Minapoli
KKP dan FAO Luncurkan UPI Pindang Higenis di Lombok Utara
Mas

KKP dan FAO Luncurkan UPI Pindang Higenis di Lombok Utara

Tim Minapoli

Tim Minapoli

Kontributor

26 Desember 2025
3 menit baca

KKPNews, Lombok Utara – Kementerian Kelautan dan Perikanan\r\n(KKP) bekerja sama dengan Food and Agriculture Organization (FAO) resmi\r\nmeluncurkan Unit Pengolahan Ikan (UPI) pindang higienis di Dusu...

KKPNews, Lombok Utara – Kementerian Kelautan dan Perikanan\r\n(KKP) bekerja sama dengan Food and Agriculture Organization (FAO) resmi\r\nmeluncurkan Unit Pengolahan Ikan (UPI) pindang higienis di Dusun Lekok, Desa\r\nGondang, Kabupaten Lombok Utara, Kamis (27/6). Upaya ini dilakukan sebagai\r\nwujud perbaikan rantai nilai pangan pada pengolahan dan peningkatan\r\nproduktivitas serta pendapatan dengan integrasi ke akses pasar yang baru.

Perwakilan FAO Indonesia, Stephen Rugard menyebutkan,\r\npembangunan pengolahan ikan pindang higienis ini memang bukanlah proyek besar,\r\ntapi mempunyai efek yang besar karena selain dapat meningkatkan taraf ekonomi\r\njuga meningkatkan gizi masyarakat. “Kami berterima kasih kepada KKP maupun\r\npemerintah daerah yang mampu merealisasikan proyek ini,” katanya.

Pengolahan pindang ini, memang merupakan usaha yang sudah\r\nberjalan lebih dari ratusan tahun lalu. Menurut Stephen, dalam hal ini, FAO\r\nhanya memperbaiki manajemen bisnis, sanitasi, dan lainnya untuk meningkatkan\r\nnilai dan gizi ikan pindang ini. “Makanya saya akan perkenalkan ikan pindang ke\r\nkeluarga saya bahkan ke dunia,” tambahnya.

Oleh karenanya, pihaknya berterima kasih kepada pemerintah\r\nIndonesia dalam hal ini KKP. Ia bahkan menyebut akan menambah program bantuan\r\nyang sama. “Jika diperbesar ikan pindang bisa mendunia,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Direktur Pengolahan dan Bina Mutu,\r\nDirektorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan\r\n(PDSPKP), Innes Rachmania mengatakan, proyek ini merupakan perbaikan dari\r\nrantai nilai pangan dan produktivitas ikan pindang dengan integrasi pasar baru\r\nyang dimulai sejak September 2016. Proyek ini merupakan kolaborasi antara KKP\r\ndan FAO, yaitu “Development of Effective and Inclusive Food Value Chains in\r\nASEAN Member States” yang didanai oleh Jepang.

“Proyek ini merupakan wujud peningkatan ketahanan pangan dan\r\nnilai ekonomi terutama untuk usaha kecil dengan fokus produk olahan pindang\r\nkarena mampu meningkatkan peluang akses pasar baru,” paparnya.

Adapun produk yang dihasilkan dari unit pengolahan yang ada\r\nsaat ini adalah pindang presto dan pindang higienis. Namun ke depan tidak\r\nmenutup kemungkinan untuk pembuatan produk seperti abon atau yang lainnya.\r\n“Dengan pengolahan ikan pindang higienis ini maka hasil produk olahannya bisa\r\nlebih bersih, bergizi, dan mempunyai nilai tambah,” tuturnya.

Lebih lanjut Innes menjelaskan, UPI higienis ini dibangun\r\ndalam luasan wilayah 65 m2 dengan kapasitas produksi sekitar 500 kg/hari.\r\nPembangunannya menelan biaya senilai Rp332.752.990. Selain itu juga diberikan\r\nbantuan peralatan pengolahan seperti boiling table, cooker hood, washing\r\ntable, working table, wash basin, storage rack, grease trap, chest\r\nfreezer, low temperature freezer, gas stand burner, vacuum\r\npacking machine, dan timbangan digital. Peralatan yang dihibahkan ini bernilai\r\nRp84.459.250.

UPI ini juga dilengkapi dengan IPAL berukuran 7,5 m2 yang\r\nterdiri dari 4 (empat) chamberpenampungan dengan sekitar 50 orang pengolah\r\nyang telah dilatih ilmu sanitasi, pengelolaan limbah, dan kewirausahaan.

Seperti diketahui, ikan pindang merupakan produk olahan\r\nhasil perikanan yang popular di Indonesia setelah ikan asin. Selain memiliki\r\ncita rasa yang lezat, pindang tidak terlalu asin dan dapat diolah dari semua\r\njenis ikan. Umumnya dilakukan oleh industri skala mikro dan kecil.

Berdasarkan SNI 2016, pengolahan pindang ikan terbagi 2,\r\nyaitu pindang garam dan pindang air garam.

Sementara itu, untuk sebaran industri pengolahan pindang\r\nskala mikro dan kecil terpusat di Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Barat\r\n(NTB). Lokasi UPI terbanyak yaitu Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, NTB,\r\nBali, Jakarta, dan Banten yang jumlahnya mencapai 96,20 persen atau 11.175 UPI\r\ndari total 11.616 UPI mikro kecil.

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Di tempat terpisah, Plt. Direktur Jenderal PDSPKP, Nilanto\r\nPerbowo menuturkan, program FAO ini merupakan stimulan bagi UPI pindang dalam\r\nmemperbaiki nilai tambah produk pindang yang terjamin mutu dan keamanan\r\nproduknya. “Pembangunan UPI Pindang Higienis dan pelatihan penguatan kapasitas\r\nUKM seperti pelatihan pengelolaan limbah, pengembangan produk, dan\r\nkewirausahaan selama program FAO berlangsung, bisa menjadi contoh dan\r\nditerapkan secara mandiri oleh pemerintah daerah pada UPI skala mikro kecil di\r\ndaerahnya,” tandasnya.


Sumber : KKP News

Tim Minapoli

Ditulis oleh

Tim Minapoli

Kontributor

Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.

Bagikan artikel ini:

Chat dengan Kami

Pilih departemen yang Anda butuhkan