• Home
  • Infomina
  • Abu Bakar: Peternak Nila yang Teguh Meski di Penghujung Usia

Abu Bakar: Peternak Nila yang Teguh Meski di Penghujung Usia

| Wed, 17 Nov 2021 - 16:09

Tubuh Abu Bakar yang keriput kini berwarna kuning keemasan diterpa sinar matahari sore, di tangannya, setengah karung makanan ikan menunggu untuk di serakkan. Dari penuturannya, saat ini dalam sehari ia bisa menghabiskan sekitar 7 sampai 9 kg untuk ikan-ikannya yang masih berumur 1 bulan.


Abu Bakar adalah salah seorang peternak ikan nila yang bertempat tinggal di Jorong Bukit Barangan, Kenagarian Sikabau. Sebuah kampung kecil yang terletak dalam wilayah administratif Kabupaten Dharmasraya, Provinsi Sumatera Barat. Sebuah Kabupaten baru yang hampir sepertiga daerahnya diisi oleh batang-batang pohon sawit dan pohon karet. Sekarang Abu Bakar sudah berumur 58 tahun, tapi walaupun begitu, semangatnya tetap tak bisa disebut tua.


Saat saya temui, ia menjelaskan bahwa dirinya mulai beternak ikan nila sebenarnya belum lama. Hanya dari tahun 2016 silam, yang juga berarti belum genap lima tahun yang lalu.




“Waktu itu ada program dari pemerintah, bantuan untuk membuat kolam beserta bibit-bibitnya sekaligus pakan dalam sekali panen, jadi kebetulan waktu itu, sawah ini kebetulan sedang tidak ditanam, dan jadilah kolam ini,” terangnya sambil menunjuk ke kolam.


Awalnya, menurut Abu Bakar kolam ini dibuat berdasarkan sistem kelompok, ada 9 buah kolam yang dibuatkan. Tapi yang masih bertahan hanya tinggal 3 orang saja. Selebihnya, sudah tak sanggup lagi untuk melanjutkan.


“Bagaimana tidak, dulu, ada satu periode ikan-ikan ini dapat penyakit semuanya. Ada yang matanya keluar, atau kepalanya besar tapi memiliki badan kecil, dan banyak juga yang mati tanpa sebab. Di periode itu, kalau diperturutkan, saya juga mungkin sudah berhenti berkolam ikan,” terangnya.


Yuk, ikuti juga: Kompetisi LensaMina, Membuka Cakrawala Akuakultur Indonesia


Menurut Abu Bakar, gagal panen waktu itu disebabkan oleh banyak hal. Salah satunya adalah kotoran ikan yang sudah menumpuk di dasar kolam. Biasanya, kata Abu Bakar, kotoran itu akan berwarna agak kehitaman jika lama tidak di bersihkan. Dan menurutnya, dari keterangan yang ia dapat dari orang-orang dinas perikanan, hal tersebut terjadi memang disebabkan oleh bakteri yang ada pada kotoran itu, jadi setidaknya kolam harus dibersihkan setiap dua kali panen.


“Jadi setelah panen, kolam harus dikeringkan dulu, kotoran-kotoran yang sudah mengendap harus diangkat ke atas, lalu setelahnya kalau bisa, menurut orang perikanan itu akan lebih bagus jika diserakkan kapur dolomit pada dasar kolam, agar keasaman airnya nanti tidak terlalu,” jelasnya lagi.


Selain ikan nila, Abu Bakar juga mengisi kolamnya dengan ikan-ikan yang lain. Terutama ikan mas dan ikan bawal. Sebab menurutnya ikan mas dan bawal mencari makanan tambahannya tergolong cukup mudah. Tidak susah. Makanan tambahan dua jenis ikan itu cukup hanya dengan memetik beberapa helai daun pepaya atau daun ubi, atau kadang-kadang sisa-sisa sayur yang ia cari di tengah Pasar tradisional Kenagarian Sikabau.


Dan menurut keterangan Abu Bakar lagi, jika dalam keadaan sedang beruntung, menurut penjelasannya, seperti awal-awal ia mulai berternak ikan nila dulu, yang masih di support oleh pemerintah, saat makanannya tercukupi, tidak kekurangan seperti sekarang dan tentu saja harus bermutu bagus, maka untungnya bisa dihitung dari luar sebelum kita benar-benar panen. Ia lalu memberikan gambaran, jika misalnya ia menghabiskan makanan ikan total 500 kg, maka pas panennya nanti ia juga akan menghasilkan sekitar 450-550 kg ikan. Dan ia juga menjamin, kalau perhitungan seperti itu belum pernah meleset. Kecuali waktu musim penyakit dulu.

---


Penulis: Dino Rawan Putra

Profesi: Freelance

Artikel lainnya