Minapoli
Menteri Susi : Udang Harus Jadi Andalan Raup Devisa Ekspor
Mas

Menteri Susi : Udang Harus Jadi Andalan Raup Devisa Ekspor

Tim Minapoli

Tim Minapoli

Kontributor

26 Desember 2025
4 menit baca

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mendorong udang sebagai andalan\r\ndalam meraup devisa, hal ini mengingat komoditas ini memiliki peluang pasar\r\nekspor yang terbuka dengan margin nila...

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mendorong udang sebagai andalan\r\ndalam meraup devisa, hal ini mengingat komoditas ini memiliki peluang pasar\r\nekspor yang terbuka dengan margin nilai yang besar. Disisi lain udang merupakan\r\nkomoditas yang mendominasi struktur perdagangan ekspor produk perikanan\r\nnasional.

"Saya mengingatkan semua stakeholders untuk bekerjasama memajukan perekonomian perikanan\r\nbaik laut, maupun budidaya. Terutama udang yang memberikan share dominan dalam\r\nstruktur perdagangan ekspor produk perikanan nasional", ungkap Susi saat\r\nmemberikan arahan dalam ajang Aquatica Asia dan Indoaqua 2018 di JIexpo\r\nKemayoran, Jakarta. Kamis (29/11).

Menurutnya budidaya sejak 30 tahun terakhir di seluruh\r\ndunia menjadi tumpuan dalam pemenuhan kebutuhan pangan yang naik setiap hari,\r\nseiring pertumbuhan penduduk yang terus naik.

"Jadi permintaan ikan ini tidak akan berhenti.\r\nKita ambil contoh, setiap tahun penduduk Indonesia itu naik 2 juta orang, bisa\r\ndihitung berapa tambahan kebutuhan ikan pertahunnya", imbuhnya

Susi mengingatkan, bahwa saat ini dan kedepan critical\r\nissue bukan lagi masalah ideologi dan politik, namun masalah food security atau keamanan pangan.

Disisi lain, era globalisasi tak bisa kita hindari.\r\nSaat ini beberapa negara mulai melakukan proteksi industri dalam negeri dan itu\r\nwajar dan sah sah saja, mengingat food\r\nsecurity dan ketahanan ekonomi sangat penting sekali. Penerapan anti dumping\r\nmisalnya harus disikapi secara serius.

"Fenomena trade\r\nwar antara China denga Amerika, saya berharap seluruh pelaku bisnis\r\nperikanan Indonesia (tangkap, budidaya dan procesing) mengambil momen ini untuk\r\nlari, untuk loncat meningkatkan produksi dan ekspor. Saya tekankan, jangan\r\nulangi kejadian era tahun 2000-2004, dimana Amerika menerapkan anti dumping\r\nkepada China, Taipe, Thailand dan Vietnam, harusnya budidaya udang Indonesia\r\nbangkit. Memang ekspor udang Indonesia naik tajam, tapi itu semua hasil transhipment\r\nproduk dari China, Thailand dengan menamakan dokumen dari Indonesia. Waktu itu,\r\nharusnya kita genjot pertumbuhan udang di Indonesia, bukan malah menjual barang\r\nmereka yang sedang terkena anti dumping. Oleh karenanya, saya tida ingin\r\nmendengar lagi ada pengusaha udang Indonesia melakukan hal ini lagi",\r\ntegas Susi

Susi juga menegaskan pentingnya pengelolaan budidaya\r\nberkelanjutan dalam menjamin kesuksesan bisnis budidaya udang nasional.

"Sustainable\r\naquaculture itu sangat penting baik secara financial maupun lingkungan.\r\nSaya mengingatkan kembali, penggunaan lahan tambak sudah harus meangalokasikan\r\narea untuk bakau. Selain untuk menjaga abrasi, bakau juga merupakan benteng environment yang mem-filter anda punya kualitas air. Jadi\r\nsangat penting. Disamping itu, sustainable\r\naquaculture itu harus mengingat banyak hal antara lain ketahanan lingkungan\r\ndan kapasitas daya dukung lingkungan. Kalau ini tidak diperhatikan, saya\r\npastikan out break akan terjadi. Genetically\r\nvaname ini mungkin sudah terpapar penyakit, tapi pemicunya bisa dari\r\nlingkugan yang buruk. Saya mengingatkan anda semua, vaname ini kalau sudah out\r\nbreak sangat berbahaya. Kita masih diuntungan sebagai negara kepulauan, mungkin\r\nout break tidak terlalu fatal seperti di Ekuador dan Thailand. Namun, kita\r\ntetap waspada dengan memperketat karantina", jelas Susi.

"Anda juga harus bangun environment, tambaknya, bahkan untuk kecukupan pangan. Mestinya\r\njuga membuat improvisasi di pabrik pakannya. Contohnya, pakan mandiri untuk\r\nbudidaya ikan tawar telah membawa perubahan terhadap peningkatan indeks nilai\r\ntukar pembudidaya ikan, sebelumnya selama puluhan tahun pertumbuhannya selalu\r\nflat", imbuh Susi.

Terkait peningkatan daya saing, Susi juga mengingatkan\r\npentingnya memenuhi persyaratan mutu dan food\r\nsafety.

"Kita harus menyatakan bahwa produk kita itu zero antibiotic, no chemical, non any additive\r\ndan ramah lingkungan. Life style di\r\nera globalisasi ini berbeda, konsumen inginnya produk yang organik dan aman.\r\nIni harus kita lakukan, improvement\r\nide-ide baru ini mutlak untuk tingkatkan daya saing produk di pasar\r\nglobal", pungkasnya


Sementara itu, Ketua SCI, Iwan Sutanto mengatakan\r\noptimis Indonesia mampu mendominasi pangsa pasar ekspor.

"Kalau bicara teknologi kita sebenarnya selangkah\r\nlebih maju dari negara lain seperti Vietnam dan Thailand. Paling penting saat\r\nini bagaimana melakukan screening terhadap penyakit udang. Kami juga meminta\r\ndukungan ibu Menteri untuk berkoordinasi dengan Pemda berkenaan dengan\r\nperijinan usaha yang cukup memberatkan. Ini penting agar investasi bisa masuk,\r\napalagi saat ini 60 persen produksi udang nasional ditopang oleh SCI",\r\nungkap Iwan.

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor udang\r\nIndonesia dalam 5 (lima) tahun terakhir (2013-2014) tumbuh rata-rata 6,43\r\npersen. Hingga Oktober 2018 nilai ekspor udang tercatat 1,46 milyar USD atau\r\nnaik 3,2 persen dibanding tahun 2017.

Tim Minapoli

Ditulis oleh

Tim Minapoli

Kontributor

Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.

Bagikan artikel ini:

Chat dengan Kami

Pilih departemen yang Anda butuhkan