Tangerang (18/6) - Info Akuakultur sukses menggelar seminar bertajuk “Bedah Zona Nyaman Udang: Strategi Kunci Panen Sukses Berkali-kali” pada 18 Juni 2026 di Nusantara International Nusantara Internat...
Tangerang (18/6) - Info Akuakultur sukses menggelar seminar bertajuk “Bedah Zona Nyaman Udang: Strategi Kunci Panen Sukses Berkali-kali” pada 18 Juni 2026 di Nusantara International Nusantara International Convention Exhibition (NICE), Pantai Indah Kapuk 2, Kab. Tangerang.
Seminar ini merupakan salah satu rangkaian dari event Indo Fisheries Expo & Forum 2026 yang bertujuan menjadi wadah diskusi mengenai tips budidaya udang yang dapat menghasilkan profit berkelanjutan.
Terdapat dua tokoh perikanan yang hadir sebagai narasumber yakni Dany Yukasano selaku Aquaculture Director Terraqua Alam Nusantara serta Coco Kokarkin selaku Sekretaris Jenderal Forum Udang Indonesia.
Seminar ini turut dihadiri oleh 56 peserta dari berbagai kalangan dari pembudidaya, perusahaan pakan, hingga akademisi.

Pentingnya Budidaya Udang Berbasis Data
Dany mengawali dengan memaparkan realita masalah yang dihadapi pembudidaya udang seperti tingginya mortalitas saat budidaya, pertumbuhan lambat, panen saat DOC muda, dan berujung pada kesulitan budidaya udang yang secara normal pada siklus selanjutnya.

Salah satu kunci budidaya udang yang Dany tegaskan agar dapat panen berkali-kali adalah budidaya dengan berbasis data.
“Budidaya udang itu berusaha untuk beralih dari experience-based ke data-based. Data itu pasti selalu ada manfaatnya. Harapannya tentu agar dapat memprediksi, tapi paling minimal bisa jadi bahan untuk trace back penyebab kenapa budidaya belum berhasil.”
Dimulai dari tahap persiapan, Dany menjelaskan bahwa step ini perlu dipersiapkan sebaik mungkin. Mulai dari kualitas air tambak yang diupayakan sesuai untuk penebaran benur, hingga kualitas benur yang harus diperhatikan.
Beberapa kriteria benur non-negotiable menurut Dany yaitu:
Hasil uji PCR negatif untuk penyakit WSSV, IMNV, AHPND, dan EHP
Hasil uji chrome agar negatif untuk Vibrio parahaemolyticus
Hasil plate culture negatif untuk luminsecent bacteria
Hepatopankreas udang yang bersih dari spora EHP, tidak ada nekrosis, dan lipid droplet >90%
“Tahap persiapan tambak harus sebaik mungkin, karena masih belum ada benur, jadi kita bisa maksimal melakukan perlakuan,” tambahnya.
Dany juga menjelaskan pentingnya aspek biosekuriti tambak yang perlu secara konsisten dijaga mulai dari filter pada pipa pasok air untuk mencegah hama vektor penyakit dan kolam desinfeksi aksesoris personil tambak untuk meminimalisir penyebaran penyakit.
Selanjutnya, Dany berfokus pada data yang menunjukkan pemakaian probiotik berbasis bakteri Bacillus sp. sejak awal budidaya yang efektif menekan Vibrio.

Sumber: Presentasi Dany Yukasano
Grafik menunjukkan aplikasi probiotik sejak tebar lebih cepat menurunkan Total Vibrio Count (TVC) dibandingkan dengan aplikasi yang baru mulai pada DOC 22.
Angka TVC juga perlu terus dimonitor tetap berada di bawah 5% dari Total Bacteria Count (TBC) untuk mencegah munculnya penyakit AHPND. “Kalau TVC berada di atas 5%, maka biasanya akan terjadi ketidakseimbangan,” ujar Dany.
Dany juga memperinci pengamatan pada jenis Vibrio yang terdapat di tambak, terutama jenis Green Vibrio yang harus di bawah 30% dari TVC.
“Jika jumlah Green Vibrio berada di atas Yellow Vibrio, maka tinggal menunggu waktu hingga AHPND terjadi,” tegasnya.
Pahami Stresor dalam Budidaya dan Cara Mengaturnya
Sementara itu, Coco Kokarkin memberikan pemaparan yang lebih menitikberatkan pada aspek yang dapat membuat udang mudah stres dan terserang penyakit selama budidaya.

Coco menjelaskan bahwa pada dasarnya udang memiliki sistem kekebalan bawaan untuk melindungi dari serangan penyakit. Namun, kemampuan tersebut akan menurun seiring udang mengalami stres.
“Kita harus tahu penyebab kenapa udang bisa stres, karena semua udang sakit itu dimulai dari stres.”
Beberapa stresor yang ia sorot dalam presentasinya adalah buangan nitrogen serta hidrogen sulfida (H2S) yang berada di dalam air. Salah satunya dari pakan yang terbuang.
“Pakan yang menumpuk di dasar tambak itu dalam 3 jam saja sudah menjadi hitam. Nah, kalau sudah hitam itulah yang ditakutkan. Pertanyaannya sekarang adalah kenapa pakan yang sudah menghitam dalam 3 jam, baru dibuang setelah 24 jam?,” ujar Coco menekankan.
Kemudian, Coco juga turut menyoroti H2S yang menjadi “silent killer” dalam budidaya udang. H2S sendiri ia klaim memiliki toksisitas hingga 100 kali lipat dibanding amonia.
“Hidrogen sulfida ini bisa mengurangi udang dalam mengambil oksigen. Jadi, walaupun oksigennya banyak, udang tidak bisa bernapas karena terekspos hidrogen sulfida meski cuma sedikit. Ini bisa membuat udang itu tubuhnya utuh, tapi udangnya mati.”
Terakhir, ia menyampaikan bahwa struktur penampang tambak dan sirkulasi airnya menjadi kunci untuk mencegah udang stres dengan mengonsentrasikan sludge limbah sisa budidaya.

Sumber: Presentasi Coco Kokarkin
“Kalau petak tambaknya luas, buat bawahnya menjadi miring, sehingga efektif untuk mengendapkan kotoran,” jelasnya.
Coco juga menyertai contoh kolam budidaya udang dengan bentuk bulat yang juga umum ditemukan.

“Kalau tambak bulat ini juga efektif mengendapkan sludge di tengah dengan struktur aerasi yang berputar. Perlu diketahui, dengan sistem seperti ini kotoran itu biasa 2-3 kali putaran baru sampai di tengah.”

Berbeda dengan tambak udang berbentuk persegi dengan 8 siku yang bisa mengendapkan kotoran di tengah dengan hanya setengah putaran di tiap sudutnya.
.webp)
Ditulis oleh
Info Akuakultur
Majalah Akuakultur
Majalah Info Akuakultur adalah media cetak dan online bulanan Indonesia sejak 2015 yang berfokus pada informasi budidaya perikanan.
