• Home
  • Infomina
  • Produk Beku Bisa Tingkatkan Posisi Air Tawar Pembudidaya Ikan

Produk Beku Bisa Tingkatkan Posisi Air Tawar Pembudidaya Ikan

| Mon, 03 Feb 2020 - 08:48

Sudah saatnya pembudidaya ikan meningkatkan pendapatannya dengan memasarkan hasil panenannya dalam bentuk beku.

CEO Iwa-Ke, Agus Wibisono, mengatakan bahwa salah satu penyebab rendahnya harga ikan yang diterima oleh pembudidaya adalah akibat inefisiensi rantai pasok. Budaya membeli ikan hidup telah menyebabkan biaya pengangkutan ikan jadi tinggi. Sementara biaya itu hilang di tengah jalan tanpa dinikmati oleh para pelaku usaha dalam rantai pasok.


"Ikan gurame di petani Tulungagung (Jawa Timur) itu sekitar Rp 25-31 ribu. Sampai sini sekitar Rp 40 ribu. Tapi Rp 10 ribunya ya ongkos bensin. Tidak ada yg menikmati, tidak ada yang mengambil keuntungan. Hilang aja di jalan," jelas Agus.

Sehingga ia menyarankan agar penjualan hasil perikanan sudah menuju pada produk beku. Dari riset yang dilakukan oleh Agus, responden tidak bisa membedakan rasa antara gurame beku dan hidup. Sementara keunggulannya, produk beku bisa mendorong ikan lebih bersih dan seragam. Pembudidya juga memiliki posisi tawar untuk menjualnya.

CEO Minapoli, Rully Setya Purnama menambahkan bahwa upaya penjualan produk ikan beku perlu diiringi dengan kesiapan gudang pendingin. Terutama di daerah-daerah pasokan ikan yang sering mengalami fluktuasi harga yang tinggi. Karenanya ia menganjurkan pemerintah membuat semacam Bulog untuk menyerap ikan pembudidaya dengan harga yang wajar.

Kesejahteraan, bukan Sekedar Pendapatan

Kesejahteraan sudah menjadi masalah pembudidaya dan nelayan ikan sejak lama. Kondisi ini akibat daya tawar mereka yang rendah saat menghadapi pembeli. Meski nelayan dan pembudidaya bisa menjual habis ikannya, tetapi harga yang disepakati seringkali tidak sesuai dengan harapan dan ongkos produksi.

Penasihat Menteri Kelautan dan Perikanan bidang Kesejahteraan, Agus Somamihardja, menyampaikan hal tersebut dalam acara diskusi bersama para pelaku usaha rintisan (start up) di Jakarta (28/1). Agus mengatakan bahwa kenyataan di lapangan dengan data laporan dari pemerintah soal kesejahteraan pembudidaya dan nelayan sering tidak sesuai.

"Ini ada statistik dari BPS. Kalau hanya indikator yang dilihat rasio revenue dengan cost, usaha ini menguntungkan, selalu positif. Gak ada isu dengan pendapatan. Kalau ditelusuri lebih jauh, seolah tidak ada masalah dengan pemasaran karena ada yang beli." katanya.

Padahal kenyataannya pembudidaya dan nelayan sering terpaksa menerima harga jual yang ditentukan oleh bandar. "Kesejahteraan bukan sekedar sehari mendapatkan sekian. Kesejahteraan itu pendapatan yang bisa dihubungkan dengan kita bisa hidup sehat, ada akses terhadap kesehatan dan pendidikan," katanya.

Menurut Agus, posisi tawar pembudidaya dan nelayan yang lemah ini bisa diakselerasi oleh kehadiran berbagai usaha rintisan di bidang kelautan dan perikanan.


Artikel Asli: Trobos Aqua 

Artikel lainnya