Indonesia merupakan negara dengan lanskap perairan tawar yang sangat beragam, termasuk yaitu berbagai jenis ikan asli dan endemik yang hidup di perairan tawarnya. Kita juga pasti beberapa kali pernah ...
Indonesia merupakan negara dengan lanskap perairan tawar yang sangat beragam, termasuk yaitu berbagai jenis ikan asli dan endemik yang hidup di perairan tawarnya. Kita juga pasti beberapa kali pernah mendengar nama-nama ikan air tawar asli Indonesia yang cukup populer, seperti, baung, nilem, tawes, jelawat, belida, dan banyak lainnya.
Padahal, data dari BRIN yang dikutip oleh Mongabay mencatat bahwa jumlah ikan air tawar asli Indonesia terdapat 1.248 spesies. Keragaman tersebut merupakan salah satu warisan cagar budaya yang perlu dilestarikan serta ditingkatkan potensi ekonominya melalui budidaya.
Artikel ini memuat daftar nama ikan air tawar lokal beserta sebarannya, ciri-cirinya, potensi budidayanya, serta rekam jejak langkah domestikasinya.
Daftar Nama Ikan & Wilayah Sebarannya
Ikan Tawar Asli Indonesia di Perairan Sumatra
Sumatra
• Aceh: depik (Rasbora tawarensis), kawan (Poropuntius tawarensis), keureling (Tor tambra)
• Sumatra Utara: ikan batak (Neolissochilus thienemanni), jurung (Tor tambra), pora-pora atau bilih (Mystacoleucus padangensis, introduksi dari Singkarak)
• Sumatra Barat: bilih (Mystacoleucus padangensis), garing (Tor soro), selusur Maninjau, kapiek (Barbonymus schwanenfeldii), bagiek (Hampala macrolepidota), turiak (Cyclocheilichthys sp.)
• Sumatra Selatan, Jambi, dan Riau: belida lopis (Chitala lopis), belida sumatra (Chitala hypselonotus), baung (Hemibagrus nemurus), nilem (Osteochilus vittatus), semah atau emah (Tor spp.), kelabau (Osteochilus melanopleurus), tapah (Wallago sp.), geso (Hemibagrus wyckii), jelawat (Leptobarbus hoevenii), pari tutul (Fluvitrygon oxyrhynchus), pari pinggir putih (Fluvitrygon signifier), pari raksasa (Urogymnus polylepis)
• Lampung: mangut (Lobocheilos falcifer)
• Bangka: Encheloclarias tapeinopterus
Baca juga: 5 Jenis Ikan Hias Asli Indonesia
Jawa
• Jawa Barat: mangut (Lobocheilos falcifer), kancra bodas atau ikan dewa (Tor soro)
• Jawa Tengah: belida jawa (Notopterus notopterus), baung atau baceman (Hemibagrus nemurus), mangut (Lobocheilos falcifer)
• Jawa Timur: tawes (Barbonymus gonionotus), Tor sp., Neolissochilus sp.
• Perairan gua di Jawa: wader goa
Kalimantan
• Sapan atau lomi (Tor tambroides), belida borneo (Chitala borneensis), jelawat (Leptobarbus hoevenii), patin sungai (Pangasius nasutus), baung (Hemibagrus nemurus), betutu (Oxyeleotris marmorata), tambakan (Helostoma temminckii), kelabau (Osteochilus sp.), toman (Channa micropeltes), tapah (Wallago sp.), betok atau papuyu (Anabas testudineus), gabus haruan (Channa striata), saluang (Rasbora sp.), tambuwuk (Cyclocheilichthys apogon), sanggang (Puntius bulu)
Sulawesi
• Danau Matano, Mahalona, dan Towuti (Sulawesi Selatan): opudi (Telmatherina antoniae, T. prognatha, T. abendanoni), butini (Glossogobius matanensis), bonti-bonti (Paratherina striata), dui-dui
• Danau Poso (Sulawesi Tengah): duck-billed buntingi (Adrianichthys kruyti), Poso bungu (Weberogobius amadi), Popta's buntingi (Xenopoecilus poptae)
• Danau Tondano (Sulawesi Utara): payangka
Papua
• gabus Sentani (Glossogobius sentaniensis), Sentani gudgeon (Oxyeleotris heterodon), snakehead gudgeon (Giuris margaritacea)
Gambar & Ciri Ikan Air Tawar Lokal Indonesia
Ikan Batak (Neolissochilus thienemanni)

Sumber: ISW
Ikan Batak merupakan spesies ikan batak endemik asli perairan Danau Toba yang secara taksonomi tergolong ke dalam ordo Cypriniformes dan famili Cyprinidae. Menurut data Jurnal Riset Akuakultur Tahun 2007, dari Ikan Batak punya ciri bentuk tubuh pipih memanjang (torpedo-shaped) dengan susunan sisik tubuhnya yang tebal, serta dilengkapi jari-jari sirip yang kuat untuk beradaptasi di habitat berarus.
Ikan Batak tergolong omnivora dengan makanan alami yaitu siput dan serangga, serta memiliki kebiasaan memijah secara alami di perairan Danau Toba dan aliran Sungai Asahan.
Dari segi kultural sendiri, ikan Batak punya nilai historis unik, yakni menjadi bahan hidangan khusus untuk keluarga raja dan bangsawan di sekitar Danau Toba. Hidangan tersebut menjadi hidangan wajib dalam acara keagamaan dan ritual adat penting pada masa itu.
Ikan Dewa (genus Tor)

Sumber: Trubus
Ikan ini umum disebut sebagai ikan Dewa atau Kancra di beberapa daerah Jawa Barat. Akan tetapi tingkat sebarannya yang luas membuat ikan ini juga punya beberapa nama sebutan untuk daerah lain, yakni:
Garing (Sumatra Barat)
Semah atau emah (Sumatra Selatan)
Sapan (Kalimantan)
Ikan Dewa memiliki ciri khas yang mirip dengan ikan Batak, yaitu bentuk tubuh yang memanjang dan berbentuk torpedo karena punya kesamaan habitat di perairan berarus deras. Sisik ikan Dewa berukuran relatif besar dengan warna keperakan yang berubah menjadi kuning keemasan seiring bertambahnya usia. Ikan ini dapat tumbuh hingga mencapai panjang 1 meter dengan bobot hingga puluhan kilogram.
Ikan Dewa punya nilai budaya bagi beberapa wilayah Jawa Barat, yakni Kab. Kuningan, Sumedang, dan Majalengka. Salah satunya yang paling terkenal yaitu Lokasi Wisata Cibulan. Di sana, Ikan Dewa dipercaya sebagai sebagai penjelmaan prajurit Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran. Berhubungan dengan kesakralannya, masyarakat sekitar Cibulan melarang menangkap, melukai, atau mengonsumsi ikan tersebut.
Ikan Bilih (Mystacoleucus padangensis)

Sumber: Freshwater of Indonesia
Ikan Bilih merupakan ikan endemik Indonesia yang berhabitat di Danau Singkarak, Sumatra Barat. Meskipun, ikan ini juga telah diintroduksi ke Danau Toba dan kemudian dikenal sebagai ikan Pora-pora.
Ikan Bilih yang berada di Danau Singkarak memiliki ukuran tubuh berkisar antara 5-9 cm, sedangkan ikan Bilih di Danau Toba sedikit lebih besar dengan rentang 10-15 cm. Makanan ikan ini secara natural di alam adalah plankton dan bersifat sebagai detritus di ekosistemnya.
Artikel Terkait: 6 Jenis Ikan Lele Unggul & Cepat Besar untuk Budidaya
Ikan Depik (Rasbora tawarensis)

Sumber: Bardan Kariman
Ikan Depik adalah spesies endemik asli Danau Laut Tawar di Aceh Tengah yang memiliki ukuran tubuh rata-rata 7–8 cm dengan perbedaan fisik di mana ikan jantan bertubuh lebih ramping dibandingkan betina.
Ikan ini dikenal sebagai menjadi bahan baku makanan olahan untuk digoreng, dimasak balado, dan dipepes. Oleh karena aktivitas pemanfaatan tersebut, populasi ikan Depik turun signifikan dalam beberapa dekade terakhir. Ditambah dengan ancaman spesies invasif & perubahan lingkungan.
Ikan Belida

Sumber: RSUD Meuraxa
Ikan ini sempat membuat dunia maya heboh pada tahun 2023 lalu. Ikan Belida dengan jenis Chitala lopis yang pada tahun 2020 telah dinyatakan punah oleh IUCN (International Union for Conservation of Nature), mendadak kembali muncul di perairan Jawa pada tahun 2023.
Ikan Belida memiliki ciri khas yang mencolok yaitu bentuk tubuhnya yang pipih memanjang mirip seperti bilah pisau. Terdapat empat jenis ikan Belida yang hidup di perairan Indonesia yakni Belida Lopis (Chitala lopis), Belida Borneo (Chitala borneensis), Belida Sumatra (Chitala. hypselonotus), dan Belida Jawa (Notopterus notopterus). Belida Lopis dapat hidup hingga mencapai ukuran 1,5 meter, sedangkan Belida Jawa dapat mencapai sekitar 60 cm.
Mungkin pembaca juga mengenal ikan Belida sebagai bahan utama dari makanan khas Palembang, Sumatra Selatan, yakni pempek. Namun, akibat dari status keberadaannya yang kini kian terancam, bahan baku pempek mulai beralih ke ikan lain dan udang.
Ikan Mangut (Lobocheilos falcifer)

Sumber: Instagram @ngukurkali
Ikan Mangut awalnya tercatat sebagai ikan endemik Jawa, namun pada tahun 2023, ikan Mangut juga ditemukan hidup di perairan Sumatra, khususnya Lampung.
Ikan Mangut merupakan jenis ikan yang sangat sensitif terhadap pencemaran air, sehingga ikan ini hanya bisa hidup di wilayah perairan yang bebas dari pencemaran.
Saat ini, ikan mangut masuk dalam Daftar Merah IUCN dengan status Rentan akibat ancaman kelangkaan populasi dan degradasi habitat sungai.
Ikan Baung (Hemibagrus nemurus)

Sumber: Dejeefish
Ikan Baung cukup dikenal sebagai ikan yang mirip dengan ikan lele karena memiliki kumis dan patil, dengan tubuh menyerupai patin tetapi lebih pendek dan kepala lebih besar.
Ikan Baung termasuk ikan nokturnal yang aktif pada malam hari dan sebaran habitatnya berada di perairan tawar Jawa, Sumatra, dan Kalimantan.
Baca: Mengenal Jenis-Jenis Ikan Nila Unggul
Ikan Jelawat (Leptobarbus hoevenii)

Sumber: Wikipedia
Ikan Jelawat adalah kerabat dari ikan mas (famili Cyprinidae) yang bersifat omnivora alias pemakan segala yang hidup di sebaran perairan tawar di Kalimantan, Sumatra, dan Semenanjung Malaya.
Kini, berbagai upaya untuk melestarikan populasi ikan Jelawat di habitatnya telah dilakukan, seperti restocking bibit ikan Jelawat di Sungai Batanghari dan Danau Sipin.
Ikan Nilem (Osteochilus vittatus)

Sumber: Wikipedia
Ikan nilem merupakan spesies herbivora pemakan alga dengan ukuran rata-rata 18–20 cm yang habitat aslinya tersebar di sungai-sungai berarus sedang di Jawa, Sumatra, dan Kalimantan.
Ikan ini sering dimanfaatkan sebagai sumber pangan masyarakat. Selain itu, telur ikan nilem juga sangat digemari dan bernilai jual tinggi sebagai bahan kuliner.
Ikan Tawes (Barbonymus gonionotus)

Sumber: Wikipedia
Ikan Tawes memiliki ciri tubuh yang pipih dengan punggung melengkung, kepala kecil, dan moncong runcing. Ikan ini dapat tumbuh hingga mencapai panjang sekitar 40 cm dengan bobot hingga 1,4 kg.
Sebagai ikan air tawar tropis, tawes tumbuh optimal pada kisaran suhu 22–28 °C di perairan tenang maupun berarus lambat seperti sungai, rawa, dan danau.
Ikan Tawes merupakan spesies asli di kawasan Asia Tenggara, meliputi sistem Sungai Mekong dan Chao Phraya, serta Jawa dan Sumatra.
Ikan Betutu (Oxyeleotris marmorata)

sumber: BPPP Kupang
Betutu dikenal sebagai gabus malas karena mirip ikan gabus. Panjang umumnya 20-40 cm, di alam bisa mencapai 65 cm, dan ia suka bersembunyi di celah atau dasar berlumpur. Sebarannya meliputi Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku, tetapi di Kalimantan sudah jarang ditemukan di perairan umum.
Potensi Budidaya Ikan Endemik Indonesia
Beberapa spesies ikan air tawar asli Indonesia saat ini terus didorong untuk dikembangkan melalui teknologi budidaya guna mengoptimalkan potensi ekonominya sekaligus melestarikan populasinya yang mulai terancam di alam liar.
Upaya ini dilakukan melalui proses domestikasi, yaitu tindakan memelihara, merawat, dan memijahkan spesies ikan liar di dalam wadah budidaya terkontrol hingga seluruh siklus hidupnya dapat dikendalikan oleh manusia
Berikut merupakan beberapa komoditas ikan air tawar asli Indonesia yang telah memiliki track record domestikasi.
Ikan Baung
Pembudidayaan ikan baung skala massal telah berhasil dikembangkan oleh BPBAT Sungai Gelam sejak tahun 2009. Percobaan ini dilakukan di kolam berukuran 1.500 m² dengan benih awal berukuran 3 inci. Durasi pembesaran membutuhkan waktu pemeliharaan 8–9 bulan hingga mencapai ukuran panen 400–500 gram/ekor dengan tingkat kelangsungan hidup 80%.
Tor Tambroides
Pembenihan semi-buatan pada varietas jenis ikan dewa dari spesies Tor tambroides dilakukan di Instalasi Riset Plasma Nutfah Cijeruk, Bogor. Proses ini dilakukan dengan rasio pemijahan jantan dan betina 2:1 yang mendapatkan hasil tingkat kelulushidupan larva sebesar 52%, akibat dari serangan jamur pada prosesnya.
Ikan Nilem
Teknik pembesaran ikan nilem (Osteochilus hasselti) di BPPSIGN Tasikmalaya dilakukan pada kolam semi-permanen dengan menggunakan benih ukuran 5–6 cm yang dibesarkan selama 5–6 bulan hingga mencapai bobot panen konsumsi 100 gram.
Informasi Budidaya Lengkap di Minapoli
Dapatkan informasi cara budidaya berbagai komoditas perikanan air tawar dan akuakultur lainnya hanya website Minapoli.
Informasi budidaya lengkap mencakup:
Berbagai komoditas dari lele, nila, gurame, patin, dan berbagai komoditas ikan konsumsi air tawar lainnya
Dari pembenihan, pembesaran, hingga cara panen
Cara mengatasi berbagai jenis penyakit
Cek berbagai artikel lainnya mengenai budidaya ikan:

Ditulis oleh
Minapoli
Penulis
-
