• Home
  • Infomina
  • Doughnut Economics dan National Fish Investment (NFI): Alternatif Model Ekonomi Sektor Perikanan Indonesia

Doughnut Economics dan National Fish Investment (NFI): Alternatif Model Ekonomi Sektor Perikanan Indonesia

| Wed, 17 Nov 2021 - 15:47

Pandemi Covid-19, sebagaimana Kita ketahui, telah menimbulkan banyak efek negatif pada setiap aspek kehidupan, namun dalam sektor perikanan sendiri terdapat sedikit pengecualian. Hal itu bisa dilihat pada meningkatnya nilai ekspor di sektor perikanan yang mencapai angka US$ 5,2 miliar atau jika dihitung dalam rupiah setara dengan Rp. 74,4 trilliun (kurs Rp. 14.300) di tahun 2020 lalu (Pusparisa & Bayu, 2021). Begitu pun dengan nilai impor pada sektor perikanan mengalami penurunan yang cukup signifikan sebanyak 10,4% di tahun tersebut. Alhasil, neraca perdagangan sektor perikanan di Indonesia mengalami keuntungan sebesar US$ 4,77 miliar atau mengalami kenaikan sebanyak 6,9% dari tahun sebelumnya.

 

Kendati demikian, hal yang sangat disayangkan dari adanya kenaikan neraca dagang pada sektor perikanan ini tidak dibarengi dengan adanya peningkatan kualitas hidup para pelaku di sektor perikanan itu sendiri. Zuzzy Anna (2020) seorang guru besar Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Padjajaran menyatakan bahwa sebanyak 11,34% individu yang berkegiatan di sektor perikanan ini masuk dalam kategori miskin.


Angka tersebut memiliki jumlah yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan individu yang berkegiatan di sektor konstruksi bangunan sebanyak 9,86%, pengelolaan sampah sebanyak 9,62% dan pelayan restoran sebanyak 5,56%. Selain itu, penggunaan pola MSY (maximum economic yield) dalam kegiatan perikanan dewasa ini berimplikasi pada meningkatnya angka pengangguran di kalangan para nelayan (Merdeka.com, 2020).




Meningkatnya nilai ekspor pada sektor perikanan yang dibarengi dengan adanya akselerasi pada angka kemiskinan dan pengangguran para nelayan, suka ataupun tidak, menunjukkan adanya ketidak-komprehensifan dan ketidak-holistisan model (prinsip) dan instrumen ekonomi yang digunakan pada sektor perikanan di Indonesia. Maka dari itu, dibutuhkan suatu model dan instrumen ekonomi yang tidak hanya mementingkan keuntungan secara finansial, tetapi juga turut memperhatikan kesejahteraan para pelaku usaha sektor perikanan itu sendiri, dari hulu sampai dengan hilir.


Doughnut Economics: Prinsip Ekonomi Sektor Perikanan Indonesia Abad 21

Doughnut economics adalah model ekonomi baru yang digagas oleh Kate Raworth, seorang ekonom dari Oxford University. Ia, Kate Raworth, oleh kebanyakan orang dijuluki sebagai J. M. Keynes abad 21 lantaran menawarkan sebuah alternatif model ekonomi yang tidak lagi menggunakan paradigma yang berfokus pada growth (pertumbuhan) seperti model ekonomi seperti biasanya, akan tetapi lebih berfokus pada thrive/prosper (kemakmuran).

 

Yuk, ikuti juga: Kompetisi LensaMina, Membuka Cakrawala Akuakultur Indonesia


Kate Raworth, dalam bukunya yang berjudul “Dougnut Economics: Seven Ways to Think Like a 21st-Century Economist” (2017), menjelaskan bahwa suatu kegiatan ekonomi, dalam hal pelaksanaan serta eksploitasinya harus diorientasikan pada keseimbangan 12 variabel berikut: water (air), income (pendapatan), education (pendidikan), resilience (resiliensi), voice (kebebasan berpendapat), jobs (pekerjaan), energy (energi), social equality (kesetaraan sosial), gender equality (kesetaraan gender), health (kesehatan) dan food (pangan).


Raworth menjelaskan bahwa model ekonomi yang digagasnya, selain ditujukkan untuk menciptakan kemakmuran sosial, doughnut economics juga ditujukan sebagai usaha melindungi lingkungan tempat Kita tinggal dari ancaman perubahan iklim.


Doughnut economics ini akan menjadi suatu model ekonomi yang komprehensif dan holistis apabila diterapkan pada sektor perikanan di Indonesia. Pasalnya, selain dapat mengatasi masalah kesejahteraan (kemiskinan & pengangguran) pada para pelaku sektor perikanan, sebagai negara tropis yang di mana akan mendapatkan efek destruktif yang begitu parah apabila terjadi perubahan iklim (lihat Pebrianto & Silaban, 2021), dengan demikian, menggunakan model doughnut economics menjadi suatu keharusan.


Terdapatnya komprehensifitas dan holistisitas dari model ekonomi yang digagas oleh Kate Raworth, kendati demikian, doughnut economics ini bukanlah suatu instrumen yang digunakan dalam membangun kesejahteraan para pelaku sektor perikanan. Doughnut economics hanya akan menjadi prinsip utama perekonomian sektor perikanan di Indonesia.  Lalu, instrumen apa yang dapat digunakan dalam membangun kesejahteraan para pelaku sektor perikanan di Indonesia? 


National Fish Investment (NFI): Sebuah Instrumen Alternatif

National Fish Investment atau NFI  adalah suatu lembaga yang nantinya akan mendanai para pelaku sektor perikanan, dari hulu sampai ke hilir. Lembaga ini bisa dalam bentuk sovereign wealth fund (SWF) atau equity crowdfunding. Namun yang jelas, lembaga ini harus dimiliki dan dioperasikan oleh negara.


Dalam pengoperasiannya, NFI akan bersifat preventif dan partisipatif yang tentunya akan tetap mengutamakan syarat-syarat tertentu dalam hal pencairan dana. Preventif dalam hal ini dimaksudkan bahwa dana yang nantinya dikeluarkan akan berfokus pada para pelaku sektor perikanan dengan tingkat kesejahteraan yang minim (yang tergolong kategori miskin dan pengangguran). Sedangkan yang dimaksud dengan partisipatif, bahwa dana yang nantinya dikeluarkan akan berfokus terhadap ide-ide mengenai usaha sektor perikanan yang diajukan kepada NFI, yang memiliki prospek menjanjikan. 


Penggunaan prinsip doughnut economics dan National Fish Investment (NFI) pada sektor perikanan di Indonesia tentunya akan menjadi suatu hal yang baru. Oleh karena itu, hal tersebut akan menjadi sebuah batu loncatan bagi sektor perikanan Indonesia di mata dunia. Akan tetapi, hal yang lebih penting selain menjadi pionir bagi sektor perikanan dunia, penggunaan model (prinsip) doughnut economics dan NFI ini akan dapat mengatasi permasalahan kesejahteraan para pelaku perikanan di Indonesia, dari hulu sampai ke hilir.

---

Penulis: Amoreyza Etniko

Profesi: Mahasiswa

Instansi: UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Artikel lainnya