Fasilitas riset perikanan perairan umum daratan level Asia\r\nTenggara di Palembang - Sumatera Selatan telah diresmikan penggunaannya oleh\r\nMenteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo pada Senin (27...
Fasilitas riset perikanan perairan umum daratan level Asia\r\nTenggara di Palembang - Sumatera Selatan telah diresmikan penggunaannya oleh\r\nMenteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo pada Senin (27/1).
Fasilitas bernama Balai Riset Perikanan Perairan Umum\r\nDaratan atau The Southeast Asian\r\nFisheries Development Center (SEAFDEC) - Fishery Resources Development and Management Department (IFRDMD/BRPPUPP) adalah\r\nsatu-satunya balai riset perikanan perairan darat di Asia Tenggara.

Menteri Edhy berpesan agar kajian-kajian di balai riset ini\r\nbisa ditransfer ke masyarakat. "Seafdec ini penting untuk mempererat\r\nkerja sama kita dengan negara-negara di Asia Tenggara. Walaupun demikian tidak\r\nada gunanya bangunannya mewah, besar, megah tapi hanya lambang. Ilmunya harus\r\nbisa ditransfer ke masyakarat," ujarnya.
Dia pun berharap bisa terbangun citra Sumatera Selatan\r\nsebagai sentra penghasil ikan air tawar di Indonesia, maupun di Asia\r\nTenggara. "Ikan tembakang digulai pindang, Lemak makannya disertai\r\nlalapan, kan dek Sumsel maju berkembang, ayo kita jaga perairan umum dan\r\ndaratan," ungkap Edhy berpantun.
Sebelum seremoni peresmian, Edhy terlebih dahulu menebar\r\nbenih ikan ke sungai yang terletak di belakang kantor BRPPUPP. Sebanyak\r\n5.000 ekor benih ikan nilem (Osteochilus hasselti) dan 2100 ekor benih ikan\r\ntembakang (Helostoma temminckii) ditebar saat itu. Kedua ikan tersebut\r\ndipilih karena merupakan ikan asli perairan umum daratan.
Kepala badan Riset dan Sumber Daya Manusia KKP, Sjarief\r\nWidjaja, menjelaskan bahwa SEAFDEC-IFRDMD/BRPPUPP memiliki 3 fungsi utama,\r\nyakni mempersiapkan kajian stok ikan beserta wilayah pengelolaannya, konservasi\r\nwilayah perairan sebagai plasma nutfah, dan pengembangan Fish Passage\r\n/ Fish Way di Indonesia.
"SEAFDEC-IFRDMD/BRPPUPP juga berperan menciptakan\r\noutput unggulan di pengelolaan perikanan perairan umum daratan, karenanya kami\r\nmenciptakan sejumlah inovasi agar bermanfaat bagi masyarakat," tutur\r\nSjarief.
Inovasi pertama yakni aplikasi DACOFA (Data Collection for\r\nFishery Activities). Aplikasi yang dikembangkan oleh SEAFDEC-IFRDMD/BRPPUPP ini\r\nmemungkinkan para enumerator melakukan input data secara cepat dan\r\nefisien. Aplikasi berbasis Android ini memungkinkan penginputan data\r\nikan dilakukan secara mudah dan fleksibel melalui smartphone, selanjutnya\r\nseluruh data akan terekam dalam satu pusat data.
Output lainnya adalah aplikasi BATAS (Barrier Tracking\r\nSystem) yang diciptakan melalui kolaborasi riset antara BRPPUPP dan P2I LIPI.\r\nBATAS merupakan aplikasi untuk mengidentifikasi dan memetakan hambatan (barrier)\r\nyang ada di sungai Indonesia. Rencana jangka panjang dari BATAS adalah\r\nmanajemen adapatif untuk pengoperasian bendungan dan penghalang di\r\nsungai-sungai Indonesia untuk mencapai pemulihan konektivitas aliran yang lebih\r\nefisien dan mengatasi dampak yang disebabkan oleh fragmentasi sungai.
Di samping itu, SEAFDEC-IFRDMD/BRPPUPP turut memperkenalkan\r\nBuku Alat dan Metode Penangkapan Ikan di Perairan Umum Daratan\r\nIndonesia serta model suaka perikanan PUD pada tipe daerah rawa banjiran\r\nyang bernama SPEECTRA (Special Area for Fish Conservation and Fish Refugia).\r\nSPEECTRA merupakan suaka perikanan buatan yang menjadi tempat berlindung ikan (spawning,\r\nnursery dan feeding ground) serta menjadi cadangan produksi ikan.
Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, dalam kesempatan\r\ntersebut menyampaikan bahwa PUD atau perairan darat di Sumatera Selatan\r\nsaat ini tercatat menjadi yang terluas di Asia Tenggara dengan mencapai 2,5\r\njuta hektar, yang di dalamnya terdapat 233 jenis spesies ikan.
\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n
"Dengan adanya SEAFDEC-IFRDMD/BRPPUPP diharapkan dapat\r\nmengoptimalkan potensi perikanan darat Sumatera Selatan dengan membangun suaka\r\nikan yang dipusatkan di science technology centre, kajian potensi\r\nperikanan perairan darat, dan menjadikan Sumatera Selatan rujukan jalur ruaya\r\nikan (fish way) yang dipusatkan di\r\nwilayah Komering," tegasnya.
Artikel Asli: Trobos Aqua

Ditulis oleh
Tim Minapoli
Kontributor
Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.
