5 Tips Budidaya Udang Tanpa Antibiotik
| Sat, 31 Jan 2026 - 22:47
Kesadaran akan cara budidaya udang tanpa antibiotik kini perlu menjadi perhatian khusus bagi para petambak udang.
Penggunaan antibiotik dalam budidaya udang tidak hanya berdampak buruk bagi kesehatan manusia melalui residu pada produk pangan, tetapi juga berisiko menutup peluang pasar ekspor karena regulasi internasional yang kian ketat.
Oleh sebab itu, petambak udang perlu memahami langkah-langkah budidaya udang yang bebas antibiotik untuk menjaga kualitas produk pangan yang dihasilkan serta menjaga iklim pasar ekspor global.
Artikel ini akan membahas 5 tips budidaya udang tanpa antibiotik yang detail dan aplikatif untuk di lapangan.
Dampak Penggunaan Antibiotik pada Budidaya Udang
Penggunaan antibiotik dalam budidaya udang berdampak langsung terhadap kesehatan manusia. Residu antibiotik yang tertinggal pada daging udang dapat menyebabkan dampak berikut:
Resistensi antimikroba secara berkelanjutan
Risiko kanker
Reaksi alergi
Gangguan fungsi organ tubuh dalam jangka panjang
Dengan berbagai risiko tersebut, kesadaran publik terhadap bahaya penggunaan antibiotik pada produk pangan juga semakin tinggi. Kondisi ini mendorong pemerintahan dari berbagai negara untuk memperketat regulasi impor, khususnya batas residu antibiotik pada produk udang.
Oleh karena itu, petambak udang harus menyadari dampak tersebut dan menerapkan tips budidaya udang tanpa antibiotik pada setiap aspek operasionalnya.
Risiko dari praktik budidaya udang yang masih mengandalkan antibiotik tidak hanya berpotensi merugikan petambak melalui penolakan hasil panen di pasar tujuan. Lebih jauh, potensi dampaknya yaitu:
Memperburuk stigma udang Indonesia di pasar global
Menurunkan tingkat kepercayaan importir
Serta membuka peluang bagi kompetitor untuk merebut pangsa pasar produk udang Indonesia
Komitmen SCI dalam Budidaya Udang Tanpa Antibiotik
Sebagai tanggapan atas tantangan tersebut, Shrimp Club Indonesia (SCI) sebagai organisasi yang menaungi para pelaku usaha budidaya udang dari berbagai wilayah di Indonesia bersama berbagai perwakilan lembaga dan organisasi lainnya di industri udang menegaskan komitmen budidaya udang tanpa antibiotik.
Komitmen ini disepakati dalam diskusi & deklarasi bertema “Industri Udang Berkelanjutan Tanpa Antibiotik” yang bertempat di Hotel Mercure Jakarta Cikini, pada Jumat 21 Maret 2025 lalu.
Deklarasi ini menegaskan pentingnya melakukan praktik budidaya udang tanpa antibiotik dengan pendekatan prosedur dan manajemen budidaya yang lebih berkelanjutan dan berbasis data.
Adapun acara ini ditutup dengan penandatanganan dokumen komitmen dari berbagai perwakilan lembaga pemerintahan dan organisasi dalam industri udang.
Tips Budidaya Udang Tanpa Antibiotik
Pada intinya, prinsip utama dalam penerapan tips budidaya udang tanpa antibiotik adalah “mencegah lebih baik daripada mengobati”.
Pencegahan penyakit melalui manajemen yang baik menjadi kunci untuk menjaga kesehatan udang tanpa bergantung pada antibiotik. Beberapa langkahnya dijelaskan di bawah ini.
Penggunaan Benur Bersertifikasi
Langkah pertama dalam tips budidaya udang tanpa antibiotik adalah penggunaan benur udang yang bersertifikasi dan berasal dari hatchery bereputasi.
Berbagai sertifikasi dan dokumen untuk benur yang perlu diketahui:
Keterangan genetik yang unggul sesuai dengan kondisi tambak
Specific Pathogen Free (SPF)
Specific Pathogen Resistant (SPR)
Keterangan hasil uji scoring benur
SPF merupakan status yang menunjukkan bahwa benur dinyatakan bebas dari infeksi penyakit tertentu berdasarkan hasil pengujian. Sementara itu, SPR menandakan bahwa benur memiliki tingkat ketahanan atau resistensi terhadap jenis penyakit tertentu.
Adapun uji scoring benur adalah rangkaian pengujian yang digunakan untuk menilai kondisi kesehatan benur, baik dari aspek fisiologis maupun biologis.
Selain itu, proses penebaran benur juga perlu dilakukan dengan benar agar tidak menyebabkan benur stres, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kerentanan terhadap penyakit.
Biosecurity dan Manajemen Kualitas Air
Tips budidaya udang tanpa antibiotik selanjutnya adalah melalui biosecurity. Biosecurity merupakan berbagai langkah atau prosedur yang berfungsi untuk mencegah penyebaran bibit penyakit pada tambak udang.
Pencegahan masuknya patogen ke dalam tambak melalui:
Pengendalian akses masuk tambak
Sterilisasi peralatan
Pencegahan dan pembasmian hama
Pengelolaan air masuk dan keluar
Desinfeksi wadah, air budidaya, dan air tandon
Selain itu, manajemen kualitas air juga menjadi salah satu langkah biosecurity untuk mencegah berkembangnya patogen pada air sebagai media hidup udang. Manajemen kualitas air dilakukan dengan:
Monitoring kualitas air rutin
Pengaturan ganti air
Sipon dasar tambak rutin
Deteksi Dini Penyakit
Langkah dalam monitoring kesehatan udang yang perlu ditekankan pada tips budidaya udang tanpa antibiotik adalah deteksi dini penyakit udang.
Deteksi dini memungkinkan petambak mengetahui status penyebaran patogen di tambak agar dapat memberikan perlakuan secepat mungkin, bahkan sebelum muncul gejala penyakit.
Deteksi dini penyakit udang dilakukan dengan penerapan:
Pemantauan perilaku udang
Cek gejala penyakit udang saat setiap sampling dengan anco
Pengecekan patogen pada sampel udang, air, dan lumpur dasar secara berkala
Penggunaan Probiotik dan Imunostimulan
Pemberian perlakuan seperti probiotik dan feed additive sebagai imunostimulan merupakan strategi penting dalam salah satu tips budidaya udang tanpa antibiotik.
Probiotik sebagai mikroorganisme yang bermanfaat dapat meningkatkan pertumbuhan, sintasan, dan imunitas udang melalui berbagai mekanisme seperti peningkatan fungsi pencernaan dan keseimbangan mikroba usus.
Beberapa jenis mikroorganisme probiotik tersebut yaitu:
Bacillus subtilis
Bacillus licheniformis
Lactobacillus plantarum
Lactobacillus rhamnosus
Selain probiotik, penggunaan feed additive berperan sebagai imunostimulan yang mengandung umumnya mengandung senyawa fungsional seperti vitamin, mineral, asam organik, prebiotik, nukleotida, atau ekstrak bahan alami lainnya dapat mendukung sistem pertahanan udang yang bersifat imunitas nonspesifik.
Penggunaan Pakan Fungsional
Penggunaan pakan fungsional kini semakin banyak diterapkan oleh pembudidaya udang. Pakan fungsional adalah adalah pakan yang tidak hanya berperan sebagai sumber nutrisi dasar untuk pertumbuhan, tetapi juga diperkaya dengan bahan aktif tertentu yang memberikan manfaat fisiologis tambahan bagi udang.
Berbagai formulasi pakan fungsional umumnya mengandung salah satu atau campuran bahan berikut:
Probiotik
Prebiotik
Enzim
Betaglukan
Nukleotida
Asam lemak esensial
Studi juga menunjukkan bahwa kombinasi sistem budidaya seperti biofloc dengan suplementasi sinbiotik (kombinasi probiotik dan prebiotik) dapat meningkatkan ketahanan terhadap patogen seperti Vibrio yang sering menjadi ancaman pada budidaya udang.
Berdasarkan hasil penelitian oleh Olmos et al. (2011), penggunaan pakan fungsional pada budidaya udang terbukti memberikan dampak nyata terhadap performa produksi dan kesehatan udang. Udang yang diberi pakan fungsional menunjukkan peningkatan laju pertumbuhan, FCR yang lebih efisien, serta tingkat kelangsungan hidup yang lebih tinggi dibandingkan dengan udang yang hanya diberi pakan konvensional.
Dengan penerapan berbagai tips budidaya udang tanpa antibiotik tersebut, kualitas produk udang yang dihasilkan dapat semakin terjaga, baik dari sisi keamanan pangan maupun keberlanjutan lingkungan. Dengan begitu, dapat memperkuat kepercayaan pasar terhadap produk perikanan nasional dan membuka peluang yang lebih luas bagi pasar ekspor udang Indonesia.
Sumber:
Use of Probiotics and Prebiotics in Aquaculture : Mechanisms, Benefits, and Future Scope – A Review
Functional Feed Assessment on Litopenaeus vannamei Using 100% Fish Meal Replacement by Soybean Meal, High Levels of Complex Carbohydrates and Bacillus Probiotic Strains



