Akuakultur\r\natau perikanan budidaya menjadi andalan suplai ikan dunia mengingat\r\npertumbuhannya yang terus meningkat setiap tahun dan potensinya yang masih\r\nsangat luas untuk dikembangkan. Semen...
Akuakultur\r\natau perikanan budidaya menjadi andalan suplai ikan dunia mengingat\r\npertumbuhannya yang terus meningkat setiap tahun dan potensinya yang masih\r\nsangat luas untuk dikembangkan. Sementara, produksi perikanan tangkap cenderung\r\nstagnan. Laporan Bank Dunia “Fish to 2030 – Prospect for Fisheries and\r\nAquaculture” memprediksi, konsumsi ikan dunia pada 2030 mencapai 151.771.000\r\nton yang terdiri atas ikan tangkapan sebesar 58.159.000 ton dan ikan budidaya\r\nsebesar 93.612.000 ton. Sementara, produksi ikan dunia pada 2030 sebanyak\r\n186.842.000 ton yang disumbang dari perikanan tangkap 93.229.000 ton dan\r\nperikanan budidaya 93.612.000 ton.
Namun,\r\nakuakultur terus dihadapkan pada berbagai tantangan. Di antaranya di era\r\npersaingan global, khususnya Revolusi Industri ke-4. Isu utama yang diangkat\r\ndalam era ini adalah daya saing dan produktivitas. Menteri Perikanan dan\r\nKelautan, Susi Pudjiastuti menegaskan, guna menghadapi persaingan dagang yang\r\nsangat ketat maka produk akuakultur harus berdaya saing tinggi. Sedangkan,\r\nproduktivitas dan daya saing tinggi tidak lepas dari ketersediaan input\r\nteknologi, rantai sistem produksi, dan sumber daya manusia ataupun mesin yang\r\nefisien, serta mutu produk yang terjamin.
“Untuk\r\nmenjawab peluang dan tantangan tersebut, pemerintah telah meluncurkan road-map implementasi industri 4.0,\r\nsebuah era industrialisasi yang berbasis pada modernisasi teknologi informasi\r\nyang terdapat penggabungan antara teknologi otomatisasi dengan teknologi\r\ninternet. Mesin sudah terintegrasi dengan jaringan internet atau internet of\r\nthings,” ujar Susi Pudjiastuti dalam sambutan tertulisnya pada acara Aquatica Asia & Indoaqua 2018.\r\n
Industri\r\n4.0 tentunya menjadi ajang baru sekaligus tantangan bagi subsektor akuakultur.\r\nYaitu, bagaimana menciptakan sistem akuakultur yang efisien berbasis teknologi\r\ndigital. “Tema ‘Transform Aquaculture Business Into Industry 4.0’ yang diangkat\r\npada Aquatica Asia dan Indoaqua 2018 ini sangat tepat. Semoga event ini menjadi momentum sebagai titik\r\ntolak orientasi transformasi sistem akuakultur dari era konvensional ke era\r\notomatisasi,” tandas Susi.
Aquatica\r\nAsia dan Indoaqua 2018 adalah pameran industri perikanan budidaya dan kelautan\r\nandalan Indonesia. Indoaqua merupakan kegiatan rutin tahunan yang\r\ndiselenggarakan Direktorat Jenderal perikanan Budidaya (DJPB), Kementerian\r\nKelautan dan perikanan (KKP). Penyelenggaraan Indoaqua terakhir pada 2016\r\nbersamaan dengan kegiatan Asia Pacific Aquaculture (APA) 2016 di Surabaya, Jawa\r\nTimur.
Tahun\r\nini, KKP menggandeng PT Permata Kreasi Media dan Trobos Communication (TComm)\r\ndalam penyelenggaraan Indoaqua dengan menambahkan nama pameran menjadi Aquatica\r\nAsia dan Indoaqua 2018. Pameran terbagi dalam 5 rangkaian kegiatan yang saling\r\nterkait yakni exhibition & conference,\r\ntehnical presentation, invesment forum, startup of digital technology, dan job fair.
“Harapannya\r\npameran ini benar-benar tidak hanya berkomitmen mendorong pengembangan\r\nkomoditas unggulan perikanan nasional dengan memamerkan produk – produk\r\nperikanan saja. Tetapi juga sebagai ajang bagi para stakeholders akuakultur/pelaku industri perikanan untuk bertemu,\r\nmelakukan transaksi bisnis, kerjasama bisnis, penjajakan peluang ekspor,\r\npencapaian kesepakatan kerjasama dan menampilkan perkembangan teknologi terkini\r\nperikanan baik di dalam negeri maupun luar negeri,” ungkap Ruri sarasono,\r\nDirektur PT Permata Kreasi Media.
Acara\r\nyang berlangsung pada 28-30 November ini dikuti oleh lebih dari 96 peserta\r\npameran yang terdiri Dinas, Unit Pelaksana Teknis (UPT), dan instansi di\r\nlingkup KKP, perusahaan swasta, Start Up\r\ndigital, dan UMKM. Pameran ini juga dilengkapi lebih dari 80 sesi seminar\r\n(seminar nasional dan seminar teknis), diharapkan lebih dari 4.000 pengunjung dapat hadir\r\nmengikuti rangkaian acara pameran dan seminar ini.
Mewakili\r\nMenteri Kelautan dan Perikanan, Slamet Soebjakto, Dirjen Perikanan Budidaya,\r\nKKP membuka dan memberikan sambutan pada pembukaan pameran dan memberikan Keynote Speech pada beberapa seminar.\r\nDirjen sangat mengapresiasi terselenggaranya acara yang di prakarsai oleh\r\npelaku usaha itu yang menggambarkan antusiasme dan optimisme dalam memajukan perikanan\r\nIndonesia.
“Ajang ini\r\ndiharapkan menjadi media sharing\r\ninformasi berkaitan perkembangan akuakultur baik pada tataran nasional maupun\r\nglobal. Saya berharap nantinya akan tercapai berbagai kesepakatan bisnis guna\r\nmendorong investasi bidang akuakultur di Indonesia. Indoaqua 2018 dan Aquatica\r\nAsia juga harus dijadikan titik tolak bagaimana menarik minat investasi\r\nmasyarakat pemiliki modal untuk bekerjasama dengan para pelaku akuakultur dalam\r\nmempercepat pengembangan bisnis akuakultur di berbagai daerah di Indonesia.\r\nSaya ingin pastikan disini, bahwa bisnis akuakultur saat ini telah mengalami\r\ntransformasi dari semula high risk\r\n(risiko tinggi) menjadi calculated risk\r\n(risikonya terukur),” paparnya.
Data\r\nDirektorat Perikanan Budidaya menunjukkan, produksi perikanan budidaya hingga\r\ntriwulan III 2018 (September 2018) tercatat 13.168.430 ton. Data ini merupakan\r\nangka sangat sementara. Meski begitu, dibandingkan triwulan III tahun lalu,\r\nangka ini meningkat 4,36%. Peningkatan rata-rata produksi lele\r\nmerupakan yang paling tinggi, yaitu sebesar 20,74%, diikuti ikan nila 13,13%,\r\nrumput laut 11,13%, dan ikan hias 3,35%.
Slamet\r\nmenjabarkan, komoditas ekspor perikanan budidaya seperti kakap putih, udang,\r\nkerapu dan rumput laut merupakan komoditas perikanan yang paling siap\r\nbertransformasi menuju industri 4.0. “Transformasi bisnis akuakultur ke dalam bagian\r\nindustri 4.0 diharapkan memberi solusi terbaik, khususnya dalam membangun\r\nsebuah sistem produksi yang lebih efisien dan terukur mulai dari aspek teknis,\r\nmanajemen dan penguatan SDM, dan aspek manjemen bisnisnya,” ucapnya.
Lebih\r\njauh Dirjen memaparkan, ada empat langkah untuk memperkuat daya saing sektor\r\nakuakultur dalam era industri 4.0. Pertama, penciptaan efesiensi dan nilai\r\ntambah melalui pembangunan mata rantai sistem produksi akuakultur berbasis\r\nteknologi informasi guna menjamin interkoneksi mata rantai bisnis dari hulu\r\nhingga hilir secara efisien. Dengan demikian, akan memicu terwujudnya\r\ndistribusi nilai tambah yang berkadilan khususnya antara pembudidaya dengan\r\npelaku pasar yang sebelumnya justru nilai tambah banyak dirasakan oleh para\r\npelaku di sektor hilir.
Kedua,\r\nterciptanya sistem logistik yang efisien. “Ketersediaan database dan sistem\r\ninformasi terkait input produksi seperti pakan dan benih menjadi penting.\r\nMelalui penerapan sistem informasi logistik di bidang akuakultur, maka akan\r\nlebih mudah bagi pelaku usaha dalam mendapatkan akses informasi secara cepat\r\ndan efisien karena adanya perbaikan tata kelola supply and demand. Sistem informasi logistik juga penting guna\r\nmewujudkan konektivitas input produksi tersebut dengan para pelaku akuakultur\r\nsebagai pengguna,” urainya.
Ketiga,\r\nefesiensi proses produksi akuakultur. Penerapan teknologi informasi berbasis\r\ndigitalisasi dan internet of things\r\nharus terus diinisiasi dalam menciptakan proses produksi yang efisien, cepat\r\ndan terukur. Misalkan terkait manajemen pakan, sistem monitoring kualitas air\r\ndan lingkungan, early warning sytem\r\ndan lainnya.
\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n
Keempat,\r\nperbaikan sistem database bidang akuakultur. “Saat ini KKP tengah melakukan\r\nperbaikan tata kelola database khususnya pelaku usaha akuakualtur. KKP telah\r\nmenerbitkan kartu KUSUKA yang penerbitannya menggunakan sistem aplikasi online\r\ndan telah diintegrasikan dengan aplikasi satu data kelautan dan perikanan,\r\naplikasi ketelusuran sistem jaminan mutu dan keamanan pangan (CPIB, CBIB,\r\nCPPIB) dan aplikasi satu kode digitalisasi pelaku industri oleh BPS yang\r\nmemungkinkan untuk dapat diakses oleh sektor terkait,” pungkasnya.

Ditulis oleh
Tim Minapoli
Kontributor
Pakar di bidang akuakultur dengan pengalaman lebih dari 15 tahun. Aktif berkontribusi dalam pengembangan industri perikanan Indonesia.
