Infomina - Kakap Putih

Minapoli adalah platform jaringan infomasi dan bisnis perikanan terintegrasi. Buat dan bagikan informasi perikanan sekarang dan temukan manfaatnya terkoneksi dengan jaringan Minapoli.

Kakap Putih

Budidaya Ikan Kakap di Keramba Jaring Apung (KJA)
Kakap Putih

Budidaya Ikan Kakap di Keramba Jaring Apung (KJA)

Pemeliharaan ikan kakap dapat dilakukan di keramba jaring apung (KJA). Ikan kakap hidup pada media air laut, sehingga keramba jaring apungnya harus ditempatkan di laut. Lokasi yang cocok untuk keramba jaring apung di laut adalah:- KJA harus ditempatkan pada lokasi yang perairannya tenang (teluk terlindung, atau antara pulau-pulau) dengan arus air yang agak tenang/memedahi. Alur kapal harus disediakan untuk operasi pemeliharaan.- Kedalaman air pada saat surut minimal 3 meter ( idealnya , 15-30 meter). Lokasi KJA harus mempunyai pertukaran air (arus) air yang baik, tidak terjadi pengadukan air pada kedalaman tertentu. Kecepatan arus paling tidak 0.1 meter per detik.- Dasar perairan sebaiknya batu berpasir. Lokasi KJA sebaiknya jauh dari padang lamun atau karang hidup, untuk mrenghindari dampak negatif KJA pada lingkungan sekitar.- Lingkungan sekitar harus mendukung kegiatan KJA, ruangan yang cukup untuk pemeliharaan jaring, pakan, gudang peralatan, produk pasca panen dan tempat tambat kapal dan semua fasilitas tersebut harus terpadu.Bentuk dan Ukuran KJABentuk KJA yang biasa untuk memelihara ikan kakap di laut adalah berbentuk melingkar dan empat persegi panjang. Ukuran KJA tersebut dapat dilihat pada Tabel di bawah ini:Jaring Yang DiperlukanJaring yang perlu dipersiapkan pada pembesaran ikan ini adalah pada awal bermata 8 mm untuk ukuran benih 2-10 cm dan 25 mm untuk ukuran benih 10 cm.Padat PenebaranPadat penebaran disesuaikan ukuran benih. Kepadatan tinggi tidak disarankan karena ikan mudah terserang penyakit. Kepadatan tinggi juga dapat menyebabkan stress pada ikan dan mutu air mudah menurun, terutama oksigen terlarut, sehingga ikan lemah dan mudah terserang penyakit.Sortasi dan GradingSortasi dan grading dilakukan sebulan sekali pada saat itu jaring diganti, dan lakukan perendaman ikan dengan air tawar. Hindari ikan luka karena fisik selama grading. Gunakan serok yang lembut pada saat grading.Pemberian PakanPakan berupa ikan rucah beku atau segar diberikan setiap hari sebanyak 10% kali bobot ikan kakap atau pellet 3% kali bobot ikan kakap perhari dengan dua kali pemberian yaitu pagi dan sore hari. Pada saat ikan telah mencapai bobot 200gr, pemberian pakan cukup sekali dalam satu hari sebanyak 5% kali bobot ikan dengan ikan rucah, tetapi bila diberi pakan pelet, pelet yang diberikan sebanyak 2% kali bobot ikan. Cara pemberiannya dilakukan secara sedikit demi sedikit dan jangan dimasukan sekaligus ke jaring. Gunakan ikan rucah segar. Jika menggunakan ikan beku sebaiknya dicairkan terlebih dahulu. Jangan diberi pakan ikan asin atau ikan olahan. Tambahkan mineral mix atau vitamin kedalam pakan rucah tersebut.Perawatan JaringSecara reguler jaring harus di cek dan diperbaiki bila ada yang rusak. Binatang menempel harus selalu dibersihkan dengan sikat atau spreyer. Buang sampah atau potongan kayu di sekitar KJA yang dapat merusak jaring. Lakukan pertukaran jaring sebulan sekali. Sebelum jaring dipergunakan dicek terlebih dahulu keutuhannya.Pemanenan Ikan KakapIkan kakap dapat dipanen setelah mencapai ukuran 400 gram/ekor atau lebih tergantung pada ukuran yang dikehendaki. Ikan kakap dipasarkan dalam keadaan masih hidup atau sudah mati. Sebelum dipanen ikan kakap dipuasakan terlebih dahulu 1-2 hari, jaring dikontrol keutuhannya. Angkat jaring menuju ke salah satu sudut. Gunakan jaring serok halus untuk menangkap ikan kakap. Hindari ikan luka, sisiknya hilang atau stress karena ikan ini harganya menjadi turun. Ikan kakap dijual dalam kondisi masih hidup. (Bidang Perikanan Budidaya). Sumber: dkp.jatimprov.go.id ...
Barramundi Fun Facts
Kakap Putih

Barramundi Fun Facts

We’ve spent a lot of time working with barramundi, but they continue to surprise us. Here’s our running list of fun facts about this remarkable fish. How many of these do you know?Fact 1 Barramundi’s native waters span from Northern Australia up to Southeast Asia and all the way west to the coastal waters of India and Sri Lanka.Fact 2 Barramundi is known by many around the world as Asian Seabass, although its Scientific common name is Barramundi Perch. Some of the other names it’s called include: Giant Perch, Palmer, Cockup,  Bekti, Nairfish, Silver Barramundi and Australian Seabass.Fact 3 The name barramundi is Aboriginal for “large-scaled silver fish.”Fact 4 Virtually all barramundi are born male, then turn into females when they are three to four years old.  This means female barramundi can only be courted by younger men!Fact 5 Barramundi live in freshwater, saltwater and estuaries (where fresh and saltwater meet).Fact 6 Barramundi are catadromous fish, meaning that they are born in the ocean and live in freshwater — basically the opposite lifestyle of the salmon. However, they also are able to live purely in saltwater.Also read: Research Backs Value of Adding Taurine to Fish FeedsFact 7 A Barramundi’s age is determined by counting growth rings on their scales (much like counting growth rings on a tree).Fact 8 Large female barramundi can produce upwards of 32 million eggs in a season.Fact 9 Barramundi have been recorded to be over 4 feet long and weighing over 90 lbs!Fact 10 Barramundi can travel great distances in a lifetime; one fish was tagged and found 400 miles away.Fact 11 Juvenile barramundi have a distinguishing characteristic: the presence of a white dorsal head stripe when they’re between one and five centimeters long.Fact 12 Barramundi spawn on the full moon, and their iridescent skin can be seen shimmering through the water during their ‘love dance’. On that note…Also read: Improving Profitability and Production Efficiency in Seabass and Sea BreamBarramundi, A Love StoryAn Aboriginal Folktale of the Fish of “Forbidden Love”Long ago in the dream time there were no fish, so the people lived on animals, roots and berries. They were all content. That is, except for Boodi and Yalima; young lovers who wanted to marry. However, they were forbidden because their tribe required Yalima to marry an elder so she could take care of him. Determined to be together, Boodi and Yalima ran away, knowing that to go against the Elders was punishable by death.They ran far and wide, but were relentlessly chased by the tribal elders.  Eventually, they came to the edge of the land where the water began, and they knew that in order to survive, they would have to stand their ground.With the angry tribe descending upon them, they gathered wood and made as many spears as they could. But the tribesmen were too numerous, and soon the lover’s spears were all spent. Boodi turned to his beloved Yalima and said, “For us to be together, we must go into the sea to live.” And so they jumped off the cliff and descended into the water.Boodi and Yalima are still there, in the shape of the Barramundi hiding amongst the mangroves.  And the spines on the fin of the barramundi are said to be the spears thrown at them by the tribe.Those who believe in the folktale say barramundi has special aphrodisiac qualities. they also call it by its other name: ‘Passion Fish’. Source: The Better Fish ...
Dari Laut, Kakap Putih Berkembang di Air Payau
Kakap Putih

Dari Laut, Kakap Putih Berkembang di Air Payau

Pengembangan kakap putih sebagai komoditas andalan baru dari sub sektor perikanan budi daya, terus dilakukan Pemerintah Indonesia di tengah pandemi wabah COVID-19. Upaya tersebut dilakukan, karena Pemerintah ingin memiliki komoditas andalan baru yang bisa mendukung rencana pengembangan di Pulau Sumatera dan Kalimantan.Selain di dua pulau besar tersebut, kakap putih juga diharapkan bisa tetap dikembangkan melalui teknik budi daya perikanan di Pulau Jawa. Di pulau terpadat di Indonesia tersebut, kakap putih dibesarkan di dalam tambak ikan air payau yang ada di Desa Sidorejo, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Provinsi Jawa Tengah.Balai Besar Perikanan Budi daya Air Payau (BBPBAP) Jepara yang mengawasi pelaksanaan budi daya kakap putih oleh para petambak dari Demak, mengharapkan bahwa Demak bisa menjadi pemimpin di Jawa untuk pengembangan kakap putih di air payau.Pengembangan tersebut, bagi BBPBAP Jepara menjadi rencana strategis, mengingat kakap putih selama ini dikenal sebagai salah satu komoditas ikan laut yang memiliki nilai ekonomi tinggi di Indonesia. Dengan potensi besar itu, kakap putih kemudian dikembangkan agar bisa dilaksanakan di air payau seperti yang ada di Demak.“Di Demak, kakap putih sukses melaksanakan panen di air payau dengan produksi mencapai tiga ton per hektare,” ungkap Direktur Jenderal Perikanan Budi daya KKP Slamet Soebjakto dalam keterangan resmi di Jakarta, belum lama ini.Baca juga: Budidaya Kakap Putih Kian Bergeliat Budi daya kakap putih di tambak ikan air payau di Desa Sidorejo, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Foto : KKPMenurut dia, dalam melaksanakan budi daya kakap putih di Demak, BBPBAP Jepara melaksanakan alih teknologi budi daya kepada para pembudi daya yang ada di daerah itu. Selain itu, untuk mendukung uji coba pengembangan budi daya kakap putih di air payau, BBPBAP Jepara juga memberikan benih kakap putih sebanyak 200 ribu ekor untuk ditebar di tambak yang ada di Demak.Slamet menyebutkan, kesuksesan uji coba budi daya kakap putih di Demak, menjadi upaya Pemerintah untuk mendorong komoditas tersebut menjadi salah satu andalan untuk ekspor. Agar rencana itu bisa berjalan baik, Pemerintah mengembangkan kakap putih air payau di luar Jawa seperti di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan.“Kita lagi gencar gencarnya untuk menggenjot nilai ekspor perikanan budidaya, dimana kakap putih akan jadi andalan ke depan,” tuturnya.Dengan berbagai rencana yang sedang dijalankan sekarang oleh Pemerintah Indonesia, Slamet optimis kalau sub sektor perikanan budi daya bisa melewati masa pandemi COVID-19 yang saat ini terjadi di seluruh Indonesia. Terlebih, karena saat ini produksi di hulu tetap berjalan dan akan bisa memenuhi kebutuhan konsumsi untuk di dalam negeri.Budi daya LautSelain di air payau, pengembangan budi daya kakap putih juga dilakukan di air laut. Untuk melaksanakan rencana besar tersebut, Pemerintah memiliih Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau sebagai pusat pembenihan (broodstock center) kakap putih yang pengelolaannya dilakukan langsung oleh Balai Perikanan Budi daya Laut (BPBL) Batam.“Itu menjadi upaya untuk mengembangkan sistem logistik benih kakap putih, sehingga induk dan benih unggul yang dihasilkan mampu menjangkau sentra-sentra produksi budi daya,” ungkapnya.Sebagai komoditas yang dikembangkan untuk menjadi sumber andalan bagi Indonesia dalam mendapatkan devisa bagi Negara, maka perlu dibuat sistem logistik benih yang efektif dan efisien agar pengembangan kakap putih bisa berjalan maksimal.Menurut dia, sistem tersebut diterapkan pada sentra-sentra kawasan budi daya yang tersebar di seluruh Indonesia, khususnya di Sumatera dan Kalimantan. Dengan membuat sistem logistik benih kakap putih, perikanan budi daya akan memicu munculnya lapangan pekerjaan yang baru dan memberi nilai tambah bagi masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir.“Kondisi itu diyakini akan bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir di masa depan,” tambah dia.Baca juga : Teknik Pembesaran Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer, Bloch) di Keramba Jaring Apung BPBL BatamIkan kakap putih hasil budi daya tambak ikan air payau di Desa Sidorejo, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Foto : KKP Tentang sistem logistik tersebut, Slamet memaparkan bahwa itu akan diarahkan untuk menjadi sumber pasokan benih untuk kebutuhan benih di dua pulau besar tersebut. Dalam praktiknya, sistem logistik benih akan dilakukan dengan terintegrasi sebanyak mungkin.“Itu akan menekan biaya logistik, benih-benih unggul dapat menjangkau sentra-sentra produksi secara berkelanjutan dengan jaminan kuantitas, kualitas, dan tertelusuran yan baik,” tuturnya.Adapun, integrasi yang dimaksud Slamet, akan dilakukan mulai dari broodstock center yang menjadi pusat pemuliaan induk unggul dan penyedia benih bermutu, Balai Benih Ikan Sentral sebagai larvae center, dan masyarakat sebagai pendederan serta pembesaran di keramba jaring apung (KJA).Sebelum diterapkan dengan cakupan luas di Sumatera dan Kalimantan, sistem logistik benih lebih dulu mulai diterapkan di Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh sejak 2017 dan kemudian dikembangkan di Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau sejak 2018.PotensiPengembangan kakap putih di air laut menjadi bagian dari pemanfaatan potensi indikatif budi daya laut secara nasional yang saat ini luasannya mencapai 12,1 juta hektare dan mengandung nilai potensi ekonomi sekitar USD150 miliar per tahun. Nilai tersebut muncul, jika seluruh luasan lahan dimanfaatkan secara optimal untuk budi daya laut, di luar budi daya rumput laut.Akan tetapi, dengan luasan 12,1 juta ha tersebut, pada kenyataannya Indonesia saat ini masih belum bisa memanfaatkan potensi budi daya laut secara optimal. Dari total luas tersebut, lahan yang sudah dimanfaatkan masih kurang dari 10 persen.“Ini menjadi pekerjaan rumah yang besar untuk lima tahun mendatang, bagaimana mengoptimalkan potensi yang ada menjadi sumber ekonomi,” tegas dia.Baca juga: Pembenihan Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer, Bloch) Petambak memperlihatkan ikan kakap putih hasil budi daya tambak ikan air payau di Desa Sidorejo, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Foto : KKP Menurut Slamet, pengembangan budi daya laut, khususnya kakap putih, akan difokuskan untuk pasar internasional seperti Tiongkok, Taiwan, Jepang, Amerika Serikat, dan Uni Eropa. Pengembangan tersebut akan dilakukan secara berkelanjutan dengan menjadikan Kabupaten Kepulauan Meranti sebagai proyek percontohan secara nasional.Dengan ditetapkan Meranti sebagai pusat kawasan budi daya kakap putih air laut nasional, diharapkan itu bisa memicu daerah lain untuk menerapkan model serupa pada perikanan budi daya. Jika itu bisa terjadi, maka efek besar yang berlipat untuk pengembangan ekonomi akan muncul dan itu juga memicu perluasan tenaga kerja.“Kita akan pastikan ada multistakeholders yang terlibat mulai dari hulu hingga hilir. Termasuk nanti bagaimana membangun jejaring pasar baik untuk lokal maupun ekspor,” ucap dia.Terkait dengan pengembangan kakap putih di air payau, Kepala BBPBAP Jepara Sugeng Rahardjo mengatakan bahwa komoditas bernilai ekonomi tinggi tersebut saat ini masih menjadi komoditas baru yang dikembangkan di air payau. Pengembangan tersebut diharapkan bisa ikut mengangkat perekonomian masyarakat perikanan budi daya yang ada di sekitar lokasi tambak ikan air payau.Keberhasilan uji coba yang dilakukan di Demak, menjadi harapan baru untuk masa depan perikanan budi daya, khususnya untuk produksi di air payau. Dari Demak, diharapkan keberhasilan tersebut bisa menular ke daerah lain, terutama di sekitar Demak, umumnya di pulau Jawa.Mengingat kakap putih adalah komoditas baru yang dikembangkan pada air payau, pembudidaya pasti akan memerlukan pasokan benih untuk komoditas tersebut di masa mendatang. Namun, BBPBAP Jepara memastikan bahwa ketersediaan benih kakap putih untuk air payau akan tetap tersedia, karena akan dilakukan produksi benih lebih banyak lagi.“Benih kakap putih yang tersedia saat ini berkisar lima puluh ribuan ekor dan masih bisa diperbanyak lagi. Kita memprioritaskan bantuan benih kepada petambak yang memang memiliki keseriusan dalam budi daya ikan tersebut dan bertanggung jawab,” tegas dia.Diketahui, kakap putih adalah ikan yang tersebar luas di wilayah Hindia-Pasifik Barat dan bisa dijumpai dari mulai Asia Tenggara, Papua Nugini, hingga di wilayah Australia Barat. Di Thailand, kakap putih dikenal dengan sebutan pla kapong, dan di Australia terkenal dengan nama barramundi. Sumber: Mongabay.co.id ...
3 Cara Pemijahan Induk Kakap
Kakap Putih

3 Cara Pemijahan Induk Kakap

Proses pembenihan ikan kakap putih membutuhkan pemeliharaan induk yang sesuai dengan standar, agar benih yang dihasilkan oleh ikan anda berkualitas baik. Berikut ini adalah cara pemeliharaan induk kakap putih yang perlu anda ketahuiTingkat kematangan induk kakap putihSebelum memelihara induk kakap, anda perlu menseleksi terlebih dahulu induk kakap yang akan dipijahkan berdasarkan jenis dan ukurannya. Bentuk induk kakap jantan lebih langsing dan beratnya lebih ringan dibanding dengan induk kakap betina. Syarat pertama adalah bahwa induk kakap memiliki badan yang sehat (tidak sakit, tidak luka, memiliki sperma atau telur yang baik), juga umur yang relatif sama.Kematangan telur dapat ditentukan oleh sampel yang menggunakan polyethyline canula (diameter 1,5 - 2,5 mm). Telur yang induk kakap yang matang berbentuk seragam, spherical dan tidak melekat, rata-rata diameter 0,45 mm atau lebih. Pada saat musim pemijahan, abdomen dari induk kakap betina lebih gelap dan genital membuka serta ukurannya bundar dan abdomen jantan lebih terang.Baca juga: Pembenihan Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer, Bloch)Pemijahan induk kakap putihMetoda pemijahan pada ikan kakap putih terbagi menjadi 3, yaitu: Pemijahan alami (natural spawning), pemijahan buatan (stripping atau artificial fertilization), dan penyuntikan (induced spawning)1. Natural spawningPemijahan induk kakap berlangsung di bulan April sampai akhir bulan September. Waktu pemijahan dalam bak berlangsung antara jam 20.00 - 24.00 pada bulan purnama. Telur yang dibuahi mengapung dipermukaan, sedangkan yang tidak dibuahi tenggelam ke dasar bak. Kemudian telur yang mengapung dikoleksi dan dipindahkan kedalam bak-bak penetasan. Guna melindungi perkembangan telur secara layak, salinitas harus dipertahankan 2 5 — 3 2 °/oo dan temperatur 27 — 30 °C. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan/ kegagalan dalam pemijahan induk kakap adalah pakan, mutu air (oksigen terlarut, pH, salinitas) dan ukuran induk.2. StrippingPemijahan induk kakap dengan melakukan pemijatan perut induk kakap diperlukan 2 orang, satu orang memegang induk kakap diatas sebuah wadah dan seorang lagi mengeluarkan telur dengan jalan pemijatan perut ikan perlahan-lahan dari depan kebelakang dengan ibu jari dan telunjuk. Pemijatan induk jantan juga sama dengan induk betina, sperma disimpan dalam ice box (dapat disimpan selama 5 hari).Tanda-tanda sperma induk kakap jantan yang baik adalah tidak menggumpal dan tidak melekat pada plasma, apabila dipijat spermanya akan keluar dengan mudah dan bila dilihat dibawah mikroskop mereka bergerak secara aktif dan cepat. Setelah sperma dan telur dikeluarkan dari induknya segera dicampur dalam sebuah wadah, lalu diaduk dengan bulu ayam. Kemudian telur yang sudah dibuahi dicuci dengan air laut bersih berulang-ulang. Cara pembuahan demikian sering disebut dengan "dry method of eggs fertilization". Baca juga: Teknik Pembesaran Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer, Bloch) di Keramba Jaring Apung BPBL Batam3. Induce spawning Pemijahan induk kakap menggunakan hormon HCG (Human Chorionic Gonadotropin), Puberogen dan LHRHa (Luteinizing Hormone Releasing Hormone Analoque). Hormon tersebut disuntikan secara intramusculer lebih kurang 3 - 4 cm dibawah sirip dorsal. Menurut Lim et al (1986) dosis yang digunakan tergantung pada jenis hormonnya. Untuk hormon HCG 250 IU/kg berat badan (betina) dan 100 (IU/kg (jantan), Puberogen 200 IU/kg (jantan dan betina), sedangkan hormon LHRHa adalah 75 kg ug/kg (betina) dan 40 ug/kg (jantan). Pada Sub Balitdita Bojonegara-Serang menggunakan hormon HCG dengan dosis 250 IU/kg (jantan dan betina) untuk penyuntikan I dan 500 IU/kg penyuntikan II, sedangkan hormon LHRHa dengan dosis 50 ug/kg (jantan dan betina) baik untuk penyuntikan I dan II. Interval penyuntikan I dan II lebih kurang 12 jamSumber: Mayunar. 1991. Pemijahan dan Pemeliharan Larva Ikan Kakap Putih. Oseana. 16(4): 21-29Lim, L.C., H.H. Heng and H.B. Lee. 1986. The induced breeding of seabass (lates calcarifer) in Singapore. Singapore J. Pri. Ind. 14 (2): 81 -95.  ...
Kabupaten Meranti akan Jadi Pusat Kawasan Budidaya Kakap Putih
Kakap Putih

Kabupaten Meranti akan Jadi Pusat Kawasan Budidaya Kakap Putih

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Pemerintah Provinsi Riau sepakat menjadikan Kabupaten Meranti sebagai kawasan budidaya kakap putih nasional. Kawasan ini bahkan memiliki potensi untuk memproduksi sekitar 10.500 ton per tahun di lahan seluas 145 hektar.Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengungkapkan pemilihan Meranti sebagai sentra kawasan budidaya kakap putih nasional, selain karena memiliki potensi pengembangan yang besar, juga karena komitmen Pemda yang tinggi pada upaya percepatan pembangunan perikanan di daerahnya. Penetapan itu juga tertuang dalam nota kesepakatan bersama antara Ditjen Perikanan budidaya, Pemerintah Provinsi Riau dan Pemerintah Daerah Kabupaten Meranti."Kami telah menangkap komitmen dan harapan daerah melalui Bupati tentang bagaimana mendorong budidaya laut di Kabupaten Meranti mengingat potensinya yang sangat besar. Maka, kita buat kesepakatan bersama dengan memilih komoditas kakap putih sebagai unggulan. Pertimbangannya, karena kakap putih ini punya pangsa pasar yang luas dan bisa didorong untuk menghasilkan devisa,"" ungkap Slamet dalam keterangan tertulis, Senin (10/2/2020).Ia juga menambahkan penentuan pusat kawasan budidaya kakap putih di Kabupaten Meranti diharapkan akan memicu daerah lain menerapkan model serupa. Menurutnya prinsip pengembangan kawasan ini diharapkan akan memberikan multiplier effect yang besar bagi ekonomi dan perluasan tenaga kerja."Kita akan pastikan ada multi stakeholders yang terlibat mulai dari hulu hingga hilir. Termasuk nanti bagaimana membangun jejaring pasar baik untuk lokal maupun ekspor," imbuhnya.Untuk merealisasikan model yang sama, Slamet meminta Pemda segera merampungkan Perda Rencana Zonasi Pemanfaatan Wilayah Pesisir, Laut dan Pulau Pulau Kecil (RZWP3K) untuk menjamin legalitas dan kondusifitas iklim usaha budidaya laut. Bagi Pemda yang memiliki wilayah pesisir, laut dan atau pulau perlu segera merampungkan pengesahan Perda RZWP3K, karena ini yang akan menjamin perlindungan investasi budidaya laut."Kalau ini sudah ditetapkan, nanti tinggal kita tetapkan dimana fokus pengembangannya yang efektif. Selama ini yang jadi kendala masuknya investasi di usaha budidaya laut salah satunya terkait kepastian hukum. Jadi ada beberapa kasus, budidaya laut harus tergusur karena terjadi konflik kepentingan dengan sektor lain," katanya.Slamet menambahkan, secara nasional potensi indikatif budidaya laut mencapai 12,1 juta hektar dengan potensi nilai ekonomi diprediksi hingga US$150 miliar per tahun, jika seluruhnya mampu dimanfaatkan optimal (di luar rumput laut). Namun demikian, saat ini pemanfaatan potensi budidaya laut masih kurang dari 10%. Dirinya menegaskan bahwa ini yang akan menjadi PR besar dalam 5 tahun mendatang yakni bagaimana mengoptimalkan potensi yang ada menjadi sumber ekonomi."Untuk komoditas budidaya laut, khususnya kakap putih, orientasi kita memang akan lebih fokus bagi kepentingan ekspor seperti ke China, Taiwan, Jepang, USA, dan Uni Eropa. Kawasan yang akan kita kembangkan di Meranti akan menjadi pilot project nasional, nanti kita lihat hasil proses bisnisnya seperti apa. Saya optimis, jika mampu kita optimalkan, Indonesia akan berpeluang menguasai suplai share ekspor kakap putih dan ini akan mendongkrak devisa kita secara signifikan," ungkap Slamet.Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Meranti, Eldy Syahputra mengatakan bahwa potensi untuk pengembangan budidaya laut di Kabupaten Meranti mengacu pada Perda Provinsi tentang RZWP3K mencapai 438 hektar."Saya kira melalui penetapan Kabupaten Meranti sebagai pusat kawasan budidaya kakap putih, nanti diharapkan ada kontribusi bagi ekonomi daerah," ucap Eldy.Menurutnya sejak lima tahun belakangan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Meranti mulai menggalakkan program budidaya melalui keramba jaring apung. Oleh karenanya, untuk mendorong minat masyarakat, Pemkab Kepulauan Meranti sejak lima tahun terakhir sudah menebar 84 unit KJA dan dikelola oleh kurang lebih 260 nelayan dengan produksi kakap putih mencapai 60 ton per tahun."Untuk market, pangsanya sangat menjanjikan. Setiap kilo-nya bisa dijual dengan harga Rp 70 ribu sampai Rp 80 ribu. Ini untuk permintaan pasar lokal di Provinsi Riau, apalagi nanti ke depan jika mampu tembus ekspor dipastikan nilai tambahnya lebih tinggi lagi," tuturnya.Secara terpisah, Kepala Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Batam, Toha Tusihadi, mengatakan pihaknya diberi tanggung jawab untuk menjamin ketersediaan suplai benih kakap putih, diseminasi dan pendampingan teknologi budidaya.Langkah awal yang akan dilakukan, menurut Toha yakni memberikan dukungan benih, dan membangun pola segmentasi penyiapan benih. BPBL Batam juga mendukung upaya merevitalisasi UPTD Balai Benih Ikan Pantai (BBIP) Selat Panjang yang dilakukan oleh Pemkab Kepulauan Meranti dengan melakukan pendampingan pelaksanaan rehabilitasi sarana dan prasarana serta pendampingan teknologi produksi benih."Sebagai Unit Pelaksana Teknis Ditjen Perikanan Budidaya, BPBL Batam berkomitmen untuk merealisasikan Nota kesepakatan yang telah dibangun oleh ketiga pihak. Penyediaan benih untuk mendukung pengembangan kawasan siap kami penuhi. Tim BPBL Batam telah menyiapkan tenaga pendamping, sehingga BBIP Selat Panjang mampu memproduksi benih secara mandiri," tegas Toha.Toha menyampaikan bahwa pengembangan pusat kawasan budidaya laut di Kepulauan Meranti akan didorong melalui pola segmentasi usaha. Pola ini dibangun dengan harapan bahwa kedepannya akan terbentuk suatu kawasan budidaya laut yang mandiri.Segmen pertama adalah produksi benih 0,8 cm. Pada segmen ini, saat ini benih 0,8 cm masih mengandalkan produksi dari BPBL Batam. Mulai tahun 2020 ini, BPBL Batam akan mendampingi BBIP sehingga nantinya untuk kebutuhan benih mampu dipenuhi dari balai ini. Sedangkan untuk segmen kedua, produksi pendederan di Tambak oleh koperasi/Pokdakan produsen benih. Tugas dari Pokdakan ini adalah memproduksi benih ukuran 8 cm (siap tebar di KJA) dari benih ukuran 0,8 cm."Pada segmen ini telah dilakukan penebaran perdana sebanyak 100.000 ekor dengan targetkan produksi benih ukuran 8 cm minimal 40.000 ekor. Kami menargetkan dalam tahun 2020 ini ada 3 siklus penebaran. Nantinya dari pembesaran KJA dapat mencapai paling tidak 20 ton dan tenaga kerja yang terlibat diperkirakan minimal 50 orang ", imbuh Toha.Selanjutnya segmen ketiga adalah usaha pembesaran di Keramba Jaring Apung (KJA). Hasil produksi dari tiga siklus penebaran ini diproyeksikan mampu menghasilkan ikan konsumsi sebesar 40 ton sampai 60 ton.Saat dimintai konfirmasi, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Riau, Herman, menyatakan bahwa Pemerintah Provinsi berkomitmen untuk mewujudkan Meranti sebagai pusat kawasan budidaya kakap putih nasional. Menurutnya, tahun ini Pemprov akan mengalokasikan anggaran sekitar Rp. 1 milyar untuk mendukung program ini. "Harapan nanti melalui pengembangan kawasan budidaya kakap putih ini akan ada multiplier effect baik bagi ekonomi lokal, daerah dan nasional," tandas Herman.Sumber: Detik.com ...
Can Barramundi Become "The Salmon of The Tropics"?
Kakap Putih

Can Barramundi Become "The Salmon of The Tropics"?

One of the world’s largest fully integrated barramundi farming enterprises has been achieved by the merger of Barramundi Asia and Allegro Aqua, which was announced today.The merger of Barramundi Asia (BA) and Allegro Aqua (AA), integrates the efforts and successes of several multi-year R&D programs undertaken by both companies – including sustainable farming practices, selection of superior traits using genomics and marker-assisted breeding, autogenous vaccines, grow-out, downstream processing, and global market reach into one concerted value chain.Andreas von Scholten, CEO of Barramundi Asia, says: “Allegro Aqua’s expertise in life sciences research and innovation will empower Barramundi Asia to realize synergies from improved genetics. With this merger, Barramundi Asia’s quest to make barramundi the ‘salmon of the tropics’ has been further advanced. Our end to end, in-house expertise will now span barramundi genomics, proprietary autogenous vaccines, Best Aquaculture Practice’s highest 4–star rated nursery-cum-husbandry practices, best-in-class grow-out capabilities, as well as EU-compliant post-harvest processing.”The merger follows BA’s success in scaling up its production and distribution of its barramundi products globally – both from Singapore and Australia - while it also has plans to expand in Brunei too. The merger will see additional synergies coming from enhanced productivity, reduced mortality and the improved feed conversion ratio from using selected superior fingerlings, customized vaccines and operating across recirculating and bio-secure hatchery, nursery and grow-out pens on and near the Southern Islands of Singapore.With a commitment to environmental stewardship and responsible farming, the merger is expected to strengthen food fish production targets and introduce sustainable practices across diverse geographical regions, to better meet the food security needs of Singapore and the region.BA’s fish stocks are already vaccinated by proprietary autogenous vaccines produced by UVAXX, a subsidiary of BA, which provides custom autogenous vaccines and health monitoring support. Combined with AA’s elite St John’s sea bass fry and fingerlings, production volumes will be enhanced. As the only farm in Singapore with the highest 4-star Best Aquaculture Practices rating, BA’s commitment to sustainability and traceability has seen their filleted fish, marketed under the trade name Kühlbarra, widely endorsed by multiple Michelin-rated chefs, celebrity restaurateurs, and premier hotel chains.AA will now put greater emphasis to continue to work with UVAXX and the Temasek Life Sciences Laboratory (TLL) to develop future generations of vaccinated barramundi fingerlings for BA’s nucleus of regional farms; as well as other barramundi farms in Singapore and the Southeast Asian region. Andrew Kwan, director of Barramundi Asia, says: “What will be truly industry-transforming is the plan to supply superior vaccinated barramundi fingerlings to other farmers in Singapore. This will be coupled with a guaranteed buy-back program when the fish are ready for harvest. To this end, farmers who opt-in on this scheme will follow a strict prescribed feeding program and adhere to the international standards of husbandry practices adopted by Barramundi Asia because it will be a branded product.”Source: The Fish Site ...
Tank Colour Shown to Impact Performance of Asian Seabass
Kakap Putih

Tank Colour Shown to Impact Performance of Asian Seabass

The color of a fish tank’s walls has been shown to have a marked impact on the performance of Asian seabass (Lates calcarifer).The background color is known to influence the growth rates and feed utilization of various fish species and research by a team based in Thailand has demonstrated that it can have marked differences in the performance of Asian seabass too.The researchers stocked juvenile seabass averaging 16g into 18 tanks of six different colors: transparent, white, black, red, green and blue – and compared the growth performance, feed utilization, digestive enzyme activities, flesh quality, carcass composition, and hematological parameters.After 10 weeks, they noted: “positive growth performance and feed utilization were observed in fish reared against transparent, white, black or green backgrounds, while negative effects were noted for fish reared on the remaining treatments (p < .05)”.Modulation of the main digestive enzymes was observed across the six treatments, indicating different strategies for utilizing nutrients by the fish. The activity ratio of trypsin to chymotrypsin was highest in the fish reared against a black background, followed by a white background.Flesh quality, in terms of protein synthesis capacity and protein turnover rate, indicated a significant improvement in the fish reared against white, black and green backgrounds, while the levels of myosin and actin was similar across the six color treatments. Carcass composition and hematological parameters showed no negative effects in either of the preferred treatments.The researchers concluded: “These findings indicate that the most suitable background colors for rearing Asian seabass are black, followed by white and green, while transparent, red or blue backgrounds are unsuitable.” An abstract of their research, which was published in Aquaculture Research can be accessed here.Source: The Fish Site ...
Research Backs Value of Adding Taurine to Fish Feeds
Kakap Putih

Research Backs Value of Adding Taurine to Fish Feeds

Adding small quantities of taurine to fish feeds can both enhance growth rates and muscle function, according to new research.Scientists based in Egypt studied the effects of supplementing fishmeal-based feeds for juvenile European sea bass (Dicentrarchus labrax) with taurine – with supplementation levels varying from 0 to 1 percent.Diets containing supplementary taurine were shown to increase growth rates but reduce lipid levels in sea bassThe effects of adding more of this amino acid to the diets on fish growth, feed utilization, proximate chemical composition, hematology, immune biomarkers and muscle morphometry were examined.The researchers noted that: “An increase in the dietary taurine incorporation resulted in progressive increases in the growth metrics” with the fish given the highest level of taurine increasing in size from 5 to 22 grams over the 90-day trial – four grams more than the fish receiving the control diet – while their protein productive value was 31 percent, compared to 28 percent in the control.On the flip side, the fish fed an additional 0.4 percent taurine showed “significantly” reduced lipid levels - dropping to 7.8 percent in the fish fed this diet compared with 9.4 percent in the control fish.The researchers found that other impacts caused by taurine supplementation included elevated blood lymphocyte and monocyte counts and increased serum phagocytic and lysozyme activities.The researchers concluded that: "Taurine addition at 1% (T10 feed), the suggested level to boost growth, altered the dorsal muscle cellularity and myofibril ultrastructure, suggesting enhanced muscle function and firmness in comparison with that of the fish given the control feed." An abstract of the trial results, which has recently been published in Aquaculture International, under the title “Is a taurine supplement necessary in fishmeal-based feeds for juvenile European sea bass (Dicentrarchus labrax)?” is available here.Source: The Fish Site ...
Improving Profitability and Production Efficiency in Seabass and Sea Bream
Kakap Putih

Improving Profitability and Production Efficiency in Seabass and Sea Bream

The need to halt the decline of yield per fry was the central theme of a presentation on Mediterranean finfish hatcheries which was given by Isabel Represas at INVE’s customer seminar in Crete. Represas, who is INVE Aquaculture’s sales director in Europe and the Middle East (EMEA), kicked off proceedings by asking the audience – who were primarily seabass and seabream hatchery managers – a number of questions. The first question (see figure 1 below) related to the factors that producers see as being the most important for improving their overall production. The results showed that 39 percent of the audience believed that improvements in hatchery protocols will have the biggest impact on the predictability of the production while 27 percent put their faith in new technologies. The consistency of products came in as the third-largest area for improvement with 19 percent of the vote, while increasing staff skill picked up the remaining 15 percent. Figure 1: hatchery managers were asked to share the factors they considered having the greatest impact on their productivity The second question (figure 2) related to profitability, with 29 percent rating genetics as the most important means to improve profitability and 26 percent thinking that biosecurity was the number one priority. Eighteen percent rated automation as having the most potential to improve profitability and this was followed by nutrition (15 percent) and diversification (12 percent). Figure 2: hatchery managers were asked to share the factors they considered having the greatest impact on their profitability Commenting on the results of the online poll, Represas said: “ The results clearly showed that predictability and profitability are linked with more than one factor, we have to look into several aspects as genetics and biosecurity, aligned with hatchery protocols to improve larval quality as one of main drivers for successful fish farming. New technologies and automation are crucial to reducing risk factor, this is expected to grow rapidly as consolidation of the industry continues.” Represas went on to provide an overview of aquaculture production levels in the Mediterranean, revealing that 440,000 tonnes of finfish (of which 95 percent was accounted for by bass and bream) were produced in 2018. Moreover, although these fish were produced across 20 countries, Greece and Turkey account for 70 percent of production levels. She also flagged up the trends over the last 20 years, in which fry production has increased 2.8 times, while grow-out numbers have only increased by 2.5 percent. Establishing the yield per fry – which is one of the best measures of production efficiency – Represas explained, was not easy, but it is clear from the data that she was able to collate that while it is hugely variable from year to year, there is also a clear long-term downward trend. Meanwhile, in terms of species, she noted that, while the bass traditionally had a better yield per fry in the last two years they have been outperformed by bream. She went on to contrast the performance in the Mediterranean with that of the salmon sector, which has seen a gradual increase in yield per smolt over the generations and was now at 3.52 kg/smolt in Norway. - an important indicator of improved production efficiency. However, she also noted that in other countries, such as Chile, there has been a high variability from year to year – a reflection of sporadic spikes in disease levels. The good news, according to Represas, is the decrease in the cost of fry production in the Med, due to the optimization of hatchery procedures, with the current average cost of producing 1 million fries now at around €119,584 (ie €0.12 per fry). However, she finished up her presentation by suggesting that optimizing feeding protocols – particularly at the nursery stage – could have a major impact on improving overall performance. And she presented the results of a trial which suggest that upgrading feeds in a farm with a 5,000-tonne production capacity could increase the end yield by 736 tonnes and overall income by €2.4 million. Summing up her talk Represas emphasized: “The vital role of fry quality in maximizing yields during grow-out. As a result, it’s of crucial importance for hatchery managers to prepare their fish to ensure healthy, well-balanced and cost-effective growth.” In order to achieve this, she argued, producers need to: “Improve their technology; increase levels of automation to reduce human error and increase control and predictability, and implement new techniques to manage environmental conditions and disease prevention”.Source: The  Fish Site   ...
Seaweed Supplementation Shows Delayed Mortality in Farmed Seabass
Kakap Putih

Seaweed Supplementation Shows Delayed Mortality in Farmed Seabass

A new study published in Nature – Scientific Reports find that supplementing aquafeed with Gracilaria gracilis aqueous extract (GRA) enhanced the immune function and antioxidant capacity of European seabass. Researchers also concluded that GRA extract slowed the progression of photobacteriosis infections (Phdp) – making the fish more resistant to the disease. Seabass aquaculture is becoming more popular, but faces significant challenges from bacterial diseasesThe researchers found no difference in the feed intake or weight between experimental and control groups in the trial. This indicates that GRA supplementation could be economically viable and welfare-friendly method of boosting seabass immunity without increasing production costs.BackgroundThough European seabass aquaculture is gaining in popularity and profitability, the industry faces significant challenges from bacterial infections. One of the more common infections is Photobacterium damselae subspecies piscicida (Phdp), the causative agent for photobacteriosis. Phdp induces septicemia in young fish and causes massive economic losses from mortalities.Producers usually rely on prevention instead of treating Phdp outbreaks – it’s more cost-effective to boost fish immunity with supplements instead of vaccinating entire fishponds. Administering supplements is also better for the overall welfare. Delivering immunostimulants through aquafeed means that producers won’t disrupt the surrounding environment or cause handling-related stress.Nutritional research suggests red seaweeds like Gracilaria gracilis contain polysaccharides that boost fish immunity and slow bacterial growth. There is also evidence that G. gracilis aqueous extract (GRA) acts as a prebiotic in zebrafish (Danio rerio). However, the literature hasn’t established if GRA supplementation is a useful immunostimulant for European seabass. The studyThe researchers wanted to evaluate the effect of GRA in seabass infected with photobacteriosis. More specifically, they wanted to measure how GRA supplementation affected seabass survival rates and immune response after exposure to Phdp.Young seabass were used to test the efficacy of GRA extractThe researchers began by sourcing seabass fingerlings and acclimating them to experimental tanks for two weeks. During this period, the fish were weighed and fed the same control diet. When the experimental period began, the researchers distributed the fish into eight circular tanks that were connected to a closed seawater RAS, putting 30 individuals into each tank. Four tanks were fed the experimental diet (control + 5 percent GRA extract) and four remained on the control feed. The seabass was tracked for 80 days.After the observation period, four tanks of fingerlings were experimentally infected with Phdp by injection (two on the control diet, two on the experimental feed). Two tanks were given a placebo injection (one on the control diet and another on the experimental diet). The remaining fish were used as true controls (control diet and no handling for injections). The tanks were taken off the RAS to prevent cross-contamination.The researchers monitored the seabass for seven days after injection. They recorded feed intake and any mortalities. Kidney samples from the infected fish were collected and examined. The fish were monitored for an additional three days before the experiment concluded.ResultsDuring the first 80 days of the experiment, the seabass showed no differences in body weight or feed intake. Post-infection however, the groups differed significantly. Seabass that had not been exposed to Phdp had no mortalities and showed no chemical stress response to the experimental environment.Mortalities were observed on the first day in the control group © MedaidFish that were subjected to the disease challenge started succumbing to the infection between one to seven days after exposure. However, seabass fed the GRA-supplemented diet showed better survivability than those fed the control diet. Fish on the control diet succumbed on the first day after exposure whereas it took three days for seabass in the GRA group to become symptomatic and die.Based on organ and tissue analysis of the seabass fed the experimental diet, researchers concluded that GRA had a de-toxifying effect and helped degrade Phdp bacteria. They also concluded that the fish on the experimental diet had a greater ability to cope with the biological stress of infection when compared to the control group.Key take-aways This study provides further evidence of the relationship between diet and immunity in European seabass – usually, improving feed and nutrition quality results in enhanced immune function and a greater ability to resist infection. The results also show that GRA supplementation is effective and economically feasible for producers.Source: The Fish Site ...
Budidaya Kakap Putih Kian Bergeliat
Kakap Putih

Budidaya Kakap Putih Kian Bergeliat

Kakap putih menjadi alternatif komoditas marikultur, di Bali permintaan ekspor sampai 7 ton per minggu.Polemik kebijakan dalam bisnis ikan kerapu bisa menjadi momentum untuk memaksimalkan komoditas unggulan marikultur lainnya seperti kakap putih. Beberapa tahun lalu, pemerintah menggadang-gadang ikan kakap putih sebagai salmonnya Indonesia. Tetapi produksi nasional yang dicatat Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) baru mencapai 8 ribu ton (2017) ini sebetulnya masih terlalu sedikit. Salah satu perusahaan swasta yang bergerak di bidang pembesaran kakap putih bahkan memiliki target produksi tahunan sebanyak 3 ribu ton. Menurunnya potensi ekspor ikan kerapu dijadikan pembudidaya marikultur asal Bali, Usama Umar Al Hadasi sebagai momentum untuk banting setir ke komoditas kakap putih. Menurut penuturannya, ia sudah mulai beralih ke kakap putih sejak dua tahun lalu. “Kami belajar ke kakap putih, dan kebetulan ada processing (pabrik pengolahan) yang menerima hasil produksinya. Jadi kita belajar produksi kakap putih size (ukuran) 1,2 – 2 kg per ekor, sesuai permintaan processing,” kata Usama kepada TROBOS Aqua. Baca juga: Teknik Pembesaran Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer, Bloch) di Keramba Jaring Apung BPBL BatamPermintaan perusahaan fillet processing terhadap kakap putih di Bali cenderung stabil. Mereka menjual hasil olahannya untuk tujuan ekspor. Menurut Usama, permintaannya sekitar 5 – 7 ton setiap minggu. Kebutuhan ini dipenuhi oleh beberapa pembudidaya yang ada di Bali, termasuk perusahaan yang sudah besar. “Kalau dilihat apabila processing permintaan ekspornya tinggi, harapannya cukup menjanjikan. Rata-rata dia (processing) bilang sih kemampuan sebulan sekitar 30 ton dibagi beberapa cluster yang ngisi,” tambahnya.Hanya saja, lanjut Usama, harga yang didapat oleh pembudidaya masih belum stabil. Penyebabnya karena kakap putih hasil budidaya masih bersaing dengan kakap hasil tangkapan. Dan ikan tangkapan tersebut cenderung memiliki harga yang jauh lebih rendah. Kakap putih hasil budidaya biasanya dihargai Rp 65 - 70 ribu per kg. Sementara kakap putih hasil tangkapan harganya bisa Rp 10 ribu lebih murah per kilogramnya. “Hasil tangkapan itu bisa di bawah Rp 50 ribu malah,” tambah Usama. Tetapi memang pasokan ikan dari hasil budidaya jauh lebih berkelanjutan. Setelah kurang lebih dua tahun berjalan, Usama menilai penjualan kakap putih cenderung lebih mudah secara teknis dibanding kerapu. Kakap putih tidak harus dijual dalam keadaan hidup, sehingga proses pengirimannya menjadi lebih mudah. “Jadi tidak ada aturan-aturan yang mengikat yang mengakibatkan pembudidaya harus meningkatkan lagi persyaratannya,” ujarnya. Bahkan Usama berpendapat seharusnya ke depan kakap putih bisa benar-benar menjadi komoditas unggulan nasional. Baca juga: Pembenihan Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer, Bloch)Teknis Budidaya Meski cukup prospektif, tetapi budidaya kakap putih masih membutuhkan pengembangan. Menurut Usama, kakap putih memiliki keunggulan teknis hanya pada sifatnya yang euryhaline atau memiliki toleransi yang tinggi terhadap kadar garam (salinitas). Oleh karena itu ikan ini bisa dibudidayakan secara optimal di tambak air payau dan masih toleran di KJA air laut. Tetapi Usama sendiri melakukan budidayanya di KJA bekas kerapu yang sudah tidak ia pakai. Meski cukup toleran pada salinitas, tetapi pada perubahan parameter lingkungan yang lain masih lemah jika dibandingkan ikan kerapu, apalagi yang sudah hybrid. Menurutnya Usama kakap putih biasanya sudah membawa Viral Nervous Necrosis (VNN). Sehingga apabila terjadi perubahan lingkungan yang menyebabkan ikan stress, infeksi VNN akan mudah menyerang hingga menyebabkan kematian massal yang fatal. “Kakap putih memang harus jeli dan teliti dari nutrisinya, rekayasa lingkungan, kemudian dari broodstock-nya itu sendiri,” simpul Usama.Artikel Asli : Trobos Aqua ...
Why Hatchery Protocols Are Key To Ensure Fish Achieve Their Grow-Out Potential
Kakap Putih

Why Hatchery Protocols Are Key To Ensure Fish Achieve Their Grow-Out Potential

European seabass and gilthead seabream form the backbone of Mediterranean finfish aquaculture. While both species account for around 12 percent of the EU’s total aquaculture production they each represent 22 percent of the whole production value.However, although the overall revenue of European seabass and sea bream aquaculture has been increasing in recent years, the growth in production of these species has stagnated, particularly in the Mediterranean. Both European seabass and gilthead seabream display a complex larval development which requires specialised rearing systems, fine-tuned protocols, premium feeds and highly skilled staff. Hatcheries for these species have now fine-tuned efficient culture protocols and are being encouraged to produce fry that perform well in grow-out farms. Favouring quality over quantity is unquestionably the most economic and environmentally sustainable approach for aquaculture producers willing to participate in the ongoing Blue Revolution.Bottlenecks in the MedEuropean seabass and gilthead seabream show a complex lifecycle (Figure 1), which has been, and still is, a bottleneck to upscaling production. Broodstock selection plays a pivotal role in the production of offspring with optimal genetic traits. Larviculture protocols must guarantee that larvae are exposed to optimal conditions, in order to exploit their genetic potential to its full extent and give rise to premium fry and juveniles that are more resilient and that are able to rapidly attain commercial size during grow-out. Parental investment is often determined by broodstock genetic quality, husbandry practices and nutrition, whereas larval quality and juvenile development are mostly determined by rearing technology, environmental settings and nutrition. All these factors are paramount in an interconnected manner to secure a premium performance during grow-out. Maximum fish farming performance can only be safeguarded if fry quality potential is totally expressed and acknowledged as the basic start to secure performances during grow-out. Fry must be perceived as finely tuned machines that are programmed to turn feed into biomass. The more accurate the match between feed quality and fry energetic demand, the better the capacity to fully explore their genetic potential to grow faster and to be more resilient. Genetic potential, rearing technology and nutritionSuboptimal rearing conditions and feeding experienced by fry and juveniles will ultimately promote suboptimal growth performances. Overall, the history of early life stages in fish can be carried over to later stages and its effects are only to be detected when the fish are already juveniles or young adults. Just as hatching or any other dramatic shift from one life stage to another are not new beginnings that “reset” embryonic or larval history, entrance at the farm gate will not retrospectively reset the conditions experienced during larval and juvenile stages. Indeed, even when placed under optimal conditions and fed premium feeds during grow-out, juvenile fish that have experienced suboptimal conditions earlier in their life cycle, particularly in the hatchery or during pre-ongrowing phases, are likely to fail to perform as expected.Good genes are particularly important for species such as seabass and seabream, which have a relatively fragile larval life. However, good genes are not sufficient if fry face poor hatchery and pre-ongrowing practices. Hatcheries and pre-ongrowing units must rise to the challenge of producing and achieving consistently high standards so European seabass and gilthead seabream are able to excel from hatching to harvesting. The performance of the fish from hatchery to harvest must be viewed more holistically.Setting new standardsIf premium juvenile and adult performance are not possible because fish have been exposed to suboptimal conditions in the hatchery, can hatcheries screen for latent effects? This is far from an easy task. At the farm gate, producers often target features which may not be the best means to identify the fish that are likely to produce the ideal grow-out performance. For instance, one can refer to behavioural or morphological traits of juvenile fish, such as size or deformities, when grading specimens that will be used to stock a cage. These features are useful but not enough to truly identify the growth potential of fish. For instance, larger juveniles are often selected over smaller ones. However, if no information is available on fry performance at the hatchery, larger specimens may not be the ones displaying the best performances during grow-out. The conditions experienced in larval life often generate an energy burden that lies dormant until later stages of the fish life cycle and this must be identified and tackled at the hatchery.Outline of fish robustness and yield: INVE's FRY 2.0 project promoted aims to critically assess the current methods of fish farming today, develop tailor-made solutions driven by focused thinking and develop a holistic approach of the fish farming cycleIt is critical that detailed information on the life history of juvenile fish is available to producers. Project FRY 2.0 by INVE Aquaculture is based on generating sound scientific knowledge to further improve protocols and create solutions to the current bottlenecks in producing better-quality fry and fingerlings rather than solely focusing on increasing production quantities. Launched in 2015, the FRY 2.0 project is a voluntary collaborative agreement between producers and INVE, in which all participants agree to work together to achieve a common purpose (Figure 2). Synergy and knowledge are the powers behind this partnership, in which all parties will undertake specific tasks and share risks, responsibilities, resources, competencies and benefits. The main European fish farming players are already involved in the project – or at least have showed interest in joining FRY 2.0 – and acknowledge that this is a long-term customised project based on confidence, credibility and mutual benefits. Source : The Fish Site ...
Teknik Pembesaran Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer, Bloch) di Keramba Jaring Apung BPBL Batam
Kakap Putih

Teknik Pembesaran Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer, Bloch) di Keramba Jaring Apung BPBL Batam

Kondisi perairan laut saat ini sebagian besar sudah mengalami degradasi lingkungan. Salah satu penyebabnya adanya kegiatan- kegiatan rumah tangga dan industri yang limbanhnya mengarah ke perairan laut. Sehingga untuk melakukan kegiatan pembesaran ikan di KJA perlu suatu kajian teknis, untuk mengatasi carrying capacity yang mulai menurun. Saat ini untuk melakukan pembesaran ikan kakap putih dalam keramba jaring apung pada perairan laut murni (salinitas diatas 25 ppt) membutuhkan perhatian khusus , karena untuk mendapatkan tingkat kelulushidupannya (SR) diatas 50% tidak semudah tahun 2004 dan tahun tahun sebelumnya. A. Persiapan KJA dan JaringWadah yang digunakan selama proses produksi berupa KJA, ukuran bingkai karamba yang digunakan minimal berukuran 3 x 3 meter. Material bingkai KJA dapat terbuat dari bahan kayu, galvanis, besi, dan HDPE. Pelampung yang digunakan bisa berupa drum plastik atau  styrofoam. Jaring yang digunakan  terbuat dari bahan polyethylene dengan ukuran minimal 3 x 3 x 3 meter dengan mata jaring ¾ - 1 inchi, ukuran benang D15 untuk masa penggelondongan.  Sedangkan untuk  masa pembesaran menggunakan kantong jaring berukuran minimal 3 x 3 x 3 meter dengan mata jaring 1,5 -  2 inchi,  ukuran benang berkisar D18 - D21.  Pergantian jaring dilakukan secara kondisional (maksimal 2 minggu sekali). B. Persiapan Benih1. Ukuran TebarPenundaan ukuran tebar benih ke KJA  menjadi 10 – 12 cm  atau dengan berat 15 – 20 gram akan meningkatkan kelulushidupan dan memperpendek masa panen.2. VaksinasiBenih yang ditebar hendaknya sudah divaksin terlebih dahulu. Vaksin yang digunakan adalah vaksin steptococcus atau vibrio polyvalen. Metode vaksinasi yang digunakan adalah injeksi intraperitonial dengan dosis 1 cc per ekor ikan. C. Penebaran Benih1. AklimatisasiAklimatisasi adalah suatu upaya penyesuaian fisiologis atau adaptasi dari suatu organisme  terhadap lingkungannya yang baru. Penebaran Benih sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari, hal tersebut untuk menghindari suhu matahari tinggi yang akan menyebabkan benih ikan yang dipelihara menjadi stress.2. Padat TebarPadat tebar berkaitan erat dengan pertumbuhan dan angka kelulushidupan.Tabel 1. Padat Tebar Benih Pada Pembesaran  Ikan Kakap putih Ukuran Tebar ( gram) Ukuran Tebar ( cm) Padat Tebar ( ekor/m3) 10 – 25 10 – 12 60 – 70 40 – 50 14 – 15 50 – 60 75 – 100 17 – 20 40 – 50 150 – 200 20 – 25 25 – 30 300 – > 500 >25 10 – 20   Sumber : BPBL Batam (2015) D. Pemeliharaan Ikan1.  Manajemen PakanJenis pakan yang diberikan dalam pemeliharaan ikan kakap putih bisa berupa ikan rucah (ikan segar) dan pellet komersial atau kombinasi dari kedua  jenis pakan tersebut. Dosis pemberian pakan untuk ikan kakap putih yang berbobot  kurang dari 100 gram berkisar 5 – 10 % dari total berat badan, dan 3 – 5 %  dari total berat badan untuk ikan kakap putih yang berbobot lebih besar dari 100 gram. Pada tahap awal pemeliharaan, frekuensi pemberian pakan minimal 4-5 kali sehari atau sampai ikan kenyang. Frekuensi pemberian pakan dapat dikurangi seiring dengan pertumbuhan ikan.  2. Aplikasi Probiotik, Vitamin dan MultivitaminProbiotik sebagai makanan tambahan (feed suplement) berupa sel-sel mikroba hidup yang memiliki pengaruh menguntungkan bagi hewan inang yang mengkonsumsinya melalui penyeimbangan flora mikroba intestinalnya.  Dosis penambahan probiotik terhadap ransum pakan sebesar 2 gram/kg pakan, dengan frekuensi pemberian  sebanyak 2 kali dalam seminggu.Penambahan vitamin C dan multivitamin terhadap ransum pakan ikan yang dipelihara dapat menambah daya tahan tubuh ikan, mempercepat pertumbuhan dan meningkatkan angka kelulushidupannya (SR). Dosis yang diberikan adalah sebanyak 2 gram/kg pakan dengan frekuensi pemberian adalah setiap hari untuk ikan berukuran kurang dari 50 gram dan 2 kali seminggu untuk ikan yang berukuran lebih besar dari 50 gram. 3. Sampling dan GradingSampling ikan adalah pengambilan contoh ikan secara acak minimal 5% – 10”% kemudian dilakukan pengukuran bobot maupun panjang ikan yang dipelihara. Sampling ikan dilakukan sebulan sekali untuk ikan yang berukuran di atas 100 gram, sedangkan untuk ikan yang berukuran di bawah 100 gram antara 2 – 3 kali dalam sebulan. Grading ikan adalah penyeragaman ukuran ikan dengan cara memilah-milah ikan berdasarkan ukuran berat maupun panjang. Grading dilakukan setiap 2 minggu sekali pada ukuran ikan dibawah 50 gram, dan 1 bulan sekali untuk ukuran ikan di atas 50 gram. E. Pengendalian Penyakit Ikan dan Kesehatan Lingkungan1. Pemantauan Kualitas airPemantauan kualitas air dengan cara melakukan pengukuran parameter meliputi salinitas, pH, suhu, oksigen terlarut, phosphat, amoniak, nitrit, nitrat, Pengukuran parameter kualitas air dilakukan minimum 2 kali seminggu.2. Pecegahan PenyakitTindakan pencegahan sebenarnya merupakan tujuan utama dalam rencana pengendalian penyakit.  Adapun tindakan pencegahan yang dilakukan antara lain :> Melakukan pergantian dan pencucian jaring secara rutin> Pengaturan padat tebar yang sesuai ukuran ikan karena kepadatan yang tinggi ikan stres dan mudah terserang penyakit> Pemberian pakan yang optimal baik jumlah maupun nutrisinya> Perendaman ikan dengan air tawar dan pemberian antiseptik sesuai dengan dosis.> Perendaman ikan dengan formalin teknis 60% dengan dosis 100 – 150 ppm> Penambahan vitamin C, multivitamin dan probiotik pada pakan.> Tidak membuang sampah/limbah organik di sekitar lokasi budidaya3. Pengobatan penyakit ikanPenyakit yang menyerang pada ikan kakap putih yaitu penyakit yang disebabkan oleh bakteri, parasit, dan Virus. Jenis obat yang sering digunakan adalah antiseptic dan antimicrobial yang direkomendasikan. F. PemanenanPemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari untuk mengurangi stress selama pemanenan. Alat panen yang digunakan untuk ikan konsumsi berupa scoop net. Ukuran panen ikan kakap putih konsumsi memiliki bobot minimal 500 gr. Sebelum dilakukan pemanenan ikan terlebih dahulu dipuasakan selama satu hari. Sistem pengangukutan ikan konsumsi ada sistem terbuka dan ada sistem tertutup. Pengangkutan ikan hidup sistem terbuka dilakukan secara langsung menebar ikan komsumsi di palka yang tersedia air mengalir sehingga kualitas air dapat terjaga baik selama perjalanan. Sedangkan sistem pengangkutan tertutup dengan cara pengemasan menggunakan box/styrofoam.Sumber : BPBL Batam ...
Pembenihan Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer, Bloch)
Kakap Putih

Pembenihan Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer, Bloch)

Salah satu komoditas budidaya laut yang mempunyai prospek bagus adalah ikan Kakap Putih (Lates calcarifer, Bloch), di Asia dan Australia merupakan salah satu komoditas yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan salah satu komoditas yang paling populer dibudidayakan. Ikan Kakap Putih memiliki beberapa keunggulan seperti warna daging putih, pemeliharaan larvanya telah dikuasai, sintasan cukup tinggi, pakan yang digunakan pakan buatan, dan dapat dibudidayakan baik di air laut (sea water) maupun air payau (brakish water). Beberapa keunggulan yang dimiliki ikan kakap putih menyebabkan permintaannya cenderung meningkat setiap tahunnya baik pasar lokal maupun eksporPemeliharaan LarvaPemeliharaan dilakukan pada bak dengan ukuran 6-10 m3 bulat maupun persegi dengan material beton maupun fiberglass. Larva ditebar setelah menetas dengan sempurna (minimal 20 jam setelah pemijahan). Padat tebar larva yang digunakan adalah 10-15 ekor/liter. Pemeliharaan larva menggunakan green water system dengan menambahkan fitoplankton Nannochloropsis pada bak pemeliharaan. Selama pemeliharaan larva diberikan pakan alami dan pakan buatan. Pakan alami yang digunakan adalah fitoplankton jenis Nannochloropsis, zooplankton jenis Brachionus plicatilis/rotifera, dan naupli artemia. Gambar 1.  Jadwal pemberian pakan pada produksi benih Kakap Putih Perlakuan Suhu pada Produksi BenihKisaran suhu optimum pada media pemeliharaan berkisar antara 30-32°C. Untuk Mencegah serangan penyakit bakterial secara dini, pada hari ke 17 suhu media dinaikkan menjadi 37ºC selama 48 jam. Selain itu setiap ditemukan gejala serangan penyakit, maka suhu media kembali dinaikan menjadi 37 0C selama 48 jam.Pengelolaan MediaKualitas air berperan penting dalam pemeliharaan ikan kakap putih, untuk menjaga kualitasnya dilakukan perawatan media dengan cara penyiphonan kotoran dan pergantian air secara periodik. Penyiphonan dimulai pada saat D10 dan dilakukan dua hari sekali serta seterusnya dialkukan tergantung dari kondisi bak pemeliharaan.      Gambar 2. Pergantian air selama pemeliharaan larva kakap putihGradingGrading dilakukan untuk menyeragamkan ukuran larva yang dipelihara dalam satu wadah pemeliharaan. Ukuran ikan yang tidak seragam dapat menyebabkan kanibalisme, kompetisi pakan, oksigen dan ruang. Grading dilakukan ketika ukuran ikan dalam satu bak pemeliharaan sudah jelas nampak perbedaan ukurannya.Pemeliharaan BenihPendederan dapat dilakukan dalam bak yang terbuat dari beton atau fiberglass, dapat berbentuk persegi panjang maupun bulat. Volume bak minimal 6 m3. Padat penebaran untuk masa pendederan disesuaikan dengan ukuran benih. Padat penebaran awal pendederan adalah 2.000 ekor/m3 dengan ukuran benih ± 2 cm. Pakan yang diberikan dapat berupa pakan buatan (pellet) dengan ukuran 200 - 2000µm.  Besarnya pakan disesuaikan dengan bukaan mulut ikan. Pada tahap awal pemeliharaan pemberian pakan dilakukan sesering mungkin atau minimal 4-6 kali sehari atau sampai ikan kenyang.  Pengelolaan media pemeliharaan terutama untuk menjaga kualitas air sekitar media sehingga ikan dapat tumbuh dengan optimal. Salah satu caranya yaitu dengan perawatan wadah  pemeliharaan secara kontinyu. Pembersihan dasar bak dapat dilakukan dengan penyiphonan.  Penyiphonan dilakukan setiap pagi dan sore setelah pemberian pakan.  Untuk menjaga kualitas air tetap baik pada masa pendederan diterapkan sistem air mengalir 24 jam sebayak minimal 200%.  Untuk mengatasi kanibalisme dan persaingan yang tidak seimbang dilakukan penyeragaman ukuran (grading).  Grading sering dilakukan pada akhir pembenihan atau awal masa pendederan dan seterusnya dengan waktu tidak tentu. Masa pemeliharaan benih selama ±60 hari hingga mencapai ukuran panjang 7.0 – 8.0 cm.Sumber : BPBL Batam ...