Pasar Ekspor Udang China: Peluang & Tantangan Membuka Market Baru
| Fri, 27 Feb 2026 - 23:52
Memasuki pasar ekspor udang China menjadi langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap pasar Amerika Serikat yang selama ini mendominasi tujuan ekspor.
China sendiri dikenal sebagai salah satu negara pengimpor udang terbesar di dunia. Oleh karena itu, produk udang Indonesia sangat berpotensi untuk menjajaki pasar ekspor udang China.
Namun tentu terdapat beberapa tantangan yang perlu diatasi secara komprehensif agar strategi penetrasi pasar dapat berjalan efektif.
Artikel ini membahas peluang sekaligus tantangan ekspor udang China dari berbagai sudut pandang sebagai referensi untuk membuka market baru produk udang Indonesia.
Peluang Pasar Ekspor Udang China
Diversifikasi pasar menjadi tindakan yang diperlukan untuk menjaga keberlanjutan budidaya udang di Indonesia. Salah satunya yang paling potensial adalah pasar ekspor udang China.
Market share ekspor udang Indonesia saat ini masih terkonsentrasi pada pasar Amerika Serikat yang menyerap hingga hampir 70% dari total ekspor udang.
Kondisi ini membuat Indonesia memiliki ketergantungan yang tinggi pada pasar ekspor udang Amerika Serikat. Terutama, di tengah volatilitas pasar yang terjadi akibat tarif resiprokal yang diterapkan Presiden Trump serta isu udang yang mengandung radioaktif Cesium-137.
Hal ini juga dinyatakan oleh Prof. Andi Tamsil selaku Ketua Umum Shrimp Club Indonesia (SCI) pada talkshow Bincang Komunitas bertajuk “Peluang dan Tantangan Udang Sulsel Tembus Pasar China” yang dapat disaksikan pada akun Youtube Tribun Timur (ditayangkan live pada 19 Juni 2025).
“Hampir 70% udang kita itu diekspor ke Amerika. Maka dari itu ketika ada (tarif) resiprokal muncul itu kita jadi shock juga,” jelas Andi.
Ia juga menjelaskan dalam acara tersebut bahwa China merupakan pasar yang sangat potensial untuk ekspor udang dari Indonesia. Hal tersebut dapat dilihat dari kebutuhan impor udang China yang mencapai 1 juta ton tiap tahunnya.
“China itu unik. Dia itu produksi udang terbesar di dunia, tapi juga jadi importir terbesar (di dunia). China itu butuh 3 juta ton udang tiap tahun, tapi produksi dia hanya 2 juta ton, 1 juta-nya lagi harus impor.”
Indonesia sendiri sebenarnya telah menjadi salah satu pihak yang berkontribusi dalam pasar ekspor udang China, namun angka tersebut masih belum mencapai 2%.
“Total ekspor udang dari Indonesia menurut data dari China itu hanya 10.800 ton, yang mana tidak sampai 2%,” tegasnya.
Maka dari itu, potensi Indonesia untuk memperbesar market share pada pasar ekspor udang China masih sangat besar.
Prof. Andi juga menjelaskan bahwa kondisi pasar ekspor udang China tersebut “dikuasai” oleh Ekuador. Porsi ekspor udang dari Negara Amerika Latin tersebut mencakup hingga 70% lebih dari kuota 1 juta ton tersebut.
“Dari total 1 juta ton (kebutuhan udang China) itu 70%-nya berasal dari Ekuador, dari India sekitar 15%.”
Angka tersebut juga berkorelasi dengan presentasi berjudul “Shrimp Marketing Beyond the U.S.” yang dipaparkan oleh Alfred Herman selaku Vice President dari PT Bumi Menara Internusa (BMI), salah satu perusahaan eksportir produk udang yang berbasis di Surabaya, pada event FARM 2025 lalu (25/9/2025).
Alfred menjelaskan bahwa market share udang Indonesia di China adalah 8,9 ribu ton atau sekitar 0,96%.
Paparan data dari Alfred juga menjelaskan bahwa Ekuador menduduki peringkat pertama dengan market share sebesar 711 ribu ton (76,11%), yang kemudian disusul oleh India sebesar 130 ribu ton (13,96%).
Dengan mengetahui data mengenai peluang serta kondisi pasar ekspor udang China tersebut, maka pelaku usaha pada sektor budidaya dan ekspor udang di Indonesia dapat memahami tantangan yang harus dihadapi ke depannya.
Tantangan Memasuki Pasar Ekspor Udang China
Sebagai pelaku utama yang berkecimpung pada sektor ekspor perikanan, Alfred pada paparannya menjelaskan mengenai salah satu tantangan mendasar untuk bersaing pada pasar ekspor udang China, yakni kualitas dari produk udang itu sendiri.
Alfred menekankan bahwa buyer udang dari China sangat selektif terhadap kualitas udang. Kualitas tersebut berpatokan pada warna dan kondisi fisik udang. Ia juga memaparkan contoh mengenai mutu udang yang bisa dan tidak bisa diterima oleh pasar udang China.
“Mereka tahu betul dan mampu mengidentifikasi kualitas udang yang akan mereka beli,” ujar Alfred.
Kondisi udang yang tidak bisa diterima oleh pasar udang China, antara lain:
Pipi kuning
Pipi hitam
Kepala pecah
White gill
Sedang proses molting
Soft shell
Scar shell
Dari segi warna, udang yang dapat masuk kategori premium adalah udang dengan kondisi fisik sempurna dan memenuhi color chart minimal tingkatan 23. Selain itu, udang dengan yang tidak memenuhi color chart minimal tingkatan 20 berisiko tinggi tidak diterima.
Pada penghujung presentasinya, Alfred menyampaikan anjuran untuk senantiasa menjaga mutu produk udang yang tidak hanya bisa diselesaikan oleh pihak pabrik pengolahan, melainkan melalui kombinasi hasil budidaya serta penanganan logistik yang memenuhi mutu.
Ketua Asosiasi Pengusaha Pengolahan Dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I) periode 2020-2025, Budhi WIbowo, juga menyampaikan beberapa tantangan dan strategi mengenai penetrasi pasar untuk produk olahan udang pada saat mengisi sesi pemaparan pada event Indo Fisheries Expo & Forum 2025 (3/7/2025).
Ketua AP5I menyatakan bahwa ia bersama rekan-rekan AP5I lainnya juga sedang berusaha untuk membuka peluang ekspor selain ke Amerika Serikat, termasuk pasar ke pasar ekspor udang China.
Ia menjelaskan bahwa tantangannya adalah harga pokok produksi (HPP) produk olahan udang dari Indonesia yang cukup tinggi, yang mempengaruhi daya saing produk ekspor.
Salah satu strategi yang akan dicoba yaitu mencari buyer yang berorientasi langsung ke pasar retail, salah satunya yakni pasar marketplace. Ia menjelaskan bahwa perkembangan permintaan produk udang yang cukup pesat pada marketplace lokal.
Selain itu, Ketua AP5I juga menyebutkan beberapa strategi lainnya untuk meningkatkan kualitas pada beberapa varian produk olahan seperti produk udang kupas (udang ukuran 100-200 per kg) dan produk udang cooked on (udang ukuran 40 per kg).
Selain itu, terdapat beberapa faktor lain yang diungkapkan oleh Prof. Andi pada penjelasannya, antara lain diplomasi perdagangan serta HPP.
Pada pertengahan tahun 2025 lalu, Prof. Andi bersama rekan-rekan lainnya berkunjung ke Guangzhou untuk menemui para importir udang, pemilik restoran, serta pemilik platform agri-commerce yang menjual produk udang.
Berdasarkan hasil dialog dengan pemangku sektor tersebut, diplomasi perdagangan menjadi strategi untuk memperbesar peluang memasuki pasar ekspor udang China.
“Menurut kesimpulan kami, yang kita butuhkan adalah diplomasi perdagangan,” tegasnya.
Ia juga menjelaskan faktor yang mempengaruhi daya saing udang Indonesia yaitu HPP. Andi membandingkan udang Indonesia dengan Ekuador yang memiliki HPP relatif lebih rendah.
“Kenapa Ekuador lebih mudah masuk ke China? Pertama itu karena memang di sana produksinya banyak. Kedua, harga udangnya lebih murah dibanding kita. HPP udang Indonesia termasuk tinggi.”
Oleh karena itu, sebagai langkah untuk meningkatkan daya saing udang Indonesia, Andi menjelaskan bahwa salah satu yang ia sorot adalah perizinan tambak udang.
Dengan perizinan yang lebih sederhana, maka HPP dapat lebih ditekan dan meningkatkan daya saing udang.
Sumber:
Bincang Komunitas: Peluang dan Tantangan Udang Sulsel Tembus Pasar China (Akun Youtube Tribun Timur)
Materi Presentasi Alfred Herman di FARM 2025
Materi Presentasi Budhi Wibowo (Ketua AP5I periode 2020-2025) di Fisheriespedia, Indo Fisheries Expo & Forum 2025



