SUKOHARJO – KKP gaungkan sistem budidaya\r\nminapadi ke lima Benua, dalam kegiatan Kunjungan Lapang dari Permanet\r\nRepresentative FAO (delegasi negara-negara anggota FAO) ke lokasi budidaya\r\nminap...

SUKOHARJO – KKP gaungkan sistem budidaya\r\nminapadi ke lima Benua, dalam kegiatan Kunjungan Lapang dari Permanet\r\nRepresentative FAO (delegasi negara-negara anggota FAO) ke lokasi budidaya\r\nminapadi di Sukoharjo yang merupakan kegiatan percontohan kerjasama antara KKP dengan\r\nFAO (Rabu, 1/11). Hadir dalam kesempatan tersebut Bupati Sukoharjo dan Muspida,\r\nDirektur Produksi dan Usaha DJPB- KKP, Perwakilan FAO Indonesia, petani dan\r\npembudidaya serta Permanent Representative FAO sebanyak 8 orang yang berasal\r\ndari 8 negara (Nigeria, Algeria, Thailand, Norway, Chile, Jordan, United States\r\nMission dan Australia) yang mewakili 5 benua yaitu Afrika, Asia, Eropa, Amerika\r\ndan Australia.
“Minapadi\r\ndijadikan kegiatan unggulan karena beberapa alasan antaranya dapat dilakukan\r\ndengan mudah oleh petani, dapat memberikan tambahan pendapatan petani hingga\r\n40%, kemudian menghasilkan padi organik karena pada saat proses produksi padi\r\ntidak mengggunakan pestisida, serta minim dalam penggunaan pupuk. Dari satu\r\nhektar minapadi, petani mampu menghasilkan 1 ton ikan, dengan panen padi\r\nsebanyak 8 – 10 ton dari semula panen padi sebanyak 6 – 7 ton”, Hal tersebut\r\ndisampaikan oleh Umi Windriani, Direktur\r\nProduksi dan Usaha Budidaya, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB),\r\nKementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
“Kegiatan\r\nini sangat membanggakan karena program minapadi yang digarap KKP bersama Badan\r\nPangan Dunia (FAO) di Kabupaten Sukoharjo menjadi percontohan internasional dan\r\ntelah memposisikan Indonesia sebagai salah satu rujukan FAO di level\r\nAsia-Pasifik, dan saat ini sudah dikenalkan ke 5 benua”, jelas Umi.
Berdasarkan\r\ndata Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018, potensi lahan yang dapat digunakan\r\nuntuk budidaya ikan sistem minapadi adalah seluas 4,9 juta hektar, sedangkan\r\nlahan yang sudah termanfaatkan hanya sebesar 128 ribu hektar. Ini menjadi\r\npotensi yang harus digarap untuk menjadi terobosan baru dalam upaya memperkuat\r\nketahanan pangan nasional.
“FAO\r\ntelah mendukung program minapadi di Indonesia sejak tahun 2016 yang berlokasi\r\ndi Kabupaten Sleman Yogyakarta dan lima puluh kota dengan luasan masing-masing\r\n25 hektar dan pada tahun 2018 ini telah berhasil dikembangkan di Kabupaten\r\nSukoharjo, Jawa Tengah seluas 18\r\nhektar”, tambahnya.
Umi\r\nmenyampaikan terima kasih kepada FAO yang telah mendukung kegiatan pembangunan\r\nperikanan budidaya yang berkelanjutan di Indonesia sehingga membantu\r\npembudidaya dalam meningkatkan kesejahteraannya.
Stephen\r\nRudgard, FAO Representative yang ada di Indonesia mengharapkan agar perwakilan\r\ndelegasi FAO yang hadir saat ini dapat menyampaikan keberhasilan minapadi\r\nIndonesia keseluruh 193 negara annggota\r\nFAO sehingga minapadi dapat digaungkan ke seluruh dunia. Lebih lanjut FAO\r\nmengapresiasi pengembangan minapadi di Sukoharjo. “Meskipun baru pertama kali\r\ndilakukan namun minapadi mampu memberikan hasil \r\nyang menggembirakan. Selain itu, minapadi ini juga melibatkan peranan\r\nwanita dalam kegiatannya, sehingga ikut mendukung kegiatan gender” lanjut\r\nStephen.
Bupati\r\nSukoharjo, Wardoyo Wijaya, dalam\r\nsambutannya menyampaikan sangat mendukung kegiatan minapadi yang ada di\r\nSukoharjo dan berkomitmen untuk mengalokasikan kegiatan yang sama di tahun\r\nmendatang serta mengharapkan kerjasama yang telah ada ini dapat terus berlanjut\r\ndan ditingkatkan. Lebih lanjut, Wardoyo menyampaikan bahwa sistem minapadi di\r\nSukoharjo ini unik, menggunakan sistem salibu. Dalam sistem salibu ini sisa\r\nrumpun padi yang ditanam pada minapadi sebelumnya dapat tumbuh kembali pada\r\nfase minapadi berikutnya, sehingga menghemat biaya tanam, dan memberikan hasil\r\nyang tidak kalah dengan fase pertama. 
Yaya\r\nAdisa Olaniran, Minister/Permanent Represetative of Nigeria to UN Rome, sangat\r\ntertarik dengan bagaimana petani mendapatkan serta manajemen dari benih ikan\r\ndan padi serta pakan, dimana benih ikan berasal dari Balai Benih yang dibina\r\noleh Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo, serta pakan yang ada menggunakan\r\npakan mandiri dari Balai Besar Budidaya Ikan Payau Jepara.
Menurut\r\nSahir, Ketua Kelompok Tani Geneng Sari II, salah satu kelompok penerima bantuan\r\nprogram minapadi menyebutkan dengan sistem minapadi memberikan beberapa\r\nkeuntungan, antaranya penyiangan rumput berkurang, penggunaan pupuk menurun\r\n50%, biaya pestisida tidak ada, panen ikan dapat 2 ton/ha dan panen padi\r\nmeningkat dari 6,6 ton menjadi 9 ton/ha.
Untuk\r\ndiketahui bersama bahwa KKP menjadikan kegiatan minapadi ini sebagai salah satu\r\nkomitmen dalam kegiatan Our Ocean Conference (OOC) di Bali yang 2 hari lalu\r\ndibuka oleh Presiden, dimana kegiatan minapadi merupakan salah satu kegiatan\r\nyang mendukung pelaksanaan Sustainable Blue Economy sebagai mitigasi terhadap\r\nperubahan iklim.
“Tercatat\r\nsejak tahun 2016 – 2018, KKP telah mengembangkan percontohan minapadi seluas\r\n580 Ha yang tersebar di 26 kabupaten”. Dan untuk tahun 2019, kami merencanakan akan mengembangkan lagi sebanyak 400 Ha”,\r\nterang Slamet Soebjakto, Dirjen Perikanan Budidaya, KKP dalam keterangan\r\ntertulisnya (1/11).
“Minapadi\r\nbahkan dapat menekan terjadinya alih fungsi lahan dan urbanisasi karena mampu\r\nmenyerap tenaga kerja, menambah lahan produksi ikan sehingga mendukung capaian\r\ntarget produksi ikan nasional, selain itu meningkatnya produksi akan diikuti\r\ndengan peningkatan kesejahteraan masyarakat, mendukung kedaulatan pangan serta\r\nramah lingkungan”, tambah Slamet optimis.
\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n
Kunjungan\r\npermanent representative ini juga merupakan rangkaian acara yang dimulai dari\r\nworking luncheon and round table discussion yang sehari sebelumnya dilaksanakan\r\ndi kantin diplomasi Kementerian Luar Negeri, dengan salah satu nara sumber Staf\r\nAhli Menteri Kelautan dan Perikanan \r\nBidang Kemasyarakatan dan Antar Lembaga.

Ditulis oleh
Tim Minapoli
Kontributor
Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.
