Minapoli
KKP Bangun Embung dengan Pola Berbasis Budidaya Perikanan
Mas

KKP Bangun Embung dengan Pola Berbasis Budidaya Perikanan

Tim Minapoli

Tim Minapoli

Kontributor

26 Desember 2025
3 menit baca

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat\r\nJenderal Perikanan Budidaya telah membangun embung di Kabupaten Pangandaran,\r\nJawa Barat, dengan melalui pola berbasis budidaya perikan...


Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat\r\nJenderal Perikanan Budidaya telah membangun embung di Kabupaten Pangandaran,\r\nJawa Barat, dengan melalui pola berbasis budidaya perikanan yang memberdayakan\r\nwarga di sekitarnya.
\r\n
\r\nSiaran pers Ditjen Perikanan Budidaya KKP yang diterima di Jakarta, Senin,\r\nmenyebutkan salah satu tujuan pembangunan embung seluas 4,1 hektar di Desa\r\nPananjung, Kecamatan Pangandaran, adalah untuk kepentingan pemberdayaan\r\nmasyarakat melalui pola Cultured Based Fisheries (CBF).
\r\n
\r\nSebagaimana diketahui, embung adalah cekungan yang digunakan untuk mengatur dan\r\nmenampung suplai aliran air hujan serta meningkatkan kualitas air di badan air\r\nyang terkait (sungai, danau atau waduk).
\r\n
\r\nKonsep CBF pada embung yang diusung dimaksudkan untuk menambah pendapatan\r\nmasyarakat sehingga akan memberikan efek berganda khususnya bagi masyarakat dan\r\nkepentingan daerah.
\r\n
\r\nSelain itu, melalui CBF ini diharapkan akan mampu menambah peluang pekerjaan\r\ndan bisa menjadi model untuk daerah lain, utamanya sebagai jalan keluar dalam\r\nmengantisipasi polemik permasalahan perairan umum yang berkaitan dengan\r\nlingkungan.
\r\n
\r\nSebagaimana diketahui konsep ini merupakan kegiatan perikanan dengan\r\nmengandalkan komoditas hasil budidaya yang ditebar dan dipanen secara periodik\r\ndi perairan umum daratan, antara lain karena konsep ini dinilai sangat efektif\r\nsebagai model penerapan budidaya berbasis ekosistem.
\r\n
\r\nTak hanya itu, fungsi embung sebagai CBF dapat dijadikan alternatif sumber\r\npendapatan dan sumber protein hewani masyarakat.
\r\n
\r\nAdapun keuntungan konsep ini adalah dapat diterapkan pada perairan yang tidak\r\nluas, kemudian efisien dalam memanfaatkan produktivitas alaminya, lalu\r\npengelolaannya mudah dan tidak berdampak negatif terhadap fungsi utama\r\nperairan.
\r\n
\r\nSelain itu, CBF merupakan bentuk teknologi pemulihan sumber daya ikan. CBF\r\nberlandaskan pada penebaran benih ikan dari hasil budidaya (pembenihan) yang\r\ndilakukan secara rutin. Ikan yang ditebar akan tumbuh dengan memanfaatkan makanan\r\nalami di perairan embung.
\r\n
\r\nAdapun tahapan CBF, antara lain pertama mengidentifikasi potensi kesesuaian\r\nbadan air untuk menentukan jenis ikan yang dapat hidup, meliputi luasan, volume\r\nair serta kualitas air, jenis dan sumber daya pakan alami, komposisi jenis ikan\r\nasli dan estimasi potensi produksi ikan.
\r\n
\r\nKedua, mengidentifikasi biaya yang diperlukan untuk kegiatan penebaran benih\r\ndan peluang keberhasilannya. Lalu, ketiga yaitu mengidentifikasi kelembagaan\r\nmasyarakat di sekitar embung, seperti ketersediaan kelompok pembudidaya ikan,\r\nkelompok pengawas serta kelompok usaha perikanan lainnya.
\r\n
\r\nSelanjutnya, keempat merencanakan pengembangan pengelolaan perikanan bersama\r\natau dikenal dengan co-management dalam hal ini pemerintah setempat berperan\r\nsebagai fasilitator dan regulator, sedangkan kelompok perikanan sebagai pelaksana\r\npengelolaan.
\r\n
\r\nTahapan terakhir yaitu monitoring dilakukan pada perencanaan, selama dan\r\nsetelah penerapan CBF dan dari hasil monitoring dilakukan evaluasi untuk\r\nmengkaji keberhasilan dan kegagalan penerapan teknologinya.
\r\n
\r\nSebelumnya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah menyiapkan unit\r\npembenihan rakyat di berbagai daerah guna mengembangkan potensi dan\r\nmeningkatkan kinerja budi daya perikanan Indonesia.
\r\n
\r\nSaat ini, berdasarkan data KKP, produksi perikanan didominasi hasil kegiatan\r\nbudidaya dan tangkap. Negara-negara Asia masih menguasai 88 persen produksi\r\ndunia.
\r\n
\r\nBudidaya mampu menyediakan setengah dari kebutuhan ikan konsumsi dunia, dan\r\ndengan kebutuhan ikan dunia sebesar 3,1 juta ton, Indonesia berada pada\r\nperingkat ke-4 produsen perikanan budidaya dunia.


Sumber : Antara News

Tim Minapoli

Ditulis oleh

Tim Minapoli

Kontributor

Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.

Bagikan artikel ini:

Chat dengan Kami

Pilih departemen yang Anda butuhkan