Bagi petambak, penyakit AHPND masih menjadi salah satu ancaman yang paling diantisipasi. Tingkat kematian tinggi membuat penyakit ini layak diwaspadai oleh para petambak udang vaname sejak awal siklus...
Bagi petambak, penyakit AHPND masih menjadi salah satu ancaman yang paling diantisipasi. Tingkat kematian tinggi membuat penyakit ini layak diwaspadai oleh para petambak udang vaname sejak awal siklus.
Maka dari itu, petambak perlu memahami bagaimana penyakit ini bekerja, sejauh mana dampaknya, hingga strategi pengendalian dan pencegahannya yang efektif di lapangan.
Artikel ini akan membahas berbagai informasi penting mengenai penyakit AHPND yang mudah dipahami, mulai dari penyebab, gejala, ciri tambak yang berisiko, hingga langkah pencegahan dan pengendaliannya.
Apa itu AHPND?
Petambak sepantasnya wajar merasa khawatir terhadap AHPND. Namun, yang lebih penting adalah meningkatkan kewaspadaan dan kemampuan deteksi dini agar kerugian dapat ditekan sedini mungkin.

Sumber: Nusantic
AHPND (Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease) dikenal juga sebagai penyakit EMS atau Early Mortality Syndrome. Menurut data The Fish Site, Penyakit ini pertama kali dilaporkan di Cina pada kisaran tahun 2009-2010 yang kemudian menyebar ke berbagai negara Asia Tenggara seperti Vietnam, Malaysia, Thailand, hingga Indonesia.
Penyebab AHPND adalah bakteri Vibrio parahaemolyticus yang membawa gen penghasil toksin Pir A dan Pir B. Dalam beberapa penelitian, jenis Vibrio lain seperti Vibrio harveyi juga ditemukan dapat menyebabkan infeksi serupa.
Baca: Deteksi Dini Penyakit Udang di Tambak dengan PCR, Akurat!
Toksin inilah yang membuat kerusakan pada sel epitel tubulus di hepatopankreas udang, sehingga fungsi pencernaan dan penyerapan nutrisi terganggu. Akumulasi dan penyebaran dari infeksi ini kemudian menyebabkan kematian massal pada budidaya udang.
Dalam kondisi parah, kematian udang dapat mencapai 100% pada 20–30 hari setelah tebar, bahkan beberapa kasus mulai menunjukkan kematian sejak 10 hari pertama budidaya.
Selain itu, infeksi AHPND pada udang juga sering berkaitan dengan penyakit lain. Kerusakan hepatopankreas akibat AHPND dapat membuat udang lebih rentan terhadap infeksi sekunder seperti vibriosis dan EHP.
Data dari The Fish Site menjabarkan kerugian dari sektor industri dan budidaya udang di seluruh dunia akibat infeksi penyakit AHPND
Thailand: Produksi udang turun sekitar 54% pada 2009–2014 dan kerugian ekonomi diperkirakan mencapai USD 11,58 miliar
Vietnam: kisaran kerugian sekitar USD 2,56 miliar sejak AHPND pertama terdeteksi pada 2011
China: berdampak besar pada produksi udang di wilayah selatan.
Sebagai salah satu negara produsen udang, Indonesia juga tidak luput dari jangkauan persebaran penyakit ini. Data dari CeKolam menunjukkan bahwa lebih dari 400 kasus penyakit AHPND telah menyerang tambak udang di berbagai wilayah Indonesia selama tahun 2025.
Gejala Penyakit AHPND
Mengetahui ciri AHPND menjadi langkah antisipasi yang penting untuk diketahui petambak udang. Beberapa gejala AHPND yang bisa diamati:
Usus terlihat kosong
Hepatopankreas pucat dan mengecil
Cangkang melunak
Nafsu makan menurun

Sumber: The First Record of Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease in the Philippines (2015)
Keterangan gambar:
(a) Penampakan usus normal; (b) Penampakan usus kosong; (c) Penampakan udang sehat; (d) Penampakan udang bergejala penyakit AHPND
Penampakan usus kosong menjadi ciri yang paling umum diamati di lapangan. Udang memiliki sifat continuous feeder yang berarti melakukan aktivitas makan secara terus menerus, oleh karena itu usus yang kosong bisa jadi indikasi kuat infeksi AHPND.
Selain itu, petambak juga perlu mengenali kondisi tambak yang erat kaitannya dengan munculnya penyakit AHPND, sehingga dapat menghindari kondisi tersebut:
Kandungan bahan organik tinggi serta lumpur dasar yang menumpuk
Padat tebar terlalu intensif
Kandungan oksigen (DO) rendah
Populasi plankton yang tidak seimbang
Cara Pengendalian AHPND
Berikut ini adalah beberapa langkah pengendalian penyakit AHPND untuk mengurangi atau menekan penyebarannya di tambak

Sumber: Pradipta Paramita
Biosekuriti Tambak
Desinfeksi udang mati lalu dikubur
Ambil udang di permukaan secepatnya
Desinfeksi alat tambak dan aksesoris pekerja
Manajemen Kualitas Air
Sipon secara rutin
Gunakan atau tambahkan kincir untuk meningkatkan DO
Pantau kualitas air secara rutin
Monitor Total Vibrio Count (TVC)
Gunakan probiotik untuk mengurangi kadar bahan organik
Manajemen Pakan
Hindari overfeeding dengan evaluasi pemberian pakan
Tambahkan imunostimulan pada pakan
Cara pengendalian dilakukan ketika AHPND sudah masuk ke tambak dan sudah mulai menyebabkan kerugian. Oleh karena itu, langkah yang paling tepat tetaplah melakukan pencegahan AHPND sejak awal budidaya.
Baca: Solusi Deteksi Dini Patogen demi Keberhasilan Panen
Cek Penyakit, Pencegahan AHPND yang Efektif
Salah satu metode pencegahan AHPND yang paling efektif adalah melakukan cek penyakit secara rutin. Semakin cepat penyakit teridentifikasi di tambak, semakin cepat pula tindakan mitigasi untuk dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya kerugian bahkan sebelum gejala muncul.
Salah satu metode untuk mendeteksi AHPND secara akurat yaitu dengan teknologi Polymerase Chain Reaction atau PCR.
Berikut merupakan timeline cek penyakit AHPND dengan PCR sejak awal budidaya:
1. Saat Benur Masih di Hatchery
Benur yang dipakai harus dipastikan bebas dari AHPND agar tidak membawa bibit penyakit ke kolam pembesaran. Lakukan uji PCR pada batch benur yang akan digunakan saat masih di hatchery. Benur juga harus dipastikan memiliki sertifikat SPF.
Artikel lain: Ciri Benur yang Sehat dan Layak Tebar
2. Saat Terjadi Perubahan Lingkungan Ekstrem
Perubahan suhu, hujan deras, penurunan kualitas air, atau fluktuasi salinitas dapat meningkatkan stres pada udang dan memicu perkembangan bakteri penyebab AHPND. Ketika terjadi, lakukan uji PCR untuk memastikan penyebarannya.
3. Saat Muncul Gejala
Saat petambak telah mendapati gejala di atas pada budidaya udang, maka sebaiknya segera lakukan cek penyakit AHPND untuk memastikan penyebabnya dan dapat melakukan mitigasi yang tepat sasaran.
Cegah Kerugian Akibat AHPND Sebelum Gejala Muncul bersama CeKolam
Deteksi dini menjadi langkah paling efektif untuk mencegah kerugian akibat penyakit AHPND di tambak udang.

CeKolam hadir sebagai laboratorium penyakit udang terpercaya yang membantu petambak melakukan deteksi penyakit udang secara cepat dan akurat melalui teknologi PCR. Metode ini memungkinkan identifikasi penyakit sejak fase awal infeksi, bahkan sebelum virus atau patogen menimbulkan gejala yang terlihat di tambak.
Dengan laboratorium yang berlokasi di Banyuwangi dan Jakarta, CeKolam telah memenuhi standar mutu internasional melalui sertifikasi ISO 9001 dan ISO 17025.
Dengan deteksi dini yang lebih sensitif, petambak dapat mengambil langkah penanganan lebih cepat dan tepat untuk meminimalkan risiko penyebaran penyakit serta mencegah kerugian budidaya.
Hasil pengujian disajikan dalam format yang mudah dipahami dan dapat dikirimkan langsung melalui WhatsApp, memberikan kemudahan bagi petambak dalam menjaga kesehatan udang dan meningkatkan produktivitas budidaya.

Ditulis oleh
CeKolam
Layanan Cek Penyakit Udang
CeKolam merupakan perusahaan teknologi akuakultur dan laboratorium yang berfokus pada deteksi dini penyakit udang serta benur menggunakan metode Real Time PCR.
