Tangerang (5/8) - Adisseo Indonesia bersama Minapoli telah sukses menggelar AquaDigest 2026 yang mengusung tema “Do More With Less: Finding Opportunities and Sustaining Growth Despite Raw Material Pri...
Tangerang (5/8) - Adisseo Indonesia bersama Minapoli telah sukses menggelar AquaDigest 2026 yang mengusung tema “Do More With Less: Finding Opportunities and Sustaining Growth Despite Raw Material Price and Supply Challenges” yang diselenggarakan di Atria Hotel Gading Serpong pada 4 Agustus 2026.
AquaDigest 2026 bertujuan menjadi ruang diskusi mengenai langkah-langkah menghadapi dinamika pasar bahan baku (raw material) pakan yang terus berfluktuasi, sekaligus merumuskan strategi peningkatan profitabilitas tanpa mengurangi kualitas pakan yang dihasilkan.

Acara ini menghadirkan sejumlah pakar industri sebagai narasumber dan diikuti oleh lebih dari 30 peserta yang berasal dari kalangan nutritionist, formulator, procurement, dan R&D berbagai pabrik pakan ikan dan udang di Indonesia.
Akhmad Fuadi selaku Country Manager Adisseo Indonesia membuka AquaDigest 2026 dengan antusias, berharap para peserta dapat memanfaatkan momentum ini untuk membahas cara menghadapi tantangan pasar terkini.

“Kami dari Adisseo Indonesia menghadirkan narasumber yang ahli di bidangnya untuk bersama-sama kita mencari opportunity dan sustainability di tengah fluktuasi harga, tantangan geopolitik, dan supply chain, supaya bisa tetap efisien,” jelasnya.
Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Tevi Melviana, turut memberikan sambutan yang menekankan sikap pantang menyerah bagi para pelaku industri pakan ikan dan udang dalam menghadapi berbagai tantangan kedepannya.

"Dengan berbagai persoalan yang tengah dihadapi industri pakan saat ini, memang bukan masa yang mudah. Kita mungkin akan mengalami kesulitan di awal, namun ke depan akan lebih baik. Hari ini sulit, esok mungkin lebih sulit, tapi selanjutnya akan lebih cerah," ujarnya.
Baca juga: Seminar Internasional Adisseo "Menjaga Keuntungan Budidaya melalui Efisiensi Pakan"
Rangkaian acara berlanjut ke sesi materi yang diawali oleh Andhi Trapsilo sebagai Badan Pengurus GPMT Bidang Pakan Akuakultur.
Andhi menjelaskan sejumlah tantangan yang dihadapi sektor feedmill saat ini, terutama ketergantungan pada impor bahan pakan sumber protein seperti fish meal dan fish oil. Ketergantungan tersebut membuat feedmill semakin sulit meningkatkan profitabilitas, terlebih di tengah pelemahan nilai tukar rupiah belakangan ini.

“Dengan nilai tukar rupiah ke US Dollar (USD) yang sekarang 18 ribu sekian, maka kurang lebih akan berpengaruh ke harga bahan baku pakan hingga 100-200 rupiah per kilogram,” tegas Andhi. Sebagai catatan, berdasarkan kurs e-Rate Bank Central Asia (BCA) per 5 Agustus 2026, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada pada kisaran Rp17.922–Rp17.942.
Tantangan tersebut mendorong pilihan penggunaan bahan baku lokal sebagai alternatif substitusi dalam formulasi, meski bahan baku lokal juga masih memiliki tantangan tersendiri pada sisi supply chain-nya.
Namun, Andhi tetap optimis dan mendorong peningkatan produksi bahan baku pakan ikan dan udang lokal. "Kami tentu berharap bahan baku lokal bisa bersaing. Kalau ada bahan baku lokal yang bisa digunakan untuk kebutuhan feedmill, ya tentu kami sangat terbuka, tapi juga harus bisa dipastikan kualitas dan kepastian suplainya," jelas Andhi.
Fenomena kenaikan harga bahan baku protein hewani ini menyebabkan terjadinya pergeseran tren menuju protein nabati. Meski kian dilirik, penggunaan bahan baku nabati ini juga memiliki dilema tersendiri, seperti yang dijelaskan dalam materi Prof. Dedi Jusadi, Guru Besar Fakultas Perikanan & Ilmu Kelautan IPB University.
Salah satu poin utama yang dipaparkan Prof. Dedi yaitu adanya kandungan Anti-Nutritional Factor (ANF) pada bahan baku protein nabati seperti soybean meal, canola meal, serta berbagai bahan baku nabati lainnya. Kandungan ANF inilah yang menjadi penyebab terhambatnya pencernaan serta penyerapan nutrien.
“Sumber protein nabati ini umumnya punya kandungan serat kasar yang tinggi dan ANF. Nah, ini yang bisa membuat kinerja hati menjadi berat dan terjadi inflamasi,” jelas Prof. Dedi.

Selain itu, Prof. Dedi menjelaskan bahwa penggunaan bahan baku nabati secara umum juga dapat menurunkan palatabilitas sehingga mengurangi feed intake ikan atau udang.
Di akhir presentasi, Prof. Dedi memberikan solusi atas kedua tantangan tersebut, yaitu penggunaan marine peptide serta bile salt. Marine peptide dapat meningkatkan palatabilitas, sedangkan bile salt yang berfungsi sebagai agen pengemulsi lemak dapat meringankan kinerja hati serta mengurangi Reactive Oxidative Species (ROS) yang menyebabkan inflamasi.
"Selain mencari bahan baku lain, kita juga bisa mengubah strategi menjadi substitusi bahan baku tapi juga ditambahkan feed additive untuk mengoptimalkan penyerapan nutrisi," ujarnya.
Di sisi lain, Dr. Ei Lin Ooi selaku Regional Marketing & Category Manager, Aqua, Asia Pacific (APAC) Adisseo menjelaskan penggunaan bahan baku protein hewani, seperti fish meal dan fish oil, dari segi keberlanjutan industri.

Dengan materi bertajuk "Sustainable Aqua Feed: Beyond FIFO", Dr. Ei Lin menjelaskan sejumlah poin yang perlu dipertimbangkan oleh pelaku industri feedmill untuk membangun keberlanjutan:
Proyeksi kebutuhan pakan yang meningkat hingga 15% pada 2034
Perubahan kebijakan yang mengarah ke keberlanjutan dan sertifikasi
Kondisi geopolitik dunia yang fluktuatif
Fenomena El Niño–Southern Oscillation (ENSO) yang mempengaruhi hasil tangkapan ikan
Ia mengambil contoh Peru sebagai salah satu negara produsen dan penangkap ikan teri terbesar di dunia. Menurut Dr. Ei Lin, fenomena ENSO menyebabkan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian timur meningkat. Kondisi ini berdampak pada berkurangnya populasi ikan teri dewasa, mengingat ikan teri merupakan spesies yang lebih menyukai ekosistem perairan dingin. Dr. Ei Lin juga mengutip pemberitaan dari Seafood Source yang menginformasikan adanya penghentian sementara sektor penangkapan ikan teri di Peru hingga waktu yang belum ditentukan.
Hal tersebut secara langsung berpengaruh pada keberlanjutan industri pakan ikan dan udang, mengingat 20% suplai fish meal di dunia berasal dari tangkapan ikan teri Peru.
Oleh karena itu, Dr. Ei Lin merekomendasikan beberapa insight untuk menghadapi tantangan tersebut sekaligus meningkatkan keberlanjutan, yaitu dengan merumuskan formulasi pakan yang lebih fleksibel serta sumber bahan baku yang lebih variatif.
“Karena industri feedmill tidak hanya sekadar Fish In & Fish Out (FIFO), ada lebih banyak aspek lainnya untuk mendukung keberlanjutan,” ujarnya.
Selanjutnya, Marleen Dehasque selaku Global Product Manager Aqua Nutrition Adisseo turut menggarisbawahi pemaparan Prof. Dedi mengenai penggunaan tambahan bahan baku marine peptide serta bile salt untuk meningkatkan efisiensi nutrien dan penyerapan pakan.

Marleen menjelaskan bahwa penambahan bile salt sebagai agen pengemulsi lemak dapat meningkatkan kecernaan lemak dengan menambah “bile acid pool” dalam metabolisme tubuh ikan. Penambahan bile salt ini juga dapat mengantisipasi pilihan bahan baku nabati berkandungan serat tinggi yang menghambat pencernaan lemak di usus.
“Dengan menambahkan bile salt pada pakan, dapat membantu meningkatkan bile acid pool dan mengoptimalkan pencernaan lemak,” ujarnya.
Selain itu, bile salt juga berfungsi sebagai prekursor atau bahan pembentuk hormon ecdysone, yaitu hormon utama yang meregulasi molting, sehingga penambahan bile salt pada pakan juga dapat mengoptimalkan siklus molting.
Menurut Marleen, marine peptide juga menjadi pilihan peningkat palatabilitas yang lebih efisien dibandingkan dengan atraktan yang relatif lebih mahal dan suplainya tidak selalu tersedia.
Dalam sesinya, Marleen juga turut mengumumkan Soft Launching produk bile salt serta marine peptide terbaru dari Adisseo di Indonesia, yakni Lipogest dan Pepsea S, yang dapat menjadi solusi bagi pelaku industri feedmill dalam strategi formulasi pakan.
Lipogest merupakan produk feed additive bile salt yang diekstrak dari bovine (spesies rumpun sapi, lembu, dan kerbau), bebas antibiotik, serta telah disetujui oleh European Union (EU) sebagai bahan baku pakan.
Pepsea S adalah produk feed additive marine peptide dengan kandungan bioaktif peptida minimal 38% yang diproses dengan hidrolisis enzimatik terkontrol serta tanpa acidifier, sehingga waktu simpannya lebih lama.
Martin Guerin selaku Regional Technical Manager Aquaculture APAC/ISC Adisseo melanjutkan sesi materi dengan topik strategi formulasi pakan yang relatif hemat biaya produksi. Strategi yang dipaparkan Martin berfokus pada variasi bahan baku serta feed additive untuk mengoptimalkan penggunaan fish meal dan fish oil.

Martin menjelaskan bahwa optimalisasi kecernaan bahan baku fish oil dapat menjadi langkah untuk mendukung pertumbuhan ikan dan udang. Selain penggunaan produk Lipogest, Martin juga merekomendasikan produk Adisseo untuk meningkatkan penyerapan nutrisi lemak, yakni Aqualyso STD.
Aqualyso STD merupakan produk berbasis fosfolipid alami yang dapat mendukung emulsifikasi lemak serta penyerapan nutrisinya dalam pencernaan.
Penggunaan bahan baku nabati sebagai alternatif fish meal juga dapat didukung dengan penekanan kandungan antinutrien menggunakan produk Rovabio. Martin menjelaskan bahwa produk Rovabio Phy Plus Phytase dapat membantu menekan zat antinutrien, seperti fitat, yang menghambat penyerapan nutrisi.
“Zat fitat pada dasarnya dapat menurunkan mobilisasi nutrien mineral, seperti zinc, kalsium, dan mangan, serta protein yang membuat penyerapannya lebih lambat,” jelasnya.
Agus Sumbara selaku Technical Engineering Adisseo APAC dan Rakhmad Syahriadi selaku Country Technical Manager Adisseo APAC-Indonesia melanjutkan sesi materi dengan menjelaskan produk serta layanan Adisseo lainnya untuk memudahkan pelaku industri feedmill.

Agus Sumbara menjelaskan mengenai produk Enzymes Batch Applicator Aqua Feedmill yang dapat membantu mengaplikasikan feed additive lebih efisien dengan metode spraying.

Rakhmad Syahriadi turut menjelaskan mengenai metode Precise Nutrition Evaluation (PNE) yang berfungsi untuk monitoring dan memprediksi nilai nutrisi berbasis teknologi Near InfraRed Spectroscopy (NIR) secara real-time.
Saksikan cuplikan antusiasme peserta & kemeriahan acara pada video berikut ini:

Ditulis oleh
Adisseo
Perusahaan Feed Additive
Adisseo adalah salah satu perusahaan market leader di industri feed additives yang berpusat di Perancis dan berdiri sejak tahun 1939
