• Home
  • Infomina
  • Ayo Lestarikan Ekosistem Mangrove Pada Tahun 2021 Yang Akan Datang

Ayo Lestarikan Ekosistem Mangrove Pada Tahun 2021 Yang Akan Datang

| Mon, 28 Dec 2020 - 17:19

Pengertian Mangrove

Menurut Supriharyono (2000) kata mangrove mempunyai dua arti yakni pertama sebagai komunitas tumbuhan ataupun hutan yang tahan akan kadar salinitas/ garam (pasang surutnya air laut), dan kedua sebagai individu spesies. Berbagai definisi mangrove sebenarnya mempunyai arti yang sama yakni formasi hutan daerah tropika serta sub-tropika yang ada di pantai rendah dan tenang, berlumpur, dan memperoleh pengaruh dari pasang surutnya air laut.


Distibusi Mangrove di Dunia dan Indonesia

Secara global, tanaman mangrove dapat ditemukan disekitar garis tropis. Giri, et al. (2011) mendapatkan luas mangrove secara global menggunakan citra penginderaan jauh tahun 2000, yaitu  sebesar 137.760 km2 yang tersebar di 118 negara. Jumlah luas mangrove paling besar terdapat di kawasan Asia Tenggara (Indonesia), di mana lokasi yang baik untuk tumbuh dan memiliki diversitas spesies yang tinggi. Berikut negara dengan jumlah mangrove terbesar :

 

Baca juga: Produk Rumput Laut Indonesia Unjuk Gigi di Simposium Internasional di Jeju


Menurut Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional dalam Hartini dkk (2010) kawasan mangrove terluas di Indonesia berada di Provinsi Papua dan Papua Barat dengan luasan mencapai 50,4% dari total luasan mangrove di Indonesia dah kedua sebesar 19,7% berada di pesisir Pulau Kalimantan, dan ketiga sebesar 17,8% berada di pesisir Pulau Sumatera.

 


Sumber : Rahmanto (2020)


Manfaat Mangrove

Mangrove memiliki manfaat sangat luas ditinjau dari aspek ekologi, biologi dan ekonomi. Fungsi ekologi antara lain menjaga kestabilan pantai dan sebagai habitat burung, fungsi biologi sebagai pembenihan ikan, udang dan biota laut pemakan plankton serta sebagai areal budidaya ikan tambak, areal rekreasi dan sumber kayu sebagai fungsi ekonomi (Nahlony, 2019).  Adapun menurut Bagus Dwi Rahmanto (Direktorat Konservasi Tanah dan Air) fungsi dan manfaat mangrove dibagi menjadi 3, yaitu :

- Manfaat mangrove secara fisik, yaitu menahan abrasi air laut, menahan badai dan angin yang bermuatan garam, dan penambat bahan-bahan pencemar (racun) diperairan pantai

- Manfaat mangrove secara biologi, yaitu sebagai tempat hidup biota laut dan sumber makanan bagi spesies yang ada

- Manfaat mangrove secara ekonomi, yaitu sebagai tempat pariwisata, sumber bahan kayu dan bahan penghasil obat obatan.


Baca juga: KKP Resmikan Kawasan Hatchery Ikan Laut Modern di BPBL Ambon


Kerusakan Ekosistem Mangrove

Kondisi ekosistem mangrove dengan status kritis saat ini yaitu mencapai 637.624,31 Ha atau setara dengan 19,26% dari total ekosistem mangrove di Indonesia (Rahmanto, 2020). Data CIFOR menunjukan deforestasi mangrove di Indonesia mengakibatkan hilangnya 190 juta metrik ton setar CO2 tiap tahun. Indoensia menjadi negeri dengan tingkat laju deforestasi ekosistem mangrove tertinggi di dunia. Menurut Center for International Forestry Research (CIFOR) saat ini ekosistem mangrove Indonesia mengalami tekanan dengan ancaman laju degradasi yang tinggi mencapai 52.000 ha/tahun. Beberapa ancaman ekosistem mangrove di Indonesia disebabkan oleh :

- Alih fungsi lahan menjadi tambak, pelabuhan, industri, pemukiman dan perkebunan.

- Pencemaran limbah domestik dan limbah berbahaya lainnya

- Meningkatnya illegal logging dan eksploitasi berlebihan

- Meningkatnya laju abrasi sebesar 1.950 Ha/tahun sepanjang 420 km

- Potensi kehilangan stok karbon tersimpan


Baca juga: KKP Pacu Pengembangan Daya Saing Rumput Laut Nasional


Target dan Solusi/Rencana Kegiatan Konservasi Ekosistem Mangrove

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (Dit. P4K) menargetkan penanaman mangrove sebesar 1.800 ha pada 2024, dengan komposisi target per tahun sebesar 200 ha pada 2020, 400 ha pada 2021, 400 ha pada 2022, 400 ha pada 2023, 400 ha pada 2024. Upaya lain yang dilakukan KKP dalam mendukung rehabilitasi mangrove adalah dengan memfasilitasi lokasi mangrove melalui pembangunan tracking mangrove dan pusat restorasi pembelajaran ekosistem pesisir yang akan dibangun di 10 Kabupaten/Kota pada tahun 2021.

Menurut Rosyid (2020) dalam pelaksanaan konservasi ekosistem mangrove harus meliputi :

- Melestarikan vegetasi-vegetasi yang ada di dalamnya dengan habitat hutan mangrove

- Melindungi jenis-jenis biota yang terancam punah

- Mengelola areal bagi pembiakan jenis-jenis biota yang bernilai ekonomis tinggi

- Melindungi unsur-unsur yang mempunyai nilai sejarah dan budaya

- Mengelola areal yang bernilai estetika, untuk pariwisata, rekreasi pendidikan, penelitian dan lain sebagainya.


Beberapa solusi/rencana kegiatan konservasi eskosistem mangrove dapat dilakukan menurut Rahmanto (2020), diantaranya:

- Mendorong pemerintah menetapkan mangrove sebagai kawasan lindung setempat dalam RTRW

- Upaya pemanfaatan berkelanjutan (seperti ekowisata)

- Pengembangan tambak-tambak model silvofishery (memperbaiki hidrologis)

- Merestorasi areal mangrove yang terabrasi menjadi ekosistem mangrove kembali

- Perlu dikembangkan teknik yang ramah lingkungan

- Penegakan hukum, rehabilitasi mangrove yang rusak

- Perencanaan jangka panjang pengelolaan mangrove di Indonesia

- Optimalisasi peran kelompok kerja mangrove nasional/provinsi, masyarakat, NGO dsb

- Mendorong setiap provinsi memiliki strategi/perencanaan pengelolaan mangrove, infografis potensi mangrove dsb


Kegiatan pelestarian ekosistem mangrove ini juga dapat dipadukan dengan teknologi yang ada seperti yang telah dilakukan oleh beberapa negara lainnya untuk mempermudah dalam proses pelestarian maupun proses pengawasannya. Teknologi yang telah digunakan menurut majalah Tempo (2018), diantaranya :

- Drone penanam bakau asal Inggris BioCarbon Engineering, mampu menanam 100 ribu biji bakau per hari di Myanmar.

- Pengawasan pertumbuhan mangrove secara real time dengan perpaduan IoT dan telepon seluler dan Cloud yang dilakukan di Malaysia

- Teknologi pengindraan jauh citra milik Belgia dapat menghitung perubahan luas kawasan mangrove di Malaysia


Referensi :

Giri, C., Ochieng, E., Tieszen, L., Zhu, Z., Singh, A., Loveland, T., J. Masek6 and N. Duke. (2011). Status and Distribution of Mangrove Forest of the World Using Earth Observation Satellite Data. Global Ecology and Biogepgraphy : pp 154 - 159.

Hartini S., Saputro GB., Yulianto M., dan Suprajaka. (2010). Assessing the Used of Remotely Sensed Data for Mapping Mangroves Indonesia. Selected Topics in Power Systems and Remote Sensing. ISBN: 978-960-474-233-2

Nahlony, Lona Helti., dan Masniar Masniar. 2019. Manfaat Ekosistem Mangrove dalam Meningkatkan Kualitas Lingkungan Masyarakat Pesisir. Universitas Muhammadiyah Sorong, Sorong, Papua Barat.

Rahmanto, Bagus Dwi. 2020. Peta Mangrove Nasional dan Status Ekosistem Mangrove di Indonesia. Dalam Webinar “Development for Mangrove Monitoring Tools in Indonesia” Jakarta, 6 Agustus 2020.

Rosyid, Novi Utami. 2020. Ekoliterasi Mangrove (Inovasi Pendidikan Lingkungan Anak Psisir untuk Konservasi Mangrove). Guepedia. 

Supriharyono. 2000. Pelestarian dan Pengelolaan Sumber Daya Alam di Wilayah Pesisir Tropis. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta, Indonesia.

Majalah Tempo. 2018. Diakses pada Tanggal 28 Desember 14:03. (https://majalah.tempo.co/read/etalase/155813/teknologi-untuk-melindungi-mangrove)

Kementrian Kelutan dan Perikanan. 2020. Diakses pada Tanggal 28 Desember 14:37. (https://kkp.go.id/djprl/artikel/19898-kkp-targetkan-tanam-mangrove-200-ha-di-2020)


Penulis:
Adinda KInasih Jacinda (Mahasiswi Magister Ilmu Perikanan UNPAD)

Artikel lainnya