“Hantu” itu Berbentuk Jaring Ikan

| Wed, 17 Nov 2021 - 11:49

We have been far to aggressive about extracting ocean wildlife, not appreciating that there are limits and even points of no return – Dr.Sylvia Earle


Seiring dengan tingginya tingkat konsumsi manusia terhadap kebutuhan protein hewani, industri perikanan menjadi salah satu target yang harus mulai mendapatkan perhatian lebih. Tak hanya itu, peningkatan jumlah tangkapan menjadi alarm bagi penurunan biota laut yang signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa sepertiga populasi ikan komersial ditangkap pada tingkat yang tidak berkelanjutan secara biologis. Data tersebut diambil dari laporan tahun 2018 oleh Organisasi Pangan dan Pertanian PBB dan disampaikan pada event COP 26. 


Selain itu sistem penangkapan ikan yang semakin canggih dan modern memberikan dampak yang tidak main-main terhadap biota laut. Salah satunya adalah sampah hasil dari alat tangkap ikan yang sudah tak digunakan. Laporan WWF (2020) menyebutkan bahwa ada 12 miliar sampah yang masuk ke laut, 10% sampah laut dunia dalam bentuk jaring ikan. 


Jaring yang dibuang begitu saja di laut menjadi salah satu sampah yang menyakiti banyak hewan di laut. Merunut dari laporan tersebut, ada ribuan spesies hewan seperti lumba-lumba, penyu, burung laut, mamalia, yang terjebak di dalam jaring yang sudah tidak terpakai. 




Hal ini juga diperkuat dengan data dari Global Ghost Gear Initiative (GGGI), saat ini ada jaring yang termasuk dalam kategori Abandoned, Lost, Discarded, Fishing Gear (ALDFG) sekitar 10% berasal dari jaring nelayan. Itu berarti 500.000 dan 1 miliar ton alat tangkap masuk ke laut setiap tahunnya. Untuk di Indonesia sendiri belum ada data pasti mengenai jumlah jaring nelayan yang terdaftar.


Indonesia sebagai negara maritim yang menjadikan perikanan skala kecil salah satu tombak devisa, membutuhkan regulasi yang tepat dalam mengelola limbah perikanan tangkap. Belum adanya regulasi penggunaan alat tangkap setelah digunakan, menjadikan sampah alat tangkap mudah untuk ditemukan dimana-mana. Entah di darat tanpa tersirkulasi ataupun di laut menjadi ancaman berat bagi biota laut yang sering dikenal dengan istilah Ghost Fishing. 


Yuk, ikuti juga: Kompetisi LensaMina, Membuka Cakrawala Akuakultur Indonesia


Ghost Fishing adalah fenomena ketika hewan tertangkap oleh jaring bekas termasuk dalam kategori Abandoned, Derelict, Lost Fishing Gear (ADLFG). Jaring ADLFG biasa dikenal dengan istilah Ghost Gear (peralatan hantu). Ghost gear seringkali terbuat dari bahan non-degradable seperti plastik, kawat yang dilapisi dengan vinil dan fiberglass untuk membuat alat tangkap tahan lama. Jaring yang digunakan oleh kebanyakan nelayan adalah nilon, dimana butuh waktu 500 tahun untuk terdekomposisi dengan baik di alam. Umur dari siklus penangkapan ghost gear ini bervariasi, dan sangat bergantung pada kondisi lingkungan sekitar alat tangkap yang ditinggalkan. 

 

Jaring yang sudah tidak berfungsi untuk menangkap ikan seringkali berakhir di laut sebagai sampah. Namun , ternyata jaring tersebut masih terus menangkap hewan-hewan laut. Tak jarang penyu, lumba-lumba, ikan, singa laut, bahkan burung laut terperangkap dalam jaring tersebut dan mati disana. 


Nelayan sebagai Ujung Tombak

Pengguna jaring yang paling sering adalah nelayan. Nelayan merupakan ujung tombak dalam melakukan perbaikan untuk menanggulangi ‘peralatan hantu’. Karena itulah, nelayan harus dilatih dan siap untuk mengambil kembali alat tangkap yang hilang sejauh hal itu aman untuk dilakukan. Uni Eropa sudah mewajibkan nelayan untuk membawa peralatan pengambilan dan mengambil alat tangkap yang hilang atau melaporkan kehilangannya dalam waktu 24 jam jika nelayan tidak dapat mengambilnya. 


Untuk di Indonesia sendiri masih banyak perlu perbaikan. Perjalanan saya untuk meneliti kasus Ghost Fishing di beberapa lokasi, menunjukkan bahwa ada beberapa persepsi nelayan mengenai jaring pernah diteliti. Kebanyakan nelayan menganggap bahwa jaring bisa hancur dengan sendirinya di laut. Hal ini membuat kebanyakan nelayan membuang jaring karena dianggap tidak memiliki nilai. Atau nelayan tetap bisa membawa jaring yang memiliki kemungkinan untuk laku di darat. 


Seperti hasil wawancara saya dengan beberapa nelayan di Kota Tegal. Ada beberapa jenis perlakuan para nelayan terhadap alat tangkapnya. Jika alat tangkap yang ia gunakan tersangkut di bebatuan, karang, atau mangrove dan tidak bisa diambil kembali entah karena cuaca buruk, angin kencang, atau terlalu sulit diambil. Maka mereka akan memutus jaring yang tersangkut. 

 

Namun jika jaring rusak karena usia pakai dan masih bisa dibawa ke darat, mereka akan membawanya ke darat untuk dijual kepada pengepul. Namun dari hasil wawancara, jaring pun juga memiliki standar nilai. Jika jaring yang masuk ke pengepul tidak sesuai dengan standar kesesuaian, maka jaring tidak punya nilai. Sehingga seringkali jaring yang dibawa, ditemukan begitu saja di sudut-sudut pelabuhan atau tempat kapal bersandar. 


Akuakultur Salah Satu Solusi

Perikanan tangkap yang menjadi salah satu kontribusi banyaknya alat tangkap yang terbuang bisa diminimalisir dengan menggalakkan program budidaya. Di tengah tingginya kebutuhan protein hewani, program akuakultur menjadi jawaban untuk mengurangi sampah alat tangkap. 


Hal ini bisa terjadi dengan pencatatan jaring ikan untuk kolam budidaya bisa lebih terarah dan tercatat dengan baik. Karena keramba jaring untuk budidaya memiliki masa waktu pakai yang lebih bisa diprediksi, dibandingkan jaring yang digunakan untuk alat tangkap. Sehingga pencatatan jaring di dalam keramba jaring bisa dilakukan dan terkontrol. 


Tak hanya itu kenaikan pertumbuhan produksi budidaya perikanan juga jauh lebih tinggi dibandingkan dengan perikanan tangkap. Pada tahun 2014, ekspor budidaya udang mencapai 1,5 juta dollar AS atau setara dengan Rp. 19,8 miliar. Dibandingkan dengan nilai ekspor ikan tangkap di tahun yang sama hanya 1,03 juta dollar AS atau sekitar Rp. 13.6 miliar (Kompas.com). 


Produk perikanan tangkap pun juga memiliki banyak kekurangan seperti masalah illegal, unregulated, and unreported fishing yang sedang berusaha untuk ditumpas. Tak hanya itu, masalah overfishing pun menjadi perhatian dunia. Karenanya, sektor budidaya bisa menjadi salah satu solusi untuk mengerem kondisi global masalah perikanan. 


Referensi :

Fishing Gear accounts for roughly the Great Pacific Garbage Patch - https://www.worldwildlife.org/stories/ghost-fishing-gear#:~:text=Fishing%20gear%20accounts%20for%20roughly,the%20Great%20Pacific%20Garbage%20Patch.

Ghost Fishing, Ancaman Nyata bagi Perikanan Indonesia - https://adlienerz.com/ghost-fishing-ancaman-nyata-bagi-perikanan-indonesia/

Investasi Perikanan Budidaya lebih Menjanjikan dibandingkan Ikan Tangkap - https://money.kompas.com/read/2016/08/25/152721726/investasi.perikanan.budidaya.lebih.menjanjikan.dibandingkan.ikan.tangkap

--- 


Penulis: Atrasina Adlina

Profesi: Blogger

Instansi: Adlien Travel Journal (www.adlienerz.com)

Artikel lainnya

LensaMina 

Why Sea Farming?

Minapoli

978 hari lalu

  • verified icon2374
LensaMina 

Perikanan Tangkap di Kawasan Konservasi Nasional TWP Gili Matra

Minapoli

923 hari lalu

  • verified icon1912