Sudah saatnya pembudidaya ikan meningkatkan pendapatannyadengan memasarkan hasil panenannya dalam bentuk beku.CEO Iwa-Ke, Agus Wibisono, mengatakan bahwa salah satupenyebab rendahnya harga ikan yang d...
Sudah saatnya pembudidaya ikan meningkatkan pendapatannyadengan memasarkan hasil panenannya dalam bentuk beku.
CEO Iwa-Ke, Agus Wibisono, mengatakan bahwa salah satupenyebab rendahnya harga ikan yang diterima oleh pembudidaya adalah akibatinefisiensi rantai pasok. Budaya membeli ikan hidup telah menyebabkan biayapengangkutan ikan jadi tinggi. Sementara biaya itu hilang di tengah jalan tanpadinikmati oleh para pelaku usaha dalam rantai pasok.
"Ikan gurame di petani Tulungagung (Jawa Timur) itusekitar Rp 25-31 ribu. Sampai sini sekitar Rp 40 ribu. Tapi Rp 10 ribunya yaongkos bensin. Tidak ada yg menikmati, tidak ada yang mengambil keuntungan.Hilang aja di jalan," jelas Agus.
Sehingga ia menyarankan agar penjualan hasil perikanan sudahmenuju pada produk beku. Dari riset yang dilakukan oleh Agus, responden tidakbisa membedakan rasa antara gurame beku dan hidup. Sementara keunggulannya,produk beku bisa mendorong ikan lebih bersih dan seragam. Pembudidya jugamemiliki posisi tawar untuk menjualnya.
CEO Minapoli, Rully Setya Purnama menambahkan bahwa upayapenjualan produk ikan beku perlu diiringi dengan kesiapan gudang pendingin.Terutama di daerah-daerah pasokan ikan yang sering mengalami fluktuasi hargayang tinggi. Karenanya ia menganjurkan pemerintah membuat semacam Bulog untukmenyerap ikan pembudidaya dengan harga yang wajar.
Kesejahteraan, bukanSekedar Pendapatan
Kesejahteraan sudah menjadi masalah pembudidaya dan nelayan ikan sejak lama.Kondisi ini akibat daya tawar mereka yang rendah saat menghadapi pembeli. Meskinelayan dan pembudidaya bisa menjual habis ikannya, tetapi harga yangdisepakati seringkali tidak sesuai dengan harapan dan ongkos produksi.
Penasihat Menteri Kelautan dan Perikanan bidangKesejahteraan, Agus Somamihardja, menyampaikan hal tersebut dalam acara diskusibersama para pelaku usaha rintisan (start up) di Jakarta (28/1). Agusmengatakan bahwa kenyataan di lapangan dengan data laporan dari pemerintah soalkesejahteraan pembudidaya dan nelayan sering tidak sesuai.
"Ini ada statistik dari BPS. Kalau hanya indikator yangdilihat rasio revenue dengan cost, usaha ini menguntungkan, selalu positif. Gakada isu dengan pendapatan. Kalau ditelusuri lebih jauh, seolah tidak adamasalah dengan pemasaran karena ada yang beli." katanya.
Padahal kenyataannya pembudidaya dan nelayan sering terpaksamenerima harga jual yang ditentukan oleh bandar. "Kesejahteraan bukansekedar sehari mendapatkan sekian. Kesejahteraan itu pendapatan yang bisadihubungkan dengan kita bisa hidup sehat, ada akses terhadap kesehatan danpendidikan," katanya.
Menurut Agus, posisi tawar pembudidaya dan nelayan yanglemah ini bisa diakselerasi oleh kehadiran berbagai usaha rintisan di bidangkelautan dan perikanan.
Artikel Asli: Trobos Aqua

Ditulis oleh
Minapoli
Penulis
-
