• Home
  • Infomina
  • Probiotik, Imunostimulan, dan Manajemen Kualitas Air

Probiotik, Imunostimulan, dan Manajemen Kualitas Air

| Tue, 29 Jun 2021 - 09:29

Saat ini permasalahan yang kerap kali timbul pada budidaya udang adalah adanya serangan penyakit dan menurunnya kualitas air. Hal ini terjadi terutama pada tambak yang sifatnya masih tradisional dan belum menggunakan aplikasi teknologi salah satunya di Desa Pangkah Wetan dan Pangkah Kulon Kecamatan Ujung Pangkah, Gresik. 


Selain itu masih rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai cara penanggulanan penyakit maupun kualitas air yang buruk juga menjadi permasalahan. Adanya permasalahan-permasalahan tersebut menyebabkan rendahnya tingkat kelangsungan hidup udang yang mengakibatkan turunnya hasil panen. 


Oleh karena itu perlu adanya teknologi yang sederhana, praktis, dan murah yang dapat digunakan oleh para petambak untuk meningkatkan hasil produksi udangnya.


Imunostimulan dan probiotik menjadi salah satu bioteknologi yang dapat di aplikasikan oleh para pembudidaya udang dibandingkan antibiotik. 


Baca juga: Probiotik, Pencegah Penyakit dan Pendorong Produksi Perikanan Budidaya


Hal ini dikarenakan penggunaan antibiotik berpotensi menyebabkan masalah baru yaitu memicu pertumbuhan bakteri resisten, pencemaran lingkungan, dan dampak yang lebih jauh lagi adalah ikan yang mengandung antibiotik melebihi standar, tidak laku untuk diekspor karena beberapa negara Eropa menerapkan standar antibitoik yang aman.


Probiotik merupakan mikroorganisme yang memiliki kemampuan untuk memodifikasi komposisi bakteri dalam saluran pencernaan hewan akuatik, air, dan sedimen serta dapat digunakan untuk suplemen pakan yang dapat meningkatkan kesehatan inang dan berperan sebagai agen biokontrol.


Probiotik berfungsi untuk memperbaiki kualitas air dan meningkatkan respons imun dan nutrisi. Penggunaan probiotik dalam sistem budidaya ikan atau udang telah dikenal masyarakat secara luas sebagai alternatif dalam menanggulangi penyakit yang disebabkan virus maupun bakteri patogen.


Saat ini sudah banyak probiotik komersil yang dijual dipasaran baik yang berasal dari bakteri spesies tunggal maupun campuran. Namun, adanya penggunaan probiotik yang cukup banyak akan meningkatkan biaya produksi dalam kegiatan budidaya. 


Baca juga: Aplikasi Probiotik Tepat, Pakan Hemat


Oleh karena itu guna menekan biaya yang harus dikeluarkan, maka perlu perbanyakan probiotik dengan cara dikultur. Para petambak di Kecamatan Ujung Pangkah, tepatnya di Desa Pangkahwetan dan Pangkahkulon diberi penyuluhan dan pelatihan untuk memperbanyak probiotik secara mandiri.


Selain probiotik, terdapat imunostimulan yang berperan dalam mengaktifkan sistem kekebalan hewan akuatik khususnya udang, dan meningkatkan ketahanan tubuh terhadap penyakit. Imunostimulan adalah bahan kimia yang mengaktifkan sel darah putih sehingga hewan lebih resisten terhadap infeksi yang diakibatkan oleh virus, bakteri, jamur, dan parasit. 


Salah satunya adalah imunostimulan protein membran imunogenik Zoothamnium penaei yang sudah diteliti oleh Mahasri (2007) dimana berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa penggunaan imunostimulan tersebut dapat meningkatkan kelangsungan hidup udang windu dari 10% hingga mencapai 96%.


Selain pemberian probiotik maupun imunostimulan, dalam budidaya udang juga diperlukan manajemen kualitas air baik itu parameter fisika, kimia, maupun biologi. Hal ini menjadi penting mengingat perlu adanya upaya perbaikan apabila kondisinya tidak optimal. 


Dalam kegiatan pengabdian masyarakat kali ini, para petambak dilatih untuk mengukur beberapa parameter kualitas air meliputi suhu, warna air, kecerahan, pH. Hasil pengamatan kualitas air salah satu tambak di Kecamatan Ujung Pangkah inididapatkan hasil warna air yang berwarna kecoklatan, pH 7, suhu 32oC, dan kecerahan 50 cm.


Baca juga: Probiotik Herbal Kreasi Mahasiswa KKN Undip, Panen Ikan Lele Hanya 1 Bulan


Dari hasil tersebut nilai kecerahan masih berada di luar nilai optimal untuk budidaya udang vannamei yang seharusnya berada pada kisaran 25-40cm. Hal ini mengindikasikan bahwa tambak tersebut masih tergolong memiliki kandungan plankton yang sedikit, padahal plankton sangat diperlukan sebagai pakan alami untuk udang. 


Langkah untuk meningkatkan kandungan plankton di perairan yaitu melalui pemupukan, karena dalam pupuk terdiri dari berbagai nutrien yang mendukung pertumbuhan plankton.


Apabila melihat potensi tambak udang di Kecamatan Ujung Pangkah, dari yang awalnya tambak tradisional bisa berpotensi menjadi tambak semi intensif maupun intensif. Namun memang perlu memperhatikan berbagai aspek agar bisa dikembangkan. 


Aplikasi probiotik, imunostimulan, dan manajemen kualitas air secara berkala menjadi langkah awal yang dapat diterapkan sehingga dapat meningkatkan hasil panen udang yang berkualitas, sebelum nantinya melangkah menuju penggunaan teknologi yang lebih canggih lagi. 


Meningkatnya hasil panen udang tentunya harapannya dapat meningkatkan kesejahteraan para petambak di Kecamatan Ujung Pangkah.


Penulis: Nina Nurmalia Dewi, S.Pi., M.Si


Dewi, N. N., Kismiyati, Rozi, Mahasri, G., dan Satyantini, W. H. 2018. Aplikasi Probiotik, Imunostimulan, Dan Manajemen Kualitas Air Dalam Upaya Peningkatan Produksi Budidaya Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) Di Kecamatan Ujung Pangkah, Kabupaten Gresik. Journal of Aquaculture and Fish Health, 8(3) : 178-183.http://dx.doi.org/10.20473/jafh.v8i3.15127


Sumber: news.unair.ac.id


Artikel lainnya