• Home
  • Infomina
  • 3 Langkah Jitu Kelola Limbah Budidaya Ikan ala Dosen UGM

3 Langkah Jitu Kelola Limbah Budidaya Ikan ala Dosen UGM

| Tue, 09 Mar 2021 - 09:08

Bagi petani ikan perlu memikirkan cara untuk meningkatkan produksinya. Selain pemberian pakan, kualitas air yang bagus juga mempengaruhi budidaya ikan. 


Tak hanya soal kualitas pakan dan ikan, limbah yang dihasilkan dari budidaya ikan juga perlu diperhitungkan agar tidak mengganggu lingkungan sekitar. Penanganan limbah dalam budidaya ikan ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi para petani. 


Dosen Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada ( UGM) Yogyakarta Susilo Budi Priyono menerangkan, limbah budidaya ikan yang utama berasal dari pakan ikan. Limbah budidaya ikan paling banyak berasal dari pakan. Misalnya dari penggunaan bahan-bahan kimia seperti garam, kapur, obat-obatan, vaksin juga akan menimbulkan limbah pada budidaya ikan. 


“Belum lagi jika ikan terkena penyakit, limbahnya juga bisa berupa penyakit. Pakan yang kita berikan mengandung protein, unsur hara yang ada di dalamnya adalah nitrogen. Pakan yang diberikan tidak semuanya dimakan ikan,” urai Susilo Budi seperti dikutip dari laman Kagama.co, Senin (8/3/2021). 


Baca juga: Bios 44 Berguna untuk Budidaya Perikanan, dengan Memanfaatkan Limbah Cair Pabrik


Menurut Susilo, jumlah pakan yang tidak dikonsumsi ikan, diperkirakan jumlahnya sekitar 15 hingga 20 persen. Sisanya dicerna ikan dan menjadi daging ikan. "Namun, sayangnya yang menjadi daging hanya 30 persen. Nah, selebihnya menjadi limbah sebanyak 70 persen. Entah dalam bentuk feses, urine, atau keluar melalui insang,” ungkap Susilo. 


Salah satu penyebab limbah dalam budidaya ikan disebut sebagai sindrom Nitrogen (N). Sindrom Nitrogen ini juga kerap menjadi masalah karena bahan organik yang berasal dari sisa pakan dan kotoran ikan nantinya akan mengalami perombakan. 


Kemudian larut menjadi amoniak (NH3) atau amonium (NH4+) dan ini akan menjadi racun. Penanganan limbah budidaya ikan ada beberapa cara. Antara lain: 


1. Sistem pergantian air 

Cara ini merupakan yang paling sederhana yakni dibuang dengan sistem pergantian air. Tapi menggunakan cara ini perlu berhati-hati, karena berpotensi besar menyebabkan pencemaran lingkungan.


“Minimal agar tidak mencemari lingkungan, maka harus dilakukan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Dengan harapan standar baku mutu air buangan bisa dipenuhi. Jadi, setelah diolah, bisa berada di bawah ambang batas maksimal mutu air,” ungkap Susilo. 


Baca juga: Budidaya Clownfish Sistem Resirkulasi Skala Rumah Tangga


2. Melakukan rekayasa

Rekayasa yang dilakukan dengan cara meminimalkan jumlah limbah dengan memberikan bahan-bahan probiotik. Atau menerapkan sistem produksi lain yang dikombinasikan dengan konstruksi bak menjadi sistem boster. 


“Bagaimana kita meningkatkan efisiensi penyerapan pakan di dalam alat pencernaan ikan itu dengan menggunakan probiotik. Bisa juga diterapkan melalui media air, hal ini bisa menekan jumlah limbah air di dalam sistem budidaya ikan,” imbuh Susilo.


3. Konstruksi kolam 

Selain dengan cara melakukan rekayasa juga bisa dikombinasikan dengan konstruksi kolam atau bak. Misalnya dengan sistem boster. Setelah limbah keluar, limbah akan diberi treatment probiotik, pemupukan dan lain sebagainya. Baca juga: Ikut KKN, Mahasiswa UMY Lakukan Hal Ini pada Kelompok Tani Cokelat 


Baca juga: Cara Membuat Kolam Terpal bagi Pemula, Cocok untuk Budidaya Ikan


4. Penanganan dan treatment 

Setelah air yang mengandung limbah menjadi baik, maka kemudian diputar dan digunakan lagi airnya. Cara ini sering disebut dengan sistem resirkulasi. Limbah yang beracun tidak dibuang, tetapi dilakukan treatment terlebih dahulu. setelah terbukti bagus bagi ikan, maka kemudian bisa dimanfaatkan kembali. Treatment yang paling umum, lanjut Susilo, dilakukan dengan cara disaring melalui filter mekanis. Kemudian diendapkan dan dilakukan biofiltrasi, lalu diairasi. Serta diberikan disinfeksi bagi limbah yang diduga mengandung penyakit. 


"Jika airnya sudah bagus, maka siap diputar dan bisa dimanfaatkan kembali,” ungkap dosen yang bergabung dalam komunitas Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) ini. 


Manfaatkan limbah 

Limbah budidaya ikan juga bisa dimanfaatkan. Seperti unsur N yang beracun bisa dimanfaatkan oleh bakteri menjadi flok (budidaya sistem bioflok). Bagaimana amonium dan amoniak bisa bersih dari racun dimanfaatkan oleh bakteri. Kemudian membentuk gumpalan. "


Untuk mendorong pertumbuhan bioflok, airnya sengaja tidak dibuang. Tetapi diolah dengan airasi yang kuat dan mixing, tidak boleh ada endapan,” imbuhnya.


Selain itu, limbah bisa dimanfaatkan oleh tanaman melalui budidaya terintegrasi dan terpadu dengan akuaponik. Yakni dengan memanfaatkan limbah sebagai nutrisi bagi tanaman. “Ada lagi cara lain dengan memadukan tanaman atau organisme akuatik yang memiliki tropic level berbeda,” tandas Susilo.


Sumber: Kompas



Artikel lainnya