Infomina - Patin

Minapoli adalah platform jaringan infomasi dan bisnis perikanan terintegrasi. Buat dan bagikan informasi perikanan sekarang dan temukan manfaatnya terkoneksi dengan jaringan Minapoli.

Patin

Persiapan Sebelum Budidaya Ikan Patin
Patin

Persiapan Sebelum Budidaya Ikan Patin

Ikan merupakan salah satu sumber makanan yang murah dan menyehatkan. Salah satu yang menjadi favorit untuk dijadikan lauk yang sehat adalah ikan patin. Ikan patin masuk keladam kelompok ikan berkumis dalam Genus Pangasius dan Famili Pangasidae. Kelompok ikan patin ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi, salah satunya adalah patin dan patin siam.Persiapan Sebelum Budidaya Ikan PatinIkan patin adalah jenis ikan air tawar yang mendiami kawasan-kasawan sungai dan lombong-lombong. Dalam dunia perikanan, ikan Patin dikenal sebagai komoditi yang berprospek cerah. Rasa dagingnya yang lezat dan gurih mengakibatkan harga jualnya tinggi. Di alam bebas ikan ini panjangnya bisa mencapai 1,2 m. Dalam usia enam bulan ikan patin bisa mencapai panjang 35 cm sampai 40 cm.Ikan patin memiliki badan memanjang berwarna putih kombinasi perak dengan punggung berwarna kebiru-biruan. Panjang tubuhnya bisa mencapai 120cm, ukuran yang cukup besar untuk ukuran ikan air tawar domestik. Kepala ikan patin relatif kecil . Pada sudut mulutnya terdapat dua pasang kumis pendek yang berfungsi sebagai peraba.Ikan patin memiliki kandungan lemak yang lebih rendah dibandingkan ikan jenis lain, terutama dua asam lemak esensial, DHA  sebesar 4,74% dan EPA  sebesar 0,31%. Kadar lemak total yang terkandung dalam daging ikan patin adalah sebesar 2,55% sampai dengan 3,42%, dimana asam lemak tak jenuh nya adalah di atas 50%. Asam oleat adalah asam lemak tak jenuh tunggal yang paling banyak terkandung di dalam daging ikan patin yaitu sebesar 8,43%.Baca juga: Ini Dia Pakan Ikan Patin untuk BudidayaBerdasarkan hasil dari penelitian, kandungan gizi di dalam ikan patin yang berupa lemak tak jenuh (USFA sebesar 50%) sangatlah bagus untuk mencegah terjadinya resiko penyakit Kardiovaskular. Lemak tak jenuh juga bermanfaat untuk menurunkan besarnya kadar kolesterol total dan kolesterol LDL yang terkandung di dalam darah sehingga dapat mencegah penyakit jantung koroner. Jika dilihat dari rendahnya kadar kolesterol yang terkandung dalam daging ikan Patin ( 21-39 mg/100 gram), maka manfaat ikan Patin sangatlah bagus bagi anda yang sedang menjalankan program diet karena bisa mengurangi asupan kolesterol harian di dalam menu makanan.Untuk melakukan budidaya ikan patin, berikut beberapa tips untuk Anda.1. Kolam ikan patinUntuk melakukan budidaya ikan Patin, yang harus memperhatikan lingkungan yang akan ditempati. Tanah yang digunakan adalah tanah liat. Dengan jenis tanah liat, massa air yang besar tidak akan bocor merembes meresap di tanah sehingga bisa dijadikan dinding kolam. Untuk memudahkan pengairan, sebaiknya kemiringan tanah untuk pembuatan ikan berkisar antara dua sampai 5%. Air yang digunakan adalah air yang bersih. Air yang digunakan juga harus air yang tidak terlalu keruh, bebas bahan bahan kimia dan limbah pabrik. Tambahkan larutan penghambat jamur agar air tidak mudah tercemar dengan jamur jamur liar. Untuk suhu air cukup dengan suhu standar yaitu 26–28 derajat celcius. Untuk lebih memaksimalkan pertumubuhan ikan patin, Keasaman air harus berkisar antara PH 6,5-7.Baca juga: Begini Pembenihan Patin Ala BPBAT Jambi2.  PemupukanSebelum budidaya ikan patin ditebarkan sebaiknya kolam diberikan pupuk. Pupuk untuk kolam bisa menggunakan pupuk kandang atau pupuk hijau. Jumlah pupuk yang diberikan cukup sebanyak 50–700 gram per meter persegi. Pemberian pupuk bertujuan untuk menumbuhkan makanan alami bagi ikan Patin.3. Pemberian pakanPemberian pakan pada budidaya ikan patin menjadi salah satu faktor yang paling berpengaruh dalam pertumbuhan ikan patin. Makanan. Pakan ikan yang diberikan untuk ikan Patin adalah Pelet, kamu juga bisa menambahkan pakan alami seperti kerang, ikan, sisa daput dan lain lain. Pakan lain ini bisa menjadi tambahan karena mengandung protein yang tinggi. Pakan diberikan kepada ikan Patin sebanyak 2 kali sehari pada waktu pagi dan sore. Jumlah takaran pakan adalah 3%–5% dari berat badan ikan patin, jumlah pakan akan berubah seiring berat ikan patin yang bertambah. Untuk mengetahu beratnya cukup ambil sampel 5–10 ekor ikan patin.4. Memilih indukBerikut ciri-ciri induk patin yang telah matang gonad dan siap untuk di pijahkan.Induk jantan1. Umur 2 tahun2. Ukuran 1.5-2 kg3. Kulit perut lembek dan tipis4. Jika di urut akan keluar cairan sperma berwarna putih5. Kelamin membengkak dan berwarna merah tuaBaca Juga:  Tantangan Pengembangan Induk Patin BerkualitasInduk Betina1. Umur 3 tahun2. Ukuran 1,5-2 kg3. Perut membesar kearah anus4. Perut terasa empuk dan halus jika di raba5. Kloaka membengkak dan berwarna merah tua6. Kulit pada bagian perut lembek dan tipis7. Jika di sekitar Kloaka ditekan akan keluar beberapa butir telur yang berbentuk bundar dan besarnya seragam.5. Perawatan benih ikan patinSiapkan akuarium atau bak ukuran 80x45x45 cm. Masukkan kurang lebih 500 ekor benih per akuarium yang telah dibuat. Tempatkan aerator di setiap akuarium dan jaga suhu akuarium agar tetap di suhu ruangan. Setelah berusia 3 hari berikan makanan pertama pada benih yaitu kuning telur ayam yang telah direbus. Kemudian mulai berikan makanan hidup berupa kutu air atau jentik nyamuk. Jika sudah cukup besar, masukkan benih benih tersebut ke kolam utama.6. Pemanenan ikan patinUntuk pamenenan ikan patin kita bisa menyesuaikan permintaan pasar yang biasanya antara 200 gram hingga 1 kg. Setelah 6 bulan ikan patih sudah bisa mencapai bobot sekitar 700 gram. Sumber: pertanianku.com ...
Menteri Trenggono Harapkan Jambi Punya Kampung-Kampung Perikanan Budidaya
Patin

Menteri Trenggono Harapkan Jambi Punya Kampung-Kampung Perikanan Budidaya

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengapresiasi jajarannya di Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Sungai Gelam Jambi karena berhasil mengembangkan patin varietas baru yang dinamai Patin PUSTINA. Selain menghasilkan patin kualitas unggul, dia meminta jajarannya mengembangkan kampung-kampung perikanan budidaya sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat dan menciptakan lapangan kerja.Patin PUSTINA memiliki banyak keunggulan, di antaranya dalam hal ketahanan terhadap lingkungan dan penyakit, juga dalam kelangsungan hidup, pertumbuhan yang lebih cepat, maupun efisiensi terhadap penggunaan pakan.Baca juga: Begini Pembenihan Patin Ala BPBAT JambiPembuktian dilakukan melalui uji multilokasi dan uji tantang dibandingkan dengan jenis ikan patin lainnya. Selain itu, uji banding multilokasi di tahap pembesaran juga sudah dilakukan di BPBAT Sungai Gelam, Kawasan Kolam Tadah Hujan Kecamatan Kumpeh, Karamba di Sungai Batanghari, dan Bogor. “Saya sangat mendukung ikan Patin PUSTINA ini untuk terus dibudidayakan, langkah ini sejalan dengan program prioritas kita yaitu pengembangan perikanan budidaya," ujar Menteri Trenggono pada Jumat (23/4/2021) saat menghadiri soft launching Ikan Patin PUSTINA di BPBAT Sungai Gelam, Jambi.Dengan adanya Patin PUSTINA yang kualitasnya unggul ini, Menteri Trenggono berharap masyarakat semakin produktif dalam menjalankan aktivitas budidaya, khususnya untuk komoditas ikan patin. Sebab ikan ini tidak hanya unggul dari sisi kualitas, tapi juga memiliki pangsa pasar yang besar dan harga jualnya cukup tinggi.Disamping menyoal  Patin PUSTINA, Menteri Trenggono mendorong jajarannya untuk mengembangkan kampung-kampung budidaya di wilayah Jambi. Komoditasnya pun tak sebatas patin, tapi jenis-jenis ikan lain yang berkembang di perairan Jambi. Pengembangan ini harus dibarengi dengan perencanaan bisnis yang matang agar tujuan yang diharapkan bisa tercapai.Baca juga: Perawatan Optimal Benih Patin SiamKegiatan budidaya dan kampung-kampung budidaya diyakininya akan memberi dampak pada peningkatan putaran ekonomi masyarakat Jambi dari mulai hulu hingga hilir. Pendapatan masyarakat meningkat, terciptanya lapangan kerja, peningkatan pendapatan daerah sampai pada peningkatan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) di sektor kelautan dan perikanan."Ke depan saya berharap ada satu kawasan kampung-kampung budidaya disini, bukan hanya ikan patin, masih ada ikan belida, ikan bilih, saya minta Pak Kepala Balai nantinya dapat memberikan data seberapa besar angka putaran ekonomi hulu ke hilir dari perikanan budidaya ini," imbuhnya.  Selain itu, Menteri Trenggono juga mengingatkan para jajarannya di BPBAT, bahwa fokus dari kegiatan budidaya ini bukan sebatas pada pencapaian target saja, namun yang jauh lebih penting adalah seberapa besar jumlah pembudidaya yang dihasilkan dari seluruh kegiatan budidaya yang dilakukan di BPBAT ini.Baca juga: Perkasa, Patin Unggul Menanti Diseminasi"Tahun depan saat saya datang lagi, diharapkan sudah ada kampung-kampung budidaya, penambahan jumlah masyarakat pembudidaya, serta dapat diketahui seberapa besar pengaruh ekonomi daerah dari kegiatan budidaya yang dilakukan masyarakat, itulah yang menjadi tujuan saya datang kesini," jelas Trenggono.Perlu diketahui bahwa BPBAT Sungai Gelam pada tahun 2008 ditunjuk sebagai koordinator PUSTINA (Pusat Pengembangan Ikan Patin Nasional) untuk menghasilkan induk dan benih unggul ikan patin Siam yang sangat dibutuhkan masyarakat. Sejak tahun 2009, BPBAT Sungai Gelam sudah mengumpulkan benih Patin Siam dari berbagai daerah di Indonesia, lalu Kamboja serta Vietnam. Kegiatan seleksi tersebut sejalan dengan kegiatan produksi untuk mendapatan induk patin yang lebih unggul lagi ke depan. Artikel Asli ...
Ini Dia Pakan Ikan Patin untuk Budidaya
Patin

Ini Dia Pakan Ikan Patin untuk Budidaya

Pakan ikan patin cukup bervariasi sehingga Anda bisa menyesuaikan dengan kebutuhan dan budget yang ada. Budidaya ikan patin semakin diminati karena permintaan pasar yang semakin banyak sehingga peluang besar pun bisa dimanfaatkan.Salah satu jenis ikan hias dan ikan konsumsi ini memiliki harga ekonomis. Meskipun dijual dengan harga yang terjangkau, ikan patin juga memiliki daging yang lezat dan gurih.Tidak heran jika banyak olahan ikan patin yang bisa Anda coba. Selain itu mengapa Anda harus budidaya ikan patin? Bagi Anda yang menjalankan bisnis budidaya ikan patin pasti sudah mengetahui bagaimana cara merawatnya dengan baik.Salah satu hal yang harus diperhatikan adalah pemberian pakan yang tepat. Terdapat dua jenis pakan yang bisa Anda jumpai, mulai dari pakan natural hingga pakan buatan.Baca juga: Teknologi Artemia INVE Terbaru dan Optimalisasi Penetasan Artemia Pakan Alami untuk Ikan PatinJenis pakan ini sangat cocok diberikan pada benih atau larva ikan yang membutuhkan komposisi gizi lebih lengkap. Kelebihan pakan ini adalah tidak mencemari media pemeliharaan benih ataupun lingkungan perairan, mudah dibudidayakan dan merangsang ikan patin untuk memakannya, mengingat pakan ini bisa bergerak.Agar cepat besar maka pakan ikan patin ini menjadi solusi untuk meningkatkan keuntungan Anda. Penggunaan pakan alami sama halnya dengan membantu mata rantai budidaya ikan supaya tetap seimbang.1. ArtemiaSalah satu jenis pakan yang berasal dari laut ini sangat cocok untuk larva atau benih ikan yang masih kecil. Biasanya, larva berusia 7 hari akan diberikan pakan ini karena kandungan protein yang banyak.Pakan ini biasanya dijual dengan kemasan kaleng dengan berbagai merek yang bisa disesuaikan. Negara-negara yang membuat pakan jenis ini antara lain Taiwan, Belanda, Amerika dan Cina. Kelebihan pakan ini adalah memiliki kulit yang keras dan bisa tahan dalam kondisi kering.2. Cacing suteraCacing dengan nama ilmiah Tubefex sp ini memiliki tubuh lunak dan lembut. Bentuk yang panjang membuatnya juga sering disebut sebagai cacing rambut. Umumnya, cacing diberikan sebagai pakan dalam keadaan hidup di mana ikan sudah berusia 7-15 hari.Selain ramah lingkungan dan praktis, pemberian cacing dapat dilakukan secara massal sehingga lebih menghemat waktu. Anda bisa mendapatkannya dengan membeli atau mencarinya sendiri di saluran air dangkal, sedikit mengalir, jernih dan sedikit berlumpur. Dengan makanan kesukaan ikan patin yang kaya akan bahan organik ini bisa menjadi solusi untuk membuat ikan patin cepat panen.Baca juga: Melihat Budidaya Cacing Sutera dengan Sistem Apartemen3. Kutu airMoina sp dan Daphine sp merupakan jenis kutu air yang bisa digunakan sebagai pakan alternatif untuk larva patin. Ukuran yang sangat kecil membuat kutu air cocok dengan bukaan mulut larva ikan patin.Dalam kondisi tertentu, kutu air bisa ditemukan langsung dari alam tapi juga bisa mengkulturnya sendiri. Untuk mengambil kutu air di perairan umum, Anda harus menggunakan plankton.Namun, tidak perlu khawatir karena sekarang Anda bisa mendapatkan kutu air yang diperjualbelikan di pasaran, seperti di toko akuarium atau ikan hias.Baca juga: APMN Uji Coba Biji Karet untuk Pakan Ikan4. Pakan Ikan Patin BuatanPakan buatan semakin mudah Anda jumpai dengan berbagai merek dagang. Ketersediaan pakan buatan ini mempermudah para peternak ikan untuk memenuhi kebutuhan pakan ikan patin.Sebenarnya, kualitas dan kandungan nutrisi dari pakan sudah terjamin karena telah melalui beberapa tahap proses pembuatannya. Tidak heran jika harga pakan ikan patin yang ditawarkan juga lebih mahal.Untuk itu, Anda harus bisa mengatur pemakaian pakan buatan berupa pelet. Artinya, tidak selalu memberikan, tapi sesekali mencampur atau memberikan pakan yang lebih murah.Umumnya, pakan yang diproduksi oleh pabrik memiliki kandungan protein yang bervariasi, tergantung masing-masing merek tersebut. Pemberian makanan ikan patin dewasa ini juga mencegah terjadinya pakan yang tidak bisa dimakan karena pelet biasanya akan mengapung ketika diberikan.Beberapa merek pelet yang bisa Anda temukan antara lain, Matahari Sakit, Comfeed, Charoen Pokphan, Sinta dan lain sebagainya. Beberapa kandungan yang biasanya ditemukan dalam pakan buatan ini adalah karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan nutrisi lainnya.Pemberian pakan tidak harus sama selalu. Anda bisa mencampurkannya untuk melengkapi kebutuhan nutrisi dan menghemat pengeluaran budidaya ikan patin. Jika informasi ini bermanfaat, share dan rekomendasikan pada orang lain, terutama bagi mereka yang mencari pakan ikan patin. Sumber: kolamterpal.net ...
Perawatan Optimal Benih Patin Siam
Patin

Perawatan Optimal Benih Patin Siam

Jenis patin siam (Pangasianodon hypophthalmus) sedang menjadi primadona di kalangan pembudidaya patin. Ikan patin siam komoditi berprospek cerah dalam dunia perikanan. Rasa dagingnya lezat dan gurih yang menyebabkan harga jual tinggi. Ikan patin siam juga memiliki ukuran tubuh yang besar. Ikan patin siam mudah dipelihara dan berdaya hidup tinggi. Ikan patin yang dalam bahasa Inggris bernama iridescent shark, dapat dipelihara di lahan yang pasokan airnya terbatas, juga bisa dipelihara dengan tingkat kepadatan tebar tinggi.Dalam budidaya ikan patin siam terdapat beberapa aspek kegiatan yang dilakukan, diantaranya kegiatan pembenihan dan pembesaran. Berikut kami jabarkan kiat agar benih patin siam optimal pertumbuhannya. Baca juga: Begini Pembenihan Patin Ala BPBAT Jambibenih patin siam/ foto: freepik.com- Larva patin siam ditampung sementara di tempat penampungan larva yang berupa kain hapa (trilin). Dalam tempat penampungan larva patin berukuran 2 m x 1 m ditebarkan 50 ribu ekor larva yang baru menetas.  - Supaya larva patin tidak mengalami stres, perlu diperhatikan kualitas air di tempat penampungan larva dan tempat pemeliharaan. Suhu atau temperatur air dijaga pada kisaran 28 derajat Celsius.   - Pakan alami berupa artemia diberikan tiga jam sekali kepada larva patin siam yang berumur 1-3 hari untuk mencegah kanibalisme.   Baca juga: Teknologi RAS Berhasil Tingkatkan Produksi Benih Gurame- Suhu air tempat pemeliharaan dinaikkan jadi 31 derajat C saat larva patin siam berumur 3 hari. Setiap tiag jam sekali diberikan pakan berupa cacing cincang. Porsi pakan disesuaikan sesuai kebutuhan setiap dua hari.  - Setelah patin siam mencapai ukuran 2 cm, benih patin siam diberikan pakan alami berupa cacing sutera. Dapat pula diberikan pakan tambahan berupa pelet.  - Pergantian air perlu dilakukan setiap dua hari atau saat kualitas air terlihat menurun, agar benih nyaman dengan lingkungannya. Kondisi benih ikan patin siam yang tidak lincah menandakan kualitas air menurun. Agar tidak terjadi perubahan ekstrim kualitas air, pergantian air sebaiknya sebanyak 50 %.  Artikel Asli ...
Begini Pembenihan Patin Ala BPBAT Jambi
Patin

Begini Pembenihan Patin Ala BPBAT Jambi

Pembenihan ikan patin siam (Pangasinodon hypophthalmus) merupakan salah satu proses budidaya yang penting. Ikan patin siam merupakan salah satu ikan introduksi dari Thailand pada tahun 1972. Komoditas ini cukup cepat beradaptasi dalam upaya domestikasinya di perairan Indonesia, bahkan sudah dapat dibudidayakan di lahan-lahan marginal.Hal tersebut karena ikan patin siam mempunyai kelebihan bisa hidup dan berkembang di perairan dengan kualitas air ekstrim, seperti pH dan kandungan oksigen yang sangat rendah.Produksi patin siam semakin meningkat setiap tahun karena permintaannya yang tinggi, oleh karena itu perlu diiringi dengan peningkatan kegiatan budidaya yang berkelanjutan.Pemeliharaan indukInduk dipilih dari ikan patin yang sehat dan tidak cacat dengan ukuran 3-5 kg dan umur leih dari 2 tahun untuk induk betina. Sedangkan patin jantan memiliki bobot 1,5-3 kg dan umur di atas 1 tahun.Kemudian induk dipelihara dengan kepadatan 0,7 – 1 kg/m2 untuk di kolam dan 6-7 kg/m3  di karamba. Pakan yang diberikan pellet dan kadar protein minimal 30% sebanyak 1-3% / bobot biomassa / hari. Frekuensi pemberian pakan dilakukan 2 kali per hari pada pagi dan sore hari.Seleksi IndukPengecekan tingkat kematangan gonad induk dilakukan dengan cara sebagai berikutInduk betina: - Perut membuncit dan lunak- Daerah sekita lubang genitalnya memerah- Telur diambil melalui kateter dan diamati kematangannya secara visual.- Induk yang dipilih yang memiliki telur berdiameter 1 – 1.2 mm, seragam, berwarna pekat, dan posisi inti telur di tengahInduk jantan:- Bagian perut terlihat biasa- Bentuk alat kelamin menonjol dan berwarna kemerahan- Bila perutnya dipijit ke arah lubang genital akan mengeluarkan cairan sperma berwarna putih susu. PemijahanPemijahan dilakukan secara buatan dapat dilakukan dengan penyuntukan hormone ovaprim dengan dosis 0,5 cc/kg induk,Induk terlebih dahulu ditimbang beratnya untuk menentukan hormon yang digunakan. Penyuntikan dilakukan dua kali dengan interbal waktu 6 jam.Penyuntikan pertama 1/3 dari dosis. Sedangkan yang kedua 2/3 dosis. Penyuntikan dilakukan secara intra muscular di bagian kiri/kanan belakang sirip punggung (dorsal).Untuk mengurangi stress pada ikan dapat dilakukan pembiusan pada induk dengan menggunakan benzocaine dengan dosis 100 ppm yaitu 100 cc larutan stok dilarutkan dalam 100 liter air. Pembiusan dapat dilakukan pad seleksi, penyuntikan dan stripping induk.Waktu obulasi terjadi antara 6-8 jam setelah penyuntukan kedua. Telur dan sperma induk dikeluarkan dengan cara memijat perut ke arah lubang genital dan ditampung di wadah mangkuk/baskom. Pembuahan buatan dimulai dengan cara mencapurkan telur dengan sperma yang telah diencerkan dengan larutan soium chloride 0,9% ditambah air bersih. Kemudian diaduk dengan bulu ayam salama ± 3 menit. Selanjutnya telur ditetaskan dalam akuarium atau corong penetasan.Penetasan telur di akuariumTelur yang sudah dibuahi dapat ditetaskan dalam akuarium yang berukuran (60x50x40) cm3. Jangan lupa untuk sebelumnya membersihkan akuarium. Anda dapat memasang pemanas air bila suhu air terlalu rendah dengan water heatertermostat. Padat peneberan telur sebanyak 25 cc/akuarium atau 6-10 butir/ cm2. Penetasan telur berlangsung selama 20-26 jam pada kisaran suhu 27-30⁰C.Peenetasan telur di corongSetelah proses pembuahan buatan, selanjutnya dilakukan penghilangan daya rekat telur dengan menambahkan larutan tanah merah (suspense) secukupnya, diaduk perlahan, kemudian dibilas 3x sampai bersih.Selanjutnya dimasukan ke dalam corong penetasan dengan kepadatan 500 – 750 cc/corong. Penetasan berlangsung 18-22 jam pad suhu 27-30 ⁰C.Panen LarvaSetelah telur menetas seluruhnya, larva dihitung dengan cara sampling volumetric. Kemudian dipindahkan ke wadah pemeliharaan larva yang telah disiapkan dan diisi air bersalinitas 2 ppt.Wadah pemeliharaan bisa berupa akuarium, fiber, atau bak kayu yang dilapisi karpet plastic. Pemindahan larva dilakukan 6-8 jam setelah menetas (akuarium) dan 2-3 jam menetasi (di corong) dilakkan dengan disifon atau dengan menggunakan serok halus yang ditambung sementara dalam ember. Kemudian ditebar dengan kepadatan 40 ekor/liter. Padat tebar dapat mencapai 70 ekor/liter, tergantung dari keterampilan dan kemampuan teknis pemeliharan larva.Pemeliharaan larvaNaupli artemia diberikan padalarva umur 2-8 hari, sedangkan moina atau cacing rambut diberikan setelah larva berumur 7 hari.Frekuensi pemberian artemia dilakukan 5 kali per hari yaitu pada ppukl 07.00, 11.00, 15.00, 19.00 dan 23.00 WIB sesuai takaran yang ditentukan.Penyifonan dilakukan setiap hari paapda pagi hari sebelum pemberian pakan dan penggantian airsebanayak 30-50 % per 2 hari.Lama pemeliharaan larva 12-15 hari, dan setelah alrva beruur 6 hari penurunan salinitas dilakukan secara bertahap sampai bersalinitas 0 ppt pada hari ke 10. Pemanenan dilakukan pada pagi atau sore hari dan ditebar di kolam pendederan. Pemelihraan larva di hatchery bisa dilakukan hanya 7 hari, yaitu sampai selesai pemberian artemia. Untuk selanjutnya larva umur tujuh hari bisa didederkan di kolam. Pendederan benih di kolamPersiapan kolam meliputi pengeringan kolam, peraikan pematang, pengolahan tanah dasar kolam, pembuatan caren (kemalir), pengapuran, pemupukan, dan pengisian air, dan inokulasi Moina sp.Pupuk yang digunakan adalah kotoran ayam dengan dosis 500/m2, tepung ikan BS dengan dosis 50 gram/m2, dedak dengan dosis 100 gram/m2. Sedangkan pengapuran dengan menggunakan kapur hidup (CaO) dengan dosis 25-100 gr/m2.Persiapan kolam dilakukan selama 2 hari dan pengisian air dilakukan secara bertahap sampai ketinggian 90 cm. inokulasi Moina sp hidup dengan padat tebar2 kg untuk kolam seluars 500 m dilakukan sehari setelah pemupukan.Kolam didiamkan selama 3-4 hari agat ekosistem kolam mencapai keseimbagan dan moina dapat berkembang biak.Penebaran dilakukan pada pagi atau sore hari. Benih yang dapat ditebar berukuran 1-1,5 cm dengan padat penebaran 100-200 ekor/m2. Pemeliharaan berlansgun 3-4 minggu sampai benih berukuran 2-3 inci. Pakan yang diberikan palet yang dihancurkan dengan kandungan protein 28% sebanyak 30% dan menurun sampai 15%/berat biomassa/hari.Frekuiensi peberian pakan 2-3 kali/hari pada pagi, siang, dan sore hari. Smapling dilakukan seminggu sekali. Selama pemeliharaan kualitas air tentu akan menurun, maka perlu dilakukan pergantian air sebanyak 20-30%.PemanenanPemanenan di lakukan setelah 3-4 minggu pemeliharaan di kolam. wadah dan alat yang digunakan adalah hapa halus untuk penampungan ikan, waring halus untuk pengambilan ikan, saringan aluminium untuk seleksi ikan serta pompa air dengan diameter 2 dan 3 inci.Sebaiknya pemanenan benih dilakukan pada pagi hari sekitar jam 07.00-09.00 WIB cengan cara dijaring sebagian, sedangkan sisanya ditangka[ dengan menggunakan seser/serok halus setelah kolam dikeringkan.Benih yang tertangka[ ditampung dalam hapa dan diberik selama 1 (satu) hari sebelum dilakukan seleksi. Benih hasila seleksi ditampung dalam wadah pemberokan dan diberi garam dengan dosis 3-5 ppt untuk pencegahan penyakit karena penaganan selama panen.  Sumber: BPBAT Jambi ...
Tantangan Pengembangan Induk Patin Berkualitas
Patin

Tantangan Pengembangan Induk Patin Berkualitas

Penelitian untuk mengembangkan indukan patin sering disebut dengan pemuliaan, yang biasanya dilakukan melalui kegiatan rekayasa genetika. Salah satu yang sudah dilakukan pada ikan patin di Indonesia yaitu melalui pemuliaan ikan patin siam untuk menghasilkan induk unggul dimulai pada 2008 dengan dibentuknya jejaring pemuliaan ikan yaitu Pustina (Pusat pengembangan Patin Nasional) dengan koordinator Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Sungai Gelam – Jambi dan beranggotakan Unik Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan DJPB sentral milik provinsi di beberapa daerah sentra patin.   BPBAT Sungai Gelam dan Balai Riset Pemuliaan Ikan (BRPI) Sukamandi melakukan kegiatan pemuliaan dan anggota yang lain melakukan perbanyakan calon induk hasil pemuliaan. Kegiatan Pustina sebagai jejaring pemuliaan hanya sampai 2015, namun kegiatan pemuliaan khususnya di BPBAT Sungai Gelam masih berlanjut sampai sekarang. Program pemuliaan yang dilakukan di BPBAT Sungai Gelam menggunakan metode seleksi sehingga kegiatan pemuliaannya dapat juga disebut sebagai program seleksi.  Baca juga: Perkasa, Patin Unggul Menanti DiseminasiInduk yang beredar di masyarakat terdiri dari hasil produksi UPT DJPB dan juga produksi mandiri oleh UPR (unit pembenihan rakyat). Induk hasil produksi UPT DJPB ataupun balai Riset saya kira sudah memenuhi standar karena merupakan hasil pemuliaan yang telah mengalami peningkatan performa pertumbuhan yang cukup signifikan. Hasil Pustina yang telah dirilis oleh BRPI Sukamandi yaitu ikan Patin Perkasa hasil seleksi sampai Generasj ke 2 telah didistribusikan ke masyarakat. Sedangkan induk patin yang didistribusikan oleh BPBAT Sungai Gelam tahun ini merupakan hasil pemuliaan generasi ketiga dengan peningkatan performansi pertumbuhan sebesar 42,6 % dibandingkan populasi dasar.   Yang terjadi di masyarakat sekarang adalah fenomena bahwa UPR yang memproduksi induk sendiri karena harga induk dan transportasi yang relatif mahal. Oleh karena itu perlu dievaluasi kembali harga calon induk dan mekanisme distribusi/sistem logistik agar sampai ke para UPR patin siam yang membutuhkan dengan harga yang wajar.  Induk BerkualitasInduk yang berkualitas baik secara genetik harus dipelihara secara baik pula agar potensi genetik yang dimiliki dapat diekspresikan secara maksimal. Pemeliharaan induk yang baik itu diberi pakan yang dirancang untuk induk. Jika tidak tersedia di pasaran, harus melakukan formulasi sendiri dari pakan yang tersedia di pasaran. Jika melakukan formulasi sendiri, sebaiknya kandungan protein pakan > 35 % dan diperkaya dengan vitamin E dan minyak jagung sebagai sumber asam lemak omega-6 yang dibutuhkan oleh ikan air tawar.   Induk juga harus dipelihara dalam media dengan kisaran kualitas air dan kepadatan yang layak (dapat mengacu ke SNI). Selain itu, umur induk juga harus diperhatikan, berdasarkan pengalaman di BPBAT Sungai Gelam sebaiknya induk dengan umur di atas 5 tahun harus sudah diafkir dan ganti dengan yang muda. Kisaran umur yang baik untuk induk betina antara 2 - 5 tahun.  Baca juga: Ikan Patin Triploid : Otak-Atik Teknologi Lama Sementara pasar menginginkan induk/benih yang cepat tumbuh, tahan penyakit, tahan pada lingkungan yang buruk, efisien dalam pemanfaatan pakan dan lain-lain. Namun semua sifat unggul tersebut sulit diperoleh dalam satu galur/satu program seleksi.   Oleh karena itu target program seleksi yang dilakukan di BPBAT SG yaitu menghasilkan galur yang cepat tumbuh (galur pertumbuhan) dan daya tahan karena karakter ini punya dampak ekonomi yang cukup besar. Karena punya dampak ekonomi yang besar, galur cepat tumbuh merupakan galur yang paling banyak dikembangkan dalam banyak program seleksi pada berbagai komoditas penting di seluruh dunia. Patin siam hasil seleksi untuk galur pertumbuhan di BPBAT Sungai Gelam sampai November 2020 yang memperoleh generasi yang keempat. Respons seleksi (kemajuan genetik)  untuk galur pertumbuhan generasi yang keempat (G4Ps) sedang dalam uji coba, diperkirakan pada Maret 2021 diketahui hasilnya. Sedangkan respons seleksi galur pertumbuhan generasi yang ketiga (G3Ps) cukup signifikan yaitu terjadi peningkatan bobot tubuh sebesar 42,6 % dibandingkan dengan populasi dasar. Rencananya produk ini akan dilakukan launching pada akhir tahun ini atau awal tahun depan.  TantanganTantangan untuk pengembangan kualitas induk patin melalui program seleksi yaitu interval generasi yang cukup lama yaitu sekitar 2 tahun sehingga untuk memperoleh kemajuan genetik yang signifikan butuh waktu relatif lama. Butuh kesabaran, konsistensi dan komitmen yang kuat dalam waktu yang lama, tentu saja ini tidak mudah. Tantangan yang lain, yaitu belum tersedianya teknologi produksi benih dan induk yang mapan untuk mendukung kegiatan program seleksi.   Oleh karena itu, seiring berjalannya kegiatan program seleksi juga melakukan pemantapan teknologi produksi benih dan pembesaran. Dan ini tentu saja membutuhkan SDM yang banyak.  Selain itu kekurangan SDM yang memahami genetik kuantitatif secara baik yang sangat dibutuhkan dalam kegiatan program seleksi. Beberapa masalah lain yang dihadapi adalah bahwa pemulia ikan patin tidak melanjutkan kegiatan pemuliaan ketika sudah rilis. Padahal kita akan rugi waktu untuk mengulangnya kembali dari awal.   Baca juga: Budidaya Ikan PatinKelebihan BPBAT Sungai Gelam Jambi sampai saat ini masih konsisten melanjutkan kegiatan pemuliaan patin, bahkan sampai Generasi ke 4 di saat pemulia yang lain telah menghentikan kegiatan tersebut. Tentunya hal tersebut menyebabkan produk induk ikan patin kita terus lebih baik dari tahun ke tahun. Bahkan bisa menyamai performa induk dari luar negeri (jika dilihat dari beberapa jurnal internasional).  Sebenarnya dari segi kualitas induk, patin hasil kegiatan seleksi yang telah diproduksi oleh Indonesia khususnya BPBAT Jambi sudah siap bersaing secara global. Permasalahan utama yang belum terpecahkan untuk mewujudkan industrialisasi patin selama ini adalah: Pertama, belum adanya instansi ataupun swasta yang mengelola industri ikan patin ini dari hulu ke hilir dalam suatu kawasan yang terintegrasi sehingga semua proses produksi berjalan secara efisien dan dapat menekan biaya produksi. Seperti kondisi di Vietnam, antara pembudidaya, pabrik pakan, pabrik prosessing berada dalam satu kawasan, sehingga pemasalahan biaya logistik, kesesuaian produk dengan permintaan, quality kontrol dll dapat dikendalikan dengan baik. Bahkan di beberapa perusahaan di Vietnam semua bagian berada dalam satu managemen, sehingga bisa saling berbagi margin/keuntungan.  Hal tersebut karena kegiatan prosesing dan pemasaran merupakan bagian yang memiliki nilai tambah dan margin tertinggi dan menyerap tenaga kerja terbanyak, sehingga bisa menopang dan menjadi satu kesatuan dengan bagian yang lain dan saling mengidupi dan ada ketergantungan. Sebagai contoh kasus tentang efisiensi, ketika salah satu perusahaan pakan ikan terbesar diajak ke Vietnam mereka kagum bahwa salah satu produsen pakan disana bisa memproduksi pakan dengan omset yang sama dengan mereka di seluruh Indonesia hanya sanggup untuk mencukupi satu perusahaan pembudidaya ikan patin di Vietnam. Tentunya harga pakannya lebih murah karena produksinya langsung dilokasi kawasan budidaya sehingga menghemat biaya transportasi dan pemasaran.  Kedua, pemasalahan lain yang sering terjadi adalah tidak sepahamnya produk budidaya dan apa yang diminta/dibutuhkan oleh bagian pengolahan/prosessing. Untuk menghasilkan ikan patin yang diminta pasar dengan kualitas daging yang baik (putih/white pink), ada faktor lain yang perlu diperhatikan tentang sistem budidaya (seperti kedalaman air kolam), spesifikasi pakan (jenis dan kualitas bahan baku), cara pengolahan, transportasi bahan baku, dll akan berpengaruh terhadap kualitas daging untuk bersaing di pasar global. Baca juga: Teknik Pemijahan Ikan Patin Ketiga, perlu adanya middle man (perusahaan besar) yang memahami pembudidaya dan prosesing sehingga bisa  menjembatani kebutuhan dan keinginan keduanya, tentunya perusahaan yang cukup besar dengan modal yang besar sehingga mampu mengelola perputaran modal dari proses budidaya sampai fillet diterima oleh konsumen dan berproduksi lagi. Sehingga ada jaminan masing - masing rantai produksi.  Keempat, pemasaran, branding produk, diversifikasi produk khususnya dari limbah fillet patin di Indonesia perlu ditingkatkan untuk bisa bersaing di pasar global. Sebagai pembanding hasil olahan limbah fillet di Vietnam bahkan memiliki nilai yang cukup untuk membiayai biaya produksi fillet keseluruhan. Sehingga hasil fillet yang dikirim ke pasar global adalah tinggal keuntungannya, sehingga harganya siap bersaing dengan negara manapun.  Sehingga, kegiatan program seleksi ini harus terus didukung dengan sepenuhnya baik SDM maupun pendanaan karena benih yang berkualitas dalam industri akuakultur merupakan “harga mati”. Program seleksi juga tidak boleh berhenti, karena begitu berhenti maka akan kembali ke awal lagi sementara waktu yang dibutuhkan cukup lama. Pengembangan ke depan sebaiknya karakter/galur lain yang dibutuhkan oleh pasar seperti galur daya tahan, galur yang mampu memanfaatkan pakan dengan kandungan protein yang rendah/ FCRnya rendah, proporsi daging dan kualitas daging yang tinggi dan lain sebagainya.Artikel asli ...
Perkasa, Patin Unggul Menanti Diseminasi
Patin

Perkasa, Patin Unggul Menanti Diseminasi

Pertumbuhan dan tingkat produktivitas lebih tinggi dibanding patin SiamPengembangan ikan patin unggul Perkasa (Patin suPER Karya Anak bangSA) hasil riset pemuliaan di Balai Riset Pemuliaan Ikan (BRPI) Sukamandi – Jawa Barat tinggal selangkah lagi. Namun diseminasi ikan patin siam unggul tumbuh cepat yang telah dirilis 12 Juli 2018 sebagai ikan budidaya sesuai Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 75/KEPMEN-KP/2018 tidak berjalan sesuai rencana akibat ketiadaan anggaran.  Koordinator BRPI Sukamandi, Evi Tahapari mengatakan, pihaknya terus berusaha sekuat tenaga. Yakni, supaya ikan unggul yang penelitiannya memakan waktu tujuh tahun (2010 - 2017) itu cepat memasyarakat agar bisa bermanfaat bagi pembudidaya ikan patin di tanah air. Setelah dilakukan seleksi, generasi kedua (F-2) hasil seleksi menghasilkan ikan patin yang pertumbuhannya lebih cepat dengan kisaran 16,6 hingga 46, 9 %.  Baca juga: Budidaya Ikan PatinSejarah PanjangDia mengungkap, seleksi patin Perkasa memiliki sejarah panjang. Ide awal riset ikan patin ini terkait dengan patin siam yang begitu berkembang di masyarakat, meski bukan asli ikan Indonesia. “Patin ini berasal dari Thailand yang masuk ke Indonesia pada 1972,” ujar Evi Tahapari kepada TROBOS Aqua melalui sambungan telepon, baru-baru ini.  Ternyata, lanjutnya, ikan sungai ini diminati masyarakat Indonesia. Pada awalnya pembudidaya mendapatkan benih dari alam. Baru pada 1981, Balai Ikan Air Tawar berhasil melakukan pemijahan buatan ikan patin Siam.  Sejak itu perkembangan ikan patin cukup pesat yang mengakibatkan penyebarannya di masyarakat menjadi tidak terkontrol. Satu keluarga ikan patin jantan dan betina dipijah. Akibatnya terjadi penurunan mutu genetik sehingga terjadi variasi pertumbuhan yang cukup mencolok. Artinya pertumbuhan ikan dalam satu populasi tidak seragam.   Baca juga: Teknik Pemijahan Ikan Patin“Nah melihat kondisi kondisi demikian muncul gagasan untuk melakukan seleksi guna memperbaiki mutu genetik patin. Sebab, jika terus dibiarkan akan menimbulkan pertumbuhan ikan yang semakin jelek atau lambat,” sambungnya.  Jadi, ungkapnya, penelitian ini dimulai sejak 2010 hingga 2017. Bahan bakunya berupa indukan ikan patin dari berbagai lokasi. “Meski pertumbuhannya cepat, citarasanya hampir sama dengan patin siam biasa,” akunya.  Hasil pengujian keragaan pertumbuhan pada uji lapang (uji multilokasi dan multisistem) menunjukkan bahwa pertumbuhan dan tingkat produktivitas ikan patin Perkasa lebih tinggi daripada patin Siam. Sementara patin siam ini berasal dari unit pembibitan rakyat (UPR) lokal.   Baca juga: Pengelolaan Kualitas Air Kolam PatinTestimoni pembudidaya yang menggunakan benih ikan patin Perkasa di Tulungagung – Jawa Timbur, Kuningan, Sukamandi dan Bandarlampung pun diambil. Yakni, pada pemeliharaan fase pembesaran menyatakan bahwa pertumbuhan ikan patin Perkasa lebih cepat 16,61- 46,42 %, produktivitas  lebih tinggi 11,27 – 46,41 %, rasio konversi pakan (FCR) lebih rendah 2,9 % -19,5 %.  Hasil ujinya adalah 20,62 % pertumbuhan lebih cepat selama 7 bulan pemeliharaan di Sukamandi, 20,60 % selama 6 bulan di Kuningan. Kemudian sebesar 46,42 % selama 8 bulan di Tulungagung, dan 16,61 % selama 6 bulan di Lampung. Lalu harga pokok produksi (HPP) lebih rendah 4,45 – 17,92%, dan B/C Ratio tahap pembesaran lebih tinggi 14,71 – 48,48 dibandingkan dengan patin Siam asal UPR/masyarakat.Artikel AsliTentang MinapoliMinapoli merupakan marketplace++ akuakultur no. 1 di Indonesia dan juga sebagai platform jaringan informasi dan bisnis akuakultur terintegrasi. Dengan memanfaatkan teknologi, pembudidaya dapat menemukan produk akuakultur dengan mudah dan menghemat waktu di Minapoli. Platform ini menyediakan produk-produk akuakultur dengan penawaran harga terbaik dari supplier yang terpercaya. Selain itu, bentuk dukungan Minapoli untuk industri akuakultur adalah dengan menghadirkan tiga fitur utama yang dapat digunakan oleh seluruh pembudidaya yaitu Pasarmina, Infomina, dan Eventmina. ...
Pengelolaan Kualitas Air Kolam Patin
Patin

Pengelolaan Kualitas Air Kolam Patin

Prinsip pengelolaan air adalah memasukkan zat yang bermanfaat seperti O2 atau air baru ke dalam wadah budidaya dan mengeluarkan yang tidak bermanfaat bahkan merugikan seperti sisa pakan, kotoran ikan, amoniak (NH3), dan CO2. Kualitas air secara langsung berkaitan dengan kebersihan air. Oleh karena itu, air yang digunakan untuk pemeliharaan benih patin hendaknya berasal dari sumber air yang bersih.Beli Benih Ikan Patin Disini!Jumlah pakan (pelet) yang diberikan dalam budi daya patin secara intensif biasanya dalam jumlah besar sehingga akan banyak kotoran dan sisa-sisa pakan yang tertinggal atau menumpuk di dasar kolam. Kotoran dan sisa-sisa pakan tersebut akan menghasilkan amoniak yang bersifat beracun dan dapat menghambat pertumbuhan ikan. Dengan demikian, air harus dibuang dan sering diganti dengan air yang baru.Pergantian AirPenggantian air kolam dilakukan secara periodik atau ketika kualitasnya sudah menurun. Kualitas air yang sudah menurun ditandai dengan tingkat kekeruhan yang berlebihan, berbau, atau mengalami perubahan warna menjadi hijau tua. Di samping itu, aktivitas ikan juga menjadi berubah, mulai dari nafsu makan yang berkurang hingga berhenti makan sama sekali. Kondisi air yang buruk juga ditandai dengan ikan sering atau terus-menerus muncul ke permukaan kolam untuk mengambil oksigen secara langsung.Proses penggantian air dapat dilakukan secara bertahap, yakni 1/3 bagian dikeluarkan dan diganti dengan yang baru. Air yang dikeluarkan merupakan air dari bagian dasar kolam. Dengan demikian, diharapkan timbunan kotoran dan sisa-sisa pakan yang membusuk di dasar kolam ikut terbuang.Baca juga: Application of Micro Bubbles Technology in Catfish RearingPenambahan AirPenambahan air pada kolam juga sangat penting, terutama saat musim kemarau. Hal ini karena pada musim kemarau volume air berkurang akibat tingginya penguapan danmeningkatnya suhu air. Kondisi ini tentu akan membuat ikan mudah stres dan nafsu makannya menurun.Pengisian air pada kolam semen atau kolam terpal biasanya menggunakan air yang bersumber dari sumur bor atau pompa dengan menggunakan pompa diesel yang disalurkan menggunakan selang plastik atau pipa paralon ke kolam. Sumber air yang masuk ke kolam budi daya patin hendaknya bersih dan jernih. Sumber air yang keruh karena lumpur akan mengganggu kesehatan ikan patin dan menunjang pertumbuhan berbagai macam penyakit.Baca juga: Tahapan Budidaya Ikan di Kolam TerpalSumber: pertanianku.comTentang MinapoliMinapoli merupakan marketplace++ akuakultur no. 1 di Indonesia dan juga sebagai platform jaringan informasi dan bisnis perikanan budidaya terintegrasi, sehingga pembudidaya dapat menemukan seluruh kebutuhan budidaya disini. Platform ini hadir untuk berkontribusi dan menjadi salah satu solusi dalam perkembangan industri perikanan budidaya. Bentuk dukungan Minapoli untuk industri akuakultur adalah dengan menghadirkan tiga fitur utama yang dapat digunakan oleh seluruh pelaku budidaya yaitu Pasarmina, Infomina, dan Eventmina.  ...
Budidaya Ikan Patin
Patin

Budidaya Ikan Patin

Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa Ikan patin ini merupakan salah satu ikan air tawar yang memiliki peluang ekonomi untuk dibudidayakan. Budidaya ikan Patin masih perlu diperluas lagi, karena pemenuhan atas permintaan ikan patin  masih sangat kurang. Ikan patin seperti halnya ikan lele tidak memiliki sisik dan memiliki semacam duri yang tajam di bagian siripnya keduanya tergolong dalam kelompok catfish. Ada yang menyebut ikan patin dengan Lele Bangkok. Di beberapa daerah ikan patin memiliki nama yang berbeda-beda antara lain ikan Jambal, ikan Juara, Lancang dan Sodarin. Rasa daging ikan patin yang enak dan gurih konon memiliki rasa yang lebih dibandingkan Ikan Lele. Ikan patin memiliki kandungan minyak dan lemak yang cukup banyak di dalam dagingnya. Teknik budidaya ikan patin sebenarnya relatif mudah, sehingga tidak perlu ragu jika berminat menekuni budidaya ikan ini. Pada awalnya pemenuhan kebutuhan ikan patin hanya mengandalkan penangkapan dari sungai, rawa dan danau sebagai habitat asli ikan patin. Seiring dengan meningkatnya permintaan dan minat masyarakat, ikan patin mulai dibudidayakan di kolam, keramba maupun bak dari semen. Permintaan ikan patin yang terus meningkat memberikan peluang usaha bagi setiap orang untuk menekuni usaha di bidang budidaya ikan patin ini. Dengan permintaan yang demikian meningkat jelas tidak mungkin mengandalkan tangkapan alam, tetapi perlu budidaya ikan patin secara lebih intesnsif. Peluang usaha Budidaya Ikan Patin dapat dilakukan dalam dua bidang kegiatan yaitu kegiatan pembenihan dan kegiatan pembesaran sebagai ikan konsumsi. Kegiatan pembenihan merupakan upaya untuk menghasilkan benih pada ukuran tertentu. Produk akhirnya berupa benih berukuran tertentu, yang umumnya adalah benih selepas masa pendederan. Budidaya ikan patin sebagai pemenuhan bibit ini cukup memiliki prospek yang bagus karena permintaan bibit juga cukup besar. Budidaya ikan patin sebagai persediaan bibit ini memerlukan waktu yang relatif pendek sehingga perputaran modal bisa dipercepat. Budidaya ikan patin dalam kategori pembesaran biasanya dilakukan saat bibit ikan patin memiliki berat 8-12 gram/ekor, dan setelah 6 bulan dapat mencapai 600-700 gram/ekor. Sebagian petani ikan patin memanen setelah usia 3 sampai 4 bulan karena permintaan pasar ikan patin dengan bobot yang lebih rendah per ekornya. Budi Daya Ikan patin sebagai bibit dan ikan konsumsi memiliki peluang usaha yang sama-sama menguntungkan, tergantung pilihan kita mana yang lebih memungkinkan.Baca juga: KKP Dorong Industrialisasi Patin BerkelanjutanPersyaratan Budidaya Ikan PatinBudidaya ikan Patin memerlukan beberapa persyaratan dan kondisi lingkungan yang optimal bagi pertumbuhan dan perkembangannya antara lain sebagai berikut :- Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan dan budi daya ikan patin adalah jenis tanah liat/lempung, tidak berporos. Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar dan tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam.- Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-5% untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.- Apabila pembesaran patin dilakukan dengan jala apung yang dipasang disungai maka lokasi yang tepat yaitu sungai yang berarus lambat.- Kualitas air untuk pemeliharaan ikan patin harus bersih, tidak terlalu keruhdan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik. Kualitas air harus diperhatikan, untuk menghindari timbulnya jamur, maka perlu ditambahkan larutan penghambat pertumbuhan jamur (Emolin atau Blitzich dengan dosis 0,05 cc/liter).- Suhu air yang baik pada saat penetasan telur menjadi larva di akuarium adalah antara 26–28 derajat C. Pada daerah-daerah yang suhu airnya relatif rendah diperlukan heater (pemanas) untuk mencapai suhu optimal yang relatif stabil.- PH air berkisar antara: 6,5–7.Baca juga: Teknik Pemijahan Ikan PatinTeknik Budidaya Ikan Patin1. Pembibitan Ikan PatinPembibitan Ikan Patin merupakan upaya untuk mendapatkan bibit dengan kualitas yang baik dan jumlah yang mencukupi permintaan. Cara Tradisional bibit ikan Patin diperoleh dengan menangkap dari habitat aslinya yaitu sungai, rawa, danau dan tempat-tempat lain. Untuk tujuan komersial bibit harus diupayakan semaksimal mungkin dengan pembibitan di kolam. 2. Memilih calon induk siap pijahInduk patin yang hendak dipijahkan sebaiknya dipelihara dulu secara khusus terlebih dahulu dengan pemeliharaan yang intensif. Selama pemeliharaan, induk ikan diberi makanan khusus yang mengandung protein tinggi. Selain itu, diberikan juga rucah dua kali seminggu sebanyak 10% bobot ikan induk. Langkah ini dilakukan untuk mempercepat kematangan gonad. Ciri-ciri induk patin yang sudah matang gonad dan siap dipijahkan adalah sebagai berikut :A. Induk betina- Umur tiga tahun.- Ukuran 1,5–2 kg.- Perut membesar ke arah anus.- Perut terasa empuk dan halus bila di raba.- Kloaka membengkak dan berwarna merah tua.- Kulit pada bagian perut lembek dan tipis.- Jika di sekitar kloaka ditekan akan keluar beberapa butir telur yang bentuknya bundar dan besarnya seragam.Baca juga: Cara Mudah Memilih Bibit dan Indukan Ikan NilaB. Induk jantan- Umur dua tahun.- Ukuran 1,5–2 kg.- Kulit perut lembek dan tipis.- Bila diurut akankeluar cairan sperma berwarna putih.- Kelamin membengkak dan berwarna merah tua. Hormon perangsang dibuat dengan menggunakan kelenjar hipofise ikan mas, kelenjar hipofise dapat ditemukan pada bagian otak ikan mas, berwarna putih dan cukup kecil. Ambil dengan hati-hati dengan pinset. Setelah diambil dimasukkan ke dalam tabung kecil dan ditumbuk sampai benar-benar halus dan lebut, selanjutnya dicampur dengan air murni (aquades) yang dapat dibeli di apotik.3. Kawin suntik (induce breeding)Setelah kelenjar hipofise dicampur dengan air murni sudah siap, ambil dengan jarum suntik dan disuntikkan pada punggung Ikan patin. Ikan patin siap dipijahkan. Metode kawin suntik diterapkan untuk merangsang induk patin betina mengeluarkan telur untuk selanjutnya dibuahi oleh Patin Jantan.4. Penetasan telurTelur yang sudah dibuahi akan menetas dalam waktu sekitar 4 hari, selama menunggu telur menetas perlu dipantau kondisi air. Ganti air sebagian dengan air bersih dari sumur.5. Perawatan larvaBenih ikan patin yang berumur 1 hari dipindahkan ke dalam akuarium atau bak berukuran 80 cm x 45 cm x 45 cm, bisa dalam ukuran yang lain. Setiap akuarium atau bak diisi dengan air sumur bor yang telah diaerasi. Kepadatan penebaran ikan adalah 500 ekor per akuarium. Aerator ditempatkan pada setiap akuarium agar keperluan oksigen untuk benih dapat tercukupi. Untuk menjaga kestabilan suhu ruangan dan suhu air digunakan heater atau dapat menggunakan kompor untuk menghemat dana. Benih umur sehari belum perlu diberi makan tambahan dari luar karena masih mempunyai cadangan makanan berupa yolk sac atau kuning telur. Pada hari ketiga, benih ikan diberi makanan tambahan berupa emulsi kuning telur ayam yang direbus. Selanjutnya berangsur-angsur diganti dengan makanan hidup berupa Moina cyprinacea atau yang biasa dikenal dengan kutu air dan jentik nyamuk.6. PendederanBenih Ikan patin dibesarkan pada kolam tebar atau bak dari semen, lebih bagus pada kolam lumpur karena mengandung banyak plankton dan fitoplankton sebagai pakan alami.7. PemanenanBenih ikan patin bisa dipanen sesuai dengan ukuran yang dikehendaki.Baca juga: Teknik Pembesaran Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer, Bloch) di Keramba Jaring Apung BPBL BatamPemeliharaan PembesaranPemeliharaan Pembesaran ditujukan untuk pemenuhan Ikan Patin konsumsi. Ikan Patin dikonsumsi dalam berbagai ukuran, antara lain 200 gram sampai 1 kg. Masa panen menyesuaikan dengan permintaan pasar. Ada sebagian yang lebih senang ukuran kecil sekitar 200 gram ada yang lebih dari itu. Pada Usia 6 bulan ikan patin sudah mencapai bobot 600-700 gram.Ikan Patin akan tumbuh lebih baik di kolam lumpur dengan aliran air yang mengalir cukup baik, meski demikian bisa juga dipeihara pada kolam semen yang tidak mengalir, tetapi perlu diperhatikan kualitas air agar tetap dalam konsisi yang baik. Langkah-langkah pemeliharaan Ikan Patin Sebagai Berikut: 1. PemupukanPada kolam lumpur idealnya perlu dilakukan pemupukan sebelum ikan patin ditebarkan. Pemupukan kolam bertujuan untuk meningkatkan makanan alami dan produktivitas kolam, yaitu dengan cara merangsang pertumbuhan makanan alami sebanyak-banyaknya.Pupuk yang biasa digunakan adalah pupuk kandang atau pupuk hijau dengan dosis 50–700 gram/m 2.2. Pemberian PakanFaktor yang cukup menentukan dalam budi daya ikan patin adalah faktor pemberian makanan. Faktor makanan yang berpengaruh terhadap keberhasilan budi daya ikan patin adalah dari aspek  kandungan gizinya, jumlah dan frekuensi pemberin makanan. Pemberian makan dilakukan 2 kali sehari (pagi dan sore). Jumlah makanan yang diberikan per hari sebanyak 3-5% dari jumlah berat badan ikan peliharaan. Jumlah makanan selalu berubah setiap bulan, sesuai dengan kenaikan berat badan ikan. Hal ini dapat diketahui dengan cara menimbangnya 5-10 ekor ikan contoh yang diambil dari ikan yang dipelihara (sampel). Pakan yang diberikan adalah Pelet dan bisa ditambahkan makanan alami lainnya seperti kerang, keong emas,bekicot, ikan sisa, sisa dapur dan lain-lain. Makanan alami yang diperoleh dari lingkungan selain mengandung protein tinggi juga menghemat biaya pemeliharaan.3. Penanganan Hama dan PenyakitSalah satu kendala dan masalah Budi daya ikan patin adalah hama dan penyakit.  Pada pembesaran ikan patin di jaring terapung dan kolam hama yang mungkin menyerang antara lain lingsang, kura-kura, biawak, ular air, dan burung. Cegah akses masuk hama tersebut ke kolam atau dengan memasang lampu penerangan si sekitar kolam. Hama tersebut biasanya enggan masuk jika ada sinar lampu. Penyakit ikan patin ada yang disebabkan infeksi dan non-infeksi. Penyakit non-infeksi adalah penyakit yang timbul akibat adanya gangguan faktor yang bukan patogen. Penyakit non-infeksi ini tidak menular. Sedangkan penyakit akibat infeksi biasanya timbul karena gangguan organisme patogen.Baca juga: Pendistribusian Ikan Hidup dan Sistem Pengangkutannya (1)4. Pemanenan Ikan PatinPemanenan adalah saat yang ditunggu pada budi daya ikan patin. Meski terlihat sederhana pemanenan juga perlu memperhatikan beberapa aspek agar ikan tidak mengalami kerusakan,kematian, cacat saat dipanen. Sayang jika budi daya ikan patin sudah berhasil dengan baik, harus gagal hanya karena cara panen yang salah. Penangkapan ikan dengan menggunakan jala apung akan mengakibatkan ikan mengalami luka-luka. Sebaiknya penangkapan ikan dimulai dibagian hilir kemudian bergerak kebagian hulu. Jadi bila ikan didorong dengan kere maka ikan patin akan terpojok pada bagian hulu. Pemanenan seperti ini menguntungkan karena ikan tetap mendapatkan air yang segar sehingga kematian ikan dapat dihindari. Pemasaran Ikan Patin dalam bentuk segar dan hidup lebih diminati oleh konsumen, karena itu diusahakann menjual dalam bentuk ini. Harga Ikan Patin Per kilogram kurang lebih Rp 15.000-25.000,- Sumber: bulelengkab.go.idTentang MinapoliMinapoli merupakan marketplace++ akuakultur no. 1 di Indonesia dan juga sebagai platform jaringan informasi dan bisnis perikanan budidaya terintegrasi, sehingga pembudidaya dapat menemukan seluruh kebutuhan budidaya disini. Platform ini hadir untuk berkontribusi dan menjadi salah satu solusi dalam perkembangan industri perikanan budidaya. Bentuk dukungan Minapoli untuk industri akuakultur adalah dengan menghadirkan tiga fitur utama yang dapat digunakan oleh seluruh pelaku budidaya yaitu Pasarmina, Infomina, dan Eventmina. ...
Application of Micro Bubbles Technology in Catfish Rearing
Patin

Application of Micro Bubbles Technology in Catfish Rearing

Application of Micro-nano Bubble Oxygen technology in catfish rearing has markedly positive effect compared to conventional techniques.Studies on the effects of small or micro bubbles are gaining interest in recent years, especially in Japan. Technology Micro-Nano Bubble (MNO) was first tested in the study of aquaculture in Japan in models fan oyster and scallop. Accordingly, the growth rate of the cultured subjects is improved by ensuring the dissolved oxygen content is always optimal during the culture process. In fact, nano-sized bubbles can help separate pollutants from water, especially fats, and are thought to greatly affect the pH of water. When micro or nano-sized air bubbles shrink and break down, they will release many free radicals, which can kill bacteria and eliminate odors. Moreover, the technology to create a small and micro-plastic bubble device called Micro-Nano bubble Oxygen (MNO) when applied to aquaculture will bring some benefits:1.       Generating a lot of oxygen is the factor that destroys the bacteria and fungi that cause dangerous animal diseases2.      Generate oxygen to settle alum in water such as iron alum, alum and heavy metals3.      Neutralize ammonia and other toxic gases (chemical or biochemical reactions with the participation of aerobic bacteria4.      Helps to grow and extend the growth cycle of beneficial algae; and v) helping beneficial aerobic bacteria thrive. Thus, MNO machine has many advantages Vietnam can support and apply well for aquaculture to improve production efficiency. Air bubble technology MNO can be considered as one of the optimal solutions to help aquaculturists succeed.  In recent years, some studies have been conducted to increase the survival rate for fingerling rearing in the Mekong Delta, but the survival rate for rearing pangasius from flour to seed is low due to the impact of too many technical and environmental factors. schools and they need to be controlled and perfected. Therefore, it is necessary to study and improve the breeding process and fingerling rearing to provide sufficient quality Pangasius for commercial farming. The use of MNO to arrange improved nursery systems will be considered a good solution for the complete process of fry to fry.Application of Micro-nano Bubble Oxygen technology in catfish nursery ponds Experimental arrangement: Experimental rearing powdered catfish to fry using technology Micro-Nano Bubble Oxygen according to nursery density. Using MNO (4HP; 3phase; Capacity: 70 m 3 / h) with the ability to provide oxygen 20,5kg / day in the pond area of 2,000 m 2 , in particular:  + Density of 500 shrimp / m 2 : 3 ponds with Micro-nano Bubble Oxygen technology and 1 control pond.+  Density 750 shrimp / m 2 : 3 ponds with Micro-nano Bubble Oxygen technology and 1 control pond.Care and management Use a mixture of homemade food, fresh duck eggs (only boiled yolk  , pureed), S-pak 2/5, S-pak 8/5, Tomking 1s, fingerling feed size 0.4 li 40%  protein or more.How to feed fry Feed by hand, using the mixture to stir evenly. From 01 to 04 days of age, feed once a day at 9-10am and from 05-30 days old, feed twice a day at 7-8 am and after 15-16 hours. Time to run fans and MNO From 10-30 days old, start operating oxygen supply system  for fingerlings. Time runs from 3-7 am and afternoon from 14-15 hrs. Depending on the  age of fish, weather, stocking density, fish health, adjust the number of fans, reasonable fan operating hours  , avoid oxygen content <4 mg / L. The application of Micro-Nano Bubble Oxygen technology in catfish rearing ponds from fry to fry has shown positive results. The MNO equipment supplied and ensured the dissolved oxygen level was quite high, about 7.42-8.74 mg / L higher than the control pond (5.32-6.85 mg / L) and contributed to the improvement. High survival rate of fish in MNO applied versus non-applied ponds. After 28-29 days of rearing, the production efficiency of the MNO application showed a statistically significant difference between the control and control ponds. After 29 days of rearing, the survival rate of fry in 02 types of ponds with density of 500 fish / m 2 and 750 fish / m 2 reached 31.23 - 32.32% higher than the control pond (21.36- 22.99%). Similarly, FCR of fish in experimental ponds ranged from 0.56 to 0.62 lower than that of control ponds (0.71 to 0.76). Comparing the results between the two stocking densities shows that the experimental pond with a density of 750 shrimp / m 2 achieved an average yield of 285.65 kg / 1,000 m 2 higher than the experimental ponds at a density of 500 shrimp / m 2. is 193,35kg / 1,000m 2 and has high economic efficiency than the control ponds (P <0.05). Application of MNO technology has ensured better supply of dissolved oxygen content for ponds, and also contributed to reducing electricity consumption in operating the oxygen supply system for ponds from 5.0-16.14% compared to with the control pond.  The application of MNO technology in catfish rearing ponds from fry to fry has shown positive results and the stocking density of 750 fish / m 2 is suitable to ensure economic efficiency.Source: tepbac ...
Effects of Green-Bodied Laying Dogs in Aquaculture
Patin

Effects of Green-Bodied Laying Dogs in Aquaculture

Antibacterial properties and enhances the immune response of green-bodied laying dogs in aquaculture.Antibacterial ability of laying green dog breedsIn the green tree itself bitch  (Phyllanthus amanus )  contains a group of compounds such as:1.       Ankaloid group (with substances found like Isobubbialine, epibubbialine, phyllanthine, securinnie, norsecurinine)2.       Phenolic group (including: ellagitanin, hydrolysable tannins, proantho cyanidin, flavan-3-ol, shikimic (3, 5-O-gallate) acid).3.       Flavonoids and other acids (namely, amariinic acid, thiobarbituric acid, ascorbic acid (vitamin C), etc.)Many scientific reports have also shown that phenolic and flavonide compounds have high antibacterial activity, using total phenolic and total flavonide concentrations as a criterion to determine antibacterial activity in efficacy testing tests. of extracts from dog hens or leaves.Phenolic compounds from different plants have antibacterial activity against different microorganisms. When comparing the results of antibiotic map (measuring the diameter of aseptic ring), in the treatment of plant extracts with the concentration of 1000 mg / mL, the antibacterial ring diameter for Vibrio parahaemolyticus was 21.4 mm; in the doxycylin treatment with a concentration of 30 µg / mL, the antibiotic diameter was 19.8 mm; The ampicillin solution with a concentration of 10 µg / mL has an antibacterial diameter of 0 mm.The antibacterial ring diameter of the green-body dog ​​breed extract increases with increasing concentration. With an extract concentration of 250 mg / mL, the antibacterial ring diameter is 16,6 mm; similar to the concentration of 500 mg / mL is 18.2 mg / mL; with a concentration of 750 mg / mL is 20.6 mm; The highest was at a concentration of 1000 mg / mL 21.4 mm.The ability to inhibit and kill Vibrio sp and V.parahaemolyticus cause AHPND disease in shrimpThis is shown by the ratio of MBC / MIC (Minimum bactericidal concentration / Minimum inhibitory concentration), if this ratio is less than or equal to 4, the extract is likely kill bacteria, on the other hand if this ratio is greater than 4, the extract only inhibits bacteria.Experiments demonstrated that the MIC and MBC of the plant extract for V.parahaemolyticus were 125 mg / mL, respectively; 500 mg / mL, the ratio of MBC / MIC is equal to 4. Similarly with Vibrio sp, MIC and MBC are 62.5 mg / mL; 250mg / mL, MBC / MIC ratio is 4.Enhancing immune response in pangasius ( Pagasionnodon hypothalmus )Unlike shrimp, the body has an immune system. Therefore, there has been a lot of research on the effect of herbal essences on the immune system of fish in order to increase resistance against harmful bacteria and stressors. Phenolic compounds are secondary metabolites of plants that have a positive effect on human health because they have antioxidant activity.In another study, phenolic and flavonide groups are the most prominent antioxidant compounds in plants and are very strong antioxidant compounds, proven to be stronger than vitamin C, vitamin E, and carotenoids. The results of the study showed that when supplementing with extracts from green-bodied laying dogs after 24 hours, the ROS activity (Reactive oxigen species) and the total antibody index of Ig leukocytes (Figure 2) of Pangasius increased significantly compared to the control treatment.ROS consists of free radicals and some special molecules in the structure containing oxygen atoms that are capable of participating in strong oxidation reactions. When agents enter the body, neutrophils will be captured and activated neutrophils will increase the use of oxygen. At the beginning of phagocytosis, these cells use large amounts of oxygen and release enzymes such as NADPH oxidase (NOX); nitric oxide synthase (NOS) is involved in the transformation of O 2 , NO, Cl - to form ROS. ROS radicals will attack foreign antigens. As for Ig antibody, an immunoglobulin-Igi glycoprotein is made from B lymphocytes (mainly antibody-producing plasma cells that are responsible for "capturing" the antigen and are able to bind to the antigen. The antibodies have 5 basic types: IgG, IgA, IgM, IgD, IgE.They have the common function of combining with antigens, bacterial agglutination, neutralizing toxins, preserving body protection. Thus, the potential for application of green stem carrier extracts to prevent and treat aquatic animals is huge, especially in the treatment of Vibrio sp . And can be used in combination with EM preparations for better results.Source: tepbac ...
Fillet, Solusi Piutang Macet dan Oversuplai
Patin

Fillet, Solusi Piutang Macet dan Oversuplai

Peningkatan pendapatan budidaya patin bisa lima kali lipat menanam padi Prinsip penjualan ikan patin atau populernya pangasius (Pangasius hypophthalmus) dalam bentuk fillet tampaknya sudah dilakukan oleh Sirkam Efendi (49 tahun) pembudidaya patin asal Lampung. Warga  Desa Lugusari, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pringsewu ini sudah menebar 80 hingga 120 ribu ekor bibit patin per bulan dengan produksi 40 hingga 60 ton per bulan. Luas kolam keseluruhan mencapai 5 ha dengan total 50 kolam dan 2 ha di antaranya milik sendiri yang tersebar di 10 lokasi.Untuk mensuplai pabrik, masa pemeliharaan patin berkisar antara 6-7 bulan untuk menghasilkan patin berukuran 0,8 hingga 1,3 kilogram (kg) per ekor dan dijual dengan harga Rp14 ribu hingga Rp14.500 per kg. Margin keuntungan yang diperolehnya berkisar antara Rp1.500 hingga Rp2 ribu per kg.Menurut Sirkam, skala ekonomi budidaya patin, minimal dengan menebar 5 ribu ekor bibit untuk bisa menghasilkan pendapatan Rp3 - 4 juta per bulan. Dibandingkan dengan menanam padi, peningkatan pendapatan dari budidaya ikan bisa mencapai lima kali lipat. Hanya perlu modal awal yang besar untuk membuat kolam ikan.  Pengalaman Sirkam selama ini, untuk kolam 3 ribu meter dengan kedalaman air 1,5 meter ditebar 40 ribu ekor bibit patin. Selama enam bulan kebutuhan pakan mencapai 12 ton. Setelah dipanen pada usia enam bulan dengan SR 70 % maka diperoleh ikan sebanyak 27-28 ton. Dengan harga jual Rp14 ribu per kg dan margin keuntungan Rp2 ribu per kg maka keuntungan bersih sekitar Rp56 juta.Manajemen BudidayaUntuk usahanya, bibit patin ukuran 1,5 inci ia beli dari Kota Metro dengan harga Rp160 hingga Rp180 per ekor sudah sampai di tempat. Bibit tersebut ditebar di kolam tanah dengan kepadatan 10 ekor per meter kubik (m3). Diakuinya, citarasa daging patin yang dibesarkan di kolam plastik atau terpal lebih baik. Sebagai solusinya, untuk meningkatkan kualitas daging maka Sirkam menggunakan pakan pabrik dari awal budidaya hingga panen.Kecuali itu, ia tetap bertahan dengan kolam tanah, karena masa budidaya lebih pendek dibandingkan dengan kolam plastik sehingga selisih keuntungan hanya 2-3 %. Sebab SR pada kolam plastik hanya 63 %, sementara pada kolam tanah bisa mencapai 70 %. Hanya kelemahnnya pada kolam tanah, sehabis panen perlu menyedot lumpur dengan mesin pompa alkon sehingga masa persiapan budidaya untuk siklus berikutnya minimal seminggu hingga dua minggu, termasuk untuk melakukan pengisian air.Sementara itu, ia juga menekankan titik kritis budidaya patin terletak pada saat usia dua bulan. Penyakit yang biasanya menyerang berupa bintik merah yang disebabkan bakteri. Pencegahannya dengan aplikasi probiotik ke air dari awal budidaya dengan frekuensi dua  minggu sekali untuk memperbaiki kualitas air.Lalu pada musim kemarau sering terjadi ikan mati massal karena keracunan amoniak akibat kesulitan air untuk melakukan penggantian dan penambahan air. Kematian massal ini umumnya terjadi pada kepadatan tinggi. Terakhir Sirkan mengalami kasus kematian massal pada 2017. Untuk mencegahnya dibuat sumur bor sehingga tetap bisa melakukan penggantian dan penambahan air pada musim kemarau.  Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 94/15 Maret – 14 April 2020Artikel Asli: Trobos Aqua     ...
Pangasius Indonesia untuk Jamaah Haji dan Umroh
Patin

Pangasius Indonesia untuk Jamaah Haji dan Umroh

Pangasius Indonesia diekspor ke Arab Saudi untuk memasok lauk bergizi bagi jamaah haji Indonesia selama musim haji.  Melalui keterangan tertulis, M Suhadi Ketua Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia (APCI) menjelaskan industri ikan pangasius (patin) Indonesia mengalami pertumbuhan yang pesat, terlihat dari produksi ikan pangasius yang terus meningkat dari 319.967 ton di tahun 2017 menjadi 391.151 ton pada tahun 2018.  Indonesia memiliki beberapa daerah sentra produksi pangasius antara lain Sumatera Utara, Riau, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Selatan.  Selama ini industri ikan pangasius Indonesia lebih banyak bermain di pasar dalam negeri saja, di mana pangasius fillet menduduki posisi sebagai ikan yang paling populer di pasar domestik. Saat ini konsumsi fillet ikan pangasius bisa memenuhi dari keseluruhan konsumsi fillet ikan dalam negeri.  Selain dipasarkan di supermarket untuk konsumen rumah tangga, ikan pangasius fillet telah mendapat tempat yang strategis dalam industri jasa makanan di Indonesia yang melayani hotel, restoran, catering  (horeka) serta penerbangan. Pada saat ini sekitar 2.000 ton/bulan bahan baku dikirim ke pabrik pengolahan untuk diolah menjadi fillet.  “Industri ikan pangasius masih terus berkembang dan pasar untuk kebutuhan haji dan umroh masih sangat besar. Saat ini jamaah haji Indonesia mencapai 231.000 per tahun, sedangkan jamaah umrah Indonesia diperkirakan mencapai 1,3 juta pada tahun 2020,” ungkap Suhadi.  Berdasarkan data tahun 2019, Samiono, pengurus Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia (APCI) yang juga menjabat sebagai direktur PT Central Pertiwi Bahari, menyatakan bahwa kebutuhan pangasius untuk jamaah haji asal Indonesia mencapai 600 ton dan kebutuhan pangasius untuk jamaah umroh lebih besar dari angka tersebut. Diuraikannya, sepanjang 2019 perusahaan pengolah ikan pangasius yang tergabung dalam APCI telah berhasil mengekspor 236.000 ton produk olahan pangasius berupa fillet dan steak ke Arab Saudi, khususnya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi jamaah haji dan umroh asal Indonesia.  Upaya penyediaan pasokan produk ikan pangasius untuk kebutuhan haji dan umrah telah dilakukan sejak tahun 2019, namun belum maksimal. Dari total kebutuhan 25 kontainer, baru 11 kontainer yang berhasil dikirim. Sebabya, waktu terlalu pendek dari proses produksi, penyediaan dokumen persyaratan impor, sampai dengan waktu pengiriman. Pada Sabtu tanggal 28 Desember 2019, Konsul Jenderal Republik Indonesia (Konjen RI) Jeddah, Eko Hartono, melakukan kunjungan ke sentra produksi pangasius di Jawa Timur. Tujuan kunjungan tersebut adalah untuk melihat proses budidaya dan pengolahan ikan pangasius dan memastikan kesiapan pelaku usaha di bidang industri ikan pangasius untuk memenuhi kebutuhan jamaah haji dan umrah asal Indonesia.  Kunjungan tersebut dilakukan di beberapa kolam pembudidaya ikan pangasius di Jombang dan Tulungagung, dan di pabrik pengolahan PT Adib Global Food Supplies di Jombang. Pada acara tersebut APCI bersama pembudidaya berkesempatan untuk berdiskusi dengan Konsul Jenderal mengenai ekspor pangasius ke Arab Saudi pada tahun 2020. Pembudidaya ikan pangasius dari desa Bendiljati Wetan, Jawa Timur, mengungkapkan bahwa mereka ingin meningkatkan pasokan ikan pangasius untuk pasar Arab Saudi, khususnya untuk kebutuhan haji dan umrah karena merupakan pasar yang menjanjikan.  Bukan hanya itu, sejumlah pembudidaya dan pelaku usaha di bidang industri pangasius di Jombang, Mojokerto, Tulungagung, dan sekitarnya, menyatakan kesiapan untuk memasok kebutuhan para jamaah haji dan umrah asal Indonesia di tahun 2020. Menurut Imza Hermawan, Ketua Bidang Budidaya Patin APCI, pembudidaya wilayah lain yaitu Sumatera Utara, Sumatera Selatan, dan Jawa Barat juga siap untuk mendukung kebutuhan ekspor ke Arab Saudi.  Eko Hartono berharap bukan hanya kebutuhan patin yang bisa dipenuhi pengusaha dan petani Indonesia, tapi juga kebutuhan lain seperti daging ayam, beras, sayuran, dan sebagainya, sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan petani dan pengusaha Indonesia melalui ekspor produk-produk bahan makanan tersebut. Dalam kesempatan berdialog, Konjen RI melihat antusiasme dan kesiapan pelaku usaha bidang ikan pangasius. Pihak Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Jeddah juga akan berusaha lebih cepat untuk menyampaikan informasi mengenai hasil lelang catering untuk kebutuhan haji dan umrah di Arab Saudi, sehingga ada waktu yang cukup bagi pembudidaya untuk menyiapkan pasokan ikan. Dengan adanya dukungan dari KJRI, diharapkan pelaksanaan ekspor ikan pangasius di tahun 2020 akan lebih baik.  Artikel Asli: Trobos Aqua ...
Pemerintah dan FAO Susun Formula Pakan Patin Berkualitas
Patin

Pemerintah dan FAO Susun Formula Pakan Patin Berkualitas

Badan Pangan Dunia (FAO) dan Kementerian Kelautan dan Perikanan berkolaborasi menyusun formula pakan ikan patin berkualitas berbahan baku lokal sepanjang 2019.Sebelumnya Ditjen Perikanan Budidaya - KKP dengan FAO bersama-sama menggarap proyek "Supporting Local Feed Self-Sufficiency for Inland Aquaculture in Indonesia". Proyek tersebut merupakan kolaborasi yang bertujuan untuk meningkatkan produksi pakan ikan khususnya ikan air tawar yang berkualitas tinggi dengan biaya murah oleh para produsen pakan skala kecil di Sumatera Selatan.Baca juga: KKP – FAO Lakukan Training Percepat Perluasan Area MinapadiDirjen Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto pada terminal workshop proyek ini (Kamis, 19/12), mengatakan  FAO memiliki andil besar dalam mendukung pengembangan akuakultur di Indonesia. Ia juga menilai berbagai support FAO, karena memandang Indonesia merupakan negara yang sangat diperhitungkan dalam kinerja akuakultur global, khususnya bagi pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat dunia.Slamet juga membeberkan, bahwa proyek kolaborasi dengan FAO melalui percontohan produksi pakan mandiri di Provinsi Sumatera Selatan berjalan dengan memuaskan. Hal ini ditandai dengan dihasilkannya paket formula pakan mandiri yang berkualitas dan biaya murah, untuk ikan patin."Formula pakan FAO menghasilkan respon pertumbuhan dan efisiensi produksi. Saya yakin dengan menggunakan formula ini usaha budidaya ikan patin, khususnya di Sumatera Selatan akan semakin berkembang. Komoditas patin akan terus kita dorong, bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri saja, namun kita akan dorong untuk ekspor. Terlebih pasar sudah mulai terbuka misalnya ke Timur Tengah, UE, Amerika dan negara Asia,”jelas Slamet.Ditambahkan Slamet, pakan mandiri saat ini memiliki kualitas yang tidak kalah jauh dengan pabrikan. Menurutnya inovasi formula sudah banyak berkembang misalnya dengan penggunaan silase, enzim dan bahan baku lokal seperti palm karnel milk (PKM). Menurut dia, upaya ini berhasil meningkatkan efisiensi pakan.Baca juga: Pemerintah - FAO Gelar Pelatihan Pemantauan Populasi SidatKhusus untuk PKM ini, Slamet menyatakan, Indonesia sebagai produsen terbesar kedua setelah Malaysia dan 80% nya diekspor. Kendalanya saat ini, kelompok Gerpari (Gerakan Pakan Ikan Mandiri) sulit mendapatkannya karena harga mulai tinggi seiring permintaan untuk pakan awalnya tinggi.“Nah, ini yang saya himbau kepada pemerintah daerah untuk memfasilitasi agar 10% produksi PKM bisa dialokasikan untuk bahan baku pakan ikan, tentunya dengan biaya yang murah. Saya sudah berkirim surat ke Gubernur Riau terkait hal ini, nanti jika belum ada tindak lanjut akan kami susulkan lagi surat himbauan berikutnya", tegasnya.Hingga November tahun 2019, total produksi pakan mandiri secara nasional mencapai 32.557 ton. KKP menargetkan ke depan kontribusi pakan mandiri terhadap kebutuhan pakan nasional akan lebih besar lagi. Dimana saat ini diperkirakan kontribusinya baru sekitar 17%.Sementara itu asisten FAO Representatif Indonesia, Ageng Herianto mengatakan bahwa proyek kerjasama ini dapat membantu para pembudidaya ikan untuk mendapatkan akses pakan yang berkualitas dan murah. Ia menargetkan formula yang dihasilkan dapat menjadi solusi untuk menekan biaya produksi yang 70%-nya dipicu dari harga pakan yang tinggi. Ia juga memastikan bahwa produk pakan formula FAO telah memenuhi standar mutu sesuai SNI dengan kisaran protein sebesar 20 - 25%. Produk ini aman dari tambahan bahan bahan kimia dan biologis yang berbahaya.Formula pakan patin itu telah diuji lapang pada enam kelompok di  Palembang dan Kab Banyuasin dan hasilnya memuaskan dibanding pakan mandiri yang selama ini diproduksi kelompok. Hasilnya, konversi pakan rata-rata kurang dari 2 dan harga terjangkau yakni rata-rata Rp 4.750/kg. Sebagai informasi  formula pakam FAO terdiri dari silase ikan, kepala udang, ikan asin, poles (dedak), bungkil sawit, kanji, premix, multi-enzym, dan phytaseBaca juga: FAO Pilih Indonesia Sebagai Lokasi Percontohan Perbaikan Tata Kelola Biosekuriti Perikanan BudidayaFAO International Consultant, Thomas Shipton, menilai Indonesia merupakan negara yang sangat diperhitungkan dalam pengembangan akuakultur global saat ini. Untuk itu, FAO memiliki kepentingan dalam memberikan dukungan bagi pengembangan akuakultur di Indonesia. FAO menaruh harapan besar pada Indonesia dalam kontribusinya terhadap ketahanan pangan global.  Artikel Asli : Trobos AquaTentang MinapoliMinapoli merupakan marketplace++ akuakultur no. 1 di Indonesia dan juga sebagai platform jaringan informasi dan bisnis perikanan budidaya terintegrasi, sehingga pembudidaya dapat menemukan seluruh kebutuhan budidaya disini. Platform ini hadir untuk berkontribusi dan menjadi salah satu solusi dalam perkembangan industri perikanan budidaya. Bentuk dukungan Minapoli untuk industri akuakultur adalah dengan menghadirkan tiga fitur utama yang dapat digunakan oleh seluruh pelaku budidaya yaitu Pasarmina, Infomina, dan Eventmina.  ...
Pelatihan Komunikasi Branding Online untuk UKM Komoditas Patin
Patin

Pelatihan Komunikasi Branding Online untuk UKM Komoditas Patin

IPB dan Binus University menggelar pelatihan untuk anggota Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia (APCI) bertema “Komunikasi Brand Online yang Efektif” pada Rabu (25/9) di Whiz Hotel Pajajaran - Bogor.Acara yang dihadiri oleh 27 peserta dari Jakarta, Bogor, dan Purwakarta ini merupakan bagian dari Pengabdian Kemitraan Masyarakat (PKM), sebagai kontribusi universitas yang didanai oleh Kemenristekdikti.Pelatihan diisi oleh Amalia E Maulana PhD, pakar branding dari  Binus University bekerjasama dengan Dr Irzal Effendi dan Cecilia Eny Indriastuti MSi (keduanya dari IPB University).Imza Hermawan,  salah satu ketua APCI menyambut baik acara ini karena dianggap sangat bermanfaat bagi para anggota khususnya para pengusaha yang berskala kecil dan menengah. Menurutnya, pelatihan ini berguna untuk meningkatkan kesadaran pengusaha patin bahwa branding sudah menjadi sesuatu yang tidak bisa diabaikan, dan komunikasi online merupakan salah satu cara untuk memenangkan persaingan.  Revolusi industri 4.0 menuntut pelaku usaha untuk beradaptasi melalui komunikasi online.Amalia E Maulana menyatakan persoalan utama dalam pemasaran patin di pasar dalam negeri adalah karena masih simpang siurnya penamaannya. Amalia memaparkan hasil riset etnografi yang menjelaskan bahwa konsumen Indonesia masih bingung dengan penamaan ikan patin khususnya ikan patin fillet.“Ini belum menjadi perhatian pelaku usaha. Konsumen kebingungan terhadap istilah patin, dori, dan pangasius yang dianggap sebagai jenis ikan yang berbeda-beda. Padahal ini merujuk kepada ikan yang sama. Perlu kerja sama dari seluruh pihak yang berkepentingan, khususnya dari pihak asosiasi dan dukungan pemerintah,” ungkapnya.Untuk bisa memasarkan brand ikan patin secara online, lanjut Anna, maka pengusaha butuh memahami media habit dan kebutuhan pada konsumennya. Selain itu harus dicari cerita-cerita menarik seputar ikan patin fillet yang bisa menjadi magnit bagi konsumen agar mulai memasukkan ikan ini dalam menunya. ’The Power of Story’ menjadi pokok bahasan yang menarik dalam workshop ini, Secara bersama-sama, APCI perlu menggali lagi berbagai cerita mengenai patin untuk komunikasi online nya. Menurut Imza, pelatihan ini menjadi moment yang baik untuk para pengusaha patin, khususnya yang kecil dan menengah untuk lebih berbenah terhadap tampilannya di dunia digital dan menjadi pemenang di hati konsumennya.Artikel Asli : Trobos Aqua ...
Ikan Patin Triploid : Otak-Atik Teknologi Lama
Patin

Ikan Patin Triploid : Otak-Atik Teknologi Lama

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB dan Dinas Perikanan Jawa Barat telah  bekerja sama dalam mengembangkan ikan patin strain triploid. Sejak terjadinya perubahan nama dan mandat UPTD Balai Pengembangan Budidaya Ikan Patin dan Lele (BPBIPL) menjadi Balai Pengembangan dan Pemacuan Stok Ikan Patin dan Lele (BPPSIPL) Subang, telah menambah tupoksi UPTD ini untuk melakukan distribusi dan restocking ikan pada perairan umum. UPTD BPPSIPL telah beberapa kali berpartisipasi dalam kegiatan restocking benih ikan patin terutama pada perairan waduk (situ gede, cirata, saguling, dan jatiluhur). Dengan adanya penambahan tupoksi ini pula mulai dirasakan adanya suatu kebutuhan untuk mendapatkan teknologi poliploidisasi, terutama untuk menghasilkan benih ikan patin strain triploid. Kegiatan restocking yang mengintroduksikan spesies asing (non native) atau strain hasil rekayasa genetika menghendaki jaminan tidak akan menekan populasi spesies asli (native) melalui predasi, kompetisi ruang dan makanan, penyebaran penyakit, dan tidak kawin silang dengan spesies asli.Baca juga: Pembudidaya Patin Harapkan Bibit Varietas UnggulTeknologi triploidisasi bukanlah hal baru dalam akuakultur. Teknik ini sudah populer sejak tahun 1980 an dan sudah diterapkan oleh banyak negara untuk mendapatkan populasi ikan yang steril (mandul). Triploidisasi menjadi populer ketika muncul adanya kekhawatiran introduksi spesies asing sebagai ikan budidaya akan menggeser keseimbangan pada ekosistem lokal. Maraknya penggunaan spesies tertentu sebagai pemusnah tanaman air yang menutupi perairan diberbagai negara telah membangkitkan kesadaran tentang bahaya spesies invansif. Beberapa lembaga dunia (FAO, NASCO, ICES, dan lainnya) merekomendasikan produksi strain ini untuk kegiatan budidaya perikanan dan kegiatan restoking ikan di alam untuk menekan efek genetis pada ekosistem alam waduk, sungai, dan perairan umum lainnya. Bahkan ikan uji GMOs disarankan untuk di-triploidkan untuk mengeliminir resiko genetik jika ikan ini lepas dari wadah budidaya ke perairan alam.Poliploid sendiri dapat diartikan sebagai organisme yang memiliki satu atau lebih tambahan pada set kromosomnya dari jumlah normalnya. Untuk beberapa spesies, organisme poliploid dapat terjadi secara spontan di alam maupun dalam sistem budidaya. Beberapa tanaman industri yang banyak dibudidayakan pada era moden saat ini beberapa diantaranya adalah strain poliploid yang disengaja.Baca juga: Teknik Pemijahan Ikan Patin Poliploid, terutama pada triploid, dapat dengan mudah didapatkan dari invertebrata dan vertebrata tingkat rendah seperti ikan dan moluska dengan tujuan untuk meningkatkan kinerja produksi. Dalam regulasi EU (Directive 90/220/CCE of April 23 of 1990), organisme poliploid tidak dianggap sebagai organisme hasil rekayasa genetik (Non-GMOs) sehingga aman untuk dikonsumsi. Untuk beberapa jenis ikan tertentu, strain triploidnya terbukti tumbuh lebih cepat dari pada strain diploid dikarenakan tidak ada energi yang digunakan untuk pembentukan gonad, terutama sel telur. Untuk efisiensi, ikan patin triploid harus diproduksi dari induk ikan patin yang tetraploid. Induk ikan patin tetraploid bersifat fertil (subur) dan jika dikawinkan dengan jantan diploid, akan menghasilkan benih ikan triploid (steril/mandul).Tim yang diketuai oleh Dr.Odang Carman (BDP-FPIK) telah melakukan beberapa tahapan pengembangan strain triploid pada ikan patin di instalasi BPPSIPL, Cijengkol, Subang. Kegiatan ini telah menunjukkan beberapa hasil yang menggembirakan seperti didapatkannya SOP produksi ikan patin triploid dengan metode kejut suhu, dan didapatkannya populasi tetraploid yang akan sangat berguna dalam produksi benih sebar triploid maupun perbanyakan calon induk tetraploid. Menurut Dr. Odang Carman, timnya  dalam waktu dekat akan mulai menyusun dokumen ilmiah untuk kepentingan rilis pada tahun 2019.Baca juga: Tingkatkan Gelasi Surimi, Mahasiswa IPB Manfaatkan Tulang Ikan Patin ” Sebenarnya, selain berguna untuk kegiatan restocking, strain triploid juga akan ditujukan untuk mengisi kebutuhan benih bagi industri pembesaran ikan patin, terutama yang menyuplai ikan ke usaha fillet ikan patin. Ikan patin kami tumbuh 44% lebih cepat dibandingkan patin biasa pada umur yang sama, dan steril (mandul). Selain itu rendemen (yield) fillet yang didapatkan bisa mencapai 45%,  lebih tinggi dari ikan patin normal yang biasanya berkisar pada angka 30%. Dan tentu saja, performa tersebut didapatkan setelah ikan patin dipelihara hingga mencapai umur yang mature ” ujarnya.Sumber : BDP FPIK IPBTentang MinapoliMinapoli merupakan marketplace++ akuakultur no. 1 di Indonesia dan juga sebagai platform jaringan informasi dan bisnis perikanan budidaya terintegrasi, sehingga pembudidaya dapat menemukan seluruh kebutuhan budidaya disini. Platform ini hadir untuk berkontribusi dan menjadi salah satu solusi dalam perkembangan industri perikanan budidaya. Bentuk dukungan Minapoli untuk industri akuakultur adalah dengan menghadirkan tiga fitur utama yang dapat digunakan oleh seluruh pelaku budidaya yaitu Pasarmina, Infomina, dan Eventmina.  ...
Pelatihan Pembenihan Patin di Sekolah Vokasi IPB
Patin

Pelatihan Pembenihan Patin di Sekolah Vokasi IPB

Sebagai komoditas perikanan unggulan, budiaya ikan patin semakin berkembang sehingga memerlukan tambahan pasokan benih setiap tahunnya.Sekolah Vokasi, Prodi Teknologi Produksi dan Manajemen Perikanan Budidaya, bekerjasama dengan Lembaga Pengabdian Pada Masyarakat (LPPM) IPB University dan Tania Akuakultur melaksanakan ‘Training on Pangasius Breeding’ di gedung Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH)  pada Kamis (1/8) . Acara ini sekaligus menjadi ajang tukar pengalaman dan sarana membangun networking bagi para peserta yang merupakan pembudidaya benih pati.Prayoga Surya Darma - Kepala Bidang Program Pelayanan kepada Masyarakat LPPM IPB ini menyebutkan kegiatan ini menjadi wadah sinergi antar pelaku usaha. “Pelatihan semacam ini sangat bermanfaat dan akan lebih bagus lagi apabila ada langkah-langkah selanjutnya, jadi pelaku usaha tidak hanya tahu tentang produksi tetapi lebih bagus apabila sampai ke pemasaran (dari hulu ke hilir)”.Kegiatan diisi oleh 5 pemateri ahli diantaranya ‘Pembenihan Ikan Patin: Peluang dan Tantangan’ oleh Ir Cecilia Eny Indriastuti, ‘Pengadaan Calon Induk Unggul’ oleh Odang Carman, dan  ‘Pemeliharaan Larva Patin dan Rekayasa Manajemen Kualitas Air’ oleh Irzal Effendi, ‘Penyakit pada Pembenihan Patin dan Penanggulangannya’ oleh Sri Nuryati dan ‘Pemeliharaan Induk dan Rekayasa Pematangan Induk di Luar Musim’ oleh Agus Oman Sudrajat.“Terkait meningkatnya permintaan konsumsi patin dalam negeri dan filet patin untuk ekspor setiap tahunnya, tentu hal ini akan menghela pembudidaya benih patin untuk meningkatan produksi jumlah benih dengan kualitas yang baik”, ungkap Eny. Sinyal positif juga ditunjukkan dengan dimulainya ekspor filet patin ke Timur Tengah, khususnya Arab Saudi m pada Mei 2019.“Petani harus membiasakan diri untuk terus mengeksplorasi teknik-teknik pemeliharaan larva untuk mengetahui bagaimana penampakan larva yang berkualitas baik. Sehingga didapat teknik penanganan larva yang baik dan harus didukung dengan kegiatan dokumentasi/pencatatan setiap kegiatan sehingga pembenih memiliki data jika sewaktu-waktu akan berkonsultasi dengan peneliti atau universitas,” urai Irzal.“Untuk mengganti antibiotik demi  mendapatkan ikan dengan survival  rate tinggi disarankan  menggunakan cacahan pelepah pisang,” Sri. Selanjutnya penggunaan induk unggul mutlak diperlukan untuk mendapat benih yang berkualitas , tetapi persiapan calon induk yang unggul memerlukan waktu yang lama menurut Odang.Menyiasati induk patin supaya matang gonad  di luar meskipun tidak pada musim pemijahan diperlukan hormon pemacu kematangan gonad. “Ada dua jenis hormon yang berbeda dalam reproduksi, hormon  untuk membuat bunting dan hormon pemijahan,” ucap Agus.Pada sesi diskusi terungkap peserta pelatihan mengharapkan adanya kemitraan antara Sekolah Vokasi dan Departemen Budidaya Perairan IPB dengan pembudidaya benih patin dalam bentuk praktik mahasiswa dan akses untuk analisis laboratorium. Acara yang dimoderatori Ketua Bidang Budidaya Patin APCI (Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia), Imza Hermawan, menghadirkan pembudidaya benih patin dari Republik Pembenih Patin, mahasiswa serta alumni mahasiswa studi perikanan.Sumber : Trobos Aqua ...
Tingkatkan Gelasi Surimi, Mahasiswa IPB Manfaatkan Tulang Ikan Patin
Patin

Tingkatkan Gelasi Surimi, Mahasiswa IPB Manfaatkan Tulang Ikan Patin

Surimi merupakan produk olahan perikanan yang memiliki kandungan gizi tinggi. Surimi yang disukai konsumen haruslah memiliki tingkat gelasi yang baik. Ayu Septi Wulandari, Fahri Sinulingga dan Devi Kartika Prameswari mahasiswa dari Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University mencoba membuat surimi ikan kurisi dengan gelasi tinggi. Tujuannya untuk meningkatkan gelasi mereka menggunakan tulang ikan patin. Ayu selaku ketua tim menjelaskan bahwa hasil samping tulang ikan patin belum dimanfaatkan secara maksimal, dan penelitian surimi dari ikan tropis seperti kurisi juga belum banyak dilakukan. Umumnya peningkatan gelasi menggunakan putih telor yang dapat menyebabkan alergi. "Oleh sebab itu kami meningkatkan gelasi dengan protein yang sudah terdapat pada ikan dengan bantuan enzim transglutaminase yang diaktivasi oleh nanokalsium dari tulang ikan patin,” tutur Ayu.Nanokalsium tulang ikan patin dibuat menggunakan metode kalsinasi dengan pengecilan ukuran menggunakan nanomilling. Selama ini pemanasan yang banyak digunakan adalah pemanas tradisional waterbath. Sehingga pada penelitian ini dikembangkan teknologi modern pemanasan menggunakan microwave yang dapat menghemat waktu. Hasil penelitian tim yang dibimbing Bambang Riyanto, SPi, MSi ini berupa produk surimi dengan penambahan nanokalsium tulang ikan patin. Nanokalsium tidak hanya berfungsi meningkatkan gelasi tetapi juga sebagai penyumbang kalsium. Surimi yang dikembangkan tim ini siap untuk dikonsumsi dengan pemanasan menggunakan microwave. Dengan ide ini mereka berhasil mendapat pendanaan dari Kemenristekdikti melalui program Pekan Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian (PKMPE) tahun 2019. "Surimi memiliki gelasi yang lebih baik jika ditambahkan nanokalsium, gel yang baik merupakan kesukaan konsumen. Selain itu, nanokalsium dapat menyumbang bagi kebutuhan kalsium konsumen,” ungkapnya. Sumber : Kumparan ...
Pembudidaya Patin Harapkan Bibit Varietas Unggul
Patin

Pembudidaya Patin Harapkan Bibit Varietas Unggul

Pelaku budi daya patin berharap ada temuan bibit unggul untuk komoditas tersebut demi menekan biaya produksi dan menjaga margin. Pembudi daya  ikan air tawar dari Ciseeng, Bogor, Adrianus Mario mengatakan saat ini, rasio pakan dan produksi patin mencapai 1,4:1. Artinya, untuk menghasilkan seekor patin berbobot 1 kilogram (kg) dibutuhkan rata-rata pakan sebanyak 1,4 kg. “Di ikan, 90 persen biaya produksi memang di pakan,” katanya ketika dihubungi Bisnis, Rabu (17/7/2019).Untuk itu, dia berharap pemerintah bisa membuat penelitian untuk memproduksi bibit unggul dengan kebutuhan pakan yang lebih sedikit dibandingkan dengan yang ada saat ini.Menurut Mario, hal ini seharusnya bukanlah sesuatu yang mustahil. Pasalnya, jenis ikan lain seperti ikan mas, nila, dan lele saat ini memiliki beragam varietas unggul yang bahkan telah disertifikasi oleh pihak kementerian terkait.“PR-nya bukan hanya di pakan, tapi pengembangan jenis-jenis baru,” ujarnya.Mario pun menyambut baik upaya pemerintah yang saat ini gencar mencari pasar baru bagi patin, khususnya di luar negeri melalui branding Indonesian Pangasius.Namun, dia berharap upaya tersebut bisa diimbangi oleh sesama pelaku budi daya dan industri pengolahan melalui peningkatan kualitas produksi. Adapun sudah ada peluang bagi Indonesia untuk melakukan ekspor ke Arab Saudi pada tahun ini karena pasokan dari Vietnam kualitasnya dinilai kurang baik.“Jangan sampai kita seperti Vietnam. Pabrik juga harus commit tidak menggunakan bahan berbahaya karena permintaan ekspor adalah permintan kualitas daging putih dan tidak berbau,” katanya. Di samping itu, dia juga berharap adanya upaya ekstra untuk mengenalkan patin pada konsumen dalam negeri khususnya penikmat dori. Menurutnya, banyak konsumen ikan dori yang tidak mengenal betul bahwa komoditas tersebut merupakan patin yang berasal dari Vietnam.Sumber : Bisnis.com ...
BPBAT Jambi Siap Pasok Benih Patin 2,2 Juta Ekor/Tahun
Patin

BPBAT Jambi Siap Pasok Benih Patin 2,2 Juta Ekor/Tahun

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Ditjen Perikanan Budidaya pada tahun 2019 komitmen meningkatkan produksi patin melalui pengembangan budidaya ke masyarakat.  Guna mempermudah kelompok pembudidaya (pokdakan) mendapat benih patin berkualitas, Ditjen Perikanan Budidaya juga mendorong  Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Jambi memproduksi calon induk maupun benih patin sebanyak 2,2 juta ekor/tahun.Dirjen Perikanan Budidaya KKP, Slamet Soebjakto mengatakan, benih patin dan benih ikan air tawar lainnya seperti nila dan mas yang diproduksi BPBAT Jambi sudah siap didistribusikan ke masyarakat. “Benih dan calon induk ikan air tawar seperti patin, mas dan nila itu akan didistribusikan ke seluruh kawasan Sumatera, seperti Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Riau, Aceh, dan Jambi,” papar Slamet, saat kunjungan kerja bersama Komis IV DPR RI, di BPBAT Jambi, Senin (15/7).Menurut Slamet, selain patin, BPBAT Jambi juga bisa memproduksi benih dan calon induk nila sebanyak 2 juta ekor/tahun. Balai air tawar tersebut juga mampu memproduksi benih dan calon induk ikan mas sebanyak 1,2 juta ekor/tahun.UPT yang berada di bawah Ditjen Perikanan Budidaya ini juga dikenal sebagai tempat produksi calon induk dan benih ikan seperti nila, baik nila merah maupun JICA atau nila Jepang, dan  gurame. Bahkan, BPBAT Jambi mampu memproduksi calon induk dan benih ikan spesifik lokal seperti jelawat, nilem, semah dan ikan hias seperti botia, arwana Jambi dan super red, maupun ikan Sumatera.Slamet juga mengungkapkan, untuk mendukung pengembangan UPT tersebut, Ditjen Perikanan Budidaya saat ini  sedang mempersiapkan pembangunan instalasi milik BPBAT Jambi di  Kabupaten Dharmasraya Sumatera Barat (Sumbar) seluas 30 hektar (ha) dan di Kabupaten Musirawas Sumatera Selatan seluas 40,9 hektar (ha). Pembangunan instalasi ini diharapkan bisa mendorong BPBAT Jambi dalam meningkatkan produksi perikanan budidaya.“Kalau produksi benih maupun calon induk meningkat, masyarakat akan semakin mudah melakukan budidaya dan pada akhirnya produksi perikanan budidaya ke depan meningkat,” kata Slamet.Menurut Slamet, mendekatkan sentra pembenihan ke sentra pembesaran memiliki arti yang sangat strategis,  karena akan mampu mempercepat distribusi benih ikan dan menurunkan biaya angkut atau pengirimannya. Melalui pendekatan tersebut, biaya produksi pembudidaya bisa ditekan dan pendapatan masyarakat pun meningkat.Slamet juga berpesan kepada penerima bantuan agar bantuan-bantuan dapat dimanfaatkan dengan maksimal.  Sehingga, hasilnya benar-benar dapat dirasakan  dan mampu meningkatkan kesejahteraan mereka.“Kalau bantuan yang kami berikan dimanfaatkan dengan benar dan sesuai aturan, kami yakin bantuan ini akan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara signifikan. Sebagai contoh, bantuan pakan mandiri jika dimanfaatkan dengan benar, maka akan menurunkan biaya produksi hingga 30-40%. Hal ini akan menjadi faktor pengungkit meningkatnya pendapatan pembudidaya,” tegas Slamet.Pabrik Pakan MandiriSelain memproduksi benih dan calon induk ikan air tawar, BPBAT Jambi juga memiliki  pabrik pakan mandiri dengan kapasitas  1 ton/jam. Sehingga, target produksi pabrik pakan mandiri dari BPBAT Jambi  pada tahun 2019 ini sebanyak 140 ton.“Sebagian produksi pakan mandiri tersebut akan diperuntukkan kepada masyarakat. Dengan adanya bantuan-bantuan seperti pakan mandiri, benih ikan, budidaya ikan minapadi dan bioflok maupun bantuan lainnya dampaknya telah nyata dapat dirasakan,” kata Slamet.Berkat bantuan pakan mandiri dan benih ikan,  pendapatan rata-rata pembudidaya mengalami kenaikan dari Rp 3,03 juta/bulan pada tahun 2017 menjadi Rp 3,39 juta/bulan  pada tahun 2018,  atau naik 8,9%.  “Angka ini menunjukkan bahwa pendapatan pembudidaya ikan jauh lebih besar dibandingkan dengan UMR nasional sebesar Rp 2,26 juta,” ujar Slamet.Slamet juga menjelaskan,  Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi) sebagai indikator daya saing pembudidaya ikan juga terus naik menjadi 102 pada Juni 2019 lalu. Angka di atas 100 ini menunjukkan pendapatan pembudidaya ikan lebih besar dari pengeluarannya.Data BPS juga menyebutkan, nilai tukar usaha pembudidaya ikan (NTUPi) pada Juni 2019  lalu, jauh di atas angka 100 yaitu mencapai 114.60. Artinya, prospek usaha perikanan budidaya semakin membaik dan efisien. Menurut Slamet, produksi perikanan budidaya pada triwulan I tahun 2019 naik 3,03% atau sebesar 4,65 juta ton,  dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2018 sebesar 4,56 juta ton. Sementara itu, dalam periode yang sama produksi perikanan tangkap hanya mencapai 1,9 juta ton. Artinya produksi perikanan budidaya sudah mendahului di atas produksi perikanan tangkap. “Meski begitu, pembangunan perikanan budidaya akan terus ditingkatkan seiring dengan naiknya target produksi sebagai konsekuensi atas semakin meningkatnya kebutuhan pangan berbasis protein hewani terutama ikan,” pungkas Slamet.Sumber : Tabloid Sinar Tani ...
KKP Dorong Industrialisasi Patin Berkelanjutan
Patin

KKP Dorong Industrialisasi Patin Berkelanjutan

JAKARTA - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyiapkan strategi  pemenuhan suplai produk patin nasional salah satunya dengan mendorong industrialisasi budidaya patin berkelanjutan  di sentral-sentral produksi. Hal tersebut menyusul semakin terbukanya peluang pasar ekspor patin nasional khususnya ke kawasan Timur Tengah. Sebelumnya KKP dengan Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia (APCI) telah meluncurkan  brand  market "Indonesian Pangasius, the Better Choice" pada pameran Seafex di Dubai Oktober 2018 lalu. Disamping itu, menyusul penetapan ikan patin sebagai menu makanan haji Indonesia tahun 2019 oleh Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umroh, Kementerian Agama, secara langsung membuka peluang ekspor produk patin ke Kerajaan Saudi Arabia. Menanggapi hal tersebut, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto dalam keterangannya di Jakarta (26/5) mengatakan bahwa semakin terbukanya pasar ekspor patin, akan secara langsung berdampak positif terhadap geliat usaha budidaya di berbagai daerah. Menurutnya, permasalah pasar selama ini kerap jadi salah satu yang dikeluhkan para pembudidaya. Oleh karenanya, ia mengatakan optimis, jika pasar terbuka, maka nilai tambah akan lebih banyak dirasakan para pembudidaya. "Saya dapat info dari teman-teman APCI bahwa akan ada rencana ekspor perdana produk patin ke Saudi Arabia dalam waktu dekat. Ini sangat positif, dan menambah optimisme kami, bahwa komoditas patin mulai jadi unggulan ekspor dan tentu akan meningkatkan nilai devisa. Ini yg harus kita dorong, agar produk budidaya bisa tembus ekspor.  Slamet juga mengatakan optimis untuk memenuhi kebutuhan ekspor dan memberikan suplai share yang besar. Ia memastikan telah menyiapkan strategi yakni melalui industrialisasi budidaya patin berkelanjutan. Slamet menjabarkan bahwa industrialisasi ini harus dibangun dalam setiap rantai sistem produksi khususnya benih dan pakan. Ia menekankan pentingnya industrialisasi perbenihan untuk mendukung industry budidaya patin berkelanjutan.  "Jadi masalah benih ini bagian yang sangat penting. Melalui industrialisasi perbenihan kita akan dorong pemenuhan kebutuhan benih yang unggul dan adaptif melalui breeding program untuk perbaikan genetik. Disamping itu, kita juga akan bangun sistem logistiknya, sehingga ada konektivitas yang efisien mulai dari broodstock center, larva center, UPR dan pembudidaya di sentral sentral produksi. Jika benih berkualitas maka akan berpengaruh langsung terhadap efisiensi pakan juga", jelas Slamet. “Selain penguatan induk dan benih, KKP juga melakukan pengembangan pakan mandiri. Khususnya untuk ikan-ikan air tawar, seperti patin, hal ini untuk menekan biaya produksi patin, sehingga produk semakin berdaya saing”, lanjut Slamet Terkait peningkatan daya saing produk, KKP juga terus fokus untuk mendorong penerapan cara budidaya ikan yang baik (CBIB) atau yang juga dikenal dengan Sertifikasi Indo-GAP (Indonesian Good Aquaculture Practices) yang setara atau diakui juga secara internasional. "Terkait sertifikasi Indo-GAP akan terus didorong untuk menjamin keberterimaan produk patin nasional di dunia internasional. Saya optimis, preferensi konsumen global akan semakin tinggi dan ini kesempatan kita untuk mengisi market share ekspor ke berbagai negara, khususnya Timur Tengah", pungkas Slamet. Hal senada juga disampaikan Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia (APCI), Imza Hermawan. Imza saat dikonfirmasi mengakui bahwa aktivitas budidaya berjalan dengan cukup baik. Namun, ia juga menekankan pentingnya mendorong kualitas induk dan benih. "Jadi induk dan benih berkualitas ini faktor utama penentu kesuksesan budidaya, utamanya dalam meningkatkan efisiensi priduksi. FCR bisa ditekan, jika benih yang digunakan berkualitas", akunya.  Untuk diketahui, data sementara produksi ikan patin nasional tahun 2018 sebesar 391.151 ton, naik 22,25% dari 319.966 ton pada tahun 2017. ...
Teknik Pemijahan Ikan Patin
Patin

Teknik Pemijahan Ikan Patin

 Dalam budi daya ikan patin, pemijahan adalah salah satu cara mendapatkan bibit baru. Adapun proses ini bisa dibedakan menjadi pemijahan alami dan buatan. Saat ini, pemijahan ikan patin banyak dilakukan dengan teknik pemijahan buatan, yaitu melalui pemberian kelenjar hipofisa (kelenjar untuk merangsang proses reproduksi ikan) ikan lain atau hipofisa buatan dengan bantuan hormon gonadotropin.Pemilihan dan Seleksi IndukProses pemijahan sendiri diawali dengan mempersiapkan induk jantan dan betina. Pemilihan induk merupakan faktor yang sangat penting karena induk dengan kualitas baik akan menghasilkan benih yang baik pula.Induk betina yang matang umumnya berumur sekitar 3 tahun, memiliki berat minimal 1,5 hingga 2 kg, dengan perut yang membesar dan terasa lembek saat diraba. Organ kelaminnya pun membengkak dan berwarna merah tua.Adapun induk jantan umumnya berumur paling tidak 2 tahun, memiliki berat 1,5 hingga 2 kg, memiliki kulit perut tipis dan lembek, serta organ kelaminnya membengkak dan berwarna merah.Matangnya telur dari induk betina bisa dicek dengan cara berikut:- Ambil sampel telur dari 1 ekor induk betina menggunakan selang kateter. Dengan hati-hati, masukan selang pada kloaka (organ kelamin ikan) sedalam 3 cm, lalu ujung selang lainnya disedot hingga butir telur masuk ke dalam selang.- Simpan telur yang ada di dalam ke dalam wadah, tetesi dengan larutan formalin, alkohol dan larutan asetid yang dicampur dengan perbandingan 6:3:1. Larutan ini berfungsi untuk mengetahui kematangan telur.- Telur yang matang tampak bulat, berwarna putih kekuning-kuningan dan inti telurnya terpisah dari cangkang.Baca juga: Benih Ikan Patin Warung Benih Proses Penyuntikan (Induced breeding)Seperti dikatakan di awal tadi, pemijahan buatan dilakukan dengan memberikan kelenjar hipofisa pada ikan patin melalui proses penyuntikan. Proses ini dilakukan secara intramuskular (injeksi ke dalam otot tubuh) di belakang sirip punggung ikan. Jarum dimasukan sedalam 2 cm dengan kemiringan sekitar 40 derajat.Dosis kelenjar hipofisa yang disuntikan berbeda antara hipofisa alami dan buatan. Untuk hipofisa alami, dosis yang diberikan sekitar 0,12 ml. Sedangkan untuk hipofisa buatan, dosis yang diberikan untuk jantan sekitar 0,3 ml/kg dan betina 0,5 ml/kg.Penyuntikan kelenjar hipofisa buatan dilakukan 2 kali terhadap induk betina. Pada suntikan pertama, dosis yang diberikan sekitar sepertiga bagian dosis total. Adapun pada penyuntikan kedua, dosisnya dua per tiga bagian dari dosis total. Jarak antara penyuntikan adalah 8 hingga 10 jam setelah penyuntikan pertama. Sedangkan untuk jantan hanya sekali dan dilakukan bersamaan dengam penyuntikan pertama pada induk betina.Pelepasan Telur dan PembuahanPada proses ini, telur dari induk betina dan sperma dari induk jantan akan dicampurkan di luar tubuh ikan. Perut dari induk betina dan jantan diurut dari bagian depan ke bagian belakang secara perlahan-lahan. Kemudian, telur dan sperma bisa langsung ditampung pada wadah yang sama.Lakukan pengadukan dengan bulu ayam sekitar setengah menit secara perlahan. Kemudian masukan air dan garam dengan perbandingan 1:4 ke wadah sambil tetap diaduk.Untuk membuang kotoran, lakukan penggantian air bersih sebanyak 2 hingga 3 kali. Gunakan larutan lumpur untuk membersihkan lendir yang menempel dan memisahkan telur yang menggumpal. Lumpur yang digunakan berupa lumpur atau tanah dasar kolam yang dipanaskan terlebih dahulu pada suhu 100 derajat Celsius.Telur yang mengalami pembuahan akan mengembang, ukuran telur terlihat lebih besar dan berwarna kuning. Sedangkan telur yang tidak mengalami pembuahan berwarna putih dan akan mengendap di dasar.Proses Penetasan TelurProses penetasan telur dilakukan pada corong-corong penetasan. Wadah yang akan digunakan sebaiknya dicuci bersih dan dikeringkan terlebih dahulu. Air bersih kemudian dimasukan ke semua wadah. Nyalakan pompa isap agar air bersih terus mengalir dan terjadi sirkulasi air di seluruh wadah.Telur ikan patin yang akan ditetaskan dimasukan kedalam corong penetasan kemudian disebarkan menggunakan bulu ayam. Debit air yang dialirkan harus diatur agar telur selalu berada dipermukaan dan tidak menumpuk di dasar corong. Kepadatan telur sebaiknya sekitar 400 hingga 500 butir per liter air atau 10.000 hingga 20.000 butir per corong.Nah, seperti itulah proses pemijahan pada ikan patin untuk mendapatkan benih dengan kualitas terjaga. Pemijahan yang dilakukan mandiri akan mengurangi tingkat stres pada benih ikan karena tidak adanya proses pemindahan dengan jarak yang  jauh.Temukan Benih Ikan Berkualitas Disini! Sumber :http://penyuluhankelautanperikanan.blogspot.co.id/2015/01/pemijahan-ikan-patin.html http://www.alamikan.com/2014/05/cara-pemijahan-ikan-patin-methode-dry.htmlMinapoli adalah Marketplace Akuakultur Indonesia No. 1 yang membantu anda menemukan berbagai kebutuhan informasi dan produk budidaya ikan anda. Temukan berbagai produk akuakultur di Pasarmina, info lainnya seputar akuakultur di Infomina, dan event perikanan terdekat di Eventmina ...