Kampung Mina Padi di Samberembe, Sleman

| Fri, 26 Jun 2020 - 14:03

Desa wisata telah dikembangkan di banyak daerah. Namun kenyataan itu seolah tidak menyurutkan semangat untuk terus membuka rintisan desa wisata. Seperti yang dilakukan masyarakat Dusun Samberembe, Desa Candibinangun, Kecamatan Pakem, Sleman.


Konsep yang diusung adalah Kampung Mina Padi. Niat serius warga mewujudkan gagasan diawali saat menjadi tuan rumah Pekan Daerah Petani Nelayan Kontak Tani Nelayan Andalan (Peda-KTNA) tingkat DIY pada pertengahan 2019 silam. Pasca agenda forum pertemuan petani nelayan tersebut, kelompok sadar wisata (pokdarwis) Kampung Mina Padi Samberembe kemudian dikukuhkan. Ketua Pokdarwis Samberembe Ricky Wahid Syam (34) menuturkan, persiapan menjadi desa wisata sudah dirintis sejak beberapa bulan sebelum pengukuhan pokdarwis. Dimulai dengan mengumpulkan tokoh masyarakat, petani, pemuda, dan ibu-ibu desa setempat untuk memanfaatkan potensi pertanian yang ada di wilayah mereka.


”Kampung mina padi diisi kuliner dengan konsep persawahan, outbond, edukasi pertanian dan perikanan, homestay, dan oleh-oleh hasil perikanan,” katanya. Kehadiran Kampung Mina Padi diharapkan bisa membangkitkan minat sesama generasi milenial untuk terjun di bidang pertanian. Kendati saat ini sudah ada beberapa yang menggeluti sektor perikanan hingga membentuk kelompok Mina Muda. ”Banyak pemuda dusun sini yang menganggur lantas mencoba wirausaha perikanan. Kalau untuk pertanian memang baru ada satu dua anak muda yang tertarik. Kebanyakan lebih memilih budidaya ikan karena lebih mudah dan menguntungkan,” ucapnya.

 

Terdapat kurang lebih 3 hektare lahan garapan di Kampung Mina Padi Samberembe. Di dalamnya ada beragam teknologi pertanian dengan unggulan minapadi yakni sistem pertanian yang dipadukan dengan perikanan. Selain itu ada pula teknologi cabepadi, udangpadi, dan timun padi. Salah satu petani Kampung Mina Padi Samberembe, Gunarto (51) menuturkan, petani di dusunnya sudah menerapkan pola mina padi sejak 2011. ”Hasilnya menguntungkan karena bisa memanen dua komoditas sehingga memberikan nilai tambah. Untuk pengairan selama ini tidak ada kesulitan karena air melimpah sepanjang tahun dari sumber Kali Boyong,” bebernya.

 

Jenis ikan yang dibudidayakan kebanyakan adalah nila karena pemeliharaannya dirasa mudah dan pangsa pasar terbuka lebar. Dengan metode mina padi ini, dia mengaku pendapatannya bisa meningkat 20-25 persen dibanding hanya membudidayakan satu jenis komoditas. Kendalanya pun relatif nihil, barangkali hanya hama musang air. Selain padi, petani di Samberembe juga menanam tanaman hortikultura seperti tomat, kacang, pare, gambas, timun, terong, dan sawi hingga komoditas yang jarang dibudidayakan petani lokal seperti buah semangka dan melon.

 

Pendamping kelompok tani Turasman memandang, keberhasilan Kampung Mina Padi butuh kerja sama semua pihak yang menguasai bidang pertanian hortikultura dan perikanan. Petani perlu didampingi secara intens, terlebih berkaitan teknologi yang masih awam. Pandemi Covid-19 turut berimbas terhadap kelangsungan sektor pariwisata di kampung ini. Terlebih, belum ada satu tahun desa wisata Samberembe dibuka. Namun demikian, masyarakat dusun tersebut tetap mampu berikhtiar menggantungkan nafkah dari sektor pertanian mina padi. ”Kami berharap pariwisata bisa pulih meski perlahan-lahan. Pengelola pasti sudah punya strategi menghadapi situasi new normal,” ucap Ricky.

Optimisme yang sama diungkapkan oleh Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Sleman Sudarningsih. Menurut pejabat yang akrab disapa Ning ini, akan ada standar baru yang menjadi acuan perilaku orang dalam berwisata pada era pasca pandemi Covid-19. ”Bentuk-bentuk aktivitas yang rentan dalam masa pandemi Covid-19 cenderung masih akan dihindari. Dalam dunia pariwisata, saya kira akan berlaku juga,” tuturnya. Masyarakat nantinya menerapkan social distancing. Dalam pariwisata, hal itu dapat diartikan pasar wisata pascapandemik bakal bergeser dari kecenderungan wisata massal menjadi wisata soloist, couple, atau juga wisata keluarga dengan memperhatikan clean, health, dan safety (CHS).

 

Agar bisa bertahan, pariwisata sebagai supplyer harus mengikuti perubahan selera dari pangsa pasar yang ada. Desa wisata yang pada waktu sebelum pandemi diuntungkan dengan pola mass tourism, harus berinovasi untuk siap bersaing di pasar pascapandemik. ”Saya menilai pascapandemik Covid-19 ini pasarnya sangat besar dan yang akan bergerak dimulai dari pasar lokal dan regional. Kami pun sudah melakukan penguatan sinergitas dengan pelaku desa wisata dan pelaku pariwisata lainnya untuk berbenah dan mempersiapkan diri dalam menyambut perubahan ini,” katanya. Meski diakui, bukan hal mudah untuk mengembangkan bahkan sekadar mempertahankan eksistensi desa wisata. Di Sleman tersisa 11 desa wisata kategori mandiri. Sedangkan kelas tumbuh ada 11 desa wisata, berkembang 14, dan rintisan 11. Dia berharap, setelah wabah, desadesa wisata yang ada bisa tetap bertahan.


Sumber: Suaramerdeka.com

Artikel lainnya