Dalam beberapa tahun terakhir, petambak udang mulai mendengar kabar mengenai ancaman penyakit baru yang cukup mengkhawatirkan, yaitu penyakit CMNV. Penyakit CMNV atau juga dikenal sebagai Covert ...
Dalam beberapa tahun terakhir, petambak udang mulai mendengar kabar mengenai ancaman penyakit baru yang cukup mengkhawatirkan, yaitu penyakit CMNV.
Penyakit CMNV atau juga dikenal sebagai Covert Mortality Disease (CMD) adalah penyakit yang dianggap seperti “silent killer”. Tidak terjadi kematian massal tiba-tiba, tapi performa pertumbuhan menurun dan mortalitas terjadi secara bertahap setiap hari.
Artikel ini akan membahas lebih dalam mengenai gejala, pencegahan, dan pengendalian penyakit tersebut yang perlu diketahui petambak dan dapat diterapkan di lapangan.
“Silent Killer” dalam Budidaya Udang
Penyakit CMNV atau Covert Mortality Disease adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Covert Mortality Nodavirus. Penyakit ini utamanya menyerang sistem saraf dan mata, pengatur hormon, hepatopankreas, dan usus.
Dampak dari tersebut adalah ukuran udang yang menjadi tidak seragam (belantik), angka FCR yang tinggi, serta kematian udang yang terjadi perlahan, tetapi konstan tiap hari.

Gambar: GDM Organik
Tantangan utama dari mengatasi penyakit ini adalah minimnya pertanda klinis yang ditunjukkan, sehingga membuat petambak berisiko tidak menyadari bahwa udang telah terinfeksi hingga kerugian terjadi.
Lulu Nisrina selaku Scientist CeKolam dari Nusantics, perusahaan yang bergerak di diagnostik penyakit udang, menjelaskan penyakit ini dalam Silaturahmi CeKolam Januari 2026 lalu.
“Ketika 1-3 minggu setelah CMNV menginfeksi udang, memang belum ada tanda (gejala) visual,” jelas Lulu.
Sidrotun Naim selaku Shrimp Health Specialist CeKolam juga menyatakan bahwa CMNV disebut silent killer karena CMNV tidak menimbulkan kematian akut, tapi mengganggu molting dan pertumbuhan
“CMNV kenapa disebut ‘silent killer’ karena tidak kelihatan. CMNV tidak langsung menimbulkan kematian akut tapi mengganggu molting dan pertumbuhan.”
Oleh karena itu, petambak wajib memahami gejala-gejala penyakit CMNV pada udang agar dapat segera melakukan tindakan pengendalian.
Baca: Ringkasan Lengkap Silaturahmi CeKolam Januari 2026
Gejala Penyakit CMNV pada Udang
Lulu Nisrina juga menyatakan bahwa Gejala penyakit ini baru akan muncul pada 3-5 minggu setelah udang terinfeksi.

Gambar: Yao et al. 2022
Beberapa gejalanya antara lain:
Pertumbuhan udang lambat
Ukuran udang tidak seragam (blantik)
Usus terlihat kosong
Hepatopankreas kecil dan pucat
Warna otot tubuh pucat
Munculnya udang soft shell
Udang yang mati akibat penyakit ini umumnya tidak mengapung di permukaan dan terakumulasi di dasar tambak karena udang kesulitan untuk berenang ke atas.
Kesamaan Gejala dengan Penyakit Lain
Jika dilihat sekilas, gejala penyakit CMNV memiliki beberapa kesamaan dengan gejala EHP (Enterocytozoon hepatopenaei) dan IMNV (Infectious Myonecrosis Virus), sehingga sulit dibedakan jika diidentifikasi hanya dari visual.
Pada pertengahan tahun 2026 ini, petambak udang juga mulai marak membicarakan satu jenis penyakit, yaitu White Muscle Disease (WMD). Penyakit WMD ditandai dengan gejala sesuai dengan namanya, yaitu kram pada otot tubuh udang yang perlahan berubah berwarna putih.
Penyakit WMD dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Dany Yukasano, Aquaculture Director dari Teraqua yang menjadi narasumber dalam Silaturahmi CeKolam Mei 2026, menjelaskan bahwa WMD dapat menjadi gejala dari infeksi CMNV atau IMNV.
Oleh karena itu, identifikasi lebih lanjut perlu diverifikasi dengan pemeriksaan di laboratorium untuk memastikan jenis penyakit yang menginfeksi dan menentukan tindakan mitigasi selanjutnya secara akurat.
Artikel Terkait: Ini Laboratorium Penyakit Udang Berkualitas di Indonesia!
Pengendalian Penyakit CMNV
Hingga saat ini, belum ada metode yang benar-benar efektif untuk mengatasi penyakit ini secara total di tambak.
Strategi pengendalian CMNV umumnya berfokus penerapan standar budidaya udang yang baik sehingga dapat mengurangi penyebaran penyakit di tambak.
Biosekuriti:
Sterilisasi alat yang digunakan untuk mengurangi penyebaran penyakit ke petak tambak lain
Pasang jaring atau pencegah hama lain agar tidak ada carrier yang masuk ke tambak
Manajemen Stres Udang:
Cegah udang stres dengan menjaga kualitas air tetap stabil
Kurangi kepadatan populasi dalam satu tambak
Hindari overfeeding dengan evaluasi pemberian pakan
Manajemen Bahan Organik:
Lakukan sipon rutin untuk membuang lumpur dasar tambak yang menjadi akumulasi bahan organik
Peningkatan Imunitas & Nutrisi Udang:
Berikan imunostimulan pada pakan untuk memperkuat pertahanan tubuh udang
Berikan feed additive untuk meningkatkan kecernaan pakan sehingga nutrisi lebih mudah terserap
Langkah-langkah ini merupakan praktik terbaik yang dapat diterapkan di lapangan saat ini. Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada kondisi spesifik tambak dan konsistensi penerapan.
Pada akhirnya, pendekatan terbaik dalam menghadapi penyakit CMNV pada udang adalah dengan mencegah penyakit tersebut untuk menginfeksi dan menyebar di tambak sebelum kerugian terjadi.
Pencegahan Penyakit CMNV
Salah satu strategi pencegahan penyakit CMNV yang paling efektif adalah dengan deteksi dini atau cek penyakit secara berkala.
Terdapat tiga momen penting dalam melakukan cek penyakit:
1. Cek pada Benur
Penelitian dari Xia et al. (2022) menjelaskan bahwa virus CMNV telah terdeteksi pada sel gonad betina udang galah. Hal ini mengindikasikan penyebaran penyakit secara vertikal dari induk ke benur. Oleh karena itu, benur yang digunakan harus dipastikan bebas dari CMNV sejak dari hatchery.
2. Cek saat Terjadi Tekanan Lingkungan
Kondisi seperti hujan deras, perubahan suhu, atau fluktuasi kualitas air dapat memicu stres dan meningkatkan kerentanan terhadap penyakit CMNV. Cek penyakit pada udang setelah melewati kejadian tersebut.
3. Cek saat Muncul Gejala
Ketika gejala penyakit yang telah disebutkan di atas terlihat, seperti otot memucat dan ukuran mulai tidak seragam, maka cek udang segera untuk memastikan penyebabnya.
Ambil Tindakan Sebelum Kerugian Terjadi
Penyakit seperti CMNV dapat berkembang tanpa tanda yang jelas pada fase awal, sehingga sering kali baru terdeteksi ketika dampaknya sudah memengaruhi performa budidaya. Oleh karena itu, pemantauan kesehatan udang secara berkala menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko kerugian.

Melalui layanan pengujian berbasis PCR, CeKolam membantu petambak memperoleh informasi yang lebih cepat dan akurat mengenai kondisi kesehatan udang di tambak. Hasil pengujian disajikan dalam format yang mudah dipahami dan dapat diterima secara praktis melalui WhatsApp, sehingga memudahkan petambak dalam mengambil keputusan yang tepat di waktu yang tepat.
Didukung oleh fasilitas pengujian berstandar internasional dan tim yang responsif, CeKolam membantu petambak mengidentifikasi potensi masalah sejak dini, sehingga tindakan mitigasi dapat dilakukan lebih cepat untuk menjaga produktivitas dan profitabilitas budidaya.
Gambar:
Yao et al. 2022. Cases report of covert mortality nodavirus infection in indoor farming Penaeus vannamei.

Ditulis oleh
CeKolam
Layanan Cek Penyakit Udang
Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.
