Budidaya Gurami Optimal Bersama STP

| Thu, 12 Mar 2020 - 14:02

Dengan pakan Suri Tani Pemuka (STP) pembesaran ikan lebih cepat dan citarasa ikan lebih gurih

 

Bagi warga yang ingin melakukan budidaya ikan di tengah pemukiman, ikan gurami (gurame) bisa jadi pilihan. Pasalnya, budidaya gurami tidak menimbulkan bau dan hemat air. Selain itu, ancaman penyakitnya tidak banyak dan harga jualnya pun lebih stabil dibandingkan dengan jenis ikan air tawar lainnya. 

 

Hal itulah yang menjadi alasan Siswanto yang melakoni pembesaran ikan gurami (Osphronemus gouramy) Kota Metro, Provinsi Lampung, sejak tahun 1999 silam. Bahkan ia termasuk perintis budidaya ikan air tawar secara intensif di kota tersebut. 

 

Ketika ditemui di rumahnya yang dikelilingi kolam ikan di Kelurahan Purwosari, Kecamatan Metro Utara, Kota Metro, baru-baru ini, pria setengah baya ini mengaku sengaja memilih budidaya ikan gurami karena selain harganya relatif stabil dibandingkan dengan jenis ikan lainnya, juga tidak mengganggu warga sekitar. “Maklum rumah saya berada di lingkungan pemukiman padat penduduk, jika saya memelihara ayam tentu mengganggu para tetangga akibat bau tidak sedap,” ujar Siswanto beralasan. 

 

Kecuali itu, meskipun budidaya gurami masa pembesarannya relatif lama, namun pakan bisa dikombinasikan dengan dedaunan yang banyak terdapat di sekitar rumahnya dan penyakitnya pun tidak begitu banyak. “Dari awal memang saya kesengsemnya dengan gurami dan tidak pernah beralih hingga kini,” lanjutnya. 

 

Pada awalnya Siswanto membudidayakan ikan gurami pada satu kolam. Setelah setahun membesarkan ikan dipanen sebanyak 50 kg gurami ukuran 7 ons per ekor yang dijual ke rumah makan/restoran di Kota Metro. Pada awalnya untuk sampai panen, dibutuhkan waktu pemeliharaan hingga setahun dengan pakan pabrikan yang dikombinasikan dengan pakan alami berupa dedaunan seperti, daun talas, daun singkong, daun jati, daun pepaya, kangkung, serta daun mengkudu. 

 

Pakan STP 

 

Untuk mempercepat pembesaran ikan, Siswanto terus mencari terobosan, termasuk mengganti benih dan pakan. Sejak menggunakan pakan merek NGA produksi PT Suri Tani Pemuka (STP), pembesaran ikan lebih cepat sehingga untuk mencapai berat enam hingga tujuh ons hanya diperlukan waktu pemeliharaan 10 bulan. Selain itu citarasa ikan juga lebih gurih sehingga disukai rumah makan/restoran. 

 

Kini Siswanto sudah memiliki 25 kolam dengan tingkat kepadatan tebar 10 ekor bibit/meter kubik dan FCR hampir mendekati satu. Jika pada awalnya Siswanto membuat kolam tanah maka sekarang umumnya kolam yang dibangun berada di atas permukaan tanah dengan dilapisi plastik tebal dengan kedalaman 80 cm. 

 

Mas Sis begitu warga dan kenalannya memanggil—pernah beralih menggunakan pakan merek lain dari pabrikan yang berbeda atas anjuran distributor pakan di Kota Metro. Namun akhirnya kembali ke produk STP karena selama ganti pakan tersebut, pertumbuhan ikannya menjadi lebih lambat. “Ya kayaknya memang dengan kondisi di sini cocoknya pakan STP,” lanjutnya. Meskipun harga pakan STP terus bergerak naik, namun Mas Sis tak bergeming lagi untuk beralih ke merek lain. 

 

Soal benih, menurut Ketua Kelompok Tani Manjur ini tidak mengalami kesulitan karena usaha pembenihan gurami sudah berkembang di Metro, Kabupaten Lampung Tengah, dan Lampung Timur. Hal ini seiring terus bertambah banyaknya pembudidaya ikan gurami di daerah ini. 

 

Siswanto menambahkan, ia ‘setia’ dengan pakan STP karena selain lebih fresh karena pabriknya berlokasi di Lampung, juga kualitas pakannya stabil sehingga pertumbuhan gurami tetap baik dan lebih tahan terhadap serangan penyakit dari satu siklus ke siklus berikutnya. “Soal harga nomor dua, saya lebih mementingkan kestabilan kualitas pakan agar pertumbuhan ikan tetap terjaga pada setiap siklus,” ungkap Sis. 

 

Di tempat terpisah Gunawan, Fish Technical Service PT STP mengapresiasi kepercayaan Siswanto yang setia menggunakan pakan produksi STP dari awal menjalankan budidaya hingga kini. Sebagai rewardnya, pihak STP memberikan berbagai fasilitas untuk kelancaran budidaya yang dijalankan Siswanto. “Sejak tiga tahun lalu, Pak Sis menjadi mitra pendampingan STP,” jelas Gunawan. 

 

Secara berkala tim laboratorium keliling dan technical service PT STP melakukan cek kualitas air di kolam budidaya gurami milik Siswanto. Terakhir tanggal 4 Februari lalu, tim TS STP melakukan uji sampel air kolam budidaya milik Siswanto. Dari hasil uji lab parameter air, TS STP merekomendasikan agar Siswanto melakukan aplikasi dolomit pada kolam dengan dosis 3 gram/m3/minggu guna menjaga kestabilan mineral air. 

 

Ditambahkan Gunawan, aplikasi dolomit juga dimaksudkan untuk menaikan kadar alkali air kolam yang rendah. Sebab jika dibiarkan menyebabkan plankton tidak stabil, bahkan bisa drop. “Kondisi ini menjadikan bahan organik bisa memicu pertumbuhan penyakit/bakterial,” terangnya

Potensi Pasar 

 

Setelah dibesarkan selama 11 bulan, rata-rata ukuran ikan berkisar antara 4-5-6 ekor/kg. Ikan tersebut dibeli tukang bakul seharga Rp 29 ribu hingga Rp 30 ribu/kg. Dibandingkan dengan ikan tawar lainnya, harga jual ikan gurami lebih stabil. Hanya pada musim kemarau harga ikan gurami lebih mahal. Kepadatan tebar 500 -600 ekor/kolam dan bisa panen rata-rata 400 ekor.

 

Sis mengaku tidak banyak pembudidaya gurami di Metro Utara. Pasalnya untuk membesarkan gurami butuh modal yang lebih besar untuk pengadaan pakan. Banyak juga yang coba-coba, tapi karena kebanyakan hanya mengandalkan bantuan pemerintah tidak langgeng. 

Mengenai produksi per bulan, menurut Sis, tidak pasti karena panen dilakukan dengan mempertimbangkan harga jual, kebutuhan dana dan umur ikan. Hanya Sis mengaku, hasil dari penjualan ikan jauh lebih besar dibandingkan dengan padi sawah. 

 

Jika umur ikan kurang dari 10 atau 11 bulan, biasanya tidak tahan jika dibawa perjalanan jauh. Sementara pemasaran gurami, selain ke Metro, Bandarlampung juga sebagian ke Sumatera Selatan. Jadi perlu ikan yang lebih kuat agar tetap dalam kondisi hidup sampai di tujuan. 

 

Setelah sukses melakoni budidaya gurami, Sis berencana melakukan diversifikasi dengan menjual gurami beku (frozen). Ia melihat selama ini, kendala penjualan gurami adalah dalam keadaan hidup dan konsumen kesulitan membersihkannya.“Jadi jika kita jual gurami yang sudah dibersihkan dan dalam keadaan beku, saya yakin konsumen lebih tertarik. Karena jika dijual di dalam frezer maka, kapan pun konsumen bisa membelinya,” ungkap Sis

 

Artikel Asli : Trobos Aqua

Artikel lainnya

Info Produk 

Skretting – Inovasi Pakan untuk Akuakultur Berkelanjutan

Skretting Indonesia

340 hari lalu

  • verified icon538
Info Produk 

Budidaya Gurami Optimal Bersama STP

Trobos Aqua

590 hari lalu

  • verified icon1123
Info Produk 

Lorica - Inovasi Skretting untuk Daya Tahan Udang Anda

Skretting Indonesia

324 hari lalu

  • verified icon569