Infomina - Lobster

Minapoli adalah platform jaringan infomasi dan bisnis perikanan terintegrasi. Buat dan bagikan informasi perikanan sekarang dan temukan manfaatnya terkoneksi dengan jaringan Minapoli.

Lobster

KKP Siapkan Desain Pengembangan Sentra Industri Budidaya Lobster Nasional
Lobster

KKP Siapkan Desain Pengembangan Sentra Industri Budidaya Lobster Nasional

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebjakto menyatakan pihaknya segera menyusun desain/model pengembangan sentra industri budidaya lobster nasional."Intruksi pak Menteri jelas ya, bahwa beliau sangat berkomitmen untuk kembangkan industri budidaya lobster nasional. Tadi bersama Pemerintah Daerah Lombok Timur kami sepakat untuk saling bersinergi sesuai tugas dan kewenangan kita masing-masing," kata Slamet dalam keterangannya, Senin (29/3/2021).KKP, kata dia, siap memfasilitasi seluruh akses yang bisa didukung untuk pengembangannya meliputi akses sarana dan prasarana, pendampingan teknologi dan lainnya.Slamet menjelaskan nota kesepakatan tersebut meliputi kawasan pengembangan di Teluk Telong-Elong dan Teluk Ekas.Baca juga: Pakar IPB Tawarkan Peta Jalan Pengembangan Lobster NasionalAdapun ruang lingkupnya yakni sinkronisasi program pembangunan kampung lobster, peningkatan produksi komoditas lobster di kawasan Telong Elong dan Kawasan Ekas, pengembangan dan penerapan teknologi perikanan budidaya, pemberdayaan masyarakat di bidang perikanan budidaya, dan pertukaran data dan informasi.Penetapan kawasan pengembangan kampung lobster mengacu pada Peraturan Daerah Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (RZWP3K) Provinsi NTB.Slamet mengatakan perairan Lombok sangat strategis karena ada dua zona yang saling mendukung yakni zona tangkap BBL (hot spot area) seperti di Teluk Awang-Lombok Tengah dan zona budidaya antara lain di Lombok Timur meliputi Teluk Jukung, Teluk Ekas dan Teluk Seriweh Timur."Perairan Lombok ini sangat strategis BBL yang melimpah dibeberapa titik sebagai "given by Allah", ada fenomena sink population inilah yang mesti kita manfaatkan secara mandiri. Tentu mesti terukur untuk jamin keseimbangan siklus di alam dan ini hanya bisa dilakukan dengan budidaya dan pelepasliaran pada fase pasca BBL (lobster muda)," terang dia.Baca juga: KKP Perkenalkan Inovasi Pakan Pembesaran Lobster PasirSaat ini pembudidaya lobster membeli benih hasil tangkapan nelayan di Teluk Awang dan sekitarnya."Kita akan atur tiap sub sistem bisnis yang ada mulai dari nelayan tangkap benih, pembudidaya hingga hilirisasinya. Kami telah bersepakat Lombok akan jadi sentra lobster dan tahun ini kita akan kembangkan model bisnisnya di Lombok Timur," tegas Slamet.Slamet juga menyinggung banyaknya kritik atas rencana kebijakan menyetop ekspor BBL."Saya kira kritik itu wajar, tapi yang jelas pak Menteri selalu tegaskan bahwa prinsip pemanfaatan sumber daya perikanan, utamanya lobster harus mengedepankan kepentingan ekonomi dan kelestarian sumber daya. Makanya, pak Menteri tegas menyatakan lawan terhadap aktivitas ekspor BBL ini dan akan mati matian mendorong industri budidaya lobster dalam negeri,” imbuh nya.Baca juga: Pakan Pada Budidaya Lobster (Panulirus Spp)Kebijakan menyetop perizinan ekspor benih bening lobster (BBL) ditegaskan Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono saat melakukan serangkaian kunjungan kerja di Lombok, Provinsi NTB beberapa waktu lalu."Saya meminta nelayan untuk tidak menjual BBL pada oknum yang melakukan ekspor ilegal dan memperkaya orang luar negeri. Lobster ini kekayaan kita. Jika ada yang melakukan hal tersebut akan saya lawan, kecuali untuk budidaya pasti saya dukung sampai mati," tegas Menteri Trenggono saat berdialog dengan nelayan dan pembudidaya lobster di Teluk Awang, Lombok Tengah. Sumber: Tribun News ...
Pakar IPB Tawarkan Peta Jalan Pengembangan Lobster Nasional
Lobster

Pakar IPB Tawarkan Peta Jalan Pengembangan Lobster Nasional

Dosen Departemen Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (BDP-FPIK) IPB University, Irzal Eddendi menyebut budidaya lobster di Indonesia belum berkembang. Sebab, masih adanya produksi lobster hasil penangkapan. Ketua Program Studi Teknologi Produksi dan Manajemen Perikanan Budidaya Sekolah Vokasi, IPB University ini menyatakan, kondisi tersebut memunculkan anggapan tak perlu bersusah payah melakukan budidaya lobster. Toh, lobster masih banyak tersedia di alam. Atas dasar ini, usaha budidaya lobster dinilai belum kompetitif dibandingkan dengan penangkapan. "Untuk mengembangkan budidaya lobster nasional yang berdaya saing dan berkelanjutan, perlu roadmap yang bisa menjadi acuan bagi pemerintah, pelaku usaha, peneliti dan masyarakat," kata Irzal melalui keterangan tertulis, Sabtu, 14 November 2020.Baca juga: Begini Aturan Pengelolaan Budidaya Lobster BerkelanjutanIrzal menawarkan peta jalan budidaya lobster yang mencakup 12 langkah berupa program di level on farm dan off farm. Langkah-langkah tersebut meliputi penentuan lokasi pengembangan, pendugaan stok lobster di alam, pengembagan teknologi dan manajemen pendederan dan pembesaran, serta pengembangan pembenihan (hatchery), pengembangan pasar dan agribisnis. Kemudian, pengembangan aspek legal, pengembangan sumber daya manusia dan kelembagaan, pengelolaan lingkungan perairaan, penerapan standarisasi dan sertifikasi, pelepasliaran, pengembangan fasilitas produksi, serta pengembangan infrastruktur wilayah. Menurut dia, lokasi pengembangan budidaya harus sesuai berdasarkan pertimbangan biologis, ekologis dan bisnis, serta dengan memperhatikan aspek sosial budaya. Dengan begitu, bisa dicapai kelangsungan hidup, pertumbuhan dan produksi lobster yang maksimum, serta efisiensi usaha yang tinggi.Pengkajian stok lobster berbagai stadia (ukuran) di alam, lanjutnya, harus dikerjakan guna memberi kepastian ketersediaan benih bagi usaha budidaya yang masih menggunakan benih alam. Hasil kajian ini juga bisa memberi informasi jumlah, ukuran, lokasi dan waktu (musim) benih yang boleh diambil dari alam secara lestari untuk keperluan input produksi budidaya. Baca juga: KKP Perkenalkan Inovasi Pakan Pembesaran Lobster PasirIa juga menyampaikan bahwa teknologi dan manajemen pembenihan (hatchery), pendederan serta pembesaran lobster perlu dikembangkan. Hal tersebut mencakup konstruksi wadah, benih, pakan, kesehatan, kualitas air, monitoring pertumbuhan dan populasi, panen dan pascapanen. "Pengembangan ditujukan untuk meningkatkan keberlangsungan hidup dan memacu pertumbuhan sehingga diperoleh produksi dengan produktivitas yang tinggi. Kematian lobster yang tinggi merupakan akibat kanibalisme dan pertumbuhan lambat yang perlu diatasi dengan pengembangan teknologi lingkungan dan pakan," jelasnya. Pakan buatan lengkap yang lebih praktis dan bisa tersedia setiap saat perlu dikembangkan. Hatchery lobster perlu dibangun untuk menyediakan benih secara tepat waktu, tepat jumlah, tepat mutu dan tepat harga (4T), serta bisa mengurangi ketergantungan kepada benih dari alam yang seringkali tidak 4T. Selain itu, riset yang mencakup pengelolaan induk, pemeliharaan larva dan benih, serta kultur pakan alami plankton perlu dilakukan dan dimulai sekarang. Sebab, pengembangan hatchery lobster bersifat jangka panjang. Baca juga: Pakan Pada Budidaya Lobster (Panulirus Spp)Ia melanjutkan, bisnis hatchery lobster awalnya belum menguntungkan mengingat lamanya stadia larva phyllosoma yang konon mencapai 3-9 bulan. Oleh karena itu, perlu peran pemerintah melalui lembaga penelitian dan perekayasaan terkait yang didukung oleh akademisi dari perguruan tinggi untuk membuat percontohan hatchery lobster untuk pelaku usaha dan masyarakat,” ujar Irzal.Ia juga menyampaikan jika kondisi ekosistem perairan, sosial ekonomi budaya lokasi dan teknologi adaptasi benih restocking, serta metode restocking, termasuk rancangan monitoring dan evaluasi lobster yang di-restocking harus dikuasai. Dengan begitu, tujuan restocking yakni menjaga kelestarian lobster bisa dicapai. Aspek sosial ekonomi budaya kawasan restocking perlu diperhatikan mengingat restocking dilakukan di perairan yang bersifat common property, open access dan multiple purposes. Pengembangan pasar dan agribisnis perlu dilakukan untuk menjamin ketersediaan pasar lobster ukuran konsumsi yang bersifat eksotik, dengan karakteristik pasar yang cenderung terkonsentrasi pada kawasan atau negara tertentu dan segmen kalangan menengah ke atas di kawasan metropolitan dunia. "Perlu perluasan pasar dari sekadar ke Tiongkok dan kawasan Asia Timur lainnya, yakni ke Uni Eropa, Amerika Serikat dan Timur Tengah melalui promosi, standarisasi/sertifikasi dan sebagainya," tuturnya. Ia juga menuturkan jika pemerintah bisa berperan dalam penetrasi pasar lobster dengan menekan biaya angkut produk ke mancanegara. Pasar dalam negeri tidak boleh dikesampingkan, mengingat populasi penduduk Indonesia yang tinggi dan berkembangnya kawasan pertumbuhan yang mengarah kepada konsep megapolitan. Baca juga: Menepis Keraguan Budidaya LobsterMasa pandemi covid-19 ini memang menekan pasar seafood global, namun akan bersifat sementara dan pasar laten tetap besar termasuk pasar domestik. Dewasa ini pasar global seafood, terutama Tiongkok, mulai menggeliat dan bergerak meningkat secara signifikan. Diperkirakan, tahun ini juga akan kembali normal bahkan melampaui tahun sebelum adanya covid-19. Melalui peta jalan di atas, diperkirakan dibutuhkan waktu sekitar 3-9 tahun untuk pengembangan dan 4-6 tahun untuk pemantapan akuakultur lobster nasional. Target dan indikator capaian pada tahun kesatu, kedua, 5, 10 atau 15 tahun disusun secara terukur yang mencakup variabel luas atau jumlah unit fasilitas produksi (karamba, hatchery, penampungan), jumlah pembudidaya/perusahaan, kinerja produksi dan bisnis serta pendapatan masyarakat dan ekonomi wilayah. "Indonesia memerlukan perusahaan lobster yang memiliki visi yang kuat, memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi dan terdepan dalam Iptek budidaya," ungkapnya.Sumber: medcom.id ...
Pakan Pada Budidaya Lobster (Panulirus Spp)
Lobster

Pakan Pada Budidaya Lobster (Panulirus Spp)

Lobster atau udang karang (Palinurus spp.) merupakan salah satu makanan laut (seafood) yang paling berharga di dunia dengan daya tarik pasar yang tinggi di Asia, Eropa dan Amerika. Saat ini pasokan lobster di dominasi oleh hasil tangkapan dari alam, tingginya permintaan dari luar negeri membuat penangkapan semakin intens dilakukan.Jika hal ini dilakukan secara terus menerus, maka akan sangat membahayakan populasi lobster di alam jika tidak diimbangi dengan restocking atau budidaya lobster itu sendiri. Indonesia saat ini memang sedang menggiatkan usaha budidaya lobster. Walaupun demikian, lebih dari 90% hasil tangkapan benih lobster masih diekspor terutama ke Vietnam. Hal ini dapat terjadi karena budidaya pembesaran lobster di Indonesia salah satunya masih terkendala oleh ketersediaan pakan yang merupakan faktor krusial dalam budidaya.Baca juga: KKP Perkenalkan Inovasi Pakan Pembesaran Lobster PasirDedy Heryadi Sutisna Dosen Poltek AUP mengatakan, pakan memberikan kontribusi positif dan signifikan untuk meningkatkan produksi lobster, sehingga pakan yang diberikan harus mengandung kandungan nutrisi yang cukup untuk menunjang pertumbuhannya, frekuensi dan teknik pemberian pakan yang tepat.“Selain itu biaya produksi yang dikeluarkan untuk pakan juga sangat besar sehingga pengelolaan yang baik menjadi faktor kunci keberhasilan budidaya,” ujarnya.Dedy melanjutkan, beberapa hal yang harus diketahui dalam melakukan memanajemen pakan dalam budidaya lobster adalah seperti kita mengetahui kebiasaan makannya, jenis-jenis pakan yang bisa kita berikan, dosis dan frekuensi pemberian pakan, serta apa saja yang perlu kita perhatikan dalam penyediaan pakan untuk budidaya lobster.Kebiasaan Makan (Feeding Habit)Lobster merupakan hewan nocturnal yang bersifat omnivora yang cenderung karnivora. Di alam, lobster memakan berbagai jenis organisme, baik yang hidup maupun mati, terutama jenis hewan yang tinggal di dasar perairan dan bergerak lambat seperti moluska (gastropoda dan bivalvia), ekinodermata (ekinonoid, asteroid, holoturoid), ophiroid dan krinoid (lili laut), krustasea, ikan, invertebrata lainnya dan alga. Kebiasaan makan Lobster ini membawa konsekwensi pada  konstruksi wadah budidaya yang akan digunakan baik secara on shore di kolam maupun secara of shore di dalam keramba jaring apung (KJA)Jenis-Jenis Pakan LobsterBanyak jenis pakan yang biasa diberikan untuk budidaya lobster, kata Dedy, diantaranya adalah seperti tiram, kerang-kerangan, bekicot, dan lain sebagainya yang biasa hidup disekitar budidaya Lobster secara alami. Akan tetapi sekarang orang cenderung menggunakan ikan rucah karena harga lebih murah. Selain itu jenis pakan yang biasa digunakan adalah pakan buatan sejenis pelet, walaupun harganya tidak murah.Ikan RucahPakan ikan rucah merupakan jenis pakan yang sering digunakan. Penggunaan pakan ini dikarenakan mudah didapatkan dan harga yang ekonomis atau terbilang masih murah. Akan tetapi jenis pakan ini dinilai masih belum efektif dikarenakan, karena kurangnya kandungan gizi dan bisa menghasilkan pigmentasi pucat pada lobster dewasa, juga berpotensi menimbulkan penyakit karena sisa pakan yang tertinggal di karamba bisa mendatangkan parasit yang merugikan bagi pertumbuhan lobster. Selain itu, ikan rucah juga hanya dapat ditemukan pada saat tertentu dan penggunaannya bersaing dengan manusia.Cara pemberian pakan ikan rucah tidak sulit, ikan rucah tersebut diberikan pada sore hari menjelang malam. Pakan yang akan diberikan sebaiknya dipotong kecil-kecil terlebih dahulu.  Pakan ikan yang diberikan ditempatkan pada suatu wadah supaya tidak hanyut keluar dari karamba. Untuk pakan ikan yang berukuran sedang (lemuru, layang, tongkol) bisa diikat pangkal ekornya dan digantungkan di sekitar shelter supaya mudah dijangkau oleh lobster. Pakan harus diberikan secara merata di dalam karamba untuk menghindari lobster berkelahi karena berebut pakan serta menghindari kanibalisme.Baca juga: Di Pulau Ini, Lobster Berhasil DibudidayakanPakan PeletPengembangan pakan buatan didasarkan pada beberapa pertimbangan diantaranya tingkat kesukaan lobster terhadap bahan pakan (food preference), kandungan nutrisi terutama protein, pigmen dan kehadiran growth inhibitors dalam bahan pakan. Penggunaan pelet untuk budidaya lobster juga dilakukan pada beberapa pembudidaya lobster. Pakan pelet yang digunakan adalah dari jenis pelet yang tenggelam.Pemberian pakan jenis ini dinilai efektif karena pakan tersebut dibuat dengan formulasi yang tepat sehingga mampu memenuhi kebutuhan nutrisi untuk pertumbuhan lobster. Hanya saja yang membuat pakan pelet banyak tidak digunakan adalah karena harganya yang mahal yang mengkhwatirkan akan memangkas keuntungan dikarenakan biaya operasional yang tinggi untuk pakan. Biasanya pembudidaya tidak menggunakan pakan pelet secara penuh dari pendederan hingga panen, akan tetapi mengkombinasikan pemberian pakan antara pakan pelet dan pakan ikan rucah. Selain itu kelemahan dari pakan pelet adalah mudah hancur ketika didalam air jika tidak langsung dimakan oleh ikan. Hal ini berkaitan dengan cara makan lobster yang suka mengguling-gulingkan pakan menyebabkan pakan hancur duluan.Adapun contoh pelet yang akan disajikan pada foto 2 merupakan moist pelet yang digunakan pada penelitian pembesaran lobster. Penggunaan pelet ini di aplikasikan dalam pemeliharaan bak beton dilakukan di Nha Tirang University di Desa Bai kota Nha Trang, Vietnam. Untuk Pelet yang digunakan dapat dilihat pada foto 2.Dosis dan FrekuensiDedy menjelaskan, pemberian pakan pada lobster dilakukan dengan memperhitungkan bobot total lobster per hari. Secara periodik dilakukan pengukuran berat total lobster untuk menentukan jumlah pakan yang diberikan. Dosis pakan sebesar 15–20% dari bobot total per hari diberikan pada 30 hari pertama pemeliharaan. Pada pemeliharaan 30–60 hari dosis pakan yang diberikan adalah 20–25% dari bobot total per hari.Selanjutnya, dosis pakan yang diberikan adalah sebesar 10–17% dari bobot total per hari. Frekuensi pemberian pakan juga bergantung pada ukuran lobster. Lobster yang berukuran kecil (< 200 gram) diberi pakan 2 kali per hari, sedangkan lobster berukuran besar (> 200 gram) diberi pakan 1 kali per hari. Pakan diberikan dalam jumlah yang lebih banyak (60–100 %) pada sore atau malam hari menyesuaikan sifat nokturnal dari lobster yang aktif mencari makan pada malam hari.Penyediaan Pakan Lobster“Kebutuhan pakan lobster rata-rata per hari sekitar 7% dari berat tubuhnya,” jelas Dedy.Pada penyediaan pakan untuk budidaya lobster, lanjutnya, hal penting yang menjadi perhatian adalah bagaimana menjamin ketersediaan kandungan nutirisi pada pakan yang diberikan.Antara kebutuhan nutrisi lobster dan juga kandungan nutirisi pada pakan harus disesuaikan. Menurut Dedy, penelitian yang dilakukan oleh Makasangkil et al (2017) menunjukkan bahwa lobster laut tidak dapat bertumbuh dengan baik dan juga bisa mengalami penurunan bobot jika ketersediaan protein pada pakannya kurang dari 60 % berat kering.Baca juga: Menepis Keraguan Budidaya LobsterPercepatan pertumbuhan lobster air laut akan ditandai dengan adanya molting mulai dari fase phylosoma dengan frekuensi dan kecepatan molting yang berbeda serta dipengaruhi oleh berbagai macam faktor, tetapi pakan yang lebih utama. Peran molting sangat penting dalam pertumbuhan lobster, karena lobster hanya bisa tumbuh melalui molting. Salah satu yang bisa mempengaruhi dari terjadinya molting adalah kandungan kalsium. Maka semakin sering lobster molting, akan semakin cepat pula pertumbuhannya.Menurut Dedy, dalam keterkaitan dengan pakan, usaha budidaya lobster masih ditemui beberapa kendala. diantaranya kematian akibat gagalnya proses molting, dan kematian akibat kanibalisme. Kanibalisme umumnya terjadi saat molting dan makanan kurang. “Hal ini terjadi karena pengerasan cangkang terlalu lambat, sehingga mengeluarkan aroma yang khas dan mengundang lobster lain untuk memangsa lobster yang sedang moulting. Keberhasilan molting sangat bergantung pada cadangan kalsium yang ada dalam tubuh lobster,” tambahnya.Salah satu penyebab kegagalan molting adalah tidak berhasilnya lobster dalam proses gastrolisasi, yaitu penyerapan kalsium yang ada di dalam tubuh. Kalsium berperan besar dalam proses pengerasan kembali cangkang setelah terjadinya proses molting. Kalsium yang dibutuhkan oleh lobster mayoritas berasal dari pakan, namun lingkungan yang banyak mengandung kalsium dapat lebih mempercepat dalam memperkeras cangkang Lobster.“Dari gambaran tentang pakan lobster di atas, maka dapatlah dikatakan bahwa Pakan dalam budidaya lobster merupakan variabel yang penting dan sttrategi untuk mempengaruhi keberhasilan budidayanya. Oleh karena itu para calon pembudidaya Lobster yang lagi semarak saat ini, di dalam memilih lokasi untuk budidaya Lobster, persyaratan ketersediaan pakan secara berkelanjutan mutlak harus menjadi syarat utama. Misalnya perairan yang digunakan berlimpah dengan kerang-kerangan dan Tiram serta dekat dengan Pusat Pendaratan Ikan,” paparnya.Artikel asli ...
New England Lobster Fisheries Dip into Aquaculture
Lobster

New England Lobster Fisheries Dip into Aquaculture

After years of growth, lobster populations in the Gulf of Maine are declining due to warming waters, according to a study by the Gulf of Maine Research Institute. Fishers are looking to kelp farming to support their livelihoods and the environment.“We have seen the lobster population just grow and grow [in past years],” Chris Townsend, a commercial fisher on Cape Cod, Massachusetts, tells Food Tank. But, he continues, “A lobster is very sensitive to temperature. As the water warms, they cannot come back to their traditional grounds where they drop their eggs off.” Also read: Egg Sorting Technology Helps Pick Fish-Growth WinnersThe Gulf of Maine is the fastest warming body of water, according to the National Oceanic and Atmospheric Association. In the late 1990s and early 2000s, gradual warming initially contributed to a boom in lobster populations, but warming waters, coupled with shell disease – a condition that makes lobsters susceptible to mineral loss – is already resulting in a decrease in lobster stocks. Townsend has been working along the New England coast for 37 years. He now sells his catch to local fish markets, runs eco-tours, and continues to fish commercially. “You used to be able to go lobstering all the way down to South Jersey. Now the southern limit of lobsters is basically Rhode Island,” Townsend tells Food Tank. With 80 percent of lobster in the United States coming from Maine, the dip in lobster populations threatens the state’s economy. In 2018, lobsters’ value contributed US$500 million to Maine’s economy and provided more than 35,000 jobs throughout the industry. Also read: EMS, EHP Cases ‘have Doubled or Tripled’ at Southeast Asian Shrimp Hatcheries in 2019“The lobster industry is strong, but our coast’s dependence on a single, wild species, particularly in the face of climate change, makes our coastal economy incredibly volatile,” Briana Warner, CEO and President of Atlantic Sea Farms, tells Food Tank.Some fisheries are adopting conservation efforts to keep fertile female lobsters in the Gulf longer to increase lobster stocks; others are diversifying into marine aquaculture, the practice of breeding, raising, and farming species that live in oceans or estuaries. Kelp farming, a form of aquaculture, produces commercial goods and restores habitats, according to Meg Chadsey, an expert on ocean acidification from the University of Washington.  Kelp farming offers lobsterers a means to sustain their business and support the Gulf’s ecosystem. “[Lobstering and kelp aquaculture] are symbiotic,” Warner tells Food Tank. “Kelp helps to locally mitigate some of the effects of climate change by removing carbon and nitrogen from the water and reducing ocean acidification. Kelp farmers are, in essence, improving the oceans and helping lobster populations thrive.”Also read this: ‘Water-forecasting’ and Fish Farms Fed on WasteKelp farmers and lobsterers can use the same boats, basic gear, skills and license to operate, Warner tells Food Tank. With the lobster season in summer and fall, and the kelp farming season in the winter and spring, diversification allows coastal fishermen to supplement their income, says Warner.  Once kelp is harvested, companies like Atlantic Sea Farms buy what their farmers produce and process it into products such as seaweed kraut, kimchi and salad. Kelp’s combined industrial and consumer value projects to contribute US$2.2 million by 2028 with an exponential growth rate. “In order to remain who we are and keep our maritime heritage, diversification of coastal incomes is essential,” Warner says. “Lobstermen are some of the best environmental stewards out there. There is tremendous opportunity for Maine’s aquaculture industry to grow—and for fishermen to be the leaders of this growth.”Photo courtesy of New England Ocean ClusterSource: Food Tank ...
KKP Perkenalkan Inovasi Pakan Pembesaran Lobster Pasir
Lobster

KKP Perkenalkan Inovasi Pakan Pembesaran Lobster Pasir

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berhasil menghasilkan teknologi inovasi pakan pembesaran lobster pasir. Sebagai tindak lanjut, Pusat Pelatihan dan Penyuluhan Kelautan dan Perikanan (Puslatluh KP) membuka percontohan penyuluhan masyarakat di Kelompok Pembudidaya Ikan Geger Girang, Dusun Telong Elong, Desa Jerowaru, Kec. Jerowaru, Prov. Nusa Tenggara Barat pada Kamis (9/7/2020).Kepala Balai Besar Riset Budidaya Laut dan Penyuluhan Perikanan (BBRBLPP), Gondol Bambang Susanto menyampaikan, percontohan ini merupakan salah satu upaya untuk mengimplementasikan pengelolaan lobster sesuai dengan Permen KP No. 12/PERMEN-KP/2020 tentang Pengelolaan Lobster (Panulirus Spp.), Kepiting (Scylla Spp.), dan Rajungan (Portunus Spp.) di Wilayah Negara Republik Indonesia.“Percontohan ini kita awali dengan sosialisasi pada hari ini. Kita akan coba bagaimana meningkatkan pendapatan pelaku utama dan masyarakat,” ucap Bambang. Baca juga: Pembesaran Benih Lobster Dorong Nilai Tambah Masyarakat PesisirBambang mengatakan, percontohan yang rencananya akan dilaksanakan hingga November 2020 ini bertujuan untuk mendiseminasikan teknologi budidaya lobster agar dapat diadopsi oleh masyarakat.Selain itu, kegiatan juga bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan teknologi hasil riset di bidang lobster. “Kami juga mengharapkan percontohan ini dapat memberikan keterampilan bagi pelaku utama sehingga bisa mandiri ke depannya,” imbuhnya. Kepala Puslatluh KP Lilly Aprilya Pregiwati  memberikan apresiasi tinggi kepada Kepala BBRBLPP Gondol dan seluruh jajarannya. Ia mengatakan bahwa pelatihan terkait pakan pembesaran lobster pasir yang dikerjakan telah ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Pasalnya, saat ini pertumbuhan lobster pasir cenderung membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan lobster mutiara untuk mencapai ukuran yang sama. “Mudah-mudahan, ini bisa menjadi suatu way out yang bisa membantu masyarakat yang melakukan budidaya lobster. Bersamaan dengan recovery ekonomi yang lebih baik pada waktunya nanti, kita akan bisa menghasilkan lobster pasir yang pertumbuhannya lebih baik, dengan harga yang tentu akan mengikutinya,” tuturnya. Lilly menjelaskan bahwa, dipilihnya pakan pembesaran lobster pasir menjadi percontohan penyuluhan dikarenakan memenuhi empat kriteria. Pertama, dapat dikuasai secara teknologi. Kedua, menguntungkan secara ekonomi. Ketiga, dapat diterima masyarakat secara sosial. Keempat, ramah lingkungan. Sementara terkait lokasi percontohan yang terletak di Kab. Lombok Timur, ia menjelaskan bahwa pemilihan dilakukan karena wilayah ini merupakan salah satu sentra lobster di Indonesia.  Baca juga: Begini Aturan Pengelolaan Budidaya Lobster BerkelanjutanLilly berharap, kegiatan ini bermanfaat untuk mengoptimalkan industri perikanan budidaya sehingga dapat menyerap lapangan pekerjaan dan memenuhi kebutuhan protein masyarakat. Hal ini sejalan dengan mandat Presiden Joko Widodo kepada Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo.“Sekecil apa pun kontribusi yang kita berikan, tentunya kalau kita lakukan secara fokus, ini akan menjadi suatu awal yang sangat baik untuk mendukung agar industri perikanan berkembang degan baik,” tuturnya. Guna menyukeskannya, ia mengajak seluruh pihak, termasuk pemerintah daerah, untuk terus bekerjasama mengoptimalkan potensi lobster yang ada di Lombok Timur. Ia pun mengucapkan apresiasi kepada pemda setempat yang telah memberikan dukungan hing saat ini. “Dukungan dari pemerintah daerah itu menjadi penting karena potensi lobster yang luar biasa di Lombok Timur ini tidak akan berkembang kalau kita tidak berkolaborasi,” ucapnya. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Lombok Timur Haryadi menyambut baik kehadiran percontohan pakan pembesaran lobster pasir di wilayanya. Ia menyampaikan bahwa saat ini wilayahnya masih kekurangan produksi budidaya perikanan laut, baik lobster maupun rumput laut. Hal ini disebabkan oleh kelangkaan pakan yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Baca juga: Menepis Keraguan Budidaya Lobster“Mudah-mudahan usaha percontohan penyuluhan pakan ini bisa berhasil sehingga produksi budidaya laut kita akan semakin meningkat. Terutama berkaitan dengan produksi lobster,” imbuhnya. Ditemui secara terpisah, Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) Sjarief Widjaja menyatakan bahwa pihaknya tengah memetakan 387 kelompok binaan penyuluh di Lombok. Ke depannya, para penyuluh akan terus dibekali dengan berbagai pelatihan mendalam tentang pembesaran lobster agar bisa mendukung  masyarakat pelaku usaha ataupun yang tertarik untuk berbudidaya. “Kita kelompokkan penyuluh mana yang berperan untuk budidaya, pengolahan, penangkapan, dan sebagainya. Mereka akan terus diberikan pelatihan tentang penangkapan benih lobster yang benar, pembesaran, pengemasan, dan sebagainya sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya. Sumber: Trubus NewsTentang MinapoliMinapoli merupakan marketplace++ akuakultur no. 1 di Indonesia dan juga sebagai platform jaringan informasi dan bisnis perikanan budidaya terintegrasi, sehingga pembudidaya dapat menemukan seluruh kebutuhan budidaya disini. Platform ini hadir untuk berkontribusi dan menjadi salah satu solusi dalam perkembangan industri perikanan budidaya. Bentuk dukungan Minapoli untuk industri akuakultur adalah dengan menghadirkan tiga fitur utama yang dapat digunakan oleh seluruh pelaku budidaya yaitu Pasarmina, Infomina, dan Eventmina.  ...
Aquatec, Pionir Budidaya Lobster di Indonesia
Lobster

Aquatec, Pionir Budidaya Lobster di Indonesia

Lobster merupakan komoditas air yang sangat berharga. Lobster mutiara berukuran 350gram bisa dijual di pasaran dengan harga Rp. 600.000/kg, sedangkan lobster mutiara berukuran 1kg ke atas bisa dijual dengan harga Rp. 1.200.000/kg. Harga ini akan jauh lebih mahal lagi apabila disajikan di restoran.Setiap tahunnya, ada lebih dari 100 juta benih lobster diselundupkan dari Indonesia ke luar negeri, sebagian besar masuk ke negara Vietnam untuk dibudidaya. Alangkah baiknya jika 1% nya saja yaitu 1 juta ekor benih lobster tersebut dibudidayakan di Indonesia. Dengan 1 juta ekor benih lobster, apabila Survival Ratenya (SR) mencapai 50% untuk dijual dengan berat 1 kg/lobster, maka potensi penjualannya adalah 500.000kg x Rp. 1.200.000/kg yaitu Rp. 600.000.000.000 (enam ratus milyar rupiah) per tahun. Apabila Indonesia bisa memanfaatkan 5 juta ekor benih lobster saja, maka potensi penjualannya adalah Rp 3.000.000.000.000 (tiga triliun rupiah) per tahun, angka yang sangat signifikan dalam industri perikanan. Lima juta ekor itu baru 5% dari penyelundupan benih lobster yang terjadi saat ini. Bisa dibayangkan berapa besar potensi budidaya lobster apabila di masa depan Indonesia sudah bisa memanfaatkan 100% dari 100 juta ekor benih lobster yang setiap tahunnya diselundupkan tersebut.Baca juga: Menepis Keraguan Budidaya LobsterSelain memiliki nilai yang tinggi bagi pembudidaya, budidaya lobster akan memberikan multiplier effect yang besar bagi pengepul benih lobster, distributor, exporter, dan restoran. Indonesia bisa mendapatkan devisa yang luar biasa dari kegiatan budidaya lobster tersebut dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara signifikan. Apabila budidaya lobster bisa dilakukan di Vietnam, mengapa tidak dilakukan di Indonesia? Apalagi, Indonesia yang merupakan sumber benih lobster terbesar di dunia ini memiliki kondisi perairan laut yang sempurna untuk budidaya lobster di habitat alaminya. Berikut adalah kondisi laut yang ideal untuk budidaya lobster.Tidak hanya meningkatkan devisa negara, budidaya lobster akan meningkatkan kelestarian lobster di alam Indonesia. Mengapa bisa begitu? Apabila lobster bertelur, telur lobster hanya memiliki Survival Rate (SR) dari telur hingga mencapai dewasa sebesar 0,004%, jumlah yang sangat kecil. Apabila lobster dibesarkan di laboratorium atau hatchery, survival rate dari telur hingga mencapai ukuran Puerulus bisa mencapai 1%. Apabila survival rate di laboratorium atau hatchery ini digabungkan dengan survival rate budidaya 50%, maka survival rate totalnya mencapai 0,5%, yaitu peningkatan sebesar 125 kali lipat dari alam. Apabila sebagian kecil saja dari lobster dewasa yang dibudidaya dikembalikan ke alam, hal ini akan meningkatkan jumlah lobster yang ada di alam.Budidaya lobster bukanlah merupakan hal yang sulit, namun memerlukan pemeliharaan yang teliti. Untuk mempelajari cara budidaya lobster, delegasi dari Aquatec bersama dengan Prof. Dr. Ketut Sugama, M.Sc telah beberapa kali berkunjung ke Vietnam dan berkonsultasi dengan pakar-pakar budidaya untuk mempelajari teknik budidaya lobster secara mendetail. Beberapa poin umum hasil dari kunjungan tersebut adalah: 1) Lobster sangat sensitive terhadap perubahan salinitas perairan, 2) Lobster senang bersembunyi di tempat yang gelap (dalam terumbu karang) dan perairan yang tenang, 3) Lobster akan menyerang sesamanya apabila tidak diberi pakan yang cukup dan segar.Baca juga: Begini Aturan Pengelolaan Budidaya Lobster BerkelanjutanMenanggapi poin 1 dan poin 2 akan pentingnya kestabilan salinitas air dan sifat lobster yang senang bersembunyi di terumbu karang, pembudidaya di Vietnam mengakalinya dengan memelihara Lobster di kerangkeng yang dibenamkan ke dalam air. Fungsi dari kerangkeng terbenam tersebut adalah agar kondisi perairan tidak terpengaruh perubahan salinitas akibat hujan. Kerapkali di Indonesia, lobster dipelihara di keramba tradisional dengan jaring berada di permukaan air. Begitu hujan datang, sebagian besar bahkan 70% dari lobster yang dipelihara bisa mengalami kematian karena salinitas air berkurang.Tidak demikian dengan lobster yang dibudidayakan di Vietnam. Dikarenakan lobster dipelihara di bawah air dengan kedalaman tertentu, apabila hujan datang, hampir tidak ada lobster yang mati akibat perubahan salinitas, dikarenakan perubahan salinitas hanya terjadi di permukaan air. Lobster ukuran Puerulus sampai 15 gram dibenamkan di kerangkeng bawah air dengan kedalaman 2-5 meter, sedangkan lobster dewasa dibenamkan di kerangkeng bawah air dengan kedalaman 7 meter. Selain menjaga salinitas, kerangkeng terbenam juga berfungsi agar lobster tidak terganggu dengan kegiatan pembudidaya di atas keramba.Budidaya lobster di veitnam (ukuran puerulus 15 gram)Budidaya lobster di Vietnam (ukuran 15 gram hingga 1 kg)Menanggapi poin 3, lobster perlu diberi makanan segar dengan jumlah yang tepat dan waktu yang tepat. Makanan yang cocok bagi lobster adalah ikan yang dicacah, udang kecil, dan kerang yang dihancurkan. Pemberian pakan dilakukan pada jam 9 pagi dan jam 4 sore, dan pembersihan sisa pakan dilakukan setiap pagi dengan cara diserok. Food Conversion Ratio (FCR) dari lobster adalah 9-18.Dari hasil kunjungan ke Vietnam tersebut, kini Aquatec telah menciptakan sarana budidaya lobster versi modern sebagai hasil penyempurnaan metode budidaya lobster di Vietnam. Pemeliharaan lobster dilakukan di keramba kerangkeng terbenam dan dibagi ke dalam 3 tahap, yaitu dari ukuran Puerulus (1,5-2cm) hingga 5 gram dalam kerangkeng terbenam ukuran S, dari ukuran 5 gram sampai ukuran 15 gram dalam kerangkeng terbenam ukuran M, dan dari ukuran 15 gram sampai 1 kg dalam kerangkeng terbenam ukuran L. Pembagian 3 tahap ini berfungsi untuk memaksimalkan Survival Rate (SR) dan meminimalkan Mortality Rate. Survival rate di kerangkeng terbenam S adalah +80%, di kerangkeng terbenam M adalah +80%, dan di kerangkeng terbenam L adalah +80%, sehingga total survival rate dari Puerulus hingga dewasa 1 kg adalah 80% x 80% x 80% yaitu +51,2%, tingkat SR yang sangat baik. Survival rate ini dapat lebih ditingkatkan lagi hingga +70% seiring dengan meningkatnya kemampuan dan pengalaman pembudidaya dalam memelihara lobster.Siklus Hidup Lobster. Lobster Budidaya memiliki Survival Rate yang jauh lebih tinggi daripada Lobster Alam.Sebanyak 120 ekor Puerulus dimasukkan ke dalam tiap kerangkeng terbenam S dan dipelihara selama 35-45 hari hingga mencapai ukuran 5 gram. Kerangkeng terbuat dari tiang HDPE rangka besi dilapisi net HDPE anti-biofouling sehingga tidak mudah ditumbuhi lumut.Keramba Pendederan Lobster Kerangkeng Terbenam S (Tahap 1, ukuran Puerulus hingga 5 gram, 30 kerangkeng, isi 120 ekor per kerangkeng). Kerangkeng ditenggelamkan 2 meter. Durasi 35-45 hari, Survival Rate +80%Setelah mencapai ukuran 5 gram, sebanyak 80-100 ekor baby lobster dimasukkan ke dalam tiap kerangkeng terbenam M dan dipelihara selama 30-40 hari hingga mencapai ukuran 15 gramKeramba Pendederan Lobster Kerangkeng Terbenam M (Tahap 2, ukuran 5 gram hingga 15 gram, 24 kerangkeng, isi 80-100 ekor per kerangkeng). Kerangkeng ditenggelamkan 5 meter. Durasi 30-40 hari, Survival Rate +80%Setelah mencapai ukuran 15 gram, sebanyak 70-90 ekor baby lobster dimasukkan ke dalam tiap kerangkeng terbenam L dan dipelihara selama 8-10 bulan hingga mencapai ukuran 1 kilogram.Keramba Pembesaran Lobster Kerangkeng Terbenam L (Tahap 3, ukuran 15 gram hingga 1kg, 12 kerangkeng, isi 70-90 ekor per kerangkeng). Kerangkeng ditenggelamkan 7 meter. Durasi 8-10 bulan, Survival Rate +80%Untuk meminimalisir resiko, ada baiknya apabila pemeliharaan lobster didiversifikasi dengan lobster pasir. Lobster pasir bisa dipanen dalam 4-5 bulan untuk mencapai ukuran 300 gram. Apabila Kerangkeng L diperuntukkan untuk memelihara lobster hingga ukuran 300 gram saja, maka 1 buah kerangkeng L bisa diisi hingga 200-300 ekor lobster. Berikut adalah perhitungan bisnis budidaya lobster:Perhitungan Budidaya 21.600 Benih LobsterKonfigurasi Sarana Budidaya Lobster Sistem Keramba Kerangkeng TerbenamBerdasarkan tabel tersebut, dapat dilihat bahwa budidaya 21.600 Puerulus Lobster hanya membutuhkan 30 kerangkeng terbenam S (1 unit keramba pendederan S), 48 kerangkeng terbenam M (2 unit keramba pendederan M), dan 48 kerangkeng terbenam L (4 unit kerambe pembesaran L). Investasi tersebut berpotensi menghasilkan 3.686 ekor lobster mutiara masing-masing 1kg (total 3.686kg) dan 7.373 ekor lobster pasir masing-masing 300 gram (total 2.212 kg). Apabila harga lobster mutiara adalah 82USD/kg (setara dengan Rp 1.200.000/kg) dan harga lobster pasir adalah 33USD/kg (setara dengan Rp 480.000/kg), maka nilai jualnya adalah USD 375,276 atau Rp 5.441.495.040. Perhitungan tersebut sudah memperhitungkan survival rate sebesar +51,2%.Dengan FCR lobster berkisar 9-18 (FCR 9 untuk lobster pasir hingga berukuran 300 gram, FCR 18 untuk lobster mutiara hingga berukuran 1kg), diperkirakan biaya pakan lobster berkisar 20-25% dari harga jual lobster. Dengan demikian, penjualan lobster masih menyisakan margin sebesar 75-80% untuk menyerap sedikit biaya operasional, dan pembudidaya masih berpotensi untuk menikmati 40-50% penjualan sebagai keuntungan. Hal ini membuktikan bahwa budidaya lobster memilikin potensi keuntungan yang luar biasa. Mengapa bangsa Indonesia tidak melakukannya?Keberhasilan Budidaya Lobster di Sarana Budidaya Lobster Sistem Keramba Kerangkeng Terbenam AquatecUji Coba Sarana Budidaya Lobster Sistem Keramba Kerangkeng Terbenam Aquatec, Kerangkeng Terbenam L untuk Pembesaran LobsterSelain daripada tingkat keberhasilan budidaya, Aquatec juga memikirkan kemudahan dalam berbudidaya lobster. Aquatec menyediakan katamaran kerja yang berfungsi untuk memanen lobster, sekaligus membawa alat bantu untuk mengangkat kerangkeng terbenam L, kompresor diving untuk membantu diver memeriksa kerangkeng terbenam, dan alat lainnya.Katamaran kerjaUntuk memulai usaha budidaya lobster, tentunya harus dimulai dengan penghentian larangan untuk budidaya lobster yang tercantum dalam Permen KP no 56 tahun 2016. Selama larangan budidaya lobster masih berlaku, potensi budidaya lobster tidak akan terealisasi. Diharapkan Menteri Kelautan dan Perikanan Bapak Edhy Prabowo untuk mempertimbangkan mencabut atau merevisi Permen KP no 56 tahun 2016 demi kesejahteraan masyarakat Indonesia. Melalui visi misi yang telah disampaikan oleh beliau, kami percaya Bapak Edhy Prabowo akan menjadi ujung tombak kebangkitan industri budidaya lobster Indonesia.Sumber: AQUATEC Tentang MinapoliMinapoli merupakan marketplace++ akuakultur no. 1 di Indonesia dan juga sebagai platform jaringan informasi dan bisnis perikanan budidaya terintegrasi, sehingga pembudidaya dapat menemukan seluruh kebutuhan budidaya disini. Platform ini hadir untuk berkontribusi dan menjadi salah satu solusi dalam perkembangan industri perikanan budidaya. Bentuk dukungan Minapoli untuk industri akuakultur adalah dengan menghadirkan tiga fitur utama yang dapat digunakan oleh seluruh pelaku budidaya yaitu Pasarmina, Infomina, dan Eventmina.  ...
Begini Aturan Pengelolaan Budidaya Lobster Berkelanjutan
Lobster

Begini Aturan Pengelolaan Budidaya Lobster Berkelanjutan

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memastikan untuk mulai fokus pada pengembangan budidaya lobster nasional. Indonesia memiliki keunggulan komparatif sumber daya lobster yang tinggi dan berpotensi meraup nilai ekonomi besar melalui pengembangan budidayanya.Sebagai informasi,  upaya menjamin pengelolaan budidaya lobster secara berkelanjutan, KKP melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya telah menetapkan aturan tata kelolanya melalui Keputusan Dirjen Perikanan Budidaya Nomor : 178/KEP-DIRJEN/2020, yang mengacu pada Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 12 tahun 2020 tentang Pengelolaan Lobster, Kepiting dan Rajungan di Wilayah NKRI.Kegiatan sosialisasi Keputusan Dirjen Perikanan Budidaya tersebut digelar secara daring dan diikuti seluruh pemangku kepentingan baik di pusat maupun di Propinsi seluruh Indonesia. Dalam arahannya, Slamet meminta seluruh elemen untuk mengikuti pedoman yang telah diatur. Ia memastikan bahwa aturan tersebut merupakan bagian dari upaya Pemerintah dalam mewujudkan pemanfaatan potensi sumber daya lobster melalui budidaya yang terukur dan berkelanjutan."Kita ini punya dua tanggungjawab utama yaitu bagaimana memanfaatkan lobster bagi peningkatan ekonomi nasional dan masyarakat, tapi disisi lain kita juga bertanggungjawab dalam menjamin sumber daya lobster tetap lestari. Dan aturan ini saya kira bagian dari upaya untuk mewujudkan dua hal ini. Ekonominya kita manfaatkan melalui budidaya, sumber dayanya kita tetap jaga dan lestarikan, yakni dengan mendorong upaya restocking," ujar Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto di Jakarta, Selasa (16/6/2020).Baca juga: Menteri Edhy Jelaskan Alasan Pembukaan Ekspor Benih LobsterSlamet menyampaikan aturan tersebut setidaknya mengatur 4 (empat) substansi utama yakni ketentuan pendaftaran dan penetapan sebagai pembudidaya lobster; ketentuan mengenai persetujuan pembudidayaan lobster di luar wilayah sumber benih; ketentuan mengenai kewajiban pelepasliaran lobster hasil pembudidayaan dan ketentuan mengenai pembudidayaan oleh eksportir benih lobster. Empat ketentuan tersebut menurutnya sebagai bagian penting tata kelola pembudidayaan lobster yang lebih terukur dan bertanggungjawab."Semua mekanisme yang diatur dalam ketentuan ini sifatnya sentralistik jadi memang kewenangannya lebih banyak ada di KKP. Tujuannya agar lebih mudah melakukan pengawasan dan pengendalian mengingat lobster merupakan spesies yang spesifik dimana kita belum mampu untuk memijahkannya, sehingga pengaturannya harus lebih ketat. Peran Pemda tentu sesuai kewenangannya, sifatnya lebih koordinatif juga pembinaan, tapi ketentuan perizinan pusat yang mengeluarkan," imbuhnya.Slamet juga mengimbau semua pihak untuk mematuhi dan memenuhi mekanisme yang telah ditetapkan jika ingin melakukan usaha budidaya ikan. Fokus utamanya bagaimana agar masyarakat lokal bisa terlibat dalam kegiatan usaha. Oleh karenanya ia meminta pemda yang membidangi perikanan budidaya lebih proaktif dalam melakukan sosialisasi di level masyarakat."Masyarakat lokal harus betul-betul dapat porsi besar dalam kegiatan bisnis budidaya lobster ini, baik sebagai mitra, pekerja atupun menanamkan investasi sehingga ekonomi bisa berkembang di wilayah tersebut. Saya rasa ketentuan ini juga tidak terlalu memberatkan mereka pelaku usaha. Mengenai prosedur pemenuhan persyaratan, saya minta pemda betul betul proaktif lakukan sosialisasi termasuk melakukan pendataan terhadap masyarakat yang memiliki animo tinggi berbudidaya lobster," pungkas Slamet.Baca juga: KKP Fokus Kembangkan Budidaya Lobster di Kawasan Sentra BenihSebagai informasi berkaitan dengan kriteria dan persyaratan yang harus dipenuhi agar terdaftar sebagai pembudidaya yakni wajib memperoleh surat penetapan sebagai pembudidaya lobster dari Direktur Jenderal.Adapun untuk memperoleh surat penetapan sebagai pembudidaya lobster, pelaku usaha harus mengajukan permohonan kepada Direktur Jenderal melalui Call centre Whatsapp Gateway (WA Gateway) 0822 99999 6660 dengan memenuhi persyaratan dan melampirkan dokumen antara lain : (1) Data pelaku usaha dan informasi jenis usaha; (2) SIUP atau TDPIK; (3) surat pernyataan komitmen untuk menggunakan benih dari nelayan terdaftar bagi pembudidayaan lobster; dan (4) Surat pernyataan komitmen untuk melepasliarkan lobster sebanyak 2% dari hasil panen pembesaran Lobster dengan berat minimal lobster yang dilepasliarkan adalah 50 g/ekor bagi pembudidayaan lobster.Khusus pembudidayaan Losbter di luar wilayah sumber benih, kriteria dan peryaratan yang harus dipenuhi yakni (1) Surat penetapan sebagai Pembudidaya Lobster; dan (2) Surat Dukungan Budidaya Lobster di Luar Wilayah Sumber Benih dari Dinas setempat di lokasi budidaya akan dilakukan.Khusus pelaku usaha yang akan melakukan ekspor benih, Permen KP Nomor 12 Tahun 2020 mewajibkan untuk melakukan pembudidayaan lobster dan telah panen secara berkelanjutan serta melakukan pelepasliaran lobster sebanyak 2%.Calon eksportir benih harus memperoleh Surat keterangan telah melakukan usaha pembudidayaan lobster yaitu dengan mengajukan permohonan kepada Direkur Jenderal dengan melampirkan dokumen yakni : (1) Surat penetapan sebagai pembudidaya lobster; (2) Surat penetapan sebagai Eksportir lobster dari Direktur Jenderal yang membidangi perikanan tangkap; (3) Kontrak kerja atau perjanjian kerjasama dengan masyarakat atau pembudidaya setempat; (4) berita acara pelepasliaran lobster yang disaksikan dan ditanda tangani oleh Dinas setempat; (5) Surat keterangan asal benih dari Dinas setempat; dan (6) Laporan pembudidayaan losbter memuat informasi produksi. Sumber: Detik.com ...
Menepis Keraguan Budidaya Lobster
Lobster

Menepis Keraguan Budidaya Lobster

Indonesia memiliki 7 spesies lobster dari 19 spesies lobster yang tersebar di perairan dunia. Jenis lobster yang terdapat di Perairan Indonesia, yaitu: lobster pasir (P. homarus), Lobster batik (P.longipes), Lobster batu (P.penicillatus),Lobster Pakistan (P.polyphagus), Lobster Mutiara (P.ornatus), Lobster Bambu (P. versicolor), dan Lobster Batik (P. Femoristriga).Penyeberannya antara lain di Pulau Sumatera, lobster dilaporkan banyak ditemukan di perairan Simeuleu, Meulaboh, Pulau Nias, Pulau Mentawai, perairan Bengkulu dan Lampung. Di Pulau Jawa, penyebarannya meliputi perairan Selat Sunda, Binuangeun, Palabuhanratu, Pangandaran, Cilacap, Kebumen, Gunung Kidul sampai ke Pacitan. Di perairan utara Jawa, hanya terdapat di perairan Pulau Madura.Kemudian di Pulau Kalimanta, lobster hanya ditemukan di perairan Pemangkat, Kalimantan Barat. Di Pulau Sulawesi, lobster menyebar mulai bari perairan perbatasan antara Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan sampai dengan Sinjai dan Bulukumba di Teluk Bone. Lobster juga terdapat di sekitar wilayah Wakatobi di bagian tenggara dan perairan Manado dan gugusan pulau-pulau kecil di utara Sulawesi Utara.Termasuk di Bali dan Nusa Tenggara, lobster juga menyebar mulai dari perairan selatan Pulau Bali, selatan Pulau Lombok, utara dan selatan Pulau Flores, Pulau Timor dan Pulau Rote. Di Maluku dan Papua, penyebaran juga meliputi perairan Maluku Utara, Morotai, Pulau Ambon, Seram, Kepulauan Kei, dan Maluku Barat Daya, Raja Ampat, Fak- Fak, Sarmi, dan Merauke.Potensi LobsterPotensi  benih lobster alam di Perairan Laut Indonesia merupakan yang terbesar di dunia, dimana diperkirakan mencapai 20 miliar ekor per tahun. Faktor alam yang mencakup dinamika oeanografi dan klimatologi sangat mempengaruhi keberadaan dan stok benih lobster alam di Perairan Laut Indonesia, dan juga di seluruh dunia. Disamping itu kualitas lingkungan perairan laut dan aktivitas penangkapan juga ikut andil memberikan pengaruh terhadap keberadaan stok benih lobster di alam. Namun hingga saat ini hampir belum ada informasi yang memadai terkait faktor mana yang paling menentukan keberadaan dan stok benih lobster di alam. Informasi yang dikumpulkan dari kawasan pantai selatan Provinsi Jawa Barat yang mencakup Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Garut memperlihatkan faktor musim yang mencakup dinamika oseanografi dan klimatologi lebih dominan dibandingkan dengan faktor penangkapan dan kualias perairan.  Meskipun aktivitas penangkapan terus berlangsung, stok lobster cenderung dinamis mengikuti musim, bahkan beberapa waktu belakangan ini terjadi populasi lobster yang melimpah di alam.KKP tahun 2015 menyebutkan bahwa lobster memiliki potensi lestari hanya sebesar 4.800 ton per tahun, sedangkan tingkat pemanfaatan telah mencapai 13.549 ton per tahun. Di beberapa Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) menunjukkan kegiatan penangkapan lobster sudah melebihi jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JBT). Dari 11 WPPNRI yang dimiliki Indonesia, 8 diantaranya (WPPNRI 572, WPPNRI 573, WPPNRI 711, WPPNRI 712, WPPNRI 715, WPPNRI 716, WPPNRI 717 dan WPPNRI 718) menunjukkan hasil tangkapan sudah melebihi jumlah tangkap yang diperbolehkan. Artinya kegiatan penangkapan lobster sudah mengalami overfishing (Wahyudin R.A, 2018). Di sisi lain habitat hidup lobster di perairan yang berkarang juga terancam akibat kegiatan dekstruktif, seperti: kegiatan penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan (menggunakan bom atau sianida), penambangan batu karang dan pasir, penurunan kualitas air akibat limbah domestik, sedimentasi serta bleaching akibat perubahan iklim (LIPI, 2018). Akibatnya kondisi terumbu karang di Indonesia yang masih sangat baik hanya tersisa 6,56 %, sedangkan terumbu karang dalam kondisi jelek sebesar 36,18 %, kondisi cukup 34,3 % dan kondisi baik hanya 22,96 %. Hingga saat ini aktivitas penangkapan lobster,  baik ukuran konsumsi maupun ukuran benih, terus berlangsung dalam rangka memenuhi kebutuhan lobster nasional dan global, ditambah lagi dengan nilai ekonomi komoditas eksotik ini.  Dalam aktivitas penangkapan tersebut, hampir semua ukuran lobster baik konsumsi dan benih (ukuran kecil (under size), juvenil, puelurus (baby lobster, BL)  ditangkapi meskipun terdapat larangan untuk ukuran kurang dari 200 g per ekor. Di masyarakat sendiri lobster ukuran 75 gram per ekor  atau lebih sudah masuk ukuran konsumsi, ukuran 15 - 60 gram per ekor juga ditangkapi (tertangkap), kemudian dijual dengan harga murah, sekitar Rp 60.000 per kg atau dikonsumsi sendiri bahkan dibuang karena dianggap tidak bernilai.  Sementara itu, harga lobster ukuran pasar (> 100 g per ekor) sekitar Rp 200.000 sampai dengan Rp 900.000 ribu per kg bergantung kepada ukuran dan jenis lobster.  Lobster ukuran pasar (marketable size) tersebut dijual ke kota-kota besar Indonesia atau diekspor, terutama ke Cina dan Singapura.  Melihat hal tersebut perlu dilakukan langkah-langkah strategis guna mengembangkan sistem produksi budidaya lobster yang lebih kepada memanfaatkan serta meningkatkan nilai tambah dari lobster under size yang ada.Peningkatan Nilai TambahGuna mencapai hal tersebut dibutuhkan model pengelolaan lobster dari hulu hingga hilir yang mencangkup beberapa langkah strategis. Pertama meningkatkan nilai tambah lobster under size (30 - 50 gram per ekor), kedua melakukan kegiatan riset yang berkelanjutan guna peningkatan survival rate atau tingkat kelangsungan hidup benih lobster ukuran 1 cm sampai 10 cm melalui kegiatan pendederan guna menghasilkan tokolan lobster ukuran 30 - 50 gram per ekor, dan ketiga memperkuat kelembagaan masyarakat terkait pengelolaan lingkungan serta pengawasan terhadap kegiatan penyelundupan benih lobster pada tingkat pengumpul pertama. Peningkatan nilai tambah lobster under size pada kegiatan budidaya laut tentu lebih memberikan hasil maksimal terutama pada nilai jual. Disamping itu juga mengembangkan perekonomian masyarakat pesisir, termasuk memanfaatkan sumber daya perikanan (lobster under size) yang bahkan bisa terbuang percuma. Di tengah wabah pandemi covid-19 atau dikenal dengan virus corona yang saat ini melanda di seluruh dunia termasuk di Indonesia, Pusat Kajian Sumberdaya Pesisisr dan Lautan (PKSPL) IPB University mencoba menepis keraguan budidaya lobster dengan melakukan kegiatan action research di Balai Sea Farming Semak Daun yang berada di Perairan Semak Daun Kelurahan Pulau Panggang Kab. Adm. Kepulauan Seribu. Lokasi Balai Sea Farming Semak Daun memenuhi syarat ideal tumbuh lobster (dinamika populasi biota perairan, yaitu suhu (23 - 32ºC), salinitas (30 – 36 ppm), cahaya, arus dan pasang surutnya).Pengembangan budidaya yang dilakukan oleh PKSPL IPB University menggunakan konsep fisheries-based aquaculture, yaitu benih yang digunakan berasal dari hasil tangkapan dari alam. Benih yang digunakan merupakan benih lobster under size ukuran 30 - 50 gram per ekor. Aktivitas penelitian yang dilakukan oleh PKSPL IPB University terkait lobster ini sesuai dengan road map penelitian yang telah disusun yaitu dimulai dari lobster under size, kemudian juvenil, puelurus dan akhirnya phyllosoma dan bahkan bisa dari stadia telur untuk ditetaskan, sebelum akhirnya mampu membenihkan lobster di sistem hatchery (hatchery-based aquaculture).  Konsep ini dikenal dengan istilah “from fisheries-based aquaculture to hatchery-based aquaculture”.Jenis lobster yang digunakan pada aktivitas peneitian terkait kegiatan budidaya lobster yang dilakukan oleh PKSPL IPB University adalah lobster pasir (Panulirus homarus) berukuran antara 30 - 50 gram per ekor (under size) yang didatangkan dari daerah Garut Selatan dan Ujung Genteng sebanyak 225 ekor. Teknologi budidaya yang dilakukan merujuk pada teknologi yang digunakan oleh Vietnam yaitu menggunakan sistem submersible Cage (keramba tenggelam). Bentuk submersible Cage (SC) yang digunakan berbentuk kubus dengan ukuran per unit 1 X 1 X 1 m3 sebanyak 9 unit. Bahan SC yang digunakan terbuiat dari pipa PVC ukuran 1 inci. Pada imolementasinya SC ditenggelamkan sekitar 2 meter di bawah permukaan air laut dengan tujuan agar lobster yang dipelihara terhindar dari pengaruh air tawar yang ada. Jumlah lobster under size yang dipelihara pada setiap SC sebanyak 25 ekor. Kegiatan penelitian berlangsung mulai Tanggal 16 Maret 2020 sampai dengan Tanggal 24 April 2020. Pemberian pakan dilakukan setiap sore hari sekitar pukul 16.30 wib atau pukul 17.00 WIB. Hal tersebut dilakukan untuk menyesuaikan prilaku lobster yang memang aktif mencari makan pada malam hari (menjelang malam) karena lobster merupakan hewan nocturnal yang aktif di malam hari.Setiap hari lobster diberikan pakan berupa potongan ikan rucah segar dengan frekuensi 1 kali per hari sebanyak 200 - 300 gram/cage atau feeding rate sekitar 10 – 15 % dari bobot badan lobster. Pembersihan sisa pakan dilakukan setiap minggu sekali. Pemeliharaan selama 40 hari terjadi 45 kali molting dimana SR bervariasi tiap Submersible Cage (SC), SR 100 % sebanyak 3 SC, SR 96 % sebanyak 3 SC, SR 92 % sebanyak 2 SC, dan SR 88 % sebanyak 1 SC.Dari kegiatan penelitian yang dilakukan oleh PKSP IPB University ada beberapa rekomendasi yang dapat diberikan antara lain 1. Demi pengelolaan lobster secara berkelanjutan, efektif dan efisien yang perlu menjadi perhatian adalah kelestarian stok lobster dan kesejahteraan masyarakat; 2. Perlu dilakukan kegiatan kajian yang mendalam terkait keberadaan stok lobster nasional yang ada di alam dan pengelolaan penangkapan lobster.Melakukan pengaturan yang ketat, adil dan berkelanjutan terkait kegiatan penangkapan lobster ukuran konsumsi dengan memperhatikan jenis lobster, ukuran dan bobot; 4. Kegiatan penangkapan lobster ukuran juvenile dan puerulus dibolehkan untuk kebutuhan usaha budidaya lobster di dalam negeri; 5. Untuk lobster yang sedang bertelur tidak diperbolehkan untuk ditangkap; 6. Pemerintah melalui KKP melakukan percepatan pengembangan sistem budidaya lobster yang meliputi kegiatan pembesaran, pendederan, dan pembenihan.Dibutuhkan model pengembangan penelitian lobster yang berkelanjutan dengan menerapkan sistem sea farming. Dimana nantinya menjadi rujukan percontohan pengembangan penelitian dan industri lobster yang terintegrasi mulai dari pemilihan lokasi, manajemen benih, manajemen pemberian pakan, manajemen kualitas air, manajemen kesehatan lobster, manajemen panen hingga kegiatan pengankutan lobster hidup dan pemasaran.   Artike Asli: Trobos Aqua  ...
Menteri Edhy Jelaskan Alasan Pembukaan Ekspor Benih Lobster
Lobster

Menteri Edhy Jelaskan Alasan Pembukaan Ekspor Benih Lobster

Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo melakukan pertemuan virtual dengan 25 pemimpin redaksi media cetak, online dan juga elektronik, Selasa (12/5/) sore. Dalam pertemuan tersebut membahas sejumlah isu-isu hangat seputar kelautan dan perikanan, salah satunya tentang izin ekspor benih lobster sesuai Permen KP No. 12 tahun 2020 sebagai pengganti Permen KP No. 56 Tahun 2015.“Aturan itu dibuat berdasarkan kajian para ahli. Sehingga kita lihat saja dulu. Kita bikin itu juga berdasarkan perhitungan,” ujar Menteri Edhy.Sebagaimana diketahui, pada Permen KP No. 12 Tahun 2020 diatur tentang diperbolehkan ekspor benih lobster namun dengan syarat yang cukup ketat, di antaranya mengenai kuota, lokasi penangkapan benih, kewajiban budidaya, pelepasliaran sebanyak 2% dari hasil panen, dan syarat-syarat lainnya. (Pasal 5, poin a – j)Secara umum perbedaan dari Permen KP 56/2016 dengan Permen KP 12/2020 meliputi: (1) Permen 56 tidak dilengkapi definisi fase pertumbuhan lobster, (2) Dilarang menjual  benih untuk budidaya (pasal 7 ayat 1), dan (3) Dilarang memindahkan (ekspor) benih lobster (pasal 7 ayat 3).Adapun Permen KP No. 12 Tahun 2020 mengatur tentang: (1) Definisi fase pertumbuhan lobster (Pasal 1, poin 7 dan 8); (2) Diperbolehkan budidaya benih lobster disertai tanggung jawab pelepasliaran 2% dari hasil panen (Pasal 3, poin e); dan, (3) Diperbolehkan ekspor benih lobster disertasi syarat ketat.Menteri Edhy menjelaskan, telah memiiki jawaban mengenai kekhawatiran banyak pihak bahwa izin ekspor benih lobster akan mengancam populasi komoditas tersebut. Dari hasil pertemuannya dengan ahli lobster Universitas Tasmania Australia, kata dia, krustasea ini sudah bisa dibudidaya. Ditambah lagi, potensi hidup lobster budidaya sangat besar mencapai 70 persen, jauh lebih tinggi dibanding hidup di alam.Edhy menambahkan, aturan izin ekspor benih lobster sebenarnya sangat mengedepankan keberlanjutan. Pasalnya, eksportir baru boleh mengekspor benih lobster setelah melakukan budidaya dan melepas-liarkan 2 persen hasil panen ke alam.“Kita minta mereka peremajaan ke alam 2 persen. Saya pikir ini bisa menjaga keberlanjutan,” tambahnya.Di samping keberlanjutan, alasan ekonomi menjadi pertimbangan diterbitkannya aturan ekspor benih lobster. Edhy mengaku banyak nelayan yang kehilangan mata pencaharian setelah adanya Permen KP Nomor 56 tahun 2016. Apalagi, permen tersebut tidak memperbolehkan lobster dibudidaya.“Kita mendorong keberlanjutan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi. Keduanya harus sejalan. Tidak bisa hanya keberlanjutan saja tapi nelayan kehilangan penghasilan, tidak bisa juga menangkap saja tanpa mempertimbangkan potensi yang dimiliki,” jelasnya. Meeting virtual yang dipandu oleh Staf Khusus Menteri Kelautan dan Perikanan, TB Ardi Januar itu berlangsung sekitar dua jam. Selain soal izin ekspor benih lobster, isu lain yang dibahas di antaranya eksploitasi ABK di luar negeri, dampak pandemi Covid-19 terhadap nelayan dan ekspor produk perikanan, hingga pengembangan sektor budidaya di Indonesia.Sumber: KKP News ...
KKP Fokus Kembangkan Budidaya Lobster di Kawasan Sentra Benih
Lobster

KKP Fokus Kembangkan Budidaya Lobster di Kawasan Sentra Benih

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus menyusun langkah dalam merealisasikan program budidaya lobster di Tanah Air. Pasalnya, potensi benih lobster di Indonesia cukup besar harus dan dimanfaatkan secara maksimal dengan tidak merusak lingkungan.Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo mengatakan, perlu kajian matang dalam meluncurkan program budidaya lobster. Dia tidak ingin, semangat budidaya malah merusak lingkungan.“Jangan sampai dengan semangat budidaya, kita malah merusak lingkungan, bahkan malah menghilangkan benih lobster di daerah itu. Perlu hitungan dan analisa. Tim kami sedang menyiapkan,” ujar Edhy dalam konferensi pers secara online di Jakarta, Kamis (19/3/2020).KKP sudah menandatangani kerja sama dengan Universitas Tasmania dan Komisi Riset Pertanian Australia (ACIAR) untuk mengembangkan budidaya lobster di Indonesia. Menteri Edhy bahkan sudah mengunjungi Australia untuk melihat langsung hatchery lobster milik Institut Studi Kelautan dan Antartika (IMAS) Univeritas Tasmania.Kerjasama dengan kampus dan periset menurutnya sangat penting untuk menguatkan budidaya lobster yang sudah berjalan, seperti di Nusa Tenggara Barat. Dengan metode keilmuan, dia yakin hasil budidaya lobster akan lebih optimal.“Mereka (pembudidaya di NTB) secara alamiah melakukan budidaya. Tapi dari sisi budidaya yang baik dan benar, itu masih perlu penyempurnaan. Makanya kami kerjasama dengan Universitas Tasmania dan ACIAR. Mereka sudah lihat dan akan bantu,” urai Edhy.Sebagai langkah awal budidaya lobster, KKP akan memfokuskan pada wilayah yang selama ini masyarakatnya menggantungkan hidup dari mencari benih. Wilayah-wilayah ini dianggap lebih siap untuk melakukan budidaya hewan krustasea ini. “Tempatnya banyak sekali, tapi apakah tempat itu sudah sesuai dengan norma berbudidaya yang benar, itu lagi kita kaji,” pungkasnya.Sumber: KKP News ...
Pembesaran Benih Lobster Dorong Nilai Tambah Masyarakat Pesisir
Lobster

Pembesaran Benih Lobster Dorong Nilai Tambah Masyarakat Pesisir

Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) serius mengkaji optimalisasi pemanfaatan potensi lobster Indonesia. Salah satunya melalui upaya pembesaran benih lobster guna memaksimalkan nilai tambah pendapatan masyarakat pesisir khususnya di lokasi yang menjadi sentra penghasil benih lobster dari alam. Hal tersebut disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo saat meninjau langsung upaya pembesaran benih lobster yang dilakukan masyarakat Telong Elong dan Teluk Ekas, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Kamis (26/12).Masyarakat Telong Elong hingga Dusun Gilire telah melakukan pembesaran benih lobster secara konvensional sejak 2007 silam. Sementara di Teluk Ekas, telah berhasil dilakukan pembesaran dengan teknologi yang lebih modern.“Kita di sini untuk melihat langsung upaya pembesaran benih lobster yang sudah berhasil dilakukan masyarakat baik secara konvensional maupun dengan memanfaatkan teknologi modern seperti yang dilakukan Vietnam. Saya takjub, ternyata sudah banyak masyarakat yang terlibat dalam kegiatan ini. Kita harapkan usaha pembesaran lobster ini mampu memberikan nilai tambah pendapatan bagi masyarakat pesisir,” ungkap Menteri Edhy.Perairan selatan NTB merupakan salah satu hotspot kelimpahan benih lobster yang luar biasa di samping perairan selatan Jawa dan barat Sumatera. Berbagai hasil kajian termasuk hasil studi kolaborasi KKP dalam hal ini Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Lombok dengan Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR) menyebutkan, diperkirakan ada ratusan juta benih lobster per tahun di area hotspot tersebut.Sementara di hotspot ini terjadi sink population, di mana populasi benih lobster tiba-tiba lenyap pada fase peurelus, dengan kelangsungan hidup (SR) hanya 0,01% (1 ekor yang hidup sampai dewasa dari 10.000 ekor benih).Di sisi lain, pemberlakuan Permen KP Nomor 56 Tahun 2016 tentang Larangan Penangkapan dan/atau Pengeluaran Lobster, Kepiting, dan Rajungan telah menimbulkan polemik di masyarakat. Permen yang memang bertujuan untuk mengendalikan eksploitasi benih lobster demi menjaga keberlanjutan stoknya di alam ini dinilai telah menghambat usaha orang-orang yang menggantungkan hidup di sana. Oleh karena itu, pemerintah kembali melakukan pengkajian, tidak hanya dengan memperhatikan aspek lingkungan, tetapi juga ekonomi dan sosio-kultural.“Berkaitan dengan isu benih lobster ini sebagaimana pesan Presiden, pemerintah harus berada di depan, kebijakan yang dibuat harus berbasis pada problem solving. Oleh karenanya, pada periode kepemimpinan saya, saya ingin memastikan bahwa setiap kebijakan benar-benar berbasis pada kajian ilmiah dan peran partisipasi publik, sehingga arahnya jelas yakni keberpihakan pada masyarakat dan pelestarian sumber daya lobster,” terang Menteri Edhy.KKP saat ini tengah menggodok revisi Permen KP Nomor 56 Tahun 2016 dengan teliti dan hati-hati dengan mempertimbangkan masukan dari seluruh stakeholders dan para ahli. Tujuannya agar pengembangan budidaya ke depan dapat berjalan lancar dengan tetap menjamin kelestarian stok di alam.“Jika saat ini di media dan ruang publik banyak sekali narasi-narasi yang menyudutkan saya terkait rencana dibukanya ekspor benih, saya tegaskan itu hanyalah salah satu opsi yang muncul dari beberapa dialog dengan masyarakat nelayan. Sampai saat ini belum ada keputusan final apapun berkaitan dengan isu tersebut. Sekali lagi, saya tidak ingin buru-buru ambil keputusan sebelum pertimbangan baik buruknya benar-benar matang” tegas Menteri Edhy.Namun ia meyakini, pemanfaatan benih lobster untuk kegiatan budidaya jelas harus didorong.“Jika Vietnam mampu membangun pembesarannya, Indonesia harus lebih mampu dan menguasai pasar lobster konsumsi dunia yang nilai ekonominya sangat besar. Kalau perlu sampai pada tahap budidaya. KKP akan bekerja sama dengan ACIAR dan Universitas Tasmania yang telah berhasil membenihkan dan membudidayakan lobster secara berkelanjutan dan tidak merusak plasma nutfah lobster alam,” lanjutnya.Menteri Edhy menjelaskan, pengembangan budidaya ini tidak hanya untuk memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga berperan sebagai buffer stock, yaitu melalui pengaturan kewajiban restocking pada fase tertentu.“Kami juga akan segera menyusun roadmap pengembangan industri lobster nasional dengan melibatkan seluruh stakeholders terkait. Kajian stok, pengaturan area tangkap lestari,  pemetaan ruang untuk budidaya, penyiapan teknologi, investasi, dan lain lain akan mulai kita susun strateginya,” cetusnya.Budidaya (akuakultur) jika dikelola dengan bijaksana dapat menghasilkan nilai tambah, mempekerjakan banyak orang, dan mensejahterakan masyarakat, serta menambah devisa negara. Selain itu, akuakultur juga berperan pada peningkatan pangan berprotein tinggi bagi masyarakat untuk mengentaskan persoalan kekurangan gizi stunting.Oleh karena itu, Menteri Edhy mengajak peneliti, perekayasa, dan akuakulturis untuk terus berinovasi untuk menciptakan keberhasilan pembenihan (breeding) lobster dan membuat indukan unggul, sehingga kedepan budidaya lobster tidak lagi mengandalkan induk matang telur dari alam namun menggunakan indukan lobster dari hasil breeding yang terprogram.Dengan pertemuan iklim usaha akuakultur yang kondusif bisa terwujud. Ia meyakini, strategi dan kerja sama yang baik antara pemerintah dan stakeholder dapat menunjang keberhasilan program ini.Dorong Peningkatan Perikanan BudidayaMenteri Edhy juga mengungkapkan, saat ini, KKP tengah mereview berbagai aturan yang dipandang kurang menguntungkan bagi stakeholder. Ini sejalan dengan keinginan Presiden agar aturan-aturan yang berkaitan dengan investasi perlu dipermudah. Tentunya ini harus dipertimbangkan dengan kajian dan masukkan dari seluruh stakeholder terkait.“Saya berkeliling ke sentra-sentra produksi akuakultur. Tentu tujuannya untuk mendengar masukan, keluhan, dan saran dari stakeholder sebagai bahan referensi kami dalam menyusun arah kebijakan sektor akuakultur nasional,” ucapnya.Menurutnya, KKP akan membangun sentra akuakultur berbasis kawasan dan komoditas unggulan, terutama untuk orientasi ekspor seperti udang, rumput laut, patin, dan komoditas akuakultur lainnya yakni melalui pengembangan integrated aquaculture business.Integrated aquaculture business menjadi strategi efektif yang akan didorong dalam upaya menjamin siklus bisnis perikanan budidaya yang efisien, bernilai tambah, dan memberikan multiflier effect bagi pergerakan ekonomi lokal di daerah-daerah yang berbasis sumber daya perikanan budidaya, misalnya pengembangan patin di Sumatera Selatan. Strategi ini harus berbasis kawasan dan komoditas unggulan di berbagai daerah potensial dengan pengelolaan sistem produksi yang integratif.“Saya melihat ada harapan dan optimisme dari seluruh stakeholder di sini. Ini menjadi semangat kami untuk memberikan yang terbaik bagi kemaslahatan para pelaku perikanan, khususnya para pembudidaya ikan,” ujarnya.Dalam kesempatan tersebut, Menteri Edhy mengajak para pemimpin daerah dan stakeholder untuk bekerja sama dalam menciptakan inovasi dan terobosan nyata sesuai keahlian di bidangnya sehingga mampu memberdayakan semua lapisan masyarakat di sekitar serta memberikan stimulus bagi industri akuakultur.Sebagai informasi, dalam kunjungan kerjanya kali ini, guna membentuk sinergi terbaik dari berbagai subsektor, Menteri Edhy memboyong pejabat eselon I terkait seperti Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto, Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Rina, Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) Sjarief Widjaja, Direktur Jenderal Perikanan Tangkap M. Zulficar Mochtar, serta Plt. Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Aryo Hanggono. Sementara dari pemerintah setempat hadir Gubernur NTB Zulkieflimansyah, Bupati Lombok Timur M. Sukiman Azmy, dan sederet Forkompinda lainnya.  Sumber: KKP News ...
Di Pulau Ini, Lobster Berhasil Dibudidayakan
Lobster

Di Pulau Ini, Lobster Berhasil Dibudidayakan

Salah satu pelaku usaha di bidang perikanan ternyata sudah berhasil melakukan budidaya lobster di Indonesia. Bahkan praktik ini berlangsung selama hampir 10 tahun terakhir.Ketua Himpunan Pembudidaya Ikan Laut Indonesia (Hipilindo) Effendi menyatakan telah berhasil membudidayakan lobster. Lokasinya ada di Pulau Mursala yang terletak di antara Kota Sibolga dan Pulau Nias.Effendi menyebut ini kali pertama dia membongkar lokasi budidaya lobster miliknya setelah ada wacana pemerintah akan melakukan budi daya terhadap komoditas bernilai tinggi ini. Sebelumnya, dia enggan membeberkan hal tersebut karena khawatir ditindak penegak hukum setelah ada larangan pengambilan benih dan budidaya lobster melalui Permen KP No.56/2016 tentang Larangan Penangkapan dan/atau Pengeluaran Lobster (Panulirus Spp.), Kepiting (Scylla Spp.), dan Rajungan (Portunus Spp.) dari Wilayah RI, yang dikeluarkan Susi.Baca juga: Aquatec, Pionir Budidaya Lobster di Indonesia"KJA [keramba jaring apung] saya di Sibolga, budi daya lobster. Saya buat antara Sibolga dan Nias. Ada pulau di tengah laut, Pulau Mursala, benar-benar tersembunyi," ungkapnya dalam sebuah FGD di Gedung Mina Bahari IV, Jakarta, Kamis (19/12/2019)Effendi mengungkapkan awal mula dia melakukan budidaya lobster karena cemburu terhadap Vietnam yang berhasil melakukannya pada 2008. Padahal, benih Vietnam berasal dari Indonesia. "Kita jauh lebih bisa dari Vietnam. Mereka lakukan, kami juga lakukan, tapi kita diganjal, malah dilarang. Ketahuan, malah ditangkap. Ini sangat sedih. Waktu itu kita tidak bisa apa-apa," tuturnya. Dia menyebut tak perlu teknologi canggih untuk budidaya lobster. Syaratnya hanya sanitasi, kedalaman KJA minimal 15 meter dan arus laut yang tepat. Hasil tangkapannya di sekitar perairan selatan Sumatra kini berkembang dan bisa dibesarkan.Baca juga: Pembesaran Benih Lobster Dorong Nilai Tambah Masyarakat PesisirSumber : Bisnis.comTentang MinapoliMinapoli merupakan marketplace++ akuakultur no. 1 di Indonesia dan juga sebagai platform jaringan informasi dan bisnis perikanan budidaya terintegrasi, sehingga pembudidaya dapat menemukan seluruh kebutuhan budidaya disini. Platform ini hadir untuk berkontribusi dan menjadi salah satu solusi dalam perkembangan industri perikanan budidaya. Bentuk dukungan Minapoli untuk industri akuakultur adalah dengan menghadirkan tiga fitur utama yang dapat digunakan oleh seluruh pelaku budidaya yaitu Pasarmina, Infomina, dan Eventmina.  ...