• Home
  • Infomina
  • Budidaya Ikan Berbasis Kawasan, Solusi Ciptakan Lapangan Kerja

Budidaya Ikan Berbasis Kawasan, Solusi Ciptakan Lapangan Kerja

| Wed, 17 Jul 2019 - 14:07

Potensi ekonomi budidaya berbasis kawasan tambak ini sangat besar. Bahkan, budidaya berbasis kawasan ini kalau dikembangkan dengan baik dapat dijadikan salah solusi untuk menciptakan lapangan pekerjaan, mengatasi pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dirjen Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengatakan, apabila potensi budidaya tambak udang sekitar 3 juta hektar (ha) dimanfaatkan 500 ribu ha saja dengan produksi kakap putih rata-rata 1,5 ton/ ha, maka akan ada tambahan produksi sebanyak 750 ribu ton dari kakap putih. 

Jika dikalkulasi, dengan harga  kakap putih Rp 50 ribu/kg,  maka nilai ekonominya sekitar Rp 37,5 triliun atau US$  2,68 milyar. “Bukankah potensi ekonomi yang luar biasa,” ujar Slamet, di Makassar, Jumat (12/7).

Lantaran potensi budidaya berbasis kawasan ini cukup besar, Slamet mendorong agar daerah-daerah lain dapat mengembangkan kawasan-kawasan budidaya serupa dengan komoditas andalan masing-masing. "’Jadi tak hanya Pinrang dan Maros, kabupaten lain seperti Pangkep dan Jeneponto juga akan kita dorong sebagai kawasan budidaya kakap putih,” kata Slamet.

Menurut Salmet, budidaya berbasis kawasan dengan komoditas andalan dan spesifik ini bisa menjadi trend di daerah potensial di seluruh Indonesia. Nantinya, akan  ada kawasan budidaya windu, nila salin, bandeng, vaname dan lainnya.

“Komoditas yang potensial dikembangkan diantaranya nila salin. Sebab, jenis komoditi ini memiliki keunggulan spesifik.  Dari sisiknya saja mampu menghasilkan bakteri positif yang dapat berperan sebagai kompetitor bakteri negatif yang dapat mematikan udang,” kata Slamet.

Slamet juga mengatakan, agar budidaya berbasis kawasan di Sulsel ini berjalan baik dan berkelanjutan, Ditjen Perikanan Budidaya sudah menunjuk  Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar dan Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Ambon sebagai penanggung jawab program. 

“Tahun ini ada 5 unit hatchery tambahan dengan teknologi budidaya sistem resirkulasi (RAS) untuk kegiatan pendederan benih ikan konsumsi termasuk kakap putih. Dengan teknologi RAS, kapasitas produksi benih meningkat mencapai 3 juta ekor per tahun. Fasilitas dan kemampuan ini siap untuk mendukung pengembangan kawasan budidaya di berbagai daerah,” kata Slamet.

Abdul Warih, salah pembudidaya kakap putih dan udang windu di Pinrang  menyatakan, berbudidaya kakap putih di tambak sangat menguntungkan. Sebab, kakap putih bisa dibudidaya bersama komoditas bandeng dan udang atau polikultur.

“Apabila sebelumnya kami hanya panen 300 kg udang windu dan bandeng 150 kg. Sekarang, tanpa sentuhan teknologi setidaknya kami mendapatkan tambahan minimal 300 kg kakap putih. Jadi, kalau kami jual dengan Rp 50 ribu/kg, ada tambahan pendapatan Rp 15 juta/ panen,” papar Warih.

Warih juga mengatakan, udang windu yang dibudidaya bersama kakap putih,  pertumbuhannya bagus dan sehat. Bahkan, udangnya tumbuh lebih cepat dan ukuran panennya lebih besar.

“Ini bisa jadi solusi agar tambak kami tak nganggur. Kami juga tetap punya pekerjaan dan berpenghasilan lumayan,” ujar Warih. 


Sumber : Tabloid Sinar Tani

Artikel lainnya