 x 5 = 1500 mg =1,5 gr Baca juga: KKP Permudah Pelayanan Perizinan Pakan dan Obat Ikan- Penghitungan Obat Melalui Penyuntikan 1. Contoh : Ikan yang akan diobati sebanyak 20 ekor dengan bobot rata-rata 5 kg, total bobot ikan 100 kg. 2. Diobati dengan OTC dosis 30 mg/kg bobot tubuh ikan. 3. Jumlah antibiotik (OTC) yang dibutuhkan = 30 mg x 100 = 3000 mg = 3 gr = 3 ml Sumber: Dentan Sukabumi Kota ...
UMKM Asal Ambon Bisa Ekspor ke Singapura
Terkini

UMKM Asal Ambon Bisa Ekspor ke Singapura

Peluang ekspor produk kelautan dan perikanan semakin terbuka. Terbaru, pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) seperti Usaha Dagang (UD) UD Irwin Tanralili Ambon, bisa menjangkau pasar Singapura setelah melalui pendampingan dari Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (KIPM) Ambon, Maluku.“Alhamdulillah, pada 3 Februari 2021, sebanyak 611 ekor kepiting hidup dari UD Irwin Tanralili berhasil diekspor ke Singapura,” kata Kepala Balai KIPM Ambon, Ashari Syarief, Kamis (4/2/2021).Baca juga: Pelajari Bagaimana Kepiting Bakau MemijahAshari menambahkan, nilai ekspor komoditas tersebut mencapai Rp50,9 juta. Dikatakannya, ekspor ini tak lepas dari keberhasilan BKIPM dalam mengedukasi UD Irwin untuk menjalankan sistem perkarantinaan Ikan dan Keamanan hasil perikanan (sertifikasi CKIB)“Dalam Waktu Singkat setelah disertifikasi CKIB, UD Irwin Tanralili melihat prospek ekspor Komoditas live crabs dengan negara tujuan Singapura,” sambungnya.Ke depan, Ashari memastikan jajarannya akan terus bersinergi dengan Tim Percepatan Ekspor Maluku agar komoditas perikanan dari Bumi Rempah-rempah semakin meningkat. Bahkan, dia menjamin pegawai Balai KIPM Ambon tak segan untuk melakukan jemput bola guna peningkatan devisa negara melalui kegiatan ekspor.Baca juga: Persiapan Pembenihan Kepiting Bakau“Kedepannya semua pihak berharap dapat secara kontinyu melakukan ekspor dan tidak hanya terbatas pada komoditi live crabs saja,” tandasnya.Sebagai informasi, ekspor perdana kepiting hidup milik UD Irwin juga dihadiri oleh sejumlah pejabat Provinsi Ambon. Selain itu, terdapat perwakilan dari Kantor Wilayah Bea dan Cukai Maluku dan Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Ambon, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Maluku. Kegiatan ekspor ini juga dilakukan dengan menjalankan protokol kesehatan. Sumber: Masyarakat Akuakultur Indonesia ...
Riset Budidaya Teripang Pasir guna Cegah Kepunahan
Terkini

Riset Budidaya Teripang Pasir guna Cegah Kepunahan

Teripang pasir mungkin nama yang terdengar agak asing di telinga masyarakat awam. Pamornya tidak “sebeken” komoditas perikanan lain, seperti ikan lele. Namun siapa sangka ternyata komoditas ini memiliki kandungan gizi dan nilai ekonomis yang tinggi. Sayangnya, akibat mengandalkan penangkapan di alam, teripang pasir bisa terancam punah. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), melalui Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM), punya solusinya.Teripang merupakan biota laut yang termasuk ke dalam filum Echinodermata. Dikenal juga dengan istilah timun laut, sea cucumber, dan bêche-de-mer. Teripang sejak lama telah dimanfaatkan oleh masyarakat Asia sebagai makanan dan obat tradisional karena memiliki kadar protein dengan kandungan lemak rendah, mengandung vitamin E yang dapat berperan sebagai antioksidan, serta mengandung mineral yang sangat penting dalam jumlah yang tinggi, terutama kalsium dan magnesium. Teripang pasir juga mengandung omega-3, omega-6, omega-9, dan 16 jenis asam amino.Karena itu usaha perbenihan dan budidaya teripang pasir perlu dilakukan sebagai salah satu komoditas di bidang akuakultur. Terlebih lagi, sejalan dengan perkembangan teknologi, berbagai bahan bioaktif dari teripang semakin banyak diketahui, baik sebagai sumber senyawa bioaktif farmakologis maupun dalam bidang kosmetika.Baca juga: Panduan Lengkap Budidaya Ikan LeleSampai saat ini, teripang yang diperdagangkan masih mengandalkan hasil tangkapan alam sedangkan hasil budidaya masih sangat terbatas. Dalam dua dekade terakhir, kesulitan memperoleh teripang dari alam juga terjadi di Indonesia akibat penangkapan teripang yang berlebihan. Cepat atau lambat kepunahan spesies ini semakin terbuka, jika usaha budidaya tidak berhasil dilakukan.Mata rantai utama dalam sistem produksi teripang adalah penyediaan benih. Melalui serangkaian penelitian, Balai Besar Riset Budidaya Laut dan Penyuluhan Perikanan (BBRBLPP) Gondol-Bali, salah satu Unit Pelaksana Teknis BRSDM, telah berhasil mengembangkan teknologi perbenihan teripang pasir (Holothuria scabra) di hatcheri. Selanjutnya benih tersebut dibudidayakan di bak beton, di tambak dengan menggunakan hapa, dan di laut dengan menggunakan kurung tancap.Keberhasilan BBRBLPP dalam melakukan budidaya teripang pasir membuka peluang perkembangan usaha budidaya teripang di masyarakat terlebih bahwa teripang pasir hasil budidaya terbukti memiliki kandungan nutrisi yang sama dengan yang berasal dari alam.Baca juga: Budidaya Cacing Sutera Dorong Produksi Benih Ikan NasionalPada kunjungan kerja Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono ke BBRBLPP, pekan lalu, lokasi penelitian budidaya teripang pasir ini merupakan salah satu tempat yang mendapat perhatiannya. Ia berharap, hasil penelitian dari balai riset, termasuk teripang pasir, dapat diimplementasikan di masyarakat untuk menggerakan roda perekonomian guna kesejahteraan masyarakat.Kepala BRSDM Sjarief Widjaja mengatakan, pihaknya akan menindaklanjuti arahan Menteri tersebut. Sjarief berencana akan membuat instalasi-instalasi kecil di balai riset. Ia juga sudah berkomunikasi dengan Gubernur Bali I Wayan Koster dan selanjutnya Gubernur akan menetapkan sentra-sentra perikanan, termasuk teripang pasir, di Bali.Sementara itu, teknologi pembenihan dan budidaya teripang pasir ini juga dibahas khusus pada kegiatan Sharing Session BRSDM, Rabu (27/1). Bertindak sebagai narasumbernya adalah peneliti utama BBRBLPP Sari Budi Moria Sembiring.Sari memaparkan data Badan Pusat Statistik (2019), bahwa volume ekspor produk teripang Indonesia pada Januari hingga Juli 2019 mencapai 780.803 kg, dengan nilai mencapai US$ 8.762.309. Menurutnya, dengan nilai ekonomi dan kebutuhan pasar yang tinggi, khususnya pasar Asia, maka terjadi overfishing, sehingga perlu pengembangan budidaya, sebagaimana dilakukan penelitiannya di BBRBLPP. Sumber: Masyarakat Akuakultur Indonesia ...
Aplikasi Probiotik Tepat, Pakan Hemat
Terkini

Aplikasi Probiotik Tepat, Pakan Hemat

Pakan merupakan salah satu penunjang keberhasilan dalam budidaya ikan, penggunaannya tak hanya untuk pertumbuhan saja, namun juga bisa berdampak pada jumlah keuntungan yang diperoleh nantinya pasca panen. Terlebih lagi untuk komoditas lele, dimana penggunaan pakan secara tepat dan efisiensi sangat menentukan untung atau ruginya usaha budidaya lele yang dijalankan.   Dalam seminar daring TROBOS Aqua lalu yang membahas nutrisi untuk patin, sebagai salah satu pembicara dalam acara tersebut Prof Mas Tri Djoko Sunarno selaku peneliti dari Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar (BRPBAT) Bogor, Jawa Barat (Jabar) sempat menyampaikan, bahwa dalam budidaya lele bisa diperoleh nilai rasio perbandingan pakan dengan daging yang dihasilkan atau dikenal dengan istilah feed conversion ratio (FCR) yang diperoleh bisa mencapai 1:0,7. Dimana pada umumnya nilai FCR yang diperoleh adalah 1 : 1, yang artinya 1 kilogram (kg) pakan menghasilkan 1 kg daging.  Baca juga:  Probiotik dalam AkuakulturProbiotikBerdasarkan statement (pernyataan) tersebut, tim TROBOS Aqua mencoba mengulik lebih dalam mengnai cara-cara penekanan FCR pada budidaya lele hingga mencapai 0,7 dengan mewawancarai Prof Mas Tri Djoko Sunarno. “Berdasarkan penelitian dan observari dilapangan bekerjasama dengan para pembudidaya, beberapa siklus diperoleh nilai FCR 0,7 ,” ungkapnya siang itu.  Sambungnya, tentu pencapaian angka tersebut tak diperoleh begitu saja. Perlu dilakukan treatment (perlakuan) yang diaplikasikan sehingga mendapatkan angka tersebut. Aplikasi probiotik menjadi peranan utama dalam upaya menekan penggunaan pakan sehingga bisa seefisien mungkin. Penggunaan probiotik saat ini, Ia katakan, sudah menjadi hal yang lumrah digunakan dalam budidaya lele, karena penggunaan penambahan probiotik dalam proses budidaya bisa meningkatkan daya kecernaan ikan terhadap pakan yang diberikan. Kemudian, bisa menekan dominasi bakteri yang tidak diperlukan dalam wadah pemeliharaan, serta sedikit banyaknya dapat mengurai kotoran atau amoniak hasil eksresi ikan lele.Baca juga: Probiotik, Pencegah Penyakit dan Pendorong Produksi Perikanan Budidaya“Memang sudah umum digunakan, namun walaupun standar operasional prosedurnya tertera di kemasan atau telah diberikan panduan, pemegang kunci keberhasilan adalah pembudidaya itu sendiri,” beber Tri Djoko.  Tak heran banyak juga yang gagal dalam pengaplikasian probiotik ini, karena kurang menguasai perubahan warna air, kemudian teknis pemberian probiotik yang tepat, dan pada akhirnya hanya membuang-buang biaya saja. Dengan banyaknya beredar merek di lapangan, silahkan gunakan apa saja yang menurut pembudidaya terbaik, dan yakin bahwa produk yang dipilih memang dirasa manfaatnya.  Setelah itu lakukan aktivasi bakteri yang ada didalam kemasan. Caranya hanya mencampurkan bakteri yang kita beli dengan air serta molase (tetes tebu), kemudian setelah 3 hari jika ada perubahan warna air serta bau harum maka bakteri sudah berkembang dan siap digunakan.  Baca juga: Alasan KKP Minta Pembudidaya Ikan Gunakan Produk Hasil Riset Probiotik RICAAplikasi Probiotik“Ada 2 cara yang umum dilakukan para pembudidaya dalam memberikan probiotik ke lele, pertama langsung dituang ke air kolam, satu lagi dicampurkan ke pakan,” ujar Tri Djoko. Sambungnya, keduanya tidak ada yang salah, karena tujuannya sama untuk menaikan daya kecernaan ikan terhadap pakan. Artikel Asli ...
Researchers Eye Sea Cucumbers As Potential Fish Farming Impact Solution In Europe
Terkini

Researchers Eye Sea Cucumbers As Potential Fish Farming Impact Solution In Europe

A team of aquaculture researchers is exploring how sea cucumbers might be used to help reduce the environmental impact of fish farming, using techniques already being used in agriculture.Having secured a funding package from the UK Seafood Innovation Fund, and additional support from the Sustainable Aquaculture Innovation Centre (SAIC), Blue Remediation is conducting a feasibility study that will assess the efficiency of sea cucumbers in absorbing aquaculture biomass.Bioremediation – the process of using living organisms to remove pollutants and toxins – is a method commonly used in agriculture to restore polluted soil. By introducing sea cucumbers, which will feed on fish faeces and excess food, to seafood farms it is hoped they could help to minimize the impact of waste on the seabed.Also read: The Future of Fish Feed might be Fish-FreeWhile the approach has already been proven in Asia and Chile, the role of sea cucumbers in Scottish and European aquaculture is yet to be fully tested. As part of the project, the researchers will build a computer model that integrates with existing NewDEPOMOD software, which is widely used by the sector to predict the impact of fish farm secretions.Testing a number of variables, such as sea cucumber absorption efficiency and benthic waste accumulation, the project aims to find the optimum conditions and quantities that producers could then introduce to minimize the impact of waste.According to Blue Remediation Co-founder Soizic Garnier, managing and minimizing the environmental impact of aquaculture is crucial for supporting the sector’s growth.“Alongside the extensive regulatory frameworks that are in place, we have identified a possible natural solution that could absorb some of the waste that is inevitably produced by fish and the process of feeding them,” she said. “Using sea cucumbers in Scottish waters has great potential, but there are still a number of questions that we need to find the answers to. This study and subsequent live trials will help to determine the impact of integrating different species, any impact on wild cucumbers, as well as monitoring the health and wellbeing of the sea cucumbers, including disease control.”Also read: Environment, Bacterial Community Dynamics and White Feces Disease Outbreaks in Shrimp PondsSea cucumbers are considered a delicacy in Asian markets and can fetch up to USD 3,000 (EUR 2,508) per kilogram, so there may also be added-value in mainstream sea cucumber cultivation, hand-in-hand with the environmental benefits, Garnier said.The experimental part of the project is to be carried out in collaboration with Scottish Association for Marine Science (SAMS). Initial testing is expected to last for three months using 18 Scottish sea cucumbers with a variety of diets to represent how cucumbers would behave in a real-world fish farm environment.To mimic the natural ecosystem, sediment has been provided by Mowi, coming from its Loch Leven site, while salmon feces are being supplied by the University of Stirling’s Institute of Aquaculture.Also read: Aquamimicry: A revolutionary concept for shrimp farmingBlue Remediation was set up by a team of four doctoral students from the University of Strathclyde and Heriot-Watt University, who last year took part in a mentoring program led by Women in Scottish Aquaculture (WiSA) to help formulate their project ideas.SAIC CEO Heather Jones said that with research projects exploring cost-effective, data-led methods, such as using sea cucumbers, Scotland’s aquaculture sector could transform its approach to waste management.“Integrated multi-trophic aquaculture is still in its infancy in Scotland, but could be a valuable, sustainable, circular method of ensuring resources don’t go to waste,” she said. Source: Seafood Source ...
Marine Aquagriculture, Terobosan Polikultur Berbasis Air Laut
Terkini

Marine Aquagriculture, Terobosan Polikultur Berbasis Air Laut

Elon Farm diketahui telah berhasil melakukan riset dan pengembangan budidaya polikultur ikan, sayuran dan udang galah dalam system resirkulasi air tawar yang dikenal dengan Freshwater Aquagriculture.Terkini, Elon Farm kembali berhasil melakukan riset dan pengembangan metode sejenis yang berbasis air laut yang disebut dengan Marine Aquagriculture.Doktor Joe, pencipta metode itu, mengatakan Marine Aquagriculture berhasil dikembangkan di Buleleng, Bali."Di sini kami berhasil membuat terobosan polikultur berbasis air laut, komoditas utama adalah ikan kerapu, lobster dan anggur laut" ucap Doktor Joe, Rabu (17/2/2021).Baca juga: 5 Jenis Kerapu yang Bisa DibudidayakanMetode Aquagriculture ini, kata dia, adalah sebuah paradigma baru dalam menciptakan ekosistem yang nyaman untuk polikultur.Ekosistem buatan ini memiliki banyak keunggulan dibanding ekosistem alami."Mereduksi faktor penghambat dan memaksimalkan faktor penunjang, sehingga spesies yang dibudidayakan lebih merasa nyaman dan tentram" ungkap Doktor Joe."Dengan demikian semua spesies yang dibudidayakan dalam serial metode yang kami beri nama Aquagriculture TRG-01 (freshwater), Aquagriculture TRG-02 (sea water) dan Aquagriculture TRG-03 (brackish water) ini hidup berdampingan dan saling memacu pertumbuhan," imbuhnya.Selain itu, Joe mengatakan kelebihan dari tiga serial metode Aquagriculture ini adalah minimum cost tapi high produktivitas.Baca juga: Meningkatkan Performa Pakan Udang Melalui Penambahan Pellet Binder yang TepatSistem metode tersebut terlihat modern tapi semua bahan dan peralatan yang digunakan ternyata sederhana dan mudah didapatkan."Sistem ini tidak memerlukan peralatan canggih dengan segala jenis sensor," kata Joe.Lebih lanjut, Joe menambahkan kunci keberhasilan dari sistem ini adalah ketekunan serta harus memiliki 'rasa' untuk menjaga kestabilan ekosistem.Saat ini, pihaknya sedang melakukan riset dengan metode yang sama tapi berbasis air payau, sekitar dua bulan lagi akan terlihat hasilnya."Komoditasnya ikan baramundi, udang vaname, kepiting bakau dan anggur laut," katanya. Sumber: Tribun News ...
Perum Perindo Offers Aquaculture with Aqua Tourism Concept
Terkini

Perum Perindo Offers Aquaculture with Aqua Tourism Concept

Perusahaan Umum Perikanan Indonesia (Perum Perindo) offers a complete business and tourism package in Buleleng, Singaraja, Bali, called 'aquaculture with aqua tourism' which can potentially garner attention of tourists and investors. In the business sector, Perum Perindo aquaculture project consist of clustering floating net cage system meant to culture various fishes from Barramundi, Grouper, Ornamental fish, Vannamei Shrimp and Saline tilapia comprising of 178 holes in Unit 1 and the 249 holes in Unit 2.Perum Perindo Director of Operation Raenhat Tiranto Hutabarat on Thursday, Dec 17, said the cultured fishes will be exported to countries such as the United Arab Emirates. Also read: Study Backs Offshore Aquaculture Expansion“Our marine-culture operation is the biggest floating net cages in Singaraja, Bali established in 2016," said Raenhat Tiranto on December 17. "The location is also very attractive due to beautiful view of hills and mountains in the surrounding area. That is why we create aquaculture with aquatourism concept.” Starting from 2019, the floating net cages had been operated by a clustering system and production line pattern of 600, 800 and 1000, with a production capacity of 1 ton per line. Meanwhile, in the tourism sector, Perum Perindo’s aquaculture is surrounded by tourism venues such as Gili Putih located just 200 meters away from location; Pemuteran diving area, and diving spot Menjangan Island.“We built a café on top of the floating net cages so visitors can enjoy the scenery too,” Raenhat explains.Also read: New Aquaculture Innovation Centre seeks to work with other players on joint researchAqua tourism is one of the fastest growing tourism sectors in the world along with culinary and 'edutainment.' The latter is the sector that Perum Perindo plans to focus on business-wise and packaged under the aqua tourism concept.  Perum Perindo is a state – owned enterprise in fishery business running 3 business lines : Fishing port, Aquaculture and Trading. Fishing port business line includes all activities related to port operation, such as Cold Storage, Ice Plant, Fuel Distributor, Mooring, etc.Perum Perindo also runs Aquaculture business, i.e. inland aquaculture and marine aquaculture, such as shrimp ponds, milkfish ponds and floating net cages for groupers and baramundi. In Trading line, we have fish processing units integrated with cold storage in several regions of Indonesia.Source: Tempo.co ...
Aquaculture Becomes A Net-Positive
Terkini

Aquaculture Becomes A Net-Positive

The practice of farming finfish, shellfish and aquatic plants — by land and by sea — dates back 3,000 years as first the Chinese and then the Romans sought ways to supplement their food supplies with species such as carp and oysters.In more modern times, support for aquaculture has ebbed and flowed along with concerns about animal health and welfare, worries over the effluent pollution caused by wastewater discharges, and the unintended impacts of production infrastructure such as pipes and pumps on natural ecosystems.Also read: OptiFarm - Optimal Water Quality and Healthy Fish On LandNow, a wave of technology innovation and funding from an eclectic group of companies ranging from Google’s parent Alphabet, to the Seed2Growth fund linked to Lukas Walton (grandson of Walmart founder Sam Walton), to Cargill and Chevron Ventures (both focused on fish-feed ventures) is changing the tide again.In 2018, the last year for which figures were available, worldwide aquaculture production reached an all-time high of 114.5 million metric tons in "live weight," representing a market value of almost $264 billion, according to a 2020 report by U.N. Food and Agriculture Organization (FAO). That amount accounted for 52 percent of global fish consumption. The annual growth rate will slow over the next decade, but FAO projects aquaculture will supply close to 60 percent of fish consumed globally by 2030.You have to be engaged in aquaculture, you have to be successful in aquaculture, to be successful in seafood.Many factors contribute to this renewed surge in interest in farming fish and sea vegetables. Chief among them are worries over the long-term viability of global fisheries and concern over the fragility of food supply chains, sorely tested by disruptions related to the COVID-19 pandemic. The United States, for example, imports a vast majority of the salmon it eats, with long-term consequences for transportation-related emissions. The most dominant region in the world today for aquaculture production is Asia, particularly China, but Norway (for salmon) and Central America (for tilapia) are also big exporters."Expanding access to blue food — that is, sustainably grown marine and freshwater organisms including fish, shellfish and sea vegetables — can play an important role in reducing the carbon emissions associated with the food we eat … While sustainable aquaculture alone won’t solve the problem of reducing carbon emissions, seafood is one of the lowest carbon sources of protein available — so it’s a great place to make an impact on the climate crisis in the next five to 10 years," said Neil Davé, general manager of Tidal, an Alphabet X moonshot project.Also read: Investor Urges Aquaculture to Align with The ‘Food Revolution’The Tidal research team is testing artificial intelligence and imaging technology as a means to monitor fish health, spot pests and reduce waste at fish farms run by Norwegian seafood company Mowi, the world’s largest Atlantic salmon producer and ranked (again) in November as the world’s most sustainable protein producer by the FAIRR Initiative, which produces research for institutional investors interested in environment, social and governance issues.Digital innovations such as Tidal’s that provide better insights into fish farming operations — alongside new recirculating aquaculture system designs and purification advances, such as the "nanobubbles" generators designed by startup Moleaer — are contributing to rising levels of speculative activity. Over the past four years, for example, more than 20 companies have filed development permits in Norway for new approaches, including several for semi-enclosed or enclosed cages that decrease the potential impact on ocean ecosystems.The number of companies building land-based operations is also growing, notably in the United States. That’s important as more countries consider investing in sustainable domestic sources of production. A recent study by nonprofit WorldFish suggested that "inland freshwater aquaculture and marine capture fisheries have far greater potential to continue to supply most of the world’s aquatic food and contribute to human equity and food security than offshore marine finfish farming." These self-contained operations are designed to address concerns about wastewater discharges in coastal waters, as well as concerns over viruses, parasites and microplastics that plague ocean and coastal operations.Also read: Waste Not: Novel Protein-Recapture Initiatives for AquacultureThe downside: They are incredibly capital-intensive, costing millions to get up and running. Among the emerging U.S. players are Aquabanq (a Maine salmon concern), Infinity Blue (a brand raising barramundi with aspirations in Arizona), Innovasea Systems (based in Boston) and Pure Salmon (which is building an operation in Virginia).Atlantic Sapphire, which is raising Bluehouse salmon on land in southern Florida and has invested upwards of $100 million in the facilities to do so, in November began selling its first fish raised without hormones, antibiotics or pesticides to supermarkets including the Publix supermarket chain. While its initial capacity is limited to about 10,000 metric tons of fish, the company aspires to supply 12 percent of the market by 2026. Its ultimate goal: 220 metric tons annually by 2030 — that’s nearly 1 billion salmon meals."By producing an increasing amount of seafood sustainably as farmers, the industry can help relieve pressure on wild stocks that might currently be overfished commercially. Raising salmon on land helps to avoid the effect on coastal areas, ensuring the well-being of our planet," observed Damien Claire, chief sales and marketing officer at Atlantic Sapphire.Publix Super Markets is already making a big bet on aquaculture, not just with salmon but with species such as cobia, shrimp, pompano and tripletail. "You have to be engaged in aquaculture, you have to be successful in aquaculture, to be successful in seafood," noted Guy Pizzuti, business development director for seafood at Publix.These are farms that bring back to the ocean as they bring back food.Of course, there are other creatures in the sea aside from finfish. One notable difference between the aquaculture industry emerging this decade and the focus of the past is that it’s not all about cultivating more animals. Seaweed is the fastest-growing segment of the industry. It is being considered more often as a sustainable alternative to plastic packaging, which gives farmers another potential buyer.For example, materials pioneer Loliware is creating seaweed straws that will be used by the likes of hotel chain Marriott and fast-casual restaurant chain Sweetgreen, which also has put kelp-inspired dishes on its menu. Food startup Akua is using kelp as a staple for jerky and pasta, and Blue Evolution is selling a range of products, including kelp popcorn. And in November, the Bezos Earth Fund made a $100 million grant to the World Wildlife Fund to support, among other things, the development of new markets for seaweed as an alternative to fossil fuel-based products.One nonprofit organization, GreenWave, is even advocating the idea of "regenerative ocean farming." Its aim is to support the development of polycultural operations that combine a mix of seaweeds and shellfish that require zero artificial inputs.Also read: There's an Ocean of Opportunity for Startups to Targeting The Seafood IndustryGreenWave’s pitch is that those with access to 20 acres, a boat and startup costs of $20,000 to $50,000 can start their own farm. Not only can these farms revive economic livelihoods for fishing communities that have seen local fisheries decline, they also can provide carbon sequestration benefits. One figure touted by the Eat More Kelp campaign suggests that the process of growing regenerative kelp can capture five times more CO2 than leafy vegetables such as kale or lettuce. "These are farms that bring back to the ocean as they bring back food," said GreenWave founder Bren Smith.For food retailers such as Publix, the primary environmental benefit of supporting aquaculture includes the ability to offer customers a certified product vetted for ecological considerations such as wastewater management, water quality, effluent discharge and health. Two of the biggest challenges the evolving aquaculture industry must overcome, Pizzuti noted, are customer perceptions over the impact of aquaculture practices and the price premium they still must pay over fish and seafood sold by commercial fishing operations.Still, as more food companies, investors and entrepreneurs cast their ideas into the ocean of aquaculture innovation, the greater the chances for a bountiful, sustainable catch. Source: greenbiz.com ...
UCSC Researchers Win Grant to Develop More Sustainable Aquaculture
Terkini

UCSC Researchers Win Grant to Develop More Sustainable Aquaculture

Their project involves creating algae-based fish feed for aquaculture and recycling wastewater to grow vegetables. If successful, it could offer sustainable solutions for one of the largest food sectors.“Aquaculture is the world’s fastest-growing food sector and has been for at least the last couple decades,” says Anne Kapuscinski, one of the project leaders and a professor of environmental studies and director of the coastal science and policy program at UCSC. Farmed fish are raised in captivity, but their feed contains fish meal and fish oil made from small, wild-caught fish like anchovies, herring and mackerel. These smaller species—called forage fish—make up an important part of the marine food web. Seabirds, larger fish and even humpback whales depend on them.Also read: Marine Ingredients Are Stable in Volume, Strategic in Aquaculture Nutrition“A lot of those marine organisms are themselves already endangered or their populations are declining. And with climate change starting to have impacts on our oceans, there is a growing concern and uncertainty,” Kapuscinski says. “It’s really not wise to be taking a bunch of those fish.” Aquaculture is the largest consumer of fish meal and fish oil in the world. Over 19 million tons of forage fish are harvested for it each year.“These are highly unsustainable practices,” says Pallab Sarker, an environmental studies associate research professor and aquaculture expert at UCSC who is leading the project with Kapuscinski. “It’s our obligation to do better for our planet.”UCSC scientists Pallab Sarker and Anne Kapuscinski working on their previous tilapia project. Photo: Devin FitzgeraldFish in BarrelSarker and Kapuscinski won the grant for their novel research into creating fish feed using microalgae—single-celled marine organisms also called phytoplankton that make up the base of the food web in all aquatic ecosystems.“What we want to do is allow aquaculture to develop in a more sustainable way and uncouple it from this fish meal and fish oil,” Kapuscinski says.The scientists will develop and process their own fish feed using a small-scale version of commercial feed mills.“It’s like making fancy spaghetti and then cutting it up and drying it,” Kapuscinski says. The researchers and their students will then feed groups of trout different formulas and monitor their health and growth. Also read: Clean Energy in Aquaculture: Using Technology to Grow Healthy FishThe project builds on previous work that Sarker and Kapusckinski led, where they focused on tilapia. But while tilapia already feed on algae in the wild, trout eat insects and other fish. This makes it harder to create nutritious and palatable feed for them using the single-celled phytoplankton.“We’re confident that we could eliminate the oil, or at least a lot of it,” Kapuscinski says. “It may be a little harder to eliminate all the fish meal. But part of why we won this grant is because we have some innovative ideas for how to blend different microalgae.”The researchers chose trout for their study, but they plan to apply what they learn to salmon farming as well. The two species have similar food needs and make up a large portion of the aquaculture sector.“This is a really exciting opportunity,” Sarker says. “I’m optimistic that we could develop a more ocean-friendly feed formula.”Farmed Fish as FarmersThe scientists will take their sustainable aquaculture plans a step further than just shifting the feed of farmed fish. They also plan to recycle their water. The system will circulate water through the tanks several times before the runoff goes to grow organic vegetables at the UCSC Farm. The wastewater from aquaculture contains nitrogen and phosphorus that plants need. “Instead of treating it as a waste, we have to think of it as a resource out of place,” Kapuscinski says. And by creating a closed-loop system, the researchers minimize the risk that runoff will create algal blooms or throw off the balance in natural ecosystems.Also read: Farmed Tilapia See Growth, Meat Quality Boost From Nerolidol SupplementKapuscinski and Sarker’s trout will be the first fish at UCSC’s new aquaculture facility. The pandemic delayed the start of the project and made finding trout for the experiment difficult. But the scientists plan to begin in the next few weeks. They expect the project to last a few years and hope to use it to teach students and community members about sustainable fish farming. “[Aquaculture] is going to remain an important part of the human food system,” Kapuscinski says. “So we have to steer it in an environmentally sustainable as well as socially-just direction.” Source: Goodtimes.sc ...
The Plan to Rear Fish on the Moon
Terkini

The Plan to Rear Fish on the Moon

The seabass eggs, all 200 of them, were settled in their module and ready to go. The ground crew had counted the eggs carefully, checked each for an embryo, and sealed them tightly within a curved dish filled precisely to the brim with seawater.The countdown, and then—ignition! For two full minutes, the precious eggs suffered a riotous shaking as the rocket’s engines exploded to life, followed by another eight minutes of heightened juddering as they ascended to the heavens. These embryonic fish were on their way to low Earth orbit. Next stop: the moon.Well, they haven’t actually left yet. But after a recent simulation designed to re-create the intense shaking of a typical takeoff, researchers in France found that the eggs survived the ordeal well. It’s a crucial discovery in the progress of the Lunar Hatch, a program that aims to determine whether astronauts could successfully rear fish on a future moon base.Ultimately, Cyrille Przybyla, an aquaculture researcher at the French Research Institute for Exploitation of the Sea who led the research, dreams of designing a lunar fish farm that uses water already on the moon to help feed residents of the future Moon Village set to be established by the European Space Agency (ESA). The Lunar Hatch project is just one of around 300 ideas currently under evaluation by the ESA, and may or may not be selected for the final mission. Przybyla’s hope, though, is to offer lunar residents fresh, appetizing, protein-rich food—not just packets of freeze-dried grub.“I proposed the idea to send eggs, not fish, because eggs and embryos are very strong,” says Przybyla.His experiments so far suggest that he is right. However, his team’s research has also suggested that not all fish are equally spaceworthy.To begin their search for the perfect astro-fish to serve on the moon, Przybyla and his colleagues whittled down a list of hundreds of species to just a handful—those with modest oxygen requirements, low carbon dioxide output, a short hatching time, and a resistance to charged particles, since life forms are exposed to radiation during space travel. They then decided to probe the integrity of eggs produced by two species—European seabass and meagre.Beakers containing the eggs were initially jiggled using a standard piece of lab equipment called an orbital shaker. They passed this first test. Then, they were exposed to much stronger vibrations using a different machine that shook them in a special sequence designed to simulate the launch of a Russian Soyuz rocket. The team argues that no spaceflight would ever induce juddering more extreme than that.After shaking, 76 percent of the seabass eggs went on to hatch, a result that wasn’t far off the 82 percent success rate of unshaken control samples. Compared to seabass, meagre eggs did even better: 95 percent of the shaken eggs hatched as opposed to 92 percent of those in the control group.“It was completely crazy,” says Przybyla in delight. “The environment was very hard for these eggs.”Przybyla suspects that, having evolved to withstand the adversities of aquatic environments—where they might endure strong currents, waves, and collisions with hard surfaces—the fish eggs are naturally space-ready.Besides the nutritional boon of moon-farmed fish fillets, Przybyla suggests there will be other benefits for astronauts who may one day find themselves rearing animals in space.“From the psychological point of view, it’s better to have a reminder of Earth—you have a garden, you have a tank with fish,” he says.Luke Roberson, a researcher at NASA’s Kennedy Space Center in Florida, agrees. Astronauts living on the International Space Station regularly spend time tending to and visiting the plants they grow on board, he says.“Add to that a pet fish or pet invertebrate—it adds another level of psychological benefit. That makes it feel more human,” says Roberson.Designing self-contained and self-supporting systems for food production beyond Earth will be crucial for future space exploration programs, he adds. And he says Przybyla’s study is “a great first step” toward showing that aquaculture is a viable part of that future.Roberson also points out that seabass is an interesting choice because the species is tolerant to varying levels of salinity. That might make it easier to accommodate them despite the moon’s limited water. And, he adds, the seabass could potentially be supplied with wastewater from other moon base systems that use water from the lunar environment to produce hydrogen-based rocket fuel.However, there could be an even more appropriate choice of lunar seafood out there. Roberson and colleagues recently considered the pros and cons of various species as candidates for off-world aquaculture. Invertebrates, such as mussels and shrimp, it turns out, might be an even better bet than seabass: “Vertebrate species take up a lot of space—and they don’t provide the caloric intake per mass,” says Roberson.Source: Hakai Magazine ...
Tantangan Besar Mewujudkan Budidaya Abalon
Terkini

Tantangan Besar Mewujudkan Budidaya Abalon

Nama kerang Abalon (Haliotis) masih belum bisa menempati posisi puncak popularitas di Indonesia hingga saat ini. Biota laut tersebut masih kalah populer dibandingkan nama-nama lain seperti Lobster (Panulirus spp.), Kepiting (Brachyura), ataupun Tuna, Cakalang, dan Tongkol (TCT).Walau sama-sama berharga mahal, namun Abalon sampai saat ini masih menjadi komoditas untuk kalangan terbatas dengan tingkat ekonomi yang masuk golongan atas. Dalam seporsi Abalon yang sudah dimasak, harganya bisa mencapai kisaran Rp1 juta.Mengingat potensi besar untuk perekonomian nasional, Pemerintah Indonesia mendorong pemanfaatan Abalon dilakukan melalui cara budi daya. Dorongan itu muncul, karena selama ini Abalon diperjualbelikan dengan cara mengambil langsung dari alam.Direktur Jenderal Perikanan Budi daya Kementerian Kelautan dan Perikanan (DJPB KKP) Slamet Soebjakto mengatakan, sebagai biota laut yang bernilai ekonomi tinggi, Abalon mendapatkan perhatian yang tinggi dari masyarakat pesisir di seluruh Indonesia.Hewan laut tersebut, tidak hanya dimanfaatkan dengan cara dimakan langsung, namun juga dijual di pasar lokal yang berdekatan dengan kawasan pesisir. Selain itu, Abalon juga menjadi komoditas ekspor yang dikirim ke sejumlah negara di Asia, Eropa, dan Amerika Serikat.Baca juga : Melongok Suksesnya Pengembangan Benih Abalon di Perairan BaliKementerian Kelautan dan Perikanan mendorong pengembangan budi daya abalon untuk mencari teknologi yang tepat dan mudah diterapkan. Foto : KKPAkan tetapi, walau sudah menjadi komoditas yang dimanfaatkan sejak lama, namun hingga sekarang pemanfaatan dengan cara budi daya masih dianggap sebagai cara yang baru. Untuk itu, diperlukan sentuhan inovasi teknologi yang harus terus dikembangkan, untuk mengejar produksi melalui budi daya.“Pengembangan budi daya Abalon masih sangat potensial dilakukan di Indonesia, mengingat perairan laut kita masih sangat luas dan cocok,” ungkap Slamet Soebjakto belum lama ini.Menurut dia, budi daya Abalon dapat memberikan alternatif atau tambahan penghasilan bagi masyarakat dan sekaligus memberikan dampak positif secara ekologi. Hal itu bisa terjadi, karena dengan budi daya, tidak akan lagi terjadi eksploitasi sumber daya Abalon di alam.Untuk melaksanakan pengembangan budi daya Abalon, KKP menunjuk Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Produksi Induk Udang Unggul dan Kekerangan (BPUI2K) Karangasem, Bali. Melalui prosesnya, teknik pembenihan dan pengembangan teknologi budi daya Abalon akhirnya berhasil dilakukan.“Dalam pengembangan budi daya Abalon, perlu diperhatikan kelayakan lokasi untuk budi dayanya, berdasarkan kondisi fisik perairan, kondisi kimia, dan akses ke lokasi budi daya,” terang dia.Baca juga : Teknik Budidaya Abalon Ramah LingkunganTeknologiHal lainnya yang juga perlu untuk diperhatikan, adalah keamanan dan perlindungan perairan untuk membangun konstruksi budi daya. Kemudian, aksesibilitas yang mudah dijangkau dan keamanan yang terjamin menuju lokasi budi daya, juga menjadi hal yang tidak boleh dilupakan.“Dan perlu dicatat, perairan harus bebas dari pencemaran, buangan industri, limbah pertanian ataupun limbah rumah tangga,” tambah dia.Jika semua hal yang harus diperhatikan tersebut dilaksanakan, maka budi daya Abalon diyakini akan bisa ikut mendorong kesejahteraan masyarakat pesisir, karena akan terjadi peningkatan pendapatan ekonomi bagi para pembudi daya Abalon dan nelayan.Untuk melaksanakannya, Slamet menyebut kalau budi daya Abalon bisa dilakukan dengan menerapkan sistem keramba jaring apung (KJA), jaring tancap, atau menggunakan keranjang-keranjang plastik yang sudah diberikan bahan pelindung (shelter).Agar proses budi daya bisa lancar, KKP terus melakukan inovasi teknologi untuk pengembangan budi daya Abalon, termasuk untuk pengembangan pembenihan, pendederan, dan pembesaran. Proses penciptaan inovasi dilakukan, agar teknologi budi daya Abalon mudah dilaksanakan oleh masyarakat.Jika teknologi untuk melaksanakan budi daya Abalon sudah efisien dan gampang untuk diterapkan oleh masyarakat, Slamet meyakini kalau budi daya komoditas tersebut akan semakin diminati. Dengan teknologi yang mudah, Abalon juga bisa mendatangkan rupiah yang tidak sedikit.Tambahan lagi, budi daya Abalon diyakini akan semakin diminati masyarakat, karena teknologinya tergolong ramah lingkungan dan tidak mencemari lingkungan sekitarnya. Semua itu bisa terjadi, karena tidak ada penggunaan bahan kimia untuk teknologi budi daya Abalon.“Hanya menggunakan mikroalga maupun makroalga sebagai pakan pada proses budi dayanya,” jelas dia.Baca juga : Sistem Bioflok, Teknologi Budidaya Baru untuk Ikan NilaAnakan kerang abalone (Haliotis squamata) yang dilepas untuk restocking perairan Pantai Mengening, Desa Cemagi, Mengwi, Badung, Bali pada Rabu (19/04/2017). Foto : Luh De Suriyani Kepala BPUI2K Karangasem Winarno, pada kesempatan berbeda menjelaskan bahwa proses pemijahan Abalon dilakukan setiap bulan dengan menggunakan metode penjenuhan oksigen. Untuk satu periode pemijahan yang dilakukan di BPUI2K Karangasem, dapat menghasilkan 2-3 juta trokofor.Trokofor sendiri tidak lain adalah jenis larva planktonik yang berenang bebas dengan beberapa baris silia. Dengan menggerakkan silia mereka yang cepat, sebuah pusaran air dibuat. Dengan cara ini mereka mengendalikan arah gerakan mereka.Sementara, untuk pemeliharaan induk Abalon, Winarno mengatakan bahwa itu dilakukan dalam bak fiber berkapasitas 1.500 liter yang di dalamnya sudah ada pelindung yang memakai sistem air mengalir. Setiap bak kemudian diisi 150 ekor induk Abalon dan diberikan pakan berupa rumput laut yang selalu tersedia.“Pemeliharaan induk Abalon dilakukan sampai matang gonad (organ reproduksi yang menghasilkan sel kelamin) dan siap dipijahkan,” jelas dia.Untuk pemeliharaan larva, itu dilakukan pada bak beton yang diberi sirkulasi air dan aerasi dengan pengaturan kecil. Kemudian, selama prosesnya diberikan pakan berupa bentik diatom. Larva Abalon dipelihara selama dua bulan hingga larva berubah menjadi benih berukuran satu sentimeter.Kementerian Kelautan dan Perikanan mendorong pengembangan budi daya abalon untuk mencari teknologi yang tepat dan mudah diterapkan. Foto : KKPProsesLebih jauh Slamet menerangkan, untuk menghindari proses persaingan makanan, maka proses penyortiran (grading) untuk menyeragamkan ukuran perlu dilakukan hingga empat kali dalam sebulan, yaitu saat berukuran 2 cm (3 bulan), 3 cm (4 bulan), 4 cm (5 bulan) dan 5 cm (kurang dari 6 bulan).Khusus untuk manajemen pakan, itu dilakukan sesuai umur Abalon yang dipelihara. Untuk umur satu bulan itu diberikan pakan berupa plankton jenis diatom dosis 1 juta sel per ml. Lalu, untuk umur dua bulan diberikan pakan berupa rumput laut jenis ulva dan gracilaria.“Hasil produksi benih Abalon yang berasal dari BPIU2K Karangasem didistribusikan ke beberapa daerah seperti Bali, Pulau Seribu, Bogor, Yogyakarta serta daerah lainnya di Indonesia,” papar dia.Untuk penggunaan benih Abalon yang dulunya hanya terbatas untuk kegiatan penelitian dan menunjang kegiatan restocking, saat ini sudah dapat dibudidayakan oleh kelompok nelayan atau pembudidaya dengan menggunakan sistem jaring tancap maupun KJA.Peneliti dari Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (BPBTA LIPI) Dwi Eny Djoko Setyono pada kesempatan sebelumnya menyebutkan kalau Indonesia memiliki banyak perairan pantai yang cocok untuk menjadi habitat Abalon.Baca juga: KKP Serahkan Bantuan dan Lepasliarkan 15.000 Benih Kakap di Pantai Bentar Kab. ProbolinggoMenurut dia, ada lebih dari 100 jenis Abalon yang tersebar di dunia, dengan tujuh jenis di antaranya adalah Abalon yang bisa ditemukan di perairan Indonesia. Dari tujuh yang ada, baru jenis Mata Tujuh (Haliotis asinina) dan Kaki Kuning (Haliotis squamata) yang sudah dipelajari dan dibudidayakan.Abalon sendiri termasuk jenis gastropoda laut yang bernilai ekonomi penting, karena nilai jual dagingnya yang tinggi untuk pasar ekspor. Namun, akibat dari tingginya nilai jual tersebut, populasi Abalon tropis di beberapa wilayah perairan Indonesia disinyalir telah dipanen secara intensif .“Dan telah mengalami tangkap yang berlebihan atau over fishing,” ucap peneliti bidang oseanografi terapan, khususnya bidang penelitian biologi laut dan marikultur itu menegaskan.Saat ini, upaya untuk melaksanakan budi daya Abalon sudah dilakukan di Indonesia, baik oleh Pemerintah maupun swasta. Namun demikian, karena kendala minimnya informasi dan pengetahuan dasar tentang aspek-aspek biologi dan budi daya Abalon, usaha tersebut belum berkembang seperti yang diharapkan. Sumber: Mongabay.co.id ...
Pemberian Pakan Ikan Belanak saat Monokultur ataupun Polikultur
Terkini

Pemberian Pakan Ikan Belanak saat Monokultur ataupun Polikultur

Ikan Belanak (mullet fish) adalah jenis ikan yang mengonsumsi zooplankton ataupun materi tanaman mati. Perut ikan ini berdinding tebal dengan saluran pencernaan yang panjang memungkinkan ikan belanak memakan detritus yakni partikel organik hasil dari proses penguraian. Saat dalam kondis larva, pakan utama ikan belanak adalah udang-udangan kecil, larva nyamuk dan sisa-sisa tanaman. Ikan belanak biasanya dibudidayakan di kolam semi intensif ataupun keramba jaring apung di perairan yang dangkal. Budidaya ikan belanak dapat dilakukan bersama dengan ikan lain, seperti ikan nila, bandeng, dan lainnya. Dapat dipelihara di air tawar dan air payau. Sebelum proses stocking, tambak atau kolam dibersihkan, dikeringkan dan dilakukan pemupukan.  Baca juga: Budidaya Ikan PatinTambak kemudian diisi dengan air hingga kedalaman 25-30 cm dan terus pada tingkat yang sama selama 7-10 hari untuk membangun suasana alami. Tambak kemudian diisi air hingga 1,5 m-1,75 m dan bibit ditebar. Pertahankan oksigen terlarut dalam kondisi optimum dengan menggunakan aerator. Terutama saat matahari terbenam. Ikan belanak harus berada pada kondisi kolam dengan salinitas yang tepat. Musim panen biasanya sekitar 7-8 bulan.  Jika ikan belanak dibudidayakan secara monokultur (tanpa keberadaan ikan lain), pemupukan tambak dilakukan cukup untuk mencapai tingkat pakan yang dibutuhkan. Pada banyak kasus, ikan belanak diberikan pakan yang terbuat dari kotoran ayam.Pertumbuhan ikan belanak juga harus diperiksa. Jika tingkat pertumbuhan tidak seperti yang diharapkan, tambahkan gandum dedak setiap hari dengan kadar 0,5-1 persen dari biomassa sebagai pelengkap pakan alami. Ketika ikan belanak dibesarkan dalam polikultur bersama dengan ikan mas, nila maupun bandeng, maka pemberian pakan dapat dengan cara pemberian pelet atau pakan khusus ikan.Baca juga: Pengelolaan Kualitas Air Kolam PatinDalam polikultur semi intensif, bersama ikan nila dan ikan mas, bibit ikan belanak ditebar dengan proporsi 2.470-3.705 ekor/hektar bersama dengan 1.850-2.470/hektar ikan mas muda dan 61.750-74.500 ekor benih ikan nila per hektar.  Jumlah panen biasanya adalah 2-3 ton ikan belanak per hektar.Setelah 7-8 bulan, ikan belanak biasanya akan mencapai ukuran 0,75 kg-1 kg. Jika ingin terus dibesarkan di kolam hingga musim berikutnya, ikan belanak dapat mencapai ukuran 1,5-1,75 kg. Sumber: Indah Sari Windu ...
Macronutrient Research in Aquaculture Nutrition
Terkini

Macronutrient Research in Aquaculture Nutrition

Globally, the aquaculture industry supplies 17.1 percent of the total animal protein for human consumption, with an estimated value of over (U.S.) $250 billion. Aquafeeds play a crucial role in ensuring this level of production, and the global aquafeed industry produced 44.4 million metric tons in 2017, valued at over $140 billion (Food and Agriculture Organization of the United Nations, FAO; SOFIA 2020).Most efforts on aquaculture nutrition research have been directed towards proteins, then lipids and carbohydrates (CHO). Protein provides amino acids, the building blocks of tissue, and is directly related to animal growth. Regardless of the species, trophic level, or culture environments, most aquatic species have a higher requirement for protein compared to terrestrial livestock species (poultry, swine and ruminants).Noteworthy, although aquatic species have higher protein requirements, their energy expenditure is much lower as they do not regulate their body temperature and inhabit an environment where the cost of movement is energetically lower. Due to these higher requirements, protein rich ingredients are added at high levels, typically ranging from 30 to 55 percent and consequently are the most expensive component of the diet. Lipids are next, and CHO are the lowest cost of these three ingredients on a volume basis. Although they make up a much smaller component of aquafeed, non-protein macro-nutrients are essential for growth, and their importance in different fish species may vary, requiring research to determine their optimal inclusion levels.Also read: Influence Of Diet Type on Gut Microbiome, Nutrient Assimilation in GIFT TilapiaResearch related to lipid nutrition has been increasing in the last decades. Lipids are a highly dense energy source, containing twice the energy content of other macronutrients. These molecules also participate in several essential physiological processes, as cell membrane structuring, hormonal steroid synthesis, and adequate immune system functioning. Protein-sparing effects [process used by the body to obtain energy from sources other than protein, including glycogen stores, fatty tissues and dietary fats] driven by dietary lipid content are reported for most fish species. Furthermore, some research has sought to achieve high-energy diet formulations by maximizing dietary lipid content without impairing fish performance and welfare. Several studies have reported on the importance of an adequate dietary ratio of macronutrients to improve performance and cost-effectiveness of formulations.Compared to protein and lipids, CHO is the least investigated macronutrient in the nutrition of aquacultured species. One reason could be the limited capacity of most fish and crustacean species to digest CHO and/or utilize glucose as a source of energy. Nevertheless, their inclusion in aquafeeds remains critical, particularly for herbivorous and omnivorous species, because they are an inexpensive and efficient energy source for species with low commercial value. In addition, the functional properties of CHO ingredients are essential in feed extrusion to manufacture robust, expanded and water-stable pellets.Beyond the effect of a specific macronutrient in fish production performance, it is crucial to study their interactions, as all ingredients play a part in feed formulation, muscle accretion, health and fillet quality. Accordingly, this article evaluates research efforts carried out between 1990 and 2020 for protein, lipid and CHO in aquaculture nutrition at a broad level, including the degree of emphasis placed on species with different physiology and ecology, as well as the commercial drivers affecting the focus of research.Considerable research efforts have reported on the importance of an adequate dietary ratio of macro-nutrients to improve performance and cost-effectiveness of aquafeed formulations.Study setupA systematic and comprehensive literature search in Scopus [the largest abstract and citation database of peer-reviewed literature, including scientific journals, books and conference proceedings] was carried out for protein, lipids and carbohydrates using three keywords: aquaculture, diet and protein/lipid/carbohydrate. The search criteria were as follows: containing “aquaculture” (throughout the manuscript), AND “diet” (title, abstract, or keywords), AND “protein or lipid or carbohydrate” (title, abstract or keywords). In other words, all papers contained aquaculture, diet and protein/lipid/carbohydrate at least one time in their texts.The next step in the search was to limit subject area to “Agricultural and Biological Sciences”; language to English; and timespan to 1990-2020. According to the Scopus categorization, the category of “aquatic science” belongs in “agricultural and biological sciences.”Scopus found 10,852 and 6,098, and 1,363 articles related to protein, lipid and CHO respectively, from aquaculture literature. A total of 807 papers contained all three macro-ingredients in a single trial, which did not necessarily mean all three macronutrients were investigated in the same experiment. For example, most papers were found to only investigate the effect of a single dietary macronutrient on the nutrient utilization of all macronutrients. Due to the large number of articles, it was not possible to separate all relevant papers; consequently, papers containing all three macro-ingredients in a single trial were not considered in this study. Data were visualized using a commercial program (GraphPad Prism® version 7, GraphPad Software Inc., San Diego, Calif., USA).Also read: New Method Documents Feed Nutrient UtilizationThe following marine, anadromous [migrating from saltwater to spawn in freshwater] and freshwater fish species were searched for:Sea breams: black sea bream, gilthead sea bream, red sea bream, yellowfin sea bream, Sobaity sea bream, blackspot sea bream, sharp snout sea bream, zebra sea bream, white sea bream, and striped sea bream.Sea basses: Asian sea bass, European sea bass, Japanese sea bass, spotted sea bass, white sea bass, black sea bass.Yellowtails: kingfish, longfin yellowtail, Mediterranean yellowtail, California yellowtail.Pompanos: Florida pompano, golden pompano, silver pompano, Plata pompano.Croakers: yellow croaker, Chu’s croaker, giant croaker and Atlantic croaker.Drums: red drum, Shi drum, cuneate drum.Flounders: olive flounder, Brazilian flounder, southern flounder, starry flounder, summer flounder, Cortez flounder, winter flounder, yellowtail flounder.Groupers: pearl gentian grouper, orange-spotted grouper, leopard coral grouper, giant grouper, humpback grouper, kelp grouper, brown-marbled grouper, red-spotted grouper, white grouper, Hong Kong grouper, polka-dot grouper, greasy grouper, Nassau grouper.Salmons: Atlantic salmon and chinook salmon.Catfishes: sutchi catfish, silver catfish, yellow catfish, channel catfish, African catfish, Ussuri catfish, Indian butter catfish, hybrid catfish, freshwater catfish, striped catfish, stinging catfish, Sangkuriang catfish, Asian red-tailed catfish, river catfish, neotropical catfish, Amazonian pimelodid catfish, South American catfish, Mekong giant catfish, Amur catfish, European catfish, dark barbel catfish, Bocourti’s catfish, silver grey catfish, wels catfish, tra catfish, bagrid catfish, pangasius catfish, Chinese long-snout catfish, common catfish, jundiá catfish, pacamã catfish, blue catfish, eastern catfish, cachara catfish, shovelnose catfish, long-whiskered catfish, surubim catfish, walking catfish, Australian catfish, clariid catfish, Indian catfish, Chinese catfish.Other finfish species: Atlantic cod, cobia and turbot.Also read: Marine Ingredients Are Stable in Volume, Strategic in Aquaculture NutritionThe following invertebrate species were searched for:Freshwater prawns: oriental river prawn, river prawn, Amazon river prawn, monsoon river prawn.Marine decapods: Baltic prawn, Kuruma prawn, Chinese prawn, whiteleg shrimp, black tiger shrimp, mud crab, horseshoe crab, spider crab, spiny lobster, European lobster, American lobster, Norway lobster, slipper lobster.Crabs: mitten crab, mud crab, sesarmid crab, swimming crab, horseshoe crab, spider crab.Crayfishes: spiny lobster, European lobster, American lobster, Norway lobster, slipper lobster, red swamp crayfish, crayfish marron, narrow clawed crayfish, Procambarus acanthophorus, noble crayfish, Southern Chilean freshwater crayfish, Australian red claw crayfish, signal crayfish, Procambarus llamasi, Australian freshwater crayfish.The articles obtained from each of these searches were categorized by macronutrient (protein, lipid or CHO), species, publishing country, publishing journal and trophic level of species investigated and were organized in column graphs for visual interpretation.ResultsOf the research publications identified in our search, most peer-reviewed studies were conducted in the United States and China, followed by Spain, Norway and Australia. In terms of journals and aquatic species, specialized scientific journals such as Aquaculture, Aquaculture Nutrition and Aquaculture Research were the most targeted, and the salmonids and marine finfish were the species most studied.Regarding publications per macronutrient, as expected, the number of peer-reviewed published papers from 1990 to 2020 investigating proteins was higher than lipids and carbohydrates in most countries, as shown in Fig. 1. Fig. 2 presents the number of peer-reviewed articles published from 1990 to 2020 and related to protein, lipid and carbohydrate by trophic levels, as well as the trophic levels [position of organisms in a food web] of top aquacultured species.Fig. 1: Number of published, peer-reviewed articles by countries (A) or by journals (B) since 1990 and related to protein, lipid and carbohydrate research on the top produced species according in 2018, according to FAO 2020.Fig. 2: A The number of peer-reviewed published articles from 1990 to 2020 related to protein, lipid, and carbohydrate by trophic levels (high = 4-5, medium = 3-4, low = 2-3); and B. trophic levels of top species. Source: FishBase (http://www.fishbase.org/search.php).Top culture species based on volume, included tilapia, carps, rainbow trout, catfishes, whiteleg shrimp, black tiger shrimp and crayfish. More specifically, the total number of papers for top finfish species related to protein, lipid, and CHO were 5594, 3020 and 609, while for crustacean species were 973, 469, and 122, respectively. In marine fish and cold-water species, the difference between lipid and protein research is reduced, but protein was still the priority (Fig. 3). Interestingly in salmons (Atlantic and chinook), the number of articles related to lipid and protein were similar.The total number of articles in carps closely reflects their market needs and production. Among the top six species, grass carp, common carp, and crucian carp were the three most produced species in China. Similarly, the Indian major carp species – catla (Catla catla), rohu (Labeo rohita) and mrigal (Cirrhinus cirrhosus) – are the most researched South Asia species, especially in India. Although there is a large number of research studies on silver carp and bighead carp in China, nutritional reports are still limited because of their filter-feeding habits (extracting supplemental nutrition from the environment) and lower market value. Carps are mostly herbivores; thus, the number of CHO articles is the second highest for carps, where the highest number of CHO articles was in marine fish, and substantially higher than that of any other species.The number of articles for protein vs. lipid vs. CHO followed the same trend discussed previously. Additionally, there was a wide range of topics related to protein and lipids, such as their source, optimal dietary inclusion and replacement of fishmeal or fish oil. These factors contribute to the differences in the article numbers reported in carps for the three macronutrients.Also read: Fish nutrition Will Fuel Aquaculture’s FutureDiscussionProtein and lipids, or more specifically amino acids and fatty acids, respectively, are both required by fish and crustaceans for optimal growth and development, in contrast to CHO, and its simpler sugars. High-protein diets are costly and generate strong commercial interest in reducing dietary cost through protein R&D. Although some essential lipid sources can also be expensive, most lipid sources are used as an affordable digestible energy source and make up a small fraction of the diet (1 to 8 percent) for most farmed species, except for salmonids and carnivorous marine fish. For these latter species, the industry is ever more reliant on high energy diets containing increasing inclusions of cost-effective digestible lipids.The large number of protein studies obtained from fish and shrimp research may also reflect the diversity of protein sources and amino acids supplements. In contrast, there are fewer commercially available sources of digestible energy and essential fatty acids for aquatic species. In this sense, the lack of diversity could be one explanation that tends to drive fewer R&D efforts into lipids and CHO. Also, many marine meals classified as protein sources have the added benefit of providing a crucial residual lipid fraction (10 to 15 percent) which contains sufficient omega-3 long-chain polyunsaturated fatty acids (LC-PUFA) for many fish species, and cholesterol for crustaceans.Protein requirements have been evaluated for many fish and shrimp species, but the nutritional value of all protein ingredients is not well established, particularly for novel protein ingredients.Optimizing the protein-sparing effect by supplying lipids and CHO as non-protein energy is key to making diets more cost-effective and environmentally friendly (excess amino acids are excreted as ammonia leading to low water quality and eutrophication). Moreover, lipids are accepted at higher inclusion rates in carnivorous fish diets (20 to 40 percent for salmon) than omnivorous species or crustacean (4 to 15 percent), which tend to derive more energy from CHO sources than from lipids. The latter also have less capacity to metabolize and store fat in fillets.According to recent studies, lipids from terrestrial plants and rendered animal by-products are a cheap source of digestible energy, resulting in cost-effective and sustainable formulation to satisfy animal energy demands. While specific lipid sources such as omega-3 LC-PUFA, phospholipids, and cholesterol are required to a variable extent in different life stages of finfish, for crustaceans this is essential. Therefore, most research has investigated the possibilities to provide terrestrial alternatives as a source of energy and spare those essential lipid sources (particularly omega-3 LC-PUFA). Traditional sources of essential lipids have typically originated from marine-derived resources such as fish, squid and krill oils and residual lipid fractions in their respective meals. Novel sources from marine algae (e.g., Thraustochytrids, Aurantiochytrium and Schizochytrium) and genetically modified, DHA-rich canola already are commercially available. These will be increasingly used in years to come.The overlooked CHO component of aquafeeds provides the opportunity to further explore the non-protein related characteristics of various ingredients, including their potential immunostimulant and functional properties. Another prospective area of research involves a better understanding of the mycotoxins content in CHO-based ingredients for the major aquatic cultured species. In this sense, these recent and growing lipid- and CHO-related topics may contribute to more evenly distributed, future research efforts among protein, lipid and CHO.Baca juga: Nutrition for Aquatic Animals and Related ProblemsAlthough protein requirements have been examined for many fish and shrimp species, the nutritional value of protein ingredients is not established, particularly for novel protein ingredients. While necessary to an extent, dietary protein catabolism [metabolic pathway to break down molecules for their use by the body] is an inefficient and costly source of energy compared to lipids or CHO. Due to the complexity surrounding the “black-box” of protein metabolism in living organisms, an ingredient’s nutritional value is challenging to determine and often species-specific. Significant research efforts have been directed towards balancing the cost of an ingredient and the efficiency of protein conversion.Interestingly, nutrition research is often focused on a single macronutrient for rigorous assessment and to simplify the experimental design. Balancing the levels of all three digestible macronutrients can lead to nutritional improvements beyond the effect of a single nutrient.  Due to the diversity, cost and volume of protein sources, potentially there is more opportunity and research funding to conduct proper research on protein. The focus towards replacing fishmeal as a finite resource has generated a flurry of R&D activities in the space of novel protein alternatives, initially plant and animal-byproduct sources and now increasingly from microbial, microalgal and insect protein sources.It is important to equally consider the three macronutrients (protein, lipid, carbohydrate) in formulations, as each will influence animal performance and feed conversion efficiency.The broad diversity of aquaculture species (over 600 species) makes the nutritional studies on protein requirements particularly essential and challenging. Protein research likely will continue to play a major role in optimizing growth performance, with lipid research focusing on achieving cost-effectiveness, health and improved product quality (levels of omega-3 LC-PUFA), and CHO research centered around least-cost feed formulations, aquafeed manufacturing and water stability.PerspectivesConsidering the volume of major aquacultured species produced (carps 31.5 percent; tilapia 13.2 percent; and other species such as catfish, marine shrimp, marine fish species and salmon representing 37.6 percent of the global volume) – per data from the Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO 2019) – lipids and CHO-based ingredients are worth at least half of the global aquafeed production costs. These macronutrients represent an essential economic component, not only for the feed mills but for the entire aquaculture industry.Future research focused on improving not only animal productivity – but also cost-efficiency, health and environmental impacts – will need to shift focus from protein-rich sources and increasingly consider the role of lipids and carbohydrates (CHO) in future formulations. Source: Global Aquaculture Alliance ...
Menakar Target 16 Juta Ton Produksi Udang 2024
Terkini

Menakar Target 16 Juta Ton Produksi Udang 2024

Indonesia termasuk lima besar produsen udang di dunia dengan besaran produksi di bawah 1 juta ton per tahun. Sementara posisi teratas produsen udang di dunia dipegang China, disusul Ekuador, Vietnam, dan India.Indonesia dengan total panjang pantai mencapai 81.000 km, peluang untuk pengembangan budidaya perairan kawasan air payau dari berbagai komoditas penting dan bernilai ekonomis masih sangat terbuka lebar. Bandingkan dengan total panjang garis pantai negara lain seperti China yang memiliki 16.840 km, disusul Ekuador 2237 km, Vietnam dengan 3444 km, dan India sepanjang 7000 km.Setelah melihat data tersebut, pernyataan Menteri Kelautan dan Perikanan (KP) Sakti Wahyu Trenggono yang menargetkan jumlah produksi udang sebesar 16 juta ton pada tahun 2024 dengan cara membuka lahan tambak sebesar 200 ribu ha menurut hemat saya terlalu terburu-buru dan prematur di tengah gencarnya program terkait sektor perikanan budidaya yang didengungkan oleh kementerian.Baca juga: Ini 6 Rekomendasi Forum Udang Indonesia untuk Tingkatkan Ekspor Udang 250%Pertama, peningkatan produksi tidak selalu bergantung pada luasan yang dipergunakan, tetapi lebih ke arah teknologi yang dikembangkan dan bagaimana proses dan sistem budidaya itu dilakukan (intensifikasi) yang berbasis ekologi. Sistem budidaya secara tradisional dan semi intensif masih sangat banyak dan masih sangat berpeluang untuk di upgrade ke sistem dan teknologi budidaya di atasnya.Kedua, kebijakan alih fungsi lahan menjadi tambak berpotensi besar akan terjadinya pembabatan hutan mangrove yang semakin masif, bisa kita dibayangkan bahwa ekosistem mangrove menghadapi tekanan dari luar yang luar biasa selain alih fungsi lahan menjadi tambak seperti pembangunan industri, reklamasi penambangan pasir, dan lain-lain.Ketiga, simplifikasi perizinan dengan adanya UU Nomor 11 tahun 2020 (Cipta Kerja) ekspansi usaha besar-besaran dapat diarahkan ke daerah pesisir tanpa mempertimbangkan daya dukung dan daya tampung lingkungan. Lalu bentuk 200 ribu ha yang dicanangkan oleh Menteri KP berasal dari pengusaha atau dalam bentuk UPT yang didirikan oleh Kementerian KP dan tersebar di seluruh pelosok negeri, hal ini patut kita tunggu.Baca juga: KKP Siapkan Sertifikasi Tepung Ikan Lokal, Ini AlasannyaKeempat, dalam upaya meningkatkan target produksi udang Kementerian KP harus memperhatikan peningkatan sumber daya manusia dan kesejahteraan tenaga kerja yang ada di sektor tersebut. Kementerian KP harus mengusulkan dan memperbaiki UU Nomor 16 tahun 1964 tentang bagi hasil perikanan sehingga tenaga kerja yang ada mendapat perlindungan dan jaminan dari pemerintahSalah satu kunci yang bisa diupayakan adalah dengan kembali ke prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development); kita harus menghitung terlebih dahulu daya dukung dan daya tampung lingkungan tanpa mengabaikan sektor ekonomi masyarakat. Kemudian pengelolaan budidaya yang menerapkan best management practices adalah hal yang mutlak disertai dengan peningkatan sumber daya manusia di berbagai sektor terkait dan juga (intensifikasi) lahan budidaya.Dengan adanya pengembangan dan pengelolaan yang mengutamakan prinsip pembangunan berkelanjutan, wilayah pesisir untuk usaha budidaya secara spesifik lokal tersebut diharapkan masyarakat yang bermukim di wilayah pesisir dan kawasan air payau dapat memperoleh dampak positifnya, yaitu dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan.Baca juga: Potensi Bisnis: Berikut 5 Macam Ikan Konsumsi yang Mudah untuk DibudidayakanSudah saatnya kita lebih memperhatikan kepentingan masyarakat yang lebih luas, dan keselamatan lingkungan dijadikan sebagai hal yang lebih utama, bukan tunduk pada kepentingan investasi dan bisnis skala besar.Wahyu Isroni, S.Pi, M.P dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga Sumber: news.detik.com ...
Budidaya Ikan Dikembangkan di Pesantren
Terkini

Budidaya Ikan Dikembangkan di Pesantren

Dinas Kelautan dan Perikanan DIY menyerahkan bantuan senilai Rp60 juta ke Pondok Pesantren Alhikmah di Dusun Sumberejo, Karangmojo, Karangmojo, Jumat (15/1/2021). Bantuan diserahkan untuk mendukung pengembangan budidaya ikan di kalangan pesantren.Kepala Seksi Pengembangan Usaha Budidaya, Dinas Kelautan dan Perikanan DIY, Non Prihatin Budiyarti mengatakan, bantuan senilai Rp60 juta yang diberikan merupakan program dari Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Perikanan dan Kelautan. Bantuan untuk mendukung embrio budidaya ikan yang sudah dikembangkan di pondok pesantren, khususnya di Ponpes Alhikmah.Baca juga: Berbasis Pesantren, Ridwan Kamil Harap Ekspor Udang NaikMenurut dia, budidaya ikan di lingkungan pesantren memiliki banyak manfaat. Selain untuk melatih kewirausahaan, hasil budidaya juga bisa dimanfaatkan mencukupi kebutuhan gizi para santri. “Diharapkan bantuan bisa meningkatkan usaha dalam pengembangan budidaya ikan,” katanya.Pengurus Pondok Pesantren Alhikmah, Hanung Hisbullah Hamda mengatakan, usaha budidaya ikan yang dikembangan adalah ternak lele. Menurut dia, usaha tersebut sudah membuahkan hasil karena sudah memasuki masa panen. “Alhamdulillah hasilnya bagus,” katanya.Program itu menjadi stimulan untuk pengembangan budidaya yang lebih besar lagi. “Sangat bermanfaat dan kami senang menerimanya,” katanya.Baca juga: Budidaya Ikan Berbasis Kawasan, Solusi Ciptakan Lapangan KerjaKepala Dinas Kelautan dan Perikanan Gunungkidul, Krisna Berlian mengatakan, pihaknya mengapresiasi program budidaya ikan di lingkungan Ponpes Alhikmah. Menurut dia, usaha ini memiliki banyak manfaat, salah satunya mendukung program gemar makan ikan yang digalakan oleh pemerintah. “Jelas kami mendukung dan mudah-mudahan bantuan yang diberikan bisa memberikan manfaat, khususnya mengembangkan usaha budidaya,” katanya. Sumber: Jogjapolitan.harianjogja.com ...
Fish nutrition Will Fuel Aquaculture’s Future
Terkini

Fish nutrition Will Fuel Aquaculture’s Future

Can nutrition help to improve sustainable aquaculture, is one of the questions being researched by Dr. Monica Betancor, a lecturer at the University of Stirling in Scotland, who works as part of an international nutrition research group.“Fish nutrition and fish health are intrinsically linked, and nutrition also impacts on the end products eaten by consumers,” she said during a recent webinar session organised by the Women in Scottish Aquaculture group.Betancor explained that by 2050, the demand for animal protein is predicted to almost double, with marine-based proteins making a more significant contribution to consumer diets. As the most efficient form of animal production, aquaculture is a natural fit to meet this need. The current estimated amount of feed required to gain one kilogram of body mass in different animals is 1.1 kilograms for farmed fish, 1.7 kilos for chicken, 2.9 kilos for pigs and 6.8 kilos for cows.“But if aquaculture production is to fulfill its potential, greater investment needs to be made in sustainable feeds, which implies the use of resources at rates that do not exceed the capacity of the Earth to replace them,” she said.Monica Betancor, University of Stirling.Using Norway as an example, she explained that considerable advances have been seen in fish feed since the early 1990s, when up to 90 percent of the composition of salmon feed was marine protein and marine oil, with the remainder being starch.Since then, as salmon farming has advanced, the proportion of marine protein has fallen to less than 20 percent and marine oil to around 5 percent, with the remainder made up of increasing percentages of plant proteins, plant oil and micro-ingredients. The proportion of starch has remained roughly constant.“Replacing marine sources with vegetable proteins may sound good, but it does not necessarily help us move towards a zero carbon footprint and may contribute to deforestation,” Betancor said. “When considering the carbon footprint of feed, terrestrial ingredients such as soybean or palm kernel meal, which have to be transported across the world, have a far higher carbon footprint than locally sourced poultry meal or mixed rendered animal byproduct meal.”Problems with PAPsHowever, alternatives come with issues. Animal byproducts such as meat and bone meal, processed animal proteins, blood meal, poultry meal and feather meal, are high in protein, cheap and contribute towards a zero-waste solution. But they suffer from poor public perception, a lack of omega-3 fatty acids found in oily fish, and are limited by legislation, particularly in the European Union (EU). Here, fish cannot be fed processed animal proteins derived from ruminants (sheep, cows), which are considered to be high risk, although poultry- and swine-derived products may be used.One of the biggest barriers to use of products of animal origin (PAP) in the EU, is consumer and retailer perception. A short poll by the University of Stirling found that while feed companies are happy to use PAP in their feeds and UK consumers would support its use if it led to cheaper salmon, retailers were not keen to risk the potential for bad publicity.“Elsewhere in the world, in Chile for example, it is common to include PAP in salmon feed, and this cheaper fish ends up on UK supermarket shelves, so why not sanction its use here?” Betancor said.According to the World Renderers Organisation, animal byproducts are widely available, with more than 12 million metric tons (MT) processed annually.Other menu itemsTo make aquaculture more sustainable, Betancor has been researching the use of alternative protein and lipid sources that either boost or maintain omega-3 levels, which are essential both to fish and human health. She is also working on several projects to see if fish can make better use of nutrients.Alternatives currently commercially available are insect meals, microbial or single cell proteins, and microalgae. Insect meal can be locally produced, grown on feed-grade substrates and have a short lifecycle. Seven species are currently approved for use as in feeds, including mealworms, crickets and black soldier flies.“Insects have a reasonably positive public perception and one French supermarket actively promotes its own-label insect-fed trout,” Betancor said.If aquaculture production is to fulfill its potential, greater investment needs to be made in sustainable feeds.Scalability is currently a limiting factor, along with the high chitin content of insects, which can impact digestibility. However, Betancor explained that a short project she was involved in examined the benefits of using insect meal as a probiotic functional ingredient by fermenting it with different microbes to improve digestibility.“By including just 5 percent of the resulting product in feed, the protein content of Atlantic salmon parr in the trial was increased, and their immune status improved,” she said.In October 2020, a new project called ‘ilnsect’ was set up to establish the UK as a world-leading centre of excellence for highly automated, low-cost black soldier fly farming technology.“The aim is to demonstrate the UK’s first industrial-scale insect bioreactor that will recycle food waste into live larvae and frass, and prove the viability of the meal in aquafeed through commercial salmon trials,” Betancor said.Microbial meals, made from single-cell proteins, can be derived from bacteria, yeast or microalgae, and the two main players in this field are FeedKind which produces Calysta, and Deep Branch, which produces Proton. Microbial sources score highly on protein and omega-3 content, but are not yet scalable to the level needed, and have low digestibility.Potential sources of single-cell protein productsA new £3 million-plus project, REACT-FIRST, is investigating the commercial-scale viability of transforming carbon dioxide from industrial emissions into animal feed, and will gather data about the cost, digestibility, nutritional quality and carbon footprint of Proton. Partners from across the supply chain will enable a full analysis through to market deployment via a major retailer.Microalgae are primary producers of the fatty acids EPA + DHA in the aquatic environment and are used in several different microalgae based biomass products.“AlgaPRIME, DHAgold, DHANatur, Forplus and Nymega are all rich in DHA, but can only be included in fish feed in limited quantities, due to digestibility issues, whereas Veramaris has specialised in algal oil, which has a 1:2 ratio of EPA:DHA,” Betancor said.Boosting omega-3 levelsThe need to improve omega-3 levels in salmon is based around scientific recommendations for human health. The International Society for the Study of Fatty Acids and Lipids (ISSFAL) recommends eating 3.5 grams of EPA+DHA each week. Eicosapentaenoic acid (EPA) and docosahexaenoic acid (DHA), are two essential omega 3 long-chain polyunsaturated fatty acids (LC-PUFA).In 2006, according to studies by the University of Stirling, one portion of Scottish salmon provided 3.9 grams of EPA+DHA, but by 2016, this had reduced to 1.9 grams of EPA+DHA, as the level of vegetable protein and oil in salmon feed increased.This has led to a need to identify alternative lipid sources that are high in marine ingredients and low in terrestrial plant ingredients, which can help to boost EPA+DHA levels. Alternatives include copepods, krill, microalgae and genetically modified (GM) organisms.GM yeast and oilseed crops may be rich in either EPA or DHA alone, or a combination of both, and several commercial products are currently available. Aquaterra/Nuseed and BASF/Cargill use canola plants, and Rothamsted Research in the UK has been undertaking promising trials with Camelina sativa.The process works by selecting and cloning genes involved in LC-PUFA biosynthesis from marine algae, which are introduced into plants. These in turn, reproduce with their novel fatty acid composition. Only the fatty acid profile of the seed is affected in the transgenic process; all other aspects of the plant remain the same.According to Betancor, incorporating oil into feed reduces public concern about the transfer of trans genes into fish, but in general, their perception of any GM product is poor in Europe and education is urgently needed about its potential benefits.“Regulatory barriers also exist, making it illegal to grow GM crops in some countries, and even where they can be grown, many farmers are wary of using them for fear of having their crops destroyed by vigilantes,” she said.The potential of nutritional programmingAn alternative way to boost omega-3 levels in fish, and one which Betancor finds exciting, is using nutritional programming to improve the utilization of sustainable feeds in aquaculture. The process works by giving fish a nutritional stimulus through a diet containing different levels of polyunsaturated fats. This encourages a change in the metabolism of the fish, which in turn helps to improve nutrient utilization.“One of our current programs, Nutriprog, is looking at the long-term effects of nutritional programming in fish, and how it affects their ability to produce EPA+DHA,” she said.The first feeding trial used marine and vegetable stimulus diets for two weeks, followed by a marine diet for 12 weeks, before a further six- week period on a vegetable diet. Initial results indicate that fish stimulated with the vegetable diet at an early stage, showed a net gain of EPA+DHA after the six-week challenge, whereas those initially fed with a marine diet, lost DHA+EPA during this time. “These fish have now been put out to sea and it will be interesting to see if the early changes we found will last through the whole growth cycle,” she said. Source: Global Aquaculture Alliance ...
Budidaya Cacing Sutra
Terkini

Budidaya Cacing Sutra

Cacing sutra (tubifex sp) atau sering dikenal dengan nama cacing rambut kini mulai banyak dibudidayakan, selain cara pembudidayaan yang relatif gampang, ternyata permintaan pasar terhadap cacing ini cukup besar. Bahkan banyak yang mulai diekspor hingga ke mancanegara.Peluang budidaya cacing sutra ini merupakan salah satu peluang usaha dengan modal kecil tetapi bisa menghasilkan untung yang berlimpah. Cacing sutra sangat dibutuhkan para peternak ikan lele dan ikan hias untuk pakan.Syarat Hidup Cacing SutraCacing sutra hidup pada subtrat lumpur dengan kedalaman 0-4 cm. Sebagai salah satu heman air tawar, air sangat berfungsi penting untuk kelangsungan hidup cacing ini. Parameter kualitas air supaya cacing ini dapat hidup secara optimal :pH : 5.5 – 8.0Suhu : 25 – 28 cDO : 2.5 – 7.0 ppmUsahakan terdapat air mengalir dengan debit yang kecilCacing sutra tergolong hewan hermaprodit yang berkembang biak melalui telur dengan pembuahan secara eksternal. Telur yang dibuahi oleh jantan akan membelah jadi dua sebelum menetas.Baca juga: Budidaya Cacing Sutera Dorong Produksi Benih Ikan NasionalTeknik Budidaya Cacing SutraPersiapan Bibit Cacing SutraBibit cacing sutra dapat dibeli dari toko ikan hias atau diambil dari alam dengan catatan sebaiknya bibit cacing di karantina terlebih dahulu karena ditakutkan membawa bakteri patogen. Cacing dikarantina 2-3 hari dengan dialiri air bersih dengan debit yang kecil dan memiliki kandungan oksigen yang cukup.Persiapan Media Tumbuh Cacing SutraMedia tumbuh dibuat sebagai kubangan lumpur dengan ukuran 1 x 2 meter yang dilengkapi saluran pemasukan dan pengeluaran air. Setiap kubangan dibuat petakan petakan kecil ukuran 20 x 20 cm dengan tinggi bedengan atau tanggul 10 cm, antar bedengan diberi lubang dengan diameter 1 cm.PemupukanLahan di pupuk dengan dedak halus atau ampas tahu sebanyak 200 – 250 gr/M2 atau dengan pupuk kandang sebanyak 300 gr/ M2 untuk sumber makanan cacing. Cacing sutra sangat menyukai bahan organik sebagai bahan makanannya.Beli cacing sutra disini!Cara pembuatan pupuk :- Siapkan kotoran ayam, jemur 6 jam agar kering dan gas berbahaya dapat menguap.- Siapkan bakteri EM4 atau fermentor lainnya untuk fermentasi kotoran ayam tersebut. Fermentor banyak terdapat di toko pertanian, perikanan, dan peternakan.- Aktifkan bakterinya dengan cara menambahkan ¼ sendok makan gula pasir + 4ml EM4 + dalam 300 ml air terus diamkan kurang lebih 2 jam.- Campur cairan itu ke 10 kg kotoran ayam yang sudah di jemur tadi, aduk hingga rata.- Selanjutnya masukkan ke wadah yang tertutup rapat selama 5 hari agar kotoran ayam dapat terfermentasi dengan benar.- FermentasiBertujuan untuk menaikkan kandungan N-organik dan C-organik hingga 2 kali lipat. Caranya adalah lahan direndam dengan air setinggi 5 cm selama 3-4 hari.Penebaran BibitBibit ditebarkan secara merata. Diusahakan selama proses budidaya lahan dialiri air dengan debit 2-5 Liter/detik (arus lamban)- Pemeliharaan Cacing Sutra- Lahan uji coba berupa kolam tanah/terpal berukuran 8 x 1,5 m dengan kedalaman 30 cm.- Dasar kolam uji coba ini hanya diisi dengan sedikit lumpur (gunakan lumpur bebas limbah kimia).- Apabila matahari cukup terik, jemur kolam minimum sehari. Bersamaan dengan itu, kolam dibersihkan dari rumput atau hewan lain yang berpotensi menjadi hama bagi cacing sutra.- Pipa Air Keluar dipastikan berfungsi dengan baik.Pipa Pengeluaran ini sebaiknya terbuat dari bahan paralon berdiameter 2 inci dengan panjang sekitar 15 cm.- Usahakan kondisi dasar kolam bebas dari bebatuan dan benda-benda keras lainnya. Hendaknya konstruksi tanah dasar kolam datar.- Dasar kolam diisi dengan lumpur halus hingga ketebalan dasar lumpur mencapai 10 cm.- Tanah dasar yang sudah ditambahi lumpur diratakan, sehingga benar-benar terlihat rata dan tidak terdapat lumpur yang keras.- Untuk memastikannya, gunakan aliran air sebagai pengukur kedataran permukaan lumpur tersebut. Jika kondisinya benar-benar rata, berarti kedalaman air akan terlihat sama di semua bagian.Baca juga: Melihat Budidaya Cacing Sutera dengan Sistem Apartemen- Masukkan kotoran ayam kering sebanyak tiga karung ukuran kemasan pakan ikan, sebar secara merata .- Setelah dianggap datar, genangi kolam tersebut hingga kedalaman air maksimum 5 cm, sesuai panjang pipa pembuangan.- Pasang atap peneduh untuk mencegah tumbuhnya lumut di kolam.- Kolam yang sudah tergenang air tersebut dibiarkan selama satu minggu agar gas yang dihasilkan dari kotoran ayam hilang. Cirinya, media sudah tidak beraroma busuk lagi.- Tebarkan 0,5 liter gumpalan cacing sutra usahakan gumpalannya terurai.- Cacing sutra yang sudah terurai ini kemudian ditebarkan di kolam budi daya ke seluruh permukaan kolam secara merata.- Seterusnya atur aliran air dengan pipa paralon berukuran 2/3 inci.Pakan Cacing SutraCacing sutra termasuk makhluk hidup, makanannya adalah bahan organik yang bercampur dengan lumpur atau sedimen di dasar perairan. Cara makan cacing sutra adalah dengan cara menelan makanan bersama sedimennya. Cacing sutra mempunyai mekanisme yang dapat memisahkan sedimen dengan makanan yang mereka butuhkan.Panen cacing sutraPanen cacing sutera dilakukan setelah budidaya berlangsung beberapa minggu dan selanjutnya bisa dipanen setiap dua minggu sekali. Cara pemanenan cacing sutera dengan menggunakan serok halus. Cacing sutera yang masih bercampur dengan media budidaya dimasukkan kedalam ember atau bak yang diisi air, kira –kira 1 cm diatas media budidaya agar cacing rambut naik ke permukaan.Ember ditutup hingga bagian dalam menjadi gelap lalu biarkan selama 6 jam. Cacing rambut yang menggerombol diatas sudah dapat dipanen. Dengan metode ini cacing sutera dapat dipanen sebanyak 30 – 50 gram/m2 per dua minggu. Sumber: Dunia Air ...
PT Suri Tani Pemuka Salurkan Bantuan untuk Korban Bencana di Kalsel
Terkini

PT Suri Tani Pemuka Salurkan Bantuan untuk Korban Bencana di Kalsel

Tejadinya musibah banjir bandang di Kalimantan dan di berbagai daerah lainnya di Indonesia menjadi duka mendalam bagi negeri tercinta. PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk melalui anak perusahaanya PT Suri Tani Pemuka menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada korban yang tertimpa musibah banjir bandang di beberapa daerah yang melanda Kalimantan Selatan.Baca juga: Budidaya Gurami Optimal Bersama STPBantuan yang disumbangkan melalui program JAPFA Peduli tersebut diberikan langsung  oleh PT Suri Tani Pemuka unit Pabrik Pakan Udang dan Ikan Gresik kepada Kantor Kecamatan Karang Intan dan Posko Kecamatan Aranio. Bantuan tersebut berupa kebutuhan pokok seperti beras, mie instan, minyak goreng serta obat-obatan, kebutuhan mandi, popok bayi, Sosis So Nice dan Milky Jelly Real Good.Temukan Produk STP Disini!Sejalan dengan visi JAPFA, Berkembang Menuju Kesejahteraan Bersama, sebelumnya PT Suri Tani Pemuka juga kerap melakukan kegiatan serupa yang bersifat sosial, mensejahterakan serta mengembangkan masyarakat dan komunitas. Diantaranya adalah penyerapan hasil panen para petani ikan yang diolah menjadi makanan berprotein tinggi untuk para petugas medis garda depan COVID-19, pemberian santunan kepada anak yatim, dan orang tua (jompo) pada perayaan Idul Fitri dan Natal dan juga penyerahan Hewan Qurban kepada beberapa Dusun/Desa pada perayaan Idul Adha, dan bantuan untuk pembangunan rumah ibadah serta fasilitas umum di sekitar perusahaan beroperasi.[Advertorial] ...
Pengertian Aklimasi, Adaptasi, Aklimatisasi
Terkini

Pengertian Aklimasi, Adaptasi, Aklimatisasi

Aklimasi adalah perubahan fisiologis dapat balik yang membantu mempertahankan fungsi dari organisme dalam kondisi lingkungan yang berubah.A. Pengetian, Arti Definisi AdaptasiAdaptasi adalah kemampuan atau kecenderungan makhluk hidup dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan baru untuk dapat tetap hidup dengan baik.B. Jenis-Jenis Dan Macam-Macam Adaptasi1. Adaptasi MorfologiAdaptasi morfologi adalah penyesuaian pada bentuk organ tubuh yang disesuaikan dengan kebutuhan organisme hidup. Misalnya seperti gigi singa, harimau, citah, macan, dan sebagainya yang runcing dan tajam untuk makan daging. Sedangkan pada gigi sapi, kambing, kerbau, biri-biri, domba dan lain sebagainya tidak runcing dan tajam karena giginya lebih banyak dipakai untuk memotong rumput atau daun dan mengunyah makanan.Baca juga: Cara Mudah Seleksi Induk Ikan Kerapu Macan2. Adaptasi FisiologiAdaptasi fisiologi adalah penyesuaian yang dipengaruhi oleh lingkungan sekitar yang menyebabkan adanya penyesuaian pada alat-alat tubuh untuk mempertahankan hidup dengan baik. Contoh adapatasi fisiologis adalah seperti pada binatang / hewan onta yang punya kantung air di punuknya untuk menyimpan air agar tahan tidak minum di padang pasir dalam jangka waktu yang lama serta pada anjing laut yang memiliki lapisan lemak yang tebal untuk bertahan di daerah dingin.3. Adaptasi Tingkah LakuAdaptasi tingkah laku adalah penyesuaian mahkluk hidup pada tingkah laku / perilaku terhadap lingkungannya seperti pada binatang bunglon yang dapat berubah warna kulit sesuai dengan warna yang ada di lingkungan sekitarnya dengan tujuan untuk menyembunyikan diri.Proses Aklimatisasi Pada Tebar BenurPengertian dasar dari proses aklimatisasi seperti telah disebutkan di atas adalah proses penyesuaian dua kondisi lingkungan yang berbeda (dari hatchery ke perairan tambak) sehingga perubahan kondisi tersebut tidak menimbulkan stress bagi benur. Kegiatan ini perlu dilakukan secara cermat dan penuh kesabaran agar tingkat stress benur terhadap perubahan lingkungan dapat ditekan seminimal mungkin sehingga secara kualitas dan kondisi benur dapat dipertahankan secara optimal.Baca juga: Persiapan Mapan, Tekan KematianTahapan-tahapan yang biasa digunakan dalam proses aklimatisasi mencakup:Pemindahan benur-benur yang masih dalam kemasan ke perairan tambak. Usahakan agar kemasan-kemasan benur tersebut dikumpulkan pada suatu tempat yang mudah untuk dijangkau di dalam petakan tambak (biasanya di pinggir petakan tambak atau di pojok petakan tambak) yang diberi pembatas sehingga kemasan benur tidak menyebar. Hal ini dilakukan untuk memudahkan pengamatan kondisi dan aktivitas benur selama proses aklimatisasi.Selama proses ini kemasan benur sebaiknya tidak dibuka terlebih dahulu (kecuali kemasan yang telah digunakan untuk sampling benur) dan biarkan selama beberapa saat di dalam perairan dalam keadaan tertutup. Selanjutnya lakukan pengamatan pada beberapa kemasan benur tersebut, jika di dalam kemasan benur tersebut telah terlihat berembun maka kemasan benur sudah dapat dibuka. Indikator ini menunjukkan bahwa suhu antara perairan tambak dan kemasan benur relatif telah sama. Lakukan hal sama pada kemasan-kemasan benur yang telah menunjukkan indikator yang sama.Pada saat membuka kemasan benur, lakukan penambahan air tambak ke dalam kemasan benur tersebut secara perlahan dengan menggunakan telapak tangan sehingga sebagian kemasan benur dalam kondisi berada di dalam perairan tambak. Biarkan kondisi tersebut untuk beberapa saat, dan lakukan kegiatan yang sama untuk kemasan-kemasan benur lainnya.Baca juga: Waspadai Kematian Dini UdangSelanjutnya lakukan pengamatan terhadap kondisi dan aktifitas benur pada beberapa kemasan tersebut. Jika benur-benur di dalam kemasan sudah terlihat secara aktif di pinggir kemasan (pada beberapa kasus benur terlihat konvoi) maka hal ini menunjukkan bahwa benur sudah siap dipindahkan ke dalam perairan tambak. Indikator ini menunjukkan bahwa kondisi kualitas air secara umum antara perairan tambak dan kemasan benur relatif telah samaPindahkan benur di dalam kemasan ke perairan tambak secara perlahan-lahan jika hasil pengamatan telah menunjukkan indikator seperti item no.2 di atas. Lakukan kegiatan yang sama untuk kemasan-kemasan benur lainnya.Lakukan pembersihan perairan tambak terhadap sampah/kotoran yang ditimbulkan oleh proses tebar benur ini agar tidak menimbulkan kendala dalam proses budidaya udang berikutnya.Secara umum hal yang perlu diperhatikan dalam proses tebar benur selain faktor teknis budidaya adalah faktor kecermatan, ketekunan/kesabaran baik dalam melakukan proses tebar maupun pengamatan terhadap indikator-indikator dalam proses aklimatisasi agar tidak menimbulkan kesalahan dalam pengambilan keputusan terkait dengan teknis budidaya udang.SUMBER :– Arber A. 1950. The Natural Philosophy of Plant Form. London: Cambridge University.– Albaugh TJ, Allen HL, Dougherty PM, Kress LW, King JS: Leaf area and above- and          belowground growth responses of loblolly pine to nutrient and water additions. For Sci 1998, 44:317-328.Artikel Asli ...
Jenis Ikan Air Payau yang Sering Dibudidayakan
Terkini

Jenis Ikan Air Payau yang Sering Dibudidayakan

Air payau adalah campuran air laut dan air tawar dan membentuk air payau, air payau biasa ditemukan di daerah-daerah muara dekat pesisir. Perairan air payau memiliki banyak sekali biota yang hidup di dalamnya. Contohnya berbagai jenis ikan, nah berbagai  jenis ikan ini ternyata sering dibudidayakan oleh para pembudidaya karena berbagai macam hal seperti ikan yang cepat besar, harganya mahal, rasanya enak dll.Lalu ikan air payau apa sajakah yang sering dibudidayakan?  Baca juga: Usaha Budidaya Ikan Bandeng Semi Intensif Agar Produksi Meningkat1. BandengCiri-ciri Fisik :- Tidak memiliki gigi- Hidup dari ganggang dan invertebrata- Bermulut kecil-Sisik perak-hidup di air payauKandungan gizi  ikan bandeng :- Kalori : 84- Protein (gr) : 14.8- Lemak (gr) : 2.3 Bandeng (Chanos chanos) merupakan ikan air payau yang cukup terkenal dan mudah didapatkan. Dagingnya putih, seratnya halus, dan rasanya gurih. bandeng memiliki badan memanjang seperti torpedo dengan sirip ekor bercabang sebagai tanda tergolong ikan perenang cepat. Kepala bandeng tidak bersisik, mulut kecil terletak di ujung rahang tanpa gigi, dan lubang hidung terletak di depan mata. Mata diliputi oleh selaput bening (subcutaneus). Warna badannya putih keperak-perakan dengan punggung biru kehitaman.Bandeng digolongkan jenis ikan herbivora karena memakan tumbuh-tumbuhan yang berupa plankton. Pada budidaya bandeng konsumsi bandeng dapat ditebar dengan kepadatan tinggi. Benih ukuran berat rata-rata 50g/ekor atau panjang 7-10 cm dapat ditebar 500 ekor/m3. Ukuran konsumsi akan mencapai berat rata-rata 450 g/ekor setelah dipelihara selama 4 bulan.Baca juga: Cara Mudah Seleksi Induk Ikan Kerapu Macan2. Ikan Kerapu MacanKerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) adalah sejenis kerapu yang menghuni perairan Indo-Pasifik. Bersama-sama dengan kerapu kertang, ikan ini merupakan ikan tangkap yang populer di Nusantara. Ikan yang berstatus terancam punah karena rusaknya habitat ini menghuni perairan terbuka, laut dangkal, kawasan pasang-surut, terumbu karang, dan laguna pantai. Ikan dewasa dapat mencapai lebih daripada 2 m.Ikan ini sering dibudidayakan karena harganya yang mahal. 3. Kerapu Bebek atau kerapu tikusKerapu bebek atau kerapu tikus (Chromileptes altivelis) adalah jenis ikan dari keluarga Serranidae yang ditemukan di Australia, Cina, Guam, Hong Kong, India, Indonesia, Jepang, Kenya, Malaysia, Kaledonia Baru, Kepulauan Mariana Utara, Papua Niugini, Filipina, Pulau Pitcairn, Singapura, Taiwan, Thailand, Vietnam dan mungkin di Mozambique dan di Vanuatu. Habitat alaminya adalah karang laguna pantai. Jenis ini terancam kehilangan habitatnya.Dalam bahasa Inggris, kerapu bebek disebut humpback grouper atau panther grouper dan khususnya di Australia, lebih dikenal dengan nama barramundi cod.Kerapu bebek sering dipelihara dalam aquarium laut. Ikan ini harus dibeli dengan hati-hati karena tumbuh pesat dan ukurannya bisa mencapai 50 cm. Walau dijual saat baru berukuran beberapa cm, ikan ini harus dipelihara dalam aquarium sebesar paling tidak 1 meter kubik. Dia juga harus dipelihara bersama ikan kecil yang akan menjadi pakannya.Bila dipelihara dengan syarat-syarat yang benar, ikan ini cukup bertahan dan bisa hidup lama.Baca juga: Teknik Pembesaran Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer, Bloch) di Keramba Jaring Apung BPBL Batam4. Ikan Kakap putih ( Barramundi )Ikan kakap putih dikenal sebagai ikan yang menggiurkan. Ikan ini dapat hidup di daerah tropis maupun semi tropis.Nama latin ikan ini adalah “ Lates Calcarifer”.Nama lain yang biasa dikenal para pemancing di Indo Pacific (Asia & Australia, dsk) adalah Barramund, Barra, Giant Perch, Palmer Perch, Nile Perch (kalo tidak salah). Di Kepulauan Riau dikenal sebagai ikan gelam (kalo tidak salah!)Ikan ini berukuran sampai dengan 1,8m dan bisa mencapai 60kg. Mata ikan ini berwarna merah terang (seperti mata kelinci warna putih), dengan ekor berbentuk segitiga, bukan V.Ikan ini tidak terbatas habitat hidupnya karena dapat hidup di air payau dan air laut asin. Temperatur habitat ikan ini cenderung pada kisaran 20 derajat Celcius.Ikan ini dapat hidup di muara sungai, tambak, teluk hutan mangrove (bakau) yang mempunyai air jernih dan air beriak-riak, pantai karang, perairan laut dangkal s/d dalam, pelabuhan (kedalaman air >8m), pantai berbatu, muara sungai dengan kondisi khas tertentu. Kakap putih ini merupakan predator karnivora, dominan memakan ikan yang lebih kecil dan kelompok udang-udangan.5. Ikan belanakTidak banyak yang mengenal ikan belanak. Padahal ikan ini sudah dapat dibudidayakan. Persebaran perikanan budidaya jenis ikan ini memang belum banyak. Budidaya ikan belanak hanya dapat di temui di pulau jawa dan sebagian pulau kalimantan.Belanak (Moolgarda seheli, sinonim Valamugil seheli (Forsskål, 1775); suku Mugilidae) adalah sejenis ikan laut tropis dan subtropis yang bentuknya hampir menyerupai bandeng. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai blue-spot mullet atau blue-tail mullet.Belanak tersebar di perairan tropis dan subtropis, juga ditemukan di air payau dan kadang-kadang di air tawar . Di kawasan Pasifik belanak ditemukan di Fiji, Samoa, New Caledonia dan Australia. Sedangkan di Asia, banyak ditemukan di Indonesia, India, Filipina, Malaysia dan Srilangka.Ikan belanak secara umum bentuknya memanjang agak langsing dan gepeng. Sirip punggung terdiri dari satu jari-jari keras dan delapan jari-jari lemah. Sirip dubur berwarna putih kotor terdiri dari satu jari-jari keras dan sembilan jari-jari lemah. Bibir bagian atas lebih tebal daripada bagian bawahnya ini berguna untuk mencari makan di dasar/organisme yang terbenam dalam lumpur. Ciri lain dari ikan belanak yaitu mempunyai gigi yang amat kecil, tetapi kadang-kadang pada beberapa spesies tidak ditemukan sama sekali.Baca juga: Teknik Pemijahan Ikan PatinDemikian artikel dari saya tentang Jenis Ikan Air Payau yang Sering Dibudidayakan semoga bisa bermanfaat bagi agan sekalian yang sedang mencari informasi tersebut. Sumber: Awal ilmu ...
Teknik Budidaya Abalon Ramah Lingkungan
Terkini

Teknik Budidaya Abalon Ramah Lingkungan

Gastropoda laut bernama latin Haliotis sp ini sangat layak menjadi andalan perekonomian masyarakat pesisir, bisa dijual di pasar lokal dan berpeluang besar diekspor ke negara-negara Asia, Eropa dan Amerika Serikat. Teknik budidayanya pun dipastikan sangat ramah lingkungan.Secara terpisah, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Produksi Induk Udang Unggul dan Kekerangan (BPUI2K) Karangasem Bali -  Winarno menjelaskan bahwa pemijahan abalon di BPUI2K dilakukan setiap bulan dengan metode penjenuhan oksigen. “Dalam satu periode pemijahan dapat dihasilkan 2 – 3 juta trochophore," sebutnya, dikutip siaran pers Kementerian Kelautan dan Perikanan (21/12).Pemeliharaan induk abalon di BPUI2K Karangasem dilakukan dalam dalam bak fiber volume 1.500 liter yang diberi shelter (pelindung) dengan memakai sistim air mengalir. Setiap bak diisi 150 ekor induk abalon dan diberi pakan berupa rumput laut secara adlibitum (selalu tersedia). Pemeliharaan induk abalon dilakukan sampai matang gonad dan siap dipijahkan.Baca juga: Melongok Suksesnya Pengembangan Benih Abalon di Perairan BaliUntuk pemeliharaan larva dilakukan pada bak beton yang diberi sirkulasi air dan aerasi dengan pengaturan kecil. Pemberian pakan berupa bentik diatom. Larva abalon dipelihara selama 2 bulan hingga larva berubah menjadi benih berukuran 1 cm.Grading dilakukan untuk menyeragamkan ukuran serta menghindari dari persaingan makanan. Grading abalon dilakukan setiap bulan selama 4 kali yaitu ukuran 2 cm (3 bulan), 3 cm (4 bulan), 4 cm (5 bulan) dan 5 cm (lebih dari 6 bulan).Manajemen pakan dilakukan sesuai umur abalone yang dipelihara. Untuk umur 1 bulan diberikan pakan berupa plankton jenis diatom dosis 1 juta sel per ml. Kemudian pakan berupa rumput laut jenis ulva dan gracilaria diberikan pada umur 2 bulan hingga diatas 7 bulan dengan metode ad libitum (pemberian pakan secara berlebih).  Baca juga: Budidaya Rumput Laut dengan Kantong BersusunHasil produksi benih abalon yang berasal dari BPIU2K Karangasem didistribusikan ke beberapa daerah seperti Bali, Pulau Seribu, Bogor, Yogyakarta serta daerah lainnya di Indonesia. Benih abalon semula hanya terbatas untuk kegiatan penelitian dan menunjang kegiatan.“Sekarang sudah dapat dibudidayakan oleh kelompok nelayan atau pembudidaya dengan menggunakan sistem jaring tancap maupun karamba jaring apung,”, tutur Winarno.Andalan Ekonomi Masyarakat PesisirPada rilis yang sama, Dirjen Perikanan Budidaya (DJPB) Kementerian Kelautan dan Perikanan Slamet Soebjakto pada 21/12 menjelaskan, budidaya abalon akan semakin diminati masyarakat mengingat teknologi budidaya abalon tergolong ramah lingkungan dan tidak mencemari karena tidak menggunakan bahan kimia, hanya menggunakan mikroalga dan makroalga sebagai pakan pada proses budidayanya. Baca juga: Tingkatkan Ekonomi Pesisir, Roadmap Industri Rumput Laut DirancangDia mengakui kerang abalon merupakan komoditas yang relatif masih baru dan belum banyak dibudidayakan di Indonesia. Namun melihat potensi abalon yang sangat besar, Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Produksi Induk Udang Unggul dan Kekerangan (BPUI2K) Karangasem Bali telah berhasil berinovasi, menemukan teknik pembenihan dan teknologi budidaya kerang abalon.“Pengembangan budidaya abalone masih sangat potensial dilakukan di Indonesia mengingat perairan laut kita masih sangat luas dan cocok. Budidaya abalon dapat memberikan alternatif atau tambahan penghasilan bagi masyarakat sekaligus memberikan dampak positif secara ekologi. Dengan budidaya, tidak terjadi lagi eksploitasi sumberdaya abalon di alam,” terang Slamet.Pengembangan budidaya abalon perlu memperhatikan kelayakan lokasi untuk budidaya berdasarkan kondisi fisik perairan, kondisi kimia dan akses ke lokasi budidaya. Baca juga: Lokasi Perawatan Jadi Penentu, Begini Cara Budidaya Lele“Perairan terlindung dan aman untuk membangun kontruksi budidaya, kemudian aksesibilitas juga perlu diperhatikan seperti lokasi budidaya mudah dijangkau dan keamanan terjamin. Dan perlu dicatat perairan harus bebas dari pencemaran, buangan industri, limbah pertanian ataupun limbah rumah tangga,” lanjut dia.Slamet yakin budidaya kerang abalon dapat meningkatan pendapatan ekonomi masyarakat pesisir, khususnya pembudidaya dan nelayan. “Budidaya abalon dapat dilakukan dengan sistem karamba jaring apung, jaring tancap, atau menggunakan keranjang-keranjang plastik yang telah diberi shelter atau bahan pelindung,” tambahnya.Lanjut Slamet, “UPT kami akan terus berinovasi dalam pengembangan budidaya abalon termasuk didalam tahap pembenihan, pendederan dan pembesarannya. Kami ingin teknologinya benar-benar dapat diaplikasikan ke masyarakat” Artikel asli ...
7 Langkah Pemijahan Buatan Ikan Gabus
Terkini

7 Langkah Pemijahan Buatan Ikan Gabus

Ikan gabus (Channa striata) merupakan salah satu jenis ikan perairan rawa yang memiliki nilai ekonomis cukup tinggi. Pengembangannya sendiri dapat dilakukan dengan usaha pembenihan dan pembesaran ikan gabus. Pemijahan ikan gabus menjadi kunci dalam kesuksesan pembenihan untuk menghasilkan benih yang berkualitas.Kegiatan pemijahan terdiri dari beberapa tahap yang perlu diperhatikan, sehingga memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi dan berkualitas. Beberapa tahapan memijahkan ikan gabus di antaranya adalah persiapan media, persiapan induk, seleksi induk, pemeliharaan induk, penyuntikan, dan pemijahan ikan gabus.Baca juga: 3 Cara Pemijahan Induk Kakap1. Persiapan MediaPersiapan media pemijahan dimulai dengan membersihkan kolam bak drum fiber dengan ukuran 1x1x1 m3 dan bak fiber dengan ukuran diameter 50 cm tinggi 70 cm yang dilengkpai dengan saluran pembuangan air. Bak drum plastik kemudian dipasang oleh waring dan dilakukan pengisian air setinggi 30 cm. Anda dapat menambahkan tanaman kiambang sebanyak 50% dari permukan air pada media pemijahan. Sedangkan untuk wadah pemeliharaan larva menggunakan akuarium berukuran 65x40x45 cm.2. Persiapan indukInduk yang dibesarkan sendiri dapat dipelihara selama 5-6 bulan di kolam jaring apung (KJA) dengan berat awal rata-rata 4,3 gram dan berat akhir rata-rata 300 gram untuk menjadi induk.Baca juga: Budidaya Ikan Gabus Tetap Menguntungkan3. Seleksi indukPemilihan induk perlu dilakukan secara hati-hati dan teliti untuk melihat induk yang sudah matang gonad dan bobot tubuhnya sudah memenuhi untuk ukuran induk. Biasanya induk ikan gabus memiliki bobot kurang lebih 250 gram/ekor.Pada pemijahan ikan gabus Anda dapat menggunakan perbandingan 1:1 untuk induk jantan dan betina, atau 7 ekor jantan dan 7 ekor betina. 4. Adaptasi dan pemeliharaan indukInduk ikan gabus yang telah diseleksi, kemudian diadaptasikan dengan cara memasukannya secara perlahan ke dalam kolam terpal selama kurang lebih 1 minggu. Perbandingan jumlah ikan jantan dan betina yang dipindahkan adalah 1:1.Pemberian pakan pada induk ikan gabus selama 1 minggu adalah pemberian pellet dengan frekuensi 2 kali sehari, pagi hari (08.00-09.00 WIB) dan sore (15.00-16.00 WIB).Baca juga: Budidaya Ikan Gabus di Kolam Terpal5. PenyuntikanDalam proses ini, Anda perlu menyiapkan berbagai alat dan bahan yang akan digunakan terlebih dahulu sebelum memindahkan induk yang akan disuntik. Peralatan yang dibutuhkan di antaranya adalah timbangan analitik, kalkulator, kain, alat spuit suntik, aquades, dan hormone ovaprim. Induk yang akan disuntik diukur terlebih dulu bobotnya untuk menghitung kebutuhan hormon yang sesuai dengan dosisnya. Penyuntikan induk betina dan jantan dilakukan secara bersamaan. Penyuntikan dilakukan pada bagian punggung dengan kemiringan jarum suntik 30-40⁰ dan dimasukkan sedalam 1,5 cm.Dosis ovaprim yang digunakan untuk pemijahan buatan ikan gabus adalah 0,4 ml/kg. Namun Anda juga dapat menggunakan dosis lain, rata-rata dosis penyuntikan 0,2 ml/kg untuk bobot induk dengan rata-rata 100-200 g keatas dan 0,4 ml/kg untuk bobot induk rata-rata 300-400 g ke atas.Baca juga: Ikan Gabus Mengandung Albumin, Ini Manfaatnya untuk Ibu Hamil6.Pemijahan ikan gabusSetelah disuntik, induk jantan dan betina dikembalikan ke dalam satu wadah dengan perbandingan 1:1. Wadah kemudian dapat ditutup dengan waring dan triplek agar ikan tidak melompat saat proses pemijahan.Tempat pemijahan dapat buat minim cahaya untuk membuat ikan gabus lebih mudah memijah. Biasanya ikan gabus membutuhkan waktu ±24 jam untuk memijah. 7. Penanganan larvaWaktu penetasan telur dipengaruhi oleh suhu air. Hal ini disebabkan karena semakin tingginya suhu air maka telur akan lebih cepat menetas.Pada hari ke 3-4 setelah penetasan, larva sudah dapat diberikan pakan alami berupa artemia. Frekuensi pemberian pakan alami pada larva yaitu setiap 3 jam sekali pada minggu pertama. Pada minggu selanjutnya, Anda dapat mengurangi frekuensi pemberian pakannya menjadi 5 jam sekali. Sumber: Augusta TS, Pernando R. Teknik pemijahan ikan gabus (Channa striata) di instalasi budidaya ikan lahan gambut desa garung pulang pisau. Jurnal Ilmu Hewani Tropika. 8(1): 13-18 ...
Is The Frequency of Carbohydrate Supplement Important?
Terkini

Is The Frequency of Carbohydrate Supplement Important?

Biofloc technology (BFT) as a potential solution to improve the sustainability of the aquaculture industry. In this technology, carbon is added through the addition of organic carbohydrates to provide energy for the assimilation of nitrogen compounds into microbial biomass. This reduces ammonia concentrations, the need to change water and increases biofloc that can be used as natural food for animals. By breaking down the daily carbohydrate (CHO) dose so that less organic carbon entering the biofloc system each time, this can help reduce fluctuations in oxygen. Since organic carbon is mainly consumed by heterotrophic bacteria, regular carbohydrate supplementation promotes the growth of heterotrophic bacteria more than autotrophic bacteria and helps reduce fluctuations in pH and alkalinity. However, more frequent carbohydrate supplementation will also increase labor costs, which in turn may decrease the efficiency of adopting biofloc technology. Also read: Evaluating Compensatory Growth in Pacific White Shrimp in a Biofloc SystemThe trial included 3 treatment groups with 3 frequency of carbohydrate supplementation and control group:- CHO 0: Control without carbohydrate supplementation- FOR 1: Supplement once a day, after mid-day feeding- FOR 3: Supplement a day 3 times after each feed - FOR 6: Supplements 6 times a day, before and after each feed Effects on white shrimp growth parametersThe additional carbohydrate significantly increases the weight of shrimp last (but similar between the frequency of additional carbohydrate) and improve the growth of special (SGR) compared to controls. There was no difference in survival rate and FCR with carbohydrate supplementation, contrary to the study by Gao et al. (2012) and Panigrahi et al. (2019) because improved viability and FCR were observed with carbohydrate supplementation. Also read: Intestinal Bacteriome of Pacific White Shrimp in Biofloc, Clear Water SystemsAffect water quality The study results showed that chlorophylla (Chla) concentrations were higher in the control group, reaching a peak of 337µg / L after one week and relatively stable until the end of the test, while the concentration of suspended solids. Volatility (VSS) and total carbon (TC) were significantly higher in the treatment with added carbohydrates. VSS concentrations increased over the weeks in all experimental groups, reaching a peak of 198mg / L by the end of the experiment. Increasing the frequency of carbohydrate supplementation from 1 to 6 times per day showed no effect on VSS and Chla concentrations were similar in the treatment groups.While total ammonia nitrogen levels were similar between treatments and control groups, nitrogen concentrations in nitrite and nitrate were significantly lower in the carbohydrate-supplemented groups, especially at once-per-day carbohydrate frequency. , indicating a more active bacterial community in these treatments. In addition, the significantly higher VSS found in the carbohydrate supplement treatment suggested that the bacterial concentration in the biofloc was more abundant than that of the biofloc in CHO 0. Treatment with carbohydrates prevented nitrite production, water quality improvement in this study. In shrimp ponds where dissolved organic carbon is low, microalgae predominate. Meanwhile, autotrophs thrive when there is more ammonia and low organic carbon. In carbohydrate-enriched biofloc systems, heterotrophic bacteria outperform autotrophs due to their faster growth rate and more efficient use of nutrients. However, splitting the daily carbohydrate dosage into 1 to 3 or 6 supplements per day, this may ensure a constant source of energy for bacterial growth but has not seen a beneficial effect. yield of shrimp and biofloc growth. Therefore, carbohydrates should be supplemented at a frequency once per day for good efficiency and labor cost savings.Also read: Biofloc Systems, Tilapia by Product may Support Cheaper Shrimp ProductionEffective nutrient retention Efficient storage of nutrients from feed accounts for more than 50% of production costs in shrimp farming. Therefore, increasing feed efficiency is one of the ways to make aquaculture profitable. This can be achieved by using the biofloc system so that the shrimp use the feed more efficiently and retain more nitrogen from eating the natural biofloc feed. The results of the study showed that the control group had significantly higher carbon retention (% input) in shrimp, biofloc, water, and significantly lower carbon loss than the other treatments. The different frequencies of carbohydrate supplementation showed similar effects on carbon storage efficiency. But by the end of the experiment it was found that once daily carbohydrate supplementation resulted in higher carbon retention in shrimp and reduced carbon loss compared to supplementing 3 or 6 times per day.Regardless of the frequency of carbohydrate supplementation, biofloc culture showed twice as much carbon loss as compared to conventional culture. Carbon loss does cause concerns about the environmental impact of the biofloc system. Therefore, supplementing carbohydrates once a day helps shrimp to store nutrients better and reduce carbon loss compared to other frequency of supplementation.Current research has shown that the optimal frequency of once-daily carbohydrate supplementation in biofloc systems .Báo cáo gốc: Effects of carbohydrate addition frequencies on biofloc culture of Pacific white shrimp (Litopenaeus vannamei). https://doi.org/10.1016/j.aquaculture.2020.736271Source: Tepbac.com ...
Minapoli Menyediakan Berbagai Produk Akuakultur
Terkini

Minapoli Menyediakan Berbagai Produk Akuakultur

Minapoli merupakan marketplace akuakultur nomor 1 di Indonesia. Pada website Minapoli menyediakan berbagai sarana dan prasarana kebutuhan akuakultur, seperti budidaya ikan patin, budidaya ikan lele, budidaya ikan nila, budidaya ikan hias, budidaya ikan air tawar, dan juga budidaya ikan laut. Beberapa informasi tentang pembesaran dan pembenihan yang dapat pembudidaya temukan adalah pakan untuk ikan cupang, pakan untuk burayak ikan hias, infusoria untuk pakan ikan cupang, fakta unik ikan gurame, perbedaan ikan mujair dan nila, budidaya ikan gabus, cara pemijahan ikan patin, cara pemijahan ikan lele, pembenihan ikan mas, hingga pembenihan ikan kerapu, serta berbagai info ikan hias yang pastinya ingin Anda ketahui.Tentunya, sebagai marketplace Minapoli memberikan berbagai pilihan produk untuk pembesaran dan pembenihan ikan air tawar maupun air laut. Minapoli menjual methylene blue yang dapat Anda gunakan untuk berbagai jenis ikan, Anda dapat membeli acriflavine HCl terdekat dengan mengklik website Minapoli.Di Pasarmina sebagai pusat penjualan berbagai jenis pakan ikan terdekat, Anda dapat menemukan untuk pakan apung maupun tenggelam untuk semua jenis ikan budidaya mulai dari pakan udang, pakan sidat, pakan ikan lele SPLA 12, pakan ikan nila, pakan ikan patin, pakan ikan mas PI Comfeed, pakan ikan bandeng, pakan KAE untuk kakap, dan menjual berbagai pakan ikan dan udang lainnya. Anda juga dapat membeli elbayu murah, jual ovaprim untuk pemijahan ikan Anda, dan menjual obat serta hormon untuk ikan lainnya di website Minapoli. Disini juga menjual artemia yang berkualitas untuk pakan larva ikan dan menjual benur udang F1 berkualitas untuk tambak Anda. Minapoli juga menjual terpal untuk kolam ikan lele dan ikan nila ataupun budidaya ikan lainnya yang membutuhkan dasar terpal berkualitas. Produk akuakultur yang ada di Minapoli menjual pakan ikan dan udang sampai ke Surabaya, Batam, Lampung, Palembang, dan berbagai kota besar lainnya.Minapoli menjual alat pemberi pakan otomatis atau autofeeder untuk ikan dan udang yang dekat dan bisa dikirim kemana saja, jual alat kualitas air kolam yang praktis dan mudah, menjual jenis probiotik untuk menunjang pertumbuhan ikan dan udang Anda, serta menjual probiotik yang memperbaiki kualitas air kolam Anda. Selain menemukan berbagai kebutuhan dan keperluan yang harus dimiliki saat membudidayakan ikan, Anda juga dapat menemukan resep ikan atau resep seafood yang nikmat dan lezat di halaman fish2eat. Berbagai resep ikan bakar, resep seafood bakar, resep gulai belacan, resep kare rajungan, resep olahan kerang dara, resep lobster bakar, resep udang bakar, resep masakan ikan nusantara, dan lainnya. Temukan juga lowongan kerja perikanan pada berbagai perusahaan akuakultur seperti lowongan kerja perikanan di Cargill. lowongan kerja perikanan di eFishery, lowongan kerja perikanan di alune aqua, lowongan kerja perikanan nanobubble.id, lowongan kerja perikanan di PT Central Proteina Prima, lowongan kerja perikanan di PT CJ Feed Jombang, lowongan kerja perikanan di PT Gold Coin Feed, lowongan kerja perikanan di Japfa Comfeed Indonesia, dan lowongan kerja perikanan lainnya di tahun 2021. Temukan lebih banyak semua kebutuhan budidaya Anda mulai dari pembenihan ikan dan udang, pembesaran ikan dan udang, pemijahan untuk ikan dan udang, bahkan hingga kegiatan panen ikan dan udang semua tersedia lengkap di Minapoli. Setiap akhir bulan kami juga mengadakan promo untuk obat ikan, hormone ikan, autofeeder ikan dan udang, alat ukur kualitas air untuk kolam air, dan juga yang lainnya. ...
The role of the Bacillus Spp group of Bacteria in The Environmental Management of Aquaculture Ponds
Terkini

The role of the Bacillus Spp group of Bacteria in The Environmental Management of Aquaculture Ponds

Aquaculture is currently an indispensable production activity to satisfy human food needs. However, this activity causes a rapid deterioration of water quality due to the use of pellets, the release of wastes (feces and carcasses of fish and shrimp) into the environment during the farming process.There are many ways to maintain pond water quality, of which the use of probiotics has proven to be more advantageous since it not only improves water quality, but also offers many other benefits.Bacillus is a probiotic that has superior properties over other probiotics including its ability to form spores and effective metabolites against a wide variety of pathogenic bacteria. For the purposes of this paper, we highlight only the role of Bacillus in improving some of the water quality factors.Also read: Benefits of Recirculating Aquaculture SystemsIncreased oxygenMicroorganisms will use oxygen in the mineralization of organic matter to CO 2 , water and other nutrients. CO 2 and other nutrients will be used in phytoplankton photosynthesis. As a result, oxygen is released from photosynthesis. On the other hand, since dissolved oxygen-modulating probiotics reduce stress in fish (as shown in cortisol concentrations), less oxygen will be consumed.Adjust pH and alkalinity Bacillus accelerates the mineralization of organic matter in the pond, creating a premise for plants' photosynthesis cycle. Algae using CO 2 should increase the pH, in addition algae and some plants have the ability to combine Bicarbonate (HCO 3 - ) to get CO 2 for their photosynthesis and release CO 3 2- and This Carbonate release increases the pH. In addition, the NH 4 + nitrification process releases hydrogen ions (H + ) that contribute to the acidification of pond water. Studies have also shown that B. megateriummaintain the alkalinity of the major carp pond water or change the pH of the tilapia pond water (in acidic pond water conditions, Bacillus increases pH, in contrast, in pond water conditions) In alkaline, Bacillus lowers the pH to neutral.Also read: Use Biofilter to Minimize Nitrogen WasteConverting to nitrogen compoundsTotal ammonium (TAN) N-NO 3 , N-NO 2 and total nitrogen (TKN) are different forms of nitrogen used by a number of microorganisms including probiotics to metabolize them, contributing to remove nitrogen from the water column. Amonization, nitrification, and nitrite type are processes in the nitrogen cycle. From the original form of nitrogen which is the remains of plants and animals or their waste in the form of organic nitrogen, converted to ammonium (NH 4 + ) by fungi or bacteria including Bacillus species and ammonia (NH 3 ) in the ammonium process. chemical. Ammonium is converted to nitrite (NO 2 - ) and then to nitrate (NO 3 - ) mainly by Nitrosomonas and Nitrobacter corresponds to a process called nitrification. This is followed by the conversion of nitrate to nitrogen (N 2 ) gas (denitrification), thereby removing bioavailable nitrogen and returning to the atmosphere. Studies also showed that Bacillus velezensis AP193 reduced nitrate by 75% and total nitrogen (total nitrogen) by 75% in catfish ponds.Unlike Nitrosomonas and Nitrobacter (mainly involved in nitrification and sometimes denitrification), Bacillus species play an important role in the nitrogen cycle through all processes from amonization, nitrification and denitrification as well. as nitrogen fixation. For example, Bacillus amyloliquefaciens DT converted organic nitrogen to ammonium and Bacillus cereus PB8 removed nitrite NO 2 - nitrogen from wastewater. Therefore, Bacillus species are able to remove various forms of nitrogen from aquaculture wastewater. Bacillus will mineralize nitrogenous compounds through nitrification and nitrite removal to remove nitrogen compounds from water. Bacillus physiological studies also show that Bacillus can use nitrates and nitrites as electronic acceptors and alternative nitrogen sources during development, which can reduce nitrogen in water.Also read: Apricot Algae Stimulates Immunity Against Phosphorescent Disease in ShrimpReduce the amount of phosphorus dischargedLike nitrates, the accumulation of phosphates leads to algal blooms in the pond. Phosphorus exists in water as phosphate ions. The main sources of phosphorus in culture water are fish food and fertilizers are continuously released into the pond environment, so it is not possible to prevent phosphate accumulation, but can only be controlled and regulated. Bacillus species have demonstrated their ability to use strong phosphates in metabolism, thus reducing phosphates in water. The experiment also demonstrated that the mixture of B. subtilis, Bacillus mojavensis  and B. cereus decreased 81% of phosphate ions in the pond.Reduce organic matterHigh organic matter concentration is a common problem in aquaculture water quality. Bacillus species can improve pond water quality through the decomposition of organic matter into smaller units. Bacillus efficiently converts organic matter into CO 2 (CO 2 is used by bacteria β- and γ-proteobacteria as a carbon source, respectively). While other bacteria convert most of organic matter into viscous or increase bacterial biomass. Bacillus is mainly used to remove organic matter in aquaculture thereby recycling nutrients in the water column and reducing pond bottom sludge accumulation.Also read: Using Bacillus to Inhibit Pathogenic Vibrio Harveyi Bacteria in Farmed ShrimpManagement of pathogensExperimental research has demonstrated that Bacillus species can reduce or prevent the proliferation of pathogens through the production of bacteriocins, production of enzymes that destroy the cell membranes, produce antibiotics, and compete. location of adhesion, nutrients and energy, ...Maintaining the microbial community in the pond is also an attribute of Bacillus species. This ensures that there are no dominant species, especially pathogenic microorganisms. Therefore Bacillus ensures the balance of microbial populations.Large-scale industrial shrimp farming model on tarpaulins in the Mekong Delta.Source: tepbac.com ...
Budidaya Ikan Gabus di Kolam Terpal
Terkini

Budidaya Ikan Gabus di Kolam Terpal

Pertumbuhan ikan gabus terbilang cukup lambat dibanding jenis ikan air tawar lainnya. Namun, harga jual serta permintaan di pasaran cukup menjanjikan. Oleh karena itu, budidaya ikan gabus menjadi peluang usaha yang menjanjikan. Budidaya ikan gabus bisa dilakukan di kolam terpal jika modal serta lahan yang dimiliki terbatas. Banyak orang yang menyukai daging ikan gabus, tapi masih sukar untuk ditemukan di pasaran. Rasanya yang lezat dan bergizi memiliki kandungan albumin yang bisa digunakan menjadi bahan baku pembuatan obat yang bernilai mahal.Baca juga: Budidaya Ikan Gabus Tetap MenguntungkanBentuk ikan gabus terbilang cukup unik seperti ikan pura dan senang kali berdiam diri lama-lama. Bahkan, terkesan sudah jinak saking seringnya berdiam diri. Namun, saat memburu mangsa, gerak ikan ini sangat cepat dan bisa berhenti mendadak.Ikan gabus memiliki nama lokal yang berbeda-beda. Orang Melayu dan Banjar menyebutnya dengan aruan atau haruan, sedangkan orang Betawi menyebutnya kocolan, dan masih banyak nama-nama lokal lainnya. Nama latin ikan gabus adalah Channa striata.Penebaran benih pada kolam terpal harus dilakukan dengan benar karena merupakan langkah awal yang menentukan keberhasilan budidaya. Sebelum benih ditebar, pasangkan naungan sebagai tempat berlindung ikan. Naungan tersebut dapat berupa potongan paralon atau bambu.Pemilihan BenihGunakan benih yang bergerak lincah dan agresif ketika terkena sentuhan. Selain itu, gunakan benih yang memiliki kondisi tubuh yang utuh tidak ada luka dan berukuran seragam karena ikan gabus merupakan ikan kanibal. Waktu penebaran benih yang tepat adalah pagi dan sore hari saat sinar matahari sedang tidak terik.Pakan Ikan GabusPakan yang diberikan kepada ikan karnivora ini adalah pakan hidup larva ikan, anak katak, serta keong atau bekicot. Selain pakan hidup, Anda bisa memberikan pakan yang sudah mati. Sementara untuk larva ikan, diberikan pakan hewan renik seperti Daphnia sp, cacing sutera, cetol, larva ikan, dan Moina sp. Baca juga: Imbangi Penangkapan, KKP Dorong Budidaya Ikan GabusKualitas AirPergantian air harus terus dilakukan meskipun debit pasokan air lemah atau tidak deras. Sebaiknya, setiap hari dilakukan pembersihan kotoran di dalam kolam agar tidak diserap oleh ikan. Selain kotoran, pakan ikan yang tidak termakan dan terakumulasi di dasar kolam harus dibersihkan juga. Pemantauan kualitas air sebaiknya dilakukan setiap hari, terutama pada usaha pembenihan atau usaha yang dilakukan di daerah suhu agak rendah.Ikan gabus merupakan ikan demersal yang tidak terlihat dari atas permukaan air. Ikan gabus yang menampakkan diri di permukaan air, justru harus diwaspadai. Sebab, bisa saja ikan itu terkena penyakit atau lingkungan air yang tidak mendukung.Sumber: dkpp.bulelengkab.go.id ...
Global Shrimp Markets: Looking Beyond The Pandemic
Terkini

Global Shrimp Markets: Looking Beyond The Pandemic

On September 24-25, the Society of Aquaculture Professionals (SAP), India organised a 2-day webinar on “Global Shrimp Markets: Looking Beyond the Pandemic”. In a press release, Dr Arul Victor Suresh, SAP President said, "In March, when we had our first lockdown, while shrimp farmers battled uncertainties in the supply chain and managed diseases, they were concerned with prices and whether there would be buyers for their harvests. There are many forecasts on shrimp demand in major markets. We believe that it is important to combine such information with shrimp supply scenarios directly from major producers in Asia and Ecuador."Keynote speaker, George Chamberlain, President, Global Aquaculture Alliance, said, “The global shrimp supply has been on a rising trend for the last few years and at the same time, prices have been falling, indicating that markets were getting saturated in spite of the emergence of China as a major market in recent years.” Citing the case of avocado as an example of what unified marketing efforts by the producers and sellers can achieve, Chamberlain called for a similar effort in which shrimp consumption is promoted.Also read: Biotechnology Applications Without Antibiotics, Chemicals in Shrimp CultureDemand and marketsIn his introduction to the session on shrimp demand and markets, moderator, Ravi Yellanki, Vaisakhi Biomarine, said that the industry in India has come to terms with the reality of the Covid -19 pandemic. Industry, hatcheries in particular, have realised the global nature of shrimp farming; it starts with imports of broodstock from the Americas and exports of final products to the US, Europe and China. The pandemic has changed the way hatcheries operate – staff are not allowed to leave the premises, farmers agree for hatcheries to send post larvae directly to laboratories for disease and health checks, and size specifications are checked via videos.Demand from India’s leading markets has been encouraging; China was the first to recover and demand picked up in April, May and June. The demand from the food service segment was better in the US as compared to that in China.In his presentation on the “Impacts in the US shrimp markets”, Angel Rubio, Chief Analyst at Urner Barry, said that retail sales of shrimp rose during the pandemic but still could not compensate for the lost sales in the food service segment. Prices of shrimp fell as a result but retail establishments passed the benefit of low prices to the consumers through promotions. It is likely that the experience of cooking shrimp at home will encourage consumers to increase their purchase of shrimp in retail outlets even after the pandemic is over.With regards to markets in Europe, Willem van der Pijl, who recently started Shrimp Insights, a data service specific to global shrimp trading, said that shrimp consumption in Europe was down by 6% up to June 2020, but the shrimp mostly impacted by this drop was the ocean-caught premium shrimp. Farmed penaeid shrimp were much less affected at only 1%. Due to the opening of restaurants, the summer sales of shrimp are believed to have been healthy. “Although data is not yet available, during July and August, sales increased according to importers and wholesalers in the Netherlands, Belgium and Germany. However, the ongoing second wave of the pandemic points to the possibility of lockdowns during the winter and this would negatively impact consumption leading to less new orders between October and February/March 2021. Vietnam and Latin American suppliers have a competitive position in the European markets requiring other Asian suppliers to reassess their competitiveness. Vietnam supplies more than 70% of the demand while India supplies just 5%,” said van der Pijl.Vincent Lin of Grobest Seafoods said that China imported 703,000 tonnes of shrimp in 2019 but average prices were sliding downwards. In 2019, the surge in imports was led by Ecuador (321% at 322,000 tonnes); India (338% at 155,000 tonnes and Thailand (58% at 39,000 tonnes). China has maintained an increasing trend of imports until January-February 2020. Demand picked up in June but dropped in July 2020 when fragments of coronavirus genetic materials were found on the packaging of shrimp imported from Ecuador. Consumer confidence was severely impacted and the import volumes and prices tumbled as a result.Also read: Promising Results in Shrimp Fed Plant-Based Replacements for FishmealAt the panel discussion on demand and markets on day 1, Dr Arul Victor Suresh, SAP President (middle row, left) led a team of SAP members and speakers. MPEDA’s Dr Anilkumar (last row, left) said that India increased its exports of cooked and breaded products to the US market indicating that Indian processors have the flexibility to meet the market requirements at short notice.China’s shrimp production has been affected due to the emergence of new diseases, so local production will go down and be directed to the premium live shrimp market. Lin added that in the future, imports of some superior grade chilled or frozen head-on shell-on (HOSO) shrimp may enter this market. Resumption of imports at or beyond volumes in 2019 will begin only when consumers gain confidence that frozen food is not a risk factor in the spread of coronavirus. India exports headless shell-on (HLSO) and there is room for India with good quality raw material for shrimp paste. Chinese consumers appreciate good quality shrimp and are willing to pay for quality.Pawan Kumar Gunturu of Sprint Foods, India provided a perspective from Indian exporters. The sudden lockdown resulted in difficulties in operating processing plants and forced migrant workers to move back to their home bases. Indian exporters faced cancellations or postponement of purchase orders. Decline in prices and cancellation of export incentives by the government have caused further hardships for the exporters. Gunturu showed that there has been an increase of 5% in value-added products from India.He added that India needs to build on its strengths and move into more value added products in the near future.During the panel discussion, Dr P. Anilkumar, Marine Products Export Development Authority (MPEDA), indicated that Indian shrimp exports have declined by about 15% but the exports of cooked and breaded products to the US have registered an increase indicating that Indian processors have the flexibility to meet market requirements at short notice. S. Santhana Krishnan of Maritech, a seafood and aquaculture consulting firm, said that India’s ability to supply large sized shrimp can be leveraged to serve niche markets globally.Also read: Prevention of Disease Caused by EHP Spores on ShrimpSupply scenariosSamson Li, Grobest Feeds CEO, and experts from leading shrimp producing countries discussed recent developments in Vietnam, Indonesia, India and Ecuador amidst this pandemic. Li remarked that supplies from Vietnam have not been severely affected due to the significant domestic market, and the sustained demand from the export markets. Furthermore, strict control of the pandemic and sensible lockdown policies may have minimised the disruptions in supply. However, Vietnam may face a contraction in production, from 630,000 tonnes in 2019 to 570,000 tonnes in 2020. For the long term, Li predicted a strong growth and higher productivity through intensification which has been happening over the past two years, including a return to 2019 production levels in 2021 and from then on a 3% annual growth.“Initially, Indonesia did not follow a strict lockdown,” said Haris Muhtadi, CJ Feeds who also described its intensive culture practices. “The first half of 2020 saw a slight production increase and export of shrimp when compared to the same period in 2019. Indonesia’s production in recent years reached close to 350,000 tonnes in 2019 and the production in the first six months of 2020 was estimated to be about 200,000 tonnes. The USA remained the largest importer of Indonesian shrimp, buying nearly 65% of production.” Haris estimated that there may be a drop in production in the second half of the year due to disease challenges, and Indonesia may end up with a decline of about 6-7% in production by the end of the year.According to Paresh Kumar Shetty of Avanti Feeds, the sudden and strict early lockdown in India, resulted in many disruptions affecting shrimp production and processing. Lower shrimp prices also dampened farmers’ spirits forcing early harvests of small shrimp (size 100140/kg). While the lockdown has been relaxed, labour availability continues to be an issue. Also, farmers are facing production challenges in many regions. As a result, Shetty said that India’s farmed shrimp production is likely to decrease to about 675,000 tonnes in 2020, from about 800,000 tonnes in 2019.Gabriel Luna, an industry analyst in Ecuador's shrimp business elaborated on the phenomenal growth of shrimp production and exports in the past 10 years; exports grew 4X in 10 years, reaching 630,000 tonnes in 2019. By August 2020, the country had reached about 450,000 tonnes, a 6% year-on-year increase. This increase was despite the difficulties due to the lockdown and exports to China which was Ecuador’s largest market in 2019. Farmers were unable to harvest their crops in April and May due to the lockdown, followed by disruptions in exports to China in July. Prices collapsed to historic lows as a result. “Fortunately, we could quickly increase sales to the USA and Europe and presently have achieved a good redistribution of markets. The decline in prices has affected profitability, “ said Luna, adding that Ecuador’s producers will seek to improve productivity not by expanding land area or intensification but by focusing on improvements in shrimp growth and survival, and profitability by going into niche markets, such as organic shrimp.Panellists at the end of day 2, noted that shrimp supply from the major producing countries has not been seriously impacted by this pandemic and global supply of farmed shrimp may decline by about 10% in 2020 as compared to 2019. Global trade of shrimp has not been affected to a large extent except in the case of China. However, lower shrimp consumption in the US where the increase in retail sales has not been compensated for the loss of food service sales means that unsold inventories would be fairly high. Further declines can be expected in the winter due to anticipated restrictions in restaurant operations. Shrimp prices have been negatively affected due to the disruptions from the lockdown as well as the loss of consumer confidence in China. While the low prices have been used to stimulate some of the consumption, the response in the major producing countries to low prices will drive future decisions on production, types of products, market focus, and farming technologies. Watch a recording of this conference at the official SAP YouTube link, https://m.youtube.com/channel/UCzfxplVy8IFXP16iTvH_LgSource: Aquaculture Asia Pacific Magazine ...
Repurposed: Adding Value to Aquaculture Via Recycling
Terkini

Repurposed: Adding Value to Aquaculture Via Recycling

What’s old can sometimes become new again. Aquaculture, which uses a lot of plastics, is making new moves to add value to materials that were once discarded or left to collect dust. A Certified B Corporation is Chile is starting to turn heads by turning disused materials on salmon farms into new, useful products for multiple industries.In June 2020, Chilean firm Greenspot, which recycles and reuses plastic waste from industrial sectors, created a boot bath mat made from worn-out buoys, floats and containers retired from active duty. Designed for farm and processing plant workers to sanitize their shoes, the mat has become a key product amidst the COVID-19 pandemic and a heightened awareness of sanitation needs.Based in Puerto Montt, Greenspot’s main partnership is with the country’s salmon farmers, many of which have operations there. The three-year-old company’s focus is the circular economy, a model of production and consumption that works to ensure that products and materials are maintained in circulation for as long as possible, waste and resource use are minimized, and when a product reaches the end of its life, it’s repurposed. Launched in 2017, Greenspot’s first foray into manufacturing end-use products was part of a collaboration with salmon producer Blumar to create racks that move drums of water.“I decided to establish a company that could take care of the good-quality plastic materials in salmon aquaculture that were just being stored,” Benjamin Gonzalez, Founder and CEO of Greenspot, told the Advocate. “The idea was to make new products. We began by creating 100 percent certified pellets and used those to make the foot-bath mat.”Also read: Research Backs Value of Probiotics in Shrimp PondsGonzalez said the primary driver of this venture is the response to COVID-19. “We realized that we’d not only have a product that’s important in the pandemic but also in aquaculture and other industries, such as pharmaceuticals. Mats like these already have a niche in the market and in aquaculture – for example, in hatcheries where you often have to sanitize your feet before entering.”Made from retired equipment used on salmon farms in Chile, Greenspot’s boot bath mat is finding robust demand due to heightened sanitation awareness from the coronavirus pandemic. Courtesy photo.With sustainability and environmental protection becoming increasingly prominent in Chile, recycling firms like Greenspot are drawing attention. Salmon aquaculture, in particular, is keen to generate local solutions for local problems and for its waste to be put to use in beneficial ways. Working with a local company like Greenspot also enables those in aquaculture to see for themselves how their waste is being put to good use.“The concepts of eco-design and life-cycle assessment are becoming more prominent here and companies are implementing different projects to address recycling challenges. There is plenty of room for us to generate more solutions,” said Gonzalez.Chile needs to do more recycling, but the overall concept of a circular economy has advanced, explained Felipe Hormazabal, sustainability manager at Blumar: “We’re increasingly aware of our environmental impact and recycling is a fundamental tool to reduce it. There is still much to improve but sustainability as a fundamental pillar within our operations is an issue that we’ve internalized along with concern for the environment. Efficient waste management is a primary objective,” he said.Also read: Sustainable Aquaculture to Feed The WorldMeanwhile in Europe, Oihane Cabezas Basurko is a coordinator of the BlueNET project, which aims to create new life for abandoned, lost or discarded fishing and aquaculture gear in the Bay of Biscay. Despite gear deposit schemes at ports, few companies recycle their materials and there are limited plans to foster the recovery and recycling of gear locally, she said. Nevertheless, there is interest.“Fishing and aquaculture here are keen to evolve toward a more circular future since customers of certain countries demand recycled gear, but more support is still needed,” she said. “The circular design of gear is complex and pilot projects are required to assess the performance of new products.”According to Gonzalez, one key to recycling is establishing facilities in close proximity to the sources of waste generation. This reduces carbon dioxide generation, creates more local jobs and is a much more sustainable way of looking at entrepreneurship, he said.“Aquaculture is the closest industry to where I live and it was the obvious choice when matching the flow of plastic and waste generation with recycling and location,” said Gonzalez. “It also has a lot of discarded items that can be recycled. We aren’t collecting waste and sending it to China or Malaysia. We’re generating local production and manufacturing right here in Puerto Montt. We’re contributing to slowing climate change and reducing CO2. But having said that, internationalization is important and as we get bigger, we would love to branch out.”Also read: Six Tips to Make Your Fish Farm More Environmentally SustainableTo address the challenge of high costs, Gonzalez said producers could help by cleaning the materials prior to collection. And he’ll need more companies to join the effort.“The best way is to engage with them from the start in any new development,” Basurko of BlueNET said. “We’re currently testing recycled longline ropes for mussel culture at sea under real environmental conditions at a local site. Once we have the results, we’ll start engaging with different companies. Having a rope manufacturer as a partner is also pivotal to assess rope performance, meet market needs and reach potential customers.“We also undertook an international survey where different stakeholders, including aquaculture producers, gear manufacturers, suppliers, recyclers and policy makers, were asked about aquaculture’s current contribution to marine litter and the recycling potential of discarded gear,” she added. “A total of 181 respondents participated. Aquaculture’s sustainability is a concern for producers and many believe that economic incentives are required to boost recycling schemes and promote recycled gear.”Going forward, Gonzalez’s vision is to continue growing and closing the distance between waste generation and recycling, creating a positive impact in places where waste is produced.“We have a specific knowhow that can be put to use anywhere,” he said. “In October 2020 we launched a compost bin made right here from recycled materials. There is a real niche for our kind of initiative and it’s a trend that’s here to stay.”Also read: Novel feed could hold key to sustainable aquaculture“Recyclability, the circular economy and concern for the environment are fundamental to a sustainable aquaculture operation, so it’s essential that companies like Greenspot continue working in integral solutions,” said Hormazabal of Blumar. “With their help, we can give a useful life to the plastics that we use.”“We will see more companies working in this direction,” said Basurko. “New strategies are being implemented by the EU under the circular and sustainable blue economy umbrella, so efforts are underway to find solutions to a circular design of fishing and aquaculture gear. I think both will evolve into adopting this in future.”Source: Global Aquaculture Alliance ...
Berbasis Pesantren, Ridwan Kamil Harap Ekspor Udang Naik
Terkini

Berbasis Pesantren, Ridwan Kamil Harap Ekspor Udang Naik

Gubernur Jawa Bara Ridwan Kamil pun mengapresiasi Pesantren Tharekat Idrisiyyah sebagai salah satu pelopor akuakultur khususnya tambak udang di Jabar Selatan. Pria yang kerap disapa Emil itu menilai, Pesantren Tharekat Idrisiyyah melalui koperasi pesantren berhasil mengelola tambak-tambak udang vaname sehingga menghasilkan kesejahteraan untuk pesantren dan santri. "Karena (keberhasilan) itu, petani lokal mulai tertarik untuk belajar (ke Qini Vaname). Saya inginnya di seluruh wilayah Selatan nanti tidak ada lagi lahan menganggur yang tidak bermanfaat," kata Emil, akhir pekan ini,Ke depannya, Emil berharap, kejayaan budi daya udang vaname di Jabar Selatan yang salah satunya disokong Qini Vaname Pesantren Tharekat Idrisiyyah bisa membuat ekspor Jabar meningkat. Baca juga: Ini 6 Rekomendasi Forum Udang Indonesia untuk Tingkatkan Ekspor Udang 250%"Ada dulu sebuah perubahan (semangat bertambak udang), jangan-jangan (setelah ini) butuh restoran juga. Otomatis nanti juga ada kebutuhan pengolahan. Kalau sudah banyak (petambak), nanti bisa ekspor," tutur Emil.Emil pun berpesan ke Dinas KUK, mitranya adalah pesantren koperasi. Sedangkan kepada Dinas Kelautan dan Perikanan, Emil meminta agar skala ekonominya dihitung. "Tidak ada alasan (budi daya udang vaname) ini tidak sukses di Jabar," katanya. Menurut Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jabar, Hermansyah, pesisir Jabar Selatan sepanjang 446 km ini memiliki banyak potensi yang belum tergarap. Dinas Kelautan dan Perikanan mendukung upaya budi daya udang vaname karena secara ekonomi memiliki pasar yang luar biasa.Baca juga: Meningkatkan Performa Pakan Udang Melalui Penambahan Pellet Binder yang TepatIa menilai, Qini Vaname Pesantren Tharekat Idrisiyyah bisa menjadi percontohan bagi petambak lainnya. "Mungkin ini bisa menjadi percontohan kepada masyarakat bahwa usaha tambak udang sangat menguntungkan," kata Hermansyah. Dengan banyaknya petambak maupun nelayan, kata dia, tentu akan mendorong hasil produksi perikanan di Jabar dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan nelayan dan petambak.Untuk diketahui, Qini Vaname 2 berdiri sejak 2015 dan kini memiliki 40 kolam tambak seluas 10 hektare. Sekitar 20 orang santri maupun lulusan Idrisiyyah yang bertugas sebagai petambak.Sumber: Republika.co.id ...
KKP Siapkan Sertifikasi Tepung Ikan Lokal, Ini Alasannya
Terkini

KKP Siapkan Sertifikasi Tepung Ikan Lokal, Ini Alasannya

Penggunaan tepung ikan lokal berkualitas untuk bahan baku pakan menjadi kunci dalam pengembangan produksi pakan ikan mandiri nasional karena dapat mengurangi ketergantungan impor tepung ikan dan menjamin ketersediaan pakan ikan mandiri dalam usaha budidaya.Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto, saat memberikan sambutan pada Webinar bertajuk Sertifikasi Tepung Ikan Internasional dengan peserta dari instansi pemerintah baik pusat maupun daerah, asosiasi, dan perusahaan-perusahaan pakan. Baca juga: KKP Dorong Pembudidaya Ikan Produksi Pakan MandiriMenurut dia target produksi perikanan budidaya di tahun 2021 ini sebesar 19,47 juta ton, di mana 7,92 juta ton adalah produksi ikan dan udang. Dengan hitungan tersebut, maka ketersediaan pakan ikan diperkirakan mencapai 9,6 juta ton yang terdiri dari 1,8 juta ton pakan udang dan 7,8 ton pakan ikan."Kalau kita asumsikan penggunaan tepung ikan sekitar 20% dari komposisi formulasi pakan udang dan 10% untuk komposisi formulasi pakan ikan, maka akan diperlukan sekitar 1,14 juta ton tepung ikan di tahun 2021," ujar dia di Jakarta, Minggu (17/1/2021).Sehingga, kata Slamet, harus ada peningkatan produksi tepung ikan dalam negeri, baik secara kualitas maupun kuantitas. Baca juga: KKP Yakin Dapat Tingkatkan Produksi Pakan Mandiri“Menggunakan tepung ikan lokal bersertifikat akan menjamin kualitas pakan yang dihasilkan, sehingga dapat mendukung usaha perikanan budidaya ke depannya,” ungkap dia.Dia menjelaskan pengembangan bahan baku pakan termasuk tepung ikan telah masuk dalam arah kebijakan dan strategi pakan tahun 2020 hingga 2024 melalui kebijakan penyediaan bahan baku di antaranya penyusunan rancangan standar nasional Indonesia untuk bahan baku pakan ikan."Kemudian penyiapan sertifikasi produsen bahan baku pakan ikan khususnya tepung ikan," jelas Slamet.Selain itu, akan disiapkan sistem sertifikasi tepung ikan yang meliputi sertifikasi proses penangkapan ikan untuk bahan baku tepung ikan dan sertifikasi bahan baku tepung ikan.Baca juga: KKP Permudah Pelayanan Perizinan Pakan dan Obat Ikan"Jadi nangan sampai karena ingin memproduksi tepung ikan lokal, kita mengeksploitasi sumber daya ikan dalam negeri seperti ikan rucah. Akan diatur bagaimana penangkapan ikan menggunakan alat-alat yang ramah lingkungan. Serta cara-cara penangkapan ikan yang diperbolehkan," tuturnya.Dalam mendukung industri tepung ikan lokal untuk pakan ikan mandiri, Slamet berharap stakeholder dapat bersama-sama bersinergi dan berkolaborasi dalam upaya penyediaan tepung ikan lokal untuk mendongrak produksi pakan ikan mandiri di Indonesia."Mohon para stakeholder seperti perusahaan, asosiasi dapat memberikan masukan-masukan dalam bentuk butir-butir apa saja di dalam sertifikasi tepung ikan ini yang penting. Karena memang sudah cukup lama kami merencanakan sertifikasi khususnya tepung ikan untuk menjamin kualitas pakan mandiri," tandas dia.Sumber: Okezone ...
Cara Budidaya Ikan Bandeng Agar Jadi Usaha Menguntungkan Tapi Ramah Lingkungan
Terkini

Cara Budidaya Ikan Bandeng Agar Jadi Usaha Menguntungkan Tapi Ramah Lingkungan

Begini cara budidaya ikan bandeng yang ramah lingkungan agar jadi usaha menguntungkan buat kamu. Jika kamu adalah penikmat ikan bandeng, dan ingin sekalian usaha budidaya ikan lezat ini, cek disini caranya.Biasa di-presto, dibuat jadi asem-asem, dikasih bumbu kuning, ikan yang biasanya hidup di air payau ini selain lezat ternyata terus bergizi. Di masa pandemi Covid-19 ini, permintaan bandeng terus meningkat.Hal ini menjadikan budidaya ikan bandeng sebagai ladang usaha yang menguntungkan.Mengutip dokumen dari WWF Indonesia berjudul 'Better Management Practices: Seri Panduan Perikanan Skala Kecil, Budidaya Bandeng (Chanos chanos) Pada Tambak Ramah Lingkungan', ternyata budidaya ikan bandeng sudah ada sejak abad ke-12, terutama di Pulau Jawa."Sampai saat ini praktek-praktek budidaya ikan bandeng masih banyak yang menerapkan sistem tradisional dan polikultur dengan komoditas budidaya lainnya, seperti gracilaria dan udang windu," kata dokumen WWF Indonesia tersebut. Panduan praktis ini menarik untuk dibaca karena disebut telah melalui beberapa proses yaitu studi pustaka, pengumpulan data lapangan, internal review tim perikanan WWF Indonesia serta Focus Group Discussion (FGD) dengan sejumlah ahli budidaya ikan bandeng sebagai bagian dari external expert reviewer.Prospek dan tantanganSeperti dijelaskan di dokumen tersebut, "ikan bandeng selain menjadi makanan bernilai gizi, juga telah menjadi komoditas ekspor di Taiwan dan Tiongkok sebagai umpan untuk ikan tuna (Thunnus spp) dan Cakalang (Katsuwonus pelamis).""Namun dalam budidaya ikan bandeng masih terdapat banyak permasalahan, seperti tingkat eutrofikasi yang ditimbulkan oleh penggunaan pupuk yang berlebihan."Jika kamu awam akan istilah eutrofikasi, ini artinya ada nutrien berlebih yang masuk ke air, terutama pada buangan aktivitas pertanian dan buangan limbah rumah tangga."Pertumbuhan yang lambat karena permasalahan perairan (kualitas air) dan pakan alami yang sulit tumbuh, masih terdapat nener yang diperoleh dari alam, penggunaan bahan-bahan kimiawi berbahaya, munculnya penyakit yang menyerang ikan bandeng, hingga penanganan pascapanen.Sebelum kita mengulas lebih jauh tentang budidaya ikan ini, tak lengkap rasanya jika kita tidak mengetahui karakteristik, klasifikasi dan nama latin ikan ini.Nama latin dan karakteristikBandeng memiliki nama latin Chanos Chanos Forskal. Mereka termasuk jenis ikan yang memiliki tingkat adaptasi lebih tinggi dengan perubahan salinitasnya, yakni di antara sekitar 0-60 mil.Ternyata, ikan bandeng juga kuat lho bertahan pada suhu yang tinggi, yakni sampai 40 derajat Celcius.Klasifikasi ikan bandengSecara taksonomi ikan ini dapat diklasifikasikan sebagai berikut:Family: ChanidaeClass: PiscesSub Class: TeleosteiOrdo: CopterygiiGenus: ChanosSpesies: Chanos chanos ForskalCiri-ciri ikan bandengOrang Indonesia mengenal Bandeng dengan beberapa nama. Di berapa daerah ada yang mengenalnya dengan nama Bandang, Muloh, Bolu dan Agam.Jika kamu ingin lebih hafal dengan ciri-ciri fisik ikan ini, berikut yang kamu dapat perhatikan, seperti yang dijelaskan oleh dokumen dari WWF Indonesia:Begini ciri-ciri ikan bandeng1. Ikan bandeng memiliki tubuh yang memanjang dan pipih serta berbentuk torpedo. 2. Mulut ikan bandeng agak runcing, ekor bercabang dan bersisik halus.3. Habitat asli ikan bandeng adalah di laut. Oleh manusia, sering dikembangkan hingga dapat dipelihara pada air payau.4. Ikan bandeng banyak ditemukan hidup di Samudra Hindia serta Samudra Pasifik, hidup secara bergerombol dan banyak ditemukan di perairan sekitar pulau-pulau dengan dasar karang.5. Ikan bandeng pada masa muda hidup di laut selama 2 – 3 minggu, kemudian berpindah ke rawa-rawa bakau, daerah payau.6. Setelah dewasa, bandeng kembali ke laut untuk berkembang biak.7. Ikan bandeng termasuk ikan pemakan segala (omnivora), di habitat aslinya ikan Bandeng mempunyai kebiasaan mengambil makanan dari lapisan atas dasar laut, berupa tumbuhan mikroskopis, yang strukturnya sama dengan klekap di tambak.8. Klekap terdiri atas ganggang kersik (Bacillariopyceae), bakteri, protozoa, cacing dan udang renik, atau biasa disebut “Microbenthic Biological Complex”.Oh ya, mengutip dari sumber lain, disebutkan bahwa ikan Bandeng panjangnya bisa mencapai 1 meter lho. Namun jika dibiakkan di tambak biasanya hanya mencapai maksimal 50 cm.Menyesuaikan karakteristik ikan bandeng tersebut, pemilihan makanan ikan bandeng harus disesuaikan dengan bukaan mulutnya, yang memanfaatkan klekap sebagai pakan alami. Dalam budidaya ikan bandeng juga telah memanfaatkan penggunaan pakan buatan (pellet).Menurut WWF Indonesia, budidaya ikan bandeng jarang mengakibatkan kerusakan lingkungan, tidak seperti budidaya udang vannamei. Meski demikian, ada beberapa aktivitas budidaya bandeng yang merusak seperti penebangan mangrove, atau berbahaya untuk lingkungan jika petaninya menggunakan pupuk secara berlebihan, serta menggunakan pestisida dan bahan kimia berbahaya.Metode pembiakan ikan bandengAda beberapa metode yang dikenal untuk budidaya ikan bandeng, misalnya metode tradisional, progresif, modular, dan penebaran berganda. Meskipun metode tersebut berbeda-beda, cara budidayanya terbilang sama, yakni petani Bandeng harus memperhatikan lokasi budi daya karena sumber daya yang kamu perlukan untuk menopang operasional tambak.Ada beberapa tahapan untuk memulai budidaya ini, diantaranya terkait persiapan tambak, cara penebaran ikan, perawatan dan pemeliharaan, pengendalian hama dan penyakit, tehnik pemberian pakan dan tambahan pakan dan tentunya jangan sampai lupa adalah tehnik mempertahankan kualitas air.Kelayakan lokasi untuk tambak budidaya ikan bandengMenurut WWF Indonesia, posisi lahan tambak sebaiknya:1. terletak di antara pasang surut air laut, berguna bagi pengairan tambak yang mengandalkan mekanisme pasang surut air laut."2. Dekat sumber air, baik dari muara, sungai maupun langsung dari laut. Tidak terletakdi daerah rawan banjir.3. Tanah tidak mudah bocor (porous), sehingga tambak dapat mempertahankanvolume air.4. Tanah yang baik yaitu yang bertekstur lempung (komposisi liat, pasir dan debu berimbang) dan liat berpasir."Pilihlah lokasi yang jauh dari limbah pencemaran, khususnya limbah yang mencemari sumber aliran sungai dan air laut. terdapat tambak yang menggunakan air tawar atau tambak air tawar. Peruntukan tambak tersebut berbeda pada setiap musim, musim hujan digunakan untuk tambak ikan bandeng dan musim kemarau digunakan sebagai petak padi."Sebaiknya tambak atau kolam yang dibuat mendapat akses ke sarana dan prasarana yang memadai sehingga memudahkan aktifitas budidaya maupun penanganan pascapanen dan pemasaran hasil.Aksesibilitas tambak/kolamPetambak juga sebaiknya memiliki akses untuk memperoleh benih (nener) unggul. Akses lokasi budidaya juga sebaiknya mudah dijangkau.Perencanaan dan Jadwal Budidaya Ikan Bandeng Untuk mempermudah, berikut tangkapan layar dari dokumen WWF Indonesia tersebut.Tangkapan layar dari dokumen Better Management Practices: Seri Panduan Perikanan Skala Kecil, Budidaya Bandeng (Chanos chanos) Pada Tambak Ramah Lingkungan Penasaran kolamnya seperti apa jadinya? Kira-kira begini penampakannya.Dokumen WWF Indonesia berjudul 'Better Management Practices: Seri Panduan Perikanan Skala Kecil, Budidaya Bandeng (Chanos chanos) Pada Tambak Ramah Lingkungan' menjelaskan lebih detail beberapa hal penting.Lengkap, padat, berbobot, dokumen pdf oleh WWF Indonesia tersebut membahas: legalitas usaha, peraturan lain terkait budidaya perikanan di pesisir, standar nasional yang berkaitan dengan ikan bandeng, persiapan lahan dan petakan tambak, tehnik pengeringan tanah dasar, pemupukan, pengisian air dan benih bandeng (nener).Selain itu juga dijelaskan tehnik pemeliharaan bandeng untuk gelondongan, pemeliharaan pembesaran, pengelolaan kualitas air, pengendalian hama dan penyakit (jenis-jenis hama), panen dan paska panen. Sebelum kamu buka pdf lengkapnya, begini kira-kira gambarannya jika budidaya ikan bandengmu berhasil. Kapan? Tentunya saat panen. PanenPanen dapat dilakukan berdasarkan pertimbangan pencapaian ukuran ikan yang dipelihara yaitu 300 – 350 gram/ekor. Panen ikan bandeng pada sistem tradisional yaitu sekitar 4 bulan masa pemeliharaan di petak pembesaran. Dengan demikian panen bandeng dapat dilakukan secara bertahap (panen selektif).Tehnik memanen agar ikan tetap dalam keadaan segar juga ada pada link tersebut, bahkan juga dijelaskan tehnik pengiriman bandeng. Selamat coba kamu cari pasarnya, dan jika memang ada yang potensial, silahkan coba terapkan panduan dari WWF Indonesia tersebut.Sumber: Berita Subang ...
Wisata Akuakultur Ada di Maros, Bisa Mancing Sekaligus Wisata Kuliner
Terkini

Wisata Akuakultur Ada di Maros, Bisa Mancing Sekaligus Wisata Kuliner

Tempat wisata baru kembali hadir di Kabupaten Maros. Tepatnya di Lokasi Desa Borimasunggu Kelurahan Borongkalukua, Maros. Konsep wisata yang diterapkan wisata kuliner dan wisata mancing. Abdul Asis salah satu kelompok pembudidaya ikan pemilik tempat wisata tersebut.Memiliki luas area wisata ini kurang lebih 05 hektar dengan berbatasan dengan sungai dan laut disekelilingnya ditumbuhi pohon mangrove yang dikelola bekerjsama dengan badan usaha milik Desa (BUMDES) setempat wisata ini bernama Borongkalukua Fishing sekitar kurang lebih 12 Km dari jalan poros.Di mana di tempat wisata ini ada beberapa buah gazebo yang disiapkan bagi para pengunjung. Sehingga sangat pas untuk mereka yang datang bersama keluarga.Baca juga: Melihat Lebih Dekat Wisata Keramba Apung di Sumberkima Bali UtaraMenariknya lagi, selain wisata kuliner pihaknya juga menyediakan wisata mincing, dimana ikan hasil pancingan itu ditimbang dengan harga Rp.30.000 per kilonya selain bisa dibawa pulang, juga bisa langsung disantap di tempat tersebut.Dari wisata akuakultur ini, salah satu unit pelaksana teknis Kementerian Kelautan dan Perikanan yaitu Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan Maros turut berpartisipasi pada kegiatan pendampingan khusunya di bidang perikanan.Salah satunya adalah kemandirian pakan, yang merupakan salah satu sarana produksi utama dalam usaha perikanan budidaya.Baca juga: KKP-Pemkab Buleleng Resmikan Kampung Bandeng dan AgrowisataIkan bandeng yang dibudidayakan di tempat tersebut menggunakan pakan berbahan baku lokal ini hasil pendampingan peneliti dan penyuluh perikanan sekaligus menjadi tempat percontohan BRPBAP3 bagi pembudidaya di Maros yang dinamakan pakan murah mandiri (PAKRAHMAN).Mengingat harga pakan komersil yang sangat tinggi sehingga program PAKRAHMAN ini akan sangat membantu dalam memenuhi kebutuhan pakan,ketersediaan pakan murah yang berkualitas sehingga usaha budidaya di masyarakat dapat berlangsung secara kontinyu memanfaatkan bahan baku lokal yang banyak untuk pembuatan pakan mandiri.Pendampingan ini juga dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan kelompok pembudidaya mengenai prinsip dan teknis pembuatan pakan murah mandiri dan juga sebagai peluang bisnis pakan.Sumber: Tribun News ...
Usung Hand Sanitizer dari Kulit Udang, 3 Mahasiswa FPK Unair Sabet Juara II Nasional
Terkini

Usung Hand Sanitizer dari Kulit Udang, 3 Mahasiswa FPK Unair Sabet Juara II Nasional

Tak henti-hentinya Universitas Airlangga mencetak mahasiswa yang berprestasi di kancah Nasional. Kali ini tiga mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Unair menorehkan prestasi juara II Tingkat Nasional Kategori Lomba Inovasi Produk Festival Inovasi dan Kreativitas Mahasiswa 2020 Universitas Khairun Ternate. Mereka adalah Arief Rubiana, mahasiswa Teknologi Hasil Perikanan (THP), bersama Reza Istiqomatul Hidayah dan Anastasya Dewi Larasati mahasiswa Akuakultur.Lomba tingkat nasional tersebut bertema From Trash to Cash (dari sampah menjadi uang). Tiga mahasiswa tersebut membawakan sebuah inovasi produk yang berasal dari limbah kulit udang yang dijadikan sebagai hand sanitizer. Produk tersebut bernama Likuid SanitizerBaca juga: Guru Besar IPB Temukan Vaksin Ikan untuk Budidaya AkuakulturKetua Tim Arief mengungkapkan bahwa tercetusnya inovasi itu bermula ketika dirinya melaksanakan Praktik Kerja Lapang di Thailand. Ketika itu, ia mengambil topik penelitian Kitosan dari limbah kulit udang.Kitosan merupakan senyawa biopolimer turunan yang bersifat organik. Senyawa turunan yang berasal dari tiga tahap, yaitu deproteinasi, demineralisasi, dandeasetilasi kitin yang banyak terkandung didalam hewan laut seperti udang dan kepiting.“Kitosan merupakan biopolimer yang bersifat organik dan diduga mengandung aktivitas antibakteri yang bisa digunakan untuk inovasi ini,” ungkap mahasiswa THP angkatan 2017 tersebut.Baca juga: Maggot Pakan Ternak dengan Keuntungan SelangitKarena kitosan bersifat organik, senyawa tersebut tidak mengandung protein yang bisa menyebabkan alergi. “Jadi, aman untuk digunakan,” imbuhnya, Selasa(5/1/2021)Karena pengerjaan konsep inovasi tersebut dilakukan secara daring, Arief mangakui inovasi itu masih membutuhkan pengembangan lebih lanjut untuk menelusuri keefektifitas serta pengemasan yang tentu harus eco-friendly. “Dengan banyaknya inovasi yang dimiliki, semoga masalah sampah di dunia bisa teratasi. Karena, ini merupakan tanggung jawab kita bersama,” pungkasnya.Sumber: kominfo.jatimprov.go.id ...
Cara Tepat Tetaskan Telur Artemia
Terkini

Cara Tepat Tetaskan Telur Artemia

Artemia merupakan pakan hidup alami yang banyak digunakan dalam usaha pembenihan ikan dan udang dikarenakan kandungan nutrisinya yang sangat baik. Artemia sendiri merupakan salah satu jenis Zooplankton yang hidup diperairan asin. Artemia yang dijual di pasaran biasanya Artemia kalengan dalam bentuk telur kista Naupli yang harus ditetaskan lagi. Tingkat tetasan artemia berbeda-beda tergantung kualitas produk artemia yang dijual. Beberapa merek artemia yang dijual adalah artemia Arcyst dengan tingkat tetas sampai 60-65%, ada juga Artemia Mackay yang memiliki tingkat tetas lebih baik berkisar 70-75% dan yang sangat diminati belakangan adalah Artemia Inve dengan kualitas lebih kurang 80%. Baca juga: Teknologi Artemia INVE Terbaru dan Optimalisasi Penetasan ArtemiaNamun disamping merek, teknik penetasan artemia juga merupakan salah satu faktor penting guna mendapat jumlah artemia yang optimal. Jika cara penetasan benar, jumlah telur artemia yang menetas sempurna pun akan lebih banyak. Tentu akan percuma bila merk nya bagus tapi cara penetasannya salah, maka hanya kerugian yang didapat.Berikut adalah teknik penetasan artemia yang baik, seperti yang disadur dalam website Brine Shrimp Direct.Cara Penyimpanan Naupli ArtemiaPertama-tama, pilih dan gunakanlah telur artemia yang sehat dan semua telur artemia harus disimpan dengan syarat: - Dalam wadah yang tertutup rapat  - Tidak lembab  - Simpan di tempat yang dingin dengan suhu dibawah 10°C. (Pendinginan sangat ideal untuk penyimpanan jangka pendek dengan waktu kurang dari tiga sampai empat minggu. Sedangkan untuk penyimpanan jangka panjang, telur sebaiknya disimpan pada atau di bawah titik beku 0°C.)Kami sarankan setelah Anda membeli telur artemia, Anda bagi terlebih dahulu telur-telur tersebut ke dalam jumlah yang akan dikonsumsi untuk jangka panjang dan jangka pendek. Untuk telur yang akan digunakan dalam waktu tiga sampai empat minggu kedepan simpanlah dalam wadah tertutup rapat di dalam lemari es..Sementara sisanya harus disimpan juga dalam wadah tertutup rapat tetapi di dalam freezer. Perlu diingat bahwa pembekuan dapat menurunkan aktivitas metabolisme dan menunda penetasan telur. Ketika akan ditetaskan, keluarkan telur dari freezer satu hari sebelum menggunakannya.Teknik penyimpanan di atas berlaku untuk penyimpanan semua telur artemia, baik artemia dengan kaleng yang sudah dibuka atau belum dibuka.Baca juga: Sintasan dan Pertumbuhan Larva Ikan Patin yang Diberi Artemia Mengandung Vitamin CUntuk penetasan artemia, ikuti panduan ini untuk hasil terbaik:- Kadar Garam: Gunakan garam dengan takaran 1 sampai 2/3 sendok makan per liter air. Pastikan untuk menggunakan garam laut.  - pH: pH yang tepat sangat penting dalam penetasan artemia adalah pH 8,0 atau lebih tinggi. Jika pH air dibawah 7, Epson garam atau magnesium sulfat dapat ditambahkan dengan takaran 1/2 sendok teh per liter larutan.  - Suhu: Suhu air optimum untuk penetasan dalam waktu 24 jam adalah 26-28°C. Menurunkan suhu dapat menyebabkan waktu penetasasn yang lebih lama. Dan jangan sampai suhu melebihi 30°C.  - Cahaya: Pencahayaan diperlukan untuk memicu mekanisme menetas dalam embrio selama beberapa jam pertama inkubasi. Mempertahankan sumber cahaya selama masa inkubasi sangat dianjurkan untuk mendapatkan hasil penetasan yang optimal sekaligus untuk kontrol suhu.  - Aerasi: Aerasi konstan, diperlukan untuk menjaga artemia tetap hidup serta memberikan oksigen yang cukup untuk artemia menetas.   - Kadar Penebaran: 1 gram per liter atau sekitar 1/2 sendok teh artemia per liter dianjurkan. Penebaran yang terlalu banyak akan menghasilkan persentase menetas lebih rendah.  - Wadah Penetasan: Wadah dengan bagian bawah datar haru dihindari. Wadah kerucut atau berbentuk "V" merupakan wadah yang paling tepat dalam penetasan guna menjaga tekanan yang tepat untuk menghasilkan penetasan optimal. Pastikan untuk benar-benar mencuci wadah kerucut tersebut, bilas, dan keringkan. Jangan menggunakan sabun. Sabun akan meninggalkan zat sisa yang bisa menimbulkan busa selama proses penetasan dan menyebabkan telur naik ke permukaan.  - Masa inkubasi: Umumnya, waktu inkubasi optimum adalah 24 jam. Telur yang telah disimpan dengan benar selama lebih dari 2-3 bulan mungkin memerlukan waktu inkubasi tambahan - hingga 30-36 jam. Namun pada umumnya, telur akan menetas dalam waktu  18 jam. Baca juga: Kecukupan Pakan pada BenurProsedur penetasan:Langkah-langkah berikut akan mencapai tingkat penetasan telur artemia yang optimal. - Tempatkan wadah kerucut di tempat yang kokoh dan cahaya remang. Untuk kemudahan panen dan cahaya masuk gunakan wadah semi transparan.  - Isi wadah kerucut dengan air dan tempatkan pada suhu penetasan optimum 28°C.  - Masukkan artemia dengan takaran 1 gram per liter.  - Gunakan aerasi yang memadai untuk menjaga tekanan dalam wadah.  - Tergantung pada suhu air, artemia akan menetas dalam kisaran 18-36 jam.  Setelah artemia menetas, matikan aerasi dan tunggu beberapa menit agar cangkang telur dan anakan artemia terpisahkan. Artemia yang baru menetas akan mengendap ke bagian bawah kerucut atau bergerak ke arah sumber cahaya; cangkang telur akan mengapung ke permukaan. Setelah dipisahkan, artemia dapat disedot dari bawah dengan selang udara untuk dikeluarkan.  Suhu inkubasi hangat dan metabolit dari tempat penetasan menciptakan kondisi ideal untuk bakteri berkembang. Sebaiknya cuci anakan artemia dengan jaring halus atau saringan menggunakan air bersih atau garam sebelum diberikan pada ikan Anda.  Wadah dan peralatan penetasan harus dibersihkan secara rutin. Itulah teknik penyimpanan dan penetasan telur artemia yang dapat Anda percayai menghasilkan jumlah artemia yang optimal untuk pakan ikan/udang. Artikel asli ...
Buletin Minapoli: Akses Informasi Akuakultur Lebih Mudah
Terkini

Buletin Minapoli: Akses Informasi Akuakultur Lebih Mudah

Halo sahabat Minapoli! Sekarang Anda dapat temukan lebih mudah informasi terkini seputar akuakultur melalui Buletin Minapoli. File ini dilengkapi dengan link yang terhubung dengan halaman website Minapoli yang Anda tuju, sehingga Anda dapat membaca lebih lengkap terkait informasi akuakultur tersebut.Dengan Buletin ini, Minapoli berharap dapat memperluas jangkauan informasi tentang budidaya dengan format yang lebih ringkas dan mudah dibaca dimana saja. Anda bebaskan file ini kemana saja dan siapa saja.Informasi di dalamnya mencakup artikel tentang budidaya, informasi produk di Minapoli, dan event terdekat yang dapat Anda ikuti dalam waktu dekat.Selamat membaca, semoga bermanfaat!Download semua edisi Buletin Minapoli di bawah iniBuletin MinapoliHighlight informasi Vol 1 | Januari 20211. Cara Budidaya Ikan Lele di Kolam Terpal2. Teknologi Pembenihan Ikan Hias Botia3. Cara Pembenih Lele Menghadapi Musim Hujan4. Lowongan Kerja Perikanan di PT Sinta Prima FeedmillHighlight informasi Vol 2 | Februari 20211. Stealth Cleaner, Robot Pembersih Jaring Ikan di Laut2. Membuat Sendiri Pakan Alternatif Ikan Gurami3. Begini Pembenihan Patin Ala BPBAT Jambi4. Lowongan Kerja Perikanan di eFisheryHighlight informasi Vol 3 | Februari 20211. TalentaMina, Solusi SDM di Akuakultur2. Teknik Pembesaran Kakap Putih di KJA3. KKP Bangun Percontohan Tambak Udang Berkelanjutan di Kalteng4. Lowongan Kerja Perikanan di PT Medion Farma JayaHighlight informasi Vol 4 | Maret 20211. Marine Aquagriculture, Terobosan Polikultur Berbasis Air Laut2. Teknik Pembesaran Bawal Bintang Di Keramba Jaring Apung3. Probolinggo Mulai Kembangkan Budidaya Udang Vannamei dengan Teknik Bumi Kraksaan4. Lowongan Kerja Perikanan di Cargill Aqua NutritionHighlight informasi Vol 5 | Maret 20211. Tekan Biaya Produksi dengan 10 langkah Sistem Tambak Nursery 2. Budidaya Rumput Laut dengan Kantong Bersusun3. Menteri Trenggono Ajak Startup Perikanan Cermat Baca Kebutuhan Pasar Dunia4. Lowongan Kerja Perikanan di PT Universal Agri BisnisindoHighlight informasi Vol 6 | April 20211. Teknologi RAS Berhasil Tingkatkan Produksi Benih Gurame2. Budidaya Ikan Nila di Kolam Tanah Bagi Pemula3. Mahasiswa FTUI Rancang Greenhouse Hidroponik dan Akuakultur4. Lowongan Kerja Perikanan di PT Cargill IndonesiaHighlight informasi Vol 7 | Mei 20211. Polikultur Udang Galah dengan Bandeng2. Usaha Budidaya Ikan Bandeng Semi Intensif Agar Produksi Meningkat3. Perluas Akses Pembiayaan Usaha, KKP Genjot Legalitas Kepemilikan Lahan Budidaya Ikan4. Lowongan Kerja Perikanan di Behn Meyer ChemicalsHighlight informasi Vol 8 | Juni 20211. Teknologi Image Recognition Diterapkan di Sektor Budidaya Ikan2. Pengelolaan Induk Ikan Bawal Bintang3. KKP Kenalkan Platform Pelatihan Daring Di Asia Tenggara4. Lowongan Kerja Perikanan di PT Suri Tani PemukaHighlight informasi Vol 9 | Juli 20211. Lowongan kerja perikanan di Cargill Indonesia2. Varietas ikan gurami terbaru hasil pemuliaan Balai Riset Pemuliaan Ikan (BRPI)3. Produk pakan ikan hingga alat ukur kualitas air4. Konferensi mengenai penyakit ikan ...
Pelajari Investasi dan Permodalan dalam Akuakultur
Terkini

Pelajari Investasi dan Permodalan dalam Akuakultur

Jika diamati, saat ini semakin banyak orang-orang yang mulai memasuki dunia investasi pada berbagai bidang. Kegiatan penanaman modal ini memang semakin familiar di tengah-tengah masyarakat. Ternyata selain emas atau properti, investasi juga dapat dilakukan dalam bidang akuakultur.Podcastmina di episode  keempat ini ditemani oleh Andika Gumilang Kushayadi sebagai Chief Product Officer Infishta yang menjelaskan lebih banyak terkait permodalan dan investasi syariah pada bidang akuakultur.Infishta sendiri, merupakan perushaan pendanaan dengan skema crowdfunding dalam perikanan seperti salah satunya akuakultur. Isitlah crowdfunding ini juga dapat diartikan sebagai patungan untuk membiayai suatu usaha budidaya ikan.Nantinya, perushaan ini akan mempertemukan antara pemberi dan dengan pembudidaya yang membutuhkan dana. Sistem yang diterapkan untuk pendanaan perikanan ini melalui akad bagi hasil, sehingga bagi hasilnya sudah ditentukan. Dika menjelaskan posisinya sebagai CPO di Infishta, kurang lebih mirip atau serupa dengan research and development atau product development. Tanggung jawab dari posisi ini meliputi pengembangan awal produk berupa pendanaan, proses penawaran ke customer, hingga proses bagi hasil dan pengembalian modalPermodalan di Akuakultur Perbedaan berinvestasi pada akuakultur adalah karena sifatnya yang sangat dinamis. Pada dasarnya dalam budidaya ikan, kita tidak bisa memastikan jangka waktu secara pasti dalam memperoleh keuntungan karena berbagai faktor, seperti jumlah ikan yang hidup atau keseragaman ukuran panen.Melalui Infishta, Anda dapat mengajukan permodalan sebagai pembudidaya, maupun sebagai pemberi modal atau investor. Apabila ingin mengajukan permintaan dana, maka syarat utamanya adalah perhitungan yang rasional.Anggaran pengajuan modal akuakultur harus dibuat sesuai dengan fakta, seperti kebutuhan pakan selama produksi dan lai-lain. Oleh karena itu menurut Dika, diperlukan orang yang benar-benar paham mengenai proses akuakultur untuk mengevaluasi pengajuan dana yang masuk.Selain itu, juga diperlukan pengelompokkan anggaran seperti biaya investasi asset dan biaya operasional sehingga dapat dihitunng return of invesmentnya.Komoditas BudidayaKomoditas yang dibudidayakan juga memerlukan seleksi untuk mendapatkan permodalan. Dika menyatakan bahwa untuk saat ini komoditas ikan air tawar agak selektif karena margin yang biasanya tidak terlalu tinggi. Sejauh ini Infishta lebih banyak berfokus pada komoditas air laut seperti udang, ikan tuna, ikan kerapu, ikan cakalang, dan cumi. Sedangkan untuk komodits air tawarnya adalah sidat. Infishta juga tidak membatasi para pembudidaya skala rumahan untuk mengajukan pendanaan. Dengarkan selengkapnya di PodcastminaInvestasi di AkuakulturPemantauan penggunaan dana oleh pembudidaya, dapat dilakukan oleh investor dan Infishta melalui ATM yang digunakan bersama. Investasi ini pun juga tidak memiliki jumlah minimal nominal, sehingga siapa saja bisa berinvestasi disini.Kelebihan berinvestasi pada akuakultur adalah karena bidang ini merupakan sektor riil sehingga dapat dilihat serta dipantau secara langsung kegiatannya. Selain itu akuakultur juga adalah salah satu sumber pangan yang tidak dapat digantikan.Sehingga dapat disimpulkan bahwa bidang ini akan selalu menjadi sesuatu yang dicari oleh masyarakat. Sedangkan untuk resikonya sendiri tentu saja adalah resiko kematian atau kegagalan panen pada ikan atau udang. Namun, akuakultur sendiri juga merupakan langkah minimalisasi resiko dalam pemeliharaan ikan.  Sebagai perusahaan yang menyediakan sistem investasi syariah, Infishta menerapkan dua sistem akad, yaitu mudarabah dan murabahah. Mudarabah adalah sistem penyertaan modal yang digunakan dalam program yang harus melihara ikan dan udangnya terlebih dahulu, kemudian bagi hasil dilakukan setelah panen. Sedangkan murabahah jual beli dengan keuntungan sehingga dapat memperoleh keuntungan setiap bulan. Untuk yang masih awam, kalo penanggulangannya gimana bagi investor kalo gak untung. Harus punya tabungan. Invest jangan di atas 20%. Keuntungan di jangka waktu yang akan datang, sedangkan untuk sampai waktu yang akan tiba harus terus menyambung hidup.Konsep dasar dari investasi syariah sendiri adalah meniadakan ketidakjelasan, sehingga harus jelas mulai dari lokasi pembudidaya, jenis usahanya, serta menjauhi riba. Oleh karena itu sistem yang digunakan adalah sistem bagi hasil.Syarat pertama menjadi mitra atau pengaju permodalan adalah usahanya harus sudah beroperasi. Hal tersebut untuk memastikan apakah usahanya menguntungkan atau tidak dan memperoleh kepercayaan dari investor.Sedangkan untuk menjadi investor syarat utamanya adalah minimal berusia 17 tahun dan memiliki KTP. Selain itu tentu saja ketersediaan dana dan pemahaman tentang resiko berinvestasi pada bidang ini.Dika menyampaikan keuntungan investasi pada bidang akuakultur di umur yang masih muda adalah mendapatkan kebebasan finansialnya yang lebih cepat. Artinya adalah uang yang bekerja untuk orang tersebut, sehingga punya waktu yang lebih banyak untuk melakukan hal lainnya. ...
Ternak Ikan dan Rekreasi Peningkat Imun di Tangerang
Terkini

Ternak Ikan dan Rekreasi Peningkat Imun di Tangerang

Puluhan ikan lele berenang di dalam kolam yang terbuat dari semen di salah satu sudut perumahan Villa Grand Tomang, Tangerang. Tubuh-tubuh panjang mereka meliuk-liuk di antara air yang berwarna cukup pekat.Tidak terlalu jauh dari kolam lele itu, sebuah perahu tertambat di tepi danau buatan di dalam kawasan perumahan. Warnanya biru dengan garis kuning dan merah pada lambungnya. Tampak kontras dengan warna air danau yang kehijauan, tetapi senada dengan warna saung di atasnya.Pagar besi terpasang di sisi lain tepian danau, tepat di seberang perahu berwarna ngejreng tersebut. Pagar itu sebagai pengaman untuk warga perumahan, khususnya anak-anak.Kolam ikan dan danau buatan serta taman di dalam kompleks perumahan itu dibuat atas inisiatif warga. Taman dan danau dibuat sebagai tempat bersantai, sementara kolam ikan lele dan nila untuk mencukupi kebutuhan pangan warga.Baca juga: Pasar Ikan Modern Muara Baru, Destinasi Wisata BaruBahu Membahu Rawat IkanSeorang warga perumahan bernama Dimas, mengatakan, selain untuk dikonsumsi oleh warga, ikan lele dan nila yang dipelihara tersebut juga dijual. Uang hasil penjualan kemudian digunakan untuk membeli pakan ikan.Perawatan ikan-ikan itu tidak terlalu sulit. Para warga secara bersama-sama menguras dan member makan ikan-ikan itu. Pengurasan kolam dilakukan setiap 15 hari sekali untuk menjaga kualitas air dan kesehatan ikan. Tapi, tak jarang pengurasan dilakukan lebih dari 15 hari, khususnya jika warga sedang sibuk.Dalam perawatan budidaya ikan memang tidak semua warga ikut merawatnya hanya bapak-bapak saja atau remaja.Warga setempat menggunakan pakan buatan yang kaya protein dan ramah lingkungan, sehingga air kolam pun tidak terlalu berbau. Hanya saja, harga pakan tersebut cukup mahal.Warga lain bernama Yusuf, menambahkan, selain harganya cukup mahal, pakan yang digunakan juga berpengaruh pada masa panen. Masa panen ikan-ikan di perumahan itu menjadi lebih lama, yakni sekitar empat hingga lima bulan sekali.Perahu dan saung yang ada di danau buatan sekitar Taman Lotus Perumahan Villa Grand Tomang, Tangerang. (Foto: Tagar/Danti Aulia)Baca juga: Melihat Lebih Dekat Wisata Keramba Apung di Sumberkima Bali Utara“Tetapi ini sangat berpengaruh karena jangka waktu panen yang lebih lama, menunggu sampai ikannya besar seperti standar ikan pada umumnya,” ujarnya.Penggunaan pakan menghabiskan dana sekitar Rp 200 ribu hingga Rp 400 ribu per bulan. Itu digunakan untuk sekitar seribu hingga dua ribu bibit ikan.Sementara, Taufik, Ketua RW 017 perumahan Villa Grand Tomang, Tangerang, mengakui metode pemeliharaan ikan di wilayahnya tersebut memiliki kekurangan, khususnya jika dibandingkan dengan pemeliharaan ikan lele secara konvensional.Kekurangan yang paling menyolok adalah dari harga produk yang lebih mahal meski secara kualitas lebih bagus. Salah satu penyebabnya adalah kesukaan warga perumahan untuk mengonsumsi ikan berukuran cukup besar, sehingga waktu panen yang dibutuhkan menjadi lebih lama.“Tapi di Tangerang jarang ada peminat yang besarnya seperti itu. Biasanya kalau yang ukurannya agak kecil lebih baik dibagikan kepada warga dibanding harus dijual. Rata-rata pembeli lebih suka yang besaran 4-5 ekor per kilogram, jadi waktu panennya lebih lama. Apalagi dengan sistem yang kita terapkan ini pakan pelet,” kata dia.Ikan dengan pakan pellet pertumbuhannya berbeda dengan ikan yang diberi pakan jerohan atau bangkai ayam dan sejenisnya. Kata dia, ikan lele dengan pakan jerohan bisa dipanen dalam waktu kurang dari empat bulan.Lamanya pemanenan otomatis membuat biaya pakan menjadi lebih besar, terlebih lele memiliki sifat kanibal. Jika terlambat diberi makan, mereka akan saling memakan.Jembatan yang ada di atas danau buatan di sekitar Taman Lotus. (Foto: Tagar/Danti Aulia)Meski memiliki kekurangan, Taufik menilai budidaya dengan metode ini masih memiliki prospek untuk dikembangkan. Syaratnya, harus dilakukan dalam skala besar.“Kalau menurut saya, program ini bisa lebih efektif kalau skalanya lebih besar,” kata dia menegaskan.Saat ini, lanjutnya, untuk menyesuaikan pasar yang sesuai keinginan masyarakat agak susah. Tetapi, jika nantinya harga ikan dengan pakan pelet dan pakan jerohan berbeda, budidaya ini bisa menjadi lebih menguntungkan.Ikan hasil budidaya di perumahan itu untuk sementara hanya dijual pada pedagang yang membeli dalam skala besar. Mereka tidak melayani pembeli eceran karena kecenderungan ikan lele memiliki tingkat stres tinggi, yang akan terganggu ketika diaduk saat pengambilan ikan.Baca juga: KKP-Pemkab Buleleng Resmikan Kampung Bandeng dan AgrowisataTaman Rekreasi dan Kebun SayurSelain budidaya lele untuk ketahanan pangan yang bisa menjadi penguat imun di masa pandemi, warga perumahan juga membuat taman yang digunakan untuk berekreasi dan menanam beberapa jenis sayuran, seperti selada, terong, cabai, dll.Taufik menjelaskan, awal warga menyepakati pembangunan taman dan danau itu hanya untuk dijadikan taman bermain saja. Warga bahkan melukis mural di tembok sekitar taman. Namun akhirnya, lokasi itu sekaligus menjadi tempat rekreasi warga.Menurutnya, taman yang dinamai Taman Lotus itu dijadikan sebagai destinasi wisata kampung oleh pemerintah setempat karena sejalan dengan program mereka, yakni menciptakan ketahanan pangan dengan memanfaatkan lahan-lahan yang nonproduktif di masa pandemi.Langkah semacam ini dinilainya sangat diperlukan di setiap perumahan, untuk menyadari pentingnya menjaga alam dengan merawat tanaman,memberi makan ikan dan sekadar membersihkan sampah dedaunan.Sebagai rempat rekreasi, Taman Lotus terbilang unik karena lokasinya di dalam perumahan, sehingga tidak memerlukan biaya dan kendaraan. Sembari mengerjakan kerjaan atau tugas kuliah yang sedang work from home bisa duduk di saung untuk sekadar menghilangkan kejenuhan dari hiruk pikuk kehidupan.Para pengurus RT dan RW juga menyediakan fasilitas untuk perawatan tanaman produksi tersebut, seperti pupuk kompos, benih, dll.Sebagian tanaman pangan yang ditanam oleh warga di area Taman Lotus. (Foto: Tagar/Danti Aulia)Baca juga: Desa Inovasi, Penopang Ekonomi Masyarakat Kelautan PerikananSementara, untuk perawatan Taman Lotus, selain sumbangan dari warga juga ada bantuan dari Pemerintah Kota Tangerang dan pihak Kelurahan Periuk meski tak menentu waktu dan jumlahnya.Taufik juga membeberkan rencananya terkait taman itu. Dirinya bersama seluruh pengurus mewacanakan untuk membuat semacam area permainan yang menggunakan danau buatan itu sebagai lokasi, seperti perlombaan perahu remote control.“Mungkin kalau destinasi ini berkembang para pengurus bisa tingkatkan pertandingan yang lebih luas dan kemungkinan ada komunitas perahu remote yang akan bekerja sama,” kata dia.Sementara, Lurah Periuk, Kosim, pernah menyatakan bahwa Taman Lotus tersebut akan dijadikan sebagai destinasi wisata kampung. Bahkan rencana itu sudah menjadi bagian dari program Pemerintah Kota Tangerang, termasuk program ketahanan pangan.“Saat ini pemerintah kota Tangerang melakukan penerobosan yaitu yang berkaitan dengan ketahanan pangan. Bukan hanya ketahanan pangan,tetapi daerah-daerah yang dijadikan suatu inovasi baru, yah contohnya seperti Taman Lotus ini,” ucapnya seperti dikutip dari Channel Youtube IndoTVnews.Menurut Kosim, lokasi itu mengalami perubahan dari tempat yang tadinya kumuh menjadi lokasi wisata atau rekreasi yang terawat.Sumber: Tagar.id ...
Maggot Pakan Ternak dengan Keuntungan Selangit
Terkini

Maggot Pakan Ternak dengan Keuntungan Selangit

Menjadi salah satu pakan ikan yang dapat menghemat harga pakan ternak seperti pelet yang mulai menanjak naik dipasaran. Membuat Ahmad Said, 40 warga Gurun Bagan Kota Solok budidayakan Maggot yang mampu berikan keuntugan selangit. Budidaya magot tidaklah sulit, mengingat untuk pengembangbiakannya, bisa didapatkan dari alam. "Lalat Black Soldier Fly BSF (indukan Maggot) sangat mudah didapatkan dialam, biasanya mudah ditemukan ditempat pembuangan buah-buahan yang sudah membusuk," kata Ahmad Said, Kepada Gatra.com, Senin (28/12) Maggot Black Soldier Fly (BSF) adalah larva dari jenis lalat besar berwarna hitam yang terlihat seperti tawon. BSF Memiliki siklus pertama dari larva BSF yang nantinya bermetamorfosa menjadi lalat dewasa. Baca juga: BSF untuk Budidaya, Maggot Hingga KepompongAhmad said menuturkan, fase metamorfosa BSF dimulai dari telur, Larva Prepupa, pupa, dan lalat dewasa, dengan proses perubahan memakan waktu sekitar 40 hari hingga 45 hari saja. "Dengan metamorfosa Maggot yang tidak memakan waktu yang lama membuat budidaya maggot ini cukup menjanjikan terlebih banyaknya peternak ikan yang mulai berlalih dari pakan ikan pelet ke Maggot ini," ungkap Ahmad Said.  Untuk kembangbiak Maggot ini, pembudidaya cukup memberikan makanan organik bagi maggotnya akan bisa tumbuh dengan baik, " kalau saya biasanya memberikan labu siam, yang dibiasanya diberikan 4 kali dalam sehari, agar bisa tumbuh dengan baik," katanya. "Kemampuan maggot BSF dalam memakan limbah organik sangat memukau. Sejumlah 15 ribu larva Black Fly Soldier dapat menghabiskan sekitar 2 kg makanan dan limbah organik hanya dalam waktu 24 jam saja," katanya.  Baca juga: Maggot, Pakan Alternatif Berprotein Tinggi untuk IkanAhmad Said melihatkan tahapan metamorfosa Maggot yang telah menjadi pupa.(Jurnalis Gatra)Ahmad Said juga menyampaikan Berbagai keunggulan maggot BSF lainnya, Tidak bau amis seperti pakan lainnya, tidak jorok, mudah diambil dan disimpan. Mudah dicerna oleh hewan ternak, murah dibeli dan hemat, sehat bagi hewan ternak, budidayanya mudah dan tanpa ribet, panen jelas dan teratur. Warga gurun Bagan ini juga menyampaikan untuk pemasaran Maggot, saat ini sudah ada pelanggan tetapnya disekitaran Solok, dan khusus untuk peternak lele yang datang langsung kerumahnya. "Saat Ini saja sudah mulai kewalahan, mengingat banyak permintaan peternak lele yang memesan maggot ini, belum lagi untuk persiapan saya untuk ternak lele nantinya," katanya. Seekor lalat menghasilkan 1500 telur lalat. Dalam pemasarannya Maggot Ahmad mengakui, biasanya ada pembeli tetap yang selalu memesan kepadanya dengan maksimal 100 kg. Biasanya untuk kawasan Kota Solok, harga Maggot Rp5000 per kilogram.  Baca juga: Pengabdian kepada Masyarakat, Tim Dosen Akuakultur UBB Optimalisasi Produksi Ikan Pakai Maggot"Untuk perharinya, pemesanan Maggot ini terus bertambah tapi sayangnya ia belum bisa memenuhi pangsa pasar ini, tetapi ia sedang berusaha pembibitan Maggot dalam jumlan lebih banyak dari biasanya," terangnya. Dengan pembudidayaan Maggot ini mampu menghasilkan uang sekitar Rp500.000 per hari. Ia juga menambahkan untuk saat ini tidak hanya membudidayakan Maggot saja, akan tetapi juga mengembangkan usahanya pada budidaya jamur tiram, ternak ayam kampung petelur, dan lainnya. Ia juga menyampaikan bagi warga yang ingin berbagi ilmu bagi warga sekitar yang ingin belajar ditempat budidayanya baik itu ternak Maggot, Jamur Tiram dan lainnya. "Ini salah satu upaya kami agar masyarakat juga bisa membudidayakan Maggot, Jamur Tiram, Ayam Kampung Petelur, dan lainnya, serta juga bisa membantu meningkatkan perekonomian masyarakat," punkasnya.Sumber: Gatra.com ...
Dampak Positif La Nina: Budidaya Ikan Hingga Perluas Sawah
Terkini

Dampak Positif La Nina: Budidaya Ikan Hingga Perluas Sawah

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan La Nina bukan hanya berdampak timbulnya bencana alam tapi juga punya peluang positif yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat."Jika dilihat secara komprehensif, La Nina selain memiliki sisi ancaman, namun juga punya peluang positif yang dapat dimanfaatkan," kata Dwikorita mengutip Antara, Rabu (30/12).Dia menjelaskan, peluang yang dapat dimanfaatkan dari fenomena La Nina antara lain panen hujan dan surplus air tanah, peningkatan produktivitas pertanian yang memerlukan banyak air dan pemanfaatan telaga yang muncul selama tahun basah untuk budidaya ikan air tawar semusim.Baca juga: Pahlawan Pangan di Tengah Pandemi COVID-19, Rudy Bertahan Budidaya Ikan SidatDwikorita mencontohkan, dalam enam kali La Nina dalam periode 30 tahun terakhir telah terjadi surplus air tanah tahunan di Waingapu sebesar 775 mm atau setara dengan 222 persen dari kondisi normalnya.Hal senada disampaikan Dekan Sekolah Vokasi UGM Agus Maryono yang juga merupakan pakar hidrogeologi dan pelopor restorasi sungai Indonesia, bahwa tahun basah harusnya bisa dimanfaatkan.Menurut Agus, meski membawa ancaman, La Nina juga mempunyai dampak positif antara lain peluang percepatan tanam, perluasan area tanam padi baik di lahan sawah irigasi, tadah hujan maupun ladang.Dampak positif lainnya dari La Nina yaitu, meningkatkan produksi perluasan lahan pasang surut, lahan pesisir akan berkembang lebih baik karena salinitas dapat dikurangi dan perikanan darat bisa dikembangkan lebih awal.Daerah kering dan semi kering juga dapat memanfaatkan air berlimpah, air tanah bisa maksimal terisi begitu pula dengan danau, situ serta telaga. Alur sungai juga bisa sempurna terbentuk.Lihat juga: Ayo Lestarikan Ekosistem Mangrove Pada Tahun 2021 Yang Akan Datang"Memang ada ancaman bencana tapi harus dijadikan pengungkit kemajuan dalam segala bidang," katanya.Ia juga menyatakan, pemerintah harus menata masyarakat untuk melakukan suatu gerakan secara sporadis untuk menghadapi La Nina.Misalnya melalui kegiatan susur sungai, sehingga masyarakat di sekitar sungai tahu potensi-potensi sungai yang dapat dimanfaatkan untuk mitigasi maupun untuk pemanfaatan potensi wisata, potensi sumber air dan potensi perikanan."Kalau ada bencana mereka siap karena mereka tahu dimana titiknya dan kalau tidak ada bencana mereka juga bisa memanfaatkan potensi yang ada sehingga bisa mengungkit kesejahteraan masyarakat," kata Agus.Sumber: CNN Indonesia ...
Kaleidoskop 2020 Bersama Minapoli
Terkini

Kaleidoskop 2020 Bersama Minapoli

Halo Sahabat Minapoli, tidak terasa tahun 2020 akan segera berakhir. Tahun ini memang tidak mudah, karena seperti yang telah dirasakan bahwa pandemi di Indonesia dan seluruh dunia belum berakhir. Namun semangat dalam memajukan perikanan khususnya akuakultur di Indonesia tidak pernah padam. Bersama-sama seluruh pihak dalam berbagai sektor saling membantu untuk para pembudidaya dan juga masyarakat menghadapi pandemi.Perjalanan panjang tentu belum berakhir, namun Minapoli berterima kasih kepada siapapun Anda yang telah bersama melangkah sejauh ini selama tahun 2020. Keterlibatan Anda sebagai keluarga, mitra, narasumber, pembeli, peserta, users, dan lainnya telah membantu Minapoli sampai ke tahap ini.Kaleidoskop Minapoli pada tahun 2020 merupakan wujud apresiasi dan motivasi untuk terus menjadi Marketplace Akuakultur Indonesia #1 serta akan berkembang menjadi platform perikanan nomor SATU dan terbesar di Asia Pasifik.Layanan Minapoli di Seluruh IndonesiaBerkat kepercayaan Anda, sebanyak 5,5 juta produk akuakultur berhasil terjual melalui Minapoli. Dari berbagai jenis produk yang kami tawarkan, 145 jenis produk juga telah terjual dari 55 mitra Minapoli.Jangkauan layanan Minapoli pun juga terus berkembang, karena kini telah menjangkau 52 kabupaten/kota dari 21 provinsi di seluruh Indonesia. Pelayanan ini tersebar dari Aceh hingga Maluku dan akan terus berkembang untuk membantu aktivitas akuakultur di seluruh Indonesia.Sebagai Marketplace Akuakultur Indonesia #1 yang aktif pada platform digital, visitor website Minapoli bertumbuh hingga 8x lipat di akhir tahun 2020. Total 30.000 user per bulannya dengan pengguna aktif harian lebih dari 1.000 user, website Minapoli terus menyediakan berbagai konten akuakultur.Selama satu tahun ini, website Minapoli menyediakan 389 produk akuakultur di Pasarmina, 1196 artikel teknis budidaya dan berita terkini di Infomina, serta 163 event perikanan di Indonesia maupun luar negeri dalam Eventmina..Program MinapoliTidak berhenti disitu, tahun ini Minapoli sukses mengadakan berbagai program yang bekerja sama dengan ahli-ahli dalam bidang akuakultur. Selain membantu dalam penyediaan sarana dan prasarana akuakultur, Minapoli juga menyediakan wadah untuk bertukar ilmu yang disambut baik oleh berbagai pihak.Bincangmina sebagai wadah bertemu dan berdiskusi terkait budidaya ikan, tahun ini telah dilaksanakan sebanyak 5x dalam format webinar. Secara keseluruhan, peserta Bincangmina mencapai 1752 orang dan menghadirkan 11 narasumber dari Inve, JALA, KTG, dan juga Bio Perkasa. Platform lainnya yang juga Minapoli manfaatkan untuk berbagi ilmu akuakultur adalah melalui Podcast. Atas kesediaan 12 narasumber yang ahli pada bidang akuakultur, Podcastmina dapat merilis 10 episode dan telah didengarkan melalui Spotify sebanyak 401 kali. Program Splash sale yang memberikan penawaran menarik untuk produk akuakultur setiap bulannya, menawarkan total 178 produk. Dukungan dari mitra tentu saja sangat membantu dalam pelaksanaan program ini.Hingga Digifish 2020 dengan tema “Accelerating The Impact of Innovation Ecosystem on the Fisheries Sector”, menghadirkan 23 narasumber dan diikuti oleh 459 peserta. Antusiasme yang begitu besar dari Anda semua telah membantu Minapoli untuk mengadakan seluruh program tersebut.Semangat Merdeka BerbudidayaLebih dari 70 mitra yang telah bekerja sama dengan Minapoli tentu menjadi salah satu semangat untuk terus memajukan akuakultur Indonesia dan merdeka berbudidaya. Terima kasih atas berbagai bentuk support yang telah diberikan selama satu tahun ke belakang, semoga ke depan akan semakin banyak peluang serta potensi baru untuk akuakultur Indonesia.Perjalanan ini tentu belum berakhir, mari terus #TemukanLebih banyak peluang #BersamaMinapoli. Semangat #MerdekaBerbudidaya perlu terus kita jaga untuk masa depan akuakultur Indonesia! ...
What Are Phytoplankton?
Terkini

What Are Phytoplankton?

Phytoplankton, also known as microalgae, are similar to terrestrial plants in that they contain chlorophyll and require sunlight in order to live and grow. Most phytoplankton are buoyant and float in the upper part of the ocean, where sunlight penetrates the water. Phytoplankton also require inorganic nutrients such as nitrates, phosphates, and sulfur which they convert into proteins, fats, and carbohydrates.Also read: Solutions to Control Blue-Green Algae in Grow-out PondsThe two main classes of phytoplankton are dinoflagellates and diatoms. Dinoflagellates use a whip-like tail, or flagella, to move through the water and their bodies are covered with complex shells. Diatoms also have shells, but they are made of a different substance and their structure is rigid and made of interlocking parts. Diatoms do not rely on flagella to move through the water and instead rely on ocean currents to travel through the water.In a balanced ecosystem, phytoplankton provide food for a wide range of sea creatures including shrimp, snails, and jellyfish. When too many nutrients are available, phytoplankton may grow out of control and form harmful algal blooms (HABs). These blooms can produce extremely toxic compounds that have harmful effects on fish, shellfish, mammals, birds, and even people.Also read: Unlocking New Potential for Microalgae in AquafeedThe National Centers for Coastal Ocean Science conduct extensive research on harmful algal blooms. Scientists use a range of technologies to predict where and when HABs are likely to form and how they will affect the areas where they occur. Scientists use this information to inform coastal authorities on how to best respond in order to minimize negative impacts.Source: Ocean Service ...
Aquaculture Feed Production Gets A New Look
Terkini

Aquaculture Feed Production Gets A New Look

Algae-based products are becoming more and more prominent in the world of aquaculture feed.As global seafood output is forced to increase due to rising global demand, aquaculture has been touted as the go-to solution to keep seafood supplies on track. Aquaculture, however, has in the past had an Achilles heel: Most conventional farmed species are carnivorous, and require fishmeal or fish-oil based feed to meet growth and nutrition targets.The sources of fishmeal and fish-oil vary, from byproducts recycled at processing plants to forage fish such as menhaden or anchovies harvested in huge numbers. Typically, those sources are wild-caught, and thus limited in supply.Also read: Unlocking New Potential for Microalgae in AquafeedFor the past three years, events like the Future of Fish Feed Challenge (F3 Challenge) have highlighted that encroaching problem, and have offered prize money to companies that can make a sustainable, fish-free aquaculture feed that manages to meet the nutritional needs of aquaculture operations.With increased demand for feed due to growth in global aquaculture production, the development of algae-based aquaculture feeds has accelerated, with many products now avilable commercially.Algae-based feed companies like Veramaris have partnered with established, traditional feed manufacturers like Skretting to expand the penetration of algae-based products into mainstream markets – the partnership has already led to algal-oil fed trout being featured in French retailers, and Kaufland in Germany also now sells fish fed a diet from Vermaris’s algal oil.Corbion is another company pioneering new algal-based feeds – AlgaPrime DHA – through partnerships with existing feed manufacturers like BioMar. As of October 2019, more than 500,000 tons of feed sold by BioMar included Corbion’s algae-based products.Also read: Green Algae - Substitute Partial Pellet Feed for TilapiaThe increasing success of algae-based feeds is also reflected in the rapid evolution of the F3 Challenge, which has moved from a contest to encourage development of oil-based feed, to this year’s “Carnivore Edition,” which has split the contest into three separate categories – salmonids, shrimp, and other carnivorous species, awarding prizes of USD 70,000 (EUR 59,400) for the winner of each category.Algae-based feed is no longer a conceptual, experimental feed. Veramaris, in feed trials with Hawaii-based mariculture company Ocean Era, has managed to replace traditional fishmeal-based aquaculture feed for algal-based feed in farm-raised kampachi, also known as Hawaiian yellowtail. According to the company, blind taste-tests indicated that fish weaned on the companies algal-oil based feed had a “more desirable taste compared to fish fed on a standard diet.”“This is the first time – to our knowledge – that fishmeal and fish oil have been totally eliminated from the diet of a marine carnivorous fish, with no deleterious consequences,” Ocean Era CEO Neil Anthony Sims said. “Kampachi are a fast-growing, sashimi-grade fish, so this a significant breakthrough for the sustainability and scalability of marine fish farming.”The rise of algal-based feed is resulting in a shift in how aquaculture feed gets the ingredients it includes. While pelletization of the feed still faces the same challenges as it always has – producing a feed that meets the correct buoyancy and nutritional standards in the right sizes – the earlier processes to produce the oil are radically different.Also read: 'Charismatic Carbon'That’s why companies like Corbion have invested in production facilities that are slightly different from a typical seafood-processing facility taking a wild-caught fish and creating an end product.“AlgaPrime DHA is grown in closed fermentation tanks where it transforms renewable, sustainable plant sugars into algae containing omega-3 DHA rich oil,” Corbion Global Aquaculture Lead Chris Haacke said. “Our facility sits among sugar cane fields and is located next door to a sugar cane mill in the São Paulo state of Brazil, the major sugar cane production area in Brazil. Producing algae omega-3s via fermentation enables production at scale – Corbion’s facility has some of the largest aerobic fermentation tanks in the world and has been producing AlgaPrime DHA at scale for five years. This is a game-changer and allows Corbion to supply the volume necessary to support the growing aquaculture feed industry.”The main ingredients of fermentation are simple: Some source of plant sugars, and an algae that is rich in omega-3s. Algae consume the sugars in the fermentation tanks, and produce the substances that can be refined into the commercially-usable product. It is at a basic level similar to the fermentation process that has been used for thousands of years – though typically it was used historically to brew beer or create wine.Also read: Capturing Carbon for The Aquafeed SectorThe sugar source in this instance is locally-grown sugar cane, but other products can be used as well. Corbion chose the location, and sugar, for its sustainability.“To safeguard our positive environmental and social impact, we work to ensure that our raw materials are sourced responsibly,” Haacke said. “Compared to other sugars’ sources like corn and wheat, the non-GM sugar cane used to grow AlgaPrime DHA is one of the world’s most productive sugar sources. Even the sugar cane waste is used as a renewable source of energy to power the sugar mill and our algae facility. All of this contributes to a low carbon-, water-, and land-use impact for producing AlgaPrime DHA.”The end result of the fermentation process is a omega-3 rich powder, or a liquid form where the powder is mixed with vegetable oil.“Both the powder and liquid formats can be incorporated into various feed formulations to help improve the nutritional and sustainability profile of farmed seafood,” Haacke said.Also read: The Future of Fish Feed might be Fish-FreeFeed formulation is done alongside formulation partners, with extensive testing done to ensure the end product meets the feed formulator’s needs. Corbion’s objective is to use its R&D platform and robust production pipeline to create new feed solutions and meet the growing needs of the aquaculture industry.“Any new feed ingredient requires extensive testing and applications development with our feed formulator partners,” Haacke said. “Corbion has specific applications expertise and works side-byside with our feed formulator partners to address issues of incorporation into the feed pellet to optimize for the right nutritional and functionality attributes. With any new feed ingredient, there are also logistics issues to address with additional storage tank capacity needs and rolling out adoption swiftly to feed production sites globally.”Source: saefoodsource.com ...
Nutrition for Aquatic Animals and Related Problems
Terkini

Nutrition for Aquatic Animals and Related Problems

The nutritional composition in aquatic feed is basic: Protein and amino acids, lipids and fatty acids, carbohydrates, vitamins. This is an important factor for the health of fish and shrimp and also plays an important part in the success of the farming model.Protein and amino acidsProtein is the main organic matter component of aquatic animals, accounting for about 60-75% of the body weight (Halver, 1988). Protein has a very complex structure, in the chemical composition of protein contains: carbon (50-55%), oxygen (22-26%), nitrogen (12-19%), hydrogen (6-8%). Although they are very different in structure, function, chemical composition, size, ... but when hydrolyzed they all decompose into amino acids.The main job of protein is to build the structure of the body. Protein in food provides amino acids through digestion and hydrolysis. The percentage of basic protein in the diet, is controversial in this study. Percentage based on studies varied from 25% to 55% of serving (Lovell, 1991 and Roberts, 2010). In addition to its primary function, protein is also a source of amino acids. Amino acids are involved in the production of specific proteins with high biological activity (hormones, enzymes) and the process of direct energy formation or accumulation in the form of glycogen or lipid. In the digestive tract, amino acids are absorbed into the bloodstream and go to tissues, organs, and participate in protein biosynthesis of the body, serving the growth, reproduction and maintenance of the body. . If the diet provides enough protein for the fish, it will lead to slow growth, or stop growth, and possibly even weight loss. On the other hand, if the amount of protein in the feed exceeds the need, only one part is used to make the new protein, the rest will be converted to energy, which will increase the cost of unnecessary food. . Therefore, scientists are very attentive and have studied the protein and amino acid requirements of both fish, starting from the 50s, up to now, most of the cultured species are important and widely distributed around the world. has been studied in this area.Also read: Why Need to Add Minerals to Fish and Shrimp Feed?Lipids and fatty acidsLipids are one of the basic biochemical components of plants and animals. The ingredients of food that are often studied are proteins, lipids, glucides and some vitamins. In which lipids play an important role as a source of energy (8- 9 kcal / gram) and fatty acids necessary for the growth and development of aquatic animals. Dietary lipids also act as carriers of oil-soluble vitamins and sterols. In addition, in the lipid composition, there are phospholipids and sterol esters involved in the biosynthesis of cell membranes.With such an important role of lipids, lipids are now an issue that is being studied to improve the quality of feed for aquatic animals. Aquatic animals have been announced and applied in practice with high efficiency. Many studies show that lipids have a great influence on the growth of aquatic animals, especially in the larval and breeding stages. At the maturing stage, the feed is supplemented with appropriate lipid source will improve the reproductive power of aquatic animals as well as the quality of breed.For ornamental fish species (eg koi and goldfish), due to captivity in the tank, energy is consumed. If the amount of food fed is too much, the amount of fat will accumulate on the fish's body, causing deformations on the body and adversely affecting the health of aquatic animals.Overfeeding overfeeding easily leads to "obesity" in goldfish.Also read: Effective Preservation and Use of Shrimp FeedCarbohydrateCarbohydrates are considered as the main source of energy for all activities of the body and the cheapest for aquatic animals. In the diet when carbohydrates are increased, the breakdown of lipids and proteins in the body will decrease, the main energy is provided by carbohydrates. Hence carbohydrates are considered to be a shared source of energy for proteins and lipids. The ability to digest carbohydrates is highly dependent on the molecular weight and junction structure of carbohydrates. Simple sugars are easier to digest than poly and sugar-free sugars such as starch, dextrin. Simple sugars can be absorbed directly through the intestinal wall while the other groups have to go through digestion, especially this process is slow in aquatic animals. When the hydrolysis of starch leads to an increase in the digestibility of starch, so, cooking or starching improves the digestibility of starchy foods. Fish and most aquatic animals do not have a β-1,4 hydrolysis enzyme, so the digestion of cellulose is almost negligible. Some reports suggest that the gut microbiota of some fish species is able to hydrolyze cellulose in fiber. Chitin, which is a polymer of N-acetyl glucosamine units while chitosan is composed of glucosamine units, is considered to be an important nutrient by some animal-eating fish, especially fry and fry. This source comes from the natural food of Artemia and Dapnhia or other crustaceans.Also read: Combining Yucca Extract and Yeast in Tilapia FarmingVitaminVitamins play an important role in the nutritional composition of aquatic animals. The role and vitamin requirements of animals were really interested when intensive aquaculture was introduced. Compared to the main nutritional ingredients in food such as protein, lipids and carbohydrates, vitamins account for a very small amount of 1-2% in the food. However, vitamins play a decisive role in the body's metabolism and can cost up to 15% of the diet.Most vitamins play a special role as a co-enzyme or agents that support enzymes to carry out biochemical reactions in the organism. Vitamins act as agents of oxidation reactions, transferring electrons from organic compounds to receptors such as oxidizing organisms. Co-enzymes in the formation of red blood cells and nerve cells and precursors of hormones.Snakehead fish humpback due to lack of food in the diet, but mainly lack of Vitamin C.Vitamin requirements for aquatic animals have been studied by some authors and set the appropriate level for some aquatic animals. However, vitamin requirements are influenced by many factors: the size and development stage of the cultured species, factors of the culture environment, the interaction with other nutritional components and especially the processing process. variable and preserve.Many research results show that aquatic animals do not have the ability or the ability to synthesize very little, not enough to meet the needs, so the provision of vitamins in food for aquatic animals is very necessary. Aquatic animals that do not have adequate vitamin intake will grow slowly, have low survival rates, have poor tolerance to environmental changes, and are susceptible to disease. Some pathological signs of vitamin deficiency in aquatic animals have been recorded such as: hemorrhage, deformity, skull fracture in fish, black body in shrimpSource: Tepbac.com ...
Ayo Lestarikan Ekosistem Mangrove Pada Tahun 2021 Yang Akan Datang
Terkini

Ayo Lestarikan Ekosistem Mangrove Pada Tahun 2021 Yang Akan Datang

Pengertian MangroveMenurut Supriharyono (2000) kata mangrove mempunyai dua arti yakni pertama sebagai komunitas tumbuhan ataupun hutan yang tahan akan kadar salinitas/ garam (pasang surutnya air laut), dan kedua sebagai individu spesies. Berbagai definisi mangrove sebenarnya mempunyai arti yang sama yakni formasi hutan daerah tropika serta sub-tropika yang ada di pantai rendah dan tenang, berlumpur, dan memperoleh pengaruh dari pasang surutnya air laut.Distibusi Mangrove di Dunia dan IndonesiaSecara global, tanaman mangrove dapat ditemukan disekitar garis tropis. Giri, et al. (2011) mendapatkan luas mangrove secara global menggunakan citra penginderaan jauh tahun 2000, yaitu  sebesar 137.760 km2 yang tersebar di 118 negara. Jumlah luas mangrove paling besar terdapat di kawasan Asia Tenggara (Indonesia), di mana lokasi yang baik untuk tumbuh dan memiliki diversitas spesies yang tinggi. Berikut negara dengan jumlah mangrove terbesar : Baca juga: Produk Rumput Laut Indonesia Unjuk Gigi di Simposium Internasional di JejuMenurut Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional dalam Hartini dkk (2010) kawasan mangrove terluas di Indonesia berada di Provinsi Papua dan Papua Barat dengan luasan mencapai 50,4% dari total luasan mangrove di Indonesia dah kedua sebesar 19,7% berada di pesisir Pulau Kalimantan, dan ketiga sebesar 17,8% berada di pesisir Pulau Sumatera. Sumber : Rahmanto (2020)Manfaat MangroveMangrove memiliki manfaat sangat luas ditinjau dari aspek ekologi, biologi dan ekonomi. Fungsi ekologi antara lain menjaga kestabilan pantai dan sebagai habitat burung, fungsi biologi sebagai pembenihan ikan, udang dan biota laut pemakan plankton serta sebagai areal budidaya ikan tambak, areal rekreasi dan sumber kayu sebagai fungsi ekonomi (Nahlony, 2019).  Adapun menurut Bagus Dwi Rahmanto (Direktorat Konservasi Tanah dan Air) fungsi dan manfaat mangrove dibagi menjadi 3, yaitu :- Manfaat mangrove secara fisik, yaitu menahan abrasi air laut, menahan badai dan angin yang bermuatan garam, dan penambat bahan-bahan pencemar (racun) diperairan pantai- Manfaat mangrove secara biologi, yaitu sebagai tempat hidup biota laut dan sumber makanan bagi spesies yang ada- Manfaat mangrove secara ekonomi, yaitu sebagai tempat pariwisata, sumber bahan kayu dan bahan penghasil obat obatan.Baca juga: KKP Resmikan Kawasan Hatchery Ikan Laut Modern di BPBL AmbonKerusakan Ekosistem MangroveKondisi ekosistem mangrove dengan status kritis saat ini yaitu mencapai 637.624,31 Ha atau setara dengan 19,26% dari total ekosistem mangrove di Indonesia (Rahmanto, 2020). Data CIFOR menunjukan deforestasi mangrove di Indonesia mengakibatkan hilangnya 190 juta metrik ton setar CO2 tiap tahun. Indoensia menjadi negeri dengan tingkat laju deforestasi ekosistem mangrove tertinggi di dunia. Menurut Center for International Forestry Research (CIFOR) saat ini ekosistem mangrove Indonesia mengalami tekanan dengan ancaman laju degradasi yang tinggi mencapai 52.000 ha/tahun. Beberapa ancaman ekosistem mangrove di Indonesia disebabkan oleh :- Alih fungsi lahan menjadi tambak, pelabuhan, industri, pemukiman dan perkebunan.- Pencemaran limbah domestik dan limbah berbahaya lainnya- Meningkatnya illegal logging dan eksploitasi berlebihan- Meningkatnya laju abrasi sebesar 1.950 Ha/tahun sepanjang 420 km- Potensi kehilangan stok karbon tersimpanBaca juga: KKP Pacu Pengembangan Daya Saing Rumput Laut NasionalTarget dan Solusi/Rencana Kegiatan Konservasi Ekosistem MangroveKementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (Dit. P4K) menargetkan penanaman mangrove sebesar 1.800 ha pada 2024, dengan komposisi target per tahun sebesar 200 ha pada 2020, 400 ha pada 2021, 400 ha pada 2022, 400 ha pada 2023, 400 ha pada 2024. Upaya lain yang dilakukan KKP dalam mendukung rehabilitasi mangrove adalah dengan memfasilitasi lokasi mangrove melalui pembangunan tracking mangrove dan pusat restorasi pembelajaran ekosistem pesisir yang akan dibangun di 10 Kabupaten/Kota pada tahun 2021.Menurut Rosyid (2020) dalam pelaksanaan konservasi ekosistem mangrove harus meliputi :- Melestarikan vegetasi-vegetasi yang ada di dalamnya dengan habitat hutan mangrove- Melindungi jenis-jenis biota yang terancam punah- Mengelola areal bagi pembiakan jenis-jenis biota yang bernilai ekonomis tinggi- Melindungi unsur-unsur yang mempunyai nilai sejarah dan budaya- Mengelola areal yang bernilai estetika, untuk pariwisata, rekreasi pendidikan, penelitian dan lain sebagainya. Beberapa solusi/rencana kegiatan konservasi eskosistem mangrove dapat dilakukan menurut Rahmanto (2020), diantaranya:- Mendorong pemerintah menetapkan mangrove sebagai kawasan lindung setempat dalam RTRW- Upaya pemanfaatan berkelanjutan (seperti ekowisata)- Pengembangan tambak-tambak model silvofishery (memperbaiki hidrologis)- Merestorasi areal mangrove yang terabrasi menjadi ekosistem mangrove kembali- Perlu dikembangkan teknik yang ramah lingkungan- Penegakan hukum, rehabilitasi mangrove yang rusak- Perencanaan jangka panjang pengelolaan mangrove di Indonesia- Optimalisasi peran kelompok kerja mangrove nasional/provinsi, masyarakat, NGO dsb- Mendorong setiap provinsi memiliki strategi/perencanaan pengelolaan mangrove, infografis potensi mangrove dsbKegiatan pelestarian ekosistem mangrove ini juga dapat dipadukan dengan teknologi yang ada seperti yang telah dilakukan oleh beberapa negara lainnya untuk mempermudah dalam proses pelestarian maupun proses pengawasannya. Teknologi yang telah digunakan menurut majalah Tempo (2018), diantaranya :- Drone penanam bakau asal Inggris BioCarbon Engineering, mampu menanam 100 ribu biji bakau per hari di Myanmar.- Pengawasan pertumbuhan mangrove secara real time dengan perpaduan IoT dan telepon seluler dan Cloud yang dilakukan di Malaysia- Teknologi pengindraan jauh citra milik Belgia dapat menghitung perubahan luas kawasan mangrove di MalaysiaReferensi :Giri, C., Ochieng, E., Tieszen, L., Zhu, Z., Singh, A., Loveland, T., J. Masek6 and N. Duke. (2011). Status and Distribution of Mangrove Forest of the World Using Earth Observation Satellite Data. Global Ecology and Biogepgraphy : pp 154 - 159.Hartini S., Saputro GB., Yulianto M., dan Suprajaka. (2010). Assessing the Used of Remotely Sensed Data for Mapping Mangroves Indonesia. Selected Topics in Power Systems and Remote Sensing. ISBN: 978-960-474-233-2Nahlony, Lona Helti., dan Masniar Masniar. 2019. Manfaat Ekosistem Mangrove dalam Meningkatkan Kualitas Lingkungan Masyarakat Pesisir. Universitas Muhammadiyah Sorong, Sorong, Papua Barat.Rahmanto, Bagus Dwi. 2020. Peta Mangrove Nasional dan Status Ekosistem Mangrove di Indonesia. Dalam Webinar “Development for Mangrove Monitoring Tools in Indonesia” Jakarta, 6 Agustus 2020.Rosyid, Novi Utami. 2020. Ekoliterasi Mangrove (Inovasi Pendidikan Lingkungan Anak Psisir untuk Konservasi Mangrove). Guepedia. Supriharyono. 2000. Pelestarian dan Pengelolaan Sumber Daya Alam di Wilayah Pesisir Tropis. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta, Indonesia.Majalah Tempo. 2018. Diakses pada Tanggal 28 Desember 14:03. (https://majalah.tempo.co/read/etalase/155813/teknologi-untuk-melindungi-mangrove)Kementrian Kelutan dan Perikanan. 2020. Diakses pada Tanggal 28 Desember 14:37. (https://kkp.go.id/djprl/artikel/19898-kkp-targetkan-tanam-mangrove-200-ha-di-2020)Penulis:Adinda KInasih Jacinda (Mahasiswi Magister Ilmu Perikanan UNPAD) ...
Podcastmina Ep 2: Berani Berbudidaya di Masa Muda
Terkini

Podcastmina Ep 2: Berani Berbudidaya di Masa Muda

Anak muda yang baru akan terjun ke dalam dunia akuakultur, sering kali merasa khawatir dan bingung untuk memulai bisnisnya. Oleh karena itu pada episode Podcastmina yang ke-2 Marcellinus Silalahi membagikan pengalamannya saat merintis bisnis ikan hias di usia muda.Pengalaman adalah guru paling berharga untuk memulai suatu usaha budidaya, walaupun selain itu juga diperlukan kesiapan finansial dan relasi. Pengalaman serta relasi dapat diperoleh dengan cara memperbanyak bertemu dengan para kakak tingkat atau senior yang sudah berbisnis, atau berkenalan dengan orang-orang baru di pasar ikan.Menurutnya, terkadang anak muda cenderung belum percaya diri untuk memulai bisnisnya di akuakultur dapat disebabkan karena kurangnya pengalaman, sehingga seharusnya sudah bisa memulai bisnisnya sejak kuliah. Marcel mulai mencari tahu lebih jauh terkait budidaya sejak duduk dibangku kuliah, yaitu pada semester 3. Diawali dengan meminta izin pada kakak tingkatnya untuk masuk dan mellihat-lihat laboratorium yang dapat digunakan untuk berbudidaya, lama-kelamaan justru ia belajar untuk berbuidaya ikan guppy, ikan platy, hingga ikan cupang. Marcel mulai memperjual belikan ikannya setelah 6 bulan kemudian, yang mayoritas dari kalangan teman-teman kuliahnya. Bisnis professionalnya dimulai pada tahun 2016, tepatnya saat ia mulai memasuki tingkat akhirnya di semester ke-7 masa perkuliahannya. Pada usia tersebut ia memberanikan diri untuk mengontrak sebuah rumah di kawasan Dramaga, Bogor untuk ia jadikan farm tempatnya membudidayakan ikan hias hingga sekarang.Pemilihan lokasi di Bogor sebagai tempat budidayanya dikarenakan banyaknya relasi yang sudah ia bangun sejak kuliah. Selain itu juga kemudahan dalam memperoleh sarana dan prasarana budidaya ia rasakan lebih mudah diperoleh jika dibandingkan dengan daerah asalnya.Dengarkan selengkapnya di Spotify!Ketika ditanya mengapa memilih berbudidaya ikan hias, Marcel menjawab karena ikan hias dapat dilakukan pada lahan yang lebih kecil seperti skala akuarium bahkan menggunakan toples. Selain itu rasa ingin tahunya yang besar akan ikan hias juga membuatnya terus bersemangat dalam memijahkan berbagai jenis ikan hias yang belum ia ketahui sebelumnya. Pembeli yang selama ini telah mempercayakannya mayoritas berada di daerah Bogor, Tanggerang dan juga Depok. Karena menjual dalam bentuk partai (dijual dalam jumlah tertentu) umumnya pembeli Marsel adalah supplier ikan hias juga. Contoh ikan yang selama ini ia sediakan adalah ikan denisoni dan ikan cichlid.  Selama ini Marcel menawarkan atau mempromosikan ikan hiasnya dengan bertemu calon pembeli di farm atau tempat supplier, pasar ikan, hingga media sosial seperti facebook. Sedangkan untuk penjualannya tidak terlalu ada kesulitan yang berarti karena umumnya untuk kelas partai, banyak pembeli yang membutuhkannya untuk dijual kembali. Sedangkan apabila dikhususkan untuk kompetisi, biasanya baru ikan akan dilihat kriteria warna, corak, ataupun bentuk tubuhnya secara spesifik. Covid 19 menjadi salah satu tantangan terbesar pagi para pembudidaya saat ini tidak terkecuali Marcel. Ia bercerita bahwa saat puncaknya sekitar bulan Maret, ketika sebagian besar wilayah Indonesia menerapkan PSBB ia bertahan dengan memelihara ikan-ikan hiasnya. Walaupun tidak ada permintaan saat itu dikarenakan moment yang bersamaan dengan puasa, namun Marsel tetap optimis dengan bisnisnya.Setelah lebaran biasanya permintaan ikan hias mulai meningkat, dan hal tersebut terjadi pada bisnis Marcel. Setelah beberapa hari pasca lebaran, ternyata banyak supplier yang menghubungi Marcel untuk membeli ikan-ikannya. Kini ia dapat meyatakan bisnisnya mulai membaik.Marcel menambahkan bahwa untuk bisnis dengan makhluk hidup seperti ikan, membutuhkan perhatian yang tinggi, karena hanya dengan kesalahan kecil itu bisa berakibat fatal dan menyebabkan kerugian. Oleh karena itu perlu untuk memperbanyak pengalaman khususnya  ketika masih kuliah atau sekolah sebelum benar-benar berbisnis sebagai sumber kehidupan sehar-hari.  ...
Guru Besar IPB Temukan Vaksin Ikan untuk Budidaya Akuakultur
Terkini

Guru Besar IPB Temukan Vaksin Ikan untuk Budidaya Akuakultur

Bagi petani ikan, setiap tahun pasti pernah mengalami kendala. Salah satunya banyak ikan yang mati dengan banyak penyebab. Biasanya, kematian massal ikan disebabkan oleh bakteri, virus, cendawan dan parasit. Hal ini menjadi kendala besar dalam budidaya ikan. Melansir laman IPB University, Kamis (26/11/2020), diperkirakan kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh penyakit mencapai Rp 5,2 triliun pertahun. Sementara itu, vaksin yang tersedia pada umumnya berasal dari luar negeri yang memiliki risiko tidak sama dengan isolat bakteri atau virus yang ada di Indonesia. Sehingga hasilnya tidak sepenuhnya efektif. Guru Besar IPB University dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), Prof. Dr. Sukenda melakukan penelitian. Menurutnya, penggunaan isolat lokal, yang diisolasi dari ikan-ikan sakit pada saat terjadi wabah penyakit, untuk pembuatan sediaan vaksin merupakan solusi yang realistik dan prospektif. Baca juga: Manfaat Vaksinasi Bagi Keberhasilan Budidaya IkanSelain itu, penyebab penyakit dapat dikendalikan karena jenis bakteri atau virus yang digunakan sesuai (homolog) dengan vaksin yang dibuat. "Tim peneliti vaksin dari Departemen Budidaya Perairan FPIK IPB University telah berhasil mengembangkan vaksin dari isolat lokal," ujarnya seperti dikutip dari laman IPB University. Adapun vaksinnya ialah vaksin Streptococcus iniae, vaksin Streptococcus agalactiae, vaksin Aeromonas hydrophila, dan vaksin Mycobacterium fortuitum baik dalam sediaan tunggal maupun campuran. Vaksin tersebut mampu meningkatkan kekebalan ikan terhadap infeksi patogen. Selain vaksin untuk penyakit bakterial, vaksin untuk penyakit viral juga telah kami kembangkan. Vaksin DNA anti Koi Herpes Virus (KHV) mengandung sisipan gen glikoprotein 25 (GP25) yang berasal dari isolat lokal Koi Harpes Virus.Sedangkan vaksin DNA anti KHV mampu meningkatkan kekebalan dan memproteksi ikan mas saat terjadi wabah. Dijelaskan, pengembangan vaksin ikan adalah tugas yang menantang, diantaranya karena: 1. Beragamnya jenis penyakit dan spesies ikan budidaya, dengan tingkat keunikan kerentanan ikan terhadap setiap penyakit yang juga berbeda-beda. 2. Penggunaan vaksin dirasa lebih aman daripada penggunaan antibiotik dalam budidaya perikanan. Baca juga: KKP Gandeng FAO Kendalikan Resistensi AntimikrobaKe depannya, untuk mendukung industri akuakultur berkelanjutan, pengembangan vaksin yang berasal dari isolat lokal akan terus dilakukan yang dibarengi dengan pengembangan metode pemberian, evaluasi dan diseminasi. Metode vaksinasi ikan Dijelaskan Prof Sukenda, metode vaksinasi ikan dapat dilakukan melalui tiga cara yaitu: injeksi perendaman oral Pemberian vaksin melalui cara perendaman lebih praktis untuk penerapan pada benih ikan yang masih rentan terhadap serangan penyakit karena sistem kekebalan tubuhnya masih belum sempurna. "Metode infiltrasi hiperosmotik yang kami kembangkan merupakan modifikasi dari metode perendaman untuk mengefektifkan pemberian vaksin," katanya. Metode ini dilakukan dengan menggunakan media yang dibuat hipertonik dari tubuh ikan dengan memberikan kejutan salinitas sehingga jumlah vaksin yang diserap lebih banyak. Baca juga: Mengenal Jamu Ikan Buatan Guru Besar Unmul, Obat Berizin KKP Pertama dari 100 Persen Bahan Alami"Hasil penelitian menunjukkan vaksinasi ikan nila secara infiltrasi hiperosmotik dengan kejutan salinitas sampai 20 gram perliter selama lima menit mampu meningkatkan proteksi ikan terhadap serangan bakteri S. agalactiae," jelas Prof. Sukenda.Sumber: Kompas ...
UGM Perluas Pengembangan Budi Daya Ikan Wader
Terkini

UGM Perluas Pengembangan Budi Daya Ikan Wader

Aquatic Research Group, Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada (UGM), terus berusaha memperluas pengembangan budidaya ikan wader pari. Salah satunya dilaksanakan dengan memperbanyak jalinan kerja sama dengan berbagai mitra.Inisiator Aquatic Research Group, Dr. Bambang Retnoaji mengatakan, saat ini mereka menjajaki kerja sama pengembangan budidaya berbasis IoT dengan IT Telkom Surabaya. Rektor ITT telah lakukan kunjungan ke BPTP Cangkringan Sleman akhir November lalu.Selain itu, ditinjau fasilitas budidaya semi-massal di Fakultas Biologi UGM. Tim IT Telkom Surabaya melihat fasilitas alat pemijahan portable ikan wader pari hasil kolaborasi dengan Kelompok Petani Ikan Santan Mina Lestari Binaan CSR PLN Peduli.Baca juga: Pertimbangan dalam Menggunakan Automatic Feeder di Tambak UdangDipaparkan pula budidaya semi-massal yang mudah diterapkan di perkotaan dan potensi pengembangan IT. Seperti microcontroller dan sensor otomatisasi pemberian pakan, pengaturan debit air, pengaturan suhu, dan tracking data parameter air memakai IoT."Ada rencana IT Telkom untuk membangun Vertical Farming IoT Based menggunakan ikan wader sebagai objek hewan coba. Potensi kerja sama ini memberikan harapan besar ke depan budidaya wader dapat dikembangkan secara modern berbasis IT ," kata Bambang, Ahad (6/12).Aquatic Research Group terus pula melakukan edukasi terkait cara pembudidayaan ikan yang memiliki potensi nilai ekonomi tinggi. Diawali program berskala semi-massal, kini skala produksi telah massal menggandeng mitra Gapoktan Santan Mina Lestari."Pengolahan produk pasca panen dari budidaya ikan wader pari ini telah dikembangkan dengan tujuan meningkatkan nilai jual dari hasil budidaya. Meski begitu, tampaknya tingkat kesadaran masyarakat terhadap budidaya ikan ini masih belum tinggi," ujar Bambang.Baca juga: Cara Penanganan Tepat Pasca Produksi Udang WinduUntuk itu, edukasi budidaya ini sangat dibutuhkan kelompok-kelompok masyarakat yang memiliki minat budidaya ikan wader pari. Karenanya, Aquatic Research Group bersama  Gapoktan Santan Mina Lestari terus meningkatkan kapasitas penyuluhan budidaya.Selain menggandeng PT PLN (Persero), dilaksanakan pula dalam bentuk kerja sama dengan DKP DIY, dan sosialisasi restoking ikan lokal di DIY. Dilakukan pada November 2020 di beberapa tempat di Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul."Harapannya, ada peningkatan pengetahuan budidaya ikan wader pari d masyarakat DIY, sehingga memunculkan stimulus untuk ikut terlibat dalam budidaya ikan wader pari," kata Bambang.Sumber: Republika ...
Digifish 2020 : Akselerasi Ekosistem Inovasi Digital Sektor Perikanan
Terkini

Digifish 2020 : Akselerasi Ekosistem Inovasi Digital Sektor Perikanan

Jakarta - Minapoli bekerjasama dengan Jaringan Startup Perikanan Indonesia (Digifish Network)  pada tanggal 15-16 Desember 2020 menyelenggarakan sebuah event tahunan yang fokus pada inovasi digital di bidang kelautan dan perikanan, Digifish 2020. Dengan mengusung tema “Accelerating The Impact of Innovation Ecosystem on the Fisheries Sector”, acara yang dilangsungkan secara daring melalui platform Zoom, Youtube dan juga Facebook Live ini diikuti lebih dari 450 peserta mulai dari para pembudidaya ikan, petambak udang, startup/pelaku inovasi, kementerian dan lembaga, pelaku usaha perikanan, perguruan tinggi, NGO, asosiasi perikanan hingga media. Rangkaian event Digifish 2020 terdiri dari Conference, Industry Initiatives, Startups Carnaval, dan Farmers Showcase.Rully Setya Purnama - CEO Minapoli “Tujuan dari diadakannya event Digifish yang sudah memasuki tahun ketiga ini  adalah untuk terus mengakselerasi ekosistem inovasi digital agar semakin banyak inovasi, semakin banyak sinergi dan kolaborasi dari ekosistem ini yang berdampak positif dan signifikan bagi sektor kelautan dan perikanan”, ungkap Rully Setya Purnama,  penyelenggara Digifish 2020 yang juga merupakan salah satu pendiri Digifish Network.Bambang Brodjonegoro - Menteri Riset dan TeknologiMenteri Riset & Teknologi dan Kepala Badan Riset & Inovasi Nasional, Bapak Bambang Brodjonegoro dalam sambutannya pembukaan Digifish 2020 menyampaikan bahwa Visi Indonesia 2045 adalah menjadi negara maju berpendapatan tinggi dengan produk domestik bruto terbesar ke-4 di dunia. Namun saat ini Indonesia masih berada pada jebakan kelas menengah karena Indonesia masih mengandalkan sumber daya alam sebagai tulang punggung perekonomian. Aktivitas ekonomi Indonesia harus didorong menjadi berbasis inovasi (innovation based economy). Untuk menciptakan kondisi tersebut perlu diciptakan iklim inovasi yang kondusif melibatkan sinergi triple helix antara akademisi, pemerintah dan pelaku industri. Kemenristek/BRIN melaksanakan program riset yang memperhatikan pilar-pilar dalam kebijakan pembangunan kelautan dan perikanan yang salah satunya adalah penguatan sumber daya manusia dan riset inovasi. Dukungan Kemenristek/BRIN dilakukan dengan melalukan pembinaan startup di bidang kelautan & perikanan melalui program Startup Inovasi Indonesia. Melalui program tersebut harapannya dapat tercipta kemandirian dan kemajuan Indonesia di bidang kelautan dan perikanan.Safri Baharuddin -  Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi Bapak Safri Burhanuddin mengatakan, pada 2025, Indonesia menargetkan masuk peringkat ke-5 besar negara perikanan. Tantangannya, bagaimana meningkatkan nilai tambah produksi perikanan melalui inovasi teknologi dan pemasaran yang bagus.Saksikan kembali Digifish 2020 hari pertama di sini!Peran startup digital perikanan luar biasa untuk meningkatkan produksi dan pemasaran. Jumlah usaha rintisan perikanan yang tergabung dalam Digifish Network mencapai 32 startup dan diyakini bertambah pada 2021. Safri mengatakan “ Berkembangnya usaha rintisan perikanan berbasis digital diharapkan mendorong inovasi teknologi untuk pemanfaatan sumber daya perikanan tangkap sesuai dengan kapasitas maksimum yang diperbolehkan (MSY), peningkatan produktivitas kelautan dan perikanan, pemanfaatan lahan budidaya perikanan secara optimal, serta integrasi tata ruang laut dan darat”.Selanjutnya pada sesi Conference dengan format diskusi panel, menghadirkan narasumber dari perwakilan startup, Bappenas, KKP, World Bank dan pelaku usaha. Sesi ini dimoderatori oleh Bapak Luky Adrianto yang merupakan Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University.Gibran Huzaifah - CEO eFisheryCEO eFishery Gibran Huzaifah yang menjadi perwakilan startup dalam diskusi tersebut mengemukakan bahwa usaha rintisan berbasis digital perlu terus berinovasi untuk menawarkan nilai tambah dan efisiensi produksi. Startupnya yang awalnya mengembangkan teknologi pemberiaan pakan (autofeeder), kini sudah merambah menjadi penyedia akses pembiayaan, pakan, dan pasar. Selama pandemi Covid, sejak Maret 2020 hingga kini, total sudah 850 ton ikan bisa berhasil diserap. Ikan ini dibeli langsung dari pembudidaya dan dikelola untuk dipasarkan.Slamet Soebjakto - Direktur Jenderal Perikanan BudidayaHal tersebut mendapat apresiasi dan perhatian khusus Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Bapak Slamet Soebjakto, “Dampak dari rekan-rekan yang tergabung di dalam Digifish Network  ini salah satunya dirasakan khususnya selama masa pandemi Covid-19 dengan peran mereka dalam membantu penyerapan dan pemasaran ikan yang berasal dari pembudidaya”, ungkapnya.Ketua Umum Asosiasi Produsen Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I) Budhi Wibowo mengemukakan, pandemi Covid-19 sempat menyebabkan pemasaran produk perikanan ke hotel, restoran, dan kafe anjlok hingga 80 persen dan saat ini pemasaran berangsur membaik menjadi sekitar 60  persen dibandingkan dengan sebelum pandemi. Sebaliknya, pasar ritel untuk konsumen akhir melalui supermarket dan e-commerce meningkat hingga 30 persen.Budhi mengatakan “Persyaratan pasar ekspor semakin ketat, mencakup jaminan keamanan pangan, traceability, dan sustainability produk perikanan yang dipasok. Untuk bisa menerapkan itu, diperlukan integrasi informasi dengan memanfaatkan teknologi digital”.David Kaczan -  Environmental Economist for East Asia and the Pacific dari  World Bank Sementara itu David Kaczan yang merupakan Environmental Economist for East Asia and the Pacific dari  World Bank menyampaikan bahwa pihaknya sangat antusias dan mendukung ekosistem inovasi digital perikanan di Indonesia. Komunitas startup perlu terus didukung karena darisanalah transformasi ide dan inovasi baru bermunculan. Tidak banyak negara di dunia memiliki komunitas startup seperti Indonesia sehingga ini menjadi hal positif bagi perkembangan ekonomi digital. World Bank sendiri memiliki program Coastal Fisheries Initiative : Indonesian Challenge Fund yang berkontribusi untuk  menemukan peluang investasi sektor swasta dalam perikanan berkelanjutan, pengembangan bisnis dan menghubungkannya dengan investor yang fokus pada dampak sosial.(Kiri atas - Kanan atas - Tengah bawah) Rully Setya Purnama, CEO Minapoli-  Agus Ciputra, President Direktur BASF Indonesia -  Aries Fajar Dwiputra, Founder AquaEasyPada hari ke-2 penyelenggaraan, Digifish 2020 dimulai dengan sesi Industry Innitiative yang menghadirkan dua perusahaan global yaitu BASF dan Aquaeasy (BOSCH) yang juga memiliki inovasi untuk sektor perikanan khususnya akuakultur. Selain memperkenalkan inovasinya terkait penyediaan energi dan kualitas , kedua narasumber Presiden Direktur BASF Indonesia Agus Ciputra dan Founder AquaEasy Aries Fajar Dwiputra menyampaikan perusahaannya membuka peluang kolaborasi dengan komunitas startup terkait dengan digitalisasi akuakultur. Saksikan Digifish 2020 hari kedua di sini!Sesi QnA Startup CarnavalSesi QnA Famers ShowcaseSesi yang kedua yaitu Startups Carnaval yang menghadirkan berbagai inovasi di bidang kelautan dan perikanan. Sesi ini diikuti oleh 8 startup yaitu eFishery, Sgara, Banoo, FisTx, Jala, Minapoli, Indofishery dan Aruna. Yang kemudian dilanjutkan dengan sesi terakhir yaitu Farmers Showcase, terdapat 4 pembudidaya dan 1 nelayan yang berbagi pengalaman mereka bagaimana inovasi digital dapat membantu mereka dalam menjalankan usaha dan meningkatkan pendapatan. ...
Potensi Bisnis: Berikut 5 Macam Ikan Konsumsi yang Mudah untuk Dibudidayakan
Terkini

Potensi Bisnis: Berikut 5 Macam Ikan Konsumsi yang Mudah untuk Dibudidayakan

Ikan merupakan bahan olahan yang mengandung banyak protein yang baik untuk dikonsumsi. Kandungan kalori pada ikan lebih sedikit dibandingkan dengan daging ayam atau sapi.Kandungan gizi dan protein dari ikan termasuk rasanya yang enak menjadikan banyaknya permintaan untuk dipasok dipasar. Ikan menjadi menu populer untuk disajikan di restoran atau rumah makan baik ikan bakar, ikan pepes, ikan goreng atau dijadikan macam olahan lainnya.Dengan demikian, membudidayakan ikan dapat menjadi potensi bisnis yang dapat anda coba. Berikut kami sajikan informasi beragam ikan konsumsi yang mudah untuk anda budidayakan:1. Ikan BawalIlustrasi: indukan ikan Bawal/ pixabay/5851928/Ikan bawal merupakan satu diantaranya jenis ikan air tawar yang banyak diminati. Semakin hari, permintaan semakin tinggi untuk ikan bawal ini. Keunggulan dari ikan yang satu ini memiliki bentuk fisik yang lebar. Dengan demikian cocok untuk anda yang berkeinginan bisnis budidaya ikan air tawar.2. Ikan LeleTingginya permintaan lele untuk dipasarkan sebagai konsumsi cocok untuk anda budidayakan. Ikan lele ini juga merupakan jenis ikan yang gampang untuk dibudidayakan karena sifatnya yang kuat terhadap segala kondisi dan cuaca. Ikan lele ini memang memiliki bentuk yang unik, termasuk kedalam jenis ikan clarias, yakni jenis ikan yang licin dan tidak bersisik.Tingginya permintaan lele untuk dipasarkan sebagai konsumsi cocok untuk anda budidayakan. Ikan lele ini juga merupakan jenis ikan yang gampang untuk dibudidayakan karena sifatnya yang kuat terhadap segala kondisi dan cuaca. Ikan lele ini memang memiliki bentuk yang unik, termasuk kedalam jenis ikan clarias, yakni jenis ikan yang licin dan tidak bersisik.3. Ikan NilaIlustrasi: Ikan Nila/ pixabay/sarangib/Ikan nila merupakan ikan air tawar yang sudah populer untuk dikonsumsi. Daya tahan ikan Nila dalam setiap kondisi dan cuaca membuatnya mudah untuk dibudidayakan. Selain daripada itu, ikan yang satu ini juga memiliki jangka waktu panen yang cenderung cepat, hanya perlu waktu sekitar 3 sampai 4 bulan saja.Beberapa jenis ikan nila yang populer dibudidayakan diantaranya Nila Merah Nifi, Nila Merah Gift, Nila Gift Biasa dan Nila Gesit.4. Ikan GurameIlustrasi: ikan Gurame/ pixabay/sarangib/Budidaya ikan Gurame memiliki potensi bisnis yang begitu besar. Tingginya permintaan ikan yang satu ini dan pasar yang cenderung stabil, menjadikannya sangat berpotensi tinggi untuk dibudidayakan.Ikan Gurame banyak dijajakan di resto atau rumah makan sebagai hidangan menjadikan harga ikan ini cukup tinggi. Beberapa jenis ikan Gurame yang populer dibudayakan diantaranya Gurame Soang, Gurame Jepun, Gurame Paris dan Gurame Batu.5. Ikan MasIlustrasi: ikan Mas di tambak budidaya/ pixabay/capri23auto/ Ikan yang satu ini sangatlah populer dan banyak kita dapati sebagai menu makanan di resto dan rumah makan. Budidaya ikan ini lebih lama dari ikan Nila, yakni butuh waktu 6 - 8 bulan untuk panen. Ikan yang siap dipanen biasanya memiliki berat sampai 400 gram.Sumber: Pikiran Rakyat ...
KKP Gandeng FAO Kendalikan Resistensi Antimikroba
Terkini

KKP Gandeng FAO Kendalikan Resistensi Antimikroba

Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya atau DJPB, Kementerian Kelautan dan Perikanan, menggandeng Food and Agriculture Organization atau FAO, mengendalikan resistensi antimikroba atau AMR pada perikanan budidaya. Kolaborasi ini untuk mendukung perikanan budidaya, yang menjadi salah satu punggung ketahanan pangan dan ekonomi nasional selama pandemi covid-19.Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto menyebutkan produksi perikanan budidaya di Indonesia cukup tinggi. Baik untuk komoditas air payau, air tawar dan laut. Namun, proses produksi kerap terkendala penyakit yang menginfeksi ikan. Berupa virus, bakteri, jamur, maupun parasit.Upaya mengatasi penyakit, lanjutnya, tidak terlepas dari penggunaan antimikroba, namun dalam pemakaiannya harus dilakukan secara bijak."Penggunaan antimikroba secara luas yang tidak terkendali dapat memicu munculnya resistensi antimikroba. Namun begitu, penggunaan antimikroba tidak menjadi masalah apabila digunakan secara tepat sesuai dengan jenis bakteri yang menginfeksi, dosis dan sesuai dengan mekanisme kerja antibakteri tersebut,” kata Slamet Soebjakto dalam siaran pers di Jakarta, Senin (23/11).Baca juga: Alasan KKP Minta Pembudidaya Ikan Gunakan Produk Hasil Riset Probiotik RICAKementerian Kelautan dan Perikanan menetapkan target produksi perikanan pada tahun 2020 sebanyak 26,46 juta ton. Sebanyak 7,38 juta ton dari perikanan tangkap di laut, 636.080 ton perikanan darat dan 7,45 juta ton dari perikanan budidaya, serta 10,99 juta ton dari rumput laut.Untuk mencegah resistensi antimikroba, DJPB bersama FAO menggelar acara National Training Workshop on Antimicrobial Resistance Surveillance and Monitoring, di Anyer Kabupaten Serang pada tanggal 16 - 19 November 2020 lalu.Slamet menambahkan, acara tersebut merupakan salah satu upaya DJPB untuk ikut serta mengendalikan resistensi antimikroba khususnya di perikanan budidaya.Resistensi antimikroba merupakan salah satu permasalahan global yang perlu mendapat perhatian serius baik pada bidang kesehatan manusia, hewan maupun perikanan. Khusus untuk perikanan, pengaturan tentang resistensi antimikroba telah diatur oleh World Organization for Animal Health atau OIE dalam Aquatic Animal Health Code Tahun 2014 terutama pada Bab 6.Baca juga: Probiotik, Pencegah Penyakit dan Pendorong Produksi Perikanan BudidayaPemerintah Indonesia, lanjut Slamet, juga telah mengeluarkan Instruksi Presiden terkait pengendalian antimikroba kepada Menteri Kelautan dan Perikanan melalui Inpres Nomor 4 Tahun 2019. Dan mengatur penggunaan antimikroba yang diperbolehkan di perikanan budidaya sesuai dengan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 01/PERMEN-KP/2019 tentang Obat Ikan, dengan antimikroba meliputi eritromisin, enrofloksasin, klortetrasiklin, oksitetrasiklin, dan tetrasiklin.Perikanan budidaya menjadi salah satu tulang punggung ketahanan pangan dan pemulihan ekonomi nasional selama pandemi covid-19. Oleh karenanya, lanjut Slamet, DJPB tidak mau di saat kondisi seperti sekarang, produktivitas perikanan budidaya terganggu karena adanya penyakit yang menyerang pada ikan.“Pada saat seperti sekarang ini harus mampu merumuskan formula penanganan penyakit dalam perikanan budidaya tetapi tidak meningkatkan risiko terjadinya resistensi antimikroba dan pada akhirnya tidak mengganggu produksi perikanan budidaya nasional,” ujar Slamet.Baca Juga: Probiotik dalam AkuakulturKesamaan PersepsiDirektur Kawasan dan Kesehatan Ikan DJPB, Tinggal Hermawan juga menggarisbawahi pengendalian resistensi antimikroba merupakan upaya untuk memastikan produk akuakultur, khususnya komoditas ikan konsumsi telah memenuhi prinsip keamanan pangan sehingga menjamin kesehatan masyarakat.“Penggunaan antimikroba yang menyimpang dan berlebihan baik pada bidang kedokteran dan produksi pangan telah menjadi risiko bagi seluruh bangsa di dunia,” ujar Tinggal.Tinggal menambahkan Indonesia telah menyusun rencana aksi nasional pengendalian AMR tahun 2020-2024 yang dikoordinasikan oleh Kementerian Kesehatan. Penyusunan aksi ini melibatkan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Pertanian, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta BPOM.Rencana Aksi Nasional Tahun 2020–2024 ini merupakan kelanjutan rencana aksi nasional sebelumnya.Guna mendukung keberhasilan pengendalian AMR, ia menilai, komunikasi antar petugas laboratorium baik di lingkup UPT DJPB maupun Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi perlu lebih diperkuat lagi, khususnya dalam melaksanakan surveilan dan monitoring penggunaan antimikroba (AMU)/AMR dan pengujian AMR.Jejaring antar Laboratorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan (Keskanling) ini sangat dibutuhkan. Oleh karenanya penting mulai dari Pusat sampai ke Daerah untuk meningkatkan kapasitas laboratorium yang dimiliki. Serta meningkatkan koordinasi agar dapat lebih bersinergi dalam melakukan kegiatan surveilan dan monitoring tersebut.“Kegiatan seperti ini sebagai bentuk kesepahaman, keselarasan dalam meningkatkan pemahaman dan kewaspadaan terhadap resistensi antimikroba. Selanjutnya dari hasil penyamaan persepsi dalam pengumpulan data AMR dapat dilakukan pembaharuan Juknis Surveilan dan Metode Uji AMR khususnya dalam bidang perikanan budidaya,” tutur Tinggal.Baca juga: Cegah AHPND Masuk Wilayah NKRI, KKP Siapkan Strategi Langkah AntisipatifIa berharap pelatihan AMR yang digelar bersama FAO akan mengembangkan kapasitas dan kemampuan teknis dari personel laboratorium uji yang ada di Unit Pelaksana Teknis DJPB dalam melakukan Surveilan AMR dan menguji kepekaan antimikroba.“Sehingga penyakit pada perikanan budidaya bisa ditangani dengan baik dan benar, tanpa menimbulkan risiko terjadinya resistensi antimikroba, serta produksi perikanan budidaya bisa lebih baik dan meningkat,” tandas Tinggal.National Consultant FAO, Mukti Sri Hastuti menyebutkan kesinambungan dari rangkaian kegiatan pengendalian AMR berupa sebuah Technical Guideline bagi petugas di laboratorium dan data yang dihasilkan merupakan gambaran valid kegiatan Surveilan dan Monitoring AMU/AMR.“Diharapkan adanya pelatihan AMR ini, semua peserta akan mempunyai persepsi yang sama pengambilan sampel, preparasi sampel, pengujian dan pembacaan data hasil pengujian,” harap Mukti.Sumber: Valid News ...
Bak Daya Lekung, Cara Kreatif Banyuwangi Dorong Warganya Konsumsi Ikan
Terkini

Bak Daya Lekung, Cara Kreatif Banyuwangi Dorong Warganya Konsumsi Ikan

Meningkatkan konsumsi ikan, Banyuwangi mengajak warganya melakukan budidaya. Caranya pun cukup kreatif, yakni dengan menggunakan Bak Daya Lekung (Budidaya Lele Kangkung). Warga bisa berternak ikan lele dan menanam sayuran dalam sebuah bak (timba besar).Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengenalkan program tersebut dalam acara Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) di destinasi wisata Kali Badeng, Desa Sumberbuluh, Kecamatan Songgon, Rabu (18/11). Acara tersebut diikuti tim penggerak PKK, ibu-ibu dasa wisma, dan kelompok pengawas masyarakat (pokwasmas) perikanan.Anas menjelaskan bahwa pemkab terus mendorong peningkatan konsumsi ikan di kalangan masyarakat. Budidaya ikan secara mandiri adalah salah satu cara yang bisa dilakukan warga untuk meningkatkan konsumsi ikan. Seperti lewat bak daya lekung, di mana dalam satu bak seseorang bisa berternak lele sekaligus bertanam kangkung untuk konsumsi sehari-hari.Baca juga: Budidaya Ikan di Dalam Ember Digencarkan PKK-Sudin PKK Jaksel©2020 Merdeka.com"Ini adalah bagian dari upaya peningkatan ketahanan pangan warga. Di masa pandemi ini, kita harus lebih kreatif sehingga bisa tetap produktif dalam situasi sulit ini. Ya seperti budidaya lewat bak daya lekung ini," kata Anas saat hadir dalam kegiatan tersebut.Anas berharap agar ibu-ibu dasa wisma bisa memanfaatkan bak daya lekung ini untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari. Ada kangkung yang bisa diolah untuk memenuhi kebutuhan sayuran, serta ikan lele yang bisa dijadikan lauk harian."Paling tidak, untuk lauk dan sayur setiap hari mereka bisa memanen sendiri di pekarangan rumahnya," kata Anas.Baca juga: Cerita Budidaya Ikan Lele di Lahan Sempit YogyakartaAcara Gemarikan tersebut berisi beragam kegiatan peningkatan keterampilan bagi ibu-ibu. Mulai dari pelatihan memasak (cooking class), pengenalan budidaya ikan, hingga lomba sajian menu ikan.Menurut Anas, kegiatan semacam ini dapat mendorong tumbuhnya sektor kreatif di Banyuwangi. Mengingat tantangan ekonomi ke depan pasti lebih berat sebagai dampak dari pandemi covid-19, sehingga cara-cara kreatif dibutuhkan untuk menghadapinya."Ibu-ibu kita bekali berbagai keterampilan agar mereka bisa memanfaatkannya untuk membantu ekonomi keluarga dengan membikin usaha baru. Kita dorong agar sektor kreatif ini, termasuk di bidang perikanan, terus tumbuh di masyarakat," kata Anas.©2020 Merdeka.comKepala Dinas Perikanan Banyuwangi Hari Cahyo menambahkan, pihaknya terus mendorong peningkatan konsumsi ikan dengan berbagai program. Cara-cara kreatif terus dilakukan.Selain lewat kampanye gemarikan, warga juga dikenalkan berbagai keterampilan melalui berbagai pelatihan. Pemkab juga mendorong warga agar bisa memenuhi kebutuhan pangan hariannya dengan memanfaatkan pekarangan rumah (family farming), lewat bak daya lekung.Baca juga: Selain Lele, Berikut Cara Budi Daya Ikan Nila dan Gurame dalam Ember"Sudah ratusan bak daya lekung yang kita bagi ke dasa wisma. Harapan kami program ini bisa menghemat pengeluaran keluarga. Kangkung bisa dipanen setiap 14 hari sekali, sementara lelenya 2,5 bulan lagi sudah bisa dipanen. Sangat membantu keluarga," kata Hary.Hary mengaku, pihaknya sengaja menggelar acara di tempat wisata X Badeng selain sebagai sarana promosi wisata, juga untuk mengenalkan kuliner ikan yang dikelola warga setempat. Selain juga lokasinya yang nyaman karena masih alami dan sejuk."Di sini sudah ada wisata kuliner menu ikan kali dan rafting. Jadi sekalian warga kita ajak menikmatinya," ujar Hary.Sumber: Merdeka.com ...
Cara Membuat Kolam Terpal bagi Pemula, Cocok untuk Budidaya Ikan
Terkini

Cara Membuat Kolam Terpal bagi Pemula, Cocok untuk Budidaya Ikan

Kondisi pandemi memaksa setiap orang harus meminimalkan aktivitas di luar rumah. Walaupun diminta untuk beraktivitas di dalam rumah, namun terbukti sebagian orang justru merasa kesulitan. Salah satu sebabnya yaitu rasa bosan saat terus menerus berada di rumah.Untuk mengatasinya, beberapa orang mencoba melakukan sesuatu yang baru untuk menghilangkan rasa bosan sekaligus mengisi waktu saat di rumah. Ada yang berolahraga, mencoba resep masakan, bercocok tanam, atau berternak ikan.Khusus untuk berternak ikan, Anda bahkan juga bisa meraup untung dengan menjual ikan hasil budidaya yang Anda lakukan. Namun, satu masalah yang sering dihadapi adalah tidak adanya kolam yang sesuai untuk mulai memelihara ikan.Jika hal tersebut menjadi hambatan, jangan khawatir. Karena Anda juga bisa membuat kolam ikan dengan menggunakan terpal. Kolam terpal ini juga cukup populer untuk membudidayakan ikan. Cara membuat kolam terpal pun juga tidak sulit.Bagi Anda yang tertarik untuk memelihara ikan, berikut akan kami berikan beberapa cara membuat kolam terpal yang bisa digunakan untuk memelihara ikan.Baca juga: Tahapan Budidaya Ikan di Kolam TerpalCara Membuat Kolam Terpal di Atas Permukaan Tanah nairaland.comSesuai judulnya, kolam ini dibuat di atas permukaan tanah. Dilansir agrotani.com, keuntungan dari jenis kolam ini yaitu Anda tidak perlu membuat galian tanah atau membuat lubang pada tanah. Namun Anda harus membuat rangka yang kuat sebagai penegak berdirinya terpal.Bahan-bahan:- Bambu- Pipa- Semen- Batu Bata- Pasir- TerpalCara membuat kolam terpal:- Buat denah atau ukuran kolam biasanya yang sering digunakan 2 x 3 x 1 m atau 4 x 5 x 1 m.- Buat pondasi kolam dengan ukuran yang Anda inginkan.- Buat saluran masuk keluarnya air.- Setelah kolam kering anda bisa menerapkan terpal.Baca juga: Budidaya Ikan Lele di Kolam Terpal, Perhatikan 5 Hal IniCara Membuat Kolam Terpal di Dalam Tanahkjasons.comKolam jenis ini dibuat di dalam tanah, sehingga Anda harus menggali tanah untuk membuat lubang yang sesuai dengan ukuran kolam yang ingin dibuat. Kolam ini merendam sebagian atau juga keseluruhan kolam.Ada dua jenis kolam terpal di dalam tanah. Jika Anda hanya ingin sebagian kolam saja yang direndam, maka Anda harus membuat rangka yang kokoh untuk menjaga kolam tetap tegak. Namun, jika Anda ingin merendam keseluruhan kolam, tidak perlu membuat rangka. Namun Anda harus menggali lubang yang cukup dalam untuk mendapatkan ukuran yang sesuai.Membuat kolam terpal ini tidaklah sulit, hanya saja membutuhkan usaha ekstra. Yang penting adalah terpal yang dijadikan sebagai kolam jangan sampai bocor sedikit pun, perhitungkan beban air dan ikan agar kolam yang anda buat bisa menahannya.Berikut adalah langkah-langkah cara membuat kolam terpal di dalam tanah:Pisahkan bambu yang akan digunakan. Pasang bambu sebagai pasak dengan cara melingkari petakan sesuai ukuran terpal yang akan dibuat.Bahan dan alat:- Cangkul- Terpal- Meteran- Pasak (bambu)Cara membuat kolam terpal:- Tentukan ukuran yang akan digunakan biasanya 2 x 3 x 1 dengan luas terpal 4 x 5 m.- Tancapkan pasak pada lahan yang sudah diukur menggunakan meteran.- Cangkul dan buat lubang sesuai ukuran.- Buat lubang pembuangan dan masuknya air ke dalam kolam.- Masukan terpal ke dalam lubang kolam.- Pemasangan Pipa Saluran untuk Pembuangan- Tak hanya cara membuat kolam terpal saja yang harus diperhatikan, karena saluran pembuangan pada kolam terpal juga menjadi bagian penting yang berfungsi untuk mengganti air.Untuk lubang salurannya bisa Anda sesuaikan dengan kebutuhan, semakin lebar lubang salurannya maka akan semakin cepat proses pembuangannya. Tak hanya digunakan sebagai saluran pembuangan saja, namun lubang tersebut digunakan sebagai pengatur level pada ketinggian air dalam kolam.Baca juga: Usaha Budidaya Ikan Mas di Kolam Terpal Agar Cepat PanenBahan dan Alat :- Clamp/Klem- Pipa PVC/ peralon- Knee- Ban Motor yang masih bagus- Pisau atau cutter- Obeng- Tali- Spidol- LemCara membuat :- Beri tanda pada bagian terpal yang ingin dijadikan tempat saluran pembuangan dengan menggunakan spidol. Jika sudah, masukan salah satu ujung knee dari arah luar ke dalam terpal. Pastikan bahwa salah satu ujungnya sudah menghadap ke arah pembuangan.- Setelah itu, ikat terpal dan pipa pembuangan dengan menggunakan karet ban bekas yang terlebih dulu digunting. Usahakan pengikatan dilakukan serapi mungkin supaya tidak terdapat banyak lekukan.- Kemudian pasang klem yang terbuat dari steinless supaya tidak mudah berkarat. Klem tersebut dipasang tepat di bagian yang sudah diikat. Kencangkan ikatan tersebut dengan menggunakan obeng.- Buka lubang yang sudah ditandai dengan menggunakan cutter atau pisau.- Terakhir, pasang pipa pvc atau paralon yang akan dipasang pada kolam dengan panjang yang sudah disesuaikan dengan tinggi volume air yang diinginkan. Pipa yang berada di sisi luar bisa menyesuaikan dengan panjang sampai luar kolam.Sumber: Merdeka.com ...
Perhatikan Ini Saat Memilih Wadah Budidaya Ikan
Terkini

Perhatikan Ini Saat Memilih Wadah Budidaya Ikan

Beragam jenis wadah bisa digunakan untuk wadah budidaya ikan. Mulai dari kolam, tebat, hampang, keramba, akuarium, atau tempat lainnya. Terpenting, wadah tersebut bisa menampung media budidaya berupa air dan komoditas berupa ikan.  Ikan yang tumbuh di habitat aslinya tentu memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Oleh karena itu, pembuatan wadah budidaya juga sebaiknya dimiripkan dengan habitat aslinya. Dalam pembuatan wadah budidaya, perlu diperhatikan beberapa hal agar tidak salah memilih wadah.Ikan budidayaJenis ikan akan sangat memengaruhi jenis wadah budidaya yang digunakan. Tiap-tiap jenis ikan memiliki cara hidup, pemijahan, dan peletakan telur yang berbeda. Oleh karena itu, desain wadah budidaya pun harus disesuaikan dengan sifat ikan yang dipilih.Baca juga: Teknik Pemijahan Ikan PatinLokasi budidayaLokasi budidaya akan memengaruhi tumbuh dan kembang ikan. Wadah yang berada di perairan umum pasti akan berbeda dengan wadah budidaya yang berada di kolam. Bentuk wadah pun akan menyesuaikan lokasi budidaya. Kolam ini akan menyesuaikan suplai air, kualitas air, dan tekstur dan kontur tanah yang ada.Tahapan budidayaTingkatan ikan juga memengaruhi bentuk wadah budidaya. Pada saat proses pemijahan, penetasan telur hingga menjadi benih, lebih baik wadah yang digunakan berupa kolam tanah. Anda juga bisa menggunakan kolam terkontrol. Misalnya akuarium, fiber glass, plastik, atau tempat lainnya.Baca juga: Panduan Lengkap Budidaya Ikan LeleSementara, untuk tahapan pendederan hingga pembesaran, budidaya ikan bisa menggunakan wadah atau tempat berupa kolam tembok atau kolam tanah. Anda juga bisa menggunakan bak atau kolam terpal. Kolam dengan terpal bisa dilubangi bagian dasar atau dengan membuat kerangka dari bambu atau pipa logam.Anda juga bisa menggunakan keramba, yaitu kurungan yang mengapung di perairan. Keramba terbuat dari kayu atau bambu. Jaring apung juga bisa digunakan dengan cara memasangi pelampung. Begitu pula dengan hampang, pagar kurungan yang mengelilingi luasan tertentu. Baca juga: Usaha Budidaya Ikan Mas di Kolam Terpal Agar Cepat PanenModalModal sangat penting untuk diperhatikan. Pastikan sebelum membuat wadah budidaya, Anda mempertimbangkan kemampuan finansial dan kemungkinan hasil penjualan ikan tersebut.Sumber: dkpp.bulelengkab.go.id ...
The Endogenous Bacteria Bacillus licheniformis Helps to Boost The Immunity on Grass Carp
Terkini

The Endogenous Bacteria Bacillus licheniformis Helps to Boost The Immunity on Grass Carp

The intestinal antioxidants of grass carp increased significantly with the addition of Bacillus licheniformis from the outside.Grass carp is a very important freshwater fish, accounting for more than 10% of total global aquaculture production. However, like many other cultured aquatic species, this fish also suffers from many diseases, creating many challenges for the fish culture.In the last few decades, antibiotics have been used extensively to prevent the entry of pathogens. But due to overuse, the resistance of the bacteria is increasing and causing many negative impacts on food safety and the environment. Therefore, the urgent need now is to develop alternative antibiotic products, which is of great importance to both shrimp farmers and the public health.Probiotics, non-pathogenic microorganisms, are seen as a promising alternative to antibiotics. Once inside the host, they can easily protect their health through improved digestion. In addition, probiotics also improve metabolic processes and inhibit cellular oxidation of many aquatic species. Thereby increasing the activity of enzymes in the body, shrimp and fish improve the growth, regulate protective immune responses.Also read: Using a Probiotic Mixture is More Effective AloneGram-positive spore-forming bacteria from the genus Bacillus spp, create a wide range of beneficial effects on fish, along with good spore tolerance to harsh environments, produce many important enzymes, increase the use of oxygen for shrimp and fish and inhibit harmful bacteria in the intestinal tract of aquatic animals. As a result, Bacillus spp has become the most widely used beneficial microorganism strain in aquaculture at present. In it, B.licheniformis has been included in tilapia farming models and has brought many successes in yield and antioxidant capacity. And this study investigated the effects of B. licheniformis supplementation for growth, resistance to stress, intestinal activity and disease resistance of grass carp.Among the many "bright candidates" for probiotics, Bacillus spp are a group that has a huge advantage due to their ability to form spores and produce antibacterial substances, important that they do not harm the host when supplemented. into food. In it, B. licheniformis is a species of endogenous bacteria right in the intestinal tract of grass carp. If this concentration of bacteria increases, the growth yield of grass carp also multiplies. This is also found in many other fish species. It is possible that they produce a variety of digestive enzymes, which, with improved digestibility, will inevitably grow fish rapidly.Also read: Probiotic Capacity of Pseudovibrio Denitrificans Isolates From a Marine SpongeAs one of the largest immune organs, the gut is very important to the health of the host. However, the intestinal tract faces many challenges, such as oxidative stress and damage to intestinal tissue, which negatively affects the health of the host. Since probiotics will work mainly in the intestinal tract of fish after supplementation, the stability of the endogenous enzymes will help the probiotic work better. However, like grass carp, like other fish, the oxidation system is complicated with the participation of many enzymes. But after the experiment showed that the main antioxidants such as MnSOD and CAT in the intestine increased significantly with the addition of B. licheniformis from the outside.Oxidative stress in fish can affect intestinal functioning. The internal physical barrier is composed of a sealed layer of cell epithelium that is closely related to intestinal permeability, is a key ingredient for homeostasis. And this barrier is more active and increases the length of the villi when the food is added to B. licheniformis for a long time. When the intestinal immune system is imbalanced, this will promote the damage of existing pathogens in the intestine, promoting inflammation that leads to the damage of many intestinal epithelial cells.Also read: Probiotics in AquacultureCombining both B. licheniformi s and B. subtilis showed a higher immune-boosting effect. The exact mechanism of B. licheniformis bacteria needs to be studied further. However, it is certain that this strain can promote the growth and health of grass carp, a promising new strategy about to open up for grass carp farming.Source: Tepbac.com ...
The "Double" Effect from Fish Farming Model in Rice Fields
Terkini

The "Double" Effect from Fish Farming Model in Rice Fields

Rent abandoned fields to cultivate rice, along with making use of the water surface to raise fish and ducks. This combined production model initially brought economic efficiency to Mr. Dang Van Tang, Tu Cuong village, An Cau commune (Quynh Phu).Looking at Mr. Tang's 13-acre field, at this time, only rice is rotten. Standing far away saw the rice tops shiver as if there were ducks in the field. Closer to observe, there are both ducks and fish racing to "devour" rice. Also read: Cobia Farming TechniquesMr. Tang said: About 4 years ago, seeing many people leave their fields deserted, if they had homes, they abandoned their crops. Like my family, if I want to have arable land, I only have 2 rice fields of the mother and daughter. So I decided to rent out the abandoned field to cultivate. When discussing with his mother and wife, they were strongly opposed because they were afraid that they would not succeed. There are people who rent out the fields, but they also hesitate, we have little capital, and the family is anchored, unable to be able to. At that time, I was the Deputy Secretary of the Youth Union of the commune, so the more difficult it became, the more determined it was to make it equal. So more than 13 acres of improved fields are used for rice and fish farming. Mr. Tang dug embankments to prevent storms, each parcel next to the bank dug deep to keep water for fish farming, while in the middle, it was transplanted rice.Sharing about choosing models of rice cultivation and fish farming, Mr. Tang said: Studying on the mass media and then participating in science and technology transfer classes, I find this model easy to implement, risky Low risk, short payback period. Just invest in the embankment of the area, the field bank and create a system of canals around the field. The fish-rice model brings a "double" effect because fish and rice have a symbiotic relationship, supporting each other to develop. Fish feed on rice pests, sludge, kill weeds and accumulate fish wastes that are effective as fertilizer, increase humus for rice fields, reduce weeding, and soil work after each harvest. Along with that, rice fields provide straw, insects as food for fish, so it saves a lot of food costs. Besides, the fish will eat the golden snail eggs so the snail cannot grow to harm the rice. In addition, less use of chemicals,Also read: Researchers Succeed in Fortifying Oysters with VitaminsEach year, Mr. Tang transplants 2 rice crops and harvests fish once. Because spring is the most productive crop with few pests and diseases, Mr. Tang implements rice as usual. Then stock the fish with rice. After harvesting the rice, the water rises, and the rice fish live together. When cultivating winter rice, he drained water and fish to ditches so that he could land, transplant rice, and when the rice stood still, he raised water for fish to live in the rice fields. When harvesting winter rice, repeat it like spring rice. Thanks to natural farming, the quality of fish meat is safe and delicious. Rice yield from 1.7 to 2 quintals / rod. Safe rice, toned fish, delicious, so it is not enough for traders to buy. Mr. Tang said: I was only in the early stage of rice-fish production, so the amount of fingerlings dropped on the field was small and there were more ducks and cows to breed in my field. With the natural environment, the crabs in our fields also grow a lot. Each year from this model, he earns 200-300 million VND.Ms. Nguyen Thi Hoa, Secretary of the Youth Union of An Cau commune, said: Although he no longer works as Deputy Secretary of the Youth Union of the commune, Mr. Tang enthusiastically supports and accompanies the youth in all activities. He is also a shining example of the spirit of overcoming difficulties and creativity in economic development for us to introduce and replicate. Mr. Tang is also a policeman and is trusted by the leaders of the Commune Police and his relatives.Source: Tepbac.com ...
Probiotik, Pencegah Penyakit dan Pendorong Produksi Perikanan Budidaya
Terkini

Probiotik, Pencegah Penyakit dan Pendorong Produksi Perikanan Budidaya

Pengembangan industri perikanan budi daya secara nasional masih sangat bergantung pada penggunaan pakan ikan sebagai sumber utama bahan baku produksi. Selain itu, tidak sedikit di antara para pelaku usaha budi daya ada yang menggunakan pupuk untuk proses produksi.Banyaknya para pelaku usaha budi daya perikanan menggunakan pupuk, karena didasarkan pada kenyataan bahwa ketersediaan pupuk bersubsidi di pasaran sudah semakin sulit didapatkan. Akhirnya, para pelaku usaha budi daya terpaksa membeli pupuk non subsidi, meski dengan harga sangat mahal.Penggunaan pupuk yang berlebihan seperti Urea dan triple super phosphate (TSP), menurut Kepala Pusat Riset Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Yayan Hikmayani sangatlah tidak bagus. Hal itu, karena pupuk anorganik bisa menimbulkan masalah pada kualitas lahan budi daya dan air.Agar persoalan tersebut tidak muncul, diperlukan penanganan tepat yang dilakukan para pembudi daya ikan. Salah satunya, adalah penggunaan probiotik Research Insitute for Coastal Aquaculture (RICA) diproduksi oleh Balai Riset Perikanan Budi daya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAPPP) Maros, Sulawesi Selatan.“Perlu adanya suatu langkah perubahan untuk mengatasinya. Salah satunya dengan penggunaan probiotik RICA,” ungkap dia belum lama ini saat berada di Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Sulsel.Dia menjelaskan, probiotik RICA adalah bakteri probiotik yang diproduksi BRPBAPPP dan bersifat non patogen. Bakteri tersebut juga memiliki kemampuan menghambat perkembangbiakan organisme patogen, dan berfungsi sebagai bakteri pengurai dan penetralisir kualitas air.“Serta memungkinkan sebagai makanan di dalam perairan,” tambah dia.Baca juga: Alasan KKP Minta Pembudidaya Ikan Gunakan Produk Hasil Riset Probiotik RICA Panen percontohan polikultur udang vaname dan ikan bandeng dengan menggunakan probiotik RICA hasil inovasi BRPBAPPP Maros, Sulawesi Selatan. Foto : BRPBAPPP Maros Agar penggunaan probiotik bisa menyebarluas di kalangan pelaku usaha budi daya, penyuluh perikanan diharapkan bisa berperan dengan baik dalam proses tersebut. Dengan demikian, segala proses produksi dan setelahnya bisa diawasi dengan baik dan kemudian dilakukan evaluasi.Dengan adanya penyuluh perikanan, maka proses alih teknologi kepada para pelaku usaha budi daya perikanan bisa berjalan dengan baik. Melalui proses tersebut, maka penerapan tambak yang sehat dengan menggunakan probiotik bisa dilakukan para pelaku usaha budi daya.Bersama penggunaan pakan berbahan murah, probiotik diyakini akan bisa mendorong percepatan produksi ikan atau udang dengan biaya murah dan berkualitas. Selain itu, dengan alih teknologi dari penyuluh, maka proses produksi sendiri diharapkan bisa dilakukan para pelaku usaha.Pencegah PenyakitDirektur Jenderal Perikanan Budi daya KKP Slamet Soebjakto pada kesempatan terpisah mengatakan, saat ini sudah ada 80 merek probiotik untuk ikan ataupun udang yang terdaftar dan beredar di Indonesia. Kehadiran probiotik diharapkan bisa membantu mengatasi persoalan yang ada selama ini.Menurut dia, penggunaan probiotik menjadi salah elemen sangat penting untuk mengatasi dan mencegah penyakit yang menyerang sistem budi daya perikanan. Dengan demikian, diharapkan kegagalan usaha yang biasa dihadapi para pembudi daya bisa dikurangi sebanyak mungkin.Dengan menggunakan probiotik, maka manajemen lingkungan budi daya perikanan diharapkan bisa berjalan dengan baik dan juga itu bisa menjadi awal pencegahan masuknya penyakit yang biasa menyerang saat proses produksi.“Dengan probiotik, maka permasalahan penyakit pada sistem budi daya dapat tertanggulangi. Penyakit menyebabkan 20 persen dari hasil produksi budi daya akan berpengaruh,” jelas dia.Baca juga: Probiotik dalam AkuakulturPanen percontohan polikultur udang vaname dan ikan bandeng dengan menggunakan probiotik RICA hasil inovasi BRPBAPPP Maros, Sulawesi Selatan. Foto : BRPBAPPP Maros Slamet menilai, penggunaan probiotik akan berdampak sangat besar secara berkelanjutan untuk usaha perikanan budi daya. Selain meningkatkan produksi, probiotik juga menjamin keamanan produk dan mutu yang bebas dari residu, antibiotik, dan bebas dari kontaminan.Dengan segala keunggulan dan manfaat, penggunaan probiotik diharapkan akan bisa mendorong percepatan produksi budi daya udang secara nasional. Jika itu terwujud, maka target peningkatan ekspor udang nasional hingga 250 persen pada 2024 diyakini akan bisa tercapai.“Kita harapkan produk udang nasional dapat diterima di pasar global. Probiotik ini salah satu komponen untuk peningkatan udang nasional maupun komoditas budi daya yang lainnya,” sebut dia.Sedangkan Kepala Balai Besar Perikanan Budi daya Air Payau (BBPBAP) Jepara, Jawa Tengah, Sugeng Raharjo mengungkapkan, di antara keunggulan yang dimiliki probiotik adalah mampu memperbaiki kualitas air dan juga bisa mengendalikan infeksi bakteri yang masuk dalam sistem budi daya perikanan.Menurut dia, secara ilmiah probiotik sudah terbukti ikut berperan besar dalam perbaikan sistem pencernaan dan meningkatkan toleransi terhadap stres yang dialami pada ikan ataupun udang. Dengan demikian, probiotik akan mampu meningkatkan produksi budi daya dengan sangat baik.Seperti halnya BRPBAPPP Maros, pengembangan probiotik juga dilakukan di BBPBAP Jepara sejak lama. Di Jepara, pengembangan sudah dilakukan sejak 2007 dengan melalui beberapa tahapan proses. Termasuk, pengembangan probiotik kering pada 2020 ini.“Juga dilakukan kaji terap di lapangan, dan peningkatan kapasitas produksi,” ucap dia.Sugeng mengatakan, saat ini pihaknya sudah mengoleksi bakteri hingga 50 isolat dan 20 persen di antaranya sudah digunakan. Dalam proses pengembangan, Jepara mengkaji terap pada udang Vaname, Marguensis, Indicus, ikan Lele, dan Patin.Baca juga: Probiotik Herbal Kreasi Mahasiswa KKN Undip, Panen Ikan Lele Hanya 1 Bulan Bubuk probiotik untuk perikanan budidaya yang dikembangkan BBPBAP Jepara, Jateng. Foto : BBPBAP Jepara Peningkatan ProduksiKepala BRPBAPPP Maros Indra Jaya menjelaskan bahwa probiotik RICA yang diproduksinya sudah melewati tahapan uji coba dan dipergunakan secara luas oleh masyarakat. Secara umum, probiotik RICA berhasil meningkatkan produksi udang dengan baik.“Hasil survei di Pinrang, Pangkep, dan Luwu Timur menunjukkan indikasi positif,” tegas dia.Percontohan Polikultur Udang Vaname dan ikan Bandeng dengan probiotik RICA dilaksanakan di lahan tambak seluas 0,75 hektare yang berlokasi di Desa Manakku, Kecamatan Labakkang, Kabupaten Pangkep. Kegiatan tersebut melibatkan 2 kelompok binaan penyuluh perikanan.Ketua Asosiasi Perusahaan Sarana Akuakultur Indonesia (Aspakindo) Junaedi Ispinanto berpendapat bahwa penggunaan probiotik membawa manfaat yang banyak untuk proses produksi budi daya perikanan. Hal itu, karena probiotik bisa memperbaiki kualitas air, meningkatkan daya tahan udang dan memperbaiki rasio konversi pakan.Adapun, untuk saat ini beberapa probiotik yang beredar di pasaran adalah berasal dari spesies bakteri Bacillus, yaitu B. subtilis, B. licheniformis, B. Pumilus. Selain itu, ada juga yang berasal dari spesies bakteri fotosintesa, seperti Rhodobacter, Rhodococcus, dan spesies bakteri nitrifikasi.Produk probiotik untuk perikanan budidaya yang dikembangkan BBPBAP Jepara, Jateng. Foto : BBPBAP JeparaDia menjelaskan, penggunaan probiotik di Indonesia, khususnya pada usaha budi daya udang sudah berlangsung sejak awal periode 1990-an. Saat itu, hampir semua pelaku usaha skala intensif sudah mengenal, mengaplikasikan, dan memasukkan unsur prebiotik pada prosedur operasional standar (SOP).Diketahui, penggunaan probiotik dalam usaha budi daya udang pada tambak intensif bisa dilakukan dengan berbagai cara. Pertama, menerapkan cara pada media budi daya (air) dengan cara ditebar langsung melalui proses aktivasi atau fermentasi.Kedua, aplikasi probiotik dasar tambak dengan menggunakan selang ke dasar tambak, dicampur dengan zeolite granular atau dolomite kasar, dan kemudian ditebar di daerah-daerah berlumpur. Ketiga, melalui melalui pakan dengan cara pencampuran probiotik ke dalam pakan.Proses berikutnya, bakteri probiotik akan mengurai senyawa kompleks menjadi lebih sederhana, sehingga akan berpengaruh dalam saluran pencernaan ikan atau udang. Dengan demikian, proses penyerapan makanan akan berjalan lebih baik.Sumber: Mongabay ...
Baru Mulai Budidaya? Ini Dia Produk yang Perlu Anda Persiapkan
Terkini

Baru Mulai Budidaya? Ini Dia Produk yang Perlu Anda Persiapkan

Kegiatan budidaya ikan sekarang sudah bisa dilakukan dimana saja. Dengan berbagai komoditas ikan air tawar maupun laut, Anda bebas memilih jenis ikan untuk dibudidayakan sesuai dengan kebutuhan pasar di daerah Anda. Lalu apa saja yang perlu Anda siapkan untuk memulai budidaya ikan atau udang? Berikut kami telah merangkum beberapa starter pack komoditas ikan yang dapat Anda penuhi untuk menunjang budidaya AndaBudidaya Ikan NilaPada budidaya ikan nila Anda dapat mulai dari wadah budidayanya. Wadah yang Anda gunakan untuk komoditas ikan air tawar ini, dapat berupa kolam bulat terpal ataupun yang portable. Dari benih ikan nila, Anda bebas menggunakan jenis benih unggul yang sesuai dengan pasar di daerah Anda contohnya seperti ikan nila nirwana atau merah Bangkok. Untuk teknologi yang dapat Anda gunakan di antaranya seperti kincir air, teknologi nanobubble, atau autofeeder. Sebagai tambahan Anda juga bisa menggunakan feed additive untuk kesehatan dan meningkatkan produktivitas ikan nila Anda.Budidaya Udang Untuk budidaya udang, Anda pastinya juga akan membutuhkan wadah budidaya seperti kolam dengan lapisan geomembrane ataupun kolam terpal bulat. Kualitas air dalam budidaya udang menjadi salah satu parameter krusial yang dapat menentukan keberhasilan budidaya Anda, oleh karena itu Anda akan memerlukan refractometer, pH meter, maupun DO meter. Pilihan yang lebih praktis Anda juga dapat menggunakan alat kualitas air yang telah menggunakan IoT. Jangan lupa gunakan benur udang yang berkualitas dan terbebas dari penyakit. Selain itu yang dapat Anda tambahkan untuk menunjang produktivitas udang Anda adalah water treatmen dan probiotik. Budidaya Ikan LeleIkan yang sangat popular di antara pembudidaya ini tidak habisnya dibudidayakan oleh masyarakat. Jika Anda ingin ikut mencoba membudidayakan ikan yang termasuk ke dalam catfish ini, Anda dapat memulainya dari wadah kolam bundar yang kokoh dan dilapisi dengan terpal. Jangan lupa gunakan pakan ikan lele yang berkualitas agar pertumbuhan ikan dapat terus meningkat. Kualitas air yang juga perlu anda ukur adalah kandungan amonia dan nitrit. Untuk membantu mencegah atau mengobati ikan lele Anda dari penyakit, Anda juga dapat menambahkan desinfektan sesuai dengan dosisnya.Temukan lebih produk-produk yang Anda butuhkan di katalog Minapoli dengan mengisi biodata di link berikut ini:Unduh Katalog Minapoli DISINIMinapoli menyediakan berbagai kebutuhan budidaya udang dan ikan melalui Pasarmina. Website Minapoli jual pakan murah , jual pakan lele, pakan nila, dan pakan udang. Anda juga dapat menemukan autofeeder murah untuk budidaya, jual kincir air, jual benur udang, dan kebutuhan produksi lainnya. Temukan lebih produk unggulan untuk budidaya di Minapoli. ...
Gandeng Baba Rafi, eFishery Kembangkan Digitalisasi Tambak Udang Vaname
Terkini

Gandeng Baba Rafi, eFishery Kembangkan Digitalisasi Tambak Udang Vaname

Perusahaan rintisan agriculture technology (agritech), eFishery, berkolaborasi dengan salah satu pionir jaringan waralaba makanan terbesar di Indonesia, Baba Rafi, untuk pengelolaan franchise tambak udang vaname. Pada fase pertama dalam kolaborasi ini, eFishery akan mengelola 71 tambak udang seluas 40.000 meter persegi yang merupakan tambak kelolaan Baba Rafi. CEO & Co-Founder eFishery, Gibran Huzaifah mengaku sangat tertarik dengan kerja sama ini karena dapat mengaplikasikan teknologi sekaligus mengelola bisnis tambak udang secara end-to-end. Selain itu, kerja sama dengan Baba Rafi yang ahli dalam mengelola franchise, merupakan suatu bentuk strategi yang sangat tepat. "Dalam kerja sama ini, Baba Rafi yang menjalankan bisnis waralaba, sedangkan eFishery yang mengelola operasional tambak. Kami berharap kolaborasi ini akan memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat dan stakeholders lainnya," ujarnya mengutip siaran persnya, Jumat (6/11/2020). Baca juga: Gandeng eFishery, Perusahaan Ini Siapkan Rp 30 M untuk Pembudidaya IkanSementara itu, founder dan group CEO Baba Rafi Enterprise Hendy Setiono, menyadari akan pentingnya sentuhan teknologi dalam pengelolaan tambak udang. Ia mengatakan, di era Revolusi Industri 4.0 ini, memang tidak bisa dipungkiri peran teknologi dalam segala hal, salah satunya di bidang akuakultur. Oleh sebab itu dia percaya, dengan berkolaborasi banyak hal bakal bisa mencapai dengan hasil yang lebih maksimal. "Kami ingin hadir di dalam era ini, kami percaya dengan melakukan kolaborasi bisa mencapai hasil yang lebih maksimal," katanya.Dia menambahkan, dalam kerja sama ini, eFishery bertindak sebagai technical expert yang akan mengatur manajemen operasional tambak dan memberikan pendampingan dari awal hingga akhir siklus budidaya. Baca juga: Berita eFishery Umumkan Pendanaan Seri B, Dipimpin Go-Ventures dan NorthstarPendampingan ini dimulai dari proses penyediaan benih, pemilihan pakan, hingga penyediaan teknologi pendukung. Selain teknologi eFisheryFeeder yang mampu mengefisienkan FCR, eFishery juga menggunakan inovasi terbaru untuk menghindarkan penyakit pada udang. “Potensi tambak udang di Indonesia amat besar, dan dengan target pemerintah untuk meningkatkan nilai produksi udang sebesar tiga kali lipat selama lima tahun ke depan, kita butuh inovasi bisnis agar hal ini dapat tercapai," jelas dia.Sumber: Kompas ...
Melihat Lebih Dekat Wisata Keramba Apung di Sumberkima Bali Utara
Terkini

Melihat Lebih Dekat Wisata Keramba Apung di Sumberkima Bali Utara

Pesisir Bali utara yang termasuk dalam kawasan Kabupaten Buleleng menyimpan kekayaan budidaya perikanan yang selama ini jarang mendapatkan perhatian dari khalayak.Salah satu kekayaan tersebut adalah budidaya ikan menggunakan keramba apung yang bertebaran di Desa Sumberkima Kecamatan Gerogak, Kabupaten Buleleng. Jika Anda berwisata ke daerah pesisir utara ini, tidak ada salahnya melihat secara lebih dekat dengan budidaya tersebut. Lokasi keramba apung paling mudah dijangkau adalah berada di sekitar objek wisata Gili Putih. Salah seorang pengelola keramba apung, Kadek Suartawan mengatakan lokasi keramba yang dekat dengan objek wisata menjadikan tempat ini sering dikunjungi wisatawan baik domestik maupun mancanegara. “Mereka tertarik melihat proses budidaya ikan, apalagi disini ada ikan kertang yang sudah berusia 4 tahun dengan berat sampai 50 kg,” ujar Kadek pada Jumat (13/11/2020).Baca juga: Pasar Ikan Modern Muara Baru, Destinasi Wisata BaruMenurutnya, salah satu atraksi yang bisa dilakukan oleh pengunjung adalah memberi pakan untuk ikan-ikan di keramba. Sebagai informasi, di salah satu keramba yang berisikan 113 wadah ikan berbagai jenis, pengelola keramba bisa menghabiskan 1,3 ton pakan ikan per hari.Dia mengatakan jika pengunjung bisa membantu memberi pakan ikan-ikan di keramba ini. Kadek menuturkan jika dapat menghabiskan 1,3 ton dalam sehari. Terdapat 113 wadah yang diisi dengan jenis-jenis ikan yang berbeda menurut jenis dan ukuran. Adapun ikan yang dibudidayakan seperti kakap, kerapu dan juga bawal.  Jenis-jenis ikan tertentu dibudidayakan untuk kemudian dipanen menurut usia ikan.Kadek mengatakan keramba apung memiliki banyak manfaat seperti mempermudah proses penyortiran, mempercepat proses panen, dan menjaga benih dari predator lain. Untuk panen membutuhkan waktu 18 bulan sampai 2 tahun dan dilakukan secara kontinu. Setelah panen, ikan-ikan di keramba apung ini akan dibawa ke Denpasar, dan apabila beratnya diatas 2 kg akan di fillet. Baca juga: KKP-Pemkab Buleleng Resmikan Kampung Bandeng dan AgrowisataDi musim pandemi seperti sekarang ini, harga ikan mengalami penurunan sebesar 50%. Sebelumnya, harga ikan dihargai Rp100.000 perkilo dan sekarang menjadi Rp50.000. Nengah Tono, Anggota Kelompok Masyarakat Sadar Wisata Kima Bay saat ditemui Bisnis dalam Program Jelajah Wisata KemBali, mengatakan jika keramba ikan banyak dikunjungi wisatawan untuk melihat keunikannya. Untuk sampai di tempat ini, Anda dapat menaiki perahu dengan kapasitasnya 10 orang dari Pelabuhan Sumberkima. Adapun waktu tempuh kurang lebih sekitar 10 menit. Program Jelajah Wisata KemBali ini didukung oleh, Kemenparekraf, BPD Bali, Astra Isuzu, Pegadaian Kantor Wilayah VII Denpasar, BPJS Ketenagakerjaan Kanwil Banuspa, Pertamina Region Jatimbalinus.Sumber: bali.bisnis.com ...
Tim Riset UNS Ubah Larva BSF Jadi Pelet Ikan Kaya Protein
Terkini

Tim Riset UNS Ubah Larva BSF Jadi Pelet Ikan Kaya Protein

Tim dosen dari Grup Riset ITP Hewani Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo mengaplikasikan teknologi pakan dengan mengubah larva atau maggot Black Soldier Fly (BSF) menjadi pakan pelet ikan terapung kaya protein. Hal itu dilakukan untuk meningkatkan nilai jual hasil budidaya larva milik Mazgot BSF Boyolali yang beralamat di Desa Trimulyo RT 01/RW 11, Penggung, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.Budidaya larva yang diketuai Muhammad Jafar Khoerudin tersebut sebenarnya memiliki produksi tinggi hingga mencapai 1.000 kilogram per hari. Namun, karena kurangnya pengetahuan, hasil budidaya hanya dijual dalam bentuk segar kepada peternak lele sehingga nilai jualnya belum optimal.Padahal, larva BSF memiliki potensi besar untuk dijadikan bahan pakan ikan berkualitas. Hal tersebut sesuai dengan beberapa riset yang menunjukkan larva mengandung protein mencapai 42 persen dengan profil asam amino lengkap. Kandungan ini jauh lebih tinggi dari protein pakan yang umumnya hanya 17-20 persen.Baca juga: BSF untuk Budidaya, Maggot Hingga Kepompong"Para ahli menyampaikan penggunaan protein yang berasal dari golongan insekta lebih ekonomis, bersifat ramah lingkungan, serta mempunyai peran yang penting secara biologi. Selain itu, insekta khususnya larva BSF bukan merupakan bahan pangan manusia sehingga konsumsinya tidak berkompetisi dengan manusia," kata Agung Budiharjo selaku Ketua Tim seperti tertulis dalam rilis, Rabu (18/11).Adanya potensi tersebut, kata Agung, harus diimbangi dengan penerapan teknologi yang tepat agar kandungan maggot dapat dipertahankan dan dapat memenuhi nutrisi ikan. Teknik yang digunakan Agung bersama Adi Magna Patriadi Nuhriawangsa, Lilik Retna Kartikasari, dan Bayu Setya Hertanto, dalam proses tersebut berupa teknik pelleting.Baca juga: Inovatif, Sekelompok Mahasiswi Ini Buat Pelet Ikan Murah dari Bahan AlamPelleting dipilih karena beberapa hal. Di antaranya, ternak mendapatkan semua nutrien yang ada di dalam pakan sehingga dapat meningkatkan efektivitas pemberian pakan. Selain itu, pakan pelet sesuai dengan selera pasar pakan ikan komersil.Penelitian yang dibiayai Dana Hibah PNBP UNS Tahun 2020 tersebut memiliki beberapa kegiatan selama mendampingi Mazgot BSF Boyolali. Tim pengabdi memberikan pelatihan membuat pakan ikan yang meliputi penyusunan formula pakan dengan menggunakan metode pearson, teknik pencampuran pakan yang baik, proses membuat pakan pelet, dan pegujian kualitas fisik pakan pelet ikan secara sederhana.Pelatihan tersebut bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan anggota kelompok mitra. Sehingga mereka mampu memproduksi pakan pelet ikan secara mandiri. Setelah itu, tim bersama anggota kelompok menghitung secara ekonomi biaya produksi pakan yang telah dibuat untuk mengevaluasi layak atau tidaknya aplikasi ini jika diproduksi secara massal oleh mitra.Sumber: Republika.co.id ...
Cetak Santripreneur, Santri Dibekali Budidaya Ikan Lele Mutiara
Terkini

Cetak Santripreneur, Santri Dibekali Budidaya Ikan Lele Mutiara

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia melalui Balai Riset Pemulihan Ikan (BRPI) Sukamandi membekali para santri Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Ikhsan Pekalongan berupa pelatihan Pengembangan Perikanan Budidaya Berbasis Komoditas Unggul dan Kewirausahaan. Pelatihan ini agar santri terampil berbudidaya komoditas perikanan khususnya budidaya ikan lele mutiara yang merupakan hasil riset berbasis produktivitas unggul, Selasa (27/10/2020).Penyuluh Perikanan BRPI Sukamandi, Heri Widyatman, mengungkapkan bahwa BRPI Sukamandi dibawah KKP RI memiliki tugas khusus untuk membuat riset pemulihan ikan untuk menghasilkan benih ikan unggul dan menjawab kebutuhan masyarakat dalam meningkatkan performa ikan-ikan budidaya.“Pemulihan itu meningkatkan performa ikan-ikan budidaya yang sudah dibudidayakan masyarakat ketika mengalami penurunan performa kami tingkatkan melalui proses pemulihan seperti ikan lele mutiara ini kami kembangkan untuk mengatasi permasalahan-permasalahan ikan lele di tengah masyarakat yang mengalami penurunan performa pertumbuhan, efisiensi pakan, ketahanan penyakit dan sebagainya,” terang Heri.Baca juga: Cara Ternak Lele Bioflok Sederhana Hasil MaksimalHeri menambahkan, BRPI Sukamandi melaksanakan riset pemulihan yang salah satu bagiannya adalah melakukan uji perbandingan mutu lokasi di beberapa daerah dan sistem yang salah satu yang dikembangkan adalah budidaya ikan lele mutiara dengan sistem bioflok untuk mendukung pesantren entrepreneur.“Kami melakukan uji di beberapa daerah dan sistem budidaya ikan lele mutiara dengan bioflok melalui program pesantren entrepreneur, apakah nanti ikan lele mutiara dengan keunggulannya 20 hingga 50 persen lebih baik pertumbuhannya, ketika diuji di sistem bioflok juga memiliki keunggulan serupa sehingga tentunya bermanfaat dan berdampak dalam meningkatkan perekonomian untuk masyarakat luas,” papar Heri.Kegiatan ini merupakan riset pengembangan ikan lele Mutiara yang dilakukan dalam rangka menyebarluaskan ikan riset hasil pemuliaan BRPI untuk mendorong pembudidaya untuk penggunaan ikan unggul dan kebermanfaatan di masyarakat.Baca juga: Pembenihan Ikan Lele SangkuriangKetua Rabithah Alawiyah Jateng-DIY, Abu Bakar Alatas menjelaskan, kegiatan pelatihan budidaya ikan lele yang bekerjasama dengan BRPI Sukamandi dan Rabithah Alawiyah di lingkup Ponpes dimaksudkan dalam rangka meningkatkan kompetensi dan kemandirian para santri saat mereka lulus dari Ponpes dan kembali ke masyarakat.“Di Ponpes ini kami bina mereka secara agama, selain itu kami juga membangun kemandirian untuk menumbuhkan jiwa santripreneur, santri yang memiliki jiwa untuk mengembangkan usaha. Sehingga para santri bisa ikut serta berwawasan wirausaha melalui budidaya lele mutiara dengan sistem bioflok yang akan terus dikembangkan,” ujar Abu.Abu menuturkan, kegiatan ini tindaklanjut dari kegiatan perkoperasian pondok pesantren dimana budidaya lele mutiara ini akan menjadi usaha yang dirintis Pondok Pesantren dan selanjutnya menjalin kerjasama dengan DKP dan Dindagkop-UKM Kota Pekalongan untuk dibantu dicarikan mitra untuk membeli hasil panen budidaya ikan tersebut.Baca juga: Persiapan Mapan, Tekan Kematian“Ini juga sebagai upaya pemberdayaan ekonomi sekaligus mendukung dan mensukseskan program Pemerintah dalam memenuhi ketahanan pangan dengan cara memberdayakan santri membudidayakan ikan lele mutiara,” papar Abu.Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan (DKP) Kota Pekalongan, Ir Agus Jati Waluyo menyambut baik adanya kegiatan pelatihan budidaya lele mutiara tersebut. Menurutnya, budidaya lele mutiara ini merupakan komoditas yang masih baru dan perlu dikenalkan kepada masyarakat.“Kami menyambut baik adanya pelatihan ini dimana Ponpes ikutserta menunjukkan kontribusinya terhadap pembangunan daerah terutama peningkatan SDM dan ekonomi melalui pelatihan ini dapat membekali santri life skill usaha dari awal budidaya, produksi hingga panen dan siap dikonsumsi dan dijual,” tutur Jati.Baca juga: Cara Pembenih Lele Hadapi HujanJati berharap, hasil pelatihan budidaya lele mutiara ini nantinya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan ponpes, peningkatan gizi para santri ponpes dan dapat dikembangkan untuk wirausaha.Selama budidaya lele, lanjut Jati, santri akan didampingi oleh petugas dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Pekalongan hingga ikan dapat dipanen.“Ikan lele mutiara ini kandungannya sangat bagus akan Omega 3 nya yang baik untuk pertumbuhan dan kecerdasan anak-anak santri,” pungkasnya. Sumber: Radar Pekalongan ...
Cobia Farming Techniques
Terkini

Cobia Farming Techniques

Get fish seedThe spawning season of cobia is from April to September. The majority of fingerlings collected in the wild are from July to August. They can be caught in puddles on mud or sand on the banks of estuaries during low tide. The length of fish body is 1.5 - 3.0cm, they are abundant in brackish water. People use rackets to catch them in puddles and bring them home.Pond Cobia ponds are usually small in size from 0.1 to 1 ha. Pond banks must have barriers to prevent fish escaping and invading predators. To facilitate pond draining and pond drying, the pond bottom elevation should be above mean water level. There should be a ditch in the middle of the pond 2m wide towards the sluice gate, along the length of the pond to facilitate draining of water and as a shelter for fish on sunny days. The bottom of the pond is fleshy soil for the bottom algae to grow well and the hole dug on the pond bottom is not flattened like on sandy soil.Also read: Bluegrove Aims to Change Aquaculture Via Technology – Starting with SalmonPond treatment before stockingSince the goby eat algae on the bottom, it is important to make the algae grow well before stocking. To do that, it is necessary to dry the pond bottom and fertilize. For newly excavated ponds, fertilize 600 kg of stacked manure per hectare, can add rice bran, for low salinity seawater, keep the depth of 15cm. Algae and cyanobacteria will grow at the bottom of the pond.Chironomid snails and larvae are bottom-eating algae so they must be eradicated with Bayluscide 0.3 ppm (parts per million) and second species by Abate 0.25 ppm, Sumithion 0.3 ppm or Lebaycid 0.25 ppm.StockingThe stocking density is 30,000 fish / ha, maximum is 50,000, Cobia is difficult to catch when it is put into the pond, and it is not necessary to distinguish the stocking size. Cobia never eat each other.Pond managementPond water needs to be kept clean and shallow so that sunlight reaches the bottom. In the first period, pond water is kept at 15 cm (in ditch depth of 30cm). At that time the fish were small and only shallow holes were digested, so no pond treatment needed after 45 days when the fish reached the size over 5 cm, they dug deeper holes to shelter and the bottom of the algae was damaged. At that time, the water should be drained (except for a little water remaining in the trench) and sun dried for 3-6 days. Then fertilize with north fertilizer, rice bran, etc. Add brackish water to the pond, the bottom algae layer is formed.Cobia lurks in their pits during handling. Therefore, when fertilizing, be careful to avoid accumulating a lot of fertilizer to fill the whole hole, causing fish to die. It is safer to mix manure with seawater into the pond and also achieve the purpose of fertilization. Then the water level drops again 2 to 7 cm.Cobia grows best at temperatures above 28oC. They stop growing when the temperature drops below 14oC.Also read: Crab Seed Production TechniquesHarmCommon pests are fish (tilapia, perch ...) that need to be eliminated when drying a pond and filtering water into the pond, birds (need to be repelled) and crabs (need to be shielded).Harvest and tradeCobia breeds for 1 to 2 years to reach commercial size depending on pond conditions and management practices. Smallest commercial size is 24g, largest size 40g, survival rate 60%. Harvesting technique is to use sparingly at the main entrance to the fish hole to feed the fish. A barrier net can also be used at the inlet. When draining water into the pond, fish gather right on the pond, pull the net to catch fish.Cobia can be transported long distances by storing them with a little water at the right temperature.Also read: Application of Micro Bubbles Technology in Catfish RearingArtificial reproductionIn Taiwan since the early 1970s people began to experiment with artificial spawning of Cobia. Broodfish are 10-20cm in length. Fish are stored in plastic tanks and given the plastic tubes as a hideout for the fish. Fill the tank with enough water to cover the nostrils.Females are injected with 1 đến2 to 1 carp hydrocephalus and Synahorin with 5-10 rabbit units. On day 3, injection phase 2. On the 4th day the fish begin to spawn. Each female can harvest more than 10,000 eggs. Eggs are spherical and light yellow, 0.5-0.6mm in diameter. Eggs sink and stick.Get semen by pecking the male fish, taking the testicles and then cutting into small pieces, mixing well with the eggs. The fertilized eggs are washed with seawater salinity 14.9-18.5% o many times at 28oC, it takes 65 hours to hatch.Source: tepbac.com ...
Unipas Ajak Warga Banyuasri Budidaya Ikan Dalam Ember
Terkini

Unipas Ajak Warga Banyuasri Budidaya Ikan Dalam Ember

Setelah trend pertanian hidroponik di halaman rumah, kini budidaya ikan dalam dalam ember (budikdamber) mulai digalakkan.“Ini adalah solusi yang dapat digunakan untuk menjaga ketahanan pangan keluarga di masa pandemi,”  kata praktisi Hidroponik dan Budikdamber, Ni Luh Sila Widiartini.Sebelumnya, pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia sejak Maret 2020 memberi pengaruh kurang baik terhadap perekonomian di berbagai sektor. Dampaknya, banyak masyarakat yang terpaksa dirumahkan dan mengalami PHK (pemutusan hubungan kerja). Baca juga: Selain Lele, Berikut Cara Budi Daya Ikan Nila dan Gurame dalam EmberMenyikapi kondisi ini, Fakultas Pertanian Universitas Panji Sakti (FP Unipas) Singaraja, Kabupaten Buleleng, melalui kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) tergerak terjun ke masyarakat mendorong pemanfaatan areal yang terbatas di perkotaan untuk menjaga ketahanan pangan melalui Budikdamber. Seperti yang dilakukan pada Minggu (1/11) di RT 17 Kelurahan Banyuasri, Kecamatan/Kabupaten Buleleng. “Budikdamber mengadopsi konsep urban farming yaitu memanfaatkan lahan sempit yang ada di setiap rumah warga untuk budidaya ikan sekaligus sayur, sehingga dapat digunakan sebagai solusi ketahanan pangan keluarga di masa pandemi,” kata Dekan FP Unipas, I Putu Parmila SP MSi dalam sambutannya sekaligus membuka kegiatan pelatihan Budikdamber, Minggu (1/11).Beli budikdamber starter kit disini!Kegitan ini dihadiri oleh Lurah Banyuasri yang diwakili oleh Ketua RT 17, Sekretaris LPPM Universitas Panji Sakti dan warga di lingkungan RT 17. Dalam program ini FP Unipas memfokuskan penyuluhan dan pelatihan kepada ibu-ibu warga RT 17 sebagai penjaga ketahanan pangan keluarga.  Ibu-ibu warga RT 17 antusias mengikuti program ini, namun tetap patuh dengan protokol Covid 19. Ibu-ibu warga yang hadir aktif memberi pertanyaan dan diskusi seputar praktik yang sedang dilaksanakan.Dalam Budikdamber yang dibudidayakan adalah kombinasi antara ikan lele dengan sayur kangkung. “Dipilihnya komoditi ini agar masyarakat bisa memanen sayur kangkung 2 kali, dan ikan lele 1 kali dalam 2 bulan waktu budidaya. Sehingga hal ini dirasa dapat membantu perekonomian keluarga,” kata Ni Luh Sila Widiartini dari kelompok tani Lumbung Hidroponik yang menjadi narasumber dalam pelatihan. Baca juga: Cerita Budidaya Ikan Lele di Lahan Sempit YogyakartaPada akhir program pengabdian kepada masyarakat ini turut dibagikan 26 unit paket Budikdamber lengkap dengan bibit lele dan sayur kangkung, serta 100 bibit tanaman cabai dan terong sebagai pelengkap. “Kegiatan pelatihan dan pembagian paket Budikdamber ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi warga RT 17 kelurahan Banyuasri,” kata Ir Made Suarsana MP, selaku Ketua Program Pengabdian ini. Suarsana mengatakan bahwa penerapan teknologi tepat guna ini sangat praktis dan mudah dilakukan dengan memanfaatkan lahan sempit. “Budikdamber ini dapat menopang pangan dan aktivitas untuk meningkatkan imun tubuh agar terhindar dari Covid 19 serta mampu mengurangi biaya dapur keluarga,” pungkas Made Suarsana. *Sumber: Nusa BaliTemukan berbagai kebutuhan budidaya ikan lele Anda di Minapoli. Temukan produk budikdamber starter kit, dimulai  dari pakan ikan lele, ember, kangkung, hingga ikannya di Pasarmina. Minapoli menyediakan seluruh sarana prasarana budidaya ikan lele, dimulai dari wadah budidaya, alat ukur kualitas air, pakan ikan, obat, dan masih banyak yang lainnya. Sukseskan kegiatan akuakultur Anda bersama Minapoli. ...
Ini Strategi Pemenuhan Produksi Pakan Ikan
Terkini

Ini Strategi Pemenuhan Produksi Pakan Ikan

Pemerintah Indonesia sedang berinovasi untuk bisa mewujudkan ketersediaan pakan ikan mandiri minimal sebanyak 12-13 juta ton pada 2024 mendatang. Kebutuhan tersebut dihitung dari target produksi perikanan budi daya yang ditetapkan sebesar 22,65 juta ton pada 2024.Direktur Jenderal Perikanan Budi daya Kementerian Kelautan dan Perikanan (DJPB KKP) Slamet Soebjakto menjelaskan, dengan target yang sudah ditetapkan itu, sebanyak 41,5 persen di antaranya merupakan target produksi dari komoditas ikan dan udang.“Itu memerlukan pakan untuk pencapaiannya,” tutur dia pekan lalu di Jakarta.Menurut dia, agar kebutuhan pakan bisa terpenuhi sesuai estimasi pada 2024, diperlukan dukungan dari pabrikan maupun produksi pakan mandiri. Cara tersebut diyakini akan bisa mewujudkan ketersediaan sebanyak 12-13 juta ton pakan.Sebelum ada estimasi kebutuhan untuk pakan pada 2024, KKP mengklaim sudah mulai melaksanakan inisiasi program pakan mandiri pada 2015. Kegiatan yang diberi nama Gerakan Pakan Ikan Mandiri (Gerpari) itu bertujuan untuk mendorong aktif penggunaaan bahan baku alternatif lokal dengan kualitas dan harga yang bersaing.Baca juga : Pabrik Pakan KKP Siap Beroperasi Hasil pakan ikan mandiri dengan bahan baku bungkil sawit di Riau. Foto : Ditjen Perikanan Budidaya KKP/Mongabay Indonesia Di sisi lain, Slamet juga mengungkapkan bahwa ketersediaan pakan di masa mendatang sangat berkaitan erat dengan situasi yang dibangun sejak dari sekarang. Contohnya, upaya yang dilakukan Pemerintah dengan memberikan produsen pakan ikan mandiri kenyamanan dan keamanan untuk berusaha.KKP sendiri, memastikan bahwa pakan mandiri yang diproduksi sudah memenuhi standardisasi kualitas pakan dengan pendaftaran pakan yang beredar, baik yang diproduksi maupun yang impor. Jaminan tersebut akan melindungi usaha produsen pakan agar bisa berkelanjutan dari sisi lingkungan dan ekonomi.“Produsen pakan pada awal pandemi COVID-19 sepakat menunda kenaikan harga pakan, sehingga tidak menimbulkan kepanikan para pembudi daya yang tengah mengalami kesulitan,” jelas dia.Slamet berharap, tantangan perikanan budi daya yang akan dihadapi pada masa mendatang bisa menjadi pemicu semangat bagi semua pihak untuk sama-sama bisa memenuhi kebutuhan pakan ikan yang efisien dan berkualitas.“Kami harapkan agar seluruh pemangku kepentingan yang bergerak di bidang pemenuhan kebutuhan pakan dapat berkerja sama dan selalu berkoordinasi untuk kesejahteraan bersama,” tambah dia.Secara umum, Slamet menyebutkan bahwa saat ini kebutuhan pakan di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Kebutuhan itu harus bisa dipenuhi dari sisi produksi dengan penambahan kapasitas produksi dan sebaran distribusi yang semakin merata ke seluruh Indonesia.“Agar ketersediaan pakan ikan atau udang ini dapat terpenuhi,” pungkasnya.Baca juga : APMN Uji Coba Biji Karet untuk Pakan Ikan Ali Sulaeman di gubuk sederhana tempat produksi pakan lobster di Desa Paremas, Lombok Timur, NTB. Pakan ini diracik dari campuran berbagai jenis sayuran, ikan. Mereka mengolah dengan sangat sederhana. Foto : Fathul Rakhman/Mongabay Indonesia Pakan AlamiSebelum itu, Slamet juga sudah menyampaikan tanggapan tentang pakan ikan dalam sebuah kegiatan di Jakarta belum lama ini. Menurut dia, kebutuhan pakan alami untuk budi daya perikanan sudah menjadi kebutuhan yang mendesak di Indonesia, terutama sebagai pakan untuk udang.Di Indonesia, ketersediaan pakan alami masih bisa ditemukan dengan mudah di sejumlah daerah. Sebut saja Phronima Suppa (Phronima sp), Strain, ataupun Moina yang masih bisa tumbuh dan berkembang dengan alami di banyak tempat di Indonesia.“Pakan alami akan memenuhi kebutuhan pakan untuk pembesaran benih ikan dan udang,” ucap dia.Khusus untuk pembenihan, ketersediaan pakan alami yang cukup sangat dibutuhkan dan menjadi hal yang penting, mengingat pakan alami akan membantu proses pembenihan untuk menghasilkan benih yang baik dan berkualitas.Tentang tiga pakan alami yang disebut di atas, itu menjadi penanda bahwa Indonesia memiliki sumber daya alam yang sangat kaya dan berlimpah. Pakan-pakan alami yang selama ini menjadi hewan endemik di daerah, diharapkan bisa dirasakan manfaatnya di daerah lain.Keberadaan pakan alami sendiri sudah menjadi bagian dari riset para pakar yang bekerja pada bidangnya masing-masing dan berkontribusi pada ilmu budi daya perikanan. Untuk itu, diharapkan mereka semua bisa menyebarkan ilmunya, khususnya untuk pemanfaatan pakan alami.“Dengan harapan, semakin banyak pelaku usaha budi daya, khususnya pelaku usaha pembenihan yang dapat mengaplikasikan kegiatan budi daya pakan alami untuk meningkatkan margin pendapatannya,” jelas dia.Baca juga : Maggot, Pakan Alternatif Berprotein Tinggi untuk IkanMaggot atau larva lalat tentara hitam (Hermetia illucens) yang bisa dijadikan bahan baku pakan ikan alternatif. Foto : KKP/Mongabay Indonesia Slamet menambahkan, kebutuhan pakan alami yang terus meningkat dari waktu ke waktu diikuti dengan produksi perikanan budi daya yang juga memperlihatkan proses yang meningkat setiap tahunnya. Semua proses tersebut akan bermanfaat untuk pengembangan pakan alami dan manfaatnya secara ekonomi bagi warga dan juga para pembudi daya ikan.Dengan kata lain, kebutuhan yang besar terhadap pakan alami menjadi sebuah peluang yang harus dimaksimalkan oleh produsen dalam negeri untuk dapat membangun industri pakan alami agar dapat memenuhi kebutuhan tersebut.Ketua Divisi Akuakultur Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Haris Muhtadi menyebutkan bahwa kesiapsiagaan menghadapi persaingan yang semakin ketat di masa mendatang, baik di dalam dan di luar negeri, adalah sesuatu yang sangat penting.Menurut dia, Indonesia termasuk negara yang tangguh karena bisa menghadapi situasi saat COVID-19 sedang menjadi pandemi dunia. Sementara, di saat yang sama banyak negara lain yang tidak bisa berbuat hal serupa seperti yang Indonesia lakukan.“Itu karena kebijakan dan langkah antisipasi yang diterapkan oleh Pemerintah, berimbas kepada penurunan produksi nasional yang kecil,” tutur dia.Baca juga : Ini Langkah Menteri Edhy Tekan Harga Pakan IkanPemanenan zooplankton untuk pakan ikan alami. Foto : DJPB KKP Tepung IkanKetua Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) Rokhmin Dahuri menambahkan bahwa sektor dengan pertumbuhan paling cepat dalam ekonomi pangan dunia saat ini tidak lain adalah subsektor perikanan budi daya. Pertumbuhan tersebut mampu menyediakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat.Selain itu, pertumbuhan perikanan budi daya dewasa ini juga mampu menciptakan efek berlipat ganda dan menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang signifikan, terutama di daerah pesisir dan pedesaan. Dengan fakta tersebut, Pemerintah indonesia menempatkan perikanan budi daya sebagai salah satu prioritas utama pembangunan ekonomi Negara.“Pemerintah Indonesia telah membuat komitmen untuk melakukan ekspansi besar-besaran dalam industri akuakultur, yang sebagian besar akan didasarkan pada spesies yang diberi makan seperti udang dan ikan tropis,” ujar Rokhmin menyebut jenis ikan tropis seperti seabass, kerapu, kakap, dan silver pompano.Penetapan prioritas utama tersebut juga berdampak pada banyak kebijakan yang sudah dan akan dikeluarkan oleh Pemerintah. Termasuk, dengan membentuk Komite Pengarah penyediaan tepung ikan untuk pengembangan produksi akuakultur. Langkah tersebut menjadi strategis untuk pengembangan budi daya perikanan.Dalam melaksanakan tugasnya, Komite akan memastikan pabrikan dan pelaku usaha pakan ikan mandiri bisa mendapatkan pemahaman yang benar tentang penggunaan bahan pakan saat ini. Selain itu, mereka juga bisa menganalisa kebutuhan bahan baku tepung ikan, dan melakukan kajian mengenai tingkat produksi tepung ikan lokan serta sumbernya.Seorang pekerja sedang memberikan pakan pada ikan nila dalam budidaya keramba jaring apung di Danau Toba, Sumut. Foto : Jay Fajar/Mongabay Indonesia Untuk langkah selanjutnya, Rokhmin menjelaskan bahwa Komite Pengarah akan mengembangkan strategi dan rencana kerja lima tahun untuk memastikan bahwa perluasan produksi akuakultur yang diusulkan dapat dicapai dan bekerlanjutan.“Dengan basis informasi yang kuat sebagai pendukung strategi tersebut,” tegas dia.Diketahui, jumlah pakan ikan yang telah terdaftar di KKP hingga September 2020 adalah sebanyak 1.506 merek. Dari jumlah tersebut, pakan ikan dan atau udang yang telah terdaftar adalah pakan yang diproduksi oleh proadusen pakan industri (importir) sebanyak 1.4722 merek.Sementara, untuk pakan ikan yang sudah terdaftar dan dibuat produsen pakan ikan mandiri adalah terdiri dari 19 merek. Selain itu, masih ada juga pakan ikan yang terdaftar dan diproduksi oleh unit pelaksana teknis (UPT) DJPB sebanyak 15 merek.Sumber: mongabay.co.id ...
Apresiasi Komunitas Cupang, MAI Optimistis Indonesia Rajai Ekspor Ikan Hias Dunia
Terkini

Apresiasi Komunitas Cupang, MAI Optimistis Indonesia Rajai Ekspor Ikan Hias Dunia

Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI), Prof Rokhmin Dahuri mengapresiasi kehadiran komunitas pebisnis dan penghobi ikan cupang karena mampu memberikan kontribusi ekonomi mendongkrak produksi ikan hias Indonesia.Hal tersebut disampaikan Rokhmin Dahuri saat menghadiri Pagelaran Kontes Ikan Cupang Hias yang dilaksanakan oleh Komunitas Pebisnis dan Pehobi Cupang Hias Bekasi, Beta Patriot dalam rangka hari jadinya yang ke-9 di Blu Plaza Bekasi, Minggu (1/11/2020).Baca juga: Sosialisasi Teknologi Budidaya Ikan Cupang AlamRokhmin Dahuri yang juga merupakan koordinator penasehat menteri kelautan dan perikanan periode 2019-2024 itu mengatakan Indonesia memiliki potensi besar sebagai negara produsen cupang hias di dunia sementara secara talenta, ragam jenis cupang hias Indonesia saat ini memiliki perkembangan yang pesat.“Berbicara potensi, Indonesia adalah rajaya cupang sementara secara talenta sekarang dari ragam, jenis, warna, dan bentuk sangat luar biasa,” ujarnya.Dengan ditopang oleh potensi dan talenta yang dimiliki cupang hias Indonesia tersebut, guru besar fakultas perikanan dan ilmu kelautan IPB itu optimistis Indonesia akan menjadi eksportir ikan hias nomor satu dunia.“Saat ini kita masih ranking tiga dunia, maka dengan geliat bisnis dan hobi cupang ini saya optimistis paling lambat tahun 2022 kita bisa merajai menjadi juara nomor satu di dunia,” tegasnya.Baca juga: Lomba Ikan Cupang Digelar OnlineUntuk itu, mantan menteri kelautan dan perikanan itu mengajak komunitas cupang untuk duduk bersama mendorong produksi cupang hias sehingga dapat memberikan dampak ekonomi luas tidak hanya bagi komunitas dan anggotaya melainkan bagi negara.“Untuk itu nanti saya akan mengundang teman-teman komunitas masyarakat cupang Indonesia ke kantor koorniataor menteri kelautan perikanan untuk kita berdiskusi seperti apa tantangan dan kendalanya yang bisa kita bantu sehingga cupang hias kita ini benar-benar maju pesat,” pungkas ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Kelautan dan Perikanan tersebut.Sumber: monitor.co.id ...
UMI Kembangkan Usaha PPUPIK Berbasis Akuakultur Terpadu di Pangkep
Terkini

UMI Kembangkan Usaha PPUPIK Berbasis Akuakultur Terpadu di Pangkep

Program Pengembangan Usaha produk Intelektual Kampus (PPUPIK) Universitas Muslim Indonesia (UMI), tengah mengembangkan Laboratorium Tambak dan Lapang FPIK, di Dusun Parreang, Desa Bontosunggu (Kalibone), Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkep.PPUPIK yang dikembangkan kali ini, khusus menerapkan program akuakultur terpadu berupa usaha pendederan, pembesaran dan usaha penanganan hasil produksi.Baca Juga: Usaha Budidaya Ikan Bandeng Semi Intensif Agar Produksi MeningkatKetua Pelaksana Kegiatan, Prof Jayadi menjelaskan, secara detail kegiatan dan komoditas yang dikembangkan tersebut yakni pendederan ikan nila dan ikan bandeng, pembesaran ikan nila di tambak model semi intensif dengan metode modular, pembesaran bandeng di tambak model semi intensif dengan metode modular, serta pembesaran ikan nila dikolam terpal dengan sistem intensif."Luas tambak yang digunakan kegiatan ini 2,5 ha dan telah berlangsung sejak tahun 2019 yang lalu," ujarnya.Adapun program PPUPIK ini, lanjutnya, akan mengembangkan laboratotium tambak dan Lapang FPIK budaya ekonomi berbasis IPTEK akuakultur terpadu dengan menerapkan inovasi dari hilir ke hulu sehingga menjadi wirausaha baru di FPIK UMI.Kegiatan ini juga kata Jayadi, akan menjadi percontohan bagi masyarakat dan menjadi kegiatan pembelajaran untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa UMI dalam berwirausaha.Baca juga: Sarjana Perikanan didorong Mampu Berwirausaha"PPUPIK ini merupakan sebagai salah satu kegiatan untuk melahirkan sumberdaya manusia yang berilmu amaliah dan beramal ilmiah," tambah Jayadi.Jayadi menguraikan, secara teknis program ini memilki andil yang besar sebagai wadah bagi mahasiswa untuk belajar berwirausaha, berinovasi dan berkreasi terutama mengadapi dunia kerja yang semakin sulit. Diantara berisi aplikasi penerapan probiotik, sistem resikulasi air dan penanganan penyakit dan pematauan kualitas air, penumbuhan makanan alami serta pemberian pakan buatan sebagai solusi yang masih rendahnya produktifitas tambak yang dijadikan unit kegiatan PPUPIK.Selanjutnya pengelolan terpadu dari hilir ke hulu serta terintegrasi dalam bentuk usaha produktif merupakan bentuk pelaksanaan kegiatan ini. Fasilitas yang sudah dikerjakan pada kegiatan PPUPIK yaitu: tambak 6 petak (luas 2,5 Ha), kolam pendederan (kolam tembok, kolam terpal dan, hapa), kantor, rumah tambak, kolam resirkulasi, sumur air payau, ruang penjualan benih, alat pengukur kualitas air, pintu air utama tambak, pompa air.Baca Juga: Pengelolan Air di TambakTambak UMI dengan kegiatan PPUPIK akan melakukan kegiatan usaha pendedaran ikan nila dan ikan bandeng di tambak, pada wadah kolam terpal, kolam tembok dan wadah hapa. Kegiatan pendederan menyiapkan benih nila GIFT salin yang monosex berbagai ukuran (2-10 cm) dan nener bandeng ukuran 2-5 cm. Selain itu dilakukan pula kegiatan usaha pembesaran ikan nila dan ikan bandeng dengan menerapakan inovasi iptek sistim pemeliharan modular dan semi intensif.Di lokasi pertambakan UMI kali Bone juga dijadikan usaha rekreasi pemancingan ikan nila dan unit toko penjualan produk olahan hasil perikanan seperti bandeng tanpa duri, bandeng presto, bakso ikan, nuge ikan.Ketua Inovasi, Daya Saing dan Pengabdian kepada Masyakat UMI, Dr Rustam, menuturkan, program ini termasuk program pengabdian tahun kedua (tahun 2019-2020) yang dilaksanakan oleh LPKM UMI."Kami berharap kegiatan ini akan memberi manfaat untuk meningkatan produksi tambak, dan bermanfaat kepada Mahasiswa serta kepada masyarakat," pungkas dia.Sumber: Sindo News ...
Gandeng eFishery, Perusahaan Ini Siapkan Rp 30 M untuk Pembudidaya Ikan
Terkini

Gandeng eFishery, Perusahaan Ini Siapkan Rp 30 M untuk Pembudidaya Ikan

Pionir marketplace lending, Investree, menandatangani perjanjian kerja sama dengan perusahaan rintisan agriculture technology (agritech), eFishery, untuk mendistribusikan pembiayaan senilai Rp 30 miliar kepada para pembudidaya ikan di Indonesia.Bagi Investree, ini adalah kerja sama pertama yang dilakukan dengan perusahaan rintisan agritech dalam rangka memperluas akses pembiayaan dan menjangkau lebih banyak UKM dari sektor yang unik dan kental dengan nuansa Indonesia sebagai negara maritim yaitu akuakultur.Pada fase pertama dalam kolaborasi ini, Investree akan mendukung program Kasih Bayar Nanti (Kabayan) sebagai komponen utama dari eFisheryFund. eFisheryFund merupakan platform digital dengan fasilitas pembiayaan yang ditawarkan oleh eFishery bekerja sama dengan layanan finansial, dalam hal ini Investree, dan dirancang khusus untuk para pembudidaya.Baca juga: Berita eFishery Umumkan Pendanaan Seri B, Dipimpin Go-Ventures dan NorthstarDi dalamnya terdapat fitur Kabayan berupa program cicilan yang dapat dimanfaatkan oleh para mitra/pembudidaya untuk memperoleh produk eFishery seperti auto-feeder dan pakan ikan."Kami sangat antusias menyambut kolaborasi ini karena ini merupakan sesuatu yang baru bagi kami. Mengingat portofolio pinjaman terbesar Investree selama ini adalah industri kreatif, dengan bermitra dengan eFishery terutama eFisheryFund, kami berharap dapat memberdayakan lebih banyak UKM yang bergerak di bidang perikanan atau akuakultur," kata Co-Founder & CEO Investree, Adrian Gunadi dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (25/10/2020)."Ini juga menjadi salah satu bentuk inovasi Investree yang kami luncurkan memasuki usia perjalanan ke-5 dengan kampanye payung GrowFa5ter. Kami ingin menumbuhkan UKM secara lebih cepat dan berkualitas," lanjuta dia.Nama eFishery sendiri telah banyak mencuri perhatian masyarakat sejak didirikan tahun 2013 karena merupakan perusahaan aquaculture intelligence pertama di Indonesia.Berangkat dari produk auto-feeder atau pemberi pakan otomatis, eFishery kini juga menawarkan solusi untuk memecahkan masalah-masalah yang lebih besar di sektor akuakultur secara terintegrasi dengan mengacu pada data dan teknologi–sama dengan yang dilakukan oleh Investree hingga kini berkembang menjadi solusi digital bagi UKM. Baca juga: Pelatihan Komunikasi Branding Online untuk UKM Komoditas PatinPermodalan dan Akses PasarSalah satunya adalah membantu para pembudidaya yang ada dalam ekosistem untuk mendapatkan permodalan dan akses untuk memperluas pasar.“Pembudidaya seringkali menghadapi kesulitan dalam memperoleh akses pembiayaan karena kebanyakan lembaga keuangan enggan memberikan pinjaman untuk pekerja sektor nonformal seperti pembudidaya ikan," ungkap CEO & Co-Founder eFishery, Gibran Huzaifah."Di sinilah eFisheryFund hadir, menghubungkan pembudidaya secara langsung dengan institusi keuangan agar mereka bisa berkembang dari sisi finansial. Kerja sama dengan Investree ini diharapkan mampu menggandakan dampak yang kami berikan kepada pembudiday," tuturnyaPinjaman ini akan disalurkan kepada mitra-mitra eFishery termasuk pembudidaya, agen, dan konsumen business-to-business (B2B).Baca juga: Udang Jerbung, Harapan Ekspor Terbaru dari PembudidayaTerkait mekanismenya, pembudidaya bisa mengajukan pinjaman melalui platform digital eFisheryFund lalu Tim eFishery akan menilai dan menentukan apakah mereka memenuhi syarat dan kriteria untuk memperoleh pembiayaan.Hasil penilaian ini kemudian diajukan kepada Investree untuk dilakukan kembali verifikasi sesuai sistem credit-scoring Investree. Jika pembudidaya dinyatakan lolos proses verifikasi oleh Investree, Investree akan menyalurkan pembiayaan yang kemudian didistribusikan dalam produk-produk eFishery.Kerja sama ini menyediakan 2 jenis skema pembiayaan yaitu konvensional dan syariah, sehingga peminjam dapat leluasa memilih sesuai dengan preferensi mereka.Sementara untuk menjaga kualitas pembiayaannya, Investree dan eFishery menerapkan uji kelayakan dan sistem credit-scoring yang ketat dan kuat dengan melihat data dari IoT eFishery serta melakukan pengecekan silang terhadap data sesungguhnya di lapangan. Hingga saat ini, sudah ada lebih dari 500 pembudidaya di eFishery yang didukung oleh eFisheryFund.Sumber: Liputan6 ...
Pembenihan Ikan Kancra (Labeobarbus douronensis)
Terkini

Pembenihan Ikan Kancra (Labeobarbus douronensis)

Ikan kancra yang juga dikenal sebagai ikan dewa merupakan salah satu ikan yang oleh masyarakat, banyak dikaitkan sebagai ikan suci atau keramat. Selain itu, ikan air tawar ini memang memiliki daya tarik berupa bentuknya yang indah serta rasa dagingnya yang memang juga nikmat. Ikan kancra merupakan ikan yang memiliki sifat spesifik lokasi, yaitu berkembang pada habitat tertentu saja seperti perairan sungai beraliran deras, jernih, dan berbatu serta termasuk ke dalam omnivore. Lokasi yang merupakan habitat ikan endemic ini terdapat di daerah Jawa Barat seperti Kuningan, Subang, Cigugur, Cibulan, Cibeureumdan Cimalaka, Sumedang, termasuk Sungai Cimanuk.Sayangnya, ikan yang masih satu famili dengan ikan mas ini sudah semakin jarang ditemui. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya praktik serta teknologi pembenihan pada ikan kancra untuk mengembang biakan ikan kancra ini. Kelangkaan ini menyebabkan harga jual ikan kancra dapat mencapai kisaran Rp 100.000 – Rp 150.000 per kilogram.Salah satu fungsi akuakultur adalah untuk sebagai pelestarian suatu jenis ikan. Oleh karena itu artikel ini mengadaptasi serta merangkum jurnal  Redjeki S (2007)  tentang pembenihan ikan kancra.Jurnal ini membahas tentang paket teknologi pembenihan dimulai dari perkembangbiakan ikan kancra (mulai dari kegiatan pematangan gonad sampai pemeliharaan larva dan pembesaran) agar dapat lestari dan dalam rangka penyebaran teknologi yang bersifat spesifik lokasi kepada para pengguna/pembenih ikan.Baca juga: Pembenihan Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer, Bloch)Pemeliharaan IndukUkuran induk yang dapat anda gunakan adalah induk matang gonad berukuran panjang total (TL) antara 48.5-60 cm (betina) dan 53.8-59.0 cm (jantan) serta bobot tubuh (BW) antara 0.9-3.05 kg (betina) dan 1.38-2.33 kg (jantan). Kemudian kedua induk digabungkan dengan perbandingan betina 3 ekor dan jantan 1 ekor dalam satu kolam. Melalui induk yang baik maka akan dihasilkan larva yang baik pula, oleh karena itu untuk menghasilkan induk yang berkualitas pemeliharaan harus dilakukan di lingkungan yang optimal dan pakan yang menunjang pematangan gonad.Kandungan protein sebanyak 35% dapat mempercepat pematangan gonad dalam kurun waktu 3-4 minggu. Ikan kancra yang telah matang gonad ditandai dengan membengkaknya perut dan ukuran lingkaran perut ikan akan bertambah dengan semakin matangnya gonad dalam perut ikan. Lingkar perut dari ikan kancra yang sedang matang gonad dapat berkembang hingga 29 – 34,5 cm.Baca juga: Pembenihan Bawal Bintang (Trachinotus Blochii, Lacepede)Pemijahan indukPemijahan ikan kancra dapat dilakukan secara alami dan buatan. Pada pemijahan alami, Anda dapat melakukan rekayasa lingkungan dengan merubah suhu kolam. Cara yang dapat diterapkan adalah menyurutkan air pada siang hari sehingga terkena sinar matahari secara langsung. Sedangkan pada malam hari, kolam dapat diisi lagi dengan air baru untuk menurunkan suhu di dalam kolam. Kolam pemijahan dapat Anda buat menyerupai kolam alami dengan memasang hapa di dasar kolam dan menambahkan pasir berbatu di atasnya. Ikan kancra pada saat akan memijah berenang secara berpasangan dan mengelilingi kolam sambil sesekali menyentuh batu yang telah kena sinar matahari, sehingga mempermudah untuk memijah. Pemijahan dilakukan pada dini hari.Sedangkan untuk pemijahan buatan, Anda dapat lakukan pada ikan kancra dengan melakukan striping (pemijatan). Telur yang dikeluarkan dari hasil striping ditampung pada mangkok kaca dan dicuci hingga telur bebas dari lemak yang menempel. Setelah itu ikan jantan juga dilakukan striping sehingga ikan  engeluarkan cairan putih (sperma).Sperma tersebut disatukan dengan telur lalu diaduk secara perlahan-lahan selama 15 menit menggunakan bulu ayam yang sudah dibersihkan. Telur dan sperma yang telah tercampur diinkubasi pada akuarium atau pada hapa yang berada di dalam kolam sehingga mendapatkan air yang bersih secara langsung serta dilengkapi dengan sistem aerasi. Dalam waktu 24-36 jam, telur-telur yang diinkubasi menetas.Baca juga: Teknik Pembenihan Ikan GuramiPemeliharaan benihKetika yolk atau kuning telur dari larva telah habis maka Anda perlu menambahkan pakan alami pada wadah pemeliharaan larva ikan kancra. Pakan alami yang dapat digunakan adalah campuran antara 3 jenis plankton yaitu rotifer, Daphnia sp, Moina sp. Selanjutnya pada tahap fingerling ikan kancra dapat diberi pakan buatan dengan kadar protein sebesar 20%, sedangkan untuk gelondongan dapat Anda tingkatkan kada proteinnya hingga 30% untuk mengoptimalkan pertumbuhan ikan kancra.Kualitas AirKualitas air yang selama pemeliharaan  debit air sebesar 2 l/det., suhu air antara 24.1-24.5°C (di saluran pemasukan) dan 23.6°C (di saluran pengeluaran), pH berkisar 6 – 7, oksigen terlarut antara 6.34-7.9, kecerahan sampai ke dasar perairan antara 75- 100 cm dan substrat terdiri dari pasir, kerikil dan bebatuan.Ditulis oleh Tim MinapoliSumber: Redjeki S. 2007. Perbenihan ikan kancra bodas (Labeobarbus douronensis) di kolam petani Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Jurnal Ilmu-ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia. 14(2): 97-102 ...
Papua Muda Inspiratif Kembangkan Budidaya Ikan Air Tawar di Sentani
Terkini

Papua Muda Inspiratif Kembangkan Budidaya Ikan Air Tawar di Sentani

Papua Muda Inspiratif (PMI) melakukan pendampingan, mendorong dan mengembangkan budidaya ikan air tawar sistem keramba apung di Danau Sentani, Distrik Heram, Kota Jayapura, Papua.Ketua Yayasan PMI Rini S Modouw di Kota Jayapura, Sabtu usai melihat pengembangan budidaya ikan air tawar jenis mujair dan nila dengan sistem keramba apung di Danau Sentani, Distrik Heram, Kota Jayapura mengatakan itu adalah bentuk dari visi dari PMI yakni bersatu, bersinergi, berkarya bagi tanah Papua."Jadi, PMI ini adalah pemuda inspiratif yang merupakan kumpulan dari anak-anak muda yang datang dari berbagai suku, tujuh wilayah adat di Papua dan Papua Barat, atau mereka bilang gabung jurus untuk kemajuan tanah Papua," katanya.Baca juga: Pemuda Lamongan Sulap Saluran Irigasi Sawah Jadi Tempat Budidaya IkanMenurut dia, PMI mendorong munculnya entrepreneur muda Papua dan Papua Barat dan telah melakukan serangkaian kegiatan produktif, mulai dari penyelenggaraan pelatihan kewirausahaan bekerjasama dengan Kementerian UMKM yang diikuti oleh para pengusaha muda dan calon-calon pengusaha muda.Salah satu unit usaha yang menjadi dampingan PMI adalah pembangunan keramba apung di Danau Sentani tepatnya di tepi Jalan Raya Jayapura-Sentani, Kota Jayapura. pembangunan fisik keramba dan rumah jaga serta sarana dan prasarana pendukung lainnya sudah dimulai sejak tiga bulan yang lalu, dan pada Oktober 2020 telah rampung dan siap dipergunakan."Ini merupakan bentuk pergerakan yang kami lakukan, karena kita punya pergerakan itu, bapak Presiden Jokowi saat berkunjung ke Papua pernah mengatakan belum mendapat platform yang baik, apa sih sebenarnya yang bisa kita dorong untuk percepatan pembangunan di wilayah timur? Dengan begitu teman-teman muda yang ada ini, kita berkumpul ada beberapa ini, dengan harapan ada pergerakan yang nyata, kita samakan visi supaya pergerakan ini berjalan cepat, pergerakan ini kan banyak bidang, satu sisi di bidang kewirausahaan muda ini," katanya.Baca juga: Probiotik Herbal Kreasi Mahasiswa KKN Undip, Panen Ikan Lele Hanya 1 Bulan"PMI akan terus menginisiasi, menginspirasi mendorong dan mendampingi putra putri Papua untuk bangkit dan bergerak meraih cita-cita dan masa depannya. Kesejahteraan masyarakat Papua adalah dambaan PMI dan seluruh warga masyarakat Papua dan Papua Barat," lanjut Rini.Jan Cristian Arebo selaku tokoh pemuda yang sekaligus sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Pemuda Adat Papua melalui PT Vieyan telah dipercaya oleh PMI untuk mengelola dan mengembangkan unit usaha keramba apung itu.Ketua Yayasan PMI Rini S Modouw (kiri), Ketua Pemuda Adat Papua Jan Christian Arebo (dua kiri) dan Max Abner Ohee (kanan) saat menebar bibit ikan mujair di keramba apung di Danau Sentani, Distrik Heram, Kota Jayapura, Papua, Sabtu (17/10/2020) sore. (ANTARA / Alfian Rumagit)Kegiatan ini merupakan langkah awal yang menandai kebangkitan anak-anak muda Papua untuk meraih masa depannya melalui berbagai macam usaha sesuai dengan minat dan potensi yang dimilikinya.Menurut Christian Arebo, pada tahap awal ini keramba apung dibangun sebanyak 20 petak dengan kapasitas per petak 1.000 ekor ikan sehingga total ikan yang dapat dikembangkan sebanyak 20.000 ekor."Bibit ikan mujair dan nila sudah mulai ditebar sejak awal Oktober 2020. Saat ini sebanyak 6.500 bibit sudah ditebar di 13 petak keramba dan sisa petak keramba akan segera diisi sambil menunggu pemesanan bibit ikan. Diharapkan pada hari Natal dan Tahun Baru 2020 nanti, sebagian besar ikan sudah dapat dipanen dan dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Papua dalam menyambut Natal dan Tahun Baru," katanya.Baca juga: Maksimalkan Budidaya Ikan, Mahasiswa Kembangkan Aplikasi SahabatambakSelanjutnya, kata dia, lokasi keramba ini akan dimanfaatkan sebagai pusat pelatihan untuk melatih dan mencetak pengusaha-pengusaha baru pemuda-pemudi Papua dengan tujuan agar dapat meningkatkan perekonomian dan mewujudkan Danau Sentani sebagai pusat pengembangan ikan air tawar di Papua tapi juga Indonesia.Sebelumnya Papua Muda Inspiratif (PMI) berawal dari gerakan kolaborasi pemuda-pemudi Papua berprestasi sejak Bulan Oktober 2019. Keanggotaannya telah mencapai kurang lebih 300 orang dan tersebar di 7 Wilayah Adat Papua dan Papua Barat meliputi Mamta, Saereri, Anim Ha, La Pago, Mee Pago,Domberai dan Bomberai.Misi PMI adalah untuk menciptakan wirausaha-wirausaha baru orang asli Papua (Papua) di Papua dan Papua Barat dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat."Saya mengajak dan mengimbau kepada semua pemuda/pemudi Papua bahwa sumber daya alam kita kaya dan melimpah kenapa kita tidak bisa berpikir untuk bagaimana mengelolahnya. Jangan kita berharap pada PNS saja tetapi kita juga bisa berkembang di bidang lain khususnya wirausaha yang bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah di tengah pandemi COVID-19," kata Arebo.Sementara itu, Max Abner Ohee selaku pemilik hak ulayat tanah di pinggir Danau Sentani menyambut baik upaya dari PMI yang langsung menggandeng anak-anak muda Papua berwirausaha."Saya tergabung dalam Pemuda Adat Papua, juga peduli dengan pengembangan anak muda Papua sehingga mendukung kegiatan ini. Kami menyambut baik usaha ini, karena bisa menjadi contoh bagi pemuda lainnya dalam berwirausaha ikan air tawar," katanya.Sumber: Antara News ...
Ndaru Farm, Teknik Beternak Ikan dan Berkebun Dengan Aquaponik yang Banyak Diburu
Terkini

Ndaru Farm, Teknik Beternak Ikan dan Berkebun Dengan Aquaponik yang Banyak Diburu

Teknologi akuaponik merupakan gabungan antara akuakultur dengan teknologi hidroponik dalam satu sistem untuk mengoptimalkan fungsi air dan ruang sebagai media pemeliharaan. Salah satu yang menggunakan teknik penanaman tersebut yaitu ndaru farm yang terletak di Batujajar, Kabupaten Bandung Barat.Nano salah satu pengelola teknik pertanian modern tersebut, mengatakan untuk proses perawatan dan pembuatannya memiliki perlakuan yang berbeda. Ruang untuk penanaman hidroponik perlu penyesuaian suhu dan intensitas cahaya yang tepat."Saya disini cuma mengelola, ini yang punya kakak saya. Jadi dulu itu, ini sawah, terus dialih fungsikan menjadi tempat aquaponik, kita tuh sebenernya ambil konsep integrated. Jadi nanti limbah kotoran ikannya bisa dijadiin pupuk buat tanaman hidroponik," katanya saat ditemui di Ndaru Farm Jalan Terusan SMP Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 8 oktober 2020.Baca juga: Budidaya Ikan Aquaponik: Ini Cara Pilih Benih Ikan yang SehatLebih lanjut Nano menjelaskan jika pertanian integrated yang dikelolanya ini baru berjalan sekitar 6 bulan dan sudah berhasil panen. Yang diutamakan dalam kegiatan tersebut yaitu budidaya ikan dan tanaman hidroponik. Untuk selebihnya ditempatnya tersebut juga membudidayakan udang, namun bukan fokus utamanya.Hasil dari peternakan ikan tersebut sudah dipesan oleh beberapa tengkulak, sehingga proses pemasaran bukan sebuah kendala. Kemudian untuk perawatan tanaman hidroponik juga mudah tidak memerlukan banyak hal, karena semua sudah diprogram untuk dipermudah dalam proses integratednya."Sudah ada prosesnya nanti dari kotoran ikan ini diolah jadi pupuk untuk sayuran, disini ada ikan nila merah dan hitam. Perawatannya juga cuma nanti kalau airnya udah kotor dikuras setengahnya, terus airnya masuk proses filter untuk pupuk tanaman. Sepuluh hari sekali kita ganti airnya," katanya.Ndaru farmDi Ndaru farm tersebut tersedia banyak ikan nila, satu tanki terisi 1000 ekor untuk ukuran siap panen. Untuk perawatannya pun hanya penggantian dan pengurasan air yang dilakukan sepuluh hari sekali yang dikerjakan oleh pekerja. Nano bersama kakaknya mencoba memberdayakan masyarakat sekitar untuk merawat tempat tersebut.Semua ikan dan sayuran yang ada disana sudah berupa pesanan untuk pasar-pasar besar. Karena mereka menghasilkan hasil panen yang berbeda dengan tempat budidaya lainnya, untuk sayuran juga tidak menggunakan bahan kimia. Sehingga hasilnya lebih sehat untuk dikonsumsi.Baca juga: Aquagriculture, Pertanian Modern Berbasis Aquaculture"Panen ikannya ini per3 bulan, sudah itu diangkat dan kita distribusikan untuk pasar yang sudah memesan. Omsetnya belum tau karena ini masih trial ada yang perlu diperbaiki juga, mortalitasnya masih suka ada naik turunnya. Kendalanya juga ga ribet hanya perlu sering dicek dan dibersihkan takutnya tempat oksigen nya terhalang kotoran, " ujarnya.Untuk pemberian pakan dilakukan 5 sampai 6 kali setiap harinya sambil dilakukan pengecekan, selain itu jumlah ikan yang dihasilkan di tempatnya tersebut memiliki muatan yang terbilang banyak. Jika ditempat lain satu tanki hanya bisa menampung 100 ekor ikan, tetapi kalau di Ndaru farm ini bisa mencapai ribuan dari satu tanki. Sementara ada banyak jumlah tanki yang sudah ditebar bibit ikan nila.Lebih jauh dia mengharapkan agar kedepan hasilnya dapat lebih maksimal. "iya semoga kedepan dari 700 bibit yang ditebar hasilnya bisa sama tidak ada mortalitas atau tingkat kematian ikan nya rendah," pungkasnya.Sumber: Pikiran Rakyat ...
Growing Fish on Land Will Exacerbate Climate Change
Terkini

Growing Fish on Land Will Exacerbate Climate Change

More than 80,000 scientists across the world, sounding an urgent climate change alarm, are calling for immediate cuts to global Greenhouse Gas (GHG) emissions, which will increase substantially, should Canada bow to activism that wants salmon farmers to grow fish on land.In an unprecedented statement released today, the American Fisheries Society (AFS) joined forces with 110 aquatic societies representing the scientists, to predict catastrophic impacts to commercial, recreational, and subsistence fisheries, unless urgent action is taken to reduce GHG.“Swift and resolute action by governments and by individuals to reduce emissions is essential to halt irreversible impacts to freshwater and marine ecosystems, fish, and fisheries from climate change. We must act now to safeguard our drinking water, food supplies, and human health and well-being,” said American Fisheries Society President Scott Bonar.Canada’s sustainable and energy-efficient salmon farmers are under attack on both coasts by small groups of activists who want the government to transition open-net ocean aquaculture to land-based tank farms.Also read: Marine Ingredients Are Stable in Volume, Strategic in Aquaculture NutritionBowing to this pressure, mostly coming from voter-rich areas at the expense of rural coastal communities, the government said it is working to get a plan to move ocean-based salmon farms in British Columbia to land-based operations by 2025.The activists claim, without credible evidence, that fish farmed in the ocean will decimate wild stocks, despite scientists saying that both wild and farmed can thrive together in the ocean environment.Recently, Canada’s Department of Fisheries and Oceans, released eight peer-reviewed pathogen transfer assessments that show farmed salmon pose minimal risks to migrating wild stocks in British Columbia. A ninth, expected to have the same conclusion, is due this week.Several other studies, from government, industry and independent scientists have also shown that  growing fish on land to market size will impact climate change, at a greater pace because of the increased demands for freshwater, land and energy for land-based fish farming.Current estimates show that some two billion kg of salmon (world production) grown on land-based farms would produce 526 billion kg greenhouse gas emissions.Also read: Maine Shellfish Farmers Gaining Confidence With ScallopsGrowing the global supply of salmon on land would require the same amount of energy per year needed to power a city of 1.2 million people and contribute to higher CO2 emissions.The current production in Canada alone would require 28,000 Canadian football fields, 33,719 acres, or 159 sq. km of land to grow fish in appropriate densities in land-based systems.Raising land based salmon also costs 12 times more than ocean farming, the studies have shown.Terry Brooks, a veteran fish farmer in British Columbia knows this first hand after shutting down his land-based Coho salmon farm last month.“We just could not compete because of the costs and water and energy requirements,” he told SeaWestNews. This farm is the latest of many failed attempts to grow either Pacific or Atlantic salmon in land-based recirculating aquaculture systems (RAS) over the past 20 years.Also read: Researchers Succeed in Fortifying Oysters with VitaminsBrooks now has a successful Sablefish operation that has a hatchery on Salt Spring island with ocean farms in Kyuquot Sound on Vancouver’s Island’s west coast.Tim Kennedy, president and chief executive of the Canadian Aquaculture Industry Alliance in an earlier interview with SeaWestNews said the largest potential carbon reduction gains for global food production lie in the sustainable expansion of marine aquaculture.“Canada has such a massive opportunity – largely untapped – for its oceans and ocean farming to be an important solution to climate mitigation,” he said.The signatories in today’s call to cut GHG include The World Aquaculture Society, which has stated that it “appreciates the opportunity to team with other aquatic scientific societies in support of this initiative. Aquaculture’s ability to help alleviate the world’s need for quality protein sources is threatened by climate change.”“Aquaculture, both freshwater and marine, employs over 21 million people and in 2018 accounted for 46 percent of global fish and seafood production and 52 percent of fish and seafood for human consumption. The impacts of human-caused climate change on production systems threaten this vital source of income and food security,” said Jimmy Avery, president of the World Aquaculture Society.Global aquaculture production (including aquatic plants) in 2018 was 114.5 million tonnes, with the first-sale value estimated at $250 billion. UN-FAO statistics indicate that 20.5 million people were engaged in the aquaculture sector in 2018. Foodfish production occurs in both inland, freshwater systems (62 percent) and marine environments (38 percent).Also read: Innovation Award 2020 Finalist: Aquaterra from NuseedLast year, the High Level Panel for a Sustainable Ocean Economy said in a report entitled ‘The Future of Food from the Sea’ that land-based aquaculture competes with other sectors for freshwater and land for production sites — neither of which are as constraining for ocean-based aquaculture production.Authored by an esteemed collective of scientists in support of the High Level Panel – a group of 14 heads of government, including Prime Minister Justin Trudeau – the report concludedthat smarter management of wild fisheries and the sustainable development of marine aquaculture the ocean could supply over six times more food than it does today, while helping restore the health of ocean ecosystems.Christopher Costello, lead author of the paper said: “The ocean has great, untapped potential to help feed the world in the coming decades, and this resource can be realised with a lower environmental footprint than many other food sources.”Source: Sea West News ...
Bisnis Marine Culture Solusi Percepat Pembenihan Ikan
Terkini

Bisnis Marine Culture Solusi Percepat Pembenihan Ikan

Dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) University Irzal Effendi menyatakan, bisnis marine culture lebih menarik dan menguntungkan secara ekonomi dan lingkungan. Bisnis dari cabang akuakultur yang berkembang di era 90-an ini mulai digemari ketika teknologi pembenihan ikan kerapu secara massal ditemukan. Namun, menurut beliau, masih ada tantangan yang perlu dihadapi seperti pemeliharaan ikan kecil dan pengkulturan pakan alami ikan. Tantangan lainnya adalah ancaman eksternal karena ekosistem di dalam karamba bersatu dengan laut lepas. "Penggiat marine culture dapat sedikit bernapas lega karena dalam pengelolaannya, masalah buangan atau limbah dapat lebih mudah diatasi bila tidak melebihi daya dukung sumber dayanya," kata Irzal melalui keterangan tertulis, Senin, 5 Oktober 2020.Baca juga: KKP Resmikan Kawasan Hatchery Ikan Laut Modern di BPBL AmbonLimbah buangan, lanjut dia, dapat tereliminasi dengan cepat di lautan apabila pemilihan lokasi usahanya tepat dan sesuai. Ia juga mengatakan, dalam bisnis marine culture, siklus pembenihan lebih cepat dan kinerja ekonomi lebih baik. Dengan begitu, payback period lebih menguntungkan sehingga dapat lebih cepat mendongkrak perekonomian masyarakat. "Contohnya adalah masyarakat di pesisir pantai utara Bali, hasil budidaya ikan kerapu dan bandengnya telah diekspor ke mancanegara dan menyumbang sebagian besar devisa negara," jelasnya. Bisnis marine culture bisa jadi salah satu alternatif budidaya perikanan. Meskipun, CEO Iwake sekaligus alumni Departemen Budidaya Perairan, Agus Purnomo Wibisono mengatakan selama pandemi tidak ada masalah khusus yang terjadi dalam proses budi daya perikanan. Baca juga: Kolaborasi Riset Air TawarMarket ikan air tawar tetap stabil. Kendati, beberapa komoditas yang disuplai ke hotel, restoran, dan katering terjadi penurunan 80 sampai 100 persen serta penurunan harga dalam beberapa bulan menjelang lebaran. Sementara itu, Ketua Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia (APCI) Imza Hermawan, mengatakan tantangan utama pada budidaya ikan adalah belum ada pembenihan berskala besar. sementara, permintaan pasar sangat tinggi. Peran APCI sendiri saat ini lebih mengarah pada ekspor ikan lele dan patin yang perdana dilakukan oleh anggotanya ke Saudi Arabia di tahun 2018-2019. Sayangnya, tahun ini terpaksa dilakukan pemberhentian ekspor karena pandemi.Sumber: Medcom.com  ...
Researchers Succeed in Fortifying Oysters with Vitamins
Terkini

Researchers Succeed in Fortifying Oysters with Vitamins

Enhancing food with micronutrients to enhance people’s health isn’t new but integrating micronutrients in live oysters is.Researchers at Cambridge University said they have come up with a cheap and effective way of doing this, and it adds only 0.9 percent to the retail price of oysters.The researchers, David Willer and David Aldridge, chose Pacific oysters (Crassostrea gigas) as vehicle for vitamins A and D because of the world population’s deficiency in these vitamins and the bivalve’s widespread popularity as a food source.Also read: Maine Shellfish Farmers Gaining Confidence With ScallopsThe high cost of supplemental pills is another reason the duo explored this nutrient-delivery method. “Vitamin supplements or fortified food condiments are often expensive and seen as a luxury by the people who really need them,” they wrote.The researchers found that the ideal duration and time to feed the oysters the “vitamin bullets” they devised is eight hours during the 48-hour depuration stage of bivalve production. This will effectively integrate nutrients into the bivalve gut and surrounding tissue.“As humans consume the entire organism including the gut when they eat a bivalve, these nutrients will be available to humans,” the researchers wrote in their paper “Vitamin Bullets. Microencapsulated Feeds to Fortify Shellfish and Tackle Human Nutrient Deficiencies.”While it is true that supplemental nutrients can be included into the feed of terrestrial farm animals, this is inefficient because feeds must be fed to animals for a far longer period of the animals’ lifetime in order to generate elevated nutrient levels in the animals’ tissue, they said.Also read: Innovation Award 2020 Finalist: Aquaterra from NuseedThe experiment showed Pacific oysters successfully consumed the microcapsules, resulting in elevated micronutrient levels in whole-organism tissue samples.The study marks the first successful fortification of bivalves with micronutrients beneficial to human health via this method.The next step is for further research studies and industry trials. “Taking these steps can provide stakeholders in aquaculture to make an invaluable contribution toward improving the quality and sustainability of our global food system,” they wrote.Source: Aquaculture North America ...
Innovation Award 2020 Finalist: Aquaterra from Nuseed
Terkini

Innovation Award 2020 Finalist: Aquaterra from Nuseed

By applying innovative technology, Nuseed of West Sacramento, Calif., created a new and sustainable source for a critical aquaculture feed component. As a result, the company’s product, Aquaterra®, was selected as one of three finalists for the Global Aquaculture Alliance’s Annual Global Aquaculture Innovation Award.Through genetic engineering, Nuseed turned canola plants into prolific producers of omega-3 oils and other nutritionally important fatty acids. This output can be used instead of oils from wild-caught fish as a part of aquafeed.(Editor’s note: Aquaterra and two other finalists will present at GAA’s upcoming virtual GOAL 2020 conference, held from Oct. 5-8. GOAL attendees will vote to select the winner. To learn more about how to become a GAA member and attend GOAL, click here.)Scientists achieved this outcome by adding microalgae genes to canola. While genetic insertions have been done for years in a variety of plants and animals, most of these involve only one or a few genes, noted Benita Boettner, Nuseed omega-3 global general manager.“We have seven microalgae genes. So, it’s a very complex and sophisticated structure or construct,” Boettner told the Advocate. She added that Nuseed’s technical partner in devising this construct was the Australian research organization CSIRO.Inserting seven microalgae genes was so difficult that initially the first 100 modified canola samples failed. Extensive experimentation eventually led to canola that had a consistent yield in terms of desirable oil. For instance, tests show that the oil from the Nuseed canola has triple the percentage omega-3 content as compared to standard canola oil.Oil from the altered canola also had a significant amount of EPA, DPA and DHA, long-chain polyunsaturated fatty acids that are thought to play an important role in decreasing fish mortality as well as provide a host of human nutrition benefits. The amount of DHA and EPA ran about the same as that found in fish oil, which contains 9 to 11 percent DHA+EPA.“We had to look for an efficient [biochemical] pathway,” Boettner said in summing up the successful experimental effort.Studies in the field indicate that Nuseed’s canola oil can provide a benefit when used in feed, according to Pablo Berner, the company’s aquaculture lead in Chile. Nuseed worked with partners to conduct three commercial scale trials in Chile in 2018 and 2019 on Atlantic salmon, the company’s initial target market for its product. Each site had 16 to 24 cages, with roughly 40,000 to 50,000 fish in each cage. There were both control and experimental groups of fish.Nuseed worked with partners in Chile to conduct commercial scale trials on Atlantic salmon. Courtesy photo.“On the trials that we did in Chile, we found very clearly the good contribution from our oil to fish-in/fish-out ratio and also on the fish welfare and the fish health. We recognized a consistent lower mortality on the three trials,” Berner reported.The trials showed a decrease in mortality of the fish fed Aquaterra as part of their diet, with inclusions rates ranging from 1.49 to 1.90 percent. The increase in fish survival resulted in more than 77 tons in additional biomass gain in the experimental group over that of the control group.The ratio between total omega-3, omega-6 and other nutrients in the canola-produced oil helped account for the results, Berner said, noting that taste testers could not tell the difference between fish from the control and experimental groups.Unlike algae, canola production can be scaled up to provide a significant amount of omega-3 oil, thereby reducing the pressure on wild caught fish, Boettner explained. The use of canola can pay other environmental benefits, she pointed out. For instance, canola can be part of a crop rotation, thereby restoring soil and providing cover during those times when fields would otherwise lay fallow.We found very clearly the good contribution from our oil to fish-in/fish-out ratio and also on the fish welfare and the fish health.Farmers in Canada, Australia and the United States grow more than 10 million hectares of canola annually, according to Nuseed documents. Nuseed also claims that a single hectare has the potential to produce enough omega-3 oil as 10,000 fish each weighing a kilogram.In addition to aquafeeds, other possible markets for the canola-derived product include livestock animals that need omega-3 oils in their diets. Courtesy photo.In addition to feed for salmon, other possible markets for the canola-derived product include other fish and animal species that need omega-3 oils in their diets. Pet food, for example, could be one outlet. There also is the possibility of a dietary supplement for people, Boettner said.She added that the company’s business model is to work with farmers to grow the canola and then Nuseed delivers the product to the end users, in this case aquafeed formulators. This closed-loop approach helps ensure quality and control by, among other things, preventing the modified canola from being mixed with the standard crop. This method also eases the burden on farmers by relieving them of the need to find a market or middleman for the omega-3-rich canola oil product, Boettner noted.Nuseed has regulatory approval to grow the canola in the United States, Australia and Canada, Boettner said, with approval for the omega-3 oil in Australia and Canada for use in food and feed. Regulatory approval for food and feed is pending in the United States, and the company plans to pursue approval elsewhere as needed.Nuseed is working on various other initiatives, Boettner said, all with one basic goal in mind: “The innovation that we’re focused on is to use agriculture and to use seed technology to address major nutritional and sustainability challenges.”Source: Global Aquaculture Alliance ...
King Kobia, Primadona Baru Ikan Budidaya
Terkini

King Kobia, Primadona Baru Ikan Budidaya

Ikan king kobia (Rachycentron canadum) merupakan komoditas unggulan baru subsektor perikanan budidaya yang sedang dikembangkan Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung. Salah satu spesies ikan laut karnivora ini memiliki sejumlah keunggulan untuk dibudidayakan. Pengembangan kobia dimulai sejak 2006. Pada saat itu BBPBL Lampung menerima 400-an ekor benih ikan kobia dari Balai Riset Perikanan Laut, Gondol - Bali yang induk F-1 berasal dari hasil tangkapan di Teluk Pegametan - Bali. Selanjutnya pada 2009, dimulai pembenihan dan hingga ini BBPBL Lampung merupakan pertama dan satu-satunya UPT dari Ditjen Perikanan Budidaya yang berhasil memproduksi benih ikan kobia. Pada 2020 ini, ditargetkan produksi benih ikan kobia di BBPBL Lampung sebanyak 100 ribu ekor, dari 30 ekor induk dengan berat antara 5 kg sampai 15 kg. Nantinya semua benih itu, untuk program bantuan ke masyarakat. Baca juga:  Budidaya Ikan King Kobia Janjikan Keuntungan BerlipatHingga Juli tahun ini, BBPBL Lampung telah menyerahkan bantuan benih ikan king kobia sebanyak kurang lebih 26 ribu ekor kepada 3 kelompok pembudidaya ikan di Kabupaten Pangandaran - Jawa Barat dan 5 kelompok pembudidaya ikan di Kabupaten Pesawaran - Lampung. Tahun-tahun sebelumnya benih kobia sudah disebar kepada kelompok pembudidaya di berbagai daerah melalui paket bantuan yang didanai pemerintah. Di antaranya ke Aceh, Sumut, Bali, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Maluku. Termasuk ke UPT-UPT Perikanan untuk pengembangan. Di samping membantu benih kepada para pembudidaya agar produksi ikan kobia bisa terus meningkat, BBPBL juga memberikan teknis pendampingan kepada pembudidaya agar budidayanya berjalan baik dan membantu dalam hal pemasaran hasil. Pendampingan dilakukan dengan memonitor keramba jaring apung (KJA) pembudidaya dan melalui saluran komunikasi yang ada. Sekarang kita bisa melakukan video call, Zoom dan lain-lain sehingga bisa melakukan pendampingan kepada segenap pembudidaya di berbagai daerah. Terutama, di Teluk Lampung yang sering dilanda red tide, BBPBL akan memberi rekomendasi area perairan yang kecil kemungkinan muncul red tide. Red tide menjadi musuh utama ikan kobia dan kerapu karena alga merah ini menutup insangnya sehingga ikan kekurangan oksigen.    Baca juga: Bernilai Ekonomi Tinggi, Saatnya Cobia Go Public Cocok DibudidayakanSebelumnya ikan king kobia sudah diluncurkan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo pada pembukaan Aquatica Asia dan Indoaqua 2019 di Balai Kartini, Jakarta, awal November lalu.  Dari pengembangan yang telah dilakukan tim perekayasa, ikan yang sebetulnya kurang begitu dikenal masyarakat ini bisa lebih cocok dibudidayakan. Menjadi persoalan selama ini, ikan ini tidak begitu dikenal masyarakat karena di habitatnya ikan ini tidak bergerombol dalam satu lokasi dan terus berenang sehingga yang terjaring dan atau yang dapat dari pancingan tidak dalam volume besar.  Lalu ikan kobia yang sudah mati berasa amis sehingga kurang disukai masyarakat. Dengan begitu ikan kobia lebih cocok dibudidayakan. Untuk menghilangkan bau amisnya, ikan yang masih hidup disembelih agar darahnya keluar. Lantas, ikannya bisa dijual dalam bentuk beku dan fillet. Indukan ikan kobia yang dikembangbiakan BBPB sekarang sudah generasi kelima. Belum lama ini BBPBL juga menerima calon indukan baru berasal hasil tangkapan dari alam yakni di Tepian Nauli, Sibolga - Sumatera Utara. Nanti kedua indukan yang berasal dari perairan yang berbeda ini akan dikawinsilangkan.  Dari data pengembangan dan berbagai literatur, diterangkan bahwa kobia bersifat karnivora pelagis yakni ikan pemakan hewan yang hidup di permukaan perairan. Habitatnya ikan ini di laut dangkal dan berenang sampai ke muara. Sehingga kawasan yang layak untuk membudidayakan king kobia yakni pada perairan laut dangkal yang sedikit berarus karena ikan ini membutuhkan oksigen yang tinggi dan terdapat ketersediaan pasokan ikan rucah. Berbeda dengan kerapu yang membutuhkan perairan yang berarus tenang karena ikannya tidak banyak bergerak. Baca juga: King Cobia Komoditas Baru Budidaya Ikan Indonesia, Intip Peluang Ekspornya Terdapat sejumlah keunggulan ikan kobia, di antaranya sangat cocok dan menguntungkan untuk dibudidayakan. Pertumbuhannya cepat, dalam masa pembesaran setahun bisa mencapai berat 4 hingga 6 kg per ekor sehingga pemeliharaannya lebih singkat dibandingkan dengan ikan laut lainnya. Cepatnya pertumbuhannya karena kobia termasuk jenis ikan yang rakus makan.   Lalu, kobia juga mudah beradaptasi di lingkungan budidaya sehingga bisa diberi pakan pelet dan bisa digabungkan dengan ikan rucah. Kemudian juga, tahan terhadap serangan penyakit sehingga lebih mudah dibudidayakan dan pangsa pasar mulai terbentuk. Adapun kendalanya, belum tersedia pakan khusus ikan kobia di pasaran. Sementara parasit ikan kobia berupa cacing yang menempel pada insang dan permukaan kulit. Untuk melepaskannya ikan direndam di dalam air tawar, biasanya sebulan sekali. Lalu, untuk penyakit biasanya disebabkan oleh bakteri. Tedapat dua jenis bakteri yang sering menyerang ikan kobia, yakni vibrio alginolyticus dan vibrio vulnificus, sementara virus yang banyak ditemukan adalah viral nervous necrosis, viral enchephalopathy dan retinopathy serta red sea bream iridovirus. Namun efek dari serangan bakteri maupun virus tidak sampai menimbulkan kematian.   Ikan yang sakit warna kulitnya berubah menjadi hitam sehingga mudah dikenali. Lalu ikan yang sakit tersebut dikeluarkan dari kolam budidaya, lalu direndam dengan air tawar dan diobati.  Umur panen rata-rata 1 tahun pada ukuran 4 hingga 6 kg per ekor dengan catatan pembesaran benih di BBPBL selama 3 bulan, yang berarti pembesaran di dalam keramba pembudidaya selama 9 bulan. Jika masih umur di bawah itu kondisi ikan masih lemah. FCR pakan di laut 2 dengan pakan 37 % kandungan protein dan SR di atas 90 %.   PemijahanSejak 2017, BBPBL melakukan perekayasaan pakan mandiri. Pada fase pendederan diperoleh FCR sebesar 2 dengan harga Rp18 ribu, fase penggelondongan diperoleh FCR 1,5 dengan harga pakan Rp15 ribu dan pada fase pembesaran seharga Rp13 ribu per kg dengan FCR 2.  Mengenai kualitas dagingnya, tekstur dagingnya kompak dan putih serta rendah kadar histamin. Histamin sendiri merupakan senyawa turunan asam amino yang terdapat pada daging ikan dan seringkali dapat memicu alergi atau keracunan Citarasa daging ikan yang disembelih lebih enak dan dan bisa dimasak menjadi tomyam, sashimi, sate, pempek, dan lain-lain. Sedangkan dari segi pemasaran, sangat menjanjikan dan dapat dipasarkan sebagai ikan segar beku maupun fillet, baik untuk pasar lokal maupun ekspor. Selain itu, king kobia juga banyak digunakan untuk sport fishing. Saat ini sudah ada beberapa perusahaan yang menampung hasil panen kobia. Harga jual kobia hasil budidaya berkisar antara Rp 45 ribu hingga Rp60 ribu per kg. Ada perbedaan harga yang begitu jauh dengan kobia tangkapan yang harganya Rp25 ribu per kg, tetapi karena ikan tidak disembelih sehingga berbau amis, dagingnya berwarna coklat dan volume serta ketersediaan tidak stabil.Untuk analisis usaha budidaya kobia di keramba jaring apung, Surya mengatakan, secara umum benefit cost ratio (B/C ratio)-nya adalah sebesar 1,15 dengan break event point unit 1.135 kg dan biaya produksi Rp 39.150 per kg.  Baca juga: King Cobia, Jadi Alternatif Komoditas Baru Menurut Surya, lembaga yang bisa memijahkan ikan kobia baru BPBBL Lampung. Pada 2007, BBPBL berhasil memijahkannya melalui rangsangan hormon dan sejak 2017 sudah bisa memijahkan secara alami. Kobia bisa memijah sepanjang tahun. Cara pemijahan ikan kobia terbagi dua, pertama menggunakan rangsangan secara alami dengan menurunkan permukaan air hingga 80 persen supaya suhunya panas sehingga merangsang ikan untuk memijah. Ke dalam bak pemijahan dimasukan indukan jantan dan betina dengan perbandingan 1 jantan dan 2 betina. Kedua, melalui rangsangan hormon dengan menyuntikan hormon HCG pada bawah kulit sirip indukan yang sudah diseleksi. Seleksinya adalah dengan melakukan striping pada indukan jantan. Jika didapatkan ada sperma itu berarti kantong spermanya sudah terisi sperma. Lalu untuk indukan betina dilakukan penyedotan sel telur, jika ada sel telur, baru indukannya disuntik hormon HCG. Pada hari ketiga setelah disuntik diharapkan indukan sudah memijah. Setelah memijah dilakukan seleksi dengan menyetop aerasi pada akuariumnya. Biasanya telur ikan kobia sebanyak 200-300 butir per kg dari berat indukan. Baca juga: Tulang Ikan King Cobia dari Pangandaran Jadi Bahan Baku Tepung dan KosmetikTelur yang mengambang, berarti telur yang telah dibuahi sperma dan yang tidak mengambang berarti telur yang tidak dibuahi. Selanjutnya dilakukan penyiponan sehingga hanya telur yang baik yang tersisa. Selanjutnya telur yang baik ini dimasukan ke dalam hapa (jaring halus) dengan air mengalir, lalu dibiarkan selama 18 - 24 jam hingga telur menetas. Setelah menetas, larva dimasukan ke dalam bak pemeliharaan larva. Bak-bak pembesaran larva ditutup agar suhunya stabil pada suhu 29 derajat Celcius. Pada hari kedua (D-2) baru dimasukan plankton, rotifera. Sebab setelah hari kedua cadangan makanan larva sudah habis. Pemberian rotifera hingga hari ke-9 dan nanocloriside (plankton) sampai hari ke-20. Mulai hari ke-9 dimulai pemberian artemia. Pada hari ke-15 dimulai pemberian pelet.  Lalu pada hari ke-25 larva sudah dipanen untuk selanjutnya dibesarkan dalam bak-bak pembesaran larva hingga 3 bulan. BBPBL menjual benih kobia seharga Rp200/cm dengan ukuran benih 7-9 cm. Baca juga: Permintaan Market Mulai Tinggi, KKP Siap Genjot Suplai Ikan Cobia Secara garis besarnya, masa inkubasi telur selama 18 hingga 24 jam. Lalu pemeliharaan larva selama 20 hingga 22 hari dari ukuran 0,2 hingga 3 cm, diikuti pendederan pertama selama 30 hari dari ukuran 3 cm hingga 9 cm. Dilanjutkan dengan pendederan kedua selama 30 hari dari ukuran 9 hingga 20 cm. Disusul dengan penggelondongan selama 45 hari dari ukuran 30 gram menjadi 100 gram atau dari 20 cm menjadi 27 cm. Untuk menjadi indukan, kobia berumur lebih dari 2 tahun. Indukan jantan secara fisik cekungan siripnya lebih dalam karena supaya lebih lincah berenang mengejar betina. Sementara indukan yang betina siripnya lebih lebar. Penampakan anal indukan betina lebih merah, agak timbul dan menebal.     Artikel Asli ...
IAC 2020, Forum Pakan Akuakultur Pertama di Indonesia
Terkini

IAC 2020, Forum Pakan Akuakultur Pertama di Indonesia

Industri akuakultur atau perikanan budidaya terus berkembang pesat dalam beberapa dekade terakhir. Rata-rata pertumbuhan industri ini lebih dari 10 persen per tahun sejak tahun 1970-an. Pada saat ini, produksi ikan dari sektor akuakultur sudah mencapai 52% dari produksi ikan global. Pertumbuhan akuakultur yang pesat tersebut memerlukan pasokan pakan yang memenuhi. Di Indonesia sendiri, jumlah produksi pakan ikan saat ini mencapai 2 juta ton per tahun. Di sisi lain, perkembangan industri pakan ikan dan udang (aquafeed) sedang menghadapi berbagai tantangan, terutama soal isu efisiensi dan keberlanjutan akibat semakin terbatasnya pasokan bahan baku tepung ikan sebagai bahan baku utama protein pada pakan. Oleh sebab itu, Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) bekerjasama dengan Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) dan didukung oleh United State Soybean Export Council (USSEC) telah sukes menyelenggarakan forum daring pakan akuakultur tingkat nasional pertama di Indonesia dengan tajuk “Indonsesian Aquafeed Conference 2020: Quality, Efficiency & Credibility” melalui aplikasi pertemuan daring Zoom (13-14/10).Forum yang juga didukung oleh Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan ini bertujuan untuk memberi solusi dalam penyediaan pakan yang berkualitas dan kompetitif dalam mendukung kemajuan industri akuakultur di Indonesia. Karena komponen biaya untuk pakan dalam kegiatan akuakultur bisa mencapai 60 – 80 persen dari total biaya produksi. Baca juga: Kecukupan Pakan pada BenurPeluang dan Tantangan Industri Pakan AkuakulturProf. Rokhmin Dahuri - Ketua Umum MAIDalam sambutannya, Ketua Umum MAI sekaligus tim penasehat Menteri Kelautan dan Perikanan, Prof. Rokhmin Dahuri menyampaikan bahwa sampai tahun 2024, produksi akuakultur (ikan dan udang) akan mencapai 10,1 juta ton. Produksi tersebut akan membutuhkan pasokan tepung ikan sebagai bahan baku pakan sebanyak 763,8 ribu hingga 1,2 juta ton. “Untuk memproduksi tepung ikan ini, kita membutuhkan 4,6 samapi 6,9 juta ton ikan,” kata Rokhmin. Angka tersebut didapatkan dengan memprediksi komposisi kebutuhan tepung ikan pada pakan ikan sebesar 10 – 40 persen dan pada pakan udang sebesar 20 – 30 persen. Dengan target produksi auakultur dan kebutuhan bahan baku pakan sebanyak itu, Rokhmin menyarankan agar pemerintah membuat strategi untuk memastikan target tersebut akan tercapai dan berkelanjutan. Ia juga mendorong para pemangku kepentingan di industri pakan ikan akuakultur untuk mencari dan mengembangkan bahan baku alternatif yang lebih efisien dan berkelanjutan.Slamet Soebjakto - Direktur Jendral Perikanan BudidayaSementara pada sambutan Menteri Kelautan dan Perikanan yang disampaikan oleh Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto menyebutkan bahwa target produksi akuakultur nasional akan mencapai 22,65 juta ton (termasuk rumput laut) pada 2024. Jumlah produksi tersebut akan membutuhkan pakan ikan dan udang sebanyak 12 – 13 juta ton. “Tentunya hal ini perlu didukung oleh ketersediaan pakan, baik dari pabrikan, maupun pakan mandiri,” kata Slamet mengutip sambutan Menteri KP.Saat ini di Indonesia sudah ada 1.506 merk pakan ikan dan udang yang terdaftar di KKP. Semua merk pakan ikan dan udang tersebut terdiri dari 1.472 merk pakan dari industri dan importir, 19 merek dari pakan mandiri, dan 15 merek dari UPT yang dimiliki oleh KKP. Menurutnya, arah kebijakan pengelolaan pakan ikan nasional dalam Rencana Strategis KKP 2020-2024 adalah menuju ke arah pengelolaan yang mandiri, berdaya saing, dan berkelanjutan. “Mandiri, artinya secara bertahap kita harus mulai mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku pakan impor,” jelas Slamet. Baca juga: Alginat untuk Bahan Baku PakanForum Indonesian Aquafeed Conference 2020 telah menghadirkan beragam informasi, inovasi, dan teknologi terkini terkait pakan akuakultur yang berasal dari narasumber dalam dan luar negeri yang berkompeten dan memiliki pengalaman yang berharga kepada 442 peserta dalam dua hari. Para narasumber tersebut menyampaikan beragam informasi untuk menjawab beragam tantangan di industri pakan akuakultur. Beragam informasi tersebut antara lain pencarian dan pengembangan bahan baku pengganti tepung ikan, penggunaan bahan baku alternatif berbasis tanaman, penggunaan dan pendataan bahan baku lokal, peningkatan efektivitas dan efisiensi pakan, optimalisasi produksi pakan dengan menggunakan teknologi-teknologi terbaru, hingga standardisasi dan sertifikasi produksi. Ahli nutrisi dari Guelph Universty, Prof. Dominique P. Bureau menyebutkan sedikitnya ada empat tantangan yang harus dihadapi oleh industri pakan akuakultur. Antara lain bagaimana memahami spesifikasi nutrisi yang dibutuhkan oleh hewan budidaya, mencocokkan karateristik bahan baku dengan spesifikasi tersebut, membuat pakan yang bagus, dan memverifikasi pakannya melalui riset dan survey di lapangan. Untuk menjawab tantangan itu, Dominique menekankan kepada industri pakan akuakultur untuk memiliki pusat riset dan pengembangan (R&D) yang memadai. “Memiliki fasilitas R&D itu sangat bernilai,” ujarnya. Prof M. Agus Suprayudi - IPB UniversitySementara menurut ahli nutrisi dari IPB University Prof. M. Agus Suprayudi, pakan ikan yang bagus harus memenuhi empat kriteria. Keempat kriteria itu antara lain bagus untuk ikan, bagus untuk lingkungan, bagus dari aspek keamanan pangan, dan bagus dari aspek bisnis yang bisa menguntungkan industri pakan, agen pakan, dan pembudidaya. “Di sini lah tantangan yang real bagi kita sekarang. Teknologi nutrisi dan pakan hanya bagian kecil. Yang terpenting bagian mana pakan yang bagus itu menguntungkan untuk semua,” jelas Agus. Seminar Nasional Aquafeed PertamaKetua Panitia IAC 2020 sekaligus Wakil Sekretaris Jenderal MAI, Rully Setya Purnama, menyebutkan bahwa IAC 2020 merupakan salah satu langkah maju dalam dunia pakan akuakultur. Ini merupakan event pertama yang mempertemukan para pelaku usaha pakan akuakultur dengan berbagai narasumber yang sangat kompeten di bidangnya. Mulai dari pemilihan bahan baku, formulasi, proses produksi serta terkait dengan sustainability. Rully Setya Purnama - Organizer of IAC 2020“Kami mengucapkan terimakasih atas dukungan seluruh pihak (GPMT, MAI, USSEC, KKP) dan para sponsor (Adisseo, Diana Aqua & DSM), sehingga acara ini bisa diwujudkan. Kegiatan ini rencananya akan diselenggarakan setiap tahun agar terus berkesinambungan dalam mendukung industri akuakultur di Indoneisa. Tahun depan jika kondisi sudah memungkinkan, penyelanggaraan akan dilakukan secara hybrid melalui event offline dan online,” kata Rully.Haris Muhtadi - Ketua GPMTMenurut Ketua GPMT Haris Muhtadi, industri akuakultur tanah air sangat tangguh dalam menghadapi pandemi Covid-19. Banyak negara produsen perikanan dunia yang mengalami penurunan produksi secara drastis akibat pandemi ini. Tetapi industri akuakultur Indonesia justru tidak terdampak secara signifikan. Oleh karena itu kondisi ini perlu menjadi motivasi bagi industri pakan untuk terus mendukung pertumbuhan akuakultur nasional dengan menghadirkan pakan yang efisien dan berdaya saing.Baca juga:  Mengukur Bisnis Pakan AkuakulturHaris juga turut mengapresiasi atas keberhasilan acara IAC perdana tersebut. Menurutnya IAC 2020 berhasil secara kualitatif dan kuantitatif dan akan sangat bermanfaat bagi peserta dan industri pakan akuakultur. “Secara kuantitif pesertanya lebih dari 400 orang. Secara kualitatif pembicara level internasional, baik pembicara asing maupun lokal. Pokok bahasan yang disapampaikan bervariasi dan fokus pada aquafeed, formula dan produksi, dan juga pemilihan bahan baku pengganti fishmeal. Diskusinya pun sangat bermutu,” ujar Haris.Apresiasi juga disampaikan oleh USSEC Indonesia Aquaculture Technical Contractor & Manager, Pamudi. Menurut Pamudi, USSEC bangga sebagai co-promotor dan sponsor dalam kegiatan Indonesian Aquafeed Conference 2020.  “USSEC akan senantiasa konsisten dalam mendukung (secara teknis) pengembangan industri akuakultur skala besar di Indonesia untuk meningkatkan kualitas, efisiensi dan daya saing,” terang Pamudi.  ...
Marine Ingredients Are Stable in Volume, Strategic in Aquaculture Nutrition
Terkini

Marine Ingredients Are Stable in Volume, Strategic in Aquaculture Nutrition

With consistent annual production at around 5 million metric tons of fishmeal and 1 million metric tons of fish oil (Hamilton et al., 2020), these crucial marine ingredients are not only stable in volume but also strategic in nutrition.As a result of decades of innovation aiming at increasing yield at a cost that commercially creates value in the whole value chain, fishmeal and fish oil provide nutrients essential for the growth and health of many farmed fish species in a single package that is not found in any other individual ingredients. For many farmed species, they provide nutrition in a manner that is close to that of the wild conspecifics.(Editor’s Note: The Advocate asked IFFO to present its views on the role of fishmeal and fish oil in aquaculture feeds, without having first viewed the “Point” article authored by Kevin Fitzsimmons, Ph.D. To read Prof. Fitzsimmons argument that farmed fish have only required nutrients, not ingredients, please click here.)Unmatched propertiesExamination of the nutritional components of fishmeal and fish oil reveals some unique characteristics. Fishmeals are consistently high in protein, thus simplifying feed formulation (Jackson and Shepherd, 2010). They are high in digestibility (Opstvedt et al., 2003) and possess an amino acid profile that is very close, or identical, to the requirements of fed-fish species (Glencross, 2019). Where supplementation with other proteins occurs, the amino acid balance may be disrupted, necessitating the supplementation of specific essential amino acids often with synthetically produced alternatives. Feeds with lower inclusions may often require supplementation with specific individual amino acids to achieve a nutritionally complete diet, especially methionine and lysine (Craig et al., 2017).Fishmeal also contains many other nutrients that are confirmed or linked to healthful benefits in feed formulations. This nutritional richness includes many soluble proteins of small molecular size, returned to the press cake from the stickwater during the production process of fishmeal. Known as peptones, these have been shown to benefit palatability of feed (Aksnes et al., 2006), feed intake and growth (Kousoulaki et al., 2012), and become an important factor in ingredient replacement studies when fish may reduce feed intake where high levels of fishmeal substitution have occurred, such as observed with barramundi (Glencross et al., 2011).When this nutritional richness is understood, it is easy to understand why fishmeal holds such a unique position in fish nutrition science, and why substitution of this valuable ingredient is not straightforward.There are other compounds of great nutritional interest in fishmeals, including taurine [a free amino acid linked to increased growth (Kousoulaki et al., 2007)] and regarded as nutritionally essential for marine fish species (Salze and Davis, 2015) even if it doesn’t seem to possess a proteogenic role.Fishmeal is rich in phosphorus, calcium, magnesium, sodium, copper and iron, as well as a range of vitamins. Photo by Karen Murray, courtesy of IFFO.Notably, plant-based proteins are deficient in taurine (El-Sayed, 2013). Fishmeals are also known to be rich in various minerals such as phosphorus, calcium, magnesium, sodium, copper and iron, as well as vitamins such as the B-group, D, E and K (Windsor and Barlow, 1981). In addition, there are further bioactives known to be present in fishmeal, implicated in a range of beneficial physiological effects, including trimethylamine oxide (Asknes and Mundheim, 1997), nucleotides (Do Huu et al., 2012; Nates et al., 2009) and glycosaminoglycans (Raghuraman, 2013; Arima et al., 2013). When this nutritional richness is understood, it is easy to understand why fishmeal holds such a unique position in fish nutrition science, and why substitution of this valuable ingredient is not straightforward.Similarly, fish oil also holds a distinctive position as the major provider of two of the essential fatty acids required for complete feeds for some farmed fish species, eicosapentaenoic acid (EPA) and docosahexaenoic acid (DHA), both of which possess extremely high biological activity (Glencross, 2009). Although there continues to be development in the supply of EPA and DHA from other sources such as algal oils (Harwood, 2019) and genetically modified terrestrial crops such as Camelina (Betancor et al., 2015) and Canola (Rutyer et al., 2019), these oils have neither the full fatty acid profile of fish oils, nor yet the availability of supply required by the aquafeed industry. This is an important factor when some developing science has indicated important beneficial effects of other fatty acids found in some fish oils, such as cetoleic acid (Østbye et al., 2019).Increasing use of fish byproductsThe consistency of supply is testimony to good fisheries management, in general, of the majority of the small pelagic fish stocks confirmed by annual independent NGO review (Sustainable Fisheries Partnership, 2018; 2019). Peer-reviewed science indicates that there are differing opinions on the impact of harvesting fish stocks on predator populations (Pikitch et al., 2012; Hilborn et al., 2017) but those fisheries continual performance tends to indicate sustainability. Additionally, at least 34 percent of fishmeal and fish oil is estimated to be produced from fish processing byproducts (Jackson and Newton, 2016).With the growth in global fed aquaculture estimated by the FAO at 5.3 percent per annum from 2001 to 2018 (FAO, 2020), fishmeal and fish oil could not continue to support global aquafeed businesses on its own. That these important materials needed to be extended by other protein and oil sources to meet a growing demand for feed volume is an incontrovertible truth.Comparing nutritional profilesSupplementation of fishmeal and fish oil with other materials has supported the continued success of aquaculture thus far. Initially, this was achieved with the use of vegetable products such as soya meal (and secondary processed materials such as soya protein concentrate), and vegetable oils such as rapeseed oil in the 1990s and onwards (Hardy, 2010; Ytrestøyl et al., 2015). There are, however, impacts of the changing composition of these diets such as in relation to end product quality (e.g. long-chain omega-3 fatty acid concentration, as reported by Sprague et al. (2016). Many of the plant-based protein sources are known to contain anti-nutritional factors (ANFs) which include a range of compounds known to have an effect on fish physiology (Francis et al., 2001). ANFs are required to be managed in production processes to mitigate the potential risk they carry in feed formulations.In general, additional raw materials do not possess a comparable nutritional profile, whether proteins or oils. Taking only one example, it is observed that insect meal products vary in nutritional composition depending on the substrate used to feed the animals (Sánchez-Muros et al., 2013). Whilst amino acid profiles may be reasonably close to those of fishmeal with the exception of two or three amino acids (Barroso et al., 2013), farmed insects are known to possess low omega-3 fatty acid concentrations and have suboptimal omega-6:omega-3 ratios (Oonincx et al., 2020).In addition, the production of insect meal could add another trophic level into feed manufacture, and there are examples quoted of substrates for the production used for insect meal that could in themselves be used as aquafeed ingredients in their own right, such as distiller’s dried grains with solubles, known as DDGS (Webster et al., 2015). This clearly is not an efficient way of utilizing resources in feed and food production.Where do challenges lie?There is an urgent need for additional volume of feed ingredients, but this is far from straightforward. Developments should carry an emphasis on ingredients that provide nutrients to supplement the nutritional contributions of fishmeal and fish oil, and which are equally safe for the farmed animals, the consumer and the environment, and which can maintain consistent levels of production at realistic price points. In this way, all feed ingredient manufacturers can continue to support the successful development of global aquaculture.Source: Global Aquaculture Alliance ...
Siasati Pandemi dengan Karantina Online
Terkini

Siasati Pandemi dengan Karantina Online

Selama pandemi, pengguna jasa semakin terbiasa menggunakan fasilitas online yang disediakan BKIPM Yogyakarta  Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dikenal dengan atraksi wisata dan budayanya yang istimewa. Keistimewaannya ini berhasil menarik jutaan manusia dari berbagai belahan dunia untuk berkunjung. Ternyata daerah istimewa ini juga memiliki potensi perikanan yang menjanjikan.   Selain itu, wilayah DIY juga didukung sumber daya manusia yang cukup memadai. Wilayah ini memiliki sejumlah kelompok pelaku usaha perikanan baik pembudidaya maupun pengolah yang telah meraih juara nasional dan menjadi kelompok percontohan tingkat nasional.   Diceritakan oleh Kepala BKIPM Yogyakarta, Hafit Rahman, potensi perikanan di wilayah kerjanya meliputi perikanan budidaya, tangkap, dan pengolahan. Contohnya produksi budidaya benih di DIY cukup tinggi dan beragam serta distribusinya hampir ke seluruh Indonesia. Begitu juga dengan perikanan tangkap di selatan Jawa. Potensi perikanan bernilai ekonomi tinggi seperti tuna, tongkol, dan cakalang sangat luar biasa. Komoditas tuna menjadi salah satu komoditas unggulan ekspor dalam bentuk beku dan kalengan.   Wilayah kerja BKIPM Yogyakarta meliputi seluruh kabupaten/kota di DIY (Kab. Sleman, Kab. Bantul, Kab. Kulon Progo, Kab. Gunungkidul dan Kota Yogyakarta), dan kabupaten/kota di Jawa Tengah bagian selatan (Kab. Magelang, Kota Magelang, Kab. Cilacap, Kab. Kebumen, Kab. Purworejo, Kota Surakarta, Kab. Sukoharjo, Kab. Klaten dan Kab. Wonogiri).  Baca juga: Cerita Budidaya Ikan Lele di Lahan Sempit Yogyakarta Lalu Lintas Komoditas Komoditas perikanan dominan yang dilalulintaskan pada kegiatan domestik keluar diantaranya benih bawal, benur vannamei, benih nila, benih patin, benih lele, benur udang windu, dan benih gurami. Daerah tujuannya adalah hampir seluruh Indonesia. Sedangkan komoditas yang masuk wilayah ini diantaranya sidat, ikan hias air tawar, arwana, ringau, discus, tiger fish dan sebagainya.   Untuk komoditas ekspor, yang dominan dilalulintaskan adalah tuna kaleng, udang beku, tuna rebus beku, tuna pouch, kerajinan kulit kerang, ikan beku, kerajinan kulit pari, kerang rebus beku, benih lele, sirip hiu kering, guppy, dan platy. Negara tujuan ekspor diantaranya Amerika Serikat, Australia, Cina, Hongkong, India, Inggris, Jepang, Jerman, Kanada, Korea Selatan, Malaysia, Pakistan, Spanyol, Taiwan, Thailand, Turki, dan Vietnam.   Hafit mengungkapkan, pada 2019 total volume ekspor mencapai 601 ekor untuk ikan hidup dan 19.465,19 kg untuk ikan non hidup, dengan total nilai mencapai Rp 291.983.658.385. Sedangkan volume impor ikan non hidup 1.780 kg dengan nilai Rp 77.358.800.   “Adanya pandemi Covid-19 sempat mengakibatkan penurunan frekuensi lalu lintas komoditas perikanan di wilayah kami. Karena dihentikannya operasional sejumlah penerbangan. Meskipun demikian, pelayanan kami tetap berjalan semestinya. Tidak ada penghentian kegiatan pengawasan di bandara maupun pelayanan di kantor. Begitu penerbangan aktif kembali, kegiatan pengiriman juga berjalan seperti sedia kala dan kami menerapkan protokol kesehatan yang ketat bagi para petugas dan pengguna jasa,” papar Hafit.   Baca juga: Belanja Ikan dari Rumah, Pilihan Bijak Lawan Covid-19Pelayanan di Tengah PandemiMengikuti perkembangan era revolusi indutri 4.0, BKIPM Yogyakarta juga telah menerapkan pelayanan berbasis online. Dikatakan Hafit, pengguna jasa langsung diarahkan untuk menggunakan aplikasi PPK Online demi kemudahan dalam pengajuan sertifikasi kesehatan ikan.   “Hal positif yang dapat diambil dari pandemi ini adalah pengguna jasa semakin terbiasa dengan fasilitas online. Saat ini konsultasi dan pengawasan juga dilakukan dengan online. Pemeriksaan komoditas/ stuffing untuk daerah zona merah atau orange dilakukan dengan remote stuffing menggunakan aplikasi video call. Seperti yang sudah kami lakukan di Klaten dan Cilacap,” terang Hafit.   Sebelum adanya pandemi, pelayanan di stasiun ini memasukkan unsur kearifan lokal. Contohnya keberadaan maskot Punokawan yang diperankan oleh pegawai, penyediaan makanan ringan dan minuman tradisional seperti wedang uwuh, sari jahe instan, serta aneka jajan pasar.   Diungkapkan Hafit, BKIPM Yogyakarta terus berupaya meningkatkan pelayanannya. BKIPM ini sedang merancang sistem atau aplikasi online terkait pengujian sampel. Sehingga hasil uji akan keluar secara otomatis dan terkirim ke akun pengguna jasa, lengkap dengan tagihan yang harus diselesaikan.   BKIPM Yogyakarta memiliki 4 Unit Pengolahan Ikan (UPI) yang sudah memiliki sertifikat Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP). Surveilan terhadap UPI rutin dilakukan. Menurut Hafit, sejauh ini selalu ada peningkatan dan perbaikan-perbaikan dari temuan yang ada. Hafit menilai, pengguna jasa di wilayahnya cukup proaktif dan komunikatif. Misalnya menginformasikan rencana pengiriman, sehingga memudahkan tim BKIPM dalam pengecekan. Selain itu, sampel harian dari UPI rutin dikirimkan oleh petugas di Wilker Cilacap untuk kemu¬dian diuji sesuai persyaratan yang ada. Adapun sampel kegiatan surveilan diambil oleh tim Inspektur Mutu BKIPM Yogyakarta secara periodik.   Agar masyarakat semakin peduli pentingnya sertifikasi ini, BKIPM Yogyakarta rutin melakukan sosialisasi. “Semua itu, sebenarnya adalah untuk kemudahan para pengguna jasa sendiri. Manfaat yang didapatkan sangat besar. Sertifikasi menjadi nilai tambah bagi produk yang dilalulintas¬kan,” ucap Hafit.  Baca juga: Saat Pandemi, Produksi Udang Tetap Tinggi dengan Penerapan Teknologi Prestasi-Prestasi BKIPM Yogyakarta memiliki sejumlah prestasi. Dikatakan Hafit, UPT ini merupakan salah satu yang paling awal terakreditasi ISO 17025 untuk pengujian virus Tilapia Lake. Selain itu, telah mengantongi sertifikasi internasional untuk Laboratorium Uji terakreditasi ISO 17025 (LP-650-IDN), Sistem Pelayanan tersertifikasi ISO 9001, dan Lembaga Inspeksi terakreditasi ISO 17020 (LI-099-IDN).   Berbagai penghargaan lain juga telah diraih. Diantaranya penghargaan peringkat ke-3 atas capaian penilaian kinerja pelaksanaan anggaran tahun 2019 pada kategori pagu rendah kurang dari Rp 10 Milliar dan penghargaan sebagai unit kerja terbaik III pengendalian gratifikasi dan penanganan pengaduan tahun 2019 di lingkungan KKP wilayah Jawa.   BKIPM Yogyakarta beberapa kali berhasil menggagalkan lalu lintas komoditas yang dilarang baik karena dokumen yang tidak lengkap maupun karena komoditas tersebut termasuk komoditas yang tidak boleh dilalulintaskan. Misalnya baru-baru ini pemasukan ikan kering dan pengiriman cupang yang tidak dilaporkan dan tidak dilengkapi dengan sertifikat kesehatan ikan.   Hafit juga menyampaikan untuk memperkuat perannya, BKIPM menjalin kerjasama yang baik dengan berbagai lembaga. Sebagai contoh pada kegiatan Inpres 01 2017, BKIPM Yogyakarta bekerjasama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi/Kabupaten/Kota se-DIY, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten/Kota se-DIY, Biro Administrasi Perekonomian dan SDA Setda DIY, Satuan Polisi Pamong Praja DIY dan BPOM DIY. “Sejak 2019, BKIPM Yogyakarta telah menjadi bagian dari agen data yang ikut andil dalam penyusunan DIY dalam Angka oleh BPS DIY dan Bappeda DIY. Data lalu lintas melalui BKIPM Yogyakarta sudah masuk dalam Buku Provinsi DIY Dalam Angka dan dapat diakses oleh umum,” ungkap Hafit. Baca juga: Prof Rokhmin Dahuri: Ikan Hias Sumbang Devisa Rp 500 Miliar Hafit juga sedikit menyinggung kegiatan Bulan Mutu Karantina 2020 yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Bulan Mutu Karantina kali ini fokus pada kegiatan yang bersifat sosial. Melakukan pembagian 1.700 paket ikan segar dan olahan untuk warga di daerah Sleman, Banyumas, dan Kebumen serta tenaga kesehatan di daerah Sleman.   Terakhir, Hafit berharap BKIPM Yogyakarta tetap kompak dan selalu menjadi instansi yang melaksanakan pelayanan prima sesuai dengan SOP yang ada, sehingga se¬makin meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa sertifikasi karantina ikan dan mutu hasil perikanan merupakan suatu kebutuhan. TROBOS Aqua/Adv  Artikel Asli  Tentang MinapoliMinapoli merupakan marketplace++ akuakultur no. 1 di Indonesia dan juga sebagai platform jaringan informasi dan bisnis akuakultur terintegrasi. Dengan memanfaatkan teknologi, pembudidaya dapat menemukan produk akuakultur dengan mudah dan menghemat waktu di Minapoli. Platform ini menyediakan produk-produk akuakultur dengan penawaran harga terbaik dari supplier yang terpercaya. Selain itu, bentuk dukungan Minapoli untuk industri akuakultur adalah dengan menghadirkan tiga fitur utama yang dapat digunakan oleh seluruh pembudidaya yaitu Pasarmina, Infomina, dan Eventmina. ...
Lapisan Tanah pada Tambak yang Perlu Anda Perhatikan
Terkini

Lapisan Tanah pada Tambak yang Perlu Anda Perhatikan

Tambak merupakan salah satu wadah akuakultur yang umumnya digunakan untuk budidaya udang. Penggunaan tambak sendiri biasanya berada di daerah pesisir yang dekat dengan laut, sehingga air yang digunakan pun adalah air payau atau air laut itu sendiri. Di dalam tambak udang biasanya terdapat suatu lapisan tanah yang mengendap di dasar kolam. Hal ini perlu diperhatikan sehingga pembudidaya dapat melakukan pengelolaan tanah pada tambak udang.Udang pada dasarnya termasuk ke dalam hewan yang hidup di dasar perairan, sehingga memerhatikan kualitas air saja tidak cukup. Sebagai pembudidaya tentu perlu mengetahui dan mengerti mengenai kandungan serta lapisan-lapisan tanah dari tambak sehingga kita dapat mencegah kematian serta memantau pertumbuhan dari udang yang dibudidayakan. Selain itu kesuburan tanah juga akan menentukan kesuburan seluruh kolam budidaya, karena pertukaran substansi di dalamnya akan memengaruhi kualitas air secara langsung.Tanah sebagai tempat pertukaran senyawa penting Dalam tambak terdapat produk hasil dekomposisi aerobik (pakan) antara lain karbon dioksida, air, amonia, dan nutrien lain. Sedangkan pada lapisan sedimen anaerobik, terdapat beberapa mikroorganisme yang menguraikan bahan organik dengan reaksi fermentasi, sehingga menghasilkan alkohol, keton, aldehida, dan senyawa organik lainnya sebagai hasil metabolisme. Beberapa hasil metabolisme tersebut khususnya H2S, nitrit dan senyawa organik tertentu dapat masuk ke air dan berpotensi menjadi racun bagi udang anda. Lapisan oksigen pada permukaan sedimen tanah tambak mencegah masuknya sebagian besar hasil metabolisme yang beracun ke dalam air tambak. Ini dikarenakan mereka dioksidasi menjadi bentuk yang tak beracun melalui aktivitas biologi ketika melewati lapisan aerobik atau disebut juga sebagai nitrifikasi.Baca juga: 8 Langkah Persiapan Tambak Udang yang Baik dan BenarTingkat kesuburan tanah dasar tambak udang, mampu menentukan kesuburan tambak secara keseluruhan. Tanah sebagai central soil harus mampu berfungsi optimal sehingga proses dekomposisi dan pertukaran nutrien dapat berlangsung sempurna, untuk mendukung produktivitas tambak udang itu sendiri. Meskipun manajemen kualitas air dianggap salah satu faktor budidaya paling penting, tetapi banyak bukti bahwa kondisi dasar tambak dan pertukaran substansi antara tanah dan air sangat berpengaruh terhadap kualitas air (Boyd, 1995a,b).Bahan organik pada dasar tambakBahan organik yang terakumulasi dalam dasar tambak dengan volume yang berlebihan juga akan berpengaruh tidak baik bagi tambak. Tanah sebagai dasar utama tambak dapat menampung bahan organik dari konsentrasi 0%‒100%. Bahan organik dalam tanah sedimen tambak terdiri dari 48‒58% karbon (Nelson & Sommers, 1982). Sedangkan konsentrasi karbon organiknya 1,9 kali bahan organik dalam permukaan tanah (Nelson & Sommers, 1982). Bahan organik tanah yang tidak jenuh dalam waktu yang lama mampu mengandung karbon organik sampai dengan 20% dari berat keringnya (Soil Survey Staff, 1990). Sedangkan materi tanah yang jenuh dengan air, bahan organiknya lebih sedikit mengandung karbon organik. Secara umum, tanah terklasifikasi sebagai tanah organik jika di atas lapisan 80 cm masih banyak mengandung materi organik (Gambar 1). Faktor yang mempengaruhi bahan organik pada tambakBanyak faktor yang berpengaruh terhadap konsentrasi bahan organik dalam dasar tambak. Tidak hanya kualitas sumber air, mangrove, dan kepadatan biota budidaya, manajemen pemberian pakan juga sangat berpengaruh terhadap nutrien dan bahan organik tambak. Pakan yang diberikan pada tambak udang sistem intensif, hanya 17% yang dapat dimanfaatkan oleh biotanya sebagai nutrisi, selebihnya terbuang ke alam dalam bentuk pakan tak termakan dan sisa metabolisme biota (Primavera, 1994).Hasil buangan berupa pakan tak termakan dan hasil metabolisme biota dapat mengalami dekomposisi dan akan menghasilkan bahan organik yang berbahaya bagi biota budidaya dan lingkungannya. Karena salah satu hasil sederhana dari dekomposisi oleh aktivitas bakteri tanah adalah unsur nitrogen, yang dapat berupa NH4+, NH3-, NO2, NO3, maupun N2.Baca juga: Pentingnya Biosekuriti Tambak UdangSelain itu, keberadaan bahan organik di tambak juga dapat dipengaruhi oleh pengambilan (crop) tanah dasar sehingga berpengaruh terhadap keberadaan aktivitas mikroba; saat pengairan air, terdapat sedimen luar yang terbawa ke dalam kolam/tambak; dan kemampuan dekomposisi bahan organik dalam tanah (Boyd, 1992).Kandungan C-organik pada tambak dengan sistem intensif, sangat terpenagruh oleh tingginya aktivitas budidaya di dalamnya. Obat-obatan, kandungan pakan yang kompleks, penanganan yang terlalu intensif, dan kegiatan lainnya yang biasa diterapkan pada tambak intensif mampu berpengaruh terhadap keberadaan kondisi alam tambak sehingga bahan organik juga akan beragam kondisinya.Lapisan tanah tambak mengandung berbagai  macam kandungan, tergantung pada sistem budidaya udang yang diterapkan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Hastuti et al. (2011) membahas kandungan-kandungan dalam tanah sesuai dengan sistem budidaya udang yaitu tradisional, semi intensif, intensif. Tekstur tanah berdasarkan sistem budidaya Berdasarkan hasil pengamatan terhadap parameter fisika sedimen tanah dasar tambak, diperoleh tekstur yang berbeda-beda dari setiap sistem budidaya udang. Pada penelitian ini, sistem budidaya tradisional teksturnya tidak terlalu mengalami perubahan, karena tidak adanya penambahan pakan tambahan yang masuk ke dalam tambak sehingga tidak ada sedimentasi yang berarti.Untuk sistem semi intensif, secara konstan cukup mengalami perubahan selama 120 hari pemeliharaan sehingga menghasilkan tekstur dasar tanah yang beragam. Komponen debu yang berukuran halus cenderung berada pada lapisan paling bawah yaitu lapisan 10‒15 cm, selebihnya tekstur sedimennya berupa liat. Pada hari ke-0 smpai ke-30 tekstur tanah dasar tambak sistem intensif adalah lempung liat berpasir, namun setelah hari ke-90 berubah menjadi liat dan pada hari ke-120 berubah menjadi berliat sangat halus.Konsentrasi senyawa pada lapisan tanah tambakHasil penelitian menunjukkan bahwa pada semua sistem tambak yang digunakan (tradisional, semi intensif, dan intensif) nilai konsentrasi C-organik dan N-organik rata-rata terletak pada lapisan paling bawah yaitu lapisan 10‒15 cm (Tabel 2).Baca juga: Efisiensi Pakan dengan Fermentasi dan Penggunaan Pupuk Organik CairFakta ini menunjukkan bahwa diperlukan manajemen tambak yang baik (khususnya pada pakan) sangat berpengaruh terhadap masukan, dekomposisi serta keberadaan bahan organik dalam sedimen tambak. Pada tambak, peningkatan bahan organik biasanya terdapat pada lapisan atas yaitu 0‒5 cm (Boyd, 1992). Hal ini dimungkinkan, karena lapisan atas sedimen atau dasar tanah tambak adalah lapisan yang paling produktif. Bahkan tidak menutup kemungkinan lapisan ini masih sering dalam kondisi aerob.Bahan organik dan kesuburan tanahMikroorganisme dalam kehidupannya membutuhkan berbagai macam nutrien dan banyak nutrien tersebut berupa bahan organik. Bahan organik dalam tanah dasar tambak dapat bermanfaat untuk menghasilkan kualitas tanah yang subur adalah C/N rasio. C/N rasio pada dasarnya adalah parameter perbandingan C-organik dan N-organik dalam tanah untuk mengetahui tingkat kesuburanny tanah. Di dalam SNI rasio C/N kompos yang diijinkan adalah 10–20, sedangkan di dalam KepMenTan rasio C/N kompos yang diijinkan berkisar antara 20. Pada penelitian ini disebutkan bahwa rasio C/N pada tiga sistem tambak budidaya (tradisional, semi intensif, dan intensif) sudah lebih dari sepuluh. Hal itu berarti tanah yang dimiliki tiga tambak dan daerah mangrove tersebut sudah termasuk subur. Dibuat oleh Tim MinapoliSumber:Hastuti YP, Novita L, Widiyanto T, RUsmana I. 2011. Profil bahan organic dalam berbagai kedalam tanah dasar Tambak Inti Rakyat, Karawang. Jurnal Akuakultur Indoensia. 10(2): 183-191Boyd CE. 1992. Shrimp Pond Bottom Soil and Sediment Management. Alabama, USA: Alabama Agricultural Experiment Station. Auburn UniversityPrimavera JH. 1994. Shrimp Farming in the Asia-Pacific: Environment and Trade Issues and Regional Cooperation. http://oldsite.nautilus.org/archives/papers/enviro/trade/shrimp.html[Soil Survey Staff]. 1990. Keys to Soil Taxonomy. Virginia, USA: Virginia Polytechnic Institute and State University, SMSS Technical Monograph No. 19, Blacksburn.Tentang MinapoliMinapoli merupakan marketplace++ akuakultur no. 1 di Indonesia dan juga sebagai platform jaringan informasi dan bisnis akuakultur terintegrasi. Dengan memanfaatkan teknologi, pembudidaya dapat menemukan produk akuakultur dengan mudah dan menghemat waktu di Minapoli. Platform ini menyediakan produk-produk akuakultur dengan penawaran harga terbaik dari supplier yang terpercaya. Selain itu, bentuk dukungan Minapoli untuk industri akuakultur adalah dengan menghadirkan tiga fitur utama yang dapat digunakan oleh seluruh pembudidaya yaitu Pasarmina, Infomina, dan Eventmina. ...
Mau Belajar Budidaya Ikan dan Urban Farming? Silahkan Datang ke Jl Sekemala Ujungberung
Terkini

Mau Belajar Budidaya Ikan dan Urban Farming? Silahkan Datang ke Jl Sekemala Ujungberung

Kecamata Ujungberung Kota Bandung memiliki kawasan pertanian dengan konsep terpadu Sein Farm atau Sekemala Integrated Farming.Kawasan yang baru saja diresmikan Wali Kota Bandung itu, menjadi wahana edukasi pertanian bagi warga Kota Bandung untuk mempelajari berbagai budidaya tanaman, peternakan dan perikanan.’’Kawasan ini, memiliki beberapa kegiatan pertanian seperti budidaya ikan, peternakan dan budidaya tumbuhan hidroponik,’’kata Gin Gin kepada wartawan, Selasa, (29/9).Menurutnya, masyarakat yang berkunjung akan diberikan penjelasan terkait berbagai elemen yang ada di kawasan tersebut.“Sebetulnya ini media pembelajaran, yang mau belajar dan bertani, bercocok tanam bisa disini. Nanti dilakukan pendampingan, kalau ada benih yang bisa dikembangkan selama komunitas mau bisa (dikasih),” ucap Gin Gin.Baca juga: Kampung Mina Padi di Samberembe, SlemanLebih lanjut Gin Gin menjelaskan, konsep kawasan pertanian terpadu mengacu kepada program buruan sehat, alami, ekonomis (sae) yang meliputi kegiatan urban farming. Namun, pada kawasan tersebut terdapat juga budidaya ikan melalui bioflok dan menanam padi di sawah.“Budidaya pertanian selama ini mengandalkan padi, kita kombinasikan berbagai pangan, ternak, ikan dan hidroponik. Prinsipnya optimalisasi pemanfaatan lahan pangan, biasa digunakan satu jenis dan penggunaan air menggunakan hujan. Sekarang efisien (air).bisa dari hasil ikan atau hidroponik,” paparnya.Untuk budidaya ikan lele menggunakan media bioflok. Masing-masing bioflok memiliki diameter 2,5 meter serta tinggi 120 cm dengan kedalaman air disesuaikan dengan ukuran lele yang dibudidayakan.“Kita tanami 1.000 sampai 1.500 lele ukuran 7×9 cm (tiap bioflok). Nanti besar dilakukan pemilahan bergantung kapasitas,” jelasnya.Baca juga:  Warga Kampung Glintung Maksimalkan Drainase Jadi Kolam IkanIa menambahkan, sistem pengairan di kawasan pertanian terpadu berasal dari sumber air utama yang mengalir ke kolam bioflock. Selanjutnya, air yang sudah ditampung beberapa hari itu dialirkan ke sawah untuk padi.Sementara itu, Wali Kota Bandung Oded M Danial berharap, keberadaan Sein Farm dapat menjadi sarana edukasi kepada masyarakat untuk menciptakan kawasan pertanian di wilayahnya masing-masing. Selain itu, diharapkan keberadaannya dapat mendorong ketahanan pangan.“Ini menjadi bagian upaya menghadirkan mengedukasi masyarakat untuk bersama sama menghadirkan kemandirian pangan. Dan kawasan pertanian terpadu ini, saya kira bisa menjadi kawasan wisata bagi masyarakat. Sebab memiliki pemandangan yang bagus. Ini kita dorong agar bisa menjadi destinasi wisata,” ungkap Oded. (mg7/yan)Sumber: Jabar Ekspres Tentang MinapoliMinapoli merupakan marketplace++ akuakultur no. 1 di Indonesia dan juga sebagai platform jaringan informasi dan bisnis akuakultur terintegrasi. Dengan memanfaatkan teknologi, pembudidaya dapat menemukan produk akuakultur dengan mudah dan menghemat waktu di Minapoli. Platform ini menyediakan produk-produk akuakultur dengan penawaran harga terbaik dari supplier yang terpercaya. Selain itu, bentuk dukungan Minapoli untuk industri akuakultur adalah dengan menghadirkan tiga fitur utama yang dapat digunakan oleh seluruh pembudidaya yaitu Pasarmina, Infomina, dan Eventmina. ...
7 Jenis Ikan Lokal yang Berpotensi untuk di Budidaya
Terkini

7 Jenis Ikan Lokal yang Berpotensi untuk di Budidaya

Indonesia memiliki kekayaan ikan air tawar maupun laut yang potensinya masih sangat luas untuk dieksplorasi. Ikan-ikan tersebut juga banyak yang merupakan ikan endemik atau yang yang asli ditemukan di daerah perairan Indonesia. Berikut ini adalah 7 jenis ikan lokal yang berpotensi untuk Anda budidaya.Ikan Baung (Hemibagrus sp.)Ikan asli Indonesia pertama yang berpotensi untuk di budidayakan adalah ikan baung. Secara umum ikan ini memiliki kumis dan patil seperti halnya lele, namun memiliki bentuk tubuh yang menyerupai ikan patin. Sedikit perbedaan yang terdapat pada ikan ini adalah badannya yang lebih pendek, kepala yang lebih besar, serta sirip yang lebih tumpul bila dibandingkan dengan ikan patin.Ikan lokal ini dapat hidup mulai dari muara sungai sampai ke bagian hulu, sehingga mudah ditemukan pada perairan umum seperti sungai, rawa, situ, danau, dan waduk. Di Indonesia sendiri ikan ini dapat ditemukan di berbagai daerah sepeti Pulau Jawa, Kalimantan, dan Sumatera Utara. Lokasi tempat ditemukannya ikan ini juga menentukan jenis ikan baung yang ada. Contohnya seperti ikan baung kuning yang disebut juga sebagai ikan baung senggal dalam bahasa Sunda. Ikan ini ditemukan di Sungai Cianten, Cidurian, Cikeas, Cisokan, dan Cimanuk. Ikan baung tageh juga banyak tersebar di Pulau Jawa. Sedangkan untuk ikan baung putih dapat ditemukan di sungai-sungai daerah Pulau Kalimantan, Sumatera Utara (Riau, Jambi, Bayuasin, dan Ogan) dan Semenanjung Malaya. Baca juga: Ikan Hias Air Tawar Bernilai TinggiPada dasarnya ikan dengan sirip dorsal yang tegak ini, memiliki sifat nokturnal atau lebih banyak beraktivitas di malam hari. Baung termasuk jenis ikan omnivora, namun ada juga yang menggolongkannya sebagai ikan karnivora karena memakan hewan-hewan kecil di sekitarnya. Potensi ikan lokal ini cukup tinggi karena dagingnya yang tebal digemari oleh masyarakat. Selain itu ikan ini memiliki sedikit duri yang disertai dengan cita rasa yang lezat, sehingga memiliki nilai ekonomi penting (Rp 40.000 – Rp 50.000/ kg), dan menjadi lebih tinggi lagi karena ada permintaan dari Malaysia dan Singapura.Jika tertarik, anda dapat mulai membudidayakan ikan baung di kolam air tenang. Pertimbangan lainnya adalah sifat fisika kimia air yang anda gunakan, seperti suhu air sebaiknya berkisar antara 26—30 °C, pH berkisar antara 4—9 ppm, kandungan oksigen terlarut minimal 1 mg/liter dan optimal adalah 5—6 ppm, serta kandungan NH3 kurang dari 1,5 ppm. Untuk pembenihannya, ikan baung dapat dipijahkan dengan induksi hormonal menggunakan ovaprim dengan dosis 0,9 mL/kg. Setelahnya benih ikan baung dapat dipelihara dengan kedalam air hingga 50-80 cm. Ikan Jelawat (Leptobarbus hoevenii) Ikan lokal lainnya adalah ikan jelawat yang secara taksonomi masih termasuk ke dalam Ordo yang sama dengan ikan mas, sehingga tidak heran apabila sekilas tubuh ikan ini mirip dengan golongan ikan mas. Ikan jelawat dapat ditemukan di perairan sungai yang mengalir sepanjang tahun, serta danau yang berlokasi di Semenanjung Malaya dan Pulau Kalimantan. Ikan ini memiliki ukuran yang cukup besar karena dapat mencapai panjang tubuh 100 cm dan termasuk ke dalam jenis ikan omnivora. Budidaya ikan lokal ini dapat anda lakukan dengan pemeliharaan menggunakan keramba sungai, atau keramba jaring apung di waduk dan kolam. Lingkungan perairan yang sesuai untuk budidaya ikan jelawat adalah dengan pH 5-7, oksigen terlarut 5-7 ppm, dan suhu sekitar 25-37⁰C. Baca juga: Pembenihan Ikan JelawatUntuk upaya pembenihan, ikan jelawat digolongkan matang gonad pada bobot 1,4–2,9 Kg untuk induk betina dengan jumlah telur rata-rata sekitar 140.438 butir dan matang gonad pada bobot 1 - 2,6 Kg untuk yang jantan. Pemijahan ikan jelawat adalah dengan induksi hormonal dapat dilakukan menggunakan ovaprim dengan dosis 0,7 mL/kg yang dibagi menjadi 3 kali penyuntikan untuk betina. Sedangkan bagi jantan hanya 1 kali penyuntukan dengan dosis 0,3 ml/kg. Ikan jelawat jantan dan betina pada dasarnya dapat distripping untuk memperoleh telur dan spermanya.Ikan Nilem (Osteochilus vittatus)Ikan nilem merupakan ikan asli Indonesia yang dapat ditemukan di Pulau Sumatera, Kalimantan, dan Jawa. Pada habitatnya, ikan nilem hidup di sungai-sungai yang berarus sedang dan berair jernih. Ikan yang sudah mulai banyak dibudidayakan ini umumnya dapat mencapai panjang tubuh antara 18-20 cm dengan panjang maksimal mencapai 32 cm.Ikan ini termasuk salah satu ikan air tawar yang bersifat herbivora dan memiliki kebiasaan untuk memakan ganggang sehingga dapat tergolong sebagai ikan organik. Seekor ikan nilem seberat 5 gram bisa menghabiskan pakan berupa ganggang sebanyak 6,4 kg dalam jaring apung seluas 19 m2 untuk mencapai bobot 100 gram.Pada daerah Jawa ikan nilem sering ditemukan sebagai ikan budidaya karena rasanya yang lezat, dan juga telur ikan nilem yang banyak digemari sehingga dapat dijual terpisah. Hal yang perlu diperhatikan untuk budidaya ikan ini adalah kualitas air dengan kisaran pH 6,5-7 dan suhu 22-26⁰C. Selain itu pemijahan ikan nilem dapat dilakukan dengan induksi hormonal menggunakan ovaprim dengan dosis 0,6 mL/kg.Ikan Kancra (Neolissochilus soro)Ikan kancra dapat ditemukan di Pulau Sumatera dan Jawa. Ikan yang juga dijuluki sebagai ikan dewa ini adalah termasuk ikan yang langka untuk ditemukan sehingga dapat menjadi alasan utama untuk membudidayakan ikan lokal ini khususnya di bagian pembenihan.Kualitas air yang dapat mengoptimalkan pertumbuhan ikan kancra adalah untuk oksigen dengan kisaran 5-7,5 mg/L, pH 7-8, dan suhu antara 22-26°C. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Redjeki (2007), menyatakan bahwa ikan yang dapat tumbuh hingga panjang 1 meter ini, membutuhkan waktu sekitar 3-4 minggu untuk proses pematangan gonad. Ukuran induk ikan kancra yang telah matang gonad, memiliki panjang total (TL) antara 48.5-60 cm (betina) dan 53.8-59.0 cm (jantan). Sedangkan untuk bobot tubuh (BW) induk yang matang gonad berskisar antara 0.9-3.05 kg (betina) dan 1.38-2.33 kg (jantan). Pemijahan ikan kancra dapat dilakukan dengan induksi hormonal menggunakan HCG dan ovaprim dengan dosis 0,7 mL/kgIkan Tawes (Barbonymus gonionotus)Ikan tawes dapat ditemukan di Pulau Jawa dan Sumatera. Ikan yang dapat tumbuh hingga 30 cm ini lebih nyaman untuk hidup di daerah perairan yang tenang dan tergenang dengan suhu air antara 22-28⁰C. Selain perairan yang tenang, ikan yang berpotensi untuk dibudidaya ini juga kerap ditemukan pada perairan yang luas. Jika anda ingin membudidayakan ikan tawes, maka ikan ini dapat dipelihara dengan baik pada tambak air payau hingga pegunungan dengan tinggi 800 m di atas permukaan laut.Baca juga: Kolaborasi Riset Air TawarIkan dengan sisik keperakan ini bersifat herbivora dan utamanya memakan tumbuh-tumbuhan seperti Hydrilla, aneka tumbuhan air, dan dedaunan yang terjatuh ke sungai. Sifatnya yang herbivora dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan gulma air. Pemijahan ikan tawes dapa dilakukan dengan induksi hormonal menggunakan ovaprim dengan dosis 0,3 mL/kgIkan Belida (Chitala lopis)Ikan belida terkenal sebagai bahan dasar makanan khas Palembang yaitu pempek dan kerupuk kemplang. Ikan lokal yang berpotensi untuk dibudidayakan ini dapat ditemukan di Pulau Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Ikan belida lebih aktif pada malam hari dan mulai merespon makanan pada sore hari. Ikan yang bentuknya seperti bilah pisau ini suka untuk tinggal di perairan yang cenderung gelap seperti sungai-sungai yang ditumbuhi pepohonan. Pertumbuhan ikan belida dapat mencapai panjang tubuh 150 cm dengan berat 1,5-7 kg. Satu ekor ikan belida dapat dihargai mulai dari Rp 50.000 hingga Rp 400.000. Selain sebagai ikan konsumsi, coraknya yang menarik dari tubuhnya juga dapat menjadikannya sebagai ikan hias.Dalam upaya budidayanya, ikan belida dapat dipijahkan secara alami menggunakan substrat berupa eceng gondok. Selain itu ikan belida umumnya akan menempelkan telurnya di antara pepohonan yang sudah mati di dalam rawa-rawa dengan kedalaman sekitar 1-2 meter.Ikan betutu (Oxyeleotris marmorata)Ikan betutu atau yang dikenal dengan nama ikan gabus malas, hampir dapat ditemukan di seluruh Indonesia, seperti di Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Ikan betutu merupakan ikan air tawar yang menyukai perairan tenang atau di lokasi yang arus airnya tidak deras, serta terlindung oleh tumbuhan air. Di alam terbuka. ikan ini dapat tumbuh hingga 65 cm namun umumnya hanya berukuran 20-40 cm atau kurang. Baca juga: Melirik Laba Budidaya BetutuIkan asli Indonesia ini dapat dibudidayakan dengan menyediakan tempat persembunyian seperti pipa-pipa paralon. Atau jika anda memelihara ikan betutu dalam kolam tanah, pada dasarnya ikan ini senang menempel di dasar perairan yang berlumpur pada kedalaman kira – kira 40 cmSedangkan untuk pemijahannya sendiri  dilakukan secara alami menggunakan substrat berupa tonggak kayu.Dibuat oleh Tim MinapoliSumber:Media Akuakultur. 2012. 7(1)Wikipedia.orgDkp.jatimprov.go.idBulelengkap.go.idFishbaseKKP.go.idJurnal Ilmu-ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia. 2007, 14(2) ...
Budidaya Ikan Mas Koki, Hobi Menguntungkan di Tengah Pandemi Covid-19
Terkini

Budidaya Ikan Mas Koki, Hobi Menguntungkan di Tengah Pandemi Covid-19

Goldfish atau mas koki (Carassius auratus auratus) merupakan ikan hias populer ini memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Ikan hias satu ini juga banyak dipelihara masyarakat di aquarium. Ikan mas koki adalah hasil domestikasi dengan tampilan tubuh sirip ekor ganda dan berbentuk memampat bulat.Kepala Balai Besar Pengujian Penerapan Produk Kelautan dan Perikanan (BBP3KP), Widya Rusyanto mengungkapkan ikan mas koki memiliki corak warna terang dan memiliki bentuk unik serta cantik, sehingga mampu membuat orang betah berlama-lama memandangnya. Merujuk hasil penelitian Environment and Behavior yang dikutip dari Nyoman Suarna, melihat ikan berenang di akuarium atau kolam selama sepuluh menit dapat menurunkan tekanan darah dan denyut jantung. Selain itu, manfaat lain melihat ikan berenang di akuarium bisa mengurangi stres akibat terlalu lama berada dalam rumah untuk menerapkan social ataupun physical distancing.“Mas koki juga memiliki prospek usaha yang menjanjikan,” kata Widya dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa (29/9/20).Baca juga: 6 Jenis Ikan Mas Koki Termahal dengan Warna yang CantikMengingat potensinya yang luar biasa, Widya mengingatkan sejumlah trik memelihara ikan mas Koki supaya mendapatkan warna yang tajam dan memiliki daya tahan tubuh yang baik. Di antaranya ialah menyiapkan air dalam kualitas ideal (pH kisaran 6,5 hingga 7,0) dan Oksigen diatas 5 ppm.Selanjutnya, untuk memperindah dan mempercepat pertumbuhan ikan perlu memperhatikan kualitas pakan yang banyak mengandung protein (kadar protein lebih dari 30%).“Ikan mas koki yang baik berasal dari induk, lingkungan, pakan cukup dan berkualitas baik,” sambungnya.Pelaku usaha mas koki, UKM Tirta Kencana Agung asal Tulungagung, Agus Tri Haryanto mengamini prospek usaha tersebut. Saat mengikuti Inkubasi Bisnis Inovasi Produk Kelautan dan Perikanan (Inbis Invapro KP) BBP3KP 2020, dia mengaku usahanya semakin meningkat di masa pandemi.Baca juga: Lomba Ikan Cupang Digelar OnlineDalam laporan monitoring bulanan UMKM Binaan Inbis Invapro KP, UKM Tirta Kencana Agung pada Juli lalu mengalami peningkatan omzet tiga kali lipat dibanding sebelum pandemi (Februari).“Justru usaha saya mengalami peningkatan penjualan bahkan kekurangan stok dalam memenuhi permintaan konsumen sehingga harus menambah kolam untuk budidaya,” terang Agus.Kontes Ikan Mas KokiPara penggiat ikan hias Mas Koki mulai dari pembudidaya, reseller, suplier dan eksportir yang terhimpun dalam Komunitas Mas Koki Indonesia bahkan rutin mengadakan kegiatan kontes untuk mempopulerkan sekaligus mengenalkan peluang ikan tersebut. Bekerja sama dengan BBP3KP, salah satu UPT Ditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), kontes bertajuk “2nd Indonesian Goldfish League 2020” digelar pada 25 – 27 September 2020 di Exhibition Hall Raiser Ikan Hias Cibinong Bogor milik BBP3KP.Dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat, kontes tetap digelar untuk menjaga silaturahmi antar anggota komunitas sekaligus memajukan ikan mas koki Indonesia di tingkat lokal maupun internasional. Tahun ini untuk pertama kalinya diterapkan dengan sistem liga dan dibentuk delapan tim untuk berlaga, sedangkan peserta perorangan dari daerah untuk sementara masuk dalam tim tersebut.Ke depan peserta daerah seperti Palembang, Lampung, Yogyakarta, Surabaya, Bali, Makassar akan membentuk tim liga sendiri untuk mewakili daerahnya masing-masing.“Liga juga rencananya akan dilaksanakan secara berkala setiap dua bulan sekali dengan lokasi berbeda sekaligus sosialisasi anggota liga baru,” tegas Widya.Sebanyak 335 ekor ikan mas koki hadir meramaikan kontes yang tergabung dalam delapan tim liga antara lain TITS Tangerang Selatan, D. Art Cisauk Tangerang, Filosofi Koki Bekasi, Transformation Bandung, Royal Goldfish Team Depok, Quality Goldfish Serpong, D. Van Cengkareng, dan One Goldfish Jakarta Barat. Sedangkan kategori kontes yang dilombakan ada 7 kategori dengan 5 kelas, dan setiap kelasnya pun memiliki pemenangnya (Champion) untuk seluruh kategori tersebut.Baca juga: Aquafest 2020, Ada Lomba Karya Tulis Ilmiah hingga Aquascape Photo Contest“Minggu kemarin adalah puncak kontes yang dihadiri Irfan Hakim, artis ibukota sekaligus penggiat baru ikan mas koki. Irfan sendiri mengenal ikan mas koki dari Komunitas Filosofi Koki Bekasi,” urainya.Sementara Irfan mengaku kagum terhadap potensi ikan mas koki. Menurutnya, ikan mas koki Indonesia tak kalah cantik dibanding ikan sejenis dari luar negeri. Dia berharap kontes seperti ini membuat para pehobi dan pebisnis bisa berkembang.“Indonesia sebagai tanah surga baik air, udara dan segala macamnya membuat apapun bisa berkembang biak dengan pesat termasuk ikan mas koki,” ujar Irfan.Sebagai informasi pemenang kontes adalah Tim D. Van Cengkareng untuk Baby Champion, Tim Quality Goldfish Serpong untuk Junior Champion, Tim Quality Goldfish Serpong untuk Senior Champion, Tim Filosofi Koki Bekasi untuk Jumbo Champion, dan Tim D. Van Cengkareng sebagai peraih Grand Champion.Sumber: Trubus News ...
Pembenihan Ikan Jelawat
Terkini

Pembenihan Ikan Jelawat

Ikan jelawat merupakan salah satu ikan spesifik lokal yang mempunyai nilai jual lumayan tinggi dibandingkan dengan ikan konsumsi lain hasil dari introduksi. Tingkat fanatisme warga yang tinggi terhadap rasa dari ikan lokal ini memberikan nilai positif terhadap stabilnya harga jual ikan itu sendiri. Sebagai gambaran nilai jual benih ikan jelawat dibandingkan dengan benih ikan konsumsi lainnya (nila) dengan ukuran yang hampir sama, bisa dua kali lipat harganya.Tuntutan pasar yang menginginkan benih yang berkualitas dan murah, merupakan motivasi tersendiri bagi para perekayasa untuk menciptakan teknologi yang aplikatif dengan mengedepankan konsep efisiensi dan efektifitas produksi benih. Ikan ikan spesifik lokal diantaranya adalah ikan jelawat sudah memiliki ruang tersendiri dalam tingkat konsumsi masyarakat. Peluang pasar yang sudah ada merupakan salah satu nilai lebih dalam memproduksi benih ikan jelawat. Kebutuhan benih yang diperlukan oleh para pembudidaya adalah tantangan bagi para UPR untuk menghasilkan benihnya. Stok benih dari alam sangatlah tidak bisa menjadi prioritas dalam menghasilkan benih ikan jelawat untuk kebutuhan pembesaran. Teknologi pemijahann buatan merupakan jalan satu satunya yang harus dilakukan untuk bisa mensuplai kebutuhan benih secara berkelanjutan. Kepastian kualitas dan stok benih merupakan parameter yang bisa menjaga kestabilan harga dipasaran baik pada benih maupun ikan konsumsinya. Dengan ditemukannya teknologi pembenihan ikan jelawat yang lebih efektif dan efisien, membuat nilai produksi pembenihan ikan jelawat menjadi lebih murah lagi. Dengan data yang ada dan asumsi-asumsi yang digunakan mendekati realitas, maka biaya yang diperlukan untuk menghasilkan 1 ekor benih ikan jelawat ukuran 2-4 cm sebesar Rp. 63 ,- dalam setiap 100.000 ekor benih jelawat.Hal ini merupakan suatu usaha pembenihan yang lumayan menguntungkan. Kedepannya usaha pembenihan ini bisa memberikan nilai tambah yang besar bagi UPR dan bisa membuka lapangan kerja yang baru bagi para pembenih yang mau bekerja keras. Nilai positif dari Teknologi Pemijahan buatan ikan Jelawat sangatlah besar dampaknya. Tidak hanya bagi pelestarian ikan spesifik lokal (jelawat) diperairan umum, namun bagi para pembenih juga memiliki andil yang besar dalam mendapatkan keuntungan.Dalam kondisi yang stabil para pembenih bisa mendapatkan keuntungan Rp. 15.659.500,- dalam penjualan 100.000 ekor benih ikan jelawatBaca juga: Teknik Pembenihan Ikan MasPemeliharaan IndukHabitat asli Ikan jelawat adalah di sungai-sungai yang mengalir sepanjang tahun. Ikan jelawat termasuk ikan yang memerlukan oksigen terlarut tinggi dalam lingkungan hidupnya. Pada wadah budidaya induk ikan jelawat dapat dipelihara pada karamba sungai, karamba jaring apung di waduk dan kolam. Pada pemeliharaan dikolam diusahakan air kolam tersebut bisa mengalir atau ada input aerasi untuk meningkatkan kadar oksigen terlarut pada kolam. Induk dipelihara dengan kepadatan 1-2 ekor / m2 pada kolam. Sedangkan pada karamba sungai maupun karamba jaring apung kepadatan induk adalah 2-3 ekor / m3. Induk diberi pakan komersial dan pakan hijauan (dedaunan). Pakan komersial dengan kandungan protein 32-34% diberikan sebanyak 1-1,5% dari total biomassa ikan sedangkan pakan hijauan diberikan sebanyak 3% dari bobot biomassa setiap 2 hari sekali. Sebaiknya induk jantan dan betina dipisah pemeliharaannya. Seleksi IndukDalam proses seleksi induk ikan jelawat, tahapan persiapan merupakan hal penting yang harus dilakukan. Tahapan persiapan terdiri atas perencanaan target benih yang akan dihasilkan, kesiapan sarana dan prasarana serta waktu pelaksanaannya. Setelah tahapan persiapan dilalui maka yang pertama diseleksi adalah induk betina kemudian induk jantan. Satu ekor induk betina minimal dibuahi oleh dua ekor induk jantan, hal ini untuk menjaga kualitas benih yang dihasilkanCiri-ciri Induk Matang Gonad No Induk Jantan Induk Betina 1 Tidak cacat, tubuh proposional Tidak cacat, tubuh proposional. 2 Sirip dada terasa kasar Bagian perut mengembang dan lembut 3 Bila diurut genitalnya keluar cairan sperma Genitalnya berwarna kemerahan Pemijahan IndukSetelah didapatkan induk yang siap memijah, induk jantan dan betina ditempatkan pada tempat yang terpisah. Pemijahan dilakukan secara buatan dengan cara diberi rangsangan hormon dan distripping telur serta spermanya. Rangsangan hormon menggunakan ovaprim, untuk induk betina dosis yang digunakan sebanyak 0,7 ml/kg induk dibagi dalam 3 kali penyuntikan. Sedangkan induk jantan hanya 1 kali penyuntikan dengan dosis 0,3 ml/kg induk. Setelah 6-8 jam dari penyuntikan ke 3 induk betina siap untuk ovulasi, maka yang pertama kali distripping adalah induk jantan untuk mendapatkan spermanya, idealnya 1 induk betina di buahi oleh 2 ekor induk jantan.Setelah telur dikeluarkan (stripping) maka langkah berikutnya adalah mencampurkan telur dengan sperma, aduk secara merata dan perlahan sehingga setiap butir telur dapat dibuahi oleh sperma. Pembuahan sperma terhadap telur dibantu dengan memberikan air bersih. Setelah proses pembuahan dilakukan maka telur ditetaskan pada corong penetasan. Baca juga: Pembenihan Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer, Bloch)Penetasan TelurPada suhu 27-30 0C telur jelawat akan menetas setelah 20 – 26 jam setelah dibuahi. Setelah telur menetas perlu dilakukan pergantian air sebanyak 80 – 90% atau hingga air penetasan menjadi jernih. Telur yang telah menetas menjadi larva baru bisa dipindahkan ke wadah pemeliharaan larva 24 jam setelah menetas. Pemeliharaan LarvaPemeliharaan larva dilakukan selama 3 – 7 hari, tergantung dari kesiapan dan kualitas larva. Naupli artemia diberikan sebagai makanan larva sebanyak 5 kali/hari. Dengan interval waktu pemberian pakan setiap 4 jam sekali, yakni jam 07.00; 11.00; 15.00; 19.00; 23.00. untuk 100.000 ekor larva memerlukan 1 kaleng artemia (425 g) selama 7 hari pemeliharaan. Penyiponan dilakukan setiap hari dan pergantian air dilakukan 2 hari sekali. Baca juga: Pembenihan Ikan Lele SangkuriangPendederan di KolamSebelum larva/benih jelawat didederkan maka perlu dilakukan persiapan kolam pendederan. Tahapan persiapan kolam meliputi: pengeringan, pembalikan dasar kolam, pengapuran, pemupukan dan pengisian air.Pupuk yang digunakan adalah pupuk organik sebanyak 500g/ m2dan kapur yang digunakan adalah kapur tohor ( CaO ) sebanyak 50-100 g/ m2. Pengisian air dilakukan sehari setelah dipupuk dan dikapur. Pengisian air dilakukan secara bertahap, setelah diisi sebanyak setengah volume kolam maka diberi inokulasi Moina sp sebanyak 1kg/200 m2, volume air ditambah lagi setelah populasi moina mulai berkembang dikolam. Larva/benih jelawat ditebar setelah kondisi kolam siap, penebaran dilakukan pada pagi atau sore hari. Pakan yang diberikan pada minggu pertama adalah pellet tepung yang dicampur dengan telur ayam, pemberian pakan dilakukan sebanyak 4 kali sehari dan ditebar merata kekolam. Pemanenan Pemanenan dilakukan setelah 3-4 minggu pemeliharaan. Alat dan wadah yang digunakan adalah jaring halus. Pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi hari dan tidak pada saat hujan. Sebelum pemanenan benih ikan sebaiknya dipuasakan selama satu hari.Sumber: Balai Perikanan Budidaya Air Tawar Sungai Gelam Jambi ...
Aquafest 2020, Ada Lomba Karya Tulis Ilmiah hingga Aquascape Photo Contest
Terkini

Aquafest 2020, Ada Lomba Karya Tulis Ilmiah hingga Aquascape Photo Contest

Himpunan Mahasiswa Akuakultur ( Himakua) FPIK IPB University akan kembali menyelenggarakan Aquaculture Festival ( Aquafest). Aquaculture Festival 2020 ini merupakan event tahunan Himakua FPIK IPB University.Tujuan dari diselenggarakannya Aquafest 2020 yakni untuk meningkatkan ketertarikan dan wawasan masyarakat terhadap produk akuakultur.Hal ini dilakukan melalui kompetisi, pengajaran, dan memberikan ruang untuk berinteraksi yang dikemas secara modern dan online."Karena saat ini kita sedang menghadapi pandemi, maka akan dilakukan secara online," kata panitia Aquafest 2020, Alifia Tri Wulandari, kepada TribunnewsBogor.com. Walaupun diselenggarakan secara online, Aquafest 2020 tidak kalah menarik dan seru dari Aquafest tahun sebelumnya karena terdapat konten-konten acara yang baru dan cocok untuk era 4.0.Baca juga: KKP Gelar Festival Mutiara Tingkatkan Animo BudidayaWaktu pelaksanaan Aquafest 2020 dimulai dari tanggal 26 September 2020 sampai 18 Oktober 2020. Terdapat delapan konten yang akan dibawakan di Aquafest 2020 ini meliputi Lomba Karya Tulis Ilmiah ( LKTI), Aquascape Photo Contest, Kompetisi Videografis dan Infografis, Webinar, Talkshow, dan Workshop."Untuk LKTI dilaksanakan pada tanggal 27 Agustus 2020 – 10 Oktober 2020," kata dia. Dia juga menjelaskan, konten acara ini meliputi pembuatan gagasan ilmiah ditingkat mahasiswa dalam bidang Akuakultur dengan tujuan mengenalkan, mengembangkan, dan memberikan solusi untuk permasalahan di bidang perikanan budidaya.Berikutnya Aquascape Photo Contest yang bertujuan memperkenalkan seni yang ada di akuakultur melalui akuaksap serta meningkatkan kreativitas masyarakat dari berbagai kalangan. "Kontes ini merupakan kontes foto dari akuaskap yang dibuat oleh peserta," tambahnya.Selanjutnya untuk lebih mengenal ikan hias, diadakan juga kompetisi Videografis dan Infografis. "Selain untuk kompetisi, konten ini diadakan dengan tujuan meningkatkan pemahaman dan informasi terkait ikan hias asli Indonesia yang dikemas dalam bentuk video dan juga poster," tandasnya,Baca juga: Lomba Ikan Cupang Digelar OnlineTidak kalah dari kompetisi-kompetisi sebelumnya, Aquafest 2020 juga mengadakan konten acara yang dapat memberikan informasi terkait Akuakultur dengan menghadirkan beberapa pemateri yang ahli di bidangnya.Konten yang pertama yaitu Webinar yang akan diadakan sebanyak tiga series, untuk webinar series pertama dilaksanakan tanggal 26 September 2020 dengan tema “Transformasi akuakultur dalam menghadapi tantangan serta peluang di era disruptif”."Sedangkan webinar series kedua dan ketiga dilaksanakan tanggal 11 dan 18 Oktober 2020 dengan tema “Budidaya Udang berkelanjutan : Kesehatan dan Lingkungan)," ujarnya.Baca juga: Monitoring Kesehatan dan Pengelolaan Hama Penyakit UdangSelanjutnya ada talkshow yang akan diadakan sebanyak tiga pertemuan, Talkshow 1 dilaksanakan tanggal 3 Oktober 2020 dengan tema “Bisnis Ikan Konsumsi”, Talkshow 2 dilaksanakan tanggal 4 Oktober 2020 dengan tema “Bisnis Ikan Hias”, dan Talkshow 3 dilaksanakan tanggal 10 Oktober 2020 dengan tema “Digitalisasi Akuakultur”."Terakhir ada Workshop yang dilaksanakan tanggal 17 Oktober 2020 dengan tema “Aquascape”," tutupnya.Sumber: Tribun News Bogor ...
Memperkenalkan Podcastmina: Podcast Akuakultur Kekinian
Terkini

Memperkenalkan Podcastmina: Podcast Akuakultur Kekinian

Podcast saat ini tengah menjadi trend di kalangan masyarakat, selain karena mudah dan dapat didengarkan dimana saja melalui berbagai jenis platform, podcast juga mempermudah siapapun untuk berbagi melalui rekaman suara. Terdapat banyak topik yang dapat dituangkan melalui podcast, termasuk salah satunya adalah topik akuakultur.Dibahas secara santai dan mudah dipahami, PodcastMina hadir dengan berbagai topik seputar akuakultur yang dibahas langsung dengan para ahlinya. PodcastMina juga bertujuan untuk memperluas pengetahuan dan pandangan mengenai perkembangan akuakultur dari berbagai aspek.Podcastmina episode 1 tentang "Yang Muda, Yang Berbudidaya" bersama CEO Minapoli Rully Setya Purnama. Dengarkan di spotify! Berkenalan dengan AkuakulturPada episode yang pertama, PodcastMina mengundang langsung CEO Minapoli yaitu Rully Setya Purnama untuk berbagi mengenai pandangan secara general dari akuakultur itu sendiri. Menurutnya, kunci dari kegiatan akuakultur adalah intervensi pada pemeliharan ikan, untuk membuat proses produksi lebih terkontrol. Contohnya seperti intervensi pada pemijahan buatan ikan, pemberian pakan buatan untuk ikan dan udang, serta cara mengendalikan kualitas air.Pada praktiknya sendiri, secara garis besar kegiatan utama akuakultur terbagi menjadi dua yaitu pembenihan dan pembesaran, dan diantaranya ada pendederan. Pembenihan dilakukan untuk menghasilkan benih ikan, pendederan adalah tahap lanjutan dari benih untuk menghasilkan ikan yang lebih besar dan sudah dapat dipelihara di kondisi yang lebih terbuka, sedangkan pembesaran menghasilkan ikan yang bisa dipasarkan untuk dikonsumsi.Sedangkan untuk proses akuakultur sendiri dimulai dari pemilihan lokasi untuk kegiatan budidaya. Diperlukan lokasi yang sesuai dengan jenis komoditas yang akan dibudidayakan serta kesediaan air. Kemudian berlanjut ke bagian pemodalan yang di dalam akuakultur dapat berasal dari pribadi atau Fintech, berlanjut ke persiapan wadah, lalu masuk ke bagian produksinya seperti manajemen pemberian pakan, pemeliharaan lingkungan air, grading atau penyortiran, pemanenan, hingga proses pasca panen seperti pengolahan fillet pada ikan patin.Akuakultur tidak berdiri sendiriIndustri akuakultur sendiri, pada faktanya juga membutuhkan support dari dispilin ilmu yang lain. Contohnya seperti teknik mesin, untuk aplikasi kincir air atau automatic feeder. Akuakultur juga membutuhkan ilmu mengenai marketing atau komunikasi visual, untuk membantu pemasaran hasil akuakultur menjadi lebih menarik di masyarakat.Selain multi disiplin, akuakultur juga membutuhkan anak muda dengan pemikiran kreatif, antusiasme, dan inovasi yang dapat dihadirkan pada kegiatan akuakultur dari hulu ke hilir. Sebagai contoh untuk penyediaan lahan, bisa dilakukan dengan bantuan digital mapping untuk mengetahui lokasi akuakultur yang potensial. Inovasi yang dapat diberikanInovasi lainnya yang dapat dikembangkan adalah alat bantu untuk budidaya, alat untuk mengukur estimasi biomassa, alat sortir, alat sampling dan lain-lain. Akses produk perikanan juga perlu untuk terus diperbaharui, selain itu dari sisi logistik dapat dikembangkan cara untuk membuat produk perikanan agar tetap dalam keadaan prima atau segar ketika sampai di tangan konsumen.Beberapa inovasi yang sudah dibuat oleh anak muda Indonesia, seperti yang dijelaskan oleh CEO Minapoli ini di antaranya adalah eFishery yang  menyediakan teknologi untuk pemberian pakan bagi budidaya ikan dan udang, juga sudah mengembangkan menjadi eFishery fresh, permodalan, dan penyediaan pakan. Pendiri eFishery saat itu masih di bawah 25 tahun. Start up lainnya yang inovasinya sudah banyak digunakan, adalah startup JALA dari Yogyakarta yang fokus pada monitoring kualitas air dan manajemen data budidaya khususnya di tambak udang.Inovasi yang paling dibutuhkan saat ini dalam bidang akuakultur adalah inovasi yang applicable dan menjawab tantangan akuakultur. Kini, para innovator pun juga tidak perlu khawatir karena sudah banyak lembaga yang dapat memberikan dukungan serta siap mendanai inovasi tersebut. Minapoli sebagai inovasiMinapoli sendiri adalah salah satu inovasi pada bidang marketplace akuakultur. Alasan yang dikemukakan oleh Rully Setya Purnama dibalik terbentuknya Minapoli, adalah berasal dari pengalaman beliau yang pernah kesulitan untuk mendapatkan akses informasi terkait kebutuhan akuakultur. Berangkat dari situ, akhirnya Minapoli dibuat untuk menjadi marketplace sebagai tempat mencari sarana prasaran akuakultur secara online. Beliau berharap agar semakin banyak anak-anak muda yang berinovasi dalam dunia akuakultur. “Dengan inovasi kita akan memiliki harapan dan solusi terhadap tantangan yang ada. Serta dengan inovasi kita punya masa depan,” tutupnya pada episode pertama PodcastMina episode 1. Dengarkan lebih lengkapnya di Spotify Minapoli ! ...
Maine Shellfish Farmers Gaining Confidence With Scallops
Terkini

Maine Shellfish Farmers Gaining Confidence With Scallops

In Maine, Atlantic sea scallops (Placopecten magellanicus) are one of the most valuable fisheries in U.S. waters, the target of deep-sea draggers and divers on dayboats.But compared to a seasonal fishery, an aquaculture crop has the key advantage of a year-round supply and steady pricing. In an attempt to build a fledgling scallop farming industry, Maine shellfish farmers started trialling a Japanese technique called ear hanging in 2017. Taking advantage of a sister state agreement with Aomori Prefecture in northern Japan, growers in Maine are working to establish semi-automated commercial aquaculture operations (the Advocate covered these efforts in 2016).Since then, progress has accelerated. In 2018, community development and business advising firm Coastal Enterprises Inc. (CEI), which has been part of the ear hanging work since 2016, received a grant from the Foundation for Food and Agriculture Research for a three-year program to further develop ear hanging in Maine.CEI purchased three machines from Mutsu Kaden Tokki Co., Ltd., in Mutsu City, Aomori. Five farms have utilized the equipment implementing small-scale commercial trials with several thousand scallops on each farm, while market research by CEI has been gauging the potential demand for ear-hung farmed scallops.“After a trip to Japan in 1999, people in Maine began collecting wild seed and releasing it into the wild as a stock enhancement technique. In more recent years they have begun retaining it and trying to farm it,” said Hugh Cowperthwaite, a senior program director at CEI. “Most of the early work had been conducted using bottom cages, but scallops don’t necessarily thrive when they’re packed together. Meanwhile, Aomori has an 85-year old industry with specialized techniques for scallop farming and we wanted to try them here.”Ear hanging involves drilling a small hole through the shell of the scallop near the hinge. Plastic pins with a small barb called age pins are then pushed through a vertical dropper line and scallops are pinned to it in pairs through the hole in their shells. The lines are then suspended in the ocean from a horizontal longline submerged several feet below the surface. The flow of the water allows the scallops to constantly feed, offers easy access to nutrients and helps the adductor muscle grow larger. They’re also protected from bottom dwelling predators and grow in un-crowded conditions.Japan’s machinery and techniques are likely to have key impacts on Maine’s scallop farming in terms of efficiency and the reduction of labor costs.Japan’s machinery and techniques are likely to have key impacts on Maine’s scallop farming in terms of efficiency and the reduction of labor costs, said Alex de Koning of Hollander and de Koning Mussel Farms, which is testing the ear-hanging technique.“Ear hanging by hand isn’t cost effective enough to run a full-size business, and a farm can’t be financially sustainable if labor costs are high,” he said. “But with a machine, one person could easily handle 10,000 scallops a day compared to 500 an hour by hand. A machine will also get efficiency high enough that it is no longer cost prohibitive because of labor costs, and you’ll be able to compete on price well enough to take a bite out of the much larger adductor muscle market.”With consumer demand for scallops high, farmers hope that ear hanging will result in commercial-scale operations, but Cowperthwaite warned there are still some issues, in particular biofouling and adequate water depth.“Most farms sites we have tried in Maine are 50 to 55 feet deep but in Japan they typically farm in at least 75 feet or more,” he said. “They hang their scallops below the upper light zone where biofouling is intensified. Once you have fouling on your gear and scallops, it really impacts the efficiency of your husbandry down the line.”In order to address this, de Koning’s farm was selected for its deeper depths of 100 to 150 feet. With 4,000 scallops now hung there, and an automatic ear hanging machine arriving next spring, de Koning is confident that things will take off.“There are still some challenges and a lot of guess and check. It’s a matter of density, water current, food availability, how close you put the lines to each other, the ideal depth in which to hang the lines. But with the help of Japan’s equipment I believe Maine’s scallop farming will develop,” he said.“We’re a few years into this work but we’re on a good track and we’ll see what we can produce at the deep water sites,” said Cowperthwaite. “With the right farmer, proper husbandry techniques and minimal biofouling, we could have an incredible product.”In Japan, growing scallops suspended from longlines has been proven to be better than cages on the sea floor, but farms in Maine must determine if the Japanese machinery can work with scallops that are native to their shores. A grader sorts the scallops by size and a drilling machine drills a hole into the hinge of each scallop shell. Workers then have to insert the plastic pins into the holes by hand, which fastens the scallops to the dropper lines. The scallop washer is a machine used to remove organic material from the shells and lines.While it’s yet unclear whether scallop farming will be profitable long-term, CEI’s market analysis of the technique’s prospects is promising.While much of this can be replicated, there are some differences between Japanese scallops (Patinopecten yessoensis) and Atlantic sea scallops. Atlantics have a slightly flatter shell with thin edges, while the shell of Japanese scallops is more ridged, adding to overall strength and stability. Japanese scallops have a larger cup and grow fast. Atlantic sea scallops appear to be more fragile and slower growing.“The machinery is high quality, stainless steel and very efficient so it hasn’t required modification but that’s not to say that there couldn’t be improvements,” said Cowperthwaite. “We’ve been very fortunate to have an on-going relationship with the Japanese. If we have questions, they’re very open and responsive.”“It’s a case of setting the springs a little weaker so you don’t crush the scallops, letting them get a bit bigger before certain operations or lowering the water pressure,” said de Koning. “The machines are relatively adjustable and can fit our scallops within the set points.”As ear hanging is still being tested, it’s unclear whether it will be profitable long-term but CEI’s market analysis of the technique’s prospects is promising, with strong market and consumer acceptance and a market for shellfish production. CEI is now working with a scallop farmer in Stonington (who uses lantern nets exclusively) to publish a cookbook on ways to prepare scallops. With seafood primarily a restaurant experience in the United States, CEI’s aim is to help educate both home consumers and chefs alike that farmed sea scallops are a premium seafood product that can be enjoyed in a restaurant or even at home, something that’s becoming more important as people stay at home during the coronavirus pandemic.Meanwhile in Japan, Mitsuru Sugiyama of Mutsu Kaden Tokki Co. is excited about developments in Maine.“They have a strong intention to adopt ear hanging. They took the trouble to go all the way to Japan and see the technique for themselves. They’re enthusiastic and we’ll continue to cooperate with them in future. We’ve learned that like Japan, the culture method, timing, work schedule and process differ depending on region, and that Maine also needs a farming method that’s suitable for its local environment,” he said. “While we continue to test ear hanging, various issues may arise but we’re willing to support the team in Maine and tackle these together. We hope that they’ll increase production and maintain their good quality farmed scallops.”Source: Global Aquaculture Alliance ...
Prof Rokhmin Dahuri: Ikan Hias Sumbang Devisa Rp 500 Miliar
Terkini

Prof Rokhmin Dahuri: Ikan Hias Sumbang Devisa Rp 500 Miliar

Komoditas ikan hias tidak hanya cantik, melainkan juga penyumbang devisa yang cukup penting. “Ikan hias  mempunyai peran stretagis dalam perekonomian Indonesia. Salah satunya, ikan hias merupakan penyumbang devisa yang cukup besar, sekitar  33,2 juta dolar AS  (Rp 500 miliar) pada 2019, dan cenderung meningkat sejak awal tahun 2000-an,” kata Koordinator Penasehat Menteri Kelautan dan Perikanan 2020-2024, Prof Dr  Ir  Rokhmin Dahuri  MS.Ia mengemukakan hal tersebut  pada Temu Koordinasi antara Stakeholder  Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, di  Swiss Belhotel Airport Hub-Tangerang,  Banten, Selasa (29/9).Ia menjelaskan, periode 2014-2019, tren  nilai ekspor ikan hias Indonesia meningkat rata-rata 10,2 persen per tahun, dengan dominasi dari jenis ikan hias air tawar (73,7%). Periode 2014-2019, Indonesia selalu menduduki posisi 5 terbesar dunia sebagai negara eksportir ikan hias.  “Pada 2019, Indonesia menduduki posisi ke-3,  dengan kontribusi 9,9 persen terhadap total ekspor ikan hias dunia,” tuturnya.Baca juga: Potensi Besar, Ikan Hias Bisa Jadi Pendorong Ekspor PerikananIa menambahkan,  hias hias merupakan penyedia lapangan kerja yang lumayan besar.  “Sekitar 30.000 orang bekerja di kegiatan on-farm dan 45.000 bekerja di kegiatan off-farm. Bisnis ikan hias juga membangkitkan multiplier effects yang besar,” ujar Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan-IPB itu dalam rilis yang diterima Republika.co.id.Peran strategis lainnya adalah membantu mengurangi pengangguran dan kemiskinan dan pengangguran.  “Pendapatan rata-rata per rumah tangga pembudidaya ikan hias mencapai Rp 50.484.000 /tahun atau  sekitar Rp 4,2 juta /bulan, jauh lebih besar dibanding pendapatan dari usaha pertanian lainnya,” ungkap ketua umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI).Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri MS menyampaikan paparan tentang cara meraih peluang ekspor ikan hias melalui penerapan jaminan kesehatan ikan dalam mendukung peningkatan devisa negara sektor kelautan dan perikanan.  (Foto: Dok KKP)Prof Rokhmin menjelaskan, dalam dunia perdagangan ikan hias dibagi menjadi empat: 1) ikan hias air tawar (freshwater ornamental fish); 2) ikan hias air laut (marine ornamental fish); 3) tanaman hias air tawar (freshwater ornamental plant/aquatic plant); dan 4) kerang kerangan atau biota laut (invertebrata)Ia mengemukakan, segmentasi pasar ikan hias endemik terdiri dari pasar lokal/domestik, dan pasar ekspor/internasional.  Pasar lokal/domestik mencakup: pasar tradisional/bursa (UMKM), toko/retailer (UMKM), supplier, eksportir, dan hobies . Sedangkan pasar ekspor/internasional terdiri dari Asia, Eropa, Timur Tengah dan lain-lain.Rokhmin mengatakan Indonesia mempunyai potensi ikan hias yang sangat besar.  “Indonesia memiliki sumberdaya ikan hias yang melimpah, setidaknya terdapat 400 spesies ikan hias air tawar dan 650 spesies ikan hias air laut, sehingga dijuluki sebagai Home of Hundreds Exotic Ornamental Fish Species,” ujarnya.Baca juga: Hilirisasi Inovasi Teknologi Ikan HiasIa menambahkan, stok ikan hias laut Indonesia diprediksi mencapai 3 miliar ekor, dengan potensi lestari sekitar 2,4 miliar ekor, tersebar terutama di lima  wilayah, yaitu: Laut Cina Selatan, Samudera Hindia, Laut Makasar & Laut Flores, Teluk Tomini & Laut Halmahera, dan Laut Banda. “Hingga saat ini baru 90 spesies ikan hias yang berhasil dibudidayakan atau hanya sekitar 7%,” ungkapnya.Data tahun 2018 menunjukkan, jumlah rumah tangga pembudidaya (RTP)  ikan hias mencapai 29.006 RT.  Mereka  sebagian besar merupakan RTP ikan hias air tawar (98,7%) dan terkonsentrasi di Provinsi  Jawa Timur (28,6%), Jawa Barat (21,4%), dan Kalimantan Barat (16,5%).Rokhmin juga menyebutkan, Indonesia mempunyai peluang ekspor dan daya saing yang tinggi terkait ikan hias. “Seiring dengan pertambahan penduduk dunia, meningkatnya daya beli (disposable income), dan ikan hias telah menjadi hobi yang paling popular di dunia. Maka, permintaan akan semakin meningkat. Ini berarti  potensi sumberdaya ikan hias Indonesia menjadi semakin strategis,” ujarnya. Selain itu, kata Rokhmin,  Indonesia memiliki potensi produksi dan keanekaragaman jenis (species diversity) ikan hias tertinggi di dunia.  Sementara, Singapura sebagai eksportir utama dunia saat ini mengalami penurunan ekspor cukup signifikan (-8% per tahun).Baca juga: Aplikasi untuk Menjaga dan Merawat Ekosistem Ikan Hias di IndonesiaIa juga menyebutkan, kecenderungan (tren) pasar ikan hias sangat dipengaruhi oleh: gaya hidup konsumen, teknologi pembudidayaan, dan riset pengembangan produk. “Seiring perkembangan teknologi, maka semakin mudah untuk memasarkan ikan hias ke seluruh pasar domestik maupun global (melalui media sosial/marketplace), dan mengirimkan ikan hias (transhipper),” tuturnya.Pada kesempatan tersebut, Rokhmin memaparkan kebijakan pengembangan ekonomi ikan hias  untuk meningkatkan nilai ekspor, pertumbuhan ekonomi inklusif, dan kesejahteraan rakyat secara berkelanjutan.  Kebijakan tersebut antara lain  adalah peningkatan promosi dan pemasaran di dalam maupun luar negeri  untuk penguatan pasar yang ada saat ini (existing) dan pengembangan pasar baru. Kemudian, peningkatan produksi ikan hias dari usaha penangkapan sesuai dengan batas-batas kelestarian stok ikan: tingkat (laju) penangkapan < 80% MSY (Maximum Sustainable Yield = Potensi Produksi Lestari) dengan teknologi penangkapan ikan yang ramah lingkungan. “Tidak kalah pentingnya, penguatan teknologi budidaya untuk spesies-spesies yang sudah berhasil dibudidayakan.Pengembangan budidaya spesies-spesies baru,” tuturnya.Petani memilah dan memberi pakan ikan cupang hias budidaya rumahan di Desa Doy Ulee Kareng, Banda Aceh, Aceh, Ahad (20/9/2020). Budidaya ikan cupang hias menjadi salah satu bisnis rumahan yang kembali berkembang sejak pandemi COVID-19 dengan sistim pemasaran secara daring. ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/foc. - (ANTARA/Irwansyah Putra)Kebijakan lainnya adalah revitalisasi ‘Raiser’ Cibinong dan pembangunan ‘Raiser’ baru di sejumlah daerah sesuai kebutuhan; peningkatan teknologi biologi molekuler dan rekayasa genetik untuk memperbaiki sifat genetik dan fenotip ikan hias, dan product development (spesies/varietas ikan hias baru); dan  peningkatan tekonologi pengemasan (packaging).Di samping itu,  kata Rokhmin, perbaikan sistem tata niaga/supply chain system (nelayan/pembudidaya – pengepul – trader/eksportir – buyer dalam/luar  negeri) dan pengembangan sistem logistik ikan hias nasional. “Ini penting guna peningkatan produktivitas, efisiensi, daya saing, dan pembagiaan keuntungan (profit sharing) yang mensejahterakan dan berkeadilan,” tuturnya. “Tidak kalah pentingnya adalah kebijakan dan regulasi pemerintah (seperti fiskal, perbankan, penangkapan ikan, budidaya ikan, dan iklim investasi) harus lebih kondusif bagi keberhasilan pembangunan dan bisnis ikan hias yang mensejahterakan dan berkelanjutan (sustainable),” papar Prof Rokhmin Dahuri.Sumber: RepublikaTentang MinapoliMinapoli merupakan marketplace++ akuakultur no. 1 di Indonesia dan juga sebagai platform jaringan informasi dan bisnis akuakultur terintegrasi. Dengan memanfaatkan teknologi, pembudidaya dapat menemukan produk akuakultur dengan mudah dan menghemat waktu di Minapoli. Platform ini menyediakan produk-produk akuakultur dengan penawaran harga terbaik dari supplier yang terpercaya. Selain itu, bentuk dukungan Minapoli untuk industri akuakultur adalah dengan menghadirkan tiga fitur utama yang dapat digunakan oleh seluruh pembudidaya yaitu Pasarmina, Infomina, dan Eventmina. ...
Soren Dawody’s Sustainable Aquaculture is Helping Shape Grenada’s Economy
Terkini

Soren Dawody’s Sustainable Aquaculture is Helping Shape Grenada’s Economy

Nestled in the picturesque Eastern Caribbean Sea, Grenada, often called “the Spice Isle,” is known for its dramatic scenery, vibrant tourist economy, and bustling export trade in aromatic spices. Since the economic catastrophe of Hurricane Ivan in 2004, the Government of Grenada has worked to shore up export-oriented institutions and pursue deeper integration with other Eastern Caribbean states.Unfortunately, despite registering a 3.1% bump in GDP for 2019, Grenada’s economy remains deeply reliant on international travel and tourism. Thus, like many other countries with tourism-based economies, Grenada has been hit particularly hard by the COVID-19 pandemic. While the government has floated the idea of expanding the exportable spice trade to offset the tourism industry’s losses, the fact remains that island-based spice and cocoa plantations in the Caribbean remain enormously vulnerable to regional hurricanes and fluctuating rainfall patterns.Despite the breakneck pace of COVID-19 vaccine development, the broad consensus amongst economists and epidemiologists is that some form of travel restrictions will remain in force through the rest of 2020 and likely into early 2021. Faced with a protracted hiatus in overseas visitors, many tourism-dependent economies have had no other option but to reshape their industry base and restructure their growth outlook. In Grenada, this process has already been impeded by the country’s relatively weak business environment and low-skill labor market.Also read: Using Supplemental Amino Acids to Reduce Dietary Protein Levels of Nile Tilapia Gives Economic and Environmental BenefitsWith its principal industry lying dormant and its broader economy stuck in limbo, Grenada is now having difficulty attracting foreign direct investment (FDI). Absent a sustained inflow of FDI, Grenada risks being locked out of several much-needed growth modifiers, including infrastructure modernization and expansion, accessible commercial borrowing, and elevated entrepreneurial activity.To combat Grenada’s ongoing drought in foreign capital, a small group of investors and entrepreneurs are leveraging private-public joint ventures with the Government of Grenada to boost FDI via the country’s Citizenship by Investment program. One such venture is Grenada Sustainable Aquaculture Ltd (GSA), an environmentally-conscious and highly scalable initiative to diversify Grenada’s economy, upskill its job market, and boost its lagging GDP. Since it was endorsed as a Citizenship by Investment Project, GSA has had a 100% success rate in its investors receiving citizenship in Grenada.GSA is the brainchild of Soren Dawody, a veteran entrepreneur with extensive experience in real estate investments and development projects. A strident advocate for economic justice, Dawody has spent years working alongside governmental and non-governmental organizations in some of the world’s least developed economies. By leveraging joint ventures between the public and private sector, Dawody has helped stimulate economic development on the local level.Also read: Sustainable Aquaculture to Feed The WorldIn the case of Grenada, Dawody has identified an economy that is in dire need of diversified, joint venture enterprise. Approved and endorsed by the Government of Grenada, GSA’s flagship initiative is the establishment of a sustainable aquaculture farm in the heart of Grenada. Utilizing modern, zero-water-exchange production systems, GSA’s aquaculture is designed to synergize with local fishing operations without posing any measurable detriment to the surrounding environment.According to GSA projections, once their aquaculture is equipped with mature fish stocks, it’s per annum production will be capable of scaling to more than 8,000 tons of high-grade shrimp and fish products. Once processed, these products will be available for export to distributors in the lucrative US and South American seafood import markets. Of course, depending on demand within Grenada, some portion of GSA’s shrimp and fish products will inevitably be sold to local markets, resorts, and restaurants. While not as profitable as a pure export model, GSA’s hybrid distribution plan will do far more to help the people of Grenada, improving regional food security and fueling competition across the Caribbean’s nascent aquaculture sector.Even accounting for local consumption, GSA predicts that their flagship aquaculture farm will be cash flow positive within three years of operation. Once its cash flow transition is complete, GSA’s offshore farm is expected to singlehandedly account for a 9% bump in Grenada’s GDP. Moreover, as a premium fishery project, the construction and management of the GSA aquaculture will create over 400 long-term local jobs.Also read: Study Backs Offshore Aquaculture ExpansionMake no mistake, Dawody’s aquaculture initiative isn’t envisioned as something that will topple tourism and real estate as the mainstays of Grenada’s economy. Instead, Dawody hopes that his fish and shrimp farm, with its cutting edge aquaculture design and ultra-modern technical equipment, will stimulate substantive wage growth and reduce the prevalence of manual labor in the Grenadian economy. In addition to its more complex construction requirements, an offshore aquaculture will require a range of dedicated technical roles, with specializations across everything from marine studies and industrial information technology to climate science and aqua-farming operations.Soren Dawody is a prime example of the transformative power of altruistic investment. Joint venture initiatives like GSA mean countries can be well-positioned to deliver new economic opportunities and cushion losses to principal economic industries.Source: London Post ...