• Home
  • Infomina
  • Polikultur Patin, Tabungan Pembudidaya KJA Jatiluhur

Polikultur Patin, Tabungan Pembudidaya KJA Jatiluhur

| Thu, 06 Jan 2022 - 10:23

Menerapkan budidaya dengan memanfaatkan kolom air dilakukan oleh rata-rata pembudidaya di Waduk Jatiluhur, yakni antara mas, nila, dan patin

 

Minggu pagi itu, cukup ramai orang berdatangan ke kawasan Waduk Jatiluhur-Jawa Barat (Jabar). Aktivitas yang dilakukan bermacam-macam; ada yang berkunjung sebagai wisatawan; ada pemancing ikan; ada pedagang ikan, ada pula seperti Luthfi Bajrie, pembudidaya ikan KJA (keramba jaring apung) di waduk ini. 

 

Luthfie, seperti kebanyakan pembudidaya lainnya, pun selalu menyewa satu unit perahu motor untuk pergi ke lokasi KJA-nya di dalam kawasan waduk. Dia pun mengajak TROBOS Aqua untuk berkunjung ke KJA miliknya dengan memanfaatkan ‘taksi’ perahu motor tadi.

 

Sekitar tiga puluh menit kemudian, tepatnya di area yang termasuk Desa Cibinong, Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, berjajar sedikitnya 3 kolong ukuran 14x14 meter (m). Yang mana 1 kolong isi 4 jaring masing-masing ukuran 7x7 m. Kedalaman jaring umumnya sekitar 4-5 m, sementara kedalaman kolom bisa mencapai 14 m. KJA nya berbahan baku kayu, seperti bambu, dan pelampung menggunakan drum bekas.


Baca juga: Patin: Yuk, Budidaya Pustina!


Lokasi ini merupakan satu dari total tiga lokasi KJA yang ia kelola dengan total sekitar 60 kolong KJA. Luthfi katakan, di KJA nya ia terapkan sistem polikultur (lebih dari satu komoditas atau spesies). Dimana, tiap jaring ia isi komoditas ikan mas dan nila, sementara di kolong ia budidayakan ikan patin.


Tidak semua kolong, ia bangun dari awal. Banyak diantaranya, ia kerjasamakan dengan pembudidaya lain. “Kadang ada pembudidaya yang ‘mundur’. Jadi kita tarik (KJA) nya, baru nanti kita bagi hasil,” jelas Luthfi.


Polikultur Bersama

Untuk budidaya ikan dengan sistem polikultur ini, cukup lazim diterapkan oleh pembudidaya KJA air tawar. Dan, yang paling umum diterapkan, adalah komoditas mas bersama nila. Adapun bersama komoditas patin, Luthfi pun bercerita banyak mengenai budidaya yang ia aplikasikan.


Mengapa patin, ia jelaskan, adalah yang umum diaplikasikan di kalangan pembudidaya Jatiluhur. Alasannya, patin lebih tahan banting dan aman, khususnya di musim hujan. Karena, di waktu-waktu ini rentan terjadinya ‘arus balik’ atau umbalan/upwelling. Dan, ujar Luthfi, ikan mas dan nila lebih rentan dan cepat mati bila terjadi ‘arus balik ini.


Baca juga: Polikultur Udang Galah dengan Bandeng 


Bulan-bulan rentan, imbuh Luthfi, biasanya ada di rentang akhir tahun-awal tahun selanjutnya. “Januari biasanya karena musim hujan. Bahkan sekarang ini di Desember ada yang berani ada yang nggak (tebar benih). Yang berani ambil risiko karena ikan (mas dan nila) mati itu gak selalu terjadi,” beber pembudidaya yang memulai usahanya sejak 6 tahun lalu ini.


Sedangkan patin, tutur Luthfi, cenderung tak terpengaruh ‘arus balik’ ini. “Cenderung ikannya (patin) gak ada yang mati. Rata-rata pake patin justru aman. Ketika di musim hujan, atau pagi gak ada matahari atau gerimis 3-4 hari udah tuh. Bisa mati (ikannya). Bahkan, karena ikannya mati, ada pembudidaya yang rugi miliaran rupiah,” ungkapnya. 


Makanya, ujar Luthfi, pembudidaya banyak yang lari ke (budidaya) patin, termasuk dirinya. Sebagai contoh, benih patin yang ia tebar umumnya sebanyak 5-10 ribu ekor per m. 


Sumber: TROBOS Aqua

Artikel lainnya