Infomina - Kepiting & Rajungan

Minapoli adalah platform jaringan infomasi dan bisnis perikanan terintegrasi. Buat dan bagikan informasi perikanan sekarang dan temukan manfaatnya terkoneksi dengan jaringan Minapoli.

Kepiting & Rajungan

Pembesaran Kepiting Bakau (Scylla Serrate) Skala Kecil
Kepiting & Rajungan

Pembesaran Kepiting Bakau (Scylla Serrate) Skala Kecil

Sumberdaya kelautan dan perikanan merupakan salah satu kekayaan alam yang dimiliki Provinsi Riau dan banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Di wilayah pesisir Provinsi Riau pemanfaatan kepiting bakau sebagian besar adalah penangkapan. Di Indonesia Ada dua jenis kepiting yang memiliki nilai komersil, yakni kepiting bakau dan rajungan. Di dunia, kepiting bakau sendiri terdiri atas 4 spesies dan keempatnya ditemukan di Indonesia, yakni: kepiting bakau merah (Scylla olivacea) atau di dunia internasional dikenal dengan nama red/orange mud crab, kepiting bakau hijau (S.serrata) yang dikenal sebagai giant mud crab karena ukurannya yang dapat mencapai 2-3 kg per ekor, S. tranquebarica (Kepiting bakau ungu) juga dapat mencapai ukuran besar dan S. paramamosain (kepiting bakau putih). Di Indonesia, spesies rajungan yang terkenal dan memiliki nilai ekspor adalah Portunus pelagicus, juga dikenal sebagai Swimming Crab.Berkembangnya pangsa pasar kepiting bakau (Scylla serrata) baik di dalam maupun di luar negeri adalah suatu tantangan untuk meningkatkan produksi secara berkesinambungan. Dengan mengandalkan produksi semata dari alam/tangkapan jelas sepenuhnya dapat diharapkan kesinambungan produksinya. Untuk itu perlu adanya usaha budidaya bagi jenis crustacea yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Usaha budidaya kepiting bakau harus didukung oleh tersedianya lahan yang bebas polusi, benih dan kemampuan pengelolaan secara teknis maupun manajemen.LOKASI BUDIDAYAPembesaran kepiting bakau bisa dilakukan di wadah Tambak pemeliharaan kepiting diusahakan mempunyai kedalaman 0,8-1,0 meter dengan salinitas air antara 15-30 ppt. Tanah tambak berlumpur dengan tekstur tanah liat berpasir (sandy clay) atau lempung berliat (silty loam) dan perbedaan pasang surut antara 1,5-2 meter. Disamping syarat seperti tersebut diatas, pada prinsipnya tambak pemeliharaan bandeng maupun udang tradisional dapat digunakan sebagai tempat pemeliharaan kepiting.Faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan lokasi pemeliharaan kepiting, antara lain :- Air yang digunakan bebas dari pencemaran dan jumlahnya cukup.- Tersedia pakan yang cukup dan terjamin kontinyuitasnya.- Terdapat sarana dan prasaranaproduksi dan pemasarannya.- Tenaga yang terampil dan menguasai teknis budidaya kepiting.WADAH PEMELIHARAANPembudidaya yang akan usaha pembesaran budidaya kepiting harus mempersiapkan crab box,serta pot bunga/ember yang bisa juga terbuat dari bahan bambu. Tidak hanya itu, mereka juga harus mempersiapkan rakit. Nantinya, rakit akan digunakan untuk mengapungkan crab box, yang selanjutnya dipakai untuk jembatan kontrol dan rumah jaga.Crab box biasanya terbuat dari bahan polietilene, dan terdiri atas 2 bagian yaitu badan serta penutup. Rakit terbuat dari pipa paralon, atau bisa juga terbuat dari bambu. Penyiapan sarana selanjutnya adalah  pemasangan instalasi rakit dan jembatan kontrol.Produksi pembesaran kepiting bakau sebaiknya dilakukan dalam kurungan secara inividu.  Hal ini penting karena bila dipelihara bersama kepiting lain sangat rawan terjadi kanibalisme saat kepiting lainnya molting.  Keranjang plastik bekas buah atau kurungan dari bilah-bilah bambu dapat digunakan sebagai wadah pemeliharaan.PENEBARAN BENIHPada lokasi penghasil kepiting tangkapan dari alam, pada musim benih untuk pembesaran kepiting bakau bisa benih berasal dari masuknya secara alami pada saat pasang surut air. Setelah beberapa bulan mulai dilakukan panen selektif dengan memungut kepiting yang berukuran siap jual. Kemudian benih pembesaran kepiting bakau bisa didapat dari hasil tangkapan dengan ukuran tertentu (100-200 gr per ekor) untuk memperoleh ukuran atau kegemukan yang lebih besar.PAKANBerbagai jenis pakan dalam pembesaran kepiting bakau adalah ikan rucah segar lebih baik ditinjau dari fisik maupun kimiawi dan peluang untuk segera dimakan lebih cepat karena begitu ditebar tidak akan segera dimakan oleh kepiting. Kemauan makan kepiting muda biasanya lebih besar, karena pada periode ini dibutuhkan sejumlah makanan yang cukup banyak untuk pertumbuhan dan proses ganti kulit. Kemauan makan akan berkurang pada saat kepiting sedang bertelur, dan puncaknya setelah telur keluar sepertinya kepiting berpuasa. Pemberian pakan dilakukan pada pagi dan sore hari.PENANGGULANGAN HAMA DAN PENYAKITHampir tidak ada hama/penyakitJika terjadi kematian/murtalitas disebabkan karena bibit kepiting kroyo terlalu lama di pengepul.Kematian banyak terjadi pada awal penebaran karena proses adaptasi.Antisipasi terhadap hama tetap dilakukan  dengan obat-obatan ramah lingkungan (saphonin)untuk memberantas predator, bukan obat kimia.SIRKULASI AIRDilakukan kontrol panen setiap 3 jam sekali, kualitas air akan cepat diketahui perkembangan dari pembesaran kepiting bakau. Pergantian air harus segera dilakukan ketika hasil produksi menurun sedangkan kematian/murtalitas meningkat. Harus ada petak tambak untuk tandon air/penampungan. Kadar garam/salinitas yang ideal sekitar 20 ppm, (tidak baik untuk air tawar)PENANGANAN PANEN DAN PASCA PANENSetelah dipanen kemudian direndam di air tawar pada bak/ember selama 30 menit. Rendaman dilakukan untuk mengeluarkan lendir kadar garam pada kepiting yang baru moulting(ganti kulit baru). Setelah direndam ditempatkan pada keranjang khusus untuk mengemas yang diberi alas dan tutup dengan handuk basah. Tempatkan pada tempat yang bebas semut, lalat maupun nyamuk.PANEN KEPITING BAKAUPanen kepiting hasil pembesaran disesuaikan dengan berat kepiting yang diinginkan dan permintaan pasar. Panen pembesaran kepiting bakau yang menguntungkan dalam penanganannya setelah dipanen adalah kemampuannya bertahan hidup cukup lama pada kondisi tanpa air. Namun demikian, penanganan yang kurang baik tetap saja akan menurunkan kondisi kesehatannya dan dapat menyebabkan kematian.Apabila kepiting setelah dipanen langsung dimasukkan kedalam keranjang dengan mengikat capit, kaki jalan dan kaki renangnya yang merupakan alat gerak yang cukup kuat, maka kepiting tersebut akan saling capit satu dengan yang lainnya. Sumber: Riau.go.id ...
Pelajari Bagaimana Kepiting Bakau Memijah
Kepiting & Rajungan

Pelajari Bagaimana Kepiting Bakau Memijah

Habitat yang nyaman untuk kepiting bakauKepiting bakau merupakan salah satu komoditas primadona di ekosistem mangrove. Selain bernilai ekonomis tinggi, salah satu jenis krustasea ini juga memiliki kandungan protein yang cukup tinggi untuk tubuh. Seperti namanya, sebagian besar kepiting bakau dapat ditemukan di daerah hutan bakau yang merupakan habitat utama untuk tumbuh dan berkembang (nursery ground). Selain itu umumnya kepiting bakau suka tinggal di daerah estuari, rawa, dan mangrove.Daerah hutan bakau cocok untuk kepiting ini dikarenakan terdapat organisme kecil yang manjadi makannya. Secara alami kepiting bakau menyukai daerah perairan payau yang dasarnya berlumpur dan berada di sepanjang garis pantai.Kepiting bakau melangsungkan perkawinan di perairan bakau, kemudian secara berangsur-angsur sesuai dengan perkembangan telurnya, betina akan migrasi ke laut menjauhi pantai untuk memijah. Sedangkan kepiting jantan umumnya tetap berada di perairan. Perkembangan hidup kepiting dimulai dari telur, zoea, megalopa, juvenile (crablet) hingga akhirnya menjadi kepiting dewasa.Baca juga: Persiapan Pembenihan Kepiting BakauPemijahan kepiting bakau secara alamiKepiting betina akan memijah saat lebar karapas berkisar 103-148 mm, sedangkan jantan antara 141-166 mm. Lama pertumbuhan mulai telur hingga kepiting dewasa dengan lebar kerapas 114, 2 mm memerlukan waktu setidaknya 369 hari atau kurang lebih 1 tahun. Tingkat pertumbuhan kepiting bakau dapat dibedakan berdasarkan lebar karapas, yaitu juwana (20 – 70 mm), menjelang dewasa (70 – 200 mm) dan dewasa (> 200 mm)Di Indonesia pemijahan kepiting bakau dilakukan sepanjang tahun. Puncak kegiatan pemijahan kepiting bakau di wilayah perairan Indonesia belum diketahui secara pasti, namun diduga berkisar antara bulan Mei hingga September. Pembuahan pada krustasea terjadi secara internal, terjadi satu minggu atau beberapa minggu setelah kopulasi. Kepiting jantan memasukan pleopod I ke dalam oviduk dan pleopod II berperan sebagai pompa sperma. Spermatofor akan disimpan di dalam spermateka betina hingga telur siap dibuahi. Sperma yang disimpan di dalam spermateka betina masih tetap hidup dan aktif untuk beberapa bulan serta dapat digunakan untuk dua atau tiga kali pembuahan telur. Telur yang sudah terfertilisasi tidak dilepaskan ke dalam air melainkan segera menempel pada rambut-rambut.Baca juga: Budidaya Kepiting Menguntungkan, Cocok Jadi Program NasionalPengeraman telur kepitingJumlah telur yang dihasilkan tergantung dari ukuran induknya, semakin berat induk maka akan semakin banyak jumlah telur yang dihasilkan. Seekor induk betina kepiting bakau yang beratnya 300 gram dapat menghasilkan telur 3 – 3,5 juta butir telur.  Perkembangan telur kepiting bakau yang baru difertilisasi dapat diamati berwarna kuning-oranye. Namun, semakin berkembangnya embrio dalam telur maka warna telur akan berubah menjadi semakin gelap, dimulai dari kecoklatan, coklat, dan akhirnya kehitaman ketika hampir menetas. Negara yang beriklim tropis seperti Indonesia, membuat telur kepiting akan dierami oleh induknya selama 7 – 12 hari sampai menetas (tergantung tingginya suhu air). Ketika proses pengeraman akan terlihat aktifitas induk yang selalu menggerakan kaki-kaki renangnya dan sering tampak berdiri tegak pada kaki dayungnya. Tujuan dari pergerakan induk tersebut adalah proses pembalikan telur supaya mendapat aliran air segar yang cukup oksigen sehingga dapat berkembang dengan baik sesuai dengan tahapannya.Seleksi induk kepiting bakauKualitas induk sangat menentukan kuantitas dan kualitas telur yang akan dihasilkan, sehingga kondisi induk kepiting Anda perlu diperhatikan dengan benar. Induk kepiting bakau yang digunakan untuk kegiatan pembenihan masih menggunakan induk dari alam. Pengadaan dan proses seleksi induk dilakukan langsung di lokasi penangkapan atau pengumpul kepiting bakau.Kegiatan seleksi induk dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:a. Seleksi jenis/spesies induk kepiting dilakukan dengan pengamatan ciri-ciri morfologis secara langsungb. Memiliki kondisi fisik yang sehat, bersih, warna karapas cerah, aktif bergerak dan organ tubuhnya lengkapProses ini dilakukan dengan tahapan pengamatan sebagai berikut:- Kaki renang ditarik lalu dilepas, maka akan respon dengan gerak cepat dan kembali ke posisi semula- Pada saat disentuh tangkai mata langsung masuk (responsive)- Mulut tidak mengeluarkan busac. Berat induk minimal telah 250 gramd. Telah melakukan perkawinan di alam sebelumnya dengan tingkat kematangan gonad (TKG) IIIPengamatan TKG dilakukan secara morfologis dengan mengamati sambungan antara karapas dengan abdomen terakhir. Selain itu Anda juga perlu melihat perkembangan perubahan warna gonad pada induk betina. TKG I ditandai oleh warna kuning keputihan, TKG II berwarna kuning keemasan, TKG III berwarna oranye muda dan TKG IV bewarna oranye.Baca juga: Jateng Jadi Salah Satu Penopang Ekspor RajunganPengangkutan IndukInduk kepiting yang telah diseleksi kemudian diikat bagian capitnya dengan tali raffia. Sebaiknya bagian kaki jalan tidak diikat untuk menghindari stress dan kram pada saat pengangkutan. Kemudian induk dimasukkan ke dalam Styrofoam yang telah disiapkan.Styrofoam yang digunakan untuk pengangkutan kepiting dilubangi pada bagian sisi-sisinya. Bagian dalam Styrofoam ditaburi kopi dan diberi alas koran. Kepiting dimasukkan satu persatu dalam Styrofoam dengan posisi kepala menghadap ke atas, disusun berderet tanpa menyisakan ruang kosong hingga penuh. Tetap terdapat aliran udara pada pertemuan antar kepiting pada bagian samping. Setelah itu Styrofoam ditutup rapat dan induk kepting siap diangkut ke lokasi unit pembenihan. Pemeliharaan indukInduk kepiting bakau yang telah sampai di lokasi untuk pembenihan segera dilakukan pemeriksaan untuk melihat kondisi kesehatannya. Induk tersebut kemudian diaklimatisasi sebelum dilepas di bak pemeliharaan. Proses aklimatisasi ini sangat penting dilakukan untuk mengurangi stress selama pengangkutan yang dapat menyebabkan kematian selama pemeliharaan. Proses aklimatisasi dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut:1. Induk dimasukkan ke dalam wadah yang berisi air dengan parameter air: salinitas 28-30 ppt; pH 6,5-8,5; suhu 28-30⁰C dan dibiarkan selama 5 menit2. Induk kemudian diangkat dan ditiriskan. Dibiarkan selama 15 menit3. Induk disiram dengan air mengalir selama 30 menit4. Induk dilepaskan satu persatu tali pengikatnya dan dimasukkan ke bak pemeliharaan induk 5. Induk dipelihara pada bak pemeliharaan induk yang dilengkapi sekat-sekat pemeliharaan yang terbuat dari bambu atau kayu dengan kepadatan per sekat 1 ekor induk.Salinitas untuk pemeliharaan induk kepiting bakau berkisar 30 ± 1 ppt dengan ketinggian air berkisar 30 – 40 cm. Jenis pakan yang diberikan adalah kerang (Perna viridis), dan cumi-cumi (Loligo sp) dengan perbandingan 60% : 40%. Sedangkan untuk jumlah pakan yang diberikan adalah 15-25% dari total biomass, diberikan dua kali pada pagi dan sore. Pakan yang tidak termakan disifon keluar dari bak pemeliharaan agar mengurangi pencemparan pada lingkungan. Pergantian air dilakukan sebelum pemberian pakan sebanyak 100% setiap 2-3 hari sekali. Setelah pemeliharaan 5 hari biasanya induk betina akan memijah (melepaskan telur-telurnya), telur tersebut akan terbuahi oleh sperma yang tersimpan dalam kantong spermateka pada induk betina. Telur yang telah terfertilisasi tersebut akan menempel pada umbai-umbai rambut di bagian bawah abdomen. Sumber: Petunjuk Teknis Budidaya Kepiting Bakau Scylla serrata oleh Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara ...
Persiapan Pembenihan Kepiting Bakau
Kepiting & Rajungan

Persiapan Pembenihan Kepiting Bakau

Penyediaan benih kepiting bakau yang berkualitas memiliki permintaan yang besar di pasaran. Hal tersebut karena untuk dapat memkepiting bakau yang sehat dan berkualitas baik, diperlukan benih kepiting bakau yang juga berkualitasJika Anda ingin melakukan pembenihan kepiting bakau, keberhasilannya  akan sangat ditentukan oleh kegiatan persiapan yang baik sesuai dengan standar prosedur operasioal cara pembenihan ikan yang baik (CPIB). Persiapan sarana dan prasarana merupakan langkah awal pada proses pembenihan untuk menunjang keberhasilan kegiatan pembenihan kepiting bakau yang akan dilaksanakan.Baca juga: Teknik Pembenihan Ikan GuramiPersiapan Sarana dan PrasaranaPersiapan sarana prasarana meliputi kegiatan persiapan pada bak filtrasi, tandon air, bak kultur, dan pemeliharaan pakan alami, bak inuk, bak penetasan, bak pemeliharaan larva, dan lingkungan unit pembenihan. Adapun tahapan-tahapan kegiatan persiapan sarana dan prasarana unit pembenihan kepiting bakau meliputi kegiatan:a. Pengeringan bakBak-bak yang perlu dicuci serta dikeringkan adalah bak yang akan digunakan dalam proses pembenihan kepiting bakau. Bak-bak tersebut diantaranya adalah bak filtrasi, tandon air, bak kultur dan pemeliharaan pakan alami, bak induk, bak penetasan dan bak pemeliharaan larva dicuci dan digosok dengan deterjen untuk menghilangkan kotoroan yang mungkin masih menempel kemudian dibilas dengan air tawar dan dibiarkan kering 3-5 harib. Sterilisasi atau desinfeksi (pemberian kaporit) bak dan peralatanUntuk menghilangkan atau mengurangi bakteri pathogen yang mungkin melekat pada sarana pembenihan kepiting bakau, bak filtrasi, tandon air, bak kultur dan bak pemeliharaan pakan alami, bak induk, bak penetasan dan bak pemeliharaan larva disterilkan dengan larutan kaporit atau khlorin, dosis kaporit 30-50 ppm. Proses sterilisasi bak pembenihan dilakukan dengan cara melarutkan kaporit dengan dosis yang ada ke dalam air 100 liter, yang nantinya akan disiram merata ke seluruh permukaan bak dengan pompa air dan dibiarkan selama 24 jam.Seluruh peralatan pembenihkan disterilkan dengan merendamnya ke dalam larutan formalin adalah: gayung, ember, selang aerasi, batu aerasi, timah/pemberat aerasi, dan peralatan lainnya. Semua peralatan direndam terpisah menggunakan larutan formalin dengan dosis 100 ppm selama 24 jam.Baca juga: Jateng Jadi Salah Satu Penopang Ekspor Rajunganc. Pecucican bak dan peralatanPencucian bak pembenihan dilakukan untuk menghilangkan sisa-sisa kaporit yang masih mungkin melekat pada dinding dan dasar bak. Pencucian dilakukan dengan menggosok secara merata dan dibilas menggunakan air tawar. Peralatan yang telah direndam formalin selama 24 jam kemudian dibilas dengan air tawar hingga bersih. Peralatan tersebut kemudian dikeringkan minimal 24 jam sebelum digunakan.d. Pemasangan dan persiapan peralatan sebelum digunakanPeralatan yang telah dicuci dan siap digunakan seperti selang aerasi, batu aerasi dan timah/pemberat batu aerasi dipasang pada bak induk dan larva, sedangkan peralatan lainnya diletakkan dan dipersiapkan sesuai dengan fungsinya untuk menunjang proses pemeliharaan larva nantinya. Baca juga: Lima Manfaat Air Rendaman Daun Ketapang Bagi Ikan CupangPenyediaan Air BakuFaktor penting pada pembenihan kepiting bakau salah satunya adalah sistem pengelolaan air. Pada pembenihan terdapat sebutan air baku yang sudah disesuaikan dengan standar kualitas air yang diperlukan selama pembenihan. Pengelolaan air baku ini bertujuan untuk menunjang kehidupan benih kepiting bakau agar dapat dipelihara secara optimal.Air yang digunakan selama proses pembenihan, telah melalui proses fisika dan kimiawi. Proses persiapan air baku secara fisika dilakukan dengan filtrasi menggunakan metode sand filter. Filter tersebut dibuat bertingkat mulai dari lapisan batu kali, arang, dan pasir kwarsa, kemudian ditampung dalam bak tandon.Selanjutnya air baku untuk pembenihan kepiting bakau akan melalui proses kimiawi untuk memperoleh air yang steril dan terbebas dari organisme patogen seperti berbagai jenis bakteri, virus, jamur, dan mikroorganisme lain yang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan larva.Proses kimiawi pada penyediaan air baku unit pembenihan umumnya menggunakan kaporit atau kalsium hipoklorit (bahan aktif 60-70%) dengan dosis 15-30 ppm dan dibiarkan selama 12-24 jam tanpa aerasi. Setelah 24 jam sistem aerasi dijalankan untuk menetralkan residu klorin secara alamiah. Residu klorin dapat diukur menggunakan klorin test. Residu klorin pada air juga dapat dihilangkan dengan menambahkan sodium tiosulphate sebanyak 0,5 ppm untuk setiap 1 ppm residu klorin yang ada. Jika kandungan residu klorin telah netral, maka penyediaan air baku sudah siap untuk digunakan sebagai media pemeliharaan induk, produksi masal pakan alami, dan pemeliharaan larva / benih. Air yang sudah diolah kemudian ditambahkan ethylene diamine tetraacetic acid (EDTA) sebagai pengkelat logam berat sebanyak 5-20 ppm. Sebelum air digunakan untuk media pemeliharaan sebaikanya dilakukan pengecekan nilai parameter kualitas air yang sesuai dengan standar yang dibutuhkan untuk proses pembenihan kepiting bakau.Sumber: Juknis Pembenihan Kepiting Bakau oleh KKPTentang MinapoliMinapoli merupakan marketplace++ akuakultur no. 1 di Indonesia dan juga sebagai platform jaringan informasi dan bisnis akuakultur terintegrasi. Dengan memanfaatkan teknologi, pembudidaya dapat menemukan produk akuakultur dengan mudah dan menghemat waktu di Minapoli. Platform ini menyediakan produk-produk akuakultur dengan penawaran harga terbaik dari supplier yang terpercaya. Selain itu, bentuk dukungan Minapoli untuk industri akuakultur adalah dengan menghadirkan tiga fitur utama yang dapat digunakan oleh seluruh pembudidaya yaitu Pasarmina, Infomina, dan Eventmina. ...
Budidaya Kepiting Menguntungkan, Cocok Jadi Program Nasional
Kepiting & Rajungan

Budidaya Kepiting Menguntungkan, Cocok Jadi Program Nasional

Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan  IPB University, Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri MS mengunjungi Budidaya Kepiting Bakau Hardshell dan Softshell Sistem Apartemen di Marine Field Station atau Lab Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University, Ancol, Jakarta Utara, Ahad (14/6). Marine Field Station merupakan Laboratorium Ilmu Kelautan dilengkapi ruang-ruang kelas dan Laboratorium kering dan basah berikut bak bak percobaan indoor dan outdoor. Laboratorium tersebut digunakan sejak tahun 1980 yang merupakan hak pakai yang diberikan oleh Pemda DKI.Baca juga: Dilirik Investor, Pengawasan di Instalasi Pembenihan Kepiting Tarakan Perlu Ditingkatkan"Kegiatan penelitian dengan fokus marine culture yaitu untuk komoditas ikan kerapu, udang dan kepiting dilakukan di laboratorium Ancol dengan memanfaatkan fasilitas berupa bak-bak indoor maupun outdoor,” kata Rokhmin dalam rilis yang diterima Republika.co.idRokhmin yang juga ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) mengatakan budidaya khususnya kepiting yang dilakukan di Marine Filed Station tersebut sangat menguntungkan dan potensial. Sebab,  memiliki nilai ekonomi tinggi sekaligus mendongkrak sektor perianan budidaya.Baca juga: Crab Seed Production Techniques“Budidaya (pembesaran atau penggemukan) kepiting ini sangat menguntungkan dan sebulan bisa panen,” ujar Rokhmin yang  juga koordinator penasehat menteri kelautan dan perikanan 2019-2024 bidang riset dan daya saing.Dengan potensi dan keuntungan tersebut, mantan menteri kelautan dan perikanan era Kabinet Gotong Royong  itu berharap budidaya kepiting yang dikembangkan oleh Lab Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan  IPB University itu dapat dijadikan program nasional.“Budidaya kepiting bagus dijadikan program nasional untuk peningkatan  kesejahteraan masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil,” tutur ketua Dewan Pakar Masyarakat Perikanan Nusantara (MPN) itu.Sumber: Republika.co.idTentang MinapoliMinapoli merupakan marketplace++ akuakultur no. 1 di Indonesia dan juga sebagai platform jaringan informasi dan bisnis perikanan budidaya terintegrasi, sehingga pembudidaya dapat menemukan seluruh kebutuhan budidaya disini. Platform ini hadir untuk berkontribusi dan menjadi salah satu solusi dalam perkembangan industri perikanan budidaya. Bentuk dukungan Minapoli untuk industri akuakultur adalah dengan menghadirkan tiga fitur utama yang dapat digunakan oleh seluruh pelaku budidaya yaitu Pasarmina, Infomina, dan Eventmina.  ...
How Does Enzyme Activity Change When Crab Larvae Grow?
Kepiting & Rajungan

How Does Enzyme Activity Change When Crab Larvae Grow?

In order to develop a proper diet, it is necessary to understand the activity of protein hydrolytic enzyme through the stages of developing crab larvae.Sea crabs (Scylla paramamosain) are important cultured species in our country. With the characteristics of fast growth, high nutritional value, crab is a food with export value and a large consumption market, effectively from the crab farming models that have been bringing stable income to the region. At the seaside.In order to provide farmers with good quality crab stocks and to reduce the pressure on wild-caught species, crab production is increasingly concerned and developed. However, the survival rate in artificial seed production is still low, usually from 5-7%. With current technology, the larvae mortality rate in metamorphic stages is still high, culminating in the Zoae (Z1-Z3) and from Zoae-5 (Z5) to Megalopa stages, which is a big challenge for larval rearing process. In addition to disease caused by Vibrio, the low survival rate in mud crab seed production has been attributed to inadequate seed production technology due to lack of knowledge about larval development and digestive physiology.Importance of feed hydrolytic enzymes in crustaceansCrustaceans often lack enzymes necessary for hydrolysis of food. A number of studies have shown the importance of fresh food as the first food for fish larvae and mollusks, using enzymes in food to improve digestion until the digestive system becomes complete development.In order to successfully develop crab crab breeding technology, knowledge of the development of digestive enzymes is essential in the nutritional physiology and development of appropriate feed and feeding regimes necessary to meet meet the nutritional needs of crab larvae. However, studies on digestive enzyme characteristics of Scylla paramamosain crab larvae are very limited.This study describes the characteristics of some protein hydrolyzate enzymes (trypsin, chymotrypsin, pepsin, protease) as a basis for the formulation of reasonable diets in larval rearing, contributing to improved survival rates. of sea crab larvae.Protein hydrolytic activity changes as crab larvae developHealthy larvae were collected and treated by formol 200 ppm for 30 seconds before being placed in 3 nursery tanks, volume of 0.5m 3 , salinity 30 ‰, nursing density of 400 larvae / liter. Crab larvae were fed with Artemia 6 times daily. The tank has a bottom siphone and changes water every 3 days, each time changing 25% of the water. Check and maintain alkaline content at 100 - 120ppm NaHCO 3 . When the larvae were completely transferred to Zoae-4, they were collected and transferred to the 2m 3 composite tank , arranged at a density of about 50-70 larvae / liter. When the larvae moved to Megalope, proceed to place plastic mesh baskets for the larvae to cling and limit eating. The activity of protease, trypsin, chymotrypsin and pepsin was analyzed during larval development from Zoae-1 to Crab-1. The results showed that during the larval development stage, the activity of the protein hydrolytic enzyme of sea crabs had a large variation in each stage, in which the activity of protease and pepsin enzymes increased gradually (from 3.85 to 19.1 U / mg protein and 1.69 to 8.32 U / mg protein) in all larval stages, while trypsin and chymotrypsin activity from Zoae-1 to Zoae-5 is very low (0.92 - 0.99 and 1.15 -0.85 U / mg protein), there are major changes in the stages of Zoae-5, Megalope and Crab.In the Zoae-1 to Zoae-5 stage shows low activity of protein hydrolytic enzymes, to the Zoae-5, megalope stage, the enzyme activity is relatively complete, to the Megalope stage and to the metamorphosis to crab, Enzymes have a big change in finishing activity according to changes in morphology and feeding behavior of crabs. These results indicate changes in the activity of protein hydrolytic enzymes during the development of mud crab larvae, from which to select suitable food sources in the nursery process to suit each development stage. , contributing to raising the survival rate in the nursery process.Source: Tepbac ...
Jateng Jadi Salah Satu Penopang Ekspor Rajungan
Kepiting & Rajungan

Jateng Jadi Salah Satu Penopang Ekspor Rajungan

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bertekad menggenjot ekspor rajungan dengan cara terus mendorong perbaikan mutu komoditas tersebut sebagai salah satu unggulan ekspor Indonesia."Rajungan merupakan salah satu komoditas unggulan ekspor Indonesia pada 2019. Merujuk data sementara dari Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor rajungan termasuk di dalamnya kepiting sebesar 393 juta dolar AS, dengan volume 25,9 ribu ton," kata Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP Agus Suherman dalam siaran pers di Jakarta, Selasa (21/1/2020).Untuk itu, ujar dia, pada 2020 ini pihaknya mendorong berbagai daerah untuk terus mengekspor rajungan, salah satu adalah Jawa Tengah.Agus mengatakan, Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu daerah penghasil rajungan. Sampai dengan 21 Januari 2020, sebanyak 161 ton rajungan senilai Rp30,37 miliar diekspor dari Kabupaten Demak dan Rembang ke Amerika Serikat dan Hong Kong.Agus menambahkan ekspor produk rajungan tersebut berasal dari lima Unit Pengolahan Ikan (UPI) Rajungan yang berada di Kabupaten Demak dan Rembang."Salah satu pemasok utamanya Desa Betahwalang, Kabupaten Demak, yang kerap dikenal sebagai 'Kota Rajungan'," paparnya.Dirjen Penguatan Daya Saing KKP mengingatkan pangsa pasar rajungan sangat luas, seperti Amerika Serikat, China, Malaysia, Jepang, Singapura, Perancis, dan Inggris.Agus menerangkan saat ini Amerika Serikat masih menjadi pasar terbesar untuk ekspor komoditas rajungan yang didominasi dengan produk olahan dalam kemasan kedap udara atau kaleng.Namun, lanjutnya, tidak menutup kemungkinan permintaan akan terus bertambah dari negara lain seperti China yang menggemari produk rajungan dalam kondisi hidup, segar atau dingin.Sementara itu, masih menurut dia, Jepang banyak membeli produk rajungan yang diolah atau diawetkan tidak dalam kemasan kedap udara."Potensi pasar rajungan sangat luas, maka dari itu kami ingin terus meningkatkan produk komoditas rajungan dalam negeri," katanya. Agus berharap komoditas rajungan mampu memberikan kontribusi besar terhadap target ekspor produk perikanan 2020 sebesar 6,47 miliar dolar.Sumber : Bisnis.com ...
Crab Seed Production Techniques
Kepiting & Rajungan

Crab Seed Production Techniques

Crabs are one of the aquatic species with high nutritional and economic value. The successful production of artificial crabs contributes to the development of mud crab farming models in many localities throughout the country.Water treatmentThe water used has a salinity of 25 ‰ or more. After filling the sedimentation tank with water, apply potassium permanganate (KMnO4), concentration of 1.5 - 2 ppm (1.5 - 2 g / m3). Aeration of sedimentation tanks continuously for 30 minutes, followed by using CaCO3 powder (or Dolomite lime) with concentration of 50 g / m3 of water, continue to aerate vigorously for another 30 minutes. Then turn off the aeration to let the water settle all suspended organic matter. Whenever you see the clear water, pump to another tank through a filter bag to treat Chlorine.Raising parents clapPreparing the tank: The mother rearing tank is usually a cement tank, a sand compartment occupies 1/3 of the bottom of the tank, the thickness of the sand layer is about 5-7 cm, the remaining space is arranged with facing tiles. sheltered crabs. Feed water has a salinity of 30-32 vỗ. In tanks fitted with moderate aeration.Choose mother crabs: Choose the females weighing 450 - 600 g, fully legged, clean and full of bricks, preferably crabs from the sea (crabs caught by the rakes). Stocking crabs with a density of 2 fish / m2.Care: Feed the mother 2 breakfast and afternoon. Feed for crabs is paraplegia, nugget, oysters or blood cockle.Regularly check and remove uneaten food and waste siphons from the tank.Change the water for the mother tank every 2 days, completely changing 100%. Each time change the water catch the mother out of the tank, scrub and bathe with iodine (about 7 drops in a bucket containing 20 liters of salt water) for about 5 minutes and then transfer the crab to the new water tank.The period of raising is about 15 - 20 days, the mother lay eggs.Incubate and hatchHatching eggs: When the mother lays eggs, take them out and incubate in the incubator. Replace the whole water for crabs everyday. Iodine bath with Iodine, concentration of 15 ppm for 1 minute before releasing. Incubation period is about 10-12 days, the crabs hatch depending on the water temperature high or low.For hatching: When there are a few zoea larvae in the hatching box (usually on the 10th day), the mother will be transferred to hatching tank. Ordinary hatching tanks are plastic or composite tanks with a volume of about 200 - 500 liters, the water supplied to the hatching is similar to the water supplied to the nursery tanks, moderate aeration layout to ensure adequate oxygen but not too strong affecting the ovaries of the mother.Nursery rearing larvaeLarval rearing tanks can be composite tanks or cement tanks. 1 day before the mother hatched, supply water to nursery tanks, install aeration and treat chemicals. When water is finished, aeration is installed, using EDTA 5 ppm to precipitate all heavy metals in 30 minutes.The feed for zoea 1 larvae is a synthetic feed and Artemia sprung umbrellas, feeding 1 hour after hatching.When hatching eggs must be removed immediately by the mother to minimize contamination by feces and egg silk of the mother discharged. Reduce the aeration for all the dirt to settle to the bottom of the tank, and use a small stick to remove all the floating egg membranes on the face, then clear all the dirt.Conducting larvae collection with fine racket, bathing through seawater mixed with iodine and then put into the rearing tank. Stocking density of larvae in rearing tanks: 150 individuals / liter.Larvae stage 1: Feeding Artemia larvae even though the 7th day. Feeding 4 times a day: 6h, 12h, 18h, 0h.Normally by the 5th day, the siphon changes water, if it is too dirty, siphon can be changed on the 3rd day. The level of changing the water is not more than 30%.Larvae stage 2: When there are zoea 5 larvae in the nursery tank, the leveling of new tanks is conducted. The amount of food remains the same, while adding synthetic foods depending on the ability of crab larvae to catch prey.When larvae transition to megalops stage, stop feeding Artemia, switch to processed / synthetic feed. Feeding 6-8 times a day, the amount of feed depends on the ability to catch the larvae. When the megalops move to the bottom, they need to spread mussel shells in the nursery tank to give them shelter to avoid the phenomenon of eating each other when molting. A few days later continue to attach plastic objects to the tank. Around 26 - 28 days, the crabs can be collected and exported.Source : http://www.thuysanvietnam.com.vn ...
Dilirik Investor, Pengawasan di Instalasi Pembenihan Kepiting Tarakan Perlu Ditingkatkan
Kepiting & Rajungan

Dilirik Investor, Pengawasan di Instalasi Pembenihan Kepiting Tarakan Perlu Ditingkatkan

Tarakan – Instalasi pembeniham kepiting di Tarakan mulai dilirik investor. Pasalnya bisnis kepiting sangat menjanjikan. Menanggapi hal tersebut, Kepala Balai Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM) Tarakan, Umar mengungkapkan, meskipun sudah ada aturan di tingkat daerah mengenai larangan dan pengawasan kepiting bakau, perlu ada regulasi lebih lanjut hingga ke tingkat pusat. Pasalnya, aturan mengenai larangan dan pengawasan kepiting bakau ini merupakan regulasi pusat. “Pasti perlu regulasi lebih lanjut nanti. Kalau tidak, tetap saja aturan itu masih berlaku. Jadi masih panjang prosesnya ke depan, terutama siapa yang bisa memastikan dan mengawasi bahwa kepiting tersebut dari budidaya atau lainnya,” ujarnya, Selasa (20/8). Umar menambahkan, meskipun kepiting ini berasal dari budidaya dan sudah tersertifikasi, hal ini hanya sebatas lalu lintasnya. Namun, ia mempertanyakan terkait dengan kondisi di lapangan yakni berapa banyak kepiting hidup yang dilepas dan apakah semua yang hidup adalah betina.“Semua kan tidak bisa dipastikan. Jadi, bisa saja mereka nanti mengatakan bahwa kepiting betina yang dikirim setiap malam itu dari budidaya. Padahal, kenyataannya mungkin hanya sekian persen saja yang dari budidaya, sedangkan yang lainnya berasal dari tangkapan. Tidak hanya dari Tarakan sendiri, namun juga yang berasal dari Kaltim, lewat Tanjung Selor atau daerah lainnya di Indonesia,” tegasnya. Kendati demikian, Umar mengaku sangat mendukung keinginan pemerintah daerah untuk membuka instalasi pembenihan (hatchery) kepiting di Kaltara dan khususnya di Tarakan. “Ini juga sebenarnya untuk keberlanjutan dan kelestarian sumber daya perikanan, khususnya kepiting,” pungkasnya. Sebelumnya Wali Kota Tarakan, Khairul mengatakan saat ini pihaknya tengah mempersiapkan regulasi terkait pembuatan hatchery kepiting bakau melalui Peraturan Daerah (Perda). Selanjutnya, jika Tarakan sudah memiliki hatchery kepiting bakau maka bisa menjadi dasar asal kepiting yang akan diekspor menjadi kepiting budidaya.“Kalau hatchery ini sudah dilirik investor banyak seperti dari Cina, Malaysia, dan Vietnam bahkan Perancis yang mau berinvestasi mengenai kepiting ini sebagai pengembangan kepiting ke depan,” ujarnya. Ia menambahkan, investor sudah beberapa kali datang dan melihat kondisi alam dan lokasi yang akan dijadikan hatchery. Hanya saja, harus ada dasar berupa regulasi yang akan mengatur tentang bagaimana hatchery ini nanti. “Butuh payung hukum untuk mengembangkan. Dan ini menurut saya bergerak di bidang usaha, kalau pemerintah secara personal melakukan terlalu berat. Kita punya kompetensi, kemauan tapi tidak punya waktu,” kata Khairul. Oleh karena itu, pemerintah daerah harus menunjuk orang secara profesional untuk secara waktu ke waktu berkomunikasi dan melakukan upaya untuk pengembangan. Harapannya, budidaya kepiting di Tarakan bisa menjadi jauh lebih baik. “Sebenarnya, di Kaltara ini kan sudah dari dulu (budidaya kepiting). Cuma kenapa dari dulu tidak bisa jalan? Karena kita tidak punya waktu. Terlalu banyak tugas administratif sehingga bagaimana mau mengembangkan hal yang bersifat dunia usaha. Makany, dibentuk badan usaha. Tidak bisa sambilan dan harus fokus,” tuturnya. Meski belum memiliki target berapa nilai investasi, menurutnya, saat ini calon investor sedang melakukan penjajakan untuk hatchery. “Kalau soal harga juga belum tahu, tapi untuk tahapan awal kita tidak tahu. Mungkin bisa digratiskan dulu kepada nelayan kita,” tandasnya. Sumber : KKP News ...